Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kosmetika sejak dulu dikenal sebagai penunjang penampilan agar tampak

lebih menarik. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi,

beragam kosmetik muncul di pasaran. Namun tidak semua kosmetika itu

memenuhi aturan farmasetika yaitu aman, berkhasiat, dan berkualitas (Armin

dkk., 2013). Produk pemutih wajah saat ini ramai diperbincangkan, bukan hanya

produknya yang membanjiri pasaran, tetapi juga karena dampak dari pemakaian

produk tersebut. Krim pemutih merupakan campuran bahan kimia dan atau bahan

lainnya dengan khasiat bisa memutihkan kulit atau memucatkan noda hitam

(coklat) pada kulit (Parengkuan dkk., 2013). Bahan yang biasa ditambahkan

dalam krim pemutih yaitu merkuri karena berpotensi memutihkan kulit (Sari dkk.,

2017).

Merkuri tidak diperbolehkan penggunaannya didalam kosmetika apalagi

dalam krim pemutih. Pemerintah telah mengeluarkan peraturan tentang larangan

penggunaan merkuri. Namun, Penggunaan krim yang mengandung merkuri ini

masih terus digunakan (Rasyid, 2015). Penggunaan merkuri lama kelamaan dapat

menyebabkan perubahan warna kulit yang akhirnya dapat menyebabkan bintik-

bintik hitam pada kulit, iritasi kulit, hingga alergi, serta pemakaian dalam dosis

tinggi bisa menyebabkan kerusakan otak secara permanen, ginjal, dan gangguan

perkembangan janin, bahkan pemakaian dalam jangka pendek dalam kadar tinggi
bisa menimbulkan muntah-muntah, diare, dan kerusakan paru-paru (Puspitasyari

dkk., 2016).

Analisis kandungan merkuri telah banyak dilakukan. Metode-metode yang

biasa digunakan dalam analisis merukuri adalah untuk analisis kualitatif merkuri

dengan menggunakan metode pereaksi K2CrO4 (Hermawan dan Ade, 2017),

Peraksi NaOH, peraksi KI, dan pembentukkan amalgam (Sari dkk., 2017),

pereaksi ditizon (Indriana dkk., 2014). Sedangkan untuk analisis kuantitatif yaitu

dengan metode Spektrofotometri UV-Vis (Indriana dkk., 2014), Spektrofotometri

Serapan Atom (SSA) (Harmawan dan Ade, 2017), CV-AAS (Cold Vapour Atomic

Absorbtion Spectrophotometry) (Parengkuan dkk., 2013), Inductively Coupled

Plasma (ICP) (Mayaserli dan Weni, 2016, Potensiometri (Atikah dkk., 2014), dan

Mercury analyzer (Rumondang dan Annisa, 2012) dan titrasi ditizon (Ditjen

POM, 1995).

Antosianin adalah pigmen yang masuk dalam kelas flavonoid yang berperan

dalam munculnya warna merah, biru dan ungu pada banyak bunga dan buah.

Antosianin berpotensi sebagai pewarna alami dan sebagai antioksidan (Samber

dkk., 2013). Antosianin bila ditambahkan dengan alkali, pigmennya akan berubah

warna menjadi hijau yang seringkali berakhir dengan warna kuning, tetapi apabila

ekstrak antosianin direaksikan dengan senyawa yang bersifat asam maka ekstrak

akan berubah menjadi merah (Oktiarni dkk., 2016). Antosianin dengan ion logam

membentuk senyawa kompleks yang berwarna abu-abu violet (Hambali dkk,

2014).
Salah satu tumbuhan yang mengandung senyawa antosianin yaitu buah

ruruhi. Buah ruruhi (Syzygium polycephalum Merr. & L.M Perry) adalah buah

dari tanaman liar suku jambu-jambuan atau Myrtaceae. Buah, pucuk dan daun

muda Syzygium polycephalum dapat dikonsumsi dan dijadikan sebagai sayur

(Susilo dan Denny, 2016). Buah ruruhi (Syzygium polycephalum Merr. & L.M

Perry) merupakan salah satu buah yang mengandung antosianin paling banyak

pada bagian kulitnya, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pewarna alami yang

dapat menggantikan bahan pewarna sintetik serta berkhasiat sebagai antioksidan

(Irnawati dkk., 2017).

Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk mengembangkan kit

tes dari ekstrak kulit buah ruruhi (Syzygium polycephalum Merr. & L.M Perry)

yang mengandung antosianin. Proses interaksi didasari pada kemampuan

antosianin dan logam membentuk senyawa berwarna. Nantinya penelitian ini

diharapkan dapat menjadi referensi baru dalam pengembangan analisis kandungan

logam merkuri.

B. Rumusan Masalah

Masalah yang dikaji dalam penelitian ini berdasarkan latar belakang diatas,

antara lain sebagai berikut :

1. Bagaimana cara membuat kit dari ekstrak kulit buah ruruhi (Syzygium

polycephalum Merr. & L.M Perry) untuk deteksi logam merkuri pada krim

pemtih wajah ?

2. Bagaimana perubahan warna yang terjadi dari kit yang diberi logam merkuri ?
3. Apakah kit dari ekstrak kulit buah ruruhi (Syzygium polycephalum Merr. &

L.M Perry) dapat digunakan untuk mendeteksi logam merkuri pada krim

pemutih secara kualitatif ?

C. Tujuan Penelitian

1. Mengetahui cara membuat kit dari ekstrak kulit buah ruruhi (Syzygium

polycephalum Merr. & L.M Perry) untuk deteksi logam merkuri pada krim

pemtih wajah.

2. Mengetahui perubahan warna yang terjadi dari kit yang diberi logam merkuri.

3. Mengetahui kit dari ekstrak kulit buah ruruhi (Syzygium polycephalum Merr. &

L.M Perry) dapat digunakan untuk mendeteksi logam merkuri pada krim

pemutih secara kualitatif.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi peneliti, mengetahui bahwa ekstrak kulit buah ruruhi (Syzygium

polycephalum Merr. & L.M Perry) dapat dimanfaatkan dalam mendeteksi

adanya kandungan logam merkuri.

2. Bagi institusi, memberikan masukan ilmu baru dibidang perkembangan ilmu

pengetahuan sebagai informasi bahwa esktrak kulit buah ruruhi (Syzygium

polycephalum Merr. & L.M Perry) dapat digunakan sebagai indikator dalam

penentuan kandungan logam merkuri. Serta memberikan informasi dan

tambahan pustaka bagi mahasiswa fakultas farmasi universitas halu oleo.

