Anda di halaman 1dari 23

KONSEP DASAR MEDIS

A. Defenisi
Fraktur adalah terputusnya kontiunitas tulang, retak atau patahnya
tulang yang utuh, yang biasanya di sebabkan oleh trauma/rudapaksa atau
tenaga fisik yang di tentukan jenis dan luas trauma (Chairuddin, 2008).
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan dan
atau tulang yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. (Arif Mansjoer,
2000).
Open fraktur adalah fraktur dimana fragmen tulang yang
bersangkutan sedang atau pernah berhubungan dengan dunia luar melalui
kulit (Chairuddin, 2008).
B. Etiologi
Penyebab dari fraktur adalah:
1. Trauma langsung/ direct trauma
Yaitu apabila fraktur terjadi di tempat dimana bagian tersebut mendapat
ruda paksa (misalnya benturan, pukulan yang mengakibatkan patah
tulang).
2. Trauma yang tak langsung/ indirect trauma
Misalnya penderita jatuh dengan kaki y yang pertama kali menyentuh
permukaan dapat terjadi fraktur pada tulang tibia dan fibula.
Sedangkan Hubungan dengan dunia luar dapat terjadi karena
1. Penyebab ruda paksa merusak kulit, jaringan lunak dan tulang.
2. Fragmen tulang merusak jaringan lunak dan menembus kulit.

