Anda di halaman 1dari 5

BAB 14

AGAMA : ELEMEN BUDAYA DALAM HARMONISASI AKUNTANSI


INTERNASIONAL

PENGANTAR

Berikut disajikan tentang bagaimana perbedaan negara dapat menghambat harmonisasi


internasional :

- Perbedaan profil dari pihak pemakai


- Struktur profesi
- Sifat-sifat dari organisasi bisnis lokal
- Keadaan ekonomi yang selalu berubah seperti : tingkat inflasi, tingkat pertumbuhan
ekonomi, keadaan neraca pembayaran, neraca perdagangan, stabilitas kurs mata uang,
tingkat kepemilikan perusahaan antarswasta dan negara, sistem hukum, kebijaksanaan
dan tingkat pendidikan, campurtangan pemerintah terhadap kegiatan bisnis.

Metode kajian yang memfokuskan pada pengaruh sistem hukum dan struktur ekonomi
lokal terhadap proses akuntansi tanpa adanya fokus ke budaya yang diyakini memiliki peran
yang cukup besar ini tidak memunculkan pertimbangan yang lengkap bahwa sebenarnya
harmonisasi dapan mengandung dua arah proses.

Budaya: Indiosinkratis dan Trasendental

Budaya dalam konteks ini dianggap merujuk pada semua faktor sosial, politik, dan faktor
lanin yang mempengaruhi perilaku individu. Maka dari itu agama sudah dianggap termasuk
salah satu faktor budaya. Sayangnya pengaruhnya terhadap akuntansi belum dikaji secara
mendalam. Agama memiliki potensi untuk diterima bukan saja di suatu negara tetapi bahkan
melampaui negara.

Dalam banyak analisis harmonisasi yang ingin dicapai, lebih sebagai masalah jurisdiksi
dan proses politik daripada melakukan upaya mengubah filosofinya. Masalahnya adalah
bahwa dalam perjalanan praktek akuntansi dari Barat ke Timur, ironisnya hal itu diduga
sebagai pengaruh Yahudi dan Kristen dan melupakan tradisi yang dikenal dengan filosofi
Timur.

Banyak sekali, nonmuslim salah paham terhadap islam yang mereka anggap islam, tidak
lebih dari hanya sekedar agama. Mereka tidak memiliki pengertian yang jelas tentang
kerangka jurisprudensi Islam di mana kegiatan bisnis sehari-hari pun harus sesuai dengan
syariat islam.

TRADISI ISLAM

Islam yang menurut bahasa berarti keselamatan dan kepatuhan, adalah agama yang
disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW, dari tahun 610 sampai 632. Saat ini memiliki
pengikut lebih 900 juta di seluruh dunia. Pengikut Islam harus patuh kepada Tuhan dan
menghargai tujuan penciptanya di dunia. Ras manusia menurut Islam adalah ketentuan tuhan.
Oleh karenanya, seorang pengusaha muslim harus mengkaitkan perilaku pada keberadaanya
pada wakil Tuhan.

Tuhan telah mewahyukan bahwa :”saya hanya menciptakan manusia untuk mengabdi
kepada-Ku”. (Zariyat 51 :56). Sifat mengabdikan ini telah diucapkan dengan tegas swaktu
Tuhan menciptakan manusia.

Quran dan Sunnah adalah sumber hukum utama Islam. Keduanya disebut Syariah (jalan).
Seorang muslim yang berperilaku sesuai syariah dianggap telah berperilaku dijalan yang
ditetapkan Allah. Sumber utama jurisprudensi (Syariah) Islam ditambah lagi dengan Ijma’
yang merupakan aturan yang berasal dari kesepakatan ulama Islam atas masalah-masalah
yang telah diatur dalam Al Quran atau Sunnah. Ijma ditentukan oleh berbagai kelompok
Ulama yang berbeda pada abad kedua Hijriyah.

BISINIS DALAM ISLAM

Bisnis dan dagan dianggap memliliki tempat terhormat dalam masyarakat Islam. Quran
menyatakan bahwa Tuhan berfirman: “Hai orang-orang yang beriman biarlah diantara kamu
berjalan dan berdagang dengan cara yang saling menguntugkan (An-Nisa 4: 33).

PERATURAN ISLAM TENTANG DAGANG

Islam meyakini dan mendorong bisnis, tetapi kegiatan bisnis itu harus dilakukan sesuai
prinsip yang diatur dalam syariah. Apa yang dianggap haram dan halal untuk berbagai aspek
bisnis telah diatur. Aturan syariah mencakup semua kegiatan dagang. Pelaksanaan kegiatan
dagang dan bisnis dibawah ketentuan tradisi islam berbeda dengan konsep yang menganggap
“semuanya adalah boleh dalam bisnis” dan sesuatu dapat dilakukan untuk keperluan tertentu
dalam bisnis Barat sebagai peringatan bahwa pembeli menanggung resiko kualitas jika tidak
ada jaminan dari penjual.

BENTUK KLASIK DARI ORGANISASI BISNIS ISLAM

Tidak ada kriteria khusus dalam syariat di mana umat Islam dapat menjadikanya sebagai
pedoman untuk menentukan investasi mana yang boleh dan mana investasi yang tergolong
spekulatif. Penilaianya didasarkan pada kesadaran individu untuk memahaminya.
Pencampuran kedua tradisi Barat dan Islam dalam suatu organisasi perusahaan banyak
beroperasi secara berdampingan di banyak negara Islam.

Dalam Isalam bentuk partnership (sharika), mudaraba (trust financing) dan murabaha
(gabungan antara kredit dan marjin) adalah merupakan bentuk dasar dari organisasi bisnis
Islam.

Kerja Sama Keuangan, Buruh, dan Reputasi

Partnership dalam Islam dapat dikelompokan dengan melihat bentuk modal yang disetor
oleh partner, yang bsia disebut sebgai penyertaan modal (Syarika Mal), sebagai penyertaan
tenaga kerja (Syarika A’mal) dan sebagai penyertaan kredit (Syarika Wujuh).
Penyertaan Modal (Syarika Mal)

Penyertaan ini harus dalam bentuk uang kas yang dimasukan sebagi modal. Penyertaan
ini hampir semua dengan konsep join venture partnership di Barat. Setorat dalam bentuk
modal tidak dibenarkan dalam bentuk barang dalam konsep Islam. Konsep keagenan
dianggap tidak mungkin dengan barang. Penggunaan barang sebagi setoran saham tidak
konsisten dengan hukum isalam. Jadi, beberapa pertentangan metode penilaian yang muncul
dalam Akuntansi Barat tidak akan muncul jika diterapkan prinsip Islam.

Penyertaan Tenaga Kerja (Syarika A’mal)

Tipe kerja sama seperti ini dapat disebut antara lain :

- Syarika Fi a’mal bi aydihima (batas kerja sama dengan menggunakan tangan)


- Syarika bil a’mal (kerja sama dalam pekerjaan)
- Syarika as-sana’i (kerja sama dalam ukiran)
- Syarika at taqabbul (kerja sama mengenai pekerjaan yang sama-sama disepakati)

Kerja Sama Berdasarkan Reputasi (Syarika Wujuh)

Sistem ini didasarkan pada kenyataan bahwa modal pertama berasal dari nama baik atau
goodwill (wujuh) yang mereka miliki dan dijadikan untuk modal mereka. Sirkah ini disebut
juga sharika al mafalis (kerja sama tanpa dana). Menurut imam syafi’i kerja sama jenis ini
tidak diperbolehkan, karena tujuan utama dari kerja sama adalah untuk memperbesar modal
investasi.

Ada dua jenis kerja sama yang bersifat terbatas (al-inan) dan tidak terbatas (al-
mufawada) :

a). Al-mufawada adalah kerja sama yang memiliki hak dan kewajiban yang sama.

b).Kerja sama tanggung renteng adalah kerja sama yang hanya partner yang
melaksanakan transaksi dan menuntut partner lain yang sudah menyetor modal.

Mudaraba

Dalam sistem ini seseorang investor atau sekelompok investor (rab al-mal) menyerahkan
atau menyakinkan modal atau barangnya kepada seorang agen aatau manajer (mudharib).
Dalam kontrak ini nisbah bagi hasil sama sama disepakati diawal perjanjian antara investor
dan agen. Mazhab Hanafi membedakan dua jenis kontrak mudharaba, yaitu mandat tak
terbatas dan mandat terbatas.

1. Mandat Tak Terbatas


Dalam hal ini investor memberikan sejumlah otorisasi kepada agen untuk
bertindak dalam bidang investor apapun yang dianggap tepat. Kebebasan dibrikan
kepada agen, bahkan agen boleh menggabungkan modal yang diinvestasikan
dengan modalnya.

2. Mandat Terbatas
Dalam pandangan ini agen dibatasi oleh batasan-batasan dalam mengelola kas.
Tugas agen adalah untuk mencari laba utamanya dengan membeli dan menjual
barang melalui kas. Laba dari mudaraba adalah jumlah dana yang tersisa dari hasl
penjualan setelah dikurangi dengan biaya-biaya selama menjalankan usaha
perperiode.

Murabaha

Sekema ini merupakan bentuk kerja sama bisnis dimana Bank atau lembaga Keuangan
Investasi membeli barang untuk kepentingan nasabah dan menjualnya kepada nasabah
tersebut dengan tingkat laba di atas harga pokok yang disepakati. Dalam sistem perjanjian
murabaha ini adalah bahwa setiap pihak tidak boleh mengekploitasi pihak lain dalam bentuk
apapaun. Biaya pribadi si pedagang, dan biaya lainya yang tidak langsung terkait dengan
barang yang dijual tidak boleh dimasukan dalam perhitungan harga pokok yang akan menjadi
dasar transaksi murabaha ini.

Implikasi pada Praktek dan Teori Akuntansi dan Keuangan Barat

Hukum syariah menjelaskan 8 pedoman yang mengatur pemilikan dan penggunaan hasil
kekayaan yaitu :

1. Penggunaan yang terus menerus


2. Membayar zakat sesuai dengan harga pasar
3. Penggunaaan yang bermanfaat
4. Tidak digunakan untuk merugikan yang lain
5. Pemiliknya harus sesuai dengan hukum islam
6. Penggunaanya tidak boleh boros dan takabur
7. Penggunaan untuk diri sendiri dibenarkan
8. Pemindahan kekayaan harus sesuai dengan hukum warisan islam
Semua hal diatas memiliki konsekuensi perbedaan praktek akuntansi dan keuangan barat
terhadap masyarakat bisnis islam dan khususnya prinsip penilaian asset.
Pada hakikatnya islam menghindari pembiayaan utang, karena :
1. Larangan tuhan terhadap adanya bungan
2. Ketidaksukaan Rasulullah terhadap utang.
Bunga (riba) dilarang secara egas dalam Al-Qur’an. Allah berfirman : Hai orang yang
beriman, jangan makan riba yang berlipat ganda. Takutlah kepada Allah mudah-mudahan
kamu beruntung. (Ali-imran 3: 130). Riba secara epistimologi berarti “kenaikan” para ahli
jurisprudensi Islam sepakat bahwa setiap pertambahan di atas jumlah pinjaman yang
diberikan dianggap riba.
Riba dilarang karena kemungkinan peminjam menginvestasikan unag dan mendapatkan
laba. Pelarang riba membawa implikasi penting dalam harmonisasi Standar akuntansi, sejauh
harmonisasi dianggap penting untuk menerapkan standar akuntansi Barat dimana prinsip
bunga merupaka bagian yang integral.
Banyak instrumen keuangan modern telah menerapkan teori Time Value of Money yang
sangat berperan. Synthetic options adalah contoh-contoh yang jelas. Metode menghitung
proporsi tambahan dan penurunan sebagai dasar perhitungan bukan berarti riba per-se. Tetapi
ini adalah faktor bahwa dalil Time Value of Money tidak ada dalam kerangka perhitungan
keuangan Islam.
Bisnis dapat bertahan dalam konsep kerangka islam tanpa menggunakan prosedur barat
dan tanpa penjelasan tentang perubahan harga, kesimpulan bahwa penilaian aset dan
penjelasan perubahan harga berdasrkan perhitungan bunga bukanlah elemen penting dan
sistem moneter dan perhitungan keuangan, juga bukan merupakan elemen kunci dalam proses
pengambilan keputusan dalam mana tradisi bisnis barat telah menyakinkan kita dan
kurukulum sekolah-sekolah bisnis mengajarkanya dengan sangat dalam.

KESIMPULAN

Faktor yang Perlu di Pertanyakan dan Potensi Penghambat

Pelarangan riba, pada khususnya, merupakan elemen budaya yang menambah kerumitan
pada harmonisasi akuntansi dengan menggunakan terminologi barat. Penolakan terhadap riba
menghapus banyak prosedur akuntansi yang didasarkan pada tradisi perhitungan keuangan
berdasarkan diskonto dan kalkulasi keuangan.

Konsep bisnis yang sesuai denan prinsip islam yang berkembang dalam sistem moneter
baik di negara muslim maupun non-muslim menyebabkan perlunya intropeksi non-muslim.
Agama secara umum dan Islam secara khusus memiliki potensi untuk memperluas pengaruh
budaya yang dominan dalam kajian harmonisasi internasional Akuntansi.