3. Bagi masyarakat, sebagai bahan informsi bahwa esktrak kulit buah ruruhi

(Syzygium polycephalum Merr. & L.M Perry) dapat digunakan dalam


penentuan kandungan logam merkuri dan memberikan kemudahan analisis

yang mudah dan sederhana.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Uraian Kosmetika

Kosmetika adalah bahan atau sediaan yang dimaksudkan untuk digunakan

pada bagian luar tubuh manusia (epidermis, rambut, kuku, bibir, dan organ genital

bagian luar), atau gigi, dan membran mukosa mulut, terutama untuk

membersihkan, mewangikan, mengubah penampilan, dan/atau memperbaiki bau

badan atau melindungi atau memelihara tubuh pada kondisi baik (BPOM RI,

2011).

Tujuan utama penggunaan kosmetik pada masyarakat modern adalah untuk

kebersihan pribadi, meningkatkan daya tarik melalui make-up, meningkatkan

rasa percaya diri dan perasaan tenang, melindungi kulit dan rambut dari kerusakan

sinar ultra violet, polusi dan faktor lingkungan yang lain, mencegah penuaan, dan

secara umum membantu seseorang lebih menikmati dan menghargai hidup.

Berdasarkan kegunaannya bagi kulit kosmetik dapat digolongkan mejadi 2

macam, yaitu (Tranggono dan Fatma, 2007) :

1. Kosmetik perawatan kulit (skin-care cosmetic)

a. Kosmetik untuk membersihkan kulit (cleanser), misalnya sabun, susu

pembersih wajah dan penyegar kulit (freshner).

b. Kosmetik untuk melembabkan kulit (mouisturizer), misalnya mouisturizer

cream, night cream.

c. Kosmetik pelindung kulit, misanya sunscreen cream dan sunscreen

foundation, sun block cream/lotion.


d. Kosmetik untuk menipiskan atau mengampelas kulit (peeling), misalnya

scrub cream yang berisi butiran-butiran halus yang berfungsi sebagai

pengampelas (abrasiver).

2. Kosmetik riasan (dekoratif atau make-up)

Jenis ini diperlukan untuk merias dan menutup cacat pada kulit sehingga

menghasilkan penampilan yang lebih menarik. Dalam kosmetik riasan, peran zat

pewarna dan pewangi sangat besar.

Kosmetika yang dipakai harus benar-benar tepat, baik dalam pemilihan

maupun dalam penggunaannya. Kosmetika yang digunakan untuk perawatan kulit

harus berfungsi untuk memelihara kesehatan kulit, mempertahankan kondisi kulit

agar tetap baik dan mampu mencegah timbulnya kelainan pada kulit akibat proses

usia, pengaruh lingkungan dan sinar matahari (Tranggono dan Fatma, 2007).

Sediaan kosmetik perawatan kulit terdapat dalam bermacam-macam bentuk

misalnya stik, gel, losion dan krim. Krim menjadi sediaan kosmetik perawatan

yang paling banyak dipilih oleh masyarakat untuk diaplikasian pada kulit wajah

(Mu’awanah dkk., 2014).

B. Uraian Krim

Krim merupakan suatu sediaan berbentuk setengah padat mengandung satu

atau lebih bahan kosmetik terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai,

berupa emulsi kental mengandung tidak kurang 60% air ditujukan untuk

pemakain luar (Anief, 2000). Menurut Yanhendri dan Satya (2012) Krim adalah

bentuk sediaan setengah padat yang mengandung satu atau lebih bahan
aktif terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. Formulasi krim ada

dua, yaitu sebagai emulsi air dalam minyak (W/O) dan minyak dalam air (O/W).

Krim tipe W/O biasanya menggunakan surfaktan seperti sabun polivalen,

span, adeps lanae, dan cera. Sedangkan untuk krim dengan tipe O/W biasanya

menggunakan sabun monovalent seperti trietanolamin stearate, Na stearat, kalium

stearate, ammonium stearat, tween, natrium lauril sulfat, CMC, emulgidum,

pecticum dan gelatin (Anief, 2000).

Sediaan dalam bentuk krim banyak digunakan karena mempunyai beberapa

keuntungan diantaranya lebih mudah diaplikasikan, lebih nyaman digunakan pada

wajah, tidak lengket dan mudah dicuci dengan air. Kosmetik perawatan yang

paling banyak digunakan saat ini adalah krim pemutih wajah (Sharon dkk., 2013).

Krim pemutih merupakan campuran bahan kimia dan atau bahan lainnya dengan

khasiat bisa memutihkan kulit atau memucatkan noda hitam pada kulit. Krim

pemutih wajah sangat bermanfaat bagi wajah yang memiliki berbagai masalah,

karena mampu mengembalikan kecerahan kulit dan mengurangi warna hitam pada

wajah (Parengkuan dkk., 2013).

Krim pemutih merupakan salah satu jenis kosmetik yang sagat popular di

kalangan wanita karena khasiat yang diberikan. Belakangan, ditemukan banyak

bahan berbahaya yang terkandung dalam produk kosmetik di pasaran salah

satunya yaitu logam berat. Kandungan logam berat dalam kadar yang berlebih

dalam kosmetik baik yang ditambahkan dengan sengaja atau tidak sengaja dapat

menimbulkan toksik pada tubuh. Logam berat yang biasa ditambahkan dalam

kosmetik salah satunya adalah merkuri (Erasiska dkk., 2015).


C. Penggunaan Merkuri dalam Kosmetik

Merkuri adalah unsur yang mempunyai nomor atom 80, serta mempunyai

massa molekul relative 200,59 g/mol. Merkuri diberikan simbol kimia Hg yang

merupakan singkatan yang berasal dari bahasa Yunani Hydrargyrum, yang

berarti cairan perak (Hadi, 2013). Merkuri (Hg) atau air raksa adalah logam yang

ada secara alami, merupakan satu-satunya logam yang pada suhu kamar berwujud

cair. Logam murninya berwarna keperakan atau putih keabuan-abuan, cairan tak

berbau, dan mengkilap (Agustina, 2014).

