Anda di halaman 1dari 20

KEUTAMAAN SHALAT BERJAMAAH

I.

َ

ِالله لوُسَر ن أ َرَمُع نبْ ِللَّها ِدْبَع نَع

َ

ه

ْ

ِ

ُ

َ

ةلاَص

َ

لا

ق

ْ

عْبَسِب

ِ ذ َ ف لا

ٍ

ه

َم لَسَو

َ

ِهْي لَع ُالله

ه

ى لَص

ْ

ةلاَص ُ ل ُ ض ْ ف ت ِةَعاَمَج لا

َ

َ

يراخبلا

هاور(

ً

َ

ةَجَر د

َ

ْ

ني شِعَو

ر

 

ِ

يئاشنلاو

يذمرتلاو

ملسمو

)دمحأو ةجام نباو

Artinya:

Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda: Shalat berjamaah melebihi shalat sendirian dua puluh tujuh derajat.

Derajat Hadits:

Hadits ini shahih, karena memenuhi syarat-syarat hadits shahih, yaitu sanadnya menyambung dan adil. Sanad hadits ini adalah Imam Bukhari, Abdullah bin Yusuf, Malik, Nafi’dari Abdullah bin Umar. Juga karena diriwayatkan oleh banyak ahli Hadits yaitu Imam Bukhari, Imam Muslim, Tirmidzi, Nasa’I, Ibnu Majjah, Ahmad.

Biografi Singkat Sanad Ibnu Umar:

Ibnu Umar adalah Abdullah bin Umar bin Khattab bin Nufail al-Qurasyi al-Adawi, beliau termasuk Ulama’ di kalangan para Sahabat dan ahli Fiqih. Beliau hijrah bersama ayahnya ke Madinah. Pada Perang Uhud, beliau masih kecil, dan pada perang berikutnya yaitu perang Khandaq beliau mendapatkan kesempatan untuk ikut serta dalam peperangan tersebut. Beliau sekandung dengan Hafshah isteri Rasulullah. Beliau lahir pada tahun ke 3 setelah kenabian dan wafat pada tahun 74 H. Beliau banyak meriwayatkan hadits.

Shalat adalah rukun Islam kedua setelah Syahadat, ia menjadi ibadah yang sangat penting dalam Islam. Barang siapa yang menentangnya, maka ia akan kafir. Shalatlah yang membedakan antara orang islam dengan orang kafir. Shalat adalah ibadah yang pertama kali dihisab pada hari Kiamat. Sebagaimana sabda Rasulullah:

لا َ ق َهنع الله يضر ةريره يبأ نع

َ

َ

ِهْي لَع ُللَّها

ُبَساَحيُ امَ

ه

ى لَص ِللَّها

َ

لهو أ

َ

ه

ن إ

ِ

لوُسَر ُ تْعِمَس

َ

ُ

لو قيَ َم لَسَو

ُ

ه

ْ نِم

ْ

ِةمَاَيِق لا

َمْويَ

ْ

دْبَع لا

ُ

ِهِب

َ

َح ل ْ ف أ

َ

ُ

د ق َ ف ْ تَح لَص ن إ َ ف هُُ ت لاَص ِهِلَمَع

ْ

َ

ْ

ِ

َ

َرِس َ خَو َبا َ خ

َ

د َ ق َ ف ت دَس َ ف ن ِ إَو َحَج أَو

ْ

ْ

َ

ْ

ْ

ن

لا َ ق ءٌ ْي ش ِهِت ضي ر َ ف نِم َص ت

َ

َ

َ

ِ

َ

َ

ْ

ْ

ق نا

ْ

ن إ َ ف

ِ

يِدْبَعلِ ْ لهَ اوُر نا ه لَجَو ه زَع ُّبهرلا

ُ

ْ

ظ

َص َ َ ت ْ

ق نا امَ اهَِب َ لهم َ كُي َ ف عُّو ت نِم

َ ط َ

ْ

ٍ

ُرِئاَس

نو ُ كيَ

ُ

Artinya:

ُ هم ث
ُ
هم ث

ْ

ِة ضي ر َ ف لا

َ

ِ

َ

َ

ْ

نِم

َ كلِ ذ ى ل َ ع ِهِلَمَع

Diriwayatkan dari Abu Hurairahra., berkata: Saya pernah mendengar Rasululullah bersabda: “Sesungguhnya yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat dari amalnya dalah shalatnya. Jika shalatnya baik, ia beruntung dan sukses. Dan jika rusak, maka akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, maka Allah akan berkata: “lihatlah apakah hambaku memiliki shalat sunnah, supaya bias dipakai untuk menyempurnakan kekurangannya pada shalat wajibnya, kemudian setelah, yang akan dihisab adalah amal perbuatan yang lainnya.” (HR. Tirmidzi, Nasa’I, IbnuMajahdan Ahmad).

