Anda di halaman 1dari 14

RINGKASAN MATA KULIAH

KOPERASI DAN UMKM


“Pedoman Tata Cara Mendirikan Koperasi”
Dosen Pengampu: Drs. I Made Dana, M.M.

OLEH:
KELOMPOK VI

Ni Putu Widiantari 1506305022 (02)


Made Dewi Gita Puspita Lestari 1506305030 (06)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS UDAYANA
2018

2
3.1 DASAR HUKUM PEMBENTUKAN KOPERASI
a) Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 1994 tentang Persyaratan dan Tata Cara
Pengesahan Akta Pendirian dan Perubahan Anggaran Dasar.
b) Peraturan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik
Indonesia Nomor : 01/Per/M.KUKM/I/2006 tanggal 9 Januari 2006 tentang Petunjuk
Pelaksanaan Pembentukan, Pengesahan Akta Pendirian dan Perubahan Anggaran Dasar
Koperasi.
c) Keputusan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik
Indonesia Nomor : 98/Kep/KEP/KUKM/X/2004 tanggal 24 September 2004 tentang
Notaris Sebagai Pembuat Akta Pendirian Koperasi.
d) UU No. 25/1992 tentang Perkoperasian Koperasi : badan usaha yang beranggotakan
orang-seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya
berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar
atas asas kekeluargaan. (pasal 1, ayat [1] ) (UU ini disahkan di Jakarta pada tanggal 21
Oktober 1992, ditandatangani oleh Presiden RI Soeharto, dan diumumkan pada
Lembaran Negara RI Tahun 1992 Nomor 116. Dengan terbitnya UU 25 Tahun 1992
maka dinyatakan tidak berlaku UU Nomor 12 Tahun 1967 tentang Pokok-pokok
Perkoperasian, Lembaran Negara RI Tahun 1967 Nomor 23, dan Tambahan Lembaran
Negara RI Tahun 1967 Nomor 2832).
e) UU No. 9 Tahun 1995 ttg Pelaksanaan Usaha Simpan Pinjam oleh Koperasi. Kegiatan
usaha simpan pinjam : kegiatan yang dilakukan untuk menghimpun dana dan
menyalurkan melalui usaha simpan pinjam dari dan untuk anggota koperasi ybs, calon
anggota koperasi ybs, koperasi lain dan atau anggotanya, (pasa 1, ayat [1] ). Calon
anggota koperasi sebagaimana dimaksud dalam waktu paling lama 3 bulan setelah
simpanan pokok harus menjadi (pasal 18 ayat [2] ).

A. Langkah-langkah Mendirikan Koperasi


1. Calon-calon Pendiri Harus Mempunyai Kepentingan Ekonomi yang Sama
Koperasi sebaiknya dibentuk oleh sekelompok orang atau anggota masyarakat yang
mempunyai kegiatan dan kepentingan ekonomi yang sama. Sebaiknya sebelum
melanjutkan proses mendirikan koperasi, dahulukanlah tindakan penyuluhan tentang
perkoperasian agar kelompok masyarakat yang ingin mendirikan koperasi tersebut
memahami mengenai perkoperasian, sehingga anggota koperasi nantinya benar-benar

