Anda di halaman 1dari 29

KOMUNIKASI TERAPEUTIK DALAM KEADAAN GAWAT D

ARURAT

OLEH :
KELOMPOK I
1.KOMANG PANDE DEWI AYUNI (P07120216001)
2.PUTU INDAH PRAPTIKA SUCI (P07120216002)
3.KADEK DWI DHARMA PRADNYANI (P07120216003)
4.EKA WAHYU RIFANI MEILIADEWI (P07120216004)
5.NI KOMAN SRI ARDINA (P07120216005)
6.NI LUH PUTU DESY TTRISNA EKAYANTI (P07120216006)
7.NI PUTU INTAN SARI (P07120216007)
8.NI MADE ANASARI (P07120216008)
9.NI LUH PUTU MANIK JUNI ASTRI DEWI (P07120216009)
10.NI LUH PUTU PUTRI WIDIAR (P07120216010)

KEMENTRIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN AJARAN 2016/2017
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, ka
rena atas berkat dan rahmat-Nya lah, maka kami bisa menyelesaikan tugas makal
ah ini dengan tepat waktu, Berikut ini penulisannya mempersembahkan sebuah
makalah dengan judul ‘Komunikasi Terapeutik Dalam Keadaan Gawat Darurat’,
yang menurut kami dapat memberikan manfaat yang besar bagi kita untuk memp
elajari Komunikasi Dalam Keperawatan.
Makalah ini merupakan hasil diskusi kelompok kami dengan materi
Komunikasi Dalam Keperawatan. Pembahasan di dalamnya kami dapatkan dari
kuliah, browsing internet, diskusi anggota. Dengan pemahaman berdasarkan pokok
bahasan masalah Biologi dan Fisika mengenai prinsip - prinsip fisika dalam
pemeliharaaan alat. Kami sadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Kritik dan
saran yang membagun dari semua pihak sangat kami harapkan demi
kesempurnaannya.
Demikian yag dapat kami sampaikan, semoga makalah ini dapat bermanfaat
khusunya bagi kami yag sedang menempuh pendidikan dan dapat dijadikan pelajaran
bagi teman-teman dan kami khususnya.

Denpasar, 27 Februari 2016

Penulis

i
DAFTAR ISI
Kata Pengantar i

Daftar Isi ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang 1

1.2 Rumusan Masalah 2

1.3 Tujuan Penulisan 2

1.4 Manfaat Penulisan 3

1.5 Metode Penulian 3

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Komunikasi 4

2.2 Pengertian komunikasi terapeutik 6


2.3 Komponen komunikasi 6
2.4 Factor-faktor yang mempengaruhi komunikasi 7
2.5 Jenis komunikasi 8
2.6 Aplikasi komunikasi dalam keperawatan 11
2.7 Komunikasi dalam hubungan terapeutik perawat-klien 12
2.8 Pengertian gawat darurat 13
2.9 Konsep dasar keperawatan gawat darurat 14
2.10 Komunikasi dalam SPGDT 15
2.11 Tujuan komunikasi pada gawat darurat 16
2.12 Fase-fase dalam komunikasi terapeutik gawat darurat 17
1.13 Prinsip komunikasi gawat darurat
18
2.14 Teknik komunikasi gawat darurat
19
BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan 24

3.2 Saran 24

DAFTAR PUSTAKA 25

ii
iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Komunikasi terapeutik merupakan salah satu cara untuk memberikan
informasi yang akurat dan membina hubungan saling percaya dengan klien
sehingga klien akan merasa puas dengan pelayanan keperawatan yang
diterimanya. Pada pasien gawat darurat perlu memperhatikan teknik-teknik dan
tahapan baku komunikasi terapeutik yang baik dan benar.

Komunikasi terapeutik merupakan cara yang efektif untuk mempengaruhi


tingkah laku manusia dan bermanfaat dalam melaksanakan pelayanan kesehatan
di rumah sakit, sehingga komunikasi harus dikembangkan secara terus – menerus
( Kariyo, 1998 ). Hubungan antara perawat dan klien yang terapeutik bisa
terwujud dengan adanya interaksi yang terapeutik antar keduanya, interaksi
tersebut harus dilakukan sesuai dengan tahapan – tahapan baku interaksi
terapeutik perawat klien, tahapan itu adalah tahap pre orientasi, tahap orientasi,
tahap kerja dan tahap terminasi ( Stuart and Sunden.1998 ). Pelayanan
kesehatan menggunakan komunikasi yang langsung seperti pelayanan kesehatan,
rumah sakit merupakan tempat untuk mendapatkan pelayanan baik yang bersifat
medik maupun keperawatan.

Gawat Darurat adalah keadaan klinis pasien yang membutuhkan tindakan


medis segera guna penyelamatan nyawa dan pencegahan kecacatan lebih lanjut
(UU no 44 tahun 2009). Gawat darurat adalah Suatu keadaan yang terjadinya
mendadak mengakibatkan seseorang atau banyak orang memerlukan penanganan
/ pertolongan segera dalam arti pertolongan secara cermat, tepat dan cepat.
Apabila tidak mendapatkan pertolongan semacam itu maka korban akan mati atau
cacat / kehilangan anggota tubuhnya seumur hidup.

Dalam pelaksanaan tindakan denagn klien gawat darurat perawat perlu


melakukan komunikasi terapeutik pada klien harus dengan jujur, memberikan
gambaran situasi yang sesunguhnya sedang terjadi dengan tidak menambahkan
kecemasan dan memberikan suport verbal maupun non verbal . Klien dapat
merasakan puas ataupun tidak puas apabila klien sudah mendapatkan pelayanan
kesehatan yang diberikan petugas di IGD, baik yang bersifat fisik, kenyamanan
dan keamanan serta komunikasi terpeutik yang baik.

1
1.2 RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah yang dapat diambil dari latar belakang diatas yaitu:
1.2.1 Apa pengertian komunikasi ?
1.2.2 Apa pengertian komunikasi terapeutik?
1.2.3 Apa saja komponen komunikasi?
1.2.4 Apa saja factor-faktor yang mempengaruhi komunikasi?
1.2.5 Apa saja jenis komunikasi?
1.2.6 Bagaimana aplikasi komunikasi dalam keperawatan?
1.2.7 Bagaimana komunikasi dalam hubungan terapeutik perawat-klien?
1.2.8 Apa pengertian gawat darurat?
1.2.9 Bagaimana konsep dasar keperawatan gawat darurat?
1.2.10 Bagaimana komunikasi dalam SPGDT (Sistem Penanggulangan Gawat
Darurat Terpadu)?
1.2.11 Apa tujuan komunikasi pada gawat darurat?
1.2.12 Bagaimana fase-fase dalam komunikasi terapeutik gawat darurat?
1.2.13 Bagaimana prinsip komunikasi gawat darurat?
1.2.14 Bagaimana teknik komunikasi gawat darurat?

