Anda di halaman 1dari 19

UNIVERSITAS TADULAKO

FAKULTAS TEKNIK Nama : Andi Azis R


PRODI S1 TEKNIK GEOLOGI
Nim : F 121 15 001
Acara : Spehricity

1 Ѱp :
0,644 cm3
Ѱw1:
0,652 cm3

dl =5cm; di = 3,3cm; ds = 2,1cm

Dengan menggunakan klasifikasi sphericity menurut folk (1968) diperoleh range


perhitungan Ѱp dan Ѱw1 masing-masing 0,644 cm3 (subelongate) dan 0,652
cm3 (subelongate)

2 Ѱp :
0,675 cm3
Ѱw1:
0,609 cm3

dl =5,1cm; di = 2,8cm; ds = 2,1cm

Dengan menggunakan klasifikasi sphericity menurut folk (1968) diperoleh range


perhitungan Ѱp dan Ѱw1 masing-masing 0,675 cm3 (intermediate shape) dan
0,609 cm3 (elongate)
UNIVERSITAS TADULAKO
FAKULTAS TEKNIK Nama : Andi Azis R
PRODI S1 TEKNIK GEOLOGI
Acara : Spehricity Nim : F 121 15 001

3 Ѱp :
0,684 cm3
Ѱw1:
0,577 cm3

dl =4,3cm; di = 2,1cm; ds = 1,7cm

Dengan menggunakan klasifikasi sphericity menurut folk (1968) diperoleh range


perhitungan Ѱp dan Ѱw1 masing-masing 684 cm3 (intermediate shape) dan
0,577cm3 ( very elongate)

4 Ѱp :
0,736 cm3
Ѱw1:
0,678 cm3

dl = 4cm; di = 2,5cm; ds = 2cm


Dengan menggunakan klasifikasi sphericity menurut folk (1968) diperoleh range
perhitungan Ѱp dan Ѱw1 masing-masing 0,736 cm3 (equant) dan 0,678 cm3
(intermediate shape)
UNIVERSITAS TADULAKO
FAKULTAS TEKNIK Nama : Andi Azis R
PRODI S1 TEKNIK GEOLOGI
Acara : Spehricity Nim : F 121 15 001

5 Ѱp :
0,838 cm3
Ѱw1:
0,802 cm3

dl = 5,2cm; di = 4cm; ds = 3,5cm

Dengan menggunakan klasifikasi sphericity menurut folk (1968) diperoleh range


perhitungan Ѱp dan Ѱw1 masing-masing 0,838 cm3 (very equant) dan 0,802
cm3 (very equant)

6 Ѱp :
0,728 cm3
Ѱw1:
0,714 cm3

dl =5cm; di = 3,5cm; ds = 2,6cm

Dengan menggunakan klasifikasi sphericity menurut folk (1968) diperoleh range


perhitungan Ѱp dan Ѱw1 masing-masing 0,728 cm3 equant) dan 0,714 cm3
(equant)
UNIVERSITAS TADULAKO
FAKULTAS TEKNIK Nama : Andi Azis R
PRODI S1 TEKNIK GEOLOGI
Acara : Spehricity Nim : F 121 15 001

7 Ѱp :
0,724 cm3
Ѱw1:
0,734 cm3

dl =4,7cm; di = 3,5cm; ds = 2,5cm

Dengan menggunakan klasifikasi sphericity menurut folk (1968) diperoleh range


perhitungan Ѱp dan Ѱw1 masing-masing 0,724 cm3 (equant) dan 0,734 cm3
(equant)

8 Ѱp :
0,666 cm3
Ѱw1:
0,568 cm3

dl = 6,6cm; di = 3,2cm; ds = 2,5cm

Dengan menggunakan klasifikasi sphericity menurut folk (1968) diperoleh range


perhitungan Ѱp dan Ѱw1 masing-masing 0,666 cm3 (intermediate shape) dan
0,568 cm3 (very elongate)
UNIVERSITAS TADULAKO
FAKULTAS TEKNIK Nama : Andi Azis R
PRODI S1 TEKNIK GEOLOGI
Acara : Spehricity Nim : F 121 15 001

9 Ѱp :
0,658 cm3
Ѱw1:
0,759 cm3

dl = 4cm; di = 3,5cm; ds = 2cm

Kesimpulan :
Dengan menggunakan klasifikasi sphericity menurut folk (1968) diperoleh range
perhitungan Ѱp dan Ѱw1 masing-masing 0,658 cm3 (subelongate) dan 0,759
cm3 (very equant)

