Anda di halaman 1dari 6

PERKEMBANGAN DAN TINDAKAN PREVENTIF TERJADINYA

GANGGUAN JIWA PADA LANSIA

Disusun oleh :

Alma Triana (032016038)

Hanifa Nur Afifah (032016045)

Utari Ayunda Oktariani (032016053)

Fakhri Agustyosa (032016054)

Astri Nurul Siti Patimah (032016056)

Findi Putra Abdi (032016065)

Sintia Nursafitri (032016066)

Lany Fauziah (032016067)

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN

STIKES ‘AISYIYAH BANDUNG

2017/2018
A. PENGERTIAN LANSIA
Lansia adalah seseorang yang telah memasuki usia 60 tahun ke atas.
Lansia merupakan kelompok umur pada manusia yang telah memasuki
tahapan akhir dari fase kehidupannya (WHO).
Menurut UU No 13 tahun 1998, lansia adalah seseorang yang
mencapai usia 60 tahun ke atas.
Pengertian lansia menurut Smith (1999), lansia terbagi menjadi tiga,
yaitu: Young old (65—74), middle old (75-84), dan old (lebih dari 85 tahun).

B. PERKEMBANGAN PSIKOLOGIS, EMOSI DAN SOSIAL PADA


LANSIA
1. Perkembangan Psikologis
Perubahan psikologis pada lansia meliputi short term memory,
frustasi, kesepian, takut kehilangan kebebasan, takut menghadapi
kematian, perubahan keinginan, depresi, dan kecemasan. Dalam
psikologi perkembangan, lansia dan perubahan yang dialaminya akibat
proses penuaan.
Masalah umum yang sering dialami oleh lansia.
a. Keadaan fisik lemah dan tak berdaya, sehingga harus bergantung
pada orang lain.
b. Status ekonominya sangat terancam, sehingga cukup beralasan
untuk melakukan berbagai perubahan besar dalam pola
hidupnya.
c. Menentukan kondisi hidup yang sesuai dengan perubahan status
ekonomi dan kondisi fisik.
d. Mencari teman baru untuk menggantikan suami atau istri yang
telah meninggal atau pergi jauh dan atau cacat.
e. Mengembangkan kegiatan baru untuk mengisi waktu luang yang
semakin bertambah.
f. Belajar untuk memperlakukan anak yang sudah besar sebagai
orang dewasa.
g. Mulai terlibat dalam kegiatan masyarakat yang secara khusus
direncanakan untuk orang dewasa.
h. Mulai merasakan kebahagiaan dari kegiatan yang sesuai untuk
lansia dan memiliki kemauan untuk mengganti kegiatan lama
yang berat dengan yang lebih cocok.
i. Menjadi sasaran atau dimanfaatkan oleh para penjual obat,
buaya darat, dan kriminalitas karena mereka tidak sanggup lagi
untuk mempertahankan diri.

2. Perkembangan Emosi
Kehilangan adalah hal yang menonjol yang menandai pengalaman
emosional pada lanjut usia. Seorang lanjut usia harus menghadapi
kesedihan akibat berbagai kehilangan ( kematian pasangan, teman,
keluarga, dan rekan kerja), perubahan status pekerjaan, dan prestasi, dan
menurunnya kemampuan fisik dan kesehatan. Mereka menggunakan
sejumlah besar energi emosional dan fisik dalam berdukacita,
menghilangkan kesedihan, dan beradaptasi dengan perubahan yang
diakibatkan kehilangan tersebut. Hidup sendirian adalah suatu stres
besar yang mempengaruhi kira-kira 10% lanjut usia. Lebih dari 75%
dari semua orang lanjut usia yang hidup sendirian adalah wanita.
Depresi adalah suatu respon maladaptif terhadap kehilangan yang
pada orang lansia dapat menyerupai demensia senilis. Disamping itu
tandanya gangguan nafsu makan dan tidur, hilangnya minat terhadap
peristiwa luar, pikiran bahawa kehidupan adalah tidak berguna. Orang
lansia menunjukkan gangguan ingatan, kesulitan konsentrasi,
pertimbangan yang buruk, dan mudah marah.

