Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

i. LATAR BELAKANG

International Accounting Standards, yang lebih dikenal sebagai International

Financial Reporting Standards (IFRS), merupakan standar tunggal pelaporan

akuntansi yang memberikan penekanan pada penilaian (revaluation) profesional

dengan disclosures yang jelas dan transparan mengenai substansi ekonomis

transaksi, penjelasan hingga mencapai kesimpulan tertentu. Standar ini muncul

akibat tuntutan globalisasi yang mengharuskan para pelaku bisnis di suatu negara

ikut serta dalam bisnis lintas negara. Untuk itu diperlukan suatu standar internasional

yang berlaku sama di semua Negara untuk memudahkan proses rekonsiliasi bisnis.

Perbedaan utama standar internasional ini dengan standar yang berlaku di

Indonesia terletak pada penerapan revaluation model, yaitu kemungkinkan

penilaian aktiva menggunakan nilai wajar, sehingga laporan keuangan disajikan

dengan basis ‘true and fair‘ (IFRS framework paragraph 46).

IFRS merupakan standar tunggal pelaporan akuntansi berkualitas tinggi dan

kerangka akuntasi berbasiskan prinsip yang meliputi penilaian profesional yang kuat

dengan disclosures yang jelas dan transparan mengenai substansi ekonomis

transaksi, penjelasan hingga mencapai kesimpulan tertentu, dan akuntansi terkait

transaksi tersebut. Dengan demikian, pengguna laporan keuangan dapat dengan

mudah membandingkan informasi keuangan entitas antarnegara di berbagai

belahan dunia.

Adopsi penuh dan harmonisasi terhadap IFRS memiliki arti yang beda. Adopsi

penuh adalah mengadopsi secara penuh tanpa adanya perubahan-perubahan untuk


diterapkan di suatu Negara. Berbeda dengan adopsi penuh, harmonisasi IFRS

memiliki sifat lebih fleksibel dan terbuka. Harmonisasi standar akuntansi

internasional pertama kali diperkenalkan oleh European Commision (EC).

Harmonisasi berarti dapat juga berarti sebagai sekelompok negara yang

menyepakati suatu standar akuntansi yang mirip, namun mengharuskan adanya

pelaksanaan yang tidak mengikuti standar harus diungkapkan.

Sedangkan bagi Indonesia terhadap IFRS, IAI mendukung harmonisasi

standar akuntansi melalui adopsi dan adaptasi IAS. Badan penyusun standar

akuntansi di Indonesia (DSAK) telah membentuk 2 tim, 1 tim akan melakukan

penelitian terhadap seluruh IFRS sedangkan tim yang lain akan melakukan

penelitian mengenai apakah seluruh paragraf aturan standard dalam IFRS harus

diadopsi secara penuh mengingat adanya perbedaan lingkungan bisnis, sehingga

belum tentu standar tersebut harmonis dengan kondisi lingkungan bisnis di

Indonesia. Penyusunan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia mengacu pada

IFRS yang disesuaikan dengan kondisi di Indonesia, sedangkan pada format akan

berubah tetapi tidak sampai mengubah substansi standar akuntansi keuangan.

Kesimpulannya, meskipun dengan adanya IFRS tidak semua Negara dapat

menerima yang disebabkan dengan perbedaan-perbedaan ditiap Negara. Namun

tetap saja perlu ada yang menjembatani agar Standar Akuntansi Keuangan sejalan

dengan IFRS yaitu dengan melakukan harmonisasi bahkan konvergensi terhadap

IFRS. Adanya harmonisasi bahkan konvergensi terhadap IFRS maka diharapkan

informasi akuntansi memiliki kualitas utama yaitu komparabilitas dan relevansi.

ii. RUMUSAN MASALAH

1. Apakah Definisi IFRS?

2. Apakah kelebihan dan kendala jika mengadopsi IFRS?


3. Apakah kita siap Adopsi IFRS?

iii. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini selain untuk memenuhi tugas dari mata kuliah

Akuntansi Keuangan, penulis juga ingin manambah wawasan tentang IFRS

khususnya, dan sebagai pengingat di kala lupa bagi pembaca pada umumnya, serta

untuk mengatasi masalah-masalah yang terjadi disekitar kita terkait pembahasan

ini .
BAB II

TINJUAN PUSTAKA

2.1 Sejarah IFRS

International Financial Reporting Standards (IFRS) adalah standar, interpretasi,

dan kerangka yang diadopsi oleh badan penyusun standar akuntansi internasional

yang dikenal dengan International Accounting Standards Board (IASB).

