Anda di halaman 1dari 15

Kurikulum dan Pembelajaran

TUGAS INDIVIDU
Nama : Dewi Safitri Mata Kuliah : Kurikulum dan Pembelajaran
NIM : 41032102111159 Dosen : Indiah W.S. Dra

 Pengertian Kurikulum :

Kurikulum adalah sejumlah rencana isi yang merupakan sejumlah tahapan belajar yang di desain
untuk siswa dengan petunjuk institusi pendidikan yang berupa proses yang statis ataupun
dinamis dan kompetensi yang harus dimiliki. Kurikulum adalah seluruh pengalaman di bawah
bimbingan dan arahan dari institusi pendidikan yang membawa ke dalam kondisi belajar.

 Uraian Kurikulum :

A. Pengertian Kurikulum
1. Pengertian Kurikulum Secara Etimologis

Webster’s Third New International Dictionary menyebutkan kurikulum berasal dari kata curere

dalam bahasa latin Currerre yang berarti :

a. Berlari cepat

b. Tergesa-gesa

c. Menjalani

Currerre dikatabendakan menjadi Curriculum yang berarti :

a. Lari cepat, pacuan, balapan berkereta, berkuda, berkaki

b. Perjalanan, suatu pengalaman tanda berhenti

c. Lapangan perlombaan, gelanggang, jalan

Menurut satuan pelajaran SPG yang dibuat oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, kurikulum

berasal dari bahasa Yunani yang berarti “jarak yang ditempuh”. Semula dipakai dalam dunia olahraga.

Pada saat itu kurikulum diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari mulai dari start

sampai finish untuk memperoleh medali atau penghargaan.

2. Pengertian Kurikulum Secara Tradisional

Pertengahan abad ke XX pengertian kurikulum berkembang dan dipakai dalam dunia pendidikan yang

berarti “sejumlah pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa untuk kenaikan kelas atau ijazah”.
Pengertian ini termasuk juga dalam pandangan klasik, dimana disini lebih ditekankan bahwa kurikulum

dipandang sebagai rencana pelajaran di suatu sekolah yang mencakup pelajaran-pelajaran dan materi

apa yang harus ditempuh di sekolah, itulah kurikulum.

Pengertian tradisional ini telah diterapkan dalam penyusunan kurikulum seperti kurikulum SD dengan

nama “Rencana Pelajaran Sekolah Rakyat” tahun 1927 sampai pada tahun 1964 yang isinya sejumlah

mata pelajaran yang diberikan pada kelas I s.d. kelas VI.

3. Pengertian Kurikulum Secara Modern

Menurut Saylor J. Gallen & William N. Alexander dalam bukunya “Curriculum Planning” menyatakan

Kurikulum adalah “Keseluruhan usaha sekolah untuk mempengaruhi belajar baik berlangsung dikelas,

dihalaman maupun diluar sekolah”.

Menurut B. Ragan, beliau mengemukakan bahwa “Kurikulum adalah semua pengalaman anak dibawah

tanggung jawab sekolah”.

Menurut Soedijarto, “Kurikulum adalah segala pengalaman dan kegiatan belajar yang direncanakan dan

diorganisir untuk diatasi oleh siswa atau mahasiswa untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah

ditetapkan bagi suatu lembaga pendidikan”.

Dari berbagai pengertian kurikulum diatas dapat disimpulkan bahwa kurikulum ditinjau dari pandangan

modern merupakan suatu usaha terencana dan terorganisir untuk menciptakan suatu pengalaman

belajar pada siswa dibawah tanggung jawab sekolah atau lembaga pendidikan untuk mencapai suatu

tujuan.

4. Pengertian Kurikulum Dari Berbagai Ahli

George A. Beauchamp (1986) mengemukakan bahwa : “ A Curriculum is a written document which may

contain many ingredients, but basically it is a plan for the education of pupils during their enrollment in

given school”.

Dalam pandangan modern, pengertian kurikulum lebih dianggap sebagai suatu pengalaman atau

sesuatu yang nyata terjadi dalam proses pendidikan, seperti dikemukakan oleh Caswel dan Campbell

(1935) yang mengatakan bahwa kurikulum … to be composed of all the experiences children have under

the guidance of teachers.

