Anda di halaman 1dari 6

TUGAS KIMIA MEDISINAL

DISUSUN OLEH

SYAFRI BARLIAN WARIS (G 701 15 070)

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2018
1. Senyawa obat Acetemicin (Golongan NSAID)
Berikut ini tahapan yang terjadi mulai dari absorbsinya hingga ikatan yang
terjadi antara obat tersebut dengan reseptor untuk kemudian memberikan efek
yaitu :
a. Profil Obat
Nama Obat : Acetamicin
Struktur :

Nama IUPAC : 1–(4–Chlorobenzoyl)–5–methoxy–2–methyl–1H–indole–


3–acetic acid carboxymethyl ester

Rumus Molekul : C21H18ClNO6

Pemerian : Serbuk kristal kuning sangat halus. Praktis tidak larut dalam
air, sedikit larut dalam alkohol anhidrat, larut dalam aseton.

b. Absorbsi
Proses absorbsi obat penting dalam kaitannya dengan transport
transmembran. Proses ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti laju
pelarutan senyawa dalam cairan biologik di sekitar membran dan sifat
fisika kimia obat seperti kelarutan dalam lemak/air dan derajat ionisasi.
Dalam bahasan ini, parameter fisika kimia yang berperan adalah
konstanta disosiasi. Ionisasi molekul obat merupakan hal yang penting
karena terkait dengan absorbsi obat dan distribusinya dalam jaringan-
jaringan tubuh. Konsentrasi relatif bentuk ion/molekul bergantung pada
pKa obat dan juga pada pH lingkungannya. Kebanyakan obat berupa asam
lemah atau basa lemah, oleh karena absorpsi dengan cara difusi pasif hanya
terjadi dalam bentuk tidak terionisasi, maka perbandingan fraksi obat yang
tidak terionisasi dan fraksi obat yang terionisasi sangat menentukan
absorpsi.
Berdasarkan persamaan Henderson-Hasselbach, derajat ionisasi
tergantung pada dua faktor, yaitu :
 Tetapan ionisasi dari suatu senyawa atau pKa
 pH cairan dimana molekul zat aktif terdapat
Nilai pKa akan berkaitan dengan dimana senyawa akan diabsorpsi.
Jika pKa rendah maka senyawa bersifat asam dan banyak diabsorbsi pada
suasana asam karena senyawa berada pada bentuk tak terionkan. Obat
NSAID terutama yang diberikan per oral, diharapkan akan diabsorbsi di
lambung (±4 dalam keadaan normal) yang memiliki pH asam, sehingga
dengan pKa yang rendah, obat akan berada lebih banyak dalam bentuk tak
terionkan (bentuk bebas) daripada bentuk terionkan. Rumusnya yaitu

Setelah obat masuk kelambung maka obat acetamicin akan berada


dalam bentuk tak terionkan sebab acetamicin memiliki sifat asam, hal ini
dapat terlihat dari nilai pka dari acetamicin yaitu 2,9 sehingga apabila obat
acetamicn tersebut berada dalam cairan lambung yang asam maka obat
acetamicn tersebut akan berada dalam bentuk tak terionisasi dan dengan
begitu penyerapannya menjadi lebih optimal di lambung. Struktur senyawa
acetamicin saat berada di lambung yaitu
c. Tipe Ikatan obat dengan reseptor sehingga menghasilkan efek

Efek antiinflamasi biasanya meningkat bila asiditas dari grup


karboksil ditingkatkan dan menurun bila asiditas diturunkan. Pada ikatan
antara ecemetacin sendiri terdapat elektronegativitas yang tinggi akibat
adanya atom klor yang tersubstitusi pada posisi para dari cincin aromatic.
Elektronegativitas yang kuat pada ecemetacin menyebabkan banyaknya
awan elektron yang berada di sekitar struktur obat tersebut. Awan elektron
akan meningkatkan fiksasi obat dengan reseptor dan semakin banyak awan
electron yang terbentuk, maka ikatan obat-reseptor yang terjadi akan
semakin kuat (ikatan kovalen), sehingga menimbulkan efektivitas
antiinflamasi yang tinggi pada ecemetacin.

2. Senyawa obat Hidroklorotiazid


a. Profil obat
Nama Obat : Hidroklorotiazid
Rumus molekul : C7H8CIN3O4S2
Pemerian : Serbukk ristal putih atau hampir putih, tidak berbau
Kelarutan : Sedikit dapat larut dalam air, tidak larut dalam kloroform, di
dalam eter, dan dalam asam mineral encer, dapat larut di methyl
formamide, di dalam n butilamina, dan di dalam larutan sodium hidroksida,
mudah larut dalam metil alkohol (Martindale. 2009; 1307).
Indikasi : Hipertensi, gagal jantung, edema kronik, diabetes insipidus,
hiperkalsiuria.
b. Absorbsi
Dilihat dari pKa-nya ( pka hidroklorotiazid 9,2 ) obat hidroklortiazid
merupakan basa lemah. Obat-obat ini diberikan secara oral sehingga dalam
lambung yang bersifat asam sebagian besar akan menjadi ion yang
mempunyai kelarutan dalam lemak yang sangat kecil sehingga sukar
menembus membran lambung. Bentuk ion lalu masuk ke usus halus yang
agak basa dan berubah menjadi bentuk tidak terionkan. Bentuk ini memiliki
kelarutan dalam lemak lebih besar dibandingkan dengan bentuk terionkan
sehingga mudah terdifusi menembus membran usus. Sehingga obat ini dari
bentuk ionnya akan di teruskan ke usus untuk di ubah kembali menjadi
bentuk tak terionkan sehingga menjadi mudah untuk di absorbsi
c. Tipe ikatan yang terjadi
Diuretik turunan hidroklortiazid merupakan senyawa berstruktur
spesifik yaitu senyawa yang memberikan efek dengan mengikat reseptor
yang spesifik. Ikatan reseptor dengan obat dipengaruhi oleh kesesuaian
obat dengan reseptor, kelarutan obat dalam lemak, afinitas, serta sifat
ikatannya. Berdasarkan studi hubungan struktur-aktivitas diuretik
menunjukkan bahwa aktivitas diuretik pada turunan hidroklortiazid
disebabkan oleh adanya gugus sulfamil tidak tersubstitusi pada C nomer 7
yang berikatan dengan enzim karbonat anhidrase. Jenis ikatan ini adalah
ikatan hidrogen. Apabila dilakukan substitusi atom hidrogen dari gugus
amino (RSO2NHR'), misal dengan gugus alkil, maka aktivitas diuretiknya
akan hilang karena ikatan hidrogen yang terlibat pada interaksi enzim obat
menjadi lebih lemah dan interaksi obat reseptor kurang serasi.

Gambar1. Interaksi asam karbonat dan obat diuretik dengan enzim


karbonikanhydrase.

Semua contoh obat turunan hidroklortiazid di atas memiliki gugus


SO2 di C1 heterosiklik yang menyebabkan aktivitas diuretik yang lebih
besar. Pada posisi C nomer 6 ada gugus penarik elektron seperti -Cl dan -
CF3 yang sangat penting. Apabila gugus ini hilang maka aktivitas obat
juga hilang. Semakin cepat obat mencapai reseptor, maka efeknya akan
semakin besar. Kecepatan obat mencapai reseptor ini salah satunya
dipengaruhi oleh kelarutan dalam lemak.