Anda di halaman 1dari 29

BAB 8 :

KOPERASI

I. PERKOPERASIAN
A. Sejarah Perkembangan Koperasi

Koperasi pertama kali didirikan pada tahun 1844 di kota Rochdale, Inggris. Koperasi
timbul pada masa perkembangan kapitalisme sebagai akibat dari revolusi industri. Pada
awalnya, koperasi Rochdale berdiri dengan usaha penyediaan barang-barang konsumsi
untuk keperluan sehari-hari. Akan tetapi seiring dengan terjadinya penumpukan modal
koperasi, koperasi mulai merintis untuk memproduksi sendiri barang yang akan dijual.

Perkembangan koperasi di Rochdale sangat mempengaruhi perkembangan gerakan


koperasi di Inggris dan di luar Inggris. Pada tahun 1862 jumlah koperasi di Inggris
mencapai 100 unit. Kemudian dibentuklah pusat koperasi pembelian dengan nama The
Cooperative Whole Sale Society (CWS). Pusat koperasi pembelian ini berhasil
mempunyai kurang lebih 200 pabrik dengan 9.000 pekerja. Melihat perkembangan usaha
koperasi baik di sektor produksi maupun di sektor perdagangan, pimpinan CWS
kemudian membuka perwakilan-perwakilan di luar negeri seperti New York,
Kopenhagen, Hamburg, dan lain-lain.

Sejarah koperasi di Indonesia dibagi menjadi 3 periode, yakni :

1. Koperasi Zaman Kolonial Belanda

Di zaman ini pembentukan koperasi diawali dari keinginan Raden Aria Wiriaatmaja,
Patih Purwokerto (1896) untuk mendirikanHulp Spaarbank yang berarti bank simpanan.
Pendirian ini tidak terlepas dari peran salah satu pejabat tinggi Belanda yang bernama E.
Sieburgh . Namun pada awal pendiriannya bank itu hanya ditujukkan untuk kaum Priyayi
dan Pegawai Pemerintahan yang digunakan untuk membentengi mereka dari Lintah Darat
(renternir) yang banyak menyulitkan dan meresahkan. Setelah sistem ini dibentuk dan
membuahkan hasil pada akhirnya tujuan pendirian bank simpanan ini semakin diperlebar
agar bisa menyentuh kehidupan rakyat pribumi yang memang todak memiliki banyak
pembela dalam bidang ekonomi.

Perkembangan koperasi berikutnya yakni usaha Budi Utomo dengan mendirikan


Koperasi Rumah Tangga pada tahun 1908. Namun karena kurangnya kesadaran dari
pihak yang terkait atau masyarakat maka koperasi tidak bertahan lama. Usaha serupa juga
dilakukan oleh Organisasi Serikat Islam, meski harus bernasib sama dengan milik
organisasi milik Budi Utomo. Menyikapi atas keadaan banyaknya pembentukkan
koperasi yang tidak bertahan lama, maka pada tahun 1920 dibentuklah Cooperative
Commissie(Komisi Koperasi) yang diketuai oleh Prof. Dr. H. Boeke yang bertujuan
untuk memasyarakatkan program koperasi.

2. Koperasi Zaman Penjajahan Jepang


Berbeda dengan masa kolonial Belanda, perkembangan koperasi di zaman Jepang
memang jauh dari kata maksimal. Legalitas pendirian koperasi di masa itu harus datang
dari pemerintahan yang diwakili oleh seorang Suchokan atau Residen. Hal ini membuat
koperasi tidak bisa berkembang karena Jepang menghapus seluruh peraturan yang selama
ini diberlakukan oleh pemerintah Belanda.

Sebagai alternatif maka Jepang mendirikan Kumiai atau koperasi ala Jepang. Tugas
Kumiai adalah sebagai alat kebutuhan rakyat, namun kenyataanya malah sebaliknya
Jepang menjadikan Kumiai sebagai penyedot potensi rakyat. Ini membuat atensi koperasi
dikalangan rakyat menurun dan membuat masa-masa berikutnya sebagai masa sulit bagi
koperasi.

Di zaman Jepang juga muncul istilah-istilah lain, yaitu :


a. Shomin Kumiai Chuo Jimusho (Kantor Pusat Jawatan Koperasi)
b. Shomin Kumiai Syodansyo (Kantor Daerah Jawatan Koperasi)
c. Jumin Keizikyoku (Kantor Perekonomian Rakyat)

3. Perkembangan Koperasi Setelah Kemerdekaan

Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 membawa dampak positif


disegala bidang kehidupan bangsa Indonesia, termasuk kehidupan perkoperasian. Bahkan
sejak diberlakukannya Undang-Undang Dasar Negara yang dikenal dengan nama UUD
1945 pada tanggal 18 Agustus 1945, maka peranan perkoperasian di Indonesia sangatlah
diutamakan.

Peranan koperasi ini di tuangkan secara jelas didalam pasal 33 UUD 1945 yang pada
dasarnya, menetapkan koperasi sebagai soko guru Republik Indonesia. Oleh karena itu,
pada bulan Desember 1946 Pemerintah Republik Indonesia melakukan reorganisasi
terhadap Jawatan Koperasi dan Perdagangan. Jawatan yang disebut pertama bertugas
mengurus dan menangani pembinaan gerakan koperasi dan jawatan yang terakhir
bertugas menangani persoalan perdagangan.

Kongres Koperasi pertama, terlaksana pada tanggal 11-14 Juli 1947 di tasikmalaya, Jawa
Barat. Dan menghasilkan keputusan antara lain :
a. Terwujudnya kesepakatan untuk mendirikan SOKRI (Sentral Organisasi Koperasi
Rakyat Indonesia)
b. Ditetapkannya asas koperasi yaitu : Berdasarkan atas kekeluargaan dan gotong royong
c. Ditetapkannya tanggal 12 Juli sebagai "Hari Koperasi Indonesia"
d. Diperluasnya pengertian dan pendidikan dan tentang perkoperasian

Dan setelah berlangsungnya kongres koperasi pertama, perkembangan koperasi di


Indonesia berkembang dengan sangat pesat sampai sekarang. Bahkan koperasi dijadikan
sebagai alat untuk membantu dalam perkembangan Perekonomian di Indonesia.

B. Pengertian Koperasi
Kata koperasi berasal dari kata “CO” dan “OPERATION”,yang berarti bersama-
sama bekerja.

• Pengertian Koperasi menurut ILO; terdapat 6 elemen dalam koperasi yaitu:


a) Koperasi adalah perkumpulan orang-orang
b) Penggabungan orang-orang berdasarkan kesukarelaan
c) Terdapat tujuan ekonomi yang ingin di capai
d) Koperasi berbentuk organisasi bisnis yang diawasi dan dikendalikan secara
demokratis
e) Terdapat kontribusi yang adil terhadap modal yang dibutuhkan.
f) Anggota koperasi menerima resiko dan manfaat secara seimbang.

• Pengertian Koperasi menurut UU No.25/1992


Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan
hukum koperasi,dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi
sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas azas
kekeluargaan.