Untuk mengakomodasi perbedaan pandangan tersebut, Hamid Hasan (1988) mengemukakan bahwa

konsep kurikulum dapat ditinjau dalam empat dimensi, yaitu:

a. Kurikulum sebagai suatu ide; yang dihasilkan melalui teori-teori dan penelitian, khususnya dalam

bidang kurikulum dan pendidikan.

b. Kurikulum sebagai suatu rencana tertulis, sebagai perwujudan dari kurikulum sebagai suatu ide; yang

di dalamnya memuat tentang tujuan, bahan, kegiatan, alat-alat, dan waktu.


c. Kurikulum sebagai suatu kegiatan, yang merupakan pelaksanaan dari kurikulum sebagai suatu

rencana tertulis; dalam bentuk praktek pembelajaran.

d. Kurikulum sebagai suatu hasil yang merupakan konsekwensi dari kurikulum sebagai suatu kegiatan,

dalam bentuk ketercapaian tujuan kurikulum yakni tercapainya perubahan perilaku atau kemampuan

tertentu dari para peserta didik.

Sementara itu, Purwadi (2003) memilah pengertian kurikulum menjadi enam bagian :

a.kurikulum sebagai ide;

b.kurikulum formal berupa dokumen yang dijadikan sebagai pedoman dan panduan dalam

melaksanakan kurikulum;

c.kurikulum menurut persepsi pengajar;

d.kurikulum operasional yang dilaksanakan atau dioprasional kan oleh pengajar di kelas;

e.kurikulum experience yakni kurikulum yang dialami oleh peserta didik; dan

f.kurikulum yang diperoleh dari penerapan kurikulum.

Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dapat dilihat dalam Undang-Undang

Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 menyatakan bahwa: “Kurikulum adalah seperangkat

rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai

pedoman penyelenggaraan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”.

Sehubungan dengan banyaknya definisi tentang kurikulum, dalam implementasi kurikulum kiranya

perlu melihat definisi kurikulum yang tercantum dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang

Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat (19) yang berbunyi: Kurikulum adalah seperangkat rencana

dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman

penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Lebih lanjut pada

pasal 36 ayat (3) disebutkan bahwa kurikulum disusun sesuai dengan jenjang dan jenis pendidikan

dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan:

a. Peningkatan iman dan takwa;

b. Peningkatan akhlak mulia;

c. Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik;

d. Keragaman potensi daerah dan lingkungan;

e. Tuntutan pembangunan daerah dan nasional;

f. Tuntutan dunia kerja;

g. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;

h. Agama;
i. Dinamika perkembangan global;

j. Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.

Pasal ini jelas menunjukkan berbagai aspek pengembangan kepribadian peserta didik yang menyeluruh

dan pengembangan pembangunan masyarakat dan bangsa, ilmu, kehidupan agama, ekonomi, budaya,

seni, teknologi dan tantangan kehidupan global. Artinya, kurikulum haruslah memperhatikan

permasalahan ini dengan serius dan menjawab permasalahan ini dengan menyesuaikan diri pada

kualitas manusia yang diharapkan dihasilkan pada setiap jenjang pendidikan.

B. Kurikulum Sebagai Suatu Sistem

Beberapa pandangan ahli mengenai Sistem :

Menurut Ludwig Von Bartalanfy, “Sistem merupakan seperangkat unsur yang saling terikat dalam suatu

antar relasi diantara unsur-unsur tersebut dengan lingkungan.”

Menurut Anatol Raporot, “Sistem adalah suatu kumpulan kesatuan dan perangkat hubungan satu sama

lain.”

Menurut L. Ackof, “Sistem adalah setiap kesatuan secara konseptual atau fisik yang terdiri dari bagian-

bagian dalam keadaan saling tergantung satu sama lainnya”.

Dari ketiga pendapat di atas, satu makna yang bisa di ambil, yaitu komponen yang mempunyai fungsi

masing-masing. Seperti yang kita tahu, kurikulum mempunyai komponen-komponen yang mempunyai

tujuan utama atau tujuan dari kurikulum tersebut. Karena komponen-komponen tersebut saling

berkaitan dan menunjang untuk mencapai tujuan dari kurikulum maka di sebutlah kurikulum sebagai

suatu system.

