Anda di halaman 1dari 34

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. ANATOMI FISIOLOGI
1. Vital Statistic
a. Berat badan bayi baru lahir tergantung dari faktor nutrisi, genetik, dan faktor
intrauterin selama kehamilan. Pengelompokan berat badan bayi baru lahir
membantu dalam mengidentifikasi risiko terhadap neonatus karena berat badan
yang kecil kemungkinan memiliki masa gestasi yang kecil. Bayi matur memiliki
berat badan kira-kira 3,4 kg pada perempuan dan 3,5 kg pada laki-laki. Batas
berat badan terendah bagi bayi matur adalah 2,5 kg. Bayi dengan berat badan
lahir sekitar 4,7 kg harus dicurigai terhadap adanya diabetes militus pada ibunya.
Sekitar 75%-90% berat badan bayi merupakan cairan tubuhnya. Bayi akan
kehilangan cairan sekitar 5%-10% pada beberapa hari pertama setelah kelahiran.
Setelah mengalami kehilangan cairan yang inisial, maka bayi akan mengalami
berat badan yang stabil dalam waktu 10 hari. Kemudian akan bertambah
sebanyak 6-8 ons/ minggu pada 6 bulan pertama kelahiran.
b. Panjang badan bayi baru lahir kira-kira 53 cm pada perempuan dan pada bayi
laki-laki memiliki panjang badan 54 cm.
c. Lingkar kepala bayi baru lahir adalah 34-35 cm. Bayi baru lahir dengan lingkar
kepala lebih dari 37 cm atau kurang dari 33 cm harus diidentifikasi mengenai
adanya kelainan neurologi. Pengukuran lingkar kepala menggunakan pita
pengukur yang dilakukan pada tengah-tengah dahi sehingga kepala belakang
dapat terukur.
d. Lingkar dada pada bayi baru lahir adalah 2 cm kurang dari lingkar kepala.
Pengukuran dilakukan tepat di atas nipple.
2. Tanda Vital
a. Temperatur
Suhu tubuh bayi baru lahir adalah 37,2° C, suhu tubuh ini dapat menurun dengan
cepat karena kehilangan panas. Kehilangan panas pada bayi baru lahir melalui 4
cara, yaitu:
1) Konveksi
Adalah kehilangan panas dari permukaan tubuh menuju udara sekitar yang
lebih dingin.
2) Konduksi
Adalah transfer panas pada objek/ benda yang lebih dingin melalui kontak
dengan tubuh bayi.
3) Radiasi
Adalah transfer panas pada objek yang lebih dingin tanpa kontak dengan
tubuh bayi.
4) Evaporasi
Adalah kehilangan panas karena ada penguapan.
Bayi mampu menghemat panas dengan melakukan kontriksi vaskuler. Lemak
coklat adalah jaringan khusus yang ditemukan pada bayi matur yang berfungsi
memproduksi panas tubuh. Proporsi lemak coklat paling banyak ditemukan pada
daerah intraskapula, thorax dan area perineal.
b. Nadi
Tekanan nadi fetus yang masih dalam kandungan adalah 120-160 bpm.
Segera setelah lahir, dimana bayi akan berjuang untuk bernafas, maka denyut
jantung menjadi cepat sekitar 180 bpm. Beberapa jam setelah lahir, denyut
jantung akan stabil sekitar 120-140 bpm. Denyut jantung pada bayi baru lahir
biasanya irregular karena cardio-regulator di medula belum matang. Murmur
biasa terjadi akibat penutupan inkomplet pada sirkulasi. Pada saat menangis,
denyut jantung menjadi 180 bpm dan pada saat tidur 90-110 bpm.
c. Pernafasan
Pernafasan pada bayi baru lahir adalah 80 x/menit setelah beberapa menit
kehidupan. Setelah aktivitas pernafasan dipertahankan, maka menjadi stabil
sekitar 30-60 x/menit dalam keadaan istirahat. Kedalaman rhitme masih irregular
dan terjadi apnea yang singkat tanpa sianosis yang disebut pernafasan periodik
dan merupakan keadaan normal. Reflek batuk dan bersin pada bayi baru lahir
dilakukan untuk membersihkan saluran nafas.
d. Tekanan Darah
Tekanan darah bayi baru lahir adalah 80/46 mmHg. Setelah 10 hari akan
meningkat sekitar 100/50 mmHg. Tekanan darah akan meningkat ketika bayi
menangis.
3. Fungsi Fisiologis
a. Sistem Kardiovaskuler
Perubahan pada sistem kardiovaskuler pada bayi baru lahir sangatlah
penting karena darah yang teroksigenasi melalui plasenta, maka ketika sudah
lahir harus memperoleh oksigen dari paru-paru. Pada saat paru-paru di pompa
untuk pertama kali tekanan di dalam dada secara keseluruhan akan menurun dan
tekanan pada arteri pulmonal menurun sebagian. Penurunan tekanan pada arteri
pulmonalis menyebabkan menutupnya duktus arteriosus, ketika tekanan pada
ruang kiri jantung meningkat karena peningkatan volume darah maka foramen
ovale menutup yang disebabkan oleh tekanan yang berlawanan dengan struktur
katub berfungsinya sirkulasi pada bayi menyebabkan vena umbilicus, arteri
umbilicus dan duktus venosus tidak mendapat pasokan darah dan mengalami
atropi dalam beberapa minggu.
b. Sistem Pernafasan
Pernafasan pertama kali pada bayi baru lahir disebabkan oleh adanya
kombinasi dari reseptor dingin, tekanan PO2 rendah ( PO2 menurun dari tekanan
80 mmHg menjadi 15 mmHg), dan peningkatan PCO2 ( meningkat menjadi 70
mmHg). Adanya cairan pada paru-paru mempermudah tegangan permukaan
dinding alveolar dan memudahkan pernafasan untuk pertama kalinya. Cairan
tambahan tersebut akan diabsorbsi dengan segera oleh pembuluh darah paru dan
limfatik setelah pernafasan pertama dalam waktu 10 menit bayi akan memiliki
volume residual yan baik dan dalam waktu 12 jam maka kapasitas vital terpenuhi.
Organ jantung pada bayi baru lahir memiliki ukuran yang lebih besar dari pada
orang dewasa sehingga ekspansi paru terbatas.
c. Sistem Pencernaan
Saluran gastrointestinal pada bayi baru lahir biasanya steril, bakteri akan
dikultur dari intestinal dalam waktu 5 jam setelah kelahiran. Bakteri masuk ke
saluran pencernaan melalui mulut dan beberapa bakteri tersebut menyebar
melalui udara. Bakteri lain mungkin berasal dari secret vagina, tempat tidur di
rumah sakit dan kontak saat menyusui. Akumulasi bakteri pada saluran
pencernaan penting untuk digesti dan untuk sintesis vitamin K karena ASI yang
diberikan pada 1 tahun pertama memiliki kandungan vitamin K yang rendah
sehingga sintesis vitamin K sangat diperlukan untuk koagulasi darah walaupun
saluran pencernaan memiliki kapasitas 60-90 ml tapi bayi memiliki kemampuan
terbatas utuk mencerna lemak dan pati karena defisiensi enzim pankreas, limpase
dan amylase pada beberapa bulan pertama kehidupan. Bayi baru lahir akan
mengeluarkan mekonium melalui anus dalam waktu 24 jam yang berwarna hijau
kehitaman, lengket, berbau yang berasal dari mucus, vernikkaseosa, lanugo,
hormon dari ibu dan karbohidrat selama kehidupan intra uteri. Setelah 2 atau 3
hari kehidupan, BAB bayi akan berubah warna menjadi hijau yang disebut
transisionalstool, setelah 4 hari maka akan menjadi kuning muda dan berbau
asam laktat karena mengkonsumsi ASI.
d. Sistem Urinaria
Pengosongan kandung kemih pada bayi baru lahir terjadi dalam waktu 24
jam. Adanya obstruksi saluran perkemihan dapat diobservasi melalui pancaran
urin, pada bayi perempuan memiliki pancaran yang kuat dan pada bayi laki-laki
memiliki pancaran yang kecil. Ginjal pada bayi baru lahir tidak mampu
memekatkan urin dengan baik sehingga warna urin agak pucat dan sedikit berbau.
Jumlah urin yang pertama pada bayi baru lahir adalah 15 ml dengan berat jenis
1,008-1,010 dalam 1 minggu volume total harian urin adalah 300 ml yang
berwarna merah muda karena adanya kristal asam yang dibentuk pada kandung
kemih selama dalam kandungan.
e. Sistem Autoimun
Bayi baru lahir sangat sulit untuk membentuk anti bodi untuk melawan
antigen pada 2 bulan pertama kehidupan. Karena alasan tersebut imunisasi untuk
melawan penyakit anak, tidak diberikan pada bayi yang lebih muda 2 bulan.

