Anda di halaman 1dari 41

KONTRASEPSI

FARMASI KOMUNITAS

Disusun Oleh :

Kelompok

Cathleya Restu Pramesti P 142210101114


Zulaikha Permata Swardini 1522101011024
Thiara Eka Agustina 1522101011016
Shafira Putri Pertiwi 152210101150

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS JEMBER
2018
DAFTAR ISI
KONTRASEPSI ORAL ............................................................................................................. 3

PIL KOMBINASI ORAL....................................................................................................... 3

PIL PROGESTIN ................................................................................................................... 5

KONTRASEPSI NON- HORMONAL ...................................................................................... 8

DIAFRAGMA .................................................................................................................. 11

CERVICAL CAP ............................................................................................................. 12

KONTRASEPSI ALAMIAH NON ALAT .......................................................................... 15

SENGGAMA TERPUTUS .............................................................................................. 15

METODE SUHU BASAL TUBUH (Basal Body Temperature Method) ....................... 17

METODE LENDIR SERVIKS ........................................................................................ 22

METODE AMENOREA LAKTASI ................................................................................ 26

SISTEM KALENDER ..................................................................................................... 31

VASEKTOMI ....................................................................................................................... 35

TUBEKTOMI ....................................................................................................................... 37

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................... 40


Kontrasepsi berasal dari dua kata, yaitu kontra dan konsepsi. Kontra berarti menolak,
konsepsi berarti pertemuan antara sel telur wanita (ovum) yang sudah matang dengan sel mani
pria (sperma) sehingga terjadi pembuahan dan kehamilan. Dengan demikian kontrasepsi adalah
mencegah bertemunya sel telur yang matang dengan sel mani pada waktu bersenggama,
sehingga tidak akan terjadi pembuahan dan kehamilan (Farrer, 2001).

KONTRASEPSI ORAL

PIL KOMBINASI ORAL

Pil kombinasi merupakan tablet kecil yang mengandung 2 macam hormon sintetis,
estrogen dan progestin, yang sangat menyerupai hormon tubuh wanita. Pil ini mencegah
terjadinya kehamilan dengan jalan menekan ovulasi, mencegah terjadinya implantasi dari sel
telur yang telah dibuahi, mengentalkan lendir leher rahim sehingga susah ditembus oleh sperma

Kontrasepsi oral kombinasi zat berkhasiat estrogen dan progesteron, sering disebut
dengan istilah Pil KB (Keluarga Berencana). Metode ini merupakan salah satu metode
kontrasepsi yang disukai wanita karena mudah digunakan. Kekuatan/kadar estrogen dan
progesteron dalam pil KB ini bervariasi, sehingga memungkinkan wanita yang merasa tidak
cocok dengan salah satu jenis pil dapat menggantinya dengan jenis pil yang lain. Zat berkhasiat
hormon estrogen yang biasa digunakan dalam kontrasepsi oral kombinasi adalah etinilestradiol,
sedangkan hormon progesteron yang digunakan antara lain adalah desogestrel, drospirenon,
gestoden, norethisteron, norgestimat dan levonorgestrel.

Efektivitas pil kombinasi sangat tergantung pada akseptor. Bila mereka tidak mau atau
tidak mampu untuk meminum pil secara kontinu, maka pil kombinasi tidak merupakan pilihan
yang baik bagi klien.

MANFAAT DAN KERUGIAN PIL KOMBINASI ORAL

Manfaat

a. Sangat efektif bila digunakan dengan benar


b. nyeri pada waktu haid
c. Menyebabkan siklus haid jadi teratur setiap bulan
d. Mengurangi jumlah darah yang keluar selama siklus haid, sehingga mengurangi
resiko anemia
e. Mengurangi resiko terjadinya kista fibrosis pada payudara
f. Mengurangi resiko kista indung telur
3
g. Mengurangi resiko kanker pada mukosa rahim (endometrium)
h. Mengurangi resiko kehamilan ektopik
i. Mencegah jerawat (pada beberapa wanita)
j. Melindungi terjadinya PID (radang panggul) karena mengentalnya lendir leher
rahim, sehingga mikro organisme dari vagina susah mencapai rahim dan saluran
telur (tuba)

Kerugian

a. Tidak melindungi dari STD, termasuk AIDS


b. Harus diminum setiap hari
a. Meskipun insidennya kecil, mungkin terjadi efek samping yang ringan seperti -
amenorrhoe - spotting (bercak diantara 2 siklus haid) - mual - nyeri tekan
payudara - sakit kepala - produksi ASI mungkin berkurang pada ibu menyusui -
depresi - gangguan berat badan
b. jerawat (pada beberapa wanita) Sangat jarang terjadi komplikasi serius
(meskipun dengan pil kombinasi dosis rendah) yaitu resiko serangan jantung
atau stroke, terutama pada wanita yang merokok

CARA MENGKONSUMSI PIL KOMBINASI

Pil sebaiknya dikonsumsi setiap hari, lebih baik pada saat yang sama setiap hari. Pil
kombinasi dapat digunakan setiap saat selagi haid, untuk meyakinkan perempuan itu tidak
hamil. Pil diminum pada hari pertama sampai hari ke-7 siklus haid. Boleh menggunakan pada
hari ke-8, tetapi perlu menggunakan metode kontrasepsi yang lain (kondom) mulai hari ke-8
sampai hari ke-14 atau tidak melakukan hubungan seksual sampai telah menghabiskan paket
pil tersebut. Pil kombinasi dapat digunakan setelah melahirkan, yaitu setelah 6 bulan pemberian
ASI (Air Susu Ibu) eksklusif, setelah 3 bulan dan tidak menyusui, dan setelah keguguran (segera
atau dalam waktu 7 hari).

Pada paket 28 pil, dianjurkan mulai minum sesuai dengan hari yang ada pada paket.
Beberapa paket pil mempunyai 28 pil, yang lain 21 pil. Bila paket 28 pil habis, sebaiknya mulai
minum pil dari paket yang baru. Bila paket 21 habis, sebaiknya tunggu 1 minggu baru kemudian
mulai pil dari paket yang baru. Bila muntah dalam waktu 2 jam setelah menggunakan pil, ambil
pil yang lain. Bila terjadi muntah hebat, atau diare lebih dari 24 jam, maka bila keadaan
memungkinkan dan tidak memperburuk keadaan, pil dapat diteruskan. Bila muntah dan diare
berlangsung sampai 2 hari atau lebih, cara penggunaan pil mengikuti cara penggunaan pil lupa.

Jika terlupa minum pil, maka yang harus dilakukan ialah:

4
Jika lupa minum 1 pil: minum pil yang terlupa segera setelah teringat, dan minum pil
berikutnya sesuai jadwal. Contoh: pasien terbiasa minum pil jam 9 malam, dan baru teringat
jam 7 pagi keesokan harinya. Maka dianjurkan segera minum pil yang terlupa pada jam 7 pagi,
dan pada jam 9 malam minum pil seperti biasa.

Lupa minum 2 pil: minum 2 pil yang terlupa segera setelah teringat, dan hari berikutnya
minum 2 pil lagi. Selanjutnya minum pil sesuai jadwal. Contoh: pasien terlupa minum pil pada
hari Kamis dan Jum’at. Maka pada hari Sabtu saat teringat, dianjurkan untuk segera minum 2
pil jatah hari Kamis dan Jumat. Pada hari Minggu, sesuai jadwal, minum 2 pil jatah hari Sabtu
dan Minggu. Hari Senin dan seterusnya minum pil seperti biasa. Jika pasien melakukan
hubungan seksual dalam waktu 7 hari setelah terlupa minum pil, jangan lupa menggunakan
kondom

Lupa minum 1 atau 2 pil pada saat sisa pil pada kemasan tablet kurang dari 7: minum
pil yang terlupa segera setelah teringat, selanjutnya dianjurkan minum pil seperti biasa, tetapi
pada saat pil di kemasan tersebut habis: ◦ Jika pasien minum pil kemasan 21: segera lanjutkan
minum pil dari kemasan baru tanpa jeda 7 hari ◦ Jika pasien minum pil kemasan 28: buang 7
pil pertama yang pada bagian belakang kemasannya diarsir dari kemasan baru dan lanjutkan
minum pil yang bagian belakang kemasannya tidak diarsir dari kemasan baru. Jika melakukan
hubungan seks dalam waktu 7 hari setelah terlupa minum pil, dianjurkan jangan lupa gunakan
kondom. Bila setiap hari lupa untuk meminum pil, maka resiko kehamilan akan meningkat.

PIL PROGESTIN

Pil progestin (disebut juga pil mini, POP, dan kontrasepsi progestin) adalah pil atau
tablet di dalam strip yang berisi hormon progesteron saja dan mengandung progestin dalam
dosis yang sangat rendah seperti hormon alami progesteron pada tubuh perempuan. Pil
progestin dapat terbentuk dari noretisteron, levonorgestrel, etinodiol diasetet atau desogestrel.

Pil progestin dapat digunakan selama menyusui dan oleh perempuan yang tidak dapat
menggunakan metode dengan estrogen (pil gabungan).

