Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Belajar dapat diartikan sebagai aktifitas mental atau ( psikhis ) yang terjadi
karena adanya interaksi aktif antara ndividu dengan lingkungannya yang menghasilkan
perubahan-perubahan yang bersifat relativ tetap dalam aspek-aspek : kognitif,
psikomotor dan afektif. Perubahan tersebut dapat berubah sesuatu yang sama sekali
baru atau penyempurnaan / penigkatan dari hasil belajar yang telah di peroleh
sebelumnya. pembelajaran adalah upaya yang dilakukan untuk membantu seseorang
atau sekelompok orang sedemikian rupa dengan maksud supaya di samping tercipta
proses belajar juga sekaligus supaya proses belajar menjadi lebih efesien dan efektif.
Itulah sebabnya Darsono, 2000: 24 mengemukakan bahwa pengertian pembelajaran
dapat dimaknai sebagai suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa,
sehingga tingkah laku peserta didik berubah ke arah yang lebih baik.
Tujuan pembelajaran pada hakikatnya akan membentuk manusia yang mampu
bersaing di dunia global, sehingga sebagai guru sejak di sekolah tingkat dasar sudah
harus memiliki kemampuan untuk mempersiapkan peserta didiknya ke arah sana. Tentu
saja dengan cara yang disesuaikan dengan usianya. Penentuan strategi bembelajaran
merupakan penerapan dari azas-azas pembelajaran. Azas pembelajaran ditentukan
berdasarkan prinsip-prinsip belajar. Atau dapat dikatakan bahwa azas pembelajaran
merupakan implikasi prinsip-prinsip belajar bagi guru. Untuk mendasari strategi
pembelajaran maka perlu dibahas teori-teori belajar yang akan mendasari penerapan
strategi pembelajaran. Secara garis besar teori belajar menurut Gredler (1991) dapat
dibedakan menjadi 3 yaitu: (1) Conditioning theory, (2) Connection theories, (3)
Insightful Learning.
Teori belajar-teori belajar yang telah ditemukan akan digunakan dalam konteks
pembelajaran. Kecenderungan penggunaan teori-teori belajar akan menghasilkan
pandangan atau paradigma pembelajaran yang digunakan.

1|I n t er a k si d a n S t r a t eg i B el a j a r M en g a j a r
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian Belajar dan Pembelajaran ?
2. Apa Saja Prinsip-Prinsip Belajar dalam Pencapaian Tujuan Pembelajaran ?
3. Apa Saja Klasifikasi Teori Belajar dalam Pembelajaran ?
4. Bagaimana Proses Paradigma Pembelajaran ?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui Pengertian Belajar dan Pembelajaran
2. Mengetahui Saja Prinsip-Prinsip Belajar dalam Pencapaian Tujuan Pembelajaran
3. Mengetahui Saja Klasifikasi Teori Belajar dalam Pembelajaran
4. Mengetahui Proses Paradigma Pembelajaran

2|I n t er a k si d a n S t r a t eg i B el a j a r M en g a j a r
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN BELAJAR DAN PEMBELAJARAN


2.1.1 Pengertian Belajar
Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri
seseorang. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai
bentuk seperti perubahan pengetahuannya, pemahamannya, sikap dan tingkah lakunya,
keterampilannya, kecakapan dan kemampuannya, daya reaksinya, daya penerimaannya
dan lain-lain aspek yang ada pada individu.
Menurut Pada Ahli :
1. Torndike
Mengemukakan teorinya bahwa: “Belajar adalah proses interaksi antara stimulus
(yang mungkin berupa pikiran, perasaan atau gerakan) dan respon (yang juga bisa
berupa pikiran, perasan atau gerakan).” Ini menunjukkan bahwa belajar dapat
dilakukan di mana saja dan kapanpun serta siapapun oleh mereka yang memiliki
kemampuan menangkap stimulus. Maksudnya ialah memiliki akal untuk berfikir
dan indra yang digunakan untuk menangkap stimulus.
2. Menurut james O. Whittaker (Djamarah, Syaiful Bahri , Psikologi Belajar;
Rineka Cipta; 1999)
Belajar adalah suatu proses dimana perilaku yang dihasilkan atau dimodifikasi
melalui pelatihan atau pengalaman.
3. Winkel
Belajar adalah aktivitas mental atau psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif
dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan,
pemahaman, keterampilan, nilai dan sikap.

2.1.2 Pengertian Pembelajaran


Menurut Para Ahli :
1. Munif Chatib
Pembelajaran merupakan proses tranfer ilmu dua arah, antara guru sebagai pemberi
informasi dan siswa sebagai penerima informasi.

