Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

Autisme berasal dari bahasa yunani, auto yang berarti sendiri, anak dengan
autism seolah – olah hidup didunianya sendiri, mereka menghindari/tidak respon
terhadap kontak social dan lebih senang menyendiri. Istilah autism diperkenalkan
oleh Lee Kanner pada tahun 1943. Autisme, merupakan salah satu gangguan
perkembangan yang semakin meningkat saat ini, menimbulkan kecemasan yang
dalam bagi para orangtua. Hingga saat ini belum dapat ditemukan penyebab pasti
dari gangguan autisme ini, sehingga belum dapat dikembangkan cara pencegahan
dan penanganan yang tepat 1.
Pada awalnya autisme dipandang sebagai gangguan yang disebabkan oleh
faktor psikologis yaitu pola pengasuhan orangtua yang tidak hangat secara
emosional, tetapi barulah sekitar tahun 1960 dimulai penelitian neurologis yang
membuktikan bahwa autisme disebabkan oleh adanya abnormalitas pada otak 1,2.
Autisme dapat terjadi pada semua kelompok masyarakat kaya, miskin, di
desa di kota, berpendidikan maupun tidak serta pada semua kelompok etnis dan
budaya di dunia. Jumlah anak yang terkena autisme semakin meningkat pesat di
berbagai belahan dunia, Di California pada tahun 2002 disimpulkan terdapat 9
kasus autisme per-harinya 3.
Di Amerika Serikat disebutkan autisme terjadi pada 15.000-60.000 anak
dibawah 15 tahun. Di Indonesia yang berpenduduk 200 juta lebih, hingga saat ini
belum diketahui berapa persisnya jumlah penderita namun diperkirakan jumlah
anak autisme dapat mencapai 150-200 ribu orang 3,4.
Autism adalah perkembangan kekacauan otak dan gangguan pervasive
yang di tandai dengan terganggunya interaksi social, keterlambatan dalam bidang
komunikasi, gangguan dalam bermain, bahasa, perilaku, gangguan perasaan dan
emosi, interaksi social, gangguan dalam perasaan sensoris, serta tingkah laku yang
berulang-ulang. Gangguan yang membuat seseorang menarik diri dari dunia luar
dan menciptakan dunia fantasinya sendiri: berbicara, tertawa, menangis dan
marah - marah sendiri 1,5.
Gejala autism dapat terdeteksi pada usia sebelum 3 tahun. Prognosis untuk
penderita autisme tidak selalu buruk. Pada gangguan autisme, anak yang
mempunyai IQ diatas 70 dan mampu menggunakan komunikasi bahasa
mempunyai prognosis yang baik. Berdasarkan gangguan pada otak, autisme tidak
dapat sembuh total tetapi gejalanya dapat dikurangi, perilaku dapat diubah ke arah
positif dengan berbagai terapi 6.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Definisi
Autisme berasal dari bahasa Yunani autos yang berarti ”sendiri” anak
autisme seolah-olah hidup didunianya sendiri, mereka menghindari/tidak
merespon terhadap kontak sosial dan lebih senang menyendiri. Secara etimologi
(ilmu asal kata) : anak autis adalah anak yang memiliki gangguan perkembangan
dalam dunianya sendiri. Seperti kita ketahui banyak istilah yang muncul mengenai
gangguan perkembangan. Autism = autisme yaitu nama gangguan perkembangan
komunikasi, sosial, perilaku pada anak 7.
World Health Organization’s International Classification of Diseases
(ICD-10) mendefinisikan autisme khususnya childhood autism sebagai adanya
keabnormalan dan atau gangguan perkembangan yang muncul sebelum usia tiga
tahun dengan tipe karakteristik tidak normalnya tiga bidang yaitu interaksi sosial,
komunikasi, dan perilaku yang diulang-ulang 8,9.
Autisme adalah suatu kondisi abnormalitas perkembangan system saraf
yang dimulai saat usia kanak-kanak dan dikarakteristikkan sebagai kendala dalam
menjalin komunikasi/interaksi sosial serta ditandai dengan masalah yang
menyangkut masalah prilaku, seperti perilaku yang berulang (repetitive) dan
kekurangan rasa tertarik dengan lingkungan sekitarnya 10, 11.

B. Epidemiologi
Menurut laporan Center for Disease Control and Prevention (CDC) yang
dirlis pada Maret 2012 sampai saat ini prevalensi autism pada anak berumur 8-14
tahun adalah lebih dari 1 %, yakni 11,3 per 1000 anak atau 1 dari 88 anak.
Penyekit ini lebih sering ditemukan pada laki-laki dengan rasio laki-laki dan
perempuan sebesar 4:1. Dimana angka kejadiaan autisme diantara laki laki adalah
1 anak dari 54 anak, dan perempuan dengan angka kejadian 1 anak per 252 anak
11
. Pada saat ini, kenaikan prevalensi ini terus meningkat tiga kali lipat sejak 1990,
hal ini tidak diikuti dengan kenaikan penyakit gangguan mental lain pada anak,
yang artinya angka ini murni kenaikan prevalensi dari autisme 7.

C. Etiologi10

Adapun penyebab autisme sangat kompleks diantaranya dapat disebabkan


oleh:
 Genetik: Etiologi autisme ada keterkaitan kuat dengan faktor genetik.
HOXA1, merupakan salah satu dari gen yang terlibat dalam autism dan
diturunkan secara resesif autosomal. Faktor genetik lain juga terlibat dalam
gangguan autism adalah Gen Fragile X. Ada juga hubungan positif dari gen
FMR1 dengan autisme. Masih banyak gen gen lain yang juga berperan
dalam kejadian autism.
 virus,
 gangguan fungsi imun,
 kelainan organ otak,
 gangguan gastrointestinal dan
 paparan logam berat.