3
memahami nilai dan prinsip koperasi dan paham akan hak dan kewajibannya sebagai
anggota koperasi (Pasal 3 dan Pasal 4 UU No.25 Tahun 1992).
2. Dilaksanakannya Rapat Pembentukan
Proses kedua dalam pendirian koperasi adalah dijalankannya Rapat Pembentukan
dimana untuk Koperasi Primer sekurang-kurangnya dihadiri oleh 20 orang anggota pendiri,
sedangkan untuk Koperasi Sekunder sekurang-kurangnya dihadiri oleh 3 (tiga) koperasi
melalui wakil-wakilnya (Pasal 5 Ayat 1). Rapat pembentukan koperasi tersebut dihadiri
oleh Pejabat Dinas/Instansi/Badan Yang Membidangi Koperasi setempat sesuai domisili
anggota (Pasal 5 Ayat 3), dimana kehadiran pejabat tersebut bertujuan antara lain untuk :
memberi arahan berkenaan dengan pembentukan koperasi, melihat proses pelaksanaan
rapat pembentukan, sebagai narasumber apabila ada pertanyaan berkaitan dengan
perkoperasian dan untuk meneliti isi konsep anggaran dasar yang dibuat oleh para pendiri
sebelum di”akta”kan oleh Notaris Pembuat Akta Koperasi setempat. Selain itu apabila
memungkinkan rapat pembentukan tersebut juga dapat dihadiri oleh Notaris Pembuat Akta
Koperasi yaitu Notaris yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Negara Koperasi dan
UKM untuk membantu membuat/menyusun akta pendirian, perubahan anggaran dasar dan
pembubaran koperasi. Dalam Rapat Pembentukan akan dibahas mengenai Anggaran Dasar
Koperasi yang memuat antara lain (Pasal 5 Ayat 5) :
1. Nama dan tempat kedudukan
2. Maksud dan tujuan
3. Jenis koperasi dan Bidang usaha Keanggotaan
4. Rapat Anggota
5. Pengurus, Pengawas dan Pengelola
6. Permodalan, jangka waktu dan Sisa Hasil Usaha
3. Penyusunan Akta Pendirian Koperasi
Proses ketiga yang harus dilakukan untuk mengesahkan Badan Hukum Koperasi
adalah Pembuatan atau penyusunan akta pendirian koperasi, yang dapat disusun oleh para
pendiri (apabila di wilayah setempat tidak terdapat NPAK) atau dibuat oleh Notaris
Pembuat Akta Koperasi (Pasal 6 Ayat 1). Selanjutnya Notaris atau kuasa Pendiri
mengajukan permohonan pengesahan secara tertulis kepada pejabat yang berwenang
dengan dilampirkan Pasal 7 ayat (1) :
 2 (Dua) rangkap salinan akta pendirian bermeterai cukup.
 Data akta pendirian koperasi yang dibuat dan ditandatangani Notaris.

4
 Surat bukti tersedianya modal yang jumlahnya sekurang-kurangnya sebesar simpanan
pokok dan simpanan wajib yang wajib dilunasi oleh para pendiri.
 Rencana kegiatan usaha minimal tiga tahun ke depan dan RAPB.
 Dokumen lain yang diperlukan sesuai peraturan perundang undangan.

4. Penelitian oleh Pejabat yang memiliki Kewenangan


Langkah akhir yang harus dilalui untuk mengesahkan koperasi tersebut sebagai
Badan Hukum adalah Penelitian oleh pejabat yang berwenang. Pejabat yang berwenang
akan melakukan :
 Penelitian terhadap materi Anggaran Dasar yang diajukan (Pasal 8 Ayat 2),
 Pengecekan terhadap keberadaan koperasi tersebut (Pasal 8 Ayat 2).
Kemungkinan-kemungkinan dalam keputusan pejabat:
 Apabila permohonan diterima maka pengesahan selambat lambatnya 3 (tiga) bulan
sejak berkas diterima lengkap (Pasal 9 Ayat 2).

 Jika permohonan ditolak maka Keputusan penolakan dan alasannya disampaikan


kembali kepada kuasa pendiri paling lama 3 (tiga) bulan sejak permohonan diajukan
(Pasal 12 Ayat 1).

 Mengenai penolakan, para pendiri dapat mengajukan permintaan ulang pengesahan


akta pendirian koperasi dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan. Keputusan
terhadap permintaan ulang tersebut diberikan paling lambat 1 (satu) bulan (Pasal 12
Ayat 2).
Demikian cara-cara pendirian koperasi hingga diakui sebagai Badan Hukum, dalam
proses tersebut terdapat Syarat berupa Dokumen Fisik yang harus dipenuhi.

3.2 Syarat Untuk Pendirian Koperasi


A. Umum
1. Dua rangkap Salinan Akta Pendirian koperasi dari notaris (NPAK).
2. Berita Acara Rapat Pendirian Koperasi.
3. Daftar hadir rapat pendirian Koperasi
4. Foto Copy KTP Pendiri (urutannya disesuaikan dengan daftar hadir agar
mempermudah pada saat verifikasi).
5. Kuasa pendiri (Pengurus terpilih) untuk mengurus pengesahan pembentukan koperasi.
6. Surat Bukti tersedianya modal yang jumlahnya sekurang;kurangnya sebesar simpanan
pokok dan simpanan wajib yang wajib dilunasi para pendiri.

