Anda di halaman 1dari 21

POLIP NASI

BAB I
PENDAHULUAN

Sumbatan hidung adalah salah satu masalah yang paling sering dikeluhkan
pasien ke dokter pada pelayanan primer. Ini adalah gejala bukan diagnosis,
banyak faktor dan kondisi anatomi yang dapat menyebabkan sumbatan hidung.
Penyebab dari sumbatan hidung dapat berasal dari struktur maupun sistemik.
Yang disebabkan struktur termasuk perubahan jaringan, trauma, dan gangguan
congenital. Yang disebabkan sistemik terkait dengan perubahan fisiologis dan
patologis. Polip merupakan salah satu dari penyebab rasa hidung tersumbat.1
Polip nasi merupakan massa edematous yang lunak berwarna putih atau
keabu-abuan yang terdapat di dalam rongga hidung dan berasal dari
pembengkakan mukosa hidung atau sinus. Polip hidung sampai saat ini masih
merupakan masalah medis, selain itu juga memberikan masalah sosial karena
dapat mempengaruhi kualitas hidup penderitanya seperti di sekolah, di tempat
kerja, aktifitas harian dsb. Gejala utama yang paling sering dirasakan adalah
sumbatan di hidung yang menetap dan semakin lama semakin berat keluhannya,
hal ini dapat mengakibatkan hiposmia sampai anosmia. Bila menyumbat ostium
sinus paranasalis mengakibatkan terjadinya sinusitis dengan keluhan nyeri kepala
dan hidung berair.1
Prevalensi kasus polip hidung adalah sekitar 2%, meningkat seiring usia
dengan puncaknya pada usia 50 tahun atau lebih. Perbandingan antara laki-laki :
perempuan adalah 2:1. Perlu dicatat bahwa kasus polip nasal sangat jarang pada
anak-anak dengan riwayat alergi, berbeda dengan anak – anak dengan kista
fibrosis atau penyakit non alergi lainnya. Hal tersebut juga terjadi pada individu
dewasa dimana polip hidung justru lebih sering dialami pada pasien dengan
kelainan non alergi dibanding kelainan alergi.2

Kepaniteraan Klinik THT


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD K.R.M.T. Wongsonegoro Semarang
Periode 4 Desember 2017 – 6 Januari 2018

1
POLIP NASI

BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1 Anatomi

2.1.1 Hidung

Hidung luar berbentuk pyramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke


bawah:
1) Pangkal hidung (bridge)
2) Dorsum nasi
3) Puncak hidung (tip)
4) Ala nasi
5) Kolumela
6) Lubang hidung (nares anterior)3
Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi
oleh kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan
atau menyempitkan lubang hidung. Kerangka tulang terdiri dari:
1) Tulang hidung (os nasalis)
2) Prosesus frontalis os maksila
3) Prosesus nasalis os frontal3
Sedangkan kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang
rawan yang terletak di bagian bawah hidung, yaitu:
1) Sepasang kartilago nasalis lateralis superior
2) Sepasang kartilago nasalis lateralis inferior (kartilago ala mayor)
3) Beberapa pasang kartilago ala minor
4) Tepi anterior kartilago septum.3
Rongga hidung atau kavum nasi berbentuk terowongan dari depan ke
belakang, dipisahkan oleh septum nasi di bagian tengahnya menjadi kavum nasi
kanan dan kiri. Pintu atau lubang masuk kavum nasi bagian depan disebut nares

Kepaniteraan Klinik THT


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD K.R.M.T. Wongsonegoro Semarang
Periode 4 Desember 2017 – 6 Januari 2018

2
POLIP NASI

anterior dan lubang belakang disebut nares posterior (koana) yang


menghubungkan kavum nasi dengan nasofaring.3
Bagian kavum nasi yang letaknya sesuai dengan ala nasi, tepat di belakang
nares anterior, disebut vestibulum. Vestibulum ini dilapisis oleh kulit yang
mempunyai banyak kelenjar sebasea dan rambut-rambut panjang yang disebut
vibrise.3
Tiap kavum nasi mempunyai 4 buah dinding, yaitu dinding medial, lateral,
inferior dan superior:3
Dinding medial hidung adalah septum nasi. Septum dibentuk oleh tulang
dan tulang rawan. Bagian tulang adalah:
1) Lamina prependikularis os etmoid
2) Vomer
3) Krista nasalis os maksila
4) Krista nasalis os palatine
Bagian tulang rawan adalah:
1) Kartilago septum (lamina kuadrangularis)
2) Kolumela.3
Bagian superior dan posterior disusun oleh lamina prependikularis os
etmoid dan bagian anterior oleh kartilago septum (quadrilateral), premaksila, dan
kolumna membranousa. Bagian inferior, disusun oleh vomer, maksila, dan tulang
palatine dan bagian posterior oleh lamina sphenoidalis. Septum dilapisi oleh
perikondrium pada bagian tulang rawan dan periostium pada bagian tulang,
sedangkan diluarnya dilapisi pula oleh mukosa hidung.3
Pada dinding lateral terdapat 4 buah konka, yang terbesar dan letaknya
paling bawah ialah konka inferior, kemudian yang lebih kecil ialah konka media,
lebih kecil lagi adalah konka superior, sedangkan yang terkecil disebut konka
suprema. Konka suprema ini biasanya rudimenter. Konka inferior merupakan
tulang tersendiri yang melekat pada os maksila dan labirin etmoid, sedangkan
konka media, superior dan suprema merupakan bagian dari labirin etmoid.3

