Anda di halaman 1dari 10

PRAKTIKUM KIMIA FISIKA

KIM 1252

PENENTUAN TETAPAN KESETIMBANGAN ASAM LEMAH SECARA


KONDUKTOMETRI

OLEH:

IDA AYU PUTU SURYA EKA PRATIWI NIM 1513031010


MADE DARMAPRATHIWI ADININGSIH NIM 1513031013
LUH GEDE SURYANI NIM 1513031019

VI A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA

2018
I. Judul
Penentuan Tetapan Kesetimbangan Asam Lemah Secara Konduktometri

II. Tujuan
1. Menentukan pengaruh konsentrasi larutan terhadap daya hantar listrik.
2. Menentukan konstanta kesetimbangan dari asam lemah (asam asetat) dengan
cara mengukur hantarannya.
3. Menentukan konstanta (sebenarnya) termodinamik dari asam lemah (asam
asetat).

III. Landasan Teori


Elektrolit adalah suatu senyawa yang bila dilarutkan dalam pelarut (misalnya air)
menghasilkan larutan yang menghantarkan listrik. Elektrolit sering diklasifikasikan
berdasarkan kemampuannya dalam menghantarkan arus listrik. Elektrolit yang dapat
menghantarkan arus listrik dengan baik digolongkan ke dalam elektrolit kuat, sedangkan
elektrolit yang sifat penghantaran listriknya buruk digolongkan ke dalam elektrolit lemah.
Larutan elektrolit dapat berupa asam, garam, dan basa. Larutan elektrolit dapat
menghantarkan arus listrik karena mengalami ionisasi (Suardana, 2003).
Gerakan ion dalam larutan dipelajari dengan mengukur konduktivitas listrik dari
larutan elektrolit. Migrasi kation menuju elektroda bermuatan negatif dan anion menuju
elektroda bermuatan positif membawa muatan melalui larutan. Pengukuran dasar yang
dilakukan untuk mempelajari gerakan ion adalah pengukuran tahanan listrik larutan.
Tahanan adalah kebalikan dari hantaran. Pada suhu tetap, hantaran suatu larutan bergantung
pada konsentrasi ion-ion dan mobilitas ion-ion tersebut di dalam larutan. Sifat hantaran
listrik dari suatu elektrolit biasanya mengikuti Hukum Ohm yang dituliskan dengan rumus:
V = I x R………………………………(1)
V adalah tegangan (Volt). I adalah arus listrik (ampere), dan R adalah tahanan (ohm)
(Wiratini & Retug, 2014) .
Hantaran suatu larutan (L) didefinisikan sebagai perpindahan (transport) sesuatu
yang bermuatan melalui media. Hantaran merupakan kebalikan dari tahanan/hambatan
sehingga dapat dirumuskan sebagai:
1
L= ………………………………..(2)
R
Hantaran jenis (K) merupakan hantaran suatu larutan yang terletak di dalam suatu
kubus dengan rusuk 1,0 cm antara dua permukaan yang sejajar. Bila untuk dua permukaan
yang sejajar dengan luas A m2 dan berjarak l m satu dengan yang lain, maka berlaku
hubungan:
KA
L= ………………….…………...…(3)
l
Hantaran jenis suatu elektrolit bermanfaat untuk menentukan konstanta sel. Larutan yang
umum digunakan untuk menentukan konstanta sel adalah larutan KCl (Suardana, 2003).
Dalam pengukuran hantaran suatu larutan juga diperlukan suatu tetapan sel (k) yang
merupakan suatu bilangan, bila dikalikan dengan hantaran suatu larutan dalam sel
bersangkutan akan memberikan hantaran jenis dari larutan tersebut, sehingga rumusnya
menjadi:
k
K = kL = ……………………………(4)
R
l
Dari persamaan 3) dan 4) diperoleh hubungan bahwa k = merupakan tetapan suatu sel
A
(Wiratini & Retug, 2014).
Hantaran molar ( Λ ) dari suatu larutan didefinisikan sebagai hantaran larutan antara
dua permukaan sejajar yang berjarak 1,0 cm satu dengan yang lain dan mempunyai luas
sedemikian rupa sehingga diantara kedua permukaan tersebut terdapat elektrolit sebanyak 1
mol (Wiratini & Retug, 2014).
K
Λ= 10  3 …………………………………(5)
C
dimana C adalah konsentrasi larutan dalam satuan mol/m3.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh Kohlrausch, hubungan antara
hantaran molar dan hantaran jenis terhadap konsentrasi adalah sebagai berikut.
1. Untuk elektrolit kuat, hantaran jenis elektrolit akan naik secara cepat dengan
naiknya konsentrasi, sedangkan untuk elektrolit lemah hantaran jenis elektrolit akan
naik secara perlahan-lahan dengan naiknya konsentrasi. Hal ini disebabkan elektrolit
kuat terionisasi sempurna, sedangkan elektrolit lemah terionisasi sebagian.
1. Untuk elektrolit kuat maupun elektrolit lemah, hantaran molarnya akan naik dengan
naiknya pengenceran dan mencapai harga maksimal pada pengenceran tak hingga
(Wiratini & Retug, 2014).
Hubungan antara hantaran molar pada konsentrasi tertentu ( Λ ) dan hantaran molar
pada pengenceran tak hingga ( Λ o ) terhadap konsentrasi (C) untuk elektrolit kuat
dirumuskan sebagai berikut.

   o  b C ...............................(6)
Grafik hubungan antara hantaran molar dengan akar kuadrat konsentrasi untuk
beberapa elektrolit dapat digambarkan sebagai berikut.

