Anda di halaman 1dari 41

JAWABAN UJIAN AKHIR SEMESTER

METODOLOGI PENELITIAN

Disusun oleh :

Rita Trisnawati Sugianto (20090317041)

Dosen :

Dr. Tasya Aspiranti, S., M.Si.

Dr. Enny Kusmiran, S.Kp., M.kes

PROGRAM STUDI MANAJEMEN RUMAH SAKIT

PASCA SARJANA UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG

2017
UJIAN AKHIR SEMESTER GANJIL
TAHUN AKADEMIK 2017/2018
Mata Kuliah : Metodologi Penelitian Manajemen
Konsentrasi/ Kelas : Manajemen Rumah Sakit/ B dan C
Hari/ Tanggal : Sabtu/ 06 Januari 2018
Dosen Penguji : Dr. Tasya Aspiranti, SE., M.Si./
Dr. Enny Kusmiran, S.Kp., M.Kes.
Sifat Soal : Take Home

Keterangan :
1. Untuk soal bagian A di tik dengan ukuran kertas A4, margin atas 4, bawah 3, kiri 4, kanan 3
Times New Roman 12, spasi 2.
2. Untuk soal bagian B di tulis pada lembar jawaban yang sudah tersedia
3. Agar tidak didiskualifikasi, dimohon agar bekerja sendiri
4. Nilai akan dikurangi, bila jawaban kalimatnya persis.

BAGIAN A
Pertanyaan :
Berdasarkan usulan penelitian yang telah Saudara kerjakan susunlah proposal penelitian
lengkap yang terdiri dari :
Judul Penelitian
1.1 Latar Belakang Penelitian
1.2 Identifikasi Masalah
1.3 Tujuan Penelitian
1.4 Manfaat dan Kegunaan Penelitian
1.5 Kerangka Pemikiran dan Hipotesis (jika ada)
1.6 Metode Penelitian
1.6.1 Jenis Penelitian
1.6.2 Metode Penelitian
1.6.3 Populasi dan Sampel (jika ada)
1.6.4 Teknik Pengumpulan Data
1.6.5 Operasionalisasi Variabel (jika ada)
1.6.6 Algoritma Penelitian (jika ada)
1.6.7 Rancangan Analisis Data dan Uji Hipotesis (sesuaikan dengan jenis penelitian)
Daftar Pustaka
BAGIAN B
1. Jelaskan uraian masalah penelitian dalam latar belakang masalah.
2. Jelaskan syarat dari masalah penelitian.
3. Jelaskan dan berikan contoh dari tujuan penelitian sesuai usulan thesis saudara.
4. Jelaskan dan berikan contoh dari manfaat penelitian sesuai usulan thesis saudara.
5. Jelaskan pengertian, macam dan berikan contoh dari hipotesis penelitian sesuai usulan
thesis saudara.
6. Gambarkan langkah-langkah penelitian kuantitatif.
7. Uraikan bagan mengenai literature review dan berikan contoh sesuai usulan thesis
saudara.
8. Jelaskan perbedaaan dari teori, model dan kerangka konsep penelitian dan berikan
contoh sesuai usulan thesis saudara
9. Jelaskan perbedaan antara desain penelitian deskriptif dan eksperimen serta9 berikan
contohnya.
10. Jelaskan pengertian dan macam-macam variabel penelitian. dan berikan contoh sesuai
usulan thesis saudara
11. Identifikasi macam variabel dari gambar berikut:

A B C

A : Variabel……..
B: Variabel……
C: Variabel……
D: Variabel……
Berikan contoh sesuai usulan thesis saudara.

12. Jelaskan pengertian definisi operasional variabel penelitian. dan berikan contoh sesuai
usulan thesis saudara.
13. Jelaskan mengenai populasi, macam-macam populasi, sampel, besar sampel dan teknik
pengambilan sampel.
14. Jelaskan rancangan analisis data univariat, bivariate dan multivariate berdasarkan
variable numerik dan kategorik.
15. Berikan contoh penulisan daftar pustaka menurut APA Style apabila referensi yang di
kutip dari sumber
a. Jurnal Online
b. Buku online
c. Buku (pengarang penerbit) bagian dari buku
d. Buku (tanpa pengarang)
e. Majalah online
f. Disertasi/thesis online
g. Publikasi pemerintah online
h. Web profesional

Selamat Mengerjakan & Semoga Sukses


JAWABAN METODOLOGI PENELITIAN BAGIAN B

1. Masalah Penelitian dalam latar belakang masalah

Pada dasarnya penelitian itu dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan data yang
dapat digunakan untuk memecahkan masalah. Untuk itu setiap melakukan penelitian, harus
terlebih dahulu memiliki sebuah masalah. Dimana masalah yang ada akan dicari kembali
secara ilmiah untuk mendapatkan data dan kegunaan tertentu. Masalah dapat diartikan
sebagai penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi baik
secara teori maupun secara praktek. Adanya jenis-jenis permasalahan akan dapat menjadi
acuan tentang masalah yang akan diteliti dan mempermudah perumusan masalah. Perumusan
masalah merupakan suatu pertanyaan atau rasa keingintauan peneliti yang akan dicari
jawabannya melalui pengumpulan data.
Masalah adalah suatu yang paling penting dalam melakukan proses penelitian. Pada
hakikatnya masalah penelitian merupakan suatu pertanyaan yang perlu dicari jawabannya,
atau segala bentuk hambatan, kesulitan atau rintangan yang muncul dalam suatu bidang yang
diteliti yang perlu dihindari dan disingkirkan untuk dicari solusi atau jawabannya.
Keberadaan suatu masalah merupakan syarat mutlak yang tidak bisa ditawar-tawarkan dalam
melakukan penelitian.
Penelitian muncul selalu berawal dari adanya suatu masalah yang timbul dilapangan
maupuan suatu yang masih menjadi pertanyaan bagi peneliti dan masyarakat. Masalah
merupakan tempat awal berpijak untuk melakukan penelitian, untuk selanjutnya dipecahkan
melalui langkah-langkah yang sistematis seperti yang ada dalam sebuah penelitian ilmiah.
Masalah yang akan diteliti hendaklah jelas, konkrit yang memerlukan solusi penyelesaian
sehingga mendapat keputusan atau hasil penelitian.
Sebagian besar peneliti pemula menganggap bahwa penelitian berawal dari penetapan
judul. Anggapan ini tidak benar karena penelitian berawal dari aktivitas menemukan masalah,
apabila masalah telah ditemukan maka upaya penyusunan judul merupakan hal yang paling
mudah dilakukan.
Masalah yang sering muncul bagi peneliti adalah memilih masalah dari beberapa
masalah. Masalah bisa timbil dalam rangkaian masalah yang begitu kompleks untuk
dipisahkan satu persatu. Pemilihan masalah adalah pelit atau rumit dan sangat sulit bagi
peneliti. Hal itu dikarenakan kebanyakan masalah yang dihadapi dalam bidang sain sosial dan
pendidikan masih pada tahap konsep dan gagasan. Dengan kata lain adalah masalah yang
timbul masih hanya sebatas peringkat pemikiran. Pemilihan masalah dan perumusan masalah
dalam penelitian merupakan salah satu aspek yang paling penting dalam memulai penelitian
dibidang apa saja.
Rumusan masalah adalah tulisan singkat berupa pertanyaan yang biasanya terletak di
awal laporan atau proposal dan biasanya terletak setelah latar belakang yang dijelaskan dalam
laporan tersebut. Rumusan masalah digunakan untuk menjelaskan masalah atau isu yang
dibahas dokumen tersebut kepada para pembaca. Rumusan masalah dibagi menjadi 3 yaitu :
1. Rumusan masalah deskriptif adalah suatu rumusan masalah yang berkenaan
dengan pertanyaan terhadap keberadaan variabel mandiri baik hanya pada satu
variabel atau lebih (variabel yang berdiri sendiri). Jadi dalam penelitian ini
peneliti tidak membuat perbandingan variabel itu pada sampel yang lain dan
mencari hubungan variabel itu dengan variabel yang lain.
2. Rumusan masalah komparatif adalah rumusan masalah penelitian yang
membandingkan keberadaan satu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang
berbeda.
3. Rumusan masalah asosiatif adalah rumusan masalah penelitian yang bersifat
menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih. Terdapat tiga bentuk
hubungan yaitu: hubungan simetris, hubungan kausal, dan interaktif.

