Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

Proses audit akan menghasilkan sebuah laporan audit. Menurut IAI (1994), laporan audit
adalah suatu sarana bagi auditor untuk menyatakan pendapatnya atau apabila keadaan
mengharuskan, untuk menyatakan tidak memberikan pendapat, sebagai pihak yang independen,
auditor tidak dibenarkan untuk memihak kepentingan siapapun dan untuk tidak mudah
dipengaruhi, serta harus bebas dari setiap kewajiban terhadap kliennya dan memiliki suatu
kepentingan dengan kliennya. Jadi laporan audit berisi tentang opini auditor yang merupakan
pernyataan kewajaran, dalam semua hal yang material, posisi keuangan dan hasil usaha dan arus
kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.

Audit laporan keuangan memainkan peran yang sangat diperlukan dalam ekonomi pasar
bebas. Audit laporan keuangan merupakan bagian terpenting dari berbagai assurance services.
Beberapa tanggung jawab auditor termasuk untuk mendeteksi dan melaporkan kecurangan,
melaporkan tindakan melanggar hukum yang dilakukan klien, serta melaporkan apabila terdapat
ketidakpastian tentang kemampuan entitas untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya.

Dalam makalah ini akan membahas mengenai sub pokok bahasan yang meliputi :

1. Tipe Opini Auditor


2. Laporan Audit Bentuk Baku
3. Persyaratan Lain : Kepatuhan terhadap PSAK, Konsistensi dan Pengungkapan yang
Memadai
BAB II
PEMBAHASAN

TIPE OPINI AUDITOR

Opini yang terdapat dalam laporan audit sangat penting sekali dalam proses audit atapun
proses atestasi lainnya karena opini tersebut merupakan informasi utama yang dapat
diinformasikan kepada pemakai informasi tentang apa yang dilakukan auditor dan kesimpulan
yang diperolehnya. Berdasarkan standar professional akuntan publik seksi 508, pendapat auditor
dikelompokkan ke dalam lima tipe, yaitu :

1. Pendapat wajar tanpa pengecualian

Pendapat ini dikeluarkan auditor jika tidak adanya pembatasan terhadap auditor dalam
lingkup audit dan tidak ada pengecualian yang signifikan mengenai kewajaran dan penerapan
standar akutansi keuangan dalam laporan keuangan disertai dengan pengungkapan yang
memadai dalam laporan keuangan. Laporan audit tipe ini merupakan laporan yang paling
diharapkan dan dibutuhkan oleh semua pihak. Baik oleh klien maupun oleh auditor.

Ada beberapa kondisi laporan keuangan yang harus dipenuhi untuk menilai laporan keuangan
yang dianggap menyajikan secara wajar kepada posisi keuangan dan hasil suatu organisasi agar
sesuai dengan standar akuntansi keuangan yaitu:

 Standar akuntansi keuangan digunakan sebagai pedoman untuk menyusun laporan


keuangan,
 Perubahan standar akuntansi keuangan dari periode ke periode telah cukup dijelaskan.
 Informasi dalam catatan-catatan yang mendukungnya telah digambarkan dan dijelaskan
dengan cukup dalam laporan keuangan, sesuai dengan standar akuntansi keuangan.

2. Pendapat wajar tanpa pengecualian dengan paragraf penjelas


Suatu paragraf penjelas dalam laporan audit diberikan oleh auditor dalam keadaan tertentu yang
mungkin mengharuskannya melakukan hal tersebut, meskipun tidak mempengaruhi pendapat
wajar tanpa pengecualian atas laporan keuangan.

3. Pendapat wajar dengan pengecualian

Ada beberapa kondisi yang mengharuskan seorang auditor memberikan pendapat wajar dengan
pengecualian, diantaranya yaitu :

 Klien membatasi ruang lingkup audit


 Kondisi-kondisi yang ada diluar kekuasaan klien ataupun auditor menyebabkan auditor
tidak dapat melaksanakan prosedur audit penting
 Laporan keuangan tidak disusun berdasarkan standar akuntansi keuangan
 Ketidakkonsistenan penerapan standar akuntansi keuangan yang digunakan dalam
menyusun laporan keuangan

4. Pendapat tidak wajar

Pendapat ini merupakan kebalikan dari pendapat wajar tanpa pengecualian. Auditor memberikan
pendapat tidak wajar jika laporan keuangan klien tidak menyajikan secara wajar posisi keuangan,
hasil usaha, perubahan ekuitas dan arus kas perusahaan klien. Hal ini disebabkan karena laporan
keuangan tidak disusun berdasar standar akuntansi keuangan. Selain itu pendapat tidak wajar
disebabkan karena ruang lingkup auditor dibatasi sehingga bukti kompeten yang cukup untuk
mendukung pendapatnya tidak dapat dikumpulkan. Jika laporan keuangan diberi pendapat tidak
wajar oleh auditor maka informasi yang disajikan klien dalam laporan keuangan sama sekali
tidak dapat dipercaya, sehingga tidak dapat dipakai oleh pemakai informasi keuangan untuk
pengambilan keputusan.

