Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di negara maju ataupun negara berkembang penyakit kronik tidak
menular (cronic non-com-municable diseases) seperti penyakit
kardiovaskuler, hipertensi, diabetes melitus, dan penyakit ginjal kronik, sudah
menggantikan penyakit menular (communicable diseases) sebagai masalah
kesehatan masyarakat utama. Di Indonesia, menurut WHO penyakit
hipertensi dan gagal ginjal selalu mengalami peningkatan tiap tahunnya.
(Rindiastuti, 2008)
Penderita Gagal ginjal kronik semakin meningkat jumlahnya tiap
tahun, di Amerika pada tahun 2009 diperkirakan terdapat 116.395 orang
penderita gagal ginjal kronik yang baru. Lebih dari 380.000 penderita gagal
ginjal kronik menjalani hemodialisis reguler (USRDS, 2011). Pada tahun
2011 di Indonesia terdapat 15.353 pasien yang baru menjalani HD dan pada
tahun 2012 terjadi peningkatan pasien yang menjalani HD sebanyak 4.268
orang sehingga secara keseluruhan terdapat 19.621 pasien yang baru
menjalani HD. Sampai akhir tahun 2012 terdapat 244 unit hemodialisis di
Indonesia (IRR, 2013).
Gagal Ginjal Kronik (GGK) adalah suatu sindrom klinis disebabkan
penurunan fungsi ginjal yang bersifat menahun, berlangsung progresif dan
cukup lanjut, serta bersifat persisten dan irreversibel. Ginjal merupakan
organ penting dalam tubuh manusia, yang mengatur fungsi kesejahteraan dan
keselamatan untuk mempertahankan volume, komposisi dan distribusi cairan
tubuh, sebagian besar dijalankan oleh ginjal (Brenner, 1979 dalam Lubis,
2006). Kerusakan pada ginjal membuat sampah metabolisme dan air tidak
dapat lagi dikeluarkan. Dalam kadar tertentu, sampah tersebut dapat meracuni
tubuh, kemudian me-nimbulkan kerusakan jaringan bahkan kematian.
(Mansjoer, 2000)
Fungsi ginjal ialah mengatur volume air (cairan) dalam tubuh.
Kelebihan air dalam tubuh akan di ekskresikan oleh ginjal sebagai urine,

1
ekskresi sisa hasil metabolisme (ureum, asam urat, kreatinin), zat-zat toksik,
obat-obatan, dan bahan kimia asing, serta fungsi hormonal dan metabolisme
(Syaifuddin, 2006 : 237).
Akibat penurunan atau kegagalan fungsi ginjal membuang produk sisa
melalui eliminasi urin akan menyebabkan gangguan cairan, elektrolit serta
asam basa. Untuk menangani masalah dapat dilakukan metode cuci darah
atau hemodialisa yaitu penggantian ginjal modern menggunakan dialisis
untuk mengeluarkan zat terlarut yang tidak diinginkan (O’Callaghan, 2009 :
96).
Prosedur ini digunakan untuk mengatasi keadaan dimana ginjal tidak
sanggup membuang kotoran tubuh, memerlukan waktu 3-8 jam, dapat
dilakukan sehari-hari dalam situasi akut atau 2 sampai 3 kali seminggu pada
gagal ginjal kronik yang tergantung kadar kreatinin atau gejala yang
ditunjukan oleh pasien (Pagunsan et al, 2007 : 52).
Doengoes (2000) mengemukakan bahwa pasien yang menjalani terapi
hemodialisa biasanya akan merasa cemas yang disebabkan oleh krisis
situasional, ancaman kematian, dan tidak mengetahui hasil dari terapi yang
dilakukan tersebut. Pasien dihadapkan pada ketidakpastian berapa lama
hemodialisa diperlukan dan harus dapat menerima kenyataan bahwa terapi
hemodialisa akan diperlukan sepanjang hidupnya serta memerlukan biaya
yang besar. Seseorang yang menjalani Hemodialisa berkepanjangan akan
dihadapkan berbagai persoalan seperti masalah keuangan, mempertahankan
pekerjaan, dorongan seksual yang menghilang serta impotensi, khawatir
terhadap perkawinan dan ketakutan terhadap kematian (Bare and Smeltzer,
2002). Terjadinya stress karena stressor yang dirasakan dan dipersepsikan
individu, merupakan suatu ancaman yang dapat menimbulkan kecemasan.
Salah satu teknik relaksasi yang digunakan untuk mengatasi
kecemasan pada pasien adalah dengan terapi guided imagery, karena tehnik
relaksasi merupakan tindakan untuk mengalihkan perhatian dan mengurangi
rasa cemas yang di alami pasien. Guided imagery merupakan suatu teknik
yang menggunakan imajinasi individu dengan imajinasi terarah untuk

