Anda di halaman 1dari 12

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pepatah Kuno mengatakan ubi societas ibi ius (dimana ada masyarakat
disitu ada hukum), dan selayaknya masyarakat Internasional. Sudah
sepantasnya, memiliki regulasi untuk kehidupan masyarakatnya.
Dari sudut pandang sejarah, kebiasaan Internasional adalah sumber
hukum tertua diantara ketiga sumber hukum utama internasional itu. Pada
zaman yunani kuno, hukum perang dan damai lahir dari adat istiadat umum
yang dipatuhi oleh negara yunani kuno. Hukum kebiasaan ini terkristaisasi
melalui proses generalisasi dan unifikasi berbagai adat-kebiasaan dari masing
masing republik kota.
Sebelum berbicara banyak mengenai berbagai kaidah dalam hukum
Internasional, ada baiknya kita definisakan dulu pengertian Kebiasaan
internasional ini. Dalam pasal 38 (1) sub b statuta Mahkamah Internasional,
dikatakan “International Custom, as evidence of a General Practice accepted
as law” atau dengan kata lain Kebiasaan Internasional yang merupakan
Praktek umum yang diterima sebagai hukum.
Dari definis tersebut, kita bisa menarik sebuah kesimpulan, untuk sebuah
kebiasaan internasional menjadi hukum yang mengikat bagi negara-negara
lain. Ia harus memenuhi dua unsur yaitu Harus terdapat suatu kebiasaan yang
bersifat umum dan Kebiasaan itu harus diterima sebagai hukum.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan Hukum Internasional?
2. Apa yang dimaksud dengan Kebiasaan Internasional?
3. Bagaimana hubungan kebiasaan internasional pada praktek hukum
internasional ?
2

1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan


1. Untuk mengetahui apa itu hukum internasional dan kebiasaan
internasional
2. Untuk memberikan pengetahuan kepada pembaca mengenai hukum
internasional dan kebiasaan internasional
3. Agar pembaca lebih mengerti lagi seperti apa kebiasaan internasional
dalam praktik hukum internasional.
3

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Hukum Internasional

A. Pengertian Hukum Internasional


Hukum internasional adalah himpunan dari peraturan-peraturan dan
ketentuan-ketentuan yang mengikat serta mengatur hubungan antara negara-
negara dan subjek-subjek hukum lainnya dalam kehidupan masyarakat
internasional.
Di dalam ketentuan hukum itu sesungguhnya mencakup banyak hal,
antara lain:
1) Adanya peraturan.
2) Adanya subjek yang dikenal peraturan.
3) Adanya keharusan subjek untuk mematuhtaati peraturan.
4) Adanya akibat buruk jika peraturan itu dilanggar.

Unsur-unsur yang ada di dalam hukum internasional:


1) Adanya peraturan-peraturan/norma-norma, isinya: traktat,
kebiasaan, dan asas-asas.
2) Adanya subjek hukum.
3) Adanya peraturan subjek-subjek hukum terhadap peraturan-
peraturan yang ada.
4) Kepatuhan itu disyaratkan jika mereka akan saling mengadakan
hubungan.

Dari gambaran di atas serta dari unsur-unsur yang harus ada di dalam
hukum internasional, maka dapat disimpulkan bahwa untuk dapat
menciptakan kehidupan masyarakat internasional yang teratur maka mutlak
diperlukan adanya norma atau peraturan yang disebut hukum internasional.
Keharusan tunduknya subjek-subjek hukum internasional, khususnya negara
4

dalam mengadakan hubungan satu sama lain merupakan hal yang tidak dapat
ditawarkan lagi.

Dari uraian singkat di atas juga dapat dipahami, mengenai tujuan hukum
internasional, yaitu:
1) Mewujudkan keadilan dalam hubungan internasional.
2) Menciptakan hubungan internasional yang teratur.
Nama lain hukum internasional adalah international law, transnational
law (Inggris) ius gentium (Romawi), volkenreet (Jerman), volkenrecht
(Belanda), droitgent (Perancis), hukum antar bangsa (Indonesia).

Hukum Internasional dapat dibagi menjadi dua yakni hukum perdata


internasional dan hukum publik internasional. Hukum perdata internasional,
adalah hukum internasional yang mengatur hubungan hukum antara warga
negara suatu negara dengan warga negara dari negara lain. Hukum publik
internasional adalah hukum internasional yang mengatur negara yang satu
dengan negara lain di dalam hubungan internasional.

