Anda di halaman 1dari 15

1.

A -> E

Wacana ini membahas tentang argument penulis terhadap price-fixing. Jawaban yang tepat
adalah E, dengan dukungan dari pernyataan yang dimulai di alinea ke-6, “In fact, price fixing is
normal … as an effortless consequence of its own development, …”
Oleh karena itu, jawaban yang paling tepat untuk pertanyaan ini adalah E, karena sang penulis
memberikan argument tentang “inevitability” dari price-fixing itu sendiri.
2. C

Sikap sang penulis terhadap kebanyakan ahli ekonomi dalam wacana ini dapat dilihat sebagai
kritis dan merendahkan. Indikasi ini dapat dilihat dalam pernyataan di alinea ke-16, “Most
economists do not see price-fixing when it occurs….”
Jadi sudah cukup jelas bahwa sang penulis merendahkan dan kritis terhadap sudut pandang
para ahli ekonomi.
3. C

Sang penulis mengganggap bahwa price-fixing Nampak berbahaya (pernicious) karena ia


beranggapan bahwa seharusnya konsumenlah yang seharusnya menentukan harga. Pernyataan
ini dapat dilihat di alinea k-3 sampai 5, “A price that is determined by the seller, …. by anyone
other than the aggregate of consumers seems pernicious.
4. B -> E

Menurut sang penulis, price-fixing di negara-negara non-sosialis seringkali bersifat disengaja dan
meluas. Pernyataan ini dapat dilihat di alinea ke-21, “These economies employ intentional
pricefixing, …” serta alinea ke-22 sampai 24, “Formal price fixing…. covering the members of an
industry are commonplace.” Dari pernyataan-pernyataan tersebut sudah jelas bahwa sang
penulis beranggapan bahwa price-fixing di negara non-sosialis bersifat disengaja dan meluas
(intentional and widespread).
5. B -> A

Sang penulis Nampak paling setuju dengan pernyataan A. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan di
alinea ke-15, “…because price cutting would be prejudicial to the common interest in a stable
demand for products.” Sehingga, dari pernyataan ini dapat disimpulkan bahwa sang penulis
memberi pernyataan bahwa para direksi dari firma-firma besar ingin memiliki kendali atas
stabilitas alur permintaan (demand), atau dengan kata lain, ingin memiliki antisipasi terhadap
hal tersebut, sehingga jawaban yang paling tepat adalah A.
6. B

Tujuan utama wacana ini adalah untuk mengusulkan cara untuk mengekang penggalian illegal
sembari menguntungkan profesi arkeologis. Hal ini didukung dengan ide pokok yang terdapat di
paragraph ke-2 dan terakhir dari wacana, sehingga jawaban yang paling tepat adalah B
7. E

Pernyataan yang tidak diimplikasikan oleh sang penulis tentang artefak tiruan adalah E. Tidak
ada pernyataan dalam wacana ini yang mengindikasikan bahwa artefak tiruan dapat melebihi
kualitas artefak asli. Oleh karena itu, jawabannya sudah jelas, yaitu E.
8. B -> E

Kerugian dari menyimpan artefak di basement museum adalah E, yaitu kesulitan dalam
mengkatalogkan artefak, serta kesulitan menemukan artefak-artefak tersebut setelah disimpan.
Pernyataan ini Nampak pada kalimat pertama dan kedua dari paragraph ke-5.
9. C

Poin yang ingin digarisbawahi oleh sang penulis pada soal ini adalah C, yaitu untuk artefak yang
tidak memiliki nilai unik dapat dijual, dan cukup tersedia dalam kuantitas yang banyak. Di
paragraph ke-4 dapat dilihat bahwa contoh penggalian di Siprus ini adalah untuk mendukung
argument penulis di paragraph ke-3, bahwa tidak semua artefak memiliki nilai saintifik, sehingga
sah-sah saja untuk dijual, apalagi jika jumlahnya cukup banyak.
10. E -> A

Kekhawatiran penulis tentang penjualan artefak imitasi pada penggalian illegal adalah
didasarkan atas asumsi A, yaitu bahwa para calon pembeli akan lebih memilih untuk membeli
artefak yang terotentifikasi. Pernyataan ini dapat dibuktikan dengan keseluruhan isi paragraph
ke-6.
11. C

Topik sentral dari kedua wacana ini adalah C, yaitu bagaimana setiap sistem hukum menangani
pemerasan. Wacana A membicarakan tentang bagaimana Common Law di AS dan Kanada
menangani pemerasan, sedangkan wacana B membicarakan tentang cara hukum Romawi Kuno
menangani pemerasan.
12. E

Frasa “the state’s chip” yang dimaksud penulis pada paragraph 3 adalah kewajiban warga
negara untuk bersaksi terhadap tindak criminal yang telah mereka saksikan. Istilah “chip” di sini
adalah “kartu” yang dapat dimainkan oleh pelapor, untuk dapat memeras pelaku criminal
13. E

Pernyataan yang paling dapat didukung oleh informasi dari kedua wacana tersebut adalah E.
Common Law yang dimiliki AS dan Kanada mengindikasikan bahwa otoritas publik tidak
mempermasalahkan pengungkapan informasi tertentu, tidak seperti yang terdapat dalam
hukum Romawi Kuno
14. C

Pernyataan yang berlaku bagi Common Law di AS dan Kanada, namun tidak berlaku bagi hukum
Romawi Kuno adalah C. Hukum yang berlaku terhadap pemerasan harus ditindaklanjuti sesuai
dengan prosedur yang tertulis. Ini dapat dibuktikan dengan pernyataan terakhir di paragraph ke-
2 wacana A, dan paragraph terakhir wacana B
15. C

Hubungan antara wacana A dan B dalam kasus pemerasan dapat dianalogikan dengan C.
Satu negara dapat melegalkan banyak deduksi dan bebas pajak, sementara negara lainnya dapat
melegalkan sedikit deduksi dan bebas pajak. Analogi ini dapat dibandingkan dengan cara AS dan
Kanada menangani pemerasan, dan sudut pandang Common Law terhadap tindakan pemerasan
itu sendiri meski terhadap criminal, serta cara hukum Romawi Kuno dalam menangani
pemerasan, terutama dalam pembeberan informasi.