Anda di halaman 1dari 9

IRIGASI TEKNIS, IRIGASI SETENGAH Bagian-Bagian Jaringan Irigasi

TEKNIS, IRIGASI TRADISIONAL  Petak tersier terdiri dari beberapa petak kuarter
masing-masing seluas kurang lebih 8 sampai dengan
Irigasi dan Drainase 15 hektar
 Irigasi: adalah usaha penyediaan dan pengaturan air  Petak sekunder terdiri dari beberapa petak tersier yang
untuk menunjang pertanian kesemuanya dilayani oleh satu saluran sekunder.
 Drainase: untuk membuang kelebihan air agar Biasanya petak sekunder menerima air dari bangunan
tanaman tumbuh optimum bagi yang terletak di saluran primer atau sekunder.
 Berdasarkan metode pemberian air, irigasi  Petak primer terdiri dari beberapa petak sekunder yang
diklasifikasikan sbb: mengambil langsung air dari saluran primer. Petak
- Irigasi permukaan : air irigasi diberikan lewat primer dilayani oleh satu saluran primer yang
permukaan tanah. mengambil air langsung dari bangunan penyadap.
- Irigasi bawah permukaan : air irigasi diberikan  Bangunan Irigasi:
lewat bawah permukaan tanah. a. Bangunan utama
- Irigasi curah : air irigasi diberikan dari atas b. Bangunan pembawa
permukaan tanah meniru hujan c. Bangunan bagi dan sadap
- Irigasi tetes : air irigasi diberikan menetes ke d. Bangunan pengatur dan pengukur
daerah perakaran tanaman e. Bangunan drainase
f. Bangunan pelengkap
Jaringan Irigasi
 Jaringan irigasi adalah saluran, bangunan, dan
bangunan pelengkapnya sebagai satu kesatuan saluran
dan bangunan yang diperlukan untuk pengaturan air
irigasi, mulai dari penyediaan, pengambilan,
pembagian, pemberian, penggunaan, dan pembuangan
air irigasi.
 Jaringan irigasi primer adalah bagian dari jaringan
irigasi yang terdiri dari bangunan utama, saluran
induk/primer, saluran pembuangannya, bangunan bagi,
bangunan bagi-sadap, bangunan sadap, dan bangunan
pelengkapnya.
 Jaringan irigasi sekunder adalah bagian dari
jaringan irigasi yang terdiri dari saluran sekunder,
saluran pembuangannya, bangunan bagi, bangunan
bagi-sadap, bangunan sadap dan bangunan
pelengkapnya.
1. Bangunan Utama
 Bangunan utama dimaksudkan sebagai penyadap
dari suatu sumber air untuk dialirkan ke seluruh
daerah irigasi yang dilayani.
 Berdasarkan sumber airnya, bangunan utama dapat
diklasifikasikan menjadi beberapa kategori :
- Bendung
- Pengambilan bebas
- Pengambilan dari waduk
- Stasiun pompa
Bendung 2. Bangunan Pembawa
 Bendung adalah adalah bangunan air dengan  Bangunan pembawa berfungsi
kelengkapannya yang dibangun melintang sungai atau membawa/mengalirkan air dari sumbernya menuju
sudetan yang sengaja dibuat dengan maksud untuk petak irigasi.
meninggikan elevasi muka air sungai.  Bangunan pembawa meliputi saluran primer,
 Apabila muka air di bendung mencapai elevasi saluran sekunder, saluran tersier dan saluran
tertentu yang dibutuhkan, maka air sungai dapat kwarter. Termasuk dalam bangunan pembawa
disadap dan dialirkan secara gravitasi ke tempat- adalah talang, gorong-gorong, siphon, tedunan dan
tempat yang memerlukannya got miring.