3|I n t er a k si d a n S t r a t eg i B el a j a r M en g a j a r
2. Menurut Warsita
Pembelajaran merupakan suatau usaha untuk membuat peserta didik belajar atau
suatu kegiatan untuk membelajarkan peserta didik.
3. Menurut Corey
Pembelajaran merupakan suatu proses dimana lingkungan seseorang secara
disengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkat laku tertentu
dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respons terhadap situasi tertentu,
pembelajaran merupakan subset khusus dari pendidikan.
4. Menurut Sudjana
Pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap upaya yang sistematik dan sengaja
untuk menciptakan agar terjadi kegiatan interaksi edukatif antara dua pihak yaitu
antara peserta didik “warga belajar” dan pendidik “sumber belajar” yang melakukan
kegiatan membelajarkan.

Belajar merupakan aktivitas yang dilakukan sesorang atau peserta didik secara
pribadi dan sepihak. Sementara pembelajaran itu melibatkan dua pihak yaitu guru dan
peserta didik yang di dalamnya mengandung dua unsur sekaligus yaitu mengajar dan
belajar (teaching and learning). Jadi pembelajaran telah mencakup belajar. Istilah
pembelajaran merupakan perubahan istilah yang sebelumnya dikenal dengan istilah
proses belajar mengajar (PBM) atau kegiatan belajar mengajar (KBM).

Belajar Pembelajaran merupakan terjemahan dari kata instruction yang dalam


bahasa yunani disebut instructus atau intruere yang berarti menyampaikan pikiran,
dengan demikian arti instruksional adalah menyampaikan pikiran atau ide yang telah
diolah secara bermakna melalui pembelajaran.

4|I n t er a k si d a n S t r a t eg i B el a j a r M en g a j a r
2.2 PRINSIP-PRINSIP BELAJAR DALAM PENCAPAIAN TUJUAN
PEMBELAJARAN
Untuk menciptakan dan menghasilkan kegiatan belajar dan pembelajaran yang
berprestatif dan menyenangkan, perlu diketahui berbagai landasan yakni prinsip-
prinsip maupun teori belajar. Prinsip ini dijadikan sebagai dasar dalam upaya
pembelajaran, baik bagi siswa maupun bagi guru dalam upaya mencapai hasil yang
diinginkan
Prinsip adalah sesuatu yang dipegang sebagai panutan yang utama dan menjadi
dasar dalam upaya pembelajaran, baik bagi siswa maupun bagi guru dalam upaya
mencapai hasil yang diinginkan agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan
baik antara pendidik dan peserta didik. Belajar adalah suatu proses perubahan perilaku
dari kita yang tidak tahu apa-apa menjadi tahu. Belajar bukan suatu penguasaan latihan
melainkan perubahaan kelakuan, kegiatan belajar dapat dialami oleh orang yang sedang
belajar dan juga diamati oleh orang lain. Dan untuk menghasilkan perubahan tingkah
laku baik dalam pengetahuan, sikap, keterampilan, dan nilai sebagai hasil interaksinya
dengan lingkungan untuk mencapai tujuan tertentu. Prinsip Belajar adalah suatu
hubungan yang terjadi antara peserta didik dengan pendidik agar siswa mendapat
motivasi belajar yang berguna bagi dirinya sendiri. Dan juga, prinsip belajar dapat
digunakan sebagai landasan berfikir, landasan berpijak, dan sumber motivasi agar
Proses Belajar dan Pembelajaran dapat berjalan dengan baik antara pendidik dan
peserta didik.
Tujuan pembelajaran pada hakikatnya akan membentuk manusia yang mampu
bersaing di dunia global. Sumber daya manusia yang mampu bersaing memasuki dunia
global adalah manusia yang benar-benar unggul.
Berikut ini adalah contoh prinsip-prinspnya:
1. Prinsip Kesiapan (Readiness)
Yang dimaksud dengan prinsip kesiapan yaitu proses yang dipengaruhi
kesiapan siswa atau kondisi siswa yang memungkinkan ia dapat belajar. Proses
belajar dipengaruhi oleh kesiapan peserta didik. Yang dimaksud dengan kesiapan
atau readiness adalah kondisi individu yang memungkinkan ia dapat belajar.
Seorang siswa yang belum siap untuk melaksanakan suatu tugas dalam belajar akan
mengalami kesulitan untuk menguasai kemampuan yang diharapkan. Yang
termasuk kesiapan adalah kematangan dan pertumbuhan fisik, intelegensi, latar
belakang, pengalaman, hasil belajar yang lalu, dan faktor-faktor lain yang
5|I n t er a k si d a n S t r a t eg i B el a j a r M en g a j a r
memungkinkan seseorang dapat belajar. Berikut ini beberapa hal yang berkaitan
dengan kesiapan, yang perlu diperhatikan oleh pendidik dalam melaksanakan
pembelajaran.
a. Seorang individu akan dapat belajar dengan baik apabila tugas-tugas yang
diberikan kepadanya erat hubungannya dengan kemampuan, minat, dan latar
belakangnya.
b. Kesiapan belajar harus dikaji bukan diduga. Hal ini mengandung arti bahwa
apabila seorang guru ingin mendapat gambaran kesiapan siswanya untuk
mempelajari sesuatu, ia harus melakukan pengetesan kesiapan.
c. Jika seorang individu kurang memiliki kesiapan untuk suatu tugas, tugas itu
akan ditunda sampai individu tersebut memiliki kesiapan untuk melaksanakan
tugas.
d. Bahan-bahan, kegiatan dan tugas, seharusnya divariasikan sesuai dengan faktor
kesiapan individu.
Berkaitan dengan prinsip kesiapan dalam belajar, dalam memulai kegiatan
pembelajaran peserta didik hendaknya memberikan apersepsi. Apersepsi berfungsi
mempersiapkan kondisi belajar pada peserta didik. Melalui apersepsi pendidik
dapat menciptakan suasana siap mental peserta didik untuk mengikuti
pembelajaran. Kegiatan yang dapat dilakukan pendidik dalam menyiapkan peserta
didik untuk belajar, diantaranya adalah:
a. Mengaitkan materi yang dipelajari dengan materi yang telah dikuasai siswa.
b. Memulai pembelajaran dari hal-hal yang telah dikenal atau dikuasai siswa.