C. Landasan, Asas, Tujuan dan Prinsip Koperasi

I. LANDASAN
1. Landasan Idiil
Pancasila merupakan landasan idiil koperasi. Bercermin pada penerapan
Pancasila sebagai dasar negara yang memberikan pedoman dan sumber
hukum sehingga memberikan manfaat untuk banyak golongan. Koperasi
menjadikan hal tersebut sebagai dasar untuk menerapkan semua kegiatan
koperasi agar sesuai dengan nilai-nilai dalam sila-sila Pancasila, yang
tujuannya sesuai dengan tujuan dalam undang-undang yaitu terwujudnya
kesejahteraan sosial.
2. Landasan Konstitusional
Landasan konstitusional atau sering disebut dengan landasan struktural
dalam koperasi Indonesia adalah UUD (Undang-Undang Dasar) 1945.
Secara detail landasan ini tertuang dalam Pasal 33 ayat 1 yang menegaskan
bahwa “Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas
kekeluargaan”. Sekilas memang tidak dinyatakan dengan jelas jika koperasi
merupakan bagian dari salah satu penopang dalam struktural perekonomian
Indonesia.
Jika kita melihat pasal 33 tersebut dengan lebih teliti, disana menyebutkan
“asas kekeluargaan”. Asas ini erat kaitannya dengan keberadaan koperasi
hingga saat ini, karena asas kekeluargaan merupakan asas koperasi
Indonesia. Dengan adanya persamaan asas yang selaras inilah, menjadikan
UUD 1945 Pasal 33 ayat 1 sebagai landasan konstitusional koperasi.

3. Landasan Mental
Landasan mental koperasi indonesia adalah adanya sikap yang berdasarkan
pada kesadaran pribadi dan kesetiakawanan. Dalam koperasi dua sifat ini
saling berkaitan dan tidak bisa terpisah satu dengan yang lain, untuk
menjaga kuatnya sistem koperasi harus ada rasa kesetiakawanan antar
anggota koperasi. Demi mencapai kemajuan, perkembangan usaha, dan
kesejahteraan anggota koperasi, tidak cukup hanya dengan menumbuhkan
rasa kesetiakawanan saja akan tetapi sifat ini harus diikuti kesadaran diri
untuk berkembang bersama-sama mewujudkan tujuan koperasi. Dua sifat
ini merupakan identitas penting bagi koperasi, yang mana sudah menjadi
tuntutan bagi semua anggota untuk menerapkan sifat ini dalam aktivitas
koperasi.

4. Landasan Operasional
Landasan operasional didalamnya memuat dasar-dasar peraturan dan tata
tertib yang wajib ditaati dan diikuti oleh semua anggota, baik itu pengurus,
manager, badan pemeriksa dan karyawan koperasi lainnya, tujuannya
adalah agar peraturan-peraturan ini dijadikan sebagai pedoman dalam
menjalankan tugas dan fungsi masing-masing anggota.
Terdapat 2 jenis dasar landasan operasional dalam menjalankan kegiatan
koperasi, dimana dasar landasan ini merupakan hasil adanya kesepakatan
yang tertuang dalam Undang-Undang dan peraturan lainnya. Berikut ini
merupakan peraturan yang menjadi landasan operasional koperasi,
 UU No. 25 Tahun 1992, didalamnya berisi tentang Pokok-pokok
Perkoperasian.
 Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART)
Koperasi.

II. ASAS
Asas koperasi yang dianut di Indonesia adalah berasaskan pada
kekeluargaan. Hal ini sesuai dengan yang ditetapkan oleh UU No. 25 Tahun
1992 Pasal 2 yang menyatakan bahwa koperasi berasaskan kekeluargaan.
Selain itu secara eksplisit UUD 1945 Pasal 33 ayat 1 juga menyatakan
tentang asas kekeluargaan, jelas yang dimaksud disini adalah koperasi.

Penerapan dari asas kekeluargaan itu sendiri meliputi segala sesuatu yang
berkaitan dengan kegiatan koperasi yang dijalankan oleh seluruh anggota
untuk mencapai tujuan yang sama yaitu terwujudnya kesejahteraan para
anggota koperasi, sehingga kegiatan yang dilakukan selalu terkait dengan
kepentingan anggota baik itu secara langsung maupun tidak langsung.

III. TUJUAN
Sesuai dengan Bab II Pasal 3 UU No.25 Tahun 1992 dan beberapa
Undang-undang lainnya, dimana didalamnya berisi tentang tujuan
koperasi, antara lain:
 Koperasi bertujuan meningkatkan kesejahteraan anggota dan
masyarakat umumnya melalui pembangunan dan pengembangan
potensi ekonomi para anggota dan masyarakat.
 Meningkatkan tatanan perekonomian nasional untuk mewujudkan
masyarakat maju, adil, dan makmur, demi terwujudnya cita-cita
Pancasila dan UUD 1945.
 Berperan aktif dalam meningkatkan kemampuan dan kualitas kehidupan
anggota dan masyarakat.
 Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai kekuatan ekonomi
nasional.

Keberadaan koperasi saat ini merupakan langkah yang nyata dalam rangka
ikut berperan dalam menciptakan dan menumbuhkan perekonomian
nasional. Hal ini terlihat dari bagaimana koperasi menerapkan semua
prinsip-prinsip ekonomi dalam menjalankan setiap kegiatan koperasi yang
mana dari adanya kegiatan akan terwujudnya tujuan bersama dalam
meningkatkan kesejahteraan ekonomi anggota dan masyarakat.

Banyak sekali manfaat yang diperoleh dengan adanya koperasi ditengah-


tengah kehidupan masyarakat, seperti meningkatkan kualitas kehidupan
seluruh anggota juga mendorong pertumbuhan dan pengembangan
potensi-potensi yang ada di masyarakat sehingga dapat meningkatkan
kesejahteraan sosial dan mengurangi tingkat kemiskinan. Adanya asas
kekeluargaan dalam tubuh koperasi akan memberikan pengaruh besar
pada setiap pengambilan keputusan yang lebih ditujukan untuk
kepentingan anggota dan meningkatkan kemampuan ekonomi anggota dan
masyarakat.

IV. PRINSIP
1) Keangotaan bersifat sukarela dan terbuka.
Maksudnya setiap keanggotaan / anggota secara sukarela
memberikan modalnya sendiri-sendiri untuk di gabungkan sebagai
usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan dan kenggotaan
bersifat terbuka maksudnya terbuka untuk siapa saja yang mau
menjadi anggota koperasi tersebut

2) Pengelolaan dilakukan secara demokrasi.


Karena setiap kenggotaan koperasi bebas berpendapat, tetapi yang
dimaksud bebas berpendapat harus memakai aturan yang jelas
berdasarkan prinsip koperasi sebagai gerakan ekonomi rakyat
berdasarkan asas kekeluargaan demi mewujudkan dan
mengembangkan perekonomian nasional yang merupakan usaha
bersama berdasarkan asas kekeluargaan.

3) Pembagian SHU dilakukan secara adil sesuai dengan besarnya jasa


usaha masing-masing anggota.
Maksudnya setiap hasil usaha (SHU) adalah jasa darj masing-
masing anggota dan modal dari masing-masing anggota ,jadi
pembagian SHU setiap anggota harus dibayar secara tunai karena
disini setiap anggota adalah investor atas jasa modal,selain investor
anggota koperasi adalah pemilik jasa sebagai pemakai /pelangan.
SHU juga merupakan hak dari setiap anggota koperasi.

4) Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal.


Pembelian balas jasa di dalam anggota koperasi terbatas oleh
besarnya modal yang tersedia. Apabila modal sedikit pembelian
balas jasanya juga sedikit dan begitu juga sebaliknya, jadi dilihat
dari besar-kecilnya modal anggota itu sendiri.

5) Kemandirian.
Maksudnya setiap anggota mempunyai peran, tugas dan tanggung
jawab masing-masing atas setiap usaha itu sendiri, selain itu
anggota koperasi di tuntut berperan secara aktif dalam upaya
mempertingi kualitas dan bisa mengelola koperasi dan usaha itu
sendiri.