Gambar 1. Hubungan hantaran molar terhadap akar kuadrat konsentrasi elektrolit


Berdasarkan grafik di atas, dapat dijelaskan sebagai berikut.
1. Plot hantaran molar terhadap akar kuadrat konsentrasi berupa garis lurus untuk
elektrolit kuat, dan lengkungan curam untuk elektrolit lemah.
2. Ekstrapolasi data hantaran molar sampai pengenceran tak terhingga dikenal sebagai

limit hantaran molar ( Λ o ) yang didasarkan pada migrasi bebas rata-rata dari ion-
ion, seperti yang dikemukakan oleh Kohlrausch (Wiratini & Retug, 2014).
Menurut hukum ini, hantaran molar dari setiap elektrolit pada pengenceran tak hingga ( Λ o
) adalah jumlah hantaran molar dari ion-ionnya pada pengenceran tak hingga. Hal ini
disebabkan pada pengenceran tak hingga, masing-masing ion dalam larutan dapat bergerak
bebas tanpa dipengaruhi oleh ion-ion lawan. Apabila jumlah ion positif dan ion negatif
dinyatakan sebagai v+ dan v- serta hantaran molar pada pengenceran tak terhingga ion-ion
positif dan negatif dinyatakan sebagai λo+ dan λo-, sehingga diperoleh rumus sebagai berikut
(Wiratini & Retug, 2014).
 o  v  λ o  v  λ o …………………………….(7)

Penerapan utama dari hukum Kohlrausch adalah untuk menentukan harga limit
hantaran molar dari elektrolit lemah. Misalnya suatu elektrolit lemah AD, hantaran molar
pada pengenceran tak hingga (limit hantaran molarnya) ditentukan dari penentuan hantaran
molar larutan elektrolit kuat AB, CD, CB dengan menggunakan persamaan berikut (Wiratini
& Retug, 2014).
Λ o (AD)  Λ o (AB)  Λ o (CD)  Λ o (CB) .................(8)

Λ o (AD)  λ oA   λ oB  λ oC   λ oD  λ oC  - λ oB  λ oA   λ oD  ..............(9)

Sesuai dengan hukum Kohlrausch, pada pengenceran tak hingga untuk hantaran
molar berlaku keaditifan hantaran ion-ionnya. Suatu larutan elektrolit lemah tidak
terionisasi secara sempurna dalam air tetapi terdapat kesetimbangan antara ion-ionnya.
Hubungan antara derajat ionisasi (α) dengan hantaran molar (Λ) dapat dirumuskan sebagai
berikut (Wiratini & Retug, 2014).
ΛC
α= …………….….…..(10)
Λ0

dimana: ΛC = hantaran molar pada konsentrasi C; Λ0 = hantaran molar pada konsentrasi tak
hingga. Harga tetapan kesetimbangan untuk elektrolit lemah dinyatakan dengan rumus
berikut.
α 2C
Ka =
1  α ………….….…..(11)

Dari persamaan 11, harga derajat disosiasi suatu larutan elektrolit dapat diketahui
sehingga dapat dihitung harga tetapan kesetimbangannya (Ka). Harga tetapan
kesetimbangan termodinamik (K) merupakan fungsi dari Ka dan koefisien keaktifan dari
ion-ionnya. Koefisien keaktifannya untuk larutan pada pengenceran tak hingga adalah 1,
sehingga harga tetapan kesetimbangan sebenarnya dapat dinyatakan dengan rumus sebagai
berikut (Wiratini & Retug, 2014).

log K a = log K + 2Λ αC ………………(12)

dimana: Ka = tetapan kesetimbangan; K = tetapan kesetimbangan sebenarnya


(termodinamik); Λ = tetapan; α = derajat disosiasi; C = konsentrasi larutan.
Dari persamaan 12, dapat dilihat bahwa grafik hubungan antara log K a terhadap αC akan
menghasilkan grafik garis lurus, sehingga dari hasil ekstrapolasi ke harga C = 0 akan
diperoleh harga log K (Retug & Sastrawidana, 2004).

