Anda di halaman 1dari 16

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sel-sel tubuh hanya dapat hidup dan berfungsi bila berada atau terendam
dalam cairan ekstraseluler yang sesuai. Cairan ekstraseluler ini biasa juga disebut
lingkungan dalam tubuh (milieu interiuer). Lingkungan dalam tubuh ini boleh
dikatakan selalu konstan dan hanya dapat berdeviasi (berubah) dalam kisaran
yang sangat sempit. Contoh: pH darah 7,40 hanya boleh berdeviasi antara 7,38-
7,42. Proses mempertahankan lingkungan dalam yang relatif stabil ini disebut
homeostatis.
Manusia mempunyai kebutuhan tertentu yang harus dipenuhi secara
memuaskan melalui proses homeostatis, baik fisiologis maupun psikologis.
Kebutuhan merupakan suatu hal yang sangat penting, bermanfaat, atau
diperlukan untuk menjaga homeostatis dan kehidupan itu sendiri. Seseorang
melalui beberapa kebutuhan yang belum terpenuhi akan lebih dulu memenuhi
kebutuhan fisiologisnya dibandingkan kebutuhan yang lain.
Homeostatis dipertahankan oleh mekanisme fisiologis yang mengontrol
fungsi tubuh dan memantau organ tubuh. Sebagian besar mekanisme ini
dikontrol oleh sistem saraf dan endokrin dan tidak mencakup perilaku sadar.
Tubuh membuat penyesuaian dalam frekuensi jantung, frekuensi pernapasan,
tekanan darah, suhu tubuh, keseimbangan cairan dan elektrolit, sekresi hormon
dan tingkat kesadaran yang semuanya ditujukan untuk memberi kontribusi bagi
homeostatis.
Berkaitan dengan pentingnya keadaan homeostatis dalam
mempertahankan kadar cairan dalam tubuh, maka dalam makalah ini akan
dibahas tentang konsep homeostatis beserta mekanismenya.

1
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas penulis merumuskan masalah yang akan
dibahas dalam makalah ini diantaranya:
1. Apa yang dimaksud homeostatis?
2. Apa saja dasar-dasar homeostatis?
3. Apa saja faktor yang dipertahankan dalam tubuh manusia secara
homeostatis?
4. Bagaimana kontribusi sistem di dalam tubuh manusia bagi homeostatis?
5. Bagaimana sistem kontrol homeostatis?
6. Apa saja jenis homeostatis di dalam tubuh manusia?
7. Bagaimana dampak ketidakseimbangan homeostatis bagi tubuh manusia?
1.3 Tujuan Makalah
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pengertian homeostatis.
2. Untuk mengetahui dasar-dasar homeostatis.
3. Untuk mengetahui faktor-faktor lingkungan yang dipertahankan secara
homeostatis.
4. Untuk mengetahui kontribusi sistem di dalam tubuh manusia bagi
homeostatis.
5. Untuk mengetahui sistem kontrol homeostatis.
6. Untuk mengethaui jenis homeostatis di dalam tubuh manusia.
7. Untuk mengetahui dampak ketidakseimbangan homeostatis bagi tubuh
manusia.

2
BAB 2

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Homeostatis


Homeostasis berasal dari bahasa yunani yaitu, homeo yang berati sama
dan stasis yang berarti mempertahankan keadaan (tetap). Homeostasis kemudian
sering diartikan sebagai semua proses yang terjadi dalam organisme hidup untuk
mempertahankan lingkungan internal, dalam kondisi tertentu agar tecipta
kondisi yang optimal bagi kehidupan organisme yang bersangkutan.
Homeostasis merupakan mekanisme pengaturan lingkungan kesetimbangan
yang dinamis di dalam tubuh hewan yang konstan.