6) Pendidikan perkoperasiaan
Maksudnya pendidikan perkoperasiaan memberikan bekal
kemampuan bekerja setelah mereka terjun dalam masyarakat
karena manusia disamping sebagai makhluk sosial juga sebagai
makhluk individu, dan melalui usaha-usaha pendidikan
perkoperasian dan partisipasi anggota sangat di hargain dan
dianjurkan dalam berkehidupan koperasi, selain itu juga melalui
pendidikan perkoperasiaan setiap orang dapat memenuhi
kebutuhannya masing-masing.

7) Kerjasama antar koperasi.


Maksudnya adanya hubungan kerjasama antar koperasi satu
dengan koperasi lainnya untuk mewujudkan dan mengembangkan
perekonomian nasional yang merupakan usaha bersama dan
dengan adanya kerjasama antar koperasi dapat mewujudkan
kesejahteraan koperasi tersebut.
D. Peran Koperasi
 Membantu anggota untuk peningkatan pendapatan/penghasilan
Sisa hasil usaha yang diperoleh koperasi merupakan keuntungan para anggota.
Makin besar jasa seorang anggota terhadap koperasi makin besar pula penghasilan
yang diperoleh anggota itu.
 Menciptakan dan memperluas lapangan pekerjaan
Koperasi bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan para anggota dan juga
masyarakat pada umumnya. Dalam mencapai tujuan tersebut, koperasi berusaha
melakukan kegiatan sesuai dengan jenis koperasi, seperti di bidang kerajinan,
pertanian, dan pertokoan. Dibukanya lapangan usaha koperasi berarti memberi
kesempatan kepada tenaga kerja dan menyerap sumber daya manusia pada
umumnya.
 Meningkatkan taraf hidup masyarakat
Kegiatan meningkatkan penghasilan para anggota koperasi berarti meningkatkan
taraf hidup masyarakat. Dengan memperoleh penghasilan yang tinggi
kemungkinan akan lebih mudah memenuhi kebutuhan hidup yang beraneka
ragam.
 Turut mencerdaskan bangsa
Usaha koperasi bukan hanya kegiatan bidang material, tetapi juga mengadakan
kegiatan pendidikan terhadap para anggota. Pendidikan tersebut antara lain
diberikan dalam bentuk pelatihan keterampilan dan manajemen. Dengan
demikian, koperasi turut berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
 Mempersatukan dan mengembangkan daya usaha dari orang, baik
perseorangan maupun warga masyarakat.
Koperasi merupakan kekuatan yang dapat dipergunakan untuk mencapai tujuan
bersama. Misalnya, koperasi pertanian dalam melakukan kegiatan usahanya dapat
mempersatukan usaha para petani guna memenuhi kebutuhannya, seperti usaha
pengadaan pupuk, bibit, alat pertanian, dan menjual bersama produksi pertanian.
 Menyelenggarakan kehidupan ekonomi secara demokrasi
Pada setiap kegiatan, koperasi bertindak bukan atas kehendak pengurus,
melainkan berdasarkan keinginan para anggota, yaitu terlebih dahulu harus
dimusyawarahkan. Hal ini merupakan pencerminan dari pelaksanaan demokrasi
ekonomi.

Menurut Undang-Undang Nomor 25 tahun 1992, Pasal 4, Peran dan Fungsi


Koperasi adalah:
1. Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota
pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan
kesejahteraan ekonomi dan sosialnya.
2. Berperan secara aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia dan
masyarakat.
3. Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan
perekonomian nasional dengan koperasi sebagai sokogurunya.
4. Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional yang
merupakan usaha bersama berdasar atas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi.
E. Jenis-Jenis Koperasi
A. Berdasarkan Jenisnya
 Koperasi Produksi (Koperasi Produksi melakukan usaha produksi atau
menghasilkan barang)
 Koperasi konsumsi (Koperasi Konsumsi menyediakan semua kebutuhan para
anggota dalam bentuk barang)
 Koperasi Simpan Pinjam (Koperasi Simpan Pinjam melayani para anggotanya
untuk menabung dengan mendapatkan imbalan)
 Koperasi Serba Usaha (Koperasi Serba Usaha (KSU) terdiri atas berbagai jenis
usaha)

B. Berdasarkan keanggotaannya
 Koperasi Pegawai Negeri (Koperasi ini beranggotakan para pegawai negeri baik
pegawai pusat maupun daerah)
 Koperasi Pasar (Koppas) (Koperasi pasar beranggotakan para pedagang pasar)
 Koperasi Unit Desa (KUD) (Koperasi Unit Desa beranggotakan masyarakat
pedesaan. KUD melakukan kegiatan usaha bidang ekonomi terutama berkaitan
dengan pertanian atau perikanan (nelayan)
 Koperasi Sekolah (Koperasi sekolah beranggotakan warga sekolah yaitu guru,
karyawan, dan siswa)

C. Berdasarkan Tingkatannya
 Koperasi Primer (Koperasi primer merupakan koperasi yang beranggotakan
orang-orang)
 Koperasi sekunder (Koperasi sekunder merupakan koperasi yang beranggotakan
beberapa koperasi)

D. Jenis koperasi berdasarkan fungsinya


 Koperasi Konsumsi (didirikan untuk memenuhi kebutuhan umum sehari-hari
para anggotanya)
 Koperasi Jasa (adalah untuk memberikan jasa keuangan dalam bentuk pinjaman
kepada para anggotanya)
 Koperasi Produksi (Bidang usahanya adalah membantu penyediaan bahan baku,
penyediaan peralatan produksi, membantu memproduksi jenis barang tertentu
serta membantu menjual dan memasarkannya hasil produksi tersebut)

II. PENGELOLAAN KOPERASI


A. Perangkat Organisasi Koperasi

Pada Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian disebutkan


bahwa perangkat organisasi koperasi terdiri atas rapat anggota, pengurus, dan
pengawas.

1 ) Rapat anggota
Rapat anggota merupakan perangkat yang penting dalam koperasi. Rapat
anggota ialah rapat yang dihadiri oleh seluruh atau sebagian besar anggota
koperasi.
Rapat anggota merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam koperasi. Melalui
rapat anggota, seorang anggota koperasi akan menggunakan hak suaranya.

Kewenangan rapat anggota


Rapat anggota berwenang untuk menetapkan hal-hal berikut ini.

a) Anggaran dasar (AD).


b) Kebijaksanaan umum di bidang organisasi.
c) Pemilihan, pengangkatan, dan pemberhentian pengurus dan pengawas.
d) Rencana kerja, rencana anggaran pendapatan dan belanja koperasi, serta
pengesahan laporan keuangan.
e) Pengesahan pertanggungjawaban pengurus dalam pelaksanaan tugas.
f) Pembagian sisa hasil usaha (SHU).
g) Penggabungan, peleburan, pembagian, dan pembubaran koperasi.

2 ) Pengurus
Pengurus dipilih oleh rapat anggota dari kalangan anggota. Pengurus adalah
pemegang kuasa rapat anggota. Masa jabatan paling lama lima tahun.

Tugas pengurus koperasi


Berikut ini tugas pengurus koperasi.
a) Mengelola koperasi dan bidang usaha.
b) Mengajukan rencana kerja serta rencana anggaran pendapatan dan belanja
koperasi.
c) Menyelenggarakan rapat anggota.
d) Mengajukan laporan pelaksanaan tugas dan laporan keuangan koperasi.
e) Memelihara buku daftar anggota, pengurus, dan pengawas.

Pengurus bertanggung jawab kepada rapat anggota atau rapat anggota luar biasa
dalam mengelola usaha koperasi.
Jika koperasi mengalami kerugian karena tindakan pengurus baik disengaja
maupun karena kelalaiannya, pengurus harus mempertanggungjawabkan kerugian
ini.
Apalagi jika tindakan yang merugikan koperasi itu karena kesengajaan, pengurus
dapat dituntut di pengadilan.

