Anda di halaman 1dari 13

ABSTRAK

Tujuan percobaan analisis proksimat adalah untuk mengetahui persentase karbohidrat


total, kadar air, kadar lemak kasar, kadar protein, dan kadar abu pada sampel nugget dan mie
basah. Uji karbohidrat by difference menggunakan metode pengurangan angka 100 dengan
persentase komponen lain (air, lemak, protein, abu), uji kadar air menggunakan metode
pemanasan, uji kadar lemak menggunakan metode soxhlet, uji kadar protein menggunakan
metode metode mikro Kjeldhal, dan uji kadar abu menggunakan metode pengabuan kering
menggunakan tanur dengan suhu 550C dengan perhitungan kadar air, lemak , protein, dan abu
menggunakan metode gravimetri.Berdasarkan hasil percobaan Nugget memiliki kadar air 51%,
kadar lemak 18,55, kadar protein 9,8065, kadar abu 4,298% dan kadar karbohidrat 16,3965
sedangkan mi kuning basah memiliki kadar air 50,25 %, kadar lemak 1,5 %, kadar protein
5,253%, kadar abu 3,137% dan karbohirat 39,86%. Kadar air, karbohidrat, dan protein pada
sampel nugget telah memenuhi standar SNI 01-6683-2002 namun kadar abu sampel nugget
tidak memenuhi standar SNI 01-6683-2002. Pada mi kuning basah, kadar lemak memenuhi
standar SNI 01-6683-2002 namun kadar air dan protein tidak memenuhi standar SNI 01-6683-
2002.

Kata Kunci : kadar abu, kadar air, karbohidrat by difference, kadar lemak, kadar proteins
PENDAHULUAN

Bahan pangan tersusun atas komponen mikro maupun makro yang meliputi mineral
dan nutrien (Burhan et al., 2013). Untuk mengetahui kadar komponen tersebut dalam bahan
pangan maka diperlukan uji analisis proksimat. Analisis proksimat adalah analisis yang
dilakukan untuk mengetahui komponen utama dari suatu bahan dimana komponen utama
bahan pangan umumnya terdiri dari kadar air, kadar abu, karbohidrat, protein serta lemak
(Hui,2006).
Karbohidrat merupakan senyawa yang tersusun dari molekul karbon, hidrogen dan
oksigen (Doraja et al., 2012). Sebagai salah satu jenis zat gizi, fungsi utama karbohidrat adalah
penghasil energi di dalam tubuh. Terdapat berbagai macam jenis karbohidrat dalam pangan
sehngga sulit untuk menentukan berbagai macam karbohidrat tersebut dalam pangan. Sehingga
kadar karbohidrat ditentukan dengan menggunakan metode by difference dengan pengurangan
presentase kadar air , abu , lemak dan protein dimana karbohidrat by difference merupakan
total dari nutritionally available carbohydrates (dekstrin, pati dan gula) , nutritionally
unavailable carbohydrates (pentosa, pektin, hemiselulosa, dan selulosa) dan non-carbohydrates
seperti asam organik dan lignin (Widyaningtyas dan Susanto,2014).
Kadar air merupakan jumlah air yang ada pada bahan pangan. Analisis kadar air adalah
usaha untuk mengetahui persentase air pada bahan pangan (Murtidjo,1987). Air dibagi menjadi
dua yaitu air terikat dan air bebas. Air terikat adalah air yang terdapat dalam bahan pangan
dapat berupa air terikat lemah atau terikat kuat sedangkan air bebas adalah air yang secara fisik
terikat dalam jaringan matriks bahan seperti membran, kapiler, serat, dan lain lain
(Winarno,2002). Metode untuk penentuan kadar air dapat dibagi menjadi 4 macam yaitu
metode pengeringan, distilasi, kimiawi dan fisik. Faktor yang mempengaruhi pada metode
pengeringan adalah Suhu pengeringan, Suhu dan RH ruang pengeringan, ukuran partikel
sample, Konstruksi oven, Jumlah dan posisi sample dalam ruang, serta, Permukaan bahan dan
laju difusi uap air.
Lemak tersusun atas asam lemak dan gliserol yang diperoleh dari hasil hidrolisis lemak,
minyak maupun senyawa lipid lainnya dimana asam lemak pembentuk lemak dapat dibedakan
berdasarkan jumlah atom C (karbon), ada atau tidaknya ikatan rangkap, jumlah ikatan rangkap
serta letak ikatan rangkap (Sartika, 2008). Lemak dan minyak adalah senyawa lipida yang
paling banyak di alam. Perbedaan antara keduanya adalah perbedaan konsistensi/sifat fisik
pada suhu kamar, yaitu lemak berbentuk padat sedangkan minyak berbentuk cair. Salah satu
metode dalam perhitungan kadar lipida total adalah menggunakan metode Soxhlet. Prinsip
metode soxhlet adalah lemak diekstraksi dengan pelarut lemak seperti petroleum
eter,petroleumbenzena,dietileter,aseton,methanol, dan lain-lain dimana Berat lemak diperoleh
dengan cara memisahkan lemak dengan pelarutnya menggunakan pemanasan (Herawati dan
Wibawa, 2011) .

