Anda di halaman 1dari 69

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan

Sistem Pencernaan Akibat Keganasan


1. 1. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem
Pencernaan Akibat Keganasan Semester 04 Kegiatan Belajar
II Keperawatan Medikal Bedah I Badan Pengembangan dan
Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Pusat Pendidikan dan
Pelatihan Tenaga Kesehatan Jakarta 2013 Prodi Keperawatan
Mohammad Najib, SKp, MSc http://www.sehataja.com/wp-
content/uploads/2013/10/5.-Tips-Cegah-Refluks-Asam-Lambung-
1.jpg
2. 2. Kanker Lambung
3. 3. Kanker Lambung http://apchute.com/ap2models/stomach.jpg
kumpulan sel abnormal yang terbentuk oleh sel- sel yang
tumbuh terus-menerus secara tak terbatas, Pengertian tidak
terkoordinasi dengan jaringan sekitarnya dan tidak berguna
bagi tubuh

i
4. 4. http://themeathouseblog.files.wordpress.com/2012/01/steak-
grill_42407494.jpg Penyebab  Gastritis kronis (gastritis
atropik, polip di gaster)  Infeksi (oleh kuman H. Pylory) 
Herediter  Kebiasaan makan seperti makanan panas,
makanan yang di asap/dibakar, ikan asin, terlalu pedas. 
Kurang makanan yang mengandung serat.  Makan makanan
yang memproduksi bahan karsinogenik dan ko- karsinogenik
Kanker Lambung
5. 5. https://www.desimd.com/sites/default/files/stomach
%20cancer.jpg Patofisiologis Tanda dan gejala kanker lambung
meliputi: mual/muntah, anoreksia, disfagia, kelemahan,
hematemesis, regurgitasi, mudah kenyang, cegukan yang
berlebihan, asites (perut membesar), kram abdomen, adanya
darah yang nyata atau samar dalam tinja Kanker Lambung
6. 6. http://i2.mirror.co.uk/incoming/article120461.ece/ALTERNAT
ES/s2197/operation-generic-450-pic-getty-images-219989645-
120461.jpg Manajemen Medis Penanganan kanker lambung
meliputi pembedahan, kemoterapi, dan radiasi Kanker
Lambung
7. 7. http://www.snap-online.org/wp-
content/uploads/2013/08/nurse-appreciation.jpg Manajemen
Keperawatan Riwayat keperawatan yang perlu diperoleh dari
pasien meliputi makanan kesukaan khususnya makanan
asapan, asinan, acar, minum alkohol, riwayat diagnosis atau
pengobatan infeksi H pylori, gastritis atau anemi pernisiosa,
riwayat polip atau operasi lambung. Kanker Lambung
Pengkajian
8. 8. http://www.independent.co.uk/incoming/article8307325.ece/
BINARY/original/pg6-nursing-alamy.jpg Manajemen
Keperawatan 1) Nyeri berhubungan dengan proses
pertumbuhan sel-sel kanker 2) Perubahan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah dan tidak
nafsu makan 3) Kecemasan berhubungan dengan rencana
pembedahan. 4) Intoleransi beraktivitas berhubungan dengan
kelemahan fisik. Kanker Lambung Diagnosis Keperawatan
9. 9. 1 http://easyconsult.com.au/wp-
content/uploads/2013/10/planning.jpg Manajemen Keperawatan
Nyeri berhubungan dengan proses pertumbuhan sel-sel
kanker. Tujuan: Pasien mengatakan nyeri berkurang atau
dapat dikendalikan. Kanker Lambung Perencanaan
10. 10. 2 http://easyconsult.com.au/wp-
content/uploads/2013/10/planning.jpg Manajemen Keperawatan
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan mual, muntah dan tidak nafsu makan. Tujuan:
Kebutuhan nutrisi pasien dapat terpenuhi Kanker Lambung
Perencanaan
11. 11. 3 http://easyconsult.com.au/wp-
content/uploads/2013/10/planning.jpg Manajemen Keperawatan

ii
Kecemasan berhubungan dengan rencana pembedahan
Tujuan: Kecemasan pasien dapat diminimalkan Kanker
Lambung Perencanaan
12. 12. 4 http://easyconsult.com.au/wp-
content/uploads/2013/10/planning.jpg Manajemen Keperawatan
Intoleransi beraktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
Tujuan: Pasien menunjukkan peningkatan toleransi dalam
beraktivitas yang ditandai dengan: tidak mengeluh lemas,
pasien beraktivitas secara bertahap Kanker Lambung
Perencanaan
13. 13. http://easyconsult.com.au/wp-
content/uploads/2013/10/planning.jpg Manajemen Keperawatan
1) Mengungkapkan perasaan yang berhubungan dengan status
emosi, mengidentifikasi pola koping dan menerima dukungan
keluarga, teman dan petugas kesehatan 2) Mengelola nyeri
dan menyatakan bahwa peningkatan kenyamanan telah
dicapai 3) Mengalami nutrisi yang adekuat melalui intake oral,
TPN atau terapi kombinasi Kanker Lambung Evaluasi
14. 14. Kanker Kolon & Rektum
15. 15. Kanker Kolon & Rektum
http://www.uchospitals.edu/images/nci/CDR0000415508.jpg
Pengertian anker yang terjadi pada colon dan rektum.
Penyakit ini termasuk penyakit yang mematikan karena
penyakit ini sering tidak diketahui sampai tingkat yang lebih
parah, pembedahan adalah satu- satunya cara untuk
mengubah kanker kolorektal
16. 16. Kanker Kolon & Rektum
http://themeathouseblog.files.wordpress.com/2010/04/meat-on-
grill.jpg Etiologi Diet dan pengurangan waktu peredaran pada
usus besar (aliran depan feces) yang merupakan faktor
kausatif. Makanan- makanan yang pasti dicurigai mengandung
zat-zat kimia yang menyebabkan kanker pada usus besar,
Makanan tersebut juga mengurangi waktu pengosongan usus
besar menyebabkan terjadinya kanker
17. 17. Kanker Kolon & Rektum
http://themeathouseblog.files.wordpress.com/2010/04/meat-on-
grill.jpg Patofisiologi Tumor terjadi ditempat yang berada
dalam colon mengikuti kira-kira pada: a ) 26 % pada caecum
dan ascending colon, 10 % pada transfersum colon, 15 % pada
desending colon, 20 % pada sigmoid colon , 30 % pada rectum
18. 18. http://www.risksa.com/wp-content/uploads/2013/11/doctor-
holding-stethoscope.jpg Kanker Kolon & Rektum Manajemen
Medis 1) Chest X-ray dan liver scan mungkin dapat
menemukan tempat yang jauh yang sudah metastasis. 2)
Sigmoidoscopy dan colonoscopy untuk mengidentifikasi tumor
3) Enema barium mungkin dapat memperjelas keadaan tumor
dan mengidentifikasikan letaknya

iii
19. 19. http://www.risksa.com/wp-content/uploads/2013/11/doctor-
holding-stethoscope.jpg Kanker Kolon & Rektum Manajemen
Medis 4) Computer Tomografi (CT) membantu memperjelas
adanya massa dan luas dari penyakit. 5) Biopsi massa dapat
juga dilakukan dalam prosedur tersebut
20.20. http://www.medicalrecruitment-
agencies.com/images/Medical-recruitment/Registered-Nurse-
recruitment.jpg Manajemen Keperawatan Sebagian besar yang
menjadi pertanyaan perawat: riwayat keluarga terhadap
kanker colorektal, radang usus besar, penyakit Crohn’s,
keluarga poliposis/kolorektal kanker, adenoma, perubahan
kebiasaan bab (diare/konstipasi, dengan atau tanpa darah),
pasien mungkin merasa perutnya terasa penuh, nyeri, dan
berat badan turun. Pengkajian Kanker Kolon & Rektum
21.21. http://4.bp.blogspot.com/-e5AmZWKfanQ/UJLHO7-
li6I/AAAAAAAAAHM/mckWKqd8jCA/s1600/iStock_00001449670
5Medium.jpg Manajemen Keperawatan 1) Resiko tinggi
terhadap luka sehubungan dengan efek dari tumor dan
kemungkinan metastase 2) Konstipasi sehubungan dengan
lesi obstruktif 3) Ketidakefektifan koping individu sehubungan
dengan gangguan konsep diri Diagnosis KeperawatanKanker
Kolon & Rektum
22.22. http://4.bp.blogspot.com/-e5AmZWKfanQ/UJLHO7-
li6I/AAAAAAAAAHM/mckWKqd8jCA/s1600/iStock_00001449670
5Medium.jpg Manajemen Keperawatan 4) Nyeri sehubungan
dengan obstruksi tumor pada usus besar dengan kemungkinan
menekan organ yang lainnya, 5) Gangguan nutrisi : Kurang dari
kebutuhan tubuh sehubungan dengan program diagnosa,
ketakutan proses penyakit Kanker Kolon & Rektum Diagnosis
Keperawatan
23.23. 1 http://4.bp.blogspot.com/-e5AmZWKfanQ/UJLHO7-
li6I/AAAAAAAAAHM/mckWKqd8jCA/s1600/iStock_00001449670
5Medium.jpg Manajemen Keperawatan Kanker Kolon &
Rektum Resiko tinggi terhadap luka sehubungan dengan efek
dari tumor dan kemungkinan metastase. Tujuan: Klien
menyatakan tidak tidak ada penyebaran kanker ke organ vital.
Perencanaan
24.24. 2 http://4.bp.blogspot.com/-e5AmZWKfanQ/UJLHO7-
li6I/AAAAAAAAAHM/mckWKqd8jCA/s1600/iStock_00001449670
5Medium.jpg Manajemen Keperawatan Kanker Kolon &
Rektum Konstipasi sehubungan dengan lesi obstruktif Tujuan:
Pola eliminasi sesuai kebutuhan fisik dan gaya hidup dengan
ketetapan jumlah dan konsistensi. Perencanaan
25.25. 3 http://4.bp.blogspot.com/-e5AmZWKfanQ/UJLHO7-
li6I/AAAAAAAAAHM/mckWKqd8jCA/s1600/iStock_00001449670
5Medium.jpg Manajemen Keperawatan Kanker Kolon &
Rektum Ketidakefektifan koping individu sehubungan dengan
gangguan konsep diri Tujuan: pasien mampu mengidentifikai,

iv
mengembangkan dan menggunakan koping yang efektif dalam
usaha menerima perubahan tubuh. Perencanaan
26.26. 4 http://4.bp.blogspot.com/-e5AmZWKfanQ/UJLHO7-
li6I/AAAAAAAAAHM/mckWKqd8jCA/s1600/iStock_00001449670
5Medium.jpg Manajemen Keperawatan Kanker Kolon &
Rektum Nyeri sehubungan dengan obstruksi tumor pada usus
besar dengan kemungkinan menekan organ yang lainnya.
Tujuan: pasien mengatakan nyeri berkurang atau terkontrol.
Perencanaan
27. 27. 5 http://4.bp.blogspot.com/-e5AmZWKfanQ/UJLHO7-
li6I/AAAAAAAAAHM/mckWKqd8jCA/s1600/iStock_00001449670
5Medium.jpg Manajemen Keperawatan Kanker Kolon &
Rektum Gangguan nutrisi: Kurang dari kebutuhan tubuh
sehubungan dengan program diagnosa, ketakutan proses
penyakit. Tujuan: Pasien akan mencapai intake nutrient &
kalori yang optimal Perencanaan
28.28. http://www.dashe.com/blog/wp-content/uploads/2011/03/3-
iStock_000005289430Medium.jpg Manajemen Keperawatan
Kanker Kolon & Rektum 1) Mencapai dan mempertahankan
pola eliminasi usus yang konsisten tanpa darah dalam feses,
diare atau konstipasi 2) Mengungkapkan diagnosis kanker,
mendefinisikan kanker, dan menjelaskan pengobatan dan
alasannya. Evaluasi
29.29. http://www.dashe.com/blog/wp-content/uploads/2011/03/3-
iStock_000005289430Medium.jpg Manajemen Keperawatan
Kanker Kolon & Rektum 3) Mengatakan mulai mulai menerima
penyakit dan mulai menyatukan pengobatan ke dalam gaya
hidup sehari-hari 4) Menunjukkan perawatan insisi yang
sesuai, perawatan colostomi dengan bantuan minimal.
Evaluasi
30.30. Kanker Hati (Hepatoma)
31.31. Kanker Hati (Hepatoma)
http://www.uchospitals.edu/images/nci/CDR0000415508.jpg
Pengertian anker hepar atau hepatoma, kanker hati,
karsinoma hepatoseluler adalah suatu proses keganasan pada
hepar.
32.32. Kanker Hati (Hepatoma) http://obatthalasemia.net/wp-
content/uploads/2013/02/Hepatitis-B.jpg Etiologi Virus
Hepatitis B dan Virus Hepatitis C, bahan-bahan
Hepatokarsinogenik (aflatoksin, alkohol, penggunaan steroid
anabolic, penggunaan androgen yang berlebihan, bahan
kontrasepsi oral, penimbunan zat besi yang berlebihan dalam
hati (hemochromatosis).
33.33. Kanker Hati (Hepatoma) Patofisiologi Kanker hati atau
Hepatoma 75% berasal dari sirosis hati yang lama/menahun,
khususnya yang disebabkan oleh alkoholik dan postnekrotik,
hati mengalami kerusakan dan gangguan fungsi yang disertai
pembesaran hati mendadak

v
34.34. http://3.bp.blogspot.com/_kTYGry0U2oo/TTK62l6m2-
I/AAAAAAAAAGc/GdSlVr9FrP8/s1600/22122010573.jpg
Manajemen Medis Pilihan treatment meliputi kemoterapi, dan
terapi radiasi. Pembedahan yaitu reseksi segmen atau lobus
hati diindikasikan pada tumor yang kecil dan terbatas tegas
pada satu lobus hati. Kanker Hati (Hepatoma)
35.35. http://relevance.com/wp-content/uploads/2013/05/doctor-
writing.jpg Manajemen Keperawatan Gejala klinik; fase dini
asimtomatik (tidak terlihat adanya tanda-tanda), fase lanjut
(tidak dikenal simtom yang patognomonik) Kanker Hati
(Hepatoma) Pengkajian
36.36. http://www.logicbay.com/Portals/23667/images/diagnose_c
hannel_health.jpg Manajemen Keperawatan 1) Gangguan
kebutuhan nutrisi (kurang) berhubungan dengan anoreksia,
mual, gangguan absorpsi, metabolisme vitamin, 2)
Ketidakefektifan pola bernapas berhubungan dengan adanya
asites dan penekanan diapragma, 3) Nyeri berhubungan
dengan tegangnya dinding perut 4) Gangguan istirahat tidur
berhubungan dengan sesak dan nyeri Kanker Hati (Hepatoma)
Diagnosa Keperawatan
37. 37. 1 Manajemen Keperawatan Ketidakefektifan pernapasan
berhubungan dengan adanya penurunan ekspansi paru
(ascites dan penekanan diapragma). Tujuan: Setelah dilakukan
tindakan keperawatan diharapakan pernapasan efektif
kembali. Kanker Hati (Hepatoma) Perencanaan
http://www.diagnosing.me/diagnosing.jpg
38.38. 2 Manajemen Keperawatan Gangguan rasa nyaman nyeri
berhubungan dengan adanya penumpukan cairan dalam
rongga aberhubungan abdomen (ascites). Tujuan: Setelah
dilakukan tindakkan keperawatan diharapakn nyeri dapat
berkurang atau pasien bebas dari nyeri Kanker Hati
(Hepatoma) Perencanaan
http://www.diagnosing.me/diagnosing.jpg
39.39. 3 Manajemen Keperawatan Gangguan nutrisi: kurang dari
kebutuhan berhubungan dengan tidak adekuatnya asupan
nutrisi. Tujuan: kebutuhan nutrisi terpenuhi Kanker Hati
(Hepatoma) Perencanaan
http://www.diagnosing.me/diagnosing.jpg
40.40. 4 Manajemen Keperawatan Gangguan istirahat tidur
berhubungan dengan sesak dan nyeri. Tujuan: Setelah
dilakukan tindakan perawatan diharapakan tidur terpenuhi
sesuai kebutuhan. Kanker Hati (Hepatoma) Perencanaan
http://www.diagnosing.me/diagnosing.jpg
41.41. 5 Manajemen Keperawatan Gangguan aktifitas
berhubungan dengan sesak dan nyeri. Tujuan: Setelah
dilakukan tindakan perawatan diharapkan pasien dapat
melakukan aktivtas dengan bebas Kanker Hati (Hepatoma)
Perencanaan http://www.diagnosing.me/diagnosing.jpg

vi
42.42. http://lawschooltoolbox.com/wp-
content/uploads/2013/09/exams.jpg Evaluasi 1) Menyatakan
nyeri berkurang atau mereda dengan obat yang diresepkan
atau tindakan pengurangan yang lain 2) Menggunakan layanan
dukungan psikologis 3) Mempertahankan berat badan dan
menerima nutrisi yang optimal Kanker Hati (Hepatoma)

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN


GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN :
“PENYAKIT CROHN”
Posted on September 7, 2013 by mikimikiku
Stand
ar
Sistem Pencernaan

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Penyakit-penyakit inflamatorik kolon atau penyakit penyakit radang usus besar(
Inflammatory Bowel Diseases) dapat dibagi dalam dua golongan :

1. Penyakit radang kolon karena infeksi

2. Penyakit radang kolon karena non-infeksi.

Penyakit infeksi disebabkan karena kuman Shigella, ameba


dan sebagainya.Yang akan dibahas sekarang adalah penyakit radang kolonyang
non-infeksi atautidak jelas disebabkan karena infeksi.Walaupun kasus ini tidak
begitu sering dijumpaidiIndonesia dibandingkan dengan negara-negara Barat,
akantetapi justru karena hal ini,maka penyakit tersebut seringkurang mendapat
perhatian oleh dokter di Indonesia,sehingga diagnosa menjadi salah dan
pengobatan tidak diberikan dengan tepat.
Pada tahun 1932, Chorn, Ginzberg dan Oppenheimer mendeskripsikan penyakit
Chorn dengan melokalisasi segmen ileum dan mempengaruhi gastrointestinal
lainnya. Kondisi ini kemudian di dokumentasikan bahwa enteritis regional bisa
melibatkan bagian manapun dari saluran gastrointrstinal.