Ada beberapa ahli mengemukakan tentang komponen-komponen yang ada di dalam kurikulum, yakni :

1. Herrick (1950 dalam Taba, 1962:425), mengemukakan 4 elemen kurikulum, yakni Tujuan, Mata

pelajaran, Metode dan Organisasi, dan evaluasi.

2. Zais (1976:295) mengatakan empat komponen dasar kurikulum, antara lain (1) aims, goals, and

objective, (2) content, (3) Learning activities, (4) evaluations

3. Nana Sy. Sukmadinata (1988:110) mengemukakan empat komponen kurikulum, yaitu tujuan, isi

atau materi, proses atau system penyampaian, serta evaluasi

C. Landasan Kurikulum
Dalam buku ajar Teori Belajar dan Pembelajaran, Landasan setidaknya mempunyai makna berikut:

1. Landasan adalah sebuah pondasi yang di atas di bangun sebuah bangunan.

2. Landasan adalah pikiran-pikiran abstrak yang dijadikan titik tolak atau titik berangkat bagi

pelaksanaan suatu kegiatan.

3. Landasan adalah pandangan –pandangan abstrak yang telah teruji , yang yang dipergunakan

sebagai titik tolak dalam menyusun konsep, pelaksanaan konsep dan evaluasi konsep.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Lan.das.an n] (1) alas; bantalan; paron (alas untuk menempa,

terbuat dr besi); (2) lapangan terbang: pesawat kami mendarat di ~ dng selamat; (3) ki dasar;

tumpuan: ~ hukum negara kita ialah Pancasila dan UUD 45.

Menurut Hornby c.s dalam “The Advance Learner’s Dictionary of Current English” (Redja Mudyahardjo,

2001:8) mengemukakan definisi landasan sebagai berikut: “Foundation … that on which an idea or belief
rest; an underlying principle‟s as the foundations of religious belief; the basis or starting point…”. Jadi

menurut Hornby landasan adalah suatu gagasan atau kepercayaan yang menjadi sandaran, sesuatu

prinsip yang mendasari, contohnya seperti landasan kepercayaan agama, dasar atau titik tolak.

Dengan demikian landasan pengembangan kurikulum dapat diartikan sebagai suatu gagasan, suatu

asumsi, atau prinsip yang menjadi sandaran atau titik tolak dalam mengembangkan kurikulum.

Landasan pengembangan kurikulum memiliki peranan yang sangat penting, sehingga apabila kurikulum

diibaratkan sebagai sebuah bangunan gedung yang tidak menggunakan landasan atau fundasi yang

kuat, maka ketika diterpa angin atau terjadi goncangan, bangunan gedung tersebut akan mudah rubuh

dan rusak. Demikian pula halnya dengan kurikulum, apabila tidak memiliki dasar pijakan yang kuat,

maka kurikulum tersebut akan mudah terombang-ambing dan yang akan dipertaruhkan adalah manusia

(peserta didik) yang dihasilkan oleh pendidikan itu sendiri.

Ada empat landasan yang digunakan dalam pengembangan kurikulum, yaitu : Landasan Filosofis,

landasan Psikologis, landasan Sosiologis dan landasan Organisatoris.

1. Landasan Filosofis

Filosofis artinya berdasarkan filsafat. Sedangkan Filsafat itu sendiri berasal dari bahasa yunani, yaitu

dari kata “philos“ dan “sophia“. Philos, artinya cinta yang mendalam, dan sophia adalah kearifan atau

kebijaksanaan. Dengan demikian, filsafat secara harfiah dapat diartikan sebagai cinta yang mendalam

akan kearifan. Filsafat sangat penting karena harus dipertimbangkan dalam mengambil keputusan

tentang aspek kurikulum. Untuk itu tiap keputusan harus ada dasarnya. Jadi filsafat adalah cara berfikir

yang sedalam-dalamnya, yakni sampai akar-akarnya tentang hakikat sesuatu.