Beberapa standar yang membentuk IFRS dulunya dikenal dengan nama

International Accounting Standards (IAS). IAS diterbitkan oleh suatu badan yang

dikenal dengan International Accounting Standards Committee (IASC) pada kurun

waktu antara tahun 1973-2001. Hingga Maret 2002, IASC telah menerbitkan 41 IAS

dan 34 SIC (Standing Interpretations Committee) Interpretations. Beberapa di

antaranya telah diubah atau diganti oleh IASB. Standar yang masih tersisa

dipandang sebagai payung bagi IFRS.

IFRS merupakan standar akuntansi internasional yang diterbitkan

oleh International Accounting Standard Board (IASB). Standar akuntansi ini disusun

oleh empat organisasi utama dunia yaitu Badan Standar Akuntansi Internasional

(IASB), Komisi Masyarakat Eropa (EC), Organisasi Internasional Pasar Modal

(IOSOC), dan Federasi Akuntansi Internasional (IFAC).

Adapun sejarah ifrs setiap tahun mulai dari tahun 1966 sampai 2001, sebagai

berikut.

1. Tahun 1966

Sejarah International Accounting Standards (IAS) dimulai pada tahun ini

dengan pengajuan proposal pembentukan kelompok studi yang

beranggotakan the Institute of Chartered Accountants of England & Wales


(ICAEW), American Institute of Certified Public Accountants (AICPA) dan

Canadian Institute of Chartered Accountants (CICA). Proposal ini pada tahun

1967 disetujui dengan dibentuknya Accountants International Study Group

(AISG).

2. Tahun 1973

International Accounting Standard Committee (IASC) dibentuk secara resmi,

dengan maksud dan pesan sponsor yang jelas, bahwa semua standard

akuntansi internasional yang akan diterbitkan oleh badan ini harus memenuhi

syarat yaitu “be capable of rapid acceptance and implementation world-

wide”.Dalam 27 tahun umurnya, IASC menerbitkan 41 standar yang dikenal

dengan IAS.

3. Tahun 1997

Dibentuk suatu badan interpretasi yang disebut dengan Standing

Interpretation Committee (SIC), yang memiliki tugas mempertimbangkan

perdebatan atas isu yang timbul menyangkut suatu standard, dan menyusun

suatu panduan untuk menyelesaikan perdebatan tersebut. Interpretasi yang

diterbitkan oleh badan ini berjumlah 33 SIC sepanjang umur hidupnya.

4. Tahun 2000

Pada bulan Mei tahun ini, IOSCO (International Organisation of Securities

Commissions) menyetujui penggunaan IAS untuk penerbitan saham antar

Negara (cross border listing) dengan press release 17 May 2000.

5. Tahun 2001

Pada bulan April tahun ini, IASC melakukan restrukturisasi dengan

membentuk IASB (International Accounting Standard Board) yang akan

menjadi pengganti IASC sebagai standard setter, sementara IASC menjadi


foundation. Pada saat ini juga diputuskan bahwa IASB akan melanjutkan

pengembangan IAS yang telah diterbitkan sebelumnya, dan memberi nama

standard baru yang diterbitkannya dengan nama IFRS (International Financial

Reporting Standards). IAS yang belum digantikan dengan IFRS tetap berlaku.