2
mengurangi stres (Patricia dalam Kalsum, 2012). Penelitian Kalsum et al
(2012) menunjukkan bahwa teknik guided imagery dapat menurunkan tingkat
kecemasan pada klien dengan insomnia usia 20-25. Setelah dilakukan teknik
guided imagery diperoleh 81% subjek penelitian mengalami mengalami
penurunan tingkat kecemasan dan 19% subjek penelitian tingkat
kecemasannya tetap. Berdasarkan hasil uji statistik maka teknik guided
imagery dapat digunakan sebagai salah satu metode alternatif untuk
menurunkan tingkat kecemasan (Beebe & Wyatt, 2009).
Berdasarkan studi pendahuluan yang sudah dilakukan oleh peneliti
terhadap 1 pasien hemodialisa dengan cara observasi dan wawancara,
didapatkan hasil bahwa pasien mengatakan cemas dan takut dengan proses
cuci darah. Selain itu, pasien hemodialisa mengatakan tidak pernah diberikan
Guide imagery untuk mengurangi kecemasan.
Penelitian tentang Pengaruh Guide Imagery Terhadap Tingkat
Kecemasan Pada Pasien Hemodialisa pernah dilakukan oleh Sarsito (2015),
kesimpulan dari penelitian ini menyatakan adanya Pengaruh Guide Imagery
Terhadap Tingkat Kecemasan Pada Pasien Hemodialisa.

B. Perumusan Masalah
Seseorang yang menjalani Hemodialisa berkepanjangan akan
dihadapkan berbagai persoalan seperti masalah keuangan, mempertahankan
pekerjaan, dorongan seksual yang menghilang serta impotensi, khawatir
terhadap perkawinan dan ketakutan terhadap kematian Terjadinya stress
karena stressor yang dirasakan dan dipersepsikan individu, merupakan suatu
ancaman yang dapat menimbulkan kecemasan. Berdasarkan latar belakang
masalah maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah untuk
mengetahui adakah pengaruh Guide Imagery terhadap tingkat kecemasan
pada pasien Hemodialisa di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus.

3
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui pengaruh Guided Imagery terhadap tingkat kecemasan pada
pasien Hemodialisa di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi karakteristik tingkat kecemasan pada pasien
Hemodialisa di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus
b. Mendapatkan gambaran pengaruh guided imagery pada pasien
Hemodialisa di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus
c. Untuk mengetahui tingkat kecemasan pasien Hemodialisa di RSUD
dr. Loekmono Hadi Kudus setelah dilakukan pemberian guided
imagery
d. Untuk mengetahui perbedaan tingkat kecemasan pada pasien
Hemodialisa antara kelompok perlakuan dan kontrol setelah
diberikan post test di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini memberikan hasil berupa perbedaan tingkat kecemasan
pada pasien Hemodialisa antara kelompok perlakuan dan kontrol setelah
diberikan post test di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus, sehingga dapat
memberikan manfaat pada :
1. Instansi di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus
a. Sebagai bahan masukan dalam standar penggunaan guided imagery,
mengurangi tingkat kecemasan terhadap pasien Hemodialisa
b. Sebagai bahan pengajuan standar operasional prosedur ke pemimpin
Rumah Sakit yang diperlukan untuk meningkatkan pelayanan
Rumah Sakit.
2. Institusi Pendidikan
Sebagai bahan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
tentang pengaruh Guided Imagery terhadap tingkat kecemasan serta
program pendidikan dan pengembangannya.

4
3. Perawat
Sebagai informasi dan masukan dalam peningkatan dan pedoman untuk
melaksanakan tindakan keperawatan
4. Peneliti
Sebagai bahan masukan dalam rangka meningkatkan profesionalisme
dalam memberikan pelayanan kepada pasien