MEKANISME KERJA

5
1. Pil progestin menebalkan cairan mulut rahim (dimana ini menghalangi sperma
bertemu sel terlur)
2. Pil progestin juga akan mempengaruhi siklus menstruasi, termasuk mencegah
pelepasan sel telur dari ovarium (proses ovulasi) 97% (desogestresl) dan 60%
(progestin) pada perempuan
3. Jika digunakan secara konsisten (meminum pil setiap hari tanpa melewatkannya di
waktu yang sama) Pil Progestin 99% lebih efektif dalam mencegah kehamilan.
4. Dengan penggunaan yang kurang teratur pil progestin masih sangat efektif bagi
perempuan yang sedang menyusui. Ada kemungkinan kehamilan 1 di antara 100
perempuan yang menggunakan pil progestin ini dalam jangka waktu satu tahun (1%
tingkat kegagalan). Namun, pil ini kurang efektif bagi perempuan yang sedang tidak
dalam masa menyusi. Sekitar 3-10 perempuan dari 100 perempuan menggunakan pil
pogestin selama satu tahun akan mengalami kehamilan (dengan penggunaan tidak
teratur) (3=-10% tingkat kegagalan)
5. Data menunjukan bahwa semua pil progestin memiliki efektivitas yang sama untuk
mencegah kehamilan.

KONSUMSI OBAT TERLEWATKAN

Pil progestin lebih sensitif terhadap waktu dibanding pil gabungan. Supaya pil ini
dapat bekerja efektif, penting untuk mengkonsumsinya setiap hari di jam yang sama. Jika
pil progestin diminum 3 jam atau lebih setelah waktu yang sudah ditentukan (atau 12 jam
jika pil mengandung desogestrel (Cerzette), pil ini akan menjadi kurang efektif dan akan
ada resiko kehamilan. Jika pil progestin terlewatkan lebih dari 3 jam atau pil dengan
desogestrel dilewatkan lebih dari 12 jam maka perempuan harus:

1. Ambil pil yang dilewatkan segera


2. Melanjutkan mengkonsumsi pil seperti biasa (ini bisa berarti mengambil 2 pil pada
hari yang sama). Perempuan hanya boleh mengambil 2 pil pada hari yang sama.
3. Menggunakan kondom atau tidak berhubungan seks selama 48 jam setelah pil yang
terlewatkan diminum.
4. Kontrasepsi darurat dapat disarankan jika perempuan melakukan hubungan seksual
tidak aman sebelum 48 jam dilewati setelah kembali menggunakan pil secara teratur.

6
KEKURANGAN PIL PROGESTIN
a) Perempuan mungkin akan mengalami menstruasi tidak teratur ketika menggunakan
pil progestin. Menstruasi mungkin akan menjadi tidak teratur, lebih ringan, atau lebih
sering atau mungkin berhenti. Biasanya akan meningkat pada 6 bulan awal
penggunaan, dan tidak merugikan, tetapi beberapa perempuan akan merasa tidak
nyaman dengan perubahan ini. Perubahan merk pil mungkin akan membantu tetapi
belum ada data akurat yang ditemukan mengenai hal ini.
b) Pil progestin tidak melindungi dari infeksi menular seksual, sehingga perempuan
perlu menggunakan kondom juga.
c) Perempuan harus mengingat untuk menggunakan pil di jam yang sama setiap hari

KELEBIHAN PIL PROGESTIN


a. Dengan pil progestin, sangat mungkin dan aman untuk melanjutkan menyusui
b. Sangat berguna bagi perempuan yang tidak dapat mengkonsumsi estrogen, seperti
kandungan dalam pil gabungan, koyo KB, atau cincin vagina
c. Dapat digunakan oleh perempuan dengan berbagaiusia, namun terutama bagi
perempuan yang merokok, berusia 35 tahun atau lebih
d. Dapat membantu mengurangi gejala pra menstuasi dan nyeri menstruasi
e. Mengurangi resiko kehamilan ektopik
f. Dapat dihentikan kapan saja tanpa bantuan penyedia layanan
g. Tidak mempengaruhi hubungan seksual

WAKTU PENUANGAN
Pil progestin dapat dimulai kapan saja. Jika perempuan memulai dalam 5 hari setelah
menstruasi atau 5 hari setelah aborsi, tidak perlu disiapkan metode cadangan; perempuan akan
segera terlindungi dari kehamilan. Jika lebih dari 5 hari setelah menstruasi atau aborsi,
perempuan dapat memulai menggunakan pil progestin kapan saja. Namun, perempuan akan
membutuhkan metode cadangan selama dua hari setelah menggunakan pil. Perempuan juga
dapat menggunakan kondom sebagai metode cadangan.
Jika perempuan melahirkan dan masih dalam masa menyusui ia dapat mulai menggunakan
pil progestin 6 minggu setelah melahirkan. Jika ia tidak sedang menyusui, ia dapat memulai
kapan saja dalam kurun waktu 4 minggu setelah melahirkan tanpa harus menggunakan

7
kontrasepsi lain. Jika lebih dari 4 minggu setelah melahirkan maka perempuan akan
membutuhkan metode cadangan seperti kondom selama 2 hari.
Jika perempuan melanjutkan menyusui, ia dapat merubah pil gabungan ketika bayi berusia
6 bulan; dengan cara ini pil gabungan tidak akan mempengaruhi kemampua perempuan untuk
menyusui. Untuk perempuan yang menyusui dan bayinya berusia kurang dari enam bulan, pil
progestogen adalah pil yang direkomendasikan, perempuan seharusnya tidak menggunakan pil
gabungan.

Kontrasepsi Non-Hormonal

1. KONDOM

Kondom merupakan selubung/ sarung karet yang dapat terbuat dari berbagai bahan
diantaranya lateks (karet), plastik (vinil), atau bahan alami (produksi hewani) yang dipasang
pada penis saat hubungan seksual. Kondom terbuat dari karet sintetis yang tipis, berbentuk
silinder, dengan muaranya berpinggir tebal, yang bila digulung berbentuk rata atau mempunyai
bentuk seperti puting susu. Berbagai bahan telah ditambahkan pada kondom baik untuk
meningkatkan efektivitasnya (misalnya penambahan spermicidal) maupun sebagai aksesoris
aktivitas seksual (Saifuddin, 2003). Kondom tidak hanya dipakai pria terdapat pula kondom
wanita yang dirancang khusus untuk digunakan oleh wanita.

 Kelebihan pemakaian kondom secara umum sebagai alat kontrasepsi


1. Efektif bila digunakan dengan benar
2. Tidak mengganggu produksi ASI.
3. Tidak mengganggu kesehatan klien.
4. Tidak mempunyai pengaruh sistemik.
5. Murah dan dapat dibeli secara umum.
6. Tidak perlu resep dokter atau pemeriksaan kesehatan khusus.
7. Metode kontrasepsi sementara bila metode kontrasepsi lainnya harus ditunda
(Saifuddin, 2003).
 Kekurangan pemakaian kondom secara umum
1. Efektifitas tidak terlalu tinggi.
2. Cara penggunaan sangat mempengaruhi keberhasilan kontrasepsi.

8
3. Agak mengganggu hubungan seksual (mengurangi sentuhan langsung).
4. Pada beberapa klien bisa menyebabkan kesulitan untuk mempertahankan ereksi.
5. Harus selalu tersedia setiap kali berhubungan seksual.
6. Beberapa klien malu untuk membeli kondom ditempat umum.
7. Pembuangan kondom bekas mungkin menimbulkan masalah dalam hal limbah
(Saifuddin, 2003).

a. Wanita : Kondom untuk wanita adalah suatu sarung polyurethane dengan panjang
15 cm dan garis tengah 7 cm yang ujungnya terbuka melekat ke suatu cincin
polyurethane lentur. Cincin polyurethane ini berfungsi sebagai alat untuk memasang
dan melekatkan kondom di vagina. Kondom wanita mengandung pelumas berbahan
dasar silikon dan tidak memerlukan pelumas spermisida serta hanya sekali pakai.
Efektivitas dari penggunaan kondom ini menunjukkan sama dengan efektivitas dari
penggunaan diafragma (USU, 2009).

Cara Pakai Menggunakan Kondom Wanita

1. Buka kemasan kondom wanita

2. Ujung yang tertutup di bentuk lonjong pipih atau bias juga angka delapan dengan
salah satu jari- jari tangan

9
3. Tangan yang lain membuka bibir vagina yang memegang ujung kondom yang
tertutup memasukkan ke dalam lubang kemaluan.

4. Setelah cincin masuk ke dalam vagina, tangan yang satu memasukannya jari ke
kondom untuk mendorong agar kondom bias masuk seluruhnya. Usahakan
cincin yang di dalam menghadap langsung ke mulut rahim

5. Rapikan cincin bagian luar yang terbuka dibibir vagina, kondom siap pakai

6. Untuk melepasnya tinggal di cabut pelan-pelan dan lapisan bagian cincin yang
luar di pencet agar air mani tidak berantakan kemana-mana.

7. Buang bekasnya ke tempat sampah

10
Ada beberpa macam kondom wanita yaitu :

Diafragma

Diafragma merupakan penghalang mekanis antara sperma dan sel telur.


