Anda di halaman 1dari 6

Teruntuk

Masa Depan

Ridho Ivander Rama

Diteribitkan secara mandiri di

Nulisbuku.com

Teruntuk Masa Depan

Oleh: Ridho Ivander Rama

Copyright 2017

Editor: Ridho Ivander Rama


Layouter: Nulisbuku.com

Desain Sampul: Ridho Ivander Rama

Penerbit: Nulisbuku.com

Puisi ini ditulis 90% berdasarkan pengamatan saya, curhatan teman-teman saya, peristiwa sosial, dan lain-
lain. Sisa 10% nya adalah pengalaman pribadi saya, keresahan-keresahan sosial saya, dan lain-lain
Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada ALLAH SWT atas nafas dan telah membuka jalan pikiran
saya, saya mau berterima kasih kepada kedua orang tua saya yang telah melahirkan saya sekaligus
memotivasi saya untuk pantang menyerah, saya mau berterima kasih kepada Tere-Liye yang pernah
ngomong langsung ke saya soal jangan nyerah nulis dan terus berkarya, terima kasih kepada teman-teman
Komunitas Bisa Menulis Asma Nadia dan Forum Literasi Indonesia yang telah memberi saya banyak
ilmu-ilmu menulis, semoga seluruh ilmu yang kalian beri, takkan hilang dan terus berguna 

With love,

Ridho Ivander Rama

Jatuh

Jatuh,
Tak berharap bangkit
Jatuh,
Menunggu, tak bangkit
Jatuh,

Kedua kalinya
Terulang lagi
Tak bisa berhenti
Jatuh,
Jauh dari harapan
Jatuh,
Berharap harapan
Berharaplah untuk tidak jatuh,
Belajarlah dari kejatuhan mu
Jangan sekedar berharap
Karena berharap hanya membuang waktu mu

Lakukan sesuatu yang nyata


Pelajarilah dari jatuhnya dirimu
Ulangi hingga kau tak kembali jatuh
Jika masih begitu, belajar lagi

Percayalah padaku,
Kau takkan terus menerus jatuh
Tidak ada orang yang hidup secara konstan
Karena hidup itu pasti berubah

Ia berubah secara tidak pasti,


Dan terus berubah-ubah
Tanpa kau sadari hal itu
Dan kau tak mensyukuri itu

Jangan hanya menunggu berubah


Ubah dirimu sebelum kau diubah
Terkadang, perubahan itu tidak seperti yang kau inginkan
Maka dari itu, ubahlah dirimu

Pasti

Bertanya,
Belum pasti
Bertanya,
Kuragu
Bertanya,
Kutelat
Bertanya,
Kutelan

Salah,
Juga tak
Lupakan saja,
Biar bumi menelannya

Biarkan hidup lalu


Seperti kendaraan lalu lintas
Hal penting,
Tak terlalu penting

Kau nikmati saja


Itu pertanyaannya
Kau lupakan saja
Itu perintahnya
Bosan

Bosan aku
Aku bosan
Bosan dalam hitam
Dan menuju putih

Menjulang tinggi di atas


Tak pernah turun
Bosan,
Tak bersyukur diriku

Apa tak sadar diriku?


Melihat mereka dibawah
Mengadah tangan?
Dasar bajingan

Terkutuklah diriku
Yang tak berguna ini
Bosan diriku
Untuk membodohi diriku