Anda di halaman 1dari 18

EROSI TANAH & DAMPAKNYA BAGI KEHIDUPAN

Erosi Tanah & Dampaknya dalam kehidupan


Erosi adalah terangkatnya lapisan tanah atau sedimen karena gerakan angin atau air pada
permukaan tanah atau dasar perairan. Erosi yang terjadi dipengaruhi oleh faktor alam secara
alami maupun oleh adanya tindakan dari manusia yang berusaha untuk mengolah tanah dan
lingkungan demi kepentingannya.

A. Erosi tanah

Erosi tanah adalah tanah yang lapuk & mudah mengalami penghancuran . kerusakan yang
dialami pada tanah tempat erosi disebabkan oleh kemunduran sifat-sifat kimia dan fisik tanah.
yaitu :

1. Kehilangan unsur hara dan bahan organik.


2. Menurunnya kapasitas infiltrasi(kemampuan tanah untuk meresapkan air) dan kemampuan
tanah menahan air.
3. Meningkatnya kepadatan dan ketahanan penetrasi tanah.
4. Berkurangnya kemantapan struktur tanah yang pada akhirnya menyebabkan memburuknya
pertumbuhan tanaman dan menurunnya produktifitas.
Semua hal tersebut diatas dikarenakan lapisan atas tanah setebal 15 cm mempunyai sifat-sifat
kimia dan fisik yang lebih baik dibandingkan lapisan lebih bawah. Banyaknya unsur hara yang
hilang bergantung pada besarnya kandungan unsur hara yang terbawa oleh sedimen dan besarnya
erosi yang terjadi.
Di beberapa tempat, erosi menyebabkan hilangnya lapisan atas tanah yang subur serta
berkurangnya kemampuan tanah untuk menyerap dan menahan air. Tanah yang terangkut
tersebut diendapkan di tempat lain, yaitu : di dalam sungai, waduk, danau, saluran irigasi, dan
diatas tanah pertanian.

Adapun penyebab utama erosi tanah :


Tanah gundul
Tanah miring tidak di buat terasering/gulungan penyangga air.
Tanah tidak dibuat tanggul pasangan penahan erosi.
Penambangan
eksploitasi hutan,
pengerukan tanah
selain itu, faktor-faktor penyebab erosi antara lain :
Iklim
Iklim dapat mempengaruhi erosi oleh karena menentukan indeks erosifitas hujan. Selain itu,
komponen iklim yaitu curah hujan dapat mempengaruhi laju erosifitas secara terus menerus
sesuai intensitas hujan yang terjadi.

Tanah
Sedang tanah dengan sifat-sifatnya itu dapat menentukan besar kecilnya laju pengikisan (erosi)
dan dinyatakan sebagai faktor erodibilitas tanah (kepekaan tanah terhadap erosi atau ketahanan
tanah terhadap adanya erosi).

Topografi
Kemampuan tanah terbawa air erosi dipengaruhi oleh topografi suatu wilayah. Kondisi wilayah
yang dapat menghanyutkan tanah sebagai sedimen erosi secara cepat adalah wilayah yang
memiliki kemiringan lereng yang cukup besar. Sedangkan pada wilayah yang landai akan kurang
intensif laju erosifitasnya, karena lebih cenderung untuk terjadi penggenangan.

Tanaman Penutup Tanah


Tanaman penutup tanah (vegetasi) berperan untuk menjaga agar tanah lebih aman dari percikan-
percikan yang terjadi akibat jatuhnya air hujan ke permukaan tanah. Selain melindungi dari
timpaan titik-titik hujan, vegetasi juga berfungsi untuk memperbaiki susunan tanah dengan
bantuan akar-akar yang menyebar.

Manusia
Manusia dapat berperan sebagai penyebab cepatnya laju erosi maupun menekan laju erosi.
Dalam proses mempercepat erosi, manusia banyak melakukan kesalahan dalam pengelolaan
lingkungan, seperti penambangan, eksploitasi hutan, pengerukan tanah, dan lain sebagainya.
Sedangkan dalam penanggulangan laju erosi, manusia dapat melakukan evaluasi konservasi
lahan dengan cara reboisasi, pembuatan terasering pada areal pertanian,dan lain-lain.

B. Dampak Erosi Tanah :

 menipisnya lapisan permukaan tanah bagian atas, yang akan menyebabkan menurunnnya
kemampuan lahan (degradasi lahan).
 menurunnya kemampuan tanah untuk meresapkan air (infiltrasi).
 Pelumpuran dan pendangkalan waduk
 Tertimbunnya lahan pertanian dan bangunan.
 Memburuknya kualitas air,
 Kerugian ekosistem perairan.
 perubahan struktur tanah,
 serta perubahan profil tanah.

Apakah penyebab & dampak erosi tanah?


Bumbata | Buka Mata Buka Telinga

Erosi tanah adalah proses pelepasan atau pelapukan partikel-partikel tanah oleh berbagai
penyebab.

Erosi menyebabkan tanah menjadi tandus sehingga tidak dapat ditanami. Proses erosi berpotensi
dipercepat oleh campur tangan manusia.

Erosi yang amat parah membuat tanah tidak produktif sehingga tidak ada vegetasi yang bisa
tumbuh.

Tidak adanya vegetasi akan memicu kekeringan dan curah hujan rendah. Secara keseluruhan,
siklus alam akan terganggu akibat terjadinya erosi.