Alat ini berbentuk kubah, terbuat dari jenis karet lateks yang lebih tebal dari
pada kondom dan memiliki pegas logam fleksibel pada bingkai diagfragma
pegas tersebut memungkinkan penekanan ketika diagfragma dimasukan
sehingga diafragma dapat kembali kebentuk seperti semula dan mengikuti
bentuk dalam jaringan vagina ketika ditempatkan didalam. Ketika berada dalam
posisi yang benar ,dengan sisi kubah berada dibawah dan bingkai diagfragma
menempel ketat pada dinding vagina anterior dan lateral, diagfragma secara
keseluruhan dapat menutupi serviks. Penghalang tersebut bila dikombinasikan
dengan jelly atau dengan krim spermisida yang dioles mengelilingi bingkai
diagfragma dan didalam kuba, dapat menolak sperma masuk kelubang serviks
sehingga sperma tidak bertemu sel telur. Diafragma juga memberi perlindungan
terhadap PMS, seperti klamidia dan ghonorea yang menyebabkan dysplasia
serviks dan penyakit radang panggul. Diafragma tidak dapat melindungi wanita
dari HIV . Saat ini ada 4 jenis Diafragma yang berbeda konstruksi pegas logam
pada bingkainya serta lebar bingkai diafragma:

a) Pegas datar; pegas pada diafragma ini terbuat dari lapisan tipis baja
stainless yang sangat ringan.

b) Pegas kumparan; pegas pada diafragma ini merupakan kumparan


melingkar yang fleksibel dengan kekuatan sedang.

11
c) Pegas lengkung; pegas pada diafragma ini merupakan kombinasi pegas
datar dan pegas kumparan .

d) Bingkai tutup lebar; tersedia pada bentuk pegas kumparan ataupun


pegas lengkung.

Penggunaan diafragma dikontra indikasikan pada beberapa keadaan


berikut :

a) Prolaps uterus yang parah (penurunan) (derajat kedua atau ketiga)

b) Sistokel (derajat dua atau tiga)

c) Antervensi atau retroversi uterus yang berat

d) Fistula vesikovagina atau rektro vagina

e) Alergi terhadap karet diagfragma atau terhadap sediaan spermisida yang


terdapat didalam diagfragma.

Cervical Cap

Penutup serviks yang terbuat dari karet lateks dan berbentuk bundar
kerucut, dengan cincin tebal yang sesuai dengan bentuk serviks , sehingga
dapat melekat erat pada serviks, tetapi tidak menekan kedalam forniks
serviko vaginal. Pada prinsipnya, cervical cap tidak seperti diafragma yang
menciptakan penghalang terhadap sperma dengan cara menutupi serviks
dan juga menampung spermisida untuk mencegah kehamilan. Cara tersebut
dapat mengurangi risiko penyakit menular seksual , tetapi tidak dapat
melindungi terhadap HIV. Sejumlah kontraindikasi yang berkaitan dengan
penggunaan cervical cap adalah sebagai berikut :
a) Hasil Pap smear baru-baru ini tidak normal
b) Adanya keganasan uterus atau serviks
c) Riwayat sindrom syok toksis
d) Infeksi serviks atau vagina yang terjadi baru-baru ini
e) Alergi terhadap lateks dan spermisida.

3) Pelindung lea

12
Pelindung Lea merupakan alat yang menggunakan karet silikon dengan
diameter 55 mm, dan hanya memiliki satu ukuran. Apabila wanita ingin
menggunakannya , tidak diperlukan pengepasan. Apabila digunakan bersama
spermisida, angka keberhasilannya jauh melebihi metode kontrapsesi lain.
4). Fem cap
Alat ini sejenis cervical cap yang terbuat dari karet silikon non-alergi .
Alat ini dapat masuk kedalam serviks dan memiliki tepi yang luas (seperti topi
pelaut) yang menciptakan alur diantara kubah dan topi tersebut.
Topi penutup melekatkan FemCap jauh lebih kecil, tetapi kesulitan untuk
melepasnya jauh lebih besar kendati alat ini memiliki tali pengikat untuk
melepasnya. Memasukan dan mencabut FemCap selama hubungan seksual juga
menjadi sebuah permasalah dan risiko kehamilan pun lebih besar.

5). Alat kontrasepsi dalam rahim (IUD)

IUD adalah alat kecil terdiri dari bahan plastik yang lentur yang
dimasukkan ke dalam rongga rahim, yang harus diganti jika sudah digunakan
selama periode tertentu. IUD merupakan panjang.
dimasukkan ke dalam rahim yang bentuknya bermacam-
macam terbuat dari plastik, plastik yang dililit tembaga. Cara kerja
Yaitu menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tubba fallopi da
n mempengaruhi fertilitasi sebelum ovum mencapai kavum uteri.

a. Pria
Kondom pria merupakan selubung/sarung karet tipis yang dipasang pada penis
sebagai tempat penampungan air mani yang dikeluarkan pria pada saat senggama
sehingga tidak tercurah pada vagina. Bentuknya ada dua macam, yaitu polos dan
berputing. Bentuk berputing ada kelebihannya yaitu untuk menampung sperma
setelah ejakulasi. Cara kerja kondom yaitu mencegah pertemuan ovum dan sperma
atau mencegah spermatozoa mencapai saluran genital wanita (USU, 2009)
 Jenis/tipe kondom pria adalah :
* Kondom lateks
Sebagian besar kondom terbuat dari karet lateks halus dan berbentuk silinder
bulat, umumnya memiliki panjang 15-20 cm, tebal 0,03-0,08 mm, garis tengah

13
sekitar 3,0-3,5 cm, dengan satu ujung buntu yang polos atau berpentil dan dipangkal
yang terbuka bertepi bulat. Namun untuk sekarang telah tersedia dalam ukuran yang
lebih besar atau lebih kecil dari standar.
* Kondom berpelumas
Sebagai usaha untuk meningkatkan akseptabilitas, telah diperkenalkan
variasi kondom yang berpelumas, mengandung spermatiside, berwarna, memiliki
rasa, dan beraroma.

* Kondom anti alergi


Kondom anti alergi terbuat dari karet lateks dengan rendah residu dan tidak
dipralubrikasi.
* Kondom yang lebih tebal dan melebihi standar, dipasarkan terutama untuk
hubungan intim per-anus pada pria homoseks untuk memberikan perlindungan
tambahan terhadap penularan HIV/AIDS (USU, 2009).

 Cara memakai kondom Pria


1. Gunakan kondom setiap akan melakukan hubungan seksual.
2. Agar efek kontrasepsinya lebih baik, tambahkan spermicidal ke dalam
kondom.
3. Jangan menggunakan gigi, benda tajam seperti pisau, silet, gunting atau benda
tajam lainnya, pada saat membuka kemasan.
4. Pasangkan kondom saat penis sedang ereksi, tempelkan ujungnya pada glan
penis dan tempatkan bagian penampung sperma pada ujung uretra. Lepaskan
gulungan karetnya dengan jalan menggeser gulungan tersebut ke arah pangkal
penis. Pemasangan ini harus dilakukan sebelum penetrasi penis ke vagina.
5. Bila kondom tidak mempunyai tempat penampungan sperma pada bagian
ujungnya, maka saat memakai, longgarkan sedikit bagian ujungnya agar tidak
terjadi robekan pada saat ejakulasi.
6. Kondom dilepas sebelum penis melembek.
7. Pegang bagian pangkal kondom sebelum mencabut penis sehingga kondom
tidak terlepas pada saat penis dicabut dan lepaskan kondom diluar vagina agar
tidak terjadi tumpahan cairan sperma disekitar vagina.
8. Gunakan kondom hanya untuk satu kali pakai.

14
9. Sediakan kondom dalam jumlah cukup dirumah dan jangan disimpan ditempat
yang panas karena hal ini dapat menyebabkan kondom menjadi rusak atau
robek saat digunakan.
10. Jangan gunakan kondom apabila kemasannya robek atau kondom tampak
rapuh atau kusut.
11. Jangan gunakan minyak goreng, minyak mineral, atau pelumas dari bahan
petrolatum karena akan segera merusak kondom (Saifuddin, 2003).

Kontrasepsi Alamiah Non Alat

Kontrasepsi Alamiah adalah suatu upaya mencegah atau mengahalangi pembuahan atau
pertemuan antara sel telur dengan sperma dengan menggunakan metode-metode yang tidak
membutuhkan alat ataupun bahan kimia (yang menjadi ciri khas metode perintang) juga tidak
memerlukan obat-obatan.

SENGGAMA TERPUTUS

Nama lain dari coitus interuptus adalah senggama terputus atau ekspulsi
pra ejakulasi atau pancaran ekstra vaginal atau withdrawal methods atau pull-out method.
Dalam bahasa latin disebut juga interrupted intercourse.

Coitus interuptus atau senggama terputus adalah metode keluarga


berencana tradisional/alamiah, di mana pria mengeluarkan alat kelaminnya (penis)
dari vagina sebelum mencapai ejakulasi.

Cara kerja:

Alat kelamin (penis) dikeluarkan sebelum ejakulasi sehingga sperma tidak masuk
ke dalam vagina, maka tidak ada pertemuan antara sperma dan ovum, dan kehamilan dapat
dicegah. Ejakulasi di luar vagina untuk mengurangi kemungkinan air
mani mencapai rahim.