Kewenangan pengurus koperasi


Adapun wewenang pengurus koperasi terdiri atas hal-hal berikut ini.

a) Mewakili koperasi di dalam dan di luar pengadilan.


b) Memutuskan penerimaan atau penolakan seseorang sebagai anggota koperasi
berdasarkan anggaran dasar koperasi.
c) Melakukan tindakan untuk kepentingan dan kemanfaatan koperasi sesuai
dengan tanggung jawabnya sebagai pengurus.

3 ) Pengawas
Pengawas koperasi adalah salah satu perangkat organisasi koperasi, dan menjadi
suatu lembaga/badan struktural koperasi.
Pengawas mengemban amanat anggota untuk melaksanakan pengawasan terhadap
pelaksanaan kebijaksanaan dan pengelolaan koperasi.
Koperasi dalam melakukan usahanya diarahkan pada bidangbidang yang
berkaitan dengan kepentingan anggota untuk mencapai kesejahteraan anggota.
Lapangan usaha itu menyangkut segala bidang kehidupan ekonomi rakyat dan
kepentingan orang banyak, antara lain bidang perkreditan (simpan pinjam),
pertokoan, usaha produksi, dan usaha jasa.

Tugas pengawas koperasi


Sesuai dengan namanya sebagai pengawas koperasi, maka tugas-tugas koperasi
seperti berikut ini.
a) Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan koperasi oleh
pengurus.
b) Membuat laporan tertulis mengenai hasil pengawasan yang telah dilakukannya.

Supaya para pengawas koperasi dapat melaksanakan tugasnya dengan baik,


mereka harus diberi wewenang yang cukup untuk mengemban tanggung jawab
tersebut.

Kewenangan pengawas koperasi


Pengawas koperasi mempunyai wewenang berikut ini.
a) Meneliti catatan atau pembukuan koperasi.
b) Memperoleh segala keterangan yang diperlukan.

B. Sumber Permodalan Koperasi


A. MODAL SENDIRI
Modal sendiri adalah modal yang dihimpun dari simpanan anggota yaitu berasal
dari simpanan pokok dan simpanan wajib, dan apabila kegiatan usaha koperasi
sudah berjalan dan memperoleh sisa hasil usaha (shu) maka sebagian dari sisa
usaha tersebut bisa disisihkan dengan tujuan menambah dana cadangan untuk
memperkuat modal sendiri.

Modal sendiri Koperasi adalah berasal dari:

1. Simpanan pokok

sejumlah pengorbanan (uang) yang wajib dibayarkan saat masuk menjadi


anggota koperasi untuk kas koperasi (jumlahnya sama besar dari semua
anggota koperasi).
Selama masih menjadi anggota, simpanan pokok tidak bisa diambil
kembali. Besaran jumlah simpanan pokok ditentukan melalui rapat
anggota.
2. Simpanan wajib
sejumlah uang yang wajib dibayarkan dengan tujuan untuk mencukupi
kebutuhan dana yang hendak dikumpulkan. Jumlahnya tidak sama oleh
setiap anggota. Akumulasi simpanan wajib para anggota harus bisa
mencapai jumlah tertentu agar bisa menunjang kebutuhan dana dalam
rangka mengembangkan/menjalankan usaha koperasi
3. Dana cadangan
dana yang digunakan untuk memupuk modal sendiri dan bisa untuk
menutup kerugian Koperasi apabila diperlukan. Dana cadangan berasal
dari uang yang disisihkan dari sisa hasil usaha (shu). Jumlah dana
penyisihan dana yang dicadangkan diatur/ditentukan dalam anggaran
dasar.
4. Hibah/Donasi (kalau ada)
sejumlah pemberian untuk koperasi yang dapat digunakan untuk
mengembangkan/memperlancar usaha koperasi. Bentuk donasi bisa
berupa uang/barang.

B. MODAL PINJAMAN
Modal pinjaman Koperasi berasal dari :

1. Modal Pinjaman Anggota


Selain daripada simpanan pokok dan simpanan wajib, koperasi juga bisa
mengumpulkan modal pinjaman dari anggota yaitu dalam
bentuk simpanan sukarela dan simpanan khusus.
Simpanan sukarela adalah uang titipan dari anggota koperasi yang
sewaktu-waktu dapat diambil sesuai dengan waktu perjanjian yang sudah
diatur dalam anggaran rumah tangga. Simpanan khusus adalah pinajaman
dari anggota yang digunakan untuk membiayai kebutuhan tertentu.
Tujuannya imbalan jasa dan tata cara pengembaliannya diatur dalam
peraturan khusus.

2. Modal Pinjaman Koperasi atau Badan Usaha Lain


Koperasi bisa mendapatkan modal tambahan dari pinjaman dari Koperasi
atau badan usaha lain yang bisa diperloeh dengan kerjasama yang saling
menguntungkan.

3. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya


Suatu koperasi bisa mendapat pinjaman modal dari lembaga keuangan
seperti bank dan lainnya dengan mengajukan persyaratan yang diantaranya
adalah:
 Rencana penggunaan modal atau rencana usaha.
 Rencana pengembalian kredit
 Jaminan barang yang sesuai dengan jumlah besarnya pinjaman.

4. Penelitian Obligasi atau Surat Hutang Lainnya


Sumber modal yang selanjutnya adalah obligasi. Obligasi adalah surat
berharga yang merupakan hutang jangka panjang yang harus dilunasi
beserta bunga tetap dan pada waktu yang telah ditentukan. Untuk
menertbitkan suatu obligasi, harus mendapatkan izin dari Badan Kordinasi
Penanaman Modal (BKPM) dan memenuhi persyaratan.

5. Sumber Lain Yang Sah


Pinjaman lain bisa didapatkan juga dari sumber lain yang sah dalam hal ini
seperti pemerintah atau lembaga lain dengan pertimbangan tertentu.

6. Modal Penyertaan
Modal pernyataan berasal dari masyarakat dan atau pemerintah. Modal
penyertaan disebut juga sebagai modal pinjaman yang harus menanggung
resiko yang diperlukan.
 Modal penyertaan dari pemerintah
Modal penyertaan dari pemerintah dalam hal ini termasuk BUMN
yang memberikan bantuan kepada Koperasi yang berpotensi.
Pemerintah bisa melibatkan wakilnya untuk mengelola unit usaha
yang bersangkutan. Setelah usaha Koperasi ini berjalan lancar
maka modal penyertaan bisa ditarik kembali.
 Modal Penyertaan bukan dari Pemerintah
Modal yang bukan dari pemerintah bisa berasal dari perorangan
atau lembaga swasta. Modal penyertaan adalah suatu usaha yang
ditempuh Koperasi guna memperkuat modal yang ikut
menanggung resiko dalam mengembangkan usaha. Penempatan
modal diatur dengan perjanjian antara Koperasi dengan penanam
modal.
Dilihat dari pihak penanam modal pernyataan dalam Koperasi
adalah seuatu investasi untuk mendapatkan keuntungan. Pihak
penanam modal pun diberikan hak dan kewajiban:
1. Hak atas jasa modal penyertaan dengan sistem bagi hasil atau
bisa juga dengan pembayaran bunga tetap.
2. Memiliki kewenangan untuk ikut merencanakan pengelolaan
dan pengawasan dengan menempatkan wakilnya pada usaha
Koperasi.