Adapun langkah – langkah dalam membuat suatu rumusan masalah adalah sebagai berikut :
1. Menulis Rumusan Masalah Sendiri. Jelaskan keadaan “ideal”. Ada banyak cara
yang berbeda untuk menulis rumusan masalah — beberapa sumber referensi
merekomendasikan untuk langsung membahas masalah itu sendiri, sementara
sumber lainnya merekomendasikan memberikan konteks latar belakang terlebih
dahulu agar masalah (dan solusinya) lebih mudah untuk dipahami oleh pembaca.
2. Pertanggungjawabkan pernyataan Anda
3. Usulkan solusi
4. Jelaskan manfaat dari solusi
5. Simpulkan dengan meringkas masalah dan solusi
6. Ingat “lima W” siapa/who, apa/what, di mana/where,
kapan/when, dan mengapa/why, plus bagaimana/how.
7. Selalu mengoreksi kesalahan

Rumusan masalah penelitian yang baik, antara lain:


1. Bersifat orisinil, belum ada atau belum banyak orang lain yang meneliti masalah
tersebut.
2. Dapat berguna bagi kepentingan ilmu pengetahuan dan terhadap masyarakat.
3. Dapat diperoleh dengan cara-cara ilmiah.
4. Jelas dan padat, jangan ada penafsiran yang lain terhadap masalah tersebut.
5. Dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya.
6. Bersifat etis, artinya tidak bertentangan atau menyinggung adat istiadat, ideologi,
dan kepercayaan agama.
7. Masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan.
8. Rumusan masalah harus jelas, padat, dan dapat dipahami oleh orang lain.
9. Rumusan masalah harus mengandung unsure data yang mendukung pemecahan
masalah penelitian.
10. Rumusan masalah harus merupakan dasar dalam membuat kesimpulan sementara
(hipotesis).
11. Masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian.

Perumusan masalah memiliki fungsi sebagai berikut:


1. Sebagai pendorong suatu kegiatan penelitian menjadi diadakan atau dengan kata
lain berfungsi sebagai penyebab kegiatan penelitian itu menjadi ada dan dapat
dilakukan.
2. Sebagai pedoman, penentu arah atau fokus dari suatu penelitian. Perumusan
masalah ini tidak berharga mati, akan tetapi dapat berkembang dan berubah setelah
peneliti sampai di lapangan.
3. Sebagai penentu jenis data macam apa yang perlu dan harus dikumpulkan oleh
peneliti, serta jenis data apa yang tidak perlu dan harus disisihkan oleh peneliti.
Keputusan memilih data mana yang perlu dan data mana yang tidak perlu dapat
dilakukan peneliti, karena melalui perumusan masalah peneliti menjadi tahu
mengenai data yang bagaimana yang relevan dan data yang bagaimana yang tidak
relevan bagi kegiatan penelitiannya.
4. Dengan adanya perumusan masalah penelitian, maka para peneliti menjadi dapat
dipermudah di dalam menentukan siapa yang akan menjadi populasi dan sampel
penelitian.
2. Syarat masalah penelitian

Syarat masalah penelitian (Kuantitatif)


1. Memiliki batasan yang jelas
2. Memiliki bobot dimensi operasional dari masalah tersebut
3. Dapat dihipotesiskan
4. Dapat diukur
5. Dapat diuji
Syarat masalah penelitian (Kualitatif)
1. Memiliki batasan yang jelas
2. Berangkat dari sebuah pengamatan fenomena
3. Memungkinkan bagi peneliti untuk mendapatkan data dan mengklarifikasinya

3. Tujuan penelitian

Tujuan penelitian merupakan rumusan kalimat yang menunjukkan adanya hasil,


sesuatu yang diperolah setelah penelitian penelitian selesai, sesuatu yang akan dicapai/dituju
dalam sebuah penelitian. Tujuan penelitian berfungsi :
1. Untuk mengetahui deskripsi berbagai fenomena alamiah
2. Untuk menerangkan hubungan antara berbagai kejadian
3. Untuk memecahkan masalah yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari
4. Untuk memperlihatkan efek tertentu
Tujuan penelitian dibedakan menjadi dua macam yaitu :
a. Tujuan Umum, mengandung uraian garis besar sasaran akhir secara keseluruan yang
akan dicapai
b. Tujuan khusus, mengandung uraian secara rinci untuk mencapai tujuan umum
Contoh tujuan penelitian :

Berdasarkan identifikasi masalah yang telah di uraikan diatas maka penulis dapat
merumuskan tujuan penelitaian sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui dan menganalisis lingkungan kerja dokter di Rumah Sakit
Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin.
2. Untuk mengetahui dan menganalisis kompetensi dokter di Rumah Sakit Umum
Pusat Dr. Hasan Sadikin.
3. Untuk mengetahui dan menganalisis kinerja dokter Rumah Sakit Umum Pusat Dr.
Hasan Sadikin.
4. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh lingkungan kerja dan kompetensi
terhadap kinerja dokter secara parsial maupun simultan di Rumah Sakit Umum
Pusat Dr. Hasan Sadikin.

4. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian merupakan dampak dari pencapaiannya tujuan. Seandainya dalam
penelitian, tujuan dapat tercapai dan rumusan masalah dapat dipecahkan secara tepat dan
kurat, maka apa manfaatnya secara praktis maupun secara teoritis. Kegunaan penelitian
mempunyai dua hal yaitu mengembangkan ilmu pengetahuan (secara teoritis) dan membantu
mengatasi, memecahkan dan mencegah masalah yang ada pada objek yang diteliti. Kegunaan
hasil penelitian terhubung dengan sarana-sarana yang diajukan setelah kesimpulan. Kegunaan
hasil penelitian merupakan follow up pengguna informasi yang didapat dari kesimpulan.
Secara singkat manfaat penelitian kesehatan dapat diidentifikasikan sebagai berikut :
1. Hasil penelitian dapat digunakan untuk menggambarkan tentang keadaan atau status
kesehatan individu, kelompok, maupun masyarakat
2. Hasil penelitian kesehatan dapat digunakan untuk menggambarka kemampuan sumber
daya, dan kemungkunan sumbernya tersebut guna mendukung pengembangan
pelayanan kesehatan yang direncanakan
3. Hasil penelitian kesehatan dapat dijadikan sarana diagnosis dalam mencari sebab
masalah kesehatan, atau kegagalan yang terjadi didalam sistem pelayanan kesehatan.
Dengan demikian akan memudahkan pencarian alternatif pemecahan masalah-
masalah tersebut
4. Hasil penelitian kesehatan dapat dijadikan sarana untuk meyusun kebijaksanaan
dalam menyusun strategi pengembangan sistem pelayanan kesehatan
5. Hasil penelitian kesehatan dapat melukiskan kemampuan dalam pembiayaan,
peralatan, dan ketenaga kerjaan baik secara kuantitas maupun secara kualitas guna
mendukung sistem kesehatan

Contoh manfaat penelitian


Manfaat dan kegunaan penelitian dapat memberikan kontribusi kepada :
1. Peneliti
Dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan peneliti di bidang sumber daya manusia
khususnya mengenai lingkungan kerja, kompetensi dan kinerja. Selain itu sebagai
perbandingan antara teori yang di dapatkan di perkuliahan dengan praktek yang ada di
lapangan serta dapat mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan.
2. Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin
Penelitian yang dilakukan di harapkan dapat memberikan kontribusi kepada penyelesaian
masalah rumah sakit mengenai lingkungan kerja, kompetensi dan kinerja. Sebagai masukan
bagi RSHS untuk memperbaiki kualitas pelayanan kesehatan sehingga akan memberikan
pelayanan yang terbaik untuk kedepannya.
3. Peneliti lainnya
Penelitian yang dilakukan diharapkan memberikan masukan kepada peneliti lainnya,
sehingga peneliti berikutnya dapat melakukan penelitian yang lebih baik atau belum pernah
dilakukan dalam penelitian ini.

5. Hipotesis penelitian

Pengertian Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian.


Dikatakan sementara karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori dan belum
menggunakan fakta. Oleh karena itu, setiap penelitian yang dilakukan memiliki suatu
hipotesis atau jawaban sementara terhadap penelitian yang akan dilakukan. Dari hipotesis
tersebut akan dilakukan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan apakah hipotesis tersebut
benar adanya atau tidak benar.

Macam macam hipotesis dalam penelitian, sebagai berikut :

1. Hipotesis Deskriptif

Pengertian Hipotesis Deskriptif adalah dugaan terhadap nilai satu variabel dalam satu sampel
walaupun di dalamnya bisa terdapat beberapa kategori. Hipotesis deskriptif ini merupakan
salah satu dari macam macam hipotesis.

2. Hipotesis Komparatif

Pengertian Hipotesis Komparatif adalah dugaan terhadap perbandingan nilai dua sampel atau
lebih. Hipotesis komparatif merupakan salah satu dari macam macam hipotesis. Dalam hal
komparasi ini terdapat beberapa macam, yaitu :
(1) Komparasi berpasangan (related) dalam dua sampel dan lebih dari dua sampel (k sampel).

(2) Komparasi independen dalam dua sampel dan lebih dari dua sampel (k sampel).

3. Hipotesis Asosiatif

Pengertian Hipotesis Asosiatif adalah dugaan terhadap hubungan antara dua variabel atau
lebih. Hipotesis asosiatif merupakan salah satu dari macam macam hipotesis.

