Anda di halaman 1dari 48

ABSTRAK

Motor DC adalah suatu motor yang berfungsi mengubah energi listrik menjadi energi
mekanik. Prinsip kerja motor DC yaitu mengalirkan arus listrik melalui satu konduktor yang
ditempatkan pada suatu medan magnet, kemudian timbul gaya mekanik yang arahnya
ditentukan oleh aturan tangan kiri (F-B-I) atau kanan (I-B-F). Pada praktikum ini dilakukan 2
percobaan yaitu percobaan motor DC beban nol dan percobaan motor DC shunt berbeban.
Untuk percobaan motor DC beban nol, data yang diberikan adalah besar tegangan sumber
yang nilainya 65, 75, 85, 95 dan 105 V, sedangkan yang dicari adalah arus IL dan RPM.
Kemudian untuk percobaan motor DC Shunt berbeban, data yang diberikan adalah tegangan
sumber nilainya 100 dan besar eksitasi 3, 3,5, 4, 4,5 dan 5 A, sedangkan yang dicari adalah
arus IL dan RPM. Setelah itu menghitung daya input, rugi tembaga dan mekanis, pada beban
nol naik dan turun. Hasil praktikum ketika beban nol naik, Vt 65 volt didapatkan putaran
sebanyak 1137 rpm, IL sebesar 1,27 ohm, nilai Ish 0,0542 A, Ia sebesar 1,2158 A, Pin
sebesar 82,55 Watt, nilai w tembaga (cu) sebesar 12,39 W dan W(b+m) sebesar 16,51 W.
Peralatan yang dipakai adalah motor DC shunt, voltmeter, tangmeter, multitester, regulator,
penyearah arus (rectifier), tachometer, generator dan kabel penghubung. Aplikasi di dunia
marine adalah motor DC sebagai penggerak penggerak crane pada saat dipelabuhan.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Semakin majunya zaman, mesin penggerak dengan bahan bakar non renewable mulai
tergantikan dengan adanya penggerak dengan energy listrik, yang biasa kita kenal dengan
motor listrik. Faktor yang menyebabkan motor listrik banyak digunakan antara lain,lebih
praktis, bentuknya yang cendrung lebih kecil, dan bisa untuk bekerja dengan skala yang
beragam serta emisi yang sedikit. Salah satu motor listrik tersebut adalah Motor DC, yaitu
mesin yang bekerja mengubah tenaga listrik menjadi tenaga gerak.
Keuntungan penggunaan motor DC adalah motor DC mempunyai karakteristik kopel
kecepatan yang menguntungkan dibandingkan motor lainnya, aplikasi motor DC di dunia
marine adalah crane pada pelabuhan untuk memindahkan kontainer-kontainer dari maupun ke
kapal, baterai pada kapal selam, penggerak alat navigasi.
Mata kuliah listrik kapal merupakan mata kuliah yang terdapat di Departemen Teknik
Sistem Perkapalan ITS yang memelajari dan memahami berbagai fungsi atau cara kerja
mesin-mesin listrik yang digunakan di kehidupan kapal. Mahasiswa selain harus mampu
mendalami secara teori juga harus paham secara praktik. Oleh karena itu, praktikum Listrik
Perkapalan ini perlu diadakan.
Prinsip kerja motor DC yaitu arus listrik yang masuk melalui suatu kumparan, arus
akan mengenai medan magnet dan menimbulkan gaya, akibatnya rotor akan berputar. Motor
DC tersusun dari 2 bagian saja, yaitu stator dan rotor. Stator merupakan bagian yang diam
yang terdiri dari rangka motor, sikat- sikat, dan slip ring. Rotor adalah bagian yang bergerak
dan terdiri dari komutator, jangkar, dan lilitan jangkar.

1.2. Tujuan Praktikum


1.Percobaan Motor DC Shunt Beban Nol
a. Mengetahui besarnya rugi besi dan mekanis pada saat motor dijalankan dengan
beban nol.
b. Menghitung besar efisiensi motor dari daya output saat beban penuh.
2. Percobaan Motor DC Shunt Berbeban
a. Menghitung besarnya torsi motor pada beban tertentu.
b.Menentukan putaran motor dalam keadaan beban tertentu.
c. Menghitung daya motor dalam keadaan beban tertentu.
d.Menghitung efisiensi motor dan membuat kurva efisiensi fungsi beban.
1.3. Rumusan Permasalahan
Rumusan masalah dalam praktikum motor DC adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana grafik dari torsi fungsi putaran, arus fungsi putaran?
2. Bagaimana perhitungan daya motor serta kerugiannya?
3. Apa penjelasan tentang gambar diagram rectifier?
4. Apa pengertian dari tahanan shunt, tahanan seri dan tahanan jangkar?
5. Apa saja perbedaan motor DC dan motor AC?
6. Apa pengertian dari arus eksitasi?
7. Mengapa pengukuran RPM berbeda dengan nilai tegangan dan arus eksistasi yang
sama?
8. Apakah aplikasi motor DC di dunia marine?
9. Bagaimana grafik losses besi bermekanis fungsi putaran sekaligus kesimpulannya?
10. Bagaimana grafik efisiensi fungsi beban?

1.4. Manfaat Praktikum


Manfaat dalam praktikum motor DC adalah sebagai berikut :
1. Mahasiswa dapat memahami konsep atau prinsip kerja dari motor DC.
2. Mahasiswa dapat memahami mekanisme kerja dari motor DC.
3. Mahasiswa dapat memahami komponen dari motor DC.
4. Mahasiswa dapat memahami jenis-jenis motor DC.
5. Mahasiswa dapat memahami keuntungan dan kerugian dari motor DC.
6. Mahasiswa dapat memahami perbedaan motor DC dan motor AC.
BAB II
DASAR TEORI
2.1. Pengertian Motor Dc
Motor listrik merupakan perangkat elektromagnetis yang mengubah energi
listrik menjadi energi mekanik. Energi mekanik ini digunakan untuk, misalnya
memutar impeller pompa, fan atau blower, menggerakan kompresor, mengangkat
bahan,dll. Motor listrik digunakan juga di rumah (mixer, bor listrik, fan angin) dan di
industri. Motor listrik kadangkala disebut “kuda kerja” nya industri sebab
diperkirakan bahwa motor-motor menggunakan sekitar 70% beban listrik total di
industri.
Motor DC memerlukan suplai tegangan yang searah pada kumparan medan
untuk diubah menjadi energi mekanik. Kumparan medan pada motor dc disebut stator
(bagian yang tidak berputar) dan kumparan jangkar disebut rotor (bagian yang
berputar). Jika terjadi putaran pada kumparan jangkar dalam pada medan magnet,
maka akan timbul tegangan (GGL) yang berubah-ubah arah pada setiap setengah
putaran, sehingga merupakan tegangan bolak-balik. Prinsip kerja dari arus searah
adalah membalik phasa tegangan dari gelombang yang mempunyai nilai positif
dengan menggunakan komutator, dengan demikian arus yang berbalik arah dengan
kumparan jangkar yang berputar dalam medan magnet. Bentuk motor paling
sederhana memiliki kumparan satu lilitan yang bisa berputar bebas di antara kutub-
kutub magnet permanen.

Gambar 2.1 Motor DC Sederhana


Sumber : learningengineering.org

Catu tegangan dc dari baterai menuju ke lilitan melalui sikat yang menyentuh
komutator, dua segmen yang terhubung dengan dua ujung lilitan. Kumparan satu
lilitan pada gambar di atas disebut angker dinamo. Angker dinamo adalah sebutan
untuk komponen yang berputar di antara medan magnet.

