Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


UUD 1945 hasil amandemen pasal 28 H ayat (1) mengamanatkan pada
kita, bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat
tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak
memperoleh pelayanan kesehatan.
Visi pembangunan di jawa timur yaitu “ Mewujudkan Masyarakat
Jawa Timur yang makmur dan berakhlak di dalam NKRI “ dengan misinya “
makmur bersama wong cilik “.
Untuk mewujudkan visi pembangunan di Jawa Timur tersebut, perlu
dilakukan pendekatan akses dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan
kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat
yang setinggi-tingginya di Jawa Timur, salah satu programnya adalah
pengembangan Pondok Bersalin Desa (POLINDES) menjadi Pondok
Kesehatan Desa ( PONKESDES ) yang telah di tetapkan dalam Peraturan
Gubernur No. 4 Tahun 2010 tentang Pondok Kesehatan Desa di Jawa Timur.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana Konsep dari Ponkesdes (Pondok Kesehatan Desa)?

1.3 Tujuan
Untuk menjelaskan Konsep dari Ponkesdes (Pondok Kesehatan Desa)

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi Ponkesdes


Standar Pondok Kesehatan Desa ( Ponkesdes ) adalah ukuran baku dan
tolok ukur yang dipergunakan dalam penyelenggaraan pelayanan dan
penilaian kualitas pelayanan kesehatan di Ponkesdes.
Ponkesdes adalah sarana pelayanan kesehatan yang berada di desa
atau kelurahan yang merupakan pengembangan dari Pondok Bersalin Desa
(Polindes) sebagai jaringan Puskesmas dengan tenaga minimal perawat dan
bidan dalam rangka mendekatkan akses dan meningkatkan kualitas pelayanan
kesehatan.

2.2 Tujuan
1. Tujuan Umum
Tersedianya standar penyelenggaraan Ponkesdes sehingga
tercapai pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, efektif dan efisien
agar terwujud derajat kesehatan masyarakat di desa/ kelurahan yang
optimal.
2. Tujuan Khusus
a. Tersedianya Standar Administrasi dan Manajemen Ponkesdes;
b. Tersedianya Standar Sumber Daya Ponkesdes;
c. Tersedianya Standar Upaya Pelayanan Kesehatan Ponkesdes;
d. Tersedianya Standar Pencatatan Pelaporan Ponkesdes;
e. Tersedianya Standar Monitoring dan Evaluasi Ponkesdes.

2.3 Manfaat
Dengan tersedianya Standar Ponkesdes maka dapat diperoleh manfaat
sebagai berikut:
1. Bagi Masyarakat

2
Sebagai acuan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai
standar;
2. Bagi Petugas Ponkesdes
Sebagai acuan dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan di
Ponkesdes;
3. Bagi Puskesmas
Sebagai acuan dalam penyelenggaraan pelayanan, monitoring dan
evaluasi pelayanan kesehatan di desa;
4. Bagi Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota
a. Sebagai acuan dalam mengukur kinerja pelayanan kesehatan
di Ponkesdes;
b. Sebagai acuan dalam penentuan kebijakan di Ponkesdes.;
c. Sebagai acuan dalam perencanaan program dan anggaran.

2.4 Ruang Lingkup Poskesdes


Ruang lingkup Standar Ponkesdes meliputi:
1. Administrasi dan manajemen termasuk kelembagaan, visi, misi dan
tujuan yang merupakan arah strategi Ponkesdes, prosedur pelayanan,
biaya/tarif, jenis pelayanan, indikator kinerja, uraian
tugas,perencanaan kegiatan, rekam medik, SOP, informed consent,
tugas limpah dan hak serta kewajiban pasien;
2. Sumber daya, meliputi bangunan, pembiayaan, peralatan, obat-obatan
dan sumber daya manusia;
3. Upaya pelayanan kesehatan di Ponkesdes meliputi Upaya Pelayanan
Kesehatan Wajib dan Pengembangan;
4. Pencatatan pelaporan, meliputi pencatatan dan mekanisme pelaporan;
5. Monitoring dan evaluasi,dan
6. Penilaian Standar.