Protein adalah makromolekul yang tersusun dari asam amino dengan Asam amino
penysun protein ada 20 macam (Katili,2009). Sebuah molekul asam amino terdiri dari sebuah
atom C yang mengikat gugus amino, gugus karboksil , atom hidrogen, gugus R. Protein dalam
bahan makanan yang dikonsumsi manusia akan mengalami siklus pemecahan. Protein dipecah
menjadi komponen-komponen yang lebih kecil, yaitu asam amino dan atau peptida. Dalam
tubuh, protein berfungsi sebagai katalisator, sebagai pengangkut dan penyimpan molekul lain
seperti oksigen, mendukung secara mekanis sistem kekebalan (imunitas) tubuh, menghasilkan
pergerakan tubuh, sebagai transmitor gerakan syaraf dan mengendalikan pertumbuhan dan
perkembangan. Kadar protein total pada bahan pangan dapat dianalisis menggunakan metode
Kjeldhal yaitu melalui pengukuran kandungan nitrogen (N) dalam sampel (Purwoko dan
Handayani, 2007). Pada pengujian menggunakan metode Kjeldhal, terdapat senyawa non-
protein yang ikut terdeteksi dan terkakumulasi, namun interfensi ini relatif kecil dan dapat
diabaikan sehingga kadar protein yang dihitung merupakan kadar protein kasar. Perhitungan
kadar protein dengan metode Kjeldhal dikali faktor konversi 6,25 untuk mengkonversi nitrogen
menjadi kadar protein.
Kadar abu adalah zat anorganik sisa hasil pembakaran senyawa organik (Sandjaja,
2009). Kadar abu dari suatu bahan menunjukkan kandungan mineral yang terdapat dalam
bahan tersebut, kemurnian serta kebersihan suatu bahan yang dihasilkan. Pengabuan dapat
dilakukan dengan metode langsung dan tidak langsung.Pengabuan langsung pada umumnya
adalah pengabuan dengan cara kering menggunakan tanur dengan suhu 500-600 C dimana
mineral pada bahan tidak teruapkan dan proses selesai hingga abu sekam berwarna putih (Sari,
2015). Pengabuan basah dilakukan dengan menggunakan oksidator-oksidator kuat dengan
prnsip Abu sampel diperoleh dari oksidasi komponen organik menggunakan kombinasi asam
nitrat (HNO3) dan asam sulfat (H2SO4). Sedangkan pengabuan tidak langsung dilakukan
dengan metode konduktometri dan metode penukar ion.
Tujuan praktikum analisis proksimat adalah mengetahui metode perhitungan
karbohidrat by difference, metode perhitungan kadar air, metode perhitungan kadar lemak,
metode perhitungan kadar protein dan metode perhitungan kadar abu pada suatu bahan pangan.