Penyebab Erosi Tanah

Kecepatan aliran sungai yang tinggi merupakan salah satu penyebab utama erosi di lembah
sungai dan daerah pesisir.

Tanah yag dilalui aliran sungai atau termasuk area banjir sungai menjadi terkikis. Sedimen ini
kemudian ikut terbawa aliran sungai hingga ke hilir.

Angin merupakan agen penyebab erosi di padang pasir dan lahan kering. Angin memiliki
kemampuan mengikis batu, tanah, dll dan memindahkannya ke zona yang berbeda.

Erosi tanah juga dapat disebabkan oleh gletser dan es. Partikel tanah bisa terkikis bersama
dengan pergerakan gletser. Jenis erosi ini biasanya terjadi di wilayah yang tertutup es atau di
dataran tinggi.

Faktor lain yang mempengaruhi erosi tanah adalah suhu, kecepatan angin, dan tingkat curah
hujan di wilayah tertentu.
Daerah yang memiliki iklim panas dan lembab, kecepatan angin tinggi dan tingkat curah hujan
sangat rendah rentan terhadap erosi tanah.

Penggembalaan ternak, penebangan hutan, dan kegiatan konstruksi turut menyumbang terhadap
terjadinya erosi.

Dampak Erosi Tanah

Erosi tanah menyebabkan pengembangan struktur topologi baru karena pengendapan partikel
tanah.

Tanah yang tererosi akan mengakibatkan penurunan produktivitas dan kesuburan tanah.

Akibat erosi, kadar air dan kandungan berbagai mineral dan nutrisi tanah akan sangat berkurang.

Pada ak

Pencemaran tanah
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Belum Diperiksa

Langsung ke: navigasi, cari

Pencemaran tanah adalah keadaan dimana bahan kimia buatan manusia masuk dan mengubah
lingkungan tanah alami. Pencemaran ini biasanya terjadi karena: kebocoran limbah cair atau
bahan kimia industri atau fasilitas komersial; penggunaan pestisida; masuknya air permukaan
tanah tercemar ke dalam lapisan sub-permukaan; kecelakaan kendaraaan pengangkut minyak, zat
kimia, atau limbah; air limbah dari tempat penimbunan sampah serta limbah industri yang
langsung dibuang ke tanah secara tidak memenuhi syarat (illegal dumping).

Ketika suatu zat berbahaya/beracun telah mencemari permukaan tanah, maka ia dapat menguap,
tersapu air hujan dan atau masuk ke dalam tanah. Pencemaran yang masuk ke dalam tanah
kemudian terendap sebagai zat kimia beracun di tanah. Zat beracun di tanah tersebut dapat
berdampak langsung kepada manusia ketika bersentuhan atau dapat mencemari air tanah dan
udara di atasnya.

Paparan kronis (terus-menerus) terhadap benzena pada konsentrasi tertentu dapat meningkatkan
kemungkinan terkena leukemia.
Daftar isi

 1 Pada kesehatan
 2 Penanganan
o 2.1 Remediasi
o 2.2 Bioremediasi
 3 Pranala luar

Pada kesehatan

Dampak pencemaran tanah terhadap kesehatan tergantung pada tipe polutan, jalur masuk ke
dalam tubuh dan kerentanan populasi yang terkena. Kromium, berbagai macam pestisida
dan herbisida merupakan bahan karsinogenik untuk semua populasi. Timbal sangat
berbahaya pada anak-anak, karena dapat menyebabkan kerusakan otak, serta kerusakan
ginjal pada seluruh populasi. Kuri (air raksa) dan siklodiena dikenal dapat menyebabkan
kerusakan ginjal, beberapa bahkan tidak dapat diobati. PCB dan siklodiena terkait pada
keracunan hati. Organofosfat dan karmabat dapat dapat menyebabkan ganguan pada saraf otot.
Berbagai pelarut yang mengandung klorin merangsang perubahan pada hati dan ginjal serta
penurunan sistem saraf pusat. Terdapat beberapa macam dampak kesehatan yang tampak seperti
sakit kepala, pusing, letih, iritasi mata dan ruam kulit untuk paparan bahan kimia yang disebut di
atas. Yang jelas, pada dosis yang besar, pencemaran tanah dapat menyebabkan kematian.

Pencemaran tanah juga dapat memberikan dampak terhadap ekosistem[1]. Perubahan kimiawi
tanah yang radikal dapat timbul dari adanya bahan kimia beracun/berbahaya bahkan pada dosis
yang rendah sekalipun. Perubahan ini dapat menyebabkan perubahan metabolisme dari
mikroorganisme endemik dan antropoda yang hidup di lingkungan tanah tersebut. Akibatnya
bahkan dapat memusnahkan beberapa spesies primer dari rantai makanan, yang dapat memberi
akibat yang besar terhadap predator atau tingkatan lain dari rantai makanan tersebut. Bahkan jika
efek kimia pada bentuk kehidupan terbawah tersebut rendah, bagian bawah piramida makanan
dapat menelan bahan kimia asing yang lama-kelamaan akan terkonsentrasi pada makhluk-
makhluk penghuni piramida atas. Banyak dari efek-efek ini terlihat pada saat ini, seperti
konsentrasi DDT pada burung menyebabkan rapuhnya cangkang telur, meningkatnya tingkat
kematian anakan dan kemungkinan hilangnya spesies tersebut.