2.2.Prinsip Kerja Motor Dc


Prinsip kerja motor DC didasarkan pada saat arus yang melewati konduktor
ditempatkan pada suatu medan magnet, lalu akan menimbulkan gaya mekanik yang
arahnya mengikuti kaidah Fleming’s Left Hand Rule yang memiliki besaran :
F = B . I . L (Newton)

Gambar 2.2 Medan magnet yang membawa arus mengelilingi konduktor


Sumber : https://kaptenivan.files.wordpress.com

Jika arus lewat pada suatu konduktor, akan timbul medan magnet di sekitar
konduktor. Arah medan magnet ditentukan oleh arah aliran arus pada konduktor.
Aturan genggaman tangan kanan bisa digunakan untuk menentukan arah garis fluks di
sekitar konduktor. Arah arus pada konduktor adalah diwakilkan dengan jari jempol,
maka jari-jari lainnya akan menunjukkan arah garis fluks. Gambar 2.2 menunjukkan
medan magnet yang terbentuk di sekitar konduktor berubah arah karena berbentuk U.
Medan magnet hanya terjadi di sekitar sebuah konduktor jika ada arus mengalir pada
konduktor tersebut. Jika konduktor berbentuk U (rotor) diletakkan di antara kutub
utara dan selatan, maka kuat medan magnet konduktor akan berinteraksi dengan
medan magnet kutub.
Gambar 2.3 reaksi garis fluks
http://web.ipb.ac.id/

Lingkaran bertanda A dan B merupakan ujung konduktor yang dilengkungkan


(looped conductor). Arus mengalir masuk melalui ujung A dan keluar melalui ujung
B. Medan konduktor A yang searah jarum jam akan menambah medan pada kutub
dan menimbulkan medan yang kuat di bawah konduktor. Konduktor akan berusaha
bergerak ke atas untuk keluar dari medan magnet . Medan konduktor B yang
berlawanan arah jarum jam akan menambah medan pada kutub dan menimbulkan
medan yang kuat di atas konduktor. Konduktor akan berusaha untuk bergerak turun
agar keluar dari medan yang kuat tersebut. Gaya-gaya tersebut akan membuat rotor
berputar searah jarum jam. Pada motor dc, daerah kumparan medan yang dialiri arus
listrik akan menghasilkan medan magnet yang melingkupi kumparan jangkar dengan
arah tertentu. Konversi dari energi listrik menjadi energi mekanik (motor) maupun
sebaliknya berlangsung melalui medan magnet, dengan demikian medan magnet
disini selain berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan energi, medan magnet juga
berfungsi sebagai tempat berlangsungnya proses perubahan energi, daerah tersebut
dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

Gambar 2.4 Prinsip kerja motor dc


https://kaptenivan.files.wordpress.com
Agar proses perubahan energi mekanik dapat berlangsung secara sempurna,
maka tegangan sumber harus lebih besar daripada tegangan gerak yang disebabkan
reaksi. Dengan memberi arus pada kumparan jangkar yang dilindungi oleh medan
maka menimbulkan perputaran pada motor. Arus listrik dalam medan magnet akan
memberikan gaya. (prinsip Gaya Lorentz)
1. Jika kawat yang membawa arus dibengkokkan menjadi sebuah lingkaran atau
loop, maka kedua sisi loop, yaitu pada sudut kanan medan magnet akan
mendapatkan gaya pada arah yang berlawanan.
2. Pasangan gaya menghasilkan tenaga putar atau torque untuk memutar kumparan.
3. Motor-motor memiliki beberapa loop pada dinamonya untuk memberikan tenaga
putaran yang lebih seragam dan medan magnetnya dihasilkan oleh susunan
elektromagnetik yang disebut kumparan medan.
2.2.1 Momen Kopel
Kopel adalah pasangan dua buah gaya yang sama besar, sejajar dan
berlawanan arah. Kopel itu sendiri penyebab sebuah benda berotasi.

Gambar 2.5 (a) Sebuah momen kopel, (b)menunjukan bahwa momen


kopel adalah besaran vector
Sumber : http://fisikazone.com/momen-gaya-dan-momen-kopel/
Untuk persamaan momen kopel adalah sebagai berikut :
M = L . F sin α
(http://fisikazone.com)
Dimana :
M = Momen Kopel (Nm)
L = Panjang lengan gaya (m)
F = Gaya (N)
α = besar sudut antara gaya dengan lengan gaya
Berdasarkan teori elektromagnetik dapat diturunkan 3 rumus dasar untuk
Motor DC yaitu :
1. Tegangan induksi (Zuhal, Dasar Tenaga Listrik, ITB Bandung,
1991.hal 141)
Ea = C n Φ (Volt)
Dimana Φ = fluks (weber / N.m2)
N = Putaran mesin (Rpm)
C = P/a x Z/60 = Konstanta
p = Jumlah kutub
a = Jalur Paralel konduktor jangkar.
Z = Jumlah konduktor jangkar
2. Kecepatan (Zuhal, Dasar Tenaga Listrik, ITB Bandung, 1991.hal 141)
Dasar pemikiran dari pengaturan kecepatan pada motor DC adalah:
Ea = C n Φ
Ea= Vt – Ia Ra
C n Φ = Vt – Ia Ra
Maka puataran motor DC ini dapat diatur dengan
n = Vt – Ia Ra
Dimana :
n = putaran (rpm)
Φ = Flux yang timbul (weber / N.m2)
Vt = tegngan terminal (Volt)
Ia = Arus jangkar (Ampere)
Ra = Tahanan Jangkar (ohm)
Ea = Tegngan balik yang bangkit dikumparan jangkar (Volt)
Dari persamaan diatas pengaturan kecepatan pada motor dapat dilakukan
dengan mengatur : Φ , Vt, Ia dan Ra
3. Kopel elektromagnetik (Zuhal, Dasar Tenaga Listrik, ITB Bandung,
1991.hal 141)
T = C.Ia.Φ
Dimana:
Ia = arus jangkar (Ampere)
Φ = Flux yang timbul (weber / N.m2)
C = P/a x Z/60 = Konstanta
Kopel elektromagnetik ini tidak sama dengan kopel yang terdapat pada sumbu.
Dengan mengurangi kopel geser barulah dapat didapat harga kopel pada sumbu.
Hubungan lain antara kopel elektromagnetik dengan daya mekanik yaitu
Ea. Ia = T.Wm
Dimana :
Ia = Arus jangkar (Ampere)
Wm = 2 π n / 60 ;
n = putaran per sekon ( rps )
T = Momen kopel / Torsi (N.m)

4. Karakteristik kecepatan kopel (Zuhal, Dasar Tenaga Listrik, ITB


Bandung, 1991. hal 152)
Untuk motor arus searah berlaku hubungan
Vt = Ea + Ia .Ra
Ea = C n Φ Volt N =( Vt – Ia Ra)/C Φ
Dimana :
Vt = tegangan terminal (volt)
Ea = tegangan pada kumparan jangkar (volt)
Ia = arus jangkar (Ampere)
Ra = tahanan jangkar (ohm)
C = konstanta
n = putaran per sekon ( rps )
Φ = Flux yang timbul (weber / N.m2)
(sumber,marine electrical:sardono sarwito hal 31)

2.2.2 Gaya Lorentz


Pada dasarnya fungsi dari Motor DC adalah mengubah energy listrik menjadi
energy mekanis, dalam hal ini adalah arus DC yang mengalir diubah menjadi gerak
rotasi. untuk prinsip kerjanya sendiri Motor DC berdasarkan dari Perumusan Gaya
Lorentz, untuk perhitungan besar gaya Lorentz sendiri sebgai berikut :
F=B.I.L
Dimana:
F : gaya lorenz yang dialami penghantar(N)
B : gaya magnet antar kutub(Wb/m2)
I : besar arus pada penghantar(A)
Berdasarkan dsar tersebut, bisa diketahui arus mengalir melalui suatu
kumparan akan menghasilkan medan magnet di sekitarnya dan saat arus mengalir di
dalam medan magnet maka akan dihasilkan gaya. Untuk arah gaya , medan magnet ,
dan gaya Lorentz bisa menggunakan kaidah tangan kiri

Gambar 2.6 kaidah tangan kiri


http://blogs.itb.ac.id/
Ibu jari : menunjukkan arah gaya lorentz.
Jari tengah : menunjukkan arah arus
Jari telunjuk : menunjukkan arah medan magnet.
Untuk Motor DC kumparan yang digunakan berbentuk jangkar /U yang
diposisikan berada di antara kumparan medan (kutub utara dan kutub selatan). Ketika
kumparan jangkar dialiri dengan arus DC, maka akan timbul medan magnet yang
akan berinteraksi dengan medan magnet kutub.