Kepaniteraan Klinik THT


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD K.R.M.T. Wongsonegoro Semarang
Periode 4 Desember 2017 – 6 Januari 2018

3
POLIP NASI

Di antara konka-konka dan dinding lateral hidung terdapat rongga sempit


yang disebut meatus. Tergantung dari letak meatus, ada tiga meatus yaitu meatus
inferior, medius, dan superior. Meatus inferior terletak diantara konka inferior
dengan dasar hidung dan dinding lateral rongga hidung. Pada meatus inferior
terdapat muara (ostium) duktus nasolakrimalis. Meatus medius terletak diantara
konka media dan dinding lateral rongga hidung. Pada meatus medius terdapat
muara sinus frontal, sinus maksila, dan sinus etmoid anterior. Pada meatus
superior yang merupakan ruang diantara konka superior dan konka media terdapat
muara sinus etmoid posterior dan sinus sphenoid.3
Dinding inferior merupakan dasar rongga hidung dan dibentuk oleh os
maksila dan os palatum. Dinding superior atau atap hidung sangat sempit dan
dibentuk oleh lamina kribiformis, yang memisahkan rongga tengkorak dari rongga
hidung. Di bagian posterior, atap rongga hidung dibentuk oleh os sfenoid.3
Bagian atas rongga hidung mendapat pendarahan dari a. etmoid anterior
dan posterior yang merupakan cabang dari arteri oftalmika, sedangkan a.
oftalmika berasal dari a. karotis interna. Bagian bawah rongga hidung mendapat
perdarahan dari cabang a. maksila interna, di antaranya ialah ujung a. palatina
mayor dan a. sfenopalatina yang keluar dari foramen sfenopalatina bersama n.
sfenopalatina dan memasuki rongga hidung di belakang ujung posterior konka
media. Bagian depan hidung mendapat perdarahan dari cabang-cabang a. fasialis.3
Pada bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabang-cabang a.
sfenopalatina, a. etmoid anterior, a. labialis superior, dan a. palatina mayor, yang
disebut pleksus Kiesselbach (Little’s area). Pleksus Kiesselbach letaknya
superfisisal dan mudah cedera oleh trauma sehingga sering menjadi sumber
epistaksis, terutama pada anak.3
Vena-vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan
berdampingan dengan arterinya.. Vena di vestibulum dan struktur luar hidung
bermuara ke v. oftalmika yang berhubungan dengan sinus kavernosus. Vena-vena

Kepaniteraan Klinik THT


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD K.R.M.T. Wongsonegoro Semarang
Periode 4 Desember 2017 – 6 Januari 2018

4
POLIP NASI

hidung tidak memiliki katup, sehingga merupakan faktor redisposisi untuk


mudahnya penyebaran infeksi sampai ke intrakranial.3
Bagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan sensoris dari n.
etmoidalis anterior yang merupakan cabang n. nasosiliaris, yang berasal dari n.
oftalmikus. Rongga hidung lainnya, sebagian besar mendapat persarafan sensoris
dari n. maksila melalui ganglion sfenopalatina.3
Ganglion sfenopalatina, selain emberikan persarafan sensoris, juga
memberikan persarafan vasomotor atau otonom untuk mukosa hidung. Ganglion
ini menerima serabut saraf sensoris dari n maksila, serabut parasimpatis dari n.
pretosus superfisialis mayor dan serabut saraf simpatis dari n. petrosus profundus.
Ganglion sfenopalatina terletak di belakang dan sedikit di atas ujung posterior
konka media.3
Fungsi penghidu berasal dari n. olfaktorius. Saraf ini turun melalui lamina
kribosa dari permukaan bawah bulbus olfaktorius dan kemudian berakhir ada sel-
sel reseptor penghidu pada mukosa olfaktorius di daerah sepertiga atas hidung.3

2.1.2 Sinus Paranasal

Sinus paranasal merupakan salah satu organ tubuh manusia yang sulit
dideskripsi karena bentuknya sangat bervariasi pada setiap individu. Ada empat
pasang sinus paranasal, mulai dari yang terbesar yaitu sinus maksila, sinus frontal,
sinus etmoid dan sinus sfenoid kanan dan kiri.Sinus paranasal merupakan hasil
pneumatisasi tulang-tulang kepala, sehingga terbentuk rongga di dalam tulang.
Semua sinus mempunyai muara (ostium) ke dalam rongga hidung.4
Secara embriologik, sinus paranasal berasal dari invaginasi mukosa rongga
hidung dan perkembangannya dimulai pada fetus usia 3 – 4 bulan, kecuali sinus
sfenoid dan sinus frontal. Sinus etmoid dan maksila telah ada sejak anak lahir,
sedangkan sinus frontalis berkembang dari sinus etmoid anterior pada anak yang
berusia kurang lebih 8 tahun. Pneumatisasi sinus sfenoid dimulai pada usia 8 – 10

Kepaniteraan Klinik THT


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD K.R.M.T. Wongsonegoro Semarang
Periode 4 Desember 2017 – 6 Januari 2018

5
POLIP NASI

tahun dan berasal dari bagian posterosuperior rongga hidung. Sinus – sinus ini
umumnya mencapai besar maksimal pada usia antara 15 – 18 tahun.4