5
7. Rencana kegiatan usaha koperasi minimal tiga tahun kedepan dan Rencana Anggaran
Belanja dan Pendapatan Koperasi.
8. Daftar susunan pengurus dan pengawas.
9. Daftar Sarana Kerja Koperasi
10. Surat pernyataan tidak mempunyai hubungan keluarga antara pengurus.
11. Struktur Organisasi Koperasi.
12. Surat Pernyataan Status kantor koperasi dan bukti pendukungnya.
13. Dokumen lain yang diperlukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan

B. Tambahan Persyaratan Pendirian Koperasi


Tambahan Persyaratan Pendirian Koperasi apabila memiliki usaha Unit Simpan Pinjam
(USP)
1. Surat bukti penyetoran modal sendiri pada awal pendirian, berupa Deposito pada Bank
Pemerintah atas nama Menteri Negara Koperasi dan UKM
2. Rencana Kerja paling sedikit 3 (tiga) tahun;
3. Kelengkapan administrasi organisasi & pembukuan USP dikelola secara khusus dan
terpisah dari pembukuan koperasinya;
4. Nama dan Riwayat Hidup Pengurus dan Pengawas
5. Surat Perjanjian kerja antara Pengurus koperasi dengan pengelola USP koperasi
6. Permohonan ijin menyelenggarakan usaha simpan pinjam
7. Surat Pernyataan bersedia untuk diperiksa dan dinilai kesehatan USP koperasinya oleh
pejabat yang berwenang
8. Struktur Organisasi Usaha Unit Simpan Pinjam (USP)
9. Nama dan riwayat hidup calon pengelola yang dilengkapi dengan :
a. Bukti telah mengikuti pelatihan/magang usaha simpan pinjam koperasi.
b. Surat keterangan berkelakuan baik.
c. Surat pernyataan tidak mempunyai hubungan keluarga sedarah dan semenda
dengan pengurus dan pengawas.
d. Surat Pernyataan pengelola tentang kesediaannya untuk bekerja secara purna
waktu.

6
C. Tambahan Persyaratan Pendirian Koperasi
Tambahan Persyaratan Pendirian Koperasi apabila memiliki usaha Unit Jasa Keuangan
Syariah (UJKS)
1. Surat bukti penyetoran modal sendiri pada awal pendirian, atas nama Menteri Negara
Koperasi dan UKM oleh Ketua Koperasi
2. Rencana kerja sekurang-kurangnya satu tahun
3. Kelengkapan administrasi organisasi & pembukuan
4. Keterangan pokok-pokok administrasi dan pembukuan yang didesain sesuai
karakteristik lembaga keuangan syariah
5. Nama dan riwayat hidup pengurus dan pengawas
6. Nama Ahli syariah/Dewan Syariah yang telah mendapat rekomendasi/sertifikat dari
Dewan Syariah
7. Nasional MUI.
8. Surat perjanjian kerja antara Pengurus Koperasi dengan Pengelola Manajer/Direksi
9. Struktur Organisasi Usaha Unit Jasa Keuangan Syariah (USP)
10. Nama dan Riwayat Hidup Calon Pengelola yang dilengkapi dengan :
a. Bukti telah mengikuti pelatihan/magang di lembaga keuangan syariah.
b. Surat keterangan berkelakuan baik.
c. Surat pernyataan tidak mempunyai hubungan keluarga sedarah dan semenda
dengan pengurus dan pengawas