D. Patofisiologi
Pertumbuhan awal yang berlebihan pada otak dan overkonektivitas saraf,
penting dalam patogenesis. Diperkirakan bahwa neuron yang berlebih
menginduksi pertumbuhan berlebih serebral) dapat mempromosikan cacat dalam
pola saraf,dengan akibatnya meningkatkan interaksi kortikal jarak pendek,
kemudian menghalangi interaksi jarak jauh yang saling berhubungan dengan
bagian otak lain yang penting. Anomali neuroanatomical ini memiliki potensi
untuk mendasari defisit dalam fungsi sosial-emosional dan komunikasi pada
penderita autism 11.
Beberapa studi menunjukkan peran mutasi DNA mitokondria dalam
autisme yang mungkin dapat menyebabkan gangguan metabolisme energi di
mitokondria, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk jawaban yang pasti.
Disfungsi mitokondria telah terlibat di beberapa gangguan neurologis dan
mungkin memiliki peran dalam autisme. Mitokondria memiliki kekebalan
antibakteri dan akan menjadi penting dalam kasus infeksi terutama pada saluran
GI pada anak-anak autism 10,11.
Patogen intraseluler seperti Virus campak, cytomegalovirus dapat
menurunkan hematopoiesis, menurunkan kekebalan perifer, dan fungsi sawar
darah otak diubah sering disertai dengan demielinasi. Virus dapat menyebabkan
respon imun, sehingga peradangan saraf, reaksi autoimun, dan cedera otak 10.

E. Klasifikasi
Klasifikasi Autisme dapat dibagi berdasarkan berbagai pengelompokan.

1. Klasifikasi berdasarkan saat munculnya kelainan 3 :


a. Autisme infantil; istilah ini digunakan untuk menyebut anak autis
yang kelainannya sudah nampak sejak lahir
b. Autisme fiksasi; adalah anak autis yang pada waktu lahir kondisinya
normal, tanda-tanda autisnya muncul kemudian setelah berumur dua atau
tiga tahun
2. Klasifikasi berdasarkan intelektual 3 :
a. Autis dengan keterbelakangan mental sedang dan berat (IQ dibawah
50). Prevalensi 60% dari anak autistik
b. Autis dengan keterbelakangan mental ringan (IQ
50-70) Prevalensi 20% dari anak autis
c. Autis yang tidak mengalami keterbelakangan mental (Intelegensi
diatas 70) Prevalensi 20% dari anak autis
3. Klasifikasi berdasarkan interaksi sosial 3:
a. Kelompok yang menyendiri; banyak terlihat pada anak yang
menarik diri, acuh tak acuh dan
kesal bila diadakan pendekatan sosial serta menunjukkan
perilaku dan perhatian yang tidak hangat
b. Kelompok yang pasif, dapat menerima pendekatan sosial dan
bermain dengan anak lain jika pola permainannya disesuaikan
dengan dirinya
c. Kelompok yang aktif tapi aneh : secara spontan akan mendekati anak
yang lain, namun interaksinya tidak sesuai dan sering hanya sepihak.
4. Klasifikasi berdasarkan prediksi kemandirian 3:
a. Prognosis buruk, tidak dapat mandiri (2/3 dari penyandang autis)
b. Prognosis sedang, terdapat kemajuan dibidang sosial dan
pendidikan walaupun problem perilaku tetap ada (1/4 dari
penyandang autis)
c. Prognosis baik; mempunyai kehidupan sosial yang normal atau
hampir normal dan berfungsi dengan baik di sekolah ataupun
ditempat kerja.
(1/10 dari penyandang autis)

F. Karakteristik Anak Autis

1. Karakteristik dalam interaksi sosial 3,12:


a. Menyendiri (aloof): terlihat pada anak yang menarik diri, acuh tak
acuh, dan kesal bila diadakan pendekatan sosial serta menunjukkan
perilaku dan perhatian yang terbatas (tidak hangat).
b. Pasif : dapat menerima pendekatan sosial dan bermain dengan anak
lain jika pola permaiannya disesuaikan dengan dirinya.
c. Aktif tapi aneh: secara spontan akan mendekati anak lain, namun
interaksi ini seringkali tidak sesuai dan sering hanya sepihak.
2. Karakteristik dalam komunikasi antara lain adalah 3:
a. Bergumam
b. Sering mengalami kesukaran dalam memahami arti kata-kata dan
kesukaran dalam mengggunakan bahasa dalam konteks yang sesuai
dan benar
c. Sering mengulang kata-kata yang baru saja mereka dengar atau yang
pernah mereka dengar sebe- lumnya tanpa bermaksud untuk
berkomunikasi
d. Bila bertanya sering menggunakan kata ganti orang dengan terbalik,
seperti "saya" menjadi
"kamu" dan menyebut diri sendiri sebagai "kamu";
e. Sering berbicara pada diri sendiri dan mengulang potongan kata atau
lagu dari iklan tv dan mengucapkannya di muka orang lain dalam
suasana yang tidak sesuai.
f. Penggunaan kata-kata yang aneh atau dalam arti kiasan, seperti
seorang anak berkata "sembilan" setiap kali ia melihat kereta api.
g. Mengalami kesukaran dalam berkomunikasi walaupun mereka dapat
berbicara dengan baik, karena tidak tahu kapan giliran mereka
berbicara, memilih topik pembicaraan, atau melihat kepada lawan
bicaranya.
h. Bicaranya monoton, kaku, dan menjemukan.
i. Kesukaran dalam mengekspresikan perasaan atau emosinya melalui
nada suara
j. Tidak menunjukkan atau memakai gerakan tubuh untuk
menyampaikan keinginannya, tetapi dengan mengambil tangan
orangtuanya untuk mengambil obyek yang dimaksud
k. Mengalami gangguan dalam komunikasi nonverbal; mereka sering
tidak menggunakan gerakan tubuh dalam berkomunikasi untuk
mengekspresikan perasaannya atau untuk merabarasakan perasaan
orang lain, misalnya menggelengkan kepala, melambaikan tangan,
mengangkat alis, dan sebagainya.

3. Karakteristik dalam perilaku dan pola bermain 3,12 :


a. Abnormalitas dalam bermain, seperti stereotip, diulang-ulang dan
tidak kreatif
b. Tidak menggunakan mainannya dengan sesuai
c. Menolak adanya perubahan lingkungan dan rutinitas baru
d. Minatnya terbatas, sering aneh, dan diulang-ulang
e. Hiperaktif pada anak prasekolah atau sebaliknya hipoaktif
f. Gangguan pemusatan perhatian, impulsifitas, koordinasi
motorik terganggu, kesulitan dalam melakukan aktivitas kehidupan
sehari-hari
4. Karakteristik kognitif 3:
a. Hampir 75-80% anak autis mengalami retardasi mental dengan
derajat rata-rata sedang.
b. Sebanyak 50% dari idiot savants (retardasi mental yang menunjukan
kemampuan luar biasa) adalah seorang penyandang autisme.

