Anda di halaman 1dari 75

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan memicu timbulnya perubahan dalam

masyarakat yakni meningkatnya angka harapan hidup. Salah satu indikator pembangunan

adalah meningkatnya usia harapan hidup penduduk. Hal ini menyebabkan penduduk lanjut

usia (lansia) terus meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan proporsi penduduk lanjut

usia (lansia) dari total populasi penduduk telah terjadi diseluruh dunia, meningkatnya

pertumbuhan penduduk lanjut usia yang sangat cepat merupakan salah satu ciri

kependudukan abad ke-21. Proporsi penduduk lanjut usia dari total penduduk dunia akan

naik dari 10% pada tahun 1998 menjadi 15% pada tahun 2025, dan meningkat hampir

mencapai 25% pada tahun 2050 (Fatmah 2010, dalam Sasliza Wati 2012).

Menurut WHO 2002, yang dimaksud dengan populasi adalah populasi yang berusia

>60 tahun. Depkes menetapkan pengelompokan lansia yaitu kelompok usia 45-54 tahun

yang disebut masa virilitas, 55-64 tahun disebut masa prasenium, lebih dari 65 tahun

disebut masa senescens dan lebih dari 70 tahun disebut usia lanjut dengan resiko tinggi. Di

Indonesia pada tahun 2000 proporsi penduduk lanjut usia (lansia) adalah 7,18% dan tahun

2010 meningkat sekitar 9,77% , bahkan pada tahun 2020 diprediksi akan terjadi ledakan

jumlah penduduk usia pertengahan sebesar 11,34% atau sekitar 28,8 juta jiwa. Tahun 2010

proporsi lanjut usia sudah menyamai proporsi penduduk balita. Pada saat ini penduduk

lanjut usia berjumlah sekitar 24 juta dan tahun 2020 diperkirakan sekitar 30-40 juta jiwa.

(Makmur 2006, dalam Sasliza Wati 2012).


Menurut Depkes RI (2011), lansia yaitu usia antara 60-69 tahun serta lansia beresiko

dengan usia >70tahun. Jumlah penduduk lansia pada tahun 2010 sebesar 23,9 juta (9,7%),

usia harapan hidupnya 67.4 juta tahun dan pada tahun 2020 diperkirakan sebesar 28.8 juta

(11.34%) dengan usia harapan hidup 71.1 tahun (Kementrian Koordinator Bidang

Kesejahteraan Rakyat, 2009).

Banyaknya jumlah usia lanjut berakibat kepada bertambahnya permasalahan yang

terjadi pada usia lanjut, sehingga perlu berbagai upaya dari beberapa pihak untuk membina

agar tetap mandiri dan produktif dalam menjalani sisa hidupnya. Pembinaan usia lanjut di

Indonesia dilaksanakan berdasarkan beberapa undang-undang dan peraturan sebagai dasar

dalam menentukan kebijaksanaan pembinaan.

Implementasi kegiatan pembinaan lansia yang diamanatkan undang-undang dan

peraturan pemerintah yang telah dibuat pemerintah daerah provinsi Jawa Barat mendirikan

panti jompo yang tersebar di seluruh jawa barat. Salah satu panti tersebut adalah yang

terletak di Pakutandang, Ciparay, Bandung yaitu Balai Perlindungan Sosial Tresna Wreda

yang disingkat BPTSW. Di BPSTW ini ada 150 orang lansia yang dibina.

Balai Perlindungan Sosial Tresna Werdha Ciparay Bandung (BPSTW) dan

Pemeliharaan Taman Makam Pahlawan, merupakan salah satu unit yang bertugas sebagai

pelaksana dibidang pelayanan dan perlindungan sosial lanjut usia terlantar dan

pemeliharaan taman makam pahlawan. BPSTW mempunyai tujuan dan fungsi memberikan

pelayanan dan perlindungan sosial terhadap lanjut usia terlantar dalam upaya memenuhi

hak dan kewajiban sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998

tentang kesejahteraan sosial lanjut usia. Pengelolaan manajemen dari unit BPSTW menjadi

sangat penting untuk mencapai tujuan dan keberhasilan.


Berdasarkan latar belakang diatas maka kami mahasiswa program profesi ners

STIKes Bhakti Kencana Bandung mencoba meninjau manajerial BPSTW Ciparay sesuai

dengan konsep manajemen sebagai upaya untuk meningkatkan pelayanan melalui

manajemen asuhan dan manajemen unit di BPSTW Ciparay Kabupaten Bandung.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penulisan ini adalah “Bagaimana manajemen di Ruang Rawat

Khusus Balai Perlindungan Sosial Tresna Wredha Ciparay Kabupaten Bandung ?”

1.3 Tujuan Penulisan

1.3.1 Tujuan Umum

Mahasiswa mendapatkan gambaran dan mampu melakukan pengelolaan

manajemen unit pelayanan sosial sesuai dengan tahapan-tahapan manajerial dalam

keperawatan di BPSTW Ciparay Kabupaten Bandung.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Melakukan kajian situasi pelayanan keperawatan di Ruang Rawat Khusus

BPSTW Ciparay Kabupaten Bandung.

2. Mengggambarkan analisa situasi manajemen di Ruang Rawat Khusus BPSTW

Ciparay Kabupaten Bandung

3. Menggambarkan permasalahan yang berkaitan dengan pengelolaan lansia di

Ruang Rawat Khusus BPSTW Ciparay Kabupaten Bandung


4. Membuat perencanaan guna penyelesaian masalah kesehatan di Ruang Rawat

Khusus BPSTW Ciparay Kabupaten Bandung.

5. TAMBAHKAN Commented [i-[1]: MELAKUKAN IMPLEMENTASI


MANAJEMEN PANTI
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Lansia dan Proses Menua

2.1.1 Pengertian

Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-

lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/ mengganti dan

mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi

dan memperbaiki kerusakan yang diderita. Proses penuaan dalam perjalanan hidup

manusia merupakan suatu hal yang wajar, dan ini akan dialami oleh semua orang

yang dikaruniai umur panjang, hanya cepat dan lambatnya proses tersebut berbeda

pada masing- masing individu. (Constantinides, Nugroho dalam Mujahidullah,

2012).

Lansia dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan

manusia. Menurut UU No. 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia disebutkan

bahwa lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun (Dewi, 2014).

Secara biologis penduduk lanjut usia adalah penduduk yang mengalami

proses penuaan secara terus menerus, yang ditandai dengan menurunnya daya tahan

fisik yaitu semakin rentannya terhadap serangan penyakit yang dapat menyebabkan

kematian. Hal ini disebabkan terjadinya perubahan dalam struktur dan fungsi sel,

jaringan, serta sistem organ. Secara ekonomi, penduduk lanjut usia lebih dipandang

sebagai beban daripada sebagai sumber daya. Banyak orang beranggapan bahwa

kehidupan masa tua tidak lagi memberikan banyak manfaat, bahkan ada yang
sampai beranggapan bahwa kehidupan masa tua, seringkali dipersepsikan secara

negatif sebagai beban keluarga dan masyarakat.

2.1.2 Batasan- Batasan Lansia

Menurut Mujahidullah (2012), batasan- batasan lansia terdiri dari:

1. Menurut WHO

a. Usia pertengahan (middle age), kelompok usia 45- 59 tahun

b. Usia lanjut (elderly) antara 60- 70 tahun

c. Usia lanjut tua (old) antara 75- 90 tahun

d. Usia sangat tua (very old) diatas 90 tahun

2. Menurut Undang- Undang RI no.13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut

usia: bahwa usia lanjut adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun

keatas

3. Menurut Dep. Kes RI

Usia lanjut digolongkan menjadi 3 golongan, yaitu:

a. Kelompok lansia dini (55- 64 tahun)

b. Kelompok lansia pertengahan (65 tahun ke atas)

c. Kelompok lansia dengan resiko tinggi (70 tahun ke atas)

4. Menurut Bernice Neu Gardon (1975)

a. Lansia muda, yaitu pada orang yang berumur antara 55- 75 tahun

b. Lansia tua, yaitu orang yang telah berumur lebih dari 75 tahun

5. Menurut Levinson

a. Lansia peralihan awal, antara 50- 55 tahun

b. Lansia peralihan menengah, antara 55- 60 tahun


c. Lansia peralihan akhir, antara 60- 65 tahun

2.1.3 Teori Proses Menua

1. Teori – teori biologi

a. Teori genetik dan mutasi (somatic mutatie theory)

Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik untuk

spesies – spesies tertentu. Menua terjadi sebagai akibat dari perubahan

biokimia yang diprogram oleh molekul– molekul / DNA dan setiap sel

pada saatnya akan mengalami mutasi. Sebagai contoh yang khas adalah

mutasi dari sel – sel kelamin (terjadi penurunan kemampuan fungsional

sel)

b. Pemakaian dan rusak

Kelebihan usaha dan stres menyebabkan sel – sel tubuh lelah (rusak)

c. Reaksi dari kekebalan sendiri (auto immune theory)

Di dalam proses metabolisme tubuh, suatu saat diproduksi suatu zat

khusus. Ada jaringan tubuh tertentu yang tidaktahan terhadap zat tersebut

sehingga jaringan tubuh menjadi lemah dan sakit.

d. Teori “immunology slow virus” (immunology slow virus theory)

Sistem imun menjadi efektif dengan bertambahnya usia dan

masuknya virus kedalam tubuh dapat menyebabkab kerusakan organ

tubuh.

e. Teori stress

Menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa digunakan tubuh.

Regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan kestabilan lingkungan


internal, kelebihan usaha dan stres menyebabkan sel-sel tubuh lelah

terpakai.

f. Teori radikal bebas

Radikal bebas dapat terbentuk dialam bebas, tidak stabilnya radikal

bebas (kelompok atom) mengakibatkan osksidasi oksigen bahan-bahan

organik seperti karbohidrat dan protein. Radikal bebas ini dapat

menyebabkan sel-sel tidak dapat regenerasi.

g. Teori rantai silang

Sel-sel yang tua atau usang, reaksi kimianya menyebabkan ikatan

yang kuat, khususnya jaringan kolagen. Ikatan ini menyebabkan

kurangnya elastis, kekacauan dan hilangnya fungsi.

h. Teori program

Kemampuan organisme untuk menetapkan jumlah sel yang

membelah setelah sel-sel tersebut mati.

2. Teori kejiwaan sosial

a. Aktivitas atau kegiatan (activity theory)

1) Ketentuan akan meningkatnya pada penurunan jumlah kegiatan secara

langsung. Teori ini menyatakan bahwa usia lanjut yang sukses adalah

mereka yang aktif dan ikut banyak dalam kegiatan sosial.