1.3 TUJUAN PENULISAN


Adapun tujuan penulisan yang dapat diambil dari rumusan masalah diatas
yaitu:
1.3.1 Untuk mengetahui pengertian komunikasi.
1.3.2 Untuk mengetahui pengertian komunikasi terapeutik.
1.3.3 Untuk mengetahui komponen komunikasi.
1.3.4 Untuk mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi komunikasi.
1.3.5 Untuk mengetahui jenis komunikasi.
1.3.6 Untuk mengetahui aplikasi komunikasi dalam keperawatan.
1.3.7 Untuk mengetahui komunikasi dalam hubungan terapeutik perawat-klien.
1.3.8 Untuk mengetahui pengertian gawat darurat.
1.3.9 Untuk mengetahui konsep dasar keperawatan gawat darurat.
1.3.10 Untuk mengetahui komunikasi dalam SPGDT (Sistem Penanggulangan
Gawat Darurat Terpadu).
1.3.11 Untuk mengetahui tujuan komunikasi pada gawat darurat.

2
1.3.12 Untuk mengetahui fase-fase dalam komunikasi terapeutik gawat darurat.
1.3.13 Untuk mengetahui prinsip komunikasi gawat darurat.
1.3.14 Untuk mengetahui teknik komunikasi gawat darurat.

1.4 MANFAAT PENULISAN


Adapun manfaat dari penulisan makalah ini yaitu:
a. Manfaat teoritis: Secara teoritis makalah ini bermanfaat untuk menambah
wawasan tentang materi.
b. Manfaat praktis
1. Bagi Mahasiswa
Mahasiwa dapat mengetahui dan memahami mengenai materi
Komunikasi Terapeutik dalam Keadaan Gawat Darurat.
2. Bagi Dosen
Dosen dapat menilai kinerja mahasiwa dalam pembuatan makalah
khususnya tentang materi Komunikasi Terapeutik dalam Keadaan Gawat
Darurat, serta dosen dapat memberikan materi bukan hanya dengan teori
tetapi juga dengan pemecahan masalah yang di tuangkan dalam bentuk
makalah.

1.5 METODE PENULISAN


Adapun metode penulisan dalam penulisan makalah ini adalah:
Metode yang digunakan penulis dalam penyusunan makalah yang berjudul
“Komunikasi Terapeutik dalam Keadaan Gawat Darurat” ini berdasarkan
informasi didapat dari jaringan internet.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN KOMUNIKASI


Dalam kata communis terdapat makna ‘berbagi’ atau ‘menjadi milik bersama’
yaitu suatu usaha yang memiliki tujuan untuk kebersamaan atau kesamaan makna.
Jadi, Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide,
gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain. Pada umumnya, komunikasi dilakukan
secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabila
tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih
dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan sikap
tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara
seperti ini disebut komunikasi nonverbal. Komunikasi dapat terjadi jika ada
persamaan antara penyampaian pesan dengan orang yang menerima pesan.
Pengertian Komunikasi Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI
terbitan Balai Pustaka, 2002), komunikasi adalah: (1) Pengiriman dan penerimaan
pesan antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami,
hubungan, kontak. (2). Perhubungan.
Secara ilmiah, berikut saya lampirkan pandangan beberapa ahli tentang
pengertian komunikasi:
A. Hafield Cangara
Hafield menyatakan suatu definisi baru mengenai pengertian komunikasi, ia
menyatakan bahwa “komunikasi adalah suatu proses di mana dua orang atau
lebih melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya, yang pada
gilirannya akan tiba pada saling pengertian”.
B. Everett M. Rogers
Everett berpendapat bahwa “Komunikasi adalah proses dimana suatu ide
dialihkan dari sumber kepada suatu penerima, dengan maksud untuk
mengubah tingkah laku mereka atau penerima”.

C. Onong Uchjana Effendy

4
Ia mengungkapkan pengertian dari komunikasi adalah “proses penyampaian
pikiran atau perasaan oleh seseorang kepada orang lain”. Pikiran tersebut bisa
merupakan informasi, gagasan, opini, dll yang muncul dari pikirannya sendiri.
D. Deddy Mulyana (2005) mengkategorikan definisi-definisi tentang
komunikasi dalam tiga konseptual yaitu:
Komunikasi sebagai tindakan satu arah
Suatu pemahaman komunikasi sebagai penyampaian pesan searah dari
seseorang (atau lembaga) kepada seseorang (sekelompok orang) lainnya, baik
secara langsung (tatap muka) ataupun melalui media, seperti surat (selebaran),
surat kabar, majalah, radio, atau televisi. Pemahaman komunikasi sebagai
proses searah sebenarnya kurang sesuai bila diterapkan pada komunikasi tatap
muka, namun tidak terlalu keliru bila diterapkan pada komunikasi publik
(pidato) yang tidak melibatkan tanya jawab. Pemahaman komunikasi dalam
konsep ini, sebagai definisi berorientasi-sumber. Definisi seperti ini
mengisyaratkan komunikasi semua kegiatan yang secara sengaja dilakukan
seseorang untuk menyampaikan rangsangan untuk membangkitkan respon
orang lain. Dalam konteks ini, komunikasi dianggap suatu tindakan yang
disengaja untuk menyampaikan pesan demi memenuhi kebutuhan
komunikator, seperti menjelaskan sesuatu kepada orang lain atau membujuk
untuk melakukan sesuatu.
Beberapa definisi komunikasi dalam konseptual tindakan satu arah:
A. Everet M. Rogers: komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan
dari sumber kepada suatu penerima atau lebih, dengan maksud untuk
mengubah tingkah laku.
B. Gerald R. Miller: komunikasi terjadi ketika suatu sumber menyampaikan
suatu pesan kepada penerima dengan niat yang disadari untuk
mempengaruhi perilaku penerima.
C. Carld R. Miller: komunikasi adalah proses yang memungkinkan seseorang
(komunikator) menyampaikan rangsangan (biasanya lambang-lambang
verbal) untuk mengubah perilaku orang lain (komunkate).
D. Theodore M. Newcomb: Setiap tindakan komunikasi dipandang sebagai
suatu transmisi informasi terdiri dari rangsangan yang diskriminatif, dari
sumber kepada peneria

