Anda di halaman 1dari 28

CASE REPORT

APPENDICITIS AKUT

DISUSUN OLEH

Hana Ananda Irivani


030.13.088

PEMBIMBING
Dr. Hengky Setyahadi, Sp.B

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
RUMAH SAKIT TNI AL DR. MINTOHARDJO
JANUARI 2018

LEMBAR PENGESAHAN

1
LAPORAN KASUS

APPENDICITIS AKUT

Diajukan untuk memenuhi syarat kepaniteraan klinik Ilmu bedah

Periode 11 Desember – 15 Februari 2018

Di Rumah Sakit Angkatan Laut Dr. Mintohardjo

Disusun oleh :

Hana Ananda Irivani

030.13.088

Telah diterima dan disetujui oleh Dr. Hengky Setyahadi, Sp.B, selaku dokter pembimbing

Departemen Ilmu Bedah RS AL dr. Mintohardjo

Jakarta, 2018

.................................................................

Dr. Hengky Setyahadi, Sp.B

DAFTAR ISI
Lembar Pengesahan............................................................................................... 2

2
Daftar isi…………………………………………………………………………. 3
Bab I Pendahuluan…………………………………………………………....... 4
Bab II Laporan kasus............................................................................................... 5
1.1 Anamnesis............................................................................................... 5
1.2 Pemeriksaan Fisik.............................................................................. 6
1.3 Pemeriksaan Penunjang....................................................................... 8
1.4 Resume................................................................................................ 9
1.5 Diagnosa Kerja.................................................................................... 10
1.6 Diagnosa Banding................................................................................ 10
1.7 Penatalaksanaan................................................................................... 10
1.8 Follow Up Post Op.............................................................................. 11
1.9 Prognosis............................................................................................... 11
Bab III Tinjauan pustaka…………………………………………………………. 12
3.1 Anatomi, fisiologi dan embriologi appendix............................................12
3.2 Epidemiologi ……………………………………………………….... 13
3.3 Etiologi ……………………………………………………………..... 14
3.4 Patofisiologi...............................……………………………………… 15
3.5 Diagnosis…………………………………………………………........ 16
3.6 Stages of appendicitis………….………………………………………. 21
3.7 Diagnosa banding …………………………………………................. 23
3.7 Komplikasi …………………………………………........................... 23
3.8 Penatalaksanaan ……………………………………………………… 24
3.9 Pencegahan........................................................................................ 25
Bab IV Analisa kasus………………………………………………………… 27
Daftar Pustaka …………………………………………………………………… 28

BAB I
PENDAHULUAN

3
Appendicitis adalah peradangan yang terjadi pada appendix vermicularis. Appendix
merupakan organ tubular yang terletak pada usus besar yang berada di perut kanan bawah.
1
Appendicitis merupakan keadaan kegawat daruratan abdomen yang paling umum dijumpai.
Menurut data epidemiologi apendisitis akut jarang terjadi pada balita, sedangkan
meningkat pada pubertas, dan mencapai puncaknya pada saat remaja dan awal usia 20-an,
dan angka ini menurun pada usia menjelang dewasa. Insiden apendisitis memiliki rasio yang
sama antara wanita dan laki-laki pada masa prapubertas. Sedangkan pada masa remaja dan
dewasa muda rasionya menjadi 3:2.1

Nyeri perut adalah keluhan utama yang menyertai pasien dengan apendicitis akut.
Keluhan nyeri kolik di central abdomen diikuti muntah dengan migrasi rasa sakit ke fosa
iliaka kanan hanya terdapat pada 50% pasien. Biasanya, pasien menggambarkan nyeri kolitis
periumbilikal yang meningkat selama 24 jam pertama, kemudian menjadi konstan dan tajam,
dan bermigrasi ke fosa iliaka. 2

Nyeri awal merupakan gejala yang dirujuk akibat inervasi saraf viseral, dan nyeri
lokal disebabkan oleh keterlibatan peritoneum parietal setelah perkembangan proses
inflamasi. Kehilangan nafsu makan seringkali merupakan ciri utama. Sembelit dan mual
dengan muntah dapat mengindikasikan perkembangan peritonitis umum setelah perforasi
namun jarang merupakan ciri utama pada apendicitis sederhana. Pasien dengan apendisitis
akut biasanya memiliki demam ringan.2

Apendicitis dapat terjadi karena beberapa hal, seperti infeksi pada appendix. Namun,
faktor yang paling penting adalah adanya obstruksi pada lumen appendix. Ketika appendicitis
tidak diobati, maka hal ini berpotensi untuk menimbulkan komplikasi seperti perforasi atau
sepsis, dan bahkan dapat menyebabkan kematian. Perforasi harus dicurigai bila suhu melebihi
38.3C. Peritonitis biasanya berkembang bila terdapat perforasi bebas ke rongga perut.
Appendectomy merupakan satu-satunya pengobatan kuratif radang usus buntu.3

BAB II
LAPORAN KASUS
1.1. Anamnesis

4
Anamnesis dilakukan pada tanggal 14 Januari 2018 jam 07.30 WIB di bangsal Sebatik
RSAL dr. Mintohardjo.

1.1.1. Identitas Penderita


Nama : Ny. J
Tanggal lahir : 16 April 1958
Umur : 59 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Agama : Islam
Alamat : Jl. GG Spoor 4 RT 08/04 No.25 Kemayoran Jakarta Pusat
Status Perkawinan : Menikah
Tanggal Masuk : 14 Januari 2018
No.RM : 194066

1.1.2. Keluhan Utama


Nyeri perut kanan bawah sejak 1 hari SMRS

1.1.3. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien merupakan pasien rujukan dari RSUD Kemayoran. Pasien datang ke RSAL
Mintohardjo pada pukul 03.00 WIB (14/1/18) dengan keluhan nyeri perut kanan bawah sejak
1 hari SMRS (13/1/18) kurang lebih pada pukul 09.00 WIB. Nyeri dirasa terus menerus dan
tidak menjalar. Sifat nyeri tajam seperti ditusuk tusuk. Pada awalnya, nyeri dirasakan di
daerah ulu hati dan disekitar pusar kemudian berpindah ke kanan bawah. Nyeri dirasa
memberat bila perut kanan bawah ditekan atau ketika beraktivitas. Pasien juga mengeluh
mual disertai muntah 3x berisi makanan terutama ketika pasien makan. Demam (+). Demam
dirasa timbul bersamaan dengan keluhan nyeri perut dan terus menerus. Demam sempat
membuat pasien hingga menggigil. BAB & BAK normal.

