Anda di halaman 1dari 15

1.

PENDAHULUAN
Entitas dapat melakukan aktivitas luar negeri dalam dua cara. Entitas mungkin
memiliki transaksi dalam valuta asing atau memiliki kegiatan usaha luar negeri. Sebagai
tambahan, entitas dapat menyajikan laporan keuangannya dalam valuta asing. Kegiatan
usaha luar negeri dapat berupa suatu anak perusahaan, perusahaan asosiasi, joint venture
atau cabang perusahaan pelapor yang aktivitasnya dilaksanakan di suatu negara di luar
negara perusahaan pelapor. Pernyataan ini mengatur akuntansi untuk transaksi dalam mata
uang asing yang meliputi penentuan kurs yang digunakan dan pengakuan pengaruh
keuangan dari perubahan kurs vauta asing dalam laporan keuangan.
PSAK 10 mensyaratkan bahwa suatu perusahaan mengukur transaksinya
menggunakan mata uang fungsionalnya dan membolehkan perusahaan menyajikan laporan
keuangannya dengan menggunakan mata uang apa saja. Namun PSAK 10 paragraf 38 juga
menyatakan bahwa mata uang pelaporan di Indonesia adalah Rupiah.
Pada dasarnya, mata uang fungsional (mata uang pengukuran) adalah mata uang
yang digunakan dalam transaksi pengukuran. Sedangkan mata uang pelaporan adalah mata
uang yang digunakan dalam menyajikan laporan keuangan. Mata uang fungsional tidak
harus sama dengan mata uang pelaporan. Mengingat aktivitas usaha perusahaan sangat
tergantung dengan keadaan yang melingkupinya, maka apabila terjadi perubahan yang
fundamental di operasional perusahan, dapat saja mata uang fungsional perusahaan
tersebut juga berubah. Perubahan mata uang fungsional ini juga dapat terjadi akibat
diberlakukannya suatu standar akuntansi baru yang diadopsi perusahaan.
Permasalahan utama adalah nilai tukar mana yang digunakan dan bagaimana
melaporkan pengaruh dari perubahan nilai tukar dalam laporan keuangan. PSAK 10
Mengenai Pengaruh Perubahan Nilai Tukar Valuta Asing mengatur tentang bagaimana
perlakuan dalam menggunakan valuta asing ketika terjadi transaksi-transaksi yang
berhubungan dengan akuntansi.