Dampak pada pertanian terutama perubahan metabolisme tanaman yang pada akhirnya dapat
menyebabkan penurunan hasil pertanian. Hal ini dapat menyebabkan dampak lanjutan pada
konservasi tanaman dimana tanaman tidak mampu menahan lapisan tanah dari erosi. Beberapa
bahan pencemar ini memiliki waktu paruh yang panjang dan pada kasus lain bahan-bahan kimia
derivatif akan terbentuk dari bahan pencemar tanah utama.

Penanganan

Remediasi
Remediasi adalah kegiatan untuk membersihkan permukaan tanah yang tercemar. Ada dua jenis
remediasi tanah, yaitu in-situ (atau on-site) dan ex-situ (atau off-site). Pembersihan on-site adalah
pembersihan di lokasi. Pembersihan ini lebih murah dan lebih mudah, terdiri dari pembersihan,
venting (injeksi), dan bioremediasi.

Pembersihan off-site meliputi penggalian tanah yang tercemar dan kemudian dibawa ke daerah
yang aman. Setelah itu di daerah aman, tanah tersebut dibersihkan dari zat pencemar. Caranya
yaitu, tanah tersebut disimpan di bak/tanki yang kedap, kemudian zat pembersih dipompakan ke
bak/tangki tersebut. Selanjutnya zat pencemar dipompakan keluar dari bak yang kemudian diolah
dengan instalasi pengolah air limbah. Pembersihan off-site ini jauh lebih mahal dan rumit.

Bioremediasi

Bioremediasi adalah proses pembersihan pencemaran tanah dengan menggunakan


mikroorganisme (jamur, bakteri). Bioremediasi bertujuan untuk memecah atau mendegradasi zat
pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun (karbon dioksida dan air).
Menurut Dr. Anton Muhibuddin, salah satu mikroorganisme yang berfungsi sebagai
bioremediasi adalah jamur vesikular arbuskular mikoriza (vam). Jamur vam dapat berperan
langsung maupun tidak langsung dalam remediasi tanah. Berperan langsung, karena
kemampuannya menyerap unsur logam dari dalam tanah dan berperan tidak langsung karena
menstimulir pertumbuhan mikroorganisme bioremediasi lain seperti bakteri tertentu, jamur dan
sebagainya.

Latar Belakang

Ketergantungan manusia terhadap sumberdaya tanah terus meningkat. Hal ini menyebabkan
terjadinya peningkatan tekanan penduduk terhadap lingkungan tanpa memperhatikan
kemampuan lingkungan itu sendiri. Keadaan ini akan mendorong kemerosotan sumberdaya
tanah baik mutu maupun jumlahnya. Gejala fisik yang nampak jelas di tempat kejadian (on site)
adalah semakin tipisnya lapisan tanah, sehingga kemampuan fungsi tanah sebagai media tumbuh
tanaman dan media pengatur daur air menjadi terbatas yang pada akhirnya kemunduran
kemampuan lingkungan tidak dapat terhindarkan.

Beberapa fungsi tanah yang dapat dikemukakan yaitu antara lain sumber unsur hara, sumber air,
penyedia udara, landasan tumbuh bagi tanaman, tempat hidup bagi hewan dan manusia, tempat
dikuburkannya manusia, sebagai bahan urugan perumahan dan jalan, tempat mendirikan
bangunan, sanitasi lingkungan (penyaring, penyangga, dan alihrupa), dan bahan pembuat
manusia pertama (Adam). Sebagian dari fungsi tanah tersebut yaitu sumber unsur hara, sumber
air, penyedia udara, dan landasan tumbuh bagi tanaman lebih berorientasi pada media tumbuh
tanaman (pertanian), sehingga di sini pembahasannya ditekankan pada hal-hal tersebut.
Dalam Undang-undang Pengelolaan Lingkungan Hidup (UULH) No.23 Tahun 1997 Bab II Pasal
3 dinyatakan bahwa: "Pengelolaan lingkungan hidup yang diselenggarakan dengan asas
tanggung jawab negara, asas berkelanjutan, dan asas manfaat bertujuan untuk mewujudkan
pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup dalam rangka pembangunan
manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya yang beriman
dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa". Sedangkan dalam penjelasannya dinyatakan
bahwa: "... Asas berkelanjutan mengandung makna setiap orang memikul kewajibannya dan
tanggung jawab terhadap generasi mendatang, dan terhadap sesamanya dalam satu generasi.
Untuk terlaksananya kewajiban dan tanggung jawab tersebut, maka kemampuan lingkungan
hidup harus dilestarikan. Terlestarikannya kemampuan lingkungan hidup menjadi tumpuan
terlanjutkannya pembangunan". Karena itu, dalam mengelola sumberdaya alam harus
diupayakan untuk melestarikan kemampuan lingkungan.

Namun demikian, lingkungan hidup yang lestari tentunya tidak mungkin diwujudkan secara
fisik, tetapi yang dapat dilestarikan hanyalah fungsi dari lingkungan hidup itu sendiri. Hal ini
sesuai dengan bunyi UULH No.23 Tahun 1997 Bab I Pasal 1 yaitu bahwa: "Pengelolaan
lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang
meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan,
pengawasan, dan pengendalian lingkungan hidup".