Hampir semua merkuri diproduksi dengan cara pembakaran merkuri

sulfide. Secara umum merkuri memiliki sifat-sifat sebagai berikut (Fardiaz, 1992):

1. Merkuri merupakan satu-satunya logam berbentuk cair pada suhu kamar (25oC)

dan mempunyai titik beku terendah dari semua logam, yaitu -39 oC.

2. Kisaran suhu di mana merkuri terdapat dalam bentuk cair sangat lebar, yaitu

396oC, dan pada kisaran suhu ini merkuri mengembang secara merata.

3. Merkuri mempunyai volatilitas yang tertinggi dari semua logam.

4. Ketahanan listrik merkuri sangat rendah sehingga merupakan konduktor yang

terbaik dari semua logam.

5. Banyak logam yang dapat larut di dalam merkuri membentuk komponen yang

disebut amalgam (alloy).

6. Merkuri dan komponen-komponennya bersifat racun terhadap semua makhluk

hidup.
Merkuri atau air raksa (Hg) muncul di lingkungan secara alamiah dan

berada dalam beberapa bentuk yang pada prinsipnya dapat dibagi menjadi tiga

bentuk utama yaitu (Inswiasri dan Hendro, 2007):

1. Merkuri metal (Hg) merupakan logam berwama putih, berkilau dan pada suhu

kamar berada dalam bentuk cairan. Logam ini biasa dikenal penggunaannya

untuk termometer, dan tombol listrik.

2. Senyawa merkuri anorganik terjadi ketika merkuri dikombinasikan dengan

elemen lain seperti klorin (Cl), sulfur atau oksigen. Senyawa-senyawa ini biasa

disebut garam-garam merkuri. Senyawa merkuri anorganik berbentuk bubuk

putih atau kristal, kecuali merkuri sulfida (HgS) yang biasa disebut Chinabar

adalah berwarna merah dan akan menjadi hitam setelah terkena sinar matahari.

Senyawa Hg anorganik digunakan sebagai fungisida. Garam-garam merkuri

anorganik termasuk amoniak merkurik klorida dan merkuri iodide digunakan

untuk cream pemutih kulit. Merkuri chlorida (HgCl2) adalah sebagai antiseptic

atau disinfektan. Pada waktu lampau, merkurous klorid digunakan dalam dunia

kedokteran untuk obat penjahar (urus-urus), obat cacing dan bahan penambal

gigi.

3. Senyawa merkuri organik terjadi ketika merkuri bertemu dengan karbon atau

organomerkuri. Banyak jenis organomerkuri, tetapi yang paling populer adalah

metilmerkuri (dikenal dengan monometilmercuri) CH3-Hg-COOH. Pada waktu

yang lampau, senyawa organomerkuri yang dikenal adalah fenilmerkuri yang

digunakan dalam beberapa produk komersial. Organomerkuri lainnya adalah


dimetilmerkuri (CH3-Hg-CH3) yang juga digunakan sebagai standar referensi

tes kimia.

Semua bentuk merkuri, baik dalam bentuk unsur, gas, maupun dalam

bentuk garam merkuri organik bersifat racun. Ion merkuri menyebabkan pengaruh

toksik, karena terjadinya proses presipiasi protein menghambat aktivitas enzim

dan bertindak sebagai bahan yang korosif. Merkuri juga dapat terikat oleh gugus

sulfhidril, fosforil, karboksil, amida, dan amina, dimana dalam gugus tersebut

merkuri menghambat fungsi enzim. Waktu paruh dari metil merkuri pada tubuh

manusia sekitar 70 sampai dengan 90 hari, tetapi eliminasi dari jaringan sangat

lambat dan tidak teratur, sedangkan akumulasinya dapat dengan mudah

menimbulkan gejala toksik (Hadi, 2013).

Sebelum diketahui memiliki tingkat toksisitas yang tinggi, penggunaan

merkuri sangat luas dan telah banyak digunakan untuk berbagai keperluan mulai

dari kegunaan dalam industry bahan-bahan kimia, proses pembuatan obat-obatan

yang digunakan oleh manusia, bahan dasar pembuatan insektisida untuk

pertanian, industri pembuatan cat, alat listrik, serta alat-alat kesehatan (Hadi,

2013). Menurut Bahter dkk. (2016) merkuri juga digunakan sebagai pembersih

luka, serta komponen merkuri organik juga digunakan sebagai diuretika, sebagai

katalis, kedokteran gigi dan alat-alat laboratorium. Selain itu, merkuri juga

digunakan sebagai zat pewarna dan bahan kosmetik (krim pemutih) (Agustina,

2014).

Merkuri yang ditambahkan dalam kosmetik krim pemutih wajah berfungsi

mempercepat menghasilkan kulit wajah putih dan bersih (Hadi, 2013). Merkuri
digunakan untuk mengurangi atau menghambat pembentukan melanin kulit.

Melanin adalah pigmen kulit yang memberikan warna gelap kecoklatan, sehingga

muncul bercak kecoklatan atau bintik coklat atau hitam pada kulit (Rasyid dkk.,

2015). Merkuri pada kosmetika yang sudah umum digunakan ialah merkuri

klorida dan merkuri amido klorida (Armin dkk., 2013).

Mekanisme kerja senyawa merkuri dalam memutihkan kulit berbeda-beda

tergantung dari jenis senyawanya. Merkuri klorida di dalam kulit akan

melepaskan asam klorida yang menyebabkan terjadinya pengelupasan kulit

lapisan epidermis, sedangkan senyawa merkuri amido klorida memiliki aktivitas

menghambat kerja enzim tirosinase yang berperan dalam proses pembentukan

melanin. Senyawa merkuri bersifat korosif sehingga dapat menyebabkan

dermatitis, dan dapat terakumulasi dalam darah sehingga menyebabkan keracunan

sistemik. Pemakaian krim pemutih mengandung merkuri secara terus menerus

dalam jangka panjang mengakibatkan kerusakan ginjal, kanker kulit, dan otak

(Armin dkk., 2013).

Sesuai Peraturan Kepala Badan POM RI No.17 Tahun 2014 tentang

Persyaratan Cemaran Mikroba dan Logam Berat, persyaratan kadar logam

merkuri dalam kosmetik adalah tidak lebih dari 1 mg/L dan sesuai Peraturan

Kepala Badan POM RI No.18 Tahun 2015 tentang Persyaratan Teknis Bahan

Kosmetika, dinyatakan bahwa merkuri dan senyawanya termasuk dalam daftar

hanya dapat digunakan dengan kadar maksimum 0,007% (dihitung sebagai Hg)

jika dicampur dengan senyawa merkuri lain yang diijinkan, maka konsentrasi

maksimum Hg tetap 0,007%, dengan batasan hanya digunakan sebagai pengawet


untuk sediaan tata rias mata dan pembersih tata rias mata dan mencantumkan

peringatan penandaan kemasan “mengandung senyawa fenil merkuri”.