Para pengembang kurikulum harus mempunyai filsafat yang jelas tentang apa yang mereka junjung

tinggi. Terdapat berbagai aliran filsafat yang masing-masing dengan dasar pemikiran sendiri, berikut

adalah beberapa aliran dalam filosofis pendidikan:

a. Aliran Perennialisme

Aliran ini bertujuan mengembangkan kemampuan intelektual anak melalui pengetahuan yang abadi,

universal dan absolut atau perennial. Kurikulum yang diinginkan oleh aliran ini terdiri atas subyek atau

mata pelajaran yang terpisah sebagai disiplin ilmu dengan menolak penggabungan seperti IPA atau IPS.

Hanya mata pelajaran yang sungguh mereka anggap dapat mengembangkan kemampuan intelektual

seperti matematika, fisika, kimia, biologi yang diajarkan, sedangkan yang berkenaan dengan emosi dan

jasmani seperti seni rupa, olah raga sebaiknya dikesampingkan. Pelajaran yang diberikan termasuk

pelajaran yang sulit karena memerlukan intelegensi tinggi. Kurikulum ini memberi persiapan yang

sungguh-sungguh bagi studi diperguruan tinggi.

b. Aliran Idealisme

Filsafat ini berpendapat bahwa kebenaran itu berasal dari dunia supra-natural dari tuhan. Boleh

dikatakan semua agama menganut filsafat idealisme.filsafat ini umumnya diterapkan disekolah yang

berorientasi religius. Semua siswa diharuskan mengikuti pelajaran agama, menghadiri khotbah dan

membaca kitab suci. Biasanya disiplin termasuk ketat, pelangggaran diberi hukuman yang setimpal

bahkan dapat dikeluarkan dari sekolah.namun pendidikan intelektual juga sangat diutamakan dengan

menetukan satandar mutu yang tinggi.

c. Aliran Realisme

Filsafat realisme mencari kebenaran di dunia ini sendiri. Melalui pengamatan dan penelitian ilmiah dapat

ditemukan hukum-hukum alam. Mutu kehidupan senantiasa dapat ditingkatkan melalui kemajuan dalam

ilmu pengetahuan dan teknologi. Tujuan hidup ialah memperbaiki kehidupan melalui penelitian ilmiah.

d. Aliran Pragmatisme

Aliran ini juga disebut aliran instrumentalisme atau utilitarianisme dan berpendapat bahwa kebenaran

adalah buatan manusia berdasarakan pengalamannya. Tidak ada kebenaran mutlak, kebenaran adalah

tentatif (sementara) dan dapat berubah. Tugas guru bukan mengajar dalam arti menyampaikan

pengetahuan, melainkan memberi kesempatan kepada anak untuk melakukan berbagai kegiatan guna

memecahkan masalah. Pengetahuan yang diperoleh bukan dengan mempelajari mata pelajaran,

melainkan karena digunakan secara fungsional dalam memecahkan masalah.

e. Aliran Eksistensialisme

Filsafat ini mengutamakan individu sebagai aktor dalam menentukan apa yang baik dan benar. Norma-

norma hidup berbeda secara individual dan ditentukan masing-masing secara bebas, namun dengan
pertimbangan jangan menyinggung perasaan orang lain. Tujuan hidup adalah menyempurnakan diri,

merealisasikan diri. Sekolah yang berdasarkan eksistensialisme mendidik anaka aggar menentukan

pilihan dan keputusan sendiri dengan menolak otoritas orang lain. Ia harus bebas berpikir dan

mengambil keputusan sendiri secara bertanggung jawab. Sekolah ini menolak segala kurikulum,

pedoman, instruksi, buku wajib, dll dari pihak luar. Anak harus mencari identitasnya sendiri,

menentukan standarnya sendiri dan kurikulumnya sendiri. Dengan sendirinya mereka tidak dipersiapkan

untuk menempuh ujian nasional.

2. Landasan Psikologis

a. Psikologi Perkembangan Peserta Didik

Implikasi dari perkembangan peserta didik terhadap pengembangan kurikulum yaitu:

Setiap anak diberi kesempatan untuk berkembang sesuai dengan bakat, minat dan kebutuhannya.