G. Hambatan-Hambatan pada anak autisme


Lorna Wing (1974) menuliskan dua kelompok besar yang menjadi masalah
pada anak autis yaitu 11:
a. Masalah dalam memahami lingkungan (Problem in understanding the world)
1) Respon terhadap suara yang tidak biasa (unusually responses to sounds).
Anak autis seperti orang tuli karena mereka cenderung mengabaikan suara
yang sangat keras dan tidak tergerak sekalipun ada yang menjatuhkan
benda di sampingnya. Anak autis dapat juga sangat tertarik pada beberapa
suara benda seperti suara bel, tetapi ada anak autis yang sangat tergangu
oleh suara-suara tertentu, sehingga ia akan menutup telinganya.
2) Sulit dalam memahami pembicaraan (Dificulties in understanding
speech). Anak autis tampak tidak menyadari bahwa pembicaraan memiliki
makna, tidak dapat mengikuti instruksi verbal, mendengar peringatan atau
paham apabila dirinya dimarahi (scolded). Menjelang usia lima tahun
banyak autis yang mengalami keterbatasan dalam memahami
pembicaraan.
3) Kesulitan ketika bercakap-cakap (Difiltuties when talking). Beberpa anak
autis tidak pernah berbicara, beberapa anak autis belajar untuk mengatakan
sedikit kata-kata, biasanya mereka mengulang kata-kata yang diucapkan
orang lain, mereka memiliki kesulitan dalam mempergunakan kata
sambung, tidak dapat menggunakan kata-kata secara fleksibel atau
mengungkapkan ide.
4) Lemah dalam pengucapan dan kontrol suara (Poor pronunciation and
voice control). Beberapa anak autis memiliki kesulitan dalam
membedakan suara tertentu yang mereka dengar. Mereka kebingungan
dengan kata-kata yang hampir sama, memiliki kesulitan untuk
mengucapkan kata-kata yang sulit. Mereka biasanya memiliki kesulitan
dalam mengontrol kekerasan (loudness) suara.
5) Masalah dalam memahami benda yang dilihat (Problems in understanding
things that are seen). Beberapa anak autis sangat sensitif terhadap cahaya
yang sangat terang, seperti cahaya lampu kamera (blitz), anak autis
mengenali orang atau benda dengan gambaran mereka yang umum tanpa
melihat detil yang tampak.
6) Masalah dalam pemahaman gerak isarat (problem in understanding
gesturs). Anak autis memiliki masalah dalam menggunakan bahasa
komunikasi; seperti gerakan isarat, gerakan tubuh, ekspresi wajah.
7) Indra peraba, perasa dan pembau (The senses of touch, taste and smell).
Anak-anak autis menjelajahi lingkungannya melalui indera peraba, perasa
dan pembau mereka. Beberapa anak autis tidak sensitif terhadap dingin
dan sakit.
8) Gerakan tubuh yang tidak biasa (Unusually bodily movement). Ada
gerakangerakan yang dilakukan anak autis yang tidak biasa dilakukan oleh
anakanak yang normal seperti mengepak-ngepakan tangannya, meloncat-
loncat, dan menyeringai.
9) Kekakuan dalam gerakan-gerakan terlatih (clumsiness in skilled
movements). Beberapa anak autis, ketika berjalan nampak anggun, mampu
memanjat dan seimbang seperti kucing, namun yang lainnya lebih kaku
dan berjalan seperti memiliki bebrapa kesulitan dalam keseimbangan dan
biasanya mereka tidak menikmati memanjat. Mereka sangat kurang dalam
koordinasi dalam berjalan dan berlari atau sebaliknya.
b. Masalah gangguan perilaku dan emosi (Dificult behaviour and emotional
problems).
1) Sikap menyendiri dan menarik diri (Aloofness and withdrawal). Banyak
anak autis yang berprilaku seolah-olah orang lain tidak ada. Anak autis
tidak merespon ketika dipanggil atau seperti tidak mendengar ketika ada
orang yang berbicara padanya, ekspresi mukanya kosong.
2) Menentang perubahan (Resistance to change). Banyak anak autis yang
menuntut pengulangan rutinitas yang sama. Beberapa anak autis memiliki
rutinitas mereka sendiri, seperti mengetuk-ngetuk kursi sebelum duduk,
atau menempatkan objek dalam garis yang panjang.
3) Ketakutan khusus (Special fears). Anak-anak autis tidak menyadari
bahaya yang sebenarnya, mungkin karena mereka tidak memahami
kemungkinan konsekuensinya.
4) Prilaku yang memalukan secara sosial (Socially embarrassing behaviour).
Pemahaman anak autis terhadap kata-kata terbatas dan secara umum tidak
matang, mereka sering berperilaku dalam cara yang kurang dapat diterima
secara sosial. anak-anak autis tidak malu untuk berteriak di tempat umum
atau berteriak dengan keras di senjang jalan.
Ketidakmampuan untuk bermain (Inability to play). Banyak anak autis bermain
dengan air, pasir atau lumpur selam berjam-jam. Mereka tidak dapat bermain
pura-pura. Anak-anak autis kurang dalam bahasa dan imajinasi, mereka tidak
dapat bersama-sama dalam permainan denga anak-anak yang lain.

H. Diagnosa

Dalam DSM V dijabarkan mengenai kriteria diagnostik gangguan autistik adalah


sebagai berikut3 :

1. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial timbale balik :


a. gangguan yang nyata dalam berbagai tingkah laku non verbal seperti kontak
mata, ekspresiwajah, dan posisi tubuh;
b. kegagalan dalam mengembangkan hubungan dengan teman sebaya sesuai
dengan tingkatperkembangan;
c. kurangnya spontanitas dalam berbagi kesenangan, minat atau prestasi dengan
orang lain;dan
d. kurang mampu melakukan hubungan social atau emosional timbal balik.