1.1.4. Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat Hipertensi : disangkal
Riwayat DM : disangkal

5
Riwayat Penyakit Jantung : disangkal
Riwayat Asma : positif
Riwayat Penyakit ginjal : disangkal
Riwayat Maag : disangkal
Riwayat Alergi : disangkal

1.1.5. Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat Hipertensi : disangkal
Riwayat DM : disangkal
Riwayat Penyakit Jantung : disangkal
Riwayat Asma : disangkal
Riwayat Alergi : disangkal

1.1.6. Riwayat Kebiasaan


Pasien jarang mengkonsumsi makanan tinggi serat
1.2. Pemeriksaan Fisik
1. Status Generalis

Keadaan Umum : Tampak sakit sedang


Kesadaran : Compos mentis
Status gizi : Overweight (BB/TB 64kg/158cm)
Tanda vital : Tekanan darah: 110/70 mmHg
Nadi: 88 x/menit
Respirasi: 20 x/menit
Suhu: 37,3 °C
Saturasi oksigen: 98%

Kepala dan wajah Rambut Distribusi rambut merata, dan tidak mudah dicabut
Kulit Lesi (-), rash (-), deformitas (-), sianotik (-), ikterik
(-).
Mata Konjungtiva tidak anemis, ptosis (-), sclera ikterik (-), mata
cekung (-), pupil bulat, isokor, diameter 3mm/3mm, refleks pupil
langsung dan tidak langsung (+/+).
Hidung Bentuk dan ukuran normal, deviasi (-), septum nasal normal
berada di tengah, mukosa hiperemis (-), benda asing (-), secret
(-), deformitas (-).
Telinga Kedua telinga tampak simetris, serumen (+), hiperemis (-), liang

6
telinga lapang, deformitas (-), nyeri tekan (-) benda asing (-).
Mulut Sianosis (-) deviasi lidah (-), atrofi lidah (-) lidah kotor (-).
Mukosa mulut tidak hiperemis.
Faring normal tidak hiperemis, letak uvula di tengah. Tonsil
normal, T1/T1.
Leher Pembesaran tiroid (+), pembesaran KGB leher dan
supraklavikular (+), pembesaran kelenjar parotis (-) keras (+),
hangat (+), hiperemis (+) mobile (-).
Thorax
Jantung Inspeksi Ictus Cordis tidak terlihat
Palpasi Ictus cordis (+) pada ICS V linea midclavicular
sinistra
Perkusi Batas jantung kanan : ICS III - V , linea sternalis
dextra
Batas jantung kiri : ICS V , 1 cm medial dari
linea midklavikularis sinistra
Batas atas jantung : ICS II linea sternalis sinistra
Auskultasi S1 S2 regular, murmur (-), gallop (-).
Paru Inspeksi Gerakan napas simetris tanpa adanya bagian
yang tertinggal, lesi (-), pernapasan
abdominothoracal, retraksi (-).
Palpasi Gerak simetris, vocal fremitus sama kuat pada
kedua hemithorax
Perkusi Sonor pada kedua hemithorax, batas paru-hepar
pada sela iga VI pada linea midklavikularis
dextra, dengan peranjakan 2 jari pemeriksa,
batas paru-lambung pada sela iga ke VIII pada
linea axilatis anterior sinistra
Auskultasi Vesikuler +/+, Ronki -/-, Wheezing -/-
Abdomen Inspeksi Smiling Umbilicus (-) caput medusae (-), spider
navy (-).
Auskultasi Bising usus normal (2x/menit)
Palpasi Supel, hepar dan lien tidak teraba, mc burney
sign (+), psoas sign (+)
Perkusi Timpani di seluruh lapang abdomen
Ekstremitas Akral hangat di ke empat ekstremitas, sianotis (-), ikterik (-),
deformitas (-), edema (-), CRT normal (<2 detik).

Status lokalis (Abdomen)

7
Inspeksi : Bentuk simetris, sedikit membuncit.
Auskultasi : Bising usus (+)
Palpasi : Dinding perut simetris, buncit, supel , Massa (-), Mc. Burney sign (+) Psoas
sign (+)
Perkusi : Bunyi timpani
1.3. Pemeriksaan Penunjang
 Laboratorium Darah tanggal 13 Januari 2018 :

Jenis Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Rujukan


HEMATOLOGI
Darah Rutin
Leukosit 15.500 /uL 4.000 – 10.000
Eritrosit 3.5 juta/uL 3.8-4.8
Hemoglobin 11.1 g/dL 12-15
Hematokrit 30 % 38-46
Trombosit 307 ribu/uL 150.000 – 400.000
KIMIA KLINIK
Fungsi Ginjal
Ureum 40 mg/dL 10-50
Kreatinin 0.9 mg/dL 0.5-0.9
URINE
Urine Lengkap
Kimia Urin
Warna Kuning Kuning
Eritrosit Negative Negative
Glukosa Negative mg/dL Negative
Leukosit Negative Negative
Bilirubin Negative Negative
Keton Negative Negative
Berat Jenis 1.030 1.015 – 1.025
pH 6.0 5.0 6.0
Protein Negative mg/dL Negative
Urobilinogen Negative mg/dL Negative
Nitrit Negative Negative
Mikroskopis Urine
Eritrosit 6-9 /LPB <3
Leukosit 2-3 /LPB <5
Epitel Positive /LPK Positive
Bakteri Negative motil/LPK Negative
Silinder Negative /LPB Negative
Kristal Negative /LPB Negative
ELEKTROLIT
Natrium 141 135 - 145
Kalium 4.0 3.50 – 5.00
Klorida 105 97.0 – 107.0

