Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH BAKTERIOLOGI KLINIK

BAKTERI ANAEROB PEMBENTUK SPORA


Clostridium tetani

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah Bakteriologi Klinik

Disusun Oleh :

Kelompok 4
Kania Dewi Putri P173341160
Loris Akbar P173341160
Prisillia Nur Alifah P17334116066
Witri Febryantika P173341160

Kelas 2B

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN BANDUNG

JURUSAN ANALIS KESEHATAN

CIMAHI

2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena
berkat-Nyalah kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Bakteri
Anaerob Pembentuk Spora” dengan baik, meskipun banyak kekurangan di
dalamnya. Penulis juga berterima kasih kepada dosen mata kuliah Bakteriologi
Klinik yang telah memberikan bimbingannya sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah ini.
Adapun makalah ini telah diusahakan semaksimal mungkin akan tetapi
penulis menyadari makalah ini jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, saran dan
kritik yang membangun sangat dibutuhkan untuk penyempurnaan makalah ini
kedepannya.

Akhir kata penulis ucapkan terimakasih, Semoga makalah ini dapat


bermanfaat bagi pembaca khususnya bagi penulis.

Cimahi, 24 Maret 2018

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tetanus sudah sangat jarang dijumpai di negara yang telah maju seperti
Amerika Serikat, karena imunisasi aktif yang telah dilaksanakan dengan baik,
di samping sanitasi lingkungan yang bersih. Sedangkan di negara
berkembang, termasuk Indonesia, pemyakit ini masih banyak dijumpai karena
kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kebersihan. Perawatan luka
yang kurang higienis, serta kurangnya kekebalan terhadap tetanus. Penyakit
tetanus biasanya timbul di daerah yang mudah terkontaminasi dengan tanah
dan dengan kebersihan dan perawatan luka yang buruk.
Tetanus terjadi di seluruh dunia dengan insiden yang sangat bervariasi.
Bentuk yang paling sering ialah tetanus neonatorum yang membunuh
sekurang-kurangnya 500.000 bayi setiap tahun karena ibu tidak diimunisasi.
Lebih dari 70% kematian ini terjadi pada sekitar sepuluh negara Asia dan
Afrika. Tetanus neonatorum menyebabkan 50% kematian perinatal dan
menyumbangkan 20% kematian bayi. Angka kejadian 6-7/100 kelahiran hidup
di perkotaan dan 11-23/100 kelahiran hidup di pedesaan. Sedangkan angka
kejadian tetanus pada anak di rumah sakit 7-40 kasus/tahun, 50% terjadi pada
kelompok 5-9 tahun, 30% kelompok 1-4 tahun, 18% kelompok >10 tahun, dan
sisanya bayi <12 bulan. Angka kematian keseluruhan antara 6,7-30%. Selain
itu, diperkirakan 15.000-30.000 wanita yang tidak terimunisasi meninggal
setiap tahun karena tetanus akibat infeksi pada luka paska partus, paska
abortus, atau bedah. Sekitar 50 kasus tetanus dilaporkan setiap tahun di
Amerika Serikat, kebanyakan pada orang-orang umur 60 tahun atau lebih tua,
tetapi seusia anak belajar jalan dan kasus neonatus juga terjadi.
Kebanyakan kasus tetanus non-neonatorum dihubungkan dengan jejas
traumatis, sering luka tembus yang diakibatkan oleh benda kotor, seperti paku,
serpihan, fragmen gelas, atau injeksi tidak steril. Tetanus paska injeksi obat
terlarang menjadi kasus yang sering, sementara keadaan yang tidak lazim
adalah gigitan binatang, abses, pelubangan cuping telinga, ulkus kulit kronik,
luka bakar, fraktur komplikata, radang dingin, dan sirkumsisi wanita. Penyakit
ini juga terjadi sesudah penggunaan benang jahit yang terkontaminasi atau
setelah injeksi intramuskuler obat-obatan. Penyakit tetanus ini terjadi akibat
infeksi dari Clostridium tetani. Bakteri tersebut menyebabkan penyakit infeksi
menular melalui luka.
Berdasarkan latar belakang tersebut maka penulis menetapkan makalah
yang berjudul “BAKTERI ANAEROB PEMBENTUK SPORA (Clostridium
tetani)”.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian pada latar belakang dapat penulis rumuskan
permasalahan sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud bakteri anaerob pembentuk spora?
2. Bagaimana ciri-ciri Clostridium tetani?
3. Bagaimana pemeriksaan Clostridium tetani?