C. Patofisiologi
Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya
pegas untuk menahan. Tapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih besar
dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang yang
mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang. Setelah terjadi
fraktur, periosteum dan pembuluh darah serta saraf dalam korteks, marrow,
dan jaringan lunak yang membungkus tulang rusak. Perdarahan terjadi karena
kerusakan tersebut dan terbentuklah hematoma di rongga medula tulang.
Jaringan tulang segera berdekatan ke bagian tulang yang patah. Jaringan yang
mengalami nekrosis ini menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang
ditandai dengan vasodilatasi, eksudasi plasma dan leukosit, dan infiltrasi sel
darah putih. Kejadian inilah yang merupakan dasar dari proses penyembuhan
tulang nantinya (Smeltzer,2001).
Faktor-faktor yang mempengaruhi fraktur
1. Faktor Ekstrinsik
Adanya tekanan dari luar yang bereaksi pada tulang yang tergantung
terhadap besar, waktu, dan arah tekanan yang dapat menyebabkan fraktur.
2. Faktor Intrinsik
Beberapa sifat yang terpenting dari tulang yang menentukan daya tahan
untuk timbulnya fraktur seperti kapasitas absorbsi dari tekanan,
elastisitas, kelelahan, dan kepadatan atau kekerasan tulang.
D. Manifestasi Klinik
Manifestasi klinis fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi, deformitas,
pemendekan ektremitas, krepitus, pembengkakan lokal, dan perubahan warna
yang dijelaskan secara rinci sebagai berikut:
1. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang
diimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai
alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen
tulang.
2. Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tidak dapat digunakan dan cenderung
bergerak secara alamiah (gerakan luar biasa). Pergeseran fragmen pada
fraktur lengan dan tungkai menyebabkan deformitas (terlihat maupun
teraba) ektremitas yang bisa diketahui dengan membandingkannya dengan
ektremitas normal. Ekstremitas tidak dapat berfungsi dengan baik karena
fungsi normal otot tergantung pada integritasnya tulang tempat melekatnya
otot.
3. Pada fraktur panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena
kontraksi otot yang melekat di atas dan bawah tempat fraktur. Fragmen
sering saling melengkapi satu sama lain sampai 2,5 sampai 5 cm (1 sampai
2 inci).
4. Saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang
dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu
dengan lainnya. Uji krepitus dapat mengakibatkan kerusakan jaringan
lunak yang lebih berat.
5. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai
akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini biasa
terjadi setelah beberapa jam atau hari setelah cedera.
Tidak semua tanda dan gejala tersebut terdapat pada setiap fraktur.
Kebanyakan justru tidak ada pada fraktur linear atau fisur atau fraktur
impaksi (permukaan patahan saling terdesak satu sama lain). Diagnosis
fraktur bergantung pada gejala, tanda fisik, dan pemeriksaan sinar-x pasien.
Biasanya pasien mengeluhkan mengalami cedera pada daerah tersebut.
E. Pemeriksaan Penunjang
1. X-Ray dilakukan untuk melihat bentuk patahan atau keadaan tulang yang
cedera.
2. Bone scans, Tomogram, atau MRI Scans.
3. Arteriogram : dilakukan bila ada kerusakan vaskuler.
4. Pemeriksaan Darah Lengkap.
Leukosit turun/meningkat, eritrosit dan albumin turun, Hb,
hematokrit sering rendah akibat perdarahan, Laju Endap Darah (LED)
meningkat bila kerusakan jaringan lunak sangat luas. Pada masa
penyembuhan Ca meningkat di dalam darah, trauma otot meningkatkan
beban kreatinin untuk ginjal. Profil koagulasi: perubahan dapat terjadi
pada kehilangan darah, transfusi multiple, atau cederah hati.
F. Komplikasi
1. Komplikasi Awal
a. Kerusakan Arteri
Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak adanya nadi,
CRT menurun, cyanosis bagian distal, hematoma yang lebar, dan
dingin pada ekstrimitas yang disebabkan oleh tindakan emergensi
splinting, perubahan posisi pada yang sakit, tindakan reduksi, dan
pembedahan.
b. Kompartement Syndrom
Komplikasi ini terjadi saat peningkatan tekanan jaringan dalam ruang
tertutup di otot, yang sering berhubungan dengan akumulasi cairan
sehingga menyebabkan hambatan aliran darah yang berat dan
berikutnya menyebabkan kerusakan pada otot. Gejala – gejalanya
mencakup rasa sakit karena ketidakseimbangan pada luka, rasa sakit
yang berhubungan dengan tekanan yang berlebihan pada
kompartemen, rasa sakit dengan perenggangan pasif pada otot yang
terlibat, dan paresthesia. Komplikasi ini terjadi lebih sering pada
fraktur tulang kering (tibia) dan tulang hasta (radius atau ulna).
c. Fat Embolism Syndrom
Merupakan keadaan pulmonari akut dan dapat menyebabkan kondisi
fatal. Hal ini terjadi ketika gelembung – gelembung lemak terlepas
dari sumsum tulang dan mengelilingi jaringan yang rusak. Gelombang
lemak ini akan melewati sirkulasi dan dapat menyebabkan oklusi pada
pembuluh-pembuluh darah pulmonary yang menyebabkan sukar
bernafas. Gejala dari sindrom emboli lemak mencakup dyspnea,
perubahan dalam status mental (gaduh, gelisah, marah, bingung,
stupor), tachycardia, demam, ruam kulit ptechie.
d. Infeksi
System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada
trauma orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk
ke dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka, tapi bisa
juga karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin
dan plat.
e. Avaskuler Nekrosis
Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang rusak
atau terganggu yang bisa menyebabkan nekrosis tulang dan diawali
dengan adanya Volkman’s Ischemia. Nekrosis avaskular dapat terjadi
saat suplai darah ke tulang kurang baik. Hal ini paling sering
mengenai fraktur intrascapular femur (yaitu kepala dan leher), saat
kepala femur berputar atau keluar dari sendi dan menghalangi suplai
darah. Karena nekrosis avaskular mencakup proses yang terjadi dalam
periode waktu yang lama, pasien mungkin tidak akan merasakan
gejalanya sampai dia keluar dari rumah sakit. Oleh karena itu, edukasi
pada pasien merupakan hal yang penting. Perawat harus menyuruh
pasien supaya melaporkan nyeri yang bersifat intermiten atau nyeri
yang menetap pada saat menahan beban.
f. Shock
Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya
permeabilitas kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya
oksigenasi. Ini biasanya terjadi pada fraktur.
g. Osteomyelitis
Adalah infeksi dari jaringan tulang yang mencakup sumsum dan
korteks tulang dapat berupa exogenous (infeksi masuk dari luar
tubuh) atau hematogenous (infeksi yang berasal dari dalam tubuh).
Patogen dapat masuk melalui luka fraktur terbuka, luka tembus, atau
selama operasi. Luka tembak, fraktur tulang panjang, fraktur terbuka
yang terlihat tulangnya, luka amputasi karena trauma dan fraktur –
fraktur dengan sindrom kompartemen atau luka vaskular memiliki
risiko osteomyelitis yang lebih besar
2. Komplikasi Dalam Waktu Lama
a. Delayed Union (Penyatuan tertunda)
Delayed Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai
dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini
disebabkan karena penurunan suplai darah ke tulang.
b. Non union (tak menyatu)
Penyatuan tulang tidak terjadi, cacat diisi oleh jaringan fibrosa.
Kadang -kadang dapat terbentuk sendi palsu pada tempat ini. Faktor –
faktor yang dapat menyebabkan non union adalah tidak adanya
imobilisasi, interposisi jaringan lunak, pemisahan lebar dari fragmen
contohnya patella dan fraktur yang bersifat patologis.
c. Malunion
Kelainan penyatuan tulang karena penyerasian yang buruk
menimbulkan deformitas, angulasi atau pergeseran.
G. Penatalaksanaan
Beberapa prinsip dasar pengelolaan fraktur :
1. Obati fraktur terbuka sebagai satu kegawatan.
2. Adakan evaluasi awal dan diagnosis akan adanya kelainan yang dapat
menyebabkan kematian.
3. Berikan antibiotic dalam ruang gawat darurat, di kamar operasi dan
setelah operasi.
4. Segera dilakukan debrideman dan irigasi yang baik
5. Ulangi debrideman 24-72 jam berikutnya
6. Stabilisasi fraktur.
7. Biarkan luka tebuka antara 5-7 hari
8. Lakukan bone graft autogenous secepatnya
9. Rehabilitasi anggota gerak yang terkena
Langkah-langkah penatalaksanaan fraktur
1. Pembersihan luka
Pembersihan luka dilakukan dengan cara irigasi dengan cairan NaCl
fisiologis secara mekanis untuk mengeluarkan benda asing yang melekat.
2. Eksisi jaringan yang mati dan tersangka mati (debridemen)
Semua jaringan yang kehilangan vaskularisasinya merupakan daerah
tempat pembenihan bakteri sehingga diperlukan eksisi secara operasi
pada kulit, jaringan subkutaneus, lemak, fascia, otot dan fragmen2 yang
lepas
3. Pengobatan fraktur itu sendiri
Fraktur dengan luka yang hebat memerlukan suatu fraksi skeletal atau
reduksi terbuka dengan fiksasi eksterna tulang. fraktur grade II dan III
sebaiknya difiksasi dengan fiksasi eksterna.
4. Penutupan kulit
Apabila fraktur terbuka diobati dalam waktu periode emas (6-7 jam mulai
dari terjadinya kecelakaan), maka sebaiknya kulit ditutup. hal ini
dilakukan apabila penutupan membuat kulit sangat tegang. dapat
dilakukan split thickness skin-graft serta pemasangan drainase isap untuk
mencegah akumulasi darah dan serum pada luka yang dalam. luka dapat
dibiarkan terbuka setelah beberapa hari tapi tidak lebih dari 10 hari. kulit
dapat ditutup kembali disebut delayed primary closure. yang perlu
mendapat perhatian adalah penutupan kulit tidak dipaksakan yang
mengakibatkan sehingga kulit menjadi tegang.
5. Pemberian antibiotic
Pemberian antibiotik bertujuan untuk mencegah infeksi. antibiotik
diberikan dalam dosis yang adekuat sebelum, pada saat dan sesuadah
tindakan operasi
6. Pencegahan tetanus
Semua penderita dengan fraktur terbuka perlu diberikan pencegahan
tetanus. pada penderita yang telah mendapat imunisasi aktif cukup
dengan pemberian toksoid tapi bagi yang belum, dapat diberikan 250 unit
tetanus imunoglobulin (manusia)
H. Prognosis
Semua open fraktur adalah kasus gawat darurat. Dengan
terbukanya barier jaringan lunak, maka patah tulang tersebut terancam untuk
terjadinya infeksi. Seperti kita ketahui bahwa periode 6 jam sejak patah
tulang terbuka, luka yang terjadi masih dalam stadium kontaminasi (golden
periode) dan setelah waktu tersebut, luka berubah menjadi luka infeksi.
Oleh karena itu penanganan patah tulang terbuka harus dilakukan
sebelum golden periode terlampaui agar sasaran akhir penanganan patah
tulang terbuka tercapai walaupun ditinjau dari segi prioritas penanganannya,
tulang secara primer menempati urutan prioritas ke 6
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN

1. Anamnesa

a. Identitas Klien

Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa yang

dipakai, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan

darah, no. register, tanggal MRS, diagnosa medis.

b. Keluhan Utama

Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa nyeri.

Nyeri tersebut bisa akut atau kronik tergantung dan lamanya

serangan. Untuk memperoleh pengkajian yang lengkap tentang rasa

nyeri klien digunakan:

c. Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi yang menjadi

faktor presipitasi nyeri.

1) Quality of Pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau

digambarkan klien. Apakah seperti terbakar, berdenyut, atau

menusuk.

2) Region : radiation, relief: apakah rasa sakit bisa reda, apakah rasa

sakit menjalar atau menyebar, dan dimana rasa sakit terjadi.

3) Severity (Scale) of Pain: seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan

klien, bisa berdasarkan skala nyeri atau klien menerangkan

seberapa jauh rasa sakit mempengaruhi kemampuan fungsinya.

4) Time: berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah bertambah

buruk pada malam hari atau siang hari.

d. Riwayat Penyakit Sekarang


Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari

fraktur, yang nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan

terhadap klien. Ini bisa berupa kronologi terjadinya penyakit tersebut

sehingga nantinya bisa ditentukan kekuatan yang terjadi dan bagian

tubuh mana yang terkena. Selain itu, dengan mengetahui mekanisme

terjadinya kecelakaan bisa diketahui luka kecelakaan yang lain

e. Riwayat Penyakit Dahulu

Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab fraktur dan

memberi petunjuk berapa lama tulang tersebut akan menyambung.

Penyakit-penyakit tertentu seperti kanker tulang dan penyakit paget’s

yang menyebabkan fraktur patologis yang sering sulit untuk

menyambung. Selain itu, penyakit diabetes dengan luka di kaki sanagt

beresiko terjadinya osteomyelitis akut maupun kronik dan juga

diabetes menghambat proses penyembuhan tulang

f. Riwayat Penyakit Keluarga

Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit tulang

merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya fraktur, seperti

diabetes, osteoporosis yang sering terjadi pada beberapa keturunan,

dan kanker tulang yang cenderung diturunkan secara genetik

g. Riwayat Psikososial

Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya

dan peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau

pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya baik dalam keluarga

ataupun dalam masyarakat

2. Riwayat Psikologis

a. Pola konsep diri


b. Pola kognitif

c. Pola koping

d. Pola interaksi

e. Pemeriksaan Fisik

3. Riwayat spiritual

a. Ketaatan klien beribadah

b. Dukungan keluarga

c. Ritual yang biasa dijalankan klien

4. Pola-Pola Fungsi Kesehatan

a. Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat

Pada kasus fraktur akan timbul ketidakutan akan terjadinya

kecacatan pada dirinya dan harus menjalani penatalaksanaan

kesehatan untuk membantu penyembuhan tulangnya. Selain itu,

pengkajian juga meliputi kebiasaan hidup klien seperti penggunaan

obat steroid yang dapat mengganggu metabolisme kalsium,

pengkonsumsian alkohol yang bisa mengganggu keseimbangannya

dan apakah klien melakukan olahraga atau tidak.

b. Pola Nutrisi dan Metabolisme

Pada klien fraktur harus mengkonsumsi nutrisi melebihi

kebutuhan sehari-harinya seperti kalsium, zat besi, protein, vit. C dan

lainnya untuk membantu proses penyembuhan tulang. Evaluasi

terhadap pola nutrisi klien bisa membantu menentukan penyebab

masalah muskuloskeletal dan mengantisipasi komplikasi dari nutrisi

yang tidak adekuat terutama kalsium atau protein dan terpapar sinar

matahari yang kurang merupakan faktor predisposisi masalah


muskuloskeletal terutama pada lansia. Selain itu juga obesitas juga

menghambat degenerasi dan mobilitas klien.

c. Pola Eliminasi

Untuk kasus fraktur humerus tidak ada gangguan pada pola

eliminasi, tapi walaupun begitu perlu juga dikaji frekuensi,

konsistensi, warna serta bau feces pada pola eliminasi alvi.