2. Gangguan kualitatif dalam komunikasi 3:

a. keterlambatan perkembangan bahasa atau tidak bicara sama sekali;

b. pada individu yang mampu berbicara, terdapat gangguan pada kemampuan


memulai ataumempertahankan percakapan dengan orang lain;
c. penggunaan bahasa yang stereotip, repetitive atau sulit dimengerti; dan

d. kurangnya kemampuan bermain pura-pura

3. Pola-pola repetitif dan stereotip yang kaku pada tingkah laku, minat dan
aktivitas 3:

a. preokupasi pada satu pola minat atau lebih;

b. infleksibilitas pada rutinitas atau ritual yang spesifik dan non fungsional;

c. gerakan motor yang stereotip dan repetitif; dan

Preokupasi yang menetap pada bagian-bagian obyek. Seorang anak dapat


didiagnosis memiliki gangguan autistik bila simtom-simtom di atas telah tampak
sebelum anak mencapai usia 36 bulan. Dari uraian di atas dapat disimpulkan
bahwa anak autis yaitu anak-anak yang mengalami kesulitan perkembangan otak
yang kompleks yang mempengaruhi banyak fungsi-fungsi: persepsi (perceiving),
intending, imajinasi (imagining) dan perasaan (feeling) yang terjadi sebelum umur
tiga tahun dengan dicirikan oleh adanya hambatan kualitatif dalam interaksi
sosial, komunikasi dan terobsesi pada satu kegiatan atau obyek yang mana mereka
memerlukan layanan pedidikan khusus untuk mengembangkan potensinya.
Bila gejala autisme dapat dideteksi sejak dini dan kemudian dilakukan
penanganan yang tepat dan intensif, kita dapat membantu anak autis untuk
perkembang secara optimal.

I. Diagnosis Banding 4,5


Beberapa diagnosis banding autisme infantil, antara lain:
a. Gangguan perkembangan pervasif yang lainnya
Beberapa kelainan yang dimasukkan dalam kelompok ini adalah anak-
anak yang mempunyai ciri-ciri autisme, yaitu gangguan perkembangan sosial,
bahasa, dan perilaku, namun cirri lainnya berbeda dengan autism. Gangguan
ini adalah sebagai berikut:
1) Sindroma Rett
Sindroma Rett adalah penyakit otak yang progresif tapi khusus
mengenai anak perempuan. Perkembangan anak sampai usia 5 bulan
normal, namun setelah itu mundur. Umumnya kemunduran yang terjadi
sangat parah meliputi perkembangan bahasa, interaksi social maupun
motoriknya.
2) Sindroma Asperger
Pada sindroma Asperger mempunyai ketiga ciri autism namun masih
memiliki intelegensia yang baik dan kemampuan bahasanya juga hanya
terganggu dalam derajat ringan. Oleh karena itu, sindroma Asperger sering
disebut sebagai “high functioning autism”.
Gangguan Asperger berbeda berbeda dengan autism infantil. Onset
usia autisme infantile terjadi lebih awal dan tingkat keparahannya lebih
parah dibandingkan gangguan Asperger. Pasien autisme menunjukkan
penundaan dan penyimpangan dalam kemahiran berbahasa serta adanya
gangguan kognitif. Oral vocabulary test menunjukkan keadaan yang lebih
baik pada gangguan Asperger. Defisit sosial dan komunikasi lebih berat
pada autisme.
Selain itu ditemukan adanya manerisme motorik sedangkan pada
gangguan Asperger yang menonjol adalah perhatian terbatas dan motorik
yang canggung, serta gagal mengerti isyarat nonverbal. Lebih sulit
membedakan gangguan Asperger dengan autisme infantil tanpa retardasi
mental. Gangguan Asperger biasanya memperlihatkan gambaran IQ yang
lebih baik daripada autisme infantil, kecuali autisme infantil high
functioning.
Batas antara gangguan Asperger dan high functioning autism untuk
gangguan berbahasa dan gangguan belajar sangat kabur. Gangguan
Asperger mempunyai verbal intelligence yang normal sedangkan autisme
infantil mempunyai verbal intelligence yang kurang. Gangguan Asperger
mempunyai empati yang lebih baik dibandingkan dengan autisme,
sekalipun keduanya mengalami kesulitan berempati
3) Sindroma Disintegratif
Sindroma ini ditandai dengan kemunduran dari apa yang telah dicapai
setelah umur 2 tahun, paling sering sekitar umur 3-4 tahun. Gangguan ini
sangat jarang terjadi dan paling sering mengenai anak laki-laki dibanding
perempuan.

b. Gangguan perkembangan bahasa (disfasia)


Disfasia terjadi karena gangguan perkembangan otak hemisfer kiri,
sebagai daerah pusat berbahasa. Ada beberapa subtipe gangguan ini yang
menyerupai dengan autism infantil khususnya ditinjau dari perkembangan
bahasa wicaranya. Bedanya pada disfasia tidak terdapat perilaku repetitive
maupun obsesif.

c. Skizofrenia dengan onset masa anak-anak


Skizofrenia jarang pada anak-anak di bawah 5 tahun. Skizofrenia disertai
dengan halusinasi atau waham, dengan insidensi kejang dan retardasi mental
yang lebih rendah dan dengan IQ yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak
autistik.

d. Retardasi Mental (RM)


Hal yang tidak mudah untuk membedakan autisme infantil dengan
retardasi mental, sebab autisme juga sering disertai retardasi mental. Kira-kira
40% anak autistik adalah teretardasi sedang, berat atau sangat berat, dan anak
yang teretardasi mungkin memiliki gejala perilaku yang termasuk ciri autistik.
Pada retardasi mental tidak terdapat 3 ciri pokok autism secara lengkap.
Retardasi mental adalah gangguan intelegensi, biasanya diketahui setelah anak
sekolah karena ketidaksanggupan anak mengikuti pelajaran formal.
Pembagian retardasi mental mental dilihat dari kemampuan Intelligent
Quetient (IQ), retardasi mental ringan IQ 55-70, RM sedang IQ 40-55, RM
berat 25-40, RM sangat berat IQ < 25.
Ciri utama yang membedakan antara gangguan autistik dan retardasi
mental adalah:
1) Anak teretardasi mental biasanya berhubungan dengan orang tua atau
anak-anak lain dengan cara yang sesuai dengan umur mentalnya.
2) Mereka menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan orang
lain.
3) Mereka memilki sifat gangguan yang relatif tetap tanpa pembelahan
fungsi

e. Afasia didapat dengan kejang


Afasia didapat dengan kejang adalah kondisi yang jarang yang kadang
sulit dibedakan dari gangguan autistik dan gangguan disintegratif masa anak-
anak. Anak-anak dengan kondisi ini normal untuk beberapa tahun sebelum
kehilangan bahasa reseptif dan ekspresifnya selama periode beberapa minggu
atau beberapa bulan. Sebagian akan mengalami kejang dan kelainan EEG
menyeluruh pada saat onset, tetapi tanda tersebut biasanya tidak menetap.
Suatu gangguan yang jelas dalam pemahaman bahasa yang terjadi kemudian,
ditandai oleh pola berbicara yang menyimpang dan gangguan bicara. Beberapa
anak pulih tetapi dengangangguan bahasa residual yang cukup besar1,4.