2.1.2.1 Sinus Maksila

Sinus maksila merupakan sinus paranasal yang terbesar. Saat lahirsinus


maksila bervolume 6 – 8 ml, sinus kemudian berkembang dengan cepat dan
akhirnya mencapai ukuran maksimal, yaitu 15 ml saat dewasa. Sinus maksila
berbentuk segitiga. Dinding anterior sinus ialah permukaan fasial os maksila yang
disebut fossa kanina, dinding posteriornya adalah permukaan infra-temporal
maksila, dinding medialnya ialah dinding lateral rongga hidung, dinding
superiornya ialah dasar orbita dan dinding inferiornya ialah prosesus alveolaris
dan palatum. Ostium sinus maksila berada di sebelah superior dinding medial
sinus dan bermuara ke hiatus semilunaris melalui infundibulum etmoid.4
Dasar dari sinus maksila sangat berdekatan dengan rahang gigi atas, yaitu
premolar (P1 dan P2), molar (M1 dan M2), kadang-kadang juga gigi taring (C)
dan gigi molar M3, bahkan akar-akar gig tersebut dapat menonjol ke dalam sinus,
sehingga infeksi gigi geligi mudah naik ke atas menyebabkan sinusitis.4

2.1.2.2 Sinus Frontal

Sinus frontal yang terletak di os frontal mulai terbentuk sejak bulan


keempat fetus, berasal dari sel – sel resessus frontal atau dari sel – sel
infundibulum etmoid. Ukuran sinus frontal adalah 2,8 cm tingginya, lebarnya 2,4
cm, dan dalamnya 2 cm. Sinus frontal biasanya bersekat – sekat dan tepi sinus
berlekuk – lekuk. Sinus frontal dipisahkan oleh tulang yang relatif tipis dari orbita
dan fossa serebri anterior, sehingga infeksi dari sinus frontal mudah menjalar ke
daerah ini. Sinus frontal berdrainase melalui ostiumnya yang terletak di resessus
frontal, yang berhubungan dengan infudibulum etmoid.4

Kepaniteraan Klinik THT


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD K.R.M.T. Wongsonegoro Semarang
Periode 4 Desember 2017 – 6 Januari 2018

6
POLIP NASI

2.1.2.3 Sinus Etmoid

Pada orang dewasa sinus etmoid seperti piramid dengan dasarnya di


bagian posterior. Ukurannya dari anterior ke posterior 4,5 cm, tinggi 2,4 cm, dan
lebarnya 0,5 cm di bagian anterior dan 1,5 cm di bagian posterior. Sinus etmoid
berongga – rongga, terdiri dari sel – sel yang menyerupai sarang tawon, yang
terdapat di dalam massa bagian lateral os etmoid, yang terletak diantara konka
media dan dinding medial orbita. Sel – sel ini jumlahnya bervariasi antara 4 – 17
sel (rata – rata 9 sel).4
Berdasarkan letaknya, sinus etmoid dibagi menjadi sinus etmoid anterior
yang bermuara di meatus medius dan sinus etmoid posterior yang bermuara di
meatus superior. Sel – sel sinus etmoid anterior biasanya kecil – kecil dan banyak,
letaknya dibawah perlekatan konka media, sedangkan sel – sel sinus etmoid
posterior biasanya lebih besar dan lebih sedikit jumlahnya dan terletak di postero-
superior dari perlekatan konka media. Di bagian terdepan sinus etmoid anterior
ada bagian yang sempit, disebut resessus frontal, yang berhubungan dengan sinus
frontal. Atap sinus etmoid yang disebut fovea etmoidalis berbatasan dengan
lamina kribosa. Dinding lateral sinus adalah lamina papirasea yang sangat tipis
dan membatasi sinus etmoid dari rongga orbita. Di bagian belakang sinus etmoid
posterior berbatasan dengan sinus sfenoid.4

2.1.2.4 Sinus Sfenoid

Sinus sfenoid terletak dalam os sfenoid di belakang sinus etmoid posterior.


Sinus sfenoid dibagi dua oleh sekat yang disebut septum intersfenoid. Ukurannya
adalah 2 cm tingginya, dalamnya 2,3 cm dan lebarnya 1,7 cm. Volumenya
bervariasi dari 5 – 7,5 ml.4
Batas- batasnya ialah, sebelah superior terdapat fosa serebri media dan
kelenjar hipofisa, sebelah inferiornya atap nasofaring, sebelah lateral berbatasan
dengan sinus kavernosus dan a. karotis interna dan di sebelah posteriornya
berbatasan dengan fosa serebri posterior di daerah pons.4

Kepaniteraan Klinik THT


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD K.R.M.T. Wongsonegoro Semarang
Periode 4 Desember 2017 – 6 Januari 2018

7
POLIP NASI

2.1.2.5 Kompleks Ostiomeatal

Kompleks ostiomeatal dideskripsikan sebagai area yang terdapat di


dinding lateral hidung dimana terdapat meatus medius yang merupakan muara
dari sinus paranasalis (kecuali sinus sfenoid). Adanya sedikit kelainan (contoh:
variasi anatomi, pembengkakan mukosa) dapat menghambat ventilasi di daerah
ini, yang mengakibatkan rangkaian kelainan di sinus paranasalis. Struktur
fungsional dari kompleks ini terdiri dari infundibulum ethmoid yang terdapat di
belakang prosesus unsinatus, resesus frontalis, bula etmoid dan sel-sel etmoid
anterior dengan ostiumnya dan ostium sinus maksila.4