1.1 Mata Uang Fungsional dan Mata Uang Pelaporan


Mata Uang Fungsional (mata uang pengukuran) adalah mata uang yang digunakan
dalam transaksi pengukuran (yaitu untuk mencatat ayat jurnal dan akun-akun buku besar).
PSAK 10 mensyaratkan bahwa suatu entitas harus mengukur transaksinya menggunakan
mata uang fungsionalnya dan memperbolehkan entitas untuk menyajikan laporan
keuangannya menggunakan mata uang apa saja. Namun PSAK 10 paragraf 38 juga
menegaskan bahwa mata uang pelaporan di Indonesia umumnya adalah rupiah. Jika entitas
mengadakan transaksi dalam mata uang yang berbeda dengan mata uang fungsionalnya,
maka entitas itu harus ‘menghitung transaksi tersebut dalam mata uang fungsionalnya’.
Misalnya saja perusahaan Indonesia yang mayoritas transaksinya menggunakan mata uang
asing semisal dolar AS, maka mata uang fungsionalnya adalah dolar AS dan bila
perusahaan tersebut memiliki transaksi rupiah, maka rupiah dianggap sebagai mata uang
asing oleh perusahaan.
Jika laporan keuangan suatu perusahaan hendak disajikan dalam mata uang yang
berbeda dengan mata uang fungsionalnya, maka perusahaan harus ‘menjabarkan laporan
keuangan’. Jika anak perusahaan dan perusahaan asosiasi menyajikan laporan keuangan
mereka dalam mata uang yang berbeda dengan mata uang pelaporan induk perusahaan,
maka induk perusahaan harus menjabarkan laporan keuangan. PSAK 10 mendefinisikan
mata uang fungsional entitas sebagai mata uang di lingkungan ekonomi utama dimana
entitas itu beroperasi (paragraf 8). PSAK 10 menjelaskan bahwa lingkungan ekonomi
utama dimana entitas beroperasi biasanya adalah lingkungan tempat utamanya entitas
menghasilkan dan mengeluarkan kas (paragraf 9). Selain itu, PSAK 10 mensyaratkan
entitas untuk mempertimbangkan faktor-faktor berikut dalam menentukan mata uang
fungsionalnya (paragraf 9):
1. Mata uang utama yang mempengaruhi harga jual barang dan jasa
2. Mata uang utama yang mempengaruhi biaya tenaga kerja, bahan baku, dan biaya
lainnya dalam penjualan barang dan jasa.
Jika kedua faktor di atas tumpang tindih, maka PSAK 10 menyatakan bahwa suatu
entitas juga dapat mempertimbangkan bukti pendukung lain berikut dalam menentukan
mata uang fungsionalnya (paragraf 10):
1. Mata uang yang digunakan dalam menghasilkan aktivitas pendanaan
2. Mata uang yang digunakan dalam menahan pendapatan dari aktivitas operasi
Dalam menentukan mata uang fungsional entitas anak atau entitas asosiasi di luar
negeri (dan operasi di luar negeri lainnya) dan menentukan apakah mata uang
fungsionalnya sama dengan mata uang fungsional entitas induk mempertimbangkan faktor-
faktor tambahan berikut (paragraf 11):
1. Apakah aktivitas operasi di luar negeri dilakukan sebagai perpanjangan entitas
induk.
2. Apakah transaksi dengan entitas induk memiliki proporsi yang tinggi atau rendah
dengan aktivitas operasi di luar negeri
3. Apakah arus kas dari aktivitas operasi di luar negeri berpengaruh secara langsung
terhadap arus kas entitas induk.
4. Apakah arus kas dari aktivitas dari kegiatan luar negeri cukup untuk membayar
kewajiban utang yang ada
Apabila indikator-indikator diatas tumpang tindih dan mata uang operasional tidak
jelas, PSAK 10 mensyaratkan bahwa manajemen menggunakan penilaiannya untuk
menetukan mata uang fungsional yang paling mencerminkan pengaruh ekonomi dari
transaksi, peristiwa dan kondisi (paragraf 12).

Contoh:
PT. Pertamina (Persero) mulai tahun 2012 menyajikan laporan keuangan menggunakan
US Dolar, tidak lagi menggunakan rupiah. Sebagai perusahaan yang memiliki
akuntabilitas publik signifikan bahkan telah menerbitkan surat berharga (global bonds)
di pasar modal Singapura, Pertamina tidak dapat menghindar dari kewajiban untuk
menerapkan PSAK 10 tentang Pengaruh Perubahan Selisih Kurs yang mulai berlaku
efektif 1 Januari 2012.

PSAK 10 menyatakan bahwa setelah ditentukan, mata uang fungsional tidak boleh
diubah, kecuali terjadi perubahan transaksi, peristiwa, atau kondisi (paragraf 13). Jika
diubah, maka mata uang fungsionalnya harus diperhitungkan secara prospektif sejak
tanggal perubahan itu (paragraf 35).
Mata uang pelaporan adalah mata uang yang digunakan dalam menyajikan laporan
keuangan (yaitu laporan posisi keuangan, laporan laba rugi dan pendapatan komperehensif
lain, laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas). Jika mata uang penyajian berbeda
dengan mata uang fungsional, maka entitas harus menjabarkan laporan keuangan
(translasi) sesuai dengan mata uang penyajian.
1.2. Definisi
Berikut adalah istilah yang digunakan pada PSAK 10 terkait Pengaruh Perubahan
Nilai Tukar Valuta Asing
1. Investasi neto dalam kegiatan usaha luar negeri adalah jumlah kepentingan
entitas pelapor dalam asset neto dari kegiatan usaha luar negeri tersebut.
2. Kegiatan usaha luar negeri adalah entitas anak, asosiasi, ventura bersama atau
cabang dari entitas pelapor yang aktiitasnya dilaksanakan di Negara yang mata
uangny a menggunakan mata uang selain mata uang pelapor.
3. Kelompok usaha adalah suatu entitas induk dan seluruh anaknya.
4. Kurs adalah rasio pertukaran dua mata uang
5. Kurs penutup adalah kurs spot pada akhir periode pelaporan
6. Kurs Spot adalah kurs untuk realisasi segera
7. Mata Uang Asing adalah mata uang selain mata uang funsional suatu entitas
8. Mata Uang Fungsional adalah mata uang pada lingkungan ekonomi utama
dimana entitas beroperasi.
9. Mata uang penyajian adalah mata uang yang digunakan dalam penyajian
laporan keuangan.
10. Pos-pos moneter adalah unit mata uang yang dimiliki serta asset atau liabilitas
yang akan diterima atau dibayarkan dalam jumlah unit mata uang yang tetap
atau dapat ditentukan.
11. Selisih kurs adalah selisih yang dihasilkan dari penjabaran sejumlah tertentu
satu mata uang kedalam mata uang lain pada kurs yang berbeda.

