Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Stroke merupakan penyebab kematian ketiga di dunia setelah penyakit

jantung koroner dan kanker baik di negara maju maupun negara berkembang. Satu

dari 10 kematian disebabkan oleh stroke.( American Heart Association, 2014).

Secara global, 15 juta orang terserang stroke setiap tahunnya, satu pertiga

meninggal dan sisanya mengalami kecacatan permanen. WHO (2010)

mendefinisikan stroke adalah manifestasi klinis dari gangguan fungsi otak, baik

fokal maupun global (menyeluruh), yang berlangsung cepat, berlangsung lebih

dari 24 jam atau sampai menyebabkan kematian, tanpa penyebab lain selain

gangguan vaskuler. Gejala stroke yang muncul sangat bergantung pada bagian

otak yang terganggu, gejala kelemahan sampai kelumpuhan anggota gerak, bibir

tidak simetris, bicara pelo atau tidak dapat berbicara (afasia), nyeri kepala,

penurunan kesadaran, dan gangguan rasa (misalnya kebas di salah satu anggota

gerak). Sedangkan stroke yang menyerang cerebellum akan memberikan gejala

pusing berputar (vertigo) (Pinzon dan Laksmi, 2010).

Menurut WHO, setiap tahun 15 juta orang di seluruh dunia mengalami stroke.

Sekitar lima juta menderita kelumpuhan permanen. Di kawasan Asia tenggara

terdapat 4,4 juta orang mengalami stroke (WHO, 2010). Pada tahun 2020

diperkirakan 7,6 juta orang akan meninggal dikarenakan penyakit stroke ini
(Misbach, 2010. Menurut penelitian Badan Pusat Statistik [BPS] pada tahun 2013,

prevalensi penyakit stroke di Indonesia pada kelompok yang didiagnosis oleh

nakes gejala meningkat seiring dengan bertambahnya umur, tertinggi pada umur

≥75 tahun yaitu, laki-laki sebanyak 43,1% dan perempuan sebanyak 67,0%.

Yayasan Stroke Indonesia (YASTROKI) menyebutkan angka kejadian stroke

menurut data rumah sakit sekitar 63 per 100.000 penduduk usia diatas 65 tahun

terserang stroke. Sedangkan penderita yang meninggal dunia lebih dari 125.000

per tahun. Secara umum dapat dikatakan setiap hari ada dua orang Indonesia yang

terkena serangan stroke. Angka yang tinggi ini menempatkan Indonesia sebagai

negara dengan jumlah penderita stroke terbesar di Asia. Di Kalimantan Barat pada

penelitian Fortunata dkk menyebutkan hasil yang didapatkan pada periode

Januari-Desember tahun 2012 terdapat 204 kasus stroke, 167 kasus (81,86%)

merupakan stroke infark, dan sisanya 37 kasus (18,14%) merupakan stroke

perdarahan.

Stroke dibedakan menjadi dua yaitu stroke infark (non haemoragik) dan

stroke haemoragik. Pada stroke infark, aliran darah ke otak terhenti karena

arterosklerotik atau bekuan darah yang telah menyumbat suatu pembuluh darah,

melalui proses arterosklerosis. Pada stroke haemoragik, pembuluh darah pecah

sehingga aliran darah menjadi tidak normal dan darah yang ke luar merembes

masuk ke dalam suatu daerah diotak dan merusaknya. Kurangnya aliran darah ke

otak akan menyebabkan serangkaian reaksi biokimia yang dapat merusak atau

mematikan sel-sel otak, kematian jaringan otak ini dapat menyebabkan hilangnya

fungsi yang dikendalikan oleh jaringan tersebut.


