Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

ANALISIS HUKUM KELUARGA DALAM SISTEM


HUKUM INDONESIA
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Hukum Perdata
Dosen Pengampu : Prof. DR. H.A. Muh. Arfah Pattenreng, SH.MH

DISUSUN OLEH

Adolfus Moa Moni 4517060006


Andi Iman Teguh Indraswara 4517060048
A.M. Fajrin Adhyaksa 4517060025
Muh. Zulkarnain 4517060
Muh. Reizaldy Eka Putra 4517060037
Muh. Firmansyah MR 4517060
Ian Alfian Ishaq 4517060063
Bulu Aro 4517060
Muh. Reskiawan Bakri 4517060
Muh. Ilham Awaluddin 4517060084
Firman Aswari 4517060086
Patrick Eka Sanjaya 4517060015
Fadil Rahmat Zakaria 4517060127

UNIVERSITAS BOSOWA MAKASSAR


FAKULTAS HUKUM
2018

1
KATA PENGANTAR

Rasa syukur yang dalam kami sampaikan kehadiran Tuhan Yang Maha Pemurah, Karena
berkat Kemurahan-Nya makalah ini dapat kami selesaikan sesuai yang diharapkan.Dalam
makalah ini kami membahas mengenai “Analisis Hukum Keluarga dalam Sistem Hukum
Indonesia”.

Makalah ini dibuat agar pembaca dapat mengetahui tentang Hukum Keluarga. Dalam
makalah ini penulis ingin mengajak semua orang memahami apa arti hukum keluarga yang
sebenarnya dan ruang lingkup hukum keluarga.

Penulis telah berusaha berusaha untuk dapat menyusun makalah ini dengan baik, Namun
penulispun menyadari bahwa kami memiliki akan adanya keterbatasan bagi kami sebagai
penyusun. Oleh karena itu jika didapati adanya kesalahan-kesalahan baik dari segi teknik
penulisan, maupun dari isi, kami memohon maaf dan kritik.

Serta saran dari dosen bahkan semua pembaca sangat diharapkan oleh kami selaku
penyusun untuk dapat menyempurnakan makalah ini, terlebih juga dalam pengetahuan bersama.

Makassar, 24 Maret 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................................................. i


KATA PENGANTAR ............................................................................................................ ii
DAFTAR ISI........................................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................................... 1


1.1 Latar Belakang .................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................... 1
1.3 Tujuan ................................................................................................................. 2
1.4 Manfaat Penulisan ............................................................................................... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................................... 3


2.1 Pengertian Hukum ............................................................................................... 3
2.2 Pengertian Keluarga ............................................................................................ 3
2.3 Pengertian Keturunan .......................................................................................... 4
2.4 Pengertian Perkawinan ....................................................................................... 5
2.5 Pengertian Perwalian ........................................................................................... 5
2.6 Pengertian Pengampuan ...................................................................................... 6

BAB III PEMBAHASAN ...................................................................................................... 7


3.1 Pengertian Hukum Keluarga .............................................................................. 7
3.2 Pencabutan Kekuasaan Orangtua ....................................................................... 8

BAB IV PENUTUP ................................................................................................................ 11


4.2 Kesimpulan ......................................................................................................... 11
4.3 Saran .................................................................................................................... 11

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 12

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Terbentuknya suatu keluarga itu karena adanya perkawinan. Perkawinan


adalah suatu ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai
suami istri dengan tujuan membentuk sebuah keluarga (rumah tangga) yang
bahagia. Sehingga keluarga dalam arti sempit artinya yaitu sepasang suami istri
dan anak-anak yang dilahirkan dari perkawinan itu, tetapi tidak mempunyai anak
juga bisa dikatakan bahwa suamii istri merupakan suatu keluarga.

Selain itu definisi hukum keluarga secara garis besar adalah hukum yang
bersumber pada pertalian kekeluargaan. Pertalian kekeluargaan ini dapat terjadi
karena pertalian darah, ataupun terjadi karena adanya sebuah perkawinan. Hukum
keluarga merupakan aturan-aturan atau peraturan hukum yang timbul dan
mengatur pergaulan hidup orang atau perorangan dalam keluarga.

Di dalam hukum keluarga mencakup hubungan hukum antar orang


(perorang) dalam keluarga. Dalam hukum keluarga antara orang (perorang)
mengatur hak dan kewajibannya di dalam hukum keluarga mulai dari orang itu
dilahirkan sampai meninggal dunia. Di dalam hukum keluarga pun mengatur
hubungan antara orang tua dan anak-anaknya, hubungan mencakup harta
kekayaan dan lainnya.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa Yang dimaksud Dengan Hukum Keluarga?
2. Kapankah Kekuasaan Orang Tua Itu Di Cabut?

1
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian hukum keluarga.
2. Untuk mengetahui kapan kekuasaan orangtua dicabut.

1.4 Manfaat Penulisan


1. Memberikan informasi dan pengetahuan tentang pengertian hukum
keluarga.
2. Memberikan informasi dan pengetahuan tentang kapan kekuasaan
orangtua dicabut.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Hukum


Hukum adalah peraturan yang berupa norma dan sanksi yang dibuat
dengan tujuan untuk mengatur tingkah laku manusia, menjaga ketertiban,
keadilan, mencegah terjadinya kekacauan. Hukum memiliki tugas untuk
menjamin bahwa adanya kepastian hukum dalam masyarakat. Oleh sebab itu
setiap masyarat berhak untuk memperoleh pembelaan didepan hukum. Hukum
dapat diartikan sebagai sebuah peraturan atau ketetapan/ ketentuan yang tertulis
ataupun yang tidak tertulis untuk mengatur kehidupan masyarakat dan
menyediakan sanksi untuk orang yang melanggar hukum.

2.2 Pengertian Keluarga


Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang tersusun atas kepala
keluarga (berperan sebagai suami dan ayah) dan beberapa orang yang terkumpul
dan tinggal bersama pada suatau tempat di bawah satu atap dalam kondisi yang
saling membutuhkan / ketergantungan.

Dalam kehidupan manusia, keluarga memili beberapa fungsi dasar sebagai


berikut :

 Fungsi pendidikan moral dan juga akhlak anak;


 Fungsi sosialisasi kehidupan untuk anak;
 Fungsi perlindungan untuk setiap anggota keluarga;
 Fungsi perasaan dan pemberi kasih sayang antar sesama anggota keluarga;
 Fungsi pendidikan dan juga penanaman ilmu dan praktik agama;
 Fungsi penyedia kebutuhan ekonomi untuk anggota keluarga yang belum
dapat memenuhi kebutuhannya sendiri;
 Fungsi biologis sebagai sebuah bagian untuk memperbanyak keturunan /
generasi penerus;

3
 Fungsi kasih sayang, rasa aman, dan perhatian antar sesama anggota
keluarga;
 Fungsi rekreatif untuk setiap anggota keluarga dari berbagai macam
aktivitas keseharian.

2.3 Pengertian Keturunan


Menurut definisi keturunan ialah hubungan darah antara anak dengan ayah
ibunya. Dalam arti yang luas, keturunan adalah hubungan darah antara seorang
anak dengan ayah ibu dan nenek moyangnya. Sementara itu Undang-Undang ada
yang menganggap sah hubungan tersebut namun terdapat pula Undang-Undang
yang menganggapnya tidak sah. Anak-anak yang tumbuh atau dilahirkan
sepanjang perkawinan ayah ibunya akan disebut dengan anak-anak sah (wettige
atau echie kinderen), sedangkan anak-anak yang dilahirkan dari ayah ibu yang
tidak terikat dalam suatu perkawinan disebut dengan anak-anak tidak sah atau
anak-anak luar kawin atau anak-anak alami (onwettige, onechte, naturlijke
kinderen).
Dalam keturunan anak-anak terbagi dalam beberapa bagian yaitu;
a) Anak Sah, dan
b) Anak tidak sah atau anak luar kawin atau anak alami.
Anak sah (wettige kinderen) ialah anak yang dianggap lahir dari
perkawinan yang sah antara ayah dan ibunya. Kepastian, seorang anak sungguh-
sungguh anak ayahnya tentunya sukar didapat. Pasal 250 dalam BW menentukan
bahwa anak sah adalah anak yang dilahirkan atau tumbuh sepanjang perkawinan,
sehingga memperoleh suami ibunya sebagai ayahnya. Dalam hal ini berarti, anak
tersebut adalah anak sah dari ibu dan suami ibunya, sehingga dapat ditarik
kesimpulan bahwa untuk dapat disebut anak sah harus memenuhi yaitu;
Dilahirkan, dan Tumbuh sepanjang perkawinan.
Bilamana kita membandingkan kita membandingkan antara pasal 250 BW
dengan pasal 251 BW maka dapat disimpulkan bahwa indonesia lebih
mengutamakan saat anak itu ditumbuhkan. Menurut ketentuan pasal 251 BW
keabsahan seorang anak yang dilahirkan sebelum hari yang ke 180 setelah

4
perkawinan dilangsungkan, maka sebagai suami, ia boleh menyangkal keabsahan
anak tersebut. Dari ketentuan tersebut dapat disimpulkan bahwa masa kehamilan
(zwangerschapsperiode) yang dianggap paling pendek, yaitu 180 hari sedangkan
pasal 225 ayat 1 BW menyatakan bahwa anak yang dilahirkan 300 hari setelah
perkawinan dibubarkan, adalah tidak sah.
2.4 Pengertian Perkawinan
Perkawinan adalah ikatan sosial atau ikatan perjanjian hukum antar pribadi
yang membentuk hubungan kekerabatan dan yang merupakan suatu pranata dalam
budaya setempat yang meresmikan hubungan antar pribadi yang biasanya intim
dan seksual. Perkawinan umumnya dimulai dan diresmikan dengan upacara
pernikahan. Umumnya perkawinan dijalani dengan maksud untuk membentuk
keluarga.
Di dalam pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 menyebutkan
bahwa perkawinan adalah ikatan lahir batin antara pria dan wanita dengan tujuan
membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha
Esa.Adapun Perkawinan menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 bukan
hanya ikatan lahiriah saja, tapi juga ada ikatan batiniah, dimana ikatan ini
didasarkan pada kepercayaan calon suami isteri. Menurut Pasal 2 Undang-Undang
Nomor 1 Tahun 1974, perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum
masing-masing agama dan kepercayaannya itu
.
2.5 Pengertian Perwalian
Perwalian (Voogdij) adalah pengawasan terhadap anak yang dibawah
umur, yang tidak berada dibawah kekuasaan orang tua serta pengurusan benda
atau kekayaan anak tersebut di atur oleh Undang-Undang. Dengan demikian,
berada dibawah perwalian. Anak yang berada dibawah perwalian, adalah:
a) Anak sah yang kedua orang tuanya yang telah dicabut kekuasaannya sebagai
orang tua;
b) Anak sah yang telah kedua orang tuanya cerai
c) Anak yang lahir diluar perkawinan (Natuurlijk kind).

5
2.6 Pengertian Pengampuan
Istilah pengampuan berasal dari bahasa Belanda yaitu Curatele, yang
dalam bahasa Inggris disebut Custody atau dalam bahasa Prancis disebut
Interdiction .Pengampuan adalah orang yang sudah dewasa, yang menderita sakit
ingatan menurut undang-undang harus ditaruh dibawah pengampuan atau
curatele. Selanjutnya diterangkan, bahwa seorang dewasa dapat ditaruh ibawah
curatele dengan alasan bahwa ia mengobralkan kekayaannya.

6
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Pengertian Hukum Keluarga


Istilah hukum keluarga berasal dari terjemahan kata familierecht (belanda)
atau law of familie (inggris) Istilah keluarga dalam arti sempit adalah orang seisi
rumah, anak istri, sedangkan dalam arti luas keluarga berarti sanak saudara atau
anggota kerabat dekat. Ali affandi mengatakan bahwa hukum keluarga diartikan
sebagai “Keseluruhan ketentuan yang mengatur hubungan hukum yang
bersangkutan dengan kekeluargaan sedarah dan kekeluargaan karena perkawinan
(perkawinan, kekuasaan orang tua, perwalian, pengampuan, keadaan tak hadir
Adapun pendapat-pendapat lain mengenai hukum keluarga, yaitu:
a. Van Apeldoorn
Hukum keluarga adalah peraturan hubungan hukum yang timbul
dari hubungan keluarga
b. C.S.T Kansil
Hukum keluarga memuat rangkaian peraturan hukum yang timbul
dari pergaulan hidup kekeluargaan
c. R. Subekti
Hukum keluarga adalah hukum yang mengatur perihal hubungan-
hubungan hukum yang timbul dari hubungan kekeluargaan
d. Rachmadi Usman
Hukum kekeluargaan adalah ketentuan-ketentuan hukum yang
mengatur mengenai hubungan antar pribadi alamiah yang berlainan
jenis dalam suatu ikatan kekeluargaan
e. Djaja S. Meliala
Hukum keluarga adalah keseluruhan ketentuan yang mengatur
hubungan hukum antara keluarga sedarah dan keluarga kerena
terjadinya perkawinan

7
f. Sudarsono
Hukum kekeluargaan adalah keseluruhan ketentuan yang
menyangkut hubungan hukum mengenai kekeluargaan sedarah dan
kekeluargaan karena perkawinan.
Ada dua pokok kajian dalam definisi hukum keluarga yang dikemukakan
oleh Ali Affiandi, yaitu mengatur hubungan hukum yang berkaitan:
1. Keluarga sedarah dan
2. Perkawinan
Pertalian keluarga karena turunan disebut keluarga sedarah,artinya
sanak saudara yang senenek moyang. Keluarga sedarah ini ada yang ditarik
menurut garis bapak yang disebut matrinial dan ada yang ditarik menurut garis
ibu dan bapak yang disebut parental atau bilateral.
Pertalian keluarga karena perkawinan disebut keluarga semenda, artinya
sanak saudara yang terjadi karena adanya ikatan perkawinan, yang terdiri dari
sanak saudara suami dan sanak saudara istri. Sedangkan pertalian keluarga karena
adat disebut keluarga adat, artinya yang terjadi karena adanya ikatan adat,
misalnya saudara angkat.

3.2 Pencabutan Kekuasaan Orang Tua


Bila Hakim menganggap perlu untuk kepentingan anak-anak, masing-
masing dari orang tua, sejauh belum kehilangan kekuasaan orang tua, boleh
dipecat dari kekuasaan orang tua, baik terhadap semua anak maupun terhadap
seorang anak atau lebih, atas permohonan orang tua yang lainnya atau salah
seorang keluarga sedarah atau semenda dan anak-anak itu, sampai dengan derajat
keturunan keempat, atau dewan perwalian, atau kejaksaan atas dasar:
a. menyalahgunakan kekuasaan orang tua atau terlalu mengabaikan
kewajiban
memelihara dan mendidik seorang anak atau lebih;

8
b. berkelakuan buruk;
c. dijatuhi hukuman yang tidak dapat ditarik kembali karena sengaja ikut
serta dalam suatu kejahatan dengan seorang anak yang masih di bawah
umur yang ada dalam kekuasaannya;
d. dijatuhi hukuman yang tidak dapat ditarik kembali karena melakukan
kejahatan yang tercantum dalam Bab 13, 14, 15, 18, 19, dan 20, Buku
Kedua Kitab Undang-undang Hukum Pidana, terhadap seorang di bawah
umur yang ada dalam kekuasaannya;
e. dijatuhi hukuman badan yang tidak dapat ditarik kembali untuk dua tahun
atau lebih;
f. Dalam pasal ini pengertian kejahatan meliputi juga keikutsertaan
membantu dan percobaan melakukan kejahatan

3.2.1 Pembebasan Kewenangan Orangtua (Pasal 319 BW)


Bapak atau ibu yang melakukan kekuasaan orang tua dapat dibebaskan
dari kekuasaan orang tua, baik terhadap semua anak-anak maupun terhadap
seorang anak atau lebih, atas permohonan dewan perwalian atau atas tuntutan
kejaksaan, bila ternyata bahwa dia tidak cakap atau tidak mampu memenuhi
kewajibannya untuk memelihara dan mendidik anak-anaknya dan kepentingan
anak-anak itu tidak berlawanan dengan pembebasan ini berdasarkan hal lain

3.2.2 Pencabutan Kekuasaan Orangtua (Pasal 49 Ayat (1) UUP)


Seorang atau kedua orang tua dapat dicabut kekuasaannya terhadap
seorang anak atau lebih untuk waktu yang tertentu atas permintaan orang tua yang
lain, keluarga anak dalam garis lurus ke atas dan saudara kandung yang telah
dewasa atau pejabat yang berwenang, dengan keputusan Pengadilan dalam hal-
hal:
a. la sangat melalaikan kewajibannya terhadap anaknya;
b. la berkelakuan buruk sekali

9
Berikut ini adalah beberapa pihak yang berhak mengajukan pencabutan:

a. Orang tua yang lain


b. Keluarga saudara atau periparan sampai derajat keempat
c. Dewan perwalian
d. Kejaksaan
e. Penyalah gunaan kekuasaan orang tua
f. Sangat mengabaikan kewajiban untuk pemberian pendidikan dan
pemeliharaan.
g. Tingkah laku yang jelek, yang terserah kepada hakim untuk
menentukan batasbatasnya
h. Bila mana dijatuhi hukuman oleh karena melakukan kejahatan yang
sengaja dilakukan bersama-sama dengan anak itu.
i. Bila mana dijatuhi hukum karena suatu kejahatan yang dilakukan terhadap
anak itu
j. Dijatuhi hukuman badan lebih dari 2 tahun lamanya

Akibat pemecatan, antara lain:


a. memberikan nafkah kepada anak-anaknya yaitu untuk penghidupan dan
pendidikan anak-anak.
b. menyerahkan sejumlah biaya tertentu kepada dewan perwalian yang
jumlahnya ditetapkan oleh hakim..

10
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Hukum keluarga diartikan sebagai keseluruhan ketentuan yang mengenai
hubungan hukum yang bersangkutan dengan kekeluargaan sedarah, dan
kekeluargaan karena perkawinan (perkawinan, kekuasaan orangtua, perwalian,
dan pengampuan). Pencabutan kekuasaan oleh orangtua juga dapat dilakukan jika
memenuhi unsur yang dapat membuat kekuasaannya dicabut.
4.2 Saran
Dalam makalah ini penulis berkeinginan supaya makalah ini bermanfaat
bagi pembaca dan dapat menambah pengetahuan tentang Hukum keluarga dalam
sistem Hukum di Indonesia.

11
DAFTAR PUSTAKA

Kansil, C.S.T. 1989. Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Negara Indonesia.
Jakarta: Balai Pustaka.
Subekti. 2003. Pokok-pokok Hukum Perdata. Jakarta: Intermasa.
Tutik, Titik Triwulan. 2015. Hukum Perdata dalam Sistem Hukum Nasional.
Surabaya: Kencana Prenadamedia Group.

12