Anda di halaman 1dari 17

teori kurikulum

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pengembangan kurikulum sebenarnya merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan
kualitas pendidikan di Indonesia. Ia sebagai instrument yang membantu praktisi pendidikan untuk
memenuhi kebutuhan peserta didik dan kebutuhan masyarakat. Pengembangan kurikulum
merupakan alat untuk membantu guru melakukan tugasnya mengajar dan memenuhi kebutuhan
masyarakat. Pengembangan kurikulum tidak pernah berhenti, ia merupakan proses yang
berkelanjutan dan terus menerus sejalan dengan perkembangan dan tuntutan jaman dan
perubahan yang terjadi didalam masyarakat.
Tidak dipungkiri dengan silih bergantinya kurikulum yang diterapkan dalam pendidikan di
Indonesia membuat anak menjadi bingung dan terbebani tanpa ada arah pengembangan yang
betul-betul diimplementasikan sesuai dengan perubahan yang diinginkan pada kurikulum
tersebut. Tidak bisa dipungkiri perubahan kurikulum selalu mengarah kepada usaha perbaikan
sistem yang ada.
Banyak wacana yang berkembang tentang urikulum 2013. Ada berbagai persepsi dan kritik
yang beredar dalam masyarakat. Perubahan kurikulum dari KBK tahun 2004, KTSP 2006, dan
sekarang kurikulum 2013 sebenarnya bertujuan untuk memperbaiki kualitas pendidikan di
Indonesia. Namun, semua memang selalu mengakibatkan pro dan kontra.
Dalam mengembangkan kurikulum 2013 juga terlebih dahulu kita harus mengetahui
bagaimana kerangka dasar dalam pembentukan kurikulum tersebut, maka dalam makalah ini
kami akan membahas mengenai “kerangka dasar kurikulum 2013”.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang sudah dipaparkan di atas, maka kami merumuskan beberapa
masalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan kerangka dasar?
2. Bagaimanakah landasan kurikulum 2013?
3. Apa saja karakteristik dari kurikulum 2013?
4. Bagaimanakah proses pembelajaran kurikulum 2013?
5. Apa saja prinsip dalam kurikulum 2013?
6. Bagaimanakah kerangka kerja kurikulum 2013?

C. Tujuan Penulisan
Dari rumusan masalah tersebut, dalam penulisan makalah ini kami memiliki beberapa tujuan
sebagai berikut:
1. Supaya dapat mengetahui pengertian dari kerangka dasar.
2. Supaya dapat mengetahui landasan kurikulum 2013.
3. Supaya dapat mengetahui karakteristik dari kurikulum 2013.
4. Supaya dapat mengetahui proses pembelajaran kurikulum 2013.
5. Supaya dapat mengetahui prinsip dalam kurikulum 2013.
6. Supaya dapat mengetahui kerangka kerja kurikulum 2013.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengerian Kerangka Dasar


Kerangka dasar adalah pedoman yang digunakan untuk mengembangkan dokumen
kurikulum, implementasi kurikulum dan evaluasi kurikulum. Kerangka dasar juga digunakan
sebagai pedoman untuk mengembangkan kurikulum tingkat nasional, daerah dan KTSP.
Kerangka dasar kurikulum ini digunakan sebagai:
1. Acuan dalam pengembangan Struktur Kurikulum tingkat nasional;
2. Acuan dalam pengembangan muatan lokal pada tingkat daerah; dan
3. Pedoman dalam Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