D. Metode Analisis Merkuri

Analisis kandungan merkuri dalam kosmetik krim pemutih wajah dapat

dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kandungan merkuri secara

kualitatif dapat dilakukan dengan menggunakan pereaksi K2CrO4 yang

menunjukkan hasil positif terbentuknya warna kuning orange (Harmawan dan

Ade, 2017), pereaksi NaOH menghasilkan endapan berwarna kuning jingga bila

senyawa tersebut berupa ion merkuri divalent dan berwarna hitam bila berupa ion

merkuro, terbentuk endapan HgI2 yang berwarna merah jingga dengan

penambahan pereaksi larutan KI. Reaksi pembentukan amalgam dengan

menggunakan kawat tembaga ditandai dengan terbentuk lapisan logam merkuri

yang berwarna keabu-abuan yang melapisi permukaan kawat tembaga (Rasyid

dkk., 2015), serta terbentuknya warna orange dengan menggunakan pereaksi

ditizon yang diekstraksi terlebih dahulu dengan kloroform (Indriana dkk., 2014

dan Nashukha dkkk., 2014).

Analisis kandungan merkuri secara kuantitatif dapat dilakukan dengan

metode Spektrofotometri UV-Vis (Indriana dkk., 2014), Spektrofotometri Serapan

Atom (SSA) (Harmawan dan Ade, 2017), CV-AAS (Cold Vapour Atomic

Absorbtion Spectrophotometry) (Parengkuan dkk., 2013), Inductively Coupled

Plasma (ICP) (Mayaserli dan Weni, 2016, Potensiometri (Atikah dkk., 2014), dan

Mercury analyzer (Rumondang dan Annisa, 2012) dan titrasi ditizon (Ditjen

POM, 1995).
E. Antosianin

Antosianin adalah pigmen larut air yang secara alami terdapat pada

berbagai jenis tumbuhan. Sesuai namanya, pigmen ini memberikan warna pada

bunga, buah, dan daun tumbuhan hijau, dan telah banyak digunakan sebagi

pewarna alami pada berbagai produk pangan dan berbagai aplikasi lainnya.

Antosianin merupakan sub-tipe senyawa organik dari keluarga flavonoid.

Beberapa senyawa antosianin yang paling banyak ditemukan adalah pelargonidin,

peonidin, sianidin, malvidin, petunidin, dan delfinidin (Hambali dkk., 2014).

Antosianin pada tanaman hadir bersamaan dengan pigmen alami seperti

flavonoid, karotenoid, anthaxanthin, dan betasianin. Antosianin merupakan

turunan garam flavilium atau benzilflavilium (3,5,7,4’ tetrahidroksiflavilium).

Antosianin memiliki sifat mudah larut dalam air dan merupakan suatu gugusan

glikosida yang terbentuk dari gugus aglikon dan glikon. Apabila gugus glikon

dihilangkan melalui proses hidrolisis maka dihasilkan antosianidin. Gugus gula

yang umum berikatan dengan antosianidin misalnya glukosa, galaktosa, xilosa,

arabinosa dan rhamnosa. Antosianidin ini akan berwarna merah di lingkungan

asam, biru di lingkungan basa dan warna ungu di lingkungan netral (Sayuti dan

Rina, 2015).

Gambar 1. Struktur umum antosianin (Ovando dkk., 2009)


Sifat dan warna antosianin di dalam jaringan tanaman dipengaruhi oleh

beberapa faktor seperti jumlah pigmen, letak dan jumlah gugus hidroksi dan

metoksi, kopigmentasi, dan pH. Pada pH tinggi antosianin akan berwarna biru,

kemudian berwarna violet dan akhirnya berwarna merah pada pH rendah.

Konsentrasi pigmen yang tinggi di dalam jaringan akan menyebabkan warna

merah, konsentrasi sedang menyebabkan warna jingga hingga ungu, sedangkan

konsentrasi rendah menyebabkan warna biru. Jumlah gugus hidroksi yang

dominan menyebabkan warna cendrung biru dan relatif tidak stabil. Sedangkan

jumlah gugus metoksi yang dominan dibandingkan gugus hidroksi pada stuktur

antosianidin, menyebabkan warna cendrung merah dan relatif lebih stabil (Saati

dkk., 2016).

Antosianin adalah senyawa yang bersifat amfoter, yaitu memiliki

kemampuan untuk bereaksi baik dengan asam maupun dengan basa. Dalam media

asam, antosianin berwarna merah seperti halnya saat dalam vakuola sel dan

berubah menjadi ungu dan biru jika media bertambah basa. Perubahan warna

karena perubahan kondisi lingkungan ini tergantung dari gugus yang terikat pada

stuktur dasar dari posisi ikatannya (Saati dkk., 2016). Di dalam larutan, antosianin

berada dalam lima bentuk kesetimbangan tergantung pada kondisi pH. Kelima

bentuk tersebut yaitu kation flavilium, basa karbinol, kalkon, basa quinonoidal

dan quinonoidal anionik. Pada pH sangat asam (pH 1-2) bentuk dominan

antosianin adalah kation flavilium. Pada bentuk ini, antosianin berada dalam

kondisi paling stabil dan paling berwarna. Ketika pH meningkat diatas 4,

berbentuk senyawa antosianin berwarna kuning (bentuk kalkon), senyawa


berwarna biru (berbentuk quinoid), atau senyawa yang tidak berwarna (basa

karbinol) (Rosyida dan didik, 2014). Dengan ion logam, antosianin membentuk

senyawa kompleks yang berwarna abu-abu violet (Koswara, 2009).