2. Prinsip Motivasi (Motivation)


Motivasi adalah suatu kondisi atau keadaan dari peserta didik untuk mengatur
arah kegiatan dan memelihara kondisi tersebut. Tujuan dalam belajar diperlukan
untuk proses yang terarah. Motivasi belajar adalah suatu kondisi belajar untuk
memprakarsai kegiatan belajar, mengatur arah kegiatan untuk memelihara
kesungguhan dalam belajar. Yang perlu di perhatikan dalam pengembangan proses
belajar :
a. Individu bukan hanya didorong oleh kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan
biologis, sosial dan emosional.
b. Pengetauan tentang kemajuan yang dicapai dalam memenuhi tujuan mendorong
terjadinya peningkatan usaha.
6|I n t er a k si d a n S t r a t eg i B el a j a r M en g a j a r
c. Rasa aman dan keberhasilan dalam mencapai tujuan cenderung meningkatkan
motivasi belajar.
d. Berkenaan dengan prinsip motivasi, dalam memebantu peserta didik belajar,
pendidik hedaknnya mengembangkan kegiatan pembelajaran yang menarik dan
mempelihara perhatian peserta didik serta sesuai kebutuhan dan minat peserta
didik.
e. Proses pembelajaran yang efektif, yaitu pembelajaran yang memotivasi peserta
didik akan memungkinkan penyesuaian optimal dan memberikan pengalaman
yang berharga baik bagi peserta didik maupun bagi pendidik.

3. Prinsip Persepsi
Prinsip Persepsi adalah interpertasi tentang situasi yang hidup dan dipengaruhi
oleh perilaku individu itu sendiri. Setiap individu dapat melihat dunia dengan
caranya sendiri yang berbeda dari yang lain. Persepsi ini mempengaruhi perilaku
individu. Siswa yang mempunyai presepsi positif terhadap kegiatan belajar dan
dirinya,mereka akan senang dan sungguh-sungguh belajar. Berkenaan dengan
prinsip prepsi ini, berikut ini beberapa hal penting yang harus diperhatikan:
a. Persepsi siswa terhadap sesuatu di pengaruhi oleh faktor lingkungan dimana
siswa berada.
b. Cara seorang melihat dirinya berpengaruh terhadap perilakunya. Dalam suatu
situasi seorang siswa cenderung bertindak sesuai dengan cara ia melihat dirinya
sendiri.
c. Untuk membentuk presepsi yang tepat, siswa dapat dibantu dengan cara
memberi kesempatan kepada mereka untuk menilai dirinya sendiri. Perilaku
yang baik tergantung pada persepsi yang cermat dan nyata mengenai suatu
situasi.
d. Kecermatan persepsi harus sering dicek. Diskusi kelompok dapat dijadikan
sarana untuk mengklarifikasi persepsi mereka.
e. Tingkat pertumbuhan dan perkembangan siswa akan mempengaruhi
pandangannya terhadap dirinya.
f. Dalam menumbuhkan persepsi yang positif baik terhadap dirinya maupun
terhadap kegiatan belajar, guru hendaknya : Menciptakan iklim kelas yang
menyenangkan dan aman sehingga siswa merasa senang dalam belajar,
mengorganisasi materi pelajaran dengan memperhatikan tingkat kesulitan untuk
7|I n t er a k si d a n S t r a t eg i B el a j a r M en g a j a r
memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencapai keberhasilan dalam
belajar, elaksanakan kegiatan pembelajaran yang menarik sehingga siswa
merasa senang dalam melaksanakan tugas belajar yang diberikan.