10 Ѱp :
0,795 cm3
Ѱw1:
0,828 cm3

dl =4,4cm; di = 3,8cm; ds = 2,9cm

Kesimpulan :
Dengan menggunakan klasifikasi sphericity menurut folk (1968) diperoleh range
perhitungan Ѱp dan Ѱw1 masing-masing 0,795 cm3 (very equant) dan 0,828
cm3 (very equant)
UNIVERSITAS TADULAKO
FAKULTAS TEKNIK Nama : Andi Azis R
PRODI S1 TEKNIK GEOLOGI
Acara : Spehricity Nim : F 121 15 001

11 Ѱp :
0,637 cm3
Ѱw1:
0,627 cm3

dl =5,5cm; di = 3,4cm; ds = 2,2cm

Kesimpulan :
Dengan menggunakan klasifikasi sphericity menurut folk (1968) diperoleh range
perhitungan Ѱp dan Ѱw1 masing-masing 0,637 cm3 (subelongate) dan 0,627
cm3 (elongate)

12 Ѱp :
0,643 cm3
Ѱw1:
0,558 cm3

dl =4cm; di = 3,1cm; ds = 2,3cm

Kesimpulan :
Dengan menggunakan klasifikasi sphericity menurut folk (1968) diperoleh range
perhitungan Ѱp dan Ѱw1 masing-masing 0,643 cm3 (subelongate) dan 0,558
cm3 (very elongate)
UNIVERSITAS TADULAKO
FAKULTAS TEKNIK Nama : Andi Azis R
PRODI S1 TEKNIK GEOLOGI
Acara : Spehricity Nim : F 121 15 001
:
13 Ѱp :
0,573 cm3
Ѱw1:
0,610 cm3

dl = 4cm; di = 2,6cm; ds = 1,4cm

Kesimpulan :
Dengan menggunakan klasifikasi sphericity menurut folk (1968) diperoleh range
perhitungan Ѱp dan Ѱw1 masing-masing 0,573 cm3 (very elongate) dan 0,610
cm3 (equent)

14 Ѱp :
0,593 cm3
Ѱw1:
0,654 cm3

dl =3,6cm; di = 2,6cm; ds = 1,4cm

Kesimpulan :
Dengan menggunakan klasifikasi sphericity menurut folk (1968) diperoleh range
perhitungan Ѱp dan Ѱw1 masing-masing 0,593 cm3 (very elongate) dan 0,654
cm3 (subelongate)
UNIVERSITAS TADULAKO
FAKULTAS TEKNIK Nama : Andi Azis R
PRODI S1 TEKNIK GEOLOGI
Acara : Spehricity Nim : F 121 15 001

15 Ѱp :
0,575 cm3
Ѱw1:
0,720 cm3

dl = 4,1cm; di = 3,7cm; ds = 1,7cm

Kesimpulan :
Dengan menggunakan klasifikasi sphericity menurut folk (1968) diperoleh range
perhitungan Ѱp dan Ѱw1 masing-masing 0,575 cm3 (very elongate) dan 0,720
cm3 (equant)

16 Ѱp :
0,608 cm3
Ѱw1:
0,712 cm3

dl = 3cm; di = 2,5cm; ds = 1,3cm

Kesimpulan :
Dengan menggunakan klasifikasi sphericity menurut folk (1968) diperoleh range
perhitungan Ѱp dan Ѱw1 masing-masing 0,608 cm3 (elongate) dan 0,712 cm3
(subequant)
UNIVERSITAS TADULAKO
FAKULTAS TEKNIK Nama : Andi Azis R
PRODI S1 TEKNIK GEOLOGI
Acara : Spehricity Nim : F 121 15 001

17 Ѱp :
0,486 cm3
Ѱw1:
0,620 cm3

dl = 5,3cm; di = 4,2cm; ds = 1,6cm

Kesimpulan :
Dengan menggunakan klasifikasi sphericity menurut folk (1968) diperoleh range
perhitungan Ѱp dan Ѱw1 masing-masing 0,486 cm3 (very elongate) dan 0,620
cm3 (elongate)

18 Ѱp :
0,468 cm3
Ѱw1:
0,640 cm3

dl = 4cm; di = 3,5cm; ds = 1,2cm

Kesimpulan :
Dengan menggunakan klasifikasi sphericity menurut folk (1968) diperoleh range
perhitungan Ѱp dan Ѱw1 masing-masing 0,468 cm3 (very elongate) dan 0,640
cm3 (subelongate)
UNIVERSITAS TADULAKO
FAKULTAS TEKNIK Nama : Andi Azis R
PRODI S1 TEKNIK GEOLOGI
Acara : Spehricity Nim : F 121 15 001

19 Ѱp :
0,457 cm3
Ѱw1:
0,571 cm3

dl =4,2cm; di = 3cm; ds = 1,7cm

Kesimpulan :
Dengan menggunakan klasifikasi sphericity menurut folk (1968) diperoleh range
perhitungan Ѱp dan Ѱw1 masing-masing 0,457 cm3 (very elongate) dan 0,571
cm3 (very elongate)