f. Ketulian kongenital atau gangguan pendengaraan parah


Anak-anak autistik sering kali dianggap tuli oleh karena anak-anak
tersebut sering membisu atau menunjukkan tidak adanya minat secara selektif
terhadap bahasa ucapan. Ciri-ciri yang membedakan yaitu bayi autistik
mungkin jarang berceloteh sedangkan bayi yang tuli memiliki riwayat celoteh
yang relatif normal dan selanjutnya secara bertahap menghilang dan berhenti
pada usia 6 bulan-1 tahun 4.
Anak yang tuli berespon hanya terhadap suara yang keras, sedangkan anak
autistik mungkin mengabaikan suara keras atau normal dan berespon
hanyaterhadap suara lunak atau lemah. Hal yang terpenting, audiogram atau
potensial cetusan auditorik menyatakan kehilangan yang bermakna pada anak
yang tuli. Tidak seperti anak-anak autistik, anak-anak tuli biasanya dekat
dengan orang tuanya, mencari kasih sayang orang tua dan sebagai bayi senang
digendong 4.

g. Pemutusan psikososial
Gangguan parah dalam lingkungan fisik dan emosional (seperti pemisahan
dari ibu, kekerdilan psikososial, perawatan di rumah sakit, dan gagal tumbuh)
dapat menyebabkan anak tampak apatis, menarik diri, dan terasing.
Keterampilan bahasa dan motorik dapat terlambat. Anak-anak dengan tanda
tersebut hamper selalu membaik dengan cepat jika ditempatkan dalam
lingkungan psikososial yang menyenangkan dan diperkaya, yang tidak terjadi
pada anak autistik 4,7.

Tabel 2.1 Diagnosa Banding Autisme dengan Gangguan Perkembangan Pervasif


lainnya
J. Penatalaksanaan2,13
Penatalaksanaan pada autisme harus secara terpadu, meliputi semua
disiplin ilmu yang terkait: tenaga medis (psikiater, dokter anak, neurolog, dokter
rehabilitasi medik) dan non medis (tenaga pendidik, psikolog, ahli terapi
bicara/okupasi/fisik, pekerja sosial). Tujuan terapi pada autis adalah untuk
mengurangi masalah perilaku dan meningkatkan kemampuan belajar dan
perkembangannya terutama dalam penguasaan bahasa. Dengan deteksi sedini
mungkin dan dilakukan manajemen multidisiplin yang sesuai yang tepat waktu,
diharapkan dapat tercapai hasil yang optimal dari perkembangan anak dengan
autisme 2.
Manajemen multidisiplin dapat dibagi menjadi dua yaitu non
medikamentosa dan medika mentosa.
1. Non Medikamentosa 2,7,13
a. Terapi Perilaku (ABA, LOVAAS, TEACCH, Son-rise)
Anak autis seringkali merasa frustrasi. Teman-temannya seringkali
tidak memahami mereka, mereka merasa sulit mengekspresikan
kebutuhannya, Mereka banyak yang hipersensitif terhadap suara, cahaya dan
sentuhan. Tak heran bila mereka sering mengamuk. Seorang terapis perilaku
terlatih akan mencari latar belakang dari perilaku negatif tersebut dan mencari
solusinya dengan merekomendasikan perubahan lingkungan dan rutin anak
tersebut untuk memperbaiki perilakunya 7.
Terapi perilaku (behavior theraphy) adalah terapi yang dilaksanakan
untuk mendidik dan mengembangkan kemampuan perilaku anak yang
terhambat dan untuk mengurangi perilaku-perilaku yang tidak wajar dan
menggantikannya dengan perilaku yang bisa diterima dalam masyarakat.
Terapi perilaku ini merupakan dasar bagi anak-anak autis yang belum patuh
(belum bisa kontak mata dan duduk mandiri) karena program dasar/kunci
terapi perilaku adalah melatih kepatuhan, dan kepatuhan ini sangat
dibutuhkan saat anak-anak akan mengikuti terapi-terapi lainnya seperti terapi
wicara, terapi okupasi, fisioterapi, karena tanpa kepatuhan ini, terapi yang
diikuti tidak akan pernah berhasil. Terapi perilaku yang dikenal di seluruh
dunia adalah Applied Behavioral Analysis (ABA) yang diciptakan oleh O.Ivar
Lovaas PhD dari University of California Los Angeles (UCLA)6.
Dalam terapi perilaku, fokus penanganan terletak pada pemberian
reinforcement positif setiap kali anak berespons benar sesuai instruksi yang
diberikan. Tidak ada hukuman (punishment) dalam terapi ini, akan tetapi bila
anak berespons negatif (salah/tidak tepat) atau tidak berespons sama sekali
maka ia tidak mendapatkan reinforcement positif yang ia sukai tersebut.
Perlakuan ini diharapkan meningkatkan kemungkinan anak untuk berespons
positif dan mengurangi kemungkinan ia berespons negatif (atau tidak
berespons) terhadap instruksi yang diberikan 6.
Secara lebih teoritis, prinsip dasar terapi ini dapat dijabarkan sebagai
A-B-C; yakni A (antecedent) yang diikuti dengan B (behavior) dan diikuti
dengan C (consequence). Antecedent (hal yang mendahului terjadinya
perilaku) berupa instruksi yang diberikan oleh seseorang kepada anak autis.
Melalui gaya pengajarannya yang terstruktur, anak autis kemudian
memahami Behavior (perilaku) apa yang diharapkan dilakukan olehnya
sesudah instruksi tersebut diberikan, dan perilaku tersebut diharapkan
cenderung terjadi lagi bila anak memperoleh Consequence/akibat
(konsekuensi perilaku, atau kadang berupa imbalan) yang menyenangkan. 6
Berbagai kemampuan yang diajarkan melalui program ABA dapat
dibedakan menjadi enam kemampuan dasar, yaitu:
1. Kemampuan memperhatikan
Program ini terdapat dua prosedur. Pertama melatih anak untuk bisa
memfokuskan pandangan mata pada orang yang ada di depannya atau
disebut dengan kontak mata. Yang kedua melatih anak untuk
memperhatikan keadaan atau objek yang ada disekelilingnya.
2. Kemampuan menirukan
Pada kemampuan imitasi anak diajarkan untuk meniru gerakan
motorik kasar dan halus. Selanjutnya, urutan gerakan, meniru gambar
sederhana atau meniru tindakan yang disertai bunyi-bunyian.
3. Bahasa reseptif
Melatih anak agar mempunyai kemampuan mengenal dan bereaksi
terhadap seseorang, terhadap kejadian lingkungan sekitarnya, mengerti
maksud mimik dan nada suara dan akhirnya mengerti kata-kata.
4. Bahasa ekspresif
Melatih kemampuan anak untuk mengutarakan pikirannya, dimulai
dari komunikasi preverbal (sebelum anak dapat berbicara), komunikasi
dengan ekspresi wajah, gerakan tubuh dan akhirnya dengan
menggunakan kata-kata atau berkomunikasi verbal.
5. Kemampuan praakademis
Melatih anak untuk dapat bermain dengan benar, memberikan
permainan yang mengajarkan anak tentang emosi, hubungan
ketidakteraturan, dan stimulus-stimulus di lingkungannya seperti bunyi-
bunyian serta melatih anak untuk mengembangkan imajinasinya lewat
media seni seperti menggambar benda-benda yang ada di sekitarnya.
6.
Kemampuan mengurus diri sendiri 4
Program ini bertujuan untuk melatih anak agar bisa memenuhi
kebutuhan dirinya sendiri. Pertama anak dilatih untuk bisa makan sendiri.
Yang kedua, anak dilatih untuk bisa buang air kecil atau yang disebut
toilet traning. Kemudian tahap selanjutnya melatih mengenakan pakaian,
menyisir rambut, dan menggosok gigi.