B. Landasan Kurikulum 2013


Kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan ketentuan yuridis yang mewajibkan adanya
pengembangan kurikulum baru, landasan filosofis, dan landasan empirik. Landasan yuridis
merupakan ketentuan hukum yang dijadikan dasar untuk pengembangan kurikulumdan yang
mengharuskan adanya pengembangan kurikulum baru. Landasan filosofis adalah landasan
mengarahkan kurikulum kepada manusia apa yang akan dihasilkan kurikulum. Landasan teoritis
memeberikan arahan berdasarkan pelaksanaan kurikulum yang sedang berlaku di lapangan.
1. Landasan Filosofis
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. (UU RI nomor 20 tahun
2003 tentang Sisitem Pendidikan Nasional). Untuk mengembangkan dan membentuk watak dan
peradaban bangsa yang bermartabat, pendidikan berfungsi mengembangkan segenap potensi
peserta didik “menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab” (UU RI nomor 21 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional).
Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional maka pengembangan kurikulum
haruslah berakar pada budaya bangsa, kehidupan bangsa masa kini dan kehidupan bangsa di masa
mendatang.
Pendidikan berakar pada budaya bangsa. Proses pendidikan adalah suatu proses
pengembangan potensi peserta didik sehingga mereka mampu menjadi pewaris dan pengembang
budaya bangsa. Melalui pendidikan berbagai nilai dan keunggulan budaya di masa lampau
diperkenalkan, dikaji dan dikembangkan menjadi budaya dirinya, masyarakat dan bangsa yang
sesuai dengan zaman dimana peserta didik tersebut hidup dan mengembangkan diri. Kemampuan
menjadi pewaris dan pengembang budaya tersebut akan dimiliki peserta didik apabila
pengetahuan, kemampuan intelektual, sikap dan kebiasaan, keterampilan sosial memberikan dasar
untuk secara aktif mengembangkan dirinya sebagai individu, anggota masyarakat, warganegara
dan anggota umat manusia.
Pendidikan juga harus memberikan dasar bagi keberlanjutan kehidupan bangsa dengan
segala aspek kehidupan yang mencerminkan karakter bangsa masa kini dan masa yang akan
datang. Oleh karena itu, konten pendidikan yang dikembangkan kurikulumi tidak berupa prestasi
besar bangsa di masa lalu semata tetapi juga hal-hal yang berkembang pada saat kini dan akan
berkelanjutkan ke masa mendatang. Berbagai perkembangan baru dalam ilmu, teknologi, budaya,
ekonomi, sosial, politik yang dihadapi masyarakat, bangsa dan umat manusia dikemas sebagai
konten pendidikan. Konten pendidikan dari kehidupan bangsa masa kini memberi landasan bagi
pendidikan untuk selalu terkait dengan kehidupan masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan,
kemampuan berpartisipasi dalam membangun kehidupan bangsa yang lebih baik, dan
memposisikan pendidikan sebagai suatu yang tidak terlepas dari lingkungan sosial, budaya dan
alam.
Peserta didik yang mengikuti pendidikan masa kini akan menggunakan apa yang
diperolehnya dari pendidikan ketika mereka telah menyelesaikan pendidikan 12 tahun dan
berpartisipasi penuh sebagai warganegara. Atas dasar pikiran itu maka konten pendidikan yang
dikembangkan dari warisan budaya dan kehidupan masa kini perlu diarahkan untuk memberi
kemampuan bagi peserta didik menggunakannya bagi kehidupan masa depan terutama masa
dimana dia telah menyelesaikan pendidikan formalnya. Dengan demikian sikap, keterampilan dan
pengetahuan yang menjadi konten pendidikan harus dapat digunakan untuk kehidupan paling tidak
satu sampai dua dekade dari sekarang. Artinya, konten pendidikan yang dirumuskan dalam Standar
Kompetensi Lulusan dan dikembangkan dalam kurikulum harus menjadi dasar bagi peserta didik
untuk dikembangkan dan disesuaikan dengan kehidupan mereka sebagai pribadi, anggota
masyarakat dan warganegara yang produktif serta bertanggung jawab di masa mendatang.
2. Landasan Yuridis
Secara konseptual, kurikulum adalah suatu respon pendidikan terhadap kebutuhan
masyarakat dan bangsa dalam membangun generasi muda bangsa. Secara pedagogis, kurikulum
adalah rancangan pendidikan yang memberi kesempatan untuk peserta didik mengembangkan
potensi dirinya dalam suatu suasana belajar yang menyenangkan dan sesuai dengan kemampuan
dirinya, untuk memiliki kualitas yang diinginkan masyarakat dan bangsanya. Secara yuridis,
kurikulum adalah suatu kebijakan publik yang didasarkan kepada dasar filosofis bangsa dan
keputusan yuridis di bidang pendidikan.
Landasan yuridis kurikulum adalah Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, UU nomor
20 tahun 2003 tentang Sisitem Pendidikan Nasional, Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005