2) Ukuran optimum (pola hidup) dilanjutkan pada cara hidup dari lanjut

usia.

3) Mempertahankan hubungan antara sistem sosial dan individu agar

tetap stabil dari usia pertengahan ke lanjut usia.


b. Kepribadian berlanjut (continuity theory)

Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjut usia.

Teori ini merupakan gabungan dari teori diatas. Pada teori ini menyatakan

bahwa perubahan yang terjadi pada seseorang yang lanjut usia sangat

dipengaruhi oleh tipe personality yang dimiliki.

c. Teori pembebasan (disengagement theory)

Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia, seseorang

secara berangsur-angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya.

Keadaan ini mengakibatkan interaksi sosial lanjut usia menurun, baik

secara kualitas maupun kuantitas sehingga sering terjaadi kehilangan

ganda (triple loss), yakni :

1) Kehilangan peran

2) Hambatan kontak sosial

3) Berkurangnya kontak komitmen

2.1.4 Perubahan- Perubahan Yang Terjadi Pada Lansia

1) Perubahan Fisik

Menurut Dewi (2014), perubahan- perubahan fisik yang terjadi pada lansia

meliputi:

a. Sel

Jumlah lebih sedikit, ukuran lebih besar, mekanisme perbaikan sel

terganggu, menurunnya proporsi protein di otak, otot, ginjal, darah, dan

hati.
b. Sistem Kardiovaskuler

(1) Jantung

Kekuatan otot jantung menurun, katup jantung mengalami

penebalan dan menjadi lebih kaku, nodus sinoatrial menjadi kurang

efektif dalam menjalankan tugasnya dan impuls yang dihasilkan

melemah.

(2) Pembuluh Darah

Dinding arteri menjadi kurang elastis, dinding kapiler menebal

sehingga menyebabkan melambatnya pertukaran antara nutrisi dan zat

sisa metabolisme antara sel dan darah, dinding pembuluh darah yang

semakin kaku akan meningkatkan tekanan darah sistolik maupun

diastolik.

(3) Darah

Volume darah menurun sejalan penurunan volume cairan tubuh

akibat proses menua, aktivitas sumsum tulang mengalami penurunan

sehingga terjadi penurunan jumlah sel darah merah, kadar hematokrit

dan kadar hemoglobin, kontraksi jantung melemah, volume darah

yang dipompa menurun, dan cardiac output mengalami penurunan

sekitar 1% per tahun dari volume cardiac output orang dewasa normal

sebesar 5 liter.

c. Sistem pernapasan

Proses menua memberikan pengaruh minimal terhadap fungsi

respirasi. Perubahan fungsi respirasi akibat proses menua terjadi secara


bertahap sehingga umumnya lansia sudah dapat mengkompensasi

perubahan yang terjadi. Perubahan yang terjadi akibat proses menua

adalah:

(1) Cavum Thorak

Cavum thorak menjadi kaku seiring dengan proses kalsifikasi

kartilago, vertebrae thorakalis mengalami pemendekan, dan

osteoporosis menyebabkan postur bungkuk yang akan menurunkan

ekspansi paru dan membatasi pergerakan thorak.

(2) Otot Bantu Pernapasan

Otot abdomen melemah sehingga menurunkan usaha napas baik

inspirasi maupun ekspirasi.

(3) Perubahan Intrapulmonal

Daya recoil paru semakin menurun seiring pertambahan usia,

alveoli melar dan menjadi lebih tipis, dan walaupun jumlahnya

konstan, jumlah alveoli yang berfungsi menurun secara keseluruhan,

peningkatan ketebalan membran alveoli- kapiler, menurunkan area

permukaan fungsional untuk terjadinya pertukaran gas.

d. Sistem Muskuloskeletal

(1) Struktur Tulang

Penurunan massa tulang menyebabkan tulang menjadi rapuh dan

lemah, columna vertebralis mengalami kompresi sehingga

menyebabkan penurunan tinggi badan.


(2) Kekuatan Otot

Regenerasi jaringan otot berjalan lambat dan massa otot

berkurang, otot lengan dan betis mengecil dan bergelambir, seiring

dengan inaktivitas otot kehilangan fleksibilitas dan ketahanannya.

(3) Sendi

Keterbatasan rentang gerak, kartilago menipis sehingga sendi

menjadi kaku, nyeri dan mengalami inflamasi.

e. Sistem Integumen

(1) Kulit

Elastisitas kulit menurun, kulit menipis sehingga fungsi kulit

sebagai pelindung bagi pembuluh darah yang terletak dibawahnya

berkurang, lemak subkutan menipis, penumpukan melanosit,

menyebabkan terbentuknya pigmentasi yang dikenal sebagai “aged

spot”.

(2) Rambut

Rambut menipis, penurunan melanin sehingga terjadi perubahan

warna rambut.

(3) Kuku

Penurunan aliran darah ke kuku menyebabkan bantalan kuku

menjadi tebal, keras dan rapuh dengan garis longitudinal.

(4) Kelenjar Keringat

Terjadi penurunan ukuran dan jumlah.


f. Sistem Gastrointestinal

(1) Cavum Oris

Penurunan kemampuan mengunyah akibat tanggalnya gigi, lansia

yang mengenakan gigi palsu harus mengecek ketepatan posisinya.

(2) Esofagus

Refleks telan melemah sehingga meningkatkan resiko aspirasi,

melemahnya otot halus sehingga memperlambat waktu pengosongan.

(3) Lambung

Penurunan sekresi asam lambung menyebabkan gangguan

absorpsi besi, vitamin B12 dan protein.

(4) Intestinum

Peristaltik menurun, menyebabkan inkompetensi pengosongan

bowel.

g. Sistem Genitourinaria

(1) Fungsi Ginjal

Aliran darah ke ginjal menurun karena penurunan cardiac output

dan laju filtrasi glomerulus menurun, terjadi gangguan dalam

kemampuan mengkonsentrasikan urine.

(2) Kandung Kemih

Tonus otot mengilang dan terjadi gangguan pengosongan

kandung kemih, penurunan kapasitas kandung kemih. Pada pria, dapat

terjadi peningkatan frekuensi miksi akibat pembesaran prostat


sedangkan pada wanita, peningkatan frekuensi miksi dapat terjadi

akibat melemahnya otot perineal

(3) Reproduksi

Pada wanita terjadi vulva atrofi, penurunan jumlah rambut pubis,

ekresi vaginal menurun, dinding vagina menjadi tipis dan kurang

elastis. Pada pria ukuran testis mengecil, ukuran prostat membesar.

h. Sistem persyarafan

Terjadi penurunan jumlah neuron diotak dan batang otak, sintesa

metabolisme neuron berkurang, massa otak berkurang secara progresif,

sensasi kinesitik berkurang, gangguan keseimbangan, penurunan reaction

time. Dapat terjadi insomnia dan mudah terbangun di malam hari, tidur

dalam dan tidur REM berkurang.

i. Sistem Sensori

(1) Penglihatan

Penurunan kemampuan memfokuskan objek dekat, terjadi

peningkatan densitas lensa, dan akumulasi lemak di sekitar iris,

menimbulkan adanya cincin kuning keabu- abuan, produksi air mata

menurun, penurunan ukuran pupil dan penurunan sensitivitas pada

cahaya, kemampuan melihat dimalam hari menurun, iris kehilangan

pigmen sehingga bola mata berwarna biru muda atau keabu- abuan.

(2) Pendengaran

Penurunan kemampuan untuk mendengarkan suara berfrekuensi

tinggi, serumen mengandung banyak keratin sehingga mengeras.


(3) Perasa

Penurunan kemampuan untuk merasakan rasa pahit, asin, dan

asam.

(4) Peraba

Penurunan kemampuan untuk merasakan nyeri ringan dan

perubahan suhu

2) Perubahan Psikososial

Kehilangan finansial (income berkurang), kehilangan status, kehilangan

teman/ kenalan/ relasi, kehilangan pekerjaan/ kegiatan, merasakan atau sadar

akan kematian (sense of awareness of mortality), perubahan dalam hidup, yaitu

memasuki rumah perawatan, bergerak lebih sempit, ekonomi akibat

pemberhentian dari jabatan. Meningkatnya biaya hidup pada penghasilan yang

sulit, bertambahnya biaya pengobatan, penyakit kronis dan ketidakmampuan,

gangguan saraf panca indra, timbul kebutaan dan ketulian, gangguan gizi

akibat kehilangan jabatan, rangkaian dari kehilangan, yaitu kehilangan

hubungan dengan teman- teman dan keluarga besar, hilangnya kekuatan dan

ketegapan fisik, perubahan terhadap gambaran diri, perubahan konsep diri

(Nugroho dalam Mujahidullah, 2012).

3) Perubahan Spiritual

1. Agama atau kepercayaan makin terintegrasi dalam kehidupannya

2. Lansia makin teratur dalam kehidupan keagamaannya, hal ini terlihat

dalam berpikir dan bertindak sehari- hari


3. Perkembangan spiritual pada usia 70 tahun adalah universalizing,

perkembangan yang dicapai pada tingkat ini adalah berfikir dan bertindak

dengan cara memberikan contoh cara mencintai dan keadilan (Nugroho

dalam Mujahidullah, 2012).

4) Perubahan Mental

Akibat proses penuaan, terjadi kemunduran kemampuan otak. Diantara

kemampuan yang menurun secara linier atau seiring dengan proses penuaan

adalah intelegentia Quantion (IQ) dan ingatan (memori) (Nugroho dalam

Mujahidullah, 2012).

2.1.5 Karakteristik Lansia

Beberapa karakteristik lansia yang perlu diketahui untuk mengetahui

keberadaan masalah kesehatan lansia adalah:

1. Jenis Kelamin

Lansia lebih banyak pada wanita. Terdapat perbedaan kebutuhan dan

masalah kesehatan yang berbeda antara lansia laki-laki dan perempuan.

Misalnya lansia laki-laki sibuk dengan hipertropi prostat, maka perempuan

mungkin menghadapi osteoporosis.

2. Status Perkawinan

Status masih pasangan lengkap atau sudah hidup janda atau duda akan

mempengaruhi keadaan kesehatan lansia baik fisik maupun psikologis.

3. Living Arrangement

Misalnya keadaan pasangan, tinggal sendiri atau bersama instri, anak atau

kekuarga lainnya.
4. Tanggungan Keluarga

Masih menangung anak atau anggota keluarga.