2.2 Fisiologi

2.2.1 Hidung

Rongga hidung dilapisi oleh mukosa yang secara histologik dan fungsional
dibagi atas mukosa pernafasan dan mukosa penghidu. Mukosa pernafasan terdapat
pada sebagian besar rongga hidung dan permukaannya dilapisi oleh epitel torak
berlapis semu yang mempunyai silia dan diantaranya terdapat sel – sel goblet.
Pada bagian yang lebih terkena aliran udara mukosanya lebih tebal dan kadang –
kadang terjadi metaplasia menjadi sel epital skuamosa. Dalam keadaan normal
mukosa berwarna merah muda dan selalu basah karena diliputi oleh palut lendir
(mucous blanket) pada permukaannya. Palut lendir ini dihasilkan oleh kelenjar
mukosa dan sel goblet.3
Silia yang terdapat pada permukaan epitel mempunyai fungsi yang
penting. Dengan gerakan silia yang teratur, palut lendir di dalam kavum nasi akan
didorong ke arah nasofaring. Dengan demikian mukosa mempunyai daya untuk
membersihkan dirinya sendiri dan juga untuk mengeluarkan benda asing yang
masuk ke dalam rongga hidung. Gangguan pada fungsi silia akan menyebabkan
banyak sekret terkumpul dan menimbulkan keluhan hidung tersumbat. Gangguan
gerakan silia dapat disebabkan oleh pengeringan udara yang berlebihan, radang,
sekret kental dan obat – obatan.3
Kepaniteraan Klinik THT
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD K.R.M.T. Wongsonegoro Semarang
Periode 4 Desember 2017 – 6 Januari 2018

8
POLIP NASI

Mukosa penghidu terdapat pada atap rongga hidung, konka superior dan
sepertiga bagian atas septum. Mukosa dilapisi oleh epitel torak berlapis semu dan
tidak bersilia (pseudostratified columnar non ciliated epithelium). Epitelnya
dibentuk oleh tiga macam sel, yaitu sel penunjang, sel basal dan sel reseptor
penghidu. Daerah mukosa penghidu berwarna coklat kekuningan.3
Fungsi fisiologis hidung adalah:
1. Sebagai jalan nafas
Pada inspirasi, udara masuk melalui nares anterior, lalu naik ke atas
setinggi konka media dan kemudian turun ke bawah ke arah nasofaring, sehingga
aliran udara ini berbentuk lengkungan atau arkus. Pada ekspirasi, udara masuk
melalui koana dan kemudian mengikuti jalan yang sama seperti udara inspirasi.
Akan tetapi di bagian depan aliran udara memecah, sebagian lain kembali ke
belakang membentuk pusaran dan bergabung dengan aliran dari nasofaring.3
2. Pengatur kondisi udara (air conditioning)
Fungsi hidung sebagai pengatur kondisi udara perlu untuk mempersiapkan
udara yang akan masuk ke dalam alveolus. Fungsi ini dilakukan dengan cara :
a. Mengatur kelembaban udara. Fungsi ini dilakukan oleh palut lendir. Pada
musim panas, udara hampir jenuh oleh uap air, penguapan dari lapisan ini sedikit,
sedangkan pada musim dingin akan terjadi sebaliknya.
b. Mengatur suhu. Fungsi ini dimungkinkan karena banyaknya pembuluh darah di
bawah epitel dan adanya permukaan konka dan septum yang luas, sehingga
radiasi dapat berlangsung secara optimal. Dengan demikian suhu udara setelah
melalui hidung kurang lebih 37o C.3
3. Sebagai penyaring dan pelindung
Fungsi ini berguna untuk membersihkan udara inspirasi dari debu dan
bakteri dan dilakukan oleh :
a. Rambut (vibrissae) pada vestibulum nasi
b. Silia

Kepaniteraan Klinik THT


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD K.R.M.T. Wongsonegoro Semarang
Periode 4 Desember 2017 – 6 Januari 2018

9
POLIP NASI

c. Palut lendir (mucous blanket). Debu dan bakteri akan melekat pada palut lendir
dan partikel – partikel yang besar akan dikeluarkan dengan refleks bersin. Palut
lendir ini akan dialirkan ke nasofaring oleh gerakan silia.
d. Enzim yang dapat menghancurkan beberapa jenis bakteri, disebut lysozime.3
4. Indra penghidu
Hidung juga bekerja sebagai indra penghidu dengan adanya mukosa
olfaktorius pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga bagian atas
septum. Partikel bau dapat mencapai daerah ini dengan cara difusi dengan palut
lendir atau bila menarik nafas dengan kuat. Fungsi hidung untuk membantu indra
pengecap adalah untuk membedakan rasa manis yang berasal dari berbagai
macam bahan seperti perbedaan rasa manis strawberi, jeruk, pisang, atau coklat.
Juga untuk membedakan rasa asam yang berasal dari cuka dan asam jawa.3
5. Resonansi suara (Fonetik)
Penting untuk kualitas suara ketika berbicara dan menyanyi. Sumbatan
hidung akan menyebabkan resonansi berkurang atau hilang, sehingga terdengar
suara sengau (rinolalia).3
6. Proses bicara
Hidung membantu proses pembentukan kata-kata. Kata dibentuk lidah,
bibir, dan palatum mole. Pada pembentukan kata dengan konsonan nasal (m,n,ng)
dimana rongga mulut tertutup dan rongga hidung terbuka, palatum molle turun
untuk aliran udara.3
7. Refleks nasal
Mukosa hidung merupakan reseptor refleks yang berhubungan dengan
saluran cerna, kardiovaskuler dan pernafasan. Iritasi mukosa hidung menyebabkan
refleks bersin dan nafas terhenti. Rangsang bau tertentu menyebabkan sekresi
kelenjar liur, lambung dan pankreas.3