Tabel 1.1 Hasil Perhitungan Kadar Karbohidrat Total

Sampel % Karbohidrat
Nugget 16,396%
Mi kuning basah 39,86%

Berdasarkan hasil percobaan fenomena yang terjadi adalah nugget memiliki kadar
karbohidrat 16,396% lebih rendah dari mi kuning basah yang memiliki kadar karbohidrat
38,865. Fenomena tersebut terjadi karena bahan baku mi kuning basah yaitu tepung
mengandung karbohidrat lebih banyak dibanding bahan dasar nugget yaitu daging ayam yang
kandungan gizinya didominasi oleh lemak dan protein. Aditya (2016) produk berbahan dasar
nabati memiliki karbohidrat lebih banyak dari produk berbahan dasar hewani karena tumbuhan
melakukan fotosintesis dimana salah satu hasil akhirna merupakan karbohidrat. Kadar
karbohidrat nugget memenuhi standar SNI 01-6683-2002 yang mensyaratkan kadar maksimal
karbohidrat pada nugget adalah 25%. Prinsip perhitungan karbohidrat by difference adalah
seratus persen dikurangi kadar air, abu, lemak, dan protein. Winarno (2008) menyatakan bahwa
prinsip perhitungan karbohidrat menggunakan by difference adalah seratus persen dikurangi
faktor pengurangnya. Berdasarkan karbohidrat by difference dapat diketahui kandungan gizi
lain yang dijadikan sebagai faktor pengurangan dimana nugget memiliki kandungan gizi kadar
air, lemak, protein, dan abu lebih tinggi dibanding mi kuning basah namun mi kuning basah
memiliki kadar karbohidrat lebih tinggi sehingga dapat disimpulkan bahwa nugget lebih
bergizi dari mi kuning basah.
Fungsi uji carbohydrate by difference adalah mengetahui kadar karbohidrat total baik
yang dapat dicerna maupun tidak dimana dapat pula menggambarkan jumlah kandungan gizi
faktor pengurangnya, jika semakin rendah kadar karbohidrat maka zat gizi lainnya lebih tinggi.
Menezes et al. (2004) menyatakan bahwa Semakin rendah kandungan gizi seperti air, abu,
protein, dan lemak, maka kandungan karbohidrat semakin meningkat begitu pula sebaliknya.
Kesalahan yang dapat terjadi pada uji karbohidrat by difference adalah akumulasi kesalahan
yang terjadi pada metode perhitungan kadar abu, lemak, dan protein dan ketidaktelitian dalam
perhitungan sehingga hasil kadar karbohidrat tidak akurat. Ekowati dan Cakrawati (2016)
menyatakan bahwa kesalahan dalam uji karbohidrat by difference adalah meliputi kesalahan
saat menimbang dan kesalahan saat melakukan metode uji kandungan gizi lainnya.
Tabel 1.2. Hasil Pengamatan Uji Kadar Air
Mie Kuning Basah Nugget
Berat Cawan 20,1 28,865
Berat Sampel 2 2
Berat setelah oven pertama 21,095 29,855
Berat setelah oven kedua 21,095 29,845
Kadar air 50,25% 51%
Rata-rata kadar air 50,625%

Uji kadar air pada bahan pangan berfungsi untuk mengetahui kadar air yang terkandung
pada bahan pangan dimana kadar air berpengaruh terhadap stabilitas dan kualitas pangan.
Herawati (2008) menyatakan uji kadar air berfungsi untuk mengetahui jumlah air dalam bahan
pangan dalam rangka memenuhi standard komposisi yang berpengaruh pada kualitas pangan
serta memenuhi peraturan pangan. Nugget mengandung kadar air 51% dimana telah memenuhi
standar SNI 01-6683-2002 yang menyatakan bahwa kadar air pada nugget maksimal 60%,
sedangkan kadar air mie basah tidak memenuhi standar SNI 01-2987-1992 yaitu 20-35%.
Adapun perbedaan kadar air antara nugget dan mie basah dipengaruhi oleh metode pengolahan
dan komposisi bahan. Richana dan Sunarti (2004) menyatakan bahwa komposisi penyusun
bahan pangan berpengaruh terhadap jumlah kadar air dalam bahan pangan itu sendiri.
Berdasarkan jumlah kadar air jika ditinjau berdasarkan nilai gizi maka nugget memiliki nilai
gizi lebih tinggi karena kadar air nugget lebih rendah dari mie basah dan memenuhi standar
SNI. Suryati et al. (2008) menyatakan bahwa kadar air yang rendah dapat meningkatkan jumlah
lemak, karbohidrat, dan protein.
Prinsip perhitungan kadar air adalah bahan dikeringkan pada kondisi tertentu dan
perngurangan berat setelah dan sebelum pengeringan dianggap sebagai pengukuran kandungan
air dalam sampel. Karathanos (1999) menyatakan bahwa prinsip uji kadar air dengan
pengeringan adalah sampel dipanaskan pada suhu 70-105 C hingga mendapatkan berat yang
konstan dimana persentase kadar air diperoleh dari berat konstan sebelum dioven dikurangi
berat bersih sampel setelah dioven lalu dibandingkan berat sampel sebelum dioven dan dikali
100%. Kesalahan yang dapat terjadi saat praktikum adalah kesalahan saat penimbangan yaitu
porselen yang masih panas langsung ditimbang hingga dapat menimbulkan ruskanya
timbangan. Jufri et al. (2006) menyatakan bahwa kesalahan yang dapat terjadi saat uji kadar
air adalah kesalahan saat proses menimbang baik cara penggunaannya maupun pembacaannya.
Fenomena?