Standar pertama yang merupakan produk IASB adalah IFRS 1 : First Time

Adoption of IFRS tahun 2003.

dilihat dari atas Sepanjang tahun 1999-2001, IASC melakukan restrukturisasi

(dengan mengubah konstitusi, strategi, struktur dan nama). IASC berkeinginan untuk

menjadi badan akuntansi yang lebih independen dan profesional. Pada Maret 2001,

IASC Trustees mengaktifkan Part B dari IASC Constitution yang baru dan

menetapkan non-profit Delaware corporation yang diberi nama International

Accounting Standards Committee Foundation untuk mengawasi IASB. Pada April

2001, IASB yang baru mengambil alih tanggung jawab IASC dalam menetapkan

International Accounting Standards.

IASB berkeinginan untuk membentuk satu standar pelaporan keuangan global

yang berkualitas. Selama pertemuan pertamanya, badan yang baru tersebut

mengadopsi IAS dan SIC (Standing Interpretation Committee) yang ada. IASB terus

mengembangkan standar yang disebut dengan International Financial Reporting

Standards (IFRS). Jadi IFRS adalah termasuk standar dan interpretasi yang disetujui

oleh IASB serta IAS dan SIC Interpretations yang diterbitkan berdasarkan konstitusi

sebelumnya.

2.2 Perbedaan IFRS dan GAAP

Dewan Standar Akuntansi Internasional (IASB) menekankan pada

pengembangan standar yang didasarkan pada prinsip-prinsip yang baik, jelas


dinyatakan, dari mana interpretasi diperlukan (kadang-kadang merujuk pada prinsip

berbasis standar). Hal ini kontras dengan seperangkat standar prinsip akuntansi yang

diterima umum / Generally Accepted Accounting Principles (GAAP) di Amerika

Serikat, standar akuntansi nasional Amerika Serikat, berisikan pedoman yang lebih

menekankan pada penerapan. Standar tersebut kadang-kadang merujuk pada aturan

berbasis standar, tetapi benar-benar sebagai standar Amerika Serikat yang juga

didasarkan pada prinsip yang hanya berisi pedoman (standar) yang lebih menekankan

penerapan. IFRS biasanya tidak memberikan lini yang jelas, bilamana membedakan

di antara kondisi di mana ketentuan akuntansi yang berbeda ditetapkan. Hal ini

mengurangi kesempatan untuk menstrukturkan transaksi, guna mencapai dampak

akuntansi tertentu.

Perbedaan yang signifikan di dalam pendekatan pada penetapan standar antara

IFRS dengan GAAP merupakan alasan utama bahwa panjangnya teks dari IFRS

kurang dari GAAP di Amerika Serikat. GAAP panjangnya lebih dari 20.000 halaman

dari literatur akuntansi; ini berbeda dengan IFRS yang diperkirakan hanya 2.000

hingga 3.000 halaman panjangnya.

2.3 Perbedaan IFRS dan PSAK

Metode penyusunan perbedaan dilakukan dengan membandingkan antara

konsep yang terdapat di IFRS dengan yang terdapat dalam PSAK dan disusun

berdasarkan urutan standar yang digunakan IFRS.

Dalam tulisan ini penulis sangat banyak mengambil faedah dari buku Marisi P

Purba berjudul IFRS Konvergensi dan Kendala Aplikasinya di Indonesia terbitan

Graha Ilmu. Buku ini sangat bermanfaat dalam membuka pikiran tentang
konvergensi IFRS. Sangat direkomendasikan utk dibaca. selain itu penulis

juga banyak memperoleh manfaat dari publikasi KPMG dan Deloite. Secara

kerangka dasar perbedaan IFRS dan PSAK dapat dilihat pada table.

PENDAHULUAN DAN KERANGKA DASAR (IAS 1; PSAK 1)