B. DEFINISI
Bayi berat badan rendah (BBLR) ialah bayi baru lahir yang berat badan
lahirnya pada saat kelahiran kurang dari 2.500 gram sampai dengan 2,499 gram. Bayi
baru lahir berat badannya kurang atau sama dengan 2.500 gram disebut bayi
prematur.
Bayi prematur adalah bayi yang lahir dengan masa gestasi kurang dari 37
minggu atau 259 hari. Berat badan masa gestasinya itu, yakni antara 1000 sampai
2500 gram.
(Banjarmasin Post. 2003)
Bayi Prematur adalah bayi yang lahir belum cukup bulan. Berdasarkan
kesepakatan WHO, belum cukup bulan ini dibagi lagi menjadi tiga, yaitu:
Kurang bulan adalah bayi yang lahir pada usia kurang dari 37 minggu.
Sangat kurang bulan adalah bayi yang lahir pada usia kurang dari 34 minggu
Amat sangat kurang bulan adalah bayi yang lahir pada usia kurang dari 28
minggu
(Martono, Hari. 2007)
Prematur adalah kelahiran bayi pada saat masa kehamilan kurang dari 259 hari
dihitung dari hari terakhir haid/ menstruasi. (Hasuki, Irfan. 2007).
Bayi-bayi yang lahir dengan berat badan di bawah 2.500 gram, ada yang
mengkategorikannya sebagai bayi prematur.
Prematuritas murni adalah masa gestasinya kurang dari 37 minggu dan berat
badannya sesuai dengan berat badan untuk masa gestasi itu. ( Hassan, Rusepno.
2005)
Berdasarkan atas timbulnya bermacam–macam problematik pada derajat
prematuritas maka Usher (1975) menggolongkan bayi tersebut dalam tiga kelompok :
a. Extremely premature (bayi yang sangat prematur) 24-30 minggu
Bayi dengan masa gestasi 24-27 minggu masih sangat sukar hidup terutama
dinegara yang belum berkembang atau sedang berkembang. Bayi dengan masa
gestasi 28-30 minggu masih sangat mungkin untuk hidup dengan perawatan yang
sangat intensif (perawat yang sangat terlatih dan menggunakan alat-alat yang
canggih) agar dapat dicapai hasil yang optimum.
b. Moderately premature (bayi pada derajat prematur sedang) 31-36 minggu
Pada golongan ini kesanggupan untuk hidup jauh lebih baik dari golongan
pertama dan gejala sisa yang dihadapinya dikemudian hari juga lebih ringan, asal
saja pengelolaan terhadap bayi ini betul-betul intensif.
c. Borderline premature : masa gestasi 37-38 minggu
Bayi ini mempunyai sifat-sifat prematur dan matur. Biasanya beratnya
seperti bayi matur dan dikelola seperti bayi matur, akan tetapi sering timbul
problematik seperti yang dialami bayi prematur, misalnya sindroma gangguan
pernafasan, hiperbilirubinemia, daya isap yang lemah sehingga bayi ini dapat
diawasi dengan seksama (Wiknjosastro, Hanifa. 2003).
C. ETIOLOGI
Penyebab terjadinya kelahiran prematur biasanya tidak diketahui 15% dari
kelahiran prematur ditemukan pada kelahiran ganda (didalam rahim terdapat lebih
dari satu janin). Di negeri maju angka kejadian kelahiran bayi prematur ialah sekitar
6%-7%, sedangkan di negeri yang sedang berkembang angka kematian ini lebih
kurang 3x lipat.
Faktor resiko yang mungkin berperan dalam terjadinya persalinan prematur adalah:
1. Faktor ibu
Usia ibu kurang dari 18 tahun ( kehamilan usia muda )
Angka kejadian prematuritas tertinggi ialah pada usia ibu di bawah 20 tahun
dan pada multigravida yang jarak antar kelahirannya terlalu dekat. Kejadian
terendah ialah pada usia ibu antara 26-35 tahun.
Usia ibu yang sangat muda saat hamil bisa juga memicu kelahiran prematur.
Sebab biasanya hal tersebut menyebabkan perawatan kehamilan yang kurang
sempurna
Perokok, mengkonsumsi alkohol, konsumsi makanan, penyalahgunaan obat.
Keadaan sosial ekonomi ( keadaan gizi yang buruk)
Keadaan ini sangat berperan terhadap timbulnya prematuritas. Kejadian
tertinggi terdapat pada golongan sosial ekonomi yang rendah. Hal ini di
sebabkan oleh keadaan gizi yang kurang baik dan pengawasan antenatal yang
kurang.
Demikian pula kejadian prematuritas pada bayi yang lahir dari perkawinan
yang tidak sah ternyata lebih tinggi bila dibandingkan dengan bayi yang lahir
dari perkawinan yang sah.
Stress
Ibu pernah mengalami keguguran (abortus) atau melahirkan bayi prematur
pada riwayat kehamilan sebelumnya (Hassan, Delina. 2006).
Kelainan anatomi pada rahim atau leher rahim
Lemahnya bagian bawah rahim atau di sekitar mulut rahim (serviks) sehingga
rahim akan terbuka sebelum usia kehamilan mencapai 38 minggu (Hassan,
Delina. 2006).
Faktor uterus
Bisa juga karena kelainan bentuk rahim, misalnya uterus lebih berbentuk
seperti hati dan bukan seperti buah pear, atau uterus terpisah menjadi dua
ruang (Uterus Bifidus).
Polyhydramnion (cairan ketuban melebihi jumlah normal).
Polyhydramnion menyebabkan tekanan yang kuat pada dinding rahim
sehingga terjadi kelahiran prematur.
Ketuban pecah sebelum waktunya
Adanya infeksi seperti infeksi saluran kemih yang tidak diobati
Pemeriksaan kehamilan yang tidak teratur
Paritas yang banyak
2. Faktor janin
Kehamilan ganda
Hidramnion
3. Keadaan plasenta
Pada keadaan ini plasenta terlepas sebelum saatnya (Solutio Placentae) dan
karena plasenta terletak lebih rendah dari mulut rahim atau menutupi mulut rahim
(Placentae Previae). (Hassan, Delina. 2006).

D. KARAKTERISTIK KLINIK
Berat badan kurang dari 2500 gram
Panjang badan kurang atau sama dengan 45 cm dan lingkar dada kurang dari 30
cm
Lingkar kepala kurang dari 33 cm, kepala relatif lebih besar dari pada badannya
Masa gestasi kurang dari 37 minggu
Kulit tipis dan transparan, lanugo banyak, lemak subkutan kurang sehingga kulit
tampak keriput
Osifikasi tengkorak sedikit, ubun-ubun dan sutura lebar
Pembuluh darah kulit banyak terlihat dan peristaltik usus dapat terlihat
Rambut tipis, halus dan teranyam sehingga sulit terlihat satu persatu
Tulang rawan dan daun telinga belum cukup, sehinga elastisitas daun telinga
masih kurang.
Jaringan mamae belum sempurna demikian pula putting susu belum terbentuk
dengan baik
Bayi kecil, posisinya masih posisi fetal, yaitu posisi dekubitus lateral,
pergerakannya kurang dan masih lemah
Bayi lebih banyak tidur daripada bangun, tangisannya lemah, pernafasan tidak
teratur dan sering terdapat serangan apnea
Otot masih hipotonik, sehingga sikap selalu dalam keadaan kedua tungkai
abduksi, sendi lutut dan sendi kaki dalam fleksi dan kepala menghadap ke satu
jurusan. Tonic neck reflek biasanya lemah, reflek moro dapat positif, reflek
menghisap dan menelan belum sempurna demikian pula reflek batuk
Bila bayi lapar biasanya menangis, gelisah, aktifitas bertambah. Bila dalam waku
3 hari tanda kelaparan ini tidak terdapat, kemungkinan besar bayi menderita
infeksi atau perdarahan intrakranial.
Seringkali terdapat edema pada anggota gerak, yang menjadi lebih nyata sesudah
24-48 jam. Kulitnya tampak mengkilat dan licin serta terdapat pitting edema.
Edema ini seringkali berhubungan dengan perdarahan antepartum, diabetes
militus dan toksemia gravidarum
Frekuensi pernafasan bervariasi sangat luas terutama pada hari-hari pertama.
Walaupun demikian bila frekuensi pernafasan terus meningkat atau selalu di atas
60 x/menit, harus waspada akan kemungkinan terjadinya penyakit membran
hialin (sindrom gangguan pernafasan idiopatik) atau gangguan pernafasan karena
sebab lain. Dalam hal ini penting sekali melakukan pemeriksaan radiologis
toraks.
Kantung zakar (desensus testikulorum) belum sempurna/ lebih kecil dan
lipatannya sedikit (anak laki-laki)
Labia mayora belum menutupi labia minora (anak perempuan)

E. PATOFISIOLOGI
Penyebab terjadinya kelahiran bayi prematur belum diketahui secara jelas. Data
statistik menunjukkan bahwa bayi lahir prematur terjadi pada ibu yang memiliki
sosial ekonomi rendah. Kejadian ini dihubungkan dengan kurangnya perawatan pada
ibu hamil karena tidak melakukan antenatal care selama kehamilan. Asupan nutrisi
yang tidak adekuat selama kehamilan, infeksi pada uterus dan komplikasi obstetric
yang lain merupakan pencetus kelahiran bayi prematur. Ibu hamil dengan usia yang
masih muda, mempunyai kebiasaan merokok dan mengkonsumsi alkohol juga
menyebabkan terjadinya bayi prematur. Faktor tersebut bisa menyebabkan
terganggunya fungsi plasenta sehingga fungsi plasenta menurun dan memaksa bayi
untuk keluar sebelum waktunya. Karena bayi lahir sebelum masa gestasi yang cukup
maka organ tubuh bayi belum matur sehingga bayi lahir prematur memerlukan
perawatan yang sangat khusus untuk memungkinkan bayi beradaptasi dengan
lingkungan luar.