Efektifitas:

Metode coitus interuptus akan efektif apabila dilakukan dengan benar dan
konsisten. Angka kegagalan 4-27 kehamilan per 100 perempuan per tahun. Pasangan yang

15
mempunyai pengendalian diri yang besar, pengalaman dan kepercayaan dapat
menggunakan metode ini menjadi lebih efektif.

Manfaat:

Coitus interuptus memberikan manfaat baik secara kontrasepsi maupun non kontrasepsi.

 Manfaat kontrasepsi
1. Alamiah.
2. Efektif bila dilakukan dengan benar.
3. Tidak mengganggu produksi ASI.
4. Tidak ada efek samping.
5. Tidak membutuhkan biaya.
6. Tidak memerlukan persiapan khusus.
7. Dapat dikombinasikan dengan metode kontrasepsi lain.
8. Dapat digunakan setiap waktu.
 Manfaat non kontrasepsi
1. Adanya peran serta suami dalam keluarga berencana dan kesehatan reproduksi.
2. Menanamkan sifat saling pengertian.
3. Tanggung jawab bersama dalam ber-KB.

Keterbatasan:

Metode coitus interuptus ini mempunyai keterbatasan, antara lain:

1. Sangat tergantung dari pihak pria dalam mengontrol ejakulasi dan tumpahan
sperma selama senggama.
2. Memutus kenikmatan dalam berhubungan seksual (orgasme).
3. Sulit mengontrol tumpahan sperma selama penetrasi, sesaat dan setelah interupsi
coitus.
4. Tidak melindungi dari penyakit menular seksual.
5. Kurang efektif untuk mencegah kehamilan.

Cara Coitus Interuptus

16
1. Sebelum melakukan hubungan seksual, pasangan harus saling membangun
kerjasama dan pengertian terlebih dahulu. Keduanya harus mendiskusikan dan
sepakat untuk menggunakan metode senggama terputus.
2. Sebelum melakukan hubungan seksual, suami harus mengosongkan kandung
kemih dan membersihkan ujung penis untuk menghilangkan sperma dari ejakulasi
sebelumnya.
3. Apabila merasa akan ejakulasi, suami segera mengeluarkan penisnya dari vagina
pasangannya dan mengeluarkan sperma di luar vagina.
4. Pastikan tidak ada tumpahan sperma selama senggama.
5. Pastikan suami tidak terlambat melaksanakannya.
6. Senggama dianjurkan tidak dilakukan pada masa subur.

METODE SUHU BASAL TUBUH (Basal Body Temperature Method)


Suhu tubuh basal adalah suhu terendah yang dicapai oleh tubuh
selama istirahat atau dalam keadaan istirahat (tidur). Pengukuran suhu basal dilakukan pada
pagi hari segera setelah bangun tidur dan sebelum melakukan aktivitas lainnya.
Tujuan pencatatan suhu basal untuk mengetahui kapan terjadinya masa
subur/ovulasi. Suhu basal tubuh diukur dengan alat yang berupa termometer basal.
Termometer basal ini dapat digunakan secara oral, per vagina, atau melalui dubur dan
ditempatkan pada lokasi serta waktu yang sama selama 5 menit.
Suhu normal tubuh sekitar 35,5-36 derajat Celcius. Pada waktu ovulasi, suhu
akan turun terlebih dahulu dan naik menjadi 37-38 derajat kemudian tidak akan kembali
pada suhu 35 derajat Celcius. Pada saat itulah terjadi masa subur/ovulasi.
Kondisi kenaikan suhu tubuh ini akan terjadi sekitar 3-4 hari, kemudian akan turun
kembali sekitar 2 derajat dan akhirnya kembali pada suhu tubuh normal
sebelum menstruasi. Hal ini terjadi karena produksi progesteron menurun.
Apabila grafik (hasil catatan suhu tubuh) tidak terjadi kenaikan suhu tubuh,
kemungkinan tidak terjadi masa subur/ovulasi sehingga tidak terjadi kenaikan suhu tubuh.
Hal ini terjadi dikarenakan tidak adanya korpus luteum yang memproduksi progesteron.
Begitu sebaliknya, jika terjadi kenaikan suhu tubuh dan terus berlangsung setelah masa
subur/ovulasi kemungkinan terjadi kehamilan. Karena, bila sel telur/ovum berhasil
dibuahi, maka korpus luteum akan terus memproduksi hormon progesteron. Akibatnya
suhu tubuh tetap tinggi.
17
Efektifitas:
Metode suhu basal tubuh akan efektif bila dilakukan dengan benar dan konsisten.
Suhu tubuh basal dipantau dan dicatat selama beberapa bulan berturut-turut dan dianggap
akurat bila terdeteksi pada saat ovulasi. Tingkat keefektian metode suhu tubuh basal sekitar
80 persen atau 20-30 kehamilan per 100 wanita per tahun. Secara teoritis angka
kegagalannya adalah 15 kehamilan per 100 wanita per tahun. Metode suhu basal tubuh
akan jauh lebih efektif apabila dikombinasikan dengan metode kontrasepsi lain
seperti kondom, spermisida ataupun metode kalender atau pantang berkala (calender
method or periodic abstinence).

Faktor yang mempengaruhi keandalan metode suhu basal tubuh:


Adapun faktor yang mempengaruhi keandalan metode suhu basal tubuh antara lain:
1. Penyakit.
2. Gangguan tidur.
3. Merokok dan atau minum alkohol.
4. Penggunaan obat-obatan ataupun narkoba.
5. Stres.
6. Penggunaan selimut elektrik.

18
Keuntungan:
Keuntungan dari penggunaan metode suhu basal tubuh antara lain:
1. Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran pada pasangan suami istri tentang masa
subur/ovulasi.
2. Membantu wanita yang mengalami siklus haid tidak teratur mendeteksi masa
subur/ovulasi.
3. Dapat digunakan sebagai kontrasepsi ataupun meningkatkan kesempatan
untuk hamil.
4. Membantu menunjukkan perubahan tubuh lain pada saat mengalami masa
subur/ovulasi seperti perubahan lendir serviks.
5. Metode suhu basal tubuh yang mengendalikan adalah wanita itu sendiri.

Keterbatasan:
Sebagai metode KBA, suhu basal tubuh memiliki keterbatasan sebagai berikut:
1. Membutuhkan motivasi dari pasangan suami istri.
2. Memerlukan konseling dan KIE dari tenaga medis.
3. Suhu tubuh basal dapat dipengaruhi oleh penyakit, gangguan tidur, merokok,
alkohol, stres, penggunaan narkoba maupun selimut elektrik.
4. Pengukuran suhu tubuh harus dilakukan pada waktu yang sama.
5. Tidak mendeteksi awal masa subur.
6. Membutuhkan masa pantang yang lama.

Petunjuk bagi pengguna metode suhu basal tubuh:


Aturan perubahan suhu/temperatur adalah sebagai berikut:
1. Suhu diukur pada waktu yang hampir sama setiap pagi (sebelum bangun dari tempat
tidur).
2. Catat suhu ibu pada kartu yang telah tersedia.
3. Gunakan catatan suhu pada kartu tersebut untuk 10 hari pertama dari siklus haid
untuk menentukan suhu tertinggi dari suhu yang “normal dan rendah” dalam pola
tertentu tanpa kondisi-kondisi di luar normal atau biasanya.
4. Abaikan setiap suhu tinggi yang disebabkan oleh demam atau gangguan lain.
5. Tarik garis pada 0,05 derajat celcius – 0,1 derajat celcius di atas suhu tertinggi dari
suhu 10 hari tersebut. Garis ini disebut garis pelindung (cover line) atau garis suhu.

19
6. Periode tak subur mulai pada sore hari setelah hari ketiga berturut-turut suhu tubuh
berada di atas garis pelindung/suhu basal.
7. Hari pantang senggama dilakukan sejak hari pertama haid hingga sore ketiga
kenaikan secara berurutan suhu basal tubuh (setelah masuk periode masa tak subur).
8. Masa pantang untuk senggama pada metode suhu basal tubuh labih panjang dari
metode ovulasi billings.
9. Perhatikan kondisi lendir subur dan tak subur yang dapat diamati.

Catatan:
1. Jika salah satu dari 3 suhu berada di bawah garis pelindung (cover line) selama
perhitungan 3 hari. Kemungkinan tanda ovulasi belum terjadi. Untuk menghindari
kehamilan tunggu sampai 3 hari berturut-turut suhu tercatat di atas garis pelindung
sebelum memulai senggama.
2. Bila periode tak subur telah terlewati maka boleh tidak meneruskan pengukuran
suhu tubuh dan melakukan senggama hingga akhir siklus haid dan kemudian
kembali mencatat grafik suhu basal siklus berikutnya.
Contoh. Pencatatan pengukuran suhu basal tubuh

20
21
METODE LENDIR SERVIKS

Metode lendir serviks dilakukan dengan wanita mengamati lendir serviksnya setiap
hari. Lendir bervariasi selama siklus. Setelah menstruasi, ada sedikit lendir serviks dan ini
sering kali disebut sebagai “kering”. Kadar hormon estrogen dan progesteron rendah dan
lendir tersebut dikenal sebagai lendir tidak subur. Mungkin tidak ada lendir serviks atau
mungkin terlihat lengket dan jika direntangkan diantara dua jari, akan putus. Ketika ovum
mulai matang, jumlah estrogen yang dihasilkan meningkat, yang menyebabkan
peningkatan lendir serviks. Hal ini menandai permulaan fase subur. Kadar estrogen terus
naik sebelum terjadi ovulasi dan jumlah lendir serviks meningkat, menjadi jernih dan melar
apabila dipegang diantara dua jari, lendir dapat diregangkan dengan mudah tanpa terputus.
Lendir ini digambarkan terlihat seperti putih telur mentah dan disebut lendir subur. Hari
terakhir lendir jenis ini disebut hari puncak lendir, yang hanya dapat diidentifikasi secara
retrospektif. Empat hari setelah hari puncak lendir, lendir tersebut menjadi kental, lengket,
dan keruh dan disebut sebagai lendir tidak subur. Perubahan lendir ini terjadi karena ovum
telah dilepaskan dan kadar estrogen telah turun.