5. Pernyataan tidak memberikan pendapat

Jika auditor tidak memberikan pendapat atas objek audit, maka laporan ini disebut lampiran
tanpa pendapat (adverse opinion). Hal ini disebabkan beberapa kondisi, yaitu adanya pembatasan
yang sifatnya luar biasa terhadap lingkungan auditnya, kemudian karena auditor tidak
independen dalam hubungan dengan kliennya. Perbedaan antara pernyataan tidak memberikan
pendapat dengan pendapat tidak wajar adalah pendapat tidak wajar ini diberikan dalam keadaan
auditor mengetahui adanya ketidakwajaran dalam laporan keuangan klien, sedangkan auditor
menyatakan tidak memberikan pendapat (no opinion) karena ia tidak cukup memperoleh bukti
mengenai kewajaran laporan keuangan auditan atau karena ia tidak independen dalam
hubungannya dengan klien.

LAPORAN AUDIT BENTUK BAKU

Laporan audit adalah media formal yang digunakan oleh auditor dalam mengkomunikasikan
kepada pihak yang berkepentingan tentang kesimpulan atas laporan keuangan yang diaudit.
Dalam menerbitkan laporan audit, auditor harus memenuhi empat standar pelaporan yang
ditetapkan dalam standar auditing yang berlaku umum.

Laporan Standar

Suatu laporan standar merupakan laporan yang lazim diterbitkan. Laporan ini memuat
pendapat wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion) yang menyatakan bahwa laporan
keuangan menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha,
dan arus kas entitas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Mengingat pentingnya
audit laporan keuangan, maka pemahaman yang mendasar tentang bentuk dan isi laporan standar
menjadi sangat penting.

Paragraf Pendahuluan

Paragraf pendahuluan (introductory paragraph) membuat tiga penyataan faktual. Tujuan utama
paragraf ini adalah untuk membedakan tanggung jawab manajemen dan tanggung jawab auditor.

Kami telah mengaudit … neraca … Perusahaan Y … untuk tahun-tahun yang berakhir pada
tanggal tersebut.

Kalimat pada paragraf pertama seperti di atas menunjukkan bahwa auditor telah mengaudit
laporan keuangan tertentu dari perusahaan yang ditunjuk. Setiap laporan keuangan disebutkan
satu per satu berikut tanggal penerbitan setiap tanggal penerbitan setiap laporan keuangan
tersebut.

Laporan keuangan adalah tanggung jawab manajemen.

Kalimat di atas menegaskan bahwa tanggung jawab atas laporan keuangan terletak di tangan
manajemen.

Tanggung jawab kami adalah menyatakan … berdasarkan auditor kami.

Kalimat di atas secara khusus menunjukkan tanggung jawab auditor. Auditor berperan untuk
melaksanakan audit dan menyatakan pendapat berdasarkan temuan-temuan.

Paragraf Ruang Lingkup

Paragraf ruang lingkup menguraikan sifat dan lingkup audit. Paragraf ruang lingkup audit
menunjukkan dengan jelas sifat yang dilakukan dan menunjukkan beberapa keterbatasan audit.
Kalimat dalam paragraf ini adalah :

Kami melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang berlaku umum.

Kalimat ini menjelaskan bahwa auditor telah memenuhi standar yang digunakan. Namun,
sumber standar apakah berasal dari AICPA atau standar yang bersifat spesifik tidak disebutkan.

Standar tersebut mengharuskan kami … audit agar memperoleh keyakinan yang memadai
… laporan keuangan bebas dari salah saji material.

Kalimat di atas menunjukkan dua keterbatasan penting suatu audit, yaitu : pemberitahuan bahwa
auditor hanya mencari keyakinan yang memadai saja, bukan keyakinan yang absolut dan
memperkenalkan konsep mateialitas.

Suatu audit meliputi pemeriksaan, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung … laporan
keuangan.

Kalimat di atas menunjukkan lebih jauh sifat audit.


Audit juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi … estimasi signifikan … penilaian terhadap
penyajian laporan keuangan secara keseluruhan.

Kalimat di atas menyebutkan bahawa auditor menggunakan pertimbangan dalam menilai dan
mengevaluasi respresentasi laporan keuangan manajemen dan juga menunjukkan bahwa laporan
keuangan tidak seluruhnya disadarkan fakta.

Kami yakin bahwa audit kami memberikan dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat.

