Anda di halaman 1dari 2

Nama : Adhis Hikmah Tiar

NIM : F1D214018
Prodi : T.Geologi

Tugas Manajemen Bencana

Pendahuluan
Indonesia merupakan wilayah yang sering dilanda bencana geologis seperti letusan
gunungapi, gempabumi, tsunami, dan gerakan tanah. Gerakan tanah merupakan salah satu
bencana geologis yang sering terjadi di Indonesia dengan jumlah korban jiwa dan kerugian
harta benda yang cukup besar. Hal ini erat kaitannya dengan posisi Indonesia yang terletak
pada pertemuan tiga lempeng aktif di dunia sehingga memungkinkan terbentuknya morfologi
yang curam dengan batuan penyusun yang berasal dari aktivitas vulkanik. Selain karena
letaknya , bencana geologis di Indonesia juga dipengaruhi oleh kondisi iklim tropis dengan
curah hujan yang tinggi. Kondisikondisi seperti ini memungkinkan terjadinya proses kimia dan
mekanik yang berlangsung secara intensif. Salah satu kejadian gerakan tanah yang
menimbulkan korban jiwa dan kerusakan yang cukup besar adalah tanah longsor yang terjadi
pada 23 Februari 2010 di Perkebunan Teh Dewata, Desa Tenjolaya, Kecamatan Pasirjambu,
Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat.
Dasar Teori
Gerakan tanah (landslide) didefinisikan secara sederhana sebagai pergerakan masa
batuan, debris atau tanah menuju bagian bawah lereng (Cruden, 1991, dalam Cornforth, 2004).
Di dalam SNI 13-6982.2 tentang pemeriksaan lokasi bencana gerakan tanah, gerakan tanah
didefinisikan sebagai perpindahan material pembentuk lereng, berupa batuan, bahan timbunan,
tanah, atau material campuran yang bergerak ke arah bawah dan keluar lereng (BSN, 2004).
Gerakan tanah dapat terjadi karena beberapa sebab baik faktor alam maupun faktor
perbuatan manusia. Gerakan tanah terjadi karena adanya penurunan nilai faktor keamanan
lereng. Perubahan nilai faktor keamanan disebabkan oleh perubahan pada kekuatan gaya
penahan (resisting force) dan gaya pendorong (driving force) .
Kejadian tanah longsor sangat dipengaruhi oleh kondisi geologi yang berhubungan
dengan sifat keteknikan tanah dan batuan penyusun serta kondisi lereng. Pemotongan lereng
yang dilakukan tanpa memperhitungkan nilai kestabilan lereng akan semakin memicu
terjadinya tanah longsor.
Pembahasan
Tanah longsor terjadi karena adanya peningkatan kandungan air pada lapisan tanah
pelapukan yang bersifat porous seiring dengan curah hujan yang tinggi sehingga terjadi
penjenuhan pada tanah pelapukan dan batuan permukaan. Penjenuhan ini mengakibatkan
bertambahnya bobot masa tanah dan meningkatnya tekanan pori sehingga tahanan geser
menjadi berkurang. Kemiringan lereng yang terjal (>45°) semakin memperkuat untuk
terjadinya keruntuhan. Kontak antara tanah pelapukan yang cukup tebal dengan breksi tufa
bertindak sebagai bidang gelincir. Material longsoran bergerak mengikuti lembah dan
menggerus tebing lembah yang dilaluinya sehingga semakin meningkatkan volume material
rombakan yang dibawa. Banyaknya volume material rombakan yang kemudian tercampur
dengan air sungai yang dilaluinya mengakibatkan viskositas semakin meningkat sehingga
aliran bahan rombakan ini menjangkau areal yang cukup jauh dan merusak serta menimbun
sarana dan prasarna yang dilaluinya.
Beberapa hal yang harus diperhatikan :
Tanah longsor sepertinya sudah menjadi hal yang biasa terjadi di Indonesia, terutama
pada musim hujan. Tetapi sudah begitu pahamkah masyarakat, terutama yang tinggal di daerah
rawan bencana tanah longsor, terhadap tandatanda awal (precursor) akan terjadinya tanah
longsor. Berdasarkan hasil penyelidikan melalui dialog dengan masyarakat sekitar dan saksi
mata yang menyaksikan secara langsung peristiwa ini, diperoleh beberapa informasi menarik
yang sudah sepatutnya menjadi perhatian bagi kita yang peduli bencana, terutama tanah
longsor. Masyarakat merasakan adanya getaran semacam gempa yang terjadi secara lokal
beberapa jam sebelum terjadinya tanah longsor.
Getaran ini dirasakan pada dinihari menjelang pagi setelah sebelumnya turun hujan
dengan intensitas tinggi dan berlangsung lama. Hal lain yang dijumpai oleh masyarakat adalah
munculnya mata air baru pada beberapa titik di bagian bawah lereng yang sebelumnya tidak
ada. Kondisi lain yang menjadi penciri awal sebelum terjadinya tanah longsor yang dijumpai
dan dirasakan oleh masyarakat adalah terjadinya perubahan fisik air pada mata air yang
terdapat di sekitar kaki lereng. Air yang muncul pada mata air ini sebelumnya bersih dan
bening, namun kemudian mengalami perubahan warna menjadi keruh dan kotor. Retakan-
retakan sebelumnya juga dijumpai oleh beberapa masyarakat yang melewati bagian atas lereng.

Sumber :
Imam A. Sadisun.2010. Belajar dari tanah longsor Dewata, Kecamatan PasirJambu,
Kabupaten Bandung. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, ITB.