Contoh Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka pemikiran yang telah diuraikan diatas maka dapat disusun
hipotesis sebagai berikut :
1. Lingkungan kerja berpengaruh terhadap kinerja dokter di Rumah Sakit Umum
Pusat Dr. Hasan Sadikin
2. Kompetensi berpengaruh terhadap kinerja dokter di Rumah Sakit Umum Pusat Dr.
Hasan Sadikin
3. Lingkungan kerja dan kompetensi berpengaruh terhadap kinerja dokter secara
parsial maupun simultan di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin

6. Langkah langkah penelitian kuantitatif

1. Latar Belakang Masalah

2. Identifikasi, Pemilihan dan Perumusan Masalah

a. Identifikasi Masalah

b. Pemilihan Masalah

c. Sumber Masalah : Bacaan, seminar, diskusi, pengamatan, pengalaman, hasil

penelitian terdahulu, dan lain-lain.

d. Perumusan Masalah

yang bersangkutan. Sedangkan kalimat tanya dapat lebih mengakibatkan adanya

tantangan untuk mengumpulkan informasi lebih lanjut.


e. Perumusan Tujuan dan Manfaat Penelitian

f. Telaah Pustaka

g. Pembentukan Kerangka Teori

h. Perumusan Hipotesis

i. Definisi Operasional Variabel Penelitian

3. Validitas dan Reliabiltas Instrumen

4. Penetapan Metode Penelitian

5. Pembuatan Rancangan Penelitian

6. Pengumpulan Data

7. Pengolahan, Analisis dan Interpretasi Hasil Penelitian

8. Menyusun Laporan Penelitian

7. Literature Review

Merupakan analisa berupa kritik (membangun maupun menjatuhkan) dari penelitian


yang sedang dilakukan terhadap topik khusus atau pertanyaan terhadap suatu bagian dari
keilmuan.

Mengapa Melakukan Literature Review?

1. Membentuk sebuah kerangka teoritis untuk topik/bidang penelitian

2. Menjelaskan definisi, kata kunci dan terminology

3. Menentukan studi, model, studi kasus yang mendukung topik

4. Menentukan lingkup penelitian

– Menunjukkan bahwa penulis memahami area penelitian dan mengetahui isu-isu utama
penelitian, serta bahwa peneliti memiliki kompetensi, kemampuan, dan latar belakang yang
pas dengan penelitiannya.

– Menunjukkan kesinambungan dengan penelitian terdahulu dan bagaimana kaitannya


dengan penelitian saat ini.
– Mengintegrasikan dan menyimpulkan hal-hal yang diketahui dalam area penelitian
tersebut.

– Belajar dari orang lain dan menstimulasi ide-ide baru.

Langkah – langkah dalam Literature Review

Langkah1: Formulasikan Permasalahan

 Pilihlah topik yang sesuai isu dan minat

 Permasalahan harus ditulis secara lengkap dan tepat

Langkah 2: Cari Literatur

 Cari literatur yang relevan dengan penelitian

 Dapatkan gambaran(overview) topik penelitian

 Sumber sumber penelitian sangan membantu bila didukung pengetahuan topik yang
dikaji.

 Sumber sumber tersebut berikan gambaran/ringkasan penelitian sebelumnya

Langkah 3: Evaluasi Data

 Lihatlah kontribusi apa saja terhadap topik yang dibahas

 Cari dan temukan sumber data yang tepat sesuai kebutuhan guna mendukung
penelitian

 Data bisa berupa data kualitatif, data kuantitatif maupun data yang berasal dati
kombinasi keduanya

Langkah 4: Analisis dan Interpretasikan

 Diskusikan dan temukan serta ringkas literatur

Melakukan Teknik Review Literature

1. Cari kesamaannya (compare)

2. Cari ketidaksamaannya (contrast)


3. Berikan pandangan (criticize)

4. Bandingkan (synthesize)

5. Ringkasan (summarize)

Mencari Sumber –Sumber

1. Publikasi paper dijurnal nasional dan internasonal

2. Tesis (S2), penulis ilmiah yang sifatnya mendalam dan mengungkapkan suatu
pengetahuan baru yang diperoleh melalui penelitian

3. Disertasi (S3), merupakan penulisan ilmiah tingkat tinggi untuk dapatkan gelar
Doktor Falsafah (ph.D). Disertasi berisi fakta berupa penemuan dari penulis
berdasarkan metode dan analisis yang dapat dipertahankan kebenarannya

4. Jurnal, Hasil hasil konferensi. Jurnal biasanya dihunakan sebagai bahan sitiran (sitasi)
utama dalam penelitian karena jurnal memuat suatu informasi baru yang bersifat
spesifikasi dan terfokus pada pemecahan masalah pada suatu topik penelitian

5. Majalah, pamflet, kliping. majalah ilmiah merupakan sumber publikasi yang biasanya
berupa teori, penemuan baru maupun berupa materi materi yang sedang populer
dibicarakan dan diteliti

6. Abstrak hasil penelitian

7. Prosiding (proceedings). Pengambilan prosiding sebagai bahan literatur bisa


memudahkan peneliti karena adanya kolaborasi antara peneliti dengan penulis
prosiding yang mungkin berada astu Institusi, komuniti, peer group yang sama.

8. Website yang memuat literatur ilmu komputer seperti, http://citeseer.nj.nec.com/cs,


dan lainnya

Contoh literature review :

PENGARUH KOMPETENSI DAN LINGKUNGAN KERJA


TERHADAP KINERJA KARYAWAN
(Study Kasus Pada Karyawan Bagian Produksi Perusahaan Rokok
Adi Bungsu Malang)
Oleh
Mohamad Efendi *) Agus Widarko **) Achmad Agus Priyono
***)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh
antara kompetensi dan lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan
secara parsial dan simultan. Jenis penelitian ini merupakan penelitian
kuantitatif. Responden dalam penelitian ini adalah karyawan PR Adi
Bungsu Malang. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini
berjumlah 53 karyawan. Metode pengumpulan data yang digunakan
adalah kuesioner dan dokumentasi.
Analisis yang di gunakan
meliputi uji instrument, uji normalitas, uji asumsi klasik, uji linier
regresi berganda, uji t dan uji F dengan bantuan sofwere SPSS 14.0
for windows
Hasil penelitian ini menunjukkan kompetensi berpengaruh signifikan
terhadap kinerja karyawan PR Adi Bungsu Malang, lingkungan kerja
berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan PR. Adi Bungsu
Malang, kompetensi dan lingkungan kerja secara bersama-sama
berpengaruh terhadap kinerja karyawan PR. Adi Bungsu Malang
Kata kunci: kinerja, kompetensi, lingkungan kerja
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2006. Metodologi Penelitian. Yogyakarta:
BinaAksara.
As’ad, Mohammad. 2001. Psikologi Industri. Liberti. Yogyakarta.
Emmyah. 2009. Pengaruh Kompetensi Terhadap Kinerja Pegawai
Pada Politeknik Negeri Ujung Pandang
Ghozali, Imam. 2006. “Aplikasi Analisis Multivariate dengan Progam
SPSS”. Cetakan IV. Semarang: Badan Penerbit Universitas
Diponegoro
Gomes, Faustino Cardoso.2002.Manajemen Sumber Daya
Manusia.Andi:Yogyakarta.
Hadari Nawawi. 2006. Evaluasi dan Manajemen Kinerja di
Lingkungan Perusahaan Industri. Yogyakarta: UGM Press.
Harindja, Marihot Tua Efendi. 2002. Manajemen Sumber Daya
Manusia Pengadaan, Pengembangan, Pengkompensasian, dan
Peningkatan Produktivitas Pegawai. Jakarta: Grasindo, PT. Gramedia.
Hasibuan, M. 2002. Manajemen Sumber Daya Manusia Edisi Revisi.
Jakarta: Bumi Aksara.
Indrianto, Nur & Bambang, Supomo. 2014. Metodologi Penelitian
Bisnis untuk Akuntansi & Manajemen. Ed.1. Yogyakarta: BPFE
Yogyakarta
Istijanto. 2006. Riset Sumber Daya Manusia. Edisi kedua. Jakarta :
PT. Gramedia Pustaka.
Mangkunegara, Anwar P. 2005. Manajemen Sumber Daya Manusia
Perusahaan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Mangkunegara, Anwar Prabu. 2005. Evaluasi Kinerja Sumber Daya
Manusia, edisi pertama, cetakan pertama. Bandung: Refika Aditama.
Mangkunegara, Anwar Prabu. 2012. Evaluasi Kinerja SDM. Cetakan
ke 6. Bandung: PT. Refika Aditama.
8. Perbedaan dari teori, model dan kerangka konsep penelitian

Tinjauan pustaka adalah pengkajian kembali literatur-literatur yang relevan (review of related
literature) dengan penelitian yang sedang dikerjakan.

Tujuan utama membuat tinjauan pustaka adalah menjadi dasar pijakan atau fondasi untuk
memperoleh dan membangun landasan teori, kerangka pikir, menentukan hipotesis
penelitian, mengorganisasikan, dan kemudian menggunakan variasi pustaka dalam
bidangnnya. Fungsi tinjauan pustaka antara lain untuk (1) mengetahui sejarah masalah
penelitian, (2) membantu memilih prosedur penyelesaiaan masalah penelitian, (3) memahami
latar belakang teori masalah penelitian, (4) mengetahui manfaat penelitian sebelumnya, (5)
menghindari terjadinya duplikasi penelitian, dan (6) memberikan pembenaran alasan
pemilihan masalah penelitian.
Kerangka Teori adalah hubungan antar konsep berdasarkan studi empiris. Kerangka teori
harus berdasarkan teori asal / grand theory.