Sumberdaya alam yang utama adalah air dan tanah. Salah satu faktor yang turut mempercepat
kemerosotan kemampuan sumberdaya alam yaitu terjadinya erosi. Timbulnya erosi akan
menurunkan kemampuan fungsi lingkungan, baik sebagai media pengendali tata air, media
pertumbuhan tanaman yang nantinya akan berpengaruh pula terhadap makhluk hidup yang
memanfaatkannya.

Sebagian besar daerah-daerah di Indonesia yang beriklim tropika mempunyai rata-rata curah
hujan dan intensitas hujan yang relatif tinggi serta didukung kondisi topografi yang berbukit-
bukit merupakan salah satu pemacu timbulnya proses erosi. Bahaya erosi ini akan semakin
mengkhawatirkan, apabila di dalam mengelola sumberdaya alam tanpa memperhatikan kaidah
konservasi sumberdaya alam khususnya sumberdaya tanah, sehingga secara langsung maupun
tidak langsung akan berpengaruh terhadap kelestarian kemampuan fungsi lingkungan. Upaya
pelestarian ini salah satunya adalah melalui pengendalian erosi tanah di setiap tipe penggunaan
lahan (Rahim, S.E., 1995). Untuk itu usaha pengendalian erosi secara tepat perlu dilakukan
dalam upaya melestarikan kemampuan fungsi lingkungan.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Erosi

Erosi merupakan suatu proses hilangnya lapisan tanah, baik disebabkan oleh pergerakan air
maupun angin (Foth, 1995, halaman 665-666). Di daerah beriklim tropika basah, seperti sebagian
besar daerah di Indonesia, air hujan merupakan penyebab utama terjadinya erosi sehingga di sini
pembahasannya dibatasi erosi tanah yang disebabkan oleh air.
Menurut Arsyad S. (1989, halaman 30), erosi adalah peristiwa pindahnya atau terangkutnya
tanah atau bagian-bagian tanah dari suatu tempat ke tempat lain oleh media alami. Pada peristiwa
erosi, tanah atau bagian-bagian tanah dari suatu tempat terkikis dan terangkut yang kemudian
diendapkan pada suatu tempat lain. Pengangkutan atau pemindahan tanah tersebut terjadi oleh
media alami yaitu antara lain air atau angin. Erosi oleh angin disebabkan oleh kekuatan angin,
sedangkan erosi oleh air ditimbulkan oleh kekuatan air.

Kekuatan perusak air yang mengalir di atas permukaan tanah akan semakin besar dengan
semakin panjangnya lereng permukaan tanah. Tumbuhan-tumbuhan yang hidup di atas
permukaan tanah dapat memperbaiki kemampuan tanah menyerap air dan memperkecil kekuatan
butir-butir perusak hujan yang jatuh, serta daya dispersi dan angkutan aliran air di atas
permukaan tanah. Perlakuan atau tindakan-tindakan yang diberikan manusia terhadap tanah dan
tumbuh-tumbuhan di atasnya akan menentukan kualitas lahan tersebut.

Berdasarkan asasnya dapat disimpulkan bahwa erosi merupakan akibat interaksi antara faktor-
faktor iklim, topografi, tumbuh-tumbuhan, dan campur tangan manusia (pengelolaan) terhadap
lahan, yang secara deskriptif dinyatakan dalam persamaan seperti di bawah ini :

E = f (i, r, v, t, m)
E = besarnya erosi,

i = iklim,

r = topografi,

v = tumbuh-tumbuhan,

t = tanah,

m = manusia.

Persamaan tersebut di atas mempunyai makna dua jenis peubah, yaitu: 1) Faktor yang dapat
diubah oleh manusia, seperti; tumbuh-tumbuhan, sifat-sifat tanah, dan satu unsur topografi yaitu
panjang lereng, 2) Faktor yang tidak dapat diubah oleh manusia yaitu; iklim, tipe tanah, dan
kecuraman lereng.

Dampak Erosi

Secara garis besar kerusakan yang timbul akibat adanya erosi tanah yaitu penurunan kesuburan
tanah dan timbulnya pendangkalan akibat proses sedimentasi (Wudianto R., 1989, halaman 11 -
13).
Tanah yang subur umumnya terdapat pada lapisan tanah atas atau permukaan (top soil), sedang
lapisan tanah bawah (sub soil) dapat dikatakan kurang subur. Apabila terjadi hujan dan dapat
menimbulkan erosi, maka lapisan tanah ataslah yang akan terkikis kemudian terbawa oleh aliran
air. Dengan terangkutnya lapisan tanah atas, maka tertinggal lapisan tanah bawah yang kurang
subur. Kemudian jika tanah tersebut ditanami, maka tanaman tidak akan dapat tumbuh subur dan
hasilnya akan berkurang. Dengan berkurangnya hasil panen akan mengurangi pendapatan petani.

Seperti telah dijelaskan di atas bahwa proses terjadinya erosi adalah terkikisnya butir-butir tanah,
kemudian dengan adanya aliran air butir-butir tanah terangkut sampai tidak mampu lagi
mengangkut butir-butir tanah, maka tanah tersebut diendapkan. Pengendapan ini akan terjadi
pada daerah yang lebih rendah, misalnya: sungai, waduk, saluran-saluran pengairan dan laut.

Pengendapan di sungai akan mengakibatkan pendangkalan yang dapat mengurangi kemampuan


sungai untuk menampung air sehingga pada musim penghujan biasanya akan terjadi banjir.
Pendangkalan sungai dapat mengganggu lalu lintas pelayaran kapal. Seperti diketahui bahwa
sejarah telah membuktikan dulu sungai-sungai di Jawa masih dapat dilewati kapal, namun
sekarang sudah tidak ada lagi sehingga tinggal sungai-sungai yang ada di luar pulau Jawa yang
dapat dilalui kapal-kapal.