Kalimat di atas mengatakan bahwa hanya dasar yang memadai saja yang diperlukan untuk
memberikan pendapat.

Paragraf Pendapat

Paragraf pendapat memenuhi (opinion paragraph) memenuhi empat standar pelaporan. Kalimat
paragraf pendapat dijelaskan sebagai berikut.

Menurut pendapat kami, laporan keuangan yang kami sebut di atas …

Dalam menafsirkan arti dan pentingnya kalimat ini, hendaknya disimpulkan bahwa pendapat
tersebut dinyatakan oleh orang atau orang-orang yang professional, berpengalaman, dan ahli.
Bagian kedua dari kalimat tersebut berkaitan dengan laporan keuangan yang disebutkan dalam
paragraf pendahuluan: sehingga judul setiap laporan tidak diulang kembali. Pernyataan pendapat
memenuhi keempat standar pelaporan.

… menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material … posisi keuangan

… hasil usaha dan arus kas …

Pendapat wajar tanpa pengecualian menyatakan kepercayaan auditor bahwa laporan keuangan
mancapai tujuan yang ditetapkan dengan menyajikan secara wajar posisi keuangan (neraca)
entitas, hasil usaha (laporan rugi-laba dan laporan laba ditahan), serta arus kas (laporan arus kas).

… sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum …


Kalimat ini memenuhi setandar pelaporan pertama yang menyatakan bahwa laporan harus
menunjukkan apakah laporan keuangan disusun sesuai dengan GAAP.

Standar pelaporan kedua dan ketiga mensyaratkan komentar dalam laporan auditor hanya jika
terdapat ketidakkonsistenan dalam penerapan GAAP atau manajemen gagal mengungkapkan
sesuatu yang wajib diungkapkan. Oleh karena itu, dengan tidak adanya komentar atas hal ini
dalam laporan auditor, dapat disimpulkan bahwa kedua standar pelaporan tersebut telah
terpenuhi.

Penyimpangan dari Laporan Standar

Dalam praktik, dapat muncul kondisi-kondisi tertentu yang tidak memungkinkan auditor
menerbitkan laporan standar. Penyimpangan dari laporan standar tergolong dalam salah satu dari
dua kategori berikut ini :

– Laporan standar dengan bahasa penjelasan

Karakteristik berbeda yang ada dalam kategori jenis laporan ini adalah bahwa paragraf pendapat
tetap menyatakan pendapat wajar tanpa pengecualian (unqualified), karena laporan keuangan
sesuai dengan GAAP. Namun terdapat beberapa kondisi yang mengharuskan auditor
menambahkan paragraf penjelasan (explanatory paragraph) atau bahasa penjelasan lain pada
laporan standar. Biasanya informasi penjelasan diletakkan ada paragraf penjelasan yang
mengikuti paragraf pendapat.

– Jenis-jenis pendapat lain

Kategori kedua penyimpangan dari laporan standar adalah apabila terjadi salah satu kondisi
berikut ini :

 Laporan standar mengandung penyimpangan yang material dan GAAP.


 Auditor tidak mampu mandapatkan bukti kompeten yang cukup berkenaan dalam satu
atau lebih asersi manajemen, sehingga tidak memiliki dasar yang memadai untuk
memberikan pendapat wajar tanpa pengecualian atas laporan keuangan secara
keseluruhan.
Dalam hal ini, auditor akan menyatakan salahsatu pendapat dari jenis pendapat berikut ini :

 Pendapat wajar dengan pengecualian (qualified opinion)


 Pendapat tidak wajar (adverse opinion)
 Menolak memberikan pendapat (disclaimer of opinion)

Penyimpangan dari GAAP, meliputi prinsip akuntansi yang tidak berlaku umum, penerapan
GAAP yang salah, dan kegagalan untuk membuat pengungkapan yang diwajibkan oleh GAAP.
Pada kondisi dimana auditor tidak mampu mendapatkan bukti kompeten yang cukup
membuktikan apakah satu atau lebih asersi sesuai dengan GAAP atau tidak, dikenal dengan
istilah pembatasan lingkup (scope limitations). Dalam hal ini, auditor akan memberikan
pendapat wajar dengan pengecualian atau menolak memberikan pendapat. Penolakan untuk
memberikan pendapat hanya digunakan jika terdapat pembatasan lingkup yang berkaitan dengan
masalah yang dapat memberikan dampak sangat material terhadap laporan keuangan.

KEPATUHAN TERHADAP STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN

Standar pelaporan pertama menyatakan : “Laporan audit harus menyatakan apakah laporan
keuangan telah disusun sesuai dengan standar keuangan di Indonesia.”