Antosianin banyak ditemukan pada pangan nabati yang berwarna merah,

ungu, merah gelap seperti pada beberapa buah, sayur, maupun umbi. Selain

berperan sebagai pewarna makanan, antosianin juga dipercaya berperan dalam

sistem biologis, termasuk kemampuan sebagai pengikat radikal bebas (free

radical scavenging), cardio protective capacity dan kemampuan untuk

mengambat tahap inisiasi reaksi kimiawi yang menyebabkan karsinogenesis

(Ariviani, 2010). Selain itu antosianin juga memiliki manfaat bagi kesehatan

tubuh karena dapat berfungsi sebagai antioksidan, antihipertensi, dan pencegah

gangguan fungsi hati, jantung koroner, kanker, dan penyakit-penyakit degeneratif,

seperti arteosklerosis. Antosianin juga mampu menghalangi laju perusakan sel

radikal bebas akibat nikotin, polusi udara, dan bahan kimia lainnya. Antosianin

berperan dalam mencegah terjadinya penuaan, kemerosotan daya ingat dan

kepikunan, polyp, asam urat, penderita sakit maag (asam lambung). Selain itu,

antosianin juga memiliki kemampuan menurunkan kadar gula darah

(antihiperglisemik). Total kandungan antosianin bervariasi pada setiap tanaman

dan berkisar antara 20 mg/ 100 g sampai 600 mg/ 100 g berat basah (Sayuti dan

Rina, 2015).

F. Warna dan Faktor Yang Mempengaruhi Antosianin

Warna dan stabilitas pigmen antosianin tergantung pada struktur molekul

secara keseluruhan. Substitusi struktur antosianin A dan B akan berpengaruh pada


warna. Pada kondisi asam warna antosianin ditentukan oleh banyaknya substitusi

pada cincin B. Semakin banyak substitusi OH dapat menyebabkan warna semakin

biru, sedangkan metoksilasi akan menyebabkan warnanya semakin merah

(Santoso, 2014). Kestabilan antosianin dipengaruhi oleh beberapa faktor antara

lain pH, suhu, jumlah pigmen, letak dan jumlah gugus hidroksi dan metoksi,

kopigmentasi, dan cahaya.(Saati dkk., 2016 dan Samber ddk., 2013).

1. Transformasi Struktur dan pH.

Pada pH tinggi antosianin akan berwarna biru, kemudian berwarna violet

dan akhirnya berwarna merah pada pH rendah. Jumlah gugus hidroksi yang

dominan menyebabkan warna cendrung biru dan relatif tidak stabil. Sedangkan

jumlah gugus metoksi yang dominan dibandingkan gugus hidroksi pada stuktur

antosianidin, menyebabkan warna cendrung merah dan relatif lebih stabil (Saati

dkk., 2016).

2. Jumlah pigmen

Konsentrasi pigmen yang tinggi di dalam jaringan akan menyebabkan

warna merah, konsentrasi sedang menyebabkan warna jingga hingga ungu,

sedangkan konsentrasi rendah menyebabkan warna biru (Saati dkk., 2016).

3. Suhu

Suhu mempengaruhi kestabilan antosianin. Suhu yang panas dapat

menyebabkan kerusakan struktur antosianin, oleh karena itu proses pengolahan

pangan harus dilakukan pada suhu 50-60oC yang merupakan suhu yang stabil

dalam proses pemanasan (Samber dkk., 2013).

4. Cahaya
Antosianin lebih stabil dalam larutan asam dibandingkan dalam larutan

alkali atau netral. Cahaya mempunyai dua pengaruh yang saling berlawanan

terhadap antosianin, yaitu berperan dalam pembentukan antosianin dan cahaya

juga berperan dalam laju degradasi warna antosianin, oleh karena itu antosianin

harus disimpan di tempat yang gelap dan suhu dingin (Samber dkk., 2013).

5. Kopigmentasi

Stabilitas warna antosianin dapat dipertahankan atau ditingkatkan dengan

reaksi kopigmentasi. Kopigmentasi adalah interaksi antara struktur antosianin

dengan molekul lain seperti logam (Al3+, Fe3+, Sn3+, Cu3+) dan molekul organik

lain seperti organik lain seperti senyawa flavanoid lain (flavon, flavanon dan

flavonol), senyawa alkaloid (kafein), dan sebagainya. Adanya kopigmentasi

dengan logam dan molekul organik lain cenderung meningkatkan stabilitas

warna antosianin (Santoso dan Teti, 2014).

G. Reaksi Warna Antosianin dan Logam

Belum ada penelitian ilmiah menyangkut perubahan warna yang terjadi

antara antosianin dan logam merkuri (Hg) secara spesifik. Namun pada beberapa

penelitian menunjukan adanya perubahan warna yang terjadi antara antosianin

atau flavonoid ketika bereaksi dengan senyawa logam. Beberapa studi tentang

stabilitas warna pada tanaman, menunjukkan bahwa warna biru disebabkan oleh

kompleksasi antosianin dan beberapa logam seperti Al, Fe, Cu dan Sn atau Mg

dan Mo. Studi yang lebih baru telah menunjukkan bahwa kompleksasi antara ion

o-di-hydroxyl anthocyanins dan Fe(III) atau Mg(II) pada pH 5 sangat penting

untuk pembentukan warna biru pada tumbuhan, terutama jika rasio stoikiometri
antosianin : Fe(III) adalah 1:6, atau lebih tinggi untuk Mg (II) (Ovando dkk.,

2009).

Penelitian yang dilakukan oleh Rosyda dan Didik (2014) yaitu

memanfaatkan ekstrak daun jati muda sebagai zat pewarna pada kain kapas. Hal

ini didasarkan pada kandungan antosianin yang terdapat dalam tanaman jati muda.

Dari proses pencelupan kain kapas dalam larutan ekstrak daun jati muda

menghasilkan warna ungu, ungu kemerahan dan coklat. Setelah pencelupan kain

dengan fiksator ferro sulfat pada pH 10 diperoleh kain dengan warna abu-abu

muda, pada pH 7 diperoleh warna abu-abu dan pada pH 5 diperoleh warna abu-

abu tua. Dari perubahan warna yang terjadi diketahui bahwa antosinin membentuk

senyawa kompleks berwana abu-abu dengan ion logam ferro sulfat.

Pengujian penggunaan reagen alami yang berasal dari ekstrak kasar bunga

rosella, kubis ungu dan pacar air untuk mendeteksi ion Fe(III) yang dilakukan

oleh Timur (2009) didasari pada kemampuan Fe(III) membentuk senyawa

kompleks berwarna dengan antosianin yang dapat diukur secara spektrofotometri.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa antosianin kubis ungu dan pacar air layak

digunakan sebagai reagen untuk mendeteksi ion Fe(III) dengan adanya pergeseran

panjang gelombang yang terjadi, sedangkan antosianin rosella tidak layak

digunakan sebagai reagen untuk mendeteksi ion Fe(III).