C. Sisa Hasil Usaha (SHU) Koperasi

SHU Koperasi adalah sebagai selisih dari seluruh pemasukan atau penerimaan
total (total revenue ) atau biasa dilambangkan (TR) dengan biaya-biaya atau biaya
total (total cost) dengan lambang (TC) dalam satu tahun waktu. Lebih lanjut
pembahasan mengenai pengertian koperasi bila ditinjau menurut UU No.25/1992,
tentang perkoperasian, Bab IX, pasal 45 adalah sebagai berikut:

• SHU koperasi adalah pendapatan koperasi yang diperoleh dalam satu tahun
buku dikurang dengan biaya, penyusutan, dan kewajiban lain termasuk pajak
dalam tahun buku yang bersangkutan.
• SHU setelah dikurangi dana cadangan, dibagikan kepada anggota sebanding jasa
usaha yang dilakukan oleh masing-masing anggota dengan koperasi, serta
digunakan untuk keperluan pendidikan perkoperasian dan keperluan koperasi,
sesuai dengan keputusan Rapat Anggota.
• Besarnya pemupukan modal dana cadangan ditetapkan dalam Rapat Anggota.
• Penetapan besarnya pembagian kepada para anggota dan jenis serta jumlahnya
ditetapkan oleh Rapat Anggota sesuai dengan AD/ART Koperasi.
• Besarnya SHU yang diterima oleh setiap anggota akan berbeda, tergantung
besarnya partisipasi modal dan transaksi anggota terhadap pembentukan
pendapatan koperasi.

• Semakin besar transaksi(usaha dan modal) anggota dengan koperasinya, maka


semakin besar SHU yang akan diterima.
Dalam proses penghitungannya, nilai SHU anggota dapat dilakukan apabila
beberapa informasi dasar diketahui sebagai berikut:
1. SHU total kopersi pada satu tahun buku
2. bagian (persentase) SHU anggota
3. total simpanan seluruh anggota
4. total seluruh transaksi usaha ( volume usaha atau omzet) yang bersumber dari
anggota
5. jumlah simpanan per anggota
6. omzet atau volume usaha per anggota
7. bagian (persentase) SHU untuk simpanan anggota
8. bagian (persentase) SHU untuk transaksi usaha anggota.
Rumus Pembagian SHU
Rumus Penghitungan Sisa Hasil Usaha (SHU) Koperasi

1. Menghitung Jasa Usaha semua anggota = % Jasa usaha x SHU


2. Menghitung Jasa modal semua anggota = % Jasa modal x SHU
3. Jasa usaha seorang anggota = (pembeliannya : penjualan anggota
koperasi)x jasa usaha semua anggota
4. Jasa modal seorang anggota = (simpanannya : modal anggota koperasi) x
jasa modal semua anggota

SOAL 1
Koperasi “ALAMRAYA” mempunyai SHU Rp 70.000.000,00. Alokasi
pembagian untuk jasa penjualan 10 % dan jasa modal 20%. Koperasi itu
mempunyai total modal sebesar Rp 150.000.000,00 yang terdiri dari:
a. Simpanan wajib Rp 40.000.000,00
b. Simpanan pokok Rp 22.000.000,00
c. Cadangan SHU tahun lalu Rp 16.000.000,00
Sedangkan total penjualan sebesar Rp 20.000.000,00. Bila Pak Didik mempunyai
simpanan Rp1.500.000,00 dan membeli Rp 3.200.000,00, hitunglah besar bagian
SHU Pak Didik!

Pembahasan:

Menghitung besarnya jasa modal dan jasa usaha seluruh anggota

Jasa Usaha seluruh anggota


= jasa penjualan x SHU
= 10 % x Rp 70.000.000,00
= Rp 7.000.000,00

Jasa Modal seluruh anggota


= jasa modal x SHU
= 20 % x Rp 70.000.000,00
= Rp. 14.000.000,00

Menghitung SHU per anggota (Pak Didik):

Jasa Usaha pak Didik :


= (Jasa pembelian P. Didik : total penjualan anggota) x Jasa Usaha seluruh
anggota
= (Rp3.000.000,00 : Rp 20.000.000,00 ) x Rp 7.000.000,00
= Rp. 1.050.000,00

Jasa Modal pak Didik:


= (simpanan pak Didik : simpanan seluruh anggota) x jasa modal seluruh anggota
= (Rp3.200.000,00 : Rp 62.000.000,00) x Rp14.000.000,00
= Rp. 722.580,6

Jadi SHU untuk Pak Didik


= Jasa Usaha pak Didik + Jasa Modal pak Didik
= Rp 1.050.000,00 + Rp 722.580,6
= Rp 1.772.580,6

SOAL 2
Pada akhir periode akuntansi koperasi “ANAKBANGSA” memiliki data sebagai
berikut.
Pendapatan dari anggota =Rp 1.400.000,00
Pendapatan dari bukan anggota=Rp 500.000,00
Beban total =Rp 600.000,00
Berdasarkan Rapat Anggota Tahunan, SHU dibagi sebagai berikut:
Dana cadangan = 40 %
Jasa simpanan = 20 %
Jasa anggota = 25 %
Jasa lain-lain = 15 %
Jika beban dialokasikan pada beban anggota sebesar 70 % dan beban bukan
anggota sebesar 30 %, maka besarnya jasa anggota adalah...

Pembahasan:
SHU seluruh anggota
= Rp.1.400.000,00 - (beban anggota x beban total)
= Rp 1.400.000,00 - (70 % x Rp 600.000,00)
= Rp 1.400.000.00 - Rp 420.000,00
= Rp 980.000,00

Jasa anggota
= 25% x SHU
= 25% x Rp.980.000,00
= Rp 245.000,00

SOAL 3
Saldo akun Koperasi “SEJAHTERA” tanggal 31 Desember 2008 di data sebagai
berikut:
Simpanan pokok: Rp 3.000.000,00
Simpanan wajib: Rp 5.500.000,00
Simpanan Sukarela: Rp 4.000.000,00
Piutang dagang: Rp 2.250.000,00
Penjualan: Rp 3.500.000,00
Pembelian: Rp 7.000.000,00
Peralatan: Rp 5.000.000,00
Persediaan barang: Rp 2.750.000,00
Utang dagang: Rp 2.250.000,00

Dari data diatas hitunglah harta Koperasi “SEJAHTERA”!

Pembahasan:
Harta koperasi
= peralatan + piutang + persediaan
= Rp5.000.000,00 + Rp2.250.000,00 + Rp2750.000,00
= Rp10.000.000,00

D. Prosedur Pendirian Koperasi


1. Persiapan pembentukan
Maksudnya yang akan mendirikan koperasi mendapatkan penyuluhan terlebih
dahulu agar mendapatkan pengertian serta kejelasan tentang maksud dan tujuan
didirikannya koperasi dan termasuk struktur organisasi, dan juga kegiatan usaha
koperasi di dalamnya.

2. Rapat pembentukan
Rapat ini dipimpin oleh seorang atau beberapa orang pendiri dan terdapat paling
sedikit 20 orang di dalam rapat dan disarankan mengundang pejabat atau petugas
yang memahami perkoperasian. Terdapat 2 hal dalam rapat pembentukan yaitu:
 Pendiri yaitu orang-orang yang hadir dalam rapat pembentukan koperasi serta
telah menyatakan diri menjadi anggota dan memenuhi persyaratan
keanggotaan.
 Kuasa pendiri adalah orang-orang pendiri yang diberi kuasa sebagai pengurus
koperasi untuk memproses pengajuan Badan Hukum kepada Pemerintah serta
menandatangani akta anggaran dasar.

Kemudian hal-hal yang dibicarakan dalam rapat adalah sebagai berikut.