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Guide Imagery
1. Pengertian
Salah satu teknik relaksasi yang digunakan untuk mengatasi
kecemasan pada pasien adalah dengan terapi guided imagery, karena
tehnik relaksasi merupakan tindakan untuk mengalihkan perhatian dan
mengurangi rasa cemas yang di alami pasien. Guided imagery merupakan
suatu teknik yang menggunakan imajinasi individu dengan imajinasi
terarah untuk mengurangi stres (Patricia dalam Kalsum, 2012). Penelitian
Kalsum et al (2012) menunjukkan bahwa teknik guided imagery dapat
menurunkan tingkat kecemasan pada klien dengan insomnia usia 20-25.
Setelah dilakukan teknik guided imagery diperoleh 81% subjek penelitian
mengalami mengalami penurunan tingkat kecemasan dan 19% subjek
penelitian tingkat kecemasannya tetap. Berdasarkan hasil uji statistik maka
teknik guided imagery dapat digunakan sebagai salah satu metode
alternatif untuk menurunkan tingkat kecemasan (Beebe & Wyatt, 2009).
Snyder & Lindquist (2002) mendefinisikan bimbingan imajinasi
sebagai intervensi pikiran dan tubuh manusia menggunakan kekuatan
imajinasi untuk mendapatkan affect fisik, emosional maupun spiritual.
Guided imagery dikategorikan dalam terapi mind-body medicine oleh
Bedford (2012) dengan mengombinasikan bimbingan imajinasi dengan
meditasi pikiran sebagai cross-modal adaptation. Imajinasi merupakan
representasi mental individu dalam tahap relakasasi. Imajinasi dapat
dilakukan dengan berbagai indra antata lain visual, auditor, olfaktori
maupun taktil. Bimbingan imajinasi merupakan teknik yang kuat untuk
dapat fokus dan berimajinasi yang juga merupakan proses terapeutik
(Bonadies, 2009).
Watanabe et al (2006) membuktikan hasil penelitiannya yang
menyebutkan bahwa bimbingan imajinasi meningkatkan mood positif dan
menurunkan mood negatif individu secara signifikan dan level kortisol

6
yang diukur menggunakan saliva test juga menunjukkan penurunan yang
signifikan.
2. Efek Guide Imagery Terhadap Respon Tubuh
Pembentukan imajinasi yang menyenangkan akan diterima oleh
berbagai alat indera kemudian rangsangan tersebut dijalankan ke batang
otak menuju sensor thalamus. Dikorteks cerebri rangsangan akan
dianalisis, dipahami dan disusun menjadi sesuatu yang nyata sehingga otak
mengenali objek dan arti kehadiran rangsangan tersebut.
Bayangan/imajinasi yang disukai dan menyenangkan dianggap
sebagai sinyal penting dan disimpan dimemori. Rangsangan yang disukai
memori akan dimunculkan kembali dianggap sebagai suatu persepsi dari
pengalaman sensori yang sebenarnya.
Pengalaman sensori tersebut dapat merilekskan pikiran dan
meregangkan otot-otot sehingga cemas yang dirasakan menjadi berkurang
(Prasetyo, 2010).
3. Prosedur Pemberian Guide Imagery
Pengaturan posisi yang nyaman pada klien. Dengan suara yang
lembut, klien dibawa menuju tempat spesial dalam imajinasi mereka (
seperti, membayangkan masa lalu mereka yang mengesankan). Mereka
dapat merasa aman dan bebas dari segala gangguan. Meminta klien untuk
tetap fokus pada bayangan yang menyenangkan sambil merileksasikan
tubuhnya. Menurut Asmadi (2008), teknik ini diberikan selama 15 menit.

B. Kecemasan
1. Pengertian
Yosep (2009) menyatakan bahwa kecemasan adalah reaksi emosi
(seperti: ketakutan, kekhwatiran, keprihatinan) terhadap sesuatu yang tidak
menyenangkan (seperti: ancaman, bahaya dan tuntutan dari luar yang bersifat
abstrak) yang akan terjadi di masa depan, dan berdampak pada mental, fisik
maupun kognitif dengan tingkatan atau intensitas yang berbeda. Sedangkan
Spielberger (2007) menggambarkan kecemasan sebagai state anxiety atau