1.3 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan penulisan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui bakteri anaerob pembentuk spora
2. Untuk mengetahui klasifikasi, morfologi dan patogenesis dari bakteri
Clostridium tetan.
3. Untuk mengetahui pemeriksaan laboratorium Clostridium tetani.

1.4 Manfaat Penulisan


Adapun manfaat penulisan dalam makalah ini adalah sebagai berikut
1. Sebagai pengetahuan bagi mahasiswa dan penulis mengenai bakteri
anaerob pembentuk spora.
2. Sebagai pengetahuan bagi mahasiswa dan penulis mengenai klasifikasi,
morfologi, patogenesis dan pemeriksaan Clostridium tetani.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Bakteri Anaerob Pembentuk Spora

Bakteri anaerob adalah bakteri yang tidak membutuhkan oksigen bebas


untuk hidupnya. Bakteri anerob terbagi atas dua yaitu bakteri anaerob
fakultatif dan bakteri anaerob obligat. Bakteri anaerob fakultatif adalah
bakteri yang dapat hidup dengan baik dengan oksigen atau tanpa oksigen.
Contoh-contoh bakteri anaerbo fakultatif adalah Streptococcus, Aerobacter
aerogenes, Escherichia coli, Lactobacillus, Alcaligenesis. Bakteri anaerob
obligat adalah bakteri yang tidak membutuhkan dalam hidupnya. Jika ada
oksigen bakteri tersebut akan mati. Contoh-contoh bakteri anaerob obligat
adalah Prevotella melaninogenica (menyebabkan abses pada rongga mulut
dan faring), Clostridium tetani (menyebabkan kejang otot),
Peptostreptococcus (menyebabkan abses otak dan abses saluran kelamin
wanita), Methanobacterium (menghasilkan gas metana), dan Bacteroides
fragilis (menyebabkan abses di usus).
Spora pada bakteri yaitu bentuk bakteri yang sedang dalam usaha
melindungi (mengamankan) diri dari pengaruh yang buruk dari luar.
Beberapa spesies bakteri tertentu dapat membentuk spora. Spora dihasilkan di
dalam tubuh vegetatif bakteri tersebut, dapat berada di bagian tengah
(central), ujung (terminal) ataupun tepian sel. Pelczar (1986), menyatakan
bahwa spora merupakan tubuh bakteri yang secara metabolik mengalami
dormansi, dihasilkan pada fase lanjut dalam pertumbuhan sel bakteri yang
sama seperti asalnya, yaitu sel vegetatif. Spora bersifat tahan terhadap
tekanan fisik maupun kimiawi.
Bakteri dalam bentuk spora lebih tahan terhadap disinfektan, sinar dan
terutama terhadap kekeringan, panas dan kedinginan. Hal ini karena dinding
spora lebih bersifat impermeabel dan spora mengandung sangat sedikit air,
sehingga menyebabkan spora tidak mudah mengalami perubahan temperatur.
Hanya beberapa genus bakteri saja yang membentuk spora, diantaranya :
1. Genus Bacillus: bentuk batang, bersifat aerob atau anaerob fakultatif,
contohnya Bacillus anthracis yang menyebabkan penyakit antraks
dan Bacillus cereus yang menyebabkan keracunan makanan.
2. Genus Clostridium: bersifat anaerob, memproduksi toksin yang
mematikan manusia, contohnya Clostridium tetani, Clostridium
perfringens dan Clostridium botulinum. Botulisme adalah salah satu
tipe keracunan makanan yang sangat berbahaya.