Investasi Neto di dalam Kegiatan Usaha Luar Negeri


Entitas mungkin memiliki suatu pos moneter yang merupakan tagihan dari atau
utang kepada suatu kegiatan usaha luar negeri. Suatu pos yang penyelesaiannya tidak
direncanakan ataupun mungkin tidak akan terjadi dimasa mendatang, pada hakekatnya
adalah bagian dari investasi neto entitas tersebut di dalam kegiatan usaha luar negeri, dan
diperlakukan sesuai dengan paragraf 30 dan 31. Pos-pos moneter ini mungkin mencakup
piutang atau utang jangka panjang. Pos-pos moneter ini tidak mencakup piutang dagang
atau utang dagang.
a. Pos Moneter
Fitur utama dari suatu pos moneter adalah hak untuk menerima (atau kewajiban
untuk menyerahkan) suatu jumlah unit mata uang yang tetap atau dapat ditentukan
Contohnya :
 Pensiun dan imbalan kerja lainnya harus dibayar dalam kas,
 Kewajiban diestimasi yang harus diselesaikan secara kas, dan
 Dividen kas yang diakui sebagai kewajiban.
 Kontrak untuk menerima (atau menyerahkan) suatu jumlah variabel dari
instrumen ekuitas yang dimiliki oleh entitas atau suatu jumlah variabel dari
suatu aset yang nilai wajarnya harus diterima (atau diserahkan) setara dengan
suatu jumlah unit mata uang yang tetap atau dapat ditentukan.
b. Pos Non Moneter
Fitur utama dari dari suatu pos nonmoneter adalah tidak adanya hak untuk
menerima (atau kewajiban untuk menyerahkan) suatu jumlah unit mata uang yang
tetap atau dapat ditentukan contohnya :
 Uang muka, goodwill, aset tidak, berwujud, persediaan, aset tetap, dan
kewajiban diestimasi yang harus diselesaikan dengan penyerahan aset
nonmoneter.

1.3. Pelaporan Transaksi Mata Uang Asing Ke Dalam Mata Uang Fungsional
Pengakuan Awal
Pada pengakuan awal suatu transaksi mata uang asing harus dicatat dalam mata
uang fungsional, Jumlah mata uang asing dihitung ke dalam mata uang fungsional dengan
kurs spot antara mata uang fungsional dan mata uang asing pada tanggal transaksi. Suatu
transaksi mata uang asing adalah suatu transaksi yang didenominasikan atau memerlukan
penyelesaian dalam suatu mata uang asing, termasuk transaksi-transaksi yang timbul ketika
suatu entitas:
a. membeli atau menjual barang atau jasa yang harganya didenominasikan dalam suatu
mata uang asing.
b. meminjam atau meminjamkan dana ketika jumlah yang merupakan utang atau
tagihan didenominasikan dalam suatu mata uang asing; atau
c. memperoleh atau melepas aset, atau mengadakan atau menyelesaikan kewajiban
yang didenominasikan dalam suatu mata uang asing.