Gambar 2.7 Reaksi garis medan magnet


http://elektronika-dasar.web.id/
Lingkaran bertanda A dan B merupakan ujung konduktor yang dilengkungkan
(looped conductor). Arus mengalir masuk melalui ujung A dan keluar melalui ujung
B. Medan konduktor A yang searah jarum jam akan menambah medan pada kutub
dan menimbulkan medan yang kuat di bawah konduktor. Konduktor akan berusaha
bergerak ke atas untuk keluar dari medan kuat ini. Medan konduktor B yang
berlawanan arah jarum jam akan menambah medan pada kutub dan menimbulkan
medan yang kuat di atas konduktor. Konduktor akan berusaha untuk bergerak turun
agar keluar dari medan yang kuat tersebut. Gaya-gaya tersebut akan membuat angker
dinamo berputar searah jarum jam.

2.3. Komponen Motor DC


Pada motor DC komponen dimbagi menjadi dua jenis, yaitu Rotor, atau bagian
yang bergerak, serta stator atau komponen yang diam. untuk komponen stator sendiri
terdiri dari Rangka, lilitan penguat magnet, dan brush, untuk komponen rotornya
sendiri terdiri dari jangkar dynamo dan komutator. Dari beberap komponen tersebut ,
ada tiga yang menjadi komponen utama, antara lain lilitan penguat magnet (stator),
jangkar dynamo dan komutator(rotor).

Gambar 2.5 Komponen Motor Dc


https://kaptenivan.files.wordpress.com

2.3.1. Lilitan Penguat Magnet


Berfungsi untuk mengalirkan arus listrik agar terjadi proses elektro magnet
sehingga terjadi suatu magnet buatan sedangkan inti kutub magnet merupakan tempat
dihasilkannya fluks magnet.
Gambar 2.6.Lilitan Penguat Magnet
https://kaptenivan.files.wordpress.com
2.3.2. Jangkar Dinamo
Jangkar yang digunakan dalam motor DC adalah yang berbentuk silinder yang
diberi alur-alur pada permukaannya sebagai tempat melilitkan kumparan agar
terbentuk ggl induksi. Seperti halnya inti kutub magnet, maka jangkar dibuat dari
bahan ferro magnetik berlapis-lapis tipis untuk mengurangi panas yang terbentuk
karena adanya arus liar. Bahan yang digunakan untuk jangkar sejenis ini campuran
baja silikon. Untuk lilitan jangkar berfungsi untuk tempat timbulnya tenaga putar
motor.

Gambar 2.7 Jangkar Dinamo


http://web.ipb.ac.id/

2.3.3. Komutator
Komutator merupakan suatu converter mekanik yang membuat arus dari
sumber mengalir pada arah yang tetap walaupun belitan medan berputar. Fungsinya
sebagai kontak geser antara carbon brush yang fixed dengan armature yang berputar
untuk mengambil atau memberi arus listrik kemesin elektrik.
Gambar 2.8 Komutator
http://web.ipb.ac.id/

2.3.4. Sikat / Brush


Sikat adalah jembatan bagi alira arus ke lilitan jangkar. Maka fungsi dan posisi
brush cukup penting sebagai komponen pada motor DC ini. Sikat – sikat ini berbahan
dasar karbon dengan tingkat kekerasan material yang bervariasi. Tetapi ada juga pada
kasus lain karbon dicampur dengan unsure lain seperti tembaga. Brush pada
umumnya harus memiliki kekuatan material yang lebih lunak dari komutator ( bagian
dari motor DC ). Tujuannya adalah supaya gesekan yang terjadi antara segmen –
segmen komutator dan brush itu sendiri tidak mengakibatkan komutator cepat aus. Ya
sebagai konsekuensi brush adalah kompunen yang sering diganti dari motor DC ini.

2.3.5. Rectifier
Seperti yang diketahui bahwa motor DC beroperasi dengan arus AC maka kita
perlu menggunakan sebuah alat untuk mengubah arus AC menjadi DC, alat tersebut
adalah rectifier.
Rectifier adalah alat yang digunakan untuk mengubah sumber arus bolak-balik
(AC) menjadi sinyal sumber arus searah (DC). Gelombang AC yang berbentuk
gelombang sinus hanya dapat dilihat dengan alat ukur CRO. Rangkaian rectifier
banyak menggunakan transformator step down yang digunakan untuk menurunkan
tegangan sesuai dengan perbandingan transformasi transformator yang digunakan.
Penyearah dibedakan menjadi 2 jenis, penyearah setengah gelombang dan penyearah
gelombang penuh, sedangkan untuk penyearah gelombang penuh dibedakan menjadi
penyearah gelombang penuh dengan center tap (CT), dan penyearah gelombang
penuh dengan menggunakan dioda bridge.
Gambar 2.9 Rectifier
http://web.ipb.ac.id/
Prinsip kerja dari penyearah gelombang penuh dengan 4 diode diatas dimulai
pada saat output transformator memberikan level tegangan sisi positif, maka D1, D4
pada posisi forward bias dan D2, D3 pada posisi reverse bias sehingga level tegangan
sisi puncak positif tersebut akan di leawatkan melalui D1 ke D4. Kemudian pada saat
output transformator memberikan level tegangan sisi puncak negatif maka D2, D4
pada posisi forward bias dan D1, D2 pada posisi reverse bias sehingan level tegangan
sisi negatif tersebut dialirkan melalui D2, D4. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
grafik output berikut.

Gambar 2.10 Grafik penyearah gelombang


http://e-component.blogspot.co.id/2016/04/memahami-konsep-dasar-penyearah.html

2.4. Jenis Jenis Motor DC


2.4.1. Berdasarkan sumber arus penguat magnetnya (arus eksitasi), motor DC dapat
dibedakan atas :
1. Motor DC penguat terpisah , yaitu motor DC yang menggunakan arus penguat magnet
yang diperoleh dari sumber arus searah di luar motor. Motor disuplai dari dua
tegangan, yaitu Vt dan Vf (sumber tegangan armatur terpisah dengan sumber
tegangan medan).
Gambar 2.11 Penguat terpisah
http://azzahratunnisa.wordpress.com/2009/05/27/jenis-jenis-motor-dc/
Persamaan elektrik dari motor tersebut adalah :
Vf = If . Rf
Vt = Ea + Ia . Ra
Ea = C . n . Φ
Dimana : Vf = sumber tegangan medan
If = arus medan
Rf = tahanan medan
Vt = sumber tegangan armatur/jangkar
Ea = back e.m.f armatur
Ia = arus jangkar
Ra = tahanan jangkar
C = konstanta armatur
n = putaran armatur
Φ = flux medan magnet
2. Motor DC penguat sendiri, yaitu motor DC yang menggunakan arus penguat magnet
berasal dari motor DC itu sendiri. Motor disuplai satu sumber DC (Vt), sistem
penghubung antara jangkar dan medan menjadi indikasi tentang jenis motor DC.

Gambar 2.12 Penguat sendiri


http://azzahratunnisa.wordpress.com/2009/05/27/jenis-jenis-motor-dc/
2.4.2. Untuk motor DC dengan penguat sendiri dibagi lagi menjadi tiga jenis
berdasarkan rangkaian lilitan penguat magnet terhadap lilitan jangkar motor
arus searah dengan penguat sendiri, antara lain :
1. Motor DC Shunt : motor DC yang menggunakan kumparan penguat yang
disambungkan pararel ( shunt ) dengan lilitan jangkar. Pada motor shunt,
gulungan medan (medan shunt) disambungkan secara paralel dengan gulungan
dinamo (A). Oleh karena itu total arus dalam jalur merupakan penjumlahan arus
medan dan arus dinamo.