3
2.5 Manajemen Poskesdes
Manajemen Ponkesdes adalah proses rangkaian kegiatan yang
dilaksanakan secara sistematik di Ponkesdes untuk menghasilkan luaran yang
efektif dan efisien. Ponkesdes harus mempunyai organisasi dan
pengelolaan administrasi serta manajemen yang baik, meliputi:
A. Kelembagaan, Struktur Organisasi dan Papan Nama;
 Kriteria pembentukan Ponkesdes:
1) Desa/kelurahan yang belum mempunyai sarana
pelayanan Puskesmas dan Puskesmas Pembantu;
2) Ponkesdes didirikan di desa/kelurahan, diutamakan
yang sudah ada Polindes. Bagi desa/kelurahan yang
belum punya Polindes dapat langsung didirikan
Ponkesdes;
3) Tanah dan bangunan Ponkesdes bukan milik pribadi.
 Kedudukan dan tanggung jawab di Ponkesdes:
1) Ditinjau dari aspek administrasi, Ponkesdes adalah
jaringan Puskesmas dimana Koordinator Ponkesdes
bertanggung jawab kepada Kepala Puskesmas;
2) Ditinjau dari aspek teknis pelayanan kesehatan,
Ponkesdes melaksanakan pelayanan kesehatan wajib
dan pengembangan, sesuai dengan kewenangan dan
kompetensinya.
B. Visi, Misi dan Tujuan;
 Visi
Visi Ponkesdes adalah “Terwujudnya Desa/Kelurahan
Sehat Menuju Kecamatan Sehat“. Visi tersebut merupakan
pengembangan dari visi Puskesmas yakni terwujudnya
kecamatan sehat.
Gambaran dari desa/kelurahan sehat adalah kondisi
dimana suatu desa berada dalam lingkungan yang sehat,

4
masyarakatnya berperilaku hidup bersih dan sehat, serta mudah
menjangkau dan dijangkau pelayanan kesehatan yang
berkualitas.
 Misi
Untuk mewujudkan visi tersebut diatas, maka misi yang
dilaksanakan adalah:
1. Menggerakkan masyarakat desa/ kelurahan, agar
menciptakan lingkungan desa/ kelurahan yang sehat;
2. Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan
masyarakat di desa/ kelurahan;
3. Memelihara dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan
dasar di Ponkesdes;
4. Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan,
keluarga, masyarakat desa/ kelurahan.
 Tujuan
Ponkesdes didirikan dengan tujuan untuk
menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang berkualitas serta
meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup
sehat bagi setiap orang yang bertempat tinggal di desa/
kelurahan, agar terwujud derajat kesehatan masyarakat di desa/
kelurahan yang setinggi-tingginya.
C. Jenis Pelayanan
Jenis pelayanan yang dilaksanakan meliputi upaya kesehatan
masyarakat tingkat pertama dan upaya kesehatan pereorangan tingkat
pertama yang dilakukan di Puskesmas.
D. Alur Pelayanan;
Dibuat bagan alur tentang prosedur proses penyelesaian setiap
jenis pelayanan, misalnya bagan alur pendaftaran di loket, bagan alur
pemeriksaan dan pengambilan obat. Bagan alur dibuat sesederhana
mungkin dan tidak berbelit-belit.

5
E. Biaya/Tarif;
Biaya /tarif diberlakukan berdasarkan peraturan yang ada di
Puskesmas.
F. Indikator Kinerja;
Indikator kinerja perawat dan bidan di Ponkesdes adalah
variabel untuk mengukur prestasi pelaksanaan kegiatan perawat dan
bidan dalam kurun waktu tertentu. Indikator Kinerja di Ponkesdes
dibuat berdasarkan pada Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan
Penilaian Kinerja Puskesmas (PKP).
G. Uraian Tugas;
Uraian tugas adalah seperangkat fungsi, tugas dan tanggung
jawab yang dijabarkan dalam suatu pekerjaan yang dapat
menunjukkan jenis dan spesifikasi pekerjaan, sehingga dapat
menunjukkan perbedaan antara pekerjaan yang satu dengan yang
lainnya. Uraian tugas merupakan dasar utama untuk dapat memahami
dengan tepat tugas dan tanggung jawab serta akuntabilitas setiap
petugas di Ponkesdes dalam melaksanakan peran dan fungsinya.
Petugas di Ponkesdes harus mempunyai uraian tugas yang
memuat tanggung jawab, wewenang dan hubungan kerja antar sesama
petugas. Uraian tugas dibuat oleh Kepala Puskesmas dan dipantau
pelaksanaan tugasnya oleh Penanggung Jawab Ponkesdes.
H. Perencanaan Kegiatan;
Setiap awal tahun Ponkesdes harus membuat perencanaan
terlebih dahulu dan kegiatan pelayanan kesehatan yang dilakukan
harus sesuai dengan rencana kegiatan yang telah dibuat. Perencanaan
kegiatan disampaikan pada microplanning di Puskesmas.
Pelaksanaan rencana kegiatan harus dievaluasi berdasarkan
indikator yang telah ditentukan:
1. P1: Perencanaan, meliputi penyusunan rencana lima tahunan
dan penyusunan rencana tahunan;