5
2.2 KOMUNIKASI TERAPEUTIK
Komunikasi telah dilakukan manusia, sejak bayi berada dalam kandungan
sampai dengan kematian, sehingga bisa dikatakan komunikasi mempunyai umur
yang sama tuanya dengan umur kehidupan manusia. Semua tingkah laku
merupakan komunikasi (verbal maupun non verbal) dan semua komunikasi akan
mempengaruhi tingkah laku, sehingga komunikasi pada dasarnya dapat menjadi
suatu alat untuk memfasilitasi hubungan terapeutik atau malahan dapat berfungsi
sebagai penghalang terhadap tumbuhnya hubungan yang terapeutik. Fasilitas
komunikasi bertujuan untuk memulai, membangun dan membina keterlibatan dan
hubungan saling percaya (Wilson & Kneist,1983).
Hakekat komunikasi
a. Komunikasi merupakan alat untuk membangun hubungan terapeutik.
b. Komunikasi merupakan alat bagi perawat untuk mempengaruhi tingkah laku
klien dan kemudian untuk mendapatkan keberhasilan dalam intervensi
keperawatan.
c. Komunikasi merupakan hubungan itu sendiri, dimana tanpa komunikasi tidak
mungkin terjadi hubungan terapeutik perawat-klien.

2.3 KOMPONEN KOMUNIKASI

Komunikasi mempunyai 6 komponen yaitu (Potter & Perry, 1993):


A. Komunikator : penyampai informasi atau sumber informasi.
B. Komunikan : penerima informasi, pemberi respon terhadap stimulus.

6
C. Pesan : gagasan, pendapat, stimulus, fakta, informasi.
D. Media : saluran yang dipakai untuk menyampaikan pesan.
E. Kegiatan “encoding” : perumusan pesan oleh komunikator.
F. Kegiatan “decoding” : penafsiran pesan oleh komunikan.

2.4 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KOMUNIKASI


Proses komunikasi dipengaruhi oleh beberapa faktor (Potter & Perry, 1993):
A. Perkembangan
Agar dapat berkomunikasi efektif dengan perawat harus mengerti
pengaruh perkembangan usia baik dari sisi bahasa, maupun proses berpikir
dari orang tersebut. Cara berkomunikasi pada usia remaja dengan usia balita
tentunya berbeda, pada usia remaja, anda barangkali perlu belajar bahasa
“gaul” mereka sehingga remaja yang kita ajak bicara akan merasa kita
mengerti mereka dan komunikasi diharapkan akan lancar.
B. Persepsi
Persepsi adalah pandangan pribadi seseorang terhadap suatu kejadian
atau peristiwa. Persepsi ini. dibentuk oleh harapan atau pengalaman.
Perbedaan persepsi dapat mengakibatkan terhambatnya komunikasi.
C. Nilai
“Nilai adalah bandar yang mempengaruhi perilaku sehingga penting bagi
perawat untuk menyadari nilai seseorang. Perawat perlu berusaha untuk
mengetahui dan mengklarifikasi nilai sehingga dapat membuat keputusan dan
interaksi yang tepat dengan klien. Dalam hubungan profesionalnya
diharapkan perawat tidak terpengaruh oleh nilai pribadinya.
D. Latar Belakang Sosial Budaya Bahasa dan gaya komunikasi akan sangat
dipengaruhi oleh faktor budaya. Budaya juga akan membatasi cara bertindak
dan berkomunikasi seseorang.
E. Emosi
Emosi merupakan perasaan subyektif terhadap suatu kejadian, seperti
marah dan sedih akan dapat mempengaruhi perawat dalam berkomunikasi
dengan orang lain. Perawat perlu mengkaji emosi klien dan keluarganya
sehingga perawat mampu memberikan asuhan keperawatan dengan tepat.
Selain itu perawat juga perlu mengevaluasi emosi pada dirinya agar dalam

7
memberikan asuhan keperawatan tidak terpengaruh oleh emosi dibawah
sadarnya.
F. Jenis Kelamin
Setiap jenis kelamin mempunyai gaya komunikasi yang berbeda-beda.
Tanned (1990) menyebutkan bahwa wanita dan laki-laki mempunyai
perbedaan gaya komunikasi. Dari usia 3 tahun wanita ketika bermain dalam
kelompoknya menggunakan bahasa untuk mencari kejelasan, meminimalkan
perbedaan, serta membangun dan mendukung keintiman, sedangkan laki-laki
menggunakan bahasa untuk mendapat kemandirian diri aktivitas bermainnya,
di mana jika mereka ingin berteman maka mereka melakukannya dengan
bermain.
G. Pengetahuan
Tingkat pengetahuan akan mempengaruhi komunikasi yang dilakukan.
Seseorang yang tingkat pengetahuannya rendah akan sulit merespon
pertanyaan yang mengandung bahasa verbal dibanding dengan tingkat
pengetahuan tinggi. Perawat perlu mengetahui tingkat pengetahuan klien
sehingga perawat dapat berinteraksi dengan baik dan akhirnya dapat
memberikan asuhan keperawatan yang tepat pada klien.
H. Peran dan hubungan
Gaya komunikasi sesuai dengan peran dan hubungan antar orang yang
berkomunikasi. Cara komunikasi seseorang perawat dengan koleganya,
dengan cara komunikasi seorang perawat pada klien akan berbeda tergantung
perannya. Demikian juga antara guru dengan murid.
I. Lingkungan
Lingkungan interaksi akan mempengaruhi komunikasi yang efektif.
Suasana bising, tidak ada privacy yang tepat akan menimbulkan kerancuan,
ketegangan dan ketidaknyamanan.
J. Jarak
Jarak dapat mempengaruhi komunikasi. Jarak tertentu menyediakan rasa
aman dan kontrol. Dapat dimisalkan dengan individu yang merasa terancam
ketika seseorang tidak dikenal tiba-tiba berada pada jarak yang sangat dekat
dengan dirinya. Hal itu juga yang dialami oleh klien pada saat pertama kali

8
berinteraksi dengan perawat. Untuk itu perawat perlu memperhitungkan jarak
yang tepat pada saat melakukan hubungan dengan klien.

