Anda di halaman 1dari 13

AL QUR’AN : PENGERTIAN, SEJARAH TURUN DAN KEMUKJIZATANNYA

Disusun Oleh : Rinawati, STKIP Muhammadiyah Bogor

BAB I PENGERTIAN AL QUR’AN

A. Pengertian Al-Quran Secara Etimologi ( Bahasa )

1. Al-Lihyani

Al- Quran merupakan nama bagi firman Allah yang diturunkan Kepada nabi kita Muhammada
SAW

1. Az-Zujaj

Al-Quran merupakan nama bagi firman Allah yang diturunkan kepada Nabi yang menghimpun
surat-surat , dan kisah-kisah, juga perintah dan larangan atau menghimpun intisari kitab-kitab
suci sebelumnya,

1. Al-asya`ri
Al-Quran adalah kumpulan yang terdiri atas ayat-ayat yangsaling menguatkan
danterdapat kepemimpinan antara ayat satu dengan ayat lainnya.
2. Al- Farra
Al-Quran dalah kumpulan yang terdiri atas ayat-ayat yang saling menguatkan dan

dan terdapat klemiripan antara yang satu dengan yang lainnya


e. Pendapat Lain
Al-Quran adalah himpunan intisari kitab-kitab Allah yang lain bahkan

seluruh ilmu yang ada


B.Pengertian Al-Quran Secara Terminologi ( Istilah )

1. a. Al- Jurajani :
Al- Quran adalah kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw ditulis
dalam mushaf dan diriwayatkan secara mutawatir tanpa keraguan
2. Manna al-Qatthan :
Al-Quran adalah kiatb ynag diturunkan Allah kepada Nabi uhammad SAW dan orang
yang membacanya akan memperoleh pahal
3. Abu Syahbah :
Al-Quran adalah kitab yang diturunkan baik lafaz atau makna kepada Nabi terakhir,
diriwayatkan secara mutawatir (penuh kepastian dan keyakinan) ditulis pada mushaf dari
surah Al- Fatihah sampai surah An-Nas.
4. Pakar Ushul Fiqh, dan Bahasa Arab :
Al-Quran adalah kitab yang diturunkan kepada Nabi Nya, lafaznya dengan mengandung
mukjizat , membacannya mepunyai nilai ibadah, diturunkan secara mutawatir dan ditulis
pada mushaf

BAB II SEJARAH TURUNNYA AL QUR’AN

a. Metode Turunnya Wahyu Al Qur’an


Al-Quran turun selama 22 tahun 2 bulan 22 hari, dari 17 Ramazan tahun 41 dari kelahiran Nabi
sampai 9 Zulhijjah Haji wada`tahun 63 dari kelahiran Nabi atau 10 H Al-Quran turun melalui
tiga tahap yaitu :

1. Al Quran turun sekaligus dari Allah ke Lukh mahfudh


2. Al- Quran turun dari laukh mahfudh ke bait Al- izzah (tempat yang berada dilangit dunia
3. Al-Quran turun dari bait Al- izzah ke hati Nabi melalui perantara Jibril dengan
berangsur-angsur, kadang satu ayat, dua ayat, bahkaan satu surat

Hikmah Diturunkan Al-Quran Secara Berangsur-Angsur yaitu :

Memantapkan Hati Nabi

1. Menentang dan melemahkan para penantang Al-Quran


2. Memudahkan untuk di hafal dan di pahami
3. Mengikuti setiap kejadian (yang menyebabkan turunnya Al-Quran)
4. Membuktikan dengan pasti bahwa Al-Quran turun dari Allah yang Maha Bijaksana

b. Metode Penulisan Al Qur’an

Pada masa nabi, wahyu yang diturnakan oleh Allah kepadanya tidak hanya di eksprersikan dalam
betuk hafalan tapi juga dalam bentuk tulisan.
Sekretaris pribadi nabi yang bertugas mencatat wahyu yaitu Abu Bakar, Umar bin Kahtab,
Khalid Bin Walid dan Mua`wiyah Bin Abi Sofyan. Mereka menggunakan alat tulis sederhana
yaitu lontaran kayu, pelepah kurma., tulang-belulang, dan batu.
Faktor yang mendorong penulisan Al-Quran pada masa Nabi yaitu membukukan hafalan yang
telah dilakukan oleh Nabi dan para Sahabat dan mempersentasikan wahyu dengan cara yang
paling sempurna

1. 1. Penulisan Al Qur’an Pada Masa Khulafaurrasyidin

Pada masa Khalifah Abu Bakar beliau memerintahkan untuk mengumpulkan wahyu-wahyu yang
tersebar, kedalam satu mushaf, Usaha pengumpulan ini dilakukan setelah terjadi perang
Yamamah pada 12 H yang telah menggugurkan nyawa 70 orang penghafal Al-Quran. Akibat
dari kekhawatiran atas kelestarian Al-Quran , maka dipercayakan Zaid bin tsabit untuk
mengumpulkan wahyu tersebut. Usaha pengumpulan tersebut selesai dalam waktu ± 1 tahun
yaitu pada 13 H.
Kemudian pada masa khalifah Usman bin Affan terjadi perselisihan paham tentang perbedaan
cara baca Al-Quran yang sudah berada pada titik yang menyebabkab umat Islam saling
menyalahkan yang pada akhirnya menyebabkan perselisihan . Akibat peristiwa tersebut , timbul
lah inisiatif khaalifah Usman untuk mengumpulkan Al-Quran. Orang yang melakukan resensi
Al-Quran adalah ; Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said bin Alsh dan Abdurrahman bin Al-
Harish .
Dengan demikian suatu naskah absah Al-Quran yang disebut Mushaf Usmani telah diterapakan
dan salinan nya di bagi beberapa wilayah utama daerah Islam