 Terdapat beberapa jenis bendung, diantaranya adalah a. Saluran primer membawa air dari bangunan
bendung tetap (weir), bendung gerak (barrage) dan sadap menuju saluran sekunder dan ke petak-
bendung karet (inflamble weir). petak tersier yang diairi. Batas ujung saluran
 Pada bangunan bendung biasanya dilengkapi dengan primer adalah pada bangunan bagi yang
bangunan pengelak, peredam energi, bangunan terakhir.
pengambilan, bangunan pembilas , kantong lumpur b. Saluran sekunder membawa air dari bangunan
dan tanggul banjir. yang menyadap dari saluran primer menuju
petak-petak tersier yang dilayani oleh saluran
Pengambilan Bebas sekunder tersebut. Batas akhir dari saluran
 Pengambilan bebas adalah bangunan yang dibuat di sekunder adalah bangunan sadap terakhir
tepi sungai menyadap air sungai untuk dialirkan ke c. Saluran tersier membawa air dari bangunan
daerah irigasi yang dilayani. yang menyadap dari saluran sekunder menuju
 Perbedaan dengan bendung adalah pada bangunan petak-petak kuarter yang dilayani oleh saluran
pengambilan bebas tidak dilakukan pengaturan tinggi sekunder tersebut. Batas akhir dari saluran
muka air di sungai. sekunder adalah bangunan boks tersier terkahir
 Untuk dapat mengalirkan air secara gravitasi, muka air d. Saluran kuarter membawa air dari bangunan
di sungai harus lebih tinggi dari daerah irigasi yang yang menyadap dari boks tersier menuju petak-
dilayani. petak sawah yang dilayani oleh saluran sekunder
tersebut. Batas akhir dari saluran sekunder
Pengambilan dari Waduk adalah bangunan boks kuarter terakhir.
 Salah satu fungsi waduk adalah menampung air pada
saat terjadi kelebihan air dan mengalirkannya pada 3. Bangunan Bagi dan Sadap
saat diperlukan  Bangunan bagi merupakan bangunan yang terletak
 Waduk dapat bersifat eka guna dan multi guna: untuk pada saluran primer, sekunder dan tersier yang
irigasi, pembangkit listrik, peredam banjir, pariwisata, berfungsi untuk membagi air yang dibawa oleh
dan perikanan. saluran yang bersangkutan.
 Apabila salah satu kegunaan waduk untuk irigasi,  Bangunan sadap tersier mengalirkan air dari saluran
maka pada bangunan outlet dilengkapi dengan primer atau sekunder menuju saluran tersier
bangunan sadap untuk irigasi. penerima.
 Alokasi pemberian air sebagai fungsi luas daerah  Untuk penghematan bangunan bagi dan sadap dapat
irigasi yang dilayani serta karakteristik waduk digabung menjadi satu rangkaian bangunan.
 Bangunan bagi pada saluran-saluran besar
Stasiun Pompa mempunyai 3 bagian utama:
 Bangunan pengambilan air dengan pompa menjadi a. Alat pembendung, bermaksud untuk mengatur
pilihan apabila upaya-upaya penyadapan air secara elevasi muka air sesuai dengan tinggi pelayanan
gravitasi tidak memungkinkan untuk dilakukan, baik yang direncanakan
dari segi teknik maupun ekonomis. b. Perlengkapan jalan air melintasi tanggul, jalan
 Salah satu karakteristik pengambilan irigasi dengan atau bangunan lain menuju saluran cabang.
pompa adalah investasi awal yang tidak begitu besar Konstruksinya dapat berupa saluran terbuka
namun biaya operasi dan eksploitasi yang sangat ataupun gorong-gorong. Bangunan
besar.
c. ini dilengkapi dengan pintu pengatur agar debit
yang masuk saluran dapat diatur.
d. Bangunan ukur debit, yaitu suatu bangunan yang Klasifikasi Jaringan Irigasi
dimaksudkan untuk mengukur besarnya debit Berdasarkan cara pengaturan, pengukuran, serta
yang mengalir. kelengkapan fasilitas, jaringan irigasi dapat
dikelompokkan menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu :
4. Bangunan Pengatur dan Pengukur a. Jaringan irigasi sederhana: debit tak dapat diukur dan
 Bangunan pengatur muka air dimaksudkan untuk diatur.
dapat mengatur muka air sampai batas-batas yang b. Jaringan irigasi semi teknis: debit dapat diatur tak
diperlukan untuk dapat memberikan debit yang dapat diukur
konstan dan sesuai dengan yang dibutuhkan c. Jaringan irigasi teknis: debit dapat diukur dan diatur.