tentang Standar Nasional Pendidikan, dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 23 tahun
2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 22
tahun 2006 tentang Standar Isi.
Lebih lanjut, pengembangan kurikulum 2013 diamanatkan oleh Rencana Pendidikan
Menengah Nasional (RJPMN). Dalam ketetapan pasal 3 RJPMN menentukan adanya
pengembangan pembelajaran yang bukan teaching to test yang mengandung makna bahwa ada
komponen dokunen kurikulum yang harus diubah yaitu berkenaan dengan standar penilaian.
Perubahan dalam salah satu komponen akan mengubah desain dokumen kurikulum dan perubahan
mengandung makna pengembangan kurikulum baru. Selanjutnya, pasal 5 RPJMN secara ekplisit
menetapkan adanya penataan kurikulum atau dengan perkataan lain adanya perubahan kurikulum.
Landasan yurudis pengembangan kurikulum 2013 lainnya adalah Intruksi Presiden Republik
Indonesia tahun 2010 tentang Pendidikan Karakter, Pembelajaran Aktif dan Pendidikan
Kewirausahaan.
3. Landasan Konseptual
Pengembangan kurikulum di sekolah dapat dipandang sebagai suatu model perencanaan
kurikulum mikro. Hal ini menggunakan landasan-landasan konseptual seperti halnya yang
digunakan dalam penyusunan kurikulum makro. Secara umum, konsep yang berhubungan dengan
pengembangan kurikulum dapat ditelusuri dari proses pengembangannya itu sendiri. Sekaitan
dengan hal ini kita berpedang pada suatu konsep, bahwa pada mulanya kurikulum merupakan ide
si perancangnya tentang bentuk penyelenggaraan pendidikan di sekolah (Stenhouse, 1976). Ide
yang ada dalam pikiran itu dikomunikasikan dengan cara menuangkannya dlam rencana tertulis,
untuk dijadikan pegangan dalam praktek pendidikan di sekolah. Itu sebabya, dalam praktik
pendidikan sering kali muncul hasil yang nyata pada diri siswa, yaitu pengalaman belajar yang
diperoleh, meskipun tidak tercantum dalam perencanaan secara tertulis. Hasil belajar ini disebut
dengan kurikulum tersenbunyi (Taba 1962, Taba 1972). Konsep umum tentang pengembangan
kurikulum ini dapat digambarkan dalam model sebagai berikut:

Ide Kurikulum Kurikulum tersembunyi


ideal

Rencana
Implementasi Gambar: Model rekayasa kurikulum

Pada gambar di atas terlihat, bahwa proses pengembangan kurikulum dimulai dari proses
memikirkan berbagai hal yang berkaitan dengan pelaksanaan pendidikan di sekolah (ide) yang ada
dalam pikiran si pengembang tersebut. Ide itu dapat didasarkan atas hasil pemikiran semata-mata,
dan atau dapat pula didasarkan atas hasil-hasil penelitian. Dalam konteks pengembangan
kurikulum mikro, di samping hasil pemikiran dan atau hasil penelitian, juga berpijak pada
kurikulum resmi yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Selanjutnya,
ide-ide itu dituangkan dalam rencana tertulis, atau kurikulum resmi. Dalam konteks kurikkulum
makro, kurikulum resmi ini adalah buku kurikulum yang akan dipakai oleh seluruh sekolah yang
ada di seluruh wilayah Nusantara. Dalam konteks kurikulum mikro, kurikulum resmi yang
dimaksudkan ini adalah kurikulum sekolah, dan atau kurikulum bidang studi yang direncanakan
akan dilaksanakan di sekolah tersebut. Berdasarkan kurikululm resmi itulah proses pendidkan
dilaksanakan (implementasi kurikulum). Proses pnedidikan di sekolah yang merupakan
implementasi kurikulum itulah yang disebut dengan kurikulum tak-resmi.
Keberadaan kurikulum ideal meliputi kurikulum yang masih merupakn ide perancangnya
dan dituangkan dalam rencana tertulis.` kita hanya dapat mengenali keberadaan kurikulum ideal
ini dari apa yang tertuang dalam rencana itu, namun pada hakikatnyakeinginan atau harapan yang
tersirat di balik rencana itu mungkin lebih dari apa yang dituangkan dalamrencana tertulis. Hal ini
membawa implikasi pentingnya pengembang kurikulum menuangkan konsep-konsepnya secara
jelas dan lugas. Di samping itu, dalam pelaksanaan kurikulum, sering kali ada hasil belajar yang
muncul pada diri siswa, yang tida tertuang dalam rencana tertulis. Hasil itu bisa bersifat positif,
bisa pula bersifat negatif. Hasil belajar semacam inilah yang disebut dengan kurikulum
tersenbunyi. Implikasi dari adanya konsep tentang kurikulumtersembunyi itu adalah, bahwa dalam
memikirkan rekayasa kurikulum, baik yang bersifat makro, maupun yang bersifat mikro,
perencana tau perekayasa kurikulum perlu mengantisipasi berbagai kemungkinan munculnya
kurikulum tersembunyi yang dapat memperkacil kemungkinan munculnya kerikulum tersembunyi
yang bersifat negatif (Taba, 1972).
Dalam konteks kurikulum mikro, proses pengembangan itu dapat digambarkan dalam bagan
sebagai berikut:
Kekuatan eksternal
yang harus diper-
hitungkan