1. 2. Penyempurnaan Penullisan Al Qur’an Setelah Masa Khalifah

Mushaf yang ditulis pada masa khalifah Usman tidak memiliki harakat dan tanda titik, sehingga
orang non arab yang memeluk Islam merasa kesulitan membaca mushaf tersebut
Oleh karena itu pada masa khalifah Abd Al-Malik ( 685-705 ) dilakukan penyempurnaan oleh
dua tokoh berikut :

1. Ubaidilllah bin ziyad, beliau melebihkan alif sebagai pengganti dari huruf yang di buang
2. Al-Hajjad bin yusuf Ats- Tsaqafi, beliau menyempurnakan mushaf Usmani pada sebelas
tempat yang memudahkan pembaca mushaf,
3. Abu Al-Aswad Ad- Du`Ali , Yahya Bin Ya`Mar, Nashr Bin Asyim Al-Laits sebagai
orang yang pertama kali meletakkan tanda titik pada mushaf Usmani.
4. al-Khalid bin Ahmad Al- Farahidi Al-Azdi , beliau orang yang pertama kali meletakkan
hamzah , tasdid, arrum dan Al-Isyamah adalah .

1. 3. Proses Pencetakan Al-Quran

Berikut ini urutan proses pencetakan Al Qur’an ;


1. Pertama kali di cetak di Bundukiyyah pada 1530 M
2. Hinkalman pada masa 1694 M di Hamburg ( jerman )
3. Meracci pada 1698 M di paduoe
4. Maulaya Usman di sain Peter buorgh, Uni Sovyet ( Label Islami )
5. Terbit cetakan di Kazan
6. Iran pada 1248 H / 1828 kota Taheran
7. Ta`di Tabriz pada 1833
8. Ta`di leipez, Jerman pada 1834
A. TAHAPAN TURUNNYA AL-QUR’AN
Al-Qur’an merupakan kitab yang menjadi sumber hukum serta pedoman bagi umat islam
yang diturunkan oleh Allah SWT. Kepada Nabi Muhammad SAW. Melalui malaikat Jibril. Al-
Qur’an diturunkan dalam tempo 22 tahun 2 bulan 22 hari, yaitu mulai malam 17 Romadlon tahun
41 dari kelahiran Nabi, sampai 9 Dzulhijjah Haji Wada’ tahun 63 dari kelahiran Nabi atau 10
H.[1]
Al-Qur’an tidak secara langsung diturunkan kepada Nabi Muhammad namun melalui
beberapa tahap. Adapun tahapan turunnya Al-Quran itu ada tiga, yaitu :[2]
1. Al-Qur’an turun secara sekaligus dari Allah ke Lauh Mahfudz. Proses pertama ini diisyaratkan
dalam Al-Qur’an surat Al-Buruj ayat 21-22 :
}٢٢‫ـ‬٢١ : ‫فِ ْي لَ ْوحٍ َمحْ فُ ْوظٍ {البروج‬.ٌ‫ان َم ِج ْيد‬ ٌ ‫بَ ْل ه َُوقُ ْر‬
Artinya : “Bahkan yang didustakan mereka ialah Al-Qur’an yang mulia. Yang tersimpan dalam
Lauh Mahfudz”. (QS. Al-Buruuj).
2. Al-Qur’an diturunkan dari Lauh Al-Mahfudz itu ke Bait- Al-Izzah (Tempat yang berada di langit
dunia). Proses ke dua ini diisyaratkan Allah dalam surat Al-Qadar ayat 1 :
}١ : ‫اِنَّاا َ ْنزَ ْالنَاهُ ِف ْي لَ ْيلَ ِة ْالقَد ِْر { القدر‬
Artinya : “Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.” (QS.
Al-Qadar : 1)
3. Al-Qur’an diturunkan dari Bait Al-Izzah kedalam hati Nabi Muhammad SAW. Dengan jalan
berangsur-angsur sesuai dengan kebutuhan. Adakalanya satu ayat, dua ayat, dan bahkan kadang-
kadang satu surat. Mengenai proses turun dalam tahap ketiga diisyaratkan dalam Al-Qur’an surat
As-Syu’ara ayat 193-195 :
}١٩٥‫ـــ‬١٩٣ : ‫ان َع َربِي ٍ ُمبِي ٍْن {الشعراء‬
ٍ ‫س‬َ ‫ بِ ِل‬. َ‫ َعلَى قَ ْلبِكَ ِلت َ ُك ْونُ ِمنَ ْال ُم ْنذ ِِريْن‬. ُ‫الر ْو ُح ْاْلَ ِم ْين‬
ُّ ‫نَزَ َل بِ ِه‬
Artinya : “ Dia dibawa turun oleh ar-ruh al-amin (Jibril), kedalam hatimu (Muhammad) agar
kamu menjadi salah seorang di antara orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab
yang jelas.” (QS. Al-Syu’ara : 193-195).
Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Melalui Malaikat Jibril tidak secara
sekaligus, melainkan turun sesuai dengan kebutuhan. Bahkan sering wahyu turun untuk
menjawab pertanyaan para sahabat yang dilontarkan kepada Nabi atau untuk membenarkan
tindakan Nabi SAW.