Karena urgennya shalat dalam ajaran Islam, maka harus dilakukan dengan cara yang berkualitas. Dan shalat yang berkualitas adalah apabila dilakukan secara berjamaah. Karena shalat yang dilakukan secara berjamaah lebih baik dari shalat yang dilakukan sendirian, dengan selisih dua puluh tujuh derajat sebagaimana disebutkan dalam hadits.

Keutamaan ini adalah hadiah dari Allah yang harus segera kita raih. Dan seorang muslim memiliki sifat “fastabikul Khairat” berlomba-lomba meraih kebaikan, maka kesempatan seperti ini tidak boleh terlewatkan begitu saja dari seorang muslim. Sifat “Sur’atul Ijabah” atau respon sibilitas juga memiliki pengaruh yang besar dalam membina seorang muslim untuk meraih segala keutamaan yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya.

Ada hadits lain yang menyatakan bahwa selisih antara yang shalat yang dilakukan dengan berjamaah dengan sendirian adalah dua puluh lima derajat. Imam Tirmidzi mengatakan bahwa pada umumnya riwayat hadits yang berkaitan

dengan masalah ini adalah menggunakan kalimat dua puluh lima derajat. Namun riwayat “dua puluh lima” tidak sekuat riwayat “dua puluh tujuh”, hanya saja riwayat “dua puluh lima” lebih banyak, dan riwayat “dua puluh tujuh” lebih kuat. Ada yang mengatakan bahwa “dua puluh lima” dinasakh oleh riwayat “dua puluh tujuh”.Juga ada yang berpendapat bahwa “dua puluh lima” derajat adalah batas minimal dan dapat bertambah hingga “dua puluh tujuh” karena karunia Allah tidak berkurang tetapi senantiasa bertambah.

Kesimpulan:

1. Hadits di atas menunjukan adanya perbedaan antara pahala orang yang mengerjakan shalat berjamaah dengan yang sendirian. Ini menunjukkan, kedua perbuatan tersebut dibenarkan, sehingga jika ada orang yang mengerjakan shalat sendirian maka hokum sah. Inilah yang menjadi dalil bahwa shalat berjamaah hukumnya sunnah Muakkadah atau fardhu Kifayah. 2. Hendaknya seorang muslim senantiasa mengerjakan shalat dengan berjamaah, karena pahala yang disediakan Allah sangat besar.

Makna Pahala Jamaah 27 Derajat

Kami belum mengerti secara penuh terkait keutamaan salat berjamaah 27 derajat. Apa sebenarnya maksud dari hadis tersebut? Falahuddin, Rungkut Sby.

Jawaban:

Rasulullah Saw sangat menganjurkan salat berjamaah diantaranya melalui sabdanya bahwa berjamaah lebih utama dari pada salat sendiri dengan keutamaan 27 derajat, dalam riwayat lain 25 derajat, kedua hadis tersebut sahih. Maksud hadis tersebut adalah:

داَرُم لا

ُ

ْ

ً

) ةَجَر د

َ

ْ

َ نيْ شِعَو

ر

ِ

عْبَسِب(

ٍ

ُ

ة َ لاَص

نو ُ ك َ ت َ

ُ

ف

ُ

ة َ لاهصلا

ه

ِةَجَر دلاِب

َ

ْ

ني شِعَو

ر

ِ

عْبَس

ٍ

)248 / 1

َ

ْ

ِةبَا ثَمِب ِةَعاَمَج لا

يذوحلأا ةفحت(

ً َ

ة

لاَص

"Yang dimaksud 'derajat' adalah salat. Maka salat berjamaah sama pahalanya dengan 27 kali salat (tanpa berjamaah)" (al-Mubarakfuri, Tuhfat al-Ahwadzi Syarah Sunan Turmudzi I/248).

Sering pula ditanyakan mengapa 25 atau 27 derajat, bukan 100 derajat misalnya. Ibnu Baththal menjawab:

II.