4. Prinsip Tujuan
Tujuan adalah sasaran khusus yang hendak dicapai oleh seseorang. Tujuan
harus tergambar jelas dalam pikiran dan diterima oleh siswa pada saat proses belajar
terjadi. Mengenai tujuan ini ada beberapa individu yang perlu diperhatikan:
a. Tujuan seharusnya mewadahi kemampuan yang harus dicapai.
b. Penetapan tujuan seharusnya mempertimbangkan kebutuhan individu dan
masyrakat.
c. Siswa akan dapat menerima tujuan yang dirasakan memenuhi kebutuhannya.
d. Tujuan guru dan siswa seharusnya sama atau sesuai.
e. Aturan-aturan yang ditetapkan oleh masyarakat dan pemerintah biasanya akan
mempengaruhi perilaku.
f. Tingkat keterlibatan siswa mempengaruhi tujuan yang direncanakan dan yang
hasil yang dapat dicapai.
g. Perasaan siswa mengenai manfaat dan kemampuannya dapat mempengaruhi
perilaku.
h. Tujuan harus dirumuskan dengan jelas dan dapat diterima oleh siswa.
i. Berkaitan dengan prinsip tujuan ini, untuk membantu siswa berhasil dalam
belajarnya, guru hendaknya merumuskan tujuan dengan memperhatikan minat
dan kebutuhan siswa. Apabila siswa melihat kesesuaian antara minat dan
kebutuhannya dengan tujuan yang dirumuskan, motivasi belajar mereka akan
meningkat.

5. Prinsip Perbedaan Individual


Proses pengajaran semestinya memperhatikan perbedaan individual dalam
kelas dan dapat memberi kemudahan pencapaian tujuan belajar setinggi-tingginya.
Pengajaran yang hanya memperhatikan satu tingkat sasaran akan gagal memenuhi
kebutuhan seluruh siswa.
Berkaitan dengan perbedaan individual dalam proses belajar, ada beberapa hal
yang perlu diingat:

8|I n t er a k si d a n S t r a t eg i B el a j a r M en g a j a r
a. Para siswa harus dapat dibantu untuk memahami kekuatan dan kelemahan
dirinya dan selanjutnya mendapat perlakuan dan pelayanan sesuai dengan
kebutuhan yang berbeda-beda.
b. Para siswa perlu mengenal potensinya dan seharusnya dibantu untuk
merencanakan dan melaksanakan kegiatannya sendiri.
c. Para siswa membutuhkan variasi tugas, bahan, dan metode yang sesuai dengan
tujuan, minat, dan latar belakangnya.
d. Siswa cenderung memilih pengalaman belajar yang sesuai dengan pengalaman
masa lalunya yang ia rasakan berarti.
e. Kesempatan-kesempatan yang tersedia untuk belajar dapat lebih diperkuat
apabila individu tidak merasa terancam lingkungannya, sehingga ia merasa
bebas untuk turut ambil bagian secara aktif dalam kegiatan belajar.
f. Siswa yang didorong untuk mengembangkan kekuatannya akan mau belajar
lebih giat dan sungguh-sungguh.

6. Prinsip Transfer dan Retensi


Belajar yang dapat dianggap bermanfaat bila seseorang itu dapat menyimpan
dan menerapkan hasil belajar dalam situasi baru dan pada akhirnya dapat digunakan
dalam situasi yang lain. Proses itulah yang disebut dengan Proses Transfer.
Sedangkan yang dimaksud dengan Retensi adalah kemampuan sesesorang untuk
menggunakan lagi hasil belajar. Dalam proses belajar, seseorang dituntut untuk
menyerap dan menyimpan hasil belajar (retensi) serta menggunakannya dalam
situasi baru (transfer). Berhubungan dengan proses transfer dan retensi, ada
beberapa prinsip yang haru diperhatikan :
a. Tujuan belajar dan daya ingat dapat memperkuat retensi.
b. Materi yang bermakna bagi siswa dapat diserap lebih baik.
c. Retensi seseorang dipengaruhi oleh kondisi fisik dan psikis.
d. Latihan yang terbagi dalam unit-unit akan memungkinkan retensi yang baik.
e. Proses belajar cenderung terjadi bila kegiatan-kegiatan yang dilakukan dapat
memberikan hasil yang memuaskan.
f. Sikap pribadi, perasaan, atau suasana emosi siswa dapat menyebabkan proses
pelupaan pada hal-hal tertentu.