 Bangunan pengukur dimaksudkan untuk dapat
memberi informasi mengenai besar aliran yang
dialirkan. Kadangkala, bangunan pengukur dapat
juga berfungsi sebagai bangunan pangatur.

5. Bangunan Drainase
 Untuk membuang kelebihan air di petak sawah
maupun saluran. Kelebihan air di petak sawah
dibuang melalui saluran pembuang, sedangkan
kelebihan air di saluran dibuang melalui bengunan
pelimpah.
 Terdapat beberapa jenis saluran pembuang, yaitu
saluran pembuang kuarter, saluran pembuang tersier,
saluran pembuang sekunder dan saluran pembuang Irigasi Sederhana/Tradisional
primer
 Irigasi sederhana, yaitu suatu sistem irigasi dimana
 Jaringan pembuang tersier dimaksudkan untuk : pembagian air tidak diukur dan diatur, kelebihan air
a. Mengeringkan sawah akan mengalir ke selokan pembuang.
b. Membuang kelebihan air hujan
 Para pemakai air tergabung dalam satu kelommpok
c. Membuang kelebihan air irigasi
sosial yang sama, tidak melibatkan pemerintah dalam
 Saluran pembuang kuarter menampung air langsung organisasi jaringan irigasi tersebut.
dari sawah di daerah atasnya atau dari saluran
 Persediaan air melimpah, sedangkan kemiringan trase
pembuang di daerah bawah. Saluran pembuang
saluran berkisar antara sedang sampai curam
tersier menampung air buangan dari saluran
 Kelemahannya:
pembuang kuarter. Saluran pembuang primer
a. Terjadi pemborosan air karena banyak air yang
menampung dari saluran pembuang tersier dan
terbuang
membawanya untuk dialirkan kembali ke sungai.
b. Air yang terbuang tidak selalu mencapai lahan di
sebelah bawah yang lebih subur
6. Bangunan Pelengkap
c. Bangunan penyadap bersifat sementara, sehingga
 Berfungsi untuk memperlancar para petugas dalam
tidak mampu bertahan lama
eksploitasi dan pemeliharaan
 Bangunan pelengkap dapat juga dimanfaatkan untuk Irigasi Semi Teknis
pelayanan umum.
 Jaringan irigasi semi teknis memiliki bangunan sadap
 Jenis-jenis bangunan pelengkap antara lain jalan yang permanen ataupun semi permanen.
inspeksi, tanggul, jembatan penyebrangan, tangga
 Bangunan sadap pada umumnya sudah dilengkapi
mandi manusia, sarana mandi hewan, serta
dengan bangunan pengambil dan pengukur.
bangunan lainnya.
 Jaringan saluran sudah terdapat beberapa bangunan
permanen, namun sistem pembagiannya belum
sepenuhnya mampu mengatur dan mengukur.
 Karena belum mampu mengatur dan mengukur 4. Langkah-Langkah Perencanaan Jringan Irigasi
dengan baik, sistem pengorganisasian biasanya lebih a. Penarikan trase saluran, diusahakan :
rumit  Dalam perencanaan Saluran diperlukan peta
topografi berskala 1 : 25.000 dan 1 : 50.000,
Irigasi Teknis kemiringan medan harus tergambar jelas
 Jaringan irigasi teknis mempunyai bangunan sadap  Menentukan elevasi muka air saluran,
yang permanen.  Muka air rencana sama atau dibawah elevasi
 Bangunan sadap serta bangunan bagi mampu tanah. Hal ini untuk menghindari pencurian air
mengatur dan mengukur. atau penyadapan liar dan menghemat biaya
 Terdapat pemisahan antara saluran pemberi dan  Elevasi muka air harus cukup tinggi, agar dapat
pembuang. Pengaturan dan pengukuran dilakukan mengaliri sawah-sawah yang paling tinggi pada
dari bangunan penyadap sampai ke petak tersier. petak-petak tersier
b. Letak bangunan sadap
Perencanaan Jaringan Irigasi  Batas-batas petak tersier ditetapkan berdasarkan
1. Prinsip Teknik Irigasi, pemisahan : peta topografi skala 1 : 5.000 dengan luas rata-
 Jaringan saluran pembawa/irigasi : Mengalirkan rata 50 -100 Ha
air dari sumber air sampai ke lahan sawah  Kemudian ditentukan lokasi bangunan sadap
 Jaringan saluran pembuang : Mengalirkan sedemikian rupa sehingga mampu mengaliri
kelebihan air dari sawah ke selokan pembuang atau petak tersier.