 Foto thoraks tanggal 14/01/18 :

8
1.4. Resume
Pasien merupakan pasien rujukan dari RSUD Kemayoran. Pasien datang ke
RSAL Mintohardjo pada pukul 03.00 WIB (14/1/18) dengan keluhan nyeri perut kanan
bawah sejak 1 hari SMRS (13/1/18) kurang lebih pada pukul 09.00 WIB. Nyeri dirasa terus
menerus dan tidak menjalar. Sifat nyeri tajam seperti ditusuk tusuk. Pada awalnya, nyeri
dirasakan di daerah ulu hati dan disekitar pusar kemudian berpindah ke kanan bawah. Nyeri
dirasa memberat bila perut kanan bawah ditekan atau ketika beraktivitas. Pasien juga
mengeluh mual disertai muntah 3x berisi makanan terutama ketika pasien makan. Demam
(+). Demam dirasa timbul bersamaan dengan keluhan nyeri perut dan terus menerus. Demam
sempat membuat pasien hingga menggigil. BAB & BAK normal. Dari hasil pemeriksaan
fisik pada tanda vital didapatkan peningkatan suhu yaitu 37,3C dan pada pemeriksaan fisik
abdomen didapatkan hasil nyeri tekan Mc Burney (+) dan psoas sign (+), serta pada
pemeriksaan penunjang di dapatkan leukositosis.

1.5. Diagnosis
- Appendicitis akut

1.6. Diagnosis Banding


- Gastroenteritis
- Infeksi saluran kemih

1.7. Penatalaksanaan
a) Non-operatif
 Inj. Ceftriaxone 2x1 gr iv
 Inj Ranitidin 2x1 amp
 Inj. Metronidazole 3x500 mg
 Inj. Ondancentron 3x4 mg

9
 PCT 3x500 mg k/p
 Ro/ thoraks
b)Operatif
 Laparotomy explorasi + Appendectomy

Laporan Operasi 15 Januari 2018 :


1. Dilakukan tindakan a & antiseptic di daerah operasi dan sekitarnya
2. Dilakukan insisi infraumbilical mediana. Kutis, subkutis, fascia dibuka. Peritoneum
dibuka. Identifikasi :
Ditemukan cairan peritoneum bercampur pus =10cc di sekitar appendix
Ditemukan appendix retrocaecal dengan panjang 12 cm dan diameter 0,8 cm
3. Dilakukan appendectomy, perdarahan diatasi
4. Cuci abdomen
5. Luka operasi ditutup
6. Operasi selesai

1.8. Follow UP

16 Januari 2018 17 Januari 2018


 post op hari pertama  post op hari kedua
S  nyeri luka operasi  nyeri luka operasi

KU : CM / TSS KU : CM / TSS
TD : 110/70 mmHg TD : 110/80 mmHg
N : 94 x / menit N : 88 x/menit
RR : 20 x/menit RR : 18 x/menit
S : 36,80C S : 36,6 oC
Status generalis : dalam batas normal Status generalis : dalam batas normal
O
Status lokalis : regio abdomen RLQ Status lokalis : regio abdomen RLQ
 luka operasi tertutup oleh perban  luka operasi tertutup oleh perban dan
dan tidak tampak rembesan darah tidak tampak rembesan darah

A Post operasi hari pertama Post operasi hari kedua


P  IVFD Nacl 20 tpm  IVFD Nacl 20 tpm
 IVFD Aminofluid + RL  IVFD Aminofluid + RL 1000cc/24
1000cc/24 jam jam
 Inj. Ceftriaxone 2x1 gram  Inj. Ceftriaxone 2x1 gram
 Inj. Ranitidin 2x1 amp  Inj. Ranitidin 2x1 amp
 Inj. Tramadol 2x1 amp  Inj. Tramadol 2x1 amp
 Inj. Metronidazole 3 x 500mg  Inj. Metronidazole 3 x 500mg

10
1.9. Prognosis
Ad vitam : ad Bonam
Ad sanationam : ad Bonam
Ad fungsionam : ad Malam

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Anatomi, Fisiologi, dan Embriologi Appendix1,2,3

Appendix merupakan derivate bagian dari midgut yang terdapat diantara ileum dan
colon ascendens. Caecum terlihat pada minggu ke 5 kehamilan, dan appendix terlihat pada
minggu ke 8 kehamilan sebagai suatu tonjolan pada caecum. Awalnya appendix berada pada
apex dari caecum, tetapi kemudian berotasi dan terletak lebih medial dekat dengan plica
ileocaecal. Dalam proses perkembangannya, usus mengalami rotasi. Caecum berakhir pada
kuadran bawah perut. Appendix selalu berhubungan dengan taenia caecalis. Oleh karena itu,
lokasi akhir appendix ditentukan oleh lokasi caecum.

Panjang appendix bervariasi pada orang dewasa antara 2-20 cm, dengan rata-rata
panjang 8-10 cm. Meskipun lokasi appendix berhubungan dengan taenia caecalis pada dasar
caecum, ujung appendix memiliki variasi lokasi yang akan mempengaruhi lokasi nyeri perut
yang terjadi apabila appendix mengalami peradangan. Posisi apendiks terbanyak adalah
retrocaecal (74%), pelvic (21%), patileal (5%), paracaecal (2%), subcaecal (1,5%) dan
preleal (1%).

11
Apendiks terkandung di dalam peritoneum viseral yang membentuk serosa, dan
lapisan eksteriornya membujur dan berasal dari taenia coli, dan lapisan otot dalam yang
dalam melingkar (circular). Di bawah lapisan ini terletak lapisan submukosa, yang
mengandung jaringan limfoepitel. Mukosa terdiri dari epitel kolumnar dengan sedikit unsur
kelenjar dan sel argentaffin neuroendokrin.

Vaskularisasi appendix perlu diketahui untuk menghindari perdarahan intraoperatif.