Struktur spora yang terbentuk di dalam tubuh vegetatif bakteri disebut


sebagai ‘endospora’ (endo=dalam, spora=spora) yaitu spora yang terbentuk di
dalam tubuh. Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa endospora merupakan
sel yang mengalami dehidrasi dengan dinding yang mengalami penebalan
serta memiliki beberapa lapisan tambahan.

Dengan adanya kemampuan untuk membentuk spora ini, bakteri tersebut


dapat bertahan pada kondisi yang ekstrim. Menurut Pelczar (1986) bakteri
yang dapat membentuk endospora ini dapat hidup dan mengalami tahapan-
tahapan pertumbuhan sampai beberapa generasi, dan spora terbentuk melalui
sintesis protoplasma baru di dalam sitoplasma sel vegetatifnya.

Menurut Volk & Wheeler (1988), dalam pengamatan spora bakteri


diperlukan pewarnaan tertentu yang dapat menembus dinding tebal spora.
Contoh dari pewarnaan yang dimaksudkan oleh Volk & Wheeler tersebut
adalah dengan penggunaan larutan hijau malakit 5%, dan untuk memperjelas
pengamatan, sel vegetative juga diwarnai dengan larutan safranin 0,5%
sehingga sel vegetative ini berwarna merah. Dengan demikian ada atau
tidaknya spora dapat teramati, bahkan posisi spora di dalam tubuh sel
vegetatif juga dapat diidentifikasi.Namun ada juga zat warna khusus untuk
mewarnai spora dan di dalam proses pewarnaannya melibatkan treatment
pemanasan, yaitu spora dipanaskan bersamaan dengan zat warna tersebut
sehingga memudahkan zat warna tersebut untuk meresap ke dalam dinding
pelindung spora bakteri.
Beberapa zat warna yang telah disebutkan di atas, dapat mewarnai spora
bakteri, tidak lepas dari sifat kimiawi dinding spora itu sendiri.Semua spora
bakteri mengandung asam dupikolinat.Yang mana subtansi ini tidak dapat
ditemui pada sel vegetatif bakteri, atau dapat dikatakan, senyawa ini khas
dimiliki oleh spora.Dalam proses pewarnaan, sifat senyawa inilah yang
kemudian dimanfaatkan untuk di warnai menggunakan pewarna tertentu,
dalam hal ini larutan hijau malakit. Sedangkan menurut Pelczar (1986), selain
subtansi di atas, dalam spora bakteri juga terdapat kompleks Ca2+dan asam
dipikolinan peptidoglikan.

Namun menurut Dwijoseputro (1979) beberapa bakteri mampu


membentuk spora meskipun tidak dalam keadaan ekstrem ataupun medium
yang kurang nutrisi. Hal ini dimungkinkan karena bakteri tersebut secara
genetis, dalam tahapan pertumbuhan dan perkembangannya memang
memiliki satu fase sporulasi. Jika medium selalu diadakan pembaruan dan
kondisi lingkungan disekitar bakteri selalu dijaga kondusif, beberapa jenis
bakteri dapat kehilangan kemampuannya dalam membentuk spora. Hal ini
dimungkinkan karena struktur bakteri yang sangat sederhana dan sifatnya
yang sangat mudah bermutasi, sehingga perlakuan pada lingkungan yang
terus menerus dapat mengakibatkan bakteri mengalami mutasi dan
kehilangan kemampuannya dalam membentuk spora.