Di Amerika Serikat prevalensi enteritis regional adalah sekitar 7 kasus per


100.000 penduduk. Insiden dan prevalensi enteritis regional atau terutama
colon tampaknya terus meningkat selama 5 dekade terkhir, terutama dibagian
iklim utara. Tingkat insiden di Eropa berkisar 0,7 – 9,8 kasus per 100.000 orang,
di Asia berkisar 0,5 – 4,2 per 100.000, dan tingkat kasus baru yang terendah
muncul di Afrika Selatan (0,3 – 2,6 per 100.000) dan Amerika Latin (0 – 0,03 per
100.000) (Arif Muttaqin, 2001).

B. TUJUAN
Tujuan Umum

1. Untuk mengetahui konsep dasar dan teori penyakit Chorn

2. Untuk mengetahui konsep dasar asuhan keperawatan penyakit Chorn

vii
Tujuan Khusus

1. Untuk melengkapi tugas sistem pencernaan

2. Untuk pustaka dalam pengumpulan materi S1 Keperawatan

C. METODE

1. Metode kajian pustaka

2. Metode penulusan dari iternet

3. Metode penggunaan eBook

BAB II
PEMBAHASAN
KONSEP DASAR PENYAKIT Crohn

1. PENGERTIAN PENYAKIT CROHN


Enteritis regional adalah inflamasi kronis dan sub-akut yang meluas keseluruh
lapisan dinding usus dari mukosa usus, ini di sebut juga transmural .

(brunner&suddarth.2002. keperawatan medical bedah.edisi 8.vol 2:1105)


Penyakit crohn merupakan salah satu penyakit usus inflamatorik, yang dapat
menyerang seluruh bagian saluran gastrointestinal , mulai dari mulut (berupa
stomatitis) sampai lesi pada anus.

(arif mansjoer, dkk .2001.kapita selekta kedokteran. Edisi ketiga.jilid 1: 497)


Crohn disease adalah suatu inflamasi transmural gangguan dari saluran system
pencernaan.

(Grace.P.A.2002. Surgery at a Glance second edition:95)

Enteritis regional(penyakit crohn) merupkan suatu penyakit peradangan


granulomatosa kronis pada saluran cerna yang sering terjadi berulang.

(price, and Wilson. 2006. Patofisiologi konsep penyakit klinis proses-proses


penyakit:446)

1. B. EPIDEMIOLOGI
Laki-laki atau perempuan 1:1,6 terjadi pada usia muda . Angka kejadian tertinggi
paling banyak pada orang Eropa dan orang-orang Yahudi. (Grace.P.A.2002.
Surgery at a Glance second edition:95)

Secara umum Crohn’s disease merupakan penyakit bedah primer usus halus,
dengan insidens sekitar 100.000 kasus per tahun. Insidens tertinggi didapatkan
di Amerika Utara dan Eropa Utara. Di Amerika Serikat, dan Eropa Barat insidens
Crohn’s disease mencapai 2 kasus per 100.000 populasi, dengan prevalensi
sekitar 20 – 40 kasus per 100.000 populasi . Dilaporkan bahwa telah terjadi
peningkatan insidens Crohn’s disease secara dramatis di Amerika Serikat
antara tahun 1950-an hingga 1970-an, untuk selanjutnya menjadi stabil pada
tahun 1980-an .

viii
Menurut jenis kelamin, insidens Crohn’s disease lebih tinggi pada perempuan
dibandingkan dengan laki-laki, dengan rasio 1,1 – 1,8 : 1. Beberapa ahli percaya
bahwa distribusi jenis kelamin ini berhubungan dengan proses-proses autoimun
yang terjadi pada Crohn’s disease

Crohn’s disease mempunyai 2 puncak insidens berdasarkan kelompok usia.


Puncak insidens pertama adalah pada 18 – 25 tahun. Puncak usia berikutnya
adalah antara 60 – 80 tahun. Pada pasien yang berusia lebih muda dari 20 tahun
Crohn’s disease lebih banyak menyerang usus halus, sedangkan pada yang
berusia diatas 40 tahun Crohn’s disease lebih banyak menyerang colon.
Penyebab perbedaan lokasi penyakit ini tidak diketahui .

Meskipun Crohn’s disease dapat menyerang setiap bagian dari saluran cerna,
namun terdapat tiga lokasi primer baik secara klinis maupun anatomis yang
paling sering, yaitu hanya usus halus saja (30%), usus halus bagian distal dan
colon (45%), dan hanya colon saja (25%). 30% dari seluruh kasus Crohn’s
disease terjadi bersamaan dengan penyakit rektal, dan 33 – 50% terjadi
bersamaan dengan penyakit perianal seperti fisura ani, abses perianal, dan
fistula perianal

1. ETIOLOGI
Etiologi dari Penyakit Corhn :

1. Masih belum diketahui


2. Kelemahan sel- system imun yang melemah
3. Factor genetic tapi belum diketahui secara pasti
4. Adanya infeksi mycrobakterium atau virus akibat hypersensitivitas.
5. Perokok pasif maupun pasif bisa beresiko
(Grace.P.A.2002. Surgery at a Glance second edition:95)

1. MANIFESTASI KLINIS
Gejala klinis yang paling sering timbul adalah sebagai berikut :

1. Nyeri abdomen
2. Diare yang tidak hilang dengan defekasi, terjadi pada 90% pasien .
3. Jaringan parut dan pembentukan granuloma mempengaruhi kemampuan
usus untuk menstranspor produk dari pencernaan usus atas melalui
lumen terkonstriksi mengakibatkan nyeri abdomen seperti kram . karena
peristaltic usus di rangsang oleh makanan, nyeri terjadi setelah makan.
Untuk menghindari nyeri, pasien cenderung untuk membatasi masukan
makanan , mengurangi jumlah dan jenis makanan sehingga kebutuhan
nutrisi normal tidak terpenuhi.
4. Penurunan berat badan ,malnutrisi, 3nemia sekunder.akibatnya individu
menjadi kurus karena masukan makanan tidak adekuat dan cairan hilang
secara terus-menerus.
5. Usus yang terinflamasi dapat mengalami perforasi dan membentuk
abses anal dan intra-abdomen . terjadi demam dan leukositosis. Abses
,fistula, dan fisura umum terjadi.
6. Perjalan klinis dan gejala bervariasi. Pada beberapa pasien terjadi
periode remisi dan eksaserbasi, sementara yang lain mengikuti beratnya
penyebab.

ix
7. Gejala meluas keseluruhan saluran gastrointestinal dan umumnya
mencakup masalah sendi(arthritis),lesi kulit(eritema nodosum),gangguan
okuler(konjungtivitis), ulkus oral.

(brunner&suddarth, keperawatan medical bedah.vol 2:1105)

1. PATOFISIOLOGI
Enteritis regionl/ penykit crohn umumnya terjadi pada remaja atau dewasa muda
, tetapi dapt terjadi kapan sja selama hidup. Keadaan ini sering terlihat pada
populasi lansia (50-80 tahun). Meskipun ini dpat terjdi dimana saja disepanjang
sluran gastrointestinal , area paling umum yang sering terkena adalah ileum
distl dan kolon.

Enteritis regional dalah penykit inflamasi kronois dan subakut yang meluas
keseluruh lapisan dinding usus dari mukosa usus, ini disebut juga transmural.
Pembentukan fistula . fistula dan abses terjadi sesuai luasnya inflamasi
kedalam peritoneum . lesi (ulkus)tidak pada kontak terus menerus satu sama
lain dipisahkan oleh jaringan normal. Granuloma terjadi pada setengah kasus .
pada kasus lanjut mukosa usus mempunyai penampilan (coblostone) dengan
berlanjutnya penyakit , dinding usus menebal dan menjadi fibrotic dan lumen
usus menyempit.

(brunner&suddarth, keperawatan medical bedah.vol 2:1105)

Manifestasi pada penyakit Corhn akan terjadi nyeri abdoemn menetap dan diare
yang tidak hilang dengan defeksi. Diare terjadi pada 90% pasien. Jaringan parut
dan pembentukan granuloma mempengaruhi kemampuan usus untuk
mentraspor produk dari pencernaan usus atas melalu lumen yang terkonstriksi,
mengakibatkan nyeri abdomen berupa kram. Gerakan peristaltik usus
dirangsang oleh makan sehingga nyeri kram terjadi setelah makan. Untuk
menghindari nyeri kram ini, pasien cenderung untuk membatasi masukan
makanan, mengurangi jumlah dan jenis makanan sehingga kebutuhan nutrisi
normal tidak terpenuhi. Akibatnya adalah penurunan berat badan, malnutrisi,
anemia sekunder. Selain itu, pembentukan ulkus dilapisan membran usus dan
ditempat terjadinya inflamasi akan menghasilkan rabas pengiritasi konstan
yang dialirkan ke kolon dari usus yang tipis, bengkak, yang menyebabkan diare
kronis. Kekurangan nutrisi dapat terjadi akbiat absorbsi terganggu. Malabsorbsi
terjadi sebagai akibat hilangnya fungsi penyerapan permukaan mukosa.
Fenomena ini dapat mengakibatkan malnutrisi protein – kalori, dehidrasi dan
beberapa kekurangan gizi.

1. KOMPLIKASI
Obstruksi usus atau pembentukan striktur, penyakit perianal ,
ketidakseimbangan cairan dan elektrolit , dan pembentukan fistula serta abses .
fistula adalah hubungan abnormal antara dua struktur tubuh , baik internal
(antara dua struktur internal dan permukaan luas dari tubuh ). Jenis fistula usus
halus yang paling umum yang diakibatkan oleh enteritis regional adalah fistula
enterokutan (antara usus halu dan kulit). Abses dapat berasal dari jalur fistula
internal yamg kemudian masuk kedalam area yang mengakibatkan akumulasi
cairan dan infeksi.

(brunner&suddarth, keperawatan medical bedah.vol 2:1108)

x
1. G. PROGNOSIS
Beberapa penderita sembuh total setelah suatu serangan yang mengenai usus
halus.Tetapi penyakit Crohn biasanya muncul lagi dengan selang waktu tidak
teratur sepanjanghidup penderita. Kekambuhan ini bisa bersifat ringan atau
berat, bisa sebentar atau lama.Mengapa gejalanya datang dan pergi dan apa
yang memicu episode baru atau yangmenentukan keganasannya tidak
diketahui.Peradangan cenderung berulang pada daerah usus yang sama, namun
bisamenyebar pada daerah lain setelah daerah yang pernah terkena diangkat
melaluipembedahan.Penyakit Crohn biasanya tidak berakibat fatal. Tetapi
beberapa penderita meninggalkarena kanker saluran pencernaan yang timbul
pada penyakit Crohn yang menahun.

(http://www.scribd.com/doc/101327839/Makalah-Crohn)

– Crohn disease adalah penyakit inflamasi kronis , dan berulang dari


aktifasi penyakit yang bisa muncul kembali.
– 75% dari pasien akan dilakukan tindakan operasi suatu waktu

– 60% dari pasien akan dilakukan tindakan lebih dari satu kali
operasi/bisa berkali-kali dilakukan operasi

– Harapan untuk hidup dari pasien crohn disease kecil berbeda dari
jumlah penduduk normal

(Grace.P.A.2002. Surgery at a Glance second edition:95)

1. PENATALAKSANAAN
A. Penatalaksanaan umum
Koreksi anemia , malnutrisi, dehidrasi

Diet rendah serat, suplementasi vitamin, besi, atau asam folat.

1. Penatalaksanaan famakologi
– 5-Aminosalicylic acid (5ASA mesalazine). Ini adalah senyawa dari aksi
local anti-inflamasi, terutama pada colon, dan dapat pangaturan rectal atau
oral. Perlambatan perumusan pelepasan(pentasa atau asacol) melarutkan di
dalam kolon , pada saat mentransrifkan pembentukan dari 5ASA
(sulphasalazine,osalazine,dan basalazine) adalah pelepasa enzim di dalam colon
oleh bakteri.

– Corticosteroids ,terapi steroid biasanya efektif mempengaruhi remisi


dan bisa digunakan terutama untuk pengobatan penyakit yang akut dan sudah
mulai adanya pembusukan. Itu mungkin dapat diatur oleh parenteral,oral, dan
rectal. Memperpanjang pengobatan steroid sistemik banyak efek yang
merugikan. Mrncangkup memperburuk osteoporosis . budesonide adalah
sintetik steroid proses metabolisme dengan cepat oleh liver. Menghasilkan level
sistemik yang lebih rendah, dan kemungkinan itu sebagai partikel yang efektif
dari penyakit terminal crohn disease.

– Immunosuppressives, obat seperti azathioprine, 6-mercaptopurine dan


methotrexate dapat digunakan , terutama ketika sering mengalami relaps
mengharuskan mengulangi pengobatan steroid.

– Antibiotic , metronidazole , mungkin membujuk remisi dari beberapa


penyebab crohn disease tapi ini tidak efektif di ulseratif colitis.

xi
– Probiotik , bacteria yang hidup, untuk memperbaiki dari
keseimbangan flora normal pada usus, telah digunakan untuk pengobatan
dengan berhasil.

(keshaf, satish.2004.the gastrointestinal system at a glance:79)

1. Pembedahan
Pembedahan Panproctocolectomy (ppemotongan colon dan rectum)
adalah penyembuhan untuk colitis ulseratif dan digunakan sebagai tempat
beristirahat selanjutnya untuk penyakit ringan atau dimana timbul dysplasia.
Crohn disease hampir tanpa terkecuali setelah operasi. Oleh karena itu
,penggunaan prosedur bedah lebih besar terbatas. Contohnya pengurangan
tanda dan gejala penyempitan atau terjadi abses.

(keshaf, satish.2004.the gastrointestinal system at a glance:79)

Lebih dari 80% pasien yang telah lama menderita penyakit Crohn akan
menjalani operasi walaupun operasi tak mencegah rekuensi , namun dapat
menghilangkan gejala dalam waktu lama.

(arif mansjoer, dkk .2001.kapita selekta kedokteran. Edisi ketiga.jilid 1: 498)

1. I. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium adalah kadar hemoglobin, hematokrit, kadar besi


serum untuk menilai kehilangan darah dalam usus, laju endap darah untuk
menilai aktivitas inflamasi serta kadar alumin serum untuk status nutrisi, serta
C reactive protein yang dapat dipakai juga sebagai parameter aktivitas penyakit

2. Endoscopy

Penyakit crohn dapat bersifat transmural, segmental dan dapat terjadi disaluran
cerna bagian atas, usus halus ataupun colon.

3. Radiologi

Barium kontas ganda dapat memperlihatkan striktur, fistula, mukosa yang


iregular, gambaran ulkus dan polip, ataupun perubahan distenbilitas lumen kolon
berupa penebalan dinding usus. Peran Ct Scan dan ultrasonografi lebih banyak
ditujukan pada penyakit crohn dalam mendeteksi adanya bases ataupu fistula.

4. Histopatologi

Spesimen yang berasal dari operasi lebih mempunyai nilai diagnostik daripada
spesimenyang diambil secara biopsi per – endoskopik. Terlebih lagi bagi
penyakit crohn yang lesinya bersifat transmural sehingga tidak dapat dijangkau
dengan teknik biopsi per-endoscopik. Gambaran khas untuk penyakit crohn
adanya granuloma tuberculoid (terdapat 20 – 40% kasus) merupakan hal yang
karakteristik disampung adanya infiltrasi sel makrofag dan limfosit di lamina
profia serta ulserasi yang dalam.

5. MRI

xii
Dapat lebih unggul daripada Ct Scan dalam menunjukkan lesi panggul. Oleh
karena kadar air diverensia, MRI dapat mebedakan peradangan aktif dari
fibrosis dan dapat membedakan antara inflamasi serta lesi fibrostenosis
penyakit crohn.

6. Colonoscopy

Dapat membantu ketika barium enema satu kontras belum informatif dalam
mengevalusia sebuah lesi kolon. Kolonoscopy berguna dalam memperoleh
jaringan biopsi, yang membantu dalam diferensiasi penyakit lain, dalam evaluasi
lesi masa, dan dalam pelaksanaan surveilans kanker. Colonoscopy juga
memungkinkan mefisualisasi fibrosis striktur pada pasien dengan penyakit
kronis. Selain itu, colonoscopy juga dapat digunakan dalam periode pasca
operasi bedah untuk mengevaluasi anastomosis dan meprediksi kemungkinan
kambuh klinis serta respon terhadap terapi pasca operas

BAB III
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Riwayat kesehatan
Pasien melaporkan tanda gejala awalnya seperti diare tapi belum terjadi
perdarahan pada fases(3-5 dengan konsistensi cair /hari),
kelelahan,anorexia,nyeri abdomen yang hilang timbul. Jika penyakit tersebut
berkembang cepat biasanya pasien mengalami nyeri pada abdomen yang
menetap dan terus-menerus pada kuadran kanan bawah, kehilangan berat
badan, kelelahan yang lebih berat, dan demam ringan. Beberapa pasien bisa
terjadi penurunan turgor kulit di sekitar parineal dan area sekitar rectal.

2. Pemeriksaan fisik
Karena crohn disease adalah penyakit inflamasi kronis yang mempengaruhi dari
sistem saluran pencernaan dan menyebabkan anorexia,diare yang
berkepanjangan, masalah malnutrisi dan dehidrasi. Inspeksi tentang
kehilangan/kerontokan rambut,kulit kering,membran mukosa yang lembab,
turgor kulit yang buruk,kelemahan otot dan lesu. Inspeksi juga daerah perianal
untuk mengetahui ada tidaknya tanda-tanda dari pembentukan fistula.

Palpasi daerah abdomen mengetahui ada/tidaknya nyeri


tekan,kelembutan,pembesaran. Umumnya terdapat nyeri tekan pada abdomen
kuadran kanan bawah, tetapi catat: intensitas,jenis nyeri,dan lamanya nyeri.
Auskultasi area abdomen untuk mendengar bising usus. Seringkali,
hiperaktifitas peristaltik usus akan dicatat sebagai peristiwa inflamasi yang
akut.