Disamping disediakan pelajaran yang sifatnya umum (Program inti) yang wajib dipelajari setiap anak di

sekolah, disediakan pula pelajaran pilihan yang sesuai dengan minat anak. Kurikulum disamping

menyediakan bahan ajar yang bersifat kejuruan juga menyediakan bahan ajar yang nersifat akademik.

Bagi anak yang berbakat dibidang akademik diberi kesempatan untuk melanjutkan studi ke jenjang

pendidikan selanjutnya. Kurikulum memuat tujuan–tujuan yang mengandung pengetahuan, nilai atau

sikap, dan keterampilan yang menggambarkan keseluruhan pribadi yang utuh lahir dan batin.

b. Psikologi Belajar

Psikologi atau teori belajar yang berkembang pada dasarnya dapat dikelompokkan kedalam tiga

rumpun yaitu:

1) Teori Daya (Disiplin Mental).

Menurut teori ini sejak kelahirannya (heredities)anak telah memiliki potensi-potensi atau daya-daya

tertentu (Faculties) yang masing-masing memiliki fungsi tertentu, seperti potensi/daya mengingat, daya

berpikir daya mencurahkan pendapat daya mengamati, daya memecahkan masalah, dan daya-daya

lainnya. Karena itu pengertian mengajar menurut teori ini adalah melatih peserta didik dalam daya-

daya itu, cara mempelajarinya pada umumnya melalui hapalan dan latihan.

2) Teori Behavorisme

Rumpun teori ini mencakup tiga teori, yaitu teori Koneksionisme atau teori Asosiasi, teori Kondisioning,

dan teori Reinforcement (Operent Conditioning), Rumpun teori Behaviorisme berangkat dari asumsi

bahwa individu tidak membawa potensi sejak lahir. Perkembangan individu ditentukan oleh lingkungan

(keluarga, sekolah, masyarakat) Teori Koneksionisme atau teori Asosiasi adalah kehidupan tunduk

kepada hukum stimulus-respon atau aksi-reaksi. Belajar pada dasarnya merupakan hubungan antara
stimulus-respon. Belajar merupakan upaya untuk membentuk hubungan stimulus-respon. Belajar

merupakan upaya untuk membentuk hubungan stimulus-respon sebanyak-banyaknya.

3) Teori Organismik atau Gestalt

Teori ini mengacu kepada pengertian bahwa keseluruhan lebih bermakna dari pada bagian-bagian,

keseluruhan bukan kumpulan dari bagian-bagian. Manusia dianggap sebagai mahluk organisme yang

melakukan hubungan timbal balik dengan lingkungan secara keseluruhan, hubungan ini dijalin oleh

stimulus dan respon.

3. Landasan Sosiologis

Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki berbagai gejala sosial hubungan antar individu,

antar golongan, antar lembaga sosial atau masyarakat. Di dalam kehidupan kita tidak hidup sendiri,

namun hidup dalam suatu masyarakat. Dalam lingkungan itulah kita memiliki tugas yang harus

dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab sebagai bakti kepada masyarakat yang telah memberikan

jasanya kepada kita.

Tiap masyarakat memiliki norma dan adat kebiasaan yang harus dipatuhi. Norma dan adat kebiasaan

tersebut memiliki corak nilai yang berbeda-beda, selain itu masing-masing dari kita juga memiliki latar

belakang kebudayaan yang berbeda. Hal inilah yang menjadi pertimbangan dalam pengembangan

sebuah kurikulum, termasuk perubahan tatanan masyarakat akibat perkembangan IPTEK. Sehingga

masyarakat dijadikan salah satu asas dalam pengembangan kurikulum.

Ada beberapa faktor yang memberikan pengaruh terhadap pengembangan kurikulum dalam masyrakat,

antara lain ;

a. Kebutuhan masyarakat

Kebutuhan masyarakat tak pernah tak terbatas dan beraneka ragam. Oleh karena itu lembaga

pendidikan berusaha menyiapkan tenaga-tenaga terdidik yang terampil yang dapat dijadikan sebagai

penggali kebutuhan masyarakat.

b. Perubahan dan perkembangan masyarakat

Masayarakat adalah suatu lembaga yang hidup, selalu berkembang dan berubah. Perubahan dan

perkembangan nilai yang ada dalam masyarakat sering menimbulkan konflik antar generasi. Dengan

diadakannya pendidikan diharapkan konflik yang terjadi antar generasi dapat teratasi.

c. Tri pusat pendidikan

Yang dimaksud dengan tri pusat pendidikan adalah bahwa pusat pendidikan dapat bertempat di rumah,

sekolah , dan di masyarakat. Selain itu mass media, lembaga pendidikan agama, serta lingkungan fisik

juga dapat berperan sebagai pusat pendidikan.