F. PROBLEMATIKA BAYI PREMATUR


Di masa awal, bayi prematur mengalami pertumbuhan yang sangat cepat
(catch-up growth). Pertumbuhan cepat yang pertama kali dapat dilihat adalah pada
lingkar kepala, kemudian baru berat badan (BB) dan panjang badan (PB).
Pertumbuhan cepat ini berlangsung sampai usia 3 tahun.
Bayi prematur dengan BB lahir kurang menurut usia kehamilan atau
intrauterine growth retardation dan bayi prematur dengan gangguan pertumbuhan
saat catch-up growth berisiko tinggi untuk mengalami gangguan tumbuh kembang
atau menderita masalah kesehatan lain dibandingkan dengan bayi yang masa
pertumbuhan cepatnya dilalui dengan normal.
Ada beberapa cara skrining yang digunakan seperti denver prescreening
developmental questonnaire, denver developmental screening test, dan gessel
screening inventory. Namun tes ini tidak dapat menggantikan pemeriksaan fisik dan
neurologis. Bila terdapat masalah atau gangguan dalam perkembangan sebaiknya
bayi dikonsultasikan pada dokter ahli perkembangan.
Dengan kondisi organ tubuh yang belum sempurna, bayi prematur berisiko
tinggi terhadap sejumlah penyakit pascalahir, antara lain:
Suhu tubuh
Suhu tubuh yang tidak stabil oleh karena kesulitan mempertahankan suhu
tubuh yang disebabkan oleh penguapan yang bertambah akibat dari kurangnya
jaringan lemak dibawah kulit, permukaan tubuh yang relatif lebih luas
dibandingkan dengan berat badan, produksi panas yang berkurang oleh karena
lemak coklat yang belum cukup serta pusat pengaturan suhu yang belum
berfungsi sebagaimana mestinya.
Hipoksia perinatal (kekurangan oksigen)
Umumnya gangguan telah dimulai sejak di kandungan, misalnya gawat
janin atau stres janin saat proses kelahirannya, yang membuat bayi mengalami
asfiksia (kegagalan bernapas spontan dan teratur pada menit-menit pertama
setelah lahir). Biasanya, dokter akan melakukan resusitasi (usaha bernapas
kembali dengan pernapasan buatan atau pijat dan rangsang jantung) agar tidak
menimbulkan kerusakan organ, khususnya otak. (Hasuki, Irfan. 2007).
Masalah kardiovaskular
Masalah kardiovaskular adalah kelainan yang paling sering ditemui pada bayi
prematur. Hal ini disebabkan belum menutupnya patent ductus arteriosus (PDA),
yaitu saluran yang menghubungkan aorta dan arteri paru-paru kiri. Saluran/duktus
ini mengalirkan darah keluar dari paru yang belum berfungsi dan ia tetap terbuka
selama kehamilan. Saat masih dalam kandungan, pembuluh darah ini digunakan
untuk bernapas. Ketika lahir, bayi akan bernapas secara normal, sehingga
pembuluh darah itu akan menutup. Tapi karena gagal napas maka pembuluh
darah ini tidak menutup. (Hasuk, Irfan. 2007).
Mata juling
Strabismus atau mata juling biasa dialami bayi prematur. Dokter mata sebaiknya
menilai keadaan mata, terutama bila strabismus menetap sampai usia lebih dari 9
bulan. Selain itu bila ditemukan gangguan pada retina atau retinopaty of
prematurity (ROP), bayi harus diawasi lebih ketat. (Hasuki, Irfan. 2007).
Masalah neurologik
Kekurangan oksigen di dalam otak yang belum tumbuh sempurna pun
seringkali menjadi gangguan. Masalahnya, pusat pernapasan ada di otak kecil
sehingga sering terjadi gangguan pola pernapasan. Hal ini dapat menimbulkan
perdarahan di otak. Penanganan harus dilakukan dengan sangat hati-hati
mengingat saraf bayi belum sempurna. Setelah itu, perkembangan sejak lahir
hingga balita harus diperhatikan secara cermat sehingga jika terjadi
penyimpangan dapat cepat diperbaiki. Sangat baik bila bayi secara kontinu
diobservasi oleh ahli di klinik tumbuh kembang agar perkembangannya bisa sama
dengan bayi normal.
Gangguan pendengaran
Bayi prematur juga berisiko mengalami gangguan pendengaran yang lebih
tinggi. Uji pendengaran dengan brainstem auditory evoked potential dapat
dilakukan setelah keadaan memungkinkan. WHO membuat batasan kehilangan
pendengaran bila ada kekurangan pendengaran lebih dari 25 dB pada frekuensi
500, 1000 dan 2000 Hz pada salah satu telinga yang relatif lebih baik. Dengan
definisi ini sekitar 5% bayi prematur yang lahir kurang dari 32 minggu masa
kehamilan akan mengalami kehilangan pendengaran pada usia 5 tahun. Orang tua
harus memperhatikan apabila ada tanda gangguan pendengaran secara dini.
(Hasuki, Irfan. 2007).
Gangguan napas
Gangguan ini terjadi karena paru-paru belum matang sehingga kekurangan
bahan surfaktan yang diproduksi oleh paru-paru. Surfaktan berfungsi
mempertahankan mengembangnya alveoli atau gelembung paru. Kekurangan
surfaktan ini membuat pertukaran udara menjadi tidak baik dan bayi akan
mengalami sesak napas atau sindroma gangguan napas (SGN).
Penyakit gangguan pernafasan yang paling sering diderita bayi prematur
adalah penyakit membran hialin dan aspirasi pneumoni. Disamping itu sering
timbul pernafasan periodik (periodik breathing) dan apnea yang disebabkan oleh
pusat pernafasan belum matur. (Didinkaem. 2007).
Belum matangnya organ tubuh, terutama paru-paru, memungkinkan bayi
prematur mengalami gagal napas. Untuk mengatasinya, dokter akan melakukan
resusitasi (usaha bernapas kembali dengan pernapasan buatan atau pijat dan
rangsang jantung).
Tindakan yang diberikan biasanya tergantung pada derajat kematangan paru
dan berat ringannya SGN, apakah dokter akan memakai alat bantu napas mekanik
atau pemberian surfaktan eksternal. Sebenarnya, kekurangan surfaktan bisa
diupayakan dengan menyuntikkan preparat steroid dosis tinggi pada ibu yang
menghadapi persalinan prematur.
Gangguan alat pencernaan dan problema nutrisi
Distensi abdomen akibat dari motilitas usus berkurang, volume lambung
berkurang sehingga waktu pengosongan lambung bertambah, daya untuk
mencerna dan mengabsorbsi lemak bertambah, laktosa, vitamin yang larut dalam
lemak, dan beberapa mineral tertentu berkurang, kerja dari sfingter kardio-
esofagus yang belum sempurna memudahkan terjadinya regurgitasi isi lambung
ke esophagus dan mudah terjadi aspirasi.
Saluran cerna yang belum matang juga akan menimbulkan dampak pada
bayi prematur. Ditambah lagi refleks isap dan kemampuan menelannya yang
belum berfungsi dengan baik. ASI bisa diberikan melalui pipet plastik bila bayi
belum kuat mengisap langsung dari ibunya. Setelah lahir, sebaiknya si bayi tidak
dipuasakan terlalu lama. Idealnya, sekitar 24-72 jam pertama ia sudah mendapat
tambahan nutrisi. Bila perlu, manfaatkan cairan infuse
Imatur hati (kuning)
Ketika lahir, sebagian besar bayi prematur mengalami kuning yang
disebabkan fungsi hatinya belum sempurna. Kemungkinannya akan semakin
besar bila saat hamil ibu menderita infeksi, khususnya infeksi plasenta. Tindakan
untuk mengatasinya adalah dengan terapi sinar biru, bila kasusnya berat sekali
maka dilakukan transfusi tukar.
Memudahkan terjadinya hiperbilirubinemia dan defisiensi vitamin K.
Fungsi hati yang belum maksimal akan menyebabkan hemoglobin menumpuk
karena tidak bisa diproses. Akibatnya, bayi menjadi kuning
(Didinkaem, Nikita. 2007)
Ginjal yang imatur baik secara anatomi maupun fungsinya
Produksi urin yang sedikit, urea clearence yang rendah, tidak sanggup
mengurangi kelebihan air dan elektrolit dalam tubuh dengan akibat mudahnya
terjadi edema dan asidosis metabolic
Perdarahan
Perdarahan mudah terjadi karena pembuluh darah yang rapuh (fragile),
kekurangan faktor pembekuan darah seperti protrombin. Sebelum lahir, ada
pembuluh darah yang digunakan bayi untuk bernapas. Pembuluh darah ini
seharusnya menutup dengan sendirinya begitu bayi lahir. Namun karena lahir
prematur, bisa jadi pembuluh darah tersebut tetap terbuka, sehingga menimbulkan
serangkaian masalah.
Gangguan imunologik
Daya tahan tubuh terhadap infeksi berkurang karena rendahnya kadar Ig G
gamma globulin. Bayi prematur relatif belum sanggup untuk membentuk antibodi
dan daya fagositosis serta reaksi terhadap peradangan masih belum baik.
Kalau bayi cukup bulan saja berkemungkinan memiliki daya tahan tubuh
yang relatif masih rendah, apalagi bayi yang lahir prematur. Salah satu masalah
yang mungkin timbul adalah mudahnya ia terkena infeksi.
Cedera kedinginan
Masalah pengaturan suhu tubuh bayi pun terkadang belum sempurna
sehingga bayi harus dimasukkan ke dalam inkubator. Tujuannya menghindari
bayi dari kedinginan akibat suhu lingkungan yang terlalu rendah, terlalu tinggi,
atau suhu yang naik turun karena dapat menyebabkan cedera dengan ciri-ciri
kulitnya akan teraba keras pada tempat tertentu.
Selain dimasukkan ke dalam inkubator, ibu pun bisa melakukan gendong
kanguru. Lepaskan seluruh pakaian bayi, lalu dekap di dada ibu langsung
menyentuh kulit (skin to skin contact). Bayi akan merasa hangat. Lalu tutupi
bagian belakang dan samping tubuhnya dengan selimut atau baju ibu. (Hasuki,
Irfan. 2007).
Perdarahan intraventrikuler
Lebih dari 50 % bayi prematur menderita perdarahan intraventrikuler. Hal
ini disebabkan oleh karena bayi prematur sering menderita apnea, asfiksia berat
dan sindroma gangguan pernafasan. Akibatnya bayi menjadi hipoksia, hipertensi
dan hiperkapnea. Keadaan ini menyebabkan aliran darah ke otak bertambah.
Penambahan aliran darah ke otak akan lebih banyak lagi karena tidak adanya
otoregulasi serebral pada bayi prematur, sehingga mudah terjadi perdarahan dari
pembuluh darah kapiler yang rapuh dan iskemia di lapisan germinal yang terletak
di dasar vnetrikel lateralis antara nucleus kaudatus dan ependim. Luasnya
perdarahan intraventrikuler ini dapat di diagnosis dengan ultrasonografi atau CT
Scan.
Retrolental fibroplasias
Retrolental fibroplasias dengan menggunakan O2 dengan konsentrasi tinggi
(PaO2 lebih dari 115 mmHg =15 kPa) maka akan terjadi vasokontriksi pembuluh
darah retina yang diikuti oleh proliferasi kapiler-kapiler baru ke daerah yang
iskemia sehingga terjadi perdarahan, fibrosis, distorsi, dan parut retina sehingga
bayi menjadi buta. Untuk menghindari retrolental fibroplasias maka O2 yang
diberikan pada bayi prematur tidak lebih dari 40%. Hal ini dapat dicapai dengan
memberikan O2 dengan kecepatan 2 liter permenit.
Pada dasarnya pada bayi normal memiliki reflek- reflek, seperti
1. Refleks mencari (rooting)
Jika disentuh pipinya, bayi akan menoleh kearah sentuhan. Jika pipinya
dirangsang atau disentuh, bayi akan membuka mulut dan berusaha untuk
mencari puting untuk menyusu. Hal tersebut disebut dengan reflek mencari atau
rooting.
2. Refleks menghisap (sucking)
Reflek menghisap pada bayi akan timbul jika puting merangsang langit-
langit (palatum) dalam mulutnya. Untuk dapat merangsang langit-langit bagian
belakang secara sempurna. Sebagian besar areola harus tertangkap oleh mulut
(masuk kedalam mulut) bayi. Dengan demikian sinus laktiferus yang berada
dibawah areola akan tertekan oleh gusi, lidah, serta langit-langit sehingga air
susu diperas secara sempurna oleh mulut bayi. Menurut penelitian refleks
menghisap yang kuat pada bayi yaitu antara 20-30 menit sesudah lahir bila
lewat waktu ini maka refleks hisap bayi akan menurun dan kembali lagi pada
akhir hari kedua.
3. Refleks menelan (swallowed)
Air susu yang penuh dalam mulut bayi akan menelan sebagai pernyataan
reflek pada bayi. Pada saat bayi menyusu akan terjadi peregangan puting susu
dan areola untuk mengisi kerongga mulut. Oleh karena itu dibagian besar areola
harus ikut kedalam mulut. Lidah bayi akan menekan ASI keluar dari sinus
laktiferus yang berada dibawah areola.
4. Refleks Babinsky (refleks menggenggam)
Menggenggam adalah salah satu refleks yang dapat dilihat dengan jelas,
jika telapak tangan bayi disentuh maka jemarinya akan menggengggam dengan
erat. Akan tetapi hanya dalam waktu beberapa bulan saja, refleks akan
menghilang bersamaan dengan berkembangnya kemampuan si kecil
mengontrol kemampuannya menggenggam benda-benda.
Selain tangan refleks menggenggam ini juga bisa dilakukan oleh jari-jari
kaki bayi, caranya tekan saja telapak kaki di sekitar ibu jarinya. Sentuhan
tersebut akan membuat jemari kakinya menekuk dengan gerakan menjepit.
5. Refleks Moro
Bila bayi diangkat dari tempat tidurnya dan diturunkan lagi secara
mendadak, atau alas tidurnya ditarik secara mendadak atau dipukul dengan
keras, biasanya secara tiba-tiba kedua tangan dan kakinya akan merentang dan
menutup kembali. Bersamaan dengan itu, jemarinya menekuk seolah-olah
mencengkeram sesuatu.
Uniknya tidak seperti refleks lainnya yang merupakan gerakan motorik,
menurut para ahli reflek moro ini tergolong sebagai reaksi emosional yang
timbul diluar kemauan dan kesadaran bayi.

9 REFLEKS BAYI
Refleks Stimulasi Respons Pola Bila Tak Ada
Perkemba Respons,
ngan Menunjukkan
Blinking Kilatan Bayi akan menutup kedua Menetap Kelainan pada saraf
cahaya atau matanya di otak
hembusan
udara
Babinski Telapak kaki Jari-jari kaki akan Menghilang Kelainan pada saraf
digoyang atau membuka di usia 1 otak (bila menetap)
disentuh sampai 2
tahun
Darwinian Telapak Jari-jari mengatup, Melemah di Kelainan pada saraf
(Grasping) tangan membentuk genggaman usia 3 bulan, otak atau bila
disentuh menghilang di menetap
usia 1 tahun
Moro Tiba-tiba Terkejut, lalu Menghilang Fraktur atau cedera
dikejutkan melengkungkan di usia 3 pada bagian tubuh
oleh suara punggungnya, sampai 6 tertentu
atau gerakan menjatuhkan kepala, bulan
menangkupkan kedua
lengan dan kakinya ke
tengah badan
Rooting Disentuh pipi Mulut akan langsung Menghilang Bayi kurang bulan
atau ujung membuka dan melakukan di usia 3 (prematur) atau
mulutnya gerakan seperti orang sampai 4 kemungkinan adanya
mengisap (mengenyot) bulan kelainan sensorik
Steping Bila tubuhnya Kakinya akan menjejak- Menghilang Kelainan pada
diangkat dan jejak seperti akan berjalan di usia 3 motorik kasar
diposisikan sampai 4
berdiri di atas bulan
permukaan
lantai
Sucking Bila ada objek Bayi langsung melakukan Menghilang Kelainan saluran
disentuhkan gerakan seperti mengisap di usia 3 pernapasan dan
atau sampai 4 kelainan pada mulut
dimasukkan bulan termasuk langit-langit
ke mulut mulut

Swimming Ditelungkup- Secara otomatis tubuhnya Menghilang Bayi prematur atau


kan di dalam akan membuat gerakan- di usia 6 gangguan motorik
air gerakan seolah berenang sampai 7 kasar
bulan
Tonic neck Ditelentang- Memutar kepala bayi Menghilang Jika waktu lahir
kan dalam posisi di usia 7 menunjukkan
ditelentangkan; akan bulan respons yang
tampak gerakan stereotip (justru
berlawanan arah antara searah) dan sangat
kepala dan tubuhnya. menonjol, pertanda
Maksudnya, bila kepala ada kerusakan otak
menengok ke arah kanan, yang berat.
maka bagian tubuhnya Bila menetap
seperti bergerak ke arah setelah usia 7 bulan
sebaliknya dengan kedua kemungkinan ada
tangan biasanya kelainan otak.
menggenggam. Posisinya
akan tampak seperti
pemain anggar (the fencer
pose).
G. PENATALAKSANAAN MEDIS
1. Perawatan di Rumah Sakit
Mengingat belum sempurnanya kerja alat-alat tubuh yang perlu untuk
pertumbuhan dan perkembangan dan penyesuaian diri dengan lingkungan hidup
diluar uterus maka perlu diperhatikan pengaturan suhu lingkungan, pemberian
makanan dan bila perlu pemberian oksigen, mencegah infeksi serta mencegah
kekurangan vitamin dan zat besi.
a) Pengaturan suhu
Bayi prematur mudah dan cepat sekali menderita hipotermia bila berada
dilingkungan yang dingin. Kehilangan panas disebabkan oleh permukaan tubuh
bayi yang relatif lebih luas bila dibandingkan dengan berat badan, kurangnya
jaringan lemak dibawah kulit dan kekurangan lemak coklat (brown fat). Untuk
mencegah hipotermia perlu diusahakan lingkungan yang cukup hangat untuk bayi
dan dalam keadaan istirahat konsumsi oksigen paling sedikit, sehingga suhu
tubuh bayi tetap normal. Bila bayi dirawat didalam incubator maka suhu untuk
bayi dengan berat badan kurang dari 2 kg adalah 35ºC dan untuk bayi dengan
berat badan 2-2,5 kg adalah 34ºC agar ia dapat mempertahankan suhu tubuh
sekitar 37ºC. Kelembaban incubator berkisar antara 50%-60%. Kelembaban yang
lebih tinggi diperlukan pada bayi dengan sindroma gangguan pernafasan. Suhu
incubator dapat diturunkan 1ºC perminggu untuk bayi dengan berat badan 2 kg
dan secara berangsur-angsur ia dapat diletakkan didalam tempat tidur bayi
dengan suhu lingkungan 27ºC-29ºC. Bila incubator tidak ada, pemanasan dapat
dilakukan dengan membungkus bayi dan meletakkan botol-botol hangat
disekitarnya atau dengan memasang lampu petromaks didekat tempat tidur bayi.
Cara lain untuk mempertahankan suhu tubuh bayi sekitar 36ºC-37ºC adalah
dengan memakai alat “perspexheat shield” yang diselimutkan pada bayi dalam
incubator. Alat ini digunakan untuk menghilangkan panas karena radiasi. Akhir-
akhir ini telah mulai digunakan incubator yan dilengkapi dengan alat temperatur
sensor (thermistor probe). Alat ini ditempelkan di kulit bayi. Suhu incubator
dikontrol oleh alat servomechanism. Dengan cara ini suhu kulit bayi dapat
dipertahankan pada derajat yang telah ditetapkan sebelumnya. Alat ini sangat
bermanfaat untuk bayi dengan berat lahir yang sangat rendah.
Bayi dalam incubator hanya dipakaikan popok. Hal ini mungkin untuk
pengawasan mengenai keadaan umum, perubahan tingkah laku, warna kulit,
pernafasan, kejang dan sebagainya sehingga penyakit yang diderita dapat dikenal
sedini-dininya dan tindakan serta pengobatan dapat dilaksanakan secepatnya.
b) Pemberian ASI pada Bayi Prematur
Komposisi ASI Kelahiran Prematur Berbeda Dengan Kelahiran Normal
Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan yang terbaik yang dapat diberikan oleh
ibu pada bayinya, juga untuk bayi prematur. Komposisi ASI yang dihasilkan ibu
yang melahirkan prematur berbeda dengan komposisi ASI yang dihasilkan oleh
ibu yang melahirkan cukup bulan dan perbedaan ini berlangsung selama kurang
lebih 4 minggu. Jadi apabila bayi lahir sangat prematur (<30 minggu) maka pada
usia kronologis 4 minggu ASI ibunya perlu ditambahkan zat gizi lain agar
komposisinya menyamai komposisi ASI prematur.
Seringkali terjadi kegagalan menyusui pada ibu yang melahirkan prematur.
Hal ini disebabkan oleh karena ibu stres, ada perasaan bersalah, kurang percaya
diri, tidak tahu cara memerah ASI, pada bayi prematur refleks hisap dan menelan
belum ada atau kurang, energi untuk menghisap kurang, volume gaster kecil,
sering terjadi refluks, peristaltik usus lambat.
Agar ibu yang melahirkan prematur dapat berhasil memberikan ASI perlu
dukungan dari keluarga dan petugas, diajarkan cara memeras ASI dan
menyimpan ASI perah dan cara memberikan ASI perah kepada bayi prematur
dengan sendok, pipet ataupun pipa lambung.
Bayi prematur dengan berat lahir >1800 gram (>34 minggu gestasi) dapat
langsung disusukan kepada ibu. Mungkin untuk hari-hari pertama kalau ASI
belum mencukupi dapat diberikan ASI donor dengan sendok/cangkir 8-10
kali sehari.
Bayi prematur dengan berat lahir 1500-1800 gram (32-34 minggu), refleks
hisap belum baik, tetapi nefleks menelan sudah ada, ada diberikan ASI perah
dengan sendok/cangkir, 10-12 kali sehari. Bayi prematur dengan berat lahir
1250-1500 gram (30-3 I minggu), refleks hisap dan menelan belum ada, perlu
diberikan ASI pernah melalui pipa orogastrik 12 x sehari.
Bayi prematur dengan berat lahir <1250 gram, biasanya bermasalah, perlu
diberi IVFD untuk satu dua hari pertama kemudian dapat diberikan ASI
sebagai trophic feeding 10 mI/kgBB dalam 24 jam. Bila sudah ada toleransi
minum, jumlah minum oral boleh dinaikkan sambil menurunkan cairan IV.
Jumlah yang diperlukan untuk 24 jam pertama 60 ml/kgBB/24 jam, hari
kedua 80 ml/kgBB/24 jam, hari ketiga 100 ml/kg BB/24 jam. Seterusnya naik
10 ml/kg/24 jam sampai mencapai 160 ml/kgBB. Yang diharapkan adalah
bahwa selama 10 hari pertama bayi tidak boleh turun beratnya lebih dari 10%
dan setelah 10 hari berat bayi naik 20 gram sehari
(Rulina Suradi)
c) Makanan bayi
Pada bayi prematur, reflek isap, telan dan batuk belum sempurna, kapasitas
lambung masih sedikit, daya enzim pencernaan terutama lipase masih kurang
disamping itu kebutuhan protein 3-5 gr/hari dan tinggi kalori (110 kal/kg/hari),
agar berat badan bertambah sebaik-baiknya. Jumlah ini lebih tinggi dari yang
diperlukan bayi cukup bulan. Pemberian minum dimulai pada waktu bayi
berumur tiga jam agar bayi tidak menderita hipoglikemia dan hiperbilirubinemia.
Sebelum pemberian minum pertama harus dilakukan penghisapan cairan
lambung. Hal ini perlu untuk mengetahui ada tidaknya atresia esophagus dan
mencegah muntah. Penghisapan cairan lambung juda dilakukan setiap sebelum
pemberian minum berikutnya. Pada umumnya bayi dengan berat lahir 2000 gram
atau lebih dapat menyusu pada ibunya. Bayi dengan berat lahir kurang dari 1500
gram kurang mampu menghisap air susu ibu atau susu botol, terutama pada hari-
hari pertama, maka bayi diberi minum melalui sonde lambung (orogastrik
intubation).
Jumlah cairan yang diberikan untuk pertama kali adalah 1-5 ml/jam dan
jumlahnya dapat ditambah sedikit demi sedikit setiap 12 jam. Banyaknya cairan
yang diberikan adalah 60 mg/kg/hari dan setiap hari dinaikkan sampai 200
mg/kg/hari pada akhir minggu kedua.
d) Mencegah infeksi
Bayi prematur mudah sekali terserang infeksi. Ini disebabkan oleh karena
daya tahan tubuh terhadap infeksi kurang, relatif belum sanggup membentuk
antibodi dan daya fagositosis serta reaksi terhadap peradangan belum baik oleh
karena itu perlu dilakukan tindakan pencegahan yang dimulai pada masa parinatal
memperbaiki keadaan sosial ekonomi, program pendidikan (nutrisi, kebersihan
dan kesehatan, keluarga berencana, perawatan antenatal, dan post natal),
screening (TORCH, Hepatitis, AIDS), vaksinasi tetanus serta tempat kelahiran
dan perawatan yang terjamin kebersihannya. Tindakan aseptik dan antiseptik
harus selalu digalakkan, baik dirawat gabung maupun dibangsal neonatus. Infeksi
yang sering terjadi adalah infeksi silang melalui para dokter, perawat, bidan, dan
petugas lain yang berhubungan dengan bayi.
Untuk mencegah itu maka perlu dilakukan:
Diadakan pemisahan antara bayi yang terkena infeksi dengan bayi yang
tidak terkena infeksi
Mencuci tangan setiap kali sebelum dan sesudah memegang bayi
Membersihkan tempat tidur bayi segera setelah tidak dipakai lagi (paling
lama seorang bayi memakai tempat tidur selama satu minggu untuk
kemudian dibersihkan dengan cairan antiseptik)
Membersihkan ruangan pada waktu-waktu tertentu
Setiap bayi mempunyai perlengkapan sendiri
Setiap petugas dibangsal bayi harus menggunakan pakaian yang telah
disediakan
Petugas yang mempunyai penyakit menular (infeksi saluran nafas, diare,
konjungtivitis, dll) dilarang merawat bayi
Kulit dan tali pusat bayi harus dibersihkan sebaik-baiknya
Para pengunjung hanya boleh melihat bayi dari belakang kaca
(Prawirohardjo, 2002)
e) Minum cukup
Bagi bayi, susu adalah sumber nutrisi yang utama. Untuk itulah selama
dirawat, pihak Rumah Sakit harus memastikan bayi mengkonsumsi susu sesuai
kebutuhan tubuhnya. Selama belum bisa menghisap dengan benar, minum susu
dilakukan dengan menggunakan pipet.
f) Memberikan sentuhan
Selama bayi dibaringkan dalam inkubator bukan berarti hubungan dengan
ibunya harus putus. Justru, ibu sangat disarankan untuk terus memberikan
sentuhan pada bayinya. Bayi prematur yang mendapat banyak sentuhan ibu
menurut penelitian menunjukkan kenaikan berat badan yang lebih cepat daripada
jika si bayi jarang disentuh
g) Membantu beradaptasi
Bila memang tidak ada komplikasi, perawatan di RS bertujuan membantu
bayi beradaptasi dengan lingkungan barunya. Setelah suhunya stabil dan
dipastikan tidak ada infeksi, bayi biasanya sudah boleh dibawa pulang. Namun,
ada juga sejumlah RS yang menggunakan patokan berat badan. Misalnya bayi
baru boleh pulang kalau beratnya mencapai 2 kg kendati sebenarnya berat badan
tidak berbanding lurus dengan kondisi kesehatan bayi secara umum. (Didinkaem.
2007).
h) Viagra Selamatkan Hidup Bayi Prematur
Sebuah terobosan baru dilakukan oleh para dokter di Inggris. Mereka
menggunakan obat anti impoten, Viagra, untuk menyelamatkan hidup bayi yang
lahir prematur kekurangan oksigen untuk peredaran darahnya. Untuk
mengatasinya, dokter memberikan Sildenafil (nama generik Viagra) untuk
membuka pembuluh darah di paru-paru.
Bayi yang lahir prematur memiliki kesulitan bernapas, sehingga meski
oksigen dipompa masuk ke parunya, jumlahnya tidak akan cukup untuk
peredaran darah. "Yang dilakukan sildenafil adalah membuka pembuluh darah
sehingga oksigen bisa masuk dan beredar ke seluruh tubuh,". (Yoenika, Nita.
2006).
Sebelum bayi prematur diputuskan boleh pulang, diperlukan suatu pendekatan
multidisiplin dari para dokter sesuai permasalahan yang ada padanya. Misalnya
dengan melihat beberapa patokan dasar berikut:
1. Temperatur tubuh bayi dinyatakan stabil ketika sudah keluar dari inkubator yang
biasanya kemampuan ini dimiliki bayi dengan usia kandungan 34 minggu atau
berat badan sekitar 2.000 gram
2. Bayi sudah dapat minum atau mengisap dengan baik untuk mencapai kenaikan
BB sekitar 20-30 gram per hari
3. Bayi sudah tidak lagi mendapat pengobatan secara intensif dan tidak memerlukan
pengawasan di rumah sakit
4. Bayi tidak mengalami perubahan berarti dalam pengobatan atau pemberian
oksigen tambahan menjelang pulang.
Bila berdasarkan observasi itu bayi sudah memenuhi syarat, maka ia sudah boleh
dibawa pulang.

YANG HARUS DILAKUKAN ORANG TUA


Belajar perawatan khusus
Mau tidak mau, ketika bayi pulang ke rumah, orang tua harus belajar
merawat karena bayi prematur memerlukan perhatian khusus yang berbeda dari
bayi-bayi pada umumnya. Seharusnya, orang tua belajar tentang pemberian
oksigen, monitor apnea (terhentinya pernapasan), dan resusitasi kardiovaskular.
Banyak rumah sakit yang baru mengizinkan bayi pulang ke rumah bila sudah
yakin kalau orang tua dapat melakukannya dengan baik. Bila tidak, rumah sakit
akan menundanya karena orang tua tidak bisa memenuhi kebutuhan dasar
bayinya dan mengetahui cara pengenalan masalah yang mungkin muncul setelah
bayi dipulangkan.
Memberikan ASI
Berikan ASI kepada bayi prematur karena ASI memberi efek perlindungan
terhadap infeksi. ASI juga merupakan makanan yang paling steril untuk bayi
dibandingkan susu formula yang harus disendok dan dicampur dengan air di
dalam botol yang sangat mungkin kesterilannya terganggu. Sementara,
perlindungan dari infeksi sangat penting bagi bayi prematur karena banyak organ
tubuhnya belum berfungsi sempurna.
Berikan ASI setiap 2-3 jam atau mengikuti kemauan bayi. Jangan takut ASI
habis karena produksi ASI mengikuti prinsip supply and demand sehingga
kantung ASI tidak akan pernah kosong. Misalnya, bila bayi menghisap ASI
sebanyak 90 ml, maka ASI baru yang akan diproduksi pun jumlahnya 90 ml. Bila
yang dihisap 100 ml maka yang diproduksi kemudian adalah 100 ml, begitu
seterusnya.
Pengaturan ini memerlukan kecermatan karena fungsi pencernaan dan ginjal
bayi prematur masih belum sempurna, selain karena penguapan cairan dari
tubuhnya banyak tetapi kemampuan mengisap dan menelannya belum sempurna.
Jika ia belum kuat mengisap, ASI harus diberikan lewat pipet.
Terlepas dari itu, bayi yang mendapat ASI memiliki skor perkembangan
yang lebih baik ketika usianya mencapai 18 bulan dibandingkan dengan bayi
yang hanya mendapat susu formula.
Memang, ASI adalah makanan utama bagi bayi baru lahir. Namun beberapa
ibu mengalami gangguan produksi ASI. Sebenarnya hal ini bisa diatasi dengan
melakukan konsultasi di klinik-klinik laktasi yang ada di rumah sakit.
Memberikan susu formula yang tepat
Dalam keadaan terpaksa, jika payudara ibu tetap tidak bisa mengeluarkan
ASI, maka ibu bisa memberikan susu formula khusus bayi prematur, bukan susu
formula biasa. Hal ini untuk menyesuaikan dengan kondisi tubuh bayi yang
masih belum sempurna.
Pemberian susu formula harus dikonsultasikan pada dokter karena
pemberiannya harus berdasarkan observasi yang cermat. Jangan sembarangan
memberikan susu formula kepada bayi prematur karena bisa membahayakan
tubuhnya. Biasanya baru di usia 12 bulan bayi prematur boleh diberikan susu
formula biasa. Namun bagi bayi dengan BB lahir sangat kecil atau pasca sakit
berat, pemberian susu formula khusus dapat berlangsung lebih lama sampai bayi
mencapai berat yang sesuai dengan usia koreksi.
Pastikan orang tua tahu cara memberikan makan-minum, menghitung
kecukupan kalori, kecukupan cairan, dan pemberian suplemen vitamin serta
mineral. Misalnya, kebutuhan kalori saat di rumah minimal 100 kkal/kgBB/hari,
maka bayi harus mendapatkan kalori yang sesuai dari ASI atau susu formula
khusus bayi prematur. Bila bayi mendapat susu formula biasa, ia berisiko muntah
atau diare yang dapat menyebabkan dehidrasi. Bila demikian yang terjadi maka
segera bawa ia ke dokter untuk tindakan lebih lanjut. Untuk itulah, orang tua
diharapkan terus melakukan kontak dengan dokter dan meminta nasihatnya
sehingga penanganan secara tepat bisa segera dilakukan atau mungkin
pengobatan segera dihentikan bila pertumbuhan bayi sudah dianggap normal.
Tahu waktu pemberian makanan semipadat
Pemberian makan harus dilakukan di saat yang benar-benar diperbolehkan.
Umumnya, makanan semipadat baru dapat diberikan setelah bayi berusia 4 bulan
usia koreksi. Usia koreksi adalah usia lahir yang dikurangi dengan selisih usia
prematur. Misalnya, normalnya bayi lahir di usia kandungan 40 minggu tetapi
dia lahir prematur di usia kandungan 35 minggu. Ada selisih 5 minggu untuk
mencapai kelahiran normal. Bila mengikuti usia lahir sebenarnya bayi sudah
berusia 16 minggu maka usia koreksinya adalah 16 minggu dikurangi 5 minggu =
11 minggu. Jadi, perlu hati-hati dalam menentukannya. Jika usia lahirnya 5 bulan
maka bayi belum boleh diberi makan karena usia koreksinya mungkin belum
mencapai 4 bulan. Usia koreksi berlaku hingga 2 tahun pertama. Setelah 2 tahun,
grafik pertumbuhannya disamakan seperti bayi lain.
Memberikan imunisasi
Lain hal dengan imunisasi. Imunisasi harus dilakukan berdasarkan usia
kelahiran, bukan usia koreksi. Dosisnya pun sama seperti bayi cukup bulan.
Tetapi pemberian vaksin hepatitis B sebaiknya ditunda sampai BB bayi mencapai
minimal 2.000 gram. Dianjurkan bayi prematur menggunakan vaksin difteri
aselular yang lebih kecil kemungkinan menimbulkan demam, bengkak, atau kulit
kemerahan walau harganya masih relatif mahal.
Menyiapkan situasi rumah
Yang perlu diperhatikan saat bayi pulang ke rumah adalah peralihan
suasana dari NICU dan ruang perawatan di rumah sakit yang sibuk dengan
suasana rumah yang mungkin lebih tenang. Untuk itu bayi butuh adaptasi yang
agak lama untuk melakukan penyesuaian. Dianjurkan, setibanya di rumah pasang
musik riang agak keras dan lampu yang terang, kemudian secara perlahan volume
suara dikecilkan dan cahaya diredupkan. Tujuannya agar bayi tidak merasakan
perbedaan yang terlalu mencolok saat kepindahannya
Memungkinkan waktu tidur lebih lama
Orang tua pun perlu memberikan kesempatan pada bayi prematur untuk
tidur sepuasnya karena dia butuh waktu tidur lebih lama daripada bayi-bayi yang
cukup bulan. Mungkin dalam sehari bayi prematur harus tidur minimal 18 jam.
Kebutuhan ini sangat penting mengingat pertumbuhan fisik terjadi sangat pesat
pada saat bayi sedang tidur. Bila kebutuhan ini tidak tercukupi mungkin akan
berpengaruh terhadap pertumbuhan fisiknya.
Namun, kita pun perlu memahami kalau bayi prematur harus lebih sering
minum. Jadi, periode tidurnya akan lebih pendek karena sebentar-sebentar dia
merengek minta susu. Untuk itu, kita harus siap. Berada di dekat bayi pada jam-
jam minumnya adalah tindakan yang sangat baik sehingga bayi bisa segera
terpenuhi kebutuhannya tanpa harus rewel berkepanjangan sehingga sulit tidur
kembali.
Walaupun angka kejadian suddent infant death syndrome (SIDS) di
Indonesia tidak terlalu menonjol, sebaiknya posisi tidur diawasi agar tetap dalam
keadaan aman. Perhatikan juga jalan napasnya, jangan sampai tersumbat oleh
bantal-guling, selimut, atau berada dalam posisi tengkurap.
(Irfan Hasuki nakita Nomor 401 Tahun VIII)

2. Perawatan di Rumah
Setelah kondisinya memungkinkan dan memenuhi persyaratan, tentu saja bayi
boleh dibawa pulang. Tapi untuk bayi prematur, sebaiknya 3 hari setelah dibawa
pulang segera kontrol kembali ke dokter untuk memastikan bahwa tidak ada masalah
apa pun selama kepulangannya.
a) Minum susu
Bayi prematur membutuhkan susu berprotein tinggi. Namun dengan kuasa Tuhan,
ibu-ibu hamil yang melahirkan bayi prematur dengan sendirinya akan
memproduksi ASI yang proteinnya lebih tinggi dibanding ibu yang melahirkan
bayi cukup bulan. Kalaupun si ibu mengalami masalah dengan ASI-nya, ada susu
khusus yang memang diperuntukkan bagi bayi prematur. Yang harus diingat,
karena kapasitas saluran cernanya masih amat terbatas, maka pemberian susu
sebaiknya jangan terlalu banyak. Namun agar kebutuhannya tercukupi,
tingkatkan frekuensi pemberiannya.
b) Jaga suhu tubuhnya
Salah satu masalah yang dihadapi bayi prematur adalah suhu tubuh yang belum
stabil. Oleh karenanya, orang tua harus mengusahakan supaya lingkungan
sekitarnya tidak memicu kenaikan atau penurunan suhu tubuh bayi. Langkah
yang bisa ditempuh dengan menempati kamar yang tidak terlalu panas ataupun
dingin. Begitu juga saat memandikannya, jaga jangan sampai air yang digunakan
untuk memandikannya terlalu panas atau terlalu dingin sehingga akan
mempengaruhi suhu tubuhnya.
c) Pastikan semuanya bersih
Seperti sudah disebutkan di atas, bayi prematur lebih rentan terserang penyakit
dan infeksi. Karenanya orang tua harus berhati-hati menjaga keadaan si kecil
supaya tetap bersih sekaligus meminimalisir kemungkinan terserang infeksi.
Salah satu langkah penting yang disarankan Hari adalah imbauan bagi siapa saja
yang akan memegang bayi supaya mencuci tangan terlebih dahulu. Kalau ada
anggota keluarga yang sakit pun sebaiknya jauhkan dari si kecil.
d) BAK dan BAB
BAK dan BAB bayi prematur masih terhitung wajar kalau setelah disusui lalu
dikeluarkan dalam bentuk pipis atau pup. Menjadi tidak wajar apabila tanpa
diberi susu pun bayi terus BAK atau BAB. Untuk kasus seperti ini tak ada jalan
lain kecuali segera membawanya ke dokter.
e) Berikan stimulus yang sesuai
Setelah dipastikan 4 hal di atas tidak ada masalah, orang tua tidak perlu khawatir
untuk melakukan aktivitas rutin lainnya. Semisal mengajaknya bermain,
menimang, menggendong dan sebagainya. Untuk merangsang indra
penglihatannya, tunjukkan perbedaan warna gelap dan terang, gambar-gambar
dan mainan berwarna cerah, serta ekspresi wajah ayah dan ibu. "Berikan stimulus
yang sesuai dengan usianya,".
(Didinkaem, Nikita. 2007)

3. Metode Kanguru
Bayi yang lahir prematur, biasanya memiliki berat badan di bawah rata-rata
bayi yang lahir normal. Untuk merawat bayi prematur, ada beberapa metode yang
dapat dilakukan, diantaranya adalah metode kanguru.

Metode kanguru atau perawatan bayi lekat yang


ditemukan sejak tahun 1983, memang sangat bermanfaat
untuk merawat bayi yang lahir dengan berat badan
rendah baik selama perawatan di rumah sakit ataupun di
rumah.
Pada metode ini, bayi digendong lekat ke dada layaknya induk kanguru
memasukkan anaknya ke dalam kantung. Metode kanguru mampu memenuhi
kebutuhan bayi prematur dengan menyediakan situasi dan kondisi yang mirip dengan
rahim ibu. Dengan begini maka si bayi mendapatkan peluang untuk dapat beradaptasi
baik dengan dunia luar.
Metode kanguru ini tidak hanya dapat membuat bayi prematur jadi mudah
beradaptasi dengan dunia luar, tetapi juga bermanfaat bagi si ibu yang sedang
memproduksi ASI. Beberapa manfaat lainnya antara lain adalah meningkatkan
hubungan emosi ibu dan anak , menstabilkan suhu tubuh , denyut jantung , serta
pernafasan bayi. Belum lagi juga metode ala binatang khas Australia ini juga dapat
memperbaiki keadaan emosi ibu dan bayi, termasuk mengurangi lama menangis bayi.
Selain itu juga karena dapat mempersingkat masa rawat di rumah sakit, maka resiko
terinfeksi selama rawat inap di rumah sakit pun berkurang.
Untuk metode kanguru, seorang bayi juga harus memiliki kriteria tertentu,
karena tidak semua bayi prematur dengan berat badan kurang . Metode ini biasanya
dilakukan pada bayi yang memiliki berat bada kurang dari 2 kg. Selain itu juga si
bayi tidak mempunyai kelaian ataupun penyakit bawaan. Perkembangan bayi selama
dalam inkubator pun harus memiliki catatan yang baik, dengan refleks dan koordinasi
isap yang tidak bermasalah.
Langkah metode kanguru, tetapi sebaiknya sebelum melakukan, konsultasikan
terlebih dahulu dengan dokter yang menangani buah hati Anda.
Bungkus buah hati Anda dengan pakaian, topi, popok dan kaus kaki yang telah
dihangatkan lebih dahulu.
Taruh ia di dada Anda dengan posisi tegak langsung ke kulit ibu dan pastikan
kepala bayi sudah terfiksasi pada dada ibu. Posisikan bayi dengan siku dan
tungkai tertekuk, kepala dan dada bayi terletak di dada ibu dengan kepala agak
sedikit mendongak.
Bisa juga bila Anda mengenakan baju yang longgar, lalu posisikan si bayi di
antara belahan payudara. Tangkupkan baju dan ikatkan selendang agar bayi tidak
jatuh dan nyaman posisinya (tidak melorot).
Dapat juga digunakan handuk ataupun kain gendongan yang lebar untuk
menyokong tubuh bayi agar menempel erat di dada Anda. Ini akan membuat
Anda juga dapat beraktivitas dengan bebas.
Pada waktu tidur, Anda dapat memposisikan diri setengah duduk, bisa juga
dengan meletakkan bantal di belakang punggung.
Jika Anda lelah, metode kanguru ini juga bisa digantikan oleh orang lain, asal
terlebih dulu diajari posisinya untuk menghindari bayi salah posisi
(Didinkaem, Nikita. 2007)
Suhu optimal didapat lewat kontak langsung kulit ibu dengan kulit bayi (skin to
skin contact). Suhu ibu merupakan sumber panas yang efisien dan murah. Kontak
erat dan interaksi ibu-bayi akan membuat bayi merasa nyaman dan aman, serta
meningkatkan perkembangan psikomotor bayi sebagai reaksi rangsangan sensoris
dari ibu ke bayi.
Selain mempererat ikatan ibu-bayi, meningkatkan perkembangan psikologis
dan psikomotor bayi, membuat bayi lebih tenang dan tidak mudah kaget, dan
membantu pertumbuhan fisik bayi, metode kanguru juga sangat praktis dan hemat
energi. Berbeda dengan inkubator yang suhunya harus selalu disesuaikan dengan
perkembangan berat badan dan usia bayi, kontak kulit ibu dan kulit bayi membuat
penyesuaian otomatis suhu tubuh ibu untuk melindungi bayi. "Sewaktu bayi perlu
panas, suhu tubuh ibu meningkat. Suhu tubuh ibu menurun sejalan penurunan
kebutuhan panas bayi,".
Hasilnya, kejadian hipotermia pada metode kanguru secara signifikan lebih
rendah dibandingkan cara konvensional. Kelompok bayi yang dirawat dengan
metode kanguru juga mendapat ASI lebih baik, pertambahan berat badan lebih baik,
dan lama perawatan di rumah sakit lebih pendek. Metode kanguru terbukti lebih
hemat dari segi perawatan alat dibanding cara konvensional. Baik ibu maupun
petugas kesehatan lebih menyukai metode kanguru, karena lebih menyenangkan dan
aman. (Handajani, Dewi. 2006).

4. Vitamin C Menolong Bayi Prematur


Sebuah riset yang baru-baru ini dilakukan di Amerika Serikat menyebutkan,
vitamin C dapat menolong bayi-bayi yang lahir prematur dari ancaman kerusakan
otak dan paru-paru. Vitamin C membantu bayi prematur untuk hidup di luar rahim.
"Kemampuan vitamin C dalam membantu bayi prematur ini sebenarnya masuk
akal mengingat nutrisi ini adalah antioksidan," kata Nussbaum. Vitamin C
melindungi protein dan jaringan di dalam tubuh dari bahaya terpaan oksigen berlebih.
Dibandingkan di luar, jumlah oksigen di dalam rahim jauh lebih sedikit, dan vitamin
C akan menyiapkan janin menghadapi lingkungan barunya di luar rahim.
Sementara itu, ahli kandungan dan kebidanan dr John McHugh di Scripps
Mercy Hospital, San Diego mengatakan, perempuan yang mengandung mempunyai
tingkat nutrisi yang rendah di tubuhnya. McHugh menganjurkan pasiennya untuk
mengonsumsi beberapa buah-buahan dan sayuran segar setiap hari, dan dia juga
memberikan vitamin prenatal yang berisi 100 miligram vitamin C.
Vitamin C dapat mencegah kanker, penyakit jantung, dan stres. Sebagai bagian
dari sel kimia yang menyediakan energi, vitamin C penting untuk memproduksi
sperma, dan untuk membuat protein kolagen yang membentuk tulang rawan, sendi,
kulit dan peredaran darah.
Vitamin C memang membantu menjaga sistem kekebalan tubuh, menetralkan
polusi, dan dibutuhkan untuk membuat antibodi. Selain itu vitamin C juga membantu
penyerapan nutrisi (termasuk zat besi) dalam usus dan melancarkan aliran darah.
(HealtScout News. 2002)

5. Yang harus diwaspadai dari perawatan bayi prematur


Ada beberapa hal yang tetap harus diwaspadai orang tua sehubungan dengan
perawatan bayi prematur. "Yang paling dikhawatirkan terjadinya infeksi,". Berikut
beberapa tanda bahaya yang harus diperhatikan:
a) Perubahan suhu
Perubahan suhu ini bisa tinggi, bisa pula rendah. "Bila suhunya tidak stabil,
segera bawa ke dokter". Perubahan suhu merupakan salah satu tanda terjadinya
infeksi pada bayi
b) Rintihan
Coba cermati suara tangis si kecil. Bila suara tangisnya menyerupai rintihan,
hampir bisa dipastikan ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Rintihan ini bisa
menjadi "sinyal" awal terjadinya infeksi.
c) Refleks isap lemah
Kecurigaan berikutnya bila refleks isapnya menjadi lemah. Orang tua bisa
mendeteksi sendiri, biasanya bayi minum susunya seperti apa, sehingga
perubahan sedikit saja dapat segera terdeteksi.
(Didinkaem, Nikita. 2007)

H. DATA FOKUS
1. Berat badan lahirnya pada saat kelahiran kurang dari 2.500 gram- 2,499 gram
2. Panjang badan kira-kira 53 cm pada perempuan dan pada bayi laki-laki memiliki
panjang badan 54 cm
3. Lingkar kepala adalah 34-35 cm sedangkan lingkar dada adalah 2 cm
4. Kulit tipis dan transparan, lanugo banyak, lemak subkutan kurang sehingga kulit
tampak keriput
5. Rambut tipis, halus dan teranyam sehingga sulit terlihat satu persatu
6. Bila bayi lapar biasanya menangis, gelisah, aktifitas bertambah.
7. Bayi belum memiliki refleks isap dan kadang lupa bernapas (bayi dengan BB di
bawah 1,8 kilogram)
8. Bayi sudah memiliki refleks isap dan pola napas teratur (BB lebih dari 2 kg)
9. Ubun-ubun masih sangat lebar, tulang rawan dan daun telinga belum cukup
sehingga elastisitas daun telinga masih kurang
10. Bayi lebih banyak tidur daripada bangun, dalam posisi meringkuk
11. Tangisnya lemah, pernafasan belum teratur
12. Refleks mengisap, menelan dan refleks batuknya masih sangat lemah
I. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemantauan glukosa darah terhadap hipoglikemia
Nilai normal glukosa serum: 45 mg/ dl
2. Pemantauan gas darah arteri
Normal untuk analisa gas darah apabila kadar PaO2 50-70 mmHg dan kadar
PaCO2 35-45 mmHg dan saturasi oksigen harus 92-94%.
3. Kimia darah sesuai kebutuhan
Hb (Hemoglobin)
Hb darah lengkap bayi 1-3 hari adalah 14,5-22,5 gr/ dl
Ht (Hematokrit)
Ht normal berkisar 45%-53%
LED darah lengkap untuk anak-anak
Menurut:
Westerfreen : 0-10 mm/ jam
Wintrobe : 0-13 mm/ jam
Leukosit (SDP)
Normalnya 10.000/ mm³. Pada bayi preterm jumlah SDP bervariasi dari
6.000-225.000/ mm³.
Trombosit
Rentang normalnya anara 60.000-100.000/ mm³.
Kadar serum/ plasma pada bayi prematur (1 minggu)
Adalah 14-27 mEq/ L
Jumlah eritrosit (SDM) darah lengkap bayi (1-3 hari)
Adalah 4,0-6,6 juta/ mm³.
MCHC darah lengkap: 30%-36% Hb/ sel atau gr Hb/ dl SDM
MCH darah lengkap : 31-37 pg/ sel
MCV darah lengkap : 95-121 µ m³
Ph darah lengkap arterial prematur (48 jam): 7,35-7,5
4. Pemeriksaan sinar sesuai kebutuhan
5. Penyimpangan darah tali pusat dan plasena untuk tes dagnostik
ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI PREMATUR

A. PENGKAJIAN
1. Pengkajian Dasar Neonatus
a) Sirkulasi
Nadi apical mungkin cepat dan/ atau tidak teratur dalam batas normal (120
sampai 160 dpm)
Murmur jantung yang dapat didengar dapat menandakan duktus arteriosus
paten (PDA)
b) Makanan/ cairan
Disesuaikan dengan berat badan bayi kurang dari 2500gram
c) Neurosensori
Tubuh panjang, kurus, lemas dengan perut agak gendut
Ukuran kepala besar dalam hubungannnya dengan tubuh, sutura mungkin
mudah digerakkan, fontanel mungkin besar atau terbuka lebar
Dapat mendemonstrasikan kedutan atau mata berputar.
Edema kelopak mata umum mungkin terjadi, mata mungkin merapat
(tergantung pada usia gestasi)
Refleks tergantung pada usia gestasi;
 Rooting terjadi dengan baik, pada usia gestasi minggu ke-32
 Refleks sucking/ menghisap, menelan dan bernafas biasanya terbentuk
pada usia gestasi minggu ke-32
 Refleks moro (ekstensi lateral dari ekstremitas atas dengan membuka
tangan) tampak pada gestasi minggu ke-28
 Komponen kedua (fleksi anterior dan menangis yang dapat didengar)
tampak pada gestasi minggu ke-32
Pemeriksaan Dubowitz menandakan usia gestasi antara minggu 24 dan 37
d) Pernafasan
Skor apgar mungkin rendah
Pernafasan mungkin dangkal, tidak teratur; pernafasan diagfragmatik
intermitten atau periodic (40-60 x/menit)
Mengorok, pernafasan cuping hidung, retraksi suprasternal atau substernal,
atau berbagai derajat sianosis mungkin ada
Adanya bunyi ”ampelas” pada auskultasi, menandakan sindrom distres
pernafasan (RDS)
e) Keamanan
Suhu berfluktuasi dengan mudah
Menangis mungkin lemah
Wajah mungkin memar; mungkin ada kaput suksedaneum
Kulit kemerahan atau tembus pandang; warna mungkin merah muda/
kebiruan, akrosianosis, atau sianosis/ pucat
Lanugo terdistribusi secara luas diseluruh tubuh
Ekstremitas mungkin tampak edema
Garis telapak tangan mungkin ada atau mungkin tidak ada pada semua atau
sebagian telapak
Kuku mungkin pendek
f) Seksualitas
Persalinan atau kelahiran mungkin tergesa-gesa
Genitalia; labia minora wanita mungkin lebih besar dari labia mayora, dengan
klitoris menonjol; testis pria mungkin tidak turun, rugae mungkin banyak atau
tidak ada pada skrotum.

2. Pengkajian Riwayat Ibu


Faktor yang dapat memperberat persalinan preterm:
Usia muda
Latar belakang sosial ekonomi rendah
Rentang kehamilan dekat
Gestasi multiple
Nutrisi buuk
Kelahiran preterm sebelumnya

3. Pengkajian Riwayat Kesehatan Ibu


Komplikasi obstetric seperti abrupsio plasenta
Ketuban pecah dini
Dilatasi serviks prematur
Adanya infeksi
Penggunaan obat yang diresepkan
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan imaturitas pusat pernafasan.
2. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan kulit tipis, ginjal
imatur, kegagalan untuk mengkonsentrasikan urine
3. Resiko tinggi kelebihan volume cairan berhubungan dengan sistem ginjal
imature, penurunan laju filtrasi glomerulus, edema.
4. Resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
imaturitas produksi enzim, reflek lemah
5. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakadekuatan kadar
surfactant
6. Perubahan sensori perceptual berhubungan dengan imatur sistem neurosensori
7. Resiko tinggi tidak efektifnya termoregulasi berhubungan dengan lapisan lemak
coklat yang sedikit
8. Resiko tinggi cidera SSP berhubungan dengan hipoksia jaringan, ketidak
seimbangan metabolik (hiperbilirubin), hipoglikemia
9. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan sistem imun imatur
10. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kulit tipis, kurang
lemak subkutan pada area penonjolan tulang
11. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan imaturitas organ-organ tubuh.
12. Resiko tinggi perubahan peran orang tua berhubungan dengan merawat anak di
rumah sakit.
DAFTAR PUSTAKA

Doenges, M.E. 2001. Rencana Maternal Bayi Edisi 2. Editor: Ellen Panggabean, S.Kp
EGC: Jakarta.

Wiknjosastro, H. 2003. Ilmu Kebidanan Edisi Ketiga. Editor: dr. Abdul Bari Saifuddin,
SpOG, MPH. Yayasan Sarono Prawihardjo: Jakarta.

Mansjoer, Arif dkk. 2002. Kapita Selekta Kedokeran Edisi Ketiga Jilid I. Jakarta: Media
Aesculapius FKUI.

Staf Pengajar IKA FKUI. 1985. Ilmu Kesehatan Anak 3. Editor: Dr. Rusepno Hassan.
Bagian IKA FKUI: Jakarta.

Hassan, Delina. 2005. Bayi Prematur Cenderung Bermasalah Dibandingkan dengan Bayi
normal. www.repbublikaonline.com. 23 Februari 2007.

Didinkaem. 2007. Resiko Pada bayi Prematur. www.KCM.com . 23 Februari 2007.

Didinkaem. 2007. Merawat Bayi Prematur. www.Nakita.com. 23 Februari 2007.

HealtScout News. 2002. Vitamin C Menolong Bayi Prematur. www.KCM.com. 23


Februari 2007.

Suradi, Rulina. 2001. Air Susu Ibu Bagi Bayi Prematur. www.IDAI.com. 23 Februari
2007.

Handajani, Dewi. 2006. Saat Mama Jadi Induk Kanguru. www.hanyawanita.com. 23


Februari 2007.

Hasuki,. Irfan. 2007. Saat Bayi Prematur Pulang Ke Rumah. www.Nakita/Nomor


401/Tahun VIII.com. 23 Februari 2007.

Hasuki, Irfan. 2007. Resiko Bayi Pematur. www.Nakita/Nomor 401/TahunVIII.com. 23


Februari 2007.

Yoenika, Nita. 2006. Viagra Selamatkan Hidup Bayi Prematur. www.KCM.com. 23


Februari 2007.

Martono, Hari. 2007. Bayi Prematur Si Kecil Yang Ringkih. www.Banjarmasin Post.com.
23 Februari 2007.