Tabel 1.3. HasilPengamatan Uji Kadar Lemak

Nugget Mi kuning basah


Berat Cawan
Berat Sampel
Berat Setelah oven pertama
Berat setelah oven kedua
Kadar Lemak 18,5% 1,5%
Rata-rata kadar lemak

Berdasarkan hasil pengamatan , nugget memiliki kadar lemak 18,5% sedangkan mi


kuning basah 1,5%. Nugget memiliki kadar lemak lebih tinggi dibanding mi kuning basah
karena nugget berbahan dasar daging (hewani) sedangkan mi kuning basah berbahan dasar
tepung (nabati) serta kadar lemak juga bergantung pada BTP yang ditambahkan. Herawati dan
Widowati (2009) menyatakan bahwa tepung memiliki kadar lemak yang sedikit kurang lebih
1%. Kadar lemak sampel nugget telah memenuhi standar SNI 01-6683-2002 yaitu maksimal
20%. Jika ditinjau dari nilai gizinya mi kuning basah dengan kadar lemak lebih rendah
dibanding nugget lebih baik dikonsumsi. Sunarlim dan Setiyanto (2001) menyatakan bahwa
makanan dengan kadar lemak tinggi apabila dikonsumsi terus menerus dapat meningkatkan
kolesterol tubuh dan menyebabkan penyakit degeneratif. Fungsi uji kadar lemak adalah untuk
mengetahui kadar lemak pada sampel yang berpengaruh pada identifikasi nilai gizi. Sinurat et
al. (1998) menyatakan bahwa uji kadar abu, lemak, protein, karbohidrat, dan air sangat penting
untuk penentuan kandungan gizi suatu bahan.
Prinsip perhitungan kadar lemak adalah minyak/ lemak diekstrak dengan dalam alat
soxhlet, kemudian pelarut diuapkan sehingga didapatkan lemak/minyak yang banyaknya dapat
ditentukan secara gravimetri. Setetyowati al. (2008) menyatakan bahwa perhitungan metode
soxhlet menggunakan pronsip gravimetri yairu lemak diekstraksi hingga diperoleh berat yang
konstan dan ditimbang. Kesalahan yang dapat terjadi saat praktikum adalah alat soxhlet tidak
tertutup dengan sempurna. Megawati (2016) menyatakan bahwa ekstraktor soxhlet harus
dipastikan tertutup rapat agar tidak terjadi kebocoran.fenomena?

Tabel 1.4. Hasil Pengamatan Uji Kadar Protein


Sampel 1 (Nugget) Sampel 2 (Mie Kuning
Basah)
Titran Sampel 6,2 3,6
Titran Blanko 0,6 0,6
Berat Sampel 0,5 0,5
Kadar Protein 9,806 5,253