4. Landasan Organisatoris
Landasan ini berkenaan dengan organisasi kurikulum. Dalam pengembangan kurikulum perlu di susun

suatu desain yang tepat dan fungsional. Dilihat dari organisasinya ada tiga tipe bentuk kurikulum:

a. Kurikulum yang berisi sejumlah mata pelajaran yang terpisah-pisah(separated subject curriculum)

b. Kurikulum yang berisi sejumlah mata pelajaran yang sejenis di hubung-hubungkan(Correlated

curriculum)

c. Kurikulum yang terdiri dari peleburan semua/ hampir semua mata pelajaran(integrated curriculum)

Dalam hal ini, Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengemukakan empat landasan utama dalam

pengembangan kurikulum, yaitu: (1) filosofis; (2) psikologis; (3) sosial-budaya; dan (4) ilmu

pengetahuan dan teknologi..Untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan diuraikan secara ringkas keempat

landasan tersebut.

1. Landasan Filosofis

2. Landasan Psikologis

3. Landasan Sosial-Budaya

Kurikulum dapat dipandang sebagai suatu rancangan pendidikan. Sebagai suatu rancangan, kurikulum

menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan. Kita maklumi bahwa pendidikan merupakan usaha

mempersiapkan peserta didik untuk terjun ke lingkungan masyarakat. Pendidikan bukan hanya untuk

pendidikan semata, namun memberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup,

bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat.

Peserta didik berasal dari masyarakat, mendapatkan pendidikan baik formal maupun informal dalam

lingkungan masyarakat dan diarahkan bagi kehidupan masyarakat pula. Kehidupan masyarakat, dengan

segala karakteristik dan kekayaan budayanya menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan.

Dengan pendidikan, kita tidak mengharapkan muncul manusia-manusia yang menjadi terasing dari

lingkungan masyarakatnya, tetapi justru melalui pendidikan diharapkan dapat lebih mengerti dan

mampu membangun kehidupan masyakatnya. Oleh karena itu, tujuan, isi, maupun proses pendidikan

harus disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi, karakteristik, kekayaan dan perkembangan yang ada di

masyakarakat.

Setiap lingkungan masyarakat masing-masing memiliki sistem-sosial budaya tersendiri yang mengatur

pola kehidupan dan pola hubungan antar anggota masyarakat. Salah satu aspek penting dalam sistem

sosial budaya adalah tatanan nilai-nilai yang mengatur cara berkehidupan dan berperilaku para warga

masyarakat. Nilai-nilai tersebut dapat bersumber dari agama, budaya, politik atau segi-segi kehidupan

lainnya.
Sejalan dengan perkembangan masyarakat maka nilai-nilai yang ada dalam masyarakat juga turut

berkembang sehingga menuntut setiap warga masyarakat untuk melakukan perubahan dan

penyesuaian terhadap tuntutan perkembangan yang terjadi di sekitar masyarakat.

Israel Scheffer (Nana Syaodih Sukmadinata, 1997) mengemukakan bahwa melalui pendidikan manusia

mengenal peradaban masa lalu, turut serta dalam peradaban sekarang dan membuat peradaban masa

yang akan datang.

Dengan demikian, kurikulum yang dikembangkan sudah seharusnya mempertimbangkan, merespons

dan berlandaskan pada perkembangan sosial – budaya dalam suatu masyarakat, baik dalam konteks

lokal, nasional maupun global.

4. Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Dalam abad pengetahuan sekarang ini, diperlukan masyarakat yang berpengetahuan melalui belajar

sepanjang hayat dengan standar mutu yang tinggi. Sifat pengetahuan dan keterampilan yang harus

dikuasai masyarakat sangat beragam dan canggih, sehingga diperlukan kurikulum yang disertai dengan

kemampuan meta-kognisi dan kompetensi untuk berfikir dan belajar bagaimana belajar (learning to

learn) dalam mengakses, memilih dan menilai pengetahuan, serta mengatasi siatuasi yang ambigu dan

antisipatif terhadap ketidakpastian.