Gambar 2.13 Rangkaian motor shunt


http://azzahratunnisa.wordpress.com/2009/05/27/jenis-jenis-motor-dc/
Persamaan motor DC Shunt adalah sebagai berikut :
Vt = Vsh
Vt = Ish . Rsh
Vt = Ea + Ia . Ra
Ea = C . n . Φ
Dimana : Rsh = tahanan medan shunt
2. Motor DC seri : motor DC yang menggunakan lilitan penguat magnet yang
dihubungkan seri dengan lilitan jangkar.
Gambar 2.14 Rangkaian motor seri
http://azzahratunnisa.wordpress.com/2009/05/27/jenis-jenis-motor-dc/
Persamaan motor DC Seri adalah sebagai berikut :
Is = IL = Ia (koneksi seri)
Vs = Is . Rs
Vt = Ea + Ia . Ra + Ia . Rs
Ea = C . n . Φ
Dimana : Rs = tahanan medan seri
3. Motor DC kompon : Motor DC yang menggunakan lilitan penguat magnet yang
disambungkan seri dan pararel.
a. Motor DC kompon Panjang adalah motor seri diberi penguat shunt tambahan
seperti gambar dibawah disebut motor kompon shunt panjang.
Persamaan elektris motor tersebut adalah sebagai berikut :
IL = Ish + Ia
Ia = Is
Vsh = Ish . Rsh
Vsh = Vt
Vs = Is . Rs = Ia . Rs
Vt = Ea + Ia . Ra + Ia . Rs
Ea = C . n . Φ

Gambar 2.15 Rangkaian motor kompon panjang


http://azzahratunnisa.wordpress.com/2009/05/27/jenis-jenis-motor-dc/

b.Motor DC kompon Pendek adalah motor shunt diberi tambahan penguat seri
seperti gambar dibawah disebut motor kompon shunt pendek.
Persamaan elektris motor tersebut adalah sebagai berikut :
IL = Ish + Ia
IL = Is
Vsh = Ish . Rsh
Vs = Is . Rs = IL . Rs
Vsh = Ea + Ia . Ra
Ea = C . n . Φ
Vt = Vsh + Vs
Vt = Ea + Ia . Ra + Is . Rs

Gambar 2.16 Rangkaian motor kompon pendek


http://azzahratunnisa.wordpress.com/2009/05/27/jenis-jenis-motor-dc/
2.4.3. Berdasarkan adanya sikat (brush)
1. Motor DC brush

Gambar 2.17 Motor DC dengan sikat


https://suriptotitl.files.com/
Motor DC yang menggunakan sikat sebagais pengalir arus ke komutator,
rotornya sendiri teriri atas kumparan yang terhubung ke komutator. Biasa disebut
dengan motor DC klasik /konvesional.
2. Motor DC Brushless
Gambar 2.18 Brushless motor DC
Sumber : www.nidec.com
Pada motor jenis ini, “rotating switch” mekanis atau susunan
comutator/brushgear diganti dengan sebuah switch elektronik yang disinkronkan
dengan posisi dari rotor. Motor tanpa sikat ini memiliki efisiensi 85-90%,
sedangkan motor DC dengan brushgear memiliki efisiensi 75-80%. Untuk rotornya
sendiri menggunakan magnet permanen.

2.5. Pengereman pada Motor DC


Pengereman pada motor DC bisa dibedakan menjadi dua jenis, berdasarkan
metodenya, yaitu mekanis dan elektrik. Untuk pengereman mekanis menggunakan
shoe brake, sedangkan untuk pengereman elektrik dibagi lagi menjadi 4 jenis yaitu :
1.) Pengereman dinamis
Pengereman yang dilakukan dengan melepaskan jangkar yang berputar dari
sumber tegangan dan memasangkan tahanan pada terminal jangkar.
Prosedurnya adalah sebagai berikut :
1. Mematikan suplai terminal.
2. Beban tahanan dipasangkan pada terminal jangkar, hal itu menjadikan
energi rotasi sisa motor didisipasikan pada tahanan, akibatnya putaran motor
berkurang secara drastis dan menyebabkan motor tersebut berubah sebagao
generator pada saat demikian.
3. Menjaga torsi dari putaran agar konstan.
4. Menjaga dan mengontrol tahanan, dan Ia tidak boleh terlalu tinggi.
Gambar 2.9. Diagram Elektrik Pengereman Dinamik
(Sumber: marine electrical:sardono sarwito hal 35)
2.) Pengereman secara regenerative
Pengereman ini dapat dilaksanakan dengan cara mengembalikan energi
kinetik motor dan beban kembali ke sumber. Pengereman tipe ini dapat
dilakukan jika beban motor memiliki inersia yang tinggi. Pada metode ini,
energi rotasi dikembalikan ke sistem. Hal itu dapat terjadi jika beban motor
turun dan putaran motor menjadi tinggi dari putaran nominal, di situasi ini Ea >
Vt atau motor akan berubah menjadi generator. Pengereman ini terjadi hanya
pada situasi tertentu dan juga hanya diperuntukkan pada beberapa peralatan
seperti: kereta elektrik, crane, dll.
3.) Pengereman pluging
Pada prinsipnya melaukukan pembalikan arah putaran dari mesin
penggerak dan ini dapat dilakukan dengan membalik polaritas sumber pada
salah satu kumparannya. Metode ini pada umumnya digunakan untuk
mengontrol elevator, printing presses, dll. Pada metode ini, hubungan ke
terminal armatur dibalik sehingga motor bekerja pada arah sebaliknya, V dan Ea
mulai bekerja dengan arah yang sama pada sirkuit. Untuk membatasi Ia sesuai
ketentuan, diperlukan tahanan untuk ditambahkan pada sirkuit ketika
membalikkan hubungan armatur. Metode ini memberikan torsi pengereman
yang lebih besar ketimbang metode dinamik. Menjadi catatan bahwa ketika
motor telah mencapai putaran mendekati nol maka suplai harus segera diputus.

Gambar 2.10. Diagram Elektrik Pengereman Plugging


(Sumber: marine electrical:sardono sarwito hal 36)
4.) Pengereman Mekanis (Selenoid)
Pengereman ini bisa juga dikatakan sebagai rem magnet dengan kawat
pengantar (selemoid). Rem magnet cara penggunaanya dipasang dengan poros
motor sehingga pada saat motor bekerja, rem magnet juga bekerja karena
dihubungkan pararel dengan rangkaian kontrolnya. Apabila diberi arus maka
kumparan solenoid juga akan mendapat arus dan timbul penguatan.

2.6. Rugi-rugi Motor DC


Seperti yang kita ketahui, tidak ada yang memiliki efisiensi seratus persen di
dunia ini. Begitu pula dengan mesin DC ini. Pada mesin DC terdapat pula beberapa
inefisensi yang pada dasarnya dibagi menjadi 4 yaitu :
2.6.1 Rugi Copper/Listrik
Rugi ini diakibatkan oleh pemakaian konduktor tembaga. Rugi mekanis dapat
dihitung dengan rumusan :
Armature losses = Ia2 . Ra
Pada motor shunt konstan dan = Ish2 . Rsh
Pada motor series adalah = Is2 . Rs
2.6.2 Rugi Besi / Magnet
Diakibatkan oleh pemakaian besi ferromagnetik. Terdiri dari rugi histeris dan
rugi arus eddy. Rugi ini bersifat konstan, sehingga kita tidak dapat mengetahui berapa
besarnya.
a. Rugi Histerisys
Pe=Ke . B2max . f2 . t2. V
Dimana : ke: konstanta
Bmax: maksimum flux (wb/m2)
T : Thickness of lamination in m
V : Volume in core (m3)
b. Rugi Edy current
Pi = Ph + Pa
Rugi W (B+M
W(B+M)= R jangkar + Rtembaga
c. Rugi besi
Wfe= 20% . W(b+m)
2.6.3 Rugi Mekanik
Rugi mekanis terdiri dari rugi geser pada sikat, rugi geser pada sumbu, dan rugi
angin. Seperti pada rugi besi, rugi mekanis juga bersifat konstan sehingga besarnya rugi
mekanis tidak dapat diketahui.

