Anda di halaman 1dari 9

SATUAN ACARA PENYULUHAN

PENCEGAHAN DEKUBITUS

Oleh :

ANGGI HAJIAN YUPITER, S.Kep

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


STIKES DEHASEN BENGKULU
T.A. 2017-2018
SATUAN ACARA PENYULUHAN KESEHATAN PENCEGAHAN DEKUBITUS

Topik Kegiatan : Pencegahan Dekubitus


Hari, tanggal : Jum’at, 09 Maret 2018
Waktu : 10.00 - Selesai
Tempat : Ruang Kenanga 1 RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung

A. Tujuan
1. Tujuan Instruksional Umum (TIU)
Setelah mendapatkan penyuluhan diharapkan keluarga mampu merawat pasien dekubitus
dengan baik dirumah sakit maupun dirumah.
2. Tujuan Khusus
Setelah mendapatkan penyuluhan diharapkan keluarga pasien mampu:
1. Menyebut pengertian dekubitus
2. Menyebut etiologi dekubitus
3. Mengenali gejala terjadinya dekubitus
5. Mengetahui pencegahan decubitus

B. Sasaran
Pasien dan keluarga pasien Ruang Kenanga 1

C. Sub Pokok Bahasan


1. Pengertian Dekubitus
2. Etiologi
3. Proses Terjadinya Dekubitus dan Faktor Penyebab Dekubitus
4. Penampilan Klinis Dekubitus
5. Pencegahan Dekubitus
D. Metode Pembelajaran
1. Ceramah
2. Diskusi/Tanya jawab
E. Media
1. Leaflet

F. Setting Acara
1. Acara
Tahap Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Peserta
Pendahuluan (3 menit) 1. Salam pembuka Menjawab salam
2. Memperkenalkan diri Mendengarkan dan
3. Kontrak waktu memperhatikan
4. Menjelaskan
mekanisme kegiatan
Pelaksanaan 5 menit Penyampaian materi oleh Mendengarkan dan
pemateri: menyimak pembicaraan.
1. Mengenali pengetahuan
dan pengalaman peserta
penyuluhan
2. Pengertian decubitus
3. Etiologi terjadinya
decubitus
4. Gejala decubitus
5. Penanganan Dekubitus
6. Pencegahan Dekubitus

Evaluasi 5 menit 1. Memberi kesempatan Mengajukan pertanyaan


bertanya kepada peserta mengenai materi yang
2. Menjawab pertanyaan kurang paham
dari peserta 2. Menjawab pertanyaan
yang diajukan
Penutup 3 menit 1. Menjelaskan Menjawab salam
kesimpulan dari materi
penyuluhan
2. Ucapan terimakasih
3. Salam penutup

G. Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
a. Peserta yang hadir keluarga pasien minimal 1 orang dan pasien
b. Penyuluhan kesehatan dilaksanakan di Ruang Rawat Inap Kenanga 1
2. Evaluasi Proses
a. Memberi salam dan memperkenalkan diri
b. Menjelaskan tujuan dari penyuluhan
c. Melakukan kontrak waktu dan menjelaskan mekanisme penyuluhan
d. Menyebutkan materi penyuluhan yang akan diberikan
e. Penyaji menggali informasi yang telah diketahui peserta tentang decubitus dalam
penyaji menjelaskan
f. Penyaji menjelaskan tentang decubitus dan peserta memperhatikan terhadap materi
penyuluhan kesehatan
g. Peserta mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan dengan benar
3. Evaluasi Hasil
a. Peserta memahami tentang pengertian, penyebab, gejala dan pencegahan terjadinya
decubitus
b. Kegiatan berjalan sesuai dengan tujuan yang dicapai.
MATERI PENYULUHAN
PENCEGAHAN DEKUBITUS