Proses pembentukan spora di dalam sel vegetatif bakteri terjadi dalam


beberapa tahapan, meliputi :

1. Terjadi kondesasi DNA pada bakteri yang akan membentuk spora.


2. Terjadi pembalikan membran sitoplasma sehingga lapisan luar membran
kini menjadi lapisan dalam membran (calon) spora.
3. Pembentukan korteks primordial (calo korteks)
4. Pembentukan korteks
5. Spora terlepas dan menjadi spora bebas, pada tahap ini jika spora
mendapatkan lingkungan yang kondusif maka ia bisa tumbuh menjadi
satu sel bakteri yang baru.
Spora bakteri ini dapat bertahan sangat lama, ia dapat hidup bertahun-
tahun bahkan berabad-abad jika berada dalam kondisi lingkungan yang
normal. Kebanyakan sel vegetatif akan mati pada suhu 60o-70o C, namun
spora tetap hidup, spora bakteri ini dapat bertahan dalam air mendidih bahkan
selama 1 jam lebih. Selama kondisi lingkungan tidak menguntungkan, spora
akan tetap menjadi spora, sampai kondisi lingkungan dianggap
menguntungkan, spora akan tumbuh menjadi satu sel bakteri yang baru dan
berkembangbiak secara normal (Volk & Wheeler, 1988).

2.2 Clostridium tetani

Pada tahun 1884, Arthur Nicolaier mengisolasi toksin tetanus yang seperti
strychnine dari tetanus yang hidup bebas, bakteri lahan anaerob. Etiologi dari
penyakit itu lebih lanjut diterangkan pada tahun 1884 oleh Antonio Carle dan
Giorgio Rattone, yang mempertunjukkan sifat mengantar tetanus untuk
pertama kali. Mereka mengembangbiakan tetanus di dalam tubuh kelinci-
kelinci dengan menyuntik syaraf mereka di pangkal paha dengan nanah dari
suatu kasus tetanus manusia yang fatal di tahun yang sama tersebut. Pada
tahun 1889, C.tetani terisolasi dari suatu korban manusia, oleh Kitasato
Shibasaburo, yang kemudiannya menunjukkan bahwa organisme bisa
menghasilkan penyakit ketika disuntik ke dalam tubuh binatang-binatang, dan
bahwa toksin bisa dinetralkan oleh zat darah penyerang kuman yang spesifik.
Pada tahun 1897, Edmond Nocard menunjukkan bahwa penolak toksin
tetanus membangkitkan kekebalan pasif di dalam tubuh manusia, dan bisa
digunakan untuk perlindungan dari penyakit dan perawatan. Vaksin lirtoksin
tetanus dikembangkan oleh P.Descombey pada tahun 1924, dan secara luas
digunakan untuk mencegah tetanus yang disebabkan oleh luka-luka
pertempuran selama Perang Dunia II.
2.2.1 Klasifikasi Clostridium tetani
Kingdom : Bacteria
Divisi : Firmicutes
Kelas :Clostridia
Ordo : Clostridiales
Famili : Clostridiaceae
Genus : Clostridium
Spesies : Clostridium tetani