Risiko terjadinya stroke meningkat seiring dengan berat dan banyaknya faktor

risiko. Faktor risiko yang dapat dimodifikasi pada penyakit stroke diantaranya

adalah riwayat stroke, hipertensi, penyakit jantung, diabetes melitus, penyakit

karotis asimptomatis, transient ischemic attack, hiperkolesterolemia, obesitas,

merokok, alkoholik, penggunaan narkotik, antibodi antifosfolipid, sedangkan

faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi yaitu umur, jenis kelamin, herediter,

dan ras/etnis (Misbach dkk., 2004)

Tekanan darah merupakan tekanan yang dialami pembuluh arteri ketika darah

di pompa oleh jantung ke seluruh anggota tubuh manusia. Tekanan darah semakin

meningkat dengan bertambahnya usia. Menurut klasifikasi Joint National.

Comittee VII (JNC VII) batas tekanan darah tinggi yaitu 140/90 mmHg atau

lebih.8 Insidensi terjadinya komplikasi berbanding lurus dengan meningkatnya

tekanan darah. Tekanan darah tinggi jangka panjang akan meningkatkan risiko

kerusakan organ target, seperti penyakit serebrovaskular (stroke hemoragik dan

iskemik), penyakit vaskuler (penyakit jantung koroner), hipertrofi ventrikel kiri

dan gagal ginjal.9

Tekanan darah tinggi tidak terkontrol dapat menyebabkan sekitar 50%

kejadian stroke karena dapat menimbulkan terjadinya oklusi aliran darah (stroke

infark ) dan meningkatkan risiko perdarahan otak (stroke hemoragik).10 Hampir

70% kasus stroke hemoragik terjadi pada penderita hipertensi. Berdasarkan latar

belakang di atas, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui perbandingan

variabilitas tekanan darah (VTD) pada kejadian stroke iskemik dengan stroke

hemoragik di RSUD Ulin Banjarmasin.


B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang akan diteliti adalah apakah terdapat perbandingan

variabilitas tekanan darah pada pasien stroke iskemik dengan stroke hemoragik di

RSUD Ulin Banjarmasin?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan

variabilitas tekanan darah pada pasien stroke iskemik dengan stroke hemoragik di

RSUD Ulin Banjarmasin.


Tujuan khusus dalam penelitian ini adalah :

1. Menilai variabilitas tekanan darah pada pasien stroke iskemik di RSUD Ulin

Banjarmasin.

2. Menilai variabilitas tekanan darah pada pasien stroke hemoragik di RSUD

Ulin Banjarmasin.

3. Menilai perbandingan variabilitas tekanan darah pada pasien stroke iskemik

dengan stroke hemoragik di RSUD Ulin Banjarmasin.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam teoritis untuk menambah

dan meningkatkan pengetahuan dalam pengembangan ilmu sehingga dapat

diaplikasikan dalam bidang pendidikan kesehatan khususnya dalam variabilitas

tekanan darah pada pasien stroke iskemik dengan stroke hemoragik.


Sedangkan manfaat praktis dalam penelitian ini yaitu agar tenaga kesehatan

dapat melakukan pengawasan dan pencegahan yang lebih ketat terhadap tekanan

darah pasien stroke iskemik maupun stroke hemoragik agar prognosis pasien baik
sehingga prognosis yang tidak diinginkan bisa dicegah dan ditanggulangi pada

saat masa perawatan pasien.

E. Keaslian Penelitian

Tabel 1.1 Persamaan dan Perbedaan dengan Penelitian Sebelumnya

No. Nama Peneliti Judul Persamaan Perbedaan


(Tahun) Penelitian
1. Laura Buratti, Blood Variabel bebas Tempat penelitian
Claudia pressure variabilitas di RSUD Ulin
Cagnetti, variability and tekanan darah Banjarmasin
Clotilde stroke
Balucani, dkk. outcome in Variabel terikat
(2014) patients with peneliti adalah
internal pasien stroke
carotid artery iskemik dan stroke
occlusion hemoragik

Waktu penelitian
adalah tahun 2017

2. Akhmita Uzma Variabel bebas Merupakan


(2017) variabilitas penelitian cohort
Korelasi antara tekanan darah retrospektif
Variabilitas
Tekanan Darah Tempat Variabel terikat
dengan penelitian di peneliti adalah
Outcome pada RSUD Ulin pasien stroke
Pasien Stroke Banjarmasin iskemik dan stroke
Iskemik hemoragik