Kepaniteraan Klinik THT


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD K.R.M.T. Wongsonegoro Semarang
Periode 4 Desember 2017 – 6 Januari 2018

10
POLIP NASI

2.2.2 Sinus paranasal

Seperti ada mukosa hidung, di dalam sinus juga terdapat mukosa bersilia
dan palut lendir di atasnya. Di dalam sinus silia bergerak secara teratur untuk
mengalirkan lendir menuju ostium alamiahnya mengikuti jalur-jalur yang sudah
tertentu polanya.4
Pada dinding lateral hidung terdapat 2 aliran transpor mukosiliar dari
sinus. Lendir yang berasal dari kelompok sinus anterior yang bergabung di
infudibulum etmoid dialirkan ke nasofaring di depan muara tuba Eustachius.
Lendir yang berasal dari kelompok sinus posterior bergabung di resesus
sfenoetmoidalis, dialirkan ke nasofaring di ostero-superior muara tuba. Inilah
sebabnya ada sinusitis didapati sekret pasca-nasal (post nasal drip), tetapi belum
tentu ada sekret di rongga hidung.4
Beberapa teori yang dikemukakan sebagai fungsi sinus paranasal antara lain:
a. Sebagai pengatur kondisi udara (air conditioning)
Sinus berfungsi sebagai ruang tambahan untuk mamanaskan dan mengatur
kelembaban udara inspirasi. Volume pertukaran udara dalam ventilasi sinus
kurang lebih 1/1000 volume sinus pada tiap kali bernafas, sehingga dibutuhkan
beberapa jam untuk pertukaran udara total dalam sinus.4

b. Sebagai penahan suhu (thermal insulators)


Sinus paranasal berfungsi sebagai (buffer) panas, melindungi orbita dan
fossa serebri dari suhu rongga hidung yang berubah-ubah.4

c. Membantu keseimbangan kepala


Sinus membantu keseimbangan kepala karena mengurangi berat tulang
muka. Akan tetapi, bila udara dalam sinus diganti dengan tulang, hanya akan
memberikan pertambahan berat sebesar 1% dari berat kepala, sehingga teori ini
tidak dianggap bermakna.4

d. Membantu resonansi suara

Kepaniteraan Klinik THT


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD K.R.M.T. Wongsonegoro Semarang
Periode 4 Desember 2017 – 6 Januari 2018

11
POLIP NASI

Sinus mungkin berfungsi sebagai rongga untuk resonansi udara dan


mempengaruhi kualitas udara. Akan tetapi ada yang berpendapat, posisi sinus dan
ostiumnya tidak memungkinkan sinus berfungsi sebagai resonansi yang efektif.4

e. Sebagai peredam perubahan tekanan suara


Fungsi ini akan berjalan bila ada perubahan tekanan yang besar dan
mendadak, misalnya pada waktu bersin dan beringus.4

f. Membantu produksi mukus


Mukus yang dihasilkan oleh sinus paranasal memang jumlahnya kecil
dibandingkan dengan mukus dari rongga hidung, namun efektif untuk
membersihkan partikel yang turut masuk dalam udara.4

2.3 Polip Nasi

2.3.1 Definisi

Polip berasal dari kata Yunani yang terdiri dari kata “poly” yang berarti
“banyak” dan “pous” yang berarti “berkaki”. Polip muncul di rongga hidung
dengan betuk seperti buah anggur, memiliki bagian “badan” dan “kaki”.
Permukaannya halus dan warna kekuningan, berbeda dengan membran mukosa
yang warnanya lebih merah mudah. Polip hidung berasal dari bagian atas hidung
disekitar saluran bukaan sinus etmoidalis. Adanya penonjolan polip ke dalam
rongga hidung dari meatus media dan superior menyebabkan penyumbatan pada
jalur hidung yang berakibat airflow pada regio penciuman terganggu. Polip
merupakan bagian dari reaksi inflamasi pada membran mukosa hidung, sinus
paranasal, dan sering kali saluran nafas bawah. Hubungan antara polip hidung
dengan rhinosinusitis kronis masih banyak diperdebatkan, namun secara umum
polip dianggap sebagai salah satu bentuk peradangan kronis di hidung dan sinus,
yang merupakan bagian dari gejala rhinosinusitis kronis.2

Kepaniteraan Klinik THT


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD K.R.M.T. Wongsonegoro Semarang
Periode 4 Desember 2017 – 6 Januari 2018

12
POLIP NASI

2.3.2 Epidemiologi

Prevalensi kasus polip hidung adalah sekitar 2%, meningkat seiring usia
dengan puncaknya pada usia 50 tahun atau lebih. Perbandingan antara laki-laki :
perempuan adalah 2:1.1 Selain itu polip hidung juga lebih sering dialami oleh
individu dengan kelainan jalur nafas tertentu (lihat table 1). Perlu dicatat bahwa
kasus polip nasal sangat jarang pada anak-anak dengan riwayat alergi, berbeda
dengan anak – anak dengan kista fibrosis atau penyakit non alergi lainnya. Hal
tersebut juga terjadi pada individu dewasa dimana polip hidung justru lebih sering
dialami pada pasien dengan kelainan non alergi dibanding kelainan alergi.2
Beberapa studi menemukan bahwa rata-rata interval waktu antara
polipectomi pertama dan kedua pada pasien dengan polip hidung adalah sekitar 6
tahun, ini menunjukkan bahwa sebagian besar kasus polip hidung adalah kasus
ringan. Lalu studi lainnya juga menunjukkan 85% pasien yang kontrol ke poli
THT dengan polip hidung memiliki polip yang terlihat setelah 20 tahun kontrol
pertama, menandakan polip hidung merupakan penyakit kronis.2
Tingkat rekurensi polip juga tergantung dari penyakit pernyerta.
Umumnya rendah pada kasus kista fibrosis dan tinggi pada kasus intoleransi
nonsteroidal anti-inflammatory drug (NSAID) dan pada kasus asma.2