؟

ه

ِتاَجَر دلا

ِف َ لاِت ْ خا

ى َ نْعمَ

امَ

ُ كَر ت َ لا َ لِئا َ ض َ ف لا

ْ

د

ُ

ْ

َ

ن أ ُباَوَج لا َ ف

ه

ْ

ْ

ه

ِفْيِقْو ه تلاِب ُ كَر ت اَم إَو ِى أهرلاِب

ْ

د

ُ

ن

ِ

لاطب نبلا ىراخبلا حيحص حرش(

)276 / 2

"Apa makna perbedaan derajat tersebut? Jawabnya bahwa fadilah (keutamaan) tidaklah dapat diperoleh secara rasional, tetapi hanya dengan ajaran dari agama" (Syarah Sahih al-Bukhari II/276)

Keutamaan Shalat Berjamaah 25 Derajat

َ َ َ ةَبْي ش يِب َ أ ُ نبْ ر كبَ وبُ ْ َ ِ
َ
َ
َ
ةَبْي ش يِب
َ
أ
ُ نبْ
ر
كبَ وبُ
ْ
َ
ِ
أ
ا ن ث
َ
دَح
ه
َ
َ
ْ نَع رَمْعمَ نَع ى
ْ
لْع لأا
ْ
دْبَع
ُ
ا ث
ن دَح
َ
َ
ه
ٍ
ْ
ُّ
ِبهيَسُم لا نبْ ِديِعَس نَع ي رهْ زلا
ْ
ِ
ِ
ِ
ه
َ
ى
لَص يِب
نلا
ه
ِ
نَع
ْ
ةَريَْرهُ
َ
يِب
أ
نَع
ْ
َ
َ
ه
َ
لا ق َ م
لَسَو ِ هْي
لَع
ُ للَّها
َ
َ
ْ
َ
ِ لاَص ى
ة
لَع
عيِمَج
لا
يِف
ٌ
ة
لاَص ُ ل ُ ض ْ ف ت
َ
ِ
ً
ةَجَر د ني ر شِعَو اًسْم
َ
َ
ْ
خ
َ
هُ
دْحَو
َ
ِ
لُجهرلا
ِ

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abdul A’la dari Ma’mar dari Az-Zuhri dari Sa’id bin Musayyab dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

“Shalat secara berjamaah lebih utama dua puluh lima derajat dari pada shalat secara individual, (HR. Muslim no. 1035, Bukhari no. 457, Ahmad no. 9769) ensiklopedia Kitab Hadist 9 Imam.

Keutamaan Shalat Berjamaah 27 Derajat

ُ نبْ دهمَحمَُو ٍبْرَح ُ نبْ ُرْيهَُ ز يِن ث دَحو

ُ

َ

ه

ْ نَع

ىَيْحيَ

َ

ا ث

َ

ن دَح

ه

َ

ْ نَع ٌعِفا ن يِنَرَب خ أ

َ

ْ

َ

لاا ق

َ

َ

ى ثُم لا

ن

ه

ْ

لا َ ق ِللَّها ِدْيَبُع

َ

َ رَمُع نبْا

ِ

َم لَسَو ِهْي لَع ُللَّها ى لَص يِب ه نلا

َ

ه

ه

ِ

ْ

ِةَعاَمَج لا

يِف

ِ لُجهرلا

ُ لاَص

ة

َ

ْ

نَع

َ

لا ق

َ

اًعْبَس

هَُ دْحَو

َ

ِهِت لاَص

َ

ى لَع

َ

دي ت

ز

ُ

ِ

َ

ْ

ني ش ِ عَو

ر

ِ

Dan

telah

menceritakan

kepadaku Zuhair

bin

Har dan Muhammad bin

Al

Mutsanna,

katanya;

kami Yahya dari ‘Ubaidullah katanya;

telah

menceritakan kepada

telah

mengabarkan kepadaku Nafi’ dari

Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Shalatnya seseorang dengan berjama’ah melebihi shalatnya yang dikerjakan secara sendiri sebanyak dua puluh tujuh derajat.” (HR. Muslim no.1039, Ahmad no.4441, Nasa’I no.828)

لاق

فسوي

نبا

اللهدبع

انثدح

اللهدبع نع عفان نع كلام انربخا

الله

ىلص

الله

لوسر

نأ

:رمع

نب

ةعامجلا ةلاص :لاق ملسو هيلع

نيرشعو عبسب ذفلا ةلاص لضفت

.ةجرد

Menceritakan kepada kami Abdullah Bin Yusuf berkata mengabarkan kepada kami Malik dari Nafi’ dari Abdullah Bin Umar, sesungguhnya Rasulullah Saw

berkata: “ Shalat Berjama’ah Lebih Utama Shalat Sendiri sebanyak 27 derajat”. (

H.R Bukhari)

تأرق لاق يحي نب يحي انثدح

رمع نبا نع عفان نع كلام ىلع

ملسو

هيلع

الله

ىلص

لوسر

نأ

نم

لضفأ

ةعامجلا

ةلاص

:لاق

.ةجرد نيرشعو عبسب ذفلا ةلاص

Menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya berkata saya membaca atas Malik

dari Nafi’ dari Ibnu Umar sesungguhnya Rasulullah Saw Berkata: “shalat

berjama’ah lebih utama dari pada shalat sendiri sebanyak 27 derajat”. ( H.R Muslim).