2.2.2 Morfologi Clostridium tetani

Clostridium tetani adalah bakteri berbentuk batang lurus, langsing,


berukuran panjang 2-5 mikron dan lebar 0,4-0,5 mikron. Bakteri ini
terdapat di tanah terutama tanah yang tercemar tinja manusia dan
binatang. Clostridium tetani termasuk bakteri gram positif anaerobic
berspora, mengeluarkan eksotoksin. Costridium tetani menghasilkan 2
eksotosin yaitu tetanospamin dan tetanolisin. Tetanospaminlah yang dapat
menyebabkan penyakit tetanus. Perkiraan dosis mematikan minimal dari
kadar toksin (tenospamin) adalah 2,5 nanogram per kilogram berat badan
atau 175 nanogram untuk 70 kilogram manusia.
Clostridium tetani tidak menghasilkan lipase maupun lesitinase,
tidak memecah protein dan tidak memfermentasi sakarosa dan glukosa
juga tidak menghasilkan gas H2S. Menghasilkan gelatinase, dan indol
positif.
Spora dari Clostridium tetani resisten terhadap panas dan juga
biasanya terhadap antiseptis. Sporanya juga dapat bertahan pada autoclave
pada suhu 249.8°F (121°C) selama 10–15 menit. Juga resisten terhadap
phenol dan agen kimia yang lainnya.
2.2.3 Patogenesis
Clostridium tetani dalam bentuk spora masuk ke tubuh melalui luka yang
terkontaminasi dengan debu, tanah, tinja binatang atau pupuk. Biasanya
penyakit terjadi setelah luka tusuk yang dalam misalnya luka yang
disebabkan tertusuk paku, pecahan kaca, kaleng, atau luka tembak, karena
luka tersebut menimbulkan keadaan anaerob yang ideal. Selain itu luka
laserasi yang kotor, luka bakar, dan patah tulang terbuka juga akan
megakibatkan keadaan anaerob yang ideal untuk pertumbuhan C. Tetani ini.
Walaupun demikian, luka-luka ringan seperti luka gores, lesi pada mata,
telinga atau tonsil dan traktus digestivus serta gigitan serangga dapat pula
merupakan porte d’entree dari C. Tetani. Juga sering ditemukan telinga
dengan otitis media perforata sebagai tempat masuk C. Tetani.
Bentuk spora akan berubah menjadi bentuk vegetatif bila lingkungannya
memungkinkan untuk perubahan bentuk tersebut (lingkungan anaerob) dan
kemudian mengeluarkan ekotoksin. Bakteri tetanusnya sendiri tetap tinggal
di daerah luka, tidak ada penyebaran bakteri. Bakteri ini membentuk dua
macam eksotoksin yang dihasilkan yaitu tetanolisin dan tetanospasmin.
Tetanolisin dalam percobaan dapat menghancurkan sel darah merah tetapi
tidak menimbulkan tetanus secara langsung melainkan menambah optimal
kondisi lokal untuk berkembangnya bakteri. Tetanospasmin terdiri dari
protein yang bersifat toksik terhadap sel saraf. Toksin ini diabsorbsi oleh end
organ saraf di ujung saraf motorik dan diteruskan melalui saraf sampai sel
ganglion dan susunan saraf pusat. Bila telah mencapai susunan saraf pusat
dan terikat dengan sel saraf, toksin tersebut tidak dapat dinetralkan lagi. Saraf
yang terpotong atau berdegenerasi, lambat menyerap toksin, sedangkan saraf
sensorik sama sekali tidak menyerap.