Konsep ten-
tang pribadi
yang ingin di-
bentuk melalui
pendidikan

Tujuan Kurikulum Asas-asas kurikulum:


kurikulum dan desain masyarakat, Kemajuan
pengajaran Modus pengetahuan, siswa siswa
pengajaran
Proses evaluasi
Gambar: Bagan proses rekayasa kurikulum diadaptasi dari Saylor,
Alexander, lewis (1981)

Bagan di atas memberikan penjelasan kepada kita tentang proses pengembangan kurikulum.
Proses tersebut dimulai dari memikirkan tentang bentuk pribadi yang ingin dibentuk melalui
pendidikan. Pertanyaan yang dapat dijadikan panduan dalam memikirkan hal ini adalah “orang
yang memiliki ciri-ciri pribadi yang bagaimana yang ingin dibentuk melalui pelaksanaan
pendidikan?” Pertanyaan semacam ini adalah acuan filosofis untuk merumuskan tujuan, yang pada
level kurikulum makro merupakan tujuan pendidikan dan tujuan kurikulum, sedang pada level
mikro merupakan tujuan pengajaran. Tujuan yang dirumuskan dengan mengacu pada filosofi yang
dijadikan pegangan ini, selanjutnya dijadikan panduan dalam merumuskan bentuk-bentuk
kesempatan belajar disiapkan melalui kurikulum.
Dengan menyesuaikan pemikiran tersebut dengan kondisi dan tatanan sekolah yang
berkepentingan, selanjutnya dirumuskan tujuan-tujuan kurikulum dan tujuan-tujuan pengajaran.
Perumusan tujuan-tujuan itu memperhitungkan atau mempertimbangkan kekuatan-kekuatan
eksternal, yang meliputi persyaratan-persyaratan yang ditetapkan berdasarkan undang-undang dan
peraturan yang berlaku, hasil-hasil penelitian, dan pengetahuan profesional dalam disiplin ilmu
yang terkait. Di samping itu, tujuan-tujuan tersebut dirumuskan berlandaskan atas asas-asas
kebutuhan masyarakat, ilmu pengetahuan dan siswa.
Tujuan-tujuan yang dirumuskan itu menuntun kepada penentuan rancang-bangun atau
desain kurikulum, dan bentuk-bentuk pengajaran yang dianggap terbaik untuk dilaksanakan, serta
proses untuk mengevaluasi kurikulum itu. Baik rancang-bangun kurikulum, proses pengajaran,
maupun evaluasinya dapat digunakan untuk memperkirakan tentang kemajuan-kemajuan yang
diharapkan dari siswa yang mengikuti pendidikan di sekolah yang bersangkutan.
Perlu menjadi catatan bagi penyusun kurikulum, bahwa pada dasarnya bentuk kurikulum
apapun yang kita hasilkan, secara konseptual, mempunyai kelebihan dan kekurangan. Jadi, bentuk
kurikulum yang bagaimana yang ingindikembangkan adalah soal pilihan semata-mata, atau
semacam suatu hipotesis. Hipotesis ini akan diuji dalam praktek, yakni dalam implementasinya.
Apakah hasilnya dapat benar-benar menjawab tantangan atau memenuhi kebutuhan masyarakat,
akan dapat terlihat setelah kurikulum itu dilaksanakan. Dengan mempedulikan hal-hal yang
sepatutnya diperhitungkan dalam pengembangan kurikulum, diharapkan akan dihasilkan suatu
kurikulum mikro yang dipandang paling sesuai untuk dilaksanakan di sekolah yang
bersangkutan.
4. Landasan Teoritis
Kurikulum 2013 dikembangkan atas dasar teori “pendidikan berdasarkan standar”
(standard-based-education), dan teori kurikulum berbasis kompetensi.
Pendidikan berdasarkan standar adalah pendidikan yang menetapkan standar nasional
sebagai kualitas minimal warganegara untuk suatu jenjang pendidikan. Standar bukan kurikulum
dan kurikulum dikembangkan agar peserta didik mampu mencapai kualitas standar nasional atau
diatasnya. Standar kualitas nasional dinyatakan sebagai Standar Kompetensi Lulusan. Standar
Kompetensi Lulusan mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan. Standar Kompetensi
Lulusan dikembangkan menjadi Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan yaitu SKL
SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA, SMK/MAK.
Kompetensi adalah kemampuan seseorang untuk bersikap, menggunakan pengetahuan dan
keterampilan untuk melaksanakan suatu tugas di sekolah, masyarakat dan lingkungan dimana yang
bersangkutan berinteraksi. Kurikulum berbasisi kompetensi dirancang untuk memberikan
pengalaman belajar seluas-luasnya bagi peserta didik untuk mengembangkan sikap, keterampilan
dan pengetahuan yang diperlukan untuk membangun kemampuan yang dirumuskan dalam SKL.
Hasil dari pengalaman belajar tersebut adalah hasil belajar peserta didik yang menggambarkan
manusia dengan kualitas yang dinyatakan dalam SKL.
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan
pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran
untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (UU nomor 20 tahun 2003) untuk satu-satuan atau
jenjang pendidikan. Kurikulum berbasis kompetensi adalah kurikulum yang dirancang baik dalam
bentuk dokumen, proses dan penilaian didasarkan pada pencapaian tujuan, konten dan bahan
pelajaran serta penyelenggaraan pembelajaran yang didasarkan pada Standar Kompetensi Lulusan.
Kurikulum adalah jawaban dunia pendidikan terhadap kebutuhan masyarakat dalam
membangun kualitas generasi muda untuk kehidupan mereka di masa yang akan datang.
Kurikulum yang akan dikembangkan adalah kurikulum satuan pendidikan dan jenjang pendidikan
sebagai suatu rencana tertulis (dokumen), proses (implementasi) dan evalausi kukrikulum, bukan
deretan daftar mata pelajaran yang berdiri sendiri. Dalam dimensi sebagai rencana tertulis,
kurikulum harus mengembangkan kompetensi menjadi konten kurikulum yang berasal dari
prestasi bangsa di masa lalu, untuk kehidupan peserta didik dan bangsa masa kini, dan dasar bagi
pengembangan kehidupan di masa mendatang. Dalam dimensi rencana tertulis, konten kurikulum
tersebut dikemas dalam berbagai mata pelajaran sebagai unit organisasi konten terkecil. Dalam
setiap mata pelajaran terdapat konten spesifik yaitu pengetahuan dan konten berbagi (shared)
dengan mata pelajaran lain yaitu sikap dan keterampilan. Konten spesifik diajarkan secara
langsung dalam suatu mata pelajaran, konten berbagi dikembangkan melalui berbagai kegiatan
belajar dari setiap mata pelajaran. Konten spesifik berupa pengetahuan, konten berbagi adalah