Arteri apendikular terkandung di dalam lipatan mesenterika yang timbul dari perluasan
peritoneal dari ileum terminal hingga aspek medial sekum dan appendix. Ini adalah cabang
terminal arteri ileocolic dan membentang berdekatan dengan dinding apendikular. Arteri
appendiks termasuk end arteri. Bila terjadi penyumbatan pada arteri ini, maka appendiks
mengalami ganggren. Drainase vena adalah melalui vena ileocolic dan vena kolik kanan ke
dalam vena portal; drainase limfatik terjadi melalui nodus ileocolic sepanjang arteri superior
mesenterika ke nodus seliaka dan cisterna chyli.

12
Persarafan parasimpatis berasal dari cabang nervus vagus yang mengikuti arteri
mesenterika superior dari arteri appendikularis, sedangkan persarafan simpatis berasal dari
nervus torakalis X. Oleh karena itu, nyeri viseral pada appendicitis bermula di sekitar
umbilikus.

Awalnya, appendix dianggap tidak memiliki fungsi, namun appendix dikatakan


sebagai organ immunologi yang secara aktif mensekresikan Imunoglobulin A. Walaupun
appendix merupakan komponen integral dari system Gut Associated Lymphoid Tissue
(GALT), fungsinya tidak penting, dan appendectomy tidak akan menjadi suatu predisposisi
sepsis atau penyakit imunodefisiensi lainnya.

3.2 Epidemiologi4

Apendisitis adalah salah satu keadaan darurat bedah yang umum terjadi, dan ini
adalah salah satu penyebab paling umum sakit perut. Kejadian apendisitis lebih rendah pada
kultur dengan asupan serat makanan yang lebih tinggi.

Serat makanan dianggap mengurangi viskositas tinja, mengurangi waktu transit usus,
dan mencegah pembentukan fekalith, yang mempengaruhi individu terhadap penghalang
lumen appendiceal.

Perbanding laki-laki dan wanita pada remaja dan dewasa muda adalah 3:2. Pada orang
dewasa, kejadian apendisitis kira-kira 1,4 kali lebih besar pada pria daripada pada wanita.
Kejadian appendectomy primer hampir sama pada kedua jenis kelamin.

Kejadian apendisitis secara bertahap meningkat sejak lahir, mencapai puncak pada akhir
masa remaja, dan secara bertahap menurun pada tahun-tahun geriatri. Usia rata-rata ketika
usus buntu terjadi pada populasi anak-anak adalah 6-10 tahun. Hiperplasia limfoid diamati
lebih sering di antara bayi dan orang dewasa dan bertanggung jawab atas peningkatan
kejadian radang usus buntu pada kelompok usia ini. Anak-anak yang lebih muda memiliki
tingkat perforasi yang lebih tinggi, dengan tingkat yang dilaporkan sebesar 50-85%. Usia
rata-rata pada appendectomy adalah 22 tahun. Meskipun jarang terjadi, apendisitis neonatal
dan bahkan prenatal telah dilaporkan. Dokter harus mempertahankan indeks kecurigaan yang
tinggi pada semua kelompok usia.

3.3 Etiologi 5

13
Apendisitis disebabkan oleh sumbatan lumen appendiceal. Penyebab obstruksi
luminal yang paling umum termasuk hiperplasia limfoid sekunder akibat penyakit radang
usus besar (inflammatory bowel disease / IBD) atau infeksi (lebih umum terjadi pada masa
kanak-kanak dan pada orang dewasa muda), stasis tinja dan fecalith (lebih sering terjadi pada
pasien lanjut usia), parasit (terutama di negara-negara Timur) , atau, lebih jarang lagi, benda
asing dan neoplasma.

Fecalith terbentuk saat garam kalsium dan kotoran menjadi berlapis lapis yang
terletak di dalam appendix. Hiperplasia limfoid dikaitkan dengan berbagai gangguan
inflamasi dan infeksi termasuk penyakit Crohn, gastroenteritis, amebiasis, infeksi saluran
pernapasan, campak, dan mononukleosis.

Obstruksi lumen appendiceal yang jarang terjadi dikaitkan dengan bakteri (spesies
Yersinia, adenovirus, cytomegalovirus, actinomycosis, spesies Mycobacteria, spesies
Histoplasma), parasit (misalnya, spesies Schistosomes, cacing kremi, Strongyloides
stercoralis), bahan asing (misalnya pelet senapan, alat intrauterine, lidah stud, arang aktif),
tuberkulosis, dan tumor

3.4 Patofisiologi6

14
Appendicitis disebabkan oleh penyumbatan lumen appendiceal dari berbagai sebab.
Adanya obstruksi diyakini menyebabkan peningkatan tekanan di dalam lumen. Peningkatan
tersebut terkait dengan sekresi terus menerus cairan dan lendir dari mukosa dan stagnasi
bahan ini. Pada saat yang sama, bakteri usus dalam usus buntu bertambah banyak,
menyebabkan perekrutan sel darah putih dan pembentukan pus yang selanjutnya
menyebabkan tekanan intraluminal yang meningkat.

Jika obstruksi usus buntu tetap ada, tekanan intraluminal meningkat pada akhirnya
akan lebih tinggi disbanding tekanan pada pembuluh darah apendiks, yang menyebabkan
sumbatan arus keluar vena. Sebagai konsekuensinya, akan terdapat iskemia pada dinding
appendix dan mengakibatkan hilangnya integritas epitel dan memungkinkan invasi bakteri
pada dinding usus.

15
Dalam beberapa jam, kondisi terlokalisasi ini dapat memburuk karena trombosis arteri
dan vena apendicular, yang menyebabkan perforasi dan gangren pada usus buntu. Seiring
proses ini berlanjut, abses periappendicular atau peritonitis dapat terjadi.

3.5 Diagnosis7,8

1. Anamnesis

Variasi pada posisi usus buntu, usia pasien, dan tingkat peradangan membuat
presentasi klinis apendisitis sangat tidak konsisten. Statistik melaporkan bahwa 1 dari
5 kasus appendicitis salah didiagnosis, dimana disebutkan ditemukan usus buntu
normal pada 15-40% pasien yang melakukan operasi usus buntu.