sungai yang selanjutnya dan berakhir di laut c. Ketinggian muka air di bangunan sadap
2. Prinsip Penataan Sistim Irigasi  Tinggi muka air di bangunan Sadap tersier pada
a. Saluran Irigasi harus : saluran Primer atau Sekunder dapat dihitung
 Lebih tinggi dari lahan yang akan dialiri dan dengan persamaan berikut :
diupayakan dapat menjangkau areal sawah
seluas-luasnya
 Diupayakan sependek mungkin, hal ini akan
Keterangan
mencegah berkurangnya tekanan atau energi dan
P = elevasi muka air di saluran primer atau
biaya pembangunan
sekunder
 Mengikuti garis kontur agar tetap memperoleh A = elevasi lahan sawah
ketinggian a = lapisan genangan air di sawah ( 10 cm )
b. Saluran tersier harus mampu : b = kehilangan tinggi energi disaluran kuarter ke
 Mengalirkan air ke petak-petak tersier sehingga sawah ( 5 cm )
dapat menggenangi persawahan c = kehilangan tinggi energi di boks bagi kuarter (
c. Saluran Pembuang harus mampu : 5 cm)
 Menampung dan menyalurkan kelebihan air dari d = kehilangan tinggi energi selama pengaliran di
petak persawahan dengan lancar, termasuk air saluran irigasi
hujan e = kehilangan tinggi energi di boks bagi
3. Bangunan dan Fungsi dalam Sistem Irigasi f = kehilangan tinggi energi di gorong-gorong
Bangunan irigasi dibagi menjadi : g = kehilangan tinggi energi di bangunan sadap
a. Bangunan Utama h= variasi tinggi muka air
b. Jaringan Irigasi Z = kehilangan tinggi energi di bangunan tersier
lain
d. Menentukan kemiringan saluran di lapangan
 Kemiringan saluran mengikuti kemiringan medan
pada peta topografi (kontur). Cara terbaik adalah
memplot elevasi pada titik potong trase saluran
dengan garis kontur
e. Kemiringan Medan ( Io )  Kehilangan air disaluran primer dan sekunder
Kemiringan medan tiap ruas dapat ditentukan = 0.15 x 408.35 = 61.25 l/det
dengan persamaan :  Kebutuhan air di bendung
= 408.35 + 61.25 = 469.6 l/det
 Faktor keamanan (k) air = 406 / 469.6 = 0.86
 Agar pembagian air adil : tiap petak dikalikan
Keterangan : dengan angka keamanan (k) tersebut
RWLu = Tinggi muka air yang diperlukan pada Debit (Q) yang diperlukan di pintu Pengambilan
bangunan sadap di hulu
RWLd = Tinggi muka air yang diperlukan pada
bangunan sadap di hilir
H0 = Jumlah perkiraan kehilangan tinggi Qd = kebutuhan air dibangunan pengambilan
pada bangunan dan saluran Qf = kebutuhan air disawah
L = Panjang ruas L = Prosentase kehilangan air
 Di pintu B2
Contoh Soal =(100%/(100%-15%) x (0.86)(38+91+60))= 191.22 l/det
1. Daerah Irigasi M yang terdiri dari 7 petak tersier  Di pintu B4
dengan skema seperti pada gambar dibawah = (100%/(100%-15%) x (0.86)(72+57)) = 130.52 l/det

2. Tentukan dimensi saluran kuarter b2 yang melayani


areal 10.4 ha, jika kebutuhan air 1.4 l/det/ha,
kemiringan I =0.002,
Rumus Strickler :

Untuk masa tanam pada musim kemarau (awal) pada


periode1 direncanakan budidaya tanaman sebagai
berikut :

v = Kecepatan aliran (m/det)