Sebagai akibat pendangkalan sungai ini dapat merembet ke laut, karena aliran air sungai
bermuara ke laut. Sekarang banyak pelabuhan yang mengalami pendangkalan. Dengan terjadinya
pendangkalan di pelabuhan, maka kapal-kapal besar akan mengalami kesulitan untuk merapat.

Pendangkalan di waduk juga sulit untuk dihindarkan. Dengan makin dangkalnya waduk dapat
mengurangi umur waduk. Artinya, daya guna waduk yang semula diperkirakan dapat lama,
ternyata baru beberapa tahun saja sudah tidak berfungsi lagi. Sebagai contoh waduk Gajah
Mungkur di Wonogiri, Jawa Tengah. Waduk ini diperkirakan dapat mencapai umur 100 tahun
ternyata setelah diteliti karena adanya sedimentasi maka hanya dapat mencapai lebih kurang 27
tahun.

Menurut Arsyad (1989, halaman 3 - 4), dampak erosi tanah terhadap lingkungan dapat
dikelompokkan menjadi dua, yaitu bentuk dampak langsung maupun tidak langsung yang dikaji
di tempat kejadian erosi maupun di luar tempat berlangsungnya erosi, seperti terlihat pada Tabel
1.

Tabel 1. Dampak Erosi Tanah.

Bentuk Dampak Dampak di Tempat Kejadian Dampak di Luar Tempat

Erosi Kejadian Erosi

1. Langsung - Kehilangan lapisan tanah yang - Pelumpuran dan pendangkalan


baik bagi berjangkarnya akar waduk, sungai, saluran dan badan
tanaman air lainnya

- Kehilangan unsur hara dan - Tertimbunnya lahan pertanian,


kerusakan struktur tanah jalan dan bangunan lainnya

- Peningkatan penggunaan energi - Menghilangnya mata air dan


untuk produksi memburuknya kualitas air

- Kemerosotan produktivitas - Kerusakan ekosistem perairan


tanah atau bahkan menjadi tidak (tempat bertelur ikan, terumbu
dapat dipergunakan untuk karang dan sebagainya)
berproduksi

- Kerusakan bangunan konservasi - Kehilangan nyawa dan harta oleh


dan bangunan lainnya banjir

- Pemiskinan petani penggarap/ - Meningkatnya frekuensi dan masa


pemilik tanah kekeringan

2. Tidak Langsung - Berkurangnya alternatif - Kerugian oleh memendeknya


penggunaan tanah umur waduk

- Timbulnya dorongan/ tekanan - Meningkatnya frekuensi dan


untuk membuka lahan baru besarnya banjir

- Timbulnya keperluan akan


perbaikan lahan dan bangunan
yang rusak

Sumber: Arsyad S. (1989)

Mengingat bahaya erosi yang merugikan bagi lingkungan, sejak beberapa tahun yang lampau
manusia telah menyadari dan melakukan berbagai usaha pencegahan (pengendalian) erosi.

Klasifikasi Erosi Tanah

Atas dasar intensitas campur tangan manusia, erosi dibedakan antara erosi alami atau erosi
geologi (geological erosion) dan erosi dipercepat (accelarated erosion) (Arsyad S., 1989,
halaman 30). Erosi geologi terjadi secara alami pada tanah yang masih tertutup vegetasi secara
alami, dan biasanya berjalan sangat lambat. Dalam kondisi seperti ini, jumlah tanah terangkut
sangat sedikit, dan baru akan meningkat jika terjadi bencana alam yang berakibat tanah jadi
terbuka. Erosi dipercepat terjadi karena manusia membuka tanah dengan membuang vegetasi
baik sebagian maupun seluruhnya, yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
(tempat tinggal, industri, usaha tani, dan lain-lain). Proses erosi ini akan berjalan dengan cepat,
terlebih di daerah yang mempunyai potensi erosi dan tanpa usaha pengendalian.

Erosi yang terjadi dapat dibedakan berdasarkan produk akhir yang dihasilkan proses itu sendiri.
Erosi juga dapat dibedakan karena kenampakan lahan akibat erosi itu sendiri. Atas dasar itu erosi
dibedakan yaitu : 1) erosi percikan (splash erosion), 2) erosi lembar (sheet erosion), 3) erosi alur
(rill erosion), 4) erosi parit (gully erosion), 5) erosi tanah longsor (land slide), 6) erosi pinggir
sungai (stream bank erosion) (Rahim S.E., 1995, halaman 33 - 34).

Erosi percikan terjadi pada awal hujan. Intensitas erosi percikan meningkat dengan adanya air
genangan tetapi setelah terjadi genangandengan kedalaman tiga kali ukuran butir hujan, erosi
percikan minimum. Pada saat inilah proses erosi lembaran dimulai. Erosi lembar akan dapat
ditemukan secara jelas di daerah yang relatif seragam permukaannya.