2. Gejala klinis

Gejala klasik anoreksia dan nyeri periumbilikal diikuti oleh rasa mual, kuadran kanan
bawah (RLQ), dan muntah terjadi hanya pada 50% kasus. Mual hadir pada 61-92%
pasien; anoreksia hadir pada 74-78% pasien. Diare atau konstipasi dterdapat pada
sebanyak 18% pasien dan tidak boleh digunakan untuk membuang kemungkinan radang
usus buntu.

Gejala apendisitis yang paling umum adalah nyeri perut. Biasanya, gejala dimulai
sebagai nyeri periumbilical atau epigastrik yang bermigrasi ke kuadran kanan bawah
(RLQ) pada perut. Pasien biasanya berbaring, memfelksikan pinggul mereka, dan
menarik lutut mereka untuk mengurangi gerakan dan untuk menghindari memburuknya
rasa sakit mereka. Kemudian, adanya nyeri progresif seiring dengan muntah, mual, dan
anoreksia dijelaskan oleh pasien.

Durasi gejala kurang dari 48 jam pada sekitar 80% orang dewasa namun cenderung
lebih lama pada orang lanjut usia dan pada orang dengan perforasi. Sekitar 2% pasien
melaporkan durasi nyeri lebih dari 2 minggu.

Selain mencatat riwayat nyeri perut, dapatkan ringkasan lengkap dari riwayat pribadi
seputar kondisi gastroenterologis, genitourinari, dan pneumologis, serta pertimbangkan
riwayat ginekologi pada pasien wanita. Apendiks yang meradang di dekat kandung kemih
atau ureter dapat menyebabkan gejala kekuningan dan hematuria atau pyuria. Sistitis pada
pasien laki-laki jarang terjadi karena tidak adanya instrumentasi. Pertimbangkan

16
kemungkinan adanya apendiks pelvis yang meradang pada pasien pria dengan sistitis
yang jelas.

3. Pemeriksaan fisik

Penting untuk diingat bahwa posisi apendiks bervariasi. Dari 100 pasien yang
menjalani pemindaian CT scan tiga dimensi (3-D) multidetektor, dasar usus buntu terletak
di titik McBurney hanya pada 4% pasien; di 36%, basis berada dalam jarak 3 cm; di 28%,
itu 3-5 cm dari titik itu; dan, pada 36% pasien, basis usus buntu lebih dari 5 cm dari titik
McBurney.

Temuan fisik yang paling spesifik pada apendisitis adalah rebound tenderness, nyeri
pada palpasi, dan kekakuan. Meskipun nyeri tekan RLQ hadir pada 96% pasien, ini
adalah temuan nonspesifik. Pada kasus yang jarang ditemui, nyeri tekan kuadran kiri
bawah (LLQ) telah menjadi manifestasi utama pada pasien dengan situs inversus atau
pada pasien dengan appendix yang memiliki panjang yang meluas ke LLQ. Nyeri tekan
pada palpasi di RLQ di atas titik McBurney adalah tanda yang paling penting pada pasien
ini.

Pemeriksaan fisik yang hati-hati, tidak terbatas pada perut, harus dilakukan pada
pasien yang dicurigai appendicitis. Sistem gastrointestinal (GI), genitourinari, dan
pulmonal perlu diperhatikan. Bayi laki-laki dan anak-anak kadang-kadang datang dengan
hemiscrotum yang meradang karena migrasi apendiks yang meradang atau nanah melalui
prosesus vaginalis. Hal ini sering salah didiagnosis sebagai torsi testis akut. Selain itu,
lakukan pemeriksaan rektal pada setiap pasien dengan gambaran klinis yang tidak jelas,
dan lakukan pemeriksaan panggul pada semua wanita dengan nyeri perut.

17
 Rovsing sign (nyeri RLQ dengan palpasi LLQ) menunjukkan iritasi peritoneum
pada RLQ yang diendapkan dengan palpasi di lokasi yang jauh.

 Obturator sign (nyeri RLQ dengan rotasi internal dan eksternal pinggul kanan
yang dilipat) menunjukkan bahwa usus buntu yang meradang terletak jauh di
dalam hemipelvis kanan

 Psoas sign (nyeri RLQ dengan perpanjangan pinggul kanan atau dengan fleksi
pinggul kanan terhadap resistensi) menunjukkan bahwa apendiks yang
meradang terletak sepanjang otot psoas kanan.

18
 Dunphy sign (nyeri tajam pada RLQ yang disebabkan oleh batuk) dapat
membantu dalam membuat diagnosis klinis peritonitis local

 Markle sign, rasa sakit timbul di daerah tertentu di perut saat pasien berdiri turun
dari berdiri di kaki ke tumit dengan jarring landing, terdapat pada 190 pasien yang
menjalani operasi usus buntu dan memiliki sensitivitas 74%.

4. Diagnostic scoring

Beberapa peneliti telah menciptakan sistem penilaian diagnostik untuk memprediksi


kemungkinan apendisitis akut. Dalam sistem ini, sejumlah variabel klinis yang terbatas
diperoleh dari pasien dan masing-masing diberi nilai numerik; Kemudian, jumlah dari
nilai-nilai ini digunakan.

Yang paling dikenal dari sistem penilaian ini adalah skor MANTRELS, yang
menandakan migrasi rasa sakit, anoreksia, mual dan / atau muntah, nyeri tekan di RLQ,
rebound tendernes, suhu tinggi, leukositosis, dan shift to the left. McKay dan Shepherd
menyarankan agar pasien dengan skor MANTRELS 0-3 dapat disingkirkan tanpa
pencitraan, mereka yang memiliki skor 7 atau lebih di atas mendapat konsultasi bedah,
dan mereka yang memiliki skor 4-6 menjalani evaluasi CT.