Kebutuhan air ditetapkan : K = koefesien kekasaran Strickler
Padi = 1.00 l/det/ha Pasangan batu = 60
Tebu = 0.50 l/det/ha Beton = 70
Palawija = 0.25 l/det/ha Tanah = 35 – 45
Kehilangan air di jaringan primer dan sekunder = 15 %, R = Jari-jari hidrolis (m) = A/p
dan di jaringan tersier = 25 % A = luas penampang basah (m2)
Debit yang tersedia di bendung = 406 l/det p = keliling basah (m)
Perhitungan kebutuhan air dipintu tersier sbb: I = kemiringan saluran
m = kemiringan talud saluran
 Kebutuhan air (Q) = 10.4 x 1.4 = 15.6 l/det
 b diambil = 0.30 m
 Tinggi saluran basah ( h ) = 0.14 m,
 Tinggi jagaan (w) = 0.20 m,
 Kemiringan talud sal. (m) =1
PENGUKURA DEBIT AIR 1. Metode Current Meter
(WATER DISCHARGE MEASUREMENT) 2. Metode Apung
 Menggunakan jam tangan yang ada jarum detik dan
Mengapa Pengukuran debit air penting? alat mengukur panjang (pita ukur, meteran), benda
ringan.
 Sulit untuk secara efektif mengelola irigasi tanpa
 Metode ini menggunakan rumus :
pengukuran
Debit = Kecepatan X Luas Penampang Basah.
 Aspek positif  Penampang boleh berbentuk segi empat panjang, atau
 Memaksimalkan penggunaan ketersediaan air trapesium, atau bentuk bebas. Penampang
 Mengurangi biaya diperkirakan dengan satuan m2
 Mengurangi dampak lingkungan  Kecepatan diukur dengan melihat berapa detik
 Beberapa pengukuran mungkin menjadi pengaur diperlukan untuk benda ringan mengalir sekian
 Penagihan meter, dengan satuan meter per detik
Latihan Soal
Debit Air  Air mengalir pada saluran yang berbentuk trapesium.
 Debit air adalah banyaknya air (l) yang masuk dalam Dalamnya air adalah 40 cm. Dasar trapesium
satuan waktu (detik) berukuran 30 cm. Lebarnya trapesium di permukaan
 Debit air dapat diukur dengan cara langsung air adalah 60 cm. Benda ringan perlu 12 detik untuk
(menggunakan sekat ukur Romyn, Thomson, Cipolletti berjalan 5 meter.
dan Flume Pharshall)  Bagaimana mengukur debit untuk saluran berbentuk
 dan tak langsung (dengan menggunakan rumus). penampang bebas (saluran alam?) Apalagi yang
 Satuan unit pengukuran: cukup besar seperti anak sungai untuk sumber
a. Open channel flow: Cubic feet per second (cfs) irigasi?
b. Pipe flow: Gallons per minute (gpm)  Metode yang paling umum menggunakan prinsip
matematika dari kalkulus, yaitu benda dibagi menjadi
Definisi banyak segi empat panjang
3. Metode Lainnya
Volume = Length3
 Menggunakan ember dan jam tangan yang ada
jarum detik.
Flom Rate (Q) : Volume/time  Dihitung waktu yang dibutuhkan untuk mengisi
ember dengan penuh.
 Besarnya isi ember harus diketahui, misalnya 5
Velocity = Length/time liter. Pengukuran dilakukan tiga atau empat kali
dan menggunakan hasil rata-rata
Latihan Soal
 Untuk mengukur debit sebuah saluran, digunakan
Area =Length2
ember berukuran 8 liter. Kemudian dilakukan 4 kali
pengukuran. Ember terisi penuh setelah 15 detik,
12 detik, 17 detik dan12 detik. Berapa debit saluran
Pengukuran Debit Secara Tidak Langsung tersebut?