Tetanospasmin pada sistem saraf otonom juga berpengaruh, sehingga


terjadi gangguan pernapasan, metabolism, hemodinamika, hormonal, saluran
cerna, saluran kemih, dan neuromuscular. Spasme larynx, hipertensi,
gangguan irama janjung, hiperflexi, hyperhidrosis merupakan penyulit akibat
gangguan saraf ototnom, yang dulu jarang karena penderita sudah meninggal
sebelum gejala timbul. Dengan penggunaan diazepam dosis tinggi dan
pernapasan mekanik, kejang dapat diatasi namun gangguan saraf otonom
harus dikenali dan di kelola dengan teliti.
Tetanospasmin adalah toksin yang menyebabkan spasme, bekerja pada
beberapa level dari susunan syaraf pusat, dengan cara :
·Toksin menghalangi neuromuscular transmission dengan cara menghambat
pelepasan acethyl-choline dari terminal nerve di otot.
·Karakteristik spasme dari tetanus terjadi karena toksin mengganggu fungsi
dari refleks synaptik di spinal cord.
·Kejang pada tetanus, mungkin disebabkan pengikatan dari toksin oleh
cerebral ganglioside.
Beberapa penderita mengalami gangguan dari Autonomik Nervous System
(ANS ) dengan gejala : berkeringat, hipertensi yang fluktuasi, periodisiti
takikhardia, aritmia jantung, peninggian cathecholamine dalam urine.
Timbulnya kegagalan mekanisme inhibisi yang normal, yang menyebabkan
meningkatnya aktifitas dari neuron yang mensarafi otot masetter sehingga
terjadi trismus. Oleh karena otot masetter adalah otot yang paling sensitif
terhadap toksin tetanus tersebut. Stimuli terhadap afferen tidak hanya
menimbulkan kontraksi yang kuat, tetapi juga dihilangkannya kontraksi
agonis dan antagonis sehingga timbul spasme otot yang khas .
Ada dua hipotesis tentang cara bekerjanya toksin, yaitu:
a. Toksin diabsorbsi pada ujung syaraf motorik dari melalui sumbu
silindrik dibawa kekornu anterior susunan syaraf pusat.
b. Toksin diabsorbsi oleh susunan limfatik, masuk kedalam sirkulasi darah
arteri kemudian masuk kedalam susunan syaraf pusat.
Gambaran Klinik
1) Masa inkubasi 4-5 hari, beberapa minggu atau beberapa bulan
2) Adanya luka dan anaerob
3) Bakteri tetanus harus berkembang biak dan membentuk eksotoksin,
diperlukan waktu untuk pengikatan jaringan yang sensitive terhadap toksin.
4) Toksin menjalan ke seluruh badan, bakteri tetap pada luka asal, toksin
sampai susunan saraf ousat dan menyebabkan kejang pada otot, mulut susah
dibuka (toksinnya hanya menyerang susunan saraf) meskipun penderitanya
tetap sadar.
5) Kematian dapat mencapai 50%, biasanya karena kelumpuhan system
saraf pernafasan.

2.2.4 Cara penularan

Tetanus terutama ditemukan di daerah tropis dan merupakan penyakit


infeksi yang penting baik dalam prevalensinya maupun angka kematiannya
yang masih tinggi . Tetanus merupakan infeksi berbahaya yang biasa
mendatangkan kematian. Bakteri ini ditemukan di tanah dan feses manusia
dan binatang. Infeksi ini muncul (masa inkubasi) 3 sampai 14 hari. Di dalam
luka yang dalam dan sempit sehingga terjadi suasana anaerob. C. tetani
berkembang biak memproduksi tetanospasmin suatu neurotoksin yang kuat.
Toksin ini akan mencapai sistem syaraf pusat melalui syaraf motorik
menuju ke bagian anterior spinal cord. Jenis-jenis luka yang sering menjadi
tempat masuknya kuman C.tetani sehingga harus mendapatkan perawatan
khusus adalah:

- Luka-luka tembus pada kulit atau yang menimbulkan kerusakan luas


- Luka bakar tingkat 2 dan 3
- Fistula kulit atau pada sinus-sinusnya
- Luka-luka di bawah kuku
- Ulkus kulit yang iskemik
- Luka bekas suntikan narkoba
- Bekas irisan umbilicus pada bayi
- Endometritis sesudah abortus septic
- Abses gigi
- Mastoiditis kronis
- Ruptur apendiks
- Abses dan luka yang mengandung bakteri dari tinja
2.3 Pemeriksaan Clostridium tetani
2.3.1 Bahan Pemeriksaan
Terdapat beberapa bahan yang dapat digunakan untuk pemeriksaan
C.tetani diantaranya :
- PUS
- Apus luka
- Potongan kulit yang terdapat luka
- Kotoran dari jalan
2.3.2 Pemeriksaan Mikroskopis
Pemeriksaan mikroskopis merupakan pemeriksaan dibawah mikroskop
yang dapat dilakukan dengan melalui pewarnaan gram dan pewarnaan
endospora melalui Metode Schaeffer Fulton atau Metode Klien.
Pewarnaan Gram
Cara kerja :
1. Buat apusan dari kultur pada kaca objek bersih menggunakan ose
2. Fiksasi di atas nyala api
3. Warnai dengan kristal violet selama 1 menit dan cuci dengan air kran
4. Tetesi lugol dan diamkan selama 1 menit lalu cuci dengan air kran
5. Tetesi alkohol 95% selama 20-30 detik dan cuci dengan air kran
6. Warnai dengan safranin selama 1 menit
7. Cuci dengan air kran dan keringkan sediaan
8. Tetesi minyak imersi dan amati pada mikroskop perbesaran lensa
objektif 100x
Pewarnaan Endospora