Tabel 2.1 Frekuensi polip nasi pada berbagai penyakit2


PENYAKIT GRUP %
RHINITIS ALERGIK Anak 0.1
Dewasa 1.5
RHINITIS NON ALERGIK 5
ASMA (DEWASA) Alergik 5
Non alergik 13
INTOLERANSI NSAID 36-72
INTOLERANSI NSAID DAN ASMA 80
RHINOSINUSITIS ALERGI FUNGAL >80

Kepaniteraan Klinik THT


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD K.R.M.T. Wongsonegoro Semarang
Periode 4 Desember 2017 – 6 Januari 2018

13
POLIP NASI

CHURG-STRAUSS SYNDROME 50
KISTA FIBROSIS Anak-anak 10
Dewasa 40
PRIMARY CILIARY DYSKINESIA 40

2.3.3 Etiologi

Berdasarkan tabel 1 dijelaskan bahwa polip nasal umumnya berasosiasi


dengan penyakit penyerta. Penyakit penyerta yang berasosiasi dalam
pembentukan polip diantaranya:2

- Intoleransi NSAID
- Rhinosinusitis alergi fungal
- Asma
- Kista fibrosis
- Diskinesia siliaris primer (Kartagener’s Syndrome)
- Young’s Syndrome (kronik sinusitis, bronkiektasis polip nasal, azoospermia)
- Rhinitis alergi dan non alergi
- Rhinosinusitis kronik
- Churg-Strauss Syndrome

2.3.4 Patofisiologi

Pembentukan polip sering diasosiasikan dengan inflamasi kronik,


disfungsi saraf otonom serta predisposisi genetik. Menurut teori Bernstein,terjadi
perubahan mukosa hidung akibat peradangan atau aliran udara yang berturbulensi,
terutama di daerah sempit di kompleks osteomeatal.2
Terjadi prolaps submukosa yang diikuti oleh reepitalisasi dan
pembentukan kelenjar baru. Juga terjadi peningkatan penyerapan natrium
oleh permukaan sel epitel yang berakibat retensi air sehingga terbentuk polip.2

Kepaniteraan Klinik THT


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD K.R.M.T. Wongsonegoro Semarang
Periode 4 Desember 2017 – 6 Januari 2018

14
POLIP NASI

Teori lain mengatakan karena ketidakseimbangan saraf vasomotor terjadi


peningkatan permeabilitas kapiler dan gangguan regulasi vascular yang
mengakibatkan dilepasnya sitokin-sitokin dari sel mast, yang akan menyebabkan
edema dan lama-kelamaan menjadi polip.2
Bila proses terus berlanjut, mukosa yang sembab makin membesar
menjadi polip dan kemudian akan turun ke rongga hidung dengan membentuk
tangkai.2

2.3.5 Klasifikasi

Pembagian polip nasi menurut Mackay dan Lund (1997), yaitu:1


 Stadium 0: Tidak ada polip, atau polip masih berada dalam sinus.
 Stadium 1 : Polip masih terbatas di meatus media.
 Stadium 2 : Polip sudah keluar dari meatus media, tampak di rongga hidung
tapi belum memenuhi rongga hidung.
 Stadium 3: Polip yang masif.

2.3.6 Gejala Klinis

Gejala utama dari polip nasi adalah sumbatan hidung yang menetap
dengan derajat yang bervariasi tergantung dengan lokasi dan ukuran polip.
Umumnya, penderita juga mengeluh rhinore cair dan postnasal drip. Anosmia
atau hiposmia dengan gangguan pengecapan juga merupakan gejala polip nasi.
Rhinoskopi anterior dan posterior dapat menunjukkan massa polipoid yang
berwarna keabuan pucat yang dapat berjumlah satu atau multipel dan paling
sering muncul dari meatus media dan prolapse ke kavum nasi. Massa tersebut
terdiri dari jaringan ikat longgar, sel inflamasi, dan beberapa kapiler serta kelenjar
dan ditutupi oleh epitel torak berlapis semu bersilia (ciliated pseudostratified
collumnerepithelium) dan diantaranya terdapat sel-sel goblet. Penelitian
menunjukkan bahwa eosinofil merupakan sel-sel inflamasi yang paling sering
ditemukan pada polip nasi. IL-5 yang menyebabkan eosinofil bertahan lama

Kepaniteraan Klinik THT


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD K.R.M.T. Wongsonegoro Semarang
Periode 4 Desember 2017 – 6 Januari 2018

15
POLIP NASI

sehingga berdasarkan histokimia polip nasi dapat dibedakan dengan


rhinosinusitis.5,6
Polip nasi hampir selalu ditemukan bilateral dan jika ditemukan unilateral
diperlukan pemeriksaan histopatologi untuk menyingkirkan kemungkinan
keganasan. Polip nasi tidak sensitif terhadap sentuhan dan jarang berdarah.5,6