Homeostasis adalah kemampuan proses fisiologis tubuh dalam


mempertahankan keseimbangan dan kecenderungan semua jaringan hidup guna
memelihara dan mempertahankan kondisi setimbang atau ekuilibrium (Cannon,
1926).
Homeostasis adalah konsistensi dan uniformitas dari lingkungan internal
tubuh yang mempertahankan fungsi normal tubuh (Anderson, 1996). Pendapat
lain mengatakan, bahwa homeostasis adalah suatu keadaan tubuh untuk
mempertahankan keseimbangan dalam menghadapi kondisi yang dialaminya.

Homeostasis adalah kemampuan untuk beradaptasi terhadap lingkungan


internal atau eksternal yang senantiasa berubah sebagai suatu kunci keberhasilan,
bertahan dan tetap hidup, atau suatu keadaan seimbang yang sifatnya dinamis,
yang dipertahankan tubuh melalui pergeseran dan penyesuaian atau adaptasi
terhadap ancaman yang berlangsung secara konstan (Dubois, 1965)
Homeostasis merujuk pada ketahanan atau mekanisme pengaturan
lingkungan kesetimbangan dinamis dalam (badan organisme) yang konstan.
Homeostasis merupakan salah satu konsep yang paling penting dalam biologi.
Bidang fisiologi dapat mengklasifikasikan mekanisme homeostasis pengaturan

3
dalam organisme. Umpan balik homeostasis terjadi pada setiap organisme.
(www.wikipedia.com)
Homeostatis adalah proses yang terjadi dalam organisme hidup untuk
mempertahankan lingkungan intern ini dalam kondisi agar optimal bagi
kehidupan organisme. Jadi, kesimpulan dari homeostasis adalah suatu proses
perubahan yang terus menerus atau suatu keadaan tubuh untuk mempertahankan
keseimbangan dalam menghadapi kondisi yang dialaminya yang sifatnya
dinamis yang berlangsung secara konstan, dan terjadi pada setiap organisme.
Proses homeostasis ini dapat terjadi apabila tubuh mengalami stress
sehingga tubuh secara alamiah akan melakukam mekanisme pertahanan diri
untuk menjaga kondisi yang seimbang.
Homeostasis yang terdapat dalam tubuh manusia dapat dikendalikan oleh
suatu sistem endokrin dan saraf otonom. Secara alamiah proses homeostasis
dapat terjadi dalam tubuh manusia.
2.2 Dasar-dasar Homeostatis
Ahli ilmu faal Amerika serikat, Walter Cannon, mengajukan 4 postulat yang
mendasari homeostatis, yaitu:
1. Peran sistem saraf dalam mempertahankan kesesuaian lingkungan dalam
dengan kehidupan.
2. Adanya kegiatan pengendalian yang bersifat tonik.
3. Adanya pengendalian yang bersifat antagonistik.
4. Suatu sinyal kimia dapat mempunyai pengaruh yang berbeda di jaringan
tubuh berbeda.
2.3 Faktor-faktor yang Dipertahankan secara Homeostatis
Faktor-faktor lingkungan internal yang harus dipertahankan secara
homeostatis, yaitu:
1. Konsentrasi molekul zat-zat gizi
Sel-sel membutuhkan pasokan molekul nutrien yang tetap sebagai
bahan bakar metabolik untuk menghasilkan energi guna menunjang
aktivitas dan mempertahankan hidup.