5. Tempat Tinggal

Rumah sendiri, tinggal bersama anak. Dengan ini kebanyakan lansia masih

hidup sebagai bagian keluarganya, baik lansia sebagai kepala keluarga atau

bagian dari keluarga anaknya. Namun akan cenderung bahwa lansia akan di

tinggalkan oleh keturunannya dalam rumah yang berbeda. Menurut Darmawan

mengungkapkan ada 5 tipe kepribadian lansia yang perlu kita ketahui, yaitu:

tipe konstruktif (constructive personality), tipe mandiri (independent

personality), tipe tergantung (hostilty personality) dan tipe kritik diri (self hate

personality).

6. Kondisi Kesehatan

a. Kondisi umum: Kemampuan umum untuk tidak tergantung kepada orang

lain dalam kegiatan sehari-hari seperti mandi, buang air besar dan kecil.

b. Frekuensi sakit: Frekuensi sakit yang tinggi menyebabkan menjadi tidak

produktif lagi bahkan mulai tergantung kepada orang lain.

7. Keadaan Ekonomi

a. Sumber pendapatan resmi: Pensiunan ditambah sumber pendapatan lain

kalau masih bisa aktif.

b. Sumber pendapatan keluarga: Ada bahkan tidaknya bantuan keuangan dari

anak atau keluarga lainnya atau bahkan masih ada anggota keluarga yang

tergantung padanya.
c. Kemampuan pendapatan: Lansia memerlukan biaya yang lebih tinggi,

sementara pendapatan semakin menurun. Status ekonomi

sangat terancam, sehinga cukup beralasan untuk melakukann berbagai

perubahan besar dalam kehidupan, menentukan kondisi hidup yang dengan

perubahan status ekonomi dan kondisi fisik

2.1.6 Penyakit Yang Sering Dijumpai Pada Lansia

Menurut Nugroho (2008), ada empat penyakit yang sangat erat hubungannya

dengan proses menua, yaitu penyakit gangguan sirkulasi darah, penyakit gangguan

metabolisme hormonal, penyakit gangguan persendian, dan berbagai macam

neoplasma. Penyakit gangguan sirkulasi darah, seperti hipertensi, kelainan

pembuluh darah, dan gangguan pembuluh darah di otak/ koroner, ginjal. Kemudian

penyakit gangguan metabolisme hormonal, seperti DM, klimakterium, dan

ketidakseimbangan tiroid. Selanjutnya penyakit persendian seperti osteoartritis.

Terakhir, berbagai macam neoplasma.

Menurut Undang- Undang No.13 Tahun 1998 tentang lansia, menyebutkan

bahwa penyakit umum pada lansia adalah penyakit saluran pernapasan,

kardiovaskuler, penyakit pencernaan makanan, urogenital, penyakit metabolik/

endokrin, penyakit pada persendian tulang, penyakit karena keganasan serta faktor-

faktor luar yang mempercepat timbulnya penyakit (makanan, kebiasaan hidup yang

salah, infeksi, trauma (Sunaryo dkk, 2015).


2.2 Konsep Panti Werdha

a. Definisi

Panti Werdha atau yang dikenal dengan Panti Sosial Tresna Werdha merupakan

tempat pelayanan sosial bagi orang lansia dan termasuk kedalam foster care. Menurut

Armando Morales di dalam Budhi Wibhawa dkk (2010) foster care merupakan

pelayanan yang bersifat tidak permanen, sehingga masih dimungkinkan untuk

berhubungan dengan keluarga aslinya. Dilihat dari strategi pelayanan sosial, maka

panti werdha termasuk ke dalam institutional based services, yaitu dalam pelayanan ini

individu yang mengalami masalah ditempatkan dalam lembaga pelayanan sosial.

(Budhi Wibhawa dkk, 2010).

Panti Werdha menurut Departemen Sosial Republik Indonesia adalah suatu

tempat untuk menampung lansia dan jompo terlantar dengan memberikan pelayanan

sehingga mereka merasa aman, tentram dengan tiada perasaan gelisah maupun

khawatir dalam menghadapi usia tua.

b. Tujuan Panti Werdha

Pendirian panti werdha sebagai suatu sarana pelayanan kesejahteraan sosial bagi

lansia yang terlantar. Kehadiran panti werdha membantu para lansia untuk

mempertahankan kepribadiannya, memberikan jaminan kehidupan secara wajar baik

secara fisik maupun psikologis. Sesuai dengan permasalahan lansia, pada umumnya

penyelenggaraan panti werdha mempunyai tujuan antara lain agar terpenuhi kebutuhan

hidup lansia, agar dihari tuanya dalam keadaan tentram lahir dan batin, dapat menjalani

proses penuaannya dengan sehat dan mandiri. (Departemen Sosial RI, Petunjuk

Pelaksanaan Panti Sosial Tresna Wredha Percontohan, Jakarta, 1997)


c. Fungsi Panti Werdha

Secara umum, panti werdha mempunyai fungsi sebagai pusat pelayanan

kesejahteraan lansia (dalam memenuhi kebutuhan pokok lansia), menyediakan suatu

wadah berupa kompleks bangunan dan memberikan kesempatan pula bagi lansia

melakukan aktivitas-aktivitas sosial rekreasi, bertujuan membuat lansia dapat menjalani

proses penuaannya dengan sehat dan mandiri. Sedangkan tugas panti werdha adalah

memberikan pelayanan kesejahteraan sosial dan rehabilitasi sosial bagi penyandang

masalah kesejahteraan sosial sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang

berlaku.

d. Jenis Pelayanan

1) Pelayanan Dalam Panti

Pelayanan dalam Panti Sosial Tresna Werdha meliputi pemberian pangan,

sandang, papan, pemeliharaan kesehatan, dan pelayanan bimbingan mental

keagamaaan, serta pengisian waktu luang termasuk didalamnya rekreasi, olahraga

dan keterampilan.

2) Pelayanan di Luar Panti

Pelayanan di luar panti para lansia tetap berada di lingkungan

keluarganya dengan diberikan bantuan makanan dan pemberdayaan di Bidang

Usaha Ekonomis Produktif (UEP) melalui pendekatan kelembagaan sebagai

investasi sosial dan merupakan bantuan yang diberikan kepada lansia potensial

yang kurang mampu.


2.3 Konsep Manajemen

2.3.1 Manajemen

Manajemen merupakan sebuah subyek yang sangat penting kerena ia

mempersoalkan usaha penetapan serta pencapaian sasaran-sasaran. Alat pokok kita,

yang bukan saja ditujukan untuk mengidentifikasi, menganalisa dan menetapkan

tujuan-tujuan yang harus dicapai tetapi juga untuk mengkombinasi secara efektif

bakat orang-orang dan mendayagunakan sumber-sumber materil adalah

manajemen. manajemen terdapat pada hampir semua aktivitas manusia, begitu pula

hingga tingkat tertentu manajemen terdapat didalam Pabrik, Kantor, Sekolah, Bank,

Toko, Serikat Buruh, Motel, Gereja, Angkatan bersenjata, Rumah sakit atau di

Rumah (Trisnawati, 2005).

Secara sederhana, manajemen adalah upaya mengatur dan mengarahkan

berbagai sumber daya, mencakup manusia (man), uang (money), barang (material),

mesin (mechine), metode (method) dan pasar (market). Namun secara khusus

definisi manajemen, seperti yang dikedepankan oleh G.R. Terry dalam bukunya

principles of management, adalah “management is a distinct process of planning,

organizing, actuating and controlling, perform to determine and accomplish stated

objectives by the use of human beings and other resources (Terry, 1972).

2.3.2 Fungsi Manajemen

Fungsi-fungsi manajemen adalah serangkaian kegiatan yang dijalankan dalam

manajemen berdasarkan fungsinya masing-masing dan mengikuti satu tahapan-

tahapan tertentu dalam pelaksanaannya. Fungsi-fungsi manajemen, sebagaimana

diterangkan oleh Nickels, McHugh and McHugh, terdiri dari empat fungsi, yaitu :
1. Perencanaan atau Planning, yaitu proses yang menyangkut upaya yang

dilakukan untuk mengantisipasi kecenderungan di masa yang akan datang dan

penentuan strategi dan taktik yang tepat untuk mewujudkan target dan tujuan

organisasi. Di antara kecenderungan dunia bisnis sekarang, misalnya,

bagaimana merencanakan bisnis yang ramah lingkungan, bagaimana

merancang organisasi bisnis yang mampu bersaing dalam persaingan global,

dan lain sebagainya.

2. Pengorganisasian atau Organizing, yaitu proses yang menyangkut

bagaimana strategi dan taktik yang telah dirumuskan dalam perencanaan

didesain dalam sebuah struktur organisasi yang cepat dan tangguh, sistem dan

lingkungan organisasi yang kondusif, dan bisa memastikan bahwa semua pihak

dalam organisasi bisa bekerja secara efektif dan efisien guna pencapaian

tujuan organisasi.

3. Pengimplementasian atau Directing, yaitu proses implementasi program agar

bisa dijalankan oleh seluruh pihak dalam organisasi serta proses

memotivasi agar semua pihak tersebut dapat menjalankan tanggung jawabnya

dengan penuh kesadaran dan produktivitas yang tinggi.

4. Pengendalian dan Pengawasan arau Controlling, yaitu proses yang

dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan yang telah

direncanakan, diorganisasikan, dan diimplementasikan bisa berjalan sesuai

dengan target yang diharapkan sekalipun berbagai perubahan terjadi dalam

lingkungan dunia bisnis yang dihadapi.


Adapun secara sederhana fungsi-fungsi manajemen yang sering digunakan yaitu:

Gambar diatas menerangkan bahwa fungsi-fungsi manajemen diperlukan agar

seluruh sumber daya organisasi dapat dikelola dan dipergunakan secara efektif dan

efisien sehingga tujuan organisasi dapat tercapai.

1. Perencanaan (Planning)

Perencanaan merupakan fungsi paling awal yang merupakan pedoman

kearah mana tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Dengan perencanaan ini

dapat dikurangi ketidakpastian, lebih bisa mengarahkan perhatian pada tujuan

dan lebih memudahakan dalam pengawasan.

Harold Koontz/Cyril O’Donnel menganggap bahwa rencana-rencana

merupakan landasan bagi manajemen, dan untuk menerangkan pernyataan

tersebut.
Dalam perencanaan ini (Planning) termasuk menentukan tujuan, strategi

yang akan digunakan dan mengembangkan perencanaan tersebut untuk

koordinasi kegiatan. (Stephen P. Robbins).

2. Pengorganisasian (Organizing)

Apabila serangkaian kegiatan telah disusun dalam rangka mencapai

tujuan organisasi, maka untuk pelaksanaan atau implementasi kegiatan tersebut

harus diorganisasikan.