A. Pengertian
Dekubitus adalah kerusakan/kematian kulit sampai jaringan dibawah kulit, bahkan
menembus otot sampai mengenai tulang akibat adanya penekanan pada suatu area secara
terus menerus sehingga mengakibatkan gangguan sirkulasi darah setempat.Walaupun semua
bagian tubuh mengalami dekubitus, bagian bawah dari tubuhlah yang terutama beresiko
tinggi dan membutuhkan perhatian khsus. Area yang biasa terjadi dekubitus adalah tempat
diatas tonjolan tulang dan tidak dilindungi oleh cukup dengan lemak sub kutan, misalnya
daerah sakrum, daerah trokanter mayor dan spina ischiadica superior anterior, daerah tumit
dan siku.
Dekubitus merupakan suatu hal yang serius, dengan angka morbiditas dan mortalitas
yang tinggi pada penderita lanjut usia. Dinegara-negara maju, prosentase terjadinya decubitus
mencapai sekitar 11% dan terjadi dalam dua minggu pertama dalam perawatan.
Usia lanjut mempunyai potensi besar untuk terjadi dekubitus karena perubahan kulit
berkaitan dengan bertambahnya usia antara lain:
 Berkurangnya jaringan lemak subkutan
 Berkurangnya jaringan kolagen dan elastin
 Menurunnya efesiensi kolateral kapiler pada kulit sehingga kulit menjadi lebih tipis dan
rapuh.(M.Clevo Rendi, 2012)

B. Etiolgi
Luka tekan atau dekubitus disebabkan oleh penekanan pada daerah tonjolan tulang dalam
jangka waktu yang lama. Dekubitus merupakan injury terlokalisir pada kulit dan jaringan
yang ada di bawahnya pada daerah tonjolan tulang, sebagai akibat dari tekanan. Jadi
kekuatan tekanan, gaya geser, dan kekuatan gesekan merupakan kunci dalam penyebab luka
tekan atau dekubitus. Faktor penyebab dekubitus:
a. Faktor intrinsik
Penuaan (regenerasi sel lemah), sejumlah penyakit yang menimbulkan seperti
kencing manis, gizi buruk, kurang gizi, terlalu gemuk atau terlalu kurus, anemia.
b. Faktor Ekstrinsik
Kebersihan tempat tidur, alat-alat tenun yang kusut dan kotor, tirah baring lama,
pemakaian alat-alat kesehatan, duduk yang buruk, posisi yang tidak tepat, perubahan
posisi yang kurang.

C. Proses Terjadinya Dekubitus


Tiga elemen yang menjadi dasar terjadinya dekubitus, yaitu :

a. Intensitas tekanan dan tekanan yang menutupi kapiler (Landis, 1930)


b. Durasi dan besarnya tekanan (Koziak, 1953)
c. Toleransi jaringan (Husain, 1953)

Dekubitus terjadi sebagai hasil hubungan antar waktu dengan tekanan (Stortts, 1988
dalam Potter & Perry, 2005).Semakin besar tekanan dan durasinya, maka semakin besar pula
insiden terbentuknya luka (Potter & Perry, 2005).

Kulit dan jaringan subkutan dapat mentoleransi beberapa tekanan. Tapi jika pada tekanan
eksternal lebih besar dari tekanan darah kapiler maka akan menurunkan/menghilangkan
aliran darah ke jaringan sekitarnya. Jaringan ini menjadi hipoksia ( kekurangan pasokan
oksigen pada tubuh ) sehingga terjadi cedera iskemi ( ketidakcukupan suplai darah ke
jaringan atau organ tubuh). Jika tekanan dihilangkan pada masa sebelum titik kritis maka
sirkulasi pada jaringan akan pulih kembali, karena kulit mempunyai kemampuan yang lebih
besar untuk mentolerasi iskemi dari pada otot, maka dekubitus dimulai di tulang dengan
iskemi otot yang berhubungan dengan tekanan yang akhirnya melebar ke epidermis
(Maklebust, 1995 dalam Potter & Perry, 2005).

Pembentukan luka dekubitus juga berhubungan dengan adanya gaya gesek yang terjadi
saat menaikkan posisi klien di atas tempat tidur. Tulang punggung dan tumit merupakan area
yang rentan terjadinya dekubitus (Maklebust, 1987, dalam Potter & Perry, 2005).Efek
tekanan juga dapat terjadi akibat distribusi berat badan yang tidak merata. Jika tekanan tidak
didistribusikan secara merata pada tubuh maka tekanan jaringan yang mendapatkan tekanan
lebih banyak akan meningkat dan metabolisme sel kulit di titik tekanan akan mengalami
gangguan.