N Perbedaan IFRS PSAK Efek
o Konvergensi
1 Cakupan Desain IFRS SAK Akan ada
Pengaturan diperuntukkan untuk diperuntukkan penerapan
entitas yang untuk Entitas standar yang
bersifat profitoriented yang bersifat
dan SME (Small bersifat profitorien setengah
Medium Enterprise). ted, Nirlaba, UKM setengah
IFRS belum mengatur (Usaha kecil terhadap
standar akuntansi menengah) yang perusahaan
untuk perusahaan disebut SAK- yang berbasis
berbasis syariah. ENTAP, dan syariah.
Perusahaan
berbasis syariah.
2 Kerangka Memungkinkan Sama seperti
Dasar penilaian aktiva tetap IFRS, PSAK
berwujud dan tidak memberikan
berwujud alternatif
menggunakan nilai penggunaan nilai
wajar. Laporan wajar untuk
keuangan harus menilai kembali
disajikan dengan aktiva tetap
basis true and fair berwujud dan
(IFRS Framework par tidak berwujud.
46) Laporan
keuangan
disajikan dengan
basis “fairly
stated” (Kerangka
dasar par 46)
3 Pernyataan Entitas harus Entitas tidak Harus
kepatuhan akan membuat pernyataan harus membuat dibuat
Standar eksplisit tentang pernyataan pernyataaneks
kepatuhan akan kepatuhan akanplisit akan
standar IFRS SAK kepatuhan
pada PSAK di
CALK
4 PrinsipKete Tidak diatur Dianjurkan Perlunya
patanWaktu(Tim secara khusus kapan agar entitas penyesuaianat
eliness) entitas menyajikan menyajikan uran terkait
laporan keuangan laporan keuangan dengan
paling lama 4 kewajibanentita
bulan setelah s untuk
tanggal neraca memenuhi
kewajiban
perpajakan
dalam
menyampaikan
SPT Tahunan
paling lambat
tanggal 31
Maret untuk
WP Orang
Pribadi dan
30April untuk
WPBadan
5 Basis Menganut Menganut
Standar standar akuntansi standar akuntansi
berbasis prinsip untuk berbasis aturan.
meningkatkan
transparansi,akuntabil
itas, dan
keterbandingan
laporan keuangan
antar entitas secara
global.
6 PrinsipKons Tidak lagi Masih
ervatif mengakui prinsip mengkui prinsip
konservatif, namun konservatif
diganti dengan prinsip
kehati-hatian
(Prudence)

Contoh Perbedaan Antara IFRS dan PSAK

PENGUNGKAPAN DAN PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN (IAS 1; PSAK


1 REV 1998)
N Perbedaan IFRS PSAK
o
1 Komponen Komponen laporan Komponen laporan
Laporan keuangan lengkap terdiri keuangan lengkap terdiri
Keuangan yang atas : atas :
lengkap Laporan posisi Neraca
keuangan(neraca) Laporan laba rugi
Laporan laba rugi Laporan
komprehensif perubahan ekuitas
Laporan perubahan Laporan arus kas
ekuitas Catatan atas
Laporan arus kas laporan keuangan
Catatan atas
laporan keuangan
Laporan posisi
keuangan komparatif awal
periode dan penyajian
retrospektif terhadap
penerapan kebijakan
akuntansi
2 Pengungkap Berdasar ilustrasi IFRS Berdasar PSAK:
an dalam :
Laporan posisi Aset: Ekuitas: Aset: Liabili
keuangan - Aset - - Aset tas:
(neraca) Tidak Ekuitas Lancar -
Lancar yang dapat - Aset Liabilitas
- Aset diatribusikan Tidak Lancar jangka
lancar ke pemilik pendek
entitas induk -
- Hak Liabilitas
non jangka
pengendali panjang
Liabilita Ekuitas:
s: - Hak
- non
Liabilitas pengendali
jangka -
panjang Ekuitas
- yang dapat
Liabilitas diatribusikan
jangka ke pemilik
pendek entitas induk
3 Istilah Istilah minority interest Menggunakan istilah
minority interest (hak minoritas) diganti hak minoritas
menjadi non controlling
interest (hak non
pengendali) dan disajikan
dalam Laporan perubahan
ekuitas.
4 Pos luar Tidak mengenal istilah Masih memakai istilah
biasa pos luar biasa pos luar biasa
(extraordinary (extraordinary item) (extraordinary item)
item)
5 Penyajian Liabilitas jangka Tetap disajikan
liabilitas jangka panjang disajikan sebagai sebagai Liabilitas jangka
panjang yang Liabilitas jangka pendek jika panjang
akan dibiayai akan jatuh tempo dalam 12
kembali bulan meskipun perjanjian
pembiayaan kembali sudah
selesai setelah periode
pelaporan dan sebelum
penerbitan laporan
keuangan
6 Tanggung Tidak diatur Manajemen
jawab laporan
keuangan
7 sumber IAS1, Presentation of PSAK no.1 (revisi
Financial Statements 1998), penyajian laporan
keuangan

