Anda di halaman 1dari 4

TUGAS TUTORIAL KE-1

MANAJEMEN / EKMA4116

1. Beberapa isu yang menjadi tantangan manajemen adalah


 Pendidikan dan pengalaman (profesionalisme)
Pendidikan bukan merupakan satu – satunya syarat kesuksesan seorang manajer. Bahkan, banyak
manajer sukses meskipun tidak pernah menempuh pendidikan formal. Di masa mendatang,
dengan semaraknya era profesionalisme, pendidikan formal akan semakin penting. Proses
pendidikan tidak hanya sebatas S-1 atau S-2 saja, tetapi setelah lulus pun manajer diharapkan
tetap belajar. Perusahaan – perusahaan juga aktif mengadakan in-house training untuk karyawan
mereka. Untuk menjadi manajer yang baik, pendidikan saja tidak cukup. Beberapa jurus
manajemen tidak diajarkan melalui pendidikan formal tetapi melalui pengalaman. Melalui
pengalaman yang panjang, keterampilan manajerial terbentuk dan bisa jadi lebih baik dari
sekedar membaca buku manajemen. Pendidikan diharapkan membentuk keterampilan dan
kemauan belajar yang bisa bermanfaat untuk menyerap pelajaran dari pengalaman.
 Kebutuhan akan visi
Visi merupakan kemampuan melihat masa mendatang (jangka panjang), yaitu dalam hal tujuan
organisasi dan bagaimana mencapai tujuan tersebut. Pemimpin atau manajer biasanya selalu
mempuyai visi yang jelas. Visi dapat menghidupkan semangat kerja atau membangun.
 Globalisasi
Globalisasi atau dimensi internasional menjadi semakin penting bagi perusahaan multinasional
yang bergerak di beberapa negara. Dengan melemahnya pembatasan – pembatasan antar
negara (APEC, NAFTA), perdagangan antarnegara menjadi semakin marak. Go internasional
merupakan salah satu pilihan strategis perusahaan yang ingin terus berkembang. Hal sederhana
yang harus disiapkan manajer untuk melakukan bisnis dalam skala internasional adalah
memperbaiki komunikasi internasional, memahami peraturan – peraturan internasional, sampai
memahami budaya – budaya negara lain.
 Etika dan tanggung jawab sosial
Etika dapat menyadarkan manajer bahwa tindakan manajer mempunyai efek terhadap banyak
pihak sehingga manajer diharapkan untuk lebih sensitif terhadap akibat – akibat dari
keputusannya. Tugas manajer tidak hanya mencapai tujuan organisasi tetapi juga harus ikut
berkontribusi ke masyarakat. Dengan kata lain, manajer harus sadar akan tanggung jawab
sosialnya dan diharapkan bisa membantu perkembangan masyarakat tempat organisasi tersebut
untuk terus hidup dan berkembang bersama masyarakat.

2. Pengaruh lingkungan terhadap organisasi adalah sebagai berikut :


James D. Thomson mengajukan model bagaimana pengaruh lingkungan terhadap organisasi yaitu
tingkat perubahan dan tingkat homogenitas. Tingkat perubahan melihat sejauh mana stabilitas suatu
lingkungan, sedangkan tingkat homogenitas melihat sejauh mana kompleksitas lingkungan. Kedua
dimensi tersebut membentuk derajat ketidakpastian lingkungan. Jika lingkungan berubah cepat dan
mempunyai elemen yang kompleks, lingkungan dikatakan mempunyai ketidakpastian yang tinggi.
Perusahaan komputer masuk dalam lingkungan dengan ketidakpastian tinggi. Lingkungan komputer
sangat cepat berubah, baik perangkat lunak maupun perangkat keras berubah dalam hitungan bulan.
Pemasok, pesaing, ataupun hubungan sektor lain (misalnya audiovisual) membentuk elemen
lingkungan perusahaan komputer menjadi sangat kompleks. Untuk itu, antisipasi manajer setiap
lingkungan tentunya pasti akan berbeda.