نع

كلام

نع

الله لوسر

نأرمع

ةبيتق

انربخأ

نبا

نع

عفان

ةلاص

:لاق

ملسو

هيلع

الله

ىلص

ذفلا ةلاص ىلع لضفت ةعامجلا

.ةجرد نيرشعو عبسب

Mengabarkan kepada kami Qutaibah dari Malik dari Nafi’ dari Ibn Umar sesungguhnya Rasulullah Saw berkata: “ shalat berjama’ah lebih utama diatas shalat sendiri sebanyak 27 derajat”. ( H.R An-Nasa’i)

،كلام

،نمحرلادبع ىلع

تأرق

نأ رمع نبا اللهدبع نع عفان نع

:لاق ملسو هيلع الله ىلص الله لوسر

ةلاص

ىلع

لضفت ةعامجلا

ةلاص

.ةجرد نيرشعو عبسب ذفلا

Saya membaca dari Abd Rahman, Malik dari Nafi’ dari Abdullah Ibn Umar sesungguhnya Rasulullah Saw berkata: “shalat berjama’ah lebih utama diatas shalat sendiri sebanyak 27 derajat”. ( H.R Ahmad Bin Hanbal)

عفان نع كلام نع يحي انثدح

الله لوسر نأ رمع نبا اللهدبع نع

ةلاص

:لاق

ملسو

هيلع

الله

ىلص

عبسب ذفلا ةلاص لضفت ةعامجلا

.ةجرد نيرشعو

Menceritakan kepada kami Yahya dari Malik dari Nafi’ dari Abdullah Ibn Umar sesungguhnya Rasulullah Saw Berkata: “shalat berjama’ah lebih utama shalat sendiri sebanyak 27 derajat”.

 

( H.R Malik)

D.

Kritik Sanad :

Hadits yang terkait dengan masalah tersebut terdapat 5 riwayat dari 5 mukharrij, yaitu: Bukhari,Muslim,An-Nasa’I,Malik, dan Ahmad bin Hanbal. Pada gambar tersebut tercantum jalur-alur seluruh sanad Nama-nama periwayat.yang menghubungkan antara periwayat yang satu dengan periwayat lain yang terdekat atau metode periwayatan yang di gunakan oleh masing-masing periwayat. Dalam pada itu, tampak hanya ada seorang sahabat yang berfungsi sebagai periwayat tingkat pertama hadits tersebut, Abdullah Ibnu Umar pada tingkat kedua terdapat satu orang periwayat

yaitu, Nafi’. Pada tingkat ketiga juga terdapat satu orang periwayat yaitu, Malik.

Pada tingkat keempat barulah berbilang, itu berarti bahwa dalam hadits yang di teliti tidak di temukan periwayat yang berstatus pendukung. Lambang periwayatan yang digunakan oleh masing-masing periwayat dalam beberapa

sanad tersebut meliputi haddasana, akhbarana, qara’tu, ‘an, anna dan qalat.

Biografi Periwayat

  • 1. Abdullah ibn Umar nama lengkapnya Abdullah bin Umar bin al-khattab

bin Nufayl al-Quraysi al-Adawy, Abu Abdurrahman Makkiy (10 S.H 73 H ). Ibn Umar, Selain banyak meriwayatkan hadis dari Nabi secara langsung, dia juga

menerima hadis dari al-Khaulafa’ al-Rasyidun dan Hafsah (saudaranya). Riwayat Ibn Umar diterima oleh muridnya antara lain Sa’id bin al-musayyab, putra- putranya, yakni Bilal, Hamzah, Zayd, dan Salim serta Nafi’.

Pernyataan Rasulullah, Sahabat, dan para ahli rijal al-hadits tentang Ibn

Umar:

  • 1. Hafsah (w. 45 H): rasulullah saw bersabda “Abd. Allah adalah seorang yang shalih”.

  • 2. Abd. Allah bin Mas’ud (w. 32 H): diantara pemuda Quraisy yang tekun

memelihara diri dari masalah keduniaan adalah Abd. Allah bin Umar.

  • 3. Jabir bin Abd. Allah: Ibn Umar adalah satu-satunya diantara kami yang tidak terlena dengan kemewahan, sekalipun hal itu sangat memungkinkan bagi dirinya.

  • 4. Al-Zuhriy (50-124 H): Tidak ada seorang pun yang berpikiran cemerlang melebihi Ibn Umar. Dia tidak pernah lalai dari perintah Rasulullah saw dan sahabatnya.