20 Ѱp :
0,612 cm3
Ѱw1:
0,661 cm3

dl = 4,2cm; di = 3cm; ds = 1,7cm

Kesimpulan :
Dengan menggunakan klasifikasi sphericity menurut folk (1968) diperoleh range
perhitungan Ѱp dan Ѱw1 masing-masing 0,612cm3 (elongate) dan 0,661 cm3
(intermediate shape)
UNIVERSITAS TADULAKO
FAKULTAS TEKNIK Nama : Andi Azis R
PRODI S1 TEKNIK GEOLOGI
Acara : Spehricity Nim : F 121 15 001

21 Ѱp :
0,548 cm3
Ѱw1:
0,683 cm3

dl = 4cm; di = 3,4cm; ds = 1,5cm

Kesimpulan :
Dengan menggunakan klasifikasi sphericity menurut folk (1968) diperoleh range
perhitungan Ѱp dan Ѱw1 masing-masing 0,548 cm3 (very elongate) dan 0,683
cm3 (intermediate shape)

22 Ѱp :
0,730 cm3
Ѱw1:
0,770cm3

dl = 3,2cm; di = 2,6cm; ds = 1,8cm

Kesimpulan :
Dengan menggunakan klasifikasi sphericity menurut folk (1968) diperoleh range
perhitungan Ѱp dan Ѱw1 masing-masing 0,730 cm3 (equant) dan 0,770 cm3
(very equant)
UNIVERSITAS TADULAKO
FAKULTAS TEKNIK Nama : Andi Azis R
PRODI S1 TEKNIK GEOLOGI
Acara : Spehricity Nim : F 121 15 001
:
23 Ѱp :
0,426 cm3
Ѱw1:
0,545 cm3

dl = 4,3cm; di = 3cm; ds = 1cm

Kesimpulan :
Dengan menggunakan klasifikasi sphericity menurut folk (1968) diperoleh range
perhitungan Ѱp dan Ѱw1 masing-masing 0,426 cm3 (very elongate) dan 0,545
cm3 (very elongate)

24 Ѱp :
0,540 cm3
Ѱw1:
0,548 cm3

dl = 5,4cm; di = 3cm; ds = 1,6cm

Kesimpulan :
Dengan menggunakan klasifikasi sphericity menurut folk (1968) diperoleh range
perhitungan Ѱp dan Ѱw1 masing-masing 0,540 cm3 (very elongate) dan 0,548
cm3 (very elongate)
UNIVERSITAS TADULAKO
FAKULTAS TEKNIK Nama : Andi Azis R
PRODI S1 TEKNIK GEOLOGI
Acara : Spehricity Nim : F 121 15 001

25 Ѱp :
0,570 cm3
Ѱw1:
0,609 cm3

dl = 4,6cm; di = 3cm; ds = 1,6cm

Kesimpulan :
Dengan menggunakan klasifikasi sphericity menurut folk (1968) diperoleh range
perhitungan Ѱp dan Ѱw1 masing-masing 0,570 cm3 very elongate) dan 0,609
cm3 (elongate)
UNIVERSITAS TADULAKO
FAKULTAS TEKNIK Nama : Andi Azis R
PRODI S1 TEKNIK GEOLOGI
Acara : Spehricity Nim : F 121 15 001

I. Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui ukuran suatu butir
mendekati bentuk bola atausphericity.

II. Alat dan Bahan


- Pensil
- Penghapus
- Spidol
- Mistar
- Millimeter blok

III. Langkah kerja


Penentuan sphericityButiran
- Gunakan data 25 fragmen dari batuan konglomerat
- Lakukan sketsa masing – masing fragmen untuk menunjukan
kenampakan tiga dimensi
- Lakukan pengamatan dengan menentukan sumbu panjang, sumbu
pendek, dan sumbu menengah dari sketsa krikil tersebut.
- Hitung panjang masing masing sumbu
- Lalu hitung nila sphericity dengan menggunakan rumus yang telah
ditentukan.
IV. TinjauanPustaka
Sphericity (ψ) didefinisikan secara sederhana sebagai ukuran bagaimana
suatu butiran mendekati bentuk bola. Dengan demikian, semakin butiran
berbentuk menyerupai bola maka mempunyai nilai sphericity yang
semakin tinggi. Wadell (1932) mendefinisikan sphericity yang
sebenarnya (true sphericity) sebagai luas permukaan butir dibagi dengan
luas permukaan sebuah bola yang keduanya mempunyai volume sama.
Namun demikian, Lewis & McConchie (1994) mengatakan bahwa
rumusan ini sangat sulit untuk dipraktekkan. sebagai pendekatan,
perbandingan luas permukaan tersebut dianggap sebanding dengan
perbandingan volume, sehingga rumus sphericity menurut Wadell (1932)
adalah