4
2. Konsentrasi O2 dan CO2
Sel membutuhkan O2 untuk melakukan reaksi-reaksi kimia yang
menarik sebanyak mungkin energi dari molekul nutrien yang digunakan
oleh sel. CO2 yang dihasilkan harus diseimbangkan dengan CO2 yang
dikeluarkan oleh paru, sehingga CO2 tidak meningkatkan keasaman di
lingkungan internal.
3. Konsentrasi zat-zat sisa
Berbagai reaksi kimia menghasilkan produk-produk akhir yang
berefek toksik bagi sel jika dibiarkan tertimbun melebihi batas tertentu.
4. pH
Di antara efek perubahan keasaman lingkungan cairan internal
adalah perubahan mekanisme pembentuk sinyal listrik di sel saraf dan
perubahan aktivitas enzim di semua sel.
5. Konsentrasi air, garam-garam, dan elektrolit-elektrolit lain
Konsentrasi relatif berupa garam dan air di dalam cairan ekstrasel
(lingkungan internal) mempengaruhi berapa banyak air yang masuk atau
keluar sel, konsentrasi keduanya diatur secara ketat untuk
mempertahankan volume sel yang sesuai. Sel-sel tidak dapat berfungsi
secara normal jika mereka membengkak atau menciut. Elektrolit lain
memiliki bermacam-macam fungsi vital lainnya, seperti denyut jantung
yang teratur bergantung pada konsentrasi kalium di cairan ekstra sel yang
relatif konstan.
6. Suhu
Sel-sel tubuh berfungsi secara optimal dalam rentan suhu yang
sempit. Sel-sel akan mengalami perlambatan aktivitas jika suhunya
terlalu dingin, sedangkan protein-protein struktural dan enzimatiknya
terganggu jika suhunya terlalu panas.
7. Volume dan tekanan
Komponen sirkulasi pada lingkungan internal (plasma) harus
dipertahankan pada tekanan darah dan volume yang adekuat agar

5
penghubung vital antara sel dan lingkungan eksternal ini dapat
terdistribusi ke seluruh tubuh.
2.4 Kontribusi Berbagai Sistem bagi Homeostatis
Homeostatis sangat penting bagi kelangsungan hidup setiap sel. Setiap
sel, melalui aktivitas khususnya masing-masing, turut berperan sebagai bagian
dari sistem tubuh untuk memelihara lingkungan internal yang digunakan bersama
oleh semua sel. Terdapat sebelas sistem tubuh utama, yaitu:
1. Sistem sirkulasi
Sistem ini merupakan sistem transportasi yang membawa berbagai
zat, misalnya zat gizi, O2, CO2, zat-zat sisa, elektrolit dan hormon dari satu
bagian tubuh ke bagian tubuh lainnya.
2. Sistem pencernaan
Sistem ini menguraikan makanan menjadi molekul-molekul kecil zat
gizi yang dapat diserap ke dalam plasma untuk didistribusikan ke seluruh
sel. Sel ini juga memindahkan air dan elektrolit dari lingkungan eksternal
ke lingkungan internal. Sistem ini mengeluarkan sisa-sisa makanan yang
tidak dicerna ke lingkungan eksternal melalui tinja.
3. Sistem respirasi
Sistem ini mengambil O2 dari udara dan mengeluarkan CO2 ke
lingkungan eksternal. Dengan menyesuaikan kecepatan pengeluaran CO2
pembentuk asam, sistem respirasi juga penting untuk mempertahankan
pH lingkungan yang sesuai.
4. Sistem kemih
Sistem ini mengeluarkan kelebihan garam, air, dan elektrolit-lain dari
plasma melalui urine, bersama zat-zat sisa selain CO2.
5. Sistem rangka
Sistem ini memberi penunjang dan proteksi bagi jaringan lunak dan
organ-organ. Juga sebagai tempat penyimpanan kalsium, suatu elektrolit
yang konsentrasinya dalam plasma harus dipertahankan dalam rentang