 Tujuan mendirikan koperasi;


 Persyaratan menjadi anggota;
 Kegiatan usaha yang hendak dijalankan;
 Memilih nama-nama pendiri koperasi;
 Menetapkan modal yang akan disetorkan kepada koperasi yang diantaranya
dari simpanan pokok serta simpanan wajib;
 Menyusun anggaran dasar;
 Memilih nama-nama pengurus dan pengawas koperasi;

3. Teknis penyusunan anggaran dasar


Penyusunan anggaran dasar dapat ditempuh dengan cara berikut ini.

1. Membentuk tim perumus penyusun anggaran dasar;


2. Hal-hal khusus yang perlu dibahas:
 Nama serta tempat kedudukan koperasi;
 Syaratan menjadi anggota;
 Nama-nama pendiri, pengurus dan pengawas;
 Besarnya simpanan pokok dan simpanan wajib;
 Ketentuan mengenai penggunaan sisa hasil usaha;
 Kegiatan usaha;
 Ketentuan tentang sanksi.

3. Isi anggaran dasar minimal memuat:


 Daftar nama pendiri
 Ketentuan mengenai keanggotaan
 Nama dan tempat kedudukan koperasi
 Ketentuan tentang rapat anggota
 Maksud dan tujuan serta bidang usaha
 Ketentuan tentang pengelolaan
 Ketentuan tentang permodalan
 Ketentuan tentang jangka waktu berdirinya koperasi
 Ketentuan tentang pembagian sisa hasil usaha
 Ketentuan tentang sanksi.

4. Pengajuan permohonan pengesahan akta pendirian koperasi


Permohonan dilakukan dengan beberapa persyaratan sebagai berikut.

1. Koperasi Primer yang tidak memiliki unit usaha simpan pinjam:


 Akta pendirian koperasi dua rangkap, dan salah satunya bermaterai yang
cukup;
 Surat bukti penyetoran modal;
 Berita acara pembentukan koperasi;
 Rencana kerja awal kegiatan usaha;
 Neraca awal kegiatan usaha;
 Foto copy KTP masing-masing anggota pendiri;
 Daftar hadir rapat pembentukan.

2. Koperasi Primer yang memiliki unit usaha simpan pinjam:


 Akta pendirian koperasi dua rangkap, dan salah satunya bermaterai yang
cukup;
 Surat bukti penyetoran modal;
 Berita acara pembentukan koperasi;
 Neraca awal:
1) Neraca awal kegiatan usaha non simpan pinjam
2) Neraca awal khusus unit simpan pinjam per…
3) Rencana awal:
4) Rencana kerja awal kegiatan usaha non simpan pinjam;
5) Rencana awal kegiatan usaha simpan pinjam yang meliputi:
 Rencana pemberian pinjaman;
 Rencana penghimpunan dana simpanan;
 Rencana modal pinjaman;
 Rencana penghimpunan modal sendiri;
 Rencana di bidang organisasi dari sumber daya manusianya;
 Rencana pendapatan dan beban.
 Nama dan riwayat hidup pengurus, pengawas dan manajer unit simpan
pinjam;
 Daftar hadir rapat pembentukan;
 Surat perjanjian kerja antara manager unit simpan pinjam dengan
pengurus;
 Foto copy KTP masing-masing anggota pendiri;
 Daftar sarana kerja yang telah disiapkan.

3. Koperasi simpan pinjam


 Akta pendirian koperasi dua rangkap, dan salah satunya bermaterai yang
cukup;
 Surat bukti penyetoran modal sendiri sekurang-kurangnya Rp.
15.000.000,-;
 Neraca awal per tanggal pendirian koperasi;
 Berita acara rapat pembentukan Koperasi Simpan Pinjam;
 Rencana awal kegiatan usaha yang meliputi:
1) Rencana pemberian pinjaman;
2) Rencana penghimpunan dana simpanan;
3) Rencana modal pinjaman;
4) Rencana penghimpunan modal sendiri;
5) Rencana di bidang sumber daya manusia dan organisasi;
6) Rencana pendapatan dan beban.
 Daftar hadir rapat pembentukan
 Nama serta riwayat hidup calon pengelola atau manajer dengan lampiran:
1) Surat pernyataan tidak mempunyai hubungan keluarga dengan
pengurus sampai dengan derajat kesatuan;
2) Surat keterangan berkelakuan baik dari yang berwenang;
3) Keterangan pernah mengikuti magang di usaha simpan pinjam dan
atau Sertifikat pelatihan simpan pinjam.
 Foto copy KTP masing-masing anggota pendirip;
 Daftar sarana kerja yang telah dipersiapkan.

5. Penerimaan permohonan oleh pejabat


Apabila permohonan telah lengkap dan benar, maka pemerintah akan memberikan
tanda terima, dan berkasnya akan segera diproses. Apabila berkasnya belum
lengkap serta belum benar, permohonan yang dimaksud dikembalikan untuk
diperbaiki.

1. Penelitian permohonan oleh pejabat


Terdapat dua yaitu secara administratif dan penelitian lapangan.

2. Pengesahan akta pendirian koperasi


Pengesahan akta pendirian koperasi ini harus dengan Surat Keputusan Menteri
Negara Koperasi Pengusaha Kecil dan Menengah yang telah ditandatangani oleh
Kepala Dinas Koperasi Pengusaha Kecil dan Menengah Kabupaten atau Kota.

E. Tahapan Pendirian/Pengembangan Koperasi di Sekolah


1) Tahap Persiapan
Koperasi sekolah didirikan melalui rapat yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya
siswa atau perwakilan siswa dari setiap kelas, pengurus OSIS, para guru dan
kepala sekolah, serta perwakilan dari pejabat direktorat koperasi setempat.
Dalam rapat tersebut ditetapkan mengenai pengurus koperasi dan modal koperasi
yang akan dibentuk. Oleh karena itu, perlu dibentuk panitia yang akan
melaksanakan dan mengoordinasikan segala keperluan untuk pembentukan
koperasi sekolah tersebut. Tugas yang perlu dilakukan oleh panitia, antara lain
sebagai berikut:
a) Melakukan konsultasi dengan kantor koperasi setempat mengenai segala hal
yang berkaitan dengan pembentukan koperasi sekolah.
b) Menetapkan waktu, tempat, dan acara pelaksanaan rapat pembentukan
koperasi sekolah.
c) Menyiapkan administrasi rapat pembentukan, seperti daftar hadir undangan,
notulen rapat pembentukan, tata tertib, dan akta pendirian.
d) Membuat rancangan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga koperasi.
e) Membuat proposal dan mencari sumber pendanaan rapat pem- bentukan
koperasi.
f) Mempersiapkan sistem pemilihan dan pelantikan pengurus.

2) Tahap Pembentukan
Setelah tahap persiapan, selanjutnya dilakukan rapat resmi pembentukan koperasi
sekolah. Rapat pembentukan dibagi menjadi:
a) pembukaan;
b) laporan panitia tentang tujuan pendirian koperasi sekolah;
c) penjelasan dan pengarahan tentang pembentukan koperasi sekolah oleh
perwakilan dari kantor koperasi setempat;
d) pembacaan tata tertib rapat pembentukan dan pemilihan pengurus koperasi;
e) penetapan AD dan ART koperasi sekolah;
f) pemilihan serta pelantikan pengurus dan pengawas koperasi sekolah.

3) Tahap Pelaporan atau Pendaftaran


Dalam tahap pelaporan, pengurus terpilih segera mendaftarkan koperasi sekolah
ke kantor koperasi setempat. Dalam pengajuan laporan, harus dilengkapi dengan
beberapa persyaratan, antara lain sebagai berikut.
a) Akta pendirian koperasi/anggaran dasar yang telah disahkan sebanyak 2 (dua)
eksemplar, salah satunya telah dibubuhi materai.
b) Petikan berita acara pembentukan koperasi sekolah.
c) Neraca awal yang menunjukkan aset atau permodalan koperasi sekolah.

