Anda di halaman 1dari 2

Sebuah Perspektif Sistem Informasi dalam Kebijakan Percepatan

Pelaksanaan Berusaha

Adnan Yumna Hananta

Tepat di penghujung bulan Agustus 2017, Presiden Joko Widodo mengeluarkan


Peraturan Presiden (Perpres) tentang percepatan pelaksanaan berusaha. Percepatan
pelaksanaan berusaha ini dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama ditargetkan mempunyai
output berupa pembentukan satuan tugas (satgas) untuk pengawalan dan penyelesaian
hambatan perizinan dalam pelaksanaan berusaha, penerapan perizinan checklist pada Kawasan
Ekonomi Khusus (KEK), Free Trade Zone (FTZ), Kawasan Industri (KI), dan Kawasan
Pariwisata (KP) dan penerapan perizinan dengan penggunaan data sharing. Sedangkan pada
tahap kedua ditargetkan mempunyai output berupa reformasi peraturan perizinan berusaha dan
penerapan sistem perizinan berusaha terintegrasi (single submission).

Tujuan utama dari kebijakan ini adalah untuk meningkatkan angka investasi asing
maupun domestik di Indonesia melalui peraturan perizinan berusaha yang mudah, cepat, dan
terintegrasi. Yang artinya, kebijakan ini membutuhkan pengintegrasian data dari banyak
kementerian/lembaga (big data). Kiranya semua orang sepakat dengan penggunaan big data
demi meningkatkan angka investasi asing maupun domestik. Namun dibalik itu semua, timbul
banyak pertanyaan terkait penggunaan big data yang dilakukan Pemerintah Indonesia. Yang
menjadi pertanyaan besar tentunya apakah infrastruktur teknologi informasi yang dimiliki
pemerintah Indonesia sudah memadai untuk menunjang penggunaan big data? Menimbang
dalam bahan kebijakan percepatan pelaksanaan berusaha disebutkan bahwa pemerintah
Indonesia dalam kurun waktu hanya lima bulan akan melakukan peningkatan infrastruktur
teknologi informasi.

Selain itu, jika dilihat dari tingkat pemerataan infrastruktur teknologi informasi, digital
divide atau disparitas penguasaan teknologi informasi di Indonesia masih cukup tinggi. Hal ini
bisa dibuktikan dari survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet
Indonesia (APJII) pada tahun 2016, sebesar 82,3 juta orang atau sekitar 65% dari total jumlah
pengguna internet aktif di Indonesia berasal dari Pulau Jawa. Artinya, hanya sekitar 35% dari
total jumlah pengguna internet aktif di Indonesia yang berasal dari luar Pulau Jawa. Hal ini
tentunya akan berdampak kepada sulitnya akses untuk melakukan integrasi data, penggunaan
single submission, pemrosesan perizinan, dan pengambilan keputusan secara tunggal (single
decision making) di pemerintahan daerah di luar Pulau Jawa.

Kesimpulannya kebijakan ini hanya akan efektif diterapkan di Pulau Jawa. Akan tetapi,
di sisi lain kebijakan ini bagus untuk merangsang pertumbuhan pembangunan infrastruktur
teknologi informasi, khususnya di luar Pulau Jawa. Selanjutnya karena penggunaan single
submission dan single decision making melibatkan data yang besar dan kolektif (big data),
Pemerintah Indonesia harus menjawab dua pertanyaan besar yang dipaparkan oleh John
Manzoni, chief executive dari United Kingdom Civil Service dalam pidatonya di Konferensi
Big Data yang dilaksanakan di London, Inggris baru-baru ini. Dua pertanyaan tersebut ialah,
bagaimana pemerintah dapat mendapatkan dan mempertahankan kepercayaan publik terkait
penggunaan big data? Dan Bagaimana pemerintah membangun kapabilitas pelayanan sipil?
Spesifiknya dalam bagaimana pemerintah mengumpulkan data, menyimpan data, memberikan
data kepada kementerian/lembaga lain, dan menggunakan data itu sendiri.

Referensi:

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Peraturan Presiden tentang Percepatan


Pelaksanaan Berusaha. Jakarta: Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian,
2017.
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Bahan Kebijakan Percepatan Pelaksanaan
Berusaha. Jakarta: Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Agustus 2017.
United Kingdom Goverment. Big data in government: the challenges and opportunities. 21
Februari 2017. https://www.gov.uk/government/speeches/big-data-in-government-
the-challenges-and-opportunities (diakses September 11, 2017).
Khairuddin, Indra. Gerbang Digital Itu Bernama BTS. 31 Agustus 2017.
http://selular.id/news/2017/08/gerbang-digital-itu-bernama-bts/ (diakses September
11, 2017).