6
yang sempit. Bersama dengan sistem otot, sistem rangka juga
memungkinkan timbulnya gerakan tubuh dan bagian-bagiannya.
6. Sistem otot
Sistem ini menggerekan tulang-tulang yang melekat kepadanya.
Sistem ini memungkinkan individu mendekati makanan dan menjauhi
bahaya. Selain itu, panas yang dihasilkan oleh konsentrasi otot penting
untuk mengatur suhu. Karena berada di bawah kontrol kesadaran,
individu mampu menggunakan otot rangka untuk melakukan bermacam
gerakan sesuai keinginan. Gerakan-gerakan tersebut, berkisar dari
keterampilan motorik halus yang diperlukan.
7. Sistem integumen
Sistem ini berfungsi sebagai pelindung bagian luar yang mencegah
cairan internal keluar dari tubuh dan mikroorganisme asing masuk ke
dalam tubuh. Sistem ini penting dalam mengatur suhu tubuh, yakni
dengan mengatur produksi keringat dan dengan mengatur aliran darah
hangat ke kulit.
8. Sistem imun
Sistem ini mempertahankan tubuh dari serangan benda asing dan sel-
sel tubuh yang telah menjadi kanker. Sistem ini juga mempermudah jalan
untuk perbaikan dan penggantian sel yang tua atau cedera.
9. Sistem saraf
Sistem ini mengontrol dan mengoordinasikan aktivitas tubuh yang
mengeluarkan respons cepat. Sistem ini mendeteksi dan mencetuskan
reaksi terhadap berbagai perubahan di lingkungan internal. Sistem ini
akan bertanggung jawab atas fungsi lain yang lebih tinggi yang tidak
seluruhnya ditujukan untuk mempertahankan homeostatis, misalnya
kesadaran, ingatan, dan kreativitas.
10. Sistem endokrin
Secara umum, sistem endokrin mengatur aktivitas yang lebih
mementingkan daya tahan (durasi) daripada kecepatan. Sistem ini

7
terutama penting untuk mengontrol konsentrasi zat-zat gizi dan dengan
menyesuaikan fungsi ginjal, mengontrol volume serta komposisi
elektrolit lingkungan internal.
11. Sistem reproduksi
Sistem ini tidak esensial bagi homeostatis. Akan tetapi, sistem ini
penting bagi kelangsungan hidup suatu spesies.
2.5 Sistem Kontrol Homeostatis
Untuk mempertahankan homeostatis, tubuh harus mampu mendeteksi
penyimpangan-penyimpangan yang terjadi pada faktor-faktor lingkungan
internal yang perlu dijaga dalam rentang yang sempit. Tubuh juga harus mampu
mengontrol berbagai sistem tubuh yang bertanggung jawab untuk menyesuaikan
faktor-faktor itu.
Sebagai contoh, untuk mempertahankan konsentrasi CO2 di cairan
ekstrasel pada kadar yang optimal, tubuh harus mampu mendeteksi adanya
perubahan pada konsentrasi CO2 dan kemudian dengan tepat mengubah aktivitas
pernapasan, sehingga konsentrasi CO2 kembali ke tingkat yang diinginkan.
Sistem kontrol yang beroperasi untuk mempertahankan homeostatis
dapat dikelompokkan menjadi dua kelas, yaitu:
1. Kontrol intrinsik
Kontrol intrinsik terdapat di dalam organ yang bersangkutan.
Contoh, sewaktu suatu otot yang beraktivitas menggunakan O2 dan
mengeluarkan CO2 untuk menghasilkan energi yang diperlukan,
konsentrasi O2 turun dan CO2 meningkat di dalam otot tersebut.
2. Kontrol ekstrinsik
Kontrol ekstrinsik yaitu mekanisme pengatur yang dicetuskan di luar
suatu organ untuk mengubah aktivitas organ tersebut. Kontrol ekstrinsik
berbagai organ dan sistem dilaksankan oleh sistem saraf dan endoktrin,
yang merupakan dua sistem kontrol utama pada tubuh.
Kontrol ekstrinsik memungkinkan pengaturan beberapa organ
sekaligus untuk mencapai suatu tujuan bersama; sebaliknya kontrol