Berdasarkan hasil pengamatan, sampel nugget memiliki kadar protein 9,806% dan mie
kuning basah mengandung protein sebanyak 5,253%. Perbedaan kandungan protein
disebabkan oleh komposisi nugget bebrbahan dasar daging ayam yang tinggi protein
sedangkan mi basah berbahan dasar tepung terigu (produk nabati) yang memiliki kandungan
protein lebih rendah. Palupi (2007) menyatakan bahwa produk hewani memiliki jumlah protein
lebih tinggi dari produk nabati. Kadar protein pada nugget tidak memenuhi standar SNI 01-
6683-2002 yang mensyaratkan kadar protein minimal pada nugget adalah 12% sedangkan
kadar protein mie kuning basah telah memenuhi standar SNI 01-2987-1992 yang mensyaratkan
kadar protein minimal pada mie basah adalah 3%. Uji kadar protein dengan metode Kjeldhal
berfungsi untuk mengetahui kadar protein dalam bahan pangan. Kurniasih dan Kartika (2011)
menyatakan bahwa uji protein dengan metode Kjeldhal berfungsi untuk menghitung kadar
protein yang diwakili dengan jumlah N total pada bahan pangan.
Prinsip perhitungan uji protein dengan metode Kjeldhal adalah % total N dikali faktor
konversi. Sumarno (2002) menyatakan bahwa N total hasil uji metode Kjeldhal terdiri atas N-
protein dan N-non protein sehingga perlu dikonversi dengan bilangan konversi yang diperoleh
dari persentase rata-rata n-protein pada bahan pangan yang dianalisis. Prinsip kerja metode
Kjeldhal adalah dekstruksi, distilasi dan titrasi.Munthe et al. (2016) menyatakan bahwa untuk
memperoleh jumlah N total pada metode Kjeldhal didasarkan pronsip dekstruksi, distilasi, dan
titrasi. Kesalahan yang dapat terjadi saat praktikum yaitu titrasi tidak dihentikan ketika sudah
tercapai titik ekuivalen. Pratama et al. (2015) menyatakan bahwa kelebihan titran saat titrasi
dapat mempengaruhi hasil analisis.fenomena?
Tabel 1.5. Hasil Pengamatan Uji Kadar Abu
Sampel Berat (gram) Kadar Abu %
Cawan Sampel Cawan+sampel
setelah tanur
Nugget 4,298
Mi Kuning 3,137
Basah

Berdasarkan pengamatan, nugget memiliki kadar abu 4,298% sedangkan mi kuning


basah memiliki kadar abu sebanyak 3,137%. Perbedan kadar abu pada masing-masing sampel
dipengaruhi oleh perlakuan pada proses penanganan maupun pengolahan bahan pangan.
Richana dan Sunarti (2004) menyatakan bahwa perbedaan proses pengolahan dapat
mempengaruhi kadar abu dalam bahan pangan. Uji kadar abu berfungsi untuk mengetahui
jumlah abu yang terdapat pada bahan pangan sebagai parameter mineral yang terkandung pada
makanan dan menentukan baik tidaknya suatu pengolahan. Arifin et al. (2006) menyatakan
bahwa penentuan kadar abu bertujuan untuk mengetahui jumlah mineral internal dan eksternal
pada bahan pangan. Kadar abu mi kuning basah tidak sesuai dengan SNI 01-2987-1992 yang
mensyaratkan kadar abu maksimal pada mi basah adalah sebanyak 3 % sedangkan. Apabila
ditinjau dari segi gizinya maka makanan dengan kadar abu yang lebih rendah bisa jadi lebih
bergizi karena dapat mengindikasikan kemurnian bahan dari zat pengotor saat pengolahan
namun perlu diidentifikasi lebih lanjut jenis mineral yang terdapat pada kadar abu karena
mineral terdiri atas unsur yang dapat memberi dampak positif bagi tubuh seperti kalsium dan
zat besi maupun dampak negatif bagi tubuh seperti residu logam berat. Luthfiyanti et al. (2011)
menyatakan bahwa kadar abu dapat mengindikasikan kebersihan atau kemurnian suatu bahan.
Prinsip perhitungan uji kadar abu adalah menentukan persentase dari perbandingan
berat abu hasil pemanasan dengan tanur dan berat sampel. Apriyantono et al. (1989)
menyatakan bahwa kadar abu diperoleh dari perbandingan berat abu dan berat sampel dikali
seratus persen dengan abu dalam bahan ditetapkan dengan menimbang residu hasil pembakaran
komponen bahan organik pada sushu sekitar 550 C. Fenomena yang terjadi pada praktikum
adalah menguapnya senyawa organik pada sampel saat pemanasan dengan tanur. Azizah dan
Salamah (2013) menyatakan bahwa pemanasan bahan dengan tanur membuat senyawa organik
dan turunannya terdestruksi dan menguap, sehingga yang tertinggal hanya unsur mineral dan
anorganik (abu). Kesalahan yang dapat terjadi saat praktikum yaitu cawan setelah dipanaskan
tidak dimasukkan pada desikator dan langsung ditimbang dimana dapat menyebabkan ketiak
akuratan perhitungan karena timbangan rusak akibat panas. Haryanto (2005) menyatakan
bahwa desikator berfungsi untuk mendinginkan abu dan bahan setelah pemanasan dengan tanur
atau oven.
Karbohidrat, air , lemak, abu dan protein merupakan komponen gizi yang terdapat pada
bahan pangan. Uji kadar karbohidrat, air, lemak , protein dan abu merupakan uji yang disebut
analisis proksimat dimana uji ini berfungsi untuk mengetahui kadar kandungan gizi dalam yang
terkandung dalam bahan pangan yang dapat digunakan sebagai parameter mutu dan kualitas
suatu bahan pangan. Jayanegara dan Sofyan (2010) menyatakan bahwa analisis proksimat
dilakukan untuk mengetahui komponen nutrien dalam bahan pangan. Kadar karbohidrat, air,
lemak, protein, dan abu memiliki kesinambungan dimana kadarnya dapat mempengaruhi kadar
atau sifat komponen nutrien satu sama lain serta tiap komponen gizi dapat mempengaruhi
organoleptik bahan pangan. Saleh (2004) menyatakan bahwa komponen gizi merupakan salah
satu faktor yang dapat mempengaruhi sifat fisiko-kimia pada bahan pangan selain metode
pengolahan.

KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan sampel nugget lebih bergizi dibanding mi kuning basah karena
mengandung komponen gizi berupa kadar air, lemak, protein, dan abu lebih banyak daripada
mi kuning basah. Nugget memiliki kadar air 51%, kadar lemak 18,55, kadar protein 9,8065,
kadar abu 4,298% dan kadar karbohidrat 16,3965 sedangkan mi kuning basah memiliki kadar
air 50,25 %, kadar lemak 1,5 %, kadar protein 5,253%, kadar abu 3,137% dan karbohirat
39,86%. Kadar air, karbohidrat, dan protein pada sampel nugget telah memenuhi standar SNI
01-6683-2002 namun kadar abu sampel nugget tidak memenuhi standar SNI 01-6683-2002.
Pada mi kuning basah, kadar lemak memenuhi standar SNI 01-2987-1992 namun kadar air dan
protein tidak memenuhi standar SNI 01-2987-1992. Adapun kadar air, lemak, abu, protein dan
karbohidrat merupakan komponen gizi pada bahan pangan yang dipengaruhi oleh komposisi
bahan pangan dan metode pengolahan.
DAFTAR PUSTAKA

Aditya, H.P.,H. Herpandi. and S.Lestari. 2016. Karakteristik Fisik, Kimia dan Sensoris Abon
Ikan dari Berbagai Ikan Ekonomis Rendah. Jurnal Teknologi Hasil Perikanan, 5(1): 61-
72.

Apriyantono A, Fardiaz D, Puspitasari NL, Sedarnawati, Budiyanto S. 1989. Analisis Pangan.


Bogor : IPB Press.

Arifin, H., Anggraini, N., Handayani, D. and Rasyid, R., 2006. Standarisasi ekstrak etanol daun
Eugenia cumini Merr. J. Sains Tek. Far, 11(2):88-93.

Azizah, B. and Salamah, N., 2013. Standarisasi Parameter Non Spesifik dan Perbandingan
Kadar Kurkumin Ekstrak Etanol dan Ekstrak Terpurifikasi Rimpang
Kunyit. Pharmaciana, 3(1).32-37

Badan Standarisasi Nasional. 1992. Mi Basah. SNI 01-2987-1992.

Badan Standarisasi Nasional . 2002. Nugget Ayam. SNI 01-6683-2002

Burhan, N.I.K., Taslim, N.A. and Bahar, B., 2013. Hubungan Care Giver Terhadap Status Gizi
dan Kualitas Hidup Lansia Pada Etnis Bugis. Jurnal Jst. Kesehatan, 3(3):264-273.