9|I n t er a k si d a n S t r a t eg i B el a j a r M en g a j a r
7. Prinsip Belajar Kognitif
Belajar kognitif mencakup asosiasi antar unsur, pembentukan konsep,
penemuan masalah, dan keterampilan memecahkan masalah yang selanjutnya
membentuk perilaku baru, berpikir, menalar, menilai dan berimajinasi. Dalam
prinsi ini akan melibatkan proses pengenalan dan penemuan. Belajar kognitif
melibatakan proses pengenalan dan atau penemuan. Belajar kognitif mencakup
asosiasi antar-unsur, pembentukan konsep, penemuan masalah, dan keterampilan
memecahkan masalah. Bebrapa hal yang perlu diperhatikan dalam belajar kognitif
adalah :
a. Perhatian harus di pusatakan kepada aspek-aspek lingkungan yang relevan
sebelum proses belajar kognitif terjadi.
b. Hasil belajar kognitif akan bervariasi sesuai dengan taraf dan jenis perbedaan
individu yang ada.
c. Perbendaharaan kata, kemampuan membaca, kecakapan, dan pengalaman,
berpengaruh langsung terhadap proses belajar kognitif.
d. Bila menyajikan konsep, kebermaknakan dari konsep amatlah penting.
Kegiatan mencari, menerapkan, mendefinisikan, dan menilai sangatlah di
perlukan untuk menguji bahwa suatu konsep benar-benar bermakna.
e. Dalam pemecahan masalah para siswa harus di bantu untuk mendifinisikan, dan
membatasi linkup masalah, menemukan informasi yang sesuai, menasirkan dan
menganalisis masalah serta memungkinkan berfikir menyebar.
Untuk membantu siswa berhasil dalam proses belajar kognitif, guru
hendaknya :
a. Mempertimbangkan latar belakang dan lingkungan siswa dalam merancang dan
melaksanakan pembelajaran.
b. Mengaitkan materi yang di pelajari dengan hal-hal yang pernah, sedang, dan
akan di alami siswa baik di sekolah maupun di luar sekolah.
c. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menerapkan pengetahuan yang
diperoleh dalam memecahkan suatu permasalahan.

8. Prinsip Belajar Afektif


Belajar Afektif akan mencakup beberapa unsur yaitu nilai emosi, dorongan,
minat dan sikap. Prinsip belajar afektif seseorang akan menemukan bagaimana ia
menghubungkan dirinya dengan pengalaman baru. Proses belajar afektif seseorang
10 | I n t e r a k s i d a n S t r a t e g i B e l a j a r M e n g a j a r
menentukan bagaimana ia menghubungkan dirinya dengan pengalaman baru.
Belajar afektif mencakup nilai, emosi, dorongan, minat, dan sikap. Berkenaan
dengan proses belajar afekti ini, guru hendaknya melaksanakan pembelajaran yang
memungkinkan terbentuknya kemampuan afektif siswa, seperti : kegiatan yang
mempersyaratkan siswa bekerja sama, memecahkan masalah secara mandiri.

9. Prinsip Belajar Evaluasi


Belajar evaluasi dapat mempengaruhi proses belajar saat ini dan selanjutnya
pelaksanaan pelatihan evaluasi memungkinkan bagi individu untuk menguji
kemajuan dalam pencapaian tujuan. Evaluasi merupakan kegiatan untuk
mengetahui tingkat ketercapaian tujuan. Berkaitan dengan prinsip evaluasi, guru
hendaknya melaksanakan kegiatan evaluasi secara menyeluruh, tidak hanya
pencapaian hasil belajar tetapi juga proses belajar.
Oleh karena itu, jenis, cakupan dan validitas evaluasi dapat mempengaruhi
proses belajar saat ini dan selanjutnya. Pelaksanaan kegiatan evaluasi
memungkinkan siswa untuk mengetahui kemajuan dalam pencapaian tujuan.
Berikut ini beberapa hal yang berkaitan dengan evaluasi yang perlu diperhatikan
dalam merancang pembelajaran:
a. Evaluasi member arti pada proses belajar dan member arah baru pada siswa.
b. Kegiatan evaluasi yang dilakukan guru dapat mempengaruhi keterlibatan siswa
dalam evaluasi dan belajar.
c. Evaluasi terhadap kemajuan pencapaian tujuan akan lebih mantap jika guru dan
siswa saling bertukar dan menerima pikiran, perasaan, dan pengamatan.
d. Kekurangan atau ketidaklengkapan evaluasi dapat mengurangi kemampuan
guru dalam melayani siswa.
e. Kelompok teman sebaya berguna dalam evaluasi.