4) Tahap Pengesahan
Tahap terakhir dari pembentukan koperasi sekolah adalah tahap pengesahan.
Dalam tahap pengesahan, permohonan pengesahan ditujukan kepada direktorat
jenderal koperasi tingkat provinsi setempat. Setelah persyaratan yang telah
ditetapkan dipenuhi dengan lengkap, sekolah akan memperoleh surat tanda
pengesahan yang akan dikirim ke sekolah yang bersangkutan. Setelah tahap ini
selesai, koperasi sekolah dapat melaksanakan semua aktivitasnya sesuai dengan
ketentuan yang telah ditetapkan.
BAB 9 :
MANAJEMEN

I. Manajemen
A. Pengertian Manajemen

Secara umum, pengertian manajemen merupakan suatu seni dalam ilmu dan
pengorganisasian seperti menyusun perencanaan, membangun organisasi dan
pengorganisasiannya, pergerakan, serta pengendalian atau pengawasan. Bisa juga
diartikan bahwa manajemen merupakan suatu ilmu pengetahuan yang sistematis agar
dapat memahami mengapa dan bagaimana manusia saling bekerja sama agar dapat
menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain maupun golongan tertentu dan
masyarakat luas.

Secara etimologis, pengertian manajemen merupakan seni untuk melaksanakan dan


mengatur. Manajemen ini juga dilihat sebagai ilmu yang mengajarkan proses
mendapatkan tujuan dalam organisasi, sebagai usaha bersama dengan beberapa orang
dalam organisasi tersebut. Sehingga, ada orang yang merumuskan dan melaksanakan
tindakan manajemen yang disebut dengan manajer.

B. Unsur-Unsur Manajemen

Setiap perusahaan memiliki unsur-unsur untuk membentuk sistem manajerial yang


baik. Unsur-unsur inilah yang disebut unsur manajemen. Jika salah satu diantaranya
tidak sempurna atau tidak ada, maka akan berimbas dengan berkurangnya upaya
untuk mencapai tujuan organisasi atau perusahaan. Unsur-unsur tersebut diantaranya
sebagai berikut.

Human (Manusia)
Dalam manajemen, faktor manusia adalah yang paling menentukan. Manusia yang
membuat tujuan dan manusia pula yang melakukan proses untuk mencapai tujuan.
Tanpa adanya manusia maka tidak ada proses kerja, sebab pada dasarnya manusia
adalah makhluk kerja.

Money (Uang)
Uang merupakan salah satu unsur yang tidak dapat diabaikan. Uang merupakan alat
tukar dan alat pengukur nilai. Besar-kecilnya hasil kegiatan dapat diukur dari jumlah
uang yang beredar dalam perusahaan. Oleh karena itu uang merupakan alat (tools)
yang penting untuk mencapai tujuan karena segala sesuatu harus diperhitungkan
secara rasional. Hal ini akan berhubungan dengan berapa uang yang harus disediakan
untuk membiayai gaji tenaga kerja, alat-alat yang dibutuhkan dan harus dibeli serta
berapa hasil yang akan dicapai dari suatu organisasi.

Materials (Bahan)
Material terdiri dari bahan setengah jadi (raw material) dan bahan jadi. Dalam dunia
usaha untuk mencapai hasil yang lebih baik, selain manusia yang ahli dalam
bidangnya juga harus dapat menggunakan bahan/materi-materi sebagai salah satu
sarana. Sebab materi dan manusia tidak dapat dipisahkan, tanpa materi tidak akan
tercapai hasil yang dikehendaki.

Machines (Mesin)
Dalam kegiatan perusahaan, mesin sangat diperlukan. Penggunaan mesin akan
membawa kemudahan atau menghasilkan keuntungan yang lebih besar serta
menciptakan efisiensi kerja.

Methods (Metode)
Dalam pelaksanaan kerja diperlukan metode-metode kerja. Suatu tata cara kerja yang
baik akan memperlancar jalannya pekerjaan. Sebuah metode dapat dinyatakan
sebagai penetapan cara pelaksanaan kerja dengan memberikan berbagai
pertimbangan-pertimbangan dari sasaran, fasilitas-fasilitas yang tersedia dan
penggunaan waktu, serta uang dan kegiatan usaha. Perlu diingat meskipun metode
baik, sedangkan orang yang melaksanakannya tidak mengerti atau tidak mempunyai
pengalaman maka hasilnya tidak akan memuaskan. Dengan demikian, peranan utama
dalam manajemen tetap manusia itu sendiri.

Market (Pasar)
Memasarkan produk tentu sangat penting sebab bila barang yang diproduksi tidak
laku, maka proses produksi barang akan berhenti. Artinya, proses kerja tidak akan
berlangsung. Oleh sebab itu, penguasaan pasar dalam arti menyebarkan hasil produksi
merupakan faktor yang menentukan dalam perusahaan. Agar pasar dapat dikuasai
maka kualitas dan harga barang harus sesuai dengan selera konsumen dan daya beli
(kemampuan) konsumen.

C. Fungsi Manajemen

1. Perencanaan (planning)
Pernecanaan adalah memikirkan apa yang akan dikerjakan dengan sumber yang
dimiliki. Perencanaan dilakukan untuk menentukan tujuan perusahaan secara
keseluruhan dan cara terbaik untuk memenuhi tujuan itu. Manajer mengevaluasi
berbagai rencana alternatif sebelum mengambil tindakan dan kemudian melihat
apakah rencana yang dipilih cocok dan dapat digunakan untuk memenuhi tujuan
perusahaan. Perencanaan merupakan proses terpenting dari semua fungsi
manajemen karena tanpa perencanaan, fungsi-fungsi lainnya tak dapat berjalan.

2. Pengorganisasian (organizing)
Pengorganisasian dilakukan dengan tujuan membagi suatu kegiatan besar menjadi
kegiatan-kegiatan yang lebih kecil. Pengorganisasian mempermudah manajer
dalam melakukan pengawasan dan menentukan orang yang dibutuhkan untuk
melaksanakan tugas-tugas yang telah dibagi-bagi tersebut. Pengorganisasian dapat
dilakukan dengan cara menentukan tugas apa yang harus dikerjakan, siapa yang
harus mengerjakannya, bagaimana tugas-tugas tersebut dikelompokkan, siapa
yang bertanggung jawab atas tugas tersebut, dan pada tingkatan mana keputusan
harus diambil.

3. Pengarahan (directing)
Pengarahan adalah suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota
kelompok berusaha agar dapat mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan
manajerial dan usaha.

D. Bidang-Bidang Manajemen

1) Manajemen Produksi
Adalah kegiatan untuk mengoordinasi serta mengatur faktor-faktor
produksi seperti sumber daya alam, sumber daya manusia, modal dan
kemampuan kewirausahaan secara efektif serta efisien utnuk dapat
menciptakan dan menambah nilai guna suatu barang atau jasa.

Manajemen produksi merupakan sebuah proses manajemen yang


bertanggung jawab kepada seluruh proses perencanaan serta aktifitas
produksi, distribusi, maupun manajemen proyek yang sedang dijalankan
oleh suatu organisasi. Kegiatan manajemen prduksi menyangkut hal-hal
berikut:
 perencanaan sistem produksi
merupakan kegiatan yang berhubungan dengan pembuatan konsep
atau gambaran bagaimana suatu kegiatan akan berlangsung.
Perencaan ini nanti akan dijadikan suatu acuan untuk menjalankan
kegiatan produksi. Perencaan sistem produksi meliputi perencaan
lokasi pabrik, prasarana pabrik, fasilitasi produksi, kondisi
lingkungan kerja, penentuan jenis, jumlah, desain, dan bahan baku
serta cara pengolahan barang tsb.
 Pengendalian produksi
Merupakan rangkaian prosedur kegiatan yang mengarah pada
semua komponen dalam proses produksi, seperti pengendalian
bahan baku, harga bahan baku, tenaga kerja, proses produksi,
standar kualitas produksi dan sebagainya agar dapat memberikan
hasil yang memuaskan dengan ongkos terendah dalam waktu
cepat.