Doraja, P.H., Shovitri, M. and Kuswytasari, N.D., 2012. Biodegradasi Limbah Domestik
Dengan Menggunakan Inokulum Alami Dari Tangki Septik. Jurnal Sains dan Seni
ITS, 1(1):44-47.

Ekowati, B.A. and Cakrawati, D., 2016. Modifikasi Nugget Ayam Dengan Penambahan Pati
Resisten Ubi Jalar Sebagai Serat Pangan. EDUFORTECH, 1(1):20-29.

Haryanto, B., 2005. Abu Serbuk Batang Kelapa Sebagai Katalis Proses Esterifikasi
Stearin. Jurnal Sistem Teknik Industri, 6(5), pp.25-28.

Herawati, D.A. and Wibawa, A.A., 2011. Pengaruh Konsentrasi Susu Skim dan Waktu
Fermentasi terhadap Hasil Pembuatan Soyghurt. Universitas Setia Budi: Surakarta.
Jurnal Ilmiah Teknik Lingkungan, 1(2). 45-48

Herawati, H. and Widowati, S., 2009. Karakteristik beras mutiara dari ubi jalar (Ipomea
batatas). Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian, 5(1), pp.39-48.
Herawati, H., 2008. Penentuan umur simpan pada produk pangan. Jurnal Litbang
Pertanian, 27(4), pp.124-130.

Hui, Yiu H., (2006), Handbook of Food Science, Technology, and Engineering Volume 1,
Taylor & Francis Group, Boca Raton

Jayanegara, A. and Sofyan, A., 2010. Penentuan Aktivitas Biologis Tanin Beberapa Hijauan
secara in Vitro Menggunakan’Hohenheim Gas Test’dengan Polietilen Glikol Sebagai
Determinan. Media Peternakan, 31(1).

Jufri, M., Anwar, E. and Utami, P.M., 2006. Uji stabilitas sediaan mikroemulsi menggunakan
hidrolisat pati (DE 35-40) sebagai stabilizer. Majalah Ilmu Kefarmasian, 3(1), pp.08-21.

Karathanos, V.T., 1999. Determination of water content of dried fruits by drying


kinetics. Journal of Food Engineering, 39(4), pp.337-344.

Katili, A.S., 2009. Struktur dan fungsi protein kolagen. Jurnal Pelangi Ilmu, 2(5).19-29.

Kurniasih, M. and Kartika, D., 2011. Sintesis dan karakterisasi fisika-kimia


kitosan. Inovasi, 5(1), pp.42-48.

Luthfiyanti, R., Ekafitri, R. and Desnilasari, D., 2011. Pengaruh perbandingan tepung dan pure
pisang nangka pada proses pembuatan food bar berbasis pisang sebagai pangan
darurat. Prosiding SNaPP: Sains dan Teknologi, 2(1), pp.239-238.

Megawati, M., 2016. EKSTRAKSI MINYAK ATSIRI KULIT JERUK MANIS DENGAN
METODE VACUUM MICROWAVE ASISSTED HYDRODISTILLATION. Jurnal
Bahan Alam Terbarukan, 4(2), pp.61-67.

Menezes, E.W., de Melo, A.T., Lima, G.H. and Lajolo, F.M., 2004. Measurement of
carbohydrate components and their impact on energy value of foods. Journal of Food
Composition and Analysis, 17(3), pp.331-338.
Munthe, I., Isa, M., Winaruddin, W., Sulasmi, S., Herrialfian, H. and Rusli, R., 2016. Protein
Content Analysis of Depik (Rasbora tawarensis) In Laut Tawar Lake Aceh
Tengah. Jurnal Medika Veterinaria, 10(1), pp.67-69.

Murtidjo, B.A. 1987. Pedoman Meramu Pakan Unggas. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Padang, P., 2015. EKOSISTEM RUMEN KAMBING YANG DIBERI KULIT BUAH
KAKAO SETELAH ALKALISASI DENGAN KOH DAN BIOFERMENTASI
DENGAN Saccharomyces cerevisiae. AGRISAINS, 12(1).