B. HIKMAH TURUNNYA AL-QUR’AN SECARA BERANGSUR-ANGSUR


Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa Al-Qur’an diturunkan tidak sekaligus, namun
turun secara berangsur-angsur, dan hal ini memiliki beberapa hikmah kenapa Al-Qur’an
diturunkan secara berangsur-angsur. Hikmah diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur
yaitu sebagai berikut :[3]
1. Memantapkan hati Nabi Muhammad SAW.
Ketika menyampaikan dakwah, Nabi sering berhadapan dengan para penentang. Turunnya
wahyu yang berangsur-angsur merupakan dorongan tersendiri bagi Nabi untuk terus melanjutkan
dakwah.
2. Menentang dan melemahkan para penentang Al-Qur’an.
Nabi sering berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan yang sulit yang dilontarkan oleh orang-
orang musyrik dengan tujuan melemahkan Nabi. Turunnya wahyu yang berangsur-angsur tidak
hanya menjawab pertanyaan itu, bahkan menentang mereka untuk membuat sesuatu yang serupa
dengan Al-Qur’an. Dan ketika mereka tidak memenuhi tantangan itu, hal itu sekaligus
merupakan sala salah satu mukjizat Al-Qur’an.
3. Memudahkan untuk dihapal dan dipahami
Al-Qur’an pertama kali turun di tengah-tengah masyarakat yang ummi, yakni yang tidak
memiliki pengetahuan tentang bacaan dan tulisan. Turunnya Al-Qur’an secar berangsur-angsur
memudahkan mereka untuk memahami dan menghapalnya.
4. Mengikuti setiap kejadian (yang karenanya ayat-ayat Al-Qur’an turun) dan melakukan
penahapan dalam penetapan syari’at.
5. Membuktikan dengan pasti bahwa Al-Qur’an turun dari Allah yang Maha Bijaksana.

C. DALIL DITURUNKANNYA AL-QUR’AN DENGAN 7 HURUF


Orang Arab mempunyai aneka ragam lahjah yang timbul dari fitrah mereka dalam suara, dan
huruf-huruf sebagaimana di terangkan secara komprehensip dalam kitab-kitab sastra.[4] Apabila
orang Arab berbeda lahjah dalam pengungkapan sesuatu makna dengan beberapa perbedaan
tertentu, maka Al-Qur’an yang di wahyukan Allah kepada Rasul-Nya, Muhammad,
menyempurnakan makna kemukjizatannya. Karena ia mencakup semua huruf dan wajah qira’ah
pilihan di antara lahjah-lahjah itu. Dan ini merupakan salah satu sebab yang memudahkan
mereka untuk membaca, menghafal, dan memahaminya.
Nas-nas sunah cukup banyak mengemukakan hadits mengenai turunya Al-Qur’an dengan
tujuh huruf. Di antaranya:
Dari Ibnu Abbas, ia berkata:
َ ‫ فَلَ ْم أَزَ ْل أ َ ْست َِز ْيدُهُ َو يَ ِز ْيدُنِى َحتَّى ا ْنت َ َهى اِلَى‬,ُ‫ أ َ ْق َرأَنِى ِجب ِْر ْي ُل َعلَى َح ْرفٍ فَ َرا َج ْعتُه‬: ‫سلَّ َم‬
‫س ْبعَ ِة‬ َ ُ‫صلَّى هللا‬
َ ‫علَ ْي ِه َو‬ ُ ‫قَا َل َر‬
َ ِ‫س ْو ُل هللا‬
. ٍ‫أَحْ ُرف‬
“Rasulullah berkata: Jibril membacakan (Al-Qur’an) kepadaku dengan satu huruf. Kemudian
berulangkali aku mendesak dan meminta agar huruf itu ditambah, dan ia pun menambahnya
kepada ku sampai dengan tujuh huruf.” (HR. Bukhori Muslim)
Hadits-hadits yang berkenaan dengan hal itu amat banyak jumlahnya dan sebagian besar telah
diselidiki oleh Ibn Jarir di dalam pengantar tafsir-nya. As-Suyuthi menyebutkan bahwa hadits-
hadits tersebut di riwayatkan dari dua puluh orang sahabat. Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Salam
menetapkan kemutawatiran hadis mengenai turunnya Al-Qur’an dengan tujuh huruf.[5]