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) merupakan standar

akuntansi yang berlaku di Indonesia. Tidak semua standar IFRS dicontek habis dan

dirubah menjadi PSAK, itulah mengapa IAI memilih konvergensi dari para adaption

dan adoption. Sedikit gambaran saja untuk membedakan ketiga istilah tersebut

dijelaskan dalam tabel berikut.

PERBEDAAN ADAPTION CONVERGENCE FULL

ADOPTION

Arti Arafiah Adaptasi / Pertemuan pada suatu titik Adopsi /

Penyelarasan pemakaian

Standart Membuat Membuat standar baru Mentranslet

Akuntansi standar yang dengan mempertimbangkan standar lama

benar-benar keadaan yang berlaku menjadi standar

baru yang baru

Contoh Negara Indonesia Indonesia setelah 2012 Australia,

sebelum IFRS Hongkong

IFRS Convergence telah membawa dunia accounting ke level baru, tiga

perbedaan mendasar, yaitu:


1. PSAK yang semula berdasarkan Historical Cost mengubah paradigmanya

menjadi Fair Value based. Terdapat kewajiban dalam pencatatan pembukuan

mengenai penilaian kembali keakuratan berdasarkan nilai kini atas suatu aset,

liabilitas dan ekuitas. Fair Value based mendominasi perubahan-perubahan di

PSAK untuk konvergensi ke IFRS selain hal-hal lainnya. Sebagai contoh

perlunya di lakukan penilaian kembali suatu aset, apakah terdapat penurunan

nilai atas suatu aset pada suatu tanggal pelaporan. Hal ini untuk memberikan

keakuratan atas suatuatas suatu laporan keuangan.

2. PSAK yang semula lebih berdasarkan Rule Based (sebagaimana USGAAP)

berubah menjadi Prinsiple Based. Rule based adalah manakala segala sesuatu

menjadi jelas diatur batasan batasannya. Sebagai contoh adalah manakala

sesuatu materiality ditentukan misalkan diatas 75% dianggap material dan

ketentuan-ketentuan jelas lainnya. Sedangkan IFRS menganut prinsip prinsiple

based dimana yang diatur dalam PSAK update untuk mengadopsi IFRS adalah

prinsip-prinsip yang dapat dijadikan bahan pertimbagan Akuntan / Management

perusahaan sebagai dasar acuan untuk kebijakan akuntansi perusahaan.

3. Pemutakhiran (Update) PSAK untuk memunculkan transparansi dimana laporan

yang dikeluarkan untuk eksternal harus cukup memiliki kedekatan fakta dengan

laporan internal. Pihak perusahaan harus mengeluarkan pengungkapan

pengungkapan (disclosures) penting dan signifikan sehingga para pihak

pembaca laporan yang dikeluarkan ke eksternal benar-benar dapat menganalisa

perusahaan dengan fakta yang lebih baik.


BAB III

Pembahasan

3.1 IFRS (International Financial Reporting Standards)

IFRS merupakan standar akuntansi internasional yang diterbitkan oleh

International Accounting Standard Board (IASB). Standar akuntansi ini disusun oleh

empat organisasi utama dunia yaitu Badan Standar Akuntansi Internasional (IASB),

Komisi Masyarakat Eropa (EC), Organisasi Internasional Pasar Modal (IOSOC), dan

Federasi Akuntansi Internasional (IFAC).

Natawidnyana (2008) menyatakan bahwa sebagian besar standar yang

menjadi bagian dari IFRS sebelumnya merupakan International Accounting Standard

(IAS). Kemudian IASB mengadopsi seluruh IAS dan melanjutkan pengembangan

standar yang dilakukan.