 Pengukuran tidak langsung ini dilakukan dengan
mengukur kecepatan (v) dan luas penampang aliran (A) Pengukuran Debit Secara Langsung dengan
menggunakan Bangunan Ukur
Rumus debit: Bangunan ukur yang berfungsi untuk mengukur
Q=vxA
volume air persatuan waktu (m 3/det atau 1/det) jenis
Dimana:
Q = debit air (m3/s atau liter/detik) bangunan ukur debit yang diinvestasikan adalah:
v = kecepatan (m/detik) 1. Bangunan Ukur Ambang Lebar
A = luas penampang aliran (m2) 2. Bangunan Ukur Romijin
3. Bangunan Ukur Crump de Gruyter
4. Bangunan Ukur Cipoletti
5. Bangunan Ukur Parshal Flume
6. Venturi Meter
7. Bangunan Ukur Thomson
1. Sekat ukur Romyn h = tinggi muka air (sentimeter)
 Alat ini ditemukan oleh seorang insinyur dari
Belanda pada tahun 1932 bernama D.G Romyn. Alat ukur tipe Cipoletti dan Thomson ini mempunyai
Selain berfungsi sebagai alat ukur juga berfungsi ciri-ciri sebagai berikut:
sebagai pintu penyalur air, ambang dari pintu  Konstuksi sederhana sehingga dapat dibuat dari
Romyn ini dapat dinaik turunkan dengan bahan-bahan local seperti kayu, plat besi dan
perantaraan alat pengangkat. sebagainya
 Pengukuran debit dengan pintu Romyn dapat  Dapat digunakan untuk mengukur debit air pada
menggunakan rumus. Rumus untuk pintu Romyn saluran yang berukuran kecil, misalnya saluran
adalah : sekunder dan tersier
Q=1,71.b.h 3/2  Bila diperlukan dibuat dalam bentuk yang dipindah-
Dimana: pindahkan. Sangat cocok untuk areal perkebunan tebu
Q = debit air (liter/detik) yang sering pindah-pindah lokasi atau untuk
b = lebar ambang (meter) keperluan penelitian efisiensi irigasi dan kebutuhan air
h = tinggi muka air (sentimeter) tanaman
 Agar dapat berfungsi dengan baik, diperlukan
2. Sekat Ukur Cipoletti kemiringan aliran air yang cukup dan tidak cocok
 Alat ukur ini berbentuk trapesium dengan dipakai di areal irigasi yang datar
perbandingan sisi 1:4 disebut sesuai dengan nama  Di muka ambang, mudah terjadi pengendapan lumpur
orang yang pertama kali menggunakannya, seorang yang dapat mempengaruhi hasil pengukuran debit dan
insinyur Itali yang bernama Cipoletti, dapat perlu pemeliharaan yang teratur
digunakan untuk mengukur debit air yang relatif
besar. 4. Bangunan Ukur Parshal Flume
 Ciri-ciri sekat ukur Cipolletti adalah  Parshall Flume adalah suatu alat ukur berdasarkan
a. Berbentuk trapesium dengan perbandingan 4:1 kedalaman kritik (critical depth measuring device)
b. Banyak digunakan pada saluran yang yang dapat dipasang di suatu saluran atau alur
mempunyai debit besar, contoh: bendungan (furrow) untuk mengukur debit.
 Pengukuran debit air dengan menggunakan sekat  Terdiri dari tiga bagian utama yakni : (a) bagian
ukur Cipoletti ini dapat menggunakan rumus penyempitan (converging or contracting section),
sebagai berikut: (b) bagian tenggorokan (throat section), dan (c)
Q = 0,0186 b.h 3/2 bagian pelebaran (diverging atau expanding
Dimana: section).
Q = debit air (liter/detik)  Kondisi pengukuran terdiri dari 2 kondisi yakni (a)
b = lebar ambang (sentimeter) kondisi aliran bebas (free- flow) dan (b) kondisi
h = tinggi muka air (sentimeter) tenggelam (submergence).