D. PERBEDAAN PENDAPAT ULAMA SEPUTAR PENGERTIAN TUJUH HURUF


Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan tujuh huruf ini dengan perbedaan yang
bermacam-macam. Sehingga Ibn Hayyan mengatakan: “Ahli ilmu berbeda pendapat tentang arti
kata tujuh huruf menjadi tiga puluh lima pendapat”.[6] Namun kebanyakan pendapat itu
bertumpang tindih. Di sini kami akan mengemukakan beberapa pendapat di antaranya yang di
anggap paling mendakati kebenaran.[7]
a. Sebagian besar ulama berpendapat bahwa yang di maksud dengan tujuh huruf adalah tujuh
macam bahasa dari bahasa-bahasa Arab mengenai satu makna, dengan pengertian jika bahasa
mereka berbeda-beda dalam mengungkapkan satu makna, maka Al-Qur’an pun di turukan
dengan sejumlah lafadz sesuai dengan ragam bahasa tersebut tentang makna yang satu itu. Dan
jika tidak terdapat perbedaan, maka Al-Qur’an hanya mendatangkan satu lafadz atau lebih saja.
Kemudian mereka berbeda pendapat juga dalam menentukan ketujuh bahasa
tersebut. Di katakan bahwa ketujuh bahasa itu adalah bahasa quraisy, huzail, saqif, hawazin,
kinanah, tamim dan yaman. Menurut Abu Hatim As-Sijistani, Al-Qur’an di turunkan dalam
bahasa Quraisy, Huzail, Tamim, Azad, Rabi’ah, Hawazin, dan Sa’ad bin Bakar. Dan
diriwayatkan pula pendapat yang lain.
b. Suatu kaum berpendapat bahwa yang di maksud dengan tujuh huruf adalah tujuh macam bahasa
dari bahasa-bahasa arab dengan makna Al-Qur’an di turunkan, dengan pengertian bahwa kata-
kata dalam Al-Qur’an secara keseluruhan tidak keluar dari ketujuh macam bahasa tadi, yaitu
bahasa paling fasih di kalangan bangsa arab, meskipun sebagian besarnya bahasa quraisy.
Sedang sebagian yang lain dalam bahasa Huzail, Saqif, Hawazin, Kinanah, Tamim atau Yaman,
karana itu maka secara keseluruhan Al-Qur’an mencakup ketujuh bahasa tersebut. Pendapat ini
berbeda dengan pendapat sebelumnya, karena yang di maksud dengan tujuh huruf dalam
pendapat ini adalah tujuh huruf yang bertebaran di berbagai surah Al-Qur’an, bukan tujuh bahasa
yang berbeda dalam kata tetapi sama dalam makna.
Berkata Abu ‘Ubaid: “Yang di maksud bukanlah setiap kata boleh di baca dengan tujuh
bahasa, tetapi tujuh bahasa yang bertebaran dalam Al-Qur’an. Sebagiannya bahasa Quraisy,
sebagian yang lain bahasa Huzail, Hawazin, Yaman, dan lain-lain” dan katanya pula: “ Sebagian
bahasa-bahasa itu lebih beruntung karena dominan dalam Al-Qur’an.”
c. Sebagian ulama meneyebutkan bahwa yang di maksud dengan tujuh huruf adalah tujuh wajah,
yaitu: amr, nahyu, wa’d, wa’id, jadal, qasas, dan masal. Atau amr, nahyu, halal, haram, muhkam,
mutasyabih dan amsal.
d. Segolongan ulama berpendapat bahwa yang di maksud dengan tujuh huruf adalah tujuh macam
hal yang di dalamnya terjadi ikhtilaf, yaitu:
1. Ikhtilaful asma’ ( perbedaan kata benda)
2. Perbedaan dalam segi i’rab (harokat akhir kata)
3. Perbedaan dalam tasrif,
4. Perbedaan dalam taqdim (mendhulukan) dan ta’khir (mengakhirkan)
5. Perbedaan dalam segi ibdal (penggantian)
6. Perbedaan karena ada penambahan dan pengurangan
7. Perbedaan lahjah.
e. Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa bilangan tujuh itu tidak di artikan secara harfiah,
tetapi bilangan tersebut hanya sebagai lambang kesempurnaan menurut kebiasaan orang Arab.
Dengan demikian, maka kata tujuh adalah isyarat bahwa bahasa dan susunan Al-Qur’an
merupakan batas dan sumber utama bagi perkataan semua orang arab yang telah mencapai
puncak kesempurnaan tertinggi. Sebab, lafadz sab’ah dipergunakan pula untuk menunjukan
jumlah banyak dan sempurna dalam bilangan satuan, seperti “tujuh puluh” dalam bilangan
puluhan, dan “tujuh ratus” dalam ratusan. Tetapi kata-kata itu tidak di maksudkan untuk
menunjukan bilangan tertentu.
f. Segolongan ulama berpendapat bahwa yang di maksud dengan tujuh huruf tersebut adalah qiraat
tujuh.
Tarjih dan Analisis
Pendapat terkuat dari semua pendapat tersebut adalah pendapat pertama, yaitu bahwa
yang di maksud dengan tujuh huruf adalah tujuh macam bahasa dari bahasa-bahasa arab dalam
mengungkapkan satu makna yang sama. Misalnya: aqbil, ta’ala, hulumma, ‘ajal dan asra’.
Lafadz-lafadz yang berbeda ini digunakan untuk menunjukan satu makna yaitu perintah untuk
menghadap. Pendapat ini di pilih oleh Sufyan bin ‘Uyainah, ibn Jarir, ibn Wahb dan lainya. Ibn
‘Abdil Bar menisbatkan pendapat ini kepada sebagian besar ulama dan dalil bagi pendapat ini
ialah apa yang terdapat dalam hadits abu bakrah berikut :
“ Jibril mengatakan: “Wahai Muhammad, bacalah Al-Qur’an dengan satu huruf, lalu Mikail
mengatakan: tambahkanlah. Jibril berkata lagi: dengan dua huruf! Jibril terus menambahnya
hingga sampai dengan enam atau tujuh huruf. Lalu ia berkata: semua itu obat penawar yang
memadai, selama ayat azab tidak di tutup dengan ayat rahmat, dan ayat rahmat tidak di tutup
dengan ayat madzhab. Seperti kata-kata: hulumma, ta’ala, aqbil, izhab, asra’ dan ‘ajal”

E. HIKMAH DARI TURUNNYA AL-QUR’AN DENGAN TUJUH HURUF


Hikmah yang dapat diambil dengan kejadian turunnya Al-Qur’an dengan tujuh huruf adalah
sebagai berikut:[8]
1. Untuk memudahkan bacaan dan hafalan bagi bangsa yang ummi, tidak bisa baca tulis, yang
setiap kabilahnya mempunyai dialek masing-masing, namun belum terbiasa menghafal syari’at,
apa lagi mentradisikannya.
2. Bukti kemukjizatan Qur’an bagi naluri atau watak dasar kebahasan orang arab. Qur’an
mempunyai banyak pola susunan bunyi yang sebanding dengan segala macam cabang dialek
bahasa yang telah menjadi naluri bahasa orang-orang arab, sehingga setiap orang arab dapat
mengalunkan huruf-huruf dan kata-katanya sesuai dengan irama yang telah menjadi watak dasar
mereka dan lahjah kaumnya, dengan tetap keberadaan Qur’an sebagai mukjizat yang
ditantangkan Rasulullah kepada mereka. Dan mereka tidak mampu menghadapi tantangan
tersebut. Sekalipun demikian, kemukjizatan itu bukan terhadap bahasa melainkan terhadap
naluri kebahasaan mereka itu sendiri.
3. Kemukjizatan Qur’an dalam aspek makna dan hukum-hukumnya. Sebab perubahan-perubahan
bentuk lafadz pada sebagian huruf dan kata-kata memberikan peluang luas untuk dapat
disimpulkan dari padanya berbagai hukum. Hal inilah yang menyebabkan Qur’an relevan untuk
setiap masa. Oleh karena itu, para fuqaha dalam istinbat (penyimpulan hukum) dan ijtihad
berhujjah dengan qiraat bagi ketujuh huruf ini.