Pada tiap siklus haid di produksi 2 macam lendir serviks oleh sel-sel serviks, yaitu :

1. Lendir Tipe-E (Estrogenik)

a. Di produksi pada fase akhir pra-ovulasi dan fase ovulasi.

b. Sifat-sifat:

 Banyak, tipis, seperti air (jernih) dan viskositas rendah.


 Spinnbarkeit (elastisitas) besar. Spinnbarkeit : sampai seberapa jauh lendir
dapat diregangkan sebelum putus.
 Bila dikeringkan terjadi bentuk seperti daun pakis (fernlike patterns, ferning,
arborization).

c. Spermatozoa dapat “menembus” lendir ini.

2. Lendir Type-G (Gestagenik)

a. Diproduksi pada fase awal pra-ovulasi dan setelah ovulasi.


b. Sifat-sifat

Kental
22
Viskositas tinggi

Keruh (opaque).

c. Dibuat karena peningkatan kadar progesterone.


d. Spermatozoa tidak dapat menembus lendir ini. (Depkes, 2004)

Ciri-ciri Lendir Serviks pada berbagai fase dari siklus haid (30 hari)

a. Fase 1 :

Haid

Hari 1-5

Lendir dapat ada atau tidak, dan “tertutup” oleh darah haid.

Perasaan wanita : basah dan licin (lubrikatif).

b. Fase 2 :

Pasca haid

Hari 6-10

Tidak ada lendir atau hanya sedikit sekali

Perasaan wanita : kering.

c. Fase 3 :

Awal pra-ovulasi.

Hari 11-13

Lendir keruh, kuning atau putih, dan liat.

Perasaan wanita : liat dan / atau lembab.

d. Fase 4 :

Segera sebelum, pada saat dan sesudah ovulasi.

Hari 14-17.

23
Lendir bersifat jernih, licin, basah, dapat diregangkan.

Dengan konsistensi seperti putih telur.

Hari terakhir dari fase ini dikenal sebagai “gejala-puncak” (peak symptom).

Perasaan wanita : lubrikatif dan atau basah.

e. Fase 5 :

Pasca-ovulasi.

Hari 18-21.

Lendir sedikit, keruh, dan liat.

Perasaan wanita : liat / atau lembab.

f. Fase 6 :

Akhir pasca-ovulasi atau segera pra-haid.

Hari 27-30.

Lendir jernih dan seperti air.

Perasaan wanita : liat dan / atau lembab dan/atau basah.

Teknik Metode Lendir Serviks

Abstinens dimulai pada hari pertama diketahui adanya lendir setelah haid dan berlanjut
sampai dengan hari ke-empat setelah gejala puncak (peak symptom).

Penyulit-penyulit Metode Lendir Serviks

Keadaan fisiologis : sekresi vagina karena rangsangan seksual.

Keadaan patologis : infeksi vagina, serviks, penyakit-penyakit, pemakaian obat-obat.

Keadaan psikologis : stress (fisik dan emosional).

Efektivitas Metode Lendir Serviks

Angka kegagalan : 0,4-39.7 kehamilan pada 100 wanita pertahun.

24
Disamping abstinens pada saat yang diperlukan, masih ada 3 sebab lain terjadinya
kegagalan / kehamilan :

· Pengeluaran lendir mulainya terlambat.

· Gejala puncak (peak symptom) timbul terlalu awal/dini.

· Lendir tidak dirasakan oleh si wanita atau dinilai/interpretasi salah. (Hartanto,


Hanafi,1994).

Yang Dapat Menggunakan Metode Lendir Serviks

 Untuk Kontrasepsi
 Semua perempuan semasa reproduksi, baik siklus haid teratur maupun tidak
teratur, tidak haid baik karena menyusui maupun pramenopause.
 Semua perempuan dengan paritas berapa pun termasuk nulipara.
 Perempuan kurus atau gemuk
 Perempuan yang merokok.
 Perempaun dengan alasan kesehatan tertentu a.1. hipertensi sedang, varises,
dismenorea, sakit kepala sedang atau hebat, mioma uteri, endometritis, kista
ovarii, anemia defisiensi besi, hepatitis virus, malaria, trombosis vena dalam,
atau emboli paru.
 Pasangan dengan alasan agama atau filosofi untuk tidak menggunakan
metode lain.
 Perempuan yang tidak dapat menggunakan metode lain.
 Pasangan yang ingin pantang senggama lebih dari seminggu pada setiap
siklus haid.
 Pasangan yang ingin dan termotivasi untuk mengobservasi, mencatat, dan
menilai tanda dan gejala kesuburan.
 Untuk Konsepsi
Pasangan yang ingin mencapai kehamilan, senggama dilakukan pada masa subur
untuk mencapai kehamilan.

Yang Seharusnya Tidak Menggunakan Metode Lendir Serviks

25
 Perempuan yang dari segi umur, paritas atau masalah kesehatannya membuat
kehamilan menjadi suatu kondisi risiko tinggi.
 Perempuan sebelum mendapat haid (menyusui, segera setelah abortus), kecuali
MOB.
 Perempuan dengan siklus haid yang tidak teratur, kecuali MOB
 Perempuan yang pasangannya tidak mau bekerjasama (berpantang) selama waktu
tertentu dalam siklus haid.
 Perempuan yang tidak suka menyentuh daerah genitalianya.

METODE AMENOREA LAKTASI


Metode Amenorea Laktasi (MAL) atau Lactational Amenorrhea Method
(LAM) adalah metode kontrasepsi sementara yang mengandalkan pemberian Air Susu Ibu
(ASI) secara eksklusif, artinya hanya diberikan ASI saja tanpa tambahan makanan dan
minuman lainnya. Metode Amenorea Laktasi (MAL) atau Lactational Amenorrhea
Method (LAM) dapat dikatakan sebagai metode keluarga berencana alamiah (KBA)
atau natural family planning, apabila tidak dikombinasikan dengan metode kontrasepsi
lain.
Meskipun penelitian telah membuktikan bahwa menyusui dapat menekan
kesuburan, namun banyak wanita yang hamil lagi ketika menyusui. Oleh karena itu, selain
menggunakan Metode Amenorea Laktasi juga harus menggunakan metode kontrasepsi lain
seperti metode barier(diafragma, kondom, spermisida), kontrasepsi hormonal (suntik, pil
menyusui, AKBK) maupun IUD.

Metode Amenorea Laktasi (MAL) dapat dipakai sebagai alat kontrasepsi, apabila:
1. Menyusui secara penuh (full breast feeding), lebih efektif bila diberikan minimal
8 kali sehari.
2. Belum mendapat haid.
3. Umur bayi kurang dari 6 bulan.

Cara Kerja:
Cara kerja dari Metode Amenorea Laktasi (MAL) adalah menunda atau menekan
terjadinya ovulasi. Pada saat laktasi/menyusui, hormon yang berperan
adalah prolaktin dan oksitosin. Semakin sering menyusui, maka kadar prolaktin meningkat

26
dan hormon gonadotrophin melepaskan hormon penghambat (inhibitor). Hormon
penghambat akan mengurangi kadar estrogen, sehingga tidak terjadi ovulasi.

Efektifitas:
Efektifitas MAL sangat tinggi sekitar 98 persen apabila digunakan secara benar dan
memenuhi persyaratan sebagai berikut: digunakan selama enam bulan pertama
setelah melahirkan, belum mendapat haid pasca melahirkan dan menyusui secara eksklusif
(tanpa memberikan makanan atau minuman tambahan). Efektifitas dari metode ini juga
sangat tergantung pada frekuensi dan intensitas menyusui.

Manfaat:
Metode Amenorea Laktasi (MAL) memberikan manfaat kontrasepsi maupun non
kontrasepsi.
 Manfaat kontrasepsi dari MAL antara lain:
1. Efektifitas tinggi (98 persen) apabila digunakan selama enam bulan pertama
setelah melahirkan, belum mendapat haid dan menyusui eksklusif.
2. Dapat segera dimulai setelah melahirkan.
3. Tidak memerlukan prosedur khusus, alat maupun obat.
4. Tidak memerlukan pengawasan medis.
5. Tidak mengganggu senggama.
6. Mudah digunakan.
7. Tidak perlu biaya.
8. Tidak menimbulkan efek samping sistemik.
9. Tidak bertentangan dengan budaya maupun agama.
 Manfaat non kontrasepsi dari MAL antara lain:
Untuk bayi:
1. Mendapatkan kekebalan pasif.
2. Peningkatan gizi.
3. Mengurangi resiko penyakit menular.
4. Terhindar dari keterpaparan terhadap kontaminasi air, susu formula atau alat
minum yang dipakai.
Untuk ibu:
1. Mengurangi perdarahan post partum/setelah melahirkan.
2. Membantu proses involusi uteri (uterus kembali normal).
27
3. Mengurangi resiko anemia.
4. Meningkatkan hubungan psikologi antara ibu dan bayi.