Perkembangan dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, terutama dalam bidang transportasi dan

komunikasi telah mampu merubah tatanan kehidupan manusia. Oleh karena itu, kurikulum seyogyanya

dapat mengakomodir dan mengantisipasi laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga

peserta didik dapat mengimbangi dan sekaligus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk

kemaslahatan dan kelangsungan hidup manusia.

D. Prinsip Pengembangan Kurikulum

Prinsip-prinsip yang akan digunakan dalam kegiatan pengembangan kurikulum pada dasarnya

merupakan kaidah-kaidah atau hukum yang akan menjiwai suatu kurikulum. Dalam pengembangan

kurikulum, dapat menggunakan prinsip-prinsip yang telah berkembang dalam kehidupan sehari-hari

atau justru menciptakan sendiri prinsip-prinsip baru. Oleh karena itu, dalam implementasi kurikulum di

suatu lembaga pendidikan sangat mungkin terjadi penggunaan prinsip-prinsip yang berbeda dengan

kurikulum yang digunakan di lembaga pendidikan lainnya, sehingga akan ditemukan banyak sekali

prinsip-prinsip yang digunakan dalam suatu pengembangan kurikulum. Dalam hal ini, Nana Syaodih

Sukmadinata (1997) mengetengahkan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum yang dibagi ke dalam

dua kelompok :
1. prinsip – prinsip umum : relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, praktis, dan efektivitas;

2. prinsip-prinsip khusus : prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan, prinsip berkenaan dengan

pemilihan isi pendidikan, prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar, prinsip

berkenaan dengan pemilihan media dan alat pelajaran, dan prinsip berkenaan dengan pemilihan

kegiatan penilaian.

Sedangkan Asep Herry Hernawan dkk (2002) mengemukakan lima prinsip dalam pengembangan

kurikulum, yaitu :

1. Prinsip relevansi;

Secara internal bahwa kurikulum memiliki relevansi di antara komponen-komponen kurikulum (tujuan,

bahan, strategi, organisasi dan evaluasi). Sedangkan secara eksternal bahwa komponen-komponen

tersebutmemiliki relevansi dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi (relevansi epistomologis),

tuntutan dan potensi peserta didik (relevansi psikologis) serta tuntutan dan kebutuhan perkembangan

masyarakat (relevansi sosilogis).

2. Prinsip fleksibilitas;

Yaitu dalam pengembangan kurikulum mengusahakan agar yang dihasilkan memiliki sifat luwes, lentur

dan fleksibel dalam pelaksanaannya, memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan

situasi dan kondisi tempat dan waktu yang selalu berkembang, serta kemampuan dan latar bekang

peserta didik.

3. Prinsip kontinuitas;

Yakni adanya kesinambungan dalam kurikulum, baik secara vertikal, maupun secara horizontal.

Pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum harus memperhatikan kesinambungan,

baik yang di dalam tingkat kelas, antar jenjang pendidikan, maupun antara jenjang pendidikan dengan

jenis pekerjaan.

4. Prinsip efisiensi;

Yakni mengusahakan agar dalam pengembangan kurikulum dapat mendayagunakan waktu, biaya, dan

sumber-sumber lain yang ada secara optimal, cermat dan tepat sehingga hasilnya memadai.

5. Prinsip efektivitas;

Yakni mengusahakan agar kegiatan pengembangan kurikulum mencapai tujuan tanpa kegiatan yang

mubazir, baik secara kualitas maupun kuantitas.