Standar pelaporan pertama tidak mengharuskan auditor untuk menyatakan tentang fakta
(statement of fact), namun standar tersebut mengharuskan auditor untuk menyatakan suatu
pendapat menegnai apakah laporan keuangan telah disajikan sesuai prinsip akuntansi tersebut.
Istilah “standar akuntansi keuangan di Indonesia” adalah suatu istilah teknis akuntansi yang
mencakup konvensi, aturan, dan prosedur yang diperlukan untuk membatasi praktik akuntansi
yang berlaku umum di wilayah tertentu pada saat tertentu. Standar pelaporan pertama akan
terpenuhi dengan cara mengungkapkan dalam laporan auditor apakah laporan keuangan telah
disajikan sesuai dengan standar akuntansi keuangan di Indonesia.

KONSISTENSI PENERAPAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN

Standar pelaporan kedua (standar konsistensi) berbunyi : “Laporan auditor harus menunjukkan,
jika ada, ketidakkonsistensian penerapan prinsip akuntansi dalam penyusunan laporan
keuangan periode berjalan dibandingkan dengan penerapan prinsip akuntansi tersebut dalam
periode sebelumnya.”

Tujuan standar konsistensi adalah untuk memberikan jaminan bahwa jika daya banding laporan
keuangan di antara dua periode dipengaruhi secara material oleh perubahan prinsip akuntansi,
auditor akan mengungkapkan perubahan tersebut dalam laporannya. Standar pelaporan secara
tersirat mengandung arti bahwa auditor puas bahwa daya banding laporan keuangan di antara
dua periode dipengaruhi secara material oleh perubahan prinsip akuntansi dan bahwa prinsip
akuntansi tersebut telah diterapkan secara konsisten diantara dua atau lebih periode akuntansi
baik karena (1) tidak terjadi perubahan prinsip, atau (2) terdapat perubahan prinsip akuntansi
atau metode penerapannya, namun dampak perubahan prinsip akuntansi terhadap daya banding
laporan keuangan tidak material.

Perbandingan laporan keuangan suatu entitas di antara beberapa periode dapat dipengaruhi oleh
(a) perubahan akuntansi, (b) kesalahan dalam laporan keuangan yang diterbitkan sebelumnya, (c)
perubahan penggolongan, dan (d) peristiwa atau transaksi yang sangat berbeda dengan yang
dipertanggungjawabkan dalam pelaporan keuangan yang disajikan dalam periode sebelumnya.

Perubahan dalam prinsip akuntansi yang mempunyai pengaruh material atas laporan keuangan
memerlukan penjelasan dalam laporan auditor independen dengan cara menambahkan paragraf
penjelasan.

PENGUNGKAPAN MEMADAI DALAM LAPORAN KEUANGAN

Standar pelaporan ketiga berbunyi : “Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus
dipandang memadai, kecuali dinyatakan lain dalam laporan auditor.”

Penyajian laporan keuangan sesuai dengan standar akutansi keuangan di Indonesia mencakup
dimuatnya pengungkapan informatif yang memadai atas hal-hal material. Hal-hal tersebut
mencakup bentuk, susunan, dan isi laporan keuangan, serta catatan atas laporan keuangan, yang
meliputi, sebagai contoh, istilah yang digunakan, rincian yang dibuat, penggolongan unsur dalam
laporan keuangan, dan dasar-dasar yang digunakan untuk menghasilkan jumlah yang
dicantumkan dalam laporan keuangan.
Jika manajemen menghilangkan informasi yang seharusnya diungkapkan sesuai dengan standar,
auditor harus memberikan pendapat wajar dengan pengecualian atau pendapat tidak wajar karena
alasan tersebut dan harus memberikan informasi cukup dalam laporannya.

BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan standar professional akuntan publik seksi 508, pendapat auditor dikelompokkan ke
dalam lima tipe, yaitu :

1. Pendapat wajar tanpa pengecualian


2. Pendapat wajar tanpa pengecualian dengan paragraf penjelas
3. Pendapat wajar dengan pengecualian
4. Pendapat tidak wajar
5. Pernyataan tidak memberikan pendapat
Dalam menerbitkan laporan audit, auditor harus memenuhi empat standar pelaporan yang
ditetapkan dalam standar auditing yang berlaku umum.
– Paragraf pendahuluan
– Paragraf ruang lingkup
– Paragraf pendapat
– Laporan standar dengan bahasa penjelasan
DAFTAR PUSTAKA

Arens, Alvin A, Randal J Elder dan Mark S Beasley. 2004. Auditing dan Pelayanan Verifikasi:
Pendekatan Terpadu. Edisi Kesembilan. Jakarta: Indeks.

Ikatan Akuntan Publik. 2006. Standar Profesional Akuntan Publik-SPAP

Boynton, Johson, Kell. 2006. Modern Auditing. Wiley and Sons