Anda di halaman 1dari 12

DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN.................................................................................................. 2
A. Latar Belakang...............................................................................................2
B. Rumusan Masalah..........................................................................................2
C. Tujuan Penulisan............................................................................................2
BAB II
PEMBAHASAN......................................................................................................3
A. Pengertian Puasa............................................................................................3
B. Dasar Hukum ............................................................................................... 3
C. Syarat Sah dan Wajib Puasa ........................................................................4
D. Rukun Puasa ................................................................................................4

E. Hal-hal yang Membatalkan Puasa ............................................................... 5


F. Hal-hal yang Mengurangi Nilai Puasa..........................................................5
G. Macam-Macam Puasa Sunah......................................................................5
H. Orang-Orang yang Diperbolehkan Tidak Puasa..........................................6

I. Manfaat Puasa..............................................................................................7

BAB III
PENUTUP ............................................................................................................... 9
A. Simpulan .......................................................................................................9
B. Daftar Pustaka………………………….......................................................10

1
BABI

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam agama Islam, aturan puasa ditetapkan setelah shalat. Kewajiban puasa
ditetapkan di Madinah pada 2 Hijriyah, dan untuk menjalankannya ditetapkan setiap
bulan Ramadhan. Dalam alquran, perihal puasa hanya dibicarakan dalam satu tempat,
yaitu hanya pada surat al-Baqarah, walaupun dilain tempat ada uraian pula tentang
puasa, tetap berkenaan dengan masalah fidyiah artinya tebusan dalam suatu perkara.
Adapun dalam pembahasan makalah berikut ini akan diuraikan secara singkat
mengenai puasa sunah tathawwu’ (sunnat). Pengertian, dalil, syarat, rukun, ketentuan,
macam-macam puasa sunah, persoalan hutang puasa Ramadhan dan cara
mengqodlonya.
B. Rumasan Masalah

1. Apa pengertian puasa?


2. Apa dasar hukum puasa?
3. Apa saja syarat sah dan wajib puasa?
4. Apa saja rukun puasa?

5. Apa saja hal-hal yang membatalkan puasa?


5. Apa saja hal-hal yang mengurangi nilai puasa?
6. Apa macam-macam puasa sunah?
7. Siapa orang-orang yang diperbolehkan tidak puasa?
8. Apa manfaat puasa?

C. Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui pengertian puasa.


2. Untuk mengetahui dasar hukum puasa.
3. Untuk Mengetahui syarat sah dan wajib puasa.

4. Untuk mengetahui rukun puasa.


5. Untuk mengetahui hal-hal yang membatalkan puasa
5. Untuk mengetahui hal-hal yang mengurangi nilai puasa.
6. Untuk mengetahui macam-macam puasa sunah.
7. Untuk mengetahui orang-orang yang diperbolehkan tidak puasa

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian

Istilah puasa secara etimologis shaum berarti: menahan diri, maksudnya: diam dalam
segala bentuknya.

Allah Swt. berfirman:

Maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha
Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang pun pada hari ini”. (QS
Maryam:26).

Secara terminologis sebagaimana diungkapkan para ulama fikih mengartikan “puasa


adalah menahan diri dari makan, minum, dan melakukan hubungan seksual [suami-istri],
dan lain-lainnya, sepanjang hari menurut ketentuan syarak, disertai dengan menahan diri
dari perkataan yang sia-sia, perkataan jorok, dan lainnya, baik yang diharamkan maupun
dimakruhkan, pada waktu yang telah ditetapkan dengan syarat-syarat yang telah
ditetapkan pula.”1

B. Dasar Hukum

Banyak perintah puasa dalam alquran dan sunnah.2 Dalam alquran terdapat dalam QS
Al-Baqarah 183.

Allah Swt. berfirman:

1
. Hassan Saleh, Kajian Fiqh Nabawi & Fiqh Kontemporer, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2008),
hal 174.
2
. Hassan Saleh, Kajian Fiqh Nabawi. . . hal. 176.

3
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana
diwajibkan atasorang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (QS Al-Baqarah 183).