Tujuan penanganan ini terutama adalah untuk meningkatkan


pemahaman dan kepatuhan anak terhadap aturan. Terapi ini umumnya
mendapatkan hasil yang signifikan bila dilakukan secara intensif, teratur dan
konsisten pada usia dini. Dalam ABA disarankan waktu yang dibutuhkan
adalah 40 jam/minggu, tetapi keberhasilan terapi ini dipengaruhi beberapa
faktor 4,5:

1). Berat ringannya derajat autisme,

2). Usia anak saat pertama kali ditangani / terapi,

3). Intensitas terapi,


4). Metode terapi,

5). IQ anak,

6). Kemampuan berbahasa,

7). Masalah perilaku,

8). Peran serta orang tua dan lingkungan.

Methoda lain dari terapi perilaku ini adalah terapi bermain Son rise.
Son rise adalah program terapi berbasis rumah untuk anak-anak dengan yang
mengalami gangguan komunikasi dan interaksi sosial. Program ini dapat
membantu meningkatkan kontak mata, menerima keberadaan orang lain. Dan
yang lebih penting, program ini, tidak memberikan punishment berupa
kekerasan kepada anak. Proses ini dilakukan dengan harapan, anak mereka
dapat ”berubah” dan menjadi kondisi yang lebih baik. Metode ini tidak bisa
diterapkan/diimplementasikan pada semua kasus, terutama kasus autis yang
masih berada pada tahap kurikulum awal4.

Kemampuan perkembangan bermain, merupakan hal yang penting


dalam program ini, selain juga kemampuan komunikasi dan sosialisasi.
Program son rise, menyatakan bahwa, jika kita mengadakan pendekatan ke
anak secara positif, dengan rasa cinta, akan membuat anak menjalin interaksi
dengan kita, dibandingan bila kita mengedepankan sikap marah dll. Ide dasar
teori ini adalah bahwa setiap anak termasuk autisme, lebih menyukai suasana
belajar yang menyenangkan. Banyak orang tua berusaha menerima
keberadaan anak mereka yang terdiagnosa autis, son rise menekankan bahwa
peran serta orang tua dapat memberikan support yang positif bagi
perkembangan / kemajuan anak mereka 5,7.
Dengan program terapi yang lain seperti Metode DIR / floortime,
memiliki kesamaaan dalam hal kebutuhan arti cinta dan ”penerimaaan”.
Dengan asumsi bahwa anak-anak autis, memiliki rasa dan mengerti
tentang, keberadaan kita, bahasa tubuh, dan bahasa verbal lainnya. Son-rise
digunakan sesuai dengan kondisi anaknya, anak diberi tujuan untuk
mengikuti, (mengikuti anak sesuai dengan tugas yang diberikan) sedangkan
floor-time murni bermain dengan tugas yang diberikan/bermain bebas saja.
TEACCH (Treatment and Education of Austistic and Related
Communication Handicapped Children and Adults). Kemampuan berbicara
dan sosial seseorang menentukan tingkat perkembangan sosialnya, atau
tingkat penguasaan kemampuan untuk bertingkah laku sesuai dengan
tuntutan masyarakat serta menentukan kemandirian dan kesiapan anak dalam
mengikuti proses belajar di sekolah. Kekuatan dasar ini sangat menentukan
kemampuan perilaku adaptif anak, yang dalam pengertian lebih sempit
diartikan sebagai perilaku yang sesuai dengan kebiasaan yang dapat diterima
secara sosial 5.
Penekanan pada aspek sosial ini sangat penting mengingat manusia,
termasuk anak autis adalah makhluk sosial dan mempunyai kebutuhan untuk
melakukan interaksi sosial. Oleh karena itu perlu dikembangkan kemampuan
psikososialnya dengan menggunakan metode ini. Biasanya hal inilah yang
paling menonjol, banyak pula individu autis yang non-verbal atau
kemampuan bicaranya sangat kurang. Kadang-kadang bicaranya cukup
berkembang, namun mereka tidak mampu untuk memakai bicaranya untuk
berkomunikasi/berinteraksi dengan orang lain. Dalam hal ini terapi wicara
dan berbahasa akan sangat menolong 5,6.