Dimana Vp: volume butiran yang diukur dan Vcs: volume terkecil suatu bola
yang melingkupi partikel tersebut (circumscribing sphere). Krumbein (1941)
kemudian menyempurnakan persamaan tersebut dengan memberikan nilai
volume bola dengan π/6D3, dimana D adalah diameter bola. Dengan
menggunakan asumsi bahwa butiran secara tiga dimensi dapat diukur panjang
sumbu-sumbunya, maka diameter butiran dijabarkan dalam bentuk DL, DI,
dan DS, dimana L, I, S menunjukkan sumbu panjang, menengah, dan pendek.
Setelah memasukkan niali pada perhitungan Wadell, maka sphericity dapat
dirumuskan sebagai berikut:

Rumusyang diajukan Krumbein (1941) ini disebut dengan intercept


sphericity (ψ1) yang dapat dihitung dengan mengukur sumbu-sumbu
panjang, menengah dan pendek suatu partikel dan memasukkan pada rumus
tersebut. Sneed & Folk (1958) menganggap bahwa intercept sphericity tidak
dapat secara tepat menggambarkan perilaku butiran ketika diendapkan.
Butiran yang dapat diproyeksikan secara maksimum mestinya diendapkan
lebih cepat, misalnya bentuk prolate seharusnya lebih cepat mengendap
dibandingkan oblate, tetapi dengan rumus W, justru didapatkan nilai yang
terbalik. Untuk itu mereka mengusulkan rumusan tersendiri pada sphericity
yang dikenal dengan maximumprojection sphericity (Vp) atau sphericity
proyeksi maksimum.
Secara matematis Wp dirumuskan sebagai perbandingan antara area proyeksi
maksimum bola dengan proyeksi maksimum partikel yang mempunyai
volume sama, atau secara ringkas dapat ditulis dengan:

Dalam hal ini L, I dan S adalah sumbu-sumbu panjang, menengah clan


pendek sebagaimana dalam rumus Krumbein (1941). Menurut Boggs (1987),
pada prinsipnya rumus yang diajukan oleh Sneed & Folk (1958) ini tidak
lebih valid dibandingkan dengan intercept sphericity, terutama kalau
diaplikasikan pada sedimen yang diendapkan oleh aliran gravitasi dan es.
Dengan tanpa mempertimbangkan bagaimana sphericity dihitung, Boggs
(1987) menyatakan bahwa hasil perhitungan sphericity yang sama terkadang
dapat diperoleh pada semua bentuk butir. Partikel dengan bentuk yang
berbeda bisa mempunyai nilai sphericity yang sama. Untuk mendefinisikan
sphericity dari hitungan matematis, Folk (1968) mengelaskan sphericity
dalam 7 kelas sebagaimana ditunjukkan dalam Tabel II.2.
Bentuk butir ukuran kerakal atau yang lebih besar dipengaruhi oleh bentuk
asalnya dari batuan cumber, namun demikian butiran dengan ukuran ini akan
lebih banyak mengalami perubahan bentuk karena abrasi dan pemecahan
selama transportasi dibandingkan dengan butiran yang berukuran pasir.
Untuk butiran sedimen yang berukuran pasir atau lebih kecil, bentuk butir
juga lebih banyak dipengaruhi oleh bentuk asal mineralnya.
Pada prakteknya, analisis bentuk butir pada sedimen yang berukuran pasir
biasanya dilakukan pada mineral kuarsa. Hal ini disebabkan sifat mineral
kuarsa yang keras, tahan terhadap pelapukan, clan jumlahnya yang melimpah
pada batuan sedimen. Namun demikian, untuk membuat perbandingan
bentuk butiran setelah mengalami transportasi, pengamatan bentuk butir pada
mineral lain maupun fragmen batuan (lithic) boleh juga dilakukan.

Bentuk butir akan berpengaruh pads kecepatan pengendapan (settling


velocity). Secara umum batuan yang bentuknya tidak spheris (tidak
menyerupai bola) mempunyai kecepatan pengendapan yang lebih rendah.
Dengan demikian bentuk butir akan mempengaruhi tingkat transportasinya
pads sistem suspensi (Boggs, 1987). Butiran yang tidak spheris cenderung
tertahan iebih lama pads media suspensi dibandingkan yang spheris. Bentuk
jugs berpengaruh pads transportasi sedimen secara bedlood (traksi).
Secara umum butiran yang spheris clan prolate lebih mudah tertransport
dibandingKan bentuk blade clandisc(oblate).Lebih jauh analisis sedimen
berdasarkan butiran saja sulit untuk dilakukan. Sebagai contoh, Boggs (1987)
menyatakan bahwa dari pengamatan bentuk butir saja tidak aapat digunakan
untuk menafsirkan suatu lingkungan pengendapan.
Tabel Perhitungan