3. Sekat Ukur Thomson


Ciri-ciri sekat ukur Thomson adalah :
 Berbentuk segitiga sama kaki dengan sudut 90ᵒ
 Orang yang menggunakan pertama kali yaitu orang
Inggris bernama Y. Thomson.
 Untuk mengukur debit yang relative kecil
 Digunakan untuk saluran tersier dan kwarter
 Digunakan untuk pengairan di ladang tebu
Alat ini dapat dibuat dalam bentuk yang dapat
dipindah-pindahkan (portable). Sekat ukur ini
menggunakan rumus sebagai berikut:
Q = 0,014 h5/2
Dimana:
Q = debit air (liter/detik)
EFISIENSI IRIGASI air irigasi yang diperlukan tanaman (Vn) dengan
jumlah air yang sampai ke suatu inlet jalur atau
Definisi efisiensi irigasi petakan sawah (Vsw).
 Efisiensi irigasi (water application efficiency)
adalah perbandingan antara air yang dipakai dan
air yang disadap, dinyatakan dalam %.
 Jumlah air irigasi yang diperlukan tanaman
 Efisiensi irigasi total adalah hasil perkalian
disebut dengan V netto adalah jumlah air yang
efisiensi petak tersier, saluran sekunder dan
diperlukan tanaman (W) dikurangi dengan hujan
saluran primer, dalam %
efektif (He).
 Untuk padi sawah nilai W adalah perjumlahan
Keperluan air irigasi untuk tanaman padi
dari nilai ET, Perkolasi, dan Genangan.
 Seringkali dikatakan bahwa irigasi tanaman padi
di sawah adalah merupakan suatu proses
penambahan air hujan untuk memenuhi keperluan
air tanaman. Skema Definisi Efisiensi Irigasi
 Tanaman padi sawah memerlukan air cukup
banyak dan menginginkan genangan air untuk
menekan pertumbuhan gulma dan sebagai usaha
pengamanan apabila terjadi kekurangan air. Di
daerah tropik walaupun pada musim hujan, sering
terjadi suatu perioda kering sampai 3 minggu
tidak turun hujan. Pada situasi tersebut diperlukan
air irigasi untuk menjamin pertumbuhan tanaman
padi yang baik. Pada umumnya tinggi genangan
air adalah sekitar 50-75 mm untuk padi varietas
unggul (HYV) 3, sedangkan untuk varietas lokal
antara 100 -120 mm. Maksimum genangan air
pada HYV adalah sekitar 15 cm
 Apabila laju evaporasi sekitar 2 -6 mm/hari dan
perkolasi atau rembesan sekitar 6 mm/hari, maka
Efisiensi penyaluran
lapisan genangan air tersebut akan mencapai nol
 Efisiensi penyaluran di beberapa daerah irigasi di
pada selang waktu 4 sampai 15 hari, apabila tidak
banyak negara telah sering dikaji dan nampaknya
ada hujan dan air irigasi. Apabila situasi tersebut
merupakan suatu fungsi dari (a) luas areal daerah
berlanjut sampai beberapa minggu terutama pada
irigasi, (b) metoda pemberian air (kontinyu atau
masa pertumbuhan tanaman yang peka terhadap
rotasi) dan (c) luasan dari unit rotasi (Tabel 1.5).
kekeringan maka akan terjadi pengurangan
 Apabila air diberikan secara kontinyu dengan
produksi
debit kurang lebih konstan maka tidak akan
 Suatu tetapan konversi keperluan air biasanya
terjadi masalah pengorganisasian. Kehilangan air
dinyatakan dengan mm/hari yang dapat
hanya terjadi karena rembesan dan evaporasi
dikonversi ke suatu debit kontinyu pada suatu
 Kehilangan air di saluran dapat diukur dengan
areal yakni 1 l/det/ha = 8,64 mm/hari atau 1
beberapa metoda
mm/hari = 0,116 l/det/ha
 Salah satu metoda adalah inflow-outflow atau
teknik keseimbangan air pada suatu ruas saluran.