19
5. Pemeriksaan Penunjang

1. Laboratorium

Terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan C-reactive protein (CRP). Pada
pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah leukosit antara 10.000-18.000/mm3
(leukositosis) dan neutrofil diatas 75%, sedangkan pada CRP ditemukan jumlah serum
yang meningkat. CRP adalah salah satu komponen protein fase akut yang akan meningkat
4-6 jam setelah terjadinya proses inflamasi, dapat dilihat melalui proses elektroforesis
serum protein. Angka sensitivitas dan spesifisitas CRP yaitu 80% dan 90%.

2. Radiologi

Terdiri dari pemeriksaan ultrasonografi (USG) dan Computed Tomography Scanning


(CT-scan). Pada pemeriksaan USG ditemukan bagian memanjang pada tempat yang
terjadi inflamasi pada appendiks, sedangkan pada pemeriksaan CT-scan ditemukan bagian
yang menyilang dengan fekalith dan perluasan dari appendiks yang mengalami inflamasi
serta adanya pelebaran sekum. Tingkat akurasi USG 90-94% dengan angka sensitivitas
dan spesifisitas yaitu 85% dan 92%, sedangkan CT-Scan mempunyai tingkat akurasi 94-
100% dengan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi yaitu 90-100% dan 96-97%.

20
3. Analisa urin

Bertujuan untuk mendiagnosa batu ureter dan kemungkinan infeksi saluran kemih
sebagai akibat dari nyeri perut bawah.

4. Pengukuran enzim hati dan tingkatan amilase membantu mendiagnosa peradangan hati,
kandung empedu, dan pankreas.

5.Serum Beta Human Chorionic Gonadotrophin (B-HCG) untuk memeriksa adanya


kemungkinan kehamilan.

6. Pemeriksaan barium enema untuk menentukan lokasi sekum. Pemeriksaan Barium enema
dan Colonoscopy merupakan pemeriksaan awal untuk kemungkinan karsinoma colon.

7. Pemeriksaan foto polos abdomen tidak menunjukkan tanda pasti appendicitis, tetapi
mempunyai arti penting dalam membedakan appendicitis dengan obstruksi usus halus atau
batu ureter kanan.

3.6 Stages of Appendicitis9

Adapun klasifikasi appendicitis berdasarkan klinikopatologis adalah sebagai berikut:

a. Appendicitis Akut Sederhana (Cataral Appendicitis)

Proses peradangan baru terjadi di mukosa dan sub mukosa disebabkan obstruksi. Sekresi
mukosa menumpuk dalam lumen appendiks dan terjadi peningkatan tekanan dalam
lumen yang mengganggu aliran limfe, mukosa appendiks jadi menebal, edema, dan
kemerahan. Gejala diawali dengan rasa nyeri di daerah umbilikus, mual, muntah,
anoreksia, malaise, dan demam ringan. Pada appendicitis Universitas Sumatera Utara
kataral terjadi leukositosis dan appendiks terlihat normal, hiperemia, edema, dan tidak
ada eksudat serosa.

b. Appendicitis Akut Purulenta (Supurative Appendicitis)

Tekanan dalam lumen yang terus bertambah disertai edema menyebabkan


terbendungnya aliran vena pada dinding appendiks dan menimbulkan trombosis.
Keadaan ini memperberat iskemia dan edema pada apendiks. Mikroorganisme yang ada
di usus besar berinvasi ke dalam dinding appendiks menimbulkan infeksi serosa
sehingga serosa menjadi suram karena dilapisi eksudat dan fibrin. Pada appendiks dan
mesoappendiks terjadi edema, hiperemia, dan di dalam lumen terdapat eksudat

21
fibrinopurulen. Ditandai dengan rangsangan peritoneum lokal seperti nyeri tekan, nyeri
lepas di titik Mc Burney, defans muskuler, dan nyeri pada gerak aktif dan pasif. Nyeri
dan defans muskuler dapat terjadi pada seluruh perut disertai dengan tanda-tanda
peritonitis umum.

c. Appendicitis Akut Gangrenosa

Bila tekanan dalam lumen terus bertambah, aliran darah arteri mulai terganggu sehingga
terjadi infrak dan ganggren. Selain didapatkan tanda-tanda supuratif, appendiks
mengalami gangren pada bagian tertentu. Dinding appendiks berwarna ungu, hijau
keabuan atau merah kehitaman. Pada appendicitis akut gangrenosa terdapat
mikroperforasi dan kenaikan cairan peritoneal yang purulen.

d. Appendicitis Infiltrat

Appendicitis infiltrat adalah proses radang appendiks yang penyebarannya dapat


dibatasi oleh omentum, usus halus, sekum, kolon dan peritoneum sehingga membentuk
gumpalan massa flegmon yang melekat erat satu dengan yang lainnya.

e. Appendicitis Abses

Appendicitis abses terjadi bila massa lokal yang terbentuk berisi nanah (pus), biasanya
di fossa iliaka kanan, lateral dari sekum, retrocaecal, subcaecal, dan pelvic.

f. Appendicitis Perforasi

Appendicitis perforasi adalah pecahnya appendiks yang sudah ganggren yang


menyebabkan pus masuk ke dalam rongga perut sehingga terjadi peritonitis umum. Pada
dinding appendiks tampak daerah perforasi dikelilingi oleh jaringan nekrotik.

g. Appendicitis Kronis

Appendicitis kronis merupakan lanjutan appendicitis akut supuratif sebagai proses


radang yang persisten akibat infeksi mikroorganisme dengan virulensi rendah,
khususnya obstruksi parsial terhadap lumen. Diagnosa appendicitis kronis baru dapat
ditegakkan jika ada riwayat serangan nyeri berulang di perut kanan bawah lebih dari dua
minggu, radang kronik appendiks secara makroskopik dan mikroskopik. Secara
histologis, dinding appendiks menebal, sub mukosa dan muskularis propia mengalami
fibrosis. Terdapat infiltrasi sel radang limfosit dan eosinofil pada sub mukosa,
muskularis propia, dan serosa. Pembuluh darah serosa tampak dilatasi.