A. Metode Schaeffer Fulton (Malachite Green)


Cara kerja :
1. Buat apusan dari kultur pada kaca objek bersih menggunakan ose.
2. Tutup apusan dengan kertas saring diatasnya.
3. Genangi dengan larutan Malachite Green,
4. Panaskan preparat selama 5 menit sehingga terlihat uap. Jangan
biarkan preparat mengering. Tambahkan beberapa tetes Malachite
Green selama pemanasan untuk mencegah pengeringan.
5. Biarkan preparat sampai dingin selama 1 menit.
6. Setelah dingin, buang kertas saring, kemudian cuci kelebihan zat
warna dengan air mengalir.
7. Warnai preparat dengan safranin selama 1 menit, kemudian cuci
dengan air kran.
8. Keringkan dengan kertas saring.
9. Tetesi minyak imersi dan amati pada mikroskop perbesaran lensa
objektif 100x

B. Metode Klien
Cara kerja :
1. Buat suspensi bakteri dalam NaCl fisiologis, lalu tambahkan
karbolfuksin sama banyak.
2. Panaskan campuran tersebut selama 6 menit.
3. Buat sediaan, kemudian celupkan ke dalam larutan H2SO4 1% selama
2-3 detik.
4. Cuci dengan air yang mengalir, tetesi dengan metilen blue selama 2-4
menit.
5. Cuci kembali dan keringkan dengan kertas saring.
6. Tetesi minyak imersi dan amati pada mikroskop perbesaran lensa
objektif 100x
Pewarnaan Spora
Metode Pewarnaan
Pengamatan Schaeffer Fulton Metode Klien Gram
Bentuk Batang Batang Batang
Susunan Tersebar Tersebar Tersebar
Warna bakteri Merah Biru Ungu
Warna spora Hijau Merah -
Sifat (+) spora (+) spora Gram positif

2.3.3 Isolasi Bakteri


Kultur bakteri ditanam pada media Perbenihan cair tioglikolat dan Agar
Darah. Kemudian diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37oC.
 Perbenihan cair tioglikolat
Tioglikolat adalah media penyubur, yang mengandung bahan-
bahan nutrisi seperti casein, ragi dan ekstrak daging sapi serta
vitamin untuk mempercepat pertumbuhan , bahan lain yang
ditambahkan indikator oksidasi-reduksi (resazurin), dextrose,
vitamin K1 dan hemin biasa ditambahkan pada media modifikasi
thayer martin sebagai tambahan pada media ditambahkan 0,075%
untuk mencegah pengaruh oksigen langsung terhadap larutan ,
bahan tambahan ini diberikan untuk memberikan suasasana
anaerob pada bagian dasar tabung sehingga bakteri anaerob dapat
tumbuh
 Agar darah
Agar darah merupakan media yang paling banyak digunakan unuk
penanaman bakteri yang sukar tumbuh karena pada agar darah
domba mengandung nutrisi yang dibutuhkan bakteri. Kemudian
pula koloni yang tumbuh pada media ini biasanya spesifik dan
mudah dikenali. Media pada dasarnya terdiri dari sumber
protein(pepton), protein kedelai olahan (mengandung KH),NaCl,
agar dan darah domba 5%. Bakteri penghasil enzim ekstraseluler
yang dapat melisiskan sel darah merah domba pada agar
(hemolisis). Aktifitas ini ditandai dengan adanya zona jernih
disekeliling koloni (beta hemolisis), kehijauan (alpha hemolisis)
dan untuk bakteri yang tidak menghemolisa darah tidak terjadi
perubahan pada sekeliling koloni bakteri ( gamma /non hemolisis)
Hasil pada media Agar Darah
- terbentuk beta hemolitik dengan zona yang sempit
- Ukuran koloni kecil-kecil
- Pinggiran koloni tidak beraturan
- Berwarna putih keruh /abu-abu.
- Elevasinya datar