D. Syarat Untuk Pendirian Koperasi Simpan Pinjam (KSP)


1. Dua rangkap Salinan Akta Pendirian koperasi dari notaris (NPAK)
2. Berita Acara Rapat Pendirian Koperasi
3. Daftar hadir rapat pendirian koperasi
4. Foto Copy KTP Pendiri (urutannya disesuaikan dengan daftar hadir agar
mempermudah pd saat verifikasi)
5. Kuasa pendiri (Pengurus terpilih) untuk mengurus permohonan pengesahan
pembentukan koperasi
6. Surat Bukti penyetoran modal sendiri pada awal pendirian KSP berupa Deposito pada
Bank Pemerintah atas nama Menteri Negara Koperasi dan UKM, dilengkapi dgn bukti
penyetoran dari anggota kepada koperasi
7. Rencana kerja koperasi minimal (3) tiga tahun kedepan(rencana permodalan, Neraca
Awal, rencana kegiatan usaha (business plan), rencana bidang organisasi &SDM)
7
8. Kelengkapan administrasi organisasi dan pembukuan
9. Daftar susunan pengurus dan pengawas
10. Surat pernyataan tidak mempunyai hubungan keluarga antara pengurus.
11. Daftar sarana kerja
12. Permohonan ijin menyelenggarakan usaha simpan pinjam
13. Surat Pernyataan bersedia untuk diperiksa dan dinilai kesehatan koperasinya oleh
pejabat yang berwenang
14. Surat Pernyataan Status kantor koperasi dan bukti pendukungnya
15. Struktur Organisasi KSP
16. Nama dan Riwayat Hidup calon Pengelola yang dilengkapi dengan :
a. Bukti telah mengikuti pelatihan/magang usaha simpan pinjam koperasi.
b. Surat keterangan berkelakuan baik.
c. Surat pernyataan tidak mempunyai hubungan keluarga sedarah dan semenda
dengan pengurus dan pengawas.
d. Surat Pernyataan pengelola tentang kesediaannya untuk bekerja secara purna
waktu.

E. Syarat Untuk Pendirian Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS)


1. Dua rangkap Salinan Akta Pendirian koperasi dari notaris (NPAK);
2. Berita Acara Rapat Pendirian Koperasi;
3. Daftar hadir rapat pendirian koperasi;
4. Foto Copy KTP Pendiri (urutannya disesuaikan dengan daftar hadir agar
mempermudah pd saat verifikasi);
5. Kuasa pendiri (Pengurus terpilih) untuk mengurus permohonan pengesahan
pembentukan koperasi.;
6. Surat Bukti penyetoran modal sendiri pada awal pendirian KJKS berupa Deposito pada
Bank Syariah atas nama Menteri Negara Koperasi dan UKM oleh Ketua Koperasi;
7. Rencana kerja koperasi minimal (1) satu tahun kedepan (rencana permodalan, Neraca
Awal, SOP,
8. rencana kegiatan usaha(business plan), rencana bidang organisasi &SDM);
9. Kelengkapan administrasi organisasi dan pembukuan;
10. Keterangan pokok-pokok administrasi dan pembukuan yang didesain sesuai
karakteristik lembaga keuangan syariah;
11. Nama dan riwayat hidup pengurus dan pengawas;

8
12. Nama Ahli syariah/Dewan Syariah yang telah mendapat rekomendasi/sertifikat dari
Dewan syariah Nasional MUI.
13. Surat pernyataan tidak mempunyai hubungan keluarga antara pengurus.
14. Daftar sarana kerja
15. Surat Pernyataan bersedia untuk diperiksa dan dinilai kesehatan koperasinya oleh
pejabat yang berwenang
16. Surat Pernyataan Status kantor koperasi dan bukti pendukungnya
17. Struktur Organisasi KJKS
18. Nama dan Riwayat Hidup calon Pengelola dengan melampirkan :
 Bukti telah mengikuti pelatihan/magang di lembaga keuangan syariah.
 Surat keterangan berkelakuan baik
 Surat pernyataan tidak mempunyai hubungan keluarga sedarah dan semenda dengan
pengurus dan pengawas

3.3 Tingkatan Koperasi dan Daerah Kerja Koperasi


Tingkatan koperasi dilihat dari jumlah anggota yang dimiliki oleh koperasi itu sendiri.
Berdasarkan tingkatan koperasi, koperasi terdiri atas Koperasi Primer dan Koperasi Sekunder.
a. Koperasi Primer
Koperasi Primer adalah badan usaha koperasi yang didirikan oleh dan beranggotakan
orang-seorang. Orang-orang ini berkumpul untuk memikirkan bagaimana memecahkan
masalah yang mereka hadapi secara bersama-sama. Mereka ini tentunya terdiri dari orang-
orang yang memiliki kepentingan sama dan pandangan hidup yang serupa.
Koperasi primer ini dapat terbentuk sekurang-kurangnya oleh 20 orang yang masing-
masing memenuhi syarat sebagai berikut:
1. Mampu melakukan tindakan hukum, artinya sudah dewasa dan berakal sehat
2. Menerima landasan idiil, asas dan sendi dasar koperasi
3. Sanggup dan bersedia memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak anggota, sebagaimana
diatur dalam UU No 25 tahun 1992, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga,
serta peraturan koperasi lainnya.
b. Koperasi Sekunder
Koperasi sekunder adalah koperasi yang terdiri dari gabungan badan-badan koperasi
serta memiliki cakupan daerah kerja yang luas dibandingkan dengan koperasi primer. Koperasi
sekunder dapat dibagi menjadi Koperasi Pusat, Gabungan Koperasi, dan Induk Koperasi.