Penelitian yang dilakukan oleh Putra dkk., (2016) dan Sangkala dkk.,

(2014) adalah untuk mengidentifikasi kandungan senyawa flavonoid dengan

menambahkan beberapa tetes HCl pekat dan ditambahkan sedikit serbuk

magnesium (Mg) pada ekstrak. Reaksi positif menunjukan adanya perbahan


warna menjadi merah-orange atau kuning jingga. Menurut Marliana (2005) warna

merah sampai jingga diberikan oleh senyawa flavon, warna merah tua diberikan

oleh flavonol atau flavonon, warna hijau sampai biru diberikan oleh aglikon atau

glikosida.

H. Ruruhi (Syzygium polycephalum Merr. & L.M Perry)

Gambar 2. Tanaman dan Buah Ruruhi (Dokumentasi pribadi, 2017)

1. Morfologi Tanaman

Ruruhi adalah pohon buah anggota suku jambu-jambuan atau Myrtaceae

yang berasal dari Indonesia, khususnya Jawa dan Kalimantan. Keberadaan buah

ini sudah terbilang langka maka sebagian dari kita masih merasa asing dengan

buah yang bulat-bulat kecil warna ungu sampai merah ini. Namun selain tumbuh

liar di hutan, pohon buah ruruhi ini juga ada yang dibudidayakan di pekarangan

sekitar rumah atau di area perkebunan petani (Backer, 1963).

Pohon buah ruruhi tumbuh liar terutama di hutan-hutan sekunder, antara

ketinggian 200-1800 m dpl. Pohon, tinggi 8-20 m dengan garis tengah batang

mencapai 50 cm. Daun lonjong, panjang 11-25 cm dan lebar 4-10½ cm.

Perbungaan memalai, bunga dengan panjang kelopak 4-6 mm, benang sari

banyak, panjang 5-3 cm. Buah bulat, berwarna merah sampai ungu gelap, bergaris
tengah 2½ - 3½ cm, menggerombol, kelopak tetap menempel dibagian ujung

(Backer, 1963).

2. Taksonomi

Menurut Backer (1963), Taksonomi tumbuhan ruruhi diklasifikasikan

sebagai berikut:

Kerajaan : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

Ordo : Myrtales

Suku : Myrtaceae

Marga : Syzygium

Jenis : Syzygium polycephalum (Miq.) Merr. & L.M Perry

3. Nama Daerah Ruruhi

Nama ruruhi berasal dari bahasa Tolaki. Selain itu, tanaman ini juga

memiliki sebutan lokal di setiap daerah. Nama-nama tersebut diantaranya adalah

bebele (Muna), gohok, kepa (Betawi), kupa, kupa beunyeur (Sunda), gowok,

gowak, kupa, dompyong (Jawa), dan kaliasem (Bali).

4. Manfaat

Buah, pucuk dan daun muda Syzygium polycephalum dapat dikonsumsi dan

dijadikan sebagai sayur (Susilo dan Denny, 2016). Selain itu, buahnya dapat

dijadikan sebagai antioksidan alami bagi tubuh (Irnawati dkk., 2017).

5. Kandungan Kimia
Kulit batang mengandung senyawa golongan alkaloid, fenolik, flavonoid,

tannin, dan saponin (Tukiran dkk., 2016). Daun mengandung asam ursolat, asam

oleanolik, squalen, dan β-sitosterol (Ragasa dkk., 2014). Buah mengandung

senyawa golongan alkaloid, flavonoid, tanin, polifenol, monoterpen dan

seskuiterpen Sedangkan bijinya mengandung senyawa golongan alkaloid,

flavonoid, tannin, polifenol, steroid dan terpenoid, serta monoterpen dan

seskuiterpen (Nurmalasari dkk., 2016). Berdasarkan penelitian yang dilakukan

Irnawati dkk., (2017) buah ruruhi mengandung antosianin.

I. Metode Test Kit

Test kit merupakan suatu alat yang dapat digunakan untuk mendeteksi

suatu senyawa dengan cukup akurat yang mudah digunakan dan dioperasikan oleh

berbagai kalangan. Selain itu, penggunaannya tanpa perlengkapan khusus, listrik,

ataupun biaya yang mahal, serta dapat digunakan untuk analisis di lapangan.

(Kusumawardani dkk., 2015).

Test Kit adalah sebuah instrumen yang dirancang sebagai screening kit atau

alat pendeteksian awal, dengan pembacaan secara visual, yaitu dengan

membandingkan warna yang terbentuk dari hasil reaksi antara sampel dengan

pereaksi siap pakai dengan rangkaian beberapa warna standar (Sitio, 2016).

Metode test kit merupakan metode yang didasarkan pada metode kolorimetri.

Metode ini didasarkan pada pembentukan warna dengan intensitas yang berbeda

dengan konsentrasi komponen yang berbeda (Cahyani dkk., 2015).

Prinsip kerjanya yaitu dengan cara menambahkan pereaksi kit pada bahan

yang diduga mengandung bahan yang diselidiki dengan hasil akhir terjadinya
perubahan warna yang khas (kualitatif) atau untuk uji kuantitatif dengan

menggunakan instrument yang kemudian akan didapat nilai konsentrasinya.

Kelebihan dari metode Kit antara lain, sistem barcode memungkinkan operasi

yang cepat, mudah dan jauh dari kesalahan, pilihan bebas dan dokumentasi

kontrol kualitas yang luas bagi setiap uji (Apriyanti dkk., 2013).

J. Validasi Metode

Validasi metode adalah proses terdokumentasi yang menjamin bahwa

pelaksanaannya dapat juga diartikan sebagai rangkaian seri percobaan tertentu

untuk memastikan bahwa metode analisis yang akan dipakai telah sahih

memenuhi persyaratan-persyaratan yang telah ditentukan. Rangkaian seri

percobaan yang dipakai untuk memvalidasi metode analisis disebut parameter

validasi (Muharrami, 2011).