2.5 JENIS KOMUNIKASI


A. Komunikasi Verbal
Hal yang perlu diperhatikan dalam komunikasi Verbal (Leddy, 1998) :
1. Masalah tehnik
Seberapa akurat komunikasi tersebut dapat mengirimkan simbol dari
komunikasi.
2. Masalah semantic
Seberapa tepat simbol dalam mengirimkan pesan yang dimaksud.
3. Masalah pengaruh
Seberapa efektif arti yang diterima mempengaruhi tingkah laku.
Menurut Ellis dan Nowlis (1994) hal yang diperhatikan dalam komunikasi
verbal :
1. Penggunaan bahasa : kejelasan, keringkasan, dan sederhana.
2. Kecepatan
3. Voice tone : menunjukkan gaya dari ekspresi yang digunakan dalam bicara
dan dapat merubah arti dari kata.

B. Komunikasi Non Verbal


Komunikasi non verbal merupakan komunikasi yang tidak melibatkan
bicara dan tulisan. Sebesar 90% dari arti komunikasi berasal dari komunikasi
non verbal (Hunsaker cit.Leddy, 1998). Adapun tujuan dari komunikasi non
verbal (Stuart & Sundeen, 1995) adalah :
1. Mengekspresikan emosi
2. Mengekspresikan tingkah laku interpersonal
3. Membangun, mengembangkan dan memelihara interaksi sosial
4. Menunjukkan diri terlibat dalam ritual
5. Mendukung komunikasi verbal
Komunikasi non verbal terdiri dari : Kinesics, Paralanguage, Proxemics ,
Sentuhan, Cultural artifact, Gaya berjalan, Penampilan fisik umum.

9
1. Kinesics Ekspresi muka, Gesture (gerak, isyarat, sikap), Gerakan tubuh dan
posture, Gerak mata atau kontak mata.
2. Paralanguage
a. Kualitas suara : irama, volume, kejernihan.
b. Vokal tanpa bahasa : suara tanpa adanya struktur linguistik, misalnya
sedu sedan, tertawa, mendengkur, mengerang, merintih, hembusan
nafas, nafas panjang.
3. Proxemics
a. Jarak intim (sampai dengan 18 inchi)
b. Jarak personal (18 inchi – 4 kaki) untuk interaksi dengan seseorang yang
dikenal.
c. Jarak social (4 kaki – 12 kaki) untuk interaksi mengenai suatu urusan tetapi
bukan orang khusus/tertentu.
d. Jarak publik (lebih dari 12 kaki) untuk pembicaraan formal.
4. Sentuhan
Sentuhan penting dilakukan pada situasi emosional. Sentuhan dapat
menunjukkan arti “saya peduli”. Bentuk – bentuk sentuhan :
a. Fungsional – professional
b. Social – sopan
c. Sahabat – hangat
d. Cinta – keintiman
e. Sexual arousal
5. Cultural artifact
Hal-hal yang ada dalam interaksi seseorang dengan orang lain yang
mungkin bertindak sebagai rangsang non verbal misalnya :baju, kosmetik,
parfum/bau badan, perhiasan, kacamata, dll.
6. Gaya berjalan
Beberapa gaya berjalan menunjukkan pesan tertentu, antara lain cara
berjalan yang bersemangat dan gembira akan menunjukkan seseorang
tersebut dalam keadaan sehat.

7. Penampilan fisik umum

10
Kulit kering, berkerut akan mengkomunikasikan pada kita bahwa orang
tersebut sedang mengalami kekurangan cairan/dehidrasi, pola napas cepat
menunjukkan seseorang sedang merasa cemas.

2.6 APLIKASI KOMUNIKASI DALAM PRAKTIK KEPERAWATAN


Komunikasi dalam Praktik keperawatan profesional merupakan unsur utama
bagi perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan untuk mencapai hasil yang
optimal. Kegiatan keperawatan yang memerlukan komunikasi meliputi :
A. Timbang terima/operan;
B. Interview/ anamnesa;
C. Komunikasi melalui komputer;
D. Komunikasi rahasia klien;
E. Komunikasi melalui sentuhan;
F. Komunikasi dalam pendokumentasian;
G. Komunikasi antara perawat dan profesi kesehatan lainnya;
H. Komunikasi antara perawat dan pasien, pada saat melakukan tindakan
keperawatan atau pendidikan kesehatan.
Prinsip yang harus diterapkan oleh perawat pada komunikasi ini adalah:
A. Hindari komunikasi yang terlalu formal atau tidak tepat. Ciptakan suasana
yang hangat, kekeluargaan.
B. Hindari interupsi, atau gangguan yang timbul akibat dari lingkungan yang
gaduh.
C. Hindari respon dengan kata hanya “ya atau tidak”. Respon tersebut akan
mengakibatkan tidak berjalannya komunikasi dengan baik, karena perawat
kelihatan kurang tertarik dengan topik yang dibicarakan dan enggan untuk
berkomunikasi.
D. Jangan memonopoli pembicaraan.
E. Hindari hambatan personal. Jika perawat sebelum komunikasi menunjukkan
rasa tidak senang kepada klien, maka keadaan ini akan berdampak terhadap
hasil yang didapat selama proses komunikasi.

2.7 KOMUNIKASI DALAM HUBUNGAN TERAPEUTIK PERAWAT –


KLIEN

11
Pada dasarnya sebelum suatu hubungan terjalin perlu sekali melakukan analisa
diri, khususnya perawat di sini terdapat 4 fokus analisa diri: kesadaran diri,
eksplorasi perasaan, klarifikasi nilai role model dan rasa tanggung jawab Yang
akan dibahas hanya kesadaran diri saja, selebihnya akan dibahas pada hubungan
terapeutik perawat-klien. Seorang Perawat perlu menyadari tentang “siapa dirinya”
atau kesadaran diri, di mana pada tingkatan ini diperlukan komunikasi
intrapersonal. Untuk menuju kesadaran diri diperlukan: mempelajari diri sendiri,
belajar dari orang lain, dan membuka diri, ini secara tidak langsung akan
mendorong seseorang untuk melakukan komunikasi dengan orang lain/
komunikasi interpersonal. Untuk meningkatkan kesadaran diri perlu dipahami
tentang teori jendela Johari:

Dengan teori tersebut dapat dijelaskan bahwa:


1. Perubahan satu kuadran akan mempengaruhi kuadran lain.
2. Individu yang memiliki pemahaman diri rendah menunjukkan komunikasi
yang buruk (gambar b).
3. Individu yang memiliki pemahaman diri tinggi menunjukkan komunikasi
yang baik (gambar a).
Upaya meningkatkan kesadaran diri kadang menyakitkan dan tidak mudah,
khususnya jika ditemukan konflik dengan ideal diri seseorang. Untuk itulah kita
membutuhkan komunikasi sebagai alat. Perawat disini perlu memahami 4 fokus
analisa diri :
1. Kesadaran diri.
Kemampuan seseorang untuk memahami diri sendiri baik perilaku,
perasaan maupun pikirannya sendiri. Kesadaran diri dapat dilakukan dengan :
a. Mempelajari diri sendiri.
b. Belajar dari orang lain.