10. Prinsip Psikomotor


Proses belajar psikomotor individu menetukan bagaimana ia mampu
mengendalikan aktifitas ragawinya. Belajar psikomotor mengandung aspek mental
dan fisik. Belajar evaluasi dapat mempengaruhi proses belajar saat ini dan
selanjutnya pelaksanaan pelatihan evaluasi memungkinkan bagi individu untuk
menguji kemajuan dalam pencapaian tujuan. Beberapa hal yang harus diperhatikan
dalam belajar psikomotor, adalah :
11 | I n t e r a k s i d a n S t r a t e g i B e l a j a r M e n g a j a r
a. Pelaksanaan tugas dalam suatu kelompok akan menunjukan variasai dalam
kemampuan dasar psikomotor.
b. Melalui bermain dan aktifitas informal, siswa akan memperoleh kemampuan
mengontrrol gerakannya lebih baik.
c. Dengan kematangan fisik dan mental, kemampuan siswa untuk memadukan dan
memperluas gerakannya akan lebih dapat diperkuat.
d. Penjelasan yang baik, demonstrasi, dan partisipasi aktif siswa dapat menambah
efesiensi belajar psikomotor.
e. Latihan yang cukup yang diberikan dalam rentang waktu tertentu dapat
memperkuat proses belajar psikomotor.
Dalam kegiatan pembelejaran guru hendaknya melekukan hal-hal
berikut :
a. Memberikan petunjuk secara verbal tentang langkah-langkah yang harus
ditempuh siswa untuk mengusai suatu keterampilan.
b. Mengunakan gambar atau demonstrasikan gerakan-gerakan atau kegiatan-
kegiatan yang harus dilakukan siswa dalam menguaai keterampilan.
c. Memberikan latihan yang cukup karena keterampilan motorik menunutut
latihan yang bertahap. Tingkat kelenturan, kecepatan, dan ketepatan gerakan
hanya dapat dicapai melalui latihan yang berulang-ulang.

2.3 KLASIFIKASI TEORI BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN


Untuk mendasari strategi pembelajaran maka perlu dibahas teori-teori belajar yang
akan mendasari penerapan strategi pembelajaran. Secara garis besar teori belajar
menurut Greadler (1991) dapat dibedadakan menjadi 3 (tiga): conditioning theory,
Conection theories, dan instighful learning.
1. Imulus Conditioning theory
Conditioning theory adalah suatu teori yang menyatakan bahwa belajar
merupakan suatu respon dari stimulus tertentu. Teori ini dikemukakan oleh Parlov
dan dikembangkan oleh Wiston, Guthreich, dan skinner. Secara rinci hasil
experiment yang dilakukan oleh Parlov terhadap seekor anjing menghasilkan
hukum-hukumbelajar. Law of respondent extinction dan low of respondent
extinction.
Selanjutnya Waston mengembangkan teori belajar dengan berpola pada
penemuan Parlov. Dia berpendapat bahwa belajar adalah merupakan proses
12 | I n t e r a k s i d a n S t r a t e g i B e l a j a r M e n g a j a r
terjadinya repleks-repleks atau respon bersayarat melalui stimulus pengganti.
Guthreic memperluas penemuan Waston yang dikenal dengan the law of
association, yaitu kombinasi stimuli yang telah menyertai suati gerakan. Kemudian
skinner mengembangkan teori belajar ini dengan teori operant conditioning, yaitu
tingkah laku bukanlah sekedar respon terhadap stimulus, tetapi suatu tindakan yang
disengaja atau operant. Secara rinci hasil experiment yang dilakukan FB.Skinner
terhadap tikus adalah law of operant conditionin, dan law of operant extincion.
2. Conection theories
Conection theories merupakan teori belajar yang menyatakan bahwa belajar
merupakan pembentukan koneksi-koneksi antarastimilus dan respon. Teori ini
bikembangkan oleh thorndhike yang juga dinamakan train and error learning.
Hukum belajar dinamakan law efektif yaitu segala tingkah laku yang
menyenangkan akan di ingat dan mudah dipelajari, segala sesuatu yang tidak
menyenangkan dan mudah dipelajari. Aplikasi teori ini dengan adanya pemberian
ganjaran, hukuman, dll. Secara rinci hasil experimen yang dilakukan thorndhike
terhadap kucing adalah low of effect, low of readines, low of ekecise.
3. Insightful learning
Insightful learning adalah belajar menurut pendengaran kognitif. Disebut
dengan Gestal dan Field theories. Aplikasi teori gestal dalam pembelajaran, antara
lain: pengalaman tilikan (insight), pembelajaran yang bermakna ( meaningful
learning), prikaku bertujuan (purposive behavior), prinsip ruang hidup (life space).
Selanjutnya teori gestal dikembangkan oleh piaget. Menurut piaget teori belajar
merupakan: proses belajar dari kongkrit ke yang abstrak. Pertumbuhan kapasitas
mental memberikan kemampuan mental yang baru sebelumnya. Perubahan umur
mempengaruhi kemampuan belajar individu. Teori belajar burner merupakan
pengembangan dari teori belajar Gestal instightful learning. Dalam pendekatan ini
mengandung makna bahw refleks belajar berkisar pada manusia sebagai pengolah
informasi (masukan) yang diterimanya untuk memperoleh pemahaman. Dasar
pemikiran teori ini adalah: berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, orang
menciptakan sendiri suatu kerangka kognitif bagi diri sendiri.
Namun demikian, teori ini juga ada kelemahannya, yaitu:
a. memerlukan banyak biaya
b. waktu lama dan
c. kepemilikan teori dasar mutlak diperlukan.
13 | I n t e r a k s i d a n S t r a t e g i B e l a j a r M e n g a j a r
Untuk mengurangi kekurangan tersebut, ada pengembnangan teori insighful
learning ini dengan tetap membangun kerangka kognitif sendiri tidak dengan
induktif tetapi deduktif.

