Anda di halaman 1dari 6

Carbon , Oksigen dan Hidrogen merupakan bahan baku dalam pembentukan jaringan tubuh

tanaman, berada dalam bentuk H2O (air), H2CO3 ( asam karbonat) dan CO2 (gas
karbondioksida). Karbon adalah unsur penting sebagai pembangun bahan organik, karena
sebagian besar bahan kering tanaman terdiri dari bahan organik. Unsur Karbon ( C ), ini
diserap tanaman dalam bentuk gas CO2 yang selanjutnya digunakan dalam proses yang
sangat penting yaitu FOTOSINTESIS : CO2 + H2O--------> C6H12O6
tanpa gas CO2 proses tersebut akan terhambat sehingga pertumbuhan dan produksi
tanaman pun akan terhambat.
Landegrardh (1924) menyatakan bahwa:
*CO2 pada permukaan tanah sekitar 0.053 - 0.28 %
*Diatas daun 0.04 - 0.06 %
*Satu meter di atas tanah + 0.07 %
Sama halnya dengan karbon, ternyata Hydrogen (H) merupakan elemen pokok
pembangunan bahan organik dan unsur H ini diserap oleh tanaman dalam bentuk H2O.
Esensi unsur ini bagi tanaman adalah pada proses fotosintesis ( CO2 + H2O ----> C6H12O6 )
di sini jelas terlihat bahwa, unsur H sama pentingnya dengan unsur C. Sedangkan Oksigen (
O ) juga terdapat dalam bahan organik sebagai atom dan termasuk pembangun bahan
organik, diambil oleh tanaman dalam bentuk gas O2 esensi utama dari unsur. Oksigen ini
berperan pada proses respirasi. Proses respirasi tanaman adalah proses perombakan gula
(karbohidrat) hasil fotosintesis dan hasil akhir dari proses respirasi yaitu terbentuknya ATP
yang merupakan sumber energi utama bagi tanaman untuk melakukan semua kegiatan
seperti absorbsi, transpirasi, transportasi, pembelahan sel, pembungaan maupun
fotosintesis. Oksigen digunakan di mitokondria untuk membantu menghasilkan adenosina
trifosfat (ATP) selama fosforilasi oksidatif. Reaksi respirasi aerob ini secara garis besar
merupakan kebalikan dari fotosintesis, secara sederhana:
C6H12O6 + 6O2 →6CO2 + 6H2O + 2880 kJ•mol-1

Itsnaini Rahmawati (08303241016) di 17.07

Pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan dipengaruhi faktor internal dan faktor
eksternal. Faktor internal adalah segala pengaruh/faktor yang berasal dari tanaman itu sendiri
yaitu meliputi gen dan hormon. Sedangkan Faktor eksternal merupakan sesuatu yang
mempengaruhi/faktor yang berasal dari luar tubuh tumbuhan tersebut yaitu dari lingkungan atau
ekosistem. Ada beberapa faktor ekstrenal yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan
tumbuhan yaitu air, cahaya, kelembapan, oksigen, pH, makanan(nutrisi), suhu.

Sehubungan dengan itu, kami akan membahas lebih lanjut mengenai faktor eksternal
pertumbuhan yaitu oksigen

Pertumbuhan merupakan perubahan yang terjadi pada mahluk hidup yang meliputi pertambahan
ukuran tubuh. Sedangkan perkembangan adalah proses untuk mencapai kematangan fungsi
organisme. Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses yang saling berhubungan. Kedua
proses tersebut dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal (faktor lingkungan).
Faktor internal meliputi faktor genetis (hereditas) dan proses fisiologis individual yang bersifat
spesifik. Sedangkan faktor eksternal atau faktor lingkungan meliputi pengaruh iklim, tanah, dan
biota tempat tumbuhan berada. Kondisi ini akan mempengaruhi tumbuhan dalam proses
pertumbuhan dan perkembangan. Faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan pada tumbuhan adalah temperatur, cahaya, air, pH, oksigen, dan nutrisi.