8
instrinsik berfungsi untuk melayani organ tempat kontrol tersebut
bekerja. Mekanisme pengaturan keseluruhan yang terkoordinasikan
penting untuk mempertahankan keadaan stabil dinamis lingkungan
internal secara keseluruhan.
2.6 Jenis Homeostatis
Terdapat 2 jenis keadaan konstan dalam homeostatis, yaitu:
1. Sistem Tertutup (keseimbangan statis)
Lingkungan dalam tidak berubah seperti botol tertutup.
2. Sistem terbuka (keseimbangan dinamis)
Lingkungan dalam yang konstan walaupun sistem ini terus
berubah contohnya seperti sebuah kolam di dasar air terjun
Terdapat 2 jenis proses homeostatis, yaitu:
1. Homeostatis Fisiologi
Homeostatis fisiologis dalam tubuh manusia dapat dikendalikan oleh
sistem endokrin dan saraf otonom. Prosesnya terjadi melalui empat cara,
yaitu:
1. Self regulation
Sistem ini terjadi secara otomatis pada orang yang sehat.
Contohnya proses pengaturan fungsi organ tubuh.
2. Kompensasi
Tubuh akan cenderung berekasi terhadap ketidaknormalan
yang terjadi di dalamnya. Misalnya, jika lingkungan menjadi dingin,
maka pembuluh darah perifer akan merangsangpembuluh darah
bagian dalam untuk meningkatkan kegiatan (misalnya mengigil)
yang dapat menghasilkan panas sehingga suhu tubuh tetap stabil,
pelebaran pupil untuk meningkatkan persepsi visual pada saat terjadi
ancaman terhadap tubuh, dan peningkatan keringat untuk mengontrol
kenaikan suhu tubuh.

9
3. Umpan balik negatif
Umpan balik negatif atau negative feedback bersifat
mengembalikan tingkat keseimbangan didalam tubuh. Umpn balik
negatif juga bersifat mengurangi efek dari penyimpangan yang
terjadi. Contoh umpan balik negatif tubuh yaitu pengaturan tingkat
kadar gula darah yang dilakukan oleh fungsi pankreas. Saat kadar
gula darah meningkat, kelenjar pankreas akan mensekresikan hormon
insulin untuk menyeimbangkannya. Sebaliknya, saat kadar gula
menurun, kelenjar pankreas akan mensekresikan hormon glukagon.
Hal ini terjadi terus menerus sehingga kadar gula darah dalm tubuh
berada dalam kondisi konstan.
4. Umpan balik untuk mengoreksi ketidakseimbangan fisiologis
Contoh, apabila sesorang mengalami hipoksia akan terjadi
proses peningkatan denyut jantung ubtuk membawa darah dan
oksigen yang cukup ke sel tubuh.
Terdapat dua macam pengaturan umpan balik dalam homeostasis, yaitu;
1. Umpan balik negatif (negative feedback)

Gambar 1. Sistem umpan balik negatif

10
Sebagai gambaran tentang umpan balik negatif adalah
dengan mengamati bekerjanya thermostat yang dipasang dalam
akuarium untuk menjaga agar suhu air dalam akuarium tersebut
berada pada suhu yang diinginkan. Bilamana suhu air medium
lebih rendah dari suhu yang diinginkan, sensor memberikan
informasi agar pemanas memanaskan medium. Jadi pengaturan
suhu tubuh membutuhkan “thermostat” yang informasinya harus
diberikan pada sistem pengendali suhu.

Jika informasi yang sampai pada sistem pengendali suhu


adalah bahwa suhu tubuh lebih rendah dari yang semestinya,
maka sistem pengendali akan meningkatkan suhu tubuh sampai
kondisi semestinya dan pemanasan berhenti sampai terjadinya
penurunan suhu lebih rendah dari yang semestinya.

Proses ini merupakan penyimpangan dari keadaan


normal. Dalam keadaan abnormal, tubuh secara otomatis akan
melakukan mekanisme umpan balik untuk menyeimbangkan
penyimpangan yang terjadi.
2. Umpan balik positif (Positive Feedback)
Peristiwa yang terjadi pada sistem umpan balik positif
berlawan dengan peristiwa yang terjadi pada sistem umpan balik
negativ. Pada sistem umpan balik positif, perubahan awal suatu
variable akan menghasilkan perubahan yang semakin besar,
misalnya proses pembekuan darah. proses pembekuan darah
sebenarnya bekerja melalui mekanisme sistem umpan balik
positif, yang bertujuan untuk menghentikan pendarahan. Namun,
hasil dari proses tersebut selanjutnya bermakna sangat penting
untuk memepertahankan volume darah yang bersirkulasi agar
tetap konstan.