  • 5. Ibn Sa’ad dari al-Sya’biy: Ibn Umar lebih ahli di bidang hadis dari pada di bidang fiqih

Pada saat masih usia belia Ibn Umar bersama ayahnya, Umar bin al- Khattab memeluk Islam. Juga bersama ayahnya berhijrah ke Madinah. Ibn Umar dikenal sebagai salah seorang sahabat Nabi yang sangat patuh dalam menjalankan sunnah Nabi. Dia selalu mengikuti hal-hal yang dilakukan oleh Nabi baik masalah-masalah kecil maupun besar. Dalam periwayatan Nabi, hadits Ibn Umar termasuk dari kelompok al- muksirun fii al-hadits. Dia menempati peringkat kedua setelah Abu Hurairah. Tidak seorang pun yang menjarh (mencela) Abd. Allah bin Umar. Melihat hubungan pribadinya dengan Nabi yang akrab dan dedikasinya yang tinggi dalam membela Islam sebagai agama yang diyakininya sejak kecil, maka Ibn Umar adalah sahabat Nabi yang tidak diragukan kejujuran dan keshahihannya dalam menyampaikan hadits Nabi. Tidak terkecuali hadits yang diteliti ini diterima oleh Ibn Umar dari Nabi. Itu berarti bahwa antara Nabi Muhammad saw dan Abd. Allah bin Umar telah terjadi persambungan periwayatan hadits.

2.

Nafi’ nama lengkapnya, Nafi’ al-faqih, Maula ibn Umar bin al-Khattab al-

Quraisyiy al-Adawiy, Abu Abd. Allah al-Madaniy (w. 177 H). dia adalah murid

dari Ibn Umar (Maulahu; majikannya) dan guru dari Malik bin an-Nas. Para kritikus hadits seperti Ibn Sa’ad, al-Ijliy dan an-Nasa’iy menilai Nafi’ bersifat tsiqat. Malik menyatakan bahwa jika saya telah mendengar dari Nafi’ melalui jalur Ibn Umar, maka saya tidak berusaha (lagi) untuk mendengar dari yang lainnya. Al-Bukhari menegaskan bahwa asahh al-asanid adalah Malik dri Nafi’ yang bersumber dari Ibn Umar.

Tidak ada seorang kritikus pun yang melontarkan celaan terhadap pribadi

Nafi’. Itu berimplikasi bahwa dia termasuk periwayat hadits yang disepakati ke

tsiqahannya. Meski pun lambang periwayatan yang digunakannya adalah huruf ‘an (hadits mu’an‘an), tetapi karena yang bersangkutan adalah seorang tsiqot

tanpa syarat, maka pernyataan Nafi’ yang mengatakan bahwa dia menerima hadits

tersebut dari Ibn Umar, tidak diragukan kebenarannya. Dengan begitu, sanad

antara Nafi’ dan Ibn Umar bersambung.

  • 3. Malik. Nama lengkapnya, Malik bin An-Nas bin Malik bin Amir bin Abi

Amir bin al-Harits bin Usman bin Khusayl bin Amr bin al-Harits al-Ashabiy al-

Himyariy Abu Abd. Allah al-Madaniy (92-179 H). Guru MAlik termasuk banyak , antara lain al-Zuhriy , Hisyam Bin Urwah, Nafi’Maula Ibnu Umar,dan Yazid Bin Abdullah Al-Had. Muridnya juga banyak, antara lain Abu Mus’ab Al-Zuhriy, Abdullah Bin Wahab, Yahya Bin Yahya An- Naisaburiy, Yahya Bin Yahya Al-Andalusiy, dan Al-Qa’nabiy. Malik adalah periwayat sekaligus Mukhorrij al-hadis yang diandalkan keadilan dan kedhabitannya. Terbukti dari pernyataan para ahli kritik hadis tentang dirinya :

  • 1. Al-Syafi’iy : Malik adalah hujjat Allah pasca masa tabi’in.

  • 2. Ibn Ma’in : Malik itu Tsiqat.

  • 3. An-Nasa’iy menurut saya, tidak ada orang pintar pasca masa tabi’in melebihi Malik.

  • 4. Ibn Hibban : Malik itu orang yang paling pertama berhati-hati terhadap para periwayat hadis di Madinah. Dia meninggalkan hadis kecuali yang diriwayatkan

oleh yang tsiqat dan tidak meriwayatkan kecuali hadis shahih. Dia pulalah yang menempa Al-Syafi’i.

  • 5. Ibnu Mahdiy : Saya tidak melihat orang yang sempurna akalnya, melebihi Malik.