3. Perkembangan Sosial
Orang lansia yang sehat biasanya mempertahankan suatu tingkat
aktifitas sosial yang hanya sedikit berubah dari tahun-tahun lebih awal.
Bagi kebanyakan orang, usia lanjut adalah suatu periode pertumbuhan
intelektual, emosional, dan psikologi yang continu. Tetapi, pada
beberapa kasus, penyakit fisik atau kematian teman dan sanak saudara
dapat mengganggu interaksi sosial yang continu. Selain itu, saat
seeorang mengalami peningkatan perasaan isolasi, mereka mungkin
menjadi rentan terhadap depresi. Bukti-bukti ysng bertambah
menyatakan bahwa mempertahankan aktivitas sosial adalah bermanfaat
untuk kesehatan fisik dan emosional. Kontak dengan orang yang lebih
muda juga penting karena orang lanjut usia dapat melalui nilai kultural
dan dapat memberikan pelayanan perawatan pada generasi yang lebih
muda dan dengan demikian mempertahankan rasa kebergunaan yang
berperan dalam harga diri.

C. TINDAKAN PREVENTIF KEPERAWATAN GANGGUAN JIWA


PADA LANSIA
1. Pengkajian
a. Faktor resiko
1) Umur
Menurut marini 2008 umur lansia yang berusia diatas 70 tahun
lebih beresiko mengalami gangguan mental emosional yang
lebih disebabkan oleh faktor biologi yaitu perubahan pada sistem
saraf pusat
2) Jenis kelamin
Wanita lebih rentan terkena gangguan mental emosional karena
disebabkan perubahan hormonal dan perbedaan karakteristik
dimana karakteristik wanita lebih mengedepankan emosional
daripada rasional.
3) Status perkawinan
Gangguan mental emosional lebih banyak terjadi pada lansia
yang hidup sendiri baik karena bercerai atau karena tidak
menikah.
4) Tingkat pendidikan
Pendidikan rendah dihubungkan rendah dengan meningkatnya
risiko untuk terjadinya dimensia dan depresi.
5) Status pekerjaan
Setelah pensiun beberapa orang ada yang tidak dapat
menyesuaikan diri dengan waktu luangnya dan selalu
mengalami waktu yang panjang. Individu harus membentuk
identitas baru pada saat pensiun.
6) Status ekonomi
Semakin tinggi sumber ekonomi keluarga akan mendukung
stabilitas dan kebahagiaan keluarga
7) Religi
Usia lanjut yang non religius biasanya kurang tabah, dan kurang
mampu mengatasi stres dibandingkan usia lanjut yang religius.
8) Riwayat gangguan jiwa
Berdasarkan teori neurologi dan adanya faktor konstitusi
mennjukan faktor genetik dapat berperan dalam kemungkinan
terjadinya gangguan depresi (Maramis,2009)
9) Dukungan sosial berkurang
b. Faktor protektif
1) Perawatan medik yang optimal
2) Mekanisme koping yang positif
3) Dukungan sosial yang baik

2. Perencanaan
Perencanaan untuk pencegahan gangguan kesehatan jiwa pada lansia:
a. Mengadakan kegiatan senam lansia setiap hari minggu
b. Mengadakan siraman rohani setiap hari jumat
c. Membuka industri rumahan yang melibatkan lansia didalamnya.
3. Implementasi
a. Bekerjasama dengan puskesmas setempat untuk mengadakan senam
lansia di setiap hari minggu. Sebagaimana yang kita tahu manfaat
dari senam lansia yaitu bisa memberi perasaan santai, mengurangi
ketegangan dan kecemasan, meningkatkan perasaan senang,
meningkatkan fungsi kognitif, dan meningkatkan kesehatan jiwa.
Instruktur dari senam lansia itu sendiri yaitu dari anggota lansia itu
sendiri dimana tiap minggu nya bergantian.
b. Bekerjasama dengan tokoh agama untuk mengadakan siraman
rohani setiap hari jumat. Dimana manfaaat dari siraman rohani itu
sendiri adalah bisa membuat lansia tabah, instropeksi diri, membuat
lebih tenang dan bisa mengatasi stress yang dialami oleh lansia itu
sendiri.
c. Bekerjasama dengan ibu-ibu PKK setempat untuk membuka
industri rumahan seperti memasak makanan khas dari daerah itu
sendiri, membatik, merajut dengan melibatkan lansia-lansia
setempat. Dimana manfaat dari kegiatan tersebut dapat mengatasi
kejenuhan disaat tidak ada aktivitas dirumah.

4. Evaluasi
Setelah dilakukan implementasi lansia-lansia setempat menjadi lebih
banyak melakukan kegiatan-kegiatan yang positif sehingga hal tersebut
dapat mengurangi kejenuhan, kejenuhan tersebut dapat memicu adanya
pikiran-pikiran yang dapat membuat para lansia menjadi stress dan
adanya emosional yang tinggi. Kreativitas dan produktivitas dari para
lansia tersebut dapat meningkat, dengan begitu lansia-lansia setempat
menjadi lebih bisa mengatasi stress yang ada pada dirinya dan dapat
meningkatkan harga diri dari lansia tersebut.