Erosi alur dimulai dengan adanya konsentrasi limpasan permukaan. Konsentrasi yang besar akan
mempunyai daya rusak yang besar. Bila ukuran alur sudah sangat besar, tidak dapat dihilangkan
hanya dengan melakukan pembajakan biasa, atau alur tersebut berhubungan langsung dengan
saluran pembuangan utama, maka erosi yang terjadi telah memenuhi kategori erosi parit.
Sedangkan erosi tanah longsor ditandai dengan bergeraknya sejumlah massa tanah secara
bersama-sama. Hal ini disebabkan karena kekuatan geser tanah sudah tidak mampu untuk
menahan beban massa tanah jenuh air di atasnya. Kejadian ini terutama terjadi pada lapisan
tanah atas dangkal yang terletak lepas di batuan atau lapisan tanah tidak tembus air
(impermeable). Adapun erosi pinggir sungai yang mirip erosi tanah longsor mengikis pinggir
sungai-sungai yang karena sesuatu hal mengalami longsor terutama bila pinggir sungai itu
vegetasi alaminya ditebang dan diganti dengan tanaman baru.

Batas Toleransi Erosi

Sebagai sumber daya yang banyak digunakan, tanah dapat mengalami pengikisan (erosi) akibat
bekerjanya gaya-gaya dari agen penyebab, misalnya air hujan, angin dan/atau hujan. Jadi, secara
alamiah tanah mengalami pengikisan atau erosi (Rahim S.E., 1995).

Erosi dipercepat yang disebabkan oleh manusia, masih dianggap aman jika tidak melewati suatu
batas toleransi (soil loss tolerance atau permisible erosion). Banyak pendapat para pakar erosi
yang mengemukakan besarnya batas toleransi erosi, yang masing-masing berbeda tergantung
dari faktor lingkungan di sekitarnya. Secara khusus, penelitian batas toleransi erosi untuk tanah-
tanah di Indonesia sampai saat ini belum ada. Oleh Arsyad (1989, halaman 237 - 244),
dianjurkan untuk mempergunakan batas toleransi erosi yang dikemukakan oleh Thompson
(1957), seperti terlihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Pedoman Penetapan Nilai T (batas toleransi erosi) (Thompson, 1957)

Sifat Tanah dan Substratum Nilai T


Ton/acre/tahun Ton/ha/tahun

1. Tanah dangkal di atas batuan 0,5 1,12

2. Tanah dalam, di atas batuan 1,0 2,24

3. Tanah dengan lapisan bawahnya (subsoil) padat,

di atas substrata yang tidak terkonsolidasi (telah

mengalami pelapukan) 2,0 4,48

4. Tanah dengan lapisan bawahnya


berpermeabilitas

lambat, di atas bahan yang tidak terkonsolidasi 4,0 8,96

5. Tanah dengan lapisan bawahnya


berpermeabilitas

sedang, di atas bahan yang tidak terkonsolidasi 5,0 11,21

6. Tanah yang lapisan bawahnya permeabel (agak

cepat), di atas bahan yang tidak terkonsolidasi 6,0 13,45

Dengan menggunakan kriteria yang dipergunakan oleh Thompson (1957), dengan menentukan T
maksimum untuk tanah yang dalam, dengan lapisan bawah yang permeabel, di atas bahan
(substratum) yang telah malapuk (tidak terkonsolidasi) sebesar 2,5 mm/tahun, dan dengan
menggunakan nisbah nilai untuk berbagai sifat dan stratum tanah, maka nilai T seperti tertera
pada Tabel 3 disarankan untuk menjadi pedoman penetapan nilai T tanah-tanah di Indonesia.

Tabel 3. Pedoman Penetapan Nilai T Untuk Tanah-tanah di Indonesia.

Sifat Tanah dan Substratum Nilai T


mm/tahun

1. Tanah sangat dangkal di atas batuan 0,0


2. Tanah sangat dangkal di atas bahan telah melapuk (tidak 0,4
terkonsolidasi)

3. Tanah dangkal di atas bahan telah melapuk 0,8

4. Tanah dengan kedalaman sedang di atas bahan telah melapuk 1,2

5. Tanah yang dalam dengan lapisan bawah yang kedap air di atas 1,4
substrata yang telah melapuk

6. Tanah yang dalam dengan lapisan bawah berpermeabilitas 1,6


lambat, di atas substrata telah melapuk

7. Tanah yang dalam dengan lapisan bawahnya berpermeabilitas 2,0


sedang, di atas substrata telah melapuk

8. Tanah yang dalam dengan lapisan bawah yang permeabel, di 2,5


atas substrata telah melapuk

Catatan :

Kedalaman tanah efektif yaitu kedalaman tanah yang baik bagi pertumbuhan akar tanaman, yaitu
sampai pada lapisan yang tidak dapat ditembus akar tanaman. Kriterianya : > 90 cm = dalam,

50 - 90 cm = sedang,
25 - 50 cm = dangkal,
< 25 cm = sangat dangkal.

Persamaan USLE (Universal Soil Loss Equation)

Lahan pertanian yang terus menerus ditanami tanpa cara pengelolaan tanaman, tanah dan air
yang baik dan tepat, terutama di daerah pertanian dengan curah hujan yang tinggi (> 1500 mm
per tahun) akan menurunkan produktivitasnya. Penurunan produktivitas ini secara lambat atau
cepat dapat disebabkan oleh menurunnya kesuburan tanah dan terjadinya erosi (Syah, R., 1995).

