Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM

PERANCANGAN STRUKTUR PERKERASAN

MODUL J-03

TITIK NYALA DAN TITIK BAKAR

Kelompok II:

1. Sari Handayani 1334290015


2. Parulian Simbolon 1434290001
3. Abdullah 1434290002
4. Sri Nur Aprilliyani 1434290017

Tanggal Praktikum : 18 Maret 2018

Asisten Modul : Winas M

Tanggal Disetujui : 25 Maret 2018

Nilai Laporan :

Paraf Asisten :

LABORATORIUM STRUKTUR DAN MATERIAL

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS PERSADA INDONESIA YAI

JAKARTA 2018
J-03 TITIK NYALA DAN TITIK BAKAR DENGAN CLEVELAND OPEN
CUP
(PA-0303-76)
(AASHTO T-48-81)
(ASTM D-92-02)

1. Tujuan Praktikum
Percobaan ini dilaksanakan untuk menentukan titik nyala dan titik
bakar dari semua jenis hasil minyak bumi kecuali minyak bakar dan bahan
lainnya yang mempunyai titik nyala open cup kurang dari 79 oC.

2. Teori Dasar

Titik nyala adalah suhu pada saat terlihat nyala singkat pada
suatu titik di permukaan aspal (kurang lebih 1 sampai 2 detik nyala api
tersebut). Titik bakar adalah suhu pada saat terlihat nyala sekurang-
kurangnya 5 detik pada suatu titik di atas permukaan aspal.

Prinsip pengujian titik nyala dan titik bakar adalah melalui


pemanasan benda uji secara bertahap dan kemudian secara berkala,
permukaan benda uji dilewati nyala uji. Semakin tinggi titik nyala dan titik
bakar aspal, maka aspal tersebut akan semakin baik. Besarnya titik bakar
tersebut tidak berpengaruh terhadap kualitas perkerasan, karena pengujian
ini hanya berhubungan dengan keselamatan pelaksanaan khususnya pada
saat pencampuran (mixing) terhadap bahaya kebakaran. Syarat aspal AC
60/70 titik nyala sebesar minimal 232o C.

3. Peralatan

A. Thermometer;
B. Cleveland open cup;
C. Pelat pemanas, terdiri dari logam, untuk melekatkan cawan
Cleveland dan bagian atas dilapisi seluruhnya oleh asbes setebal 0,6 cm;
D. Sumber pemanas, pembakar gas atau tungku listrik, atau pembakar
alkohol yang tidak menimbulan asap atau nyala disekitar bagian atas
cawan;
E. Penahan angin, alat yang menahan angin apabila digunakan nyala
sebagai pemanas;
F. Nyala penguji, yang dapat diatur dan memberikan nyala dengan
diameter 3,2 - 4,8 mm dengan panjang tabung 7,5 cm.

4. Bahan Percobaan

A. Aspal yang sudah dipanaskan dengan suhu antara 148,9 °C dan 176 °C
sampai cukup cair.
B. Cawan Cleveland yang diisi dengan aspal tersebut sampai garis
dan hilangkan (pecahkan) gelembung udara yang ada di permukaan
cairan.

5. Prosedur Percobaan

A. Memanaskan aspal sampai mendidih dan cukup cair di atas


pelat pemanas menggunakan alat pemanas berupa kompor;

B. Menuangkan aspal yang telah cair ke cawan Cleveland dan


m e n diamkan selama satu hari;

C. Meletakkan ke atas pelat pemanas;

D. Menempatkan termometer di atas cawan Cleveland yang sudah diisi


aspal tersebut dengan ujung termometernya harus menyentuh aspal;

E. Meletakkan nyala uji di atas aspal pemanas dan mengatur


pemanasan sehingga kenaikan suhu menjadi (15 ± 1) °C per menit
menit sampai benda uji mencapai suhu 56 °C dibawah titik nyala
perkiraan;

F. Setelah mendapat suhu yang diinginkan, mengatur kecepatan

pemanasan 5 oC per menit sampai suhu aspal 28 °C dibawah titik nyala


perkiraan;
G. Menghidupkan nyala penguji dan memutar ke kiri dan ke kanan agar
panas merata di seluruh permukaan;

H. Mengatur stopwatch dan melakukan pembacaan suhu setiap 1 menit


dan catat hasilnya;

I. Memperhatikan saat api menyala pertama kali pada permukaan aspal.


Saat itu adalah saat terjadi titik nyala. Setelah itu mencatat waktunya dan
suhu aspal;

J. Setelah terjadi titik nyala, memperhatikan saat permukaan aspal


terdapat nyala api selama minimal 5 detik. Ini adalah saat aspal
mencapai titik bakar. Mencatat waktunya dan suhu aspal.

6. Pengolahan Data Percobaan


Tabel 1 Pengolahan Data Percobaan Titik Lembek Aspal
No Waktu (Menit) Suhu (⁰ C) Keterangan
1 1 30 -
2 2 36 -
3 3 38 -
4 4 42 -
5 5 48 -
6 6 56 -
7 7 78 -
8 8 132 -
9 9 162 -
10 10 182 -
11 11 200 -
12 12 216 -
13 13 232 -
14 14 242 -
15 15 246 -
16 16 266 -
17 17 276 -
18 18 282 -
19 19 290 -
20 20 298 Titik Nyala
21 21 301 Titik Bakar
Berdasarkan hasil percobaan didapatkan bahwa titik nyala berada pada suhu
298⁰ C pada menit ke-20, sementara titik bakar didapatkan pada suhu 301⁰ C pada
menit ke-21.

Grafik Hubungan Waktu dan Suhu Untuk Percobaan


Titik Nyala Dan Titik Bakar
400
350
300
Suhu (⁰ C)

250
200
150
100
50
0
0 5 10 15 20 25
Waktu (Menit)

Gambar 1 Grafik hubungan waktu dan suhu untuk percobaan titik nyala dan titik
bakar.

7. Analisis
A. Analisis Percobaan

Praktikum ini bertujuan untuk menentukan titik nyala dan titik bakar
dari semua jenis hasil minyak bumi kecuali minyak bakar dan bahan lainnya
yang mempunyai titik nyala open cup kurang dari 79 ⁰C. Langkah pertama yang
harus dilakukan adalah menyiapkan benda uji dan peralatan yang dibutuhkan.
Kemudian aspal yang telah dipanaskan dan didiamkan selama sehari di cawan
Cleveland diletakkan di atas pelat pemanas. Selanjutnya menempatkan
termometer di atas cawan pemanas di atas permukaan benda uji agar pembacaan
suhu menggunakan termometer didasarkan atas suhu benda uji tersebut. Lalu
menyalakan pelat pemanas dan menyiapkan stopwatch untuk pembacaan suhu
per menit. Selanjutnya mencatat kenaikan suhu per menit hingga didapatkan
titik nyala. Titik nyala yaitu keadaan suhu pada saat terlihat nyala singkat pada
suatu titik di atas permukaan aspal. Sementara titik bakar yaitu keadaan suhu
pada saat terlihat nyala sekurang-kurangnya 5 detik pada suatu titik di atas
permukaan aspal. Dalam pembacaan suhu digunakan kaca pembesar untuk
membantu pembacaan suhu agar lebih akurat dalam pembacaan.

B. Analisis Hasil

Berdasarkan percobaan, maka hasil yang didapatkan untuk titik nyala


aspal adalah pada suhu 298 ⁰C dengan waktu yang dibutuhkan selama 20 menit
dimana suhu awal adalah sebesar 30 ⁰C. Sedangkan titik bakar aspal adalah
pada suhu 301 ⁰C dengan waktu yang dibutuhkan adalah 21 menit dimana suhu
awal adalah 30 ⁰C.

Dengan nilai suhu titik nyala sebesar 298 ⁰C lebih besar dari nilai
minimal yaitu 232 ⁰C, sehingga aspal telah memenuhi standar titik nyala untuk
Pen 60/70. Akan tetapi jika kurang dari nilai minimal, maka aspal
diklasifikasikan kedalam pemeriksaan aspal cair.

C. Analisis Kesalahan

Kesalahan yang dapat terjadi pada praktikum penentuan titik nyala dan
titik bakar aspal adalah sebagai berikut:

1. Kesalahan dalam pembacaan kenaikan suhu;


2. Kesalahan dalam menentukan titik nyala;
3. Kesalahan dalam menentukan titik bakar.

D. Analisis K3

Pada percobaan ini dibutuhkan peralatan K3 seperti jas lab, sarung


tangan,dan safety shoes. Jas lab digunakan agar pakaian praktikan terlindung
dari kotoran. Sarung tangan digunakan agar tangan praktikan tidak terkena
bahan-bahan praktikum, dan safety shoes diperlukan untuk melindungi kaki
praktkan dari kemungkinan tertimpa peralatan praktikum.

8. Aplikasi

Pengujian titik nyala dan titik bakar agar ketika proses pemanasan aspal
menggunakan boiler fire tube dalam proses pembuatan aspal jalan memiliki
suhu tidak melewati suhu titik nyala dan titik bakar tersebut dalam artian suhu
harus berada dibawah nilai suhu titik nyala dan titik bakar dan diatas suhu
minimal syarat pemeriksaan aspal keras. Bila melewati nilai suhu titik bakar,
maka dapat menyebabkan aspal terbakar yang berarti akan mempengaruhi sifat
fisika aspal dan membuat aspal menjadi kurang baik untuk digunakan sebagai
material perkerasan.

9. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis di atas, maka praktikan menyimpulkan:

A. Titik nyala aspal berada pada suhu 298⁰ C didapatkan pada menit ke 20;
B. Titik bakar aspal berada pada suhu 301⁰ C didapatkan pada menit ke 21;
C. Kenaikan suhu yang terjadi per menit tidak konstan;
D. Suhu titik nyala dan titik bakar sudah diatas nilai minimum untuk syarat
pemeriksaan aspal keras.
10. Referensi

Pedoman Pemeriksanaa Bahan Perkerasan Jalan. Laboratorium Struktur Dan


Material Departemen Sipil Fakultas Teknik Universitas Indonesia. 2018.

Pengujian Material Aspal. Buku Informasi. Kementrian Pekerjaan Umum


Badan Pembinaan Konstruksi. Jakarta. 2013.
11. Lampiran

Gambar 2 Percobaan penentuan titik nyala dan titik bakar (1)

(Sumber : Dokumentasi Praktikan, 2018)

Gambar 3 Percobaan penentuan titik nyala dan titik bakar (2)

(Sumber : Dokumentasi Praktikan, 2018)