6
2. P2: Penggerakan dan Pelaksanaan;
3. P3: Pengawasan, Pengendalian dan Penilaian Kinerja.
I. Rekam Medik;
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 269/MENKES/PER/III/2008. Rekam medik adalah berkas
yang berisikan catatan tentang identitas pasien, pemeriksaan,
pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada
pasien
J. Standar Operasional Prosedur;
Standar Operasional Prosedur adalah suatu perangkat
instruksi/langkah yang dibakukan untuk menyelesaikan suatu proses
kerja rutin tertentu dengan memberikan langkah-langkah yang benar
dan terbaik berdasarkan konsensus bersama untuk melaksanakan
berbagai kegiatan dan fungsi pelayanan untuk membantu mengurangi
kesalahan dan pelayanan sub standar dengan memberikan langkah-
langkah yang sudah diuji dan disetujui dalam melaksanakan berbagai
kegiatan.
K. Informed Consent;
Persetujuan tindakan medik/informed consent adalah
persetujuan yang diberikan oleh pasien atau keluarganya atas dasar
penjelasan mengenai tindakan medik yang akan dilakukan perawat dan
bidan terhadap pasien.
1. Setiap tindakan medik yang mengandung risiko tinggi harus
dengan persetujuan tertulis yang ditanda tangani oleh yang
berhak memberikan persetujuan;
2. Informasi tentang tindakan medik harus diberikan kepada
pasien, baik diminta maupun tidak diminta.
3. Persetujuan/ penolakan dapat diberikan secara tertulis maupun
lisan oleh pasien setelah yang bersangkutan mendapat
penjelasan secara lengkap dari tenaga kesehatan

7
4. Bagi pasien dewasa yang menderita gangguan mental,
persetujuan diberikan oleh orang tua/wali.
5. Bagi pasien dibawah umur 21 (dua puluh satu) tahun dan tidak
mempunyai orang tua/wali dan atau orang tua/wali
berhalangan, persetujuan diberikan oleh keluarga terdekat.
6. Dalam hal pasien tidak sadar/pingsan serta tidak didampingi
oleh keluarga terdekat dan secara medik berada dalam keadaan
gawat dan atau darurat yang memerlukan tindakan medik
segera untuk kepentingannya, tidak diperlukan persetujuan dari
siapapun.
L. Pendelegasian Pemeriksaan dan Pengobatan Tingkat Dasar;
Pengobatan merupakan suatu proses ilmiah yang dilakukan
oleh dokter berdasarkan temuan-temuan yang diperoleh selama
anamnesis dan pemeriksaan.
Pendelegasian ini diberikan oleh Kepala Puskesmas kepada
perawat yang ditempatkan di Ponkesdes untuk melaksanakan
pengobatan dasar.
Pendelegasian pengobatan di Ponkesdes dalam melakukan
pelayanan kesehatan di luar kewenangan kepada perawat dilakukan
karena:
1. Dalam keadaan darurat untuk penyelamatan nyawa
seseorang/pasien dan tidak ada dokter ditempat kejadian.
2. Perawat merupakan petugas kesehatan dari Puskesmas yang
ditempatkan di Ponkesdes dan harus melaksanakan tugas
Pengobatan Dasar sesuai dengan SOP .
3. Keadaan situasional tertentu seperti jumlah yang banyak yang
tidak dapat ditangani oleh dokter yang ada atau ada kejadian
Luar Biasa (KLB).
Kepala Puskesmas bertindak sebagai penanggung jawab dan
menerima laporan dari perawat Ponkesdes.

8
M. Hak dan Kewajiban Pasien.
 Hak pasien
Setiap pasien mempunyai hak :
1. Memperoleh informasi mengenai tata tertib dan
peraturan yang berlaku;
2. Memperoleh layanan yang bermutu, aman, nyaman,
adil, jujur dan manusiawi;
3. Mengajukan pengaduan atas kualitas pelayanan yang
didapatkan;
4. Mendapat informasi hasil pemeriksaan yang meliputi
diagnosis dan tata cara tindakan, tujuan tindakan,
alternatif tindakan, resiko, biaya dan komplikasi yang
mungkin terjadi dan prognosis terhadap tindakan yang
dilakukan;
5. Memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan
yang akan dilakukan oleh tenaga kesehatan terhadap
penyakit yang dideritanya;
6. Keluarga dapat mendampingi saat menerima pelayanan
kesehatan.
 Kewajiban pasien
Kewajiban pasien di Ponkesdes adalah:
1. Memeriksakan diri sedini mungkin;
2. Memberikan informasi yang benar dan lengkap tentang
masalah kesehatannya kepada tenaga kesehatan di
Ponkesdes;
3. Mematuhi nasehat dan petunjuk tenaga kesehatan di
Ponkesdes; dan
4. Membayar biaya sesuai peraturan yang berlaku.