b. Terapi okupasi 7
Terapi okupasi dilakukan untuk membantu menguatkan, memperbaiki
koordinasi dan keterampilan otot pada anak autis dengan kata lain untuk
melatih motorik halus anak. Hampir semua anak autis mempunyai
keterlambatan dalam perkembangan motorik halus. Gerak-geriknya kaku dan
kasar, mereka kesulitan untuk memegang pinsil dengan cara yang benar,
kesulitan untuk memegang sendok dan menyuap makanan kemulutnya, dan
lain sebagainya. Dalam hal ini terapi okupasi sangat penting untuk melatih
mempergunakan otot –otot halusnya dengan benar. Contohnya Floortime.
c. Terapi Fisik 7,14
Autisme adalah suatu gangguan perkembangan pervasif. Banyak
diantara individu autistik mempunyai gangguan perkembangan dalam
motorik kasarnya. Kadang-kadang tonus ototnya lembek sehingga jalannya
kurang kuat. Keseimbangan tubuhnya kurang bagus. Fisioterapi dan terapi
integrasi sensoris akan sangat banyak menolong untuk menguatkan otot-
ototnya dan memperbaiki keseimbangan tubuhnya. Hydroterapi, merupakan
salah satu contoh terapi fisik yang dapat membantu anak autistik untuk
melepaskan energi yang berlebihan pada diri anak.

d. Terapi Wicara, Terapi wicara (speech therapy) 4,7


Merupakan suatu keharusan, karena anak autis mempunyai
keterlambatan bicara dan kesulitan berbahasa. Tujuannya adalah untuk
melancarkan otot-otot mulut agar dapat berbicara lebih baik. Hampir semua
anak dengan autisme mempunyai kesulitan dalam bicara dan berbahasa.
Biasanya hal inilah yang paling menonjol, banyak pula individu autis yang
non-verbal atau kemampuan bicaranya sangat kurang. Kadang-kadang
bicaranya cukup berkembang, namun mereka tidak mampu untuk memakai
bicaranya untuk berkomunikasi/berinteraksi dengan orang lain. Dalam hal ini
terapi wicara dan berbahasa akan sangat menolong.

e. Terapi Bermain 4
Untuk melatih mengajarkan anak melalui belajar sambil bermain.
Meskipun terdengarnya aneh, seorang anak autis membutuhkan pertolongan
dalam belajar bermain. Bermain dengan teman sebaya berguna untuk belajar
bicara, komunikasi dan interaksi sosial. Seorang terapis bermain bisa
membantu anak dalam hal ini dengan teknik-teknik tertentu. Terapi bermain
ini bertujuan selain untuk bersosialisasi juag bertujuan untuk terapi perilaku,
bermain sesuai aturan.
f. Terapi Melalui Makan(diet therapy), untuk mencegah atau mengurangi
tingkat gangguan autisme.
g. Terapi integrasi sensoris, untuk melatih kepekaan dan koodinasi daya indra
anak autis. Adalah pengorganisasian informasi semua sensori yang ada
(gerakan, sentuhan, penciuman, pengecapan, penglihatan,
pendengaran)untuk menghasilkan respon yang bermakna. Melalui semua
indera yang ada otak menerima informasi mengenai kondisi fisik dan
lingkungan sekitarnya, sehingga diharapkan semua gangguan akan dapat
teratasi.
h. Terapi Integrasi Auditori, untuk melatih kepekaan pendengaran supaya
lebih sempurna. Dapat menggunakan snozellen.
i. Terapi Musik, untuk melatih audiotori anak,menekan emosi,melatih kontak
mata dan konsentrasi.
j. Terapi Anggota Keluarga, memberi perhatian yang penuh. Bisa dengan
menggunakan konseling kognitif perilaku (KKP).
k. Terapi Sosial, Kekurangan yang paling mendasar bagi individu autisme
adalah dalam bidang komunikasi dan interaksi . Banyak anak-anak ini
membutuhkan pertolongan dalam ketrampilan berkomunikasi 2 arah,
membuat teman dan main bersama ditempat bermain. Seorang terapis sosial
membantu dengan memberikan fasilitas pada mereka untuk bergaul dengan
teman-teman sebaya dan mengajari cara-caranya.
l. Terapi Perkembangan
RDI (Relationship Developmental Intervention) dianggap sebagai
terapi perkembangan. Artinya anak dipelajari minatnya, kekuatannya dan
tingkat perkembangannya, kemudian ditingkatkan kemampuan sosial,
emosional dan Intelektualnya. Terapi perkembangan berbeda dengan terapi
perilaku seperti ABA yang lebih mengajarkan ketrampilan yang lebih
spesifik.
m. Media Visual
Individu autis lebih mudah belajar dengan melihat (visual
learners/visual thinkers). Hal inilah yang kemudian dipakai untuk
mengembangkan metode belajar komunikasi melalui gambar-gambar,
misalnya dengan metode PECS ( Picture Exchange Communication System).
Beberapa video games bisa juga dipakai untuk mengembangkan ketrampilan
komunikasi. Contoh lain menggunakan Computer picture.
Pemilihan terapi tersebut diatas yang diberikan pada anak, tergantung
dari kondisi kemampuan dan kebutuhan anak. Jadi tidak semua terapi sesuai
dengan kebutuhan anak, namun terapi utama bagi anak adalah terapi
perilaku, terapi wicara dan terapi okupasi.

2. Medika Mentosa 7
Individu yang destruktif seringkali menimbulkan suasana yang tegang
bagi lingkungan pengasuh, saudara kandung dan guru atau terapisnya.
Kondisi ini seringkali memerlukan medikasi dengan medikamentosa yang
mempunyai potensi untuk mengatasi hal ini dan sebaiknya diberikan
bersama-sama dengan intervensi edukational, perilaku dan sosial7