Keterbatasan:
1. Memerlukan persiapan dimulai sejak kehamilan.
2. Metode ini hanya efektif digunakan selama 6 bulan setelah melahirkan, belum
mendapat haid dan menyusui secara eksklusif.
3. Tidak melindungi dari penyakit menular seksual termasuk Hepatitis B
ataupun HIV/AIDS.
4. Tidak menjadi pilihan bagi wanita yang tidak menyusui.
5. Kesulitan dalam mempertahankan pola menyusui secara eksklusif.

Yang Dapat Menggunakan MAL:


Metode Amenorea Laktasi (MAL) dapat digunakan oleh wanita yang ingin
menghindari kehamilan dan memenuhi kriteria sebagai berikut:
1. Wanita yang menyusui secara eksklusif.
2. Ibu pasca melahirkan dan bayinya berumur kurang dari 6 bulan.
3. Wanita yang belum mendapatkan haid pasca melahirkan.
4. Wanita yang menggunakan Metode Amenorea Laktasi (MAL), harus menyusui dan
memperhatikan hal-hal di bawah ini:
5. Dilakukan segera setelah melahirkan.
6. Frekuensi menyusui sering dan tanpa jadwal.
7. Pemberian ASI tanpa botol atau dot.
8. Tidak mengkonsumsi suplemen.
9. Pemberian ASI tetap dilakukan baik ketika ibu dan atau bayi sedang sakit.

Yang Tidak Dapat Menggunakan MAL:


Metode Amenorea Laktasi (MAL) tidak dapat digunakan oleh:
1. Wanita pasca melahirkan yang sudah mendapat haid.
2. Wanita yang tidak menyusui secara eksklusif.
3. Wanita yang bekerja dan terpisah dari bayinya lebih dari 6 jam.
4. Wanita yang harus menggunakan metode kontrasepsi tambahan.
5. Wanita yang menggunakan obat yang mengubah suasana hati.

28
6. Wanita yang menggunakan obat-obatan jenis ergotamine, anti metabolisme,
cyclosporine, bromocriptine, obat radioaktif, lithium atau anti koagulan.
7. Bayi sudah berumur lebih dari 6 bulan.
8. Bayi yang mempunyai gangguan metabolisme.
Metode Amenorea Laktasi (MAL) tidak direkomendasikan pada kondisi ibu yang
mempunyai HIV/AIDS positif dan TBC aktif. Namun demikian, MAL boleh digunakan
dengan pertimbangan penilaian klinis medis, tingkat keparahan kondisi ibu, ketersediaan
dan penerimaan metode kontrasepsi lain.

Di bawah ini merupakan keadaan yang memerlukan perhatian dalam penggunaan Metode
Amenorea Laktasi (MAL).

Keadaan Anjuran

Ketika mulai pemberian makanan Membantu klien memilih metode kontrasepsi


pendamping secara teratur. lain dan tetap mendukung pemberian ASI.

Ketika sudah mengalami haid. Membantu klien memilih metode kontrasepsi


lain dan tetap mendukung pemberian ASI.

Bayi menyusu kurang dari 8 kali sehari. Membantu klien memilih metode kontrasepsi
lain dan tetap mendukung pemberian ASI.

Bayi berumur 6 bulan atau lebih. Membantu klien memilih metode kontrasepsi
lain dan tetap mendukung pemberian ASI.

Sebelum menggunakan Metode Amenorea Laktasi (MAL), klien terlebih dahulu


diberikan konselingsebagai berikut:
1. Bayi menyusu harus sesering mungkin (on demand).
2. Waktu pengosongan payudara tidak lebih dari 4 jam.
3. Bayi menyusu sampai sepuasnya (bayi akan melepas sendiri hisapannya).
4. ASI juga diberikan pada malam hari untuk mempertahankan kecukupan ASI.
5. ASI dapat disimpan dalam lemari pendingin.

29
6. Waktu pemberian makanan padat sebagai pendamping ASI (diberikan pada bayi
sudah berumur 6 bulan lebih).
7. Metode MAL tidak akan efektif, apabila ibu sudah memberikan makanan atau
minuman tambahan lain.
8. Ibu yang sudah mendapatkan haid setelah melahirkan dianjurkan untuk
menggunakan metode kontrasepsi lain.
9. Apabila ibu tidak menyusui secara eksklusif atau berhenti menyusui maka perlu
disarankan menggunakan metode kontrasepsi lain yang sesuai.
Hal yang perlu diperhatikan oleh ibu dalam pemakaian Metode Amenorea Laktasi
(MAL) agar aman dan berhasil adalah menyusui secara eksklusif selama 6 bulan. Untuk
mendukung keberhasilan menyusui dan MAL maka beberapa hal penting yang perlu
diketahui yaitu cara menyusui yang benar meliputi posisi, perlekatan dan menyusui secara
efektif.
Di bawah ini merupakan langkah-langkah menentukan dalam menggunakan
kontrasepsi Metode Amenorea Laktasi (MAL).

30
SISTEM KALENDER

KB sistem kalender adalah usaha untuk mengatur kehamilan dengan menghindari


hubungan badan selama masa subur seorang wanita. Sebab pembuahan memang hanya
terjadi pada saat masa subur, atau lebih tepatnya 12-24 jam setelah puncak masa subur (sel
telur dilepas). 12-24 jam ini dari masa hidup sel telur rata-rata.

Metode ini efektif bila dilakukan secara baik dan benar. Dengan penggunaan sistem
kalender setiap pasangan dimungkinkan dapat merencanakan setiap kehamilannya.
Berbeda dengan sistem kontrasepsi lainnya, sistem kalender menjanjikan aneka kelebihan
dan karena itu banyak yang lebih menyukainya.

Prinsip kerja metode kalender ini berpedoman kepada kenyataan bahwa wanita
dalam siklus haidnya mengalami ovulasi (subur) hanya satu kali sebulan, dan biasanya
terjadi beberapa hari sebelum atau sesudah hari ke-14 dari haid yang akan datang. Sel telur
dapat hidup selama 6-24 jam, sedangkan sel mani selama 48-72 jam, jadi suatu konsepsi
mungkin akan terjadi kalau koitus dilakukan 2 hari sebelum ovulasi. Hendaknya sebelum
memakai cara para pemakai harus diberikan penerangan medik yang jelas tentang cara ini.

Hal yang perlu diperhatikan pada siklus menstruasi wanita sehat ada tiga tahapan:

1. Pre ovulatory infertility phase (masa tidak subur sebelum ovulasi).


2. Fertility phase (masa subur)
3. Post ovulatory infertility phase (masa tidak subur setelah ovulasi).
Perhitungan masa subur ini akan efektif bila siklus menstruasinya normal yaitu 21-
35 hari.

Pemantauan jumlah hari pada setiap siklus menstruasi dilakukan minimal enam kali
siklus berturut-turut. Kemudian hitung periode masa subur dengan melihat data yang telah
dicatat.

Menghitung masa subur dengan siklus haid dan melakukan pantang berkala atau
lebih dikenal dengan sistem kalender merupakan salah satu cara atau metode kontrasepsi
alami (Kb alami) dan sederhana yang dapat dikerjakan sendiri oleh pasangan suami istri
dengan cara tidak melakukan sanggama pada masa subur. Sebelum menggunakan metode

31
ini, tentunya pasangan suami istri harus mengetahui masa subur. Siklus masa subur pada
tiap wanita tidak sama. Untuk itu perlu pengamatan minimal 6 kali siklus menstruasi.
Berikut ini cara mengetahui dan menghitung masa subur:

1. Bila siklus haid teratur (28 hari) :


a. Hari pertama dalam siklus haid dihitung sebagai hari ke-1.
b. Masa subur adalah hari ke-12 hingga hari ke- 16 dalam siklus haid
Contoh:

Seorang isteri mendapat haid mulai tanggal 9 Januari. Tanggal 9 Januari


ini dihitung sebagai hari ke-1. Maka hari ke-12 jatuh pada tanggal 20 januari dan
hari ke 16 jatuh pada tanggal 24 Januari. Jadi masa subur yaitu sejak tanggal 20
Januari hingga tanggal 24 Januari. Pada tanggal-tanggal tersebut suami isteri
tidak boleh bersanggama. Jika ingin bersanggama harus memakai kondom atau
sanggama terputus (senggama dimana tidak mengeluarkan sperma didalam).

2. Bila siklus haid tidak teratur :

a. Catat jumlah hari dalam satu siklus haid selama 6 bulan (6 siklus). Satu siklus
haid dihitung mulai dari hari pertama haid saat ini hingga hari pertama haid
berikutnya, catat panjang pendeknya.
b. Masukan dalam rumus; jumlah hari terpendek dalam 6 kali siklus haid dikurangi
18. Hitungan ini menentukan hari pertama masa subur.
c. Jumlah hari terpanjang selama 6 siklus haid dikurangi 11. Hitungan ini
menentukan hari terakhir masa subur.