Beberapa parameter analisis yang harus dipertimbangkan yang

dipergunakan ialah (Harmita, 2004):

1. Kecermatan (accuracy)

Kecermatan adalah ukuran yang menunjukkan derajat kedekatan hasil

analis dengan kadar analit yang sebenarnya. Kecermatan dinyatakan sebagai

persen perolehan kembali (recovery) analit yang ditambahkan. Kecermatan

hasil analis sangat tergantung kepada sebaran galat sistematik di dalam

keseluruhan tahapan analisis. Oleh karena itu untuk mencapai kecermatan yang

tinggi hanya dapat dilakukan dengan cara mengurangi galat sistematik tersebut

seperti menggunakan peralatan yang telah dikalibrasi, menggunakan pereaksi


dan pelarut yang baik, pengontrolan suhu, dan pelaksanaannya yang cermat,

taat asas sesuai prosedur.

2. Keseksamaan (precision)

Keseksamaan adalah ukuran yang menunjukkan derajat kesesuaian antara

hasil uji individual, diukur melalui penyebaran hasil individual dari rata-rata

jika prosedur diterapkan secara berulang pada sampel-sampel yang diambil dari

campuran yang homogen.

3. Selektivitas (Spesifisitas)

Selektivitas atau spesifisitas suatu metode adalah kemampuannya yang

hanya mengukur zat tertentu saja secara cermat dan seksama dengan adanya

komponen lain yang mungkin ada dalam matriks sampel. Selektivitas

seringkali dapat dinyatakan sebagai derajat penyimpangan (degree of bias)

metode yang dilakukan terhadap sampel yang mengandung bahan yang

ditambahkan berupa cemaran, hasil urai, senyawa sejenis, senyawa asing

lainnya, dan dibandingkan terhadap hasil analisis sampel yang tidak

mengandung bahan lain yang ditambahkan.

4. Linearitas dan Rentang

Linearitas adalah kemampuan metode analisis yang memberikan respon

yang secara langsung atau dengan bantuan transformasi matematik yang baik,

proporsional terhadap konsentrasi analit dalam sampel. Rentang metode adalah

pernyataan batas terendah dan tertinggi analit yang sudah ditunjukkan dapat

ditetapkan dengan kecermatan, keseksamaan, dan linearitas yang dapat

diterima.
5. Batas Deteksi dan Batas Kuantitasi

Batas deteksi adalah jumlah terkecil analit dalam sampel yang dapat

dideteksi yang masih memberikan respon signifikan dibandingkan dengan

blangko. Batas deteksi merupakan parameter uji batas. Batas kuantitasi

merupakan parameter pada analisis renik dan diartikan sebagai kuantitas

terkecil analit dalam sampel yang masih dapat memenuhi kriteria cermat dan

seksama.
K. Kerangka Konsep

Buah ruruhi (Syzygium


polycephalum Merr. &
L.M Perry)

Kulit buah
Merkuri klorida
Maserasi (HgCl2)

Pembuatan
Ekstrak
komperator warna

Aplikasi tes kit


Test kit pada sampel
krim pemutih

Validasi

= Variabel Bebas

= Variabel Terikat

Gambar 3. Kerangka Konsep


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di Laboratorium Farmasi Fakultas Farmasi

Universitas Halu Oleo dan akan dilaksanakan mulai bulan Maret 2018  Juni

2018.

B. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental.

C. Bahan Penelitian

Bahan uji yang digunakan adalah buah ruruhi (Syzygium polycephalum

Merr.), HgCl2 (p.a.), aquadest (teknis), etanol 96 % (p.a.), HCL pekat (p.a.),

HNO3 pekat (p.a.), basis krim, kertas saring whatman No.1, kertas saring, tisu,

aluminium foil, sampel kosmetik yang megandung merkuri di pasaran.

D. Alat Penelitian

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah batang pengaduk, pisau

steanless, nampan, blender (Miyako®), tabung reaksi (pyrex®), gelas ukur

(pyrex®), gelas kimia (pyrex®), labu ukur (pyrex®), timbangan digital (precisa®),

magnetic stirrer, corong (pyrex®), hot plate (Stuart®), pipet tetes, pipet volum,

botol coklat, seperangkat rotary vacum evaporator (Buchi Rotavapor R-210®),

Spektrofotometer UV-Vis (Perkin Elmer®).


E. Variabel Penelitian

Dalam penelitian ini, variabel dibagi menjadi dua yaitu:

1. Variabel bebas : Variasi kandungan merkuri dalam pembuatan komperator

warna.

2. Variabel terikat : Komperator warna kompleks yang terbentuk.

F. Defenisi Operasional

Defenisi operasional dalam penelitian ini adalah :

1. Buah ruruhi (syzygium polycephalum Merr.) adalah buah dari tanaman ruruhi

yang diperoleh dari Kebun Raya UHO, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara

yang berbentuk bulat dan berwarna merah.

2. Ekstrak etanol kulit buah ruruhi (syzygium polycephalum Merr.) yang

dimaksud dalam penelitian ini adalah maserat etanol kulit buah ruruhi yang

berwarna merah gelap yang diperoleh dengan mengekstraksi secara maserasi

pengadukan menggunakan pelarut etanol 96 % yang diasamkan dengan HCL

1% lalu pelarutnya diuapkan dan didapatkan ekstrak yang kental dengan

rotary vacum evaporator.

3. Test Kit adalah sebuah instrumen yang dirancang sebagai alat pendeteksian

awal secara visual, dengan membandingkan warna yang terbentuk dari hasil

reaksi antara sampel dengan pereaksi berdasarkan pembentukan warna.

4. Kit yang dimaksud adalah kertas saring whatman yang direndam dalam

ekstrak kulit buah ruruhi (syzygium polycephalum Merr.).

5. Pengujian pada sampel krim menggunakan krim pemutih wajah yang beredar

dipasaran.
G. Prosedur Penelitian

1. Pengumpulan Bahan

Buah ruruhi (Syzygium polycephalum Merr.) diperoleh dari Kebun Raya

UHO, Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara.

2. Preparasi Sampel Tanaman

Buah ruruhi yang digunakan adalah buah ruruhi yang sudah masak dengan

warna merah gelap. Buah ruruhi yang telah siap, dicuci hingga bersih, dipisahkan

kulit buah dari daging dan bijinya. Kulit buah ditimbang sebanyak 100 g, setelah

ditimbang kulit buah lalu diblender, kemudian dimasukkan kedalam gelas kimia

untuk dimaserasi 3x1 jam dengan pelarut etanol 96% sebanyak 500 mL yang

diasamkan dengan HCl 1%, 5 mL menggunakan magnetic stirer. Setelah

dimaserasi diambil filtratnya, dimasukkan ke dalam labu rotary evaporator dan di

evaporasi menggunakan Rotary Evaporator, menjadi ekstrak etanol kulit buah

ruruhi (Syzygium polycephalum Merr.) (Irnawati dkk., 2017).