9
2.6 Sumberdaya Ponkesdes
Ponkesdes harus memiliki sumber daya yang diperlukan untuk
penyelenggaraan kegiatan pelayanan kesehatan. Sumber daya di Ponkesdes
meliputi:
1. Bangunan
a. Ponkesdes merupakan bagian dari jejaring pelayanan kesehatan
Puskesmas untuk mencapai indikator kinerja kesehatan yang
ditetapkan daerah, oleh karena itu Ponkesdes harus didirikan
diatas tanah negara dan merupakan bangunan milik Pemerintah
Daerah.
b. 1 (satu) buah Ponkesdes mempunyai luas bangunan minimal
sebesar 49 m2.
c. Lokasi Ponkesdes hendaknya mudah dijangkau oleh
masyarakat, bebas dari pencemaran, banjir dan tidak
berdekatan dengan rel kereta api, tempat bongkar muat barang,
tempat bermain anak, pabrik industri dan limbah pabrik.
d. Luas lahan untuk bangunan tidak bertingkat, minimal 1,5 kali
luas bangunan.
e. Jenis Bangunan: Permanen
f. Kriteria bangunan yang memenuhi syarat minimal kesehatan:
Bangunan harus kuat, utuh, dinding tidak berlubang, atap kuat,
luas ventilasi 20 % luas lantai, penerangan cukup, lantai kedap
air, sirkulasi udara yang baik.
g. Pada setiap ruangan periksa harus tersedia wastafel dengan air
mengalir.
h. Untuk melakukan kegiatan pelayanan kesehatan di Ponkesdes
diperlukan ruangan-ruangan.
i. Pelayanan administrasi umum hendaknya berdekatan dengan
pintu utama Ponkesdes.

10
j. Fasilitas ruangan yang ada harus dirawat dengan baik.
Bangunan Ponkesdes harus terpelihara, mudah dibersihkan dan
dapat mencegah penularan penyakit serta kecelakaan.
k. Ruangan Ponkesdes (baik untuk pemeriksaan, persalinan,
maupun kamar mandi) harus terlihat bersih, tidak ada sampah
berserakan, tersedia tempat sampah, atap bersih dan terawat
tidak ada sarang laba-laba.
2. Pembiayaan
1) Pembiayaan penyelenggaraan Ponkesdes diperoleh dari
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)
Kabupaten/Kota, APBD Provinsi, APBN, dan sumber lain
yang sah dan tidak mengikat.
2) Dana operasional Ponkesdes adalah dana yang dapat
digunakan untuk kelangsungan kegiatan di Ponkesdes, bisa
berupa dana untuk pemeliharaan bangunan Ponkesdes,
pelaksanaan program maupun pembelian bahan pakai habis.
3) Tarif sesuai dengan aturan yang berlaku.
3. Peralatan
Peralatan kebidanan dan keperawatan harus terlihat bersih
sehabis dipakai, langsung dicuci, atau disetrika, disimpan pada
tempatnya dengan rapi dan tertutup sehingga tidak ada debu yang
menempel.
4. Pelayanan kefarmasian
Pelayanan kefarmasian yang dilakukan di Ponkesdes
merupakan pelayanan kefarmasian secara terbatas yang meliputi:
1) Pengelolaan obat dan bahan medis habis pakai, meliputi
kegiatan perencanaan, penyimpanan, pencatatan dan pelaporan.
2) Pelayanan obat, meliputi kegiatan peracikan obat, penyerahan
obat dan pemberian informasi obat.

11
3) Penyelenggaraan pelayanan kefarmasian secara terbatas
dibawah pembinaan dan pengawasan tenaga kefarmasian di
Puskesmas.
4) Pencatatan dalam rekam medis pasien meliputi: jenis obat,
dosis obat yang diberikan dan aturan pakai.
5) Pencatatan, pelaporan dan pengarsipan mengenai pemakaian
obat dan efek samping obat.
6) Pemberian informasi kepada pasien maupun keluarga pasien
meliputi: dosis obat, cara pemakaian obat, penyimpanan obat
serta kontra indikasi penggunaan obat.
5. Sumber daya manusia
Tenaga kesehatan di Ponkesdes minimal terdiri dari 1 ( satu)
orang bidan dan 1 (satu) orang Perawat, dimana tenaga tersebut
diharapkan bertempat tinggal di desa atau kelurahan wilayah
kerjanya. Jenis dan jumlah tenaga di Ponkesdes dapat dikembangkan
sesuai dengan kebutuhan.
Bidan yang melaksanakan tugas di Ponkesdes harus
mempunyai Surat Tanda Registrasi (STR) dan Surat Izin Praktek
Bidan (SIPB) dan SIKB (Surat Izin Kerja Bidan). Perawat dapat
melaksanakan praktik keperawatan pada sarana pelayanan kesehatan,
baik praktek perorangan atau berkelompok. Perawat yang
melaksanakan praktek keperawatan pada sarana pelayanan kesehatan
harus mempunyai Surat Tanda Registrasi (STR) dan SIPP ( Surat Ijin
Praktek Perawat) bagi fasyankes dan atau praktek mandiri.
Tenaga Bidan di Ponkesdes adalah Bidan dari Pegawai Negeri
Sipil (PNS), yang diangkat oleh Bupati/ Walikota atau bidan Pegawai
Tidak Tetap (PTT) Pusat yang diangkat oleh Menteri Kesehatan atau
Bidan PTT daerah yang diangkat Bupati /Walikota.