Pelaporan Pada Akhir Periode Pelaporan Berikutnya


Jumlah tercatat dari suatu pos ditentukan sejalan dengan Pernyataan lain yang
relevan. Sebagai contoh, aset tetap dapat diukur dengan nilai wajar atau biaya historis
sesuai dengan PSAK 16: Aset Tetap. Apakah jumlah tercatat ditentukan berdasarkan biaya
historis ataupun berdasarkan nilai wajar, jika jumlah nya ditentukan dalam mata uang asing
maka kemudian dijabarkan kedalam mata uang fungsional sesuai Pernyataan ini.
a. pos moneter mata uang asing harus dijabarkan menggunakan kurs penutup;
b. pos nonmoneter yang diukur dalam biaya historis, dalam suatu mata uang asing
harus dijabarkan menggunakan nilai tukar pada tanggal transaksi; dan
c. pos nonmoneter yang diukur pada nilai wajar, dalam mata uang asing harus
dijabarkan menggunakan nilai tukar pada tanggal ketika nilai wajar ditentukan.

Pengakuan Selisih Nilai Tukar


Selisih nilai tukar yang timbul pada penyelesaian pos moneter atau pada penjabaran
pos moneter pada kurs yang berbeda dari kurs pada saat pos moneter tersebut dijabarkan
pada pengakuan awal selama periode atau pada periode laporan keuangan sebelumnya,
harus diakui dalam laba atau rugi dalam periode pada saat terjadinya.
Ketika pos moneter timbul dari transaksi mata uang asing dan terdapat perubahan
dalam nilai tukar antara tanggal transaksi dan tanggal penyelesaian, terjadilah sejumlah
selisih nilai tukar. Ketika transaksi diselesaikan dalam suatu periode akuntansi yang sama
seperti saat transaksi itu terjadi, semua selisih nilai tukar diakui dalam periode itu. Namun
ketika transaksi diselesaikan dalam periode akuntansi berikutnya, selisih nilai tukar yang
diakui dalam setiap periode sampai pada tanggal penyelesaian, ditentukan dengan
perubahan pada nilai tukar selama masing-masing periode.
Ketika suatu keuntungan atau kerugian pada suatu pos nonmoneter diakui dalam
pendapatan komprehensif lain, setiap komponen perubahan dari keuntungan atau kerugian
itu harus diakui dalam pendapatan komprehensif lain. Sebaliknya, ketika keuntungan atau
kerugian pada suatu pos nonmoneter diakui dalam laba atau rugi, setiap komponen
perubahan dari keuntungan atau kerugian tersebut harus diakui dalam laba atau rugi.
Ketika suatu pos moneter membentuk bagian dari investasi neto suatu entitas
pelapor dalam suatu kegiatan usaha luar negeri dan didenominasikan dalam mata uang
fungsional dari entitas pelapor, suatu selisih nilai tukar muncul dalam laporan keuangan
individual kegiatan usaha luar negeri. Jika pos moneter tersebut didenominasikan dalam
mata uang fungsional dari kegiatan usaha luar negeri itu, selisih nilai tukar muncul di
dalam laporan keuangan terpisah suatu entitas pelapor.
Jika pos moneter tersebut didenominasikan dalam suatu mata uang selain mata
uang fungsional baik entitas pelapor atau kegiatan usaha luar negeri, suatu selisih nilai
tukar muncul dalam laporan keuangan terpisah entitas pelapor dan dalam laporan keuangan
individual kegiatan usaha luar negeri. Selisih nilai tukar tersebut diakui dalam pendapatan
komprehensif lain pada laporan keuangan yang mencakup kegiatan usaha luar negeri dan
entitas pelapor (yaitu laporan keuangan yang didalamnya kegiatan usaha luar negeri
dikonsolidasikan, dikonsolidasikan secara proporsional atau dihitung dengan menggunakan
metode ekuitas).