sikap dan keterampilan.
Kurikulum dalam dimensi proses adalah realisasi ide dan rancangan kurikulum menjadi
suatu proses pembelajaran. Guru adalah tenaga kependidikan utama yang mengembangkan ide dan
rancangan tersebut menjadi proses pembelajan. Pemahaman guru tentang kurikulum akan
menentukan rancangan guru (RPP) dan diterjemahkan dalam bentuk kegiatan pembelajaran.
Peserta didk berhubungan langsung dengan apa yang dilakukan guru dalam kegiatan pembelajaran
(taught-curriculum) dan menjadi pengalaman langsung peserta didik (learned-curriculum). Apa
yang dialami peserta didik akan menjadi hasil belajar pada dirinya dan menjadi hasil kurikulum.
Oleh karena itu proses pembelajaran harus memberikan kesempatan yang luas kepada peserta didk
untuk mengembangkan potensi dirinya menjadi hasil belajar yang sama atau lebih tinggi dari yang
dinyatakan dalam Standar Kompetensi Lulusan.
Evalausi kurikulum adalah kegiatan yang dilakukan selama proses pengembangan dokumen,
proses implementasi, dan terhadap hasil kurikulum. Evaluasi kurikulum terhadap dokumen dan
proses dilakukan untuk memberikan masukkan bagi penyempurnaan dokumen kurikulum dan
proses pelaksanaan implementasi. Evaluasi terhadap hasil kurikulum untuk menentukan
ketercapaian tujuan kurikulum dalam mengembangkan kualitas generasi muda bangsa
sebagaimana yang dinyatakan dalam tujuan.
5. Landasan Empiris
Pada saat ini perekonomian Indonesia terus tumbuh di tengah baying-bayang resesi dunia.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 2005 sampai dengan 2008 berturut-turut 5,7%, 5,5%, 6,3%,
2008: 6,4%(www.presidenri.go.id/index.php/indikator). Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun
2012 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomiNegara-negara ASEAN
sebesar 6,5 – 6,9 % (Agus D.W. Martowardojo, dalam Rapat Paripurna DPR, 31/05/2012).
Momentum pertumbuhan ekonomi ini harus terus dijaga dan ditingkatkan. Generasi muda berjiwa
wirausaha yang tangguh, kreatif,ulet, jujur, dan mandiri, sangat diperlukan untuk memantapkan
pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan. Generasi seperti ini seharusnya tidak muncul
karena hasil seleksi alam, namun karena hasil gemblengan pada tiap jenjang satuan pendidikan
dengan kurikulum sebagai pengarahnya.
Sebagai negara bangsa yang besar dari segi geografis, suku bangsa, potensi ekonomi, dan
beragamnya kemajuan pembangunan dari satu daerah ke daerah lain, sekecil apapun ancaman
disintegrasi bangsa masih tetap ada. Maka, kurikulum harus mampu membentuk manusia
Indonesia yang mampu menyeimbangkan kebutuhan individu dan masyarakat untuk memajukan
jatidiri sebagai bagian dari bangsa Indonesia dan kebutuhan untuk berintegrasi sebagai satu entitas
bangsa Indonesia.
Dewasa ini, kecenderungan menyelesaikan persoalan dengan kekerasan dan kasus
pemaksaan kehendak sering muncul di Indonesia. Kecenderungan ini juga menimpa generasi
muda, misalnya pada kasus-kasus perkelahian massal. Walaupun belum ada kajian ilmiah bahwa
kekerasan tersebut berhulu dari kurikulum, namun beberapa ahli pendidikan dan tokoh masyarakat
menyatakan bahwa salah satu akar masalahnya adalah implementasi kurikulum yang terlalu
menekankan aspek kognitif dan keterkungkungan peserta didik di ruang belajarnya dengan
kegiatan yang kurang menantang peserta didik. Oleh karena itu, kurikulum perlu direorientasi dan
direorganisasi terhadap beban belajar dan kegiatan pembelajaran yang dapat menjawab kebutuhan
ini. Berbagai elemen masyarakat telah memberikan kritikan, komentar, dan saran berkaitan dengan
beban belajar siswa, khususnya siswa sekolah dasar. Beban belajar ini bahkan secara kasatmata
terwujud pada beratnya beban buku yang harus dibawa ke sekolah. Beban belajar ini salah satunya
berhulu dari banyaknya matapelajaran yang ada di tingkat sekolah dasar. Maka, kurikulum pada
tingkat sekolah dasar perlu diarahkan kepada peningkatan 3 (tiga) kemampuan dasar, yakni baca,
tulis, dan hitung, dan pembentukan karakter.
Berbagai kasus yang berkaitan dengan penyalahgunaan wewenang, manipulasi, termasuk
masih adanya kecurangan di dalam Ujian Nasional menunjukkan mendesaknya upaya
menumbuhkan budaya jujur dan antikorupsi melalui kegiatan pembelajaran di dalam satuan
pendidikan. Maka, kurikulum harus mampu memandu upaya karakterisasi nilai-nilai kejujuran
pada peserta didik. Pada saat ini, upaya pemenuhan kebutuhan manusia telah secara nyata
mempengaruhi secara negatif lingkungan alam. Pencemaran, semakin berkurangnya sumber air
bersih adanya potensi rawan pangan pada berbagai beahan dunia, dan pemanasan global
merupakan tantangan yang harus dihadapi generasi muda di masa kini dan di masa yang akan
datang. Kurikulum seharusnya juga diarahkan untuk membangun kesadaran dan kepedulian
generasi muda terhadap lingkungan alam dan menumbuhkan kemampuan untuk merumuskan
pemecahan masalah secara kreatif terhadap isu-isu lingkungan dan ketahanan pangan.
Dengan berbagai kemajuan yang telah dicapai, mutu pendidikan Indonesia harus terus
ditingkatkan. Hasil riset PISA (Program for International Student Assessment),studi yang
memfokuskan pada literasi bacaan, matematika, dan IPAmenunjukkan peringkat Indonesia baru
bisa menduduki 10 besar terbawah dari 65 negara. Hasil Riset TIMSS (Trends in International
Mathematics and Science Study) menunjukkan siswa Indonesia berada pada rangking amat rendah
dalam kemampuan (1) memahami informasi yang komplek, (2) teori, analisis dan pemecahan
masalah, (3) pemakaian alat, prosedur dan pemecahan masalah dan (4) melakukan investigasi.
Hasil-hasil ini menunjukkan perlu ada perubahan orientasi kurikulum, dengan tidak membebani
peserta didik dengan konten namun pada aspek kemampuan esensial yang diperlukan semua warga
negara untuk berperanserta dalam membangun negaranya pada abad 21.