Menghitung efisiensi irigasi
Hal ini dapat dilakukan dengan mengukur debit
 Efisiensi pemakaian air (application efficiency) di
sawah EPA adalah perbandingan antara jumlah
inflow pada pangkal saluran dan debit outflow Contoh pengukuran
pada ujung saluran.  Kehilangan air untuk saluran sekunder Colo
 Efisiensi penyaluran air dinyatakan dengan Timur Kabupaten Karanganyar disebabkan karena
persamaan: adanya evaporasi, evapotranspirasi dan perkolasi.
Nilai evaporasi di daerah penelitian paling tinggi
terjadi pada Bulan September yaitu sebesar 3,789
mm/hari dan paling rendah pada Bulan Mei
 Pemberian air secara rotasi atau intermittent
sebesar 2,641 mm/hari. Rata-rata evaporasi
memerlukan pengaturan pasok air dan
tahunan adalah 37,224 mm/tahuan. Untuk nilai
memerlukan bangunan atur dan ukur yang baik
evapotranspirasi tertinggi terjadi pada Bulan
 Ukuran optimum suatu daerah irigasi dengan
Agustus yaitu 5,172 mm/hari dan terendah pada
sistim rotasi nampaknya sekitar 5.000 ha.
Bulan Maret sebesar 4,619 mm/hari. Rata-rata
Efisiensi penyaluran pada jaringan yang lebih
evapotranspirasi tahunan adalah 4,899 mm/tahun.
kecil (< 2.000 ha) akan menjadi berkurang. Hal
Nilai perkolasi di daerah penelitian pada masing-
yang serupa juga terjadi apabila areal terlalu luas
masing klas tekstur tanah memiliki nilai yang
(> 10.000 ha). Luasan unit rotasi juga
sama yaitu 1,3 mm/hari.
mempengaruhi efisiensi penyaluran.
 Efisiensi irigasi di saluran sekunder Colo Timur
 Tabel Efisiensi penyaluran pada sistim primer
mempunyai nilai efisiensi paling baik yaitu
(EDP) dan sekunder (EDS)
saluran sekunder TOR 23A sebesar 97% artinya
selama perjalanannya dari inlet ke outlet tidak
Efisiensi distribusi
banyak terjadi kehilangan air, sedangkan nilai
 Efisiensi distribusi dipengaruhi oleh beberapa
efisiensi paling jelek pada saluran sekunder TOR
faktor yakni (a) kehilangan rembesan, (b) ukuran
17 sebesar 65% artinya air irigasi dalam
grup inlet yang menerima air irgasi lewat satu
perjalanannya banyak mengalami kehilangan air
inlet pada sistim petak tersier, dan (c) lama
sehingga air yang masuk dari inlet banyak yang
pemberian air dalam grup inlet.
tidak sampai pada outlet. Nilai rata-rata efisiensi
 Untuk mendapatkan efisiensi distribusi yang
irigasi di Saluran Irigasi Colo Timur Kabupaten
wajar, jaringan tersier harus dirancang dengan
Karanganyar adalah 80,3%.
baik, dan mudah dioperasikan oleh petani.
Latihan Soal
Beberapa penelitian efisiensi irigasi di Indonesia
 Berapakah efisiensi penyaluran air pada suatu
 Penelitian efisiensi distribusi irigasi di saluran
ruas jaringan irigasi yang debit inflow pada
primer, sekunder, dan tersier serta efisiensi
pangkal salurannya adalah 86.1 liter/detik , dan
pemakaian air di petakan sawah telah
debit outflow pada ujung salurannya 42.5
dilaksanakan oleh sejak tahun 1975.
liter/detik?
 Metoda pengukuran efisiensi distribusi dilakukan
dengan metoda Inflow-Outflow, debit diukur
dengan metoda kecepatan-luas penampang,
dimana kecepatan aliran diukur dengan Current
Meter. EPA dihitung dengan metoda Neraca Air,
dimana perkolasi dan evapotranspirasi diukur
dengan lisimeter drum terbuka dan tertutup, debit
aliran diukur dengan sekat ukur (Thompson, Cut-
throat flume), evaporasi diukur dengan panci
evaporasi, hujan dengan penakar hujan standard.