7
trait anxiety. State anxiety adalah kecemasan yang terjadi pada diri seseorang
pada saat–saat tertentu saja, dengan kata lain kecemasan yang muncul pada
situasi–situasi tertentu saja dan bukan berdasarkan sifat bawaan. Sedangkan
trait anxiety adalah rasa cemas yang merupakan sifat–sifat pribadi individu
yang lebih menetap (sifat pembawaan) dan akan tampak pada berbagai
peristiwa atau situasi dimana individu yang bersangkutan merasa terancam.
Kecemasan yang terjadi bukan karena situasi atau keadaan tersebut melainkan
karena memang seorang itu mudah mengalami kecemasan karena faktor
bawaan atau faktor kepribadiannya.
2. Tanda dan Gejala Kecemasan
Menurut Stuart dan Sundeen (2007), keluhan yang disampaikan oleh
seseorang mengalami kecemasan diantaranya sebagai berikut : (1) Gejala
psikologis: perasaan cemas, firasat buruk, takut akan pikirannya sendiri,
mudah tersinggung, merasa tegang, gelisah, dan mudah terkejut. (2)
Gangguan pola tidur dan mimpi mimpi yang menegangkan. (3) Gangguan
konsentrasi dan daya ingat. (4) Gejala somatik : rasa sakit pada otot dan
tulang, jantung berdebar debar, sesak nafas, gangguan pencernaan, gangguan
perkemihan, tangan terasa dingin lembab, dan lain sebagainya.
3. Tingkat Kecemasan
a. Cemas ringan
b. Cemas sedang
c. Cemas berat
d. Panik
4. Respon Kecemasan
Pemikiran memodulasi fungsi biokimia dari organ utama.
Hipotalamus mengaktifkan cabang simpatis dan saraf otonom. Hipothalamus
menghantarkan impuls saraf ke nukleus-nukleus di batang otak yang
mengendalikan fungsi sistem saraf otonom. Cabang simpatis dari sistem saraf
otonom bereaksi langsung pada otot polos dan organ internal untuk
menghasilkan beberapa perubahan. Sistem simpatis juga menstimulasi
medulla adrenal untuk melepaskan hormon epinefrin (adrenalin) dan
nonepinefrin ke dalam pembuluh darah, sehingga berdampak meningkatkan

8
denyut jantung dan tekanan darah, dan nonepinefrin secara tidak langsung
melalui aksinya pada kelenjar hipofisis melepaskan gula dari hati. (Potter
Perry, 2010).
5. Instrumen Penilaian Kecemasan
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Hamilton
Rating Scale for Anxiety (HRS-A). Masing-masing nilai angka (skor) dari ke
14 kelompok gejala tersebut dijumlahkan dan dari hasil penjumlahan tersebut
dapat diketahui tingkat kecemasan seseorang.

9
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Kerangka Konsep
Kerangka konsep merupakan bagian penelitian yang menyajikan
konsep atau teori dalam bentuk kerangka konsep penelitian. Cara membuat
kerangka konsep ini adalah mengacu pada masalah-masalah (bagian-bagian)
yang akan diteliti kemudian penulisannya dapat dibuat dengan diagram
(Hidayat, 2007).
variable independen variable dependen

Guide imagery Kecemasan

keterangan :

= diteliti
Gambar 3.1
Kerangka Konsep

B. Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara atau dugaan jawaban terhadap
pertanyaan yang diajukan, yang pada hakikatnya merupakan kesimpulan dari
kerangka berpikir yang dikembangkan (Dantes, 2012).
Ha: ada pengaruh guide imagery terrhadap tingkat kecemasan pada pasien
hemodialisa di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus
H0: tidak ada pengaruh guide imagery terrhadap tingkat kecemasan pada
pasien hemodialisa di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus
C. Jenis dan Rancangan Penelitian
Metode penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimental desain
melalui pendekatan one group pre postest. Ciri dari tipe penelitian ini adalah
mengungkapkan sebab akibat dengan cara melibatkan satu kelompok subjek,

10
serta melakukan pengukuran sebelum dan sesudah pemberian perlakuan pada
subjek.
Perbedaan kedua hasil pengukuran tersebut di anggap sebagai efek
perlakuan. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah wawancara dan
observasi.
Variabel independen pada penelitian ini adalah teknik guide imagery.
Instrumen menggunakan konsentrasi dan daya ingat. Sedangkan variabel
dependen adalah tingkat kecemasan, intrumen penelitian dengan skala cemas
Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A).

D. Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan pada pasien hemodialisa di RSUD dr.
Loekmono Hadi Kudus. Adapun waktu penelitian pada bulan Juni– Juli 2017.