C. Karakteristik Kurikulum 2013


Kurikulum 2013 adalah kurikulum berbasis kompetensi. Kurikulum berbasis kompetensi
adalah outcomes-based-curriculum dan oleh karena itu pengembangan kurikulum diarahkan pada
pencapaian kompetensi yang dirumuskan dari SKL. Demikian pula penialain hasil belajar dan hasil
kurikulum diukur dari pencapaian kompetensi. Keberhasilan kurikulum diartikan pencapaian
kompetensi yang dirancang dalam dokumen kurikulum oleh seluruh peserta didik.
Kompetensi untuk kurikulum 2013 dirancang sebagai berikut:
1. Isi atau konten kurikulum yaitu kompetensi dinyatakan dalam bentuk Kompetensi Inti (KI) kelas
dan dirinci lebih lanjut dalam Kompetensi Dasr (KD) mata pelajaran.
2. Kompetensi Inti (KI) merupakan gambaran secara kategorial mengenai kompetensi dalam aspek
sikap, pengetahuan dan keterampilan (kognitif dan psikomotor) yang harus dipelajari peserta didik
untuk suatu jenjang sekolah, kelas dan mata pelajaran. Kompetensi Inti ini adalah kualitas yang
harus dimiliki seorang peserta didik untuk setiap kelas melalui pembelajaran KD yang
dioeganisasikan dalam proses pembelajaran siswa aktif.
3. Kompetensi Dasar (KD) merupakan kompetensi yang dipelajari peserta didik untuk suatu bagi
SD/MI, dan untuk mata pelajaran di kelas tertentu untuk SMP/MTS, SMA/MA, SMK/MAK.
4. Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar dijenjang pendidikan dasar diutamakan pada ranah sikap
sedangkan pada jenjang menengah pada kemampuan intelektual (kemampuan kognitif tinggi).
5. Kompetensi Inti menjadi unsur organisatoris (organizing elements) Kompetensi Dasar yaitu
semua KD dan proses pembelajaran dikembangkan untuk mencapai kompetensi dalam
Kompetensi Inti.
6. Kompetensi Dasar yang dikembangkan didasarkan pada prinsip akumulatif, saling memperkuat
(reinforced) dan memperkaya (enriched) antar mata pelajaran dan jenjang pendidikan (organisasi
horizontal dan vertikal).
7. Silabus dikembangkan sebagai rrancangan belajar untuk satu tema (SD/MI) atau satu kelas dan
satu mata pelajaran (SMP/MTS, SMA/MA, SMK/MAK). Dalam silabus tercantum seluruh KD
untuk tema atau mata pelajaran di kelas tersebut.
8. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dikembangkan dari setiap KD yang untuk mata pelajaran dan
kelas tersebut.
D. Proses Pembelajaran
Proses pembelajaran kurikulum 2013 terdiri atas pembelajaran intra-kurikuler dan
pembelajaran ekstra-kurikuler.
1. Pembelajaran intra kurikuler didasarkan pada prinsip berikut:
a. Proses pembelajaran intra-kurikuler adalah proses pembelajaran yang berkenaan dengan mata
pelajaran dalam struktur kurikulum dan dilakukan di kelas, sekolah dan masyarakat.
b. Proses pembelajaran di SD/MI berdasarkan tema sedangkan di SMP/MTS, SMA/MA, dan
SMK/MAK berdasarkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dikembangkan guru.
c. Proses pembelajaran didasarkan atas prinsip pembelajaran siswa aktif untuk menguasai
Kompetensi Dasar dan Kompetensi Inti pada tingkat yang menuaskan (excepted).
d. Proses pembelajaran dikembangkan atas dasar karakteristik konten kompetensi yaitu pengetahuan
yang merupakan konten yang bersifat masterydan diajarkan secara langsung (direct teaching),
keterampilan kognitif dan psikomotor adalah konten yang bersifat developmental yang dapat
dilatih (trainable) dan diajarkan secara langsung (direct teaching), sedangkan sikap adalah konten
developmental dan dikembangkan melalui proses pendidikan yang tidak langsung (indirect
teaching).
e. Pembelajaran kompetensi untuk konten yang bersifat developmentaldilaksanakan
berkesinambungan antara satu pertemuan dengan pertemuan lainnya, dan saling memperkuat
antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya.
f. Proses pembelajaran tidak langsung (indirect) terjadi pada setiap kegiatan belajar yanng terjadi di
kelas, sekolah, rumah dan masyarakat. Proses pembelajaran tidak langsung bukan kurikulum
tersembunyi (hidden curriculum) karena sikap yang dikembangkan dalam proses pembelajaran
tidak langsung harus tercantum dalam silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang
dibuat guru.
g. Proses pembelajaran dikembangkan atas prinsip pembelajaran siswa aktif melalui kegiatan
mengamati (melihat, membaca, mendengar, menyimak), menanya (lisan, tulisan), menganalisis
(menghubungkan, menentukan keterkaitan, membangun cerita/konsep), mengkomunikasikan
(lisan, tulisan, gambar, grafik, tabel, chart dan lain-lain).
h. Pembelajaran remedial dilaksanakan untuk membantu peserta didik menguasai kompetensi yang
masih kurang. Pembelajaran remedial dirancang dan dilaksanakan berdasarkan kelemahan yang
ditemukan berdasarkan analisis hasil tes, ulangan dan tugas setiap peserta didik. Pembelajaran
remedial dirancang untuk individu, kelompok atau kelas sesuai dangan hasil analisis jawaban
peserta didik.
i. Penilaian hasi belajar mencakup seluruh aspek kompetensi, bersifat formatif dan hasilnya segera
diikuti dengan pembelajaran remedial untuk memastiksn penguasaan kompetensi pada tingkat
memuaskan.
2. Pembelajaran ekstra-kulikuler
Pembelajaran ekstra-kurikuler adalah kegiatan yang dilakukan untuk aktivitas yang dirancang
sebagai kegiatan di luar kegiatan pembelajaran terjadwal secara rutin setiap minggu. Kegiatan
ekstra-kurikuler terdiri atas kegiatan wajib dan pilihan. Misalkan, pramuka adalah kegiatan ekstra-
kurikuler wajib.
Kegiatan ekstra-kurikuler adalah bagian yang tak terpisahkan dalam kurikulum. Kegiatan ekstra-
kurikuler berfungsi untuk:
a. Mengembangkan minat peserta didik terhadap kegiatan tertentu yang tidak dapat dilaksanakan
melalui pembelajaran kelas biasa,
b. Mengembangkan kemampuan yang terutama berfokus pada kepemimpinan, hubungan sosial dan
kemanusiaan, serta berbagai keterampilan hidup.
Kegiatan ekstra-kurikuler dilakukan di lingkungan:
a. Sekolah
b. Masyarakat
c. Alam
Kegiatan ekstra-kurikuler wajib dinilai yang hasilnya digunakan sebagai unsur pendudung
kegiatan intra-kurikuler.