 Contoh Kurikulum

CONTOH KURIKULUM MODEL KTSP SDLB


DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Landasan
C. Tujuan Penyususnan KTSP
D. Prinsip Pengembangan KTSP
 BAB II VISI, MISI, DAN TUJUAN SEKOLAH

A.Visi
B.Misi
C. Tujuan Sekolah
 BAB III STRUKTUR DAN MUATAN KURIKULUM

A.
Struktur Kurikulum
B.
Muatan Kurikulum
 BAB IV KALENDER PENDIDIKAN
 BAB V PENUTUP

1. Lampiran
i. Lampiran 1: Contoh Pemetaan Standar Kompetensi, Kompetensi Standar,
Indikator ke dalam Tema
ii. Lampiran 2: Contoh Jaringan Tema
iii. Lampiran 3: Contoh Silabus Tematik
iv. Lampiran 4: RPP Tematik
v. Lampiran 5: Silabus Muatan Lokal
vi. Lampiran 6: RPP Muatan Lokal
vii. Lampiran 7: Pengertian Istilah dan Profil
viii. Lampiran 8: Abstrak

TUGAS INDIVIDU
Mata Kuliah : Kurikulum dan Pembelajaran
Dosen : Indiah W.S. Dra

Nama : Dewi Safitri


NIM : 41032102111159

 Pengertian Kurikulum Mikro :


Kurikulum mikro adalah kurikulum pada tingkat institusional dan merupakan
penjabaran dari perencanaan tingkat meso dan makro.
 Uraian Kurikulum Mikro :
Kurikulum mikro yaitu perencanaan aktualisasi / operasional kurikulum ideal
potensial dalam pengajaran di kelas. Perencanaan ini adalah perencanaan
instruksional yang spesifik untuk pengajaran dalam kelas dengan sejumlah langkah-
langkah yang spesifik pada satuan pelajaran atau satuan acara perkuliahan mulai dari
identifikasi mata pelajaran/mata kuliah, unit/topik, sub topik, tujuan instruksional
umum dan khusus sampai pada penilaian/evaluasi. Kemudian rencana tersebut dapat
diaktualisasikan dengan baik dalam proses belajar mengajar di kelas (Syafruddin
Nurdin, 2010 : 109 – 110) .
Dalam kurikulum yang bersifat sentralisasi, guru lebih berperan dalam kurikulum
mikro. Kurikulum mikro dijabarkan dari kurikulum makro. Guru menyusun dalam
bidangnya untuk jangka waktu satu tahun, satu semester, satu catur wulan, beberapa
minggu ataupun beberapa hari saja. Kurikulum untuk satu tahun, satu semester atau
satu catur wulan disebut juga program tahunan, semesteran, catur wulan, sedangkan
kurikulum untuk beberapa minggu atau hari disebut satuan pelajaran. Program
tahunan, semesteran, catur wulanan ataupun satuan pelajaran memiliki komponenn-
komponen yang sama yaitu tujuan, bahan pelajaran, metode, media pembelajaran,
dan evaluasi, hanya keluasan dan kedalamannya berbeda-beda.

 Contoh Kurikulum Mikro


a. Tujuan Mata pelajaran
b. Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD)

Perencanaan dan Pengembangan Silabus


a. Prinsif Pengembangan Silabus
 Ilmiah
 Relevan
 Fleksibel
 Kontinuitas
 Konsisten
 Memadai
 Actual dan kontekstual
 Efektif
 Efisien
b. Prosedur Pengembangan Silabus :
 Mengisi kolom identitas
 Mengkaji dan menganalisis standar kompetensi
 Mengkaji dan mementukan kompetensi dasar
 Mengidentifikasi materi standar
 Mengembangkan pengalaman belajar ( standar proses)
 Merumuskan indicator keberhasilan
 Menentukan penulaian (standar penilaian)
 Alokasi waktu
 Menentukan sumber belajar

c. Proses Pengembangan silabus :


 Perencanaan
 Pelaksanaan
 Penilaian
 Revisi

Perencanaan dan Pengembangan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran)


Untuk perencanaan dan pengembangan RPP (Rencana Program Pembelajaran) dapat dilihat pada lampiran 2, tentang
RPP (Rencana Program Pembelajaran)
a. Fungsi RPP :
 Fungsi perencanaan
 Fungsi pelaksanaan

b. Pelaksanaan Pembelajaran :
 Pre test ( tes awal)
 Pembentukan kompetensi
 Pos tes

Pengembangan program
 Program tahunan
 Program semester
 Program mingguan dan harian
 Program pengayaan dan remedial
 Program pengembangan diri