Oksigen merupakan faktor pembatas pada setiap organisme. Kondisi ini juga berlaku untuk
pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan. Kosentrasi oksigen sangat ditentukan oleh medium
tempat tumbuhan berada. Bagian akar tumbuhan memerlukan aerasi yang baik
untukmendapatkan oksigen yang cukup. Dengan dasar itulah petani sering menggemburkan
tanaman mereka secara berkala. Aerasi yang baik mampu meningkatkan proses respirasi akar
untuk mengedarkan unsur-unsur hara yang ada di dalam tanah ke bagian daun.
AOyes_RAdUwjiPe5508igOi46vaaCN_PaA

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Oksigen merupakan salah satu faktor pembatas bagi pembelahan dan pertumbuhan
sel-sel pada jaringan yang dikulturkan secara in vitro. Oksigen berkorelasi langsung dengan
aktivitas polifenol oksidase (PPO) dapat menyebabkan pencoklatan hingga sering
terjadi kematian awal dari tunas bambu yang ditanam secara in vitro yang kemungkinan
terlibat dalam beberapa aspek kimia yaitu sebagai mediator dalam pseudocyclic
photophosphorylation.

Oksigen berperan dalam proses fotosintesis dari planlet hanya dihasilkan dari air, bukan
dari karbon dioksida. Persentase berat kering planlet berhubungan dengan kadar air planlet.
Kekurangan air menyebabkan stomata menutup, menghambat penyerapan karbon dioksida
sehingga mengurangi laju fotosintesis. Akibatnya fotosintat yang dihasilkan menurun
jumlahnya, selain itu kadar oksigen (O2) yang dibebaskan juga berkurang sehingga planlet
yang dihasilkan akan lebih rendah persentase berat keringnya.

Selain berperan dalam fotosintesis oksigen juga merupakan nutrisi kunci untuk mikroba
anaerob, biasanya ditemukan sebagai penyusun air selular dan komponen organik.
Karbohidrat merupakan sumber oksigen yang baik untuk beberapa mikroba, Mikroba yang
mendapatkan energi dari proses respirasi, membutuhkan oksigen sebagai final oksigen
atauelektron acceptor. Kelarutan oksigen dalam air sangat rendah (6,99 ppm pada 350C).
Transfer oksigen dari udara-permukaan cairan ke media pertumbuhan harus dilakukan secara
kontinu untuk memenuhi kebutuhan sebanyak mungkin mikroba yang ada dalam kultur
tersebut (Stanbury and Whitaker, 1984).

Begitu penting pengaruh oksigen di dalam kultur jaringan, sehingga kami sajikan makalah
ini untuk mengkaji peranan oksigen dalam teknik in vitro.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam pembuatan makalah ini yaitu bagaimana peranan serta
pengaruh oksigen dalam kultur jaringan.

C. Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu untuk menyelesaikan salah satu tugas mata
kuliah Teknik In Vitro dan untuk mengetahui lebih jauh tentang peranan oksigen dalam kultur
jaringan.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Oksigen

Read (1990) menyatakan bahwa oksigen merupakan salah satu faktor pembatas bagi
pembelahan dan pertumbuhan sel-sel pada jaringan yang dikulturkan secara in vitro. Jay et
al., (1992) menyatakan bahwa selama fase proliferasi, laju pertumbuhan kultur sel
tanaman Daucus carota lebih rendah dan penyerapan gula mengalami hambatan pada kadar
oksigen 10% dibandingkan kadar oksigen 100%.

B. Peran dan Fungsi Oksigen dalam Kultur Jaringan

Dalam kondisi lingkungan fotoautotrof, pertumbuhan dan perkembangan eksplan sangat


dipengaruhi oleh faktor fisik lingkungan seperti adanya intensitas cahaya, konsentrasi karbon
dioksida (CO2), kelembaban (kadar air), suhu, kadar fotosintat (hasil fotosintesis) dan
sebagainya, sehingga proses fotosintesis eksplan berlangsung optimal dalam menghasilkan
gula danoksigen yang diperlukan sebagai makanannya (Kozai et al 1992).