IV. Alat dan Bahan


A. Alat
Tabel 1. Alat
No. Nama Alat Ukuran Jumlah
1 Konduktometer - 1 buah
2 Sel hantaran - 1 buah
3 Termometer 1000C 1 buah
4 Gelas kimia 100 mL 3 buah
5 Botol semprot - 1 buah
6 Pipet tetes - 2 buah
7 Labu ukur 250 mL 2 buah
8 Labu ukur 100 mL 3 buah
10 Termostat - 1 buah
11 Spatula - 2 buah
12 Batang pengaduk - 2 buah
13 Gelas ukur 10 mL 1 buah
13 Gelas ukur 25 mL 1 buah

B. Bahan
Tabel 2. Bahan
No. Nama Bahan Konsentrasi Jumlah
1. Aquades - 2L
2. Larutan KCl 0,10000 N 25 mL
3 Larutan CH3COOH 0,10000 N 350 mL
0,05000 N
0,02500 N
0,01250 N
0,00625 N
0,00312 N
0,00156 N
4 Larutan CH3COONa 0,10000 N 350 mL
0,05000 N
0,02500 N
0,01250 N
0,00625 N
0,00312 N
0,00156 N
5 Larutan NaCl 0,10000 N 350 mL
0,05000 N
0,02500 N
0,01250 N
0,00625 N
0,00312 N
0,00156 N
6 Larutan HCl 0,10000 N 350 mL
0,05000 N
0,02500 N
0,01250 N
0,00625 N
0,00312 N
0,00156 N

V. Prosedur Kerja dan Hasil Pengamatan


Tabel 3. Prosedur Kerja dan Hasil Pengamatan
No. Prosedur kerja Hasil Pengamatan
1 Sel dicuci dengan air dan ditentukan
hantarannya di dalam air. Sel dicuci
kembali dan hantarannya ditentukan
sampai menunjukkan hasil yang tetap.

2 Sel dibilas dengan larutan KCl 0,1 N


dan hantarannya ditentukan dalam
larutan KCl tersebut. Temperatur
larutan KCl ditentukan dan data
hantaran jenis larutan KCl 0,1 N pada
berbagai temperatur disajikan pada tabel
berikut:
Tabel 4. Hantaran Jenis Larutan KCl 0,1 N
pada Berbagai Temperatur
T(oC) x (ohm- T(oC) x (ohm-
1 -1 1 -1
m ) m )
21 1,191 26 1,313
22 1,215 27 1,337
23 1,239 28 1,362
24 1,264 29 1,387
25 1,288 30 1,412
3 Larutan NaCl masing-masing dibuat
dengan konsentrasi 0,1 N; 0,05 N; 0,025
N; 0,0125 N; 0,00625 N; 0,00312 N;
dan 0,00156 N. Konsentrasi larutan
tersebut dicatat dengan teliti, kemudian
hantaran dari masing-masing larutan
tersebut diukur dengan alat
konduktometer.
Hantaran dari larutan CH3COONa,
CH3COOH, dan HCl juga ditentukan
pada konsentrasi yang sama dengan
NaCl dengan alat konduktometer.

4 Berdasarkan hasil data pada langkah 1-


3, dibuat kurva dari masing-masing zat
tersebut antara hantaran molarnya (  )
terhadap √C

5 Harga  o larutan NaCl, CH3COONa,


dan HCl ditentukan melalui
ekstrapolasi.

6 Harga o larutan CH3COOH


ditentukan dengan menggunakan
hukum Kohlrusch.

Tabel 5. Data Hasil Pengukuran Hantaran pada Larutan KCl dan H2O
Zat Hantaran (L) Suhu
KCl
H2O
Tabel 6. Data Hasil Pengukuran Hantaran pada Larutan NaCl
LARUTAN HANTARAN (L)
NaCl 0,1 N
NaCl 0,05 N
NaCl 0,025 N
NaCl 0,0125 N
NaCl 0,00625 N
NaCl 0,00312 N
NaCl 0,00156 N

Tabel 7. Data Hasil Pengukuran Hantaran pada Larutan CH3COONa


LARUTAN HANTARAN (L)
CH3COONa 0,1 N
CH3COONa 0,05 N
CH3COONa 0,025 N
CH3COONa 0,0125 N
CH3COONa 0,00625 N
CH3COONa 0,00312 N
CH3COONa 0,00156 N

Tabel 8. Data Hasil Pengukuran Hantaran pada CH3COOH


LARUTAN HANTARAN (L)
CH3COOH 0,1 N
CH3COOH 0,05N
CH3COOH 0,025 N
CH3COOH 0,0125 N
CH3COOH 0,00625 N
CH3COOH 0,00312 N
CH3COOH 0,00156 N

Tabel 9. Data Hasil Pengukuran Hantaran pada HCl


LARUTAN HANTARAN (L)
HCl 0,1 N
HCl 0,05 N
HCl 0,025 N
HCl 0,0125 N
HCl 0,00625 N
HCl 0,00312 N
HCl 0,00156 N

Singaraja, 29 Maret 2018


Dosen Pengampu Praktikan
Ni Made Wiratini, S.Pd., M.Sc Made Darmaprathiwi Adiningsih
NIP 19830627006042002 NIM 1513031010