12
Tenaga Perawat di Ponkesdes adalah perawat PNS atau
Perawat Ponkesdes yang ditempatkan oleh Bupati / Walikota, minimal
DIII keperawatan.
Kompetensi yang dibutuhkan dalam pelaksanaan tugas di Ponkesdes:
a. Kompetensi Bidan:
1) Pra konsepsi, keluarga berencana dan ginekologi.
2) Asuhan dan konseling selama kehamilan.
3) Asuhan persalinan dan kelahiran.
4) Asuhan ibu nifas dan menyusui.
5) Asuhan bayi baru lahir.
6) Asuhan bayi dan anak balita.
7) Kebidanan komunitas.
8) Asuhan ibu dengan gangguan reproduksi.
b. Kompetensi Perawat:
1) Asuhan keperawatan klinik.
2) Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD)/ Basic
Life Support(BLS).
3) Penyuluhan dan konseling.
4) Imunisasi.
5) Keperawatan kesehatan masyarakat.

2.7 Upaya Kesehatan di Ponkesdes


Upaya Kesehatan adalah setiap kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan
yang dilakukan secara terpadu, terintegrasi dan berkesinambungan untuk
memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk
pencegahan penyakit,peningkatan kesehatan,pengobatan penyakit, dan
pemulihan kesehatan oleh pemerintah dan/atau masyarakat.
Ponkesdes merupakan bagian dari jejaring Puskesmas untuk mencapai
indikator kinerja kesehatan yang ditetapkan daerah. Oleh karenanya

13
Ponkesdes mempunyai hubungan koordinatif, kooperatif dan fungsional
dengan Puskesmas dan Dinas Kesehatan dan sarana pelayanan kesehatan lain.
Ponkesdes wajib berpartisipasi dalam penanggulangan bencana,
wabah penyakit, pelaporan penyakit menular dan penyakit lain yang
ditetapkan oleh tingkat nasional dan daerah serta dalam melaksanakan
program prioritas pemerintah. Ponkesdes melaksanakan pelayanan kesehatan
dasar yang terdiri dari upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan
perseorangan.
Sebagai jejaring Puskesmas, Ponkesdes menyelenggarakan upaya
kesehatan masyarakat tingkat pertama dan upaya kesehatan perseorangan
tingkat pertama di wilayah desa/kelurahan.
A. Upaya Kesehatan Masyarakat Tingkat Pertama
1) Upaya Kesehatan Masyarakat Esensial
a) Pelayanan Promosi Kesehatan;
Kegiatan Promosi Kesehatan yang dilaksanakan di
Ponkesdes
 Kegiatan di dalam gedung
 Melakukan penyuluhan perorangan,
keluarga dan kelompok.
 Pemasangan dan pemanfaatan Media
Promosi Kesehatan.
 Melaksanakan konseling masalah
kesehatan.
 Pencatatan dan pelaporan kegiatan
promosi kesehatan.
 Kegiatan di luar gedung
 Melakukan pendekatan kepada pimpinan
wilayah setempat agar mendapat
dukungan dalam pengembangan
kegiatan kesehatan.

14
 Membina hubungan kerjasama dengan
para tokoh masyarakat/agama di desa.
 Melakukan kemitraan dengan organisasi
kemasyarakatan, Lembaga Sosial
Masyarakat ( LSM) , Tokoh Masyarakat
( TOMA) dan Tokoh Agama ( TOGA).
 Melakukan penyuluhan perorangan pada
saat kunjungan rumah.
 Melakukan Penyuluhan kelompok yang
ada (pengajian, arisan, karang taruna
dsb).
 Melakukan pengembangan dan
pembinaan UKBM yang berkembang di
desa ( Posyandu, Poskestren, Pos
UKK, Poskesdes dsb.)
 Mengembangkan Desa Siaga Aktif.
 Memberdayakan Masyarakat untuk
berperilaku hidup bersih dan sehat.
b) Pelayanan Kesehatan Lingkungan;
Kegiatan Penyehatan Lingkungan yang
dilakukan di Ponkesdes:
 Kegiatan di dalam gedung
Memberikan penyuluhan, konseling terhadap
pasien tentang rumah dan lingkungan sehat
melalui Pelayanan Kesehatan Lingkungan
(Klinik Sanitasi).
 Kegiatan di luar gedung.
 Membantu mekanisme penyediaan dan
pengelolaan air bersih dan sanitasi