Kerangka Konsep adalah hubungan antara konsep yang dibangun berdasarkan hasil-hasil
studi empiris terdahulu sebagai pedoman dalam melakukan penelitian. Konsep merupakan
abstraksi yang terbentuk oleh generalisasi dari hal-hal yang khusus. Oleh karena konsep
merupakan abstraksi, maka konsep tidak dapat langsung diamati atau diukur. Konsep hanya
dapat diamati dan diukur melalui konstruk yang dikenal dengan istilah variabel.

Variabel adalah sesuatu yang bervariasi. Variabel penelitian adalah sesuatu yang bervariasi
yang dapat diukur.

Kerangka Konsep dapat berpijak pada kerangka teori yang dibentuk pada bab II. Kerangka
teori biasanya lebih kompleks dari kerangka konsep, karena tidak semua variabel dalam
kerangka teori diangkat menjadi variabel penelitian. Oleh karena itu pada BAB II sebelum
gambar kerangka konsep penelitian dipaparkan, peneliti wajib menjustifikasi mengapa
variabel lain tidak diteliti. Alasan yang disampaikan harus ilmiah, bukan sekedar keterbatasan
waktu, dana, tenaga dan kemampuan penelitia saat itu.

Contoh :

Lingkungan Kerja

Pengertian lingkungan kerja menurut Amstrong (Bagus Kisworo, 2012:75) the work

environtment consist of the system of work, the design of jobs, working condition and the

ways in which people are treated at work by their manager co workers. Lingkungan kerja

terdiri dari sistem kerja desain pekerjaan, kondisi kerja, dan cara cara dimana orang di

perlakukan di tempat kerja dengan manajer mereka dan rekan kerja.

Menurut Sedarmayanti (2009:31) menyatakan bahwa secara garis besar, jenis

lingkungan kerja terbagi menjadi 2 yaitu :

1. Lingkungan kerja fisik yang meliputi pewarnaan, penerangan, sirkulasi udara, suara

bising, ruang gerak, keamanan dan kebersihan


2. Lingkungan keja non fisik adalah semua keadaan yang terjadi yang berkaitan dengan

hubungan kerja, baik hubungan dengan atasan maupun hubungan dengan bawahan

sesama rekan kerja ataupun hubungan dengan bawahan.

Menurut Sondang Siagian (2011:134) faktor yang mempengaruhi lingkungan kerja

adalah hubungan kerja, kondisi kerja dan layanan kerja. Hubungan kerja merupakan faktor

dari lingkungan kerja yang mempegaruhi kerja karyawan. Dalam suatu organisasi atau

perusahaan, karyawan akan terlibat dalam hubungan kerja antara karyawan dengan karyawan.

Karyawan dengan atasan dan kedua duanya sama sama memberikan pengaruh terhadap

kinerja karyawan. Kondisi kerja yang mendukung sangat diperlukan, karena akan

meningkatkan produktivitas kerja, efsiensi dan efektivitas kerja. Hal ini antara lain dengan

tersedianya sarana dan prasarana kerja yang memadai. Kondisi kerja tidak terbatas hanya

pada kondisi kerja di tempat pekerjaan masing masing seperti nyamannya tempat kerja,

ventilasi yang cukup, penerangan lampu yang memadai, kebersihan tempat kerja, keamanan

dan hal hal yang sejenis, tetapi juga lokasi tempat kerja dikaitkan dengan tempat tinggal

karyawan. Layanan kerja yang diberikan organisasi kepada karyawannya akan membantu

karyawan untuk dapat berkonsentrasi dalam menggunakan keahliannya dan dapat

berkreativitas dalam bekerja. Layanan kerja merupakan fasilitas yang diberikan kepada

karyawan untuk memudahkan kebutuhan karyawan seperti kantin, perumahan, atau tempat

ibadah.

Dari definisi para pakar di atas penulis menyimpulkan lingkungan kerja dokter terdiri

dari lingkungan di sekitarnya yang mempengaruhi semangat kerja seorang dokter dalam

melakukan pekerjaannya, seperti kondisi lingkungan, hubungan personal antar pekerja di

lingkungan rumah sakit serta fasilitas yang diberikan dalam memudahkan pelayanan

kesehatan.

Kompetensi
Kompetensi sangat diperlukan dalam setiap proses sumber daya manusia, seleksi

karyawan, manajemen kerja, perencanaan dan sebagainya. Robbins menjelaskan kompetensi

sebagai ability, yaitu kapasitas seorang individu untuk mengerjakan berbagai tugas dalam

suatu pekerjaan. Kemampuan individu tersebut di bentuk oleh dua faktor yaitu faktor

kemampuan intelektual dan kemampuan fisik. Kompetensi pegawai merupakan faktor yang

penting dan berpengaruh pada pelaksanaan dan penyelesaian pekerjaan pekerjaan dalam

suatu organisasi.

Kompetensi adalah suatu kemampuan untuk melksanakan suatu pekerjaaan atau tugas

yang dilandasi atas keterampilan dan pengetahuan serta di dukung oleh sikap kerja yang di

tuntut oleh pekerjaan tersebut (Wibowo, 2014:88)

Menurut Michael Zweli dalam Wibowo (2014:88) mengatakan bahwa terdapat

beberapa faktor yang mempengaruhi kompetensi pegawai diantaranya keyakinan dan nilai

nilai, keterampilan, pengalaman, karakteristik, kepribadian, motivasi, isu emosional serta

iklim organisasi.

Finch dan Crunkilton dalam Sutrisno (2015) kompetensi sebagai penguasaan terhadap

suatu tugas, keterampilan, sikap dan apresiasi yang diperlukan untuk menunjang

keberhasilan. Dari pendapat ahli diatas maka dapat dikatakan bahwa kompetensi yang

dimiliki para pegawai secara individual harus dapat mendukung pelaksanaan visi dan misi

organisasi.

Kompetensi sebagai karakteristik dari seseorang yang dapat di perlihatkan, yang

meliputi pengetahuan, kterampilan dan perilaku yang dapat menghasilkan kinerja dan prestasi

(Gary Dessler, 2006:70). Kompetensi, keahlian dan pengetahuan yang terukur adalah inti dari

proses manajemen kinerja di semua organisasi.


Kompetensi diperlukan dalam setiap jenis pekerjaan yang menentukan seseorang

mampu atau tidak ampu melakukan pekerjaan tersebut. Semakin tinggi kompetensi karyawan

akan menghasilkan komitmen organisasional yang lebih tinggi.

Menurut Wibowo (2014:88) menyebutkan bahwa kompetensi merupakan

karakteristik individu yang mendasari kinerja pegawai di tempat kerjanya. Mengelola kinerja

agar proses kerja dapat berjalan dengan baik, untuk itu perlu memperhatikan beberapa aspek

penting diantaranya kompetensi dari pegawai (Edison, Emron, Komariyah, 2016). Faktor

rendahnya kinerja pegawai diduga karena kemampuan atau kompetensi pegawai yang masih

rendah.

Kompetensi secara harfiah berasal dari kata competence, yang berarti kemampuan,

wewenang dan kecakapan. Dari segi etimolgi, kompetensi berarti segi keunggulan, keahlian

dari perilaku seorang pegawai atau pemimpin yang mana punya suatu keunggulan, keahlian

dari perilaku seorang pegawai atau pemimpin yang mana punya suatu pengetahuan, perilaku

dan keterampilan yang baik. Karakteristik dari kompetensi yaitu sesuatu yang menjadi bagian

dari karakter pribadi da menjadi bagian dari perilaku seseorang dalam melaksanakan suatu

tugas pekerjaan (Mangkunegara, 2010)

Kurniadi A. (2013) menyatakan bahwa faktor-faktor dari kemampuan ada dua yaitu

kemampuan fisik yakni kemampuan dalam beraktivitas menurut kondisi stamina, kekuatan

dan karakteristik biologis dan kemampuan intelektual yaitu kemampuan dalam kegiatan

berhubungan dengan aktivitas mental.

Menurut McClelland dalam Rivai (2013), keterampilan dan pengetahuan memiliki

peran penting dalam keberhasilan seseorang. McClelland mendefinisikan kompetensi sebagai

pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi

bagian dari dirinya, sehingga ia dapat melakukan perilaku kognitif, afektif dan psikomotorik

dengan sebaik baiknya.


Berdasarkan uraian diatas makna kompetensi mengandung bagian kepribadian

yang mendalam dan melekat pada seseorang dengan perilaku yang dapat di prediksikan pada

berbagai keadaan dan tugas pekerjaan. Prediksi siapa yang berkinerja baik dan kurang baik

dapat diukur dari kriteria atau standar yang digunakan. Analisa kompetensi disusun sebagian

besar untuk pengembangan karier, tetapi penentuan tingkat kompetensi di butuhkan untuk

mengetahui efektivitas tingkat kinerja yang diharapkan.