2.7. Perbedaan Motor AC dan DC


FAKTOR PEMBEDA MOTOR DC MOTOR AC

Suplai motor Arus DC Arus AC


komutator Ada Tidak ada
Daya Tetap bila kecepatan Turun bila kecepatan turun
turun
Torsi Tinggi Rendah
Harga Lebih murah Lebih Mahal
Performansi Konstan Naik lalu turun
Kecepatan Mudah dikendalikan Sulit dikendalikan

Arus yang mengalir

2.8. Keuntungan dan Kerugian Motor DC


Dalam penggunaan motor DC ada beberapa hal yang menjadi keuntungan dan
kerugian antara lain :
No Kelebihan Kekurangan
1 Desain konsep yang Harga motor Relatif mahal
sederhana
2 Mudah untuk Tingginya tingkat
mengontrol kecepatan pemeliharaan
3 Torsi Tinggi Tidak cocok untuk aplikasi
berdaya besar
4 Jumlah drive untuk Secara fisik lebih besar
kontrol lebih sedikit ukurannya
5 Cocok untuk aplikasi Mudah untuk berdebu
berdaya rendah

2.9. Aplikasi Motor DC di Marine dan Darat


Aplikasi di darat Aplikasi di dunia marine

Gambar crane pada kapal


Electrik Forklift (Sumber: www.Truenortmark.com)
www.performancepeople.com

Mesin CNC 3 Axis System propulsi elektrik


nastelroy.com https://encrypted-tbn3.gstatic.com
Radar yang fungsinya untuk navigasi pada
Motor Penggerak Lift
kapal
otis-lift.blogspot.com
id.wikipedia.org

Pompa Sentrifugal dikapal


Contoh pada gokart listrik
tekimku.blogspot.com
http://www.electricisart-bogipower.com/

Motor Series wound 30KW,Motor super


power ini sering digunakan untuk kits
mobil listrik konversi Air Conditioning pada kapal
http://www.electricisart-bogipower.com/ https://teachintegration.wordpress.com
BAB III
DATA PERCOBAAN
3.1 Peralatan
No. Nama Alat Gambar Fungsi
1 Motor DC Untuk mengubah
Compound energi listrik menjadi
energy mekanik.

2 Regulator Mengatur tegangan


beban.

3 Penyearah Mengubah arus AC


arus menjadi arus DC.
(rectifier)

4 Voltmeter Mengukur besar


tegangan pada
rangkaian.
5 Multitester Mengukur besarnya
hambatan/ tahanan
pada rangkaian.

6 Tangmeter Mengukur besar arus


yang mengalir pada
rangkaian.

7. Kabel-kabel Menghubugkan
penghubung komponen listrik
yang satu dengan
yang lain.

8. Tachometer Mengukur putaran


motor DC.
9. Motor DC Untuk mengubah
Shunt energi listrik menjadi
energy mekanik
sebagai beban.

3.2 Langkah Percobaan


1. Percobaan Motor DC Shunt Beban Nol
a. Mengukur besar tahanan pada kumparan motor DC Compound dan selanjutnya
menentukan kumparan seri, kumparan shunt dan kumparan jangkar.
b. Merangkai alat-alat sebagai berikut

Gambar 3.1 Rangkaian pada motor DC compound


c. Motor DC dicatu daya dari sumber DC (dari sumber AC yang telah melewati
penyearah arus/rectifier) melalui voltage regulator.
d. Pada saat motor diberi tegangan yang bervariasi (65, 75, 85, 95 dan 105 V),
mengamati besarnya arus yang mengalir dengan menggunakan clampmeter dan
juga besarnya putaran motor diamati dengan menggunakan tachometer.
Hasil Pengamatan :
Tahanan seri : 0,2 ohm
Tahanan shunt : 1200 ohm
Tahanan jangkar : 6 ohm
Tegangan Naik

No. Tegangan Sumber (V) Arus IL (A) RPM


1 65 1,27 1137

2 75 1,17 1315

3 85 1,06 1436

4 95 1,01 1502

5 105 0,99 1586

Tegangan Turun
No. Tegangan Sumber (V) Arus IL (A) RPM
1 65 0,99 1585

2 75 1,03 1499

3 85 1,04 1406

4 95 1,06 1285

5 105 1,10 1167

2. Percobaan Motor DC Shunt Berbeban


a. Motor DC dicatu daya dari sumber DC (dari sumber AC yang telah melewati
penyearah arus/rectifier) melalui voltage regulator. Gambar rangkaian seperti
pada gambar :

Gambar 3.2 Rangkaian pada motor DC compound berbeban

b. Pembebanan dilakukan dengan pemberian arus eksitasi pada generator dengan


nilai tertentu (3;3,5;4;4,5;5) Ampere atau sesuai dengan ketentuan Grader)
yang dilakukan dengan menggunakan pengatur tegangan (Regulator B).
c. Kemudian regulator A diatur sedemikian rupa sehingga tegangannya tetap
sebesar 100 volt atau sesuai dengan ketentuan Grader.
d. Amati dan catatlah besarnya rpm dan arus yang mengalir ke motor

3.3 Data Praktikum


Rsh = 1200  merupakan tahanan shunt
Rs = 0,2  merupakan tahanan seri
Ra = 6  merupakan tahanan jangkar

PERCOBAAN 1
A. BEBAN NOL NAIK

No. Tegangan Sumber (V) Arus IL (A) RPM


65 1,27 1137
1
75 1,17 1315
2
85 1,06 1436
3
95 1,01 1502
4
105 0,99 1586
5

B. BEBAN NOL TURUN


No. Tegangan Sumber (V) Arus IL (A) RPM
65 0,99 1585
1
75 1,03 1499
2
85 1,04 1406
3
95 1,06 1285
4
105 1,10 1167
5
PERCOBAAN 2
A. BERBEBAN NAIK
Tegangan Arus
No Arus Eksitasi RPM
Sumber IL
1 3 100 0,57 1423

2 3,5 100 0,58 1413

3 4 100 0,60 1400

4 4.5 100 0,61 1382

5 5 100 0,62 1373

B. BERBEBAN TURUN
Tegangan Arus
No Arus Eksitasi RPM
Sumber IL
1 3 100 0,59 1380

2 3.5 100 0,57 1402

3 4 100 0,56 1465

4 4.5 100 0,55 1488

5 5 100 0,55 1502


BAB IV
ANALISA DATA

4.1 Perhitungan
Dari hasil pengukuran, didapatkan nilai tahanan jangkar dan tahanan shunt.
Nilai tahanan shunt lebih besar daripada nilai tahanan jangkar.
Tahanan shunt (Rsh) = 1200 Ω
Tahanan jangkar (Ra) = 6 Ω
Kemudian data hasil percobaan diolah dengan melakukan perhitungan untuk
mendapatkan Ia, Ish, Is, Pin, Wcu, W(b+m) Wtot dan torsi.
4.1.1 Beban nol (naik)
 Data dari tabel pengamatan pada saat beban nol (naik) data pertama adalah :
No. Tegangan Sumber IL RPM
1 65 1,27 1137
 Menghitung arus jangkar (Ish)
Ish = Vt / Rsh
= 65 / 1200
= 0,0542 A
 Menghitung arus shunt (Ia)
Ia = IL - ISH
= 1,27 – 0,0542
= 1,2158 A
 Menghitung daya masuk (Pin)
Pin = Vt x IL
= 65 x 1,27
= 82,55 W
 Menghitung rugi tembaga (Wcu)
Wcu = (Ia2 . Ra) + (ISH2 . RSH)
= (1,21582 . 6) + (0,05422 . 1200)
= 12,39 W
 Menghitung rugi besi dan mekanis [W(b+m)]
W(b+m) = 20% . Pin
= 20% . 82,55
= 16,51 W

 Menghitung rugi total (Wtot)


Wtot = Wcu + W(b+m)
= 12,42 + 16,51
= 28,90 W
 Menghitung Ea
Ea = Vt – (Ra . Ia)
= 65 – (6 . 1,2158)
= 57,71 V
 Menghitung Torsi

Torsi = (Ea . Ia) / (2π.Rps)


= (57,71 . 1,2158) / (2π(1137/60))
= 0,589
Dengan langkah perhitungan yang sama, dilakukan pada data percobaan
kedua hingga data percobaan kelima, maka didapatkan hasil perhitungan pada
tabel seperti berikut ini :