  • 6. Abu Hanifah (w.150 H) : Saya tidak melihat orang yang lebih tahu sunnah Rasulullah SAW dari pada Malik. Dari informasi tersebut menunjukkan bahwa Malik Bin Anas adalah profil ulama yang disenangi oleh berbagai pihak.Pujian yang diberikan oleh para kritikius hadis kepadanya membuktikan bahwa Malik memiliki integritas pribadi dan kapasitas intelektul ( Kesiqatan ) yang tinggi. Dengan demikian, pernyataanya

yang mengatakan bahwa dia telah menerima riwayat hadis di atas dari Nafi’ dengan lambang ‘an dapat dipercaya. Itu berartibahwa sanad antara Malik dan Nafi’ benar-benar bersambung.

  • 4. Abdullah Bin Yusuf Kalangan tabi’ul atba’ kalangan tua. Kuniyah abu

Muhammad. Negeri hidup maru. W. 218 H. komentar ulama terhadap rawi: Asz- Sahabi: Hafidz. Al-‘Ajli: tsiqoh. Ibnu Hajar: tsiqah. Ibnu Hibban: disebutkan dalam at-tsiqat.

  • 5. Qutaybah Bin Sa’id. Nama lengkapnya adalah Qutaybah Bin Sa’id Bin

Jamil Bin Tarif Bin Abdullah AL-Saqafiy,Maulahum Abu Raja’ Al-Balkhiy Al- Baglaniy (148-240 H). dia menerima hadits dari al-Lays bin Sa’ad dan Abd. Wahid, sedangkan murid yang meriwayatkan haditsnya antara lain al-jama’at, Ahmad Ibn Hambal dan Abu Hatim.

Ibn Ma’in, Abu Hatim al-Nasa’iy, dan Ibn Hibban menta’dilkan Qutaybah dengan predikat siqat. Al-Hakim dan Maslamah bin Qasim menayatkan bahwa dia adalah orang khurasan yang siqat ma’mun. Ibn al-Qattan al-fasiy menegaskan bahwa Qutaybah tidak dikenal melakukan tadlis.

  • 6. Abd. Bin Umar. Kalangan sahabat. Kuniyah: Abu abd. Rahman. Negeri

hidup: madinah. Wafat 73 H. komentar Ulama: adz-Zahabi: sahabat. Ibn Hajar al

askalani: Sahabat.

7.

Yahya bin Yahya. Kalangan tabi’ul atba’ kalangan tua. Kuniyah: Abu

Zakariya. Negeri hidup: Himsh. Wafat 226 H. komentar Ulama: adz-Zahabi:

tsabat. Ahmad bin Hambal: Tsiqah. An-Nasai: tsiqah tsabat. Ibn Hajar al askalani:

tsiqah tsabat. Ibnu Hibban: disebutkan dalam ats tsiqat.

  • 8. Abd. Rahman. Kalangan tabi’ut tabi’in kalangan biasa. Kuniyah abu

SAid. Negeri hidup Basra. W. 198 H. komentar ulama terhadap rawi: Abu HAtim:

tsiqah Imam adz-zahabi: Hafidz. Ahmad bin Hambal: hafidz. Ibnu Hajar al askalani: tsiqah tsabat hafiz. Ibnu Hibban: disebutkan dalam at-tsiqat. Ibn Sa’d:

Tsiqah. Ibnul madini: a’almun naas.

Tidak ditemukan kritikus hadits yang memberi penilaian negatif terhadap Qutaybah. Dengan begitu, kualitas pribadi dan kapasitas intelektualnya tidak diragukan lagi. Jadi, pernyataan Qutaybah bahwa dia menerima hadits di atas dari al-Lays dengan lambang sana, dipercaya sekaligus diyakini bahwa sanad antara keduanya bersambung.

  • E. Kritik Matan Mencermati susunan matan hadits tersebut, tampak dari 8 riwayat yang ada ditemukan dua perbedaan lafal, tetapi perbedaan itu tidak menonjol. Yakni ada riwayat, bahkan itulah yang terbanyak menyebutkan lafal ىلا pada pertengahan matan, dan ada riwayat yang menyebutkan نم pada pertengahan matan. Dalam hal pertama dan kedua, walaupun terdapat perbedaan lafal, namun maknanya searah. Oleh karena ziyadat tersebut berasal dari periwayat yang siqat dan isinya tidak bertentangan dengan yang dikemukakan oleh banyak periwayat yang siqat juga, maka penulis bersikap menerimanya.