Dalam hadis Nabi Saw. Diantaranya adalah sebagai berikut:

Dari Ibnu Umar r.huma dari Rasulullah Saw. bersabda “Islam itu terbina atass lima hal:
syahadat bahwa tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah
Rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan haji ke
Baitullah bagi yang mampu.” (HR Bukhari, Muslim)

C. Syarat Sah dan Wajib Puasa

1. syarat sah puasa sebagai berikut:

a) Beragama Islam ketika menjalankan puasa;


b) Tamyiz;
c) Tidak haid, nifas, dan wiladah;
d) Waktu berpuasa memang dibolehkan untuk berpuasa.

2. Adapun syarat wajib puasa adalah sebagai berikut:

a) Muslim;
b) Berakal;
c) Dewasa (mukallaf);
d) Sehat permanen;
e) Suci dari haid dan nifas.3
D. Rukun-Rukun Puasa
1. Niat
Nabi Saw bersabda “setiap amalan tergantung niatnya dan setiap orangdibalas
sesuai dengan apa yang diniatkannya”.(HR. Bukhari). Dalam hal niat, tidak
diwajibkan pelapalan, karena niat adalah aktivitas hati. Pelapalan hanya sekedar
pengantar agar hati selalu ingat akan niat tersebut. Mayoritas ahli fiqh berpendapat

3
Hasbiyallah, Fiqh dan Ushul Fiqh, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), hal. 227.

4
bahwa niat dalam puasa sunah tidak disyaratkan di waktu malam. Jika seseorang
berniat puasa sunah sebelum tengah hari, maka puasanya tetap sah.
2. Menahan hal-hal yang membatalkan puasa
Rukun puasa yang kedua adalah menahan hal-hal yang membatlakan puasa dari terbit
fajar sampai terbenamnya matahari.4
E. Hal-Hal yang Membatalkan Puasa
Hal-hal yang membatalkan puasa adalah sebagai berikut:
1. Makan dan Minum dengan sengaja;
2. Muntah dengan sengaja;
3. Bersenggama, mengadakan hubungan seksual;
4. Sengaja mengeluarkan sperma (dengan cara bersentuhan dengan wanita atau
dengan cara lain);
5. Keluar darah haid atau nifas;
6. Gila atau apabila seseorang terkena penyakit ingatan.5
F. Hal-Hal yang Mengurangi Nilai Puasa

Hal-hal yang mengurangi nilai puasa adalah semua perbuatan yang dilarang atau
dicela oleh Islam, misalnya:

1. Perkataan kotor, dusta, dan omong kosong


2. Pembicaraan yang membuat gaduh suasana
3. Bertengkar atau memaki-maki teman
4. Ghibah atau berkata dan berperilaku dusta6
G. Macam-Macam Puasa Sunah
1. Puasa 3 hari pada tiap tanggal 13,14, dan 15 bulan Qomariyah (puasa di haari
putih/puasa Ayyam al-Bidh). Hal ini berdasar pada sabda Nabi: “Dar Abu Dzar
r.a. berkata: Rasulullah telah memerintahkan kepada kami agar kami melakukan
puasa selama tiga hari setiap bulan (bulan Qomariyah) yaitu tiap tanggal 13, 14,
dan 15 (HR. Nasa’i dan dishahihkan Ibnu Hibban).
2. Puasa hari Senin dan Kamis. Pada setiap hari Senin dan Kamis kita disunahkan
berpuasa. Hal ini berdasar pada hadits: “Dari Abu Qatadah ra. bahwasannya Nabi
4
Andi Mardian, Buku Daras Fiqih Ibadah, ( Surakarta: Fakultas Syariah IAIN Surakarta, 2014), hal.
77.

5
. Moh Saifulloh Al Aziz S, Fiqh Islam Lengkap, (Surabaya: Terbit Terang, 2005), hal. 299.
Najmuddin Zuhdi dan Elvi Na’imah, Studi Islam 2,(Surakarta: Lembaga Pengembangan Al-Islam dan
6

Kemuhammadiyahan (LPIK) 2013),. Hal. 73.