Pengorganisasian adalah seluruh proses pengelompokkan orang-orang,

alat- alat, tugas-tugas, tanggung jawab dan wewenang sedemikian rupa


sehingga tercipta suatu organisasi yang dapat digerakkan sebagai suatu

kesatuan dalam rangka mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan.

Definisi tersebut menunjukkan bahwa pengorganisasian merupakan

langkah pertama kearah pelaksanaan rencana yang telah tersusun sebelumnya.

Dengan demikian adalah suatu hal yang logis pula apabila pengorganisasian

dalam sebuah kegiatan akan menghasilkan sebuah organisasi yang dapat

digerakkan sebagai suatu kesatuan yang kuat.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar diperoleh bentuk struktur

organisasi yang efisien, yaitu:

a) Adanya spesialisasi dan pembagian pekerjaan

b) Adanya pendelegasian wewenang yang jelas

c) Adanya rentang kendali yang sesuai dengan kemampuan supervise

seseorang

d) Adanya proses pendelegasian dan pengintegrasian

e) Adanya unsur lini dan staff

3. Menggerakkan (Actuatting)

Actuating berhubungan dengan aktivitas mempengaruhi orang-orang

untuk melaksanakan usaha-usaha kearah pencapaian sasaran-sasaran tertentu.

Hal tersebut kiranya juga terungkap dalam definisi yang dikemukakan oleh

G.R Terry “Actuating is getting all the members of the group to want to

achieve and strive to achieve mutual objectives because they want to achieve

them”.
Tindakan perencanaan serta pengorganisasian belumlah akan

memberikan hasil nyata, sebelum melaksanakan aktivitas-aktivitas yang

berhubungan dengannya.

4. Pengawasan (Controlling)

Ada macam-macam fungsi manajemen diantaranya Controlling yang

menduduki kedudukan penting. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa

proses manajemen diselesaikan apabila pengawasan telah dilaksanakan.

Pengawasan berhubungan dengan persoalan-persoalan sebagai berikut:

a. Membandingkan kejadian-kejadian dengan rencana-rencana yang

sebelumnya dibuat.

b. Mengadakan koreksi-koreksi yang perlu dilakukan apabila kejadian-

kejadian dalam kenyataan ternyata menyimpang dari rencana-rencana.

c. Maka pengawasan dapat dinyatakan sebagai proses, dimana pihak

manajemen melihat apakah yang telah terjadi sesuai dengan apa yang

seharusnya terjadi. Apabila tidak demikian halnya maka diadakan

penyesuaian-penyesuaian yang perlu dilakukan.

Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalm fungsi pengawasan

(Controlling) yaitu:

a. Mengevaluasi keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan target

bisnis sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan.

b. Mengambil langkah klarifikasi dan koreksi atas penyimpangan yang

mungkin ditemukan.
c. Melakukan berbagai alternatif solusi atas berbagai masalah yang terkait

dengan pencapaian tujuan target bisnis.

Adapun fungsi operasional dari Manajemen, diantaranya: Manajemen sumber

daya manusia, manajemen produksi, manajemen pemasaran dan

manajemen keuangan.

TAMBAHKAN TEORI/ MATERI TENTANG 6 M Commented [i-[2]: TEORI 6 M


BAB III

KAJIAN SITUASI

3.1 Analisis BPSTW Ciparay Kabupaten Bandung

(VISI MISI DAN ORGANIGRAM GLOBAL GA USAH DIMASUKKAN,

LANGSUNG SAJA BUAT TABEL 6 M) YANG DAFTAR NAMA LANSIA ITU

DIBUAT LAMPIRAN SAJA…YG DIMASUKIN DI TABEL DI MAN HASIL

TABULASI KESELURUHAN,

CONTOH :

LANSIA

DARI 48 LANSIA,

KARTZ INDEK A 24, KARTZ INDEK B 24,

RESIKO JATUH RENDAH 20, RESIKO JATUH SEDANG 12, RESIKO JATUH

TINGGI 16

DAN SETERUSNYA

PERAWAT DI RKK

PERAWAT : 4 ORANG

GIZI : 4 ORANG

PEKSOS : 4 ORG

DAN LAINNYA
1. Visi dan Misi

a. Visi

Terwujudnya pelayanan kesejahteraan lanjut usia yang prima, mandiri,

berkualitas, dan dinamis di BPSTW, serta terpeliharanya taman makam pahlawan

Cikutra Bandung tahun 2013

b. Misi

1) Meningkatkan profesionalitas sumber daya manusia

2) Meningkatkan sarana prasarana pelayanan lanjut usia dan pemeliharaan

taman makam pahlawan

3) Meningkatkan koordinasi dengan instansi terkait serta partisipasi sosial

masyarakat

4) Meningkatkan sistem pelayanan perlindungan, dan pemberdayaan lanjut

usia, serta melestarikan nilai-nilai kepahlawanan

5) Meningkatkan sistem informasi

2. Sifat Kekaryaan

Adapun sifat kekaryaan BPSTW selama dilakukan kajian situasi adalah sebagai

berikut:

a. Analisis Unit Layanan Lansia

1) Manusia (Man)

Jumlah pegawai yang bekerja di BPSTW Ciparay sebanyak 58 pegawai

No Bagian PNS Non PNS


1 Kepala BPSTW 1

2 Sub. Bag Tata Usaha 6

3 Seksi Penerimaan dan Penyaluran 4

4 Seksi Pelayanan Kesejahteraan Sosial 3

5 Kelompok Jabatan Fungsional 5

6 Pramuwerdha 14

7 Juru masak 5

8 Tenaga Kebersihan 5

9 Tenaga keamanan 4

10 Paramedis 1

11 Perawat 4

12 Ahli Gizi 1

13 Penjaga Makam 1

14 Tenaga Teknis 5

15 Instruktur Olahraga 1

Dengan jumlah tenaga non PNS lebih banyak dibanding dengan PNS namun

tetap tidak ada penurunan dalam motivasi kerja sehingga kondisi lingkungan kerja

tetap kondusif.

Untuk kegiatan di ruang rawat khusus sendiri meliputi makan, mandi, tidur

dan pemeriksaan kesehatan. Dimana pada kegiatan makan terdapat 1 konsultan

gizi yang bertugas untuk membuat menu makanan untuk para lansia di wisma

maupun di ruang rawat khusus, 3 pramuwerdha yang bertugas untuk


mengantarkan makanan dan membantu lansia untuk makan dan juga 3

pramuwerdha ini bertugas juga untuk membantu lansia untuk mandi dalam satu

shift. Pramuwerdha yang membantu di ruang rawat khusus semuanya berjumlah

6. Untuk kegiatan pemeriksaan kesehatan sendiri terdapat 1 dokter dan 4 perawat.

Dalam satu shift terdapat 3 perawat yang akan bergantian untuk bertugas di ruang

rawat khusus.
b. Struktur Organisasi

KEPALA
ADANG SURAHMIN, A.KS., MM

SUBBAGIAN TATA USAHA


Dra. Hj. LIA JULIA, M.M

Endang Sopandi
Abdul Rahan, S.Pdi
Endang Supanhur
Asep Iwan
W. Asmanah

SEKSI PENERIMAAN DAN SEKSI PELAYANAN


PENYALURAN KESEJAHTERAAN SOSIAL
Drs. AEP SAFARI Drs. H.M. HAFIED FASYA, M.MPd

Kokom Komariah
Eneng Dewi, Amd.Kep., S.KM
Herman Suherman
Yuni Fridayani, AMK
Dianto Holid

KELOMPOK JABATAN
FUNGSIONAL PERAWAT

Dra. Yayat Muhyati Beti,.Amd,.kep


Siti Nurjannah Ihsan
Dedi Kusnadi Reza
Plenti
Siti
Delimami

PRAMUWERDHA

Adang
Ade
Dedeh
Cucu
Sunardi
Sunaryo
Katz Barthel
No Nama JK Keluhan Utama SPSMQ MMSE Keseimbangan
Index Index
1 Asowarjoyo L Kaku pada ekstremitas kanan F 105 6 18 15

2 Mur L Kaku pada ekstremitas bawah F 105 10 4 5

3 Iyus L Gatal diseluruh tubuh F 85 5 15 7

4 Momo L Tidak ada keluhan F 85 10 10 14

5 Ipik L Nyeri Sendi G 60 8 15 14

6 Joni L Gatal diseluruh tubuh G 60 4 24 15

7 Yusuf L Kelemahan tangan kiri E 75 10 22 14

8 Apan L kaki dan tangan kanan tidak bisa digerakan F 110 7 15 10

9 Misa L Tidak ada keluhan F 65 9 16 10

10 Yanto L kaki dan tangan kanan tidak bisa digerakan E 110 5 15 13

11 Nana L gatal di tangan D 60 7 12 8

12 Koko L Pusing C 70 6 23 7

13 Gugun L Gatal E 110 9 9 6

14 Jajang L Gatal pada tangan dan seluruh tubuh F 70 6 17 13


15 Muchtar L Gatal pada tangan F 75 6 15 14

16 Rudi L Gatal diseluruh tubuh ISOLASI

17 Enung P Tidak ada keluhan A 75 10 19 5

18 Irah P Tidak ada keluhan B 130 7 18 5

19 Yanti P Tidak ada keluhan A 75 8 11 5

20 Esin P Tidak ada keluhan G 50 8 9 14

21 Oyoh P Tidak ada keluhan G 45 5 15 15

22 Atikah P Tidak ada keluhan B 100 9 17 4

23 Ipoh P Tidak ada keluhan B 100 9 16 4

24 Kokom P nyeri pada ektremitas kiri dan deformitas tulang G 75 7 24 12

25 Yoyoh P Nyeri Tidak ada keluhan F 75 3 24 14

26 Euis P Gatal G 55 9 17 13

27 Ade Nemah P Tidak ada keluhan G 55 9 17 13

28 Eti P Tidak ada keluhan G 55 9 17 13

29 Epon P Pusing G 55 7 20 13

30 Mamah P Kaki lemah sulit berjalan F 85 9 19 14


31 Isye P Pusing A 95 8 18 4

32 Rohyati P Tidak ada keluhan C 95 8 22 6

33 Enas P Tidak ada keluhan D 75 9 17 7

34 Elawati P Tidak ada keluhan F 85 9 17 11

35 Inoh P Tidak ada keluhan G 100 9 17 14

36 Tarmidah P Tidak ada keluhan G 100 9 17 14

37 Irma P Tidak ada keluhan G 100 5 20 10

38 Itoh P Tidak ada keluhan G 100 5 20 14

39 Hadmi P Tidak ada keluhan F 65 9 17 14

40 Lela P Tidak ada keluhan F 65 9 17 14

41 Imas P Tidak ada keluhan G 60 10 16 14

42 Enok P Tidak ada keluhan F 60 9 16 14

43 Ecin P Tidak ada keluhan F 65 9 16 14

44 Entang P Tidak ada keluhan F 65 9 16 14

45 Iim F P Tidak ada keluhan C 95 8 22 6

Commented [i-[3]: TIDAK USAH MASUK


2) Money

Anggaran pemasukan dari APBD Provinsi Jawa Barat, Pengeluaran

diakumulasikan secara global / keseluruhan dan tidak secara khusus, dengan

rincian:

a. Gaji pegawai dan perawat di RRK Rp. 2.750.000,- / bulan sesuai dengan

UMK (Upah Minimum Kabupaten / Kota) dipotong BPJS dan

ketenagakerjaan

b. Biaya pengeluaran pempers selama 1 bulan kurang lebih Rp. 10.000.000,-

c. Biaya obat-obatan selama 1 bulan Rp. 5.000.000,-

1) Pencairan dana dari APBD tidak ada kendala karena berjalan sesuai

prosedur. Pada awal tahun adanya pengecekan kembali arsip pemasukan

dan pengeluaran selama satu tahun.