Secara keseluruhan IFRS mencakup:

a. International Financial Reporting Standard (IFRS) – standar yang diterbitkan

setelah tahun 2001

b. International Accounting Standard (IAS) – standar yang diterbitkan sebelum

tahun 2001

c. Interpretations yang diterbitkan oleh International Financial Reporting

Interpretations Committee (IFRIC) – setelah tahun 2001

d. Interpretations yang diterbitkan oleh Standing Interpretations Committe (SIC)

– sebelum tahun 2001

Secara garis besar standar akuntansi mengatur 4 hal pokok:

a. Definisi laporan keuangan atau informasi lain yang berkaitan


Definisi digunakan dalam standar akuntansi untuk menentukan apakah

transaksi tertentu harus dicatat dan dikelompokkan ke dalam aktiva, hutang,

modal, pendapatan dan biaya.

b. Pengukuran dan penilaian

Pengukuran dan penilaian digunakan untuk menentukan nilai dari suatu

elemen laporan keuangan baik pada saat terjadinya transaksi keuangan

maupun pada saat penyajian laporan keuangan.

c. Pengakuan

Kriteria ini digunakan untuk mengakui elemen laporan keuangan sehingga

elemen tersebut dapat disajikan dalam laporan keuangan

d. Penyajian dan pengungkapan laporan keuangan

Penyajian dan pengungkapan laporan keuangan digunakan menentukan jenis

informasi dan bagaimana informasi tersebut disajikan dan diungkapkan dalam

laporan keuangan.

3.2 Manfaat Adopsi IFRS

Harmonisasi standar akuntansi dan pelaporan keuangan telah dianggap

sebagai suatu hal yang mendesak yang harus dilakukan oleh setiap negara,

termasuk Indonesia sebagai negara berkembang. Menurut Marsini Purba dalam

bukunya yang berjudul “International Financial Reporting Standards”, manfaat utama

yang diperoleh dari harmonisasi standar akuntansi dan pelaporan keuangan adalah

adanya pemahaman lebih baik atas laporan keuangan oleh pengguna laporan

keuangan yang berasal dari berbagai negara. Hal ini memudahkan perusahaan

menjual sahamnya secara lintas negara atau lintas pasar modal. Selain itu

memberikan efisiensi dalam penyusunan laporan keuangan yang menghabiskan


banyak dana dan sumber daya setiap tahunnya. Penggunaan standar akuntansi dan

pelaporan keuangan juga dapat menambah kepercayaan investor asing terhadap

laporan keuangan perusahaan-perusahaan nasional.

Membuat perubahan ke IFRS, artinya mengadopsi bahasa pelaporan

keuangan global, yang akan membuat perusahaan (business) dimengerti oleh global

market (pasar dunia). Jadi, jika kinerja perusahaan memang memiliki nilai jual yang

pantas, maka potensi perdagangan yang dihasilkan logikanya akan lebih bagus

dibandingkan ketika perusahaan belum mengadopsi IFRS dalam pembuatan laporan

keuangannya. The big-4 accounting firm mengatakan bahwa banyak dari

perusahaan-perusahaan yang telah mengadopsi IFRS mengalami kemajuan yang

signifikan dalam rangka memenuhi maksud mereka memasuki pasar modal dunia

(global). Dalam pasar modal, laporan keuangan merupakan komoditas utama. Di

sinilah perlunya suatu standar yang mengatur pelaporan informasi akuntansi

tersebut.

Tanpa standar akuntansi yang baik, pasar modal tidak akan pernah berjalan

dengan baik. Efektivitas dan ketepatan waktu dari informasi keuangan yang

transparan yang dapat dibandingkan dan relevan dibutuhkan oleh semua

stakeholder (pekerja, suppliers, customers, institusi penyedia kredit, bahkan

pemerintah).

Indonesia pun akan mengadopsi IFRS secara penuh pada 2012 nanti,

seperti yang dilansir IAI pada peringatan HUT nya yang ke – 51. Dengan

mengadopsi penuh IFRS, laporan keuangan yang dibuat berdasarkan PSAK tidak

memerlukan rekonsiliasi signifikan dengan laporan keuangan berdasarkan IFRS.