PENUTUP

KESIMPULAN
Kesimpulannya bahwa Al-Qur’an itu diturunkan secara berangsur-angsur. Hal yang
demikian disebabkan oleh beberapa faktor yang nantinya akan mempermudah Nabi untuk
menerimanya serta membuktikan bahwa Al-Qur’an itu benar-benar kitab yang diturunkan oleh
Allah SWT. Dzat yang Maha bijaksana sehingga Al-Qur’an turun sesuai dengan tujuan dan
fungsinya.
Di atas juaga pada intinya menjelaskan bahwa sesuai dengan masing-masing pendapat
para ulama, Al-Qur’an itu diturunkan atas tujuh huruf. Dan hal tersebut mempunyai dalil-dalil
tersendiri serta mempunyai beberapa hikmah yang terkandung di dalamnya.
Pengertian Al-Qur'an Diturunkan Atas
Tujuh Huruf

Keriput, bengkak, dan kantung di bawah mata menghilang dalam 20 menit!

Dengan "ini" berat Anda turun 37 kg saat tidur! Pembakar lemak terdahsyat!

Bacalah sebelum dihapus! Berat Anda 89 kg? Bisa jadi 55 kg! Sebelum tidur harus

Bau mulut akibat parasit! Mereka akan lenyap jika Anda minum sesendok...

Al-Qur'an diturunkan dalam bahasa yang jelas. Hal ini adalah suatu yang wajar, karena Al-
Qur'an diturunkan ditengah-tengah umat yang berbahasa arab melalui nabi yang berbahasa arab
sekalipun ini bukan berarti bahwa islam hanya untuk bangsa arab. Keadaan Al-Qur'an dalam
bahasa arab dijelaskan oleh Al-Qur'an sendiri yang menurut perhitungan Muhammad Fuad Abd
al-Baqi pada sebelas tempat. Diantaranya adalah ayat-ayat berikut :
1. Surah Yusuf ayat 2
" Sesungguhnya, Kami menurunkan Al-Qur'an yang berbahasa Arab agar kamu
memahaminya"
2. Surah As-syu'ara ayat 195
" Dengan bahasa Arab yang jelas".
Dalam menafsirkan ayat pertama, Rasyid Ridha menyatakan bahwa Al-qur'an dsampaikan
kepadamu sesuai dengan bahasamu yaitu bahasa Arab, supaya kamu dapat mengetahui berbagai
hal tentang ilmu agama, berita berita rasul, ilmu dan hikmah, peradaban dan politik.
Al-Alusi menafsirkan ayat kedua dengan menyatakan bahwa Al-Qur'an diturunkan dalam
bahasa arab, jelas makna dan maksudnya agar dapat memberi kesan tentang apa yang
dikehendakinya. Turunnya Al-Qur'an dalam bahasa arab yang jelas bertujuan memberikan
informasi tentang apa yang dibutuhkan oleh manusia, baik menyangkut urusan agama maupun
dengan urusan dunia.
Berdasarkan dua ayat dan keterangan dua mufassir diatas, jelas bahwa bahasa yang digunakan
Al-Qu'an adalah bahasa arab asli. Sekalipun bukan berarti bahwa Al-Qu'an diturunkan khusus
untuk bangsa arab, sebab berdasarkan keterangan Al-Qu'an sendiri dan praktet Nabi, agama
Islam yang bersumber pokoknya Al-Qu'an ditujukan untuk seluruh umat manusia. Dengan
demikian Al-Qu'an dalam berbahasa arab tidak ada masalah. Akan tetapi, masalahnya bahasa
arab itu sendiri terdiri dari berbagai rumpun, apakah Al-Qu'an menggunakan semua rumpun itu
atau hanya menggunakan rumpun tertentu?. Dalam pada itu ditemulan pula beberapa hadits yang
menjelaskan bahwa Al-Qu'an diturunkan dalam tujuh huruf. Muhammad Abd Al-Azim
mengemukakan sepuluh hadits yang dipandang sahihsebagai dalil tentang turunnya Al-Qu'an
dalam tujuh huruf diantaranya adalah sebagai berikut :
Hadits Pertama
" Dari Ibnu Abbas r.a bahwa ia berkata : " Berkata Rasulullah saw, : " Jibril membacakan
kepadaku atas satu huruf, maka aku kembali kepadanya, maka aku terus menerus meminta
tambahan dan ia menambahi bagiku hingga berakhir sampai tujuh huruf" (Diriwayatkan oleh
Bukhari dan Muslim).
Hadits Kedua
" Kemudian berkata Rasulullah saw. : " Sesungguhnya Al-Qur'an itu diturunkan atas tujuh ahruf
(huruf) maka baca kamulah mana yang muda daripadanya".(Diriwayatkan oleh Bukhari dan
Muslim).
Hadits kedua ini berasal dari Umar bin Khattab yang membawa Hisyam Ibnu Hakim
kehadapan Rasulullah karena membaca surah Al-furqan dengan berbagai cara baca dan
Rasulullah pernah membacanya dengan cara itu kepada Umar. Setelah Hisyam
memperdengarkan bacaannya kepada Rasul, Rasul berkata : " Demikianlah ia diturunkan" dan
seterusnya menyambungnya dengan sabdanya di atas.
Melihat periwayat hadit-hadits ini dan asalnya dari sahabat-sahabat Nabi yang ke tsiqahannya
tidak perlu dipertanyakan lagi, maka hadits-hadits ini dapat dinali shahih, bahkan para ulama
tidak mempersoalkan ke sahihannya bersama hadits lain yang menerangkan turunnya Al-qur'an
atas tujuh huruf.
Sebagian ulama memahami bahawa kata tujuh disini tidak dimasudkan dengan makna
bilangan tujuh yang sebenarnya. Menurut mereka tujuh disini hanya menunjukkan banyaknya
kemungkinan cara membaca Al-qur'an yang dibolehkan untuk memberi kemudahan bagi kaum
muslimin yang pada pokoknya terdiri dari orang-orang arab yang menggunakan berbagai lahjah
pada masa turunnya Al-qur'an. Namun dari hadits pertama diatas, dapat dipahami bahwa kata
tujuh memang disini dimaksudkan "tujuh" dalam arti bilangan yang dikenal. Selanjutnya,
bilangan tujuh disini merupakan batas maksimal darivkemungkinan kemungkinan bacaan Al-
qur'an yang dibolehkan. Sebab, dalam hadits diatas disebutkan bahwa Rasul terus menerus
meminta agar Jibril membacakan kepadanya dengan cara yang lain sehingga menjadi kemudahan
dari umatnya untuk membacanya sebagai yang dijelaskna pada hadits kedua. Ternyata Jibril
hanya sampai pada cara yang ketujuh dan tidak menambahnya lagi.
Sedangkan kata " ahruf" yang merupakan bentuk jamak dari "harf" dalam bahasa indonesia
selalu diterjemahkan dengan huruf. Dalam bahasa arab kata "harf " adalah lafal musytarak
(mempunyai banyak arti). sesuai dengan penggunaannya, "harf" bisa 'tepi sesuatu', 'puncak',
'satu huruf ejaan', 'unta yang kurus', 'aliran air', bahasa', 'wajih' (bentuk) dan sebagainya. Karena
itu, "sab'ah ahruf" bisa diartikan dengan tujuh bahasa, tujuh ilmu, tujuh makna, tujuh bacaan,
dan tujuh bentuk (awjuh). Meskipun para ulama berbeda pendapat dalan menafsirkannya
sebagaimana akan di kemukakan pada pembahasaan yang akan datang, namun makna yang lebih
mengana dalam hubungan ialah tujuh bentuk (awjuh) perbedaan yang mungkin terjadi dalam
bacaan Al-Qur'an.
Keterangan di atas bukan berarti bahwa setiap kata dari Al-Qur'an harus dibaca atas tujuh
bentuk. Maksudnya adalah bahwa kemungkinan-kemungkinan perbedaan bacaan dalam satu kata
atau ayat-bagaimanapun banyaknya-tidak lebih dari tujuh bentuk.
Misalnya tentang kalimat:
UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/> ‫ِين‬
ِ ‫َم ٰـ ِل ِك يَ ۡو ِم ٱلد‬
diriwayatkan dapat dibaca dengan tujuh atau sepuluh cara, kalimat:

‫اغوت أ ُ ف‬
ْ ‫َو ْعبُد الط‬
dibaca dengan 22 qiraat, dan kata: ‫ أ ُ ف‬dengan 37 bahasa. Namun, perubahan dalam semua
kalimat dan kata-kata ini dan yang seumpamanya tidak keluar dari tujuh bentuk perubahan.
Untuk memahami pengertian ini lebih lanjut, ada baiknya diketahui kondisi historis yang
melatar belakangi timbulnya hadits-hadits tentang turunnya Al-Qur'an atas tujuh huruf.
Dipahami dari hadits sahih yang diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya dari Ubay Ibn Ka'b
bahwa rasul meminta kemaafan dan kemampuan Allah agar Jibril menambah bentuk bacaan al-
qur'an samapai kepada tujuh bentuk ketika ia berada di Adhaa ani Ghiffar yang maksudnya Quba
atau suatu tempat dekat Madinah atau tempat di madinah. Riwayat ini menunjukkan bahwa
permohonan untuk keringan itu tidak terjadi kecuali hijrah. Hal ini tentunya menimbulkan
pertanyaan, mengapa permohonan itu baru muncul di Madinah sementara ayay-ayat Al-Qur'an
sudah turun selama 13 tahun di Mekkah? Peristiwa ini menunjukkan bahwa kebutuhan kepada
bentuk bacaan yang bervariasi itu baru dirasakan di Madinah setelah tersiarnya Islam ke berbagai
kabilah dengan berbagai bahasa atau lahjah (dialek) dan susunannya yang kadang-kadang satu
kabilat sulit mengikuti lahjah kabilah lainnya termasuk lahjah Kuraisy.pada periode Mekkah,
Islam pada dasarnya masih terbatas di kalangan orang-orang Mekkah. karena itu, bagimereka
tidak kesulaitan membaca Al-Qur'an sekalipun harus dalam satu lahjah dan bentuk susunannya.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa tujuan pokok dari turunnya Al-Qur'an atas tujuh huruf
adalah untuk memberi kemudahan bagi suku-suku Arab yang mengalami kesulitan dalam
membacanya. Selanjutnya, dapat dipahami pula bahwa kesulitan itu bisa dalam penuturan
hurufnya, kata-katanya, kalimatnya, dan bahkan susunannya. Untuk mewujudkan kemudahan ini
maka terjadilah sebagian perubahan huruf, atau kata atau kalimat atau susunan kalimat dalam
sebagian ayat-ayat Al-Qur'an. Perubahan-perubahan ini menyebabkan perbedaan-perbedaan yang
jelas antara satu qiraah dan qiraah lainnya. Perbedaannya bukan hanya dalam pengucapan dan
huruf semata tetapi juga pada kalimat dan susunannya. Karena itu, ungkapan tentang Al-Qur'an
diturunkan atas tujuh huruf ini lebih tepat diartikan sebagai tujuh bentuk perbedaan bacaan Al-
Qur'an sebagaimana yang dikemukakan oleh Imam Abu al-Fadhl al-Razi dalam kitab Al-Lawaih.

Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan tujuh huruf ini dengan perbedaan yang
bermacam-macam. Sehingga Ibn Hayyan mengatakan: “Ahli ilmu berbeda pendapat tentang arti
kata tujuh huruf menjadi tiga puluh lima pendapat.” (as-Suyuti berkata: “Penafsiran ulama
tentang makna hadits ini tidak kurang dari empat puluh pendapat [al-itqaan jilid 1 hal 45])
namun kebanyakan pendapat-pendapat itu saling tumpang tindih. Di sini kita kemukakan
beberapa pendapat di antaranya yang dianggap paling mendekati kebenaran.

a. Sebagian besar ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh
macam bahasa dari bahasa-bahasa Arab mengenai satu makna; dengan pengertian jika bahasa
mereka berbeda-beda dalam mengungkapkan satu makna, maka al-Qur’an pun diturunkan
dengan sejumlah lafadz sesuai dengan ragam bahasa tersebut tentang makna yang satu itu. Dan
jika tidak terdapat perbedaan, maka al-Qur’an hanya mendatangkan satu lafadz atau lebih saja

Kemudian mereka berbeda pendapat juga dalam menentukan ketujuh bahasa itu. Dikatakan
bahwa ketujuh bahasa itu adalah bahasa Quraisy, Huzail, Saqif, Hawazin, Kinanah, Tamin dan
Yaman.
Menurut Abu Hatim as-Sijistani, al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Quraisy, Huzail, Tamim,
Azad, Rabi’ah, Hawazin dan Sa’d bin Bakar. Dan diriwayatkan juga pendapat yang lain. (lihat
al-itqaan jilid 1 hal 47)

b. Suatu kaum berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh macam
bahasa dari bahasa-bahasa Arab dengan mana al-Qur’an diturunkan, dengan pengertian bahwa
kata-kata dalam al-Qur’an secara keseluruhan tidak keluar dari ketujuh macam bahasa tadi, yaitu
bahasa paling fasih di kalangan bangsa Arab, meskipun sebagian besarnya dalam bahasa
Quraisy. Sedangkan sebagian yang lain dalam bahasa Huzail, Saqif, Hawazin, Kinanah, Tamin
atau Yaman; karena itu maka secara keseluruhan al-Qur’an mencakup ketujuh bahasa tersebut.

Pendapat ini berbeda dengan pendapat sebelumnya karena yang dimaksud dengan tujuh huruf
dalam pendapat ini adalah tujuh huruf yang bertebaran di berbagai surah al-Qur’an, bukan tujuh
bahasa yang berbeda dalam kata tetapi sama dalam arti dan makna.

Berkata Abu ‘Ubaid: “Yang dimaksud bukanlah setiap kata boleh dibaca dengan tujuh bahasa,
tetapi tujuh bahasa yang bertebaran dalam al-Qur’an. Sebagaiannya bahasa Quraisy, sebagian
lain bahasa Hazail, Hawazin, Yaman, dan lain-lain.” Dan katanya pula: “Sebagian bahasa-bahasa
itu lebih beruntung karena dominan dalam al-Qur’an.”

c. Sebagian ulama menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh wajah,
yaitu: amr [perintah], nahyu [larangan], wa’d [janji], wa’id [ancaman], jadal [perdebatan], qasas
[cerita], dan masal [perumpamaan]. Atau amr, nahyu, halal, haram, muhkam mutasyabih dan
amtsal.

Dari Ibn Mas’ud, Nabi berkata: “Kitab umat terdahulu diturunkan dari satu pintu dan dengan
satu huruf. Sedang al-Qur’an diturunkan melalui tujuh pintu dan dengan tujuh huruf, yaitu: zajr
[larangan], amr, halal, haram, muhkam, mutasyabih dan amtsal.” (Hadits Hakim dan Baihaqi)

d. Segolongan ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh macam
hal yang di dalamnya terjadi ikhtilaf [perbedaan] yaitu:

1. Ikhtilaaful asmaa’ [perbedaan kata benda]: dalam bentuk mufrad, mudzakkar dan cabang-
cabangnya, seperti tasniyah, jamak dan ta’nis. Misalnya firman Allah: walladziina Hum li
amaanaatiHim wa ‘aHdiHim raa’uun (al-Mukminuun: 8), dibaca “li amaanatiHim” dengan
bentuk mufrad dan dibaca pula “li amaanaatiHim” dengan bentuk jamak. Sedang rasamnya
dalam mushaf adalah tertulis “lam hamzah mim nun ta’ Ha’ dan mim” [tanpa harakat/syakal],
yang memungkinkan kedua qira’at itu karena tidak adanya alif yang disukun. Tetapi kesimpulan
akhir dari kedua macam qira’at itu adalah sama. Sebab bacaan dengan bentuk jamak
dimaksudkan untuk arti istigraq [keseluruhan] yang menunjukkan jenis-jenisnya, sedang bacaan
dengan bentuk mufrad dimaksudkan untuk jenis yang menunjukkan makna banyak, yaitu semua
jenis amanat yang mengandung bermacam-macam amanat yang banyak jumlahnya.

2. Perbedaan dalam segi i’rab [harakat akhir kata], seperti firman Allah: maa Haadzaa basyaran
(Yusuf: 31). Jumhur membacanya dengan nasab [accusative], dengan alasan “maa” berfungsi
seperti “laisa”; dan ini adalah bahasa penduduk Hijaz yang dalam bahasa inilah al-Qur’an
diturunkan. Sedang Ibn Mas’ud membacanya dengan rafa’ [nominative]: “maa Haadzaa
basyarun” sesuai dengan bahasa Bani Tamim, karena mereka tidak memfungsikan “maa” seperti
“laisa”.
Juga seperti firman-Nya: fatalaqqaa adama mir rabbiHii kalimaatin (al-Baqarah: 37) ayat ini
dibaca dengan menasabkan “adama” dan merafa’kan “kalimaatun” (fatalaqqaa adama mir
rabbiHii kalimaatun)

3. Perbedaan dalam tasrif, seperti firman-Nya: qaaluu rabbanaa baa-‘id baina asfaarinaa (Saba’:
19), dibaca dengan menasabkan “rabbanaa” karena menjadi munaadaa mudaaf dan “baa-‘id”
dibaca dengan bentuk perintah [fi’il amr]. Lafadz “rabbanaa” dibaca pula dengan rafa’ sebagai
mubtada’ dan “baa-‘ada” dengan membaca fathah huruf ‘ain sebagai fi’il madli yang
kedudukannya menjadi khabar atau sebutan. Juga dibaca “ba’-‘ada” dengan membaca fathah dan
mentasydidkan huruf ‘ain dan merafa’kan lafadz “rabbanaa”
Termasuk kelompok ini adalah perbedaan karena perubahan huruf, seperti “ya’lamuunaa” dan
“ta’lamuuna”, dengan ya’ dan dengan ta’. Dan lafadz “ash-shiraatha” dan “as-siraatha” dalam
firman-Nya: iHdinash shiraathal mustaqiima (al-Faatihah: 6).