a.
Jika perilaku destruktif yang menjadi target terapi, manajemen terbaik adalah
dengan dosis rendah antipsikotik/neuroleptik tapi dapat juga dengan agonis
alfa adrenergik dan antagonis reseptor beta sebagai alternatif. 8
1) Neuroleptik
 Neuroleptik tipikal potensi rendah-Thioridazin-dapat menurunkan
agresifitas dan agitasi.
 Neuroleptik tipikal potensi tinggi-Haloperidol-dapat menurunkan
agresifitas, hiperaktifitas, iritabilitas dan stereotipik.
 Neuroleptik atipikal-Risperidon-akan tampak perbaikan dalam
hubungan sosial, atensi dan absesif.
2) Agonis reseptor alfa adrenergik
 Klonidin, dilaporkan dapat menurunkan agresifitas, impulsifitas dan
hiperaktifitas.
3) Beta adrenergik blocker
 Propanolol dipakai dalam mengatasi agresifitas terutama yang disertai
dengan agitasi dan anxietas.
b. Jika perilaku repetitif menjadi target terapi 8
Neuroleptik (Risperidon) dan SSRI dapat dipakai untuk mengatasi perilaku
stereotipik seperti melukai diri sendiri, resisten terhadap perubahan hal-hal
rutin dan ritual obsesif dengan anxietas tinggi.
c. Jika inatensi menjadi target terapi
Methylphenidat (Ritalin, Concerta) dapat meningkatkan atensi
dan mengurangi destruksibilitas.
d. Jika insomnia menjadi target terapi
Dyphenhidramine (Benadryl) dan neuroleptik (Tioridazin) dapat mengatasi
keluhan ini.
e. Jika gangguan metabolisme menjadi problem utama
Ganguan metabolisme yang sering terjadi meliputi gangguan pencernaan,
alergi makanan, gangguan kekebalan tubuh, keracunan logam berat yang
terjadi akibat ketidak mampuan anak-anak ini untuk membuang racun dari
dalam tubuhnya. Intervensi biomedis dilakukan setelah hasil tes laboratorium
diperoleh. Semua gangguan metabolisme yang ada diperbaiki dengan
obatobatan maupun pengaturan diet 8

K. Prognosis
Prognosis anak autisme dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu 5:
1. Berat ringannya gejala atau kelainan otak.
2. Usia, diagnosis dini sangat penting oleh karena semakin muda umur anak saat
dimulainya terapi semakin besar kemungkinan untuk berhasil.
3. Kecerdasan, makin cerdas anak tersebut makin baik prognosisnya
4. Bicara dan bahasa, 20 % anak autis tidak mampu berbicara seumur hidup,
sedangkan sisanya mempunyai kemampuan bicara dengan kefasihan yang
berbeda-beda.
5. Terapi yang intensif dan terpadu.
Penanganan/intervensi terapi pada anak autisme harus dilakukan dengan
intensif dan terpadu. Seluruh keluarga harus terlibat untuk memacu komunikasi
dengan anak. Penanganan anak autisme memerlukan kerjasama tim yang terpadu
yang berasal dari berbagai disiplin ilmu antara lain psikiater, psikolog, neurolog,
dokter anak, terapis bicara dan pendidik 9.
Prognosis untuk penderita autisme tidak selalu buruk. Pada gangguan
autisme, anak yang mempunyai IQ diatas 70 dan mampu menggunakan
komunikasi bahasa mempunyai prognosis yang baik. Berdasarkan gangguan pada
otak, autisme tidak dapat sembuh total tetapi gejalanya dapat dikurangi, perilaku
dapat diubah ke arah positif dengan berbagai terapi 5.
DAFTAR PUSTAKA

1. Gitayanti, H, Sylvia, D. Elvira. 2010. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta: Badan Penerbit
FK UI
2. Autism Spectrum Disorders (Pervasive Developmental Disorders), (2006).
National Institute of Mental Health (NIMH). Available:
http://www.nimh.nih.gov/publicat/autism.cfm (access 18 januari 2018)
3. Buku penanganan dan pendidikan autis di ypac
https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja
&uact=8&ved=0ahUKEwiG8dTOgunYAhXKq48KHXu9A1oQFggvMAA&url=ht
tp%3A%2F%2Fypac-
nasional.org%2Febook%2FBUKU%2520PENANGANAN%2520dan%2520Pendid
ikan%2520Autis%2520di%2520YPAC%25207April.pdf&usg=AOvVaw2MRpJVJ
2oK_tRcm-rEJme1 (access 19 januari 2018)
4. Elliott GR. Autistic Disorder and Other Pervasive Developmental Disorders. In:
Rudolph CD, Rudolph AM. Rudolph’s Pediatrics, 21st ed. McGraw-Hill: New York,
2003. p498-500.
5. American Psychiatric Association, 2013. Diagnostic and Statistical Manual of
Disorder 5ed. Washington DC, London : American Psychiatric Publishing.
6. Griadi, Made O R.,Ratep, Nyoman.,Westa, Wayan : Diagnosis dan
Penatalaksana Autisme. Journal of Autisme ; available at
https://www.download.portalgaruda.org/article.php?article=82607&val=970
(access 18 januari 2018)
7. Kanner’s, Leo.,1943.,paper on autism
https://spectrumnews.org/opinion/viewpoint/leo-kanners-1943-paper-on-autism/
(access 17 januari 2018)
8. World Health Organization’s International Classification of Diseases (ICD-10)
(American Psychiatric Association, h. 75, 2000 Diagnostic and Statictical Manual-
IV http://www.autisme.info/index.php/terapi-autisme/10-jenisterapi-autisme (access
17 januari 2018)
9. Wing, Lorna, (1974), Autistik Children A Guide for Parents and Professionals, New
Jersey: The Chitadel Press
10. Ratajczak HV, 2011. Theoretical aspects of autism: Causes—A review. Journal of
Immunotoxicology. 8(1): 68–79. Available from
http://www.rescuepost.com/files/theoretical-aspects-of-autism-causes-a-
review1.pdf (access 19 januari 2018)
11. Samsam M, Ahangari R, Naser S., 2014. Pathophysiology of autism spectrum
disorders: Revisiting gastrointestinal involvement and immune imbalance.
World Journal of Gastroenterology 7; 20(29): 9942-995., Available at
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/25110424 (access 19 januari 2018)
12. Watts JT, 2008. The Pathogenesis of Autism. Clinical Medicine: Pathology. 99–103.
Available from http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3160002
13. NINDS Autism Information Page, (2006). National Institute of Neurological
Disorders and Stroke (NINDS). Available:
http://www.ninds.nih.gov/disorders/autism/autism.htm#What_is (access 17 januari
2018)
14. Living with Autism”, (2005). Autism Society of America (ASA). Available:
http://www.autism-society.org/site/PageServer?pagename=allaboutautism
(access 17 januari 2018)