Anda di halaman 1dari 3

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Menjalankan puasa di bulan Ramadan, bukanlah sekedar menahan lapar dan dahaga semata. Lebih
daripada itu menjalankan puasa di bulan Ramadan merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan
kualitas takwa kita kepada Allah. Untuk itu, kita harus menjaga diri dari perbuatan yang bisa
menjauhkan kita dari Allah SWT. diantara yang patut kita waspadai adalah bahaya ghibah.

Ghibah atau biasa disebut menggunjing adalah salah satu bencana lidah yang sering terjadi dan bisa
merusak puasa itu sendiri. Rasulullah SAW. bersabda:

ِ‫ص ْو ُمِِ ُجنَّةِِ َماِلَ ْمِِ َي ْخ ِر ْق َهاِقَا َلِِأَبُ ْوِِ ُم َح َّمدِِ َي ْعنِىِ َب ْال ِغ ْي َب ِة‬
َّ ‫ال‬.
“Puasa adalah perisai selama tidak dirusakkan”. Abu Muhammad menjelaskan maksudnya adalah
ghibah. (Ad-Darimi).

Lalu, apa hakikat ghibah sesungguhnya? Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abi Hurairah RA.
Disebutkan:

ُِِ‫ِللا‬:‫اِال ِغ ْيبَةُ؟ِقَالُ ْوا‬ ْ ‫ِاَت َ ْد ُر ْونَِِ َم‬:‫سلَّ َمِِقَا َل‬ َ ‫صلَّىِللاُِِ َعلَ ْي ِه‬
َ ‫ِِو‬ َ ِِِ‫س ْو َلِِللا‬ َ ‫أ َ َّن‬
ُ ‫ِِر‬
ِِ‫ْتِِإِ ْنِِ َكانَِِفِ ْي‬ َ ‫ِاَفَ َرأَي‬:‫ِقِ ْي َل‬،‫ِر ٗه‬ َ ‫س ْولُهِِٗأ َ ْعلَ ُمِِقَ َلِِ ِذ ْك ُر َكِِاَخ‬
َ ‫َاكِِبِ َماِيَ ْك‬ ُ ‫َو َر‬
ِِ‫هِِٗوإ َ ْنِِلَ ْم‬َ َ ‫ِإِ ْنِِ َكانَِِفِ ْي ِهِِ َماِتَقُ ْو ُلِِفَقَ ِدِِا ْبت َ ْغت‬:‫ِقَا َل‬،‫أ َ ِخ ْيِِ َماِأَقُ ْولُ؟‬
ِٗ‫َي ُك ْنِِ ِف ْي ِهِِفَقَ ْدِِ َب َهتَّه‬
Bahwa Rasulullah SAW. bertanya (pada para sahabat): “Tahukah kalian apakah ghibah itu?” mereka
menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu” Rasulullah pun bersabda: “yaitu kamu menyebut aib
saudaramu yang tidak ia sukai (jika disebutkan)” lalu ada yang bertanya: “Bagaimana pendapat anda jika
yang aku katakan memang sesuai kenyataan?” Beliau menjawab: “Jika yang kamu katakan adalah benar
danya, maka kamu berartibtelah ghibah kepadanya, dan jika yang kamu katakan tidak benar adanya,
berarti kamu telah menuduhnya”. (HR. Muslim)

Begitu banyak ayat al-Quran maupun Hadits yang melarang dan mencela perbuatan ghibah ini. Seperti
yang difirmankan Allah SWT. dalam al-Hujurat/49: 12:

ُِِ‫ِللا‬:‫اِال ِغ ْيبَةُ؟ِقَالُ ْوا‬ ْ ‫ِاَت َ ْد ُر ْونَِِ َم‬:‫سلَّ َمِِقَا َل‬ َ ‫صلَّىِللاُِِ َعلَ ْي ِه‬
َ ‫ِِو‬ َ ِِِ‫س ْو َلِِللا‬ُ ‫ِِر‬ َ ‫أ َ َّن‬
ِِ‫ْتِِ ِإ ْنِِ َكانَِِفِ ْيِِأ َ ِخ ْي‬ َ ‫ِاَفَ َرأَي‬:‫ِقِ ْي َل‬،‫َاكِِبِ َماِيَ ْك َر ٗه‬ َ ‫س ْولُهِِٗأ َ ْعلَ ُمِِقَ َلِِ ِذ ْك ُر َكِِاَخ‬
ُ ‫َو َر‬
َ َ ‫ِإِ ْنِِ َكانَِِفِ ْي ِهِِ َماِتَقُ ْو ُلِِفَقَ ِدِِا ْبت َ ْغت‬:‫ِقَا َل‬،‫َماِأَقُ ْولُ؟‬
ِٗ‫هِِٗوإ َ ْنِِلَ ْمِِيَ ُك ْنِِفِ ْي ِهِِفَقَ ْدِِبَ َهتَّه‬
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu
dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang
menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya
yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha
Penerima tobat, Maha Penyayang.

Di dalam Q.S. al-Hujurat/49:12 di atas Allah Swt. sudah mengingatkan kita agar

menjauhi prasangka buruk, jangan mencari-cari kesalahan dan kejelekan orang

lain. Karena apa yang kita sangkakan belum tentu kebenarannya. Di samping itu,

diri kita belum tentu lebih baik dari orang yang kita jelek-jelekkan tersebut.

Namun demikian, tidak semua ghibah terlarang dalam Islam, ada beberapa pengecualian. Para ulama
menyebutkan ada enam bentuk ghibah yang diperbolehkan:

1. Ghibah dari orang yang terdzalimi untuk mengadukannya pada orang yang dianggap bisa
menghentikan kedzaliman orang tersebut atau bisa mengembalikan hak-haknya,
2. Ghibah dari orang yang dalam rangka meminta tolong untuk mengubah kemungkaran agar dapat
menjadi lebih baik. Seperti mengadukan keburukan orang kepada ustadz dengan harapan agar
ustadz tersebut bisa menasehati.
3. Ghibah orang yang meminta fatwa. Sebagaimana yang terjadi pada Hindun yang mengadukan
kepelitan suaminya kepada Rasulullah SAW.
4. Ghibah dari orang yang memberi peringatan kepada kaum muslimin supaya mewaspadai dan tidak
mengikuti keburukannya.
5. Ghibah terhadap orang yang memang sudah dikenal dengan julukannya. Seperti menyebut si
pincang dan sebagainya. Namun sebisa mungkin dihindari.
6. Ghibah terhadap orang yang sudah terang-terangan melakukan maksiat dan dosa.

Ghibah-ghibah seperti ini tidak dihitung dalam perbuatan ghibah yang berdosa.

Teman-temanku sekalian

Lalu, bagaimana jika kita terlanjur melakukan ghibah? Bagimana caranya kita bertobat. Sesungguhnya
orang yang ghibah telah berbuat dua kesalahan: Pertama, kesalahan kepada Allah karena dia telah
melakukan hal yang dilarang oleh Allah SWT, maka ia harus menyesali dan beristighfar memohon
ampunan-Nya. Kedua, kesalahan kepada manusia dalam hal ini adalah orang yang dia gunjing. Jika
ghibahnya telah diketahui orang yang dia gibahi, maka ia harus mendatanginya, menunjukkan
penyesalan dan meminta maaf serta meminta dihalalkan kesalahannya. Namun jika orang yang
dighibahi belum tahu, maka ia tidak usah mendatanginya agar hatinya tidak merasa sakit, ian cukup
meminta ampunan Allah atas dosanya tersebut dan dosa orang yang dighibahi serta mengganti
ghibahnya dengan menyebutkan kebaikan-kebaikan orang yang dia ghibahi kepada orang lain. Mujahid,
seorang tabi’in yang merupakan murid sahabat Abdullah bin Abbas berkata: “Kafarat dosa memakan
daging saudaramu (ghibah) adalah engkau memujinya dan mendoakan kebaikan kepadanya. Begitu pula
jika ia telah meninggal”. (Mukhtashar Minhajul Qashidin: 219)

Aaliyah Pryanditha Maharani


XI Archimedes