12
c. Membuka diri.
2. Eksplorasi perasaan
Eksplorasi perasaan dilakukan terhadap hubungan seseorang dengan
lingkungan luar/interaksinya dengan orang lain. Dengan menyadari perasaan
kita sebelum bertemu dengan orang lain kita akan menyadari bahwa kita
mungkin merasa cemas, bahwa nanti kecemasan itu akan membuat kita
berkeringat sangat banyak, sehingga kita perlu mengantisipasinya dengan
membawa saputangan misalnya. Bagi perawat, eksplorasi perasaan merupakan
hal yang perlu dilakukan agar perawat terbuka dan sadar terhadap perasaannya
sehingga dia dapat mengontrol perasaanya agar ia dapat menggunakan dirinya
secara terapeutik
3. Klarifikasi nilai.
Nilai adalah konsep dimana seseorang memiliki standar mengenai hal-hal
yg pantas dilakukan (Stuart&Sundeen, 1995). Klarifikasi nilai perlu dilakukan
karena nilai itu bermacam-macam, dan dari sinilah seorang yang proaktif
mendasarkan pemilihan responnya. Pemilihan respon perlu didasarkan pada
nilai, nilai/standar perilaku yg pantas tersebut bila ditetapkan sebagai prinsip
maka nilai akan menjadi pusat kehidupan.
4. Role model dan rasa tanggung jawab.
Perawat dapat menjadi model apabila perawat tersebut dapat memenuhi
dan memuaskan kehidupan pribadi serta tidak didominasi oleh konflik,
distress atau pengingkaran dan memperlihatkan perkembangan serta adaptasi
yang sehat. Perawat dituntut dapat bertanggung jawab dalam pelaksanaan
asuhan keperawatan berdasarkan kode etik yang ditetapkan.

2.8 PENGERTIAN GAWAT DARURAT


Gawat Darurat adalah keadaan klinis pasien yang membutuhkan tindakan
medis segera guna penyelamatan nyawa dan pencegahan kecacatan lebih lanjut
(UU no 44 tahun 2009). Gawat darurat adalah Suatu keadaan yang terjadinya
mendadak mengakibatkan seseorang atau banyak orang memerlukan penanganan
/ pertolongan segera dalam arti pertolongan secara cermat, tepat dan cepat.
Apabila tidak mendapatkan pertolongan semacam itu maka korban akan mati
atau cacat / kehilangan anggota tubuhnya seumur hidup.

2.9 KONSEP DASAR KEPERAWATAN GAWAT DARURAT


A. Klien Gawat Darurat

13
Pasien yang tiba-tiba berada dalam keadaan gawat atau akan menjadi
gawat dan terancam nyawanya atau anggota badannya (akan menjadi cacat)
bila tidak mendapat pertolongan secepatnya misalnya :sumbatan jalan napas
atau distress napas, luka tusuk dada/perut dengan shock dan sesak, hipotensi /
shock.

B. Pasien Gawat Darurat


Pasien yang tiba-tiba dalam keadaan gawat atau akan menjadi gawat dan
terancam nyawanya dan atau anggota badannya (akan menjadi cacat) bila
tidak mendapatkan pertolongan secepatnya. Bisanya di lambangkan dengan
label merah. Misalnya AMI (Acut Miocart Infac).

C. Pasien Gawat Tidak Darurat


Pasien berada dalam keadaan gawat tetapi tidak memerlukan tindakan
darurat. Bisanya di lambangkan dengan label biru. Misalnya pasien dengan Ca
stadium akhir.

D. Pasien Darurat Tidak Gawat


Pasien akibat musibah yang datang tiba-tiba, tetapi tidak mengancam
nyawa dan anggota badannya. Bisanya di lambangkan dengan label kuning.
Misalnya : pasien Vulnus Lateratum tanpa pendarahan.

E. Pasien Tidak Gawat Tidak Darurat


Pasien yang tidak mengalami kegawatan dan kedaruratan. Bisanya di
lambangkan dengan label hijau. Misalnya : pasien batuk, pilek.

F. Pasien Meninggal
Label hitam ( Pasien sudah meninggal, merupakan prioritas terakhir).
Adapun petugas triage di lakukan oleh dokter atau perawat senior yang
berpengalaman dan petugas triage juga bertanggung jawab dalam
operasi,pengawasan penerimaan pasien dan daerah ruang tunggu.

Selain dari penjelasan di atas di butuhkan pemahaman dampak atau


psikologis pada saat keadaan gawat darurat. Aspek psikologis pada situasi gawat
darurat :

1. Cemas
Cemas sering dialami oleh hampir semua manusia. Perasaan tersebut
ditandai oleh rasa ketakutan, tidak menyenangkan, seringkali disertai oleh
gejala otonomik, seperti nyeri kepala, berkeringat, palpitasi, gelisah, dan
sebagainya. Kumpulan gejala tertentu yang ditemui selama kecemasan
cenderung bervariasi, pada setiap orang tidak sama.

2. Histeris

14
Dalam penggunaan sehari-hari nya histeria menjelaskan akses emosi yang
tidak terkendali. Orang yang "histeris" sering kehilangan kontrol diri karena
ketakutan yang luar biasa karena suatu kejadian atau suatu kondisi.