2.4 PARADIGMA PEMBELAJARAN


2.4.1 Pengertian Paradigma
Untuk Secara etimologis, kata paradigma berasal dari bahasa Yunani yang
berarti suatu model, teladan, arketif dan ideal. Sedangkan secara terminologis, arti
paradigma adalah konstruk berpikir berdasarkan pandangan yang menyeluruh dan
konseptual terhadap suatu masalah dengan menggunakan teori formal, eksperimentasi
dan metode keilmuan yang terpercaya.
Menurut Para Ahli :
1. Menurut Robert Friedrichs(1970)
Dasar pandangan disiplin pada apa materi pelajaran yang harus dipelajari.
2. Menurut Patton(1975)
Sebuah pandangan dunia, sebuah sudut pandang umum, atau cara untuk
menguraikan kompleksitas dunia nyata.
3. Menurut George Ritzer (1980)
Paradigma adalah pandangan mendasar tentang para ilmuwan tentang materi
pelajaran apa yang harus dipelajari oleh cabang atau disiplin ilmu, dan aturan apa
yang harus diikuti dalam menafsirkan informasi yang akan dikumpulkan untuk
menanggapi sebuah isu atau kasus yang sedang terjadi.
4. Menurut Bogdan (dalam Mackenzie dan Knipe, 2006)
Paradigma adalah kumpulan sejumlah asumsi, konsep, atau proposisi logis yang
saling terkait yang akan mengarahkan cara berfikir dalam penelitian.
Jadi kita dapat menyimpulkan bahwa sekumpulan pandangan, asumsi, maupun
konsep yang saling berkaitan untuk menanggapi suatu informasi atau sesuatu yang
sedang dibicarakan.

2.4.2 MACAM-MACAM PARADIGMA


1. Paradigma Lama Pembelajaran
Paradigma lama dalam pembelajaran yaitu pembelajaran tradisional yang
merupakan pembelajaran di mana secara umum pusat pembelajaran pada guru. Jadi
di sini guru berperan sebagai pengajar yang cenderung aktif di mana siswa hanyalah
14 | I n t e r a k s i d a n S t r a t e g i B e l a j a r M e n g a j a r
sebagai objek dari pendidikan. Sistem pembelajaran tradisional dicirikan dengan
bertemunya antara pelajar dan pengajar untuk melakukan proses belajar mengajar.
2. Paradigma Alternatif Pembelajaran
Paradigma alternatif pembelajaran adalah model pembelajaran yang dapat
dijadikan suatu pengganti model pembelajaran yang lama, dimana model
pembelajaran ini diperlukan untuk menata dan mengatur kembali model
pembelajaran lama yang hanya mengedepankan perubahan tingkah laku pada siswa.
3. Paradigma Baru Pendidikan
Untuk membangun masyarakat terdidik, masyarakat yang cerdas, maka mau
tidak mau harus merubah paradigma dan sistem pendidikan. Maka yang perlu
dilakukan sekarang menata kembali sistem pendidikan yang ada dengan paradigma
baru yang lebih baik. Dengan paradigma baru, praktik pembelajaran akan digeser
menjadi pembelajaran yang lebih bertumpu pada teori kognitif dan konstruktivitas.
Dalam proses pembelajaran misalnya, pengembangan suasana kesetaraan
melalui komunikasi dialog transparan, toleran, dan tidak arogan seharusnya
terwujud di dalam aktivitas pembelajaran,pengembangan potensi-potensi siswa
harus dilakukan secara menyeluruh dan terpadu. Guru memegang peranan startegi
terutama dalam upaya membentuk membentuk watak bangsa melalui
pengembangan kepribadian dan nilai-nilai yang diinginkan.