3. Hambatan – hambatan dalam perencanaan dan cara mengatasinya adalah sebagai berikut :
Hambatan :
 Tujuan yang tidak tepat, jika tujuan yang ingin dicapai tidak realistis (terlalu tinggi), anggota
organsasi tidak akan bersemangat melakukan perencanaan
 Sistem balasan yang tidak tepat, contohnya seorang manajer yang berhasil menaikkan
produktivitas 1% dari target 0% dianggap sebagai suatu kesuksesan sedangkan manajer yang
berhasil menaikkan produktivitas 10% dari target 15% tidak akan dinilai sukses karena masih
dibawah target. Penekanan jangka pendek dengan mengorbanan jangka panjang akan
mengakibatkan ketidakseimbangan dalam perencanaan.
 Lingkungan yang kompleks dan dinamis, ini mengakibatkan perencanaan yang efektif sulit
dilakukan. Perubahan yang sangat dramatis juga membuat perencanaan menjadi semakin sulit.
 Keengganan untuk menetapkan tujuan atau melepaskan tujuan yang lain (alternatif). Biasanya
kita selalu ingin mencapai semuanya secara bersamaan meskipun hal itu juga tidak mungkin
dilakukan. Sebagai akibatnya, kita akan merasa enggan jika hanya memfokuskan pada satu
tujuan.
 Keengganan untuk berubah, terjadi karena katidakpastian terhadap hasil dari perubahan
mengakibatkan timbulnya perasaan tersebut. Keengganan tersebut membuat mereka enggan
melakukan perencanaan sehingga perencanaan efektif terhalang.
 Pembatasan (constraints), adalah anggota organisasi yang mengalami pembatasan –
pembatasan. Contohnya, manajer tidak besedia melakukan perencanaan karena merasa tidak
mempunyai waktu atau mungkin manajer merasa sumber daya yang ada sangat terbatas
sehingga tidak mampu mendukung perencanaan yang diusulkan. Dalam hal ini, perencanaan
yang efektif akan terhambat.
 Tidak memahami lingkungan, artinya mereka tidak menyadari bahwa lingkungan selalu
berubah. Mereka kemudian tidak mau melakukan perencanaan.
 Tidak memahami organisasi, jika anggota organisasi tidak memahami organisasinya maka ia
tidak dapat menyesuaikan perencanaan yang ia usulkan dengan perencanaan dari bagian lain.
Karena itu, ia akan enggan mengajukan perencanaan.
 Tidak percaya diri, jika manajer tidak mempunyai kepercayaan diri, ia akan ragu – ragu
menjalankan perencanaan atau tidak mau mencoba mencapai tujuan yang menantang.
Cara mengatasi :
 Memahami tujuan dan perencanaan, jika anggota organisasi memahami pentingnya
perencanaan, ia akan bersedia memfokuskan pada tujuan tertentu dan melepaskan tujuan lain
yang kurang relevan.
 Komunikasi dan partisipasi, dapat meningkatkan komitmen untuk melaksanakan rencana
tersebut. Meskipun rencana dan tujuan ditetapkan dari atas, rencana dan tujuan tersebut harus
dikomunikasikan ke bawah.
 Konsistensi, revisi dan perbaikan. Konsistensi antara tujuan yang lebih tinggi dan tujuan yang
lebih rendah serta konsistensi antar-tujuan bagian atau departement harus dijaga. Karena
proses penentuan tujuan dan perencanaan merupakan proses yang dinamis, perbaikan atau
revisi perlu selalu dilakukan.
 Sistem balasan yang efektif, akan mendorong penetapan tujuan dan perencanaan yang efektif.
Pemberian reward diharapkan akan mendorong keberanian dalam pengambilan risiko sekaligus
mendorong kreativitas.
 Membantu individu menetapkan tujuan. Program pengembangan karyawan diharapkan dapat
meningkatkan jaringan pergaulan dan informasi manajer sehingga manajer dapat bertemu
dengan orang lain dari berbagai latar belakang yang dapat membantu menetapkan tujuan yang
realistis. Jika berhasil mencapai tujuan yang ia tetapkan, kepercayaan dirinya akan semakin
meningkat.
 Mengatasi keengganan untuk berubah, dapat dilakukan dengan melibatkan mereka dalam
proses perencanaan dan penetapan tujuan. Sistem informasi yang baik juga akan membantu
karena keberhasilan menyelesaikan suatu rencana akan mendorong kepercayaan diri dan
kemauan untuk menerima rencana baru akan semakin tinggi.