B. Subjek-Subjek Hukum Internasional


Subjek hukum internasional, yaitu pendukung hak dan kewajiban
menurut hukum internasional. Subjek hukum internasional menurut
Mochtar Kusumaatmadja terdiri dari :
1) Negara,
2) Tahta suci,
3) Palang merah internasional
4) Organisasi internasional
5) Orang perorangan (individu)
6) Pemberontakan dan pihak dalam sengketa (belligerent).

Negara merupakan subjek hukum internsional dalam arti klasik,


semenjak lahirnya hukum internasional, negara sudah diakui sebagai
subjek hukum internasional. Oleh karena itu, hingga sampai sekarangpun
5

ada yang beranggapan, bahwa hukum internasional itu pada hakikatnya


adalah hukum antara negara.
Tahta suci (Vatikan) sebagai subjek hukum internasional yang telah ada
sejak dahulu di samping negara-negara. Hal tersebut merupakan
peninggalan (atau kelanjutan) sejarah sejak zaman dahulu ketika Paus
sebagai kepala Gereja Roma yang memiliki kekuasaan duniawi. Hingga
sekarang Tahta Suci mempunyai perwakilan-perwakilan diplomatic di
berbagai ibu kota negara, seperti di Jakarta, yang kedudukannya sejajar
dengan wakil-wakil diplomatic negara lain.
Palang Merah Internasional (PMI) yang berkedudukan di Jenewa
mempunyai tempat terakir dalam sejarah Hukum Internasional. Boleh
dikatakan, bahwa organisasi ini sebagai subjek hukum internasional
(terbatas) lahir karena sejarah, kemudia statusnya diperkuat dalam
perjanjian-perjanjian dan konvensi-konvensi palang merah internasional
(konvensi Genewa 1949 tentang perlindungan korban perang). Dewasa
ini Palang Merah Internasional secara umum diakui sebagai organisasi
internasional yang memiliki kedudukan sebagai subjek hukum
internasional, walaupun dengan ruang lingkup yang sangat terbatas.
Organisasi Internasional sebagai subjek hukum internasional
kedudukannya sekarang tidak diragukan lagi, meskipun pada mulanya
belum ada kepastian mengenai hal itu. Organisasi internasional, seperti
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan Organisasi Buruh Internasional
(International Labour Organization/ILO) mempunyai hak-hak dan
kewajiban yang ditetapkan dalam konvensi-konvensi Internasional yang
merupakan anggaran dasarnya. Melalui kenyataan ini sebenarnya sudah
dapat dikatakan, bahwa PBB dan organisasi internasional semacamnya
adalah merupakan subjek hukum internasional menurut hukum
internasional khususnya yang bersumber pada konvensi-konvensi
internasional tadi.
6

Orang perorangan (Individu) diakui sebagai subjek hukum


internasional, karena kepadanya diberikan hak untuk menuntut di
pengadilan internasional berdasarkan konvensi atau perjanjian.
Pemberontakan dan Pihak dalam sengketa, menurut hukum perang
dapat memperoleh kedudukan dan hak sebagai pihak yang bersengketa
dalam keadaan-keadaan tertentu. Bahkan akhir-akhir gerakan
pembebasan diakui pula sebagai subjek hukum internasional. Seperti
Gerakan Pembebasan Palestina (PLO).

Sebagai dasar pengalaman tersebut, maka pada prinsipnya bangsa-bangsa


di dunia mempunyai hak-hak asasi yang perlu dilindungi, seperti (1) hak
untuk menentukan nasib sendiri, (2) hak untuk secara bebas memilih
sistem ekonomi, politik dan sosial sendiri, dan (3) hak untuk menguasai
sumber kekayaan alam dari wilayah yang didudukinya.

2.2 Kebiasaan Internasional

A. Pengertian Kebiasaan (Costory)


Dari sudut pandang sejarah, kebiasaan Internasional adalah sumber
hukum tertua diantara ketiga sumber hukum utama internasional itu. Pada
zaman yunani kuno, hukum perang dan damai lahir dari adat istiadat umum
yang dipatuhi oleh negara yunani kuno. Hukum kebiasaan ini terkristaisasi
melalui proses generalisasi dan unifikasi berbagai adat-kebiasaan dari masing
masing republik kota.
Sebelum berbicara banyak mengenai berbagai kaidah dalam hukum
Internasional, ada baiknya kita definisakan dulu pengertian Kebiasaan
internasional ini. Dalam pasal 38 (1) sub b statuta Mahkamah Internasional,
dikatakan “International Custom, as evidence of a General Practice accepted
as law” atau dengan kata lain Kebiasaan Internasional yang merupakan
Praktek umum yang diterima sebagai hukum.
Dari definis tersebut, kita bisa menarik sebuah kesimpulan, untuk sebuah
kebiasaan internasional menjadi hukum yang mengikat bagi negara negara
lain. Ia harus memenuhi dua unsur yaitu :
7