D. Pasien yang Berisiko Mengalami Luka Dekubitus


Dekubitus dapat terjadi pada pasien dengan gangguan mobilitas seperti stroke, fraktur
tulang belakang atau penyakit degenerative. Dekubitus juga dapat terjadi pada pasien dengan
gangguan neurologis karena imobilisasi yang lama, dan berkurangnya kemampuan sensorik.
William (2010), menyatakan kondisi pasien yang beresiko tinggi mengalami luka
dekubitus diantaranya:
1. Pasien yang tidak dapat bergerak (misalnya lumpuh, sangat lemah, dipasung).
2. Pasien yang tidak mampu merasakan nyeri, karena nyeri merupakan suatu tanda yang
secara normal mendorong seseorang untuk bergerak.
3. Pasien dengan kerusakan saraf (misalnya akibat cedera, stroke, diabetes), penurunan
kesadaran dan koma bisa menyebabkan berkurangnya kemampuan untuk merasakan
nyeri.
4. Pasien yang mengalami kekurangan gizi (malnutrisi) tidak memiliki lapisan lemak
sebagai pelindung dan kulitnya tidak mengalami pemulihan sempurna karena kekurangan
zat-zat gizi yang penting.
5. Pasien yang menggunakan baju terlalu besar atau terlalu kecil serta kerutan pada seprei
yang bergesekan dengan kulit bisa menyebabkan cedera pada kulit.
6. Pasien yang mengalami pemaparan kelembaban dalam jangka panjang (karena
berkeringat, air kemih atau tinja) bisa merusak permukaan kulit dan memungkinkan
terjadinya dekubitus.

E. Penampilan Klinis Dekubitus


Karakteristik penampilan klinis dari dekubitus dapat dibagi sebagai berikut;
1. Derajat I
a. Perubahan temperature kulit (lebih dingin atau hangat)
b. Perubanhan konsistensi jaringan (lebih keras atau lebih lunak)
c. Gatal dan nyeri
d. Orang yg berkulit putih : warna merah menetap, biru atau ungu
2. Derajat II
Reaksi yang lebih dalam lagi sampai mencapai seluruh dermis hingga lapisan
lemak subkutan, tampak sebagai ulkus yang dangkal, melepuh dengan tepi yang jelas dan
perubahan warna pigmen kulit.
3. Derajat III
Ulkus menjadi lebih dalam, meliputi jaringan lemak subkutan dan menggaung,
berbatasan dengan fascia dari otot-otot. Sudah mulai didapat infeksi dengan jaringan
nekrotik yang berbau serta kehilangan lapisan kulit yang lengkap.
4. Derajat IV Perluasan ulkus menembus otot, hingga tampak tulang di dasar ulkus yang
dapat mengakibatkan infeksi pada tulang atau sendi.
Mengingat patofisiologi terjadinya dekubitus adalah penekanan pada daerah-daerah
tonjolan tulang, haruslah diingat bahwa kerusakan jaringan dibawah tempat yang mengalami
dekubitus adalah lebih luas dari ulkusnya.

F. Pencegahan Dekubitus
Karena dekubitus lebih mudah dicegah daripada diobati, maka sedini mungkin harus
dicegah dengan cara :
1. Hilangkan tekanan dengan menganjurkan pasien melakukan perubahan posisi minimal
tiap 2 jam.
2. Meminimalkan atau mengurangi kelembaban dengan sering mengganti pakaian dan sprei
3. Jika pasien BAB atau BAK, bersihkan sampai feses atau urinnya tidak tersisa atau
menempel pada kulit karena akan menyebabkan iritasi.
4. Laporkan segera apabila terdapat daerah kemerahan pada kulit
5. Jaga agar kulit tetap kering
6. Jaga agar linen tetap kering dan bebas dari kerutan
7. Beri perhatian khusus pada daerah–daerah yang beresiko terjadi dekubitus seperti
punggung, bagian-bagian tulang yang menonjol, bagian pantat dan tumit kaki.
8. Masase daerah yang berisiko dekubitus dengan menggunakan lotion atau minyak zaitun.
9. Jangan gunakan lotion pada kulit yang sudah terkena luka dekubitus atau luka terbuka.
10. Gunakan kasur busa untuk mengurangi terjadinya dekubitus.
DAFTAR PUSTAKA

Keperawatan dan Masalah Kolaboratif Ed.2.Jakarta : EGC.


Doenges, Marilynn E. 2000. Rencana Keperawatan : Pedoman Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta : EGC.
Nurachman, Elly. 2001. Pencegahan dan Perawatan Dekubittus. Jakarta : Sagung Seto
http://subhankadir.wordpress.com/2007/08/20/decubitus/ Diakses tanggal 06 Maret 2018
https://www.academia.edu/30692693/SAP_DEKUBITUS Diakses pada tanggal 06 Maret
2018