22
3.7 Diagnosa Banding Appendicitis10

Banyak masalah yang dihadapi saat menegakkan diagnosis appendicitis karena


penyakit lain yang memberikan gambaran klinis yang hampir sama dengan appendicitis,
diantaranya:

1. Gastroenteritis ditandai dengan terjadi mual, muntah, dan diare mendahului rasa sakit.
Sakit perut lebih ringan, hiperperistaltis sering ditemukan, panas dan leukositosis kurang
menonjol dibandingkan appendicitis akut.

2. Limfadenitis Mesenterika, biasanya didahului oleh enteritis atau gastroenteritis. Ditandai


dengan nyeri perut kanan disertai dengan perasaan mual dan nyeri tekan perut.

3. Demam dengue, dimulai dengan sakit perut mirip peritonitis dan diperoleh hasil positif
untuk Rumple Leed, trombositopeni, dan hematokrit yang meningkat.

4. Infeksi Panggul, salpingitis akut kanan sulit dibedakan dengan appendicitis akut. Suhu
biasanya lebih tinggi daripada appendicitis dan nyeri perut bagian bawah lebih difus. Infeksi
panggul pada wanita biasanya disertai keputihan dan infeksi urin.

5. Gangguan alat reproduksi perempuan, folikel ovarium yang pecah dapat memberikan nyeri
perut kanan bawah pada pertengahan siklus menstruasi. Tidak ada tanda radang dan nyeri
biasa hilang dalam waktu 24 jam.

6. Kehamilan ektopik, hampir selalu ada riwayat terlambat haid dengan keluhan yang tidak
jelas seperti ruptur tuba dan abortus. Kehamilan di luar rahim disertai pendarahan
menimbulkan nyeri mendadak difus di pelvic dan bisa terjadi syok hipovolemik.

7. Divertikulosis Meckel, gambaran klinisnya hampir sama dengan appendicitis akut dan
sering dihubungkan dengan komplikasi yang mirip pada appendicitis akut sehingga
diperlukan pengobatan serta tindakan bedah yang sama.

8. Ulkus peptikum perforasi, sangat mirip dengan appendicitis jika isi gastroduodenum
mengendap turun ke daerah usus bagian kanan sekum.

9. Batu ureter, jika diperkirakan mengendap dekat appendiks dan menyerupai appendicitis
retrocaecal. Nyeri menjalar ke labia, skrotum, penis, hematuria, dan terjadi demam atau
leukositosis.

3.8 Penatalaksanaan9,10

23
Penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada penderita appendicitis meliputi
penanggulangan konservatif dan operasi

1. Penanggulangan konservatif

Penanggulangan konservatif terutama diberikan pada penderita yang tidak mempunyai akses
ke pelayanan bedah berupa pemberian antibiotik. Pemberian antibiotik berguna untuk
mencegah infeksi. Pada penderita appendicitis perforasi, sebelum operasi dilakukan
penggantian cairan dan elektrolit, serta pemberian antibiotik sistemik.

2. Operasi

Bila diagnosa sudah tepat dan jelas ditemukan appendicitis maka tindakan yang dilakukan
adalah operasi membuang appendiks (appendektomi). Penundaan appendektomi dengan
pemberian antibiotik dapat mengakibatkan abses dan perforasi. Pada abses appendiks
dilakukan drainage (mengeluarkan nanah).

3.9 Komplikasi10

Komplikasi terjadi akibat keterlambatan penanganan appendicitis. Faktor


keterlambatan dapat berasal dari penderita dan tenaga medis. Faktor penderita meliputi
pengetahuan dan biaya, sedangkan tenaga medis meliputi kesalahan diagnosa, menunda
diagnosa, terlambat merujuk ke rumah sakit, dan terlambat melakukan penanggulangan.
Kondisi ini menyebabkan peningkatan angka morbiditas dan mortalitas. Proporsi
komplikasi appendicitis 10-32%, paling sering pada anak kecil dan orang tua. Komplikasi
93% terjadi pada anak-anak di bawah 2 tahun dan 40-75% pada orang tua. CFR komplikasi
2-5%, 10-15% terjadi pada anak-anak dan orang tua. 43 Anak-anak memiliki dinding
appendiks yang masih tipis, omentum lebih pendek dan belum berkembang sempurna
memudahkan terjadinya perforasi, sedangkan pada orang tua terjadi gangguan pembuluh
darah.

Adapun jenis komplikasi diantaranya:

1. Abses

24
Abses merupakan peradangan appendiks yang berisi pus. Teraba massa lunak di kuadran
kanan bawah atau daerah pelvis. Massa ini mula-mula berupa flegmon dan berkembang
menjadi rongga yang mengandung pus. Hal ini terjadi bila appendicitis gangren atau
mikroperforasi ditutupi oleh omentum.

2. Perforasi

Perforasi adalah pecahnya appendiks yang berisi pus sehingga bakteri menyebar ke
rongga perut. Perforasi jarang terjadi dalam 12 jam pertama sejak awal sakit, tetapi
meningkat tajam sesudah 24 jam. Perforasi dapat diketahui praoperatif pada 70% kasus
dengan gambaran klinis yang timbul lebih dari 36 jam sejak sakit, panas lebih dari 38,50
C, tampak toksik, nyeri tekan seluruh perut, dan leukositosis terutama polymorphonuclear
(PMN). Perforasi, baik berupa perforasi bebas maupun mikroperforasi dapat
menyebabkan peritonitis.20

3. Peritonitis

Peritonitis adalah peradangan peritoneum, merupakan komplikasi berbahaya yang dapat


terjadi dalam bentuk akut maupun kronis. Bila infeksi tersebar luas pada permukaan
peritoneum menyebabkan timbulnya peritonitis umum. Aktivitas peristaltik berkurang
sampai timbul ileus paralitik, usus meregang, dan hilangnya cairan elektrolit
mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi, dan oligouria. Disertai rasa sakit
perut yang semakin hebat, muntah, nyeri abdomen, demam, dan leukositosis.28, 44