1) Harus terdapat suatu kebiasaan yang bersifat umum


2) Kebiasaan itu harus diterima sebagai hukum.
Unsur pertama, adalah suatu kebiasaan yang bersifat umum. Atau dengan
kata lain, elemen ini merupakan unsur materiil. Namun yang harus dibedakan
adalah antara kebiasaan dan adat. Adat istiadat adalah kebiasaan langkah laku
internasional yang belum diterima sebagai hukum dan dapat bertentangan
satu sama lain. Sedangkan kebiasaan harus diunifikasi dan keberadaanya
tidak usah dibuktikan (self consistent). Atau kesimpulanya
adalah,”kebiasaan, dalam hukum adalah adat-istidat yang telah memperoleh
kekuatan hukum”.
Namun untuk dikatakan sebagai kebiasaan internasional pula, kebiasaan
ini harus memuat unsur unsur dibawah ini:
1) Perlu adanya suatu kebiasaan / praktek, yaitu : suatu pola tindak
yang berlangsung lama, atau dilakukan secara berulang kali.
2) Pola tindakan yang dilakukan, harus merupakan rangkaian
tindakan yang serupa.
3) Rangkaian tindakan itu harus mengenai sesuatu hal yang sama dan
dalam keadaan yang serupa pula.
4) Pola tindakan yang dilakukan secara berulang kali, terhadap hal
yang sama dan dalam keadaan yang serupa, harus bersifat umum
dan bertalian dengan hubungan internasional.

Berbicara mengenai jangka waktu, tentu timbul pertanyaan. Berapa lama


waktu yang dibutuhkan untuk dikatakan sebagai sebuah kebiasaan. Berapa
perulangan yang kiranya perlu untuk bisa memenuhi unsur kebiasaan ini.
Mochtar Kusumaatmadja mengatakan,”Dalam situasi yang konkret
memang sukar sekali menetapkan setelah berapa lama dapat dikatakan telah
terbentuk satu kebiasaan. Tentang hal ini tidak ada ketentuan yang pasti. Ada
kalanya waktu yang lama akan tetapi ada juga contoh di mana masyarakat
internasional telah menerima satu pola tindakan sebagai hukum kebiasaan
setelah waktu yang tidak begitu lama”.Tak jauh berbeda, Frans E Likadja dan
8

Daniel Frans Bessie, menjelaskan, secara yuridis tidak ada ketentuan yang
pasti tentang jangka waktu/berapa kali harus dipraktekan.
Unsur Kedua, yaitu kebiasaan itu harus diterima sebagai hukum. Atau
aspek psikologis yang lebih dikenal opinio juris sive necessitas atau
sebagaimana diistilahkan oleh seorang hakim, yaitu“ keyakinan timbal-balik
bahwa keadaan perulangan itu adalah akibat peraturan yang memaksa”.
Diihat secara praktis suatu kebiasaan Internasional dapat dikatakan diterima
sebagai hukum apabila negara-negara menerimanya sebagai demikian;
artinya apabila negara negara itu tidak menyatakan keberatan terhadapnya.
Keberatan ini dapat dinyatakan dengan berbagai cara misalnya dengan jalan
diplomatik (protes) atau dengan jalan hukum dengan mengajukan keberatan
keberatan di hadapan suatu mahkamah.
Dan yang perlu digarisbawahi lagi bahwa kedua unsur tersebut ialah
saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan, artinya sebuah kebiasaan untuk
bisa diterima sebagi sumber hukukm internasional haruslah memenuhi dua
unsur itu, bukan salah satu unsur saja yang terpenuhi kemudian bisa dikatakan
bahwa kebiasaan menjadi sumber hukum internasional.
Syarat materiil yang terpenuhi saja, tidak akan melahirkan hukum,
sebaliknya jika kebiasaan hukum internasional itu tidak memenuhi syarat
psikologis (unsur kedua yaitu tidak diterima sebagai hukum) maka kebiasaan
Hukum Internasional tersebut hanyalah merupakan kesopanan Internasional.
Kebiasaan sebagai salah satu sumber hukum, tidaklah berdiri sendiri. Ia
berkaitan erat dengan sumber hukum lainya, yaitu perjanjian Internasional.
Dan alur hubunganya adalah timbal balik dan saling berkaitan dan
berhubungan. Saling mengisi dan melengkapi satu sama lainya.