11
Mekanisme umpan balik posistif tidak terlibat dalam
proses menjaga kondisi homeostasis, tetapi terlibat dalam
penyelenggaraan fungsi fisiologis tertentu (proses pembekuan
darah dan fungsi sel saraf. Contoh lain umpan balik
positif adalah pada fungsi saraf. Jika terdapat rangsang pada sel
saraf akan menyebabkan perubahan permeabilitas selaput yang
memungkinkan adanya aliran ion sodium (Na+) masuk kedalam
neuron. Aliran masuk ion Na+ pada fase awal terjadinya potensial
aksi menghasilkan respon depolarisasi yang menyebabkan aliran
masuk ion Na+ lebih lanjut.

Gambar 2. Sistem umpan balik positif

2. Homeostatis psikologis
Homeostatis psikologis berfokus kepada keseimbangan emosional
dan kesejahteraan mental. Proses ini didapat dari pengalaman hidup dan
interaksi dengan orang lain serta dipengaruhi oleh norma dan kultur
masyarakat. Contoh homeostatis psikologis adalah mekanisme pertahanan
diri, seperti menangis, tertawa, memukul, meremas, mencerca, dan lain-
lain.
2.7 Dampak Ketidakseimbangan Homeostatis bagi Tubuh Manusia
Keadaan homeostatis tubuh dapat mengalami gangguan yang disebabkan
oleh beberapa faktor seperti: stress fisik, perubahan kimia (penurunan O2 atau

12
pH, peningkatan CO2 atau prostaglandin), dan peningkatan aktivitas jaringan.
Gangguan homeostatis ini akan mengakibatkan tekanan darah dan aliran darah
berkurang pada jaringan, sehingga akan merangsang autoregulasi lokal menurun
tahanan dan peningkatan aliran darah.
Namun apabila autoregulasi tidak efektif, maka mekanisme saraf akan
menstimulasi reseptor-reseptor yang sensitif untuk mengubah komposisi kimia
dan tekanan darah sistemik yang selanjutnya mengaktifkan pusat kardiovaskular.
Jika satu atau lebih sistem tubuh gagal berfungsi secara benar,
homeostasis terganggu dan semua sel akan menderita karena mereka tidak lagi
memperoleh lingkungan yang optimal tempat mereka hidup dan berfungsi. Jika
gangguan terhadap homeostasis menjadi sedemikian berat sehingga tidak lagi
memungkinkan kelangsungan hidup, timbul kematian.
1. Diabetes
Penyakit Diabetes Mellitus (DM) atau dikenal juga sebagai
penyakit kencing manis adalah kumpulan gejala yang timbul pada
seseorang akibat kadar gula darah yang tinggi. Kadar gula darah tinggi
ini dapat disebabkan oleh jumlah hormon insulin yang kurang atau jumlah
insulin cukup tetapi tidak bekerja dengan semestinya, biasa disebut
resistensi insulin.
Pada tahap awal, diabetes mungkin tidak menimbulkan dampak
kesehatan yang serius, kecuali gampang lelah dan nafsu makan menurun.
Tapi pada tahap lanjut dan bahkan akhir, gangguan ini menimbulkan efek
yang serius, yang berhubungan atau melibatkan organ-organ tubuh yang
lain, bahkan bisa menimbulkan kematian bagi penderitanya. Sampai saat
ini DM belum dapat disembuhkan, tapi kadar glukosa darah dapat
dikendalikan sehingga berbagai komplikasi dapat dicegah.
2. Stress
Stress adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun
mental. Bentuk ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian
seseorang. Bahkan stress dapat membuat produktivitas menurun, rasa

13
sakit dan gangguan-gangguan mental. Pada dasarnya, stress adalah
sebuah bentuk ketegangan, baik fisik maupun mental.