Bahaya erosi ini banyak terjadi di daerah-daerah lahan kering terutama yang memiliki
kemiringan lereng sekitar 15 persen atau lebih. Keadaan ini sebagai akibat dari pengelolaan
tanah dan air yang keliru atau penerapan pola pertanian yang tidak sesuai dengan kemampuan
fungsi lingkungannya.

Tanah dan air merupakan dua sumber daya alam yang utama, peka terhadap berbagai kerusakan
(degradasi). Kerusakan air berupa hilangnya sumber air dan menurunnya kualitas air antara lain
disebabkan oleh proses sedimentasi yang bersumber pada kerusakan tanah oleh erosi. Di daerah
tropika basah kerusakan tanah yang paling utama dan semakin kritis adalah disebabkan oleh
erosi tanah.

Kerusakan tanah yang kadang-kadang sampai pada tingkat kritis seperti penurunan produktivitas
tanah, banjir yang terjadi setiap tahun, merosotnya debit air sungai di musim kemarau dan
meningkatnya kandungan lumpur atau bahan organik pada musim hujan merupakan tanda-tanda
kerusakan sumberdaya alam di suatu wilayah .

Laju erosi yang menyatakan banyaknya lapisan tanah yang hilang dari suatu tempat karena
proses erosi, merupakan salah satu indikator kecepatan proses perusakan. Perhitungan laju erosi
dapat dilakukan secara nisbi (relatif), yaitu berdasarkan nilai bahaya atau besarnya nilai faktor-
faktor yang mempengaruhi erosi. Perkiraan atau prediksi besarnya laju erosi yang mungkin
terjadi di lapangan dapat ditentukan antara lain dengan menggunakan metode Wischmeier dan
Smith (1978) yang dikenal dengan Persamaan Umum Kehilangan Tanah (PUKT) atau dalam
bahasa Inggris Universal Soil Loss Equation (USLE) , yaitu sebagai berikut :

A=RxKxLxSxCxP

A adalah banyaknya tanah tererosi (ton/ha/tahun),

R adalah faktor curah hujan dan aliran permukaan, yaitu jumlah satuan indeks erosi hujan, yang
merupakan perkalian antara energi hujan total (E) dengan intensitas hujan maksimum 30 menit
(I30 ), tahunan,

K adalah faktor erodibilitas (kepekaan) tanah, yaitu laju erosi per indeks erosi hujan � untuk
suatu tanah yang didapat dari petak percobaan standar, yaitu petak percobaan yang panjangnya
22 meter (72,6 kaki) terletak pada lereng 9 % tanpa tanaman,

L adalah faktor panjang lereng, yaitu nisbah antara besarnya erosi dari tanah dengan suatu
panjang lereng tertentu terhadap erosi dari tanah dengan panjang lereng 22 meter (72,6 kaki) di
bawah keadaan yang identik,

S adalah faktor kemiringan/kecuraman lereng, yaitu nisbah antara besarnya erosi yang terjadi
dari suatu tanah dengan kemiringan lereng tertentu, terhadap besarnya erosi dari tanah dengan
lereng 9 % di bawah keadaan yang identik,

C adalah faktor vegetasi penutup tanah dan pengelolaan tanaman, yaitu nisbah antara besarnya
erosi dari suatu areal dengan vegetasi penutup dan pengelolaan tanaman tertentu terhadap
besarnya erosi dari tanah yang identik tanpa tanaman,
P adalah faktor tindakan khusus konservasi tanah, yaitu nisbah antara besarnya erosi dari tanah
yang diberi perlakuan tindakan konservasi khusus seperti pengolahan tanah menurut kontur,
penanaman dalam strip atau teras terhadap besarnya erosi dari tanah yang diolah searah lereng
dalam keadaan yang identik.

Metode Pengendalian Erosi

Usaha pengendalian erosi pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi 3 metode, yaitu :

1. Metode Vegetatif

Metode ini mempergunakan tumbuhan atau tanaman dan sisa-sisanya untuk mengurangi daya
rusak hujan yang jatuh, jumlah dan daya rusak aliran permukaan. Fungsi tumbuhan dalam
metode ini untuk : a) melindungi tanah dari daya perusak butir-butir hujan, b) melindungi tanah
dari aliran permukaan, dan c) memperbaiki kapasitas infiltrasi tanah dan penahanan air yang
akan mempengaruhi besarnya aliran permukaan. Termasuk dalam metode vegetatif ini
diantaranya; budidaya tanaman semusim (jagung, kacang tanah, dan lain-lain) secara musiman
atau tanaman permanen, penanaman dalam strip cropping, pergiliran tanaman, sistem pertanian
hutan (agro forestry), pemanfaatan sisa tanaman.

2. Metode Mekanik

Metode mekanik adalah semua perlakuan fisik mekanis yang diberikan terhadap tanah dan
pembuatan bangunan untuk mengurangi aliran permukaan dan erosi, serta meningkatkan
kemampuan penggunaan tanah. Metode mekanik dalam pengendalian erosi berfungsi: a)
memperlambat aliran permukaan, b) menampung dan menyalurkan aliran permukaan dengan
kekuatan yang tidak merusak, c) memperbaiki atau memperbesar infiltrasi air ke dalam tanah dan
memperbaiki aerasi tanah, serta d) menyediakan air bagi tanaman. Termasuk dalam metode
mekanik adalah pengolahan tanah (tillage), pengolahan tanah menurut kontur (contour
cultivation), guludan dan guludan bersaluran menurut kontur, teras (teras bangku, teras
berlereng), dam penghambat (check dam, waduk, rorak, tanggul), dan perbaikan drainase.