15
lingkungan berbasisi komunitas
masyarakat
 Membantu peningkatan kelayakan dan
kesehatan rumah tinggal penduduk,
terutama keluarga miskin serta
pengadaan sarana sanitasi dasar
 Membantu melakukan pembinaan
lingkungan, antara lain tentang sanitasi
perumahan, sanitasi dasar, sarana air
bersih
 Menggerakan masyarkat terhadap akses
terhadap sarana kesehatan lingkungan.
 Membantu pendataan dan penilaian
rumah terhadap sarana sanitasi dasar
(Jamban, Air limbah, sampah), dan
sarana air bersih.
Untuk menunjang pelaksanaan kegiatan tersebut
petugas ponkesdes perlu didukung dengan instrumen
penunjang kegiatan berupa formulir inspeksi rumah sehat
yang terdiri dari;
 Komponen rumah
 Sarana Sanitasi
 Perilaku Penghuni
 Binatang Peliharaan .
Standar Kegiatan
Langkah awal yang dapat dilakukan adalah
mengupayakan perubahan perilaku masyarakat kearah yang
lebih baik. Beberapa cara yang dapat diterapkan sebagai
usaha meningkatkan kesadaran dan peran serta masyarakat
adalah sebagai berikut:

16
 Menggalakkan penyuluhan tentang hidup bersih dan
sehat
Penyuluhan kesehatan lingkungan secara umum
dilaksanakan untuk membudayakan hidup bersih dan
sehat, secara khusus dimaksudkan untuk merubah
pengetahuan, sikap dan perilaku hidup sehat dalam
pengelolaan, penyediaan dan pemeliharaan sarana
kesehatan lingkungan.
 Memberi contoh lingkungan sehat bagi masyarakat
Contoh lingkungan sehat bagi masyarakat yang
cocok adalah suatu rumah sederhana dengan
pekarangan yang bersih, mempunyai jamban yang
cukup syarat kesehatan, air yang cukup tersedia,
adanya tempat pembuangan limbah padat dan cair.
 Menunjang kesehatan masyarakat dalam bidang
sanitasi lingkungan.
Konsep dan teknis sanitasi yang cocok bagi
suatu wilayah, kadangkala dapat timbul dari
masyarakat sendiri. Hal ini merupakan sumbangan
besar bagi terlaksananya usaha sanitasi lingkungan.
c) Pelayanan Kesehatan Ibu Anak dan Keluarga
Berencana;
Pelayanan Kesehatan Ibu
Pelayanan kesehatan ibu dilaksanakan
melalui pendekatan promotif, preventif, kuratif
dengan melakukan kolaborasi atau
melaksanakan pelimpahan wewenang atau tugas
pelimpahan. Kegiatan Pelayanan Kesehatan Ibu:
 Kegiatan di dalam dan di luar gedung :

17
 Pelayanan kesehatan masa sebelum
hamil.
 Pelayanan kesehatan masa hamil.
 Pelayanan kesehatan persalinan.
 Pelayanan kesehatan masa sesudah
melahirkan.
 Pelayanan kontrasepsi.
 Pelayanan kesehatan seksual.
Pelayanan Kesehatan Anak
 Kegiatan didalam dan diluar gedung:
 Kesehatan janin dalam kandungan.
 Kesehatan bayi baru lahir.
 Kesehatan bayi, anak balita dan
prasekolah.
 Pelayanan Kesehatan Anak Usia
Sekolah dan Remaja.
 Perlindungan kesehatan anak.
Pelayanan Keluarga Berencana
 Kegiatan didalam gedung
 Pelayanan konseling Keluarga
Berencana.
 Pelayanan kontrasepsi.
 Pelayanan efek samping dan
komplikasi.
 Kegiatan diluar gedung
 Pelayanan konseling Keluarga
Berencana.
 Pelayanan kontrasepsi.

18
d) Pelayanan Gizi;
Upaya perbaikan gizi masyarakat dilakukan
oleh para petugas gizi puskesmas bersama-sama dengan
masyarakat setempat. Kegiatannya dilakukan di dalam
gedung maupun di luar gedung dan bekerjasama
dengan lintas program maupun lintas sektor. Kegiatan
Perbaikan Gizi Masyarakat :
 Kegiatan di dalam gedung
 Kebijakan dan prosedur penyuluhan
setiap konsultasi gizi.
 Melaksanakan program kesehatan gizi
masyarakat dengan sasaran ibu hamil,
ibu nifas, bayi dan balita.
 Memotivasi ibu post partum untuk
segera memberikan ASI eksklusif (
IMD).
 Pemberian tablet tambah darah untuk
ibu hamil.
 Pengukuran Lingkar Lengan Atas
(LILA) ibu hamil.
 Pemberian kapsul vitamin A.
 Poli Gizi.
 Perawatan gizi buruk.
 Penyuluhan kelompok.
 Kegiatan diluar gedung:
 Pemberian kapsul vitamin A.
 Memotivasi ibu post partum untuk
segera memberikan ASI eksklusif.