2.3.4 Uji Biokimia


Hasil positif C.tetani sebagai berikut :

Reduksi
Glukosa Maltosa Gelatin Laktosa Indol Nitrat Sakrosa H2S
(-) (-) (+) (-) (+) (-) (-) (-)
BAB III

SIMPULAN DAN SARAN

3.1 Simpulan

Bakteri anaerob adalah bakteri yang tidak membutuhkan oksigen bebas


untuk hidupnya. Bakteri anerob terbagi atas dua yaitu bakteri anaerob
fakultatif dan bakteri anaerob obligat. Adapun spora pada bakteri yaitu bentuk
bakteri yang sedang dalam usaha melindungi (mengamankan) diri dari
pengaruh yang buruk dari luar. Contoh bakteri anaerob yang memiliki spora
adalah Clostridium tetani. Bakteri tersebut berbentuk batang lurus, gram
positif, langsing, berukuran panjang 2-5 mikron dan lebar 0,4-0,5 mikron.
C.tetani merupakan bakteri penyebab infeksi tetanus. Oleh karena itu
diperlukan pemeriksaan untuk mengidentifikasi bakteri tersebut diantaranya:
pewarnaan gram, pewarnaan endospora, isolasi media Nutrient Agar dan
Agar Darah dan biakan terhadap gula-gula.

3.2 Saran
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca agar dapat mengetahui
identifikasi C. tetani sehingga dapat melakukan pemeriksaan laboratorium
dari penyakit yang ditimbulkan oleh bakteri tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

1. http://www.artikelsiana.com/2015/05/pengertian-bakteri-aerob-anaerob-
perbedaan.html. Diakses pada Jumat, 23 Maret 2018.
2. http://etd.repository.ugm.ac.id/downloadfile/100848/potongan/D3-2016-
344778-introduction.pdf. Diakses pada Jumat, 23 Maret 2018.
3. https://erickbio.wordpress.com/2011/07/03/pewarnaan-spora-bakteri-2/.
Diakses pada Jumat, 23 Maret 2018.
4. https://herrysetyayudha.wordpress.com/tag/clostridium-tetani/.Diakses
pada Jumat, 23 Maret 2018.
5. http://www.atlm.web.id/2014/12/tabel-isolasi-dan-identifikasi-
bakteri_48.html. Diakses pada Sabtu, 24 Maret 2018
6. http://teenozhealthanalyst.blogspot.co.id/2012/05/isolasi-dan-identifikasi-
clostridium.html. Diakses pada Sabtu, 24 Maret 2018
7. http://wiki.isikhnas.com/images/1/1a/Penyakit_TETANUS.pdf. Diakses
pada Sabtu, 24 Maret 2018
8. https://mikrobia.files.wordpress.com/2008/05/i-wayan-arditayasa-
078114135.pdf. Diakses pada Sabtu, 24 Maret 2018
9. http://catatankuliah-heri.blogspot.co.id/2010/03/bakteri-aerob-dan-
anaerob.html. Diakses pada Sabtu, 24 Maret 2018
10. http://nuwrrlhiyyaa.blogspot.co.id/2013/11/makalah-clostridium-
tetani.html. Diakses pada Sabtu, 24 Maret 2018
11. http://andre4088.blogspot.com/2012/02/spora-bakteri.html. Diakses pada
Sabtu, 24 Maret 2018