2.3.7 Diagnosa

Anamnesis
Keluhan utama penderita polip nasi adalah hidung rasa tersumbat dari
yang ringan sampai berat, rhinore mulai yang jernih sampai purulen, hiposmia
atau anosmia. Mungkin disertai bersin-bersin, rasa nyeri pada hidung disertai rasa
sakit kepala di daerah frontal. Bila disertai infeksi sekunder mungkin didapati post
nasal drip dan rhinore purulen. Gejala sekunder yang dapat timbul ialah bernafas
melalui mulut, suara sengau, halitosis, gangguan tidur dan penurunan kualitas
hidup.1,2
Dapat menyebabkan gejala pada saluran nafas bawah, berupa batuk kronik
dan mengi, terutama pada penderita polip dengan asma. Selain itu, harus
ditanyakan riwayat rhinitis alergi, asma, intoleransi terhadap aspirin dan alergi
obat lainnya serta alergi makanan.1,2

Pemeriksaan Fisik
Polip nasi yang masif dapat menyebabkan deformitas hidung sehingga
hidung tampak mekar karena pelebaran batang hidung. Pada pemeriksaan
rinoskopi anterior terlihat sebagai massa yang berwarna pucat yang berasal dari
meatus medius dan mudah digerakkan.1,2

Naso-endoskopi
Adanya fasilitas endoskop (teleskop) akan sangat membantu diagnosis
kasus polip nasi yang baru. Polip stadium 1 dan 2 kadang-kadang tidak terlihat
pada pemeriksaan rinoskopi anterior tetapi tampak dengan pemeriksaan

Kepaniteraan Klinik THT


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD K.R.M.T. Wongsonegoro Semarang
Periode 4 Desember 2017 – 6 Januari 2018

16
POLIP NASI

nasoendoskopi. Pada kasus polip koanal juga sering dapat dilihat tangkai polip
yang berasal dari ostium asesorius sinus maksila.1,2

Pemeriksaan Radiologi
Foto polos sinus paranasal (posisi Waters, AP, Cadwell dan lateral) dapat
memperlihatkan penebalan mukosa dan adanya batas udara-cairan di dalam sinus,
tetapi kurang bermanfaat pada kasus polip. Pemeriksaan tomografi computer (TK,
CT Scan) sangat bermanfaat untuk melihat dengan jelas keadaan di hidung dan
sinus paranasal apakah ada proses radang, kelainan anatomi, polip atau sumbatan
pada kompleks osteomeatal. TK terutama diindikasikan pada kasus polip yang
gagal diobati dengan terapi medikamentosa, jika ada komplikasi dari sinusitis dan
pada perencanaan tindakan bedah terutama bedah endoskopi.1,2

2.3.8 Diagnosa Banding

Polip didiagnosa bandingkan dengan konka polipoid, yang ciri-cirinya


sebagai berikut:1
 Tidak bertangkai
 Sukar digerakkan
 Nyeri bila ditekan dengan pinset
 Mudah berdarah
 Dapat mengecil pada pemakaian vasokonstriktor (kapas adrenalin).
Pada pemeriksaan rinoskopi anterior cukup mudah untuk membedakan
polip dan konka polipoid, terutama dengan pemberian vasokonstriktor yang juga
harus hati-hati pemberiannya pada pasien dengan penyakit kardiovaskuler karena
bisa menyebabkan vasokonstriksi sistemik, maningkatkan tekanan darah yang
berbahaya pada pasien dengan hipertensi dan dengan penyakit jantung lainnya.1
Diagnosa banding lainnya adalah angiofibroma nasofaring juvenile.
Etiologi dari tumor ini belum diketahui. Menurut teori, jaringan nasal tumor ini
mempunyai tempat perleketan spesifik di dinding posterolateral atap rongga
hidung. Dari anamnesis diperoleh keluhan adanya sumbatan pada hidung dan

Kepaniteraan Klinik THT


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD K.R.M.T. Wongsonegoro Semarang
Periode 4 Desember 2017 – 6 Januari 2018

17
POLIP NASI

epistaksis berulang yang massif. Terjadi obstruksi hidnung sehingga timbul


rhinorea kronis yang diikuti gangguan penciuman. Oklusi pada tuba eustachius
menimbulkan ketulian atau otalgia. Jika ada keluhan sefalgia menandakan adanya
perluasan tumor ke intracranial.1
Pada pemeriksaan fisik dengan rinoskopi posterior terlihat adanya tumor
yang konsistensinya kenyal, warna bervariasi dari abu-abu sampai merah muda,
diliputi oleh selaput lender keunguan. Mukosa mengalami hipervaskularisasi dan
tidak jarang ditemukan ulserasi. Pada pemeriksaan penunjang radiologic
konvensional akan terlihat gambaran klasik sebagai tanda Holman Miller yaitu
pendorongan prosesus pterigoideus ke belakang.1
Pada pemeriksaan CT Scan dengan zat kontras akan tampak perluasan
tumor dan destruksi tulang sekitarnya. Angiofibroma nasofaring juvenile banyak
terjadi pada anak-anak atau remaja laki-laki.1
Diagnosis banding lainnya adalah keganasan pada hidung. Etiologi belum
diketahui, diduga adanya zat-zat kimia seperti nikel, debu, kayu, formaldehid,
kromium, dan lain-lain.1