No RPM Vt IIL Ish Ia Pin Wcu W (b+m) Wtot Ea Torsi


1 1137 65 1,27 0.0000 0,0000 80,55 12,39 16,51 28,90 57,71 0,589

2 1315 75 1,17 0,0625 1,1075 87,75 12,05 17,55 29,60 68,36 0,550
3 1436 85 1,06 0,0708 0,9892 90,1 11,89 18,02 29,91 79,07 0,520
4 1502 95 1,01 0,0792 0,9308 95,95 12,72 19,19 31,91 89,42 0,529
5 1586 105 0,99 0,0875 0,9025 103,95 14,07 20,79 34,86 99,59 0,541

4.1.2 Beban nol (turun)


 Data dari tabel pengamatan pada saat beban nol (naik) data pertama adalah :
No. Tegangan Sumber Arus IL RPM
1 105 0,99 1585

 Menghitung arus jangkar (Ish)


Ish = Vt / Rsh
= 105 / 1200
= 0,0875 A
 Menghitung arus shunt (Ia)
Ia = IL - ISH
= 0,99 – 0,0875
= 0,9025 A
 Menghitung daya masuk (Pin)
Pin = Vt x IL
= 105 x 0,99
= 103,95 W
 Menghitung rugi tembaga (Wcu)
Wcu = (Ia2 . Ra) + (ISH2 . RSH)
= (0,90252 . 6) + (0,08752 . 1200)
= 14,07 W
 Menghitung rugi besi dan mekanis [W(b+m)]
W(b+m) = 20% . Pin
= 20% . 103,95
= 20,79 W
 Menghitung rugi total (Wtot)
Wtot = Wcu + W(b+m)
= 14,07 + 20,79
= 34,89 W
 Menghitung Ea
Ea = Vt – (Ra . Ia)
= 105 – (6 . 0,9025)
= 99,59 V
 Menghitung Torsi

Torsi = (Ea . Ia) / (2π.Rps)


= (99,59 . 0,9025) / (2π(1585/60))
= 0,541
Dengan langkah perhitungan yang sama, dilakukan pada data percobaan
kedua hingga data percobaan kelima, maka didapatkan hasil perhitungan pada
tabel seperti berikut ini :

No RPM Vt IIL Ish Ia Pin Wcu W (b+m) Wtot Ea Torsi


1 1585 105 0,99 0,0875 0,9025 103,95 14,07 20,79 34,86 99,59 0,541

1499 95 1,03 0,0792 0,9508 97,85 12,95 19,57 32,52 89,30 0,541
2

1406 85 1,04 0,0708 0,9692 88,4 11,66 17,68 29,34 79,19 0,521
3

1285 75 1,06 0,0625 0,9975 79,5 10,66 15,9 26,56 69,02 0,511
4

1167 65 1,1 0,0542 1,0458 71,5 10,08 14,3 24,38 58,73 0,502
5

4.1.3 Berbeban (naik)


 Data dari tabel pengamatan pada saat beban nol (naik) data pertama adalah :
Tegangan Arus
No. Arus IL RPM
Sumber (V) Eksitasi (A)
1 100 3 0,57 1423

 Menghitung arus shunt (Ish)


Ish = Vt / Rsh
= 100 / 1200
= 0,0833 A
 Menghitung arus jangkar (Ia)
Ia = IL - ISH
= 0,57 – 0,0833
= 0,4867 A
 Menghitung daya masuk (Pin)
Pin = Vt x IL
= 100 x 0,57
= 57 W
 Menghitung rugi tembaga (Wcu)
Wcu = (Ia2 . Ra) + (ISH2 . RSH)
= (0,48672 . 6) + (0,08332 . 1200)
= 9,75 W
 Menghitung rugi besi dan mekanis [W(b+m)]
W(b+m) = 20% . Pin
= 20% . 57
= 11,4 W
 Menghitung rugi total (Wtot)
Wtot = Wcu + W(b+m)
= 9,75 + 11,4
= 21,15 W
 Menghitung Ea
Ea = Vt – (Ra . Ia)
= 100 – (6 . 0,4867)
= 97,08 V
 Menghitung daya keluar (Pout)
Pout = Pin – Wout
= 57 – 21,15
= 35,8 W
 Menghitung efisiensi (η)
Eff = (Pout/Pin) x 100%
= (35,8/57) x 100%
= 62,9%
 Menghitung Torsi

Torsi = (Ea . Ia) / (2π.Rps)


= (99,59 . 0,9025) / (2π(1585/60))
= 0,317
Dengan langkah perhitungan yang sama, dilakukan pada data percobaan kedua
hingga data percobaan kelima, maka didapatkan hasil perhitungan pada tabel seperti
berikut ini :

W Eff
IE RPM Vt IIL Ish Ia Pin Wcu Wtot Ea Pout Torsi
(b+m) (%)
3 1423 100 0,57 0,0833 0,4867 57 9,75 11,4 21,15 97,08 35,8 62,9 0,317
3,5 1413 100 0,58 0,0833 0,4967 58 9,81 11,6 21,41 97,02 36,6 63,1 0,326
4 1400 100 0,6 0,0833 0,5167 60 9,94 12 21,94 96,90 38,1 63,4 0,341
4,5 1382 100 0,61 0,0833 0,5267 61 10,00 12,2 22,20 96,84 38,8 63,6 0,352
5 1373 100 0,62 0,0833 0,5367 62 10,06 12,4 22,46 96,78 39,5 63,8 0,361

4.1.4 Berbeban (turun)


 Data dari tabel pengamatan pada saat beban nol (naik) data pertama adalah :
Tegangan Arus
No. Arus IL RPM
Sumber (V) Eksitasi (A)
1 100 5 0,59 1380
 Menghitung arus shunt (Ish)
Ish = Vt / Rsh
= 100 / 1200
= 0,0833 A
 Menghitung arus jangkar (Ia)
Ia = IL - ISH
= 0,59 – 0,0833
= 0,5067 A
 Menghitung daya masuk (Pin)
Pin = Vt x IL
= 100 x 0,59
= 59 W
 Menghitung rugi tembaga (Wcu)
Wcu = (Ia2 . Ra) + (ISH2 . RSH)
= (0,50672 . 6) + (0,08332 . 1200)
= 9,87 W
 Menghitung rugi besi dan mekanis [W(b+m)]
W(b+m) = 20% . Pin
= 20% . 59
= 11,8 W
 Menghitung rugi total (Wtot)
Wtot = Wcu + W(b+m)
= 9,87 + 11,8
= 21,67 W
 Menghitung Ea
Ea = Vt – (Ra . Ia)
= 100 – (6 . 0,5067)
= 96,96 V
 Menghitung daya keluar (Pout)
Pout = Pin – Wout
= 59 – 21,67
= 37,3 W
 Menghitung efisiensi (η)
Eff = (Pout/Pin) x 100%
= (37,3/59) x 100%
= 63,3%
 Menghitung Torsi

Torsi = (Ea . Ia) / (2π.Rps)


= (96,96 . 0,5067) / (2π(1380/60))
= 0,340

Dengan langkah perhitungan yang sama, dilakukan pada data percobaan kedua
hingga data percobaan kelima, maka didapatkan hasil perhitungan pada tabel seperti
berikut ini :

W Eff
IE RPM Vt IIL Ish Ia Pin Wcu Wtot Ea Pout Torsi
(b+m) (%)
5 1380 100 0,59 0,0833 0,5067 59 9,87 11,8 21,67 96,96 37,3 63,3% 0,340
4,5 1402 100 0,57 0,0833 0,4867 57 9,75 11,4 21,15 97,08 35,8 62,9% 0,322
4 1465 100 0,56 0,0833 0,4767 56 9,70 11,2 20,90 97,14 35,1 62,7% 0,302
3,5 1488 100 0,55 0,0833 0,4667 55 9,64 11 20,64 97,20 34,4 62,5% 0,291
3 1502 100 0,55 0,0833 0,4667 55 9,64 11 20,64 97,20 34,4 62,5% 0,288

4.2 Grafik
4.2.1 Grafik Torsi – RPM
1. Grafik Torsi – RPM Beban Nol (Naik)
Torsi - RPM
1800
1586
1600 1502
1436
1315
1400
1137
1200
1000
800
600
400
200
0
0.510 0.520 0.530 0.540 0.550 0.560 0.570 0.580 0.590 0.600

Pada grafik tersebut diketahui bahwa torsi berbanding terbalik dengan


𝐸𝑎.𝐼𝑎
RPM. Pada rumusnya, yaitu T = , dalam rumus tersebut kita ketahui
2𝜋𝑛/60

bahwa putaran RPM berbanding terbalik dengan torsi. Pada grafik diatas
terlihat bahwa saat awal (starting) torsinya tinggi kemudian turun, lalu
meningkat. Hal itu terjadi karena pada saat starting motor membutuhkan torsi
yang tinggi untuk menggerakkan motor, pada saat sudah jalan maka akan
muncul momen putar atau gerakan mekanis sehingga torsi turun dan
kemudian baru naik kembali.