Adopsi penuh IFRS diharapkan memberikan manfaat :


1. Memudahkan pemahaman atas laporan keuangan dengan menggunakan SAK

yang dikenal secara internasional

2. Meningkatkan arus investasi global

3. Menurunkan biaya modal melalui pasar modal global dan menciptakan efisiensi

penyusunan laporan keuangan

Menurut Ketua Tim Implementasi IFRS-Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Dudi

M Kurniawan yang dimuat harian Kompas tanggal 6 Mei 2010 mengatakan bahwa

dengan mengadopsi IFRS Indonesia akan mendapatkan tujuh manfaat sekaligus.

1. Meningkatkan kualitas standar akuntansi keuangan (SAK).

2. Mengurangi biaya SAK.

3. Meningkatkan kredibilitas dan kegunaan laporan keuangan.

4. Meningkatkan komparabilitas pelaporan keuangan.

5. Meningkatkan transparansi keuangan.

6. Menurunkan biaya modal dengan membuka peluang penghimpunan dana melalui

pasar modal.

7. Meningkatkan efisiensi penyusunan laporan keuangan.

3.4 Kendala Adopsi IFRS

Sedangkan kendala yang menjadi penghambat penerapan IFRS sebagai

standar akuntansi dan pelaporan keuangan meliputi berbagai faktor, antara lain :

1. Sistem hukum dan politik

2. Sistem perpajakan dan fiskal

3. Nilai-nilai budaya korporasi

4. Sistem pasar modal dan peraturan terkait dengan pemilikan korporasi

5. Kondisi ekonomi dan bisnis


6. Teknologi

Dari keenam faktor di atas, faktor penghambat yang paling utama sering ditemukan

adalah sistem perpajakan dan hukum yang belum tentu sinkron antara suatu negara

dengan negara pengadopsi IFRS lainnya.

3.4.1Kendala adopsi penuh IFRS di Indonesia

adapun kendala adopsi penuh IFRS di Indonesia sebagai berikut.

1. Kurang siapnya infrastruktur seperti DSAK sebagai financial accounting

standard setter di Indonesia.

2. Kondisi peraturan perundang-undangan yang belum tentu sinkron dengan

IFRS.

3. Kurang siapnya sumber daya manusia dan dunia pendidikan di Indonesia.

Dapat dilihat dari minimnya pengajaran dan pembahasan topik-topik akuntansi

keuangan terkait IFRS, karena IFRS belum dijadikan mata kuliah pokok

program pendidikan akuntansi di Indonesia.

4. Proses penerjemahan IFRS menjadi PSAK. Terkadang membutuhkan waktu

yang relatif lama. Terkadang juga memberikan makna yang berbeda dengan

sumber aslinya.

3.5 Dampak Penerapan IFRS

3.5.1 Dampak Konvergensi IFRS terhadap Bisnis

IFRS menimbulkan dampak positif dan negatif terhadap dunia bisnis. Berikut

ini adalah berbagai dampak yang ditimbulkan dari program konvergensi IFRS yang

disampaikan dalam seminar setengah hari IAI dengan topik “Dampak konvergensi

IFRSterhadap Bisnis” yang diselenggarakan pada tanggal 28 Mei 2009 kemarin.


 Akses ke pendanaan internasional akan lebih terbuka karena laporan keuangan

akan lebih mudah dikomunikasikan ke investor global.

 Relevansi laporan keuangan akan meningkat karena lebih banyak menggunakan

nilai wajar.

 Disisi lain, kinerja keuangan (laporan laba rugi) akan lebih fluktuatif apabila harga-

harga fluktuatif.

 Smoothing income menjadi semakin sulit dengan penggunakan balance sheet

approach dan fair value.

 Principle-based standards mungkin menyebabkan keterbandingan laporan

keuangan sedikit menurun yakni bila penggunaan professional judgment ditumpangi

dengan kepentingan untuk mengatur laba (earning management).