Contoh :

Seorang isteri mendapat haid dengan keadaan : siklus terpendek 26 hari


dan siklus terpanjang 32 hari (mulai hari pertama haid sampai haid berikutnya)
Perhitungannya : 26-18 = 8 dan 32–11 = 21. jadi masa suburnya adalah mulai
hari ke-8 sampai ke 21 dari hari pertama haid. Pada masa ini suami isteri tidak
boleh bersanggama. Jila ingin bersanggama harus memakai kondom atau
sanggama terputus.

32
Kontrasepsi dengan menggunakan sistem kalender dapat menghindari risiko
kesehatan yang berhubungan dengan kontrasepsi. Bagi keluarga yang kesulitan untuk
mendapatkan alat kontrasepsi sangat cocok untuk menggunakan metode kontrasepsi ini
selain tidak memerlukan biaya juga tidak perlu mencari tempat pelayanan kontrasepsi.
Menggunakan sistem kalender perlu kerjasama yang baik antara suami istri karena
metode ini perlu kemauan dan disiplin pasangan dalam menjalankannya. Masa
berpantang yang cukup lama akan mengakibatkan pasangan tidak bisa menanti sehingga
melakukan hubungan pada waktu masih berpantang. Tapi bukan masalah bila saja
pasangan membiasakan menggunakan kondom pada saat subur.

Hal yang dapat menyebabkan metode kalender menjadi tidak efektif adalah:

a. Penentuan masa tidak subur didasarkan pada kemampuan hidup sel sperma
dalam saluran reproduksi (sperma mampu bertahan selama 3 hari).
b. Anggapan bahwa perdarahan yang datang bersamaan dengan ovulasi,
diinterpretasikan sebagai menstruasi. Hal ini menyebabkan perhitungan masa
tidak subur sebelum dan setelah ovulasi menjadi tidak tepat.
c. Penentuan masa tidak subur tidak didasarkan pada siklus menstruasi sendiri.
d. Kurangnya pemahaman tentang hubungan masa subur/ovulasi dengan
perubahan jenis mukus/lendir serviks yang menyertainya.
e. Anggapan bahwa hari pertama menstruasi dihitung dari berakhirnya perdarahan
menstruasi. Hal ini menyebabkan penentuan masa tidak subur menjadi tidak
tepat.

Keuntungan dan Kerugian:

 Keuntungan
a. Ditinjau dari segi ekonomi : KB kalender dilakukan secara alami dan tanpa biaya
sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya untuk membeli alat kontrasepsi.
b. Dari segi kesehatan : sistem kalender ini jelas jauh lebih sehat karena bisa
dihindari adanya efek sampingan yang merugikan seperti halnya memakai alat
kontrasepsi lainnya (terutama yang berupa obat).

33
c. Dari segi psikologis : yaitu sistem kalender ini tidak mengurangi kenikmatan
hubungan itu sendiri seperti bila memakai kondom misalnya. Meski tentu saja
dilain pihak dituntut kontrol diri dari pasangan untuk ketat berpantang selama
masa subur.
 Kerugian
Kemungkinan kegagalan yang jauh lebih tinggi. Ini terutama bila tidak
dilakukan pengamatan yang mendalam untuk mengetahui dengan pasti masa subur,
karena tidak ada yang bisa menjamin ketepatan perhitungan sebab masa suburpun
terjadi secara alami, selain itu kedua pasangan tidak bisa menikmati hubungan suami
istri secara bebas karena ada aturan yang ditetapkan dalam sistem ini. Masa
berpantang yang cukup lama dapat membuat pasangan tidak bisa menanti dan
melakukan hubungan pada waktu berpantang.
Kerugian lain dari KB kalender adalah bahwa waktu yang tepat dari ovulasi
sulit untuk ditentukan, ovulasi umumnya terjadi 14 ±2 hari sebelum hari pertama
haid yang akan datang. Dengan demikian pada wanita dengan haid yang tidak teratur,
saat terjadi ovulasi, sulit atau sama sekali tidak dapat diperhitungkan. Selain itu, ada
kemungkinan bahwa pada wanita dengan haid teratur oleh salah satu sebab (misalnya
karena sakit) ovulasi tidak datang pada saat semestinya.

Indikasi

Metode ini mudah dilaksanakan, tetapi dalam prakteknya sukar menentukan pada
saat ovulasi dengan tetap. Hanya sedikit wanita yang mempunyai daur haid teratur, lagi pula
dapat terjadi variasi, lebih-lebih setelah persalinan dan pada tahun-tahun menjelang
menopaus.

Efektivitas

Bagi wanita dengan siklus haid teratur, efektifitasnya lebih tinggi dibandingkan
wanita yang siklus haidnya tidak teratur. Angka kegagalan berkisar antara 6 – 42. Metode
kalender akan lebih efektif bila dilakukan dengan baik dan benar. Sebelum menggunakan
metode kalender ini, pasangan suami istri harus mengetahui masa subur. Padahal, masa
subur setiap wanita tidaklah sama. Oleh karena itu, diperlukan pengamatan minimal enam

34
kali siklus menstruasi. Selain itu, metode ini juga akan lebih efektif bila digunakan bersama
dengan metode kontrasepsi lain. Berdasarkan penelitian dr. Johnson dan kawan-kawan di
Sidney, metode kalender akan efektif tiga kali lipat bila dikombinasikan dengan metode
simptothermal. Angka kegagalan penggunaan metode kalender adalah 14 per 100 wanita per
tahun.

KONTRASEPSI MANTAP

VASEKTOMI

Kontrasepsi Mantap Pria / Medis Operatif pria (MOP) / Vasektomi adalah suatu
metode operasi minor pada pria yang sangat aman, sederhana dan sangat efektif, memakan
waktu operasi yang singkat dan tidak memerlukan anestesi umum (Handayani, 2010).
Vasektomi merupakan metode sterilisasi atau operasi pada laki-laki. Vasektomi
dilakukan dengan cara pemotongan atau penyumbatan vas deferens dari kantongnya
(zakar) ke penis untuk mencegah lewatnya sperma (Uliyah, 2010).

Cara Kerja
Saluran vas deferens yang berfungsi mengangkut sperma dipotong dan diikat,
sehingga aliran sperma dihambat tanpa mempengaruhi jumlah cairan semen. Jumlah
sperma hanya 5% dari cairan ejakulasi. Cairan semen diproduksi dalam vesika seminalis
dan prostat sehingga tidak akan terganggu oleh vasektomi (Anggraini. 2012)

Indikasi
Vasektomi merupakan upaya untuk menghentikan fertilitas di mana fungsi reproduksi
merupakan ancaman atau gangguan terhadap kesehatan pria dan pasangannya serta
melemahkan ketahanan dan kualitas kelurga (BKKBN,2006).

Kontraindikasi
 Infeksi kulit lokal, misalnya scalbies.
 Infeksi traktus genitalis.
 Kelainan skrotum dan sekitarnya : Varicocele, Hydrocele besar, Filariasis, Hernia
Inguinalis, luka parut bekas operasi hernia, skrotum yang sangat tebal.

35
 Penyakit sistemik : penyakit-penyakit perdarahan, diabetes mellitus, penyakit jantung
koroner yang baru.
 Riwayat perkawinan, psikologi atau seksual yang tidak stabil (Handayani, 2010)

Pelaksanaan Pelayanan
 Persiapan petugas
o Cuci tangan dengan sabun dan air bersih selama 10 menit.
o Memakai baju yang bersih (baju operasi), tutup kepala, tutup mulut dan hidung.
 Pra – Operasi
o Anamnesis dan lakukan Informed Consent.
o Pemeriksaan fisik.
o Pemeriksaan labortorium
o Persiapan pasien
 Pasien sebaiknya mandi serta mengenakan pakaian yang bersih dan
longgar sebelum mengunjungi klinik, atau setidaknya pasien dianjurkan
membersihkan daerah skrotum dan inguinal/lipat paha sebelum masuk ke
ruangan tindakan.
 Pasien dianjurkan membawa celan khusus untuk menyangga skrotum.
 Rambut pubis cukup digunting untuk memperkecil resiko infeksi.
 Cuci/bersihkan daerah operasi dengan sabun dan air kemudian ulangi
sekali lagi dengan larutan antiseptic atau langsung diberi antiseptic
(Povidon Iodin).
 Bila diperlukan larutan povidon Iodin seperti Betadine, tunggu 1 atau 2
menit hingga jodium bebas yang terlepas dapat membunuh mikro
organisme (Handayani, 2010).
o Anestesi local
 Dipakai karena murah dan lebih aman, misalnya Lidocaine 1-2% sebanyak
1-5 cc atau sejenis.
 Kadang-kadang dicampur dengan adrenalin, untuk mengurangi
perdarahan. IPPF tidak mengajurkan kombinasi tersebut karena adrenalin
dapat menyebabkan iskemia dan rasa sakit post-operatif yang
berkepanjangan. Penyuntikan steroid untuk mencegah pembengkakan
post-operastif juga tidak dianjurkan.