2. Grafik Torsi – RPM Beban Nol (Turun)

Torsi - RPM
1800
1585
1600 1499
1406
1400 1285
1167
1200
1000
800
600
400
200
0
0.500 0.510 0.520 0.530 0.540 0.550

Pada grafik tersebut diketahui bahwa RPM dengan torsi berbanding


lurus. Seharusnya semakin tinggi RPM maka akan semakin kecil dari torsi
𝐸𝑎.𝐼𝑎
yang dihasilkan, sesuai dengan rumus torsi adalah T = 2𝜋𝑛/60 . Dalam rumus
tersebut diketahui bahwa memang putaran RPM berbanding terbalik dengan
torsi. Pada grafik diatas terlihat nilai torsi berbanding lurus dengan nilai
RPM, hal tersebut dikarenakan pada masing – masing RPM motor diberi
tegangan sumber yang berbeda-beda sehingga tampak seperti berbanding
lurus.

3. Grafik Torsi – RPM Berbeban (Naik)

Torsi - RPM
1430 1423

1420 1413

1410
1400
1400

1390
1382
1380 1373

1370
0.310 0.320 0.330 0.340 0.350 0.360 0.370

Pada grafik tersebut diketahui bahwa RPM dengan torsi berbanding


terbalik. Dilihat bahwa semakin tingginya RPM maka akan semakin kecil dari
𝐸𝑎.𝐼𝑎
torsi yang dihasilkan, hal tersebut sesuai dengan rumus torsi T = .
2𝜋𝑛/60

Dalam rumus tersebut kita ketahui bahwa memang putaran RPM berbanding
terbalik dengan torsi. Pada grafik diatas sudah sesuai karena grafik tersebut
adalah berbanding terbalik.

4. Grafik Torsi – RPM Berbeban (Turun)


Torsi - RPM
1520 1502
1500 1488

1480 1465
1460
1440
1420 1402
1400
1380
1380
1360
0.280 0.290 0.300 0.310 0.320 0.330 0.340 0.350

Pada grafik tersebut diketahui bahwa RPM dengan torsi berbanding


terbalik. Terlihat bahwa semakin tingginya RPM maka akan semakin kecil
𝐸𝑎.𝐼𝑎
dari torsi yang dihasilkan yang sesuai dengan rumus Torsi T = 2𝜋𝑛/60 . Dalam

rumus tersebut kita ketahui bahwa memang putaran RPM berbanding terbalik
dengan torsi. Pada grafik diatas sudah sesuai dengan rumus karena grafik
tersebut adalah berbanding terbalik.

4.2.2 Grafik Arus Eksitasi – RPM


1. Grafik Arus Eksitasi – RPM Berbeban (Naik)

Arus Eksitasi - RPM


1430 1423

1420 1413

1410
1400
1400

1390
1382
1380 1373

1370
0 1 2 3 4 5 6

Pada grafik di atas dapat disimpulkan bahwa arus eksitasi berbanding


terbalik dengan RPM, hal itu terjadi karena jika arus eksitasi semakin tinggi
maka beban semakin tinggi pula dan RPM akan turun. Sesuai dengan rumus
efisiensi yaitu η = (POUT / PIN) x 100% dimana jika arus eksitasi naik maka
beban akan naik dan POUT akan turun sehingga efisiensi pun turun.
2. Grafik Arus Eksitasi – RPM Berbeban (Turun)

Arus Eksitasi
1520 1502
1500 1488

1480 1465
1460
1440
1420 1402
1400
1380
1380
1360
0 1 2 3 4 5 6

Pada grafik di atas dapat disimpulkan bahwa arus eksitasi berbanding


terbalik dengan RPM, hal itu terjadi karena jika arus eksitasi semakin tinggi
maka beban semakin tinggi pula dan RPM akan turun. Sesuai dengan rumus
efisiensi yaitu η = (POUT / PIN) x 100% dimana jika arus eksitasi naik maka
beban akan naik dan POUT akan turun sehingga efisiensi pun turun.
4.2.3 Grafik Losses Besi Mekanis – RPM
1. Grafik Losses Besi Mekanis – RPM Beban Nol (Naik)

Losses Besi Mekanis - RPM


1800
1586
1600 1502
1436
1315
1400
1137
1200
1000
800
600
400
200
0
0 5 10 15 20 25

Pada grafik tersebut dapat diketahui bahwa RPM berbanding lurus


dengan W(b+m), namun jika dikaitkan dengan rumus kerugian W(b+m)
adalah 20% dari nilai total daya losses, W(b+m) merupakan fungsi dari Pin
yang hal tersebut merupakan fungsi daya losses akibat jangkar dan field.
Dapat dikatakan bahwa rugi besi mekanis berbanding lurus dengan putaran,
semakin besar putaran motor maka losses yang terjadi semakin besar pula
dengan catatan motor tersebut diberi tegangan sumber yang sama.

2. Grafik Losses Besi Mekanis – RPM Beban Nol (Turun)

Losses Besi Mekanis - RPM


1800
1585
1600 1499
1406
1400 1285
1167
1200
1000
800
600
400
200
0
0 5 10 15 20 25

Pada grafik tersebut dapat diketahui bahwa RPM berbanding lurus


dengan W(b+m), namun jika dikaitkan dengan rumus kerugian W(b+m)
adalah 20% dari nilai total daya losses, W(b+m) merupakan fungsi dari Pin
yang hal tersebut merupakan fungsi daya losses akibat jangkar dan field.
Dapat dikatakan bahwa rugi besi mekanis berbanding lurus dengan putaran,
semakin besar putaran motor maka losses yang terjadi semakin besar pula
dengan catatan motor tersebut diberi tegangan sumber yang sama.

3. Grafik Losses Besi Mekanis – RPM Berbeban (Naik)

Losses Besi Mekanis - RPM


1430 1423

1420 1413

1410
1400
1400

1390
1382
1380 1373

1370
11.2 11.4 11.6 11.8 12 12.2 12.4 12.6
Pada grafik tersebut dapat diketahui bahwa RPM berbanding terbalik
dengan W(b+m). Dapat dikatakan bahwa rugi besi mekanis berbanding lurus
dengan putaran, semakin besar putaran motor maka losses yang terjadi
semakin besar pula dengan catatan motor tersebut diberi tegangan sumber
yang sama.

4. Grafik Losses Besi Mekanis – RPM Berbeban (Turun)

Losses Besi Mekanis - RPM


1520 1502
1500 1488

1480 1465
1460
1440
1420 1402
1400
1380
1380
1360
10.8 11 11.2 11.4 11.6 11.8 12

Pada grafik tersebut dapat diketahui bahwa RPM berbanding terbalik


dengan W(b+m). Dapat dikatakan bahwa rugi besi mekanis berbanding lurus
dengan putaran, semakin besar putaran motor maka losses yang terjadi
semakin besar pula dengan catatan motor tersebut diberi tegangan sumber
yang sama.

4.2.4 Grafik Efisiensi – Beban


1. Grafik Efisiensi – Beban (Naik)
Arus Eksitasi Beban - Efisiensi
90.0%
80.0%
70.0% 62.9% 63.1% 63.4% 63.6% 63.8%
60.0%
50.0%
40.0%
30.0%
20.0%
10.0%
0.0%
0 1 2 3 4 5 6

Grafik di atas menunjukkan bahwa hubungan antara arus eksitasi


terhadap efisiensi berbeban pada dasarnya adalah konstan atau adapun
penurunan atau kenaikan hanyalah sedikit. Efisiensi bisa diasumsikan konstan
karena toleransi dari 62,9% hingga 63,8% adalah memiliki selisih yang
sedikit. Hal itu terjadi dikarenakan banyak faktor seperti: umur motor,
material, dan lain sebagainya.