E. Prinsip Pengembangan Kurikulum 2013


Pengembangan kurikulum didasarkan pada prinsip-prinsip berikut:
1. Kurikulum bukan hanya merupakan sekumpulan daftar mata pelajaran karena mata pelajaran
hanya merupakan sumber meteri pembelajaran untuk mencapai kompetensi. Atas dasar prinsip
tersebut maka kurikulum sebagai rencana adalah rancangan untuk konten pendidikan yang harus
dimiliki oleh seluruh peserta didik setelah menyelesaikan pendidikannya di satu satuan atau
jenjang pendidikan, kurikulum sebagai proses adalah totalitas pengalaman belajar peserta didik di
satu satuan atau jenjang pendidikan untuk menguasai konten pendidikan yang dirancang dalam
rencana, dan hasil belajar adalah perilaku peserta didik secara keseluruhan dalam menerapkan
perolehannya di masyarakat.
2. Kurikulum di dasarkan pada Standar Kompetensi Lulusan yang ditetapkan untuk satu satuan
pendidikan, jenjang pendidikan, dan program pendidikan. Sesuai dengan kebijakan pemerintah
merngenai wajib belajar dua belas tahun maka Standar Kompetensi Lulusan yang menjadi dasar
pengembangan kurikulum adalah kemampuan yang harus dimiliki peserta didik setelah mengikuti
proses pendidikan selama dua belas tahun. Selain itusesuai dengan fungsi dan tujuan jenjang
pendidikan dasar menengah serta fungsi dan tujuan masing-masing satuan pendidikan pada setiap
jenjang pendidikan maka pengembangna kurikulum didasarkan pula atas Standar Kompetensi
Lulusan pendidikan dasar dan pendidikan menengah serta standar kompetensi satuan pendidikan.
3. Kurikulum didasarkan pada model kurikulum berbasis kompetensi. Model kurikulum berbasis
kompetensi ditandai oleh pengembangan kompetensi berupa sikap, pengetahuan, keterampilan
berfikir, keterampilan psikomotorik yang di kemas dalam berbagai mata pelajaran. Kopetensi yang
termasuk pengetahuan dikemas secara khusus secara mata perlajaran. Kompetensi yang termasuk
sikap dan keterampilan dikemas dalam setiap mata pelajaran dan bersifat lintas mata pelajaran,
diorganisasikan dengan memperhatikan prinsip penguatan (organisasi horizontal) dan
keberlanjutan (organisasi vertikal) sehingga memenuhi prinsip akumulasi dalam pembelajaran.
4. Kurikulum didasarkan atas prinsip bahwa setiap sikap, keterampilan dan pengetahuan yang
dirumuskan dalam kurikulum berbentuk kompetensi dasar dan dapat dipelajari dan dikuasai setiap
peserta didik (mastery learning) sesuai dengan kaedah kurikulum berbasis kompetensi.
5. Kurikulum di kembangkan dengan memberikan kesempatan pada peserta didik untuk
mengembangkan perbedaan dan kemampuan dan minat. Atas dasar prinsip perbedaan kemampuan
kurikulum kepada peserta didik untuk memiliki tingkat penguasaan di atas standar yang telah
ditentukan (dalam sikap, keterampilan dan pengetahuan), beragam program sesuai dengan minat
peserta didik, dan beragam pengalaman belajar yang sesuai dengan kemampuan awal dan minat
peserta didik.
6. Kurikulum berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan
lingkungannya. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik berada pada
posisi sentral dan aktif dalam belajar.
7. Kurikulum harus tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, budaya, teknologi dan seni.
Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, budaya, teknologi dan
seni berkembang secara dinamis. Oleh karena itu konten kurikulum harus selalu mengikuti
perkembangan ilmu pengetahuan, budaya, teknologi dan seni; membangun rasa ingin tahu dan
kemampuan bagi peserta didik untuk mengikuti, memanfaatkan secara tepat hasil-hasil ilmu
pengetahuan, teknologi, dan seni.
8. Kurikulum harus relevan dengan kebutuhan kehidupan. Pendidikan tidak boleh memisahkan
peserta didik dari lingkungannya dan pengembangan kurikulum didasarkan kepada prinsip
relevansi pendidikan dengan kebutuhan dan lingkungan hidup. Artinya kurikulum memberikan
kesempatan kepada peserta didik untuk mempelajari permasalahan di lingkungan masyarakatnya
sebagai konten kurikulum dan kesempatan untuk mengaplikasikan yang dipelajari dikelas dalam
kehidupan di masyarakat.
9. Kurikulum harus diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan dan pemberdayaan
peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Pemberdayaan peserta didik untuk belajar
sepanjang hayat dirumuskan dalam sikap, keterampilan dan pengetahuan dasar yang dapat
digunakan untuk mengembangkan budaya belajar.
10. Kurikulum didasarkan kepada kepentingan nasional dan kepentingan daerah. Kurikulum
dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk
membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan nasional
dikembangkan melalui penentuan struktur kurikulum, SK/KD dan silabus. Kepentingan daerah
untuk membangun manusia yang tidak tercabut dari akar budayanya dan mampu berkontribusi
langsung kepada masyarakat disekitarnya. Kedua kepentingan ini saling mengisi dan
memberdayakan keragaman dan kebersatuan yang dinyatakan dalam Bhineka Tunggal Ika untuk
membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia.
11. Penilaian hasil belajar ditujukan untuk mengetahui dan memperbaiki pencapaian kompetensi.
Instrumen penilaian hasil belajar adalah alat untuk mengetahui kekurangan yang dimiliki setiap
peserta didik atau sekelompok peserta didik. Kekurangan tersebut karus segera diikuti dengan
proses memperbaiki kekurangan dalam aspek hasil belajar yang dimiliki seorang atau sekelompok
peserta didik.