5
saw ditanya tentang puasa Senin, lalu beliau menjawab: “itu adalah hari
kelahiranku, dan pada hari itu aku dikukuhkan menjadi Rasul, dan pada hari itu
pula diturunkan wahyu pertama kepadaku” (HR. Muslim).
3. Puasa Arafah (9 Dzulhijjah). Puasa pada hari Arafah adalah puasa sunah yang
dilaksanakan bagi umat Islam untuk dikerjakan pada tanggal 9 Dzulhijjahkecuali
bagi orang yang sedang menunaikan ibadah haji tidak disunahkan berpuasa pada
har Arafah. Berdasar hadist Nabi: “Dari Abu Qatadah ra. bahwasannya Nabi
Swa. Pernah ditanya tentang puasa pada hari Arafah. Maka beliau menjawab:
“puasa Arafah itu menghapuskan dosa dua tahun, satu tahun yang telah lalu dan
satu tahun yang akan datang.” ( HR. Muslim)
4. Puasa 6 hari bulan Syawal. Rasulullah menganjurkan agar umat Islam
mengerjakan ibadah puasa selama 6 hari pada bulan Syawal. berdasarkanHadits
Nabi Saw. “Dari Abu Ayyub Al Anshori ra. bahwannnya Nabi Saw. bersabda:
“barangsiapa melakukan puasa pada bulan Ramadhan kemudian ia melakukan
puasa pula enam hari pada bulan Syawal, adalah sepertipuasa sepanjang masa
(HR. Muslim)
5. Puasa ‘Asyura (10 Muharram). Berdasar hadits Nabi: Dari Abu Qatadah ra.
bahwasannya Nabipernah ditanya tentang puasa ‘Asyura, maka beliau menjawab
puasa ‘Asyura itu menghapus menghapuskan dosa satu tahun yang telah lampau
(HR. Muslim)
6. Puasa Nabi Dawud (melakukan puasa selang). Berdasar hadits dari Abu Salmah
bin Abdurrahmah yang diterimanya dari Abdullah bin Amar, katanya: “Berkata
Nabi: “Kalau begitu lakukan puasa seperti puasa Nabi Dawud, dan jangan
melebihi lagi”. Ya Nabi Bagaimana puasa Nabi Dawud as.?, tanya saya, Sabda
Nabi: “ Beliau melukukan puasa sehari dan berbuka sehari” (HR. Ahmad)7
7. Puasa pada bulan Sya’ban. Setiap bulan Sya’ban kita dianjurkan oleh Nabi Saw.
untuk mengerjakan puasa. Hal ini berdasar hadits. “A’isyiah ra. berkata: Saya tak
mekihat Rasulullah Saw. berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan, dan
saya tidak melihat beliau berpuasa pada bulan lain paling banyak daripada bulan
Sya’ban”. (HR. Bukhari dan Muslim)8
H. Orang-Orang yang Diperbolehkan Tidak Berpuasa
1. Kelompok yang Diperbolehkan Tidak Berpuasa dan Wajib Fidyah

7
Najmuddin Zuhdi dan Elvi Na’imah, Studi Islam 2, . . . hal, 68.
8
Moh Saifulloh Al Aziz S, Fiqh Islam Lengkap. . . hal. 301.

6
Di antara kelompok ini adalah orang lanjut usia, orang sakit yang tidak diharapkan
kesembuhannya, dan pekerja berat yang harus terus meneruss bekerja, wanita yang
sedang mengandung dan menyusui yang khawatir atas kondisi mereka sendiri dan
anak-anaknya. Mereka semua dibolehkan berbuka jika puasa terasa sangat
memberatkan dan menemui kesulitan di sepanjang tahun. Kewajiban mereka adalah
membayar fidyah sebagai pengganti dari kewajiban pokok. Fidyah berfungsi bukan
sebagai pengganti puasa yang ditinggalkan, akan tetapi dia adalah kewajiban pokok
yang mesti dipenuhi seseorang yang tidak berpuasa. Jumlah fidyah bagi orang yang
tidak berpuasa adalah 1 mud makanan pokok setiap hari dari puasa yang
ditinggalkannya.

2. Kelompok yang Tidak Berpuasa dan Wajib Mengqadla Pada Hari Lain.
Di antara kelompok ini adalah wanita yang sedang haid dan nifas, orang sakit
yang masih diharapkan kesembuhannya, dan orang yang dalam perjalanan jauh.
Mereka semua dibolehkan berbuka jika puasa terasa sangat memberatkan dan harus
mengganti pada hari lain9. Hal ini didasarka pada ayat:

“yaitu beberapa hari tetentu. Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam
perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari ( yang dia
tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat
menjalankannya, wajib menbayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin.
Tetapi barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik
baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Q.S. al-Baqarah
:184).

I. Manfaat Puasa
Puasa memiliki beberapa manfaat , ditinjau dari segi kejiwaan, sosial dan
kesehatan agama tidak hanya mengatur masalah keagamaan saja, namun jika kita

9
Hasbiyallah, Fiqh dan Ushul Fiqh. . . hal. 231.

7
dapat mendalami dan menghayari lebih dalam apa yang telah disyari’atkan beliau
Nabi saw itu ada manfaatnya, baik secara dzohir dan batin, antaranya adalah:
1. Sebagai perwujudan rasa syukur kita pada Allah SWT atas segala karunianya;
2. Mengajari jujur dalam mengemban tugas amanah;
3. Membiasakan kesabaran, menguatkan kemauan, mengajari dan membantu cara
menguasai diri, serta mewujudkan dan membentuk ketaqwaan yang kokoh dalam diri;
4. Untuk membedakan antara nafsu manusia dan hewan;
5. Termasuk manfaat puasa secara sosial adalah membiasakan diri berlaku disiplin,
bersatu, cinta keadilan dan persamaan.
6. Segi kesehatan adalah membersihkan usus, memperbaiki pencernaan;
7. Mencerdaskan akal pikiran;
8. Mematahkan hawa nafsu.10

10
Andi Mardian, Buku Daras Fiqih Ibadah. .. . hal. 77-78.

8
BAB III

PENUTUP

A. Simpulan
Puasa secara etimologis shaum berarti: menahan diri, maksudnya: diam dalam
segala bentuknya. Secara terminologis puasa adalah menahan diri semua hal yang
membatalkan puasa dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Dasar hukum puasa
Q.S al-Baqarah: 183. Syarat sah puasa:1) Islam, 2) Tamyiz,3) Suci,4) Waktunya
diperbolehkan. Syarat wajib puasa1): muslim,2) berakal,3) dewasa,4) sehat,5) suci.
Rukun puasa:1) Niat, 2) Menahan diri dari hal yang membatalkan puasa.
Macam-Macam Puasa Sunah
1. Puasa 3 hari pada tiap tanggal 13,14, dan 15 bulan Qomariyah (puasa di haari
putih/puasa Ayyam al-Bidh).
2. Puasa hari Senin dan Kamis.
3. Puasa Arafah (9 Dzulhijjah).
4. Puasa 6 hari bulan Syawal.
5. Puasa ‘Asyura (10 Muharram).
6. Puasa Nabi Dawud (melakukan puasa selang).

Orang yang diperbolehkan tidak berpuasa dan wajib membayar fidyah: orang
lanjut usia, orang sakit yang tidak diharapkan kesembuhannya, dan pekerja berat yang
harus terus meneruss bekerja, wanita yang sedang mengandung dan menyusui. Orang
yang tidak berpuasa dan wajib mengqadla: wanita yang sedang haid dan nifas, orang
sakit yang masih diharapkan kesembuhannya, dan orang yang dalam perjalanan jauh.

Manfaat Puasa:

1. Rasa syukur pada Allah SWT


2. Mengajari jujur dalam mengemban tugas amanah;
3. Mewujudkan dan membentuk ketaqwaan yang kokoh dalam diri;
4. Untuk membedakan antara nafsu manusia dan hewan;
5. berlaku disiplin, bersatu, cinta keadilan dan persamaan.
6. Segi kesehatan adalah membersihkan usus, memperbaiki pencernaan;
7. Mencerdaskan akal pikiran
8. Mematahkan hawa nafsu.

9
Daftar Pustaka

Andi Mardian. 2014 Buku Daras Fiqih Ibadah. Surakarta: Fakultas Syariah IAIN Surakarta.

Hasbiyallah. 2013. Fiqh dan Ushul Fiqh. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Hassan Saleh. 2008. Kajian Fiqh Nabawi & Fiqh Kontemporer. Jakarta: PT Rajagrafindo
Persada.

Moh Saifulloh Al Aziz S. 2005. Fiqh Islam Lengkap. Surabaya: Terbit Terang.

Najmuddin Zuhdi dan Elvi Na’imah. 2013. Studi Islam 2. Surakarta: Lembaga
Pengembangan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LPIK).

10
LAMPIRAN

Pertanyaan:

Refreesia Darifa M. (163111114)

1. Berapa ukuran 1 mud ?


2. Apakah boleh wanita yang mengandung berpuasa? dia tidak khawatir atas dirinya dan
anaknya.

Jawaban :

1. Jumlah fidyah bagi orang yang tidak berpuasa adalah 1 mud makanan pokok setiap
hari dari puasa yang ditinggalkan. Ukuran 1 mud adalah sekitar 0,75kg. Jadi jika
dibulatkan 1 mud sama dengan sekitar 1 kg makanan pokok.
2. Wanita yang mengandung dan tidak khawatir atas diri dan anaknya, maka dia boleh
untuk berpuasa, tidak ada larangan. Justru malah lebih baik. Sebagaimana atas dasar
QS al-baqarah ayat 184:
“Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi
makan seorang miskin. Tetapi barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan
kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasa itu lebih baik bagimu jika kamu
mengetahui.”

Pertanyaan:

Rohmad Hidayat (163111096)

1. Bagaimana kriteria perkataan jorok itu?


2. Apakah merokok membatalkan puasa?

Jawaban:

1. Perkataan jorok adalah perkataan yang berlebihan dan kelewat batas hingga menjadi
tercela. Kerap disajikan dalam bentuk umpatan. Kata-kata kotor dan porno, atau
kalimat-kalimt buruk seperti hewan-hewan, organ-organ tubuh tertentu yang dijadikan
pelampiasan kekesalan.
2. Merokok membatalkan puasa. Karena rokok itu dapat menimbulkan kenikmatan bagi
pelakunya. Dan merokok secara sengaja memasukkan sesuatu melewati

11
kerongkongan. Malah secara psikis, konon dapat memberikan kepuasan tersendiri,
sehingga dari sini tidak mustahil menimbulkan efek kenyang.

Pertanyaan:

Bintang Pranata S. (163111077)

1. Apakah mencicipi masakan membatalkan puasa?

Jawaban:

1. Mencicipi masakan ketika berpuasa hukumnya boleh. tidak membatalkan puasa.


dengan syarat masakan yang dicicipi diludahkan kembali tidak ditelan.

Pertanyaan:

Andhika Gilang N. (163111090)

1. Apakah boleh meggabungkan 2 niat puasa sunah dalam satu waktu atau dilakukan
pada hari yang sama? Misalnya melakukan puasa dawud dan yaumul bidh.

Jawaban:

1. Puasa Dawud dan yaummul bidh yang mana jika keduanya jatuh pada waktu yang
sama, keduanya memiliki jenis yang sama yaitu puasa sunah, juga sifat atau tatacara
pelaksanaan yang sama yaitu dimulai dari sahur dan sebelum fajar, menahan diri dari
pembatal-pembatal puasa, hingga berbuka puasa. Maka dengan melaksanakan pada
waktu yang sama diperbolehkan, mendapatkan dua pahala sekaligus jika meniatkan
puasa untuk keduanya.

12