 Pengawasan produksi
Bertujuan untuk menjamin terlaksananya kegiatan produksi sesuai
dengan apa yang telah direncanakan. Hal ini berkaitan dengan
apakah semua proses produksi dilakukan dengan benar atau tidak,
apakah terdapat masalah yang timbul dalam proses produksi atau
tidak. Tujuan utama pengawasan produksi adalah untuk mencegah
dan memperbaiki penyimpangan, kesalahan, serta kegiatan lain
yang tidak sesuai dengan prosedur perencanaan.

2) Manajemen Pemasaran
Adalah salah satu bidang operasional yang perlu penanganan sungguh-
sungguh, hal ini menyangkut berhasil atau tidaknya produk yang telah dibuat
sampai ke tangan konsumen. Manajemen pemasaran merupakan sebuah
kegiatan yang berhubungan dengan proses pemindahan barang atau jasa dari
produsen ke konsumen. Tujuan utama dari manajemen pemasaran pada
umumnya adalah untuk meningkatkan volume penjualan dari produk yang
telah dihasilkan.
Proses manajemen pemasaran ini mencakup beberapa kegiatan yaitu
a.) riset pasar
b.) perencanaan pemasaran
c.) melaksanakan analisis terhadap peluang pasar, kendala atau
tantangan, serta ancaman dari pesaing
d.) mempromosikan produk
e.) pengelolaan usaha-usaha pemasaran

3) Manajemen Keuangan
Merupakan suatu bidang manajemen yang fokus terhadap pengelolaan dana
peusahaan (memperoleh dan menggunakan dana) yang dilakukan secara
efektif dan efisien guna meningkatkan dan memaksimalkan laba perusahaan.
Dalam manajemen keuangan terdapat aspek-aspek kegiatan yaitu:
a.) merencakan serta melaksanakan kerjasama dengan pihak-pihak
terkait dalam pencairan dana
b.) menetapkan keputusan keuangan yang menyangkut investasi baik
dari segi sumber maupun penggunaan
c.) menetapkan kebijakan pembagian divigen yang diperoleh dari laba
perusahaan
d.) mengawasi dan melakukan kontrol keuangan dengan membuat
laporan perusahaan

4) Manajemen Sumber Daya Manusia


Atau manajemen personalia merupakan bidang manajemen yang focus
terhadap kegiatan yang berhubungan dengan tenaga kerja. Seperti pengadaan
(recruitment), pengembangan (peningkatan mutu), pemberian kompensasi
(upah), pengintegrasian (penyatuan), serta pemeliharaan terhadap SDM
(karyawan) secara terpadu untuk mencapai tujuan perusahaan.
Manajemen sumberdaya manusia bertujuan untuk:
a.) mendapatkan karyawan yang berkualitas, yang bisa dibina, dan
dimanfaatkan untuk kegiatan organisasi
b.) meningkatkan kemampuan kerja karyawan
c.) menciptakan hubungan kerja yang baik diantara karyawan, baik
secara vertical maupun horizontal

5) Manajemen Akutansi/Administrasi
Merupakan bidang manajemen yang berfokus pada pemberian informasi
layanan dalam bidang akutansi atau administrasi yang diperlukan untuk
membantu manajemen menetapkan garis-garis kebijakan dan operasional
sehari-hari.
Kegiatan manajemen akutansi/administrasi meliputi pengumpulan,
pencatatan, analisis, serta laporan keuangan atau administrasi perusahaan yang
dapat dijadikan sebagai bahan pengambilan keputusan.
Tahapan manajemen akutansi/administrasi terdiri dari:
a.) pengumpulan data
b.)pencatatan data
c.) pengelompokkan data
d.) pelaporan data
e.) penafsiran data

E. Penerapan Fungsi Manajemen Terhadap Kegiatan Sekolah

Manajemen dalam kegiatan sekolah sangatlah penting, sesuai dengan pendapat James
A.F. Stoner bahwa manajemen adalah seni untuk melaksanakan suatu pekerjaan
melalui orang-orang.
Tanpa adanya manajemen, kegiatan di sekolah takkan berjalan lancar. Perhatikan
mulai dari manajemen puncak yang diduduki Kepala Sekolah, kemudian manajemen
menengah yang diisi oleh jajaran Wakil Kepala Sekolah, serta manajemen bawah
yang diisi oleh Guru dan Staf. Semuanya merupakan suatu kesatuan yang
menjalankan fungsi manajemen sesuai tugas masing-masing. Tujuan dari kegiatan
manajemen dimaksud adalah meningkatkan mutu pendidikan di sekolah pada
khususnya dan mutu pendidikan bangsa pada umumnya.
Ada beberapa fungsi manajemen dalam kegiatan sekolah, yaitu:

1. Perencanaan
Dalam perencanaan, terdapat penerimaan siswa baru, pengakuan hasil belajar awal,
dan persiapan pembelajaran.
2. Pelaksanaan Pembelajaran
Dalam pelaksanaan pembelajaran, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah pendekatan
pembelajaran, metode pembelajaran, tahapan pembelajaran, dan pola pelaksanaan
pembelajaran.
3. Evaluasi Hasil Belajar
Untuk menentukan sejauh mana peserta didik mencapai tujuan pembelajaran, perlu
dilakukan evaluasi dengan menggunakan berbagai instrumen dan teknik hingga
diperoleh sebuah sistem pelaporan.
4. Evaluasi Program
Evaluasi program merupakan proses pengukuran dan penilaian semua program yang
berkenaan dengan konteks lingkungan eksternal, input (masukan), proses, output
(keluaran), dan hasil yang diperoleh.
Pelaksanaan konsep manajemen sekolah yang baik dan benar diyakini akan
meningkatkan kualitas penyelenggaraan Proses Belajar dan Mengajar (PMB)
sekaligus prestasi seluruh warga sekolah.

Contoh lain penerapan fungsi manajemen sekolah adalah keberadaan Organisasi


Siswa Intra Sekolah (OSIS). Kata ‘organisasi’ menunjukkan bahwa OSIS merupakan
kelompok kerja sama antar pribadi yang diadakan untuk mencapai terwujudnya
pembinaan kesiswaan. Sedangkan kata ‘intra’ menunjukkan kiprah yang ada di dalam
dalam lingkungan suatu sekolah. Sesuai Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI
No. 39 Tahun 2008 tentang Pembinaan Kesiswaan pada Pasal 1 disebutkan bahwa
tujuan pembinaan kesiswaan melalui OSIS adalah :
a. Mengembangkan potensi siswa secara optimal dan terpadu yang meliputi bakat,
minat, dan kreativitas.
b. Memantapkan kepribadian siswa untuk mewujudkan ketahanan sekolah sebagai
lingkungan pendidikan sehingga terhindar dari usaha dan pengaruh negatif yang
bertentangan dengan tujuan pendidikan.
c. Mengaktualisasikan potensi siswa dalam pencapaian prestasi unggulan sesuai bakat
dan minat.
d. Menyiapkan siswa agar menjadi warga masyarakat yang berakhlak mulia,
demokratis, menghormati hak-hak asasi manusia dalam rangka mewujudkan
masyarakat madani (civil society).