F. Kerangka Kerja Kurikulum


Proses pengembangan kurikulum digambarkan dalam diagram kerangka kerja berikut :

Kerangka Kerja Penyusunan Kurikulum 2013

KERANGKA DASAR KURIKULUM


(Filosfis, Yuridis, Konseptual)

Oleh Satuan
Pendidikan/Guru

1. Pengembangan kurikulum 2013 diawali dengan analisis kebutuhan masyarakat indonesia. Analisis
kebutuhan tersebut merupakan analisis kesenjangan mengenai kemampuan yang perlu dimiliki
warga negara baik kehidupan berbangsa dan bernegara pada dekade ketiga dan keempat abad ke-
21. Adanya tantangan seperti keterikatan Indonesia dalam perjanjian internasional seperti APEC,
WTO, ASEAN Community, CAFTA. Hasil dari analisis ini menunjukkan bahwa penguasaan soft
skills perlu mendapatkan prioritas dalam pengembangan kemampuan warga negara untuk
kehidupan masa depan.
2. Analisis tujuan Pendidikan Nasional sebagai arah pengembangan kurikulum. Setiap upaya
pengembangan kurikulum haruslah didesain untuk pencapaian tujuan pendidikan nasional.
Kurikulum sebagai jiwa pendidikan (the heart of education) harus selalu dirancang untuk mencapai
kualitas peserta didik dan bangsa yang dirumuskan dalam tujuan pendidikan. Kajian dari tujuan
pendidikan nasional memberi arah yang juga mengacu kepada pengembangan soft skills yang
berimbang dengan penguasaan hard skills.
3. Analisis kesiapan peserta didik dilakukan terutama dari kajian psikologi perkembangan, tahap-
tahap perkembangan kemampuan intelektual peserta didik serta keterkaitan tingkat kemampuan
intelektual peserta didik dengan jenjang kemampuan kompetensi yang perlu mereka kuasai.
Analisis ini diperlukan agar kompetensi yang dikembangkan dalam kurikulum 2013 bersesuaian
untuk menerapkan prinsip belajar. Prinsip belajar mengatakan bahwa proses pembelajaran dimulai
dari kemampuan apa yang sudah dimiliki untuk mencapai kemampuan diatasnya dapat diterapkan
dalam pengembangan kurikulum.
4. Berdasarkan analisis tersebut maka ditetapkan bahwa perlu pengembangan Standar Kompetensi
Lulusan baru yang menggantikan Standar Kompetensi Lulusan yang sudah ada. Standar
Kompetensi Lulusan Baru diarahkan untuk lebih memberikan keseimbangan antara aspek
sikapdengan pengetahuan dan keterampilan. Walaupun Standar Kompetensi Lulusan bukan
kurikulum tetapi berdasarkan penderkatan pendidikan yang berstandar standar sebagaimana yang
dinyatakan dalam Undang-undang nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
maka pengembangan Standar Kompetensi Lulusan merupakan sesuatu yang mutlak dilakukan.
Sesuai dengan pendekatan berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan.
5. Analisis berikutnya adalah kajian terhadap desain kurikulum 2006 yang menjadi dasar dari KTSP
dan Peraturan Mentri Pendidikan Nasional nomor 22 tahun 2005 tentang Standar Isi. Dalam
Standar Isi terdapat kerangka dasar kurikulum dan struktur kurikulum. Analisis terhadap dokumen
kurikulum tersebut menunjukkan bahwa desain kurikulum dikembangkan atas dasar pengertian
bahwa kurikulum adalah daftar sejumlah mata pelajaran. Oleh karena itu satu mata pelajaran
berdiri sendiri dan tidak berinteraksi dengan mata pelajaran lainnya. Melalui pengembangan
kurikulum yang demikian maka ada masalah yang cukup prinsipiil yaitu konten kurikulum yang
dikategorikan sebagai konten berkembang (developmental content)tidak mendapatkan
kesempatan untuk dikembangkan secara baik. Konten kurikulum berkembang seperti nilai, sikap
dan keterampilan (intelektual dan psikomotorik)memerlukan desain kurikulum yang
menempatkan satu mata pelajaran dalam jaringan keterkaitan horizontal dan vertikal dengan mata
pelajaran lain. Dari hasil analisis tersebut maka dikembangkan desain baru yang memberikan
jaminan keutuhan kurikulum melalui keterkaitan vertikal dan horizontal konten.
6. Berdasarkan rumusan Standar Kompetensi Lulusan yang baru maka dikembangkanlah kerangka
dasar Kurikulum yang antara lain mencakup Kerangka Filosofis, yuridis, dan konseptual.
Landasan filosofis yang dikembangkan adalah bersifat eklektik yang mampu memberikan dasar
bagi pengembangan individu peserta didik secara utuh yaitu baik dari aspek intelektual, moral,
sosial, akademik, dan kemampuan individu peserta didik, sebagai anggota masyarakat dan bangsa
yang produktif, dan memiliki kemampuanberkontribusi dalam meningkatkan kehidupan pribadi,
masyarakat, bangsa, dan ummat manusia. Kerangka yuridis kurikulum adalah berbagai ketetapan
hukum yang mendasari setiap upaya pendidikan di indonesia. Kerangka konseptual berkenaan
dengan model kurikulum berbasis kompetensi yang dinyatakan dalam ketetapan pada Undang-
undang Sisdiknas. Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum ditetapkan antara lain termasuk
penyederhanaan konten kurikulum, keseimbangan kepentingan nasional dan daerah, posisi peserta
didik sebagai subjek dalam belajar, pembelajaran aktif yang didasarkan pada model pembelajaran
sains, dan penetapan kompetensi Inti sebagai unsur pengikat (organizing element) bagi KD mata
pelajaran.
7. Kegiatan pengembangan berikutnya adalah penetapan struktur kurikulum. Struktur kurikulum
menggambarkan kerangka kurikulum terdiri atas sejumlah mata pelajaran, pengelompokanya,
posisi mata pelajaran, beban belajar mata pelajaran perminggu dan jumlah beban belajar
keseluruhan perminggu. Berdasarkan perinsip penyederhanaan kurikulum maka jumlah mata
pelajaran dikurangi tetapi jam pelajaran baik untuk setiap mata pelajaran maupun untuk
keseluruhan di tambah. Penambahan jam belajar adalah untuk memberikan waktu yang cukup bagi
peserta didik mengembangkan kopetensi keterampilan dan sikap melalaui proses pembelajaran
yang berorientasi pada sains.
8. Berdasarkan struktur kurikilum yang telah di tetapakan, selanjutnya dirumuskan kopetensi inti
setiap kelas yang menjadi pengikat dari berbagai kopetensi dasar. Adanya kopetensi inti lebih
menjamin terjadinya integrasi kompetensi dasar antara mata pelajaran dan antar kelas. Proses
pengembangan kompetensi dasar melibatakan pengembangan kurikulum yang terdiri dari guru,
dosen dan para pakar pendidikan.
9. Berdasarkan kompetensi dasar yang telah direviu dan di nyatakan memenuhi persyaratan yang
telah di tetapkan maka di kembangkan silabus. Pengembangan silabus dimaksudkan agar ada
patokan minimal mengenai kualitas. Hasil belajar untuk seluruh indonesia. Dalam silabus di
tetapkan sebagai patokan minimal adalah indikator yang telah di kembangkan dari Kompetensi
Dasar dan kemudian di ramu dalam Materi Pokok, proses pembelajaran yaang dikembangkan dari
kegiatan observasi, menanya, mengasosiasi, dan mengomunikasi. Keempat kemampuan ini
dikembangkan selama dua belas tahun sehingga kreativitas,rasa ingin tahu, kemampuan berfikir
kritis dan kemampuan belajar peserta didik dapat menjadi kebiasaan-kebiasaan yang memberikan
kebiasaan belajar sepanjang hayat. Silabus tidak membatasi kreativitas dan imajinasi guru dalam
BAB III
PENUTUP

Dari penulisan di atas, maka kami menyimpulkan beberapa point sebagai berikut:
 Kerangka dasar adalah pedoman yang digunakan untuk mengembangkan dokumen kurikulum,
implementasi kurikulum dan evaluasi kurikulum. Kerangka dasar juga digunakan sebagai
pedoman untuk mengembangkan kurikulum tingkat nasional, daerah dan KTSP.
 Kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan landasan-landasan. Landasan tersebut antara lain:
landasan filosofis, yuridis, konseptual dan empiris.
 Kurikulum 2013 adalah kurikulum berbasis kompetensi. Kurikulum berbasis kompetensi
adalah outcomes-based-curriculum dan oleh karena itu pengembangan kurikulum diarahkan pada
pencapaian kompetensi yang dirumuskan dari SKL.
 Proses pembelajaran kurikulum 2013 terdiri atas pembelajaran intra-kurikuler, yaitu proses
pembelajaran yang berkenaan dengan mata pelajaran dalam struktur kurikulum dan dilakukan di
kelas, sekolah dan masyarakat. Dan pembelajaran ekstra-kurikuler, yaitu kegiatan yang dilakukan
untuk aktivitas yang dirancang sebagai kegiatan di luar kegiatan pembelajaran terjadwal secara
rutin setiap minggu.
 Kurikulum 2013 dikembangkan dengan beberapa prinsip yang sudah ditulis di atas dengan jumlah
prinsip 11 point.
 Kerangka kurikulum 2013 disusun berdasarkan analisis kebutuhan masyarakat indonesia, Analisis
tujuan Pendidikan Nasional, Analisis kesiapan peserta didik, pengembangan Standar Kompetensi
Lulusan baru, kajian terhadap desain kurikulum 2006 yang menjadi dasar dari KTSP dan Peraturan
Mentri Pendidikan Nasional nomor 22 tahun 2005 tentang Standar Isi, dikembangkanlah kerangka
dasar Kurikulum yang antara lain mencakup Kerangka Filosofis, yuridis, dan konseptual,
penetapan struktur kurikulum, dirumuskan kopetensi inti setiap kelas yang menjadi pengikat dari
berbagai kopetensi dasar, dan mengembangkan silabus.