2) Perawat tidak ikut berperan dalam pengaturan keuangan atau anggaran

hanya merinci kebutuhan kesehatan seperti obat-obatan. Dalam hal ini

yang berperan dalam pengaturan keuangan atau anggaran adalah

bendahara.

3) Anggaran dari APBD dinilai kurang mencukupi kebutuhan di BPSTW

4) Donator yang menyumbang hanya berupa makanan dan barang tidak

berupa uang.

5) Pegawai pramuwerda merasa cukup dengan gaji yang diberikan oleh

panti.
3) Marketing

Pihak BPSTW mengadakan program sosialisasi dengan mengadakan

acara tiap tahunnya yang diundang yaitu masyarakat sekitar dan perwakilan

dari kepala daerah, LSM dan lain-lain berupa workshop. Pihak BPSTW juga

mengadakan program family support yang diadakan pada tiap 1 tahun sekali

untuk menunjang dan meningkatkan mutu lansia RRK dari segi keluarga.

Untuk pemasaran masih secara umum dan menyatu dengan wisma-wisma,

namun untuk RRK sendiri memiliki kriteria khusus yaitu lansia yang memang

memiliki ketergantungan total. BPSTW belum mempunyai dokter khusus bagi

RRK. Pihak BPSTW menjalin kerjasama dengan RS Al-Ihsan, lansia-lansia

yang menunjukkan penurunan kondisi kesehatan langsung dirujuk kesana.

BPSTW Ciparay memiliki website tersendiri yaitu bpstw.dissos.jabarprov.go.id

sebagai sarana informasi mengenai BPSTW Ciparay, tetapi website tersebut

tidak dapat diakses. Terakhir diakses pada Bulan November 2017 dan sampai

akhirnya website tersebut diblokir dan disatukan secara umum di website

dissos.jabarprov.go.id.

4) Machine

Alat alat kesehatan yang dimilki oleh Ruang rawat khusus adalah

sebagai berikut : terdapat Spygnomanometer 2 (Air raksa, digital), Stetoskop 3,

Tabung oksigen 4, suction 1, EKG 1 namun untuk spygmomanometer digital

dan EKG tidak dapat digunakan.


5) Methode

1. Alur penerimaan RRK

a. Klien baru datang dilakukuan pengkajian meliputi KATZ indeks, Barthel

indeks, SPSMQ, MMSE, jika hasil nilai tersebut dibawah rata-rata maka

klien di tempatkan di RRK.

b. Klien dari wisma yang mengalami penurunan kesehatan, KATZ indeks,

Barthel indeks, SPSMQ, MMSE akan dipindahkan dari wisma ke RRK.

c. Klien yang mengalami peningkatan dan perbaikan nilai kesehatan, KATZ

indeks, Barthel indeks, SPSMQ, MMSE di RRK akan dipindahkan ke

wisma.

2. Alur Kegiatan sehari-hari RRK

1. Kegiatan Makan

a. Menu makanan diatur oleh ahli gizi di masak di dapur umum

kemudian dibawa oleh pramuwerdha ke RRK dan dibagikan ke setiap

lansia. Lansia yang dapat makan sendiri berjumlah 26 orang, jika ada

lansia yang tidak bisa makan sendiri maka disuapi oleh pramuwerdha

adapun jumlah lansia yang tidak bisa makan sendiri berjumlah 3

orang.

b. Sedangkan lansia di RRK laki-laki yang dapat makan sendiri

berjumlah 15 orang dan yang perlu bantuan untuk makan berjumlah 1

orang.
2. Kegiatan Mandi

a. Mandi dilaksanakan setiap hari sebanyak 1kali sehari pada pukul

05.30, lansia yang bisa mandi sendiri didahulukan. Jumlah lansia yang

mandiri yaitu 7orang dan lansia yang memerlukanbantuan untuk

mandi berjumlah 22 orang dimandikan oleh pramuwerda yang

berjumlah 2 orang. Lansia yang akan dimandikan dipindahkan oleh

pramuwerda dari bed ke kursi roda lalu dibawa ke kamar mandi.

Dimandikan menggunakan sabun batang yang sama untuk semua

lansia dan dikeramas menggunakan shampo setelah bersih lansia

dibawa kembali ke bed dan dikeringkan menggunakan handuk setelah

itu dikenakan pakaian bersih.

b. Sedangkan di RRK laki-laki mandi dilaksanakan setiap hari sebanyak

1kali sehari tetapi khusus untuk lansia yang menggunakan pampers

dan BAB dimandikan sebanyak 2kali sehari. RRK Laki-laki semua

lansia yang berjumlah 16 orang dimandikan oleh pramuwerdha yang

berjumlah 1 orang. Lansia yang akan dimandikan dipindahkan oleh

pramuwerda dari bed ke kursi roda lalu dibawa ke kamar mandi

kemudian dibuka pakaiannya. Dimandikan menggunakan sabun cair

dan dikeramas menggunakan shampo setelah bersih lansia dibawa

kembali ke bed dan dikeringkan menggunakan handuk setelah itu

dikenakan pakaian bersih.


3. Alur kunjungan lansia

Keluarga lansia yang akan mengunjungi lansia yang ada di RRK

wajib melapor terlebih dahulu ke petugas keamanan dan jika sudah dapat

perijinan akan di antarkan ke ruangan RRK.

4. Alur rujukan ke RS

Lansia yang sakit di ruang RRK maka perawat akan menangani dan

dikonsultasikan ke dokter, jika sudah tidak bisa di tangani di poli klinik

RRK akan di rujuk ke RSUD Al-Ihsan atau RSHS Bandung dengan

membawa surat rujukan dari kepala dinas sosial.

5. Alur pemulangan jenazah

Lansia yang meninggal di RRK akan di urus oleh pihak panti dan di

kembalikan ke keluarga, namun jika keluarga menyerahkan ke pihak panti

maka akan di kebumikan di tempat pemakaman panti.

a. Pemenuhan Kebutuhan Pokok

Pemberian makan 3 kali sehari yang disediakan oleh pihak panti, jika ada

lansia yang tidak bisa makan sendiri maka akan di fasilitasi oleh

pramuwerhda, setiap jadwal makan selesai pramuwerdha akan

mengobservasi sisa makanan lansia, jika ada porsi makan lansia yang

tidak habis maka pramuwerdha akan melaporkannya ke ahli gizi.

Kebutuhan sandang juga difasilitasi oleh panti diantaranya; pakaian

harian, kebutuhan ibadah, pampers, dan pakaian hari raya.

b. Pemenuhan Kebutuhan Aksesibilitas Sarana dan Prasarana

Pemenuhan kebutuhan aksesibilitas sarana dan prasarana dilaksanakan


melalui pemberian fasilitas di RRK klien yang di dalam nya terdiri dari

tempat tidur yang di tempati oleh 1 sampai 2 lansia.

c. Pemenuhan Kebutuhan Kesehatan

Pelayanan diberikan bagi lansia yang sudah memasuki masa udzur/ bed

rest. Kegiatan yang dilaksanakan berbentuk (1) Pendampingan aktivitas

harian (ADL) (2) Pemeliharaan kebersihan lingkungan ruangan dan

tempat tidur klien, sehingga memberikan rasa nyaman bagi klien (3)

Pemberian terapi motorik (ROM) untuk mencegah kekakuan otot pada

klien. Perawat setiap hari akan pengecekan kesehatan lansia dengan

mengukur tanda-tanda vital dan mengkaji keluhan yang dirasakan oleh

lansia. Personal hygiene yang dilakukan meliputi mandi, keramas,

mengganti pakaian dilakukan setiap hari oleh pramuwerdha, sedangkan

gunting kuku, gunting rambut dilakukan satu minggu sekali untuk rambut

yang sudah panjang.

d. Pemenuhan Kebutuhan Fisik, Sosial, Mental, dan Spiritual

Pelayanan ini bertujuan untuk memupuk dan meningkatkan rasa

keimananan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Pemberian

bimbingan mental ini berupa penyediaan sarana dan prasarana ibadah,

pengajian, bimbingan shalat.

1. Perlindungan

Diberikan dalam bentuk upaya untuk menciptakan lingkungan yang

aman dan nyaman kepada lanjut usia.


2. Sosialisasi dan koordinasi

Koordinasi dalam bentuk kerjasama dengan puskesmas, rumah sakit,

dll.