Kinerja

Kinerja pegawai adalah ungkapan seperti output, efisiensi serta efektivitas sering

dihubungkan dengan produktivitas (Gomes, 2005:195). Kinerja karyawan mempengaruhi

seberapa banyak mereka memberi kontribusi kepada organisasi (Mathis, 2002).

Menurut Dwi Dedi dalam Iskandar (2016) terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi

kinerja seseorang diantaranya faktor internal dan faktor eksternal lingkungan. Faktor internal

berasal dari dalam diri pekerja, sedangkan faktor eksternal lingkungan menurut Coughlin

dalam Iskandar (2016) mencakup supervisi, kolega, kondisi kerja, evaluasi dan pelatihan.

Selain itu faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai menurut Wibowo (2014)

diantaranya faktor internal meliputi kemampuan individu bakat dan minat seseorang, serta

faktor eksternal yang meliputi komponen dukungan organisasionl terdiri dari pelatihan dan

pengembangan, peralatan dan teknologi, iklim organisasi, standar kerja, manajemen, dan

rekan kerja.

Pernyataan Siagian (2013) menjelaskan bahwa kinerja pegawai dipengaruhi oleh gaji,

lingkungan kerja, budaya organisasi, kepemiminan dan motivasi kerja, disiplin kerja,

kepuasan kerja dan motivasi.

Suatu keberhasilan yang ingin dicapai oleh perusahaan sangat dipengaruhi oleh

kinerja karyawan. Kinerja merupakan pencapaian atau prestasi kerja, yaitu hasil kerja secara

kualitas dan kuantitas yang dicapai seseorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai
dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya (Mangkunegara, 2014). Kinerja adalah

tingkatan pencapaian hasil atas pelaksanaan tugas tertentu.

Bernadin dan Russel dalam Sutrisno (2015) memberikan pengertian kinerja sebagai

berikut : “performance is defined as the record of outcomes produced on a specified job

function or activity during time period”. Prestasi atau kinerja adalah catatan tentang hasil

hasil yang diperoleh dari fungsi fungsi pekerjaan tertentu atau kegiatan selama kurun waktu

tertentu.

Untuk pengukuran kinerja atau hasil kerja dari seseorang karyawan digunakan sebuah

daftar pertanyaan yang berisikan beberapa dimensi tentang hasil kerja atau kinerja. Ada 6

kriteria untuk menilai kinerja karyawan yaitu :

1. Quality : merupakan tingkat sejauh mana proses atau hasil pelaksanaan kegiatan

mendekati kesempurnaan atau mendekati tujuan yang diharapkan.

2. Quantity : merupakan jumlah yang di hasilkan misalnya: jumlah rupiah, jumlah unit,

jumah siklus kegiatan yang diselesaikan

3. Timeliness : merupakan tingkat sejauh mana suatu kegiatan diselesaikan pada waktu yang

di kehendaki dengan memperhatikan koordinasi output lain serta waktu yang tersedia

untuk kegiatan lain.

4. Cost efectiveness : yaitu tingkat sejauh mana penerapan sumber daya manusia, keuangan,

teknologi, material di maksimalkan untuk mencapai hasil tertinggi atau pengurangan

kerugian dari setiap unit pengguna sumber daya

5. Need for supervision : merupakan tingkat sejauh mana seseorang pekerja dapat

melaksanakan suatu fungsi pekerjaan tanpa memerlukan pengawasan seorang supervisor

untuk mencegah tindakan yang kurang diinginkan

6. Interpersonal impact : merupakan tingkat sejauh mana karyawan memelihara harga diri,

nama baik dan kerja sama antara rekan kerja dan bawahan
Faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai menurut Wibowo (2014) diantaranya

faktor internal meliputi kemampuan individu bakat dan minat seseorang, serta faktor

eksternal yang meliputi komponen dukungan organisasional terdiri dari pelatihan dan

pengembangan, peralatan dan teknologi, iklim organisasi, standar kinerja, manajemen dan

rekan kerja.

Pengaruh Lingkungan Kerja terhadap Kinerja

Menurut Putra (2011:4) lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada di sekitar

para pekerja yang dapat mempengaruhi diriya dalam menjalankan tugas tugas yang di

embankan. Lingkungan kerja mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja

pegawai.

Selain itu lingkungan kerja juga tidak kalah pentingnya di dalam pencapaian kinerja.

Dimana lingkungan kerja mempengaruhi seseorang dalam menyelesaikan pekerjaan. Dengan

adanya lingkungan kerja yang memadai tentunya akan membuat seseorang betah bekerja,

sehingga akan timbul semangat kerja dan kegairahan kerja seseorang dalam melaksanakan

pekejaannya, kinerja akan meningkat. Sedangkan lingkungan kerja yang tidak memadai dapat

mengganggu konsentrasi seseorang dalam melaksanakan pekerjaannya sehingga

menimbulkan kesalahan dalam bekerja dan mengakibatkan kinerja menurun kinerja menurun.

Pengaruh Kompetensi terhadap Kinerja

Kompetensi dikatakan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja.

Kompetensi diperlukan untuk membantu organisasi untuk menciptakan budaya kinerja tinggi.

Menurut Boyatz dan Amstrong dalam Priansa (2014), menyatakan kompetensi adalah

kapasitas yang dimiliki oleh pegawai yang mengarah kepada perilaku sesuai dengan tuntutan

pekerjaan serta sesuai dengan ketetapan organisasi, yang pada gilirannya akan membawa

hasil seperti yang diinginkan.


Kompetensi adalah karakteristik dasar yang dapat berpengaruh terhadap kinerja

individu dan tim. Kompetensi memiliki hubungan kausal atau sebab akibat dengan kriteria

dijadikan acuan, efektif atau berkinerja prima atau superior di tempat kerja atau situasi

tertentu.

Kompetensi dan keterampilan cenderung lebih mudah untuk dikembangakan dengan

adanya pendidikan dan pelatihan bagi pegawai yang dianggap masih kurang berkompeten.

Sedangkan kompetensi konsep diri, watak dan motif lebih tersembunyi sehingga cukup sulit

untuk dikembangkan. Kompetensi merupakan tindakan atau kegiatan yang tepat untuk

mencapai hasil kerja, dengan kata lain semakin kompeten seorang individu makan akan

semakin baik pula kinerjanya, begitupun sebaliknya jika seorang individu tidak berkompeten

maka kinerjanya tidak baik atau menurun.

Mengelola kinerja agar proses kinerja dapat berjalan dengan baik, untuk itu

memperhatikan beberapa aspek penting diantaranya kompetensi dari pegawai (Edison,

Emron, dan Komariyah 2016).

Menurut Wibowo (2014) menyebutkan bahwa kompetensi merupakan karakteristik

individu yang mendasari kinerja pegawai di tempat kerjanya.

Pengaruh Lingkungan Kerja dan Kompetensi terhadap Kinerja

Menurut Dwivedi dalam Iskandar (2016) terdapat faktor faktor yang mempengaruhi

kinerja seseorang diantaranya faktor internal dan faktor eksternal atau faktor lingkungan.

Faktor internal berasal dari dalam diri pekerja, sedangkan faktor eksternal atau lingkungan

menurut Coughlin dalam Iskandar (2016) mencangkup supervisi, kolega, kondisi kerja,

evaluasi dan pelatihan.

Kompetensi pegawai dan lingkungan kerja yang kondusif dapat meningkatkan kinerja

pegawai tersebut.
Variabel X1 -
Lingkungan Kerja
•Lingkungan Kerja Fisik
•Lingkungan Kerja Non
Fisik (Sedamaryati,
2009:31)

Variabel Y - Kinerja
• Quality (Kualitas Kerja)
• Quantity (Kuantitas Kerja)
• Timeliness (Ketepatan Waktu)
• Cost Effectivenes (Efektivitas biaya)
• Need for Supervision (Kebutuhan
Pengawasan)
• Interpersonal Impact (Dampak
Hubungan Individu) (Bernadin dan
Russel dalam Sutrisno 2011:179)

Variabel X2 -
Kompetensi
•Pengetahuan
•Keahlian atau Keterampilan
•Sikap Kerja (Wibowo,
2014:88)

9. Perbedaan antara desain penelitian deskriptif dan ekspeimen

a. Eksperimen

Penelitian eksperimental merupakan bentuk penelitian percobaan yang berusaha untuk


mengisolasi dan melakukan kontrol setiap kondisi-kondisi yang relevan dengan situasi yang
diteliti kemudian melakukan pengamatan terhadap efek atau pengaruh ketika kondisi-kondisi
tersebut dimanipulasi. Dengan kata lain, perubahan atau manipulasi dilakukan terhadap
variabel bebas dan pengaruhnya diamati pada variabel terikat. Desain penelitian ekperimen
dibagi menjadi empat bentuk yakni, pre-experimental design, true experimental design, quasy
experimental design dan factorial design.