3. Pembuatan Larutan Merkuri (Hg)

Larutan standar logam Hg dibuat dengan konsentrasi awal 1000 ppm

dengan menimbang serbuk HgCl2 sebanyak 67,68 mg, kemudian dilarutkan di

dalam labu ukur 50 mL dengan aquadest sampai tanda tera kemudian

dihomogenkan (Sari dkk., 2017). Diambil sejumlah 2,5 mL dengan menggunakan

pipet volum dan dimasukkan kedalam labu ukur 50 mL, ditambahkan aquadest

sampai tanda tera (konsentrasi 50 ppm).

4. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum


Diambil sejumlah 1 mL larutan merkuri dan dimasukkan dalam labu ukur

50 mL kemudian ditambahkan dengan aquadest sampai tanda tera (konsentrasi 1

ppm). Analisis warna dilakukan dengan memasukkan 2 mL larutan ekstrak etanol

kulit buah ruruhi dalam tabung reaksi, selanjutkan ditambahkan 1 mL larutan

merkuri dengan konsentrasi 1 ppm kemudian diamati perubahan warnanya dan

diukur absorbansinya pada kisaran panjang gelombang 240-600 nm.

5. Pembuatan Kurva Baku

Diambil sejumlah 1 mL, 2 mL, 3 mL, 4 mL, 5 mL, 6 mL, 7 mL, 8 mL, 9

mL, dan 10 mL dari larutan merkuri 50 ppm kemudian dimasukkan kedalam labu

ukur 50 mL dan ditambahkan aquadest sampai tanda tera (konsentrasi 1-10 ppm).

Setelah itu larutan dengan konsentrasi 1-10 ppm diukur serapannya pada panjang

gelombang maksimum yang didapatkan. Kemudian dibuat kurva hubungan antara

serapan dengan konsentrasi sehingga diperoleh persamaan y = ax + b.

6. Pembuatan Komperator Warna Kompleks Tast Kit dalam Bentuk

Larutan

Pembuatan komperator warna larutan dilakukan dengan diambil sejumlah 1

mL, 2 mL, 3 mL, 4 mL, 5 mL, 6 mL, 7 mL, 8 mL, 9 mL, dan 10 mL dari larutan

merkuri 50 ppm kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 50 mL dan

ditambahkan aquadest sampai tanda tera (konsentrasi 1-10 ppm). Disiapkan 10

buah tabung reaksi dan masing-masing diisi dengan 2 mL larutan ekstrak etanol

buah ruruhi ditambahkan masing-masing 1 mL larutan merkuri konsentrasi 1-10

ppm hingga terbentuk perubahan warna.


7. Pembuatan Komperator Warna Kompleks Test Kit dalam Bentuk Paper

Test Kit

Kertas saring whatman ukuran 3x3 cm disiapkan sebanyak 20 lembar dan

direndam kedalam larutan hasil ekstraksi kulit buah ruruhi selama 1 jam sampai

pigmen warna terserap pada kertas saring. Setelah itu kertas saring diletakkan

pada nampan dan dikeringkan pada suhu ruang. Kertas saring ini kemudian

disebut kertas saring berwarna (paper test kit) (Oktiarni dkk., 2016). Paper test kit

yang telah dibuat diteteskan larutan merkuri dengan konsentrasi 1-10 ppm dan

diamati perubahan warnanya.

8. Aplikasi Metode Test Kit untuk Analisis Merkuri dalam Krim Pemutih
Wajah
Sampel krim pemutih yang digunakan diperoleh dari sekitaran pasar

wilayah Mandonga diambil sebanyak 3 sampel secara acak. Ditimbang dengan

teliti sebanyak 2 g sampel. Ditambahkan air sebanyak 25 ml, setelah itu

tambahkan dengan campuran 10 ml larutan asam klorida dan asam nitrat (3:1),

lalu uapkan sampai hampir kering. Pada sisa penguapan tambahkan akuades

sebanyak 10 ml. Lalu dipanaskan sebentar, didinginkan dan disaring (Parengkuan

dkk., 2013). Selanjutnya larutan sampel yang diperoleh diteteskan diatas paper

test kit dan dilihat perubahan warna yang terjadi. Perubahan warna tersebut

dibandingkan dengan komperator warna yang telah dibuat sebelumnya.

9. Uji Validasi Test Kit

a. Uji Akurasi (Kecermatan)

Untuk mengetahui akurasi dari metode yang dibuat, maka dilakukan uji

validasi test kit merkuri. Uji akurasi test kit merkuri dilakukan dengan cara
mengaplikasikan test kit yang telah dibuat untuk mendeteksi konsetrasi merkuri

dalam sampel yang ditambahkan merkuri. Krim simulasi merkuri yang digunakan

mempunyai konsentrasi 1 ppm. Hasil yang diperoleh kemudian dibandigkan

dengan hasil pengukuran metode standar spektrofotometri UV-Vis.

b. Uji Batas Deteksi (LOD) dan Batas Kuantifikasi (LOQ)

Paper test kit yang telah dibuat diteteskan larutan standar merkuri dengan

berbagai konsentrasi dan dilihat batas konsentrasi yang masih mampu membentuk

warna pada paper tes kit dinyatakan sebagai batas deteksi. Perlakuan diulang

sebanyak 3 kali.

10. Pengolahan dan Analisis Data

Analisis data dilakukan secara eksperimental taitu pembuatan test kit yang

selanjutnya hasil pemeiksaan di laoratorium dibuat dalam bentuk tabel dan

dinarasikan, pembahasan serta diambil kesimpulan, kemudian hasil pemeriksaan

tesebut dibandingkan dengan PerKaBadan POM RI No.17 Tahun 2014 tentang

Persyaratan Cemaran Mikroba dan Logam Berat. Dari hasil pemeriksaan tersebut

diketahui apakah produk krim pemutih wajah yang beredar memenuhi persyaratan

atau tidak.Serta mengetahui kit yang dibuat dapat digunkan dalam mendeteksi

logam merkuri dalam krim pemutih wajah.