3.9 Pencegahan Appendicitis10

1. Pencegahan Primer

Pencegahan primer bertujuan untuk menghilangkan faktor risiko terhadap kejadian


appendicitis. Upaya pencegahan primer dilakukan secara menyeluruh kepada masyarakat.
Upaya yang dilakukan antara lain:

a. Diet tinggi serat

Berbagai penelitian telah melaporkan hubungan antara konsumsi serat dan insidens
timbulnya berbagai macam penyakit. Hasil penelitian membuktikan bahwa diet tinggi
serat mempunyai efek proteksi untuk kejadian penyakit saluran pencernaan.40 Serat dalam
makanan mempunyai kemampuan mengikat air, selulosa, dan pektin yang membantu

25
mempercepat sisi-sisa makanan untuk diekskresikan keluar sehingga tidak terjadi
konstipasi yang mengakibatkan penekanan pada dinding kolon.45

b. Defekasi yang teratur

Makanan adalah faktor utama yang mempengaruhi pengeluaran feces. Makanan yang
mengandung serat penting untuk memperbesar volume feces dan makan yang teratur
mempengaruhi defekasi. Individu yang makan pada waktu yang sama setiap hari
mempunyai suatu keteraturan waktu, respon fisiologi pada pemasukan makanan dan
keteraturan pola aktivitas peristaltik di kolon. Frekuensi defekasi yang jarang akan
mempengaruhi konsistensi feces yang lebih padat sehingga terjadi konstipasi. Konstipasi
menaikkan tekanan intracaecal sehingga terjadi sumbatan fungsional appendiks dan
meningkatnya pertumbuhan flora normal kolon. Pengerasan feces memungkinkan adanya
bagian yang terselip masuk ke saluran appendiks dan menjadi media kuman/bakteri
berkembang biak sebagai infeksi yang menimbulkan peradangan pada appendiks.

2. Pencegahan Sekunder

Pencegahan sekunder meliputi diagnosa dini dan pengobatan yang tepat untuk mencegah
timbulnya komplikasi.

3.Pencegahan Tersier

Tujuan utama dari pencegahan tersier yaitu mencegah terjadinya komplikasi yang lebih
berat seperti komplikasi intra-abdomen. Komplikasi utama adalah infeksi luka dan abses
intraperitonium. Bila diperkirakan terjadi perforasi maka abdomen dicuci dengan garam
fisiologis atau antibiotik. Pasca appendektomi diperlukan perawatan intensif dan
pemberian antibiotik dengan lama terapi disesuaikan dengan besar infeksi intra-
abdomen.

BAB IV

ANALISA KASUS

26
Pada anamnesa didapatkan pasien mengeluh nyeri pada uluh hati dan sekitar
pusar. Nyeri tersebut merupakan nyeri visceral yang siftanya difus, terletak pada
midline, sekitar umbilical. Nyeri visceral pada appendicitis bermula disekitar
umbilicus sesuai persarafan N. Thoracalis X. Nyeri disebabkan karena obstruksi
lumen appendiks menyebabkan peningkatan sekresi normal mucus dari mukosa
appendiks yang mengalami distensi. Mukus yang semakin lama semakin banyak
menyebabkan peningkatan tekanan intraluminal disebabkan karena keterbatasan
elastisitas dinding appendiks. Tekanan yang meningkat tersebut akan menyebabkan
appendiks mengalami hipoksia yang akan menghambat aliran limfe dan menyebabkan
adanya invasi bakteri. Infeksi menyebabkan edema appendiks.

Adanya rasa nyeri yang berpindah dari nyeri pada daerah ulu hati atau sekitar
pusar ke perut kanan bawah disebabkan karena adanya peralihan nyeri visceral
menjadi nyeri somatic, yang disebabkan karena sekresi mucus yang terus berlanjut
dan menyebabkan tekanan intraluminal terus meningkat. Hal tersebut akan
menyebabkan obstruksi vena, edema yang bertambah, dan bakteri akan menembus
dinding appendiks, sehingga peradangan akan meluas dan mengenai peritoneum
setempat sehingga menimbulkan nyeri perut kanan bawah.

Keluhan mual dan muntah disebabkan karena adanya inflamasi dan tekanan
yang berlebihan pada appendiks yang distensi, sehingga pusat muntah akan diaktifkan
dari saluran pencernaan melalui aferen n. vagus.

Nyeri tekan mc burney disebabkan karena adanya nyeri somatic. Psoas sign
menunjukan adanya peradangan dari appendiks yang lokasinya berada di retrocaecal.

Leukositosis yang didapat menunjukan adanya respon tubuh terhadap infeksi.

Penatalaksanaan pada pasien ini yaitu dengan dilakukannya pembedahan


sesuai Alvarado score dengan nilai 7.

DAFTAR PUSTAKA

27
1. Syamsuhidayat, R dan de Jong, Wim. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi Kedua.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.2004
2. Sabiston. Textbook of Surgery : The Biological Basis of Modern Surgical
Practice. Edisi 16.USA: W.B Saunders companies.2002
3. Schwartz. Principles of Surgery. Edisi Ketujuh.USA:The Mcgraw-Hill
companies.2005
4. R. Schrock MD, Theodore. Ilmu Bedah. Edisi Ketujuh. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC.1995
5. Hlibczuk V, Dattaro JA, Jin Z, Falzon L, Brown MD. Diagnostic accuracy of
noncontrast computed tomography for appendicitis in adults. Ann Emerg
Med 2010;55:51-9.
6. Humes DJ, Simpson J. Acute appendicitis. Br Med J 2006;333:530-4.
7. Birnbaum BA, Wilson SR. Appendicitis at the millennium. Radiology
2000;215:349-52.
8. Rybkin AV, Thoeni RF. Current concepts in imaging of appendicitis. Radiol
Clin N Am 2007;45:411-22.
9. Ebell MH. Diagnosis of appendicitis. Am Fam Physician 2008;77:828-30.
10. Howell JM, Eddy OL, Lukens TW, Thiessen MEW, Weingart SD, Decker
WW. Critical issues in the evaluation and management of emergency
department patients with suspected appendicitis. Ann Emerg Med
2010;55:71-116.

28