Contoh:
Efek Annona Muricata dan Typhonium Flagelliforme terhadap Tumor Payudara pada Tikus
Galur Wistar

b. Deskriptif

Penelitian deskriptif adalah suatu metode penelitian yang ditujukan untuk menggambarkan
fenomena-fenomena yang ada, yang berlangsung saat ini atau saat yang lampau. Penelitian
ini tidak mengadakan manipulasi atau pengubahan pada variabel-variabel bebas, tetapi
menggambarkan suatu kondisi apa adanya. Penggambaran kondisi bisa individual atau
menggunakan angka-angka.

Penelitian deskriptif, bisa mendeskripsikan suatu keadaan saja, tetapi bisa juga
mendeskripsikan keadaan dalam tahapan-tahapan perkembangannya, penelitian demikian
disebut penelitan perkembangan (Developmental Studies). Dalam penelitian perkembangan
ini ada yang bersifat longitudinal atau sepanjang waktu dan ada yang bersifat cross sectional
atau dalam potongan waktu.

Contoh:

Manajemen Pengembagan Kinerja Guru SMK se-Kabupaten Kuningan: Studi Tentang


Kepemimpinan Entrepeuneur Dan Sistem kompensasi Kreativitas dan Kinerja Inovatif.

10. Macam macam variabel penelitian

Variabel Penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh
seorang peneliti dengan tujuan untuk dipelajari sehingga didapatkan informasi mengenai hal
tersebut dan ditariklah sebuah kesimpulan.

Variabel merupakan hal yang sangat penting dalam sebuah penelitian, karena sangat tidak
memungkinkan bagi seorang peneliti melakukan penelitian tanpa variabel.

1. Hubungan antar Variabel

Jenis Variabel Bebas (Independent Variable)

Variabel ini mempunyai pengaruh atau menjadi penyebab terjadinya perubahan pada variabel
lain. Sehingga bisa dikatakan bahwa perubahan yang terjadi pada variabel ini diasumsikan
akan mengakibatkan terjadinya perubahan variabel lain.

Jenis Variabel Terikat (Dependent Variable)


Variabel terkait atau dependent adalah variabel yang keberadaannya menjadi suatu akibat
dikarenakan adanya variabel bebas. Disebut variabel terkait karena kondisi atau variasinya
terkait dan dipengaruhi oleh variasi variabel lain. Selain itu ada juga sebutan lain yaitu
variabel tergantung, karena variasinya tergantung pada variasi variabel lain. Kemudian ada
juga yang menyebut variabel output, kriteria, respon, dan indogen.

Jenis Variabel Kontrol (Control Variable)

Jenis variabel ini merupakan variabel yang dibatasi dan dikendalikan pengaruhnya sehingga
tidak berpengaruh pada gejala yang sedang diteliti, dengan kata lain yaitu dampak dari
variabel bebas terhadap variabel terikat tidak dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak diteliti.

2. Sifat Variabel

Variabel ini dikelompokkan menjadi 2 yaitu:

Jenis Variabel Dinamis

Pengertian variabel dinamis yaitu suatu variabel yang bisa diubah naik keadaan maupun
karakteristiknya. Variabel ini memungkinkan untuk dilakukan manipulasi atau perubahan
sesuai dengan tujuan yang diinginkan peneliti.

Jenis Variabel Statis

Variabel statis adalah variabel yang mempunyai sifat yang tetap dan tidak dapat diubah, baik
keberadaan maupun karakteristiknya. Dalam kondisi normal sifat-sifat tersebut sulit untuk
diubah.

3. Urgensi Faktual

Bedasarkan penting atau tidaknya sebuah instrumen dalam mengumpulkan data, maka dapat
dibedakan menjadi 2 yaitu variabel konseptual dan faktual, berikut penjelasannya:

Variabel Konseptual

Dinamakan variabel konseptual karena variabel ini tidak terlihat secara fakta dan tersembunyi
dalam suatu konsep. Variabel konsep hanya bisa diketahui berdasarkan indikator yang
tampak.

Variabel Faktual
Berbeda dengan yang di atas, variabel ini merupakan variabel yang ada di dalam faktanya.
Contoh yang dapat kamu lihat dalam variabel ini adalah, gen, usia, asal daerah/sekolah,
agama, pendidikan, dan lain-lain.

4. Tips Skala Pengukur

Ada sekitar 4 tingkatan dalam variabel ini yaitu: Nominal, interval, dan rasio, berikut
penjelasannya:

Variabel Nominal

Variabel nominal adalah, variabel yang hanya bisa dikelompokkan terpisah secara kategori
dan diskrit. Variabel nominal bisa disebut juga dengan variabel diskrit. Dilihat dari namanya
nominal atau nomi mempunyai arti nama, hal ini menunjukkan bahwa tanda atau label hanya
digunakan untuk membedakan antar variabel.

Variabel Ordinal

Variabel ordinal yaitu variabel yang memiliki variasi perbedaan, tingkatan, urutan, namun
tidak memiliki kesamaan jarak perbedaan dan tidak bisa dibandingkan. Pada urutan ini
tergambar adanya gradasi atau sebuah tingkatan, namun itu semua tidak bisa diketahui secara
pasti.

Variabel Interval

Berbeda lagi dengan variabel-variabel di atas, skala variabel jenis ini dapat dibedakan,
bertingkat dan memiliki jarak yang sama dari satuan hasil pengukuran, namun kesamaan
tersebut sifatnya tidak bisa dibandingkan dan tidak mutlak.’

Variabel Rasio

Variabel rasio adalah variabel yang memiliki skor dan bisa dibedakan, diurutkan, adanya
persamaan jarak perbedaan, dan dapat dibandingkan.

5. Penampilan Waktu Pengukuran

Dalam waktu pengukuran variabel dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu: Variabel


maksimalis dan tipikalis.
Variabel Maksimalis

Variabel maksimalis adalah, variabel yang ketika proses pengumpulan data, ada dorongan
terhadap responden agar menunjukkan penampilan maksimal.

Variabel Tipikalis

Variabel tipikalis adalah variabel yang ketika peroses pengumpulan data tidak ada dorongan
terhadap responden dalam menunjukkan penampilan secara maksimal, namun lebih kepada
jujur diri terhadap variabel yang diukur.

Contoh :

Contoh variabel penelitian sesuai usulan tesis yang saya buat, sebagai berikut:
Penelitian: Pengaruh Lingkungan Kerja dan Kompetensi terhadap Kinerja Dokter di Rumah
Sakit Umum Pusat Hasan Sadikin
 Variabel independen: Lingkungan kerja dan Kompetensi
 Variabel dependen: kinerja dokter
Lingkungan Kerja (X1), Kompetensi (X2), Kinerja (Y)

16. Identifikasi macam variabel dari gambar berikut:

A B C

A : Variabel : Bebas
B: Variabel : Perantara
C: Variabel : Terikat
D: Variabel : Perancu

Contoh variabel penelitian sesuai usulan tesis yang saya buat, sebagai berikut:
 Variabel independen: lingkungan kerja dan kompetensi
 Variabel dependen: kinerja dokter
12. Definisi operasional variabel penelitian

adalah pengertian variabel (yang diungkap dalam definisi konsep) tersebut, secara
operasional, secara praktik, secara nyata dalam lingkup obyek penelitian/obyek yang diteliti.