1.4 Penggunaan Mata Uang Pelaporan Selain Mata Uang Fungsional


Penjabaran dalam mata uang pelaporan
Entitas dapat menyajikan laporan keuangannya dalam mata uang (atau beberapa
mata uang) apapun. Jika mata uang penyajian berbeda dari mata uang fungsional entitas,
maka entitas harus menjabarkan hasil dari posisi keuangannya ke dalam mata uang
penyajian dengan prosedur sebagai berikut :
a. aset dan laibilitas untuk setiap laporan dari posisi keuangan yang disajikan (yaitu
termasuk komparatif) harus dijabarkan menggunakan kurs penutup pada tanggal
laporan dari posisi keuangan itu.
b. pendapatan dan beban untuk setiap laporan laba rugi komprehensif atau laporan
laba rugi terpisah yang disajikan (yaitu termasuk komparatif) harus dijabarkan
menggunakan nilai tukar pada tanggal transaksi; dan
c. semua hasil dari selisih nilai tukar harus diakui dalam pendapatan komprehensif
lain.
Untuk alasan praktis, suatu kurs yang mendekati nilai tukar pada tanggal transaksi,
contohnya suatu kurs rata-rata untuk periode itu, sering digunakan untuk menjabarkan pos
pos pendapatan dan beban. Bagaimanapun, jika nilai tukar berfluktuasi secara signifikan,
penggunaan kurs rata-rata untuk suatu periode adalah tidak tepat.Selisih nilai tukar
dihasilkan dari:
a. penjabaran pendapatan dan beban dengan nilai tukar pada tanggal transaksi dan
aset serta kewajiban dengan kurs penutup.
b. penjabaran saldo awal aset neto dengan kurs penutup yang berbeda dari kurs
penutup sebelumnya.
Selisih nilai tukar ini tidak diakui dalam laba atau rugi karena perubahan dalam
nilai tukar memiliki sedikit atau tidak memiliki pengaruh langsung terhadap arus kas
sekarang dan masa depan dari kegiatan usaha. Jumlah kumulatif dari selisih nilai tukar
disajikan dalam suatu komponen terpisah dari ekuitas sampai pelepasan kegiatan usaha
luar negeri tersebut. Ketika selisih nilai tukar yang terkait dengan kegiatan usaha luar
negeri yang dikonsolidasikan tetapi tidak sepenuhnya dimiliki, akumulasi selisih nilai tukar
yang timbul dari penjabaran dan dapat diatribusikan kepada kepentingan nonpengendali
dialokasikan ke, dan diakui sebagai bagian dari, kepentingan non-pengendali dalam
laporan konsolidasi dari posisi keuangan.

Pengungkapan
Entitas terkadang menyajikan laporan keuangannya atau informasi keuangan
lainnya dalam suatu mata uang yang bukan mata uang fungsionalnya tanpa memenuhi
persyaratanpersyaratan dari paragraf 51. Contohnya, suatu entitas dapat melakukan
konversi hanya terhadap pos-pos tertentu dari laporan keuangannya. Atau, suatu entitas
yang mata uang fungsionalnya bukan mata uang dari suatu ekonomi hiperinflasi dapat
melakukan konversi terhadap laporan keuangannya ke dalam mata uang lain dengan
menjabarkan semua pos-pos dengan kurs penutup terkini. Konversi sebagaimana disebut di
atas tidak sesuai dengan PSAK dan pengungkapan yang dijelaskan dalam paragraf 54
dipersyaratkan.
Ketika entitas menyajikan laporan keuangan atau informasi keuangan lainnya di
dalam suatu mata uang yang berbeda baik dari mata uang fungsionalnya maupun dari mata
uang pela porannya, dan persyaratan-persyaratan dari paragraf 52 tidak dipenuhi, entitas
harus:
1. Jumlah selisih kurs yang diperhitungkan dalam laba neto atau kerugian untuk
periode tersebut,
2. Selisih kurs neto yang diklasifikasikan dalam kelompok ekuitas sebagai suatu
unsure yang terpisah, dan rekonsiliasi selisih kurs tersebut pada awal dan akhir
periode, dan
3. Jumlah selisih kurs yang timbul selama periode, yang termasuk dalam nilai
tercatat suatu asset sesuai dengan perlakuan alternative yang diijinkan.