  • F. Asbabul Wurud

Diriwayatkan dalam “Al-Kabir” dari Mahjan bin Al Adra’ bahwa ia telah berkata : “ Setelah aku selesai melakukan shalat Zhuhur atau AShar di rumahku, aku mendatangi Rasulullah dan aku duduk disisinya. Tidak lama, terdengarlah iqamat shalat maka Rasulullah pun shalat dan aku tidak. Setelah selesai, beliau

bertanya: apakah kau Muslim?”. Jawabku: “Ya”. Ujar beliau: “Mengagpa tidak shalat?” kataku: “Sudah”. Kemudian Rasulullah bersabda seperti bunyi Hadits di atas.

Keterangan:

Hadits ini menunjukkan keutamaan shalat berjamaah melebihi shalat sendirian sebnayak 27 derajat. Shalat untuk kedua kalianya secara berjamaah lebih

afdhal (jika pada shalat yang pertama belum berjamaah).

  • G. Pendapat Para Ulama Menurut Jumhur Ulama’, sholat berjama’ah hukumnya sunnah muakkad, sedangkan menurut Imam Ahmad Bin Hanbal, sholat berjama’ah hukumnya wajib. Rosulullah SAW selama hidupnya sebagai Rosul belum pernah meninggalkan sholat berjama’ah di masjid meskipun beliau dalam keadaan sakit. Rosululah SAW pernah memperingatkan dengan keras keharusan sholat berjama’ah di masjid, sebagai mana diuraikan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori Muslim berikut :

ه

نأ تممهد ل ِهِدَيِب ىِس ْ ف ن ىِذ لاَو

َ

ق

َ

َ

َ اِب َرمُ ا
َ
اِب َرمُ ا

ُ

هم ث ُبِط َ تْحَي َ ف ٍب ْ طَحِب َرمُ َ ا

ً لاُجَر َرمُ َ ا

هم ث اهَ ل نِ ذ َ ؤُي َ ف ِة َ لاهصل

َ

ُ

َ

َ

ُ

َ

ى لِا َفلِا خ ا

ُ

هم ث ,َسا ه نلا هم ُ ؤَي َ ف

ُ

َ ق رْح أ َ ف ة َ لاهصلا نو دهَْ شيََ لا لاُجَر

ِ

َ

َ

ُ

ٍ

هيلع قفتم

ْمهُ توُيبُ م هْي

َ

ِ

َ

لَع

“Demi jiwaku yang berada dalam kekuasaan-Nya, sungguh aku bertekad menyuruh mengumpulkan kayu bakar, kemudian aku suruh seorang adzan untuk

sholat dan seseorang untuk mengimami manusia, kemudian aku pergi kepada orang-orang yang tidak ikut sholat, kemudian aku bakar rumah mereka” Pada suatu saat Rosulullah didatangi oleh salah satu sahabat yang dicintainya, yaitu Abdullah Bin Umi Maktum. Ia berkata kepada Rosulullah bahwa dirinya buta dan tidak ada yang menuntunnya ke masjid sehingga ia memohon kepada Nabi untuk memberinya keringanan untuk tidak melaksanakan sholat berjama’ah di masjid. Selanjutnya Rosulullah bertanya kepadanya:

لا َ ق ؟ ِة َ لاهصلاِب ءَا د نلا ُعَمْس ت ْ لهَ

َ

َ

َ

َ

ْ بِج أ َ ف : لا ق .ْمَع

َ

َ

َ

ن..

Begitulah seruan Rosulullah kepada umatnya agar senantiasa menunaikan

sholat berjama’ah di masjid sekalipun kepada sahabatnya yang tidak bisa melihat

alias buta. Bagaimana dengan kita umatnya, yang diberikan kenikmatan yang sempurna. Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

ْ

ه لاِا دِجْسَم لا َراَج

َ

نَملِ ة َ لاَص َ لا

ْ

َ

ْ

ىِف ه لاِا ةيَاَو ِ ر ىِفَو ةَعاَمَج لاِب

دمحا هاور

ْ

دِجْسَم لا

“Tidak sempurna sholat seseorang yang bertetangga dengan masjid kecuali

dengan berjama’ah. Dalam suatu riwayat, kecuali di masjid”. Banyak keutamaan dan manfa’at yang bisa diperoleh ketika seseorang

menunaikan sholat berjama’ah. Ada keutamaan yang diperoleh di dunia dan juga

ada keutamaan atau manfaat yang bisa diperoleh nanti di akhirat. Diantara keutamaan atau manfaat dari sholat berjamaah yaitu Allah akan melipatgandakan

pahala sholat berjama’ah sampai dua puluh tujuh derajat.