E. Populasi dan Sampel Penelitian


1. Populasi
Populasi merupakan keseluruhan dari unit di dalam pengamatan
yang peneliti lakukan (Sabri dan Hastono, 2006). Populasi dalam
penelitian ini adalah pasien hemodialisa di RSUD dr. Loekmono Hadi
Kudus yang mendapatkan jadwal HD pagi.
2. Sample
Sampel merupakan bagian dari populasi yang diambil dengan
cara-cara tertentu. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan
wawancara dan observasi. Peneliti mengambil 3 orang secara acak untuk
dijadikan sample penelitian.
Dalam penelitian ini, peneliti membatasi subyek penelitian dalam
kriteria-kriteria, yaitu :
a. Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi adalah kriteria dimana subyek penelitian
dapat mewakili dalam sampel penelitian (Hidayat, 2007), memenuhi
syarat sebagai berikut :

11
1. Pasien HD kontrol rutin >1 tahun
2. Pasien yang mendapatkan jadwal HD pagi
3. Pasien yang bersedia menjadi responden
b. Kriteria Eksklusi
Kriteria eksklusi adalah kriteia dimana subyek penelitian
tidak dapat mewakili sampel karena tidak memenuhi syarat sebagai
sampel penelitian (Hidayat, 2007), memenuhi syarat berikut :
1. Pasien yang tidak berangkat HD
2. Pasien yang kondisi lemah
F. Definisi Operasional, Variabel Penelitian, Skala Pengukuran
Definisi operasional merupakan definisi variabel-variabel yang
akan diteliti secara operasional untuk mengarahkan kepada pengukuran
atau pengamatan terhadap variabel-variabel yang akan diteliti (Riyanto,
2011).
1. Variabel penelitian
Variabel penelitian adalah ukuran atau ciri yang dimiliki oleh
anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh
kelompok lain.Variabel dalam penelitian ini adalah variabel bebas dan
variabel terikat.
a. Variabel bebas (independen variable)
Variabel bebas merupakan variabel yang menjadi sebab
perubahan atau timbulnya variabel terikat (dependen variable)
dinamakan variabel bebas artinya bebas dalam menghubungkan
variabel lain (Hidayat, 2007). Variabel bebas dalam penelitian ini
adalah guide imagery.
b. Variabel terikat
Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi
atau menjadi akibat karena variabel bebas (Hidayat, 2007).
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kecemasan

12
Tabel 3.1
Definisi Operasional
No. Variabel Definisi Alat dan Cara Ukur Hasil Ukur Skala
Operasional Ukur
1 Variabel guide imagey Pengaturan posisi
Independen : adalah teknik yang nyaman pada
guide imagey relaksasi yang klien. Dengan
digunakan untuk suara yang lembut,
mengurangi klien dibawa
perasaan stress, menuju tempat
kecemasan dan spesial dalam
nyeri dengan imajinasi mereka.
menggunakan (Asmadi, 2008)
imajinasi
seseorang dengan
tujuan pasien
menjadi lebih
tenang dan rileks.
2 Variabel kecemasan Kuesioner yang Jumlah skor yang
dependen : adalah reaksi berisi 14 diperoleh dinilai
tingkat emosi terhadap pernyataan dengan maksimum 56 dan
kecemasan sesuatu yang kategori jawaban : minimum 0. Skor
tidak 4 : sangat berat yang didapatkan
menyenangkan 3 : berat sebagai berikut :
yang akan terjadi 2 : sedang a. Tidak ada
di masa depan, 1 : ringan kecemasan : <6
dan berdampak 0: tidak sama seksli b. Kecemasan
pada mental, Kuesioner terdiri ringan : 6-14
fisik maupun dari pernyataan c. Kecemasan
kognitif dengan favourable sedang : 15-27
tingkatan atau d. Kecemasan
intensitas yang berat : 28-36
berbeda e. Panik : >36

13
G. Cara Pengumpulan Data

Tempat penelitian HD
RSUD Dr. Loekmono
Proses Hadi Kudus
Perizinan

Persetujuan
responden (informed
consent)

Pengambilan data:

1. Data primer
2. Data sekunder

Pembagian kuesioner
saat pasien pre dan
post Hemodialisa

Peneliti memberikan
informasi tentang cara
pengisian kuesioner

Pengumpulan Pengisian kuesioner


kuesioner ±10 menit

14
H. Analisa Data
1. Teknik pengolahan data
Menurut Notoatmodjo (2012), setelah data terkumpul lalu dilakukan
pengolahan data sebagai berikut :
Langkah-langkah pengolahan data adalah sebagai berikut :
a. Pengeditan (editing)
Pengeditan (editing) berfungsi untuk meneliti kembali apakah isian
dalam lembar kuesioner sudah lengkap. Editing dilakukan ditempat
pengumpulan data sehingga jika ada kekurangan data dapat segera
dilengkapi.
b. Pengkodean (coding)
Pengkodean (coding) adalah teknik yang dilakukan dengan
memberikan tanda pada masing-masing jawaban dengan kode
berupa angka. Untuk kuesioner tentang stres kerja untuk jawaban.
c. Memasukkan Data (entry data)
Memasukkan data (entry data) merupakan memasukkan kode-kode
berdasarkan kategori dengan menggunakan komputer. Jawaban-
jawaban responden yang sudah diberi kode kemudian dimasukkan
dan diolah dalam program komputer.
d. Tabulasi (tabulation)
Tabulasi (tabulation) adalah langkah memasukkan data-data hasil
penelitian kedalam tabel-tabel sesuai kriteria.
e. Cleaning
Langkah ini digunakan untuk menghancurkan data-data yang tidak
perlu
I. Etika Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian dengan design cross sectional
yang tidak dilakukan dengan perlakuan terhadap responden penelitian
sehingga tidak ada kemungkinan resiko yang dapat membahayakan atau
merugikan responden. Namun untuk memperhatikan etika profesional
dalam penelitian, maka yang harus dipertimbangkan adalah menyangkut

15
privasi responden yang meliputi hasil dan identitas yang diperoleh dari
responden akan dijaga kerahasiaannya (Riyanto, 2011). Dalam melakukan
penelitian perlu mendapat adanya rekomendasi dari institusi atau pihak
lain dengan permohonan ijin kepada institusi atau lembaga terkait tempat
penelitian. Setelah mendapatkan persetujuan barulah penelitian dengan
menekankan masalah etika yang meliputi (Nursalam, 2013) :
1. Prinsip Manfaat
a. Bebas dari penderitaan
Penelitian harus dilaksanakan tanpa mengakibatkan penderitaan
kepada subjek khususnya jika menggunakan tindakan khusus.
b. Bebas dari eksploitasi
Partisipasi subjek dalam penelitian, harus dihindarkan dari keadaan
yang tidak menguntungkan. Subjek harus diyakinkan bahwa
partisipasinya dalam penelitian atau informasi yang telah
diberikan, tidak akan dipergunakan dalam hal-hal yang dapat
merugikan subjek dalam bentuk apa pun.
c. Risiko (benefits retio)
Peneliti harus hati-hati mempertimbangkan risiko dan keuntungan
yang akan berakibat pada subjek pada setiap tindakan.
2. Prinsip menghargai hak asasi manusia (respect human dignity)
a. Hak untuk ikut/ tidak menjadi responden (righ to self
determination)
Subjek harus diperlakukan secara manusiawi. Subjek mempunyai
hak memutuskan apakah mereka bersedia menjadi subjek atau
tidak, tanpa adanya sanksi apa pun atau akan berakibat terhadap
kesembuhanya, jika mereka seorang klien.
b. Hak untuk mendapatkan jaminan dan perlakuan yang diberikan
(righ to full disclosure)
Seorang peneliti harus memberikan penjelasan secara rinci serta
bertanggung jawab jika ada sesuatu yang terjadi kepada subjek.

16
c. Informed consent
Subjek harus mendapatkan informasi secara lengkap tentang tujuan
penelitian yang akan dilaksanakan, mempunyai hak untuk bebas
berpartisipasi atau menolak menjadi responden. Pada informed
consent juga perlu dicantumkan bahwa data yang diperoleh hanya
akan dipergunakan untuk pengembangan ilmu.
3. Prinsip keadilan
a. Hak untuk mendapatkan pengobatan yang adil (right in fair
treatment)
Subjek harus diperlakukan secara adil baik sebelum, selama dan
sesudah keikutsertaanya dalam penelitian tanpa adanya
diskriminasi apabila ternyata mereka tidak bersedia atau dikelurkan
dalam penelitian.
b. Hak dijaga kerahasiaanya (right to privacy)
Subjek mempunyai hak untuk meminta bahwa data yang diberikan
harus dirahasiakan, untuk perlu adanya tanpa nama dan rahasia
(confidentiality).

17
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Karakteristik Responden
1. Karakteristik responden berdasarkan kelompok umur
Distribusi frekuensi responden berdasarkan kelompok umur dapat
dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.1
Karakteristik responden berdasarkan kelompok umur pasien Hemodialisa
di RSUD Dr. Loekmono Hadi Kudus
Juli 2017
n=3

Responden Umur (th) Kategori Frekuensi Persentase


(%)
EN 32 Dewasa 2 66,6
muda
R 33 Dewasa
muda
W 42 Dewasa tua 1 33,3
Total 3

Berdasarkan tabel 4.1 menunjukkan sebaran umur responden.