2. PEMBAHASAN
Penerapan PSAK 10 (Revisi 2010) pada Laporan Keuangan PT. Pertamina (Persero)
Tahun 2011 dan 2012
Banyak perusahaan sekarang ini yang tidak hanya melakukan aktivitas dalam
negeri tetapi juga melakukan aktivitas di luar negeri, seperti sebagian besar perusahaan
pertambangan minyak dan batu bara di Indonesia. Perusahaan melakukan aktivitas luar
negeri dalam dua cara yaitu perusahaan mungkin memiliki transaksi dalam mata uang
asing atau memiliki kegiatan usaha luar negeri. Transaksi dalam mata uang asing
adalah transaksi dengan menggunakan mata uang selain mata uang fungsional
perusahaan. Sedangkan kegiatan usaha luar negeri adalah perusahaan yang merupakan
perusahaan anak, perusahaan asosiasi, ventura bersama, atau cabang dari entitas
pelapor, yang aktivitasnya dilaksanakan di suatu negara atau mata uang selain negara
atau mata uang perusahaan pelapor.
Permasalahan utama dalam melakukan transaksi luar negeri adalah kurs mana yang
akan digunakan dan bagaimana melaporkan pengaruh dari perubahan kurs dalam
laporan keuangan. Di samping itu, kondisi lingkungan ekonomi, tuntutan akuntabilitas
dan transparasi dalam laporan keuangan, serta kebutuhan para pemangku kepentingan
(stakeholders) adalah beberapa faktor yang menuntut adanya peraturan atau standar
dalam menjalankan aktivitas perusahaan termasuk aktivitas luar negeri. Dewan Standar
Akuntansi Keuangan (DSAK) Indonesia berusaha mengembangkan penyusunan
standar akuntansi di Indonesia untuk mengakomodasi kebutuhan para pemangku
kepentingan (stakeholders). Penyusunan standar akuntansi yang disusun oleh DSAK
ini mengadopsi standar akuntansi yaitu International Financial Reporting Standards
(IFRS) agar sistem pelaporan keuangan di Indonesia dapat mengikuti kebijakan
internasional, dengan harapan investasi asing akan tetap masuk atau bahkan meningkat
dan perusahaan-perusahaan di Indonesia mampu bersaing di dunia internasional.
Pada tanggal 23 Maret 2010 PSAK 10 (Revisi 2010) tentang Pengaruh Perubahan
Kurs Valuta Asing disahkan dan diterbitkan. PSAK 10 (Revisi 2010) ini menggantikan
PSAK 10 (revisi 1994) tentang Transaksi dalam Mata Uang Asing, PSAK 11 (revisi
1994) tentang Penjabaran Laporan Keuangan dalam Mata Uang Asing, PSAK 52
(revisi 1997) tentang Mata Uang Pelaporan dan ISAK 4 (1997) tentang interpretasi atas
paragraf 20 PSAK 10 tentang alternatif perlakukan yang diijinkan atas selisih kurs.
Tujuan PSAK 10 (revisi 2010) adalah menjelaskan bagaimana memasukkan
transaksi dalam mata uang asing dan kegiatan usaha luar negeri ke dalam laporan
keuangan perusahaan serta bagaimana menjabarkan laporan keuangan ke dalam mata
uang penyajian (mata uang yang digunakan dalam penyajian laporan keuangan).
Standar ini juga mensyaratkan entitas untuk mengukur aset, kewajiban, pendapatan,
dan biaya dalam mata uang fungsional, yang didefinisikan sebagai mata uang pada
lingkungan ekonomi utama dimana entitas beroperasi.
Penerapan PSAK 10 (revisi 2010) mulai berlaku tanggal 1 Januari 2012
mengharuskan perusahaan-perusahaan di Indonesia terutama yang memiliki aktivitas
luar negeri wajib menerapkan peraturan tersebut. Perusahaan diwajibkan menggunakan
pertimbangannya untuk menentukan mata uang fungsional yang paling tepat
menggambarkan pengaruh ekonomi dari transaksi, kejadian, dan kondisi yang
mendasari. Perusahaan pun harus melakukan prosedur pengukuran kembali
(remeasurement), tujuannya adalah penentuan saldo awal di periode penerapan dan
mengubah semua transaksi menggunakan mata uang fungsional yang telah ditentukan.
Selain itu, perusahaan memiliki pilihan dalam menjabarkan laporan keuangan dalam
mata uang penyajian apakah sama dengan mata uang fungsional atau dapat juga
berbeda.