3. Penurunan dan Kenaikan Suhu Tubuh


a. Penurunan suhu tubuh (kedinginan)
Menggigil merupakan reaksi terhadap berbagai kondisi di mana
otot mengalami kontraksi berulang-ulang untuk meningkatkan suhu
tubuh. Reaksi terjadi akibat tubuh mengalami kedinginan maupun
infeksi.
Menggigil dapat terjadi dengan atau tanpa demam. Kondisi tubuh
yang menggigil tanpa demam dapat terjadi disebabkan oleh udara
yang dingin, sedangkan menggigil yang disusul dengan demam dapat
menjadi pertanda bahwa tubuh sedang melawan virus, plasmodium,
atau bakteri yang sedang menyerang tubuh Anda.
b. Kenaikan suhu tubuh (kepanasan)
Tubuh memiliki batas suhu panas yang bisa ditahan. Bila
melewati batas, maka bisa jadi tubuh akan overheated alias
kepanasan. Ketika orang kepanasan, baik karena aktivitas maupun
cuaca, tubuh memiliki cara untuk menjaga suhu Anda pada
temperatur di mana enzim bekerja optimal.
Enzim adalah protein yang dapat mempercepat reaksi kimia pada
tubuh Anda. Untuk membuat Anda tetap dingin, tubuh mulai
berkeringat dan pembuluh darah Anda membesar. Tapi jika tubuh
terlalu panas dan keringat banyak yang keluar, Anda bisa menjadi
dehidrasi dan keseimbangan elektrolit bisa terganggu karena tubuh
terlalu banyak mengeluarkan air dan tidak cukup garam.

14
BAB 3

KESIMPULAN

1.1 Kesimpulan
Homeostatis adalah pemeliharaan aneka kondisi yang hampir selalu
konstan di lingkungan dalam. Pada dasarnya semua organ dan jaringan tubuh
melaksanakan aneka fungsi untuk membantu mempertahankan kondisi yang
konstan ini. Misalnya paru menyediakan oksigen bagi cairan ekstrasel untuk
menggantikan oksigen yang dipakai oleh sel, dan ginjal berperan
mempertahankan homeostatisnya.
Mekanisme homeostatis penting bagi kelangsungan hidup dan fungsi
normal sel. Kondisi statis dinamis internal tubuh yang relatif dipertahankan
secara konstan terhadap berbagai rangsangan.
Seluruh komponen yang ada didalam tubuh merupakan rangkaian sistem
dimana satu dan lainnya saling terkait. Bila salah satunya terganggu maka
akan mempengaruhi fungsi organ yang lain. Maha Besar Allah dengan
segala ciptaan-Nya.
1.2 Saran
1. Bagi masyarakat sangat dianjurkan untuk lebih aktif dalam mencari
informasi kesehatan dan mengetahui tentang keadaan keseimbangan
tubuh dan berbagai keadaan yang dapat menggangu homesotatis tubuh
sehingga dapat mencegahnya.
2. Bagi mahasiswa/i di bagian kesehatan untuk dapat membuat makalah
dengan pembahasan homeostatis yang lebih lengkap.

15
DAFTAR PUSTAKA

Devi, Anakardian Kris Buana, S. Kep, Anatomi Fisiologi dan Biokimia


Keperawatan, (Yogyakarta: Pustaka Baru Press)
http://healthyandhomeostasis.tumblr.com/ [online], diunduh pada hari Rabu, 21
Maret 2018, pkl 20.23 WIB
http://id.wikipedia.org/wiki/Homeostasis [online], diunduh pada hari Rabu, 21
Maret 2018, pkl 20.25 WIB
http://kamuskesehatan.com/definisi/homeostasis/ [online], diunduh pada hari
Rabu, 21 Maret 2018, pkl 20.30 WIB
http://reshayainiresha.wordpress.com/2010/04/09/pengertian-homeostasis/
[online], diunduh pada hari Rabu, 21 Maret 2018, pkl 20.35 WIB
https://dosenbiologi.com/makhluk-hidup/homeostasis-fisiologis[online],
diunduh pada hari Rabu, 21 Maret 2018, pkl 20.58 WIB
Kuntarti, 2009. Pengantar Fisiologi, Homeostatis, dan Dasar Biolistrik.

16