3. Mudah marah
Hal ini terjadi apabila seseorang dalam kondisi gelisah dan tidak tahu apa
yang harus di perbuat

2.10 KOMUNIKASI DALAM SPGDT (SISTEM PENANGGULANGAN G


AWAT DARURAT TERPADU)
SPGDT (sistem penanggulangan gawat darurat terpadu) adalah suatu sistem
pelayanan penderita gawat darurat yang terdiri dari unsur pelayanan pra rumah
sakit, pelayanan di rumah sakit dan pelayanan antar rumah sakit. Pelayanan
berpedoman pada respon cepat yang menekankan time saving is life saving.
yang melibatkan pelayanan oleh masyarakat awam umum, awam khusus,
petugas medis, pelayanan ambulan gawat darurat dan sistem komunikasi.

 Fase pra rumah sakit

Fase pelayanan pra rumah sakit adalah pelayanan kepada penderita


gawat darurat yang melibatkat masyarakat atau orang awam dan petugas
kesehatan. Pada umunya yang pertama yang menemukan penderita gawat
darurat di tempat musibah adalah masyarakat yang dikenal oleh orang
awam. Oleh karena bermanfaat bila orang awam diberi dan dilatih
pengetahuan dan keterampilan penanggulanganan gawat darurat.
Komunikasi yang dilakukan pada fase pra rumah sakit yaitu dengan
meyakinkan warga bahwa seorang perawat, mengecek kesadaran korban
dengan memanggil nama korban, menghubungi organisasi gawat darurat
terdekat untuk pertolongan lanjut ke rumah sakit.

Contoh : di jalan terjadi kecelakaan kemudian penderita gawat darurat


ditolong masyarakat yang telah mendapatkan pelatihan untuk gawat darurat,
warga tadi menolong penderita gawat darurat mengamankan korban di
tempat yang lebih aman, melakukan pertolongan di tempat kejadian seperti
menolong menghentikan pendarahan, kemudian melaporkan korban ke
organisasi pelayanan kegwatdaruratan terdekat, pengangkutan untuk
pertolongan lanjut dari tempat kejadian ke rumah sakit.

 Fase pelayanan rumah sakit

Fase pelayanan rumah sakit adalah fase pelayanan yang melibatkan


tenagan kesehatan yang dilakukan di dalam rumh sakit seperti pertolongan
di unit gawat darurat. Komunikasi yang dilakukan pada tahap ini sama

15
dengan komunikasi terapeutik, tetapi dalam hal ini tindakan yang cepat dan
tepat lebih utama dilakukan kepada korban.

Contoh : ada korban kecelakaan yang menglami pendarahan masuk ke


UGD, perawat menayakan identitas klien kemudian melakukan pemasangan
infus untuk menganti cairan yang keluar, dengan menjelaskan tujuan
pemasangan infus dengan sigkat dan jelas.

 Pelayanan antar rumah sakit ( rujukan )

Fase pelayanan antar rumah sakit ( rujukan ) adalah fase pelayanan


yang melibatkan petugas kesehatan dengan petugas kesehatan rumah sakit
lain atau rumah sakit satu dengan rumah sakit yang lain sebagai rujukan.
Tindakan ini dilakukan apabila korban membutuhkan penanganan lebih
lanjut tetapi rumah sakit yang pertama tidak bisa memberi pertolongan
sehinga dirujuk ke rumah sakit lain yang bisa menanggani korban tersebut.

Contoh : korban kecelakaan parah di bawa ke salah satu rumah sakit


tetap dirumahsakit tersebut tidak terdapat peralatan yng harus digunakan
segera untuk pertolongan, kemudian rumahsakit tersebut menghubungi
rumah sakit lain yang lebih cepat menangani, setelah itu pasien di kirim ke
rumah sakit yang telah di hubungi tadi.

2.11 TUJUAN KOMUNIKASI PADA GAWAT DARURAT


Fungsi komunikasi terapeutik adalah untuk mendorong dan menganjurkan
kerjasama antar perawat dan klien melalui hubungan perawat dan klien. Perawat
berusaha mengungkap perasaan, mengidentifikasi dan mengkaji masalah serta
mengevaluasi tindakan yang dilakukan dalam perawatan (Purwanto, 1994).
Tujuan komunikasi terapeutik pada klien gawat darurat menciptakan
kepercayaan antara perawat dengan klien yang mengalami kondisi kritis atau
gawat darurat dalam melakakan tindakan, sehingga klien cepat tertolong dan
tidak terjadi hal yang fatal. Upaya pelayanan komunikasi medik untuk
penangguangan penderita gawat darurat pada dasarnya pelayanan komunikasi di
sektor kesehatan terdiri dari:
1. Komunikasi kesehatan
Sistem komunikasi ini digunakan. untuk menunjang pelayanan
kesehatan di bidang administrative.
2. Komunikasi medis
Sistem komunikasi ini digunakan untuk menunjang pelayanan kesehatan
di bidang teknis-medis.
a. Tujuan

Untuk mempermudah dan mempercepat penyampaian dan penerimaan


informasi datam rnenanggulangi penderita gawat darurat.

16
b. Fungsi komunikasi medis dalam penanggulangan penderita gawat darurat
adalah:

1. Untuk memudahkan masyarakat dalam meminta pertolongan kesarana


kesehatan (akses kedalam sistim GD)

2. Untuk mengatur dan membimbing pertolongan medis yang diberikan di


tempat kejadian dan selama perjalanan kesarana kesehatan yang lebih
memadai.

3. Untuk mengatur dan memonitor rujukan penderita gawat darurat dan


puskesmas ke rumah sakit atau antar rumah sakit.

4. Untuk mengkordinir penanganan medik korban bencana.

2.12 FASE-FASE DALAM KOMUNIKASI TERAPEUTIK GAWAT


DARURAT
Fase komunikasi terapeutik terdiri dari 4 fase, yaitu :

1. Fase Pra-Interaksi

Fase pra-interaksi dimulai sebelum kontak pertama dengan klien.


Perawat mengeksplorasi perasaan, fantasi dan ketakutannya sehingga
kesadaran dan kesiapan perawat untuk melakukan hubungan dengan klien
dapat dipertanggungjawabkan. Pra-interaksi :

A. Eksplorasi perasaan, fantasi dan ketakutan sendiri.

B. Analisa kekuatan-kelemahan professional.

C. Dapatkan data tentang klien jika mungkin.

D. Rencanakan pertemuan pertama.

2. Fase Orientasi

Tahap dimana seorang perawat menggali keluhan-keluhan yang


dirasakan oleh klien atau pasien dengan tanda dan gejala yang lain untuk
memperkuat diagnosa keperawatan. Fase orientasi terdiri dari:

A. Pengenalan

B. Persetujuan Komunikasi

C. Program Orientasi yang meliputi :

- Penentuan batas hubungan

17
- Pengidentifikasian masalah

- Mengkaji tingkat kecemasan diri sendiri dan pasien

- Mengkaji apa yang diharapkan

3. Fase Kerja

Fase kerja ini perawat mengimplementasikan rencana keperawatan


yang dibuat pada tahap orientasi, perawat juga membantu klien mengatasi
kecemasan, meningkatan kemandirian dan tanggungjawab diri sendiri.