19
 Penimbangan setiap bulan dan
pemantauan pertumbuhan bayi, anak
balita di Posyandu.
 Pengukuran tinggi badan dan
penimbangan berat badan bayi dan
balita.
 Penyuluhan, pemantauan status gizi dan
konsultasi gizi.
 Pemetaan Kadarzi.
 Monitoring garam beryodium.
 Penyuluhan kelompok.
 Pemberian makanan pendamping ASI
pada usia 6-24 bulan yang Bawah Garis
Merah (BGM).
 Pemantauan balita gizi buruk yang
mendapat perawatan.
 Pemberian tablet tambah darah.
 Pemantauan balita gizi buruk mendapat
PMT Pemulihan.
 Pemantauan balita BGM (Bawah Garis
Merah).
e) Pelayanan pencegahan dan pengendalian penyakit.
Kegiatan Pencegahan dan Pengendalian
Penyakit Menular serta masalah kesehatan
 Kegiatan di dalam gedung
 Pengamatan perkembangan penyakit
(data kesakitan dan kematian) menurut
karakteristik epidemiologi (waktu,
tempat dan orang) dalam rangka

20
kewaspadaan dini dan respon KLB
(Kejadian Luar Biasa).
 Melakukan screning TT WUS.
 Membuat pemetaan, daerah rawan
bencana, rawan imunisasi dengan
indikator cakupan imunisasi (kurang dari
target yang ditentukan). Dengan disertai
analisis faktor penyebabnya
 Analisa data Surveilans Berbasis
Masyarakat sebagai dasar pengambilan
keputusan ataupun tindakan
penanggulangan.
 Melakukan pelayanan penderita
Pneumonia Balita, Diare, TB Paru,
Kusta dan DBD.
 Melakukan rujukan diagnosis (pada TB,
Kusta) dan rujukan kasus (Pneumonia
Balita, Diare, TB Paru, Kusta dan DBD)
yang tidak bisa ditangani di Ponkesdes.
 Pengambilan obat dan pengawasan
menelan obat (TB dan Kusta).
 Pelayanan konseling.
 Membuat pencatatan dan pelaporan
kegiatan.
 Kegiatan di luar gedung
 Pelayanan di Posyandu (imunisasi dan
pemeriksaan PTM).
 Pemeriksaan Jentik Berkala (DBD) di
rumah-rumah dan tempat-tempat umum

21
serta Pembersihan Sarang Nyamuk
(PSN).
 Penyuluhan kepada masyarakat melalui
kegiatan yang ada di desa/kelurahan
setempat.
 Melakukan penemuan suspek TB, Kusta
secara aktif (kunjungan rumah,
pemeriksaan kontak, survey penjaringan,
dsb).
 Melakukan pelacakan kasus mangkir
(TB, Kusta).
 Melaksanakan penyelidikan
epidemiologi dan tindakan pengendalian
dan pemberantasan penyakit potensi
wabah (kolera, pesbubo, demam
berdarah).
 Penyelidikan epidemiologi bila terjadi
KLB.
 Melakukan pelacakan dan menentukan
daerah fokus penyakit potensi KLB
(kolera, pes Bubo, Demam Berdarah
Dengue, Campak, Polio, Difteri,
Pertusis, Rabies, Malaria, Avian
influenza H5N1, penyakit Antraks,
Leptospirosis, Hepatitis, Influenza A
baru/H1N1, Meningitis, Demam kuning
Cikungunya) dengan membuat
pemetaan.

22
 Mengambil tindakan darurat pengobatan
dan melakukan rujukan sesegera
mungkin.
 Melakukan pencarian kasus penderita
secara aktif (pelacakan kasus, kunjungan
rumah, pelacakan kontak, dsb).
 Melakukan pelacakan kasus mangkir
(TB, Kusta).
 Pelayanan di Posyandu.
 Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) di
rumah-rumah atau tempat-tempat umum.
 Penyuluhan kepada masyarakat melalui
kegiatan yang ada di desa/kelurahan
setempat.
 Melakukan koordinasi lintas sektor dan
tokoh masyarakat dalam rangka
pencegahan dan pengendalian penyakit
menular.
2) Upaya Kesehatan Masyarakat Pengembangan
a) Pelayanan keperawatan kesehatan masyarakat
Prioritas sasaran keperawatan kesehatan
masyarakat adalah keluarga rawan terutama yang
berpenghasilan rendah. Keluarga rawan adalah keluarga
yang rentan terhadap masalah kesehatan (vulnerable
group), terutama keluarga yang mempunyai ibu
hamil/nifas/menyusui (termasuk balitanya), usia lanjut,
penderita penyakit kronis baik menular maupun tidak
menular. Kegiatan Keperawatan Kesehatan
Masyarakat:
 Kegiatan di dalam gedung