6) Material

a. Material RRK laki-laki

No Nama barang Jumlah Commented [i-[4]: KELOMPOKAN DENGAN AKTIVITAS/


KEGIATAN CONTOH : MANDI : SHAMPO, HANDUK, SABUN
DLL
1 Jendela 8 buah MAKAN : PIRING SENG, SENDOK DLL

2 Pewangi ruangan 2 buah

3 Handscrub 1 buah

4 Penerangan lampu 6 buah

5 Tempat tidur 16 buah

6 Dispenser dan galon 1 buah

7 Lemari 1 buah

8 Sprei 16 buah

9 Sabun cair 1 buah

10 Sampo 1 buah

11 Bantal 9 buah

12 Sendok 2 buah

13 Baju 64 buah

14 Pintu 2 buah

15 Sarung 32 buah

16 Handuk 10 buah

17 Pempers 14 buah/hari
18 Cangkir 16 buah

19 Pintu 2 buah

20 Kursi roda 3 buah

21 Tandu 1 buah

22 Ember 4 buah

23 Tong sampah 2 buah

24 Pispot 2 buah

b. Material RRK perempuan

No Nama barang Jumlah

1 Selimut 11 buah

2 Bantal 23 buah

3 Kasur/bed 29 buah

4 Sprei 30 buah

5 Gayung 1 buah

6 Ember 1 buah

7 Baju 116 stel

8 Tv 2 buah

9 Jam dinding 2 buah

10 Cangkir 15 buah

11 Pintu 3 buah

12 Kursi roda 3 buah

16 Sendok 5 buah
18 Sabun batang 1 buah

20 Sampo 1 buah

22 Galon 2 buah

23 Keranda 2 buah

24 Tiang infus 16 buah

25 Timbangan 1 Buah

c. Fasilitas di ruang perawat

No Nama barang Jumlah

1 Lemari 3 buah

2 Tv 1 buah

3 Tabung oksigen 5 buah

4 Pewangi ruangan 2 buah

5 Alat pel 1 buah

6 Kasur 1 buah

7 Meja 1 buah

8 Kursi 1 buah

9 Jam dinding 2 buah

10 Tong sampah 1 buah


BAB III

KAJIAN SITUASI Commented [i-[5]: DOUBLE DG DIATAS

3.1 Analisis BPSTW Dan PTMP

3.1.1 Visi dan Misi

1) Visi

Terwujudnya pelayanan kesejahteraan lanjut usia yang prima, mandiri,

berkualitas, dan dinamis di BPSTW, serta terpeliharanya taman makam

pahlawan Cikutra Bandung tahun 2013

2) Misi

1. Meningkatkan profesionalitas sumber daya manusia

2. Meningkatkan sarana prasarana pelayanan lanjut usia dan pemeliharaan

taman makam pahlawan

3. Meningkatkan koordinasi dengan instansi terkait serta partisipasi sosial

masyarakat

4. Meningkatkan sistem pelayanan perlindungan, dan pemberdayaan lanjut

usia, serta melestarikan nilai-nilai kepahlawanan

5. Meningkatkan sistem informasi

3.1.2 Sifat Kekaryaan

Adapun sifat kekaryaan BPSTW selama dilakukan kajian situasi adalah sebagai

berikut:
1. Manusia (Man)

Jumlah pegawai yang bekerja di BPSTW Ciparay sebanyak 58 pegawai

No Bagian PNS Non PNS

1 Kepala BPSTW 1

2 Sub. Bag Tata Usaha 6

3 Seksi Penerimaan dan Penyaluran 4

4 Seksi Pelayanan Kesejahteraan Sosial 3

5 Kelompok Jabatan Fungsional 5

6 Pramuwerdha 14

7 Juru masak 5

8 Tenaga Kebersihan 5

9 Tenaga keamanan 4

10 Paramedis 1

11 Perawat 4

12 Ahli Gizi 1

13 Penjaga Makam 1

14 Tenaga Teknis 5

15 Instruktur Olahraga 1

Dengan jumlah tenaga non PNS lebih banyak dibanding dengan PNS

namun tetap tidak ada penurunan dalam motivasi kerja sehingga kondisi

lingkungan kerja tetap kondusif.

Untuk kegiatan di ruang rawat khusus sendiri meliputi makan, mandi,


tidur dan pemeriksaan kesehatan. Dimana pada kegiatan makan terdapat 1

konsultan gizi yang bertugas untuk membuat menu makanan untuk para lansia

di wisma maupun di ruang rawat khusus, 3 pramuwerdha yang bertugas untuk

mengantarkan makanan dan membantu lansia untuk makan dan juga 3

pramuwerdha ini bertugas juga untuk membantu lansia untuk mandi dalam satu

shift. Pramuwerdha yang membantu di ruang rawat khusus semuanya

berjumlah 6. Untuk kegiatan pemeriksaan kesehatan sendiri terdapat 1 dokter

dan 4 perawat. Dalam satu shift terdapat 3 perawat yang akan bergantian untuk

bertugas di ruang rawat khusus.


a. Struktur Organisasi

KEPALA
ADANG SURAHMIN, A.KS., MM

SUBBAGIAN TATA USAHA


Dra. Hj. LIA JULIA, M.M

Endang Sopandi
Abdul Rahan, S.Pdi
Endang Supanhur
Asep Iwan
W. Asmanah

SEKSI PENERIMAAN DAN SEKSI PELAYANAN


PENYALURAN KESEJAHTERAAN SOSIAL
Drs. AEP SAFARI Drs. H.M. HAFIED FASYA, M.MPd

Kokom Komariah
Eneng Dewi, Amd.Kep., S.KM
Herman Suherman
Yuni Fridayani, AMK
Dianto Holid

KELOMPOK JABATAN
FUNGSIONAL PERAWAT

Dra. Yayat Muhyati Ai Bekty


Siti Nurjannah Nurhayati,.Amd,.kep
Dedi Kusnadi Ihsan Fauzi
Plenti Reza Fauzia
Delimami Siti Masitoh

PRAMUWERDHA

Adang
Ade
Dedeh
Cucu
Sunardi
Sunaryo
Katz Barthel
No Nama JK Keluhan Utama SPSMQ MMSE Keseimbangan
Index Index
1 Asowarjoyo L Kaku pada ekstremitas kanan F 105 6 18 15

2 Mur L Kaku pada ekstremitas bawah F 105 10 4 5

3 Iyus L Gatal diseluruh tubuh F 85 5 15 7

4 Momo L Tidak ada keluhan F 85 10 10 14

5 Ipik L Nyeri Sendi G 60 8 15 14

6 Joni L Gatal diseluruh tubuh G 60 4 24 15

7 Yusuf L Kelemahan tangan kiri E 75 10 22 14

8 Apan L kaki dan tangan kanan tidak bisa digerakan F 110 7 15 10

9 Misa L Tidak ada keluhan F 65 9 16 10

10 Yanto L kaki dan tangan kanan tidak bisa digerakan E 110 5 15 13

11 Nana L gatal di tangan D 60 7 12 8

12 Koko L Pusing C 70 6 23 7

13 Gugun L Gatal E 110 9 9 6

14 Jajang L Gatal pada tangan dan seluruh tubuh F 70 6 17 13


15 Muchtar L Gatal pada tangan F 75 6 15 14

16 Rudi L Gatal diseluruh tubuh ISOLASI

17 Enung P Tidak ada keluhan A 75 10 19 5

18 Irah P Tidak ada keluhan B 130 7 18 5

19 Yanti P Tidak ada keluhan A 75 8 11 5

20 Esin P Tidak ada keluhan G 50 8 9 14

21 Oyoh P Tidak ada keluhan G 45 5 15 15

22 Atikah P Tidak ada keluhan B 100 9 17 4

23 Ipoh P Tidak ada keluhan B 100 9 16 4

24 Kokom P nyeri pada ektremitas kiri dan deformitas tulang G 75 7 24 12

25 Yoyoh P Nyeri Tidak ada keluhan F 75 3 24 14

26 Euis P Gatal G 55 9 17 13

27 Ade Nemah P Tidak ada keluhan G 55 9 17 13

28 Eti P Tidak ada keluhan G 55 9 17 13

29 Epon P Pusing G 55 7 20 13

30 Mamah P Kaki lemah sulit berjalan F 85 9 19 14


31 Isye P Pusing A 95 8 18 4

32 Rohyati P Tidak ada keluhan C 95 8 22 6

33 Enas P Tidak ada keluhan D 75 9 17 7

34 Elawati P Tidak ada keluhan F 85 9 17 11

35 Inoh P Tidak ada keluhan G 100 9 17 14

36 Tarmidah P Tidak ada keluhan G 100 9 17 14

37 Irma P Tidak ada keluhan G 100 5 20 10

38 Itoh P Tidak ada keluhan G 100 5 20 14

39 Hadmi P Tidak ada keluhan F 65 9 17 14

40 Lela P Tidak ada keluhan F 65 9 17 14

41 Imas P Tidak ada keluhan G 60 10 16 14

42 Enok P Tidak ada keluhan F 60 9 16 14

43 Ecin P Tidak ada keluhan F 65 9 16 14

44 Entang P Tidak ada keluhan F 65 9 16 14

45 Iim F P Tidak ada keluhan C 95 8 22 6


2. Money

Anggaran pemasukan dari APBD Provinsi Jawa Barat, Pengeluaran

diakumulasikan secara global / keseluruhan dan tidak secara khusus, dengan

rincian:

a. Gaji pegawai dan perawat di RRK Rp. 2.750.000,- / bulan sesuai dengan

UMK (Upah Minimum Kabupaten / Kota) dipotong BPJS dan

ketenagakerjaan

b. Biaya pengeluaran pempers selama 1 bulan kurang lebih Rp.

10.000.000,-

c. Biaya obat-obatan selama 1 bulan Rp. 5.000.000,-

1) Pencairan dana dari APBD tidak ada kendala karena berjalan sesuai

prosedur. Pada awal tahun adanya pengecekan kembali arsip

pemasukan dan pengeluaran selama satu tahun.

2) Perawat tidak ikut berperan dalam pengaturan keuangan atau

anggaran hanya merinci kebutuhan kesehatan seperti obat-obatan.

Dalam hal ini yang berperan dalam pengaturan keuangan atau

anggaran adalah bendahara.

3) Anggaran dari APBD dinilai kurang mencukupi kebutuhan di

BPSTW

4) Donator yang menyumbang hanya berupa makanan dan barang tidak

berupa uang.

5) Pegawai pramuwerda merasa cukup dengan gaji yang diberikan oleh

panti.
3. Marketing

Pihak BPSTW mengadakan program sosialisasi dengan mengadakan

acara tiap tahunnya yang diundang yaitu masyarakat sekitar dan perwakilan

dari kepala daerah, LSM dan lain-lain berupa workshop. Pihak BPSTW juga

mengadakan program family support yang diadakan pada tiap 1 tahun sekali

untuk menunjang dan meningkatkan mutu lansia RRK dari segi keluarga.

Untuk pemasaran masih secara umum dan menyatu dengan wisma-wisma,

namun untuk RRK sendiri memiliki kriteria khusus yaitu lansia yang memang

memiliki ketergantungan total. BPSTW belum mempunyai dokter khusus bagi

RRK. Pihak BPSTW menjalin kerjasama dengan RS Al-Ihsan, lansia-lansia

yang menunjukkan penurunan kondisi kesehatan langsung dirujuk kesana.