4. Fase Terminasi

Fase terminasi merupakan fase persiapan mental untuk membuat


perencanaan tentang kesimpulan pengobatan yang telah didapatkan. Dan
juga berfungsi untuk mengantisipasi masalah yang akan timbul. Pada tahap
ini interaksi akan diakhiri.

2.13 PRINSIP KOMUNIKASI GAWAT DARURAT


Ciptakan lingkungan terapeutik dengan menunjukan prilaku dan sikap seperti:

A. Caring ( sikap pengasuhan yang ditunjukan peduli dan selalu ingin


memberikan bantuan)

B. Acceptance (menerima pasien apa adanya)

C. Respect (hormati keyakinan pasien apa adanya)

D. Empaty (merasakan perasaan pasien)

E. Trust (memberi kepercayaan)

F. Integrity (berpegang pada prinsip profesional yang kokoh)

G. Identifikasikan bantuan yang diperlukan

H. Terapkan teknik komunikasi: terfokus, bertanya, dan validasi

I. Bahasa yang mudah dimengerti

J. Pastikan hubungan profesional dimengerti oleh pasien/keluarga

K. Motivasi dan hargai pendapat & respon klien

L. Hindari: menyalahkan, memojokkan, dan memberikan sebutan yang negatif.

18
2.14 TEKNIK KOMUNIKASI GAWAT DARURAT
1. Mendengar aktif
Adalah konsentrasi aktif dan persepsi terhadap pesan orang lain yang
menggunakan semua indra. Menurut Ellis (1994) mendengarkan orang
lain dengan penuh perhatian akan menunjukkan pada orang lain bahwa
apa yang dikatakannya adalah penting dan dia adalah orang penting.
Mendengarkan juga menunjukkan pesan “anda bernilai untuk saya” dan
“saya tertarik padamu”.
2. Mendengar pasif
Adalah kegiatan mendengar dengan kegiatan non verbal untuk klien.
Misalnya dengan kontak mata, menganggukkan kepala dan juga
keikutsertaan secara verbal, misalnya “uh huuh”, ‘mmhumm”, “yeah”.
3. Penerimaan
Adalah mendukung dan menerima informasi dengan tingkah laku yang
menunjukkan ketertarikan dan tidak menilai. Penerimaan bukan berarti
persetujuan. Menunjukkan penerimaan berarti kesediaan mendengar
tanpa menunjukkan keraguan atau ketidaksetujuan. Dikarenakan hal
tersebut, perawat harus sadar terhadap ekspresi non verbal. Bagi perawat
perlu menghindari : memutar mata keatas, menggelengkan kepala,
menurut/memandang dengan muka masam pada saat berinteraksi dengan
klien.
Beberapa cara untuk menunjukkan penerimaan (Potter & Perry,1993) :
a. Mendengar tanpa memotong pembicaraan
b. Menyediakan umpan balik yang menunjukkan pengertian
c. Yakin bahwa tanda non verbal sesuai dengan verbal
d. Hindari mendebat, mengekspresikan keraguan atau usaha untuk
merubah pikiran klien.
Tujuh cara untuk memfasilitasi agar memperoleh kemampuan
“penerimaan” (Bolton cit.Rungapadiachy,1999) :
a. Tidak seorangpun dapat diterima secara sempurna
b. Beberapa orang cenderung lebih diterima daripada orang lain
c. Tingkat penerimaan seseorang terus menerus berganti
d. Adalah sangat alami untuk mempunyai sesuatu yang difavoritkan.

19
e. Setiap orang dapat lebih menerima
f. Penerimaan yang berpura-pura adalah suatu hal yang berbahaya untuk
suatu hubungan interpersonal.
g. Penerimaan tidak sama dengan persetujuan.
Contoh :
Klien :“Saya telah melakukan beberapa kesalahan”
Perawat :“Saya ingin mendengar tentang itu. Tidak apa-apa jika anda
ingin mendiskusikan hal ini dengan saya.”
4. Klarifikasi
Klarifikasi sama denga validasi yaitu menanyakan pada klien apa yang
tidak dimengerti perawat terhadap situasi yang ada.
Misalnya :
Klien :“Saya seperti patung saja disini.”
Perawat :“Mari kita lihat apakah saya mengerti apa yang bapak maksud
dengan “patung”.
5. Focusing
adalah kegiatan komunikasi yang dilakukan untuk membatasi area
diskusi sehingga percakapan menjadi lebih spesifik dan dimengerti
(Stuart & Sundeen, 1995).
6. Observasi
Observasi merupakan kegiatan mengamati klien, kegiatan ini dilakukan
sedemikian rupa sehingga klien tidak menjadi malu atau marah.
7. Menawarkan informasi
Menyediakan tambahan informasi dengan tujuan untuk mendapatkan
respon lebih lanjut. Keuntungan dari tehnik ini adalah akan memfasilitasi
komunikasi, mendorong pendidikan kesehatan dan memfasilitasi klien
untuk mengambil keputusan. Perawat sebaiknya menghindari pemberian
nasehat pada saat pemberian informasi.
8. Diam (memelihara ketenangan)
Diam dilakukan dengan tujuan untuk mengorganisir pemikiran,
memproses informasi, menunjukkan bahwa perawat bersedia untuk
menunggu respon.