Mata uang Mata uang Mata uang


pencatatan fungsional pelaporan

Remeasurement Translasi

Mata Uang Sebelum PSAK 10 (Revisi 2010)


Mata uang pencatatan
Mata uang
=
pelaporan
Mata uang fungsional

Translasi

Mata Uang Sesudah PSAK 10 (Revisi 2010)

Dengan diadopsinya PSAK 10 (Revisi 2010) pada 1 Januari 2012, Pertamina


menerapkan kebijakan baru dalam hal penggunaan mata uang fungsional dalam setiap
kegiatan operasinya. Pengadopsian tersebut juga tercantum dalam pernyataan auditor
independen yang melakukan audit atas laporan keuangan PT Pertamina (Persero) yang
dikutip sebagai berikut “Seperti diungkapkan di Catatan 4 atas laporan keuangan
konsolidasian, Grup telah menerapkan beberapa Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan (PSAK), termasuk PSAK No. 10 (Revisi 2010) “Efek dari Perubahan Kurs
Mata Uang Asing” dimana penerapannya dilakukan secara retrospektif. Sebagai
hasilnya, laporan keuangan konsolidasian pada tanggal dan untuk tahun yang
berakhir 31 Desember 2011 dan laporan posisi keuangan konsolidasian pada tanggal
1 Januari 2011/31 Desember 2010 yang sebelumnya disajikan dalam Rupiah, telah
diukur kembali ke dalam Dolar Amerika Serikat. Laporan posisi keuangan
konsolidasian tanggal 1 Januari 2011/31 Desember 2010 disajikan sesuai dengan
ketentuan dalam PSAK No. 1 (Revisi 2009) tentang Penyajian Laporan Keuangan”.

Dasar-dasar penyusunan laporan keuangan konsolidasian PT Pertamina (Persero):


1. Laporan keuangan konsolidasian telah disusun dengan harga perolehan kecuali aset
keuangan yang tersedia untuk dijual dan aset keuangan dan liabilitas keuangan
yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba-rugi.
2. Laporan arus kas konsolidasian Laporan arus kas konsolidasian disusun dengan
menggunakan metode langsung dan mengklasifikasi arus kas menjadi kegiatan
operasi, investasi dan pendanaan.
3. Laporan keuangan konsolidasian disajikan dalam ribuan Dolar Amerika Serikat
(US$), kecuali dinyatakan lain.