Oksigen dari proses fotosintesis hanya dihasilkan dari air, bukan dari karbon dioksida.
Persentase berat kering planlet berhubungan dengan kadar air planlet. Kekurangan air
menyebabkan stomata menutup, menghambat penyerapan karbon dioksida sehingga
mengurangi laju fotosintesis. Akibatnya fotosintat yang dihasilkan menurun jumlahnya, selain
itu kadar oksigen (O2) yang dibebaskan juga berkurang sehingga planlet yang dihasilkan akan
lebih rendah persentase berat keringnya.

Selain berperan dalam fotosintesis oksigen juga merupakan nutrisi kunci untuk mikroba
anaerob, biasanya ditemukan sebagai penyusun air selular dan komponen organik.
Karbohidrat merupakan sumber oksigen yang baik untuk beberapa mikroba, Mikroba yang
mendapatkan energi dari proses respirasi, membutuhkan oksigen sebagai final oksigen
atauelektron acceptor. Kelarutan oksigen dalam air sangat rendah (6,99 ppm pada 350C).
Transfer oksigen dari udara-permukaan cairan ke media pertumbuhan harus dilakukan secara
kontinu untuk memenuhi kebutuhan sebanyak mungkin mikroba yang ada dalam kultur
tersebut (Stanbury and Whitaker, 1984).

Kebutuhan oksigen di awal proses (pada saat media masih cukup viskos) lebih kecil
karena jumlah mikroba masih sedikit dibandingkan pada akhir proses (Stanbury and Whitaker,
1984). Pertumbuhan biomassa dan bentuk morfologi mikroba mempengaruhi transfer
oksigen. Fermentasi bakteri dan yeast cenderung menghasilkan kaldu fermentasi Newtonian
dan tidak viskos (kondisi aliran turbulen tercapai) sehingga tidak menghambat proses transfer
oksigen. Penurunan kadar oksigen dalam sel akan menghambat proses biosintesis sehingga
menurunkan laju pertumbuhan biomassa.

Oksigen berperan sebagai proses metabolisme dan pertumbuhan eksplan.Adanya suplai


oksigen yang cukup dalam media cair menyebabkan pembentukan akar lebih cepat
dibandingkan dengan eksplan dalam keadaan yang tenggelam (Marlin, 2001).

Sel mengalami stress oleh lingkungan ekstrim dan metabolit sekunder dihasilkan sebagai
respon atas lingkungan yang kritis tidak ada suplai nutrisi dan oksigen, fase stasioner dicapai
lebih cepat sedangkan pada perlakuan yang disubkultur, sel memperoleh suplai nutrisi dan
oksigen sehingga sel terkonsentrasi dalam pertumbuhan dan fase stasioner dicapai lebih
lama.

Hasil yang diperoleh ini juga sesuai dengan hasil yang diperoleh oleh Rijhwani & Shanks
(1998) dimana kandungan tabersonine pada akar rambutCatharanthus roseus mengalami
penurunan linear terhadap biomassa dari hari ke-21 menuju hari ke-35, kandungan
tabersonine berkorelasi terbalik dengan biomassa akar.

Konsentrasi oksigen juga mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis dalam suatu


wadah medium yang berbeda. Peranan oksigen dalam kultur jaringan telah dilaporkan oleh
beberapa peneliti yang menyatakan menyatakan bahwa selama kultur embrio
somatik Daucus Carota terjadi penurunan rata-rata penyerapan oksigen sejalan dengan
semakin berkembangnya embrio.

Jay et al., (1992) menyatakan bahwa selama fase proliferasi, laju pertumbuhan kultur sel
tanamanDaucus carota lebih rendah dan penyerapan gula mengalami hambatan pada kadar
oksigen 10% dibandingkan kadar oksigen 100% namun tidak memperlihatkan pengaruh
terhadap bobot kering akhir jaringan.
C. Kasus 1

Jurnal penelitian yang dilakukan oleh Siti Fadillah, dkk yang berjudul Perbanyakan
Rumput Laut (Gracilaria Verucossa) Dengan Kultur Jaringan Menggunakan Wadah Yang
Berbeda dilakukan di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau, Jl.Makmur Dg.Sitakka,
Maros, SULAWESI Selatan bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan wadah yang
berbeda dalam kultur jaringan rumput laut. Hasil yang didapatkan yaitu:

1. Panjang tunas pada stoples 2,40 sedangkan pada botol 2,42.

2. Jumlah tunas pada penggunaan stoples yaitu 7,50 sedangkan dalam botol 7,03.

3. Jumlah cabang lebih banyak dalam stoples sekitar 26,70 sedangkan dalam botol
sekitar 6,20.

Hal ini terjadi adanya suplai nutrisi dan oksigen dalam stoples mengakibatkan
meningkatnya jumlah tunas dan cabang dalam stoples dibandingkan botol kultur.

Kultur dalam tertutup sehingga tidak ada penambahan oksigen dari luar oksigen yang
digunakan hanya hasil fotosintesis dari eksplan itu sendiri.

D. Kasus 2

Jurnal penelitian yang dilakukan oleh Francielo Vendruscolo, M´arcio Jos´e


Rossi, Willibaldo Schmidell,and Jorge Luiz Ninow di Microbiology, Immunology and
Parasitology Department, Federal University of Santa Catarina (UFSC), P.O. Box 47688040-
900 Florian´opolis, SC, Brazil bertujuan untuk mengetahui kelaruta oksigan dalam media
kultur jaringan. Hasil dari penelitian ini bahwa kelarutan oksigen dalam media kultur sebelum
inokulasi mikroorganisme adalah 6.772mgO2-L 1, 11,8% lebih rendah bila dibandingkan
untuk kelarutan oksigen dalam air suling (7.677mgO2 L-1).

Selain itu hasil analisis juga menunjukan bahwa perubahan konsentrasi gula terutama
bertanggung jawab untuk perubahan kelarutan oksigen selama konsumsi glukosa dan Koreksi
dari kelarutan oksigen dalam medium kultur meningkatkan akurasi dan presisi dalam
menentukan tingkat penyerapan oksigen tertentu.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Oksigen merupakan salah satu faktor pembatas bagi pembelahan dan pertumbuhan sel-
sel pada jaringan yang dikulturkan secara in vitro. Peranan oksigen dalam kultur jaringan telah
dilaporkan oleh beberapa peneliti yang menyatakan menyatakan bahwa selama kultur embrio
somatik Daucus Carotaterjadi penurunan rata-rata penyerapan oksigen sejalan dengan
semakin berkembangnya embrio.

Suplai nutrisi dan oksigen dalam stoples mengakibatkan meningkatnya jumlah tunas dan
cabang dalam stoples dibandingkan botol kultur. Kultur dalam tertutup sehingga tidak ada
penambahan oksigen dari luar oksigen yang digunakan hanya hasil fotosintesis dari eksplan
itu sendiri.

B. Saran

Saran dari kami untuk pembaca yaitu lebih banyak membaca dan mencari materi
mengenai oksigen dalam kultur jaringan karena makalah kami masih jauh dari kesempurnaan.

DAFTAR PUSTAKA

Vendruscolo. F., M´arcio Jos´e Rossi, Willibaldo Schmidell, Jorge Luiz


Ninow. 2012.Determination of Oxygen Solubility in Liquid Media; Federal University of
Santa Catarina (UFSC). Brazil. J. Article ID 601458, 5 pages doi:10.5402/2012/601458

Pertamawati. 2010. Pengaruh Fotosintesis Terhadap Pertumbuhan Tanaman Kentang


(Solanum Tuberosum L.) Dalam Lingkungan Fotoautotrof Secara Invitro; Pusat TFM -
BPP Teknologi.Jakarta

Fadillah. S.,Rosmiati, dan E. Suryanti.2010.Perbanyakan Rumput Laut (Gracilaria Verucossa)


Dengan Kultur Jaringan Menggunakan Wadah Yang Berbeda. Maros .Sulawesi Selatan

Hutami. Sri. 2008. Masalah Pencoklatan pada Kultur Jaringan; Balai Besar Penelitian dan
Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian. Bogor