4. Langkah – langkah pendekatan rasional untuk mengambil keputusan adalah :


 Meneliti situasi
Tahap pertama dari pendekatan nasional adalah meneliti dan mendefinisikan problem. Apabila
manajer telah mengenali problem yang sesungguhnya, manajer dapat meneliti lebih lanjut
untuk memperoleh pemahaman yang lebih ‘solid’ mengenai problem tersebut.
 Mengembangkan alternatif pemecahan
Setelah problem teridentifkasi, manajer dapat mengembangkan alternatif – alternatif
pemecahan. Manajer diharapkan dapat menghasilkan alternatif yang jelas (praktis) dan kreatif.
Manajer harus memerhatikan beberapa keterbatasan dalam setiap alternatif, seperti
ketebatasan hukum, etika, dan peraturan yang ada.
 Mengevaluasi alternatif dan memilih alternatif terbaik
Pertanyaan pertama adalah apakah alternatif pemecahan cukup layak dan cukup praktis
dilakukan dan tidak menyalahi pembatasan (constrains) yang ada. Apabila alternatif tersebut
“lulus”, pertanyaan berikutnya apakah alternatif tersebut memuaskan. Dikatakan memuaskan
apabila dapat memecahkan problematika yang ada. Langkah selanjutnya adalah mengajukan
pertanyaan mengenai efek dari alternatif yang dievaluasi. Apabila efek tersebut minimal netral,
pertanyaan selanjutnya yang diajukan adalah apakah alternatif ini dapat dibiayai. Setelah suatu
alternatif lulus menghadapi pertanyaan – pertanyaan saringan tersebut, langkah selanjutnya
adalah menetukan alternatif terbaik dari alternatif yang tersisa. Dalam hal ini, manajer
menggunakan pertimbangan subjektif dengan melakukan perkiraan alternatif mana yang tinggi
skornya untuk setiap kategori pertanyaan.
 Implementasi
Tahap berikutnya adalah melaksanaan alternatif yang telah dipilih. Sering kali pelaksanaan
suatu alternatif bukan merupakan pekerjaan mudah karena manajer harus sadar bahwa
keputusan tidak akan terlaksana dengan sendirinya sehingga harus memperhitungkan
kemungkinan anti-perubahan pada sebagian karyawan.
 Follow up dan evaluasi
Tahap terakhir adalah monitor dan evaluasi. Untuk memastikan bahwa pelaksanaan keputusan
yang diambil mengenai sasaran atau tujuan yang ingin dicapai. Jika ternyata tujuan tidak
tercapai, manajer dapat melakukan respon dengan cepat atau manajer memilih keputusan
terbaik kedua. Manajer juga dapat kembali ke langkah awal, yaitu kembali mendefinisikan
problem dan seterusnya.
5. Berikut adalah proses manajemen ilmiah dalam perencanaan dan pengambilan keputusan :
Manajemen ilmiah membantu manajemen menguasai lingkungan dengan jalan membuat prediksi
lingkungan menjadi lebih baik. Langkah pertama manajemen ilmiah adalah penentuan masalah.
Manajer harus belajar merumuskan dan melihat masalah yang sesungguhnya. Sistem informasi
dibuat untuk membantu manajer menjawab pertanyaaan perumusan masalah tersebut. Setelah
masalah berhasil dirumuskan, langkah berikutnya adalah pembuatan model sebagai representasi
dunia nyata. Model dapat berupa hal yang sederhana, misalnya proses manajemen terdiri atas
perencanaan, pengorganisasian, staffing, leading, dan pengendalian. Model lainnya berupa formula
– formula matematika yang menjelaskan hunbungan antara berbagai variabel. Langkah berikutnya
adaah penyusunan alogaritma, yaitu langkah – langkah yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu
masalah. Alogaritma dapat berupa alogaritma verbal dan alogaritma matematika. Setelah alogaritma
dirumuskan, diperoleh pemecahan. Langkah selanjutnya adalah tahap pelaksanaan. Rekomendasi
diberikan ke pihak yang akan melaksanakan pelatihan kepada calon pemakai dan penyiapan
dokumentasi manual.