9
1. Koperasi Pusat
Pusat koperasi adalah kumpulan dari sedikitnya 5 koperasi primer yang memiliki
sifat atau bidang usaha sama atau sejenis. Penggabungan ini dilakukan secara
horisontal, artinya semua koperasi primer yang sama bergabung menjadi satu.
Penggabungan koperasi primer yang sama seperti ini dimaksudkan untuk menggalang
persatuan dan menghindari persaingan di antara koperasi yang melakukan kegiatan
sejenis. Misalnya koperasi penjualan hendaknya tidak melakukan persaingan yang
mengarah kepada persaingan yang tidak sehat. Dengan bergabung menjadi pusat
koperasi, maka persaingan dapat diuubah menjadi kerjasama dan saling menukar
informasi. Pengurus koperasi pusat adalah wakil-wakil dari koperasi primer, ditambah
tenaga ahli yang digaji. Wilayah kerja pusat koperasi ini pada umumnya sama dengan
wilayah kabupaten.
2. Gabungan Koperasi
Gabungan Koperasi gabungan terdiri atas paling sedikit 3 pusat koperasi yang telah
berbadan hukum. Tugas utama gabungan koperasi adalah menyediakan informasi bagi
koperasi-koperasi anggotanya. Informasi-informasi tersebut dapat berupa majalah atau
bulletin lainnya. Selain itu, gabungan koperasi bertugas menyelenggarakan lembaga-
lembaga pendidikan bagi anggota, pengurus dan pegawai-pegawai yang bertugas di
koperasi. Anggota dari gabungan koperasi adalah pusat koperasi yang sejenis. Wilayah
kerja gabungan koperasi adalah sama dengan wilayah propinsi. Dengan demikian, pusat
koperasi yang sejenis dari seluruh kabupaten dalam satu propinsi dapat bergabung
dalam gabungan koperasi. Jumlah anggota minimal dari gabungan koperasi adalah tiga
pusat koperasi.
3. Induk Koperasi
Induk koperasi terdiri atas paling sedikit 3 gabungan koperasi yang merupakan
koperasi tingkat nasional. Mengingat tingkatnya sudah nasional sifat dari anggota induk
koperasi tidak harus sama. Induk Koperasi seperti ini biasa dinamakan Induk Koperasi
Nasional atau Pusat Koperasi nasional. Tugas utama induk koperasi adalah:
1) Mengeluarkan majalah yang memuat pengumuman-pengumuman, peristiwa-
peristiwa serta hal-hal lain yang menyangkut koperasi dan perkembangan koperasi
pada umumnya. Dalam majalah tersebut dimuat tulisan-tulisan yang bersifat
penyuluhan, bimbingan serta artikel koperasi lainnya.
2) Menyelenggarakan penyuluhan, bimbingan dan bahkan pendidikan koperasi bagi
anggota dan pengurus koperasi.

10
3) Menyebarkan cita-cita dan semangat koperasi, terutama kepada anggota koperasi
dan masyarakat pada umumnya.
4) Mempertahankan kelangsungan hidup koperasi serta mengusahakan kemajuan dan
perkembangan koperasi.
5) Memelihara dan memajukan kerjasama di kalangan anggota koperasi.
Yang dimaksud dengan Daerah Kerja Koperasi adalah luas-sempitnya wilayah
yang dijangkau oleh suatu badan usaha Koperasi dalam melayani kepentingan anggotanya
atau dalam melayani masyarakat. Daerah kerja bisa diartikan sebagai wilayah menurut
administrasi pemerintahan atau bida juga dalam arti daerah kerja koperasi. Berdasarkan
daerah kerja, koperasi bida digolongkan menjadi Koperasi Primer, Koperasi Sekunder dan
Koperasi Tersier.
a. Koperasi Primer
Koperasi ini beranggotakan orang-orang, yang biasanya didirikan pada lingkup
kesatuan wilayah terkecil tertentu. Koperasi primer yang bergerak dalam bidang
konsumsi, anggotanya terutama berasal dari masyarakat yang tinggal dalam jangkauan
pelayanan koperasi yang bersangkutan. Dengan demikian, dapat diartikan daerah
kerjanya terbatas dalam lingkungan wilayah tempat tinggal anggotanya. Demikian pula
koperasi lainnya yang daerah kerjanya hanya mencakup anggota yang berada dalam
lingkungan koperasi tersebut.
b. Koperasi Sekunder
Koperasi sekunder atau Pusat Koperasi adalah Koperasi yang beranggotakan
koperasi-koperasi primer, yang biasanya didirikan sebagai pemusatan dari beberapa
koperasi primer dalam suatu lingkup wilayah tertentu. Koperasi Sekunder dapat
memperkuat kedudukan ekonomi Koperasi Primer yang bergabung di dalamnya.
Koperasi Sekunder biasanya berkedudukan di Ibu Kota Propinsi.
c. Koperasi Tersier
Koperasi Tersier juga dapat disebut sebagai Induk Koperasi yang
beranggotakan koperasi-koperasi sekunder. Koperasi Tersier berkedudukan di Ibukota
Negara . koperasi ini berfungsi sebagai ujung tombak koperasi-koperasi primer yang
menjadi anggotanya, dalam berhubungan dengan lembaga-lembaga nasional yang
terkait dengan pembinaan dan gerakan koperasi, koperasi sejenis di negara lain, atau
nasional.

11
3.4 Struktur intern dan ekstern organisasi koperasi
A. Struktur Internal organisasi koperasi
Struktur internal organisasi koperasi melibatkan perangkat organisasi di dalam
organisasi itu sendiri. Perangkat organisasi koperasi adalah rapat anggota, pengurus, pengawas,
dan pengelola. Di anatara rapat anggota, penggurus, dan pengelola terjalin hubungan perintah
dan tanggung jawab. Sedangkan pengawas hanya memiliki hubungan satu arah, yaitu
bertanggung jawab terhadap rapat anggota, tanpa memberikan perintah pada pengakat
organisasi lainnya. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar dibawah ini :

 Anggota : setiap orang yang terdaftar sebagai peserta pemilik koperasi sesuai dengan
persyaratan dalam anggaran dasar.
 Rapat Anggota : pemegang kekuasan tertinggi dalam organisasi koperasi.
 Pengurus : melaksanakan keputusan keputusan yang ditetapkan oleh rapat anggota untuk
menggerakkan roda organisasi dalam merealisasikan tujuan yang ditetapkan.
 Pengawas : bertugas melaksanakan pengawasan atas pekerjaan pengawasannya.
 Pengelola : pelaksana harian kegiatan koperasi yang diangkat oleh pengurus koperasi
atas persetujuan rapat anggota.

B. Struktur eksternal organisasi koperasi


Struktur eksternal organisasi koperasi berhubungan dengan adanya penggabungan
koperasi sejenis pada suatu wilayah tertentu. Penggabungan itu dibutuhkan untuk pembinaan,
pelatihan, kemudian mendapat modal, dan kebutuhan kemudahan lainnya. Berkaitan dengan

12
itu, adanya koperasi induk, koperasi gabungan, koperasi pusat, dan koperasi primer. Bagan
struktur eksternal organisasi koperasi dapat dilihat pada berikut.

 Koperasi induk : gabungan dari paling sedikit 3 koperasi gabungan yang berkedudukan
di ibukota Negara.
 Koperasi gabungan : gabungan dari paling sedikit 3 koperasi pusat dan berkedudukan
di ibukota provinsi.
 Koperasi pusat : gabungan dari paling sedikit 4 koperasi primer dan berkedudukan di
ibokota kabupaten.
 Koperasi primer : koperasi yang merupakan perkumpulan dari paling sedikit 20 orang
yang bergabung dengan tujuan yang sama.

13
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Hamid, 1994. Faktorfaktor yanag Mendukung Pengembangan Koperasi dan Pengusaha
Kecil, IKIP, Bung. Ima Suwi, 1986. Koperasi

Sitio, Arifin, Halomoan Tamba, dan Wisnu Chandra Kristiaji. Koperasi Teori dan Prakteknya.
Jakarta ; Erlangga

Hendar. 2010. Manajemen Perusahaan Koperasi. Jakarta; Penerbit Erlangga.

14