2. Grafik Efisiensi – Beban (Turun)

Arus Eksitasi Beban - Efisiensi


90.0%
80.0%
70.0% 62.5% 62.5% 62.7% 62.9% 63.3%
60.0%
50.0%
40.0%
30.0%
20.0%
10.0%
0.0%
0 1 2 3 4 5 6

Grafik di atas menunjukkan bahwa hubungan antara arus eksitasi


terhadap efisiensi berbeban pada dasarnya adalah konstan atau adapun
penurunan atau kenaikan hanyalah sedikit. Efisiensi bisa diasumsikan konstan
karena toleransi dari 62,5% hingga 63,3% adalah memiliki selisih yang
sedikit. Hal itu terjadi dikarenakan banyak faktor seperti: umur motor,
material, dan lain sebagainya. Pada grafik sempat terjadi efisiensi konstan
yaitu pada 62,5% ketika arus eksitasi adalah 3 A dan 3,5 A.

4.3 Pembahasan
4.3.1 Beban Nol
Dari grafik Torsi – RPM menunjukkan bahwa seharusnya torsi berbanding
terbalik dengan RPM, semakin besar RPM maka torsinya pun berkurang, akan tetapi
dikarenakan oleh sumber tegangan yang berbeda sehingga mengakibatkan grafik yang
diperoleh adalah berbanding lurus dan berbanding terbalik.
Dari grafik Losses Besi Mekanis – RPM menunjukkan bahwa RPM
berbanding lurus dengan losses, semakin tinggi RPM maka semakin tinggi pula
lossesnya.

4.3.2 Berbeban
Dari grafik Arus Eksitasi – Efisiensi pada beban naik terlihat bahwa jika arus
eksitasi semakin diperbesar, nilai efisiensi semakin bertambah pula. Sama halnya
pada beban turun, apabila eksitasi berkurang, nilai efisiensi akan berkurang pula. Pada
dasarnya efisiensi merupakan nilai yang konstan, dapat dilihat pada hasil percobaan
efisiensi yang didapat tidak memiliki selisih yang jauh.
BAB V
KESIMPULAN

1. Dari grafik torsi fungsi putaran (RPM) maka dapat disimpulkan bahwa berdasarkan
rumus torsi maka RPM berbanding terbalik dengan torsi. Pada grafik torsi fungsi putaran
beban nol (naik) terlihat bahwa saat awal (starting) torsinya tinggi kemudian turun, lalu
meningkat. Hal itu terjadi karena pada saat starting motor membutuhkan torsi yang
tinggi untuk menggerakkan motor, pada saat sudah jalan maka akan muncul momen
putar atau gerakan mekanis sehingga torsi turun dan kemudian baru naik kembali. Dari
grafik arus eksitasi fungsi putaran maka dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi arus
eksitasi maka semakin rendah putarannya, yang berarti hubungan antara keduanya adalah
berbanding terbalik.

2. Perhitungan pada salah satu data hasil praktikum, yaitu pada data pertama hasil
pengamatan pada saat beban nol (naik) :
Tahanan shunt (Rsh) = 1200 Ω. Tahanan jangkar (Ra) = 6 Ω.
Tegangan sumber (Vt) = 65 volt. Arus IL = 1,27 A. Putaran = 1137 RPM.
 Menghitung arus jangkar (Ish)
Ish = Vt / Rsh
= 65 / 1200
= 0,0542 A
 Menghitung arus shunt (Ia)
Ia = IL - ISH
= 1,27 – 0,0542
= 1,2158 A
 Menghitung daya masuk (Pin)
Pin = Vt x IL
= 65 x 1,27
= 82,55 W
 Menghitung rugi tembaga (Wcu)
Wcu = (Ia2 . Ra) + (ISH2 . RSH)
= (1,21582 . 6) + (0,05422 . 1200)
= 12,39 W
 Menghitung rugi besi dan mekanis [W(b+m)]
W(b+m) = 20% . Pin
= 20% . 82,55
= 16,51 W
 Menghitung rugi total (Wtot)
Wtot = Wcu + W(b+m)
= 12,42 + 16,51
= 28,90 W
3. Rectifier merupakan alat yang mengubah arus AC menjadi DC, berfungsi seperti
adaptor. Grafik arus AC ialah grafik sinusioda yang memiliki amplitudo + dan -, rectifier
berfungsi menyearahkan arus (menjadi DC) sehingga grafik sinusioda arus AC tersebut
yang tertera hanyalah gelombang dengan amplitudo + saja atau hanya – saja, penjelasan
secara gambarnya adalah sebagai berikut :

Gambar 5.1. Grafik Arus pada Rectifier


Sumber : https://nisyaun.wordpress.com/2015/03/18/full-wave-rectifier-gelombang-penuh/
4. Tahanan shunt : tahanan pada kumparan medan dari motor DC berjenis shunt.
Tahanan seri : tahanan pada kumparan medan dari motor DC berjenis seri.
Tahanan jangkar : tahanan pada kumparan jangkar dari motor DC.
5. Perbedaan motor AC dan DC adalah sebagai berikut :
MOTOR AC MOTOR DC
Tidak mempunyai komutator Mempunyai komutator
Arah arus searah Arah arus bolak-balik
Untuk alat-alat yang membutuhkan torsi Untuk alat-alat yang membutuhkan torsi
rendah tinggi
Kecepatan motor lebih sulit dikendalikan Lebih mudah dikendalikan
Harga lebih mahal Harga lebih murah
Torsi awal lebih rendah Torsi awal lebih tinggi
Performansi AC naik terus turun Performansi DC konstan

6. Arus eksitasi adalah arus yang dihasilkan oleh sumber DC yang akan dialirkan ke
kumparan elektromagnetik.
7. Pengukuran RPM berbeda dengan nilai tegangan dan arus eksitasi yang sama terjadi
karena tergantung pada perlakuan, ketika melakukan berbeban (naik) yang berarti arus
akan naik (saat tegangan sama) bekerja lebih berat karena menaikkan arus, sedangkan
ketika berbeban (turun) yang berarti arus turun (saat tegangan sama) bekerja lebih ringan
karena menurunkan arus.
8. Dalam dunia marine, motor DC dapat diaplikasikan untuk crane pada kapal maupun di
pelabuhan, juga pada sistem propulsi elektrik kapal, pada radar untuk sistem navigasi
kapal maupun pelabuhan, pompa sentrifugal yang berada di kapal dan pada sistem
HVAC di kapal yang salah satunya adalah untuk air conditioning di kapal.
9. Pada grafik losses besi mekanis – RPM ketika dilakukan uji pada beban nol, hasil
menunjukkan bahwa losses besi mekanis berbanding lurus dengan RPM, ketika RPM
meningkat maka losses pun juga akan meningkat. Akan tetapi pada grafik losses besi
mekanis – RPM ketika dilakukan uji pada berbeban, hasil menunjukkan bahwa losses
berbanding terbalik dengan RPM. Hal itu dapat terjadi karena adanya beban yang
diberikan sehingga ketika tanpa beban hasilnya berbanding lurus dan ketika berbeban
hasilnya berbanding terbalik.
10. Dari grafik dapat disimpulkan bahwa hubungan antara arus eksitasi terhadap efisiensi
berbeban pada dasarnya adalah konstan atau adapun penurunan atau kenaikan hanyalah
sedikit. Efisiensi pada berbeban (naik) bisa diasumsikan konstan karena toleransi dari
62,9% hingga 63,8% adalah memiliki selisih yang sedikit. Efisiensi pada berbeban
(turun) bisa diasumsikan konstan karena toleransi dari 62,5% hingga 63,3% adalah
memiliki selisih yang sedikit. Pada grafik yang berbeban (turun) juga sempat terjadi
efisiensi konstan yaitu pada 62,5% ketika arus eksitasi adalah 3 A dan 3,5 A.