B. Unsur-Unsur Kebiasaan Internasional

Unsur-unsur kebiasaan internsional telah dijelaskan pada Pasal 38 (1) sub


b Statuta Mahkamah Internsional bahwa jelaslah untuk dapat dikatakan suatu
kebiasaan internsional itu merupakan sumber hukum internsional harus
memenuhi sebagai berikut:
9

1. Harus Terdapat Suatu Kebiasaan yang Bersifat Umum


Dalam unsur ini tini merupakan prasyarat material. Prasyarat material
di sini dimaksudkan adalah suatu kebiasaan internasional dapat
dikatakan bersifat umum, apabila memenuhi prasyarat tertentu
pula.Prasyarat-prayaratan yang dimaksud antara lain :
a. Perlu adanya suatu kebisaan/praktek,
yaitu suatu pola tindakan yang berlangsung lama atau dilakukan
secara berulang kali.
b. Pola tindakan yang dilakukan harus merupakan rangkaian
tindakan
c. Rangkaian tindakan itu harus mengenai suatu hal yang sama dan
dalam keadaan yang serupa pula
d. Pola tindakan yang dilakukan secara berulang kali
Terhadap hal yang sama dan dalam keadaan yang serupa itu, harus
bersifat umum dan bertalian dengan hubungan internsional.
10

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Hukum internasional adalah himpunan dari peraturan-peraturan dan
ketentuan-ketentuan yang mengikat serta mengatur hubungan antara negara-
negara dan subjek-subjek hukum lainnya dalam kehidupan masyarakat
internasional.
Dari sudut pandang sejarah, kebiasaan Internasional adalah sumber
hukum tertua diantara ketiga sumber hukum utama internasional itu. Pada
zaman yunani kuno, hukum perang dan damai lahir dari adat istiadat umum
yang dipatuhi oleh negara yunani kuno. Hukum kebiasaan ini terkristaisasi
melalui proses generalisasi dan unifikasi berbagai adat-kebiasaan dari masing
masing republik kota. Dalam pasal 38 (1) sub b statuta Mahkamah
Internasional, dikatakan “International Custom, as evidence of a General
Practice accepted as law” atau dengan kata lain Kebiasaan Internasional yang
merupakan Praktek umum yang diterima sebagai hukum.
Contoh mengenai kebiasaan dalam praktik hukum internasional Dalam
perang dunia ke-I dan ke-II merupakan kebiasaan bagi kapal selam Jerman
untuk menenggalamkan kapal-kapal dagang pihak lawan tanpa
pemberitahuan lebih dahulu, tanpa memberi kesempatan kepada awak kapal
untuk menyelematkan dirinya.
Dapat dilihat bahwa dalam hal ini berlawanan dengan hukum perang di
laut yang menyatakan bahwa:
1) Sebelum mengenggelamkan kapal dagang musuh suatu kapal selam harus
membeir isyarat peringatan
2) dan kesempatan awal pada awak kapal untuk menyelamatakan dirinya.

Contoh ketentuan hukum internasional yang terjadi melalui proses


kebiasaan internasional misalnya di dalam hukum perang. Penggunaan
11

bendera putih sebagai bendera tanda untuk memberikan perlindungan kepada


utusan yang dikirim untuk mengadakan hubungan dengan pihak musuh.
Kebiasaan internasional ini berawal dari sebuah kebiasaan. Pada masa Yunani
kuno, kaidah-kaidah hukum perang dan damai timbul dari kebiasaan-
kebiasaan umum yang ditaati oleh negara-negara kota Yunani.

3.2 Saran
Keberadaan hukum internasional dan praktik hukum internasional
sangat dirasakan demi tercapainaya ketertiban dunia. Namun tidak dapat
dipungkiri juga bahwa dewasa ini ketegasan dari hukum internasional sudah
mulai melemah seiring berkembangnya kekuatan-kekuatan yang terpusat
pada beberapa negara tertentu.
Sebagai generasi penerus yang akan menjalankan tugas-tugas
pemerintahan pada masa akan datang, sangat diharapkan keseriusan dari
semua pihak khususnya mahasiswa untuk kritis terhadap isu-isu, baik yang
terjadi di dalam maupun diluar negeri ini, apalagi menyangkut pelaksanaan
dari hukum internasional yang semakin hari semakin melemah
pengimplementasiannya demi tercapainya perdamaian dunia.
12

DAFTAR PUSTAKA

Kusumaatmadja, Mochtar dan Etty R. Agoes. 2003 Pengantar Hukum


Internasional. PT Alumni : Bandung

Sefriani.. 2017. Hukum Internasional Suatu Pengantar. PT. RajaGrafindo Persada


: Jakarta

https://www.scribd.com/document/363450209/Makalah-Kebiasaan-Hukum-
Internasional-Dalam-Praktik-Hukum-Internasional (Diakses tanggal 24
Maret 2018)