3. Metode Kimiawi

Metode kimia dalam pengendalian erosi menggunakan preparat kimia sintetis atau alami. Metode
ini sering dikenal dengan sebutan soil conditioner, yang bertujuan memperbaiki struktur tanah.
Beberapa contoh soil conditioner yaitu; PVA (Polyvinyl alcohol), PAA (Poly acrylic acid),
VAMA (Vinyl acetate malcic acidcopolymer), DAEMA (Dimethyl amino ethyl metacrylate), dan
Emulsi Bitumen.

Sering pula dilakukan pengendalian erosi dengan mengkombinasikan dari dua metode
pengendalian erosi atau bahkan ketiga metode tersebut di atas digunakan secara bersamaan
dalam usaha mengendalikan erosi.
Penutup

Setiap usaha pengendalian erosi tanah mempunyai nilai keuntungan ekonomis yang berbeda,
serta mempunyai kemampuan yang berbeda pula dalam menekan laju erosi. Selain macam
tanaman, sistem pengelolaan dan metode pengendalian yang digunakan berpengaruh terhadap
besarnya laju erosi.

Dari kenyataan ini, maka dapat disusun berbagai alternatif pemilihan usaha pengendalian erosi
tanah berdasarkan keuntungan dan risiko besarnya erosi yang mungkin terjadi. Selanjutnya para
pengelola sumberdaya (misal: petani) dapat diarahkan agar bersedia untuk memilih tanaman dan
metode pengendalian erosi yang mampu memberi keuntungan cukup tinggi serta risiko
timbulnya erosi serendah-rendahnya.

Faktor penyebab terjadinya erosi tanah

09.40 No comments

kali ini angga febriantoro akan membahas tentang Faktor dan penyebab terjadinya erosi tanah
dimana erosi merupakan penyebab utama pendakalan sungai (DAS) yang berakibat pada
susahnya transportasi antar desa yang di lalui oleh sungai dan banjir, kemudian erosi juga
menjadi penyebab utama pendangkal waduk, dimana seperti yang kita ketahui waduk
merupakan pembantu petani sa'at musim kemarau untuk mengairi sawah mereka, dan waduk
juga menjadi salah satu sumber energi. maka dari itu sangat penting bagi kita untuk megetahui
penyebab erosi dan konservasi yang perlu dilakukan untuk menanggulangi kerusakan-kerusakan
yang di akibatkan oleh erosi.

Faktor penyebab terjadinya erosi tanah

Erosi adalah proses penghancuran dan pengangkutan pertikel-partikel tanah oleh tenaga erosi
(presipitasi,Angin) Proses erosi oleh air butiran air hujan mengenai tanah --> hancurnya agregat
tanah terlepasnya partikel-partikel tanah--> Partikel-partikel tanah menyumbat pori-pori tanah-->
Menurunkan kapasitas dan laju infiltrasi--> laju permuka'an--> energi pengangkut.

erosi fisik kimia -------> Bila aliran energi permukaan tidak mampu lagi mengangkut pastikel
tanah-->partikel tanah di endapkan.

Tenaga dan faktor penyebab erosi

 erosion agent/ tenaga erosi: adalah tenaga pembawa yang berperan dalam sistem
transport perpindahan tanah : presipitasi (air hujan ,salju, hujan es, dll) Angin
 Faktor alam dan buatan yang mempengaruhi erosi :

E= F(I.T.V.Tp, M)
I = iklim
T = tanah
V = Vegetasi
Tp =Topografi
M =Management
Macam-macam erosi (Utomo.1987)

 Erosi alam/normal/geologi
proses pengikisan kulit bumi atau lapisan tanah yang terjadi secara alami
cirinya :

1. Prose berjalan sangat lamban


2. Tidak ada campur tanagn manusia/ penyebabnya hanya dari alam akibatnya terlihat
setelah berpuluh-puluh tahun.

 Erosi dopercepat (accelerat erosion) tindakan manusia umunya bersifat mempercepat


erosi sehingga erosi sehingga erosi yang dikenal dengan erosi dipercepat (accelerat
erosion) batas erosi yang diperbolehkan (permissible erosion/PE) merupakan nilai laju
erosi yang tidak melebihi laju pembentukan tanah penentuan PE mempertimbangkan
kondisi tanah dan lingkungan yang mencakup
 ketebalan lapisan tanah

1. Sifat fisik tanah


2. pencegahan terjadinya erosi selokan/ gully
3. penurunan bahan organik
4. kandungan hara tanah
5. kecepatan pembentukan tanah
› Penurunan produktifitas tanah

› Kehilangan unsur hara yang diperlukan tanaman

› Kualitas tanaman menurun

› Laju inkultrasi dan kemampuan tanah menahan air berkurang

Struktur tanah menjadi rusak

› Lebih banyak tenaga yang dibutuhkan untuk mengolah tanah

› Erosi gully dan tebing longsor menyebabkan lahan terbagi-bagi dan mengurangi luas
lahan yang dapat ditanami

› Pendangkalan sungai

› Tanah-tanah yang subur terkadang menjadi rusak karena tertimbun oleh tanah batu-
batuan dan pasir dari tempat lain

› Apabila digunakan untuk minum airnya kotor

› Perubahan-perubahan dalam jumlah bahan yang diangkut mempengaruhi


keseimbangan sungai.