م

لسو هيلع الله ى

لص الله لوسر لاق

ْ

ِة َ لاَص َ نِم ُ ل َ ض ْ ف ا ةَعاَمَج لا ة َ لاَص :

َ

ةَجَر د َ نيْ شِعَو عْبَسِب د ِ

َ

ر

ِ

ٍ

َ

ْ

فلا

هيلع قفتم

“Sholat berjama’ah itu lebih utama dari sholat sendiri dengan dilipatkan sampai dua puluh tujuh derajat”

Dalam hadits ini dikatakan keutamaan shalat dengan berjamaah adalah 27 kali lebih utama daripada shalat sendirian, sedangkan hadits lain menyatakan 25 kali lebih utama. Banyak ulama memperbincangkan masalah ini dengan panjang lebar, yang sepertinya bertentangan. Seperti banyak tertulis didalam beberapa hadits. Berikut ini adalah beberapa penjelasan dari pendapat mengenai perbedaan tersebut : perbedaan antara 25 dan 27 derajat adalah karena perbedaan tingkat keikhlasan dalam diri seseorang. Dalam shalat sirri ( Zhuhur dan ashar) adalah 25 derajat, dan pada shalat jihri (Shubuh, Maghrib dan Isya) adalah 27 derajat, karena shalat Shubuh, Maghrib dan Isya terasa lebih berat. Pada shalat Shubuh dan Isya karena pengorbanannya sedikit lebih berat untuk pergi berjamaah akibat dingin dan gelap, maka pahalanya 27 derajat dibandingkan dengan shalat fardhu lainnya yang 25 derajat. Sebagian ahli tafsir menulis bahwa ini merupakan ganjaran Allah Swt. kepada umat Muhammad SAW. Ada lagi penjelasan bahwa dalam hadits yang menerangkan pahala dua puluh lima itu bukan sebagai tambahan tetapi pelipatgandaan menjadi dua puluh lima kali. Sehingga hitungannya dapat menghasilkan 33.544.432 derajat. Betapa besar rahmat Allah Swt. yang telah memberikan pahala begitu banyak. Namun jika satu shalat saja ditinggalkan maka dosanya adalah satu huqub. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam bab sebelumnya. Maka tidak mustahil jika pahala shalat pun dapat mencapai jumlah sebanyak itu. Kemudian Rasulullah saw. menjelaskan mengenai hal itu agar kita mau memikirkan betapa pahal itu terus

bertambah bagi seseorang yang telah berwudhu, kemudian pergi ke masjid dengan niat semata-mata hendak mendirikan shalat berjamaah, setiap langkahnya mendapatkan pahala dan menghapuskan satu dosa.

H. Munasabah

Rosulullah menekankan bahwa sholat jama’ah dilaksanakan di masjid. Karena masjid didirikan bukan untuk bemegah-megahan, melainkan untuk diramaikan atau dimakmurkan. Allah berfirman dalam surat At-Taubah ayat 18 :

ه

َ نمَأ ْ نمَ ِالله دِجاَسمَ ًرُمْعيَ اَم نإ

َ

ة َ لاهصلا َما َ قأَو رِخلأا

َ

ِ

مْوَيلاَو ِللهاِب

ِ

َ

ه

َ الله ه لاإ َ ش ْ خيَ ْم لَو ةو زلا ى أَو

َ

َ

َ

ك

َ

ت

“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta tetap mendirikan sholat,

menunaikan zakat, dan tidak takut selain kepada Allah.”

Menjauhkan diri dari sifat munafik. Karena di antara sifat orang munafik adalah bermalas-malasan dalam sholat. Hal ini tertera dalam surat An-Nisa’ ayat 142 :

ه

َوهَُو َالله نْوُعِد َ خيُ َ نْيِقِف َ نُملا نإ

َ

َ

ِة َ لاهصلا َىلإ اومُا ق ا ذإَو ْمهُُعِد خ

َ

َ

َ لاَو َسا ه نلا نْوءُاَريُ ى لاَس ُ ك اْومُا ق

َ

َ

َ

ً لاْيِل َ ق ه لاإ َالله نْوُر ُ

َ

ْ

ك ذيَ

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah. Dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk sholat, mereka

berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan sholat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.”

TUGAS MAKALAH HADIST 3 KEUTAMAAN SHALAT BERJAMAAH Dosen pengampu : Yahya, S.Ag.

Di Susun Oleh : 1. INDRI ISWANTO 111-13-101 2. AJENG VIRGA S.M 111-13-109 3. M FATIH

Di Susun Oleh :

  • 1. INDRI ISWANTO

111-13-101

  • 2. AJENG VIRGA S.M

111-13-109

  • 3. M FATIH ROHMAN

111-13-110

  • 4. EKO PUJO

111-13-

Fakultas Tarbiah dan Ilmu Keguruan

Institut Agama Islam Negeri Salatiga Tahun

2015/2016