Sedangkan pada pola eliminasi uri dikaji frekuensi, kepekatannya,

warna, bau, dan jumlah. Pada kedua pola ini juga dikaji ada kesulitan

atau tidak.

d. Pola Tidur dan Istirahat

Semua klien fraktur timbul rasa nyeri, keterbatasan gerak,

sehingga hal ini dapat mengganggu pola dan kebutuhan tidur klien.

Selain itu juga, pengkajian dilaksanakan pada lamanya tidur, suasana

lingkungan, kebiasaan tidur, dan kesulitan tidur serta penggunaan

obat tidur .

e. Pola Aktivitas

Karena timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, maka semua

bentuk kegiatan klien menjadi berkurang dan kebutuhan klien perlu

banyak dibantu oleh orang lain. Hal lain yang perlu dikaji adalah

bentuk aktivitas klien terutama pekerjaan klien. Karena ada beberapa

bentuk pekerjaan beresiko untuk terjadinya fraktur dibanding

pekerjaan yang lain.

f. Pola Penanggulangan Stress

Pada klien fraktur timbul rasa cemas tentang keadaan dirinya,

yaitu ketidakutan timbul kecacatan pada diri dan fungsi tubuhnya.

Mekanisme koping yang ditempuh klien bisa tidak efektif.


g. Pola Tata Nilai dan Keyakinan

Untuk klien fraktur tidak dapat melaksanakan kebutuhan

beribadah dengan baik terutama frekuensi dan konsentrasi. Hal ini

bisa disebabkan karena nyeri dan keterbatasan gerak klien

B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang dapat muncul menurut Wilkinson Juidith
M dan Ahern R (2011) adalah:
1. Nyeri akut
2. Gangguan mobilitas fisik
3. Resiko infeksi
4. Ansietas
5. Kerusakan Integritas Kulit
6. Defisiensi pengetahuan.
C. Intervensi Keperawatan

Rencana Keperawatan
No Diagnosa Keperawatan
Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi

1 Nyeri akut berhubungan NOC NIC


dengan agen injury a. Pain Level,
1. Lakukan pengkajian nyeri secara
(biologi, kimia, fisik dan b. pain control,
komprehensif termasuk lokasi,
psikologis) c. comfort level
karakteristik, durasi, frekuensi dan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan
kualitas nyeri.
selama …. Pasien tidak mengalami
R : mengetahui tingkat neyri yang
nyeri, dengan kriteria hasil:
dirasakan pasien
1. Mampu mengontrol nyeri (tahu
2. Observasi reaksi nonverbal dari
penyebab nyeri, mampu
ketidaknyamanan
menggunakan tehnik
R : reaksi nonverval dapat menunjukkan
nonfarmakologi untuk
tingkat nyeri yang dirasakan pasien
mengurangi nyeri, mencari
3. Ajarkan tentang teknik non farmakologi:
bantuan)
napas dalam, relaksasi, distraksi, kompres
2. Melaporkan bahwa nyeri
hangat/ dingin
berkurang dengan menggunakan
manajemen nyeri R : teknik non-farmakologi dapat
3. Mampu mengenali nyeri (skala, membantu pasien untuk mengurangi nyeri
intensitas, frekuensi dan tanda yang dirasakan
nyeri) 4. Kolaborasi pemberian obat analgetik
4. Menyatakan rasa nyaman setelah R : pemberian analgetik dapat
nyeri berkurang mengurangi nyeri
5. Tanda vital dalam rentang normal 5. Berikan informasi tentang nyeri seperti
penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan
berkurang dan antisipasi
ketidaknyamanan dari prosedur
R : menambah pengetahuan pasien dan
keluarga tentang penyakit yang dialami
2 Hambatan mobilitas fisik Setelah dilakukan tindakan keperawatan NIC
berhubungan dengan selama …. jam hambatan mobilitas 1. Kaji kemampuan pasien dalam mobilisasi
penurunan kekuatan, fisik teratasi dengan kriteria hasil: R : mengetahui kemampuan mobilisasi
kendali atau massa otot, 1 Klien meningkat dalam aktivitas klien
kaku sendi atau kontraktur, fisik 2. Monitoring vital sign saat melakukan
hilangnya integritas 2 Mengerti tujuan dari peningkatan aktivitas. Perhatikan keluhan pusing
struktur tulang, gangguan mobilitas R : Vital sign sebagai indikator gangguan
muskuloskeletal 3 Memverbalisasikan perasaan dalam mobilitas
meningkatkan kekuatan dan 3. Ajarkan dan dukung klien dalam latihan
kemampuan berpindah ROM aktif atau pasif.
Memperagakan penggunaan alat R : Mempertahankan atau meningkatkan
Bantu untuk mobilisasi (walker) kekuatan atau ketahanan otot.
4. Ajarkan pasien tentang teknik ambulasi
R : Meningkatkan kemandirian klien
dalam perawatan diri sesuai kondisi
keterbatasan klien.
5. Latih pasien dalam pemenuhan kebutuhan
ADLs secara mandiri sesuai kemampuan
R : Meningkatkan kemandirian klien
dalam perawatan diri sesuai kondisi
keterbatasan klien.
6. Kolaborasi dengan ahli terapi fisik dan
okupasi untuk mengembangkan
perencanaan dalam mempertahankan dan
meningkatkan mobilitas klien.
R : Mempertahankan atau meningkatkan
kekuatan atau ketahanan otot.
3 Resiko infeksi NOC : NIC
berhubungan dengan a. Immune Status 1. Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah
prosedur infasiv b. Knowledge : Infection control tindakan keperawatan
pembedahan c. Risk control R : meminimalisir resiko terjadinya
Setelah dilakukan tindakan keperawatan infeksi
selama…… pasien tidak mengalami 2. Batasi pengunjung bila perlu
infeksi dengan kriteria hasil: R : mengurangi tingkat kontaminasi
1. Klien bebas dari tanda dan gejala pasien dengan orang lain
infeksi 3. Intruksikan kepada pengunjung untuk
2. Menunjukkan kemampuan untuk mencuci tangan saat berkunjung dan
mencegah timbulnya infeksi setelah berkunjung meninggalkan pasien
3. Jumlah leukosit dalam batas normal R : mencegah terjadinya infeksi silang
4. Menunjukkan perilaku hidup sehat 4. Inspeksi kulit dan membran mukosa
5. Status imun, gastrointestinal, terhadap kemerahan, panas, drainase
genitourinaria dalam batas normal R : mengetahui terjadinya infeksi dan
menjadi dasar penetuan intervensi
selanjutnya
5. Tingkatkan intake nutrisi
R : nutrisi yang adekuat dapat
memperkuat sistem imunitas tubuh
6. Instruksikan kepada pasien untuk minum
antibiotik sesuai resep
R : mencegah terjadinya infeksi
4 Ansietas berhubungan NOC NIC
dengan perubahan status - Kontrol kecemasan Anxiety Reduction (penurunan kecemasan)
kesehatan atau menghadapi - Koping 1. Gunakan pendekatan yang menenangkan
pengobatan. Setelah dilakukan asuhan selama …… R : memberikan rasa nyaman kepada
kecemasan klien teratasi dgn kriteria pasien
hasil: 2. Jelaskan semua prosedur dan apa yang
1. Klien mampu mengidentifikasi dan dirasakan selama prosedur
mengungkapkan gejala cemas R : agar klien dapat mengerti dan
2. Mengidentifikasi, mengungkapkan memahami prosedur yang akan
dan menunjukkan tehnik untuk dilaksanakan
mengontol cemas 3. Instruksikan kepada pasien untuk
3. Vital sign dalam batas normal menggunakan teknik relaksasi
4. Postur tubuh, ekspresi wajah, R : dapat mengurangi kecemasan pasien
bahasa tubuh dan tingkat aktivitas 4. Libatkan keluarga untuk mendampingi
menunjukkan berkurangnya pasien
kecemasan R : support dari keluarga dapat
mengurangi kecemasan pasien
5. Kolaborasi pemberian obat anti cemas
R : pemberian obat cemas dapat
menurunkan kecemasan pasien