Dimensi Variabel
Variabel Konsep Definisi Indikator Ukuran Skala
Besar
Menurut Sedarmayanti Lingkungan kerja di Lingkungan Kerja Fisik :  Tingkat Ordinal
(2009) menyatakan bagi menjadi 2 : penerangan
bahwa secara garis 1. Penerangan
besar, jenis lingkungan Lingkungan Kerja yang ada di
2. suhu udara ruang kerja
kerja terbagi menjadi 2 Fisik adalah semua
yaitu : lingkungan kerja yang terdapat
3. sirkulasi udara sesuai
fisik dan non fisik disekitar tempat kerja 4. ukuran ruang dengan
yang dapat kerja kebutuhan
Menurut Sondang mempengaruhi 5. tata letak ruang
Siagian (2011:134) pegawai baik secara  Tingkat
kerja penerangan
faktor yang langsung maupun
mempengaruhi tidak langsung
6. kebersihan yang ada
lingkungan kerja adalah Sedarmayanti (2009: 7. suara bising memancar
hubungan kerja, kondisi 22) 8. penggunaan dengan
kerja dan layanan kerja. warna
Lingkungan kerja non tepat dan
Dari definisi para pakar fisik adalah semua Lingkungan Kerja Non tidak
di atas penulis keadaan yang terjadi Fisik: menyilauka
menyimpulkan yang berkaitan 1. keamanan kerja n mata
lingkungan kerja dokter dengan hubungan
terdiri dari lingkungan kerja, baik dengan
2. hubungan  Ketersediaa
di sekitarnya yang atasan maupun sesama rekan n AC di
mempengaruhi dengan sesama rekan kerja ruan kerja
semangat kerja seorang kerja ataupun 3. hubungan kerja  Kondisi
Lingkungan dokter dalam hubungan dengan
Kerja
antara atasan udara di
melakukan bawahan
pekerjaannya, seperti Sedarmayanti (2009:
dengan ruang kerja
kondisi lingkungan, 31) bawahan  Ventilasi di
hubungan personal 4. Suasana ruang kerja
antar pekerja di kekeluargaan berfungsi
lingkungan rumah sakit ditempat kerja dengan
serta fasilitas yang
diberikan dalam
5. Komunikasi baik
memudahkan pelayanan antar pegawai  Tingkat
kesehatan. ukuran
ruang kerja
sesuai
dengan
kebutuhan
 Tata letak
meja kursi
dan bed
pasien
sesuai
dengan
keinginan
 Tingkat
kebersihan
lingkungan
kerja
 Lingkunga
n kerja
tenang dan
bebas dari
suara bising
 Warna
dinding
mendukung
pikiran dan
semangat
ketika
bekerja
 Tingkat
keamanan
dalam
rumah sakit
 Adanya
petugas
keamanan
membuat
tenang
dalam
bekerja
 Tingkat
hubungan
dengan
rekan kerja
 Tingkat
hubungan
dengan
manajer
 Suasana
kerja
menyenang
kan dengan
fasilitas
yang
memadai
 Tingkat
komunikasi
antar
pegawai
Kompetensi adalah  Pengetahu  Pengetahuan  Tingkat Ordinal
suatu kemampuan untuk an mengerjakan pengetahu
Kompetensi
melaksanakan suatu
pekerjaaan atau tugas  Keahlian suatu tugas an dalam
yang dilandasi atas dan  Pengetahuan mengerjak
keterampilan dan Keterampi dalam bekerja an suatu
pengetahuan serta di lan efektif tugas
dukung oleh sikap kerja
yang di tuntut oleh  Sikap  Keterampilan  Tingkat
pekerjaan tersebut Kerja mengerjakan pengetahu
(Wibowo, 2014:88) suatu tugas an dalam
dalam kondisi bekerja
normal di efektif
tempat kerja  Tingkat
 Keterampilan keterampil
dalam an dalam
menyiasati mengerjak
kekuarangan an tugas
 Sikap dokter  Tingkat
dalam keterampil
mengerjakan an dalam
pekerjaan menyiasati
 Sikap dokter kekuranga
dalam n
mengerjakan  Tingkat
pekerjaan perilaku
terhadap rekan dokter
kerja dalam
mengerjak
an
pekerjaan
 Tingkat
perilaku
dokter
dalam
mengerjak
an
pekerjaaan
dengan
teman
sejawat
Bernadin dan Russel  Quality  Kesesuaian  Tingkat Ordinal
dalam Sutrisno (Kualitas hasil pekerjaan ketepatan
(2011:179) memberikan
pengertian kinerja Kerja) sesuai dengan hasil
sebagai berikut : standar yang pekerjaan
“performance is defined  Quantity ditetapkan sesuai
as the record of (Kuantitas  Ketelitian standar
outcomes produced on a yang
specified job function or
Kerja) dalam bekerja
Kinerja (Y)
activity during time  Kerapian dalam ditetapkan
period”. Prestasi atau  Timelines bekerja  Tingkat
kinerja adalah catatan s  Kesesuaian ketelitian
tentang hasil hasil yang (Ketepata dalam
jumlah target
diperoleh dari fungsi n Waktu)
fungsi pekerjaan dalam bekerja bekerja
tertentu atau kegiatan  Kehadiran tepat  Tingkat
selama kurun waktu  Cost waktu kerapihan
tertentu. Effectiven
es  Penyelesaian dalam
(Efektivita tugas yang bekerja
s biaya) tepat waktu  Tingkat
 Pemanfaatan kesesuaian
waktu luang jumlah
 Need for
 Pemakaian realisasi
Supervisio terhadap
sumber daya
n target
secara efektif
(Kebutuha
 Pemakaian dalam
n bekerja
sumber daya
Pengawas  Tingkat
secara efisien
an)
 Kesediaan kehadiran
bekerja tanpa tepat
 Interperso
pengawasan waktu
nal Impact
 Inisiatif dalam  Tingkat
(Dampak
bekerja penyelesai
Hubungan
Individu)  Hubungan an tugas
kerjasama yang tepat
 Saling waktu
menghargai  Tingkat
pemanfaat
an waktu
luang
 Tingkat
pemakaian
sumber
daya
secara
efektif
 Tingkat
pemakaian
sumber
daya
secara
efisien
 Tingkat
kesediaan
bekerja
tanpa
pengawasa
n
 Tingkat
inisiatif
dalam
bekerja
 Tingkat
hubungan
kerjasama
dengan
rekan kerja
 Tingkat
mengharga
i antar
rekan kerja

13. Jelaskan mengenai populasi, macam-macam populasi, sampel, besar sampel dan
teknik pengambilan sampel.

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti. Populasi bukan hanya
orang tapi juga obyek dan benda-benda alam yang lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah
yang ada pada obyek/subyek yang dipelajari, tetapi meliputi karakteristik/ sifat yang dimiliki
oleh subyek atau obyek itu.

Macam macam populasi :

a. Jumlah terhingga, yang terdiri dari elemen dengan jumlah tertentu

b. Jumlah tak terhingga, terdiri dari elemen yang sulit dicari jumlahnya, seperti jumlah
penonton sebuah stasiun televisi

Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap
mewakili seluruh populas. Sampel terdiri dari bagian populasi terjangkau yang dapat
dipergunakan sebagai subjek penelitian melalui sampling.

Rumus yang digunakan untuk pengambilan sampel adalah :

n = 25% x N

Keterangan :

n = besar sampel

N = besar populasi

Jadi, sampel merupakan bagian dari populasi, data yang diperoleh tidaklah lengkap namun
jika pengambilan sampel dilakukan dengan mengikuti kaidah- kaidah ilmiah maka biasanya
sangat mungkin diperoleh hasil-hasil dari sampel cukup akurat untuk menggambarkan
populasi yang diperlukan dalam kajian yang diperlukan.
empat parameter yang bisa dianggap menentukan representativeness sampel (sampel yang
benar-benar mencerminkan populasinya), yaitu :

1. Variabilitas populasi

Variabilitas populasi adalah hal yang sudah “given”, artinya peneliti harus menerima
bagaimana adanya dan tidak dapat mengatur atau memanipulasinya.

2. Besar Sampel

Besar sampel yang diambil akan semakin besar atau tinggi taraf representativeness sampel
tersebut. Jika populasinya homogen secara sempurna, besarnya sampel tidak mempengaruhi
tarak representativeness sampel.

3. Teknik penentuan sampel

Makin tinggi tingkat rambang dalam penentuan sampel, akan makn tinggi pula tingkat
representativeness sampel.

4. Kecermatan memasukkan ciri-ciri populasi dalam sampel

TEKNIK SAMPLING

Teknik sampling adalah merupakan teknik pengambilan sampel. Untuk sampel yang akan
digunakan dalam penelitian, terdapat berbagai teknik sampling yang dikelompokkan menjadi
dua yaitu Probability sampling dan Nonprobability sampling (Sugiyono,2011).

- Macam Teknik Sampling

a. Probability Sampling

Probability sampling adalah merupakan teknik pengambilan sampel yang memberikan


peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih untuk menjadi anggota
sampel. Teknik ini antara lain sebagai berikut:

1. Simple random sampling

Dikatakan simple (sederhana) karean pengmbilan sampel dilakukan secara acak tanpa
memperhatikan strata yang ada pada populasi itu. Cara demikian dilakukan bila anggota
populasi dianggap homogen.
2. Proportionate stratified random sampling

Teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota /unsur yang tidak homogen dan
berstrata secara proposional

3. Disproportionate stratified random sampling

Teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel, bila populasi berstrata tetapi kurang
proposional.

4. Cluster sampling (Area sampling)

Teknik sampel daerah digunakan untuk menentukan sampel bila obyek yang akan diteliti atau
sumber data sangat luas, misal penduduk dari suatu Negara, provinsi atau kabupaten. Untuk
menentukan penduduka mana yang akan dijadikaan sumber data, maka pengambilan
sampelnya didasarkan daerah populasi yang telah ditentukan.

Teknik sampling daerah ini sering digunakan melalui dua tahap, yaitu tahap pertama
menentukan sampel daerah, dan tahap berikutnya menentukan orang-orang yang ada di
daerah itu sacara sampling juga.

b. Nonprobability Sampling

Nonprobability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberi


peluang/kesempatan sama bagi setiap unsure atau anggota populasi untuk dipilih menjadi
sampel. Tekniknya antara lain sebagi berikut:

1. Sampling Sistematis

Sampling sistematis adalah teknik pengambilan sampel berdasarkan urutan dari anggota
populasi yang telah diberi nomor urut.

2. Sampling Kuota

Sampling kuota adalah teknik untuk menetukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-
ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan. Bila pada pengambilan sampel dilakukan
secara kelompok maka pengambilan sampel dibagi rata sampai jumlah (kuota) yang
diinginkan.