4. Perbedaan dalam taqdim [mendahulukan] dan ta’khir [mengakhirkan], baik terjadi pada huruf
seperti firman-Nya: afalam yai-asu (ar-Ra’d: 31) yang dibaca pula “afalam ya’yasu” maupun di
dalam kata seperti firman-Nya: “fayaqtuluuna wa yuqtaluuna” (at-Taubah: 111) dimana yang
pertama “fayaqtuluuna” di-mabni-fa’il-kan [dibaca dalam bentuk aktif] dan yang kedua “wa
yuqtaluuna” di-mabni-maf’ul-kan [dibaca dalam bentuk pasif] disamping dibaca pula dengan
sebaliknya, yaitu yang pertama di-mabni-maf’ul-kan dan yang kedua di-mabni-fa’il-kan.
Adapun qira’at: wa jaa-at sakratul haqqi bil mauti (Qaaf: 19) sebagai ganti dari firman-Nya: “wa
jaa-at sakratul mauti bil haqqi” adalah qira’at aahaad dan syadz yang tidak mencapai derajat
mutawatir.

5. Perbedaan dalam segi ibdaal [penggantian], baik penggantian huruf dengan huruf, seperti
“wandhur ilal ‘idhaami kaifa nunsyizuHaa” (al-Baqarah: 259) yang dibaca dengan huruf za dan
mendlamahkan nun, disamping dibaca pula dengan huruf ra’ dan memfathahkan nun; maupun
penggantian lafadz dengan lafadz, seperti firman-Nya: kal-‘iHnil manfuusyi (al-Qari’ah: 5) yang
dibaca oleh Ibn Mas’ud dan lain-lain dengan “kash-shuufil manfuusyi”. Terkadang juga
penggantian ini terjadi pada sedikit perbedaan makhraj atau tempat keluar huruf, seperti firman-
Nya: thalhim man-dluudin (al-Waaqi’ah: 29) yang dibaca dengan “thal-‘in” karena makhraj ha’
dan ‘ain itu sama dan keduanya termasuk huruf halaq.

6. Perbedaan karena ada penambahan dan pengurangan. Ikhtilaf dengan penambahan [ziyadah]
misalnya firman Allah “wa a-‘adda laHum jannaatin tajrii tahtaHal anHaaru (at-Taubah: 100)
yang dibaca juga dengan “min tahtiHal anHaaru” dengan tambahan “min”, keduanya merupakan
qira’at yang mutawatir. Mengenai perbedaan karena adanya pengurangan [naqs], seperti dalam
firman-Nya: qaalut takhadzallaaHu waladan (al-Baqarah: 116) tanpa huruf wawu, sedang jumhur
ulama membacanya: “wa qaalut takhadzallaaHu waladaa” dengan wawu. Perbedaan dengan
adanya penambahan dalam qira’at ahad [orang perorangan] dapat diwakili dengan qira’at Ibn
Abbas: wa kaana amaamaHum malikuy ya’khudzu kulli safiinatin shaalihatin ghashban (al-
Kahfi: 79), dengan penambahan “shaalihatin” dan penggantian kata “amaama” dari kata “waraa-
a” sedang qira’at jumhur ialah: “wa kaana waraa-aHum malikuy ya’khudzu kulla safiinatin
ghashban”. Demikian pula perbedaan karena pengurangan dapat diberi contoh dengan qira’at
“wadzdzakara wal untsaa” sebagai ganti dari ayat yang lazim dibaca “wa maa khalaqadzdzakara
wal untsaa (al-Lail: 3).

7. Perbedaan lahjah seperti bacaan tafkhim [menebalkan] dan tarqiq [menipiskan], fathah dan
imalah, idzHar dan idgham, hamzah dan tashil, isymam dan lain-lain. Seperti membaca imalah
dan tidak imalah dalam firman-Nya: “Hal ataaka hadiitsu muusaa” yang dibaca dengan
mengimalahkan kata “ataa” dan “muusaa”, membaca tarqiq ra dalam firman-Nya “Khabiiram
bashiiran” mentafkhimkan huruf lam dalam kata “ath-thalaaq”, mentashilkan hamzah dalam
firman-Nya “qad aflaha” (al-Mukminun: 1) dan mengisymamkan huruf ghain dengan
didlamahkan bersama kasrah dalam firman-Nya “wa ghii-dlal maa-u” (Huud: 44). Dan
seterusnya.

e. Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa bilangan tujuh itu tidak diartikan secara harfiah
[maksudnya, bukan bilangan antara enam dan delapan] tetapi bilangan tersebut hanya sebagai
lambang kesempurnaan menurut kebiasaan orang Arab. Dengan demikian, maka kata tujuh
adalah isyarat bahwa bahasa dan susunan al-Qur’an merupakan batas dan sumber utama dari
perkataan semua orang Arab yang telah mencapai puncak kesempurnaan tertinggi. Sebab lafadz
sab’ah [tujuh] dipergunakan pula untuk menunjukkan jumlah banyak dan sempurna dalam
bilangan satuan, seperti tujuh puluh dalam bilangan puluhan, dan tujuh ratus dalam bilangan
ratusan. Tetapi kata-kata itu tidak dimaksudkan untuk menunjukkan bilangan tertentu. (lihat al-
itqaan, jilid 1 hal 45)

f. Segolongan ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf tersebut adalah
qiraat tujuh.