3. Psikososial
Akibat dari peradangan yang kronis dan tubuh yang mulai melemah karena
berbagai tanda gejala yang muncul, kira-kira dengan seringnya pasien dirawat di
rumah sakit, sering kali menunjukan hasil pada masalah psikologi dan isolasi
sosial. Pengkajian mekanisme koping , sebaiknya diberikan dukungan/support
system.

xiii
(Sommers,Susan,dkk.2007. Disease And Disorders A Nursing Therapeutics
Manual:253)
4. Diagnosa keperawatan utama
Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d anorexia, diare,dan
berkurangnya absorbsi dari usus.

Hasil :

Status nutrisi: makanan dan cairan yang masuk, pemasukan nutrisi,


pemeriksaan lab/biochemical , massa tubuh(IMT), energi, pengeluaran fases,
daya tahan tubuh/sistem imun.

5. Intervensi
Pengaturan nutrisi:

– Terapi nutrisi, penasehat nutrisi dan memonitoring

– Pengaturan cairan dan elektrolit

– Pengobatan medis, memberi makan melalui selang(NGT), terapi intravena


,pelaksanaan nutrisi total parenteral

(Sommers,Susan,dkk.2007. Disease And Disorders A Nursing Therapeutics


Manual:254)
1. Perencanaan dan Implementasi
2. Pengobatan medis
Banyak dari penatalaksanaan medis yang utama dari pengobatan . selama
periode pembusukan yang akut, usus besar harus ”diistirahatkan” sangat
penting untuk meningkatkan angka kesembuhan. Usus diistirahatkan dapat
dicapai dengan menempatkan NPO pasien dengan pelaksanaan dari nutrisi total
parenteral untuk pemenuhan kebutuhan cairan,nutrisi, dan elektrolit. Suatu
masalah yang akut akan surut dan tanda gejala mulai berkurang. Diet yang
tinggi protein , vitamin , dan calori yang sudah ditentukan. Diet pasien
diharuskan seimbang, dan tambahan suplemen berserat dari penyakit colonic:
mengurangi konsumsi makanan yang kasar biasanya mengindikasikan pasien
dengan gejala obstruksi. Mengurangi sisa, bebas susu biasanya mentoleransi
makanan dengan baik.

6. Pembedahan/operasi
Operasi , lebih dulu bukan intervensi yang utama, kemungkinan menjadi
kebutuhan untuk penyakit pasien yang mengalami komplikasimseperti :
perforasi usus,abses,obstruksi usus,fistula,atau perdarahan dan untuk
penatalaksanaan yang tidak berespon konservatif seperti gizi/nutrisi dan terapi
obat. Sekitar 60% keadaan penyakit kambuh kembali dari proses intervensi
tindakan operasi yang telah dilakukan. Beberapa reksesi (penghapusan
sebagian organ atau struktur tubuh lainnya) juga dapat menyebabkan sindroma
usus pendek,menegaskan sebagai sebagai malabsorbsi dari cairan ,elektrolit,
dan nutrisi, yang mana akan menyebabkan penurunan nutrisi. Sindrom tersebut
terjadi ketika kehilangan lebih dari 150 cm fungsi dari saluran usus kecil secara
tetap.

(Sommers,Susan,dkk.2007. Disease And Disorders A Nursing Therapeutics


Manual:254)

7. Tindakan mandiri

xiv
Fokus dari asuhan keperawatan pada dukungan terhadap pasien yang
mengalami masalah yang sudah akut dari inflamasi dan mengajarkan langkah-
langkah pencegahan serangan inflamasi di kemudian hari. Mempertahankan
keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh pasien adalah hal yang sangat
penting. Mendorong pasien untuk minum 3000 ml air/hari, keuali ada
kontraindikasi tertentu. Menerapkan langkah-langkah untuk mencegah
turgor kulit turun diarea parianal.

Menyediakan waktu istirahat yang sering . mempertahankan status nutrisi yang


adekuat dengan menghitung jumkah kalori . Perhitungan yang lain termasuk
membantu pasien dengan menjaga kebersihan mulut. Menyediakan waktu untuk
makan dan diselingi dengan waktu istirahat yang cukup setiap hari. Monitoring
nutrisi cairan total parenteral intravena yang di resepkan . dan pasien tidak ada
indikasi pada level dari serum albumin.

Mendorong pasien untuk mengekspresikan perasaannya dan merujuk pasien


untuk konseling lebih sering sesuai dengan kebutuhan pasien. Bisa juga
mendiskusikan langkah mengurangi keadaan stress dan kecemasan hidup
dengan pasien dan keluarga.

8. Pedoman dokumentasi
a) Membuktikan stabilitas dari tanda-tanda vital,status hidrasi, suara bising
usus/peristaltic usus,dan elektrolite.

b) Respon terhadap pengobatan : toleransi terhadap makanan, kemampuan


untuk makan dan memilih makanan yang seimbang dengan benar, berat badan
dapat naik atau turun.

c) Lokasi, intensitas, dan frekuensi dari nyeri ,factor yang dapat


menghilangkan nyeri.

d) Angka kejadian diare dan karakteristik dari tinja.

e) Adanya komplikasi : fistula, turgor kulit menurun, pembentukan abses,


proses inflmsi.

(Sommers,Susan,dkk.2007. Disease And Disorders A Nursing Therapeutics


Manual:254)

BAB IV

xv
PENUTUP

A. Kesimpulan
Penyakit Crohn (Enteritis Regionalis, Ileitis Granulomatosa, Ileokolitis) adalah
peradangan menahun pada dinding usus. Etiologi Penyakit Crohn tidak
diketahui. Penelitian memusatkan perhatian pada tiga kemungkinan
penyebabnya, yaitu :

1. Kelainan fungsi sistem pertahanan tubuh.


2. Infeksi.
3. Makanan.
Penyakit Crohn dapat terjadi dimanasaja disepanjang saluran gastrointestinal,
area paling umum yang serin terkena adalah ilium distal dan kolon.

Gejala-gejala Penyakit Crohn pada setiap penderitanya berbeda, tetapi ada 4


pola yang umum terjadi, yaitu :

1.Peradangan : nyeri dan nyeri tekan di perut bawah sebelah kanan.


2.Penyumbatan usus akut yang berulang, yang menyebabkan kejang dan
nyeri hebat di dinding usus, pembengkakan perut, sembelit dan muntah-
muntah.
3. Peradangan dan penyumbatan usus parsial menahun, yang menyebabkan
kurang gizi dan kelemahan menahun.
4. Pembentukan saluran abnormal (fistula) dan kantung infeksi berisi
nanah (abses), yang sering menyebabkan demam, adanya massa dalam
perut yang terasa nyeri dan penurunan berat badan.
Komplikasi pada kasus yang menahun, timbul striktura yang menyebabkan
obstruksi, fistel-fistel antara usus dan usus kecil atau antara usus dan kandung
kemih atau fistel antara usus dan kulit. Pengkajian dan diagnosis yang tepat
akan mempermudah pengobatan.

B. Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan, oleh
karena itu penulis berharap kritik dan saran yang membangun untuk pembuatan
makalah selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner&Suddarth.2002. keperawatan medical bedah edisi 8 vol 2 . Jakarta :


EGC
Grace.P.A.2002. Surgery at a Glance second edition.blackwell science Ltd
keshaf, satish.2004.the gastrointestinal system at a glance.Blackwell Publishing
Company
Lemone,Priscilla, dan Karen Burke.2004.Medical Surgical Nursing Critical
thinking in client care third edition.USA: Pearson Education.
Mansjoer, arif dan kuspuji triyanti, dkk.2001.kapita selekta kedokteran Edisi
ketiga jilid 1.jakarta.media Aesculapius.
price, and Wilson. 2006. Patofisiologi konsep penyakit klinis proses-proses
penyakit.jakarta:EGC
Sommers,Susan,dkk.2007. Disease And Disorders A Nursing Therapeutics
Manual third edition.USE: F.A David Company
http://www.scribd.com/doc/101327839/Makalah-Crohn/2011/2012

xvi
NANDA internasional Diagnosa Keperawatan 2012-2014.2012.Jakarta: EGC

KARYA TULIS ILMIAH

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN ULKUS


DIABETES MELITUS PADA KELUARGA Tn. H DI DESA
AMBOKEMBANG KECAMATAN KEDUNGWUNI
KABUPATEN PEKALONGAN

xvii
Karya Tulis Ilmiah ini diajukan sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar
ahli madya keperawatan

Oleh :

Endah Rakhmawati
NIM :13.1654.P

PRODI DIII KEPERAWATAN


STIKES MUHAMMADIYAH PEKAJANGAN
PEKALONGAN
2016

LEMBAR PERSETUJUAN

Karya Tulis Ilmiah berjudul “Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Ulkus


Diabetes Mellitus Pada Keluarga Tn. H Di Desa Ambokembang Kecamatan
Kedungwuni Kabupaten Pekalongan” yang disusun oleh Endah Rakhmawati

xviii
telah disetujui untuk dipertahankan dihadapan penguji sebagai salah satu syarat
yang diperlukan untuk memperoleh gelar Ahli Madya Keperawatan pada Program
Studi DIII Keperawatan STIKes Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan.

Pekalongan, 22 Juni 2016


Pembimbing KTI

Herni Rejeki M.Kep.,Ns.Sp.Kep.Kom


NIK: 96.001.016

xix
LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS

Karya Tulis Ilmiah ini adalah hasil karya saya sendiri, dan semua sumber baik
yang dikutip maupun dirujuk telah saya nyatakan dengan benar

Pekalongan, 22 Juni 2016


Yang membuat pertanyaan

Endah Rakhmawati
NIM. 13.1654.P

xx
HALAMAN PENGESAHAN

Karya Tulis Ilmiah yang berjudul ”Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Ulkus
Diabetas Mellitus Pada Keluarga Tn. H Di Desa Ambokembang Kecamatan
Kedungwuni Kabupaten Pekalongan” yang disusun oleh Endah Rakhmawati telah
disetujui untuk dipertahankan di hadapan penguji dan diterima sebagai salah satu
syarat yang diperlukan untuk memperoleh gelar Ahli Madya Keperawatan pada
Progam Studi DIII Keperawatan STIKes Muhammadiyah Pekajangan
Pekalongan.

Pekalongan, 26 Juli 2016


Dewan Penguji
Penguji I Penguji II

Sigit Prasojo,SKM, M.Kep Herni Rejeki M. Kep., Ns.Sp.Kep.Kom


NIK.90.001.007 NIK. 96.001.016

Mengetahui
Ka. Prodi DIII Keperawatan
STIKes Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Herni Rejeki M. Kep., Ns.Sp.Kep.Kom


NIK. 96.001.016

xxi
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya
yang telah dilimpahkan sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah
dengan judul “Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Ulkus Diabetes Mellitus
Pada Keluarga Tn. H Di Desa Amokembang Kecamatan Kedungwuni Kabupaten
Pekalongan” Penulis dalam menyusun Karya Tulis Ilmiah ini mendapatkan
bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, maka tak lupa penulis
menghaturkan terima kasih kepada:
1. Bapak Mokhamad Arifin, S.Kp, MKep, selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan.
2. Ibu Herni Rejeki, M.Kep.,Ns.Sp, Kep.Kom, selaku Kepala Prodi Diploma III
Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Pekajangan
Pekalongan sekaligus sebagai Pembimbing yang telah memberikan
bimbingan, arahan, kritik dan saran dalam penyusunan Karya Tulis ilmiah dan
selaku penguji II.
3. Sigit Prasojo,SKM, M.Kep selaku penguji I
4. Seluruh dosen dan karyawan Prodi DIII Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan.
5. Kepada Ibu dan Bapak tercinta, Ibu Sri Sulastri dan Bapak Sudiono serta
kakak saya Setyo Wibowo yang telah memberikan kasih sayang, semangat,
dan do’a yang selalu memberikan inspirasi hidup kepada penulis.
6. Teman teman seperjuangan Riza Nofi R, Desi kharisma, Nurul Fadillah,
Khomariyah Susanti dan semua pihak yang telah membantu yang tidak dapat
disebutkan satu persatu.
Penuis mengharapkan saran dan kritik dan semoga Karya Tulis Ilmiah ini
bermanfaat bagi peneliti maupun pembaca.
Pekalongan, 22 Juni 2016
Penulis

xxii
DAFTAR ISI

JUDUL .......................................................................................................... i

LEMBAR PERSETUJUAN ........................................................................ ii

LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS ............................................... iii

HALAMAN PENGESAHAN ...................................................................... iv

KATA PENGANTAR .................................................................................. v

DAFTAR ISI ................................................................................................. vi

BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang..........................................................................

B. Tujuan Penulisan ......................................................................

C. Manfaat Penulisan ....................................................................

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Diabetes Mellitus .....................................................................

4.................................................................................................

B. Konsep Asuhan Keperawatan Keluarga ..................................

16

BAB III. RESUME KASUS

A. Pengkajian ...............................................................................

31

B. Diagnosa Keperawatan dan Skoring.........................................

33

xxiii
C. Rencana Keperawatan ..............................................................

36

D. Implementasi ............................................................................

36

E. Evaluasi ....................................................................................

37

xxiv
BAB IV. PEMBAHASAN ............................................................................ 39

BAB V. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan ..................................................................................

...............................................................................................47

B. Saran.........................................................................................

...............................................................................................48

DAFTAR PUSTAKA

xxv
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Diabetes Mellitus atau DM adalah penyakit yang disebabkan oleh
gangguan-gangguan pada penyerapan gula darah oleh tubuh. Sehingga
membuat kadarnya dalam darah menjadi tinggi. Tingginya kadar gula dalam
darah inilah yang menyebabkan Diabetes Mellitus, dan pada gilirannya
menimbulakan berbagai komplikasi kesehatan (Susanto 2013, h 7).
Komplikasi yang terjadi pada Diabetes Mellitus, yaitu ketoasidosis
diabetik, hipoglikemia, penyakit jantung koroner, gangguan mata, gangguan
ginjal, gangguan saraf, infeksi, dan kaki diabetik. Pada komplikasi kaki
diabetik adalah komplikasi yang sering terjadi sekaligus memiliki dampak
yang fatal pada kejadian pada dapat dilakukan amputasi (Santoso 2013, h.40
sampai 48).
Perserikatan bangsa bangsa (WHO) membuat perkiraan bahwa pada
tahun 2000 jumlah pengidap Diabetes Mellitus diatas umur 20 tahun
berjumlah 150 juta orang dan dalam waktu 25 tahun kemudian, pada tahun
2025, jumlah jumlah itu akan membengkak menjadi 300 juta orang. WHO
justru menunjukan peningkatan tertinggi jumlah pasien diabetes di Negara
Asia Tenggara termasuk Indonesia ini sesuai dengan perkiraan yang
dikemukakan oleh WHO bahwa Indosesia akan menepati peringkat urutan ke
5 sedunia dengan jumlah pengidap Diabetes sebanyak 12,4 juta orang pada
tahun 2025, naik dibandingkan tahun 1995 (Sudono 2009, h.1874-1876).
Menurut penelitian epidemiologi di Indonesia penderita Diabetes
berkisar antara 1,4% dengan 1,6%, kecuali di dua tempat yaitu di dua tempat
yaitu di Pekajangan 2,3% dan Manado 6% (Sudoyo 2009, h.1875). Di
Indonesia, Diabetes Mellitus merupakan kelainan endokrin yang banyak
dijumpai dengan prevalensi sebesar 1,5-2,1%, di Jawa Tengah dengan
prevalensi 1,6-1,9% di Kota Pemalang 2,1% (RISKESDES, 2013).

xxvi
Menurut Dinas Pekalongan pada tahun 2015 terdapat penderita
Diabetes Mellitus sebanyak 2564 orang terkena Diabetes Mellitus terdiri dari
1017 laki-laki dan 1542 perempuan. Data di Puskesmas Kedungwuni 02
terdapat 118 orang terkena Diabetes Mellitus.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Memberikan informasi tentang asuhan keperawatan keluarga dengan luka
DM di Desa Ambokembang.
2. Tujuan Khusus
Tujuan Khusus karya ilmiah ini agar penulis mampu:
a. Teridentifikasinya masalah keperawatan keluarga dengan Diabetes
Mellitus di Desa Ambokembang.
b. Ditegakannya diagnosa keperawatan keluarga dengan luka Diabetes
Mellitus di Desa Ambokembang.
c. Tersusunnya rencana keperawatan keluarga dengan luka Diabetes
Mellitus di Desa Ambokembang.
d. Terlaksanannya tindakan keperawatan keluarga dengan luka Diabetes
Mellitus di Desa Ambokembang.
e. Terlaksanannya evaluasi keperawatan keluarga dengan luka Diabetes
Mellitus di Desa Ambokembang.

C. MANFAAT
1. Bagi Institusi Pendidikan
Karya Tulis Ilmiah ini diharapkan dapat menambah khasanah pustaka
tentang asuhan keperawatan keluarga dengan Diabetes Melitus dan dapat
dijadikan bahan referensi bagi akademik.
2. Bagi Profesi Keperawatan
Karya Tulis Ilmiah ini dapat memberikan informasi tentang asuhan
keperawatan keluarga dengan Diabetes Mellitus dan mengimplementasi-
kan ilmu yang telah diperoleh di bangku kuliah dalam memberikan
asuhan keperawatan pada keluarga dengan Diabetes Mellitus.

BAB II
TIJAUAN PUSTAKA

xxvii
A. Diabetes Mellitus
1. Pengertian
Diabetes Mellitus atau kencing manis adalah penyakit yang disebabkan
oleh gangguan-gangguan pada penyerapan gula darah oleh tubuh,
sehingga membuat kadarnya didalam darah menjadi tinggi. Tingginya
kadar gula di dalam darah inilah yang menyebabkan Diabetes Mellitus,
dan pada gilirannya menimbulkan berbagai komplikasi kesehatan lainnya.
Gangguan proses penyerapan gula darah oleh tubuh sendiri disebabkan
oleh fungsi-fungsi yang berkaitan dengan organ organ pankreas. Selain
itu, Diabetes Mellitus juga memiliki kaitan dengan berbagai faktor lain,
salah satunya pola makan yang tidak seimbang (Sutanto 2013, h 7).
Diabetes Mellitus adalah suatu sindrom yang ditandai dengan
peningkatan kadar glukosa darah yang disebabkan oleh karena adanya
penurunan sekresi insulin (Soegondo dan Soewondo-Subekti 2009, h.10).