2.3.9 Penatalaksanaan

Tujuan utama penatalaksanaan kasus polip nasi ialah menghilangkan


keluhan-keluhan, mencegah komplikasi dan mencegah rekurensi polip. Pemberian
kortikosteroid untuk menghilangkan polip nasi disebut juga polipektomi
medikamentosa. Dapat diberikan topical atau sistemik. Polip tipe eosinofilik
memberikan respons yang lebih baik terhadap pengobatan kortikosteroid
intranasal dibandingkan polip tipe neutrofilik.1
Untuk polip edematosa, dapat diberikan pengobatan kortikosteroid:1
1. Oral, misalnya prednison 50 mg/hari atau deksametason selama 10 hari,
kemudian dosis diturunkan perlahan-lahan (tappering off).
2. Suntikan intrapolip, misalnya triamsinolon asetonid atau prednisolon 0,5 cc,
tiap 5-7 hari sekali, sampai polipnya hilang.

Kepaniteraan Klinik THT


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD K.R.M.T. Wongsonegoro Semarang
Periode 4 Desember 2017 – 6 Januari 2018

18
POLIP NASI

3. Obat semprot hidung yang mengandung kortikosteroid, merupakan obat


untuk rinitis alergi, sering digunakan bersama atau sebagai lanjutan
pengobatn kortikosteroid per oral. Efek sistemik obat ini sangat kecil,
sehingga lebih aman.
Kasus polip yang tidak membaik dengan terapi medikamentosa atau polip
yang sangat masih dipertimbangkan untuk terapi bedah. Dapat dilakukan ekstraksi
polip (polipektomi) menggunakan senar polip atau cunam dengan analgesi local,
etmoidektomi intranasal atau etmoidektomi ekstranasal untuk polip etmoid,
operasi Caldwell-Luc untuk sinus maksila. Yang terbaik ialah bila tersedia
fasilitas endoskop maka dapat dilakukan tindakan BSEF (Bedah Sinus Endoskopi
Fungsional) atau FESS.1,5

Kepaniteraan Klinik THT


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD K.R.M.T. Wongsonegoro Semarang
Periode 4 Desember 2017 – 6 Januari 2018

19
POLIP NASI

BAB III
KESIMPULAN

Polip nasi adalah massa lunak yang mengandung cairan di dalam rongga
hidung, berwarna putih keabu-abuan, agak transparan, permukaan licin mengkilat,
bertangkai, yang terjadi akibat inflamasi mukosa. Polip nasi merupakan penyebab
tersering dari obstruksi hidung dan dapat menyebabkan anosmia.
Faktor yang menjadi penyebab polip nasi yaitu intoleransi NSAID,
rhinosinusitis alergi fungal, asma, kista fibrosis, diskinesia siliaris primer
(Kartagener’s Syndrome), young’s Syndrome (kronik sinusitis, bronkiektasis
polip nasal, azoospermia), rhinitis alergi dan non alergi, rhinosinusitis kronik, dan
Churg-Strauss Syndrome.
Diagnosis polip nasi ditegakkan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Anamnesis didapatkan adanya hidung tersumbat yang selanjutnya dapat
menginduksi rasa penuh atau tekanan pada hidung dan rongga sinus. Kemudian
dirasakan hidung yang berair (rinorea) mulai dari yang jernih sampai purulen,
hiposmia atau anosmia serta dapat juga dirasakan nyeri kepala daerah frontal.
Pada pemeriksaan fisik rinoskopi anterior didapatkan massa translusen pada
rongga hidung, sekret mukus dan polip multipel atau soliter.
Tatalaksana polip nasi dapat dengan cara konservatif yaitu pemberian
kortikosteroid dan operatif yaitu pembedahan polipektomi.

Kepaniteraan Klinik THT


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD K.R.M.T. Wongsonegoro Semarang
Periode 4 Desember 2017 – 6 Januari 2018

20
POLIP NASI

DAFTAR PUSTAKA

1. Mangunkusumo E, Wardani RS. Polip hidung. In: Soepardi EA, Iskandar


N, Bashiruddin J, Restuti RD. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung
tenggorok kepala & leher. 6th ed. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. 2007. p. 123-5.
2. Mygind N, Lund VJ. Nasal Polyposis. In: Gleeson M, Browning GG,
Burton MJ, Clarke R, Hibbert J, Jones NS et al, editors. Scott-brown’s
otorhinolaryngology, head, and neck surgery volume 3. 7th ed. London:
Hodder Arnold; 2008. p. 1549-57.
3. Soetjipto D, Mangunkusumo E, Wardani RS. Hidung. In: Soepardi EA,
Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. Buku ajar ilmu kesehatan telinga
hidung tenggorok kepala & leher. 6th ed. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. 2007. p. 118-22.
4. Soetjipto D, Mangunkusumo E. Sinus paranasal. In: Soepardi EA,
Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. Buku ajar ilmu kesehatan telinga
hidung tenggorok kepala & leher. 6th ed. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. 2007. p. 145-9.
5. Lane AP, Kennedy DW. Sinusitis and polyposis. In: Wackym PA, Snow
JB, editors. Ballenger’s otorhinolaryngology head and neck surgery. 17th
ed. Pmph USA; 2008. P. 764-6.
6. Newton JR, Ah-See KW. A Review of nasal polyposis. Therapeutics and
Clinical Risk Management 2008:4(2) 507–512.

Kepaniteraan Klinik THT


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD K.R.M.T. Wongsonegoro Semarang
Periode 4 Desember 2017 – 6 Januari 2018

21