36
 Jangan menyuntikkan anestesi lokal langsung ke dalam vas deferens,
karena mungkin dapat merusak plexus pampiniform.
 Bila calon akseptor mengalami rasa takut atau gelisah, dapat diberikan
tranquilizer atau sedative, per oral atau suntikan.
Anestesi umum mungkin perlu dipertimbangkan pada kasus-kasus khusus:
o Adanya luka parut daerah inguinal atau skrotum yang sangat tebal.
o Kelainan intra-skrotal seperti hydrocele.
o Alergi terhadap anestesi local (Hartanto, 2004).

Kontrasepsi berasal dari dua kata, yaitu kontra dan konsepsi. Kontra berarti menolak,
konsepsi berarti pertemuan antara sel telur wanita (ovum) yang sudah matang dengan sel mani
pria (sperma) sehingga terjadi pembuahan dan kehamilan. Dengan demikian kontrasepsi adalah
mencegah bertemunya sel telur yang matang dengan sel mani pada waktu bersenggama,
sehingga tidak akan terjadi pembuahan dan kehamilan (Farrer, 2001).

Sedangkan yang dimaksud dengan istilah ‘alamiah’ di sini adalah metoda-metoda yang
tidak membutuhkan alat ataupun bahan kimia (yang menjadi ciri khas metode perintang) juga
tidak memerlukan obat-obatan (sebagaimana ciri metoda hormonal).

Jadi, yang dimaksud Kontrasepsi Alamiah adalah suatu upaya mencegah /mengahalangi
pembuahan atau pertemuan antara sel telur dengan sperma dengan menggunakan metode-
metode yang tidak membutuhkan alat ataupun bahan kimia (yang menjadi cirri khas metode
perintang) juga tidak memerlukan obat-obatan.

TUBEKTOMI

Tubektomi adalah tindakan oklusi atau pengambilan sebagian saluran telur wanita
untuk mencegah proses fertilisasi. Setelah tubektomi fertilitas dari pasangan tersebut akan
terhenti secara permanen. Waktu yang terbaik untuk melakukan tubektomi pasca persalinan
yaitu tidak lebih dari 48 jam sesudah melahirkan karena posisi tuba mudah dicapai oleh sub
umbilicus dan rendahnya resiko infeksi. Bila masa 48 jam pasca persalinan telah terlampaui
maka pilihan untuk memillih tetap tubektomi, dilakukan setelah 6-8 minggu persalinan atau
pada masa interval (Saifuddin, 2006).
Sterilisasi pada wanita dilakukan melalui suatu insisi melintang rendah yang
memisahkan otot dan setiap tuba fallopi dikeluarkan melalui luka dan dipotong. Pasien harus
masuk rumah sakit dan operasi dilakukan didalam ruang operasi dengan kondisi steril penuh..

37
Prinsip
Oklusi (pengikatan, pemotongan, pengangkatan) tuba fallopi sehingga spermatozoa
dan ovum tidak dapat bertemu (Hartanto, 2004)

Indikasi
Indikasi yang boleh menjalani tubektomi menurut Mochtar (1998) adalah sebagai berikut:
 Indikasi medis umum, yaitu adanya gangguan fisik atau psikis yang akan menjadi lebih
erat bila wanita ini hamil lagi. Yang mana nantinya akan terjadi gangguan fisik seperti
tuberkolosi pulmonum, penyakit jantung, penyakit ginjal, maupun kanker payudara,
selain itu juga menyebabkan gangguan psikis.
 Indikasi medis obstetric, yaitu toksemia gravidarum yang berulang, seksio sesaria yang
berulang, histerektomi yang obstetric, dan sebagainya.
 Indikasi medis ginekologik dapat pula waktu melakukan operasi ginekologik dapat pula
dipertimbangkan untuk melakukan sterilisasi.
 Indikasi sosial ekonomi, yaitu indikasi yang berdasarkan beban sosial ekonomi yang
sekarang ini terus bertambah lama bertambah berat.

Kontraindikasi
Menurut Sujiyatini (2009) yang tidak boleh menjalani tubektomi adalah sebagai berikut:
 Hamil atau dicurigai hamil
 Perdarahan vaginal yang belum terjelaskan
 Infeksi sistemik atau pelvik yang akut
 Tidak boleh menjalani proses pembedahan
 Kurang pasti mengenai keinginannya untuk fertilitas dimasa depan
 Belum memberikan persetujuan tertulis.

Persiapan Pasien
Berikut adalah persiapan pasien sebelum operasi menurut Saifuddin (2006) meliputi:
 Pasien dianjurkan mandi sebelum mengunjungi tempat pelayanan. Bila tidak sempat,
minta pasien untuk membersihkan bagian abdomen atau perut bawah, pubis, dan vagina
dengan menggunakan sabun dan air.

38
 Bila menutupi daerah operasi, rambut pubis cukup digunting, pencukuran hanya
dilakukan apabila rambut tersebut sangat menutupi daerah operasi dan waktu
pencukuran adalah sesaat sebelum operasi dilaksanakan.
 Bila menggunakan elevator rahim, sebaiknya dilakukan pengusapan larutan antiseptik
(misal povidon iodin) pada servik dan vagina.
 Setelah pengolesan bitadin/povidon iodin pada kulit, tunggu 1-2 menit agar yodium
bebas yang dilepaskan dapat membunuh mikroorganisme dengan baik.

Teknik Operasi
Menurut Saifuddin (2006) dikenal 2 tipe yang sering digunakan dalam palayanan
tubektomi yaitu Minilaparotomi dan Laparoskopi. Teknik ini menggunakan anestesi lokal
dan bila dilakukan secara benar, kedua teknik tersebut tidak banyak menimbulkan
komplikasi.
 Minilaparotomi. Metode ini merupakan penyederhanaan laparotomy terdahulu, hanya
diperlukan sayatan kecil (sekitar 3 cm) baik pada daerah perut bawah maupun pada
lingkar pusat bawah. Tindakan ini dapat dilakukan terhadap banyak pasien. Relatif
murah dan dapat dilakukan oleh dokter yang diberi latihan khusus. Operasi ini aman dan
efektif. Baik untuk masa interval maupun pasca persalinan, pengambilan tuba dilakukan
melalui sayatan kecil. Setelah tuba didapat, kemudian di keluarkan, diikat dan dipotong
sebagian, setelah itu dinding perut ditutup kembali, luka sayatan ditutup dengan kassa
yang kering dan steril dan apabila tidak ditemukan masalah yang berarti, pasien dapat
dipulangkan setelah 2-4 jam.
 Laparoskopi. Prosedur ini memerlukan tenaga spesialis kebidanan dan penyakit
kandungan yang terlatih, agar pelaksanaannya aman dan efektif. Teknik ini dapat
dilakukan pada 6-8 minggu pasca persalinan atau setelah abortus (tanpa komplikasi).
Laparoskopi sebaiknya di gunakan untuk pasien dalam jumlah banyak karena peralatan
dan biaya pemeliharaan peralatan laparoskopi cukup mahal. Seperti halnya
minilaparotomi, laparoskopi dapat digunakan dengan anestesi lokal dan diperlakukan
sebagai pasien rawat jalan setelah pelayanan. Laparoskopi juga cocok untuk pasien yang
kritis karena tidak menimbulkan rasa tidak nyaman serta parut lukanya minimal.
Peralatan ini juga dapat dipakai untuk diagnostik. Peralatan ini memerlukan perawatan
yang cukup rumit dan sebaiknya ada tenaga ahli anestesi pada saat tindakan laparatomi
berlangsung.
39
DAFTAR PUSTAKA

Everett, Suzanne. 2004. Buku Saku Kontrasepsi dan Kesehatan Seksual Reproduktif. Jakarta
: EGC.

Saifuddin, BA. 2008. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka.

Sifudin, Abdul Bari. 2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta : Yayasan
Bina Pustaka

Sarwono Prawirohardjo Wiknjosastro, Hanifa. 2006. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan


Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

Varney, Helen. 2006. Asuhan Kebidanan. Jakarta : EGC.

Anggraini, Y dan Martini. 2012. Pelayanan Keluarga Berencana. Yogyakarta: Rohima Press.

BKKBN. 2006. Buku Saku Bagi Petugas Lapangan Program KB Nasional Materi Konseling.
Jakarta: BKKBN.

Handayani, Sri. 2010. Buku Ajar Pelayanan Keluarga Berencana. Yogyakarta: Pustaka
Rihama.

Hartanto, Hanafi. 2004. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan.

Mochtar, Rustam. 1998 . Sinopsis Obstetri. Jilid 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Saifuddin, Abdul Bari. 2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: Penerbit
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Sujiyatini, Arum. 2009. Panduan Lengkap Pelayanan KB Terkini. Yogyakarta: Nuha Medika.

Uliyah, M. 2010. Panduan Aman dan Sehat Memilih Alat KB. Yogyakarta: Insania.

Saifudin, Abdul Bari. 2003. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: Yayasan
Bina Pustaka Sarwoo Prawirohardjo.

Prawihardjo, Sarwono. 2006. Buku panduan praktis pelayanan kontrasepsi. Jakarta : yayasan
bina pustaka.

40
Saifudin, Abdul Bari. 2003. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: Yayasan
Bina Pustaka Sarwoo Prawirohardjo.

41