 Penggunaan off balance sheet semakin terbatas.

3.5.2 Dampak Konvergensi IFRS terhadap penyajian Laporan Keuangan

Konvergensi IFRS di indonesia akan berdampak terhadap berbagai hal salah

satunya adalah berdampak pada sistem akuntansi dan pelaporan.

1.Pengukuran.

Dampak IFRS terhadap sistem akuntansi dan pelaporan adalah.

•Peningkatan penggunaan nilai wajar (fair falue)

Standar IFRS banyak menggunakan nilai wajar, terutama untuk property

investasi,beberapa aset tak berwujud, aset keuangan dan aset biologis. Diperlukan

sumber daya yang kompeten untuk menentukan nilai wajar atau bahkan perlu

menyewa jasa konsultan penilai terutama untuk aset-aset yang tidak memiliki nilai

pasar aktif.

•Penggunaan estimasi dan “judgement”


Akibat karakteristik IFRS yang lebih berbasis prinsip akan banyak dibutuhkan

“judgement” untuk menentukan bagaimana suatu transaksi keuangan dicatat.

2.Pengungkapan

Persyaratan pengungkapan lebih banyak dan lebih rinci. IFRS mensyaratkan

pengungkapan berbagai informasi tentang resiko baik kualitatif maupun kuantitatif.

Pengungkapan dalam laporan keuangan harus sejalan dengan data/ informasi yang

dipakai untuk pengambilan keputusan yang digunakan oleh manajemen.

Laporan keuangan menurut IFRS terdiri dari (IAS1.8)

 Pernyataan Posisi Keuangan

 Pernyataan Pendapatan Komprehensif atau dua laporan terpisah yang terdiri

dari suatu Laporan Laba Rugi dan terpisah Pernyataan Pendapatan Komprehensif,

yang menyatukan Laba atau Rugi pada laporan laba rugi terhadap total pendapatan

komprehensif

 Pernyataan Perubahan Ekuitas (SOCE)

 Pernyataan atau Arus Kas Laporan Arus Kas

 Catatan, termasuk ringkasan kebijakan akuntansi yang signifikan Informasi

komparatif diperlukan untuk periode pelaporan sebelumnya (IAS 1,36).Sebuah

entitas mempersiapkan rekening IFRS untuk pertama kalinya harus menerapkan

IFRS secara penuh untuk periode berjalan dan komparatif (IFRS1.7).

Tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut

posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang

bermanfaat bagi sejumlah besar pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi,

sedangkan tujuan pelaporan keuangan bertujuan umum adalah menyediakan

informasi keuangan tentang entitas pelaporan yang bermanfaat bagi yang telah
menjadi maupun yang potensial investor, pemberi pinjaman,dan kreditor lainnya

dalam pembuatan keputusan tentang penyediaan sumber daya entitas.

Laporan keuangan yang disusun untuk tujuan ini diharapkan dapat

memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pengguna. Suatu laporan keuangan

bermanfaat bagi sejumlah besar pengguna apabila informasi yang disajikan dalam

laporan keuangan tersebut dapat dipahami, relevan, andal dan dapat

diperbandingkan. Namun demikian, perlu disadari bahwa laporan keuangan tidak

menyediakan semua informasi yang mungkin dibutuhkan pengguna dalam

pengambilan keputusan ekonomi. Dalam rangka penyajian laporan keuangan

Perusahaan, salah satu pihak pengguna laporan yang harus dipertimbangkan

adalah investor. Laporan Keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan

keuangan.

Menurut Standar Akuntansi Keuangan No. 1 ( Revisi 2009 ) , Laporan

Keuangan Dasar (basic financial statement ) terdiri dari: 1. Laporan Posisi

Keuangan; 2. Laporan Laba-Rugi Komprehensif; 3. Laporan Arus Kas; 4. Laporan

Perubahan Ekuitas ; 5. Catatan atas Laporan Keuangan.

Pelaporan Keuangan ( financial reporting) merupakan “ financial statement

plus”, Karena terdiri dari.

 Laporan Keuangan Dasar (basic financial statement )

 Informasