Anda di halaman 1dari 3

DR MOEWARDI

Muwardi dilahirkan di Desa Randukuning, Pati, Jawa Tengah,


Rebo Pahing 30 Januari 1907 jam 10.15 malam 15 Besar tahun Jawa 1836. Sebagai
putera ke-7 dari Mas Sastrowardojo dan Roepeni, seorang mantri guru. Pada tahun
1913 Bapak Sastrowardojo pindah ke Desa Jakenan untuk mengajar di Sekolah Rakyat
Bumi Putera. Perjalanan pendidikan dr Moewardi dimulai pada 1926, beliau tercatat
sebagai mahasiswa tingkat III School Tot Opleiding Voor Indische Arsten (STOVIA). dr
Moewardi kemudian melanjutkan belajar di Nederlandsch Indische Arts School (NIAS)
hingga lulus sebagai dokter pada tahun 1931. Akhirnya PKI melakukan pemberontakan
di madiun pada tanggal 11 september 1948 dan di solo pada tanggal 13 september
1948. ketika itu PKI melakukan serangkaian penculikan dan pembunuhan. Dr, Muwardi
turut menjadi korban kebiadaban PKI tersebut, ia diculik dan di bunuh pada saat akan
pergi menjalankan praktik sebagai dokter di rumah sakit Jebres.

Peranan :
1. Setelah Dr Muwardi lulus dari School Tot Opleiding Voor Indische Artsen (STOVIA) dan
memperdalam ilmunya dengan mengambil spesialisasi Telinga, Hidung, dan
Tenggorokan (THT), beliau aktif di organisasi Jong Java, serta aktif di Kepanduan dan
pernah menjadi pemimpin umum Pandu Kebangsaan yang merupakan cikal bakal
terbentuknya Pramuka.

2. Pada saat menjelang dikumandangkannya Proklamasi Kemerdekaan Republik


Indonesia, Dr Muwardi sudah menjadi ketua Barisan Pelopor yang dipasrahi untuk
memerintahkan Barisan Pelopor guna menjaga Lapangan Ikada (sekarang Lapangan
Monas) yang rencananya akan digunakan sebagai tempat pembacaan teks proklamasi.
Usai proklamasi, barisan pelopor istimewa juga dibentuk muwardi untuk menjaga
rumah presiden dan wakil presiden Soekarno-Hatta.

3. Dr Muwardi memindahkan barisan pelopor ke Solo pada awal tahun 1946 dan merubah
namanya menjadi Barisan Banteng. Pertimbangannya, situasi di Jakarta ketika itu
semakin memanas dan tugas dari Barisan Pelopor sudah dapat diambil oleh Tentara
Keamanan Rakyat (TKR).
4. Di Solo, dr Muwardi mendirikan Sekolah kedokteran dan membentuk gerakan rakyat
untuk melawan aksi-aksi brutal yang dilancarkan oleh PKI (Partai Komunis Indonesia).
PKI terkenal kejam dan tidak segan-segan menyingkirkan lawan-lawan politiknya
dengan cara membunuh. Dr Muwardi sendiri turut menjadi korban kebiadaban PKI
tersebut. Ia diculik dan dibunuh pada saat akan pergi menjalankan praktek sebagai
dokter di Rumah sakit Jebres.

5. Tak banyak yang tahu bahwa Dr Muwardi lah, tokoh nasionalis yang membacakan
pembukaan UUD 1945, sebelum Sukarno menyampaikan pidato dan membacakan
naskah proklamasi pada 17 Agustus 1945.

Keteladanan Dr Muwardi :

1. Ia merupakan seorang yang loyal terhadap pekerjaannya, yaitu sebagai seorang dokter.
Ia sempat dipilih menjadi Menteri Pertahanan, namun karena kecintaannya terhadap
dunia kedokteran, ia menolaknya dan tetap pada pendiriannya yaitu sebagai dokter

2. Dr Muwardi juga seorang pekerja keras terutama dalam bidang pengetahuan. Ia selalu
berusaha memperdalam ilmunya. Ilmu adalah hal penting dalam hidupnya.

3. Ia seorang aktivis organisasi, ia terikat di beberapa organisasi. Yang patut dibanggakan,


dr Moewardi tak hanya aktif sebagai dokter, namun ia juga dikenal pandai pencak silat
dan aktif dalam bidang kepanduan. Beliau juga aktif dalam organisasi lainnya.
Diantaranya, ia adalah pendiri Gerakan Rakyat Revolusioner (GRR), Ketua Umum
Barisan Pelopor, pemimpin di kepanduan Jong Java Padvinder, asisten pada rumah
sakit CBZ, yang kini berubah nama menjadi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo
(RSCM).

4. Dr Muwardi juga seorang tokoh nasional yang memiliki sifat kepemimpinan, terbukti ia
dipercaya untuk memimpin beberapa organisasi yang diikutinya.

5. Ia terkenal sebagai Dokter Muwardi atau biasa disebut Dokter Gembel. Karena beliau
senang bergaul dengan gembel daripada golongan atas. Pernah suatu saat, karena
diminta pertolongan untuk mengobati seorang gembel yang tinggal jauh dalam
kampung dengan gang becek dan berlumpur yang hanya kering saat hujan
reda.Meskipun hanya gembel, namun gembel tersebut adalah orang yang mempunyai
rasa perikemanusiaan yang luhur.
Dia memandangi pakaian Muwardi yang masih bersih tak bernoda sedikit pun, “baru
ganti itu !”, pikirnya. Sayang kalau ia harus jalan di lumpur. Air kotor dan lumpurnya
tentu akan segera melekat pada sepatu dan celananya. “Tidak !”. “Jangan !” “Pak
dokter harus tetap bersih, agar dapat segera mengunjungi orang sakit lainnya,”
Akhirnya mau tidak mau, Muwardi digendong oleh si gembel. Sehingga Muwardi
digendong di punggung si gembel dari jalan besar hingga ke rumah si sakit. Demikian
pula pulangnya kembali ke mobil. Begitulah kecintaan rakyat gembel kepadanya.