5 Defisiensi pengetahuan NOC: NIC


tentang penyakit, dan a. Kowlwdge : disease process Teaching : disease process
pengobatan berhubungan b. Kowledge : health Behavior 1. Kaji tingkat pengetahuan pasien tentang
dengan kurangnya Setelah dilakukan tindakan keperawatan penyakitnya
paparan informasi. selama …. pasien menunjukkan R : mengetahui apa yang diketahui pasien
pengetahuan tentang proses penyakit tentang penyakitnya
dengan kriteria hasil: 2. Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan
1. Pasien dan keluarga menyatakan bagaimana hal ini berhubungan dengan
pemahaman tentang penyakit, anatomi fisiologi, dengan cara yang tepat
kondisi, prognosis dan program R : memberi pemahaman kepada pasien
pengobatan agar pasien mengerti proses terjadinya
2. Pasien dan keluarga mampu penyakit yang dialami
melaksanakan prosedur yang 3. Gambarkan kondisi dan gejala yang bisa
dijelaskan secara benar muncul pada penyakit, dengan cara yang
3. Pasien dan keluarga mampu tepat
menjelaskan kembali apa yang R : agar pasien mengetahui gejala yang
dijelaskan perawat/tim kesehatan bisa muncul
lainnya 4. Instruksikan pasien mengenai tanda dan
gejala untuk melaporkan pada pemberi
perawatan kesehatan, dengan cara yang
tepat
R : intervensi cepat dapat mencegah
komlikasi yang serius
5. Diskusikan perubahan gaya hidup yang
mungkin diperlukan untuk mencegah
komplikasi di masa yang akan datang
R : mencegah komplikasi yang mungkin
terjadi sehingga pasien dapat hidup
dengan kualitas hidup yang lebih baik

6 Kerusakan Integritas Kulit NOC: NIC


berhubungan dengan faktor Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1. Inspeksi luka pada setiap mengganti
mekanik, penonjolan … jam, menunjukkan integritas kulit balutan
tulang. yang baik dengan Kriteria Hasil: R: Menilai keadaan kulit
1. Menunjukkan integritas jaringan 2. Lakukan perawatan luka atau kulit secara
kulit dan membran mukosa yang rutin yang dapat meliputi:
dibuktikan oleh indikator:  Ubah dan atur posisi pasien secara
a. Suhu, elastisitas, hidrasi dan sering
sensasi  Pertahankan jaringan sekitar terbebas
b. Perfusi jaringan dari drainase dan kelembapan yang
c. Keutuhan kulit berlebihan
2. Menunjukkan penyembuhan luka:  Lindungi pasien dari kontaminasi fases
primer yang dibuktikan oleh atau urine
indikator:  Lindungi pasien dari ekskresi luka lain
a. Penyatuan kulit dan ekskresi slang drain pada luka
b. Penyatuan ujung luka R: Mencegah terjadinya infeksi dan
c. Pembentukan jaringan parut. mempercepat penyembuhan luka
3. Ajarkan pada pasien dan keluarga cara
mempertahankan luka agar tetap dalam
keadaan kering
R: Membantu proses penyembuhan luka
4. Konsultasikan pada dokter tentang
implementasi pemberian makanan dan
nutrisi enteral atau paranteral.
R: untuk meningkatkan potensi
penyembuhan luka
DAFTAR PUSTAKA

Bilotta, Kimberly A.J. 2011. Kapita Selekta Penyakit dengan Implikasi Keperawatan.
Jakarta : EGC.

Bulechek, Gloria M, et al. 2013. Nursing Intervention Classification (NIC), Sith


Edition. USA: Elsevier

Brunner & Suddarth, 2001. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Vol. 3. Jakarta :
EGC.
Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC.

Doenges, Moorhouse & Geissler, 2001, Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta:


Penerbit EGC

Mansjoer, Arif. Dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran Jilid Dua. Jakarta : Media
Aesculapius.

Moorhead, Sue, et al. 2013. Nursing Outcome Classification. USA: Elsevier

Nanda Internasional. 2015. NANDA Internasional Inc. Nursing Diagnoses:


Defenition and Classification 2015-2017. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC

Price, S Sylvia. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit Edisi 4.


Jakarta: EGC.

Rasjad, Chairuddin. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi,cetakan ke-V. Jakarta: Yarsif


Watampone, 2008.

Sjamsuhidajat R, Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2. Jakarta: EGC, 2005.

Wilkinson, Judith M and Nancy R Ahern. 2009. Buku Saku Diagnosis Keperawtan:
Diagnosis Nanda, Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC Edisi 9. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC

23