3. Sampling Insidental
Sampling Insidental dalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja
yang secara kebetulan/incidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel,
bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data.

4. Sampling Purposive

Sampling purposive adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Sampel
ini lebih cocok untuk penelitian kualitatif, atau penelitian-penelitian yang tidak melekukan
generalisasi.

5. Sampling Jenuh

Sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila anggota populasi digunakan sebagai
sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relative kecil, kurang dari 30 orang,
atau penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil. Istilah
lain sampling jenuh adalah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sebagai sampel.

6. Snowball Sampling

Snowball sampling dalah teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil,
kemudian membesar. Ibarat bola salju yang menggelinding yang lama-lama menjadi besar.
Dalam penetuan sampel pertama-tama dipilih satu atau dua orang, tetapi karena dengan dua
orang ini belum merasa lengkap terhadap data yang diberikan, maka peneliti mencarai orang
lain yang dipandang lebih tahu dan dapat melengkapi data yang diberikan oleh dua orang
sebelumnya. Begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel semakin banyak.

14. rancangan analisis data univariat, bivariate dan multivariate berdasarkan variable
numerik dan kategorik.

Analisis data adalah upaya atau cara untuk mengolah data menjadi informasi sehingga
karakteristik data tersebut bisa dipahami dan bermanfaat untuk solusi permasalahan,
tertutama masalah yang berkaitan dengan penelitian.

Analisis Satu Variabel (Univariat Analysis)

Analisis univariat adalah analisa yang dilakukan menganalisis tiap variabel dari hasil
penelitian. Analisis univariat bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik
setiap variable penelitian. Bentuk analisis univariat tergantung dari jenis datanya. Untuk data
numerik digunakan nilai mean atau rata-rata, median dan standar deviasi. Pada umumnya
dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi frekuensi dan persentase dari tiap variabel.
Misalnya distribusi frekuensi responden berdasarkan umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan
dan sebagainya. Demikian juga penyebaran penyakit-penyakit yang ada di daerah tertentu,
distribusi pemakaian jenis kontrasepsi, distribusi kasus malnutrisi pada anak balita, dan
sebagainya.

Analisis Dua Variabel (Bivariat Analysis)

Apabila telah dilakukan analisis univariat, hasilnya akan diketahui karakteristik atau
distribusi setiap variabel dan dapat dilanjutkan dengan analisis bivariat. Analisis bivariat
dilakukan terhadap dua variable yang diduga berhubungan atau berkorelasi. Dalam analisis
bivariat ini dilakukan beberapa tahap, antara lain:

(1) Analisis proporsi atau presentase, dengan membandingkan distribusi silang antara dua
variabel yang bersangkutan.

(2) Analisis dari hasil uji statistik (chi square, z test, t test dan sebagainya). Melihat dari
hasil uji statistik ini akan dapat disimpulkan adanya hubungan dua variabel tersebut
bermakna atau tidak bermakna. Dari hasil uji statistik ini dapat terjadi misalnya antara dua
variabel tersebut secara persentase berhubungan tetapi secara statistik hubungan tersebut
tidak bermakna.

(3) Analisis keeratan hubungan antara dua variabel, dengan melihat Odd Ratio (OR). Besar
kecilnya nilai OR menunjukkan besarnya keeratan hubungan antara dua variabel yang diuji.

Uji statistik yang dipakai pada analisis bivariat:

1) Chi Square ( chi kuadrat)

Adalah suatu teknik statistik yang memungkinkan penyelidikan menilai probabilitas


memperoleh perbedaan frekuensi yang nyata (yang diobservasi) dengan frekuensi yang
diharapkan dalam kategori –kategori tertentu sebagai akibat dari kesalahan sampling.

2) T test

Uji T berpasangan (paired T-test)

adalah salah satu metode pengujian hipotesis dimana data yang digunakan tidak bebas
(berpasangan). Ciri-ciri yang paling sering ditemui pada kasus yang berpasangan adalah satu
individu (objek penelitian) dikenai 2 buah perlakuan yang berbeda. Walaupun menggunakan
individu yang sama, peneliti tetap memperoleh 2 macam data sampel, yaitu datadari
perlakuan pertama dan data dari perlakuan kedua. Perlakuan pertama mungkin saja berupa
kontrol, yaitu tidak memberikan perlakuan sama sekali terhadap objek penelitian. Misal pada
penelitian mengenai efektivitas suatu obat tertentu, perlakuan pertama, peneliti menerapkan
kontrol, sedangkan pada perlakuan kedua, barulah objek penelitian dikenai suatu tindakan
tertentu, misal pemberian obat.

Independen T Test

adalah uji komparatif atau uji beda untuk mengetahui adakah perbedaan mean atau rerata
yang bermakna antara 2 kelompok bebas yang berskala data interval/rasio. Dua kelompok
bebas yang dimaksud di sini adalah dua kelompok yang tidak berpasangan, artinya sumber
data berasal dari subjek yang berbeda. Misal Kelompok Kelas A dan Kelompok kelas B, di
mana responden dalam kelas A dan kelas B adalah 2 kelompok yang subjeknya berbeda.
Bandingkan dengan nilai pretest dan posttest pada kelas A, di mana nilai pretest dan posttest
berasal dari subjek yang sama atau disebut dengan data berpasangan. Apabila menemui kasus
yang data berpasangan, maka uji beda yang tepat adalah uji paired t test.

3) One Way Anova (Analysis of variance)

Anova (analysis of varian) digunakan untuk menguji perbedaan mean (rata-rata) data lebih
dari dua kelompok. Misalnya kita ingin mengetahui apakah ada perbedaan rata-rata lama hari
dirawat antara pasien kelas VIP, I, II, dan kelas III

5) Regresi sederhana

Analisis regresi linear sederhana adalah hubungan secara linear antara satu variabel
independen (X) dengan variabel dependen (Y). Analisis ini untuk mengetahui arah hubungan
antara variabel independen dengan variabel dependen apakah posiutif atau negatif dan untuk
memprediksi nilai dari variabel dependen apabila nilai variabel independen mengalami
kenaikan atau penurunan. Data yang digunakan biasanya berskala interval atau rasio.

Analisis Banyak Variabel (Multivariat Analysis)

Analisis bivariate hanya akan menghasilkan hubungan antara dua variabel yang bersangkutan
(variabel independen dengan variabel dependen). Untuk mengetahui hubungan lebih dari satu
variabel independen terhadap satu variabel dependen, harus dilanjutkan lagi dengan
melakukan analisis multivariat. Analisis statistik multivariat merupakan metode statistik yang
memungkinkan kita melakukan penelitian terhadap lebih dari dua variable secara bersamaan.
Dengan menggunakan teknik analisis ini maka kita dapat menganalisis pengaruh beberapa
variable terhadap variabel – (variable) lainnya dalam waktu yang bersamaan.

Dalam analisis multivariate dilakukan berbagai langkah pembuatan model. Model terakhir
terjadi apabila semua variabel independendengan dependen sudah tidak mempunyai nilai
p.0,05.

15. Berikan contoh penulisan daftar pustaka menurut APA Style apabila referensi yang
di kutip dari sumber

a. Jurnal Online
Referensi pada tulisan (kutipan)
When quoting an author’s words exactly, indicate the page number:
Even some psychologists have expressed the fear that “psychology is in danger of losing its
status as an independent body of knowledge” (Peele, 1981, p. 807).
Referensi pada akhir tulisan (daftar pustaka)
Peele, S. (1981). Reductionism in the psychology of the eighties: Can biochemistry eliminate
addiction, mental illness, and pain? American Psychologist, 36, 807-818.
b. Buku online
Referensi pada akhir tulisan (daftar pustaka)
Wharton, E. (1996). The age of innocence. Charlottesville, VA: University of Virginia
Library. Retrieved March 6, 2001, from netLibrary database.
c. Buku (pengarang penerbit) bagian dari buku
Conley, D. 2002. The daily miracle: An Introduction to Journalism. Oxford University
Press. New York
d. Buku (tanpa pengarang)
Referensi pada tulisan (kutipan)
. . . the number of recent graduates from art schools in France has shown that this is a trend
worldwide (Art Students International, 1988).
Referensi pada akhir tulisan (daftar pustaka)
Art students international. (1988). Princeton, NJ: Educational Publications International.
e. Majalah online
Referensi pada akhir tulisan (daftar pustaka)
Counseling foreign students. (1982, April). Boston Globe, p. B14.
f. Disertasi/thesis online
Referensi pada akhir tulisan (daftar pustaka)
Caravaggio, Q. T. (1992). Trance and clay therapy. Unpublished master’s thesis, Lesley
University, Cambridge, MA.
g. Publikasi pemerintah online
American Psychological Association. (n.d.) APAStyle.org: Electronic references. Retrieved
August 31, 2001, from http://www.apa.org/journals/webref.html
h. Web professional
Referensi pada akhir tulisan (daftar pustaka)
Shackelford, W. (2000). The six stages of cultural competence. In Diversity central:
Learning. Retrieved April 16, 2000, from
http://www.diversityhotwire.com/learning/cultural_insights.html