15 | I n t e r a k s i d a n S t r a t e g i B e l a j a r M e n g a j a r
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Belajar adalah suatu proses dimana perilaku yang dihasilkan atau dimodifikasi melalui
pelatihan atau pengalaman. Pembelajaran merupakan suatau usaha untuk membuat peserta
didik belajar atau suatu kegiatan untuk membelajarkan peserta didik. Belajar Pembelajaran
merupakan terjemahan dari kata instruction yang dalam bahasa yunani disebut instructus
atau intruere yang berarti menyampaikan pikiran, dengan demikian arti instruksional
adalahmenyampaikan pikiran atau ide yang telah diolah secara bermakna melalui
pembelajaran. Jadi pembelajaran telah mencakup belajar.
Prinsip adalah sesuatu yang dipegang sebagai panutan yang utama dan menjadi dasar
dalam upaya pembelajaran. Sedangkan tujuan pembelajaran pada hakikatnya akan
membentuk manusia yang mampu bersaing di dunia global. Sumber daya manusia yang
mampu bersaing memasuki dunia global adalah manusia yang benar-benar unggul. Berikut
ini adalah contoh prinsip-prinspnya: Prinsip Kesiapan, Prinsip Motivasi, Prinsip Persepsi,
Prinsip Tujuan, Prinsip Perbedaan Individual, Prinsip Transfer dan Retensi, Prinsip Belajar
Kognitif, Prinsip Belajar Afektif, Prinsip Belajar Evaluasi, Prinsip Belajar Psikomotor.
Untuk mendasari strategi pembelajaran maka perlu dibahas teori-teori belajar yang
akan mendasari penerapan strategi pembelajaran. Secara garis besar teori belajar menurut
Greadler (1991) dapat dibedadakan menjadi 3 (tiga): conditioning theory, Conection
theories, dan instighful learning.
paradigma adalah konstruk berpikir berdasarkan pandangan yang menyeluruh dan
konseptual terhadap suatu masalah dengan menggunakan teori formal, eksperimentasi dan
metode keilmuan yang terpercaya. Macam-macam Paradigma :Paradigma Lama
Pembelajaran, Paradigma Alternatif Pembelajaran dan Paradigma Baru Pendidikan

16 | I n t e r a k s i d a n S t r a t e g i B e l a j a r M e n g a j a r
3.2 SARAN
Dalam perkembengan dunia pendidikan yang terus berlangsung sejalan dengan
tuntutan hidup manusia untuk menjawab perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
yang semakin hari semakin maju dan kompleks maka dunia pendidikanpun juga dituntut
untuk peka terhadap perubahan dan perkembangan sekecil apa pun dalam dunia ilmu
pengetahuan dan teknologi. Dalam konteks ini peran guru tidaklah kecil. Guru sebagai
ujung tombak pelaksana pendidikan terdepan dituntut untuk terus mengembangkan
pengetahuan, kemampuan serta keterampilannya. Oleh karena itu disaran kepada semua
yang berhubungan dengan dunia pendidikan dan khususnya guru dapat membaca dan
memahami Prinsip-Prinsip Belajar dalam Pencapaian, Tujuan Pembelajaran dan serta
Klasifikasi Teori Belajar dalam Pembelajaran

17 | I n t e r a k s i d a n S t r a t e g i B e l a j a r M e n g a j a r
DAFTAR PUSTAKA

https://afidburhanuddin.wordpress.com/2014/05/05/prinsip-prinsip-belajar-dan-implikasinya/

http://delsajoesafira.blogspot.co.id/2010/04/teori-teori-belajar-dalam-pembelajaran.html

https://zaifbio.wordpress.com/2009/07/01/teori-teori-belajar-dalam-pembelajaran/

http://www.gurupendidikan.co.id/101-pengertian-belajar-menurut-para-ahli-pendidikan/

https://pengertiandefinisi.com/pengertian-paradigma/

https://reninory7.wordpress.com/prinsip-prinsip-belajar-dalam-pencapaian-tujuan-
pembelajaran-dan-teori-teori-belajar-yang-mendukung-ilmu-biologi/
http://masdik.com/pendidikan-nasional/paradigma-pembelajaran

http://kita-mahasiswa.blogspot.co.id/2016/05/prinsip-prinsip-belajar-dalam.html
Syaiful dan Zain. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta

18 | I n t e r a k s i d a n S t r a t e g i B e l a j a r M e n g a j a r