Kelompok umur dengan jumlah responden dewasa muda sebanyak 2
(66,6%) dan sebanyak 1 responden (33,3%) dengan kategori dewasa tua.
Ketiga responden merupakan usia dewasa muda dan dewasa tua
dimana responden EN adalah seorang perempuan berusia 32 tahun,
responden W adalah perempuan berusia 42 tahun dan responden R
merupakan perempuan berusia 33 tahun. Agama responden EN, M, dan I
sama yaitu Islam. Dengan umur yang berbeda-beda akan mempengaruhi
tingkat kecemasan yang dialami oleh setiap orang dengan orang lainnya,
hal ini dipengaruhi oleh kemampuan individu dalam menghadapi suatu
masalah dan mekanisme koping yang digunakan seseorang untuk

18
mengelola dan menyelesaikan suatu masalah yang dihadapinya.
Seseorang yang mempunyai umur lebih muda ternyata lebih mudah
mengalami kecemasan daripada seseorang yang lebih tua, tetapi ada juga
yang berpendapat sebaliknya (Varcoralis, 2000).
2. Karakteristik responden berdasarkan kelompok jenis kelamin
Distribusi frekuensi responden berdasarkan kelompok jenis
kelamin dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.2
Karakteristik responden berdasarkan kelompok jenis kelamin pasien
Hemodialisa di RSUD Dr. Loekmono Hadi Kudus
Juli 2017
n=3

Responden Jenis Frekuensi Persentase


Kelamin (%)
EN Perempuan 3 100
R Perempuan
W Perempuan
Total 3

Berdasarkan tabel 4.1 menunjukkan sebaran jenis kelamin


responden. Jumlah responden dengan jenis kelamin perempuan adalah 3
orang (100%).
Dari ketiga subjek semuanya adalah berjenis kelamin perempuan.
Menurut Kane, et al (2004), mengungkapkan bahwa perempuan lebih
mudah mengalami cemas dibandingkan dengan laki-laki, menurut dia
laki-laki bersifat lebih aktif, sedangkan perempuan memiliki sifat lebih
sensitif. Dari penelitian lain menjelaskan bahwa laki-laki lebih rileks
dibanding perempuan. Hasil data jenis kelamin ini berbanding terbalik
dengan teori yang mengatakan bahwa laki-laki lebih mudah terkena penyakit
dibandingkan dengan perempuan yang dipengaruhi pola kebiasaan yang
berbeda (Siswanto, 2007).

19
3. Karakteristik responden berdasarkan lama hemodialisa
Distribusi frekuensi responden berdasarkan lama hemodialisa dapat
dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.3
Karakteristik responden berdasarkan kelompok lama hemodialisa pasien
Hemodialisa di RSUD Dr. Loekmono Hadi Kudus
Juli 2017
n=3

Responden Lama Frekuensi Persentase


(%)
EN >1 tahun 3 100
R >1 tahun
W >1 tahun
Total 3

Berdasarkan tabel 4.1 menunjukkan kelompok lama menjalani


hemodialisa. Jumlah responden dengan lama menjalani hemodialisa
adalah 3 orang (100%).
Ketiga responden memiliki frekuensi hemodialisa kategori >1
tahun. Hal ini menegaskan bahwa pasien yang menjalani hemodialisa
adalah pasien yang sudah lama menjalani terapi tersebut. Hasil penelitian
ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sunardi (2001), tentang
lama menjalani terapi hemodialisa dengan tingkat kecemasan terkait
alat/unit dialisa pada pasien di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo
didapatkan hasil dari 30 responden, 60 % diantaranya pasien sudah lama
menjalani terapi hemodialisa. Seseorang yang menjalani Hemodialisa
berkepanjangan akan dihadapkan berbagai persoalan seperti masalah
keuangan, mempertahankan pekerjaan, dorongan seksual yang
menghilang serta impotensi, khawatir terhadap perkawinan dan ketakutan
terhadap kematian (Bare and Smeltzer, 2002). Terjadinya stress karena

20
stressor yang dirasakan dan dipersepsikan individu, merupakan suatu
ancaman yang dapat menimbulkan kecemasan.