Palupi, N.S., Zakaria, F.R. and Prangdimurti, E., 2007. Pengaruh pengolahan terhadap nilai
gizi pangan. Departemen Ilmu & Teknologi Pangan IPB, Bogor.
Pratama, Y., Prasetya, A.T. and Latifah, L., 2015. PEMANFAATAN EKSTRAK DAUN JATI
SEBAGAI INDIKATOR TITRASI ASAM-BASA. Indonesian Journal of Chemical
Science, 4(2):1-6

Purwoko, T. and Handayani, N.S., 2007. Kandungan protein kecap manis tanpa fermentasi
moromi hasil fermentasi rhizopus orizae dan R. Oligosphorus. Biodiversitas, 8(2),
pp.223-227.

Richana, N. and Sunarti, T.C., 2004. Karakterisasi sifat fisiko kimia tepung umbi dan tepung
pati dari umbi ganyong, suweg, ubi kelapa dan gembili. Jurnal pascapanen, 1(1), pp.29-
37.

Saleh, E., 2004. Dasar pengolahan susu dan hasil ikutan ternak. Fakultas Pertanian USU,
Sumatera Utara.
Sandjaja, A. 2009. Kamus Gizi Pelengkap Kesehatan Keluarga. Penerbit Buku Kompas,
Jakarta.
Sari, L., Sudiarta, I.W. and Bawa Putra, A.A., 2015. IMOBILISASI DIFENILKARBAZIDA
PADA SILIKA GEL DARI ABU SEKAM PADI MELALUI TEKNIK SOL
]]]]]]]]]]]]]]]]]GEL. Journal of Chemistry, 9(2).235-242.

Sartika, R.A.D., 2008. Pengaruh asam lemak jenuh, tidak jenuh dan asam lemak trans terhadap
kesehatan. Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, 2(4), pp.154-160.

Setyowati, R., Sarbini, D. and Rejeki, S., 2008. Pengaruh Penambahan Bekatul Terhadap Kadar
Serat Kasar, Sifat Organoleptik Dan Daya Terima Pada Pembuatan Tempe Kedelai.
J.Pendidikan, Sains& Teknologi. 9(1): 52-61.

Sinurat, A.P., Purwadaria, T., Habibie, A., Pasaribu, T., Hamid, H., Rosida, J., Haryati, T. and
Sutikno, I., 1998. Nilai gizi bungkil kelapa terfermentasi dalam ransum itik petelur
dengan kadar fosfor yang berbeda. JITV, 3(1):15-21.

Sumarno, S.N., 2002. Estimasi Kadar Protein dalam Bahan Pangan Melalta Analisis Nitrogen
Total dan Analisis Asam Amino. Majalah Farmasi Indonesia, 13(1):34-43.

Sunarlim RO, Setiyanto HA. 2001. Penggunaan Berbagai Tingkat Kadar Lemak Susu
Kambing dan Susu Sapi Terhadap Mutu dan Cita Rasa Yoghurt. Balai Penelitian Ternak,
Bogor. 1(1):371-378

Widyaningtyas, M. and Susanto, W.H., 2014. PENGARUH JENIS DAN KONSENTRASI


HIDROKOLOID (CARBOXY METHYL CELLULOSE, XANTHAN GUM, DAN
KARAGENAN) TERHADAP KARAKTERISTIK MIE KERING BERBASIS PASTA
UBI JALAR VARIETAS ASE KUNING. J.Pangan dan Agroindustri, 3(2):417-423.

Winarno, F.G., 2002. Kimia Pangan dan Gizi. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Winarno, FG. 2008. Kimia Pangan dan Gizi Edisi Terbaru. M-Brio press, Bogor.

Hafes. E. S. E.2000. Metode Analisis Proksimat. Jakarta : Erlangga.

Soejono, M. 1990. Petunjuk Laboratorium Analisis dan Evaluasi Pakan. Fakultas Peternakan
Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Mahmudi, S.P dkk. 1997. Pembuatan Pakan Ternak Unggas. Penerbit CV. Amisco.: Jakarta.

Wati, R. Sumarsono,. 2012. “ Kadar Protein Kasar dan Serat Kasar Eceng Gondok sebagai Sumber Daya
Pakan di Perairan yang Mendapat Limbah Kototran Itik”. Animal Agriculture Journal Vol. 1 No.
1.