2. Etiologi
Penyebab Diabetes Mellitus adalah kurangnya atau tidak adanya
produksi insulin oleh pankreas, menyebabkan glukosa dalam pembuluh
darah tidak dapat diserap sel-sel tubuh untuk digunakan sebagai bahan
bakar. Akibat dari itu, glukosa tidak dapat dipakai oleh sel-sel tubuh akan
menumpuk dalam aliran darah, hal ini kemudian menyebabkan rasa
kelaparan yang tinggi pada penderita karena sel-sel tidak dapat energi dari
glokusa (Sutanto 2013, h.24).
Keturunan juga merupakan pemicu Diabetes Mellitus yang tidak dapat
ditawar-tawar, dengan memiliki riwayat Diabetes Mellitus dalam
keluarga, maka resiko seseorang untuk terkena penyakit gula darah ini
menjadi lebih tinggi dibandingkan orang lain yang tidak memiliki riwayat
kencing manis dalam keluarganya. Faktor keturunan adalah faktor resiko,
faktor resiko dapat membesar jika dipicu oleh faktor lingkungan (Sutanto
2013, h.57 sampai 59).
Gaya hidup dapat menentukan besar kecilnya resiko seseorang untuk
terkena Diabetes Mellitus. Ketika memilih makanan, orang lebih mencari
makanan yang enak rasanya dari pada makanan dengan kekayaan
nutrisinya. Padahal biasanya memiliki kadar nutrisi yang rendah, terlalu
banyak lemak, tinggi kolesterol, terlalu banyak gula, terlalu banyak
garam, menggunakan bahan pengawet, dan sebagainya. Dari kebisaan-
kebiasan menyantap makanan yang rendah nutrisi, sehingga
mengakibatkan kondisi kekurangan nutrisi. Jika kondisi ini berlanjut
maka akibatnya akan mengganggu aktifitas sel. Asupan gula dan lemak
yang berlebihan dapat mengakibatkan diabetes. Tingginya mengkonsumsi
lemak tidak hanya mengakibatkan obesitas dan peningkatan penyakit
jantung, tetapi juga salah satu faktor penyebab Diabetes (Sutanto 2013, h.
61).

3. Patofisiologis

xxviii
Menurut Badero dkk 2013 (hh.87-89) patofisiologis terjadinya
Diabetes Mellitusapabila jumlah atau dalam fungsi atau aktifitas insulin
mengalami defisiensi (kekurangan) insulin, hiperglikemi akan timbul.
Kekurangan insulin ini bisa absolut apabila pankreas tidak menghasilkan
sama sekali insulin atau menghasilkan, tetapi dalam jumlah yang tidak
cukup, misalnya IDDM (DM Tipe 1). Kekurangan insulin dikatakan
relatif apabila pankreas menghasilkan insulin dalam jumlah yang normal
tetapi insulinya tidak efektif. Hal ini tampak pada NIDDM ( DM tipe 2),
ada resistensi insulin. Baik kekurangan insulin absolut maupun relatif
akan mengakibatkan gangguan metabolisme bahan bakar, yaitu
karbohidrat, protein, dan lemak. Tubuh memerlukan bahan bakar untuk
melangsungkan fungsinya, membangun jaringan baru, dan memperbaiki
jaringan. Penting sekali bagi pasien untuk mengerti bahwa Diabetes
bukan hanya gangguan “gula” walaupun kriteria diagnostiknya memakai
kadar glukosa serum. Perawat perlu menjelaskan kepada pasien bahwa
Diabetes Mellitus mempengaruhi cara tubuh memakai karbohidrat,
protein, dan lemak.
Diabetes Mellitus adalah salah satu penyakit yang sulit dimengerti oleh
pasien dan pemberi asuhan. Pengertian DM mungkin bisa dipermudah
dengan mempelajari “star player” Diabetes Mellitus. Hormon berfungsi
sebagai “board of direction” dalam kaitan dengan metabolisme, yaitu
mengarahkan dengan mengendalikan kegiatan. Board of direction
mempunyai representasi pankreas (insulin dan glukosa), kelenjar hipofisis
(GH dan ACTH ) korteks adrenal (kortisol) sistem syaraf autonimik
(noreprineprin), dan medula adrenal (epineprin). Dari semua hormon yang
terkait dalam metabolisme glukosa, hanya insulin yang menurunkan kadar
gula darah. Hormon yang lain “counterregulatory hormones” karena bisa
gula darah meningkat. Insulin adalah hormon yang kurang (absolut atau
relatif) dalam penyakit DM. Hormon insulin disintesis (dihasilkan) oleh
sel beta pulau langerhans yang terdapat pada pankreas. Peran insulin
adalah melihat bahwa sel tubula dapat memakai bahan bakar. Insulin
berperan sebagai kunci yang bisa membuka pintu sel agar bahan bakar
bisa masuk kedalam sel. Pada permukaan setiap sel terdapat reseptor.
Dengan membuka reseptor (oleh insulin), glukosa dan asam amino basa
masuk kedalam sel tubuh.
Glukosa, asam amino, dan produk metabolik lainnya tidak bisa masuk
kedalam sel sehingga sel tanpa hormon insulin tidak bisa memakainya
untuk memperoleh energi. Glukosa yang tidak bisa masuk kedalam sel
akan tertimbun dalam darah. Bagian endokrin pankreas memproduksi,
menyimpan, dan mengeluarkan hormon dari pulau langerhans. Pulau
langerhans mengandung empat kelompok sel khusus alfa, beta, delta,
dan sel F. Sel sel alfa menghasilkan glukagon, sedangkan sel beta
menghasilkan insulin. Kedua hormon ini membantu mengatur
metabolisme. Sel delta menghasilkan somatostatin (faktor penghambat
pertumbuhan hipotalamik) yang bisa membantu sekresi glukagon dan

xxix
insulin. Sel F menyekresi polipeptida pankreas yang dikeluarkan kedalam
darah setelah individu makan. Fungsi pankreas polipeptida belum
diketahui secara jelas.
Penyebab gangguan endokrin utama pankreas adalah produksi dan
kecepatan pemakaian metabolik insulin. Kurangnya insulin secara relatif
dapat mengakibatkan peningkatan glukosa darah dan glukosa dalam urine.
Dalam keadaan normal makanan yang telah dicerna dalam gestasional
diubah menjadi glukosa, lemak, dan asam amino serta masuk kedalam
peredaran darah. Dengan insulin, hepar dapat mengambil glukosa, lemak,
dan asam amino dari peredaran darah. Dengan insulin, hepat dapat
mengambil glukosa, lemak, dan asam amino dari peredaran darah. Hepar
menyimpan glukosa dalam bentuk glikogen, yang lain disimpan dalam sel
otot dan sel lemak. Cadangan ini (glikogen) dapat diubah kembali
menjadi glikosa apabila diperlukan.
4. Klasifikasi
Penyakit Diabetes Mellitus terdiri dari 3 tipe utama, yaitu Diabetes
Mellitus tipe 1, Diabetes Mellitus tipe 2, dan Diabetes Gestasional.
Diabetes Mellitus tipe 1 adalah penyakit Diabetes Mellitus yang terjadi
karena adannya gangguan pada pankreas, menyebabkan pankreas tidak
mampu memproduksi insulin dengan optimal, sedangkan Diabetes
Mellitus tipe 2 adalah penyakit Diabetes Mellitus yang disebabkan karena
sel-sel tubuh tidak menggunakan insulin sebagai sumber energi atau sel-
sel tubuh tidak merespon insulin yang dilepaskan pankreas, inilah yang
disebut dengan resistensi insulin, dan Diabetes Gestasional adalah
diabetes yang disebabkan karena kehamilan karena pankreas penderita
tidak dapat menghasikan insulin yang cukup untuk mengontrol gula drah
pada tingkat yang aman bagi si ibu dan janin (Santoso 2013, h. 23 sampai
26).
5. Tanda dan Gejala
(Corwin 2009, h.631) menyatakan gambaran klinis pada penyakit DM
ditentukan berdasarkan beberapa hal, yaitu :
a. Poliuria adalah peningkatan penegluaran urine karena air mengikuti
glukosa yang keluar melalui urine
b. Polidipsia adalah peningkatan rasa haus akibat volume urine yang
sangat besar dan keluarnya air yang menyebabkan dehidrasi ekstra sel.
c. Rasa lelah dan kelemahan otot akibat katabolisme protein diotot dan
ketidakmampuan sebagian besar sel untuk menggunakan glukosa
sebagai energi. Aliran darah yang buruk pada pasien Diabetes Mellitus
juga berperan menyebabkan kelelahan.
d. Polifagia adalah peningkatan rasa lapar akibat keadaan pasca
absorptif yang kronis, katabolisme protein dan lemak, dan kelaparan
relatif sel. sering terjadi penurunan berat badan tanpa terapi.
6. Manifestasi Klinik

xxx
Manifestasi klinik yang terjadi pada luka DM adalah umumnya pada
daerah plataran kaki, kelalaian bentuk pada kaki, deformitas kaki,
berjalan yang kurang seimbang, adanya fisura dan kering pada kulit,
pembentukan kalus pada area yang tertekan, tekanan nadi yang pada area
kaki kemungkinan normal, ABI (ankle brachial index) normal, luka
biasanya dalam dan berlubang, sekeliling kulit, dapat terjadi selulitis,
hilang atau berkurangnya sensasi nyeri , xerosis (keringnya kulit kronik),
hyperkeratosis pada sekeliling luka dan anhidrosis, eksudat yang tidak
begitu banyak, biasanya luka tampak merah (suriadi 2004,63-67).
7. Komplikasi
Menurut Sutanto (2013, hh 40 sampai 49) penyakit Diabetes
Mellitusmerupakan penyakit yang memiliki banyak sekali komplikasi.
Komplikasi Diabetes Mellitusmencakup dua yaitu komplikasi komplikasi
akut dan kronik, yaitu:
a. Komplikasi jangka pendek (akut)
Komplikasi yang terjadi dalam jangka pendek atau bersifat mendadak.
Terdiri dari :
1) Ketoasidosis Diabetik
Kadar glukosa dalam darah yang sangat tinggi menyebabkan
timbulnya kondisi yang disebut ketoasidosis. Kadar hormon
insulin yang sangat rendah menyebabkan gula yang ada didalam
darah tidak dapat masuk kedalam sel tubuh untuk di proses
menjadi sumber energi. Sel-sel tubuh yang tidak mendapatkan
gula sebagai makanan selanjutnya beralih menggunakan lemak
sebagai alternatifnya. Kondisi ini pada akhirnya membentuk asam
beracun yang disebut keton. Kondisi ini berdampak sangat buruk
karena dapat terjadi koma diabetik (hilang kesadaran) adalah
keadaan koma karena salah satu komplikasi diabetes. Gelaja-
gejala dapat ditunjukan dengan beberapa hal yaitu mulut kering,
rasa haus, intensitas buang air kecil lebih sering (poliuria), mual,
muntah, dan terkadang nyeri perut. Gejala lanjutan seperti
kesulitan bernafas, dehidrasi, rasa mengantuk, dan terparah adalah
koma. Penanganan ketoasidosis dengan pemberian injeksi insulin
dan mengganti cairan tubuh yang hilang dan kadar ion kalsium
pada darah yang turut berkurang akibat sering seringnya buang air
kecil.
2) Hipoglikemi
Hipoglikemi adalah kondisi dimana kadar glukosa darah sangat
rendah. Kondisi ini dapat mengakibatkan terjadinya koma hingga
kerusakan otak. Kekurangan asupan karbohidrat juga bisa menjadi
penyabab hipoglikemia.
3) Sindrom Hiperosmolar Diabetik (diabetik hyperosmolar
syndrome)
Sindrom Hiperosmolar Diabetik adalah kondisi yang disebabkan
kadar gula darah puncak terukur sebesar 600 mg/dl. Darah

xxxi
menjadi ketal dan manis gula dibuang kedalam air seni yang
memicu pembuangan jumlah besar cairan dari tubuh jika titak
ditangani mengakibatkan dehidrasi dan koma.
b. Komplikasi jangka panjang (kronik)
Penyakit Diabetes Mellitusyang tidak terkontrol dalam waktu lama
akan menyebabkan komplikasi kronik, yaitu berupa kerusakan
pembuluh darah dan saraf. hal-hal yang dapat disebabkan komplikasi
jangka panjang adalah sebagai berikut :
1) Penyakit jantung koroner
Komplikasi Diabetes Mellitus pada pembuluh darah jantung
sangat membahayakan, jantung berperan dalam mengedarkan
darah ke seluruh organ tubuh. Apabila darah semakin mengental
akibat tingginya kadar gula dalam darah, maka dapat
menyebabkan jantung harus bekerja ekstra keras untuk memompa
darah. Di perparah jika penderita mempunyai timbunan lemak
pada jantung. Selain menyebabkan gangguan pada jantung dapat
menyebabkan penyakit hipertensi.
2) Gangguan mata (Retinopati Diabetik)
Retinopati merupakan penyebab kebutaan pertama di dunia.
Retinopati terjadi karena adanya kerusakan pada pembuluh darah
retina atau lapiasan saraf mata. Kerusakan ini menyebabkan
kebocoran dan terjadinya penumpukan cairan yang mengandung
lemak serta pendarahan pada retina. Semakin lama seseorang
menderita diabetes maka semakin besar kemungkian terjadinya
kondisi retinopati.
3) Gangguan ginjal (Nefropati Diabetik)
Gangguan ginjal atau nefropati akibat diabetes terjadi ketika
penumpukan gula dalam pembuluh darah merusak elemen
penyaring dalam ginjal yang disebut nefron. Akibat rusaknya
sistem penyaringan ini maka akan terjadi kebocoran pada ginjal.
Maka akan menimbulkan gagal ginjal. Penderita harus cuci darah
dan cangkok ginjal untuk bertahan hidup.
4) Gangguan saraf
Gangguan pada saraf karena diabetes disebut juga dengan istilah
neuropati diabetik. Gangguan saraf terjadi karena tumpukan gula
darah merusak sel-sel saraf. gangguan dapat menyebabkan
terjadinya hilang rasa pada beberapa organ tubuh.
Gangguan pada saraf sensoris menyebabkan terjadinya hilang
rasa. Gangguan pada motoris menyebabkan pengecilan (atrofi)
otot, dan gangguan pada saraf otonom menyebabkan perubahan
pola keringat penderita tidak dapat berkeringat, kulit menjadi
kering, mudah timbul pecah-pecah, dan mudah terkena infeksi.
5) Diabetes dan Infeksi
Penderita diabetes lebih sering mengalami infeksi baik oleh
jamur,bakteri, maupun virus dibandingkan dengan orang yang

xxxii
tidak mengidap diabetes. Penyebab infeksi berkaitan dengan
kondisi hipoglikemi maupun gangguan imunitas.
6) Kaki Diabetik
Kaki Diabetik merupakan kondisi komplikasi Diabetes Mellitus
yang paling sering terjadi sekaligus memiliki dampak yang fatal,
pada pada kejadian parah harus dilakukan amputasi (Sutanti 2013,
h.49).
Komplikasi kaki diabetik terjadi karena adanya gangguan pada
sistem saraf (neuropati), pembuluh darah, dan terjadinya infeksi.
Gangguan pada sistem saraf menyebabkan rasa kebal dikaki
(hilang rasa), sehingga seorang penderita sering tidak sadar adanya
luka. Gangguan pembuluh darah meneyebabkan terganggunya
proses penyembuhan luka. Dan terakhir, adanya kerentanan
penderita diabetes terhadap terjadinya infeksi didaerah luka.
Keseluruhan kondisi yang terjadi ini mengakibatkan borok
(gangren) pada kaki. Keadaan kaki diabetik yang parah atau tidak
ditangani secar tepat dapat berkembang menjadi suatu tindakan
pemotongan atau amputasi kaki.
Pencegahan kaki diabetik adalah menghindari terjadinya luka dan
terus berupaya mengontrol keadaan kadar gula darah dengn diet
atau pemberian obat yang teratur dari dokter (Sutanto 2009, h.
49).
Terjadinya masalah kaki diawali adanya adanya hiperglikemi
pada penyandang DM yang menyebabkan kelainan neuropati dan
kelainan pada pembuluh darah. Neuropati, baik neuropati sensori
maupun motorik dan autonomik akan mengakibatkan berbagai
perubahan pada kulit dan otot, yang kemudian menyababkan
terjadinya perubahan pada kulit dan otot, yang kemudian
menyebabkan terjadinya perubahan distribusi tekanan pada
telapak kaki dan selanjutnya akan mempermudah menjadi ulkus
adanya kerentanan terhadap infeksi menyebabkan infeksi mudah
merebak menjadi infeksi luas. Faktor aliran darah yang kurang
juga akan lebih lanjut menambah rumitnya pengelolaan kaki
diabetes (Waspadji 2009, h.1963).
8. Luka Diabetik
Luka diabetik adalah luka yang terjadi pada pasien dengan diabetik
yang melibatkan gangguan pada syaraf periferal dan autonomik.
Kerusakan pada saraf sensori. Kerusakan pada saraf sensori akan
menyebabkan klien kehilangan sensasi nyeri dapat sebagian atau
keseluruhan pada kaki yang terlibat. Patofisiologis yang yang terjadi pada
yang terjadi pada penyakit dan vaskuler adalah faktor utama yang
mengkontribusi terjadinya luka. Masalah luka yang terjadi pada pasien
dengan diabetik terkait dengan adanya pengaruh dengan saraf yang ada
dikaki dan biasanya dikenal dengan sebagai neuropati perifer. Pada pasien
diabetik sering sekali mengalami gangguan pada sirkulasi. Gangguan
sirkulasi ini berhubungan dengan “periphereal vascular disease”. Efek

xxxiii
sirkulasi inilah yang menyebabkan kerusakan sirkulasi pada saraf. Hal ini
terkait dengan diabetik neuropati yang berdampak pada sistem saraf
autonomi, yang mengontrol fungsi otot-otot halus, kelenjar dan sistem
organ viseral. Dengan adanya gangguan pada saraf autonomi pengaruhnya
adalah terjadinya perubahan adalah terjadinya perubahan tonus otot yang
menyababkan abnormal aliran darah. Dengan demikian kebutuhan akan
nutrisi dan oksigen maupun pemberian antibiotik tidak mencukupi atau
tidak dapat mencapai jaringan perifer, dan atau untuk kebutuhan
metabolisme pada lokasi tersebut. Efek pada autonomi neuropati ini akan
menimbulkan kulit menjadi kering, anhidrosis, yang memudahkan kulit
menjadi rusak dan luka yang sukar sembuh, dan dapat menimbulkan
infeksi dan mengkontribusi untuk terjadinya ganggren. Dampak lain
adalah karena adanya neuropati parifer yang mempengaruhi pada saraf
sensori dan saraf motor yang menyebabkan hilangnya sensasi rasa nyeri,
tekanan dan perubahan temperatur.
Klasifikasi ulkus diabetik menurut Wijaya (2013, h 212) adalah sebgai
berikut :
Derajat 0 : tidak ada lesi terbuka, luka masih utuh dengan kemungkinan
disertai kelainan kaki seperti adanya kalus.
Derajat 1 : ulkus superficial terdapat tebatas pada kulit
Derajat 2 : ulkus dalam menembus tendon dan tulang
Derajat 3 : abses dalam dengan adanya osteomelitis
Derajat 4 : gangren jari kaki atau bagian distal kaki dengan atau tanpa
selulitis
Derajat 5 : gangren seluru kaki atau sebagian tungkai.
Pengkajian pada perawatan luka diabetik meliputi ; a) status diabetik;
b) status nutrisi; c) status vaskuler pada ekstermitas; d) status neurologi;
rasa sensasi, dapat menggunakan test dengan alat manofilamen; e) status
luka; ukuran, luka, dasar luka, jumlah dan tipe eksudat, sekeliling luka,
adanya fistula dan kedalaman sampai tulang; f) penggunaan alas kaki
(Suriadi 2004,63-67).
Cara untuk membersihkan luka adalah sebagai berikut :
1) Perhatikan tindakan penjagaan yang stabil
2) Lepaskan kasa pembalut yang kotor dengan menggunakanya atau
mengangkat bagian tepinya dan kemudian secara hati hati melepaskan
bagian lainnya sementara jaringan kulit disekitarnya ditahan.
3) Lakukan inspeksi untuk memeriksa kasa pembalut dan luka dengan
memperhatikan warna, jumlah serta bau cairan drainase dan debris
nekrotik
4) Basahi kasa lembab pembalut tebal yang bisa dilakukan dengan
a. Mencelupkannya kedalam larutan pembersih luka dan kemudian
mengeringkan larutan yang berlebihan
b. Atau menyemprotkan larutan pembersih luka tersebut pada kasa
pembalut dengan menggunakan alat atau botol penyemprot

xxxiv
5) Untuk luka yang berbentuk linier
a. Secara berhati-hati apuskan kasa sterildari atas kebawah degan
sekali gerakan
b. Mulailah gerakan tersebut langsung pada lukannya sendiri dan
kemudian kearah luar
6) Untuk luka yang terbuka :
a. Secara berhati-hati apuskan kasa steril dengan gerakan melingkar
yang konsentris
b. Mulailah geraan tersebut langsung pada lukannya sendiri dan
kemudian kearah luar
7) Keringkan luka dengan menggunakan kasa steril yang kering
8) Periksalah kembali keadaan luka dengan memperhatikan sifat dasar
luka yang bersih dan kulit disekitarnya.
Pembalutan pada ulkus DM yang dianjurkan :
a) Pada luka kering menggunakan hidrogel; b) luka basah dengan
menggunakan alginat, busa, kolagen; c) luka dangkal dengan
menggunakan selaput transparan, hidrokoloid; d) pembentukan
terowongan atau dalam menggunakan alginat ropes (untuk ulkus yang
basah), kasa yang dibubuhi hidrogel (untuk ulkus yang kering); e)
untuk luka yang terifeksi dengan menggunakan iodosorb (suatu
preparat gel yang akan membersihkan luka dengan menyerap cairan,
eksudat dan bakteri), acticoat atau arglaes (produk antimikroba); f)
luka berdarah dengan menggunakan alginat.
9. Penatalaksanaan Diabetes Mellitus
Tujuan penatalaksanaan Diabetes Mellitus adalah untuk menurunkan
morbiditas dan mortalitas DM, yang secara spesifik ditunjukan untuk; 1)
menjaga agar kadar glukosa plasma dalam keadaan kisaran normal; 2)
mencegah atau meminimalkan kemungkinan terjadinya komplikasi
diabetes. Penatalaksanaan diabetes yang pertama dengan menggunakan
obat dan kedua dengan menggunakan obat. Terapi Diabetes Mellitus dapat
berupa terapi tanpa menggunakan obat, terapi terkhusus kepada
pengaturan gaya hidup yang berupa pengaturan diet dan olah raga.
Diet yang baik adalah suatu kunci keberhasilan penatalaksanaan
Diabetes Mellitus, diet yang dianjurkan adalah makanan dengan
komposisi gizi yang seimbang sesuai dengan kecukupan gizi berikut ini;
a) Karbohidrat 60-70%; b) Protein 10-15%; c) lemak 20-30%. Penuruan
berat badan telah dibuktikan dapat mengurangi resitensi insulin dan
memperbaiki respon sel-sel β terhadap stimulasi glukosa dan setiap
kilogram penurunn berta badan dapat dihubungkan dengan 3-4 bulan
waktu tambahan hidup.

xxxv
Selain kalori pilihan jenis bahan makanan juga sangat penting untuk
diperhatikan. Masukan kolesterol yang diperlukan dengan melebihi 300
mg perhari. Sumber lemak diupayakan dari sumber lemak nabati karena
mengandung asam lemak tak jenuh. Sebagian sumber protein yang paling
baik adalah ikan, ayam (terutama daging dada), tahu dan tempe, karena
tidak banyak mengandung lemak. Masukan serat sangat penting bagi
penderita Diabetes Mellitus usahakan 25 gram perhari. Serat ini berfungsi
menghambat absorpsi lemak, juga dapat mengatasi rasa laparyang kerap
dialami penderita DM. Selain itu makanan yang berserat seperti sayuran
dan buah-buahan segar mengandung banyak vitamin dan mineral.
Berolah raga secara teratur dapat menurunkan dan menjaga kadar gula
darah tetap normal. Olah raga yang disarankan adalah bersifat CRIPE
(continuous, rhtymical,interval,progressive,endurance,training). Olah
raga yang dapat dilakukan sedapat mungkin mencapai zona sasaran 75-
85% denyut nadi maksimal. Olah raga akan memperbayak jumlah dan
meningkatkan aktifitas reseptor insulin dalam tubuh dan juga
meningkatkan penggunaan glukosa.
Apabila penatalaksanaan terapi tanpa obat tidak berhasil maka perlu
dilaksanakan terapi obat berupa insulin, obat hipoglikemik oral (golongan
sulfonyluera, meglitidina, turunan fenilalanin, biguanida, tiazolidindion,
inhibitor α-glukosadase) atau kombinasi keduanya (Haeria 2009, h. 21-
22).
Penatalaksanaan ulkus diabeteik menurut W ijaya 2013, ( hh 215-217)
adalah sebagai berikut :
a. Pengobatan
Pengobatan dari gangren sangat dipengaruhi oleh derajat dan
dalamnya ulkus, apabila dijumpai ulkus yang harus dilakukan
pemeriksaan yang seksama untuk menentukan kondisi ulkus dan besar
kecilnya debridement yang akan dilakukan
b. Perawatan luka
1) Mencuci luka
Merupakan hal pokok untuk meningkatkan, memperbaiki dan
mempercepat proses penyembuhan luka serta menghindari
kemungkinan terjadinya infeksi
2) Debridement
Adalah pembungan jaringan nekrotik pada luka. Dilakukan untuk
menghindari terjadinya infeksi dan selulitis, karena jaringan
nekrotik selalu berhubungan dengan adanya peningkatan jumlah
bakteri
3) Terapi antibiotika
Pemeberian antibiotika biasanya diberikan peroral yang bersifat
menghambat kuman.
4) Faktor nutrisi
Merupakan salah satu faktor yang penting dalam penyembuhan
luka.
5) Pemeliharaan jenis balutan luka

xxxvi
Jenisbalutan yang digunakan yaitu absorbent dressing, hidroaktive
gel, hidrocoloi.selain perawatan tersebut perlu dilakukan
pemeriksaan Hb dan albumin minimal satu minggu sekali, karena
adanya anemia dan hipoalbumin akan sangat mempengaruhi dalam
penyembuhan luka.

B. Konsep Asuhan Keperawatan Keluarga

1. Pengertian
Keluarga adalah perkumpulan dua atau lebih individu yang diikat oleh
hubungan darah, perkawinan atau adopsi, dan tiap-tiap anggota keluarga
selalu berinteraksi satu sama lain. Keperawatan keluarga adalah
pelayanan kesehatan yang ditunjukan pada keluarga sebagai unit
pelayanan untuk mewujudkan keluarga yang sehat (Mubarak dkk 2011, h.
75).
2. Tipe keluarga
Pembagian tipe keluarga menurut Mubarak dkk (2011, h. 70) sebagai
berikut :
a. Tradisional nuclear adalah keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu dan
anak yang tinggal dalam satu rumah ditetapkan oleh sanksi-sanksi
legal dalam suatu perkawinann, satu atau keduanya dapat bekarja
diluar rumah.
b. Extended family adalah kelurga inti ditambah sanak saudara, misalnya
nenek, kakek, sepupu, ponakan, paman, bibi, dan sebagainya.
c. Reconstituted nuclear adalah pembentuka baru melalui perkawinan
kembali suami atau istri , tinggal pembentukan satu rumah dengan
anak-anaknya, baik itu bawaan dari perkawinan lama maupun hasil
dari perkawinan baru. Satu atau kedua anaknya dapat bekerja diluar
rumah.
d. Middle age/ aging couple adalah suami sebagai pencari uang istri
dirumah atau dua-duanya bekerja dirumah, anak-ank sudah
meninggalkan rumah karena sekolah atau perkawinan atau meniti
karir.
e. Dyadic nuclear adalah suami istri yang sudah berumur dan tidak
memepunyai anak,keduanya salah satu bekerja diluar rumah.

xxxvii
f. Single parent adalah satu orang tua sebagai akibat perceraian tau
kematian pasangannya dan anak-anaknya dapat tinggal dirumah atau
diluar rumah.
g. Dual carrier adalah suami istri atau keduanya berkarir dan tanpa
anak.
h. Commmuter married adalah suami istri atau keduanya orang karier
dan tinggal terpisah pada jarak tertentu, keduanya saling mencari pada
waktu-waktu tertentu.
i. Single adult adalah wanita tau pria dewasa yang tinggal sendiri
dengan tidak adanya keinginan untuk menkah.
j. Three generation adalah tiga atau lebih generasi tinggal dalam satu
rumah.
k. Institusional adalah anak-anak atau orang-orang dewasa yang tinggal
dalam satu panti-panti.
l. Comunal adalah satu rumah terdiri dari dua tau lebih pasangan yang
monogami dengan anak-anaknya dasama-sama dam penyediaan
fasilitas.
m. Group meriage adalah satu perumahan terdiri atas satu orang tua dan
keturunannya didalam satu kesatuan keluarga dan tiap individu adalah
menikah dengan yang lain dan semua adalah orang tua dari anak-anak.
n. Cohibing cauple adalah dua orang atau satu pasang yang tinggal
bersama tanpa pernikahan
o. Unmarried parent and child adalah ibu dan anak dimana perkawinan
tidak dikehendaki, anaknya diadopsi.
3. Tahap perkembangan keluarga
Duvall dan Muller dalam Friedman (2013, hh 107-123) membagi
tahapan-tahapan dalam keluarga, yaitu :
a. Pasangan baru atau keluarga baru adalah pembentukan pasangan
menandakan permulaan suatu keluarga baru dengan pergerakan dari
membentuk keluarga asli smapai kehubungan intim yang baru. Tahap
ini juga disebut tahap pernikahan.
b. Childbearing family (melahiran anak pertama hingga anak tertua
berusia 30 bulan) transisi kemasa menjadi orang tua adalah salah satu
kunci dalam siklus kehidupan keluarga. Dengan kelahiran anak
pertama, keluarga menjadi trio, membuat sistem yang permanen pada
keluarga untuk pertama kalinya (yaitu, sistem berlangsung tanpa
memerhatikan hasil akhir dari pernikahan).

xxxviii
c. Keluarga dengan anak prasekolah adalah saat kelahiran anak berusia
2,5 tahun dan berakhir saat anak berusia 5 tahun.
d. Keluarga dengan anak usia sekolah adalah pada saat anak yang tertua
memasuki sekolah pada usia 5 tahun dan berakhir pada usia 13 tahun.
e. Keluarga dengan anak remaja adalah ketika anak peratam 13 tahun,
tahap ini biasanya berlangsung selama enam sampai tujuh tahun,
walaupun lebih singkat jika anak meninggalkan keluarga lebih awal
atau lebih lama jika anak tetap tinggal dirumah pada usia lebih dari 19
atau 20.
f. Keluarga melepaskan anak dewasa muda adalah permulaan fase
kehidupan keluarga ini ditandai dengan perginya anak pertama dari
rumah orang tua dan berakhir dengan “kosongnya rumah”, ketika anak
terakhir juga telah meninggalkan rumah.
g. Orang tua paruh baya adalah merupakan tahap pertengahan bagi orang
tua, dimulai ketika anak terakhir meninggalkan rumah dan berakhir
dengan pensiunan atau kematian salah satu pasangan.
h. Keluarga lansia dan pensiunan tahap terakhir siklus ini dimulai dengan
pansiunan salah satu atau kedua pasangan, berlanjut sampai
kehilangan salah satu pasangan, dan berakhir dengan kematian
pasangan yang lain.
4. Fungsi Keluarga
Menurut Friedman (1988, dalam Mubarak dkk 2013, h 76-78)
mengidentifikasi lima fungsi dasar dalam keluarga, yaitu :
a. Fungsi afektif merupakan sumber energi yang menentukan
kebahagiaan kelurga, adanya pereceraian, kenakalan anak, atau
masalah lain yang sering timbul dalam keluarga dikarenakan fungsi
afektif yang tidak terpenuhi. Komponene yang perlu dipenuhi oleh
keluarga untuk fungsi afektif antara lain ; a) Memelihara saling asuh;
b. keseimbangan saling menghargai
c. pertalian dan identifikasi
d. keterpisahan dan kepaduan.
e. Fungsi sosialisasi, sosialisasi dimulai pada saat lahir dan akan diakhiri
dengan kematian. Sosialaisasi merupakan suatu proses yang
berlangsung seumur hidup, dimana indivdu secara kontinu mengubah
perilaku mereka sebagai respon terhadap situasai yang terpola secara
sosial yang mereka alami.

xxxix
f. Fungsi reproduksi adalah untuk meneruskan kelangsungan keturunan
dan menambah sumber daya manusia. Dengan daya keluarga
berencana maka fungsi ini sedikit terkontrol. Disisi lain banyak
kelahiran yang tidak diharapkan atau di luar ikatan perkawinan,
sehingga lahirlah keluarga baru dengan satu orang tua.
g. Fungsi ekonomi, untuk memenuhi kebutuhan keluarga seperti:
pakaian, makanan,dan perumahan, maka kelurga memerlukan sumber
keuangan. Fungsi ini sulit dipenuhi keluarga yang berada dalam garis
kemiskinan.
h. Fungsi perawat keluarga atau pemeliharaa kesehatan, fungsi
keperawtan kesehata keluarga merupakan pertimbangan vital dalam
pengkajian keluarga. Guna menempatkan dalam sebuah perspektif,
fungsi ini merupakan fungsi salah satu fungsi keluarga yang
memerlukan penyediaan kebutuhan-kebutuhan dilihat dari perspektif
masyarkat keluarga merupakan sistem dasar dimana perilaku sehat
dan perawtan kesehatan diatur, dilaksanakan, dan diamankan.
5. Tugas keluarga
Menurut Friedman ( 1981 dalam Setiadi 2008, h 12-13) membagi
tugas keluarga ada lima dalam bidang kesehatan yang harus dilakukan,
yaitu :
a. Menegnal masalah kesehtan setiap anggotanya. Perubahan sekecil
apapun yang dialami oleh anggota keuarga secara tidak langsung
menjadi sumber perhatian dan tangguang jawab keluarga, msks
spsbils menyadari adanya perubahan segera dicatatat kapan
terjadinya, perubahan apa yang terjadi dan seberapa besar
perubahanya.
b. Mengambil keputusan untuk mrlakukan tindakan yang tepat bagi
keluarga. Tugas ini merupakan upaya kelurga yang utama untuk
mencari pertolongan yang tepat sesuai dengan keadaa keluarga,
dengan pertimbangan keluarga siapa diantara kelurga yang
mempunyai kemampuan memutuskan untuk menentukan tindakan
keluarga maka segera melakukan indakan yang tepat agar masalah
kesehtan dapat dikurangi atau bahkan teratasi. Jika kelurga memiliki
keterbatasan seyoganya meminta bantuan orang lain disekitar
lingkungan keluarga.

xl
c. Memberikan keperawatan anggotanya yang sakit atau yag tidak
dapat membantu dirinya sendiri karena cacat atau usianya yang
terlalu muda. Perawatan ini dapat dilakukan dirumah apabila
keluarga memiliki kemampuan melakukan tindakan tindakan lanjutan
agar masalah yang lebih parah tidak terjadi.
d. Mempertahankan suasana dirumah yang mengangtungkan kesehatan
dan perkembangan kepribadian anggota keluarga.
e. Mempertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dan
lembaga kesehatan ( pemanfaatan fasilitas kesehatan yang ada).
6. Peran Keluarga
Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain
terhadap seseorang sesuai keduukannya dalam suatau sistem. Peran
dipengaruhi oleh keadaan sosial, baik dari luar msupun dari dalam dan
bersifat stabil. Peran formal yang standar dalam keluarga yaitu, pencari
nafkah, ibu rumah tangga, tukang perbaiki rumah, sopir, pengasuh anak,
manajer keuangan, dan tukang masak. Sedangkan, peran-peran informal
bersifat implisit, biasanya tidak tampak, dimainkan hanya untuk
memenuhi kebutuhan-kebutuhan emosional individu dan untuk menjga
keseimbangan dalam keluarga (Santoso dan Chayatin-Mubarak 2011, h.72
sampai 73).

C. Konsep Asuhan Keperawatan Keluarga

1. Pengkajian
Pengkajian adalah suatu tahapan ketika seorang perawat
mengumpulkan informasi secara terus menerus tentang keluarga yang
dibinanya. Pengkajian merupakan langkah awal pelaksanaan asuhan
keperawatan keluarga. Agar diperoleh data yang akurat dan sesuai dengan
keadaan keluarga, perawat diharapkan menggunakan bahasa ibu (yang
digunakan setiap hari, lugas dan sederhana. Pengumpulan data dapat
menggunakan metode wawancara, observasi, fasilitas dalam rumah,
pemeriksaan fisik pada setiap anggota keluarga dengan menggunakan
data sekunder.
Tabel 2.1
Data yang Diperoleh dari Pengkajian

Data yang Perlu Diperoleh dalam Pengkajian


1. Berkaitan dengan keluarga
a. Data demografi & sosiokultural
b. Data lingkungan

xli
c. Struktur & fungsi keluarga
d. Stres & koping keluarga yang digunakan
keluarga
e. Perkembangan keluarga

2. Berkaitan dengan individu sebagai anggota keluarga


a. Fisik
b. Mental
c. Emosi
d. Sosial
e. Spiritual

1) Data umum
Data ini mencakup kepala keluarga (KK), alamat dan telpon,
pekerjaan KK, pendidikan KK, dan komposisi keluarga.
Selanjutnya komposisi keluarga dibuat genogramnya.
Tabel 2.2
Data Umum
Hub.
Status
No Nama L/P Umur dlm Pendidikan Pekerjaan
kesehatan
Klg
1
2
3
4

a) Tipe keluarga, yang menjelaskan mengenai jenis/ tipe keluarga


dengan mengindentifikasi terhadap KK-nya.
b) Suku bangsa, mengkaji asal/ suku bangsa keluarga (pasangan)
dapat digunakan untuk mengidentifikasi budaya suku keluarga
yang terkait dengan kesehatan, dapat digunakan untuk
mengidentifikasi bahasa yang digunaka sehari-hari.
c) Agama, mengidentifikasi agama dan kepercayaan keluarga
yang dianut yang dapat mempengaruhi kesehatan

xlii
d) Status sosial ekonomi keluarga, status sosial ekonomi keluarga
ditentukan oleh penghasilan seluruh anggota keluarga (orang
tua maupun anak yang sudah bekerja dan membantunya).
Status sosial ekonomi juga dipengaruhi oleh kebutuhan dan
barang yang dimiliki keluarga.
e) Aktivitas rekreasi keluarga yang dimaksud rekreasi keluarga
bukan hanya bepergian ke luar rumah bersama atau sendiri
menuju tempat rekreasi tetapi kesempatan berkumpul untuk
menikmati hiburan radio atau televisi bersama juga
bercengkerama.
2) Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga
a) Tahap perkembangan keluarga saat ini. Tahap
perkembangan keluarga ditentukan oleh usia anak dari keluarga
inti.
b) Tugas perkembangan keluarga yang belum
terpenuhi. Bagian ini menjelaskan tugas keluarga yang belum
terpenuhi dan kendala yang dihadapi keluarga
c) Riwayat kesehatan keluarga inti, menjelaskan
riwayat kesehatan keluarga inti, riwayat kesehatan masing-
masing anggota keluarga, upaya terhadap pencegahan penyakit,
upaya dan pengalaman keluarga terhadap pelayanan kesehatan
dalam rangka pemenuhan kebutuhan kesehatan.
d) Riwayat kesehatan keluarga sebelumnya (generasi
di atasnya) yang menjelaskan riwayat kesehatan generasi di
atas orang tentang upaya penanggulangan penyakit, upaya
kesehatan yang dipertahankan saat ini.
3) Data Lingkungan
a) Karakteristik rumah, yang menjelaskan tentang hasil
identifikasi rumah yang dihuni keluarga, meliputi luas, tipe,
jumlah ventilasi, peletakan perabot rumah tangga, sarana
pembuangan air limbah dan kebutuhan MCK (mandi, cuci dan

xliii
kakus, sarana air bersih yang digunakan). Akan lebih mudah
digambarkan dalam bentuk denah.
b) Karakteristik tetangga dan komunitasnya,
menjelaskan tentang karakteristik dari tetangga dan komunitas
setempat yaitu tempat keluarga bertempat tinggal meliputi
kebiasaan seperti lingkungan fisik, nilai dan norma serta aturan
atau kesepakatan penduduk setempat dan budaya setempat
yang mempengaruhi kesehatan.
c) Mobilitas geografi keluarga menggambarkan
mobilitas keluarga dan anggota keluarga.
d) Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan
masyarakat menjelaskan mengenai waktu yang digunakan
keluarga berkumpul serta perkumpulan keluarga yang ada dan
sejauh mana keluarga berinteraksi dengan masyarakat
sekitarnya.
e) Sistem pendukung keluarga yaitu jumlah anggota
keluarga yang sehat dan fasilitas keluarga yang menunjang
kesehatan (asuransi), peralatan kesehatan, dukungan psikologis
keluarga atau masyarakat, fasilitas sosial yang ada di sekitar
keluarga yang dapat digunakan untuk meningkatkan upaya
kesehatan.
4) Struktur Keluarga
a) Struktur peran yang menjelaskan peran masig-
masing anggota keluarga secara formal maupun informal baik
keluarga atau masyarakat.
b) Nilai atau norma keluarga menjelaskan nilai atau
norma yang dipelajari dan dianut oleh keluarga yang
berhubungan dengan kesehatan.
c) Pola komunikasi keluarga menjelaskan bagaimana
cara keluarga berkomunikasi, siapa pengambil keputusan
utama, dan bagaimana peran anggota keluarga dalam
menciptakan komunikasi.

xliv
d) Struktur kekuatan keluarga, menjelaskan
kemampuan keluarga untuk mempengaruhi dan mengendalikan
anggota keluarga utk mengubah perilaku yang berhubungan
dengan kesehatan.
5) Fungsi Keluarga
a) Fungsi ekonomi, menjelaskan bagaimana upaya
keluarga dalam pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, papan
dan pemanfaatan lingkungan rumah untuk meningkatkan
penghasilan keluarga.
b) Fungsi mendapatkan status sosial menjelaskan
tentang upaya keluarga untuk memperoleh status sosial di
masyarakat tempat tinggal keluarga.
c) Fungsi pendidikan, upaya yang telah dilakukan
keluarga dalam pendidikan selain upaya yang diperoleh dari
sekolah atau masyarakat.
d) Fungsi sosialisasi, menjelaskan hubungan anggota
keluarga sejauh mana anggota keluarga belajar tentang disiplin,
nilai, norma, budaya dan perilaku yang berlaku di keluarga dan
masyarakat.
e) Faktor pemenuhan (perawatan / pemeliharaan)
kesehatan. Tujuan pengkajian ini berkaitan dengan tugas
keluarga dalam bidang kesehatan yaitu mengetahui
kemampuan keluarga untuk mengenal masalah kesehatan,
mengetahui kemampuan keluarga dalam mengambil keputusan
mengenai tindakan kesehatan yang tepat, merawat anggota
keluarga yang mengalami masalah kesehatan, modifikasi
lingkungan fisik dan psikologis, menggunakan fasilitas
kesehatan yang ada di sekitar keluarga
f) Fungsi religius menjelaskan tentang kegiatan
keagamaan yang dipelajari dan dijalankan oleh keluarga yang
berhubungan dengan kesehatan

xlv
g) Fungsi rekreasi menjelaskan kemampuan dan
kegiatan keluarga untuk melakukan rekreasi secara bersama
baik di luar dan dalam rumah, juga tentang kuantitas yang
dilakukan.
h) Fungsi reproduksi, menjelaskan bagaimana rencana
keluarga memiliki dan upaya pengendalian jumlah anggota
keluarga.
i) Fungsi afeksi, dikaji tentang gambaran diri anggota
keluarga, perasaan memiliki dan dimiliki dalam keluarga,
dukungan keluarga, hubungan psikososial dalam keluarga, dan
bagaimana keluarga mengembangkan sikap saling menghargai.
6) Stres dan Koping Keluarga
Stresor jangka pendek dan jangka panjang. Stresor jangka pendek
adalah stressor yang dialami keluarga dan memerlukan waktu
penyelesaian lebih kurang 6 bulan. Kemampuan keluarga berespon
terhadap stresor yang ada. Strategi koping yang digunakan
menjelaskan tentang strategi koping terhadap stresor yang ada.
7) Pemeriksaan kesehatan
Pemeriksaan kesehatan pada individu anggota keluarga yang
dilakukan tidak berbeda jauh dengan pemeriksaan pada klien di
klinik (rumah sakit) meliputi pengkajian kebutuhan dasar individu,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang perlu.
8) Harapan keluarga
Perlu dikaji bagaimana harapan keluarga terhadap perawat (petugas
kesehatan) untuk membantu menyelesaikan masalah kesehatan
yang terjadi.
a. Pengkajian Fokus
Pengkajian fokus pada tiap perkembangan yang didasari oleh dalam
tiap tahap perkembangan keluarga, karakteristik keluarga akan berbeda
karena ada perubahan anggota keluarga (dapat bertambah atau
berkurang). Pada tiap perkembangan, keluarga mempunyai tugas
perkembangan keluarga yang harus dilakukan. Pada tiap tahap
perkembangan keluarga, kewajiban keluarga berbeda.
b. Diagnosa keperawatan keluarga
Diagnosa-diagnosa keluarga merupakan perpanjangan dari diagnosa-
diagnosa keperawatan terhadap sistem keluarga dan merupakan hasil
dari pengkajian terhadap perawatan. Diagnosa keperawatan keluarga
didalamnya termasuk masalah-masalah kesehatan yang aktual dan
potensial.
c. Intervensi Keperawatan Keluarga

xlvi
Tahap intervensi diawali dengan penyelesaian perencanaan perawatan.
Implementasi dapat dilakukan oleh banyak orang : klien , perawat dan
anggota tim perawat kesehatan lain. Kriteria untuk membuat
keputusan termasuk keinginan dan motivasi keluarga dalam menerima
bantuan dan mencoba memecahkan masalah-masalahnya, dan tingkat
fungsinya, keluarga serta sumber-sumber yang tersedia.
d. Evaluasi
Evaluasi didasarkan pada bagaimana efektifnya intervensi-intervensi
yang dilakukan oleh keluarga, perawat dan yang lainnya. Keefektifan
ditentukan dengan melihat respon keluarga dan hasi, bukan intervensi-
intervensi yang diimplementasikan meskipun evaluasi dengan
pendekatan terpusat pada klien paling relevan, seringkali membuat
frustasi karena adanya kesulitan-kesulitan dalam membuat criteria
objektif untuk hasil yang dikehendaki. Rencana perawatan
mengandung kerangka kerja evaluasi. Evaluasi merupakan proses
berkesinambungan yang terjadi setiap kali seorang perawat
memperbaharui rencana asuhan keperawatan. Sebelum perencanaan-
perencanaan dikembangkan, perawat bersama keluarga perlu melihat
tindakan-tindakan perawatan tertentu apakah tindakan tersebut benar-
benar membantu.

1. Diagnosis keperawatan
Diagnosis keperawatan keluarga dirumuskan berdasarkan data yang
diperoleh pada pengkajian. Proses perumusan diagnosis diawali dengan
melakukan analisa data, penentuan diagnosis, kemudian penentuan
prioritas diagnosis. Analisa data dilakukan dengan pengelompokan data
hasil pengkajian menjadi data subjektif dan objektif.
Rumusan diagnosa berdasarkan NANDA ada diagnosa tunggal dan ada
diagnosa keluarg, sedangkan rencana dari tindakan diambil dari NIC NOC.
Berdasarkan Tipologi diagnosis keperawatan dapat berupa:
a. Actual (terjadi deficit atau gangguan kesehatan)
Diagnosis actual diangkat jika dari pengkajian didapatkan data
mengenai tanda dan gejala dari gangguan kesehatan.
b. Resiko (ancaman kesehatan)
Diagnosis resiko diangkat jika sudah ada yang menunjang namun
belum terjadigangguan, misalnya lingkungan rumah kurang bersih,
pola makan yang tidak adekuat, stimulasi tumbuh kembang tidak
adekuat.
c. Potensial (keadaan sejahtera atau wellness)
Suatu keadaan dimana keluarga dalam keadaan sejahtera sehingga
kesehatan keluarga dapat ditingkatkan (Setiadi 2008, h. 52)
2. Penentuan prioritas
Dalam suatu keluarga, perawat dapat menemukan lebih dari satu
diagnosis keperawatan keluarga. Dalam setiap diagnosis, terdapat 4
kriteria yang menentukan prioritas diagnosis. Setiap kriteria memiliki
bobotnya masing-masing. Kriteria tersebut terdidi dari;
1) Sifat masalah

xlvii
2) kemungkinan masalah untuk diubah
3) potensial dicegah
4) menonjolnya masalah. Setiap kriteria memiliki 3 skala yang memiliki
skor masing-masing. Penentuan skala dari setiap kriteria ditentukan
dengan mempertimbangkan komponen pembenaran atau rasional sesuai
dengan kondisi terkini yang ada dalam keluarga.

Untuk menentukan prioritas terdapat diagnosis keperawatan keluarga yang


ditemukan dapat dihitung dengan menggunakan cara:
a. Menentukan skor setiap kriteria
b. Skor dibagi dengan angka tertinggi dan dikalikan dengan bobot
c. Jumlah skor untuk semua kriteria (Setiadi 2008, h. 56)
3. Rencana keperawatan
Rencana keperawatan keluarga terdiri dari penentuan tujuan, yang
meliputi tujuan jangka panjang (tujuan umum), tujuan jangka pendek
(tujuan khusus), kriteria dan standar serta intervensi. Kriteria dan standar
merupakan pernyataan spesifik tentang hasil yang diharapkan dari setiap
tindakan keperawatan berdasarkan tujuan khusus atau tujuan jangka
pendek yang ditetapkan. Tujuan jangka panjang mengacu pada problem,
sedangkan tujuan jangka pendek mengacu pada etiologi (Setiadi 2008, h.
62).
4. Implementasi keperawatan
Implementasi keperawatan keperawatan terhadap keluarga mencakup
hal-hal dibawah ini :
a. Menstimulasi kesadaran atau penerimaan keluarga mengenai masalah
dan kebutuhan kesehatan dengan cara:
1) memberikan informasi;
2) mengidentifikasi kebutuhan dan harapan tentang kesehatan;
3) mendorong sikap emosi yang sehat terhadap masalah.
b. Menstimulasi keluarga untuk memutuskan cara perawatan yang tepat,
dengan cara:
1) mengidentifikasi konsekuensi tidak melakukan tindakan;
2) mengidentifikasi sumber-sumber yang dimiliki keluarga;
3) mendiskusikan tentang konsekuensi setiap tindakan.
c. Memberikan kepercayaan diri dalam merawat anggota keluarga yang
sakit, dengan cara:
1) mendemonstrasikan cara perawatan.
2) menggunakan alat dan fasilitas yang ada dirumah.
3) mengawasi keluarga melakukan tindakan perawatan.
d. Membantu keluarga untuk menemukan cara bagaimana membuat
lingkungan menjadi sehat, dengan cara:
1) menemukan sumber-sumber yang dapat digunakan dalam keluarga;
2) melakukan perubahan lingkungan keluarga seoptimal mungkin.

xlviii
e. Memotivasi keluarga untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada
dilingkungan keluarga, dengan cara:
1) mengenalkan fasilitas kesehatan yang ada dilingkungan keluarga;
2) membantu keluarga menggunakan fasilitas kesehatan yang ada
(Setiadi 2008, h. 65).
5. Evaluasi
Evaluasi adalah kegiatan yang dilakukan untuk menilai keberhasilan
rencana tindakan yang telah dilaksanakan. Evaluasi dapat dibagi menjadi 2
jenis yaitu:
1. Evaluasi berjalan (formatif)
Evaluasi yang dikerjakan dalam bentuk pengisian catatan
perkembangan berorientasi pada masalah yang dialami klien. Format
yang digunakan dalam evaluasi formatif adalah SOAP.
2. Evaluasi akhir (sumatif)
Evaluasi yang dikerjakan dengan membandingkan antara tindakan yang
telah dikerjakan dengan tujuan yang ingin dicapai (Setiadi 2008, h. 69.

BAB III

RESUME KASUS

Bab ini penulis menjelaskan tentang asuhan keperawatan keluarga dengan


ulkus DM pada Ny. I dimana penulis memperoleh data dengan ulkus DM grade 1
luka pada kaki fibula anterior dexstra dengan panjang luka 3 cm, kedalam luka 1
cm, tidak terdapat nekrosis, tidak terdapat pus, masih ada sensasi sensori, warna
kemerahan. Pengkajian dilakukan pada tanggal 7 Maret 2016.

A. Pengkajian

xlix
Pengkajian dilakukan pada dikeluarga Tn. H adalah sebagai berikut: Nama
istri Ny. I umur 53 tahun , Agama Islam, dengan pendidikan SD, bekerja
sebagai pedagang, alamat Ambokembang gang 9 Rt 003 Rw 002 Kecamatan
Kedungwuni Kabupaten Pekalongan. Hasil pengkajian pada tanggal 7 Maret
2016 didapatkan data, keluarga Tn. H mengatakan istrinya menderita DM
dengan ulkus dan sudah 1 bulan belum sembuh istri Tn. I Ny. I mengatakan
belum mengetahui tentang pengertian, penyebab, tanda dan gejala,
pencegahan, serta cara perawatan pada luka DM yang diderita istri Tn. H, Ny.
I mengatakan sudah menderita DM selama 5 tahun dan terdapat luka pada
kaki fibula anterior dexstra dengan panjang luka 3 cm, kedalam luka 1 cm,
tidak terdapat nekrosis, tidak terdapat pus, masih ada sensasi sensori, warna
kemerahan , awal mulanya karna rasa gatal, dan digaruk terus menerus karna
ketidaktahuan Ny. I sehingga mengakibatkan luka .
Tipe keluarga Tn. H adalah tipe keluarga inti yang terdiri dari suami,istri
dengan 5 orang anaknya tetapi semua anaknya sudah meninggal saat masih
berumur 3 sampai 5 tahun, Tn. H dan Ny. I tinggal dalam satu rumah. Semua
anggota keluarga beragam Islam dan berasal dari Suku Jawa. Tidak ada
pantangan dalam keluarga terhadap makanan dan hal-hal lainnya yang
bertentangan dengan budaya dan Agama Islam, tetapi untuk Ny. I harus
mengontrol pola makan terutama untuk mengontrol kadar gula, kardohidrat
untuk mencegah tingginya kadar gula dalam darah. Tidak ada kepercayaan
yang menggangu kesehatan. Tahap perkembangan kelurga saat ini kelurga
dengan orang tua paruh baya. Tahap perkembangan keluarga yang belum
terpenuhi adalah untuk penyembuhan luka pada Ny. I karena sudah 5 tahun
menderita Diabetes Mellitus.
Riwayat kesehatan keluarga baik dalam keluarga Tn. H dan pihak Ny. I
mengantakan didalam keluarga tidak mempunyai riwayat penyakit keturunan
seperti hipertensi, DM, asma. Sampai saat ini keluarga Tn. H selalu harmonis
dan bahagia hingga perceraian tidak terjadi dikeluarga ini.
Karakteristik rumah yang ditempati keluarga Tn. H luasnya ± 12 m2
terdiri dari 2 kamar tidur, ruang tamu, ruang TV, dapur dan kamar mandi serta
WC. Ruangan yang biasa dipakai adalah ruang TV karena biasa digunakan
untuk berkumpul dengan keluarga. Lantai didalam rumah menggunakan

l
tehel, dan lantai didepan rumah menggunakan tanah. Keadaan rumah cukup
bersih, perabot rumah tangga cukup lengkap. Penerangan dan ventilasi cukup,
kondisi bangunan cukup baik. Keluarga Tn. H menggunakan air PAM untuk
digunakan sehari-hari misalnya mandi dan mencuci. Keluarga belum mampu
memodifikiasi rumah karena masih banyak perabot rumah yang belum tertata
dengan rapi. Tempat sampah terbuka berada didepan rumah halaman depan
rumah cukup luas. Keluarga Tn. H menggunakan alat transportasi sepeda
motor untuk pergi ketempat pelayanan kesehatan jika ada anggota keluarga
yang sakit. Keluarga Tn. H mengatakan memiliki jaminan kesehatan Bpjs.
Struktur keluarga Tn. H menggunakan pola komunikasi yang terjalin
didalam keluarga Tn. H adalah komunikasi terbuka, komunikasi langsung dan
menggunakan Bahasa Jawa ngoko dan Bahasa Indonesia untuk
berkomunikasi setiap hari. Komunikasi keluarga cukup baik artinya apabila
ada masalah diselesaikan secara musyawarah. Keluarga Tn. H menganut
norma dan nilai yang berlaku didalam masyarakat. Keluarga percaya bahwa
setiap sakit pasti ada obatnya.
Fungsi perawatan kesehatan dalam keluarga Tn. H, kemampuan keluarga
dalam mengenal masalah kurang, keluarga Tn. H kurang mengetahui
bagaimana perawatan terhadap luka pada ulkus DM, apabila ada anggota
keluarga yang sakit maka anggota keluarga yang lain membantu memenuhi
kebutuhan dan merawat anggota keluarga tersebut, Keluarga mengatakan
belum mampu maksimal merawat Ny. I karena kurangnya pengetahuan
terhadap penyakit yang diderita Ny. I Keluarga sudah mampu memanfaatkan
pelayanan fasilitas kesehatan yang ada. Apabila ada anggota keluarga yang
sakit keluarga langsung membawa ke mantri dan puskesmas terdekat.
Fungsi ekonomi keluarga Tn. H dapat memenuhi kebutuhan sandang,
pangan dan papan. Tn. H sebagai kepala keluarga menggunakan
penghasilannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tn. H telah berusaha
secara maksimal dan keluarga senantiasa mensyukuri atas semua rejeki yang
telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Pemeriksaan fisik yang dilakukan penulis pada tanggal 21 Maret 2015
dikeluarga Tn. M diperoleh data:
DS: Ny. I keluarga mengatakan belum mengetahui tentang penyakit Diabetes
Mellitus, diit dan pengobatannya, pencegahan serta cara perawatan penyakit

li
yang di derita Ny. I, Ny. I mengatakan ada luka ulkus dikaki sudah 1 bulan
belum sembuh
DO: Ny. I sering bertanya tentang penyakit yang dideritanya, Ny. I tanpak
belum begitu paham cara mengatasi luka yang diderita. Hasil pemeriksaan
fisik pada Ny. I didapatkan data: ada luka pada kaki bagian fibula dextra
anterior, Rr 20 x/mnt, nadi 80x/mnt, TD 120/60 mmHg, GDS (21.00) 160,
gds (07.00) 96, gds (17.00) 162.

B. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan data yang ditemukan diatas, masalah yang muncul pada keluarga
Tn.H khususnya Ny. I adalah:
1. Defisit pengetahuan pada keluarga Tn. H
DS : Keluarga mengatakan belum mengetahui tentang penyakit
Diabetes Mellitus, diit dan pengobatannya.
DO : Keluarga mengatakan belum mengetahui tentang penyakit
Diabetes Mellitus, diit dan pengobatannya.
Tabel 3.1 Skoring Diagnosa Defisit Pengetahuan pada Keluarga Tn.H

No
Kriteria Skor Bobot Nilai Pembenaran
Dx
1 Sifat masalah Tn. H
a. Aktual 3 2 3/3x2=2 mengatakan
b. Resiko 2 kurang
c. Potensial 1 mengetahui
tentang
penyakit
Diabetes
Mellitus, diit
dan
pengobatan-
nya

2 Kemungkinan Meningkatkan
masalah untuk pengetahuan
diubah sebagian keluarga
a. Mudah 2 1 2/2x1 =1 tentang
b. Sebagian 1 penyakit
Diabetes
c. Tidak dapat 0
Mellitus

3 Potensial masalah Keluarga


untuk dicegah mempunyai
tinggi tingkat

lii
No
Kriteria Skor Bobot Nilai Pembenaran
Dx
a. Tinggi 3 1 3/3x1 =1 pendidikan
b. Cukup 2 yang rendah,
c. Rendah 1 tidak cukup
mengetahui
tentang
kondisi
penyakit Ny. I

4 Menonjolnya Keluarga
masalah merasakan ada
a. Masalah berat 2 1 2/2x1 =1 masalah dan
harus ditangani khawatir
dengan
b. Ada masalah 1
masalah
tetapi tidak
tersebut jika
segera
masalah tidak
ditangani
segera
c. Segera 0
ditangani
ditangani
Total 5

2. Kerusakan integritas jaringan pada Ny. I


DS: Ny. I mengatakan sudah 1 bulan menderita luka yang belum sembuh
DO: Ny. I didapatkan data: ada luka pada kaki bagian fibula dextra
anterior, grade 1 dengan panjang luka 3 cm, kedalam luka 1 cm, tidak
terdapat nekrosis, tidak terdapat pus, masih ada sensasi sensori, warna
kemerahan, Rr 20 x/mnt, nadi 80x/mnt, TD 120/60 mmHg, GDS (21.00)
160, gds (07.00) 96, gds (17.00) 162 TD 130/80 mmhg.

Tabel 3.2 Skoring Diagnosa kerusakan integritas jaringan


No
Kriteria Skor Bobot Nilai Pembenaran
Dx
1 Sifat masalah Tn. H
a. Aktual 3 2 2/3x2=1⅓ mengataan
b. Resiko 2 kakinya

liii
No
Kriteria Skor Bobot Nilai Pembenaran
Dx
c. Potensial 1 terdapat luka
sudah 1
bulan ada
luka pada
kaki bagian
fibula dextra
anterior

2 Kemungkinan Sumber daya


masalah untuk keluarga
diubah sebagian kurang
a. Mudah 2 2 1/2x2 =1 mendukung
b. Sebagian 1 untuk
c. Tidak dapat 0 melakukan
perawatan
pada luka
DM karna
keluarga
yang hanya
lulusan SD
3 Potensial masalah Masalah ini
untuk dicegah sudah lama
tinggi dan dengan
a. Tinggi 3 2 2/3x2=1⅓ melakukan
b. Cukup 2 perawatan
c. Rendah 1 luka dapat
mengurangi
infeksi yang
dapat terjadi
pada Ny. I
4 Menonjolnya Ny. I
masalah terganggu
a. Masalah berat 2 dengan luka
2/2x1 =1
harus ditangani yang ada di
b. Ada masalah 1 kaki maka
tetapi tidak Ny. I maka
segera ditangani harus segera
c. Segera ditangani 0 di
1
sembuhkan
Total 4⅔

C. Rencana Keperawatan
Berdasarkan masalah yang ditemukan penulis pada saat pengkajian penulis
telah merumuskan intervensi sebagai berikut :

liv
1. Defisit pengetahuan pada keluarga Tn. H
Intervensi : Bina hubungan saling percaya, Pilih metode dan strategi
penyuluhan yang benar, Beri waktu pada keluarga untuk mengajukan
pertanyaan, Memberikan penjelasan dan pendidikan kesehatan kepada
keluarga tentang penyakit Diabetes Mellitus, dokumentasikan materi yang
dipresentasikan, Ikut sertakan keluarga atau orang terdekat
2. Kerusakan integritas jaringan
Intervensi : tingkatkan keamanan dan kenyamanan pada klien, bersihkan
dan memantau kondisi luka, cegahan ulkus dekubitus terjadi pada bagian
tubuh lain, mengumpulkan dan menganalisa data klien untuk
mempertahankan integritas jaringan, lakukan perawatan luka pada klien.

D. Implementasi
Implementasi tindakan keperawatan yang penulis lakukan sebagai berikut :
1. Defisit pengetahuan pada keluarga Tn. H
Implementasi yang dilakukan yaitu Membina hubungan saling percaya,
memilih metode dan strategi penyuluhan yang benar, memberikan waktu
pada keluarga untuk mengajukan pertanyaan, memberikan penjelasan dan
pendidikan kesehatan kepada keluarga tentang penyakit Diabetes
Mellitus, mendokumentasikan materi yang dipresentasikan, mengikutkut
sertakan keluarga atau orang terdekat.
2. Kerusakan integritas jaringan pada Ny. I
Implementasi yang dilakukan yaitu meningkatkan keamanan dan
kenyamanan pada klien, membersihkan dan memantau kondisi luka,
mencegahan ulkus dekubitus terjadi pada bagian tubuh lain,
mengumpulkan dan menganalisa data klien untuk mempertahankan
integritas jaringan, melakukan perawatan luka pada klien.

E. Evaluasi
1. Defisit pengetahuan pada keluarga Tn. H
Hasil evaluasi didapatkan DS: keluarga Tn. H mengatakan sudah paham
tentang pengertian Diabetes Mellitus, tanda-tanda Diabetes Mellitus, cara
mengatasi DM, komplikasi yang dapat terjadi pada DM, diit pada
DM,keluarga juga sudah mengetahui manfaat menjaga kebersihan pada
luka. DO: keluarga Tn. H mampu menjelaskan tentang pengertian,
komplikasi, tanda-tanda, pencegahan , diit pada DM.

lv
Berdasarkan data tersebut dapat diketahui berdasarkan evaluasi
terhadap defisit pengetahuan keluarga Tn. H berhubungan dengan
ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan anggota keluarga
yang menderita penyakit DM maka masalah sudah teratasi. Keluarga Tn.
H dan Ny. I sudah paham tentang penyakit DM dan mampu menjelaskan
kembali tentang penyakit DM.
2. Kerusakan integritas jaringan pada Ny. I
Hasil evaluasi didapatkan DS: Keluarga Tn. H mengatakan sudah bisa
melakukan perawatan kaki sendiri, mengatakan sudah mengetahui alat
alat apa saja yang dibutuhkan dan bahan-bahannya, dan mengetahui cara
menjaga luka agar tidak infeksi, Ny. I mengatkan mengetahui manfaat
perawtan luka yang dilakukan secara rutin. DO: Ny. I mendemonstrasikan
cara perawatan luka pada kaki DM secara mandiri, Ny. I mengatakan
melakukan diit DM untuk mengontrol kadar gula agar stabil, Ny. I juga
mau dilakukan pengecekan kadar gula secara rutin. Dari data tersebut
dapat diketahui berdasarkan evaluasi terhadap kerusakan integritas
jaringan berhubungan dengan gangguan sensasi gatal dialami oleh Ny. I
sehingga terjadi luka maka masalah sudah teratasi. Ny. I mengatakan
nyaman setelan dilakukan perawatan luka, luka tampak bersih dan tidak
terjadi tanda-tanda infeksi, intervensi lanjut.

lvi
BAB IV

PEMBAHASAN

Dalam bab ini penulis akan membahas persamaan dan kesenjangan yang ada
pada “Asuhan Keperawatan Keluarga pada keluarga TN. H dengan Ulkus
Diabetes Melitus di Desa Ambokembang Kecamatan Kedungwuni Kabupaten
Pekalongan”. Berdasarkan pengkajian yang penulis lakukan pada Tn. H selama 3
minggu mulai tanggal 7 sampai 26 Maret 2016. Dimana sebelum sudah dilakukan
pengkajian dasar pada tanggal 15 Maret 2016. Pada kasus ini, akan membahas
mengenai hasil pengkajian sampai evaluasi. Penulis mengangkat 2 (Tiga) Langkah
diagnosa keperawatan berdasarkan data-data pendukung. Dalam pembahasan ini
penulis membaginya dalam 5 (lima) aspek dari proses keperawatan yaitu
pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi dan evaluasi.

A. PENGKAJIAN

Pengkajian dimaksudkan untuk mendapatkan data yang dilakukan secara


terus menerus terhadap anggota keluarga yang dibina. Selama aspek
pengumpulan data penulis menggunakan metode :

lvii
a) wawancara atau anamnesa yaitu menanyakan atau tanya jawab sebagai
bentuk komunikasi yang direncanakan berkaitan dengan masalah yang
sedang dihadapi.
b) Pengamatan atau observasi yaitu mengamati perilaku dan keadaan untuk
memperoleh data berkaitan dengan masalah kesehatan dan keperawatan.
c) Pemeriksaan fisik adalah data untuk memperoleh data secara fisik
(Faisalado, C.W 2014 hh. 53-54).
Metode pengumpulan data yang penulis gunakan saat melakukan
pengkajian pada tanggal 15 Maret 2016 sudah sesuai dengan teori, yaitu
menggunakan metode wawancara, pengamatan atau observasi dan
pemeriksaan fisik. Namun dalam melakukan pemeriksaan fisik dan mengkaji
perkembangan keluhan pada setiap pertemuan, penulis hanya melakukan pada
Tn. Hdan Ny. I, kendalanya yaitu pada saat penulis melakukan kunjungan
rumah untuk melakukan pemeriksaan hanya ada Ny. I , sedangkan Tn. H
susah untuk ditemui karena sibuk bekerja, hanya pada saat pengkajian dan
pemeriksaan awal saja penulis dapat melakukan pemeriksaan pada Tn. H.
Dalam melakukan pengkajian pada keluarga Tn. H dengan Ulkus DM,
penulis menggunakan metode pendekatan pola fungsional gordon, pola ini
dapat mencakup seluruh aspek yang harus dikaji yaitu bio-psiko-sosial-
spiritual dan kultural yang didalamnya dapat membantu penulis dalam
memperoleh data fokus yang menunjang pada kasus Diabetes Melitus.
Hasil dari pengkajian yang telah dilakukan pada tanggal 21 Maret 2016
didapatkan data sebagai berikut :
Data subjektif : Ny. I keluarga mengatakan belum mengetahui tentang
penyakit Diabetes Melitus, diit dan pengobatannya, pencegahan serta cara
perawatan penyakit yang di derita Ny. I, Ny. I mengatakan ada luka ulkus
dikaki sudah 1 bulan belum sembuh
DM selama 5 tahun dan terdapat luka pada kaki fibula anterior dexstra
dengan panjang luka 3 cm, kedalam luka 1 cm, tidak terdapat nekrosis, tidak
terdapat pus, masih ada sensasi sensori, warna kemerahan , awal mulanya
karna rasa gatal, dan digaruk terus menerus karna ketidaktahuan Ny. I
sehingga mengakibatkan luka.

lviii
Data obyektif: Ny. I sering bertanya tentang penyakit yang dideritanya,
Ny. I tanpak belum begitu paham cara mengatasi luka yang diderita. Hasil
pemeriksaan fisik pada Ny. I didapatkan data: ada luka pada kaki bagian
fibula dextra anterior, Rr 20 x/mnt, nadi 80x/mnt, TD 120/60 mmHg, GDS
(21.00) 160, gds (07.00) 96, gds (17.00) 162.

B. Diagnosa Keperawatan.

Sesuai dalam tinjauan teori diatas diagnosa keperawatan Diabetes Melitus


dalam NANDA Nic-Noc 2015 memunculkan diagnosa keperawatan sebagai
berikut:

1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh


2. Resiko syok
3. Kerusakan integritas jaringan
4. Retensi urine
5. Ketidak efektifan perfusi jaringan perifer
6. Ketidakseimbangan elektrolit
7. Keletihan
Berdasarkan konsep teori dan kenyataan dilapangan penulis kemukakan
pada kasus Diabetes Melitus ada dua diagnosa keperawatan yaitu :
1. Defisiensi pengetahuan pada keluarga Tn. H
2. Kerusakan integritas jaringan
Diagnosa keperawatan yang tidak muncul ; a) Ketidakseimbangan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh, b) Resiko syok, c) Retensi urine, d)
Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer, e) Ketidakseimbangan elektrolit,
f) Keletihan

Diagnosa diatas tidak muncul karena pada saat pengakajian dan analisa
data tidak muncul data pendukung untuk diagnosa diatas.

C. Intervensi dan Implementasi Keperawatan

lix
Untuk memudahkan dalam memahami pada pembahasan ini maka penulis
menyusun sesuai diagnosa keperawatan yang ada pada keluarga Tn. H dan
dilanjutkan dengan intervensi implementasi dan rasional

1. Defisit pengetahuan pada keluarga Tn. H


Defisiensi pengetahuan yaitu ketiadaan atau defisiensi informasi
kognitif yang berkaitan dengan topik tertentu (NANDA Nic-noc 2012, h
440) .
Penulis menegakan diagnosa defisit pengetahuan berdasarkan Data
subjektif ; Ny. I keluarga mengatakan belum mengetahui tentang
penyakit Diabetes Melitus, diit dan pengobatannya, pencegahan serta
cara perawatan penyakit yang di derita Ny. I.
Data obyektif: Ny. I sering bertanya tentang penyakit yang dideritanya,
Ny.I tanpak belum begitu paham cara mengatasi luka yang diderita.
Diagnosa ini menjadi prioritas utama karena saat pengkajian keluarga Tn
H . Apabila jika tidak segera diatasi maka akan mengakibatkan
keterbatasan kognitif, mengakibatkan diit yang tidak tepat, kurang
mengenal masalah penyakit DM. Sehingga mengakibatkan naiknya kadar
gula dalam darah dan keluarga tidak mengetahui diit DM.
Pengkajian yang dilakukan penulis untuk memperoleh data atau
informasi tentang keluarga Tn. H. Hal ini sesuai dengan teori Mubarak
dkk, (2006, h.73) yang menyatakan bahwa pengkajian adalah
pengumpulan data secara lengkap dan sistematis terhadap masyarakat,
baik individu, keluarga atau kelompok yang menyangkut permasalahan
pada fisiologis, psikologis, sosial ekonomi, maupun spiritual dapat
ditentukan.
Sesuai dengan (NIC-NOC hal 447) intervensi untuk diagonosa
defisiensi pengetahuan yaitu: Bina hubungan saling percaya, Ciptakan
lingkungan yang kondusif, Pilih metode dan strategi penyuluhan yang
benar, Beri waktu pada keluarga untuk mengajukan pertanyaan,
Memberikan penjelasan dan pendidikan kesehatan kepada keluarga
tentang penyakit Diabetes Melitus, dokumentasikan materi yang
dipresentasikan, ikut sertakan keluarga atau orang terdekat. Tetapi
penulis tidak mencantumkan intervensi ciptakan lingkungan yang

lx
kondusif karena lingkungan rumah Tn. H sudah kondusif sehingga
penulis tidak merencakan untuk mengkondusifkan lingkungan.
Rasional dari tindakan keperawatan yang diberikan adalah untuk,
memberikan gambaran pengetahuan tentang diit DM, memberikan
pengetahuan bagaimana cara yag tepat dalam melalukan diit pada
penyakit DM.

2. Kerusakan integritas jaringan


Kerusakan integritas jaringan yaitu kerusakan jaringan membran
mukosa, kornea, integumen, atau subkutan. Penulis menegakan diagnosa
kerusakan integritas jaringan. Penulis menegakan diagnosa kerusakan
integritas jaringan berdasarkan data subjektif ; Ny. I mengatakan sudah 1
bulan luka yang terdapat dikaki belum sembuh, N y. I juga mempunyai
riwayat DM, Ny. I mengalami gatal-gatal pada bagian fibula anterior
dextra sehingga Ny. I mengaruknya terus menerus sehingga terjadi luka.
Data objektif ; tampak lupa pada kaki fibula anterior dexstra dengan grade
1, kedalaman 1 cm, panjang 3 cm, luka tampak kemerahan, tidak ada
nekrosis, keluarga Tn. H tampak belum mengerti bagaimana cara
mengobati lukanya. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa
(Sutanto 2013, h. 48) Diabetes Melitus dapat mengakibatkan komplikasi
kaki Diabetik yang sering terjadi seklaigus memiliki dampak fatal, pada
kejadian parah harus dilakukan amputasi (pemotongan). Komplikasi
diabetik terjadi karena adanya gangguan pada sistem syaraf ( neuropati ),
pembuluh darah, dan terjadinya infeksi. Gangguan pembuluh darah
menyebabkan terganggunya proses penyembuhan luka.
Diagnosa ini menjadi prioritas yang kedua karena diagnosa ini bukan
masalah utama. Namun apabila kerusakan integritas jaringan tidak segera,
maka dapat memperburuk keadaan klien akan menyebabkan ulkus yang
diderita oleh klien menjadi lebih parah dan terjadi infeksi.
Ketidakmampuan keluarga dalam memodifiksi lingkungan sehingga
anggota keluarga yang menderita Diabetes Melitus tidak dapat melakukan
perawatan kaki DM secara mandiri diabetes melitus disebabkan keluarga
kurang memahami tentang tugas keluarga dalam bidang kesehatan yaitu

lxi
merawat anggota keluarga yang sakit. Menurut Mubarak dkk, (2011, h.79)
anggota keluarga yang mengalami gangguan kesehatan perlu memperoleh
tindakan lanjutan atau perawatan agar masalah yang mengalami yang lebih
parah tidak terjadi . Seringkali keluarga telah mengambil tindakan yang
tepat dan benar tetapi keluarga memiliki keterbatasan. Anggota keluarga
yang mengalami gangguan kesehatan perlu memperoleh tindakan lanjutan
atau perawatan agar masalah yang lebih parah tidak terjadi.
Sesuai dengan (NIC-NOC hal 771) intervensi untuk diagonosa
kerusakan integritas jaringan yaitu : meningkatkan keamanan dan
kenyamanan pada klien, meminimalkan penekanan pada bagian bagian
tubuh, membersihkan dan memantau kondisi luka, pencegahan ulkus
dekubitus, mengumpulkan dan menganalisa data klien untuk
mempertahankan integritas jaringan, lakukan perawatan luka pada klien.
Tetapi penulis tidak mencantumkan intervensi meminimalkan penekanan
pada bagian tubuh karena perawat tidak membatasi kegiatan klien
sehingga mengakibatkan penekanan pada pada daerah tubuh klien.
Cara untuk membersihkan luka adalah sebagai berikut :
9) Perhatikan tindakan penjagaan yang stabil
10) Lepaskan kasa pembalut yang kotor dengan menggunakanya atau
mengangkat bagian tepinya dan kemudian secara hati hati melepaskan
bagian lainnya sementara jaringan kulit disekitarnya ditahan.
11) Lakukan inspeksi untuk memeriksa kasa pembalut dan luka dengan
memperhatikan warna, jumlah serta bau cairan drainase dan debris
nekrotik.
12) Basahi kasa lembab pembalut tebal yang bisa dilakukan dengan :
a) Mencelupkannya kedalam larutan pembersih luka dan kemudian
mengeringkan larutan yang berlebihan.
b) Atau menyemprotkan larutan pembersih luka tersebut pada kasa
pembalut dengan menggunakan alat atau botol penyemprot.
c) Untuk luka yang berbentuk linier
d) Secara berhati-hati apuskan kasa steril dari atas kebawah degan
sekali gerakan.

lxii
e) Mulailah gerakan tersebut langsung pada lukannya sendiri dan
kemudian kearah luar.
f) Untuk luka yang terbuka :
1.1 Secara berhati-hati apuskan kasa steril dengan gerakan
melingkar yang konsentris.
1.2 Mulailah geraan tersebut langsung pada lukannya sendiri dan
kemudian kearah luar
g) Keringkan luka dengan menggunakan kasa steril yang kering.
h) Periksalah kembali keadaan luka dengan memperhatikan sifat dasar
luka yang bersih dan kulit disekitarnya.
Pembalutan pada ulkus DM yang dianjurkan :
a) Pada luka kering menggunakan hidrogel; b) luka basah dengan
menggunakan alginat, busa, kolagen; c) luka dangkal dengan
menggunakan selaput transparan, hidrokoloid; d) pembentukan
terowongan atau dalam menggunakan alginat ropes (untuk ulkus
yang basah), kasa yang dibubuhi hidrogel (untuk ulkus yang
kering), e) untuk luka yang terifeksi dengan menggunakan iodosorb
(suatu preparat gel yang akan membersihkan luka dengan menyerap
cairan, eksudat dan bakteri), acticoat atau arglaes (produk
antimikroba), f) luka berdarah dengan menggunakan alginat
(Saputra. Lyndon, 2014).
Rasional dari tindakan ini adalah untuk mencegah terjadinya
keparahan pada luka dan untuk menghindari infeksi yang dapat terjadi
pada luka DM Ny. I, mengajarkan perawatan luka pada keluarga Tn. H
bertujuan untuk meneymbuhan lukan yang terjadi pada Ny. I sehingga
luka bersih dan tidak terjadi infeksi.
Penulis melakukan tindakan keperawatan sebanyak 8x pertemuan
dengan mengajarkan cara melakukan perawatan luka DM secara
mandiri dan memberikan pendidikan kesehatan, memberikan diit
tentang DM pada Ny. I, dan Ny. I sudah bisa dan mampu melakukan
perawatan luka DM secara mandiri, dan mampu mengetahui tentang diit

lxiii
DM.GDS: 162 mg/dl. Hal ini menunjukkan adanya kesesuaian antara
kenyataan dan teori.

D. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menilai
keberhasilan rencana tindakan yang telah dilaksanakan. apabila tidak atau
belum berhasil perlu disusun rencana baru yang sesuai. Semua tidakan
keperawatan mungkin tidak dapat dilaksanakan dalam dua kali kunjungan
rumah ke keluarga. Untuk itu dapat dilaksanakan secara bertahap sesuai
waktu dan kesediaan keluarga yang telah disepakati keluarga. Evaluasi
yang digunakan yaitu evaluasi berjalan (formatif) yaitu evaluasi yang
dikerjakan dalam bentuk pengisian catatan perkembangan berorientasi
pada masalah yang dialami klien. Format yang digunakan dalam evaluasi
formatif adalah SOAP. Evaluasi yang penulis gunakan sudah sesuai
dengan teori yaitu mrenggunkan evaluasi formatif dengan menggunakan
format SOAP. Hasil evaluasi adalah sebagai berikut:
1. Defisit pengetahuan pada keluarga Tn. H
Hasil evaluasi didapatkan DS: keluarga Tn. H mengatakan sudah
paham tentang pengertian Diabetes Melitus, tanda-tanda Diabetes
Melitus, cara mengatasi DM, komplikasi yang dapat terjadi pada DM,
diit pada DM,keluarga juga sudah mengetahui manfaat menjaga
kebersihan pada luka. DO: keluarga Tn. H mampu menjelaskan
tentang pengertian, komplikasi, tanda-tanda, pencegahan , diit pada
DM, keluarga Tn. H mampu melakukan bina hubungan saling percaya
dengan perawat..
Berdasarkan data tersebut dapat diketahui berdasarkan evaluasi
terhadap defisit pengetahuan keluarga Tn. H maka masalah sudah
teratasi sebagian. Keluarga Tn. H dan Ny. I sudah paham tentang
penyakit DM dan mampu menjelaskan kembali tentang penyakit DM,
intervensi lanjut.
2. Kerusakan integritas jaringan pada Ny. I
Hasil evaluasi didapatkan DS: Keluarga Tn. H mengatakan sudah bisa
melakukan perawatan kaki sendiri, mengatakan sudah mengetahui alat
alat apa saja yang dibutuhkan dan bahan-bahannya, dan mengetahui

lxiv
cara menjaga luka agar tidak infeksi, Ny I mengatkan mengetahui
manfaat perawtan luka yang dilakukan secara rutin. DO: Ny. I
mendemonstrasikan cara perawatan luka pada kaki DM secara mandiri,
Ny I mengatakan melakukan diit DM untuk mengontrol kadar gula
agar stabil, Ny. I juga mau dilakukan pengecekan kadar gula secara
rutin. Dari data tersebut dapat diketahui berdasarkan evaluasi terhadap
kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan gangguan sensasi
gatal dialami oleh Ny. I sehingga terjadi luka maka masalah sudah
teratasi. Ny. I mengatakan nyaman setelan dilakukan perawatan luka,
lukatampak bersih dan tidak terjadi tanda-tanda infeksi, intervensi
lanjut.

BAB V

PENUTUP

Setelah dilakukan asuhan keperawatan pada keluarga Tn. H dengan masalah


utama Diabetes Melitus dapat diambil kesimpulan dan saran sebagai berikut :

A. Simpulan

1. Pengkajian
Pengkajian yang dilakukan diperoleh data Ny. I ulkus DM grade 1 luka
pada kaki fibula anterior dexstra dengan panjang luka 3 cm, kedalam luka
1 cm, tidak terdapat nekrosis, tidak terdapat pus, masih ada sensasi
sensori, warna kemerahan. Ny. I mengatakan ingin mengetahui tentang
penyakit Diabetes Mellitus, bagaimana diit DM dan cara mengobati luka
DM . Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital diketahui tekanan darah Rr 20
x/mnt, nadi 80x/mnt, TD 120/60 mmHg, GDS (21.00) 160, gds (07.00) 96,
gds (17.00) 162. Hasil yang diperoleh pengkajian yang dilakukan sudah
sesuai dengan teori.
2. Diagnosa Keperawatan

lxv
Diagnosa keperawatan yang dirumuskan yaitu :

a. Defisiensi pengetahuan pada keluarga Tn. H


b. Kerusakan integritas jaringan pada Ny. I
Hasil yang diperoleh penyusunan diagnosa keperawatan yang dilakukan
sudah sesuai dengan teori.

3. Rencana Tindakan Keperawatan


a. Menjelaskan tentang penyakit Diabetes Melitus setelah dilakukan
perawatan selama 5 hari
b. Menjelaskan diit DM
c. Mengajarkan perawatan luka pada kaki DM
Hasil yang diperoleh bahwa rencana tindakan keperawatan yang dilakukan
sudah sesuai dengan teori.

4. Implementasi
Implementasi yang dilakukan yaitu memberikan pendidikan kesehatan
tentang penyakit Diabetes Melitus dan menjelaskan tentang penyakit
Diabetes Melitus dan mengajarkan klien tentang perawatan kaki DM.
Hasil yang diperoleh bahwa implementasi yang dilakukan penulis sudah
sesuai dengan teori.
5. Evaluasi
Defisit pengetahuan keluarga Tn. H tentang penyakit Diabetes Melitus
sudah teratasi dan Ny. I sudah tahu manfaat perawatan kaki Diabetes
Mellitus, sudah melakukan perawatan kaki secara mandiri Diabetes
Mellitus dan luka pada kaki DM bersih dan tidak terdapat infeksi pada
Ny.I. Dalam tahap evaluasi hasil yang diharapkan sudah sesuai dengan
teori.

Saran

Untuk memaksimalkan hal tersebut penulis menyarankan sebagai


berikut :
1. Keluarga

lxvi
Keluarga dapat meningkatkan pengetahuan tentang penyakit Diabetes
Melitus dengan mencari informasi dari sumber yang lain dan dapat
merawat anggota keluarga yang menderita penyakit Diabetes Melitus.

2. Profesi Keperawatan
Profesi keperawatan dapat menggunakan karya tulis ilmiah ini untuk
menambah informasi tentang pemberian asuhan keperawatan keluarga
dengan anggota keluarga yang menderita penyakit Diabetes Melitus.

3. Masyarakat
Masyarakat perlu meningkatkan pengetahuan tentang masalah kesehatan
terutama penyakit Diabetes Melitus sehingga mampu mengambil
keputusan dalam masalah kesehatan yang dihadapi dan berperan aktif
dalam membantu keluarga yang anggota keluarganya menderita penyakit
Diabetes Melitus untuk mencegah komplikasi yang ditimbulkan dari
penyakit Diabetes Melitus.

4. Institusi Kesehatan
Institusi kesehatan perlu meningkatkan perannya dalam penemuan kasus
Diabetes Melitus secara aktif, intensifikasi upaya penyuluhan dan
memotivasi masyarakat untuk ikut berperan di dalamnya, pemerataan
mutu dan pelayanan kesehatan sampai ke tingkat pedesaan, peningkatan
pengetahuan, sikap dan praktik tentang tujuan penanganan Diabetes
Melitus di kalangan tenaga kesehatan, serta peningkatan kerjasama dan
sistem rujukan antar berbagai tingkat fasilitas pelayanan kesehatan.

lxvii
DAFTAR PUSTAKA

Badero Mary et al, 2009, Seri Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Endokrin.
Penerbit EGC, Jakarta.

Balai Penelitian dan Pengembang Kesehatan Kementrian RI,2013,Riset


Kesehatan Dasar, Jakarta.

Elizabeth J.Corwin, 2009, Buku Saku Patofisiologis, EGC,Jakarta.

Friedman M. Marilyn,2010,Buku Ajar Keperawatan Keluarga Riset,Teori,dan


Praktik,EGC,Jakarta.

Mubarak iqbal wahit et al,2006,Ilmu Keperawatan Komunitas 2,CV Sagung


Seto,Jakarta.

NANDA, 2012, Diagnosa Keperawatan, EGC,Jakarta.

NIC-NOC, 2013, Panduan Penyusunan Asuhan Keperawatan Profesional,


EGC,Jakarta.

Nurarif Amin Huda dan Kusuma Hardi, 2015, Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC, Mediaction,Jakarta.

Rendy Clevo.M dan TH.Margareth,2012,Asuhan Keperawatan Medikal Bedah


Penaykit Dalam, Nuha Medika,Yogyakarta.

lxviii
Saputra, Lyndon, 2014,Atlas Saku Perawatan Luka,Karisma Publishing
Group,Tangerag Selatan.

Setiadi, 2008, Konsep dan Proses Keperawtan Keluarga,Graha Ilmu,Yogyakarta

Subekti Imam et al,2007,Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Terpadu,Balai


Penerbit FKUI,Jakarta.

Sudoyo W. Aru et all,2009,Buku Ajar Ilmu Penyakit


Dalam,InternaPublishing:Jakarta.

Sutanto, Teguh, 2013, Diabetes deteksi pencengahan pengobatan,Buku


Pintar,Yogyakarta.

Wijaya Saferi Andra dan Putri Mariza Putri,2012,Kmb 2 Keperwatan Medikal


Bedah, Nuha Medika, Yogyakarta.

lxix