20
9. Assertive
Kemampuan dengan secara meyakinkan dan nyaman mengekspresikan
pikiran dan perasaan diri dengan tetap menghargai hak orang lain.
Komunikasi assertive (Smith, 1992) :
a. Mampu menggunakan berbagai strategi komunikasi untuk
mengekspresikan pikiran dan perasaan diri dengan tertentu yang
secara terus menerus melindungi hak diri dan orang lain.
b. Memiliki perilaku yang positif mengenai komunikasi dengan
jujur/terus terang dan adil.
c. Merasa nyaman dalam mengontrol perasaan negatif misalnya cemas,
tegang, malu atau takut.
d. Merasa yakin bahwa anda dapat melakukan sendiri dengan jalan
tetap menghormati diri dan orang lain.
e. Menjaga hak diri dan orang lain sama pentingnya.
Tahap – tahap menjadi lebih assertive :
a. Menggunakan kata “tidak” sesuai kebutuhan
b. Mengkomunikasikan maksud dengan jelas
c. Mengembangkan kemampuan mendengar
d. Pengungkapan komunikasi disertai bahasa tubuh yang tepat
e. Meningkatkan kepercayaan diri dan gambaran diri
f. Menerima kritik dengan ramah
g. Belajar terus menerus
10. Menyimpulkan
a. Membawa poin – poin penting dari diskusi untuk meningkatkan
pemahaman
b. Memberi kesempatan untuk mengklarifikasi komunikasi agar sama
dengan ide dalam pikiran (Varcarolis,1990)
11. Giving recognition (memberi pengakuan/penghargaan.
Memberi penghargaan merupakan tehnik untuk memberikan pengakuan
dan menandakan kesadaran (Schult & Videbeck,1998).
Misalnya, Perawat : “Saya melihat anda sudah bisa memakai baju
dengan rapi hari ini”, “Saya melihat anda tampak segar dan bersih hari
ini”.

21
12. Offering self (menawarkan diri)
adalah menyediakan diri tanpa respon bersyarat atau respon yang
diharapkan (Schult Videbeck,1998).
Misalnya, Perawat : “Aku akan duduk menemanimu selama 15 menit.”
13. Offering general leads (memberi petunjuk umum)
Mendukung klien untuk meneruskan (Schult & Videbeck,1998).
Misalnya : “Dan kemudian?”, “Teruskan…”.
14. Giving broad opening (memberi pertanyaan terbuka)
Memberikan inisiatif pada klien, mendorong klien untuk menyeleksi
topik yang akan dibicarakan.
Misalnya : “Darimana anda akan mulai?”Apa yang anda pikirkan pagi
ini?”. Kegiatan ini akan bernilai apabila klien menunjukkan penerimaan
dan nilai dari inisiatif klien dan akan menjadi non terapeutik apabila
perawat mendominasi interaksi dan menolak respon klien.
15. Placing the time in time (menempatkan urutan/waktu)
Melakukan klarifikasi antara waktu dan kejadian atau antara satu
kejadian dengan kejadian lain (Schult & Videbeck,1998). Misalnya :
“Hal itu terjadi sebelum atau sesudah?…Apa yang terjadi sebelumnya?”.
16. Encourage descrip. of perception (mendukung deskripsi dari persepsi)
Meminta pada klien mengungkapkan secara verbal apa yang dirasakan
atau diterima (Schult & Videbeck,1998). Misalnya : “Apa yang
terjadi?Ceritakan apa yang anda alami?”
17. Encourage comparison (mendukung perbandingan)
Menanyakan pada klien mengenai kesamaan atau perbedaan (Schult &
Videbeck, 1998). Misalnya: “Apakah hai ini pernah terjadi sebelumnya?
Apakah hal ini mengingatkanmu pada sesuatu hal?”
18. Restating (mengulang)
Pengulangan pikiran utama yang diekspresikan klien (Stuart & Sundeen,
1995). Misalnya: “Anda berkata bahwa ibu Anda meninggalkan Anda
saat Anda berumur 5 tahun”. Teknik ini bernilai terapeutik ditandai
dengan perawat mendengar dan melakukan validasi, mendukung klien
dan memberikan perhatian terhadap apa yang baru saja dikatakan klien.
Teknik ini juga bisa digunakan pada saat kita akan klarifikasi, misalnya :

22
Klien: “Saya benci tempat ini. Saya tidak betah di sini!” Perawat: “Anda
tidak ingin ada di sini?”
19. Reflecting (refleksi)
Mengembalikan pikiran dan perasaan klien (Schult & Videbeck, 1998).
Mengembalikan ide, perasaan dan pertanyaan kepada klien (Stuart &
Sundeen, 1995). Digunakan pada saat klien menanyakan pada perawat
tentang penilaian atau persetujuan. Misalnya: Klien: “haruskah saya
pulang akhir minggu ini?” Perawat: “menurut Anda haruskah Anda
pulang akhir minggu ini?”
20. Exploring (eksplorasi)
Mempelajari suatu topik lebih mendalam. Misalnya: “ceritakan pada
tentang apa yang telah Anda gambarkan tadi”.
21. Presenting reality (menghadirkan realitas/ kenyataan)
Menyediakan informasi dengan perilaku yang tidak menilai. Misalnya:
“Saya tidak mendengar seorang pun bicara”, “Saya adalah yang merawat
Anda”, “Ini adalah rumah sakit”.
22. Voucing doubt (menyelipkan keraguan)
Menyelipkan persepsi perawat mengenai realitas. Misalnya: “Saya
melihat bahwa hal itu sulit untuk dipercaya.” Teknik ini digunakan pada
saat perawat ingin member petunjuk pada klien mengenai penjelasan
lain.

23
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Komunikasi yang dilakukan kepada pasien yang dalam kondisi gawat
darurat yaitu dengan komunikasi seperti komunikasi terapiotik lain, tetapi dalam
hal ini yang lebih di utamakan dalam mengatasi gawat darurat adalah tindakan
yang akan diberikan kepada pasien harus lebih cepat dan tepat. Komunikasi
terapeutik yang dilakukan pada keadaan gawat darurat juga juga perlu untuk
memperhatika prinsip dan teknik untuk mencapai tujuan dari komunikasi dalam
keadaan gawat darurat..

3.2 Saran
Diharapkan kita sebagai calon perawat bisa professional dalam melakukan
komunikasi terapeutik pada saat dilapangan. Sehingga pasien yang kita tangani
merasa nyaman saat kita rawat.

24
DAFTAR PUSTAKA

http://download.portalgaruda.org/article.php?article=4797&val=434

http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2009/01/komunikasi_terapeutik.pdf

Devito,Joseph. 1997. Komunikasi Antar manusia. Jakarta : Professional Book.

Djuarsa, sasa. 1994. Teori Komunikasi. Jakarta : Universitas Terbuka

Effendy, Onong. 2000. Ilmu Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung :

PT.Rosdakarya

Farouk.2004. Praktik Ilmu Komunikasi. Teraju

25