23
Melakukan Asuhan keperawatan
individu (rawat jalan) pada pasien yang datang
ke Ponkesdes yang meliputi keluhan utama atau
SOAP. Kegiatan yang dilakukan antara lain:
 Asuhan keperawatan terhadap pasien
rawat jalan.
 Penemuan kasus baru (deteksi dini) pada
pasien rawat jalan.
 Penyuluhan/ Pemberian nasehat
(konseling) keperawatan.
 Pemantauan keteraturan berobat.
 Rujukan kasus/masalah kesehatan
kepada tenaga kesehatan lain.
 Kegiatan yang merupakan tugas limpah
sesuai pelimpahan kewenangan yang
diberikan dan atau prosedur yang telah
ditetapkan (contoh pengobatan,
penanggulangan kasus gawat darurat,
KLB, dll).
 Menciptakan lingkungan terapeutik
dalam pelayanan kesehatan di dalam
gedung.
 Dokumentasi keperawatan.
 Kegiatan di luar gedung
Melakukan kunjungan luar gedung ke
keluarga / kelompok / masyarakat untuk
melakukan asuhan keperawatan di keluarga /
kelompok / masyarakat. Kegiatan yang
dilakukan antara lain:

24
 Penemuan suspek/kasus kontak
serumah.
 Penyuluhan/Pendidikan kesehatan pada
individu dan keluarganya.
 Pemantauan keteraturan berobat sesuai
program pengobatan.
 Kunjungan rumah (home visit/home
health nursing) sesuai rencana.
 Pelayanan keperawatan dasar langsung
(direct care) maupun tidak langsung
(indirect care).
 Pemberian nasehat(konseling) kesehatan
/keperawatan.
 Pencatatan dan pelaporan.
B. Upaya Kesehatan Perseorangan Tingkat Pertama
Upaya kesehatan perseorangan di Ponkesdes berupa
pengobatan dasar sesuai dengan kewenangan yang diberikan kepada
perawat dan bidan Ponkesdes, kegiatan dilaksanakan dalam bentuk
rawat jalan dan home care yang dilaksanakan sesuai dengan standar
prosedur operasional dan standar pelayanan. Pengobatan dasar yang
dilakukan di Ponkesdes dilakukan oleh perawat dan bidan dengan
pelimpahan tugas dan wewenang.
a) Rawat jalan
Kegiatan pengobatan dasar di dalam gedung:
 Konseling pengobatan.
 Diagnosa dan terapi dasar .
 Pertolongan pertama pada kecelakaan atau gawat darurat
penyakit.
 Rujukan pasien.

25
 Rehabilitasi pasien.
b) Home care
Kegiatan pengobatan dasar di luar gedung
 Penyuluhan tentang penyakit.
 Pengobatan sederhana .
 Deteksi dini pada keluarga dan masyarakat.

2.8 Pengendalian Mutu Ponkesdes


Pengendalian Mutu Ponkesdes dapat dilakuan dengan:
A. Pengawasan:
1. Pengawasan internal dilakukan oleh Puskesmas maupun Dinas
Kesehatan .
2. Pengawasan eksternal dilakukan melalui:
a) Pengawasan oleh masyarakat berupa laporan atau
pengaduan masyarakat.
b) Pengawasan dilakukan oleh institusi terkait.
B. Pembinaan
1. Pembinaan tingkat Puskesmas.
2. Pembinaan tingkat Kabupaten / Kota.
3. Pembinaan tingkat Provinsi.

26
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Ponkesdes adalah sarana pelayanan kesehatan yang berada di desa
atau kelurahan yang merupakan pengembangan dari Pondok Bersalin Desa
(Polindes) sebagai jaringan Puskesmas dengan tenaga minimal perawat dan
bidan dalam rangka mendekatkan akses dan meningkatkan kualitas pelayanan
kesehatan.
Ponkesdes didirikan dengan tujuan untuk menyelenggarakan
pelayanan kesehatan yang berkualitas serta meningkatkan kesadaran,
kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang yang bertempat
tinggal di desa/ kelurahan, agar terwujud derajat kesehatan masyarakat di
desa/ kelurahan yang setinggi-tingginya.

3.2 Saran
Penyusunan makalah Ponkesdes ini telah diusahakan dengan sebaik-
baiknya. Namun demikian tentu masih terdapat kekurangan dan kekeliruan
dalam penyusunannya, untuk itu saran perbaikan dan penyempurnaan
Ponkesdes ini kami harapkan dari berbagai pihak yang terkait dengan
pelayanan dan pendidikan kesehatan demi kesempurnaan makalah ini.

27
DAFTAR PUSTAKA

http://annisnewaddres.blogspot.co.id/2015/04/trend-dan-issue-keperawatan-
komunitas.html
http://ponkesdeskromengan.blogspot.co.id/2015/01/ponkesdes.html
https://www.scribd.com/document/360836100/PEDOMAN-PONKESDES

28