Masing-masing entitas anak perusahaan diminta untuk melakukan kajian mata uang
fungsional. Pertamina menyimpulkan bahwa Dolar AS merupakan mata uang
fungsional perusahaan dengan pertimbangan sebagai berikut:
1. Harga jual produk dari 6 unit bisnis utama mengacu pada harga publikasi yang
didenominasikan dalam mata uang Dolar AS
2. Biaya bahan baku dan pembelian produk mengacu pada harga publikasi yang
didenominasikan dalam mata uang Dolar AS
3. Umumnya ketika penjualan atau bahan baku dalam mata uang selain mata uang
Dolar AS, harga tersebut akan berfluktuasi terhadap nilai tukar terhadap mata uang
Dolar AS
4. Pendanaan yang bersumber dari obligasi dan pinjaman bank didenominasikan
dalam mata uang Dolar AS.
Berdasarkan ketentuan transisi PSAK 10 (revisi 2010) ini, standar ini diterapkan
secara retrospektif. Dengan demikian, Perusahaan mengukur kembali laporan keuangan
periode sebelumnya yang diterbitkan dalam mata uang Rupiah ke Dolar AS.
Perusahaan melakukan pengukuran kembali pos-pos dalam laporan posisi keuangan
(neraca) dengan melakukan prosedur sebagai berikut:
1. Pos aset dan liabilitas moneter diukur kembali dengan menggunakan kurs pada
tanggal neraca
2. Aset non-moneter diukur menggunakan kurs pada saat tanggal perolehan aset
3. Liabilitas non-moneter diukur menggunakan kurs pada saat terjadinya liabilitas
4. Modal saham diukur menggunakan kurs pada tanggal penyetoran modal saham dan
disetujui oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia
5. Saldo laba atau akumulasi kerugian diukur dengan menggunakan kurs pada periode
terjadinya laba atau kerugian tersebut; dan
6. Selisih antara aset, liabilitas dan modal saham dalam mata uang Dolar AS,
diperhitungkan pada saldo laba atau akumulasi kerugian pada awal periode
komparatif.
Selisih kurs yang terjadi akibat transaksi yang dilakukan entitas berdasarkan
PSAK 10 (Revisi 2010)
Selisih kurs yang timbul pada penyelesaian pos moneter atau pada proses
penjabaran pos moneter pada kurs yang berbeda dari kurs pada saat pos moneter
tersebut dijabarkan, pada pengakuan awal selama periode atau pada periode laporan
keuangan sebelumnya, diakui dalam laba atau rugi dalam periode pada saat terjadinya,
kecuali sebagaimana dijelaskan dalam paragraf 32 PSAK 10 (Revisi 2010).
Jika keuntungan atau kerugian pos non-moneter diakui dalam pendapatan
komprehensif lain, setiap komponen perubahan dari keuntungan atau kerugian itu
diakui dalam pendapatan komprehensif lain. Sebaliknya, jika keuntungan atau kerugian
pos non-moneter diakui dalam laba atau rugi, maka setiap komponen keuntungan atau
kerugian tersebut diakui dalam laba atau rugi.
Selisih kurs yang timbul pada pos moneter yang membentuk bagian dari investasi
neto entitas pelapor dalam suatu kegiatan usaha luar negeri, diakui dalam laba atau rugi
dalam laporan keuangan tersendiri dari entitas pelapor (PSAK 4) atau laporan
keuangan individual dari kegiatan usaha luar negeri, yang mana yang tepat. Dalam
laporan keuangan yang memasukkan kegiatan usaha luar negeri dan entitas pelapor
(konsolidasi), selisih selisih kurs diakui awalnya dalam pendapatan komprehensif lain
dan direklasifikasi dari ekuitas ke laba atau rugi pada saat pelepasan investasi neto
sesuai dengan paragraf 46.

3. KESIMPULAN
Valuta Asing memudahkan transaksi yang dilakukan antara dua pihak dengan
menggunakan mata uang yang berbeda. Mata uang fungsional (mata uang pengukuran)
adalah mata uang yang digunakan dalam transaksi pengukuran. Sedangkan mata
uangpelaporan adalah mata uang yang digunakan dalam menyajikan laporan keuangan.
Pengukuran dan pengungkapan yang diterapkan dengan menggunakan valuta asing diatur
dalam PSAK 10.
PSAK 10 mensyaratkan bahwa suatu perusahaan mengukur transaksinya
menggunakan mata uang fungsional dan membolehkan perusahaan menyajikan laporan
keuangan dengan menggunakan mata uang apa saja, tetapi entitas harus menjelaskan
bahwa laporan keuangannya tunduk pada SAK hanya jika entias mematuhi semua
persyaratan dari setiap pernyataan dan setiap interpretasi dari pernyataan yang berlaku
termasuk metode penjabaran. Selisih kurs akibat perubahan kurs valuta asing diakui
sebagai pendapatan/kerugian komprehensif lainnya atau laba atau rugi selisih kurs dalam
laporan laba rugi komprehensif konsolidasian.
Daftar Pustaka

Standar Akuntansi Keuangan


Ikatan Akuntansi Indonesia.2015. Modul Chartered Accountant: Pelaporan
Korporat. Jakarta: Ikatan Akuntansi Indonesia.
Martani, Dwi. Akuntansi Atas Pengaruh Perubahan Kurs Valuta Asing.
https://staff.blog.ui.ac.id/martani/about/pemikiran-yang-disajikan-dalam-
koranmajalah-populerumum/akuntansi-atas-pengaruh-perubahan-kurs-valuta-
asing/. Diakses 8 Maret 2018.