4. Pengaruh Guided Imagery terhadap tingkat kecemasan


a. Pre
Tabel 4.4
Pengaruh sebelum diberikan Guided Imagery terhadap tingkat
kecemasan pasien Hemodialisa di RSUD Dr. Loekmono Hadi Kudus
Juli 2017
n=3

Kategori Frekuensi Persentase


(%)
Kecemasan 1 33,3
sedang
Kecemasan 2 66,6
ringan
Total 3 100

Berdasarkan tabel 4.4 menunjukkan bahwa sebanyak 2 orang


(66,6%) mengalami kecemasan tingkat ringan, sedangkan sebanyak 1
orang (33,3%) mengalami kecemasan tingkat sedang.
Dari ketiga responden tersebut didapatkan hasil bahwa 1
responden mengalami kecemasan sedang dan 2 responden mengalami
kecemasan ringan. Respon kecemasan yang dirasakan oleh responden
berbeda-beda. Menurut (Stuart and Sundeen 2007), Ansietas (kecemasan)
merupakan kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar, yang berkaitan
dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya terhadap penilaian
individu yang subjektif, serta tidak diketahui secara khusus penyebabnya.

21
b. Post
Tabel 4.5
Pengaruh setelah diberikan Guided Imagery terhadap tingkat
kecemasan pasien Hemodialisa di RSUD Dr. Loekmono Hadi Kudus
Juli 2017
n=3

Kategori Frekuensi Persentase


(%)
Kecemasan 0 0
berat
Kecemasan 0 0
sedang
Kecemasan 1 33,3
ringan
Tidak 2 66,6
cemas
Total 3 100

Berdasarkan tabel 4.5 menunjukkan bahwa sebanyak 2 orang


(66,6%) sudah tidak mengalami kecemasan, sedangkan sebanyak 1 orang
(33,3%) masih mengalami kecemasan tingkat ringan.
Setelah diberikan terapi guide imagey didapatkan hasil bahwa 2
responden tidak mengalami kecemasan dan 1 masih mengalami
kecemasan ringan.
Imajinasi terbimbing merupakan teknik yang menciptakan kesan
dalam pikiran responden, kemudian berkonsentrasi pada kesan tersebut
sehingga secara bertahap mampu menurunkan persepsi responden
terhadap cemas yang dirasakan (Prasetyo, 2010).
Tujuan dari guide imagery relaxation adalah mengalihkan
perhatian dari stimulus nyeri dan kecemasan kepada hal-hal yang
menyenangkan dan relaksasi (Ackerman and Turkoski, 2000). Selama
latihan relaksasi seseorang dipandu untuk rileks dengan situasi yang

22
tenang dan sunyi. Hal itu karena teknik imajinasi terbimbing dapat
mengaktivasi sistem saraf.
Prasetyo (2010), menambahkan Guide imagery merupakan teknik
relaksasi memberi efek pengaruh yang baik untuk jangka waktu yang
singkat, dapat menurunkan kecemasan, stress, dan nyeri dengan
mengalihkan perhatian individu. Guide imagery terbukti memberi
dampak yang baik yaitu mampu menurunkan frekuensi denyut jantung,
mengurangi kecemasan, dan stress, menurunkan nyeri dan menurunkan
tekanan darah. Dengan menciptakan suasana yang tenang dan sunyi
mampu meningkatkan konsentrasi individu untuk membentuk imajinasi
mengenai hal-hal yang disukai oleh setiap, menikmati desiran ombak di
pantai yang diiringi dengan lantunan musik yang lembut.
Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa pemberian
guide imagery dapat menurunkan tingkat kecemasan pasien hemodialisa.

23
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya, dapat
diambil beberapa simpulan diantaranya :
1. Sebanyak 2 responden tidak mengalami kecemasan dan 1 responden masih
mengalami kecemasan ringan setelah diberikan terapi guide imagery.
2. Terjadi perubahan tingkat kecemasan pasien yang menjalani hemodialisa
sebelum dan sesudah pemberian guide imagery.
3. Terdapat pengaruh guide imagery terhadap tingkat kecemasan pada pasien
hemodialisa di RSUD Dr. Loekmono Hadi Kudus.

B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian maka peneliti dapat memberikan saran bagi :
1. Responden
Diharapkan pasien dapat mempraktekkan teknik guide imagery secara
mandiri untuk menurunkan cemas yang dirasakan.
2. Manajemen Rumah Sakit
Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan rumah sakit terutama perawat
hemodialisa mau memberikan dan membimbing pasien untuk melakukan
teknik guide imagery supaya pasien hemodialisa lebih tenang dan tidak
mengalami cemas. Selain itu, manajemen diharapkan dapat menambah
perawat diruang hemodialisa.
3. Peneliti Selanjutnya
Diharapkan peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian ini dengan
menggunakan variabel lain yang berkaitan dengan pasien hemodialisa
maupun guide imagery.

24