BPSTW Ciparay memiliki website tersendiri yaitu bpstw.dissos.jabarprov.go.id

sebagai sarana informasi mengenai BPSTW Ciparay, tetapi website tersebut

tidak dapat diakses. Terakhir diakses pada Bulan November 2017 dan sampai

akhirnya website tersebut diblokir dan disatukan secara umum di website

dissos.jabarprov.go.id.

4. Machine

Alat alat kesehatan yang dimilki oleh Ruang rawat khusus adalah

sebagai berikut : terdapat Spygnomanometer 2 (Air raksa, digital), Stetoskop 3,

Tabung oksigen 4, suction 1, EKG 1 namun untuk EKG tidak dapat digunakan.

5. Methode

a. Alur penerimaan RRK

b. Klien baru datang dilakukuan pengkajian meliputi KATZ indeks, Barthel


indeks, SPSMQ, MMSE, jika hasil nilai tersebut dibawah rata-rata maka

klien di tempatkan di RRK.

c. Klien dari wisma yang mengalami penurunan kesehatan, KATZ indeks,

Barthel indeks, SPSMQ, MMSE akan dipindahkan dari wisma ke RRK.

d. Klien yang mengalami peningkatan dan perbaikan nilai kesehatan, KATZ

indeks, Barthel indeks, SPSMQ, MMSE di RRK akan dipindahkan ke

wisma.

e. Alur Kegiatan sehari-hari RRK

1) Kegiatan Makan

Menu makanan diatur oleh ahli gizi di masak di dapur umum

kemudian dibawa oleh pramuwerdha ke RRK dan dibagikan ke

setiap lansia. Lansia yang dapat makan sendiri berjumlah 26 orang,

jika ada lansia yang tidak bisa makan sendiri maka disuapi oleh

pramuwerdha adapun jumlah lansia yang tidak bisa makan sendiri

berjumlah 3 orang.

Sedangkan lansia di RRK laki-laki yang dapat makan sendiri

berjumlah 15 orang dan yang perlu bantuan untuk makan berjumlah

1 orang.

2) Kegiatan Mandi

Mandi dilaksanakan setiap hari sebanyak 1kali sehari pada

pukul 05.30, lansia yang bisa mandi sendiri didahulukan. Jumlah

lansia yang mandiri yaitu 7orang dan lansia yang

memerlukanbantuan untuk mandi berjumlah 22 orang dimandikan


oleh pramuwerda yang berjumlah 2 orang. Lansia yang akan

dimandikan dipindahkan oleh pramuwerda dari bed ke kursi roda

lalu dibawa ke kamar mandi. Dimandikan menggunakan sabun

batang yang sama untuk semua lansia dan dikeramas menggunakan

shampo setelah bersih lansia dibawa kembali ke bed dan

dikeringkan menggunakan handuk setelah itu dikenakan pakaian

bersih.

Sedangkan di RRK laki-laki mandi dilaksanakan setiap hari

sebanyak 1kali sehari tetapi khusus untuk lansia yang

menggunakan pampers dan BAB dimandikan sebanyak 2kali

sehari. RRK Laki-laki semua lansia yang berjumlah 16 orang

dimandikan oleh pramuwerdha yang berjumlah 1 orang. Lansia

yang akan dimandikan dipindahkan oleh pramuwerda dari bed ke

kursi roda lalu dibawa ke kamar mandi kemudian dibuka

pakaiannya. Dimandikan menggunakan sabun cair dan dikeramas

menggunakan shampo setelah bersih lansia dibawa kembali ke bed

dan dikeringkan menggunakan handuk setelah itu dikenakan

pakaian bersih.

3) Alur kunjungan lansia

Keluarga lansia yang akan mengunjungi lansia yang ada di

RRK wajib melapor terlebih dahulu ke petugas keamanan dan jika

sudah dapat perijinan akan di antarkan ke ruangan RRK.


4) Alur rujukan ke RS

Lansia yang sakit di ruang RRK maka perawat akan

menangani dan dikonsultasikan ke dokter, jika sudah tidak bisa di

tangani di poli klinik RRK akan di rujuk ke RSUD Al-Ihsan atau

RSHS Bandung dengan membawa surat rujukan dari kepala dinas

sosial.

5) Alur pemulangan jenazah

Lansia yang meninggal di RRK akan di urus oleh pihak panti

dan di kembalikan ke keluarga, namun jika keluarga menyerahkan

ke pihak panti maka akan di kebumikan di tempat pemakaman

panti.

6) Pemenuhan Kebutuhan Pokok

Pemberian makan 3 kali sehari yang disediakan oleh pihak

panti, jika ada lansia yang tidak bisa makan sendiri maka akan di

fasilitasi oleh pramuwerhda, setiap jadwal makan selesai

pramuwerdha akan mengobservasi sisa makanan lansia, jika ada

porsi makan lansia yang tidak habis maka pramuwerdha akan

melaporkannya ke ahli gizi. Kebutuhan sandang juga difasilitasi

oleh panti diantaranya; pakaian harian, kebutuhan ibadah, pampers,

dan pakaian hari raya.


7) Pemenuhan Kebutuhan Aksesibilitas Sarana dan Prasarana

Pemenuhan kebutuhan aksesibilitas sarana dan prasarana

dilaksanakan melalui pemberian fasilitas di RRK klien yang di

dalam nya terdiri dari tempat tidur yang di tempati oleh 1 sampai 2

lansia.

8) Pemenuhan Kebutuhan Kesehatan

Pelayanan diberikan bagi lansia yang sudah memasuki masa

udzur/ bed rest. Kegiatan yang dilaksanakan berbentuk (1)

Pendampingan aktivitas harian (ADL) (2) Pemeliharaan kebersihan

lingkungan ruangan dan tempat tidur klien, sehingga memberikan

rasa nyaman bagi klien (3) Pemberian terapi motorik (ROM) untuk

mencegah kekakuan otot pada klien. Perawat setiap hari akan

pengecekan kesehatan lansia dengan mengukur tanda-tanda vital

dan mengkaji keluhan yang dirasakan oleh lansia. Personal hygiene

yang dilakukan meliputi mandi, keramas, mengganti pakaian

dilakukan setiap hari oleh pramuwerdha, sedangkan gunting kuku,

gunting rambut dilakukan satu minggu sekali untuk rambut yang

sudah panjang.

9) Pemenuhan Kebutuhan Fisik, Sosial, Mental, dan Spiritual

Pelayanan ini bertujuan untuk memupuk dan meningkatkan

rasa keimananan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Pemberian bimbingan mental ini berupa penyediaan sarana dan

prasarana ibadah, pengajian, bimbingan shalat.


10) Perlindungan

Diberikan dalam bentuk upaya untuk menciptakan

lingkungan yang aman dan nyaman kepada lanjut usia.

11) Sosialisasi dan koordinasi

Koordinasi dalam bentuk kerjasama dengan puskesmas,

rumah sakit, dll.

6. Material

a. Material RRK laki-laki

No Nama Barang Jumlah

1 Jendela 8 buah

2 Pewangi ruangan 2 buah

3 Handscrub 1 buah

4 Penerangan lampu 6 buah

5 Tempat tidur 16 buah

6 Dispenser dan galon 1 buah

7 Lemari 1 buah

8 Sprei 16 buah

9 Sabun cair 1 buah

10 Sampo 1 buah

11 Bantal 9 buah

12 Sendok 2 buah

13 Baju 64 buah

14 Pintu 2 buah
15 Sarung 32 buah

16 Handuk 10 buah

17 Pempers 14 buah/hari

18 Cangkir 16 buah

19 Pintu 2 buah

20 Kursi roda 3 buah

21 Tandu 1 buah

22 Ember 4 buah

23 Tong sampah 2 buah

24 Pispot b) buah

b. Material RRK perempuan

No Nama Barang Jumlah

1 Selimut 11 buah

2 Bantal 23 buah

3 Kasur/bed 29 buah

4 Sprei 30 buah

5 Gayung 1 buah

6 Ember 1 buah

7 Baju 116 stel

8 Tv 2 buah

9 Jam dinding 2 buah


10 Cangkir 15 buah

11 Pintu 3 buah

12 Kursi roda 3 buah

16 Sendok 5 buah

18 Sabun batang 1 buah

20 Sampo 1 buah

22 Galon 2 buah

23 Keranda 2 buah

24 Tiang infus 16 buah

25 Timbangan 2 Buah

c. Fasilitas di ruang perawat Commented [i-[6]: FASILITAS : KAMAR MANDI, RUANG


MAKAN, RUANG TV, RUANG SANTAI DLL

No Nama Barang Jumlah

1 Lemari 3 buah

2 Tv 1 buah

3 Tabung oksigen 5 buah

4 Pewangi ruangan 2 buah

5 Alat pel 1 buah

6 Kasur 1 buah

7 Meja 1 buah

8 Kursi 1 buah

9 Jam dinding 2 buah

10 Tong sampah 1 buah


BAB IV

ANALISA SITUASI

4.1 Analisa Problem Based Learning (PBL)

Berdasarkan hasil kajian situasi di Ruang Rawat Khusus (RRK) BPSTW Ciparay,

dilakukan identifikasi faktor-faktor internal dan eksternal yang dimasukkanke dalam

analisis Problem Based Learning (PBL) yang membandingkan antara faktual dan ideal di

setiap sifat kekaryaan. Berikut merupakan tabel dari Problem Based Learning :

Manajemen Asuhan
Kategori masalah Masalah
Aktual Ideal

Sifat Kekaryaan 1. Dua masalah kesehatan Resiko

M1 (MAN) terbanyak di RRK yaitu penurunan

demensia sebanyak 18 derajat

lansia (40%) dan kesehatan

skizofrenia sebanyak 7 lansia

lansia (16%) dari jumlah

lanisa 45 orang (100%).

2. Tiga diagnosa keperawatan

tertinggi yaitu Risiko jatuh

tinggi, kerusakan fungsi

mental berat dan Gangguan

persepsi sensori :
penglihatan.

3. Hampir setengahnya (36%)

lansia memiliki KATZ

Indeks F

4. Sebagian besar (73%)

lansia memiliki Barthel

Indeks ketergantungan

sebagian.

5. Hampir setengahnya (49%)

lansia memiliki kerusakan

intelektual berat.

6. Sebagian besar (64%)

lansia memiliki kerusakan

aspek fungsi mental berat.

7. Sebagian besar (61%)

lansia memiliki resiko jatuh

tinggi.

8. Idealnya dalam
8. Dalam satu shift hanya ada
satu shift yang
satu perawat yang
merujuk pada
menangani 45 pasien
peraturan

menteri
kesehatan bahwa

setara rumah

sakit kelas D, 1

perawat : Klien

= 1 : 15

9. Konsultan gizi bertugas 9. Konsultan gizi

untuk membuat menu idealnya selain

makanan untuk para lansia membuat menu

di wisma maupun di ruang makanan juga

rawat khusus membuat program

diet untuk para

lansia menurut

penyakit yang

dimilikinya untuk

para lansia di

wisma maupun di

ruang khusus

1.

METHODE Menu makanan yang diberikan Idealnya menu Alur yang

pada setiap lansia menunya makanan harus kurang

sama tidak ada diet khusus disesuaikan dengan terstruktur

sesuai dengan penyakitnya penyakit yang

dimiliki oleh para


lansia

Sebelum dan sesudah makan Idealnya sebelum dan

lansia tidak mencuci tangan sesudah makan harus

mencuci tangan

Mandi dilakukan satu hari


Idealnya mandi
sekali pada pagi hari pukul
dilakukan dua kali
05.30 WIB dengan
sehari dan
menggunakan sabun dan spons
menggunakan sabun
yang sama serta tidak terdapat
dan spons yang
sikat gigi dan pasta gigi.
berbeda- beda

Di RRK perempuan handuk Idealnya handuk

yang digunakan untuk 29 orang yang digunakan satu

lansia hanya 3 buah orang satu


Tidak dilakukan pengisian Idealnya asuhan

asuhan keperawatan hanya saja keperawatan

dilakukan catatan dilakukan setiap 1x24

perkembangan (TD). jam, disamping

melakukan catatan

perkembangan.

Pengkajian khusus hanya


Idealnya pengkajian
dilakukan pada saat lansia
khusus lansia
pertama kali masuk ke RRK
dilakukan 1 bulan

sekali

MATERIAL Alat-alat makan di RRK laki- Idealnya setiap lansia Sarana dan

laki dan perempuan terbatas memiliki masing- prasarana

bahkan lansia tidak memiliki masing satuatau lebih belum lengkap

alat untuk kebutuhan makan dari alat-alat makan

individu

Pegangan tangan
Tidak terdapat pegangan
tangan di RRK laki-laki dan sangat diperlukan di

perempuan RRK laki-laki

maupun wanita.

Karena beberapa

lansia masih dapat

melakukan aktivitas

secara mandiri

Di RRK perempuan tidak ada


Idealnya di setiap
lemari baju dan gantinya
RRK terdapat lemari
menggunakan kardus.
untuk penyimpanan
Sedangkan di RRK laki-laki
alat tenun sesuai
ada satu lemari tetapi tidak
dengan jumlah alat
layak pakai.
tenun yang dimiliki.

Tidak ada tempat linen kotor Idealnya linen kotor

dan untuk pembuangan sampah disimpan di suatu

infeksius wadah sebelum

dicuci dan tidak

ditumpuk di luar

RRK. Tempat

sampah infeksius
dibutuhkan untuk

membuang bekas

pampers.

Idealnya linen yang


Jemuran di RRK laki-laki
sudah dicuci harus
maupun perempuan terbatas
dijemur pada
sehingga linen basah dijemur
tempatnya (jemuran).
di lantai dan pagar belakang

RRK laki-laki

MACHINE Alat alat kesehatan yang Idealnya untuk alat Alat kesehatan

dimilki oleh Ruang rawat kesehatan harus dapat belum lengkap

khusus adalah sebagai berikut digunakan sesuai dan tidak

: terdapat Spygnomanometer 2 dengan fungsinya memadai. Commented [i-[7]: ALAT YANG ADA BISA DIGUNAKAN
ATAU BISA MENGGUNAKANNYA GA?

(Air raksa, digital), Stetoskop

3, Tabung oksigen 4, suction 1,

EKG 1 namun untuk EKG

tidak dapat digunakan.

MARKETING Tidak adanya sarana informasi Idealnya lansia yang Kurangnya

(banner) tentang kriteria lansia masuk ke RRK sarana


di RRK adalah lansia yang informasi

sakit atau terkait kriteria

ketergantungan total lansia di RRK

BPSTW Ciparay mempunyai


Idealnya website
website sebagai sarana
diperbaharui minimal
pemasaran namun tidak dapat
sebulan sekali
diakses
4.2 Fishbone Analysis

MAN MACHINE

Masalah kes. Terbanyak :


Demensia : 40%, Skizo : 16%

Masalah kep. Terbanyak : Ahli gizi hanya Spygmanometer digital dan EKG tidak bisa
Resiko jatuh tinggi, intelektual berat, sensori membuat menu digunakan
persepsi pendengaran makanan

36% KATZ Indeks, 73% ketergantunag sebagian,


49% kerusakan intelektual berat, 64% kerusakan
aspek fungsi mental berat, 61% resiko jatuh tinggi
PENURUNAN
DERAJAT
KESEHATAN LANSIA

Tidak ada diet khusus Tidak adanya sarana


informasi (banner) di
RRK Alat makan dan mandi di RRK laki-laki dan
Tidak dilakukan perempuan terbatas
pendoukumentasian askep rutin
dan pengkajian khusus hanya Lansia tidak cuci
tangan sebelum dan Website yang tidak
dilakukan saat lansia pertama dapat diakses
kali masuk sesudah makan

Mandi satu kali Tidak terdapat : pegangan tangan, lemari


menggunakan spons pakaian, jemuran, tempat linen kotor, tempat
dan sabun yang sama, sampah infeksius
tidak ada sikat gigi dan
pasta gigi,handuk hanya
3 (dpkai brsama)

METHODE MARKETING MATERIAL


4.3 Prioritas Masalah
No. Masalah Prioritas Jumlah
Masalah
C A R L
1. Resiko penurunan derajat 2 2 2 2 16
kesehatan pada lansia
2. Alur yang tidak terstruktur 3 2 3 2 36
3. Sarana dan prasarana belum 4 3 3 3 108
lengkap
4. Alat kesehatan belum lengkap 2 2 2 3 24
dan tidak memadai
5. Kurangnya sarana informasi 4 3 2 4 96
terkait kriteria lansia di RRK
ngnya pembaharuan
pemasaran
BAB V

PLANNING OF ACTION

5.1 Planning Of Action

Penanggung Commented [i-[8]: DATA NYA CANTUMKAN, TAMBAH


No Masalah Tujuan Strategi Kegiatan Sasaran Waktu
Jawab SATU TABEL LAGI UNTUK MEMPERLIHATKAN DATA
1. Sarana dan Setelah dilakukan 1. Memfasilitasi pegangan RRK 27-28 Mahasiswa SUPAYA KITA BISA MELIHAT SUDAH SESUAI DENGAN
MASALAH BLM
prasarana tangan di kamar mandi. BPSTW Januari Profesi Ners
intervensi selama
belum 2. Memfasilitasi lemari Ciparay 2018 XI STIKes
lengkap b.d 2x24 jam pakaian untuk RRK Bhakti
perempuan dan Kencana
diharapkan sarana
memperbaiki lemari Bandung
dan prasarana di pakaian RRK laki-laki.
3. Membuat jemuran RRK
panti terpenuhi
laki-laki dan perempuan.
dengan kriteria
hasil:
1. Pegangan
tangan
2. Lemari
pakaian
3. Jemuran
2. Kurangnya Setelah dilakukan 1. Membuat sarana Penanggung 27-28 Mahasiswa
sarana intervensi selama Diskusi informasi berbentuk jawab panti Januari Profesi Ners
informasi 2x24 jam banner tentang kriteria dan 2018 XI STIKes
terkait diharapkan RRK RRK Bhakti
kriteria lansia memiliki sarana 2. Mengingatkan bahwa BPSTW Kencana
di RRK informasi website dan Facebook Ciparay Bandung Commented [i-[9]: MANA DATANTA YG MENUNJANG
mengenai kriteria sebagai salah satu
RRK serta sarana sosialisasi
Website BPSTW Ciparay
diperbaharui dan kepada masyarakat.
mempunyai 3. Membuat media sosial
media sosial instagram
dengan dkriteria
hasil:
1. Terdapat
sarana
informasi
(banner)
2. Website dapat
di akses oleh
masyarakat.
3. Facebook
BPSTW aktif
kembali.
4. Memiliki akun
media sosial
Instagram.
3. Alur yang Setelah dilakukan Diskusi 1. Memfasilitasi Penanggung 27-28 Mahasiswa
tidak intervensi selama pembuatan SOP untuk jawab panti Januari Profesi Ners
terstruktur 2x24 jam memandikan dan 2018 XI STIKes Commented [i-[10]: MANA DATA YAN MENUNJANG
diharapkan 2. Membuat program diit RRK Bhakti
perawat dengan yang terstruktur BPSTW Kencana
ahli gizi dapat Ciparay Bandung
berkolaborasi
untuk membuat
program diit
sesuai penyakit
yang dialami
lansia dengan
kriteria hasil :
1. Adanya
kolaborasianta
ra perawat
dengan ahli
gizi

4. Alat Setelah dilakukan 1. Memfasilitasi alat Penanggung 27-28 Mahasiswa


kesehatan intervensi selama kesehatan untuk jawab panti Januari Profesi Ners
belum 2x24 jam pengukuran tanda- dan 2018 XI STIKes
lengkap dan diharapkan alat tanda vital RRK Bhakti
tidak kesehatan yang (Termometer). BPSTW Kencana
memadai dibutuhkan 2. Memfasilitasi alat Ciparay Bandung Commented [i-[11]: DATA YANG MENUNJANG
MASALAH INI
memadai dengan kesehatan untuk
kriteria hasil: saturasi oksigen.
1. Terdapat basic
alat kesehatan
untuk
pengukuran
tanda-tanda
vital.
2. Terdapat
oxymetri

5. Resiko Setelah dilakukan 1. Diskusikan tentang Petugas 27-28 Mahasiswa


penurunan intervensi selama pemeriksaan kesehatan kesehatan Januari Profesi Ners
derajat 2x24 jam rutin dengan tenaga dan 2018 XI STIKes
kesehatan diharapkan dapat kesehatan yang berada pramuwerd Bhakti
pada lansia dilakukan dipanti ha BPSTW Kencana Commented [i-[12]: DATA YANG MENUNJANG
pemeriksaan 2. Menyarankan untuk Ciparay Bandung
secara rutin oleh diadakannya
perawat dengan penanggung jawab di
kriteria hasil : ruang rawat khusus
1. Secara rutin 3. Menyarankan agar
dilakukan ditambahnya
pemeriksaan pramuwerdha yang
kesehatan bertugas di wisma
khusus untuk ruang rawat
minimal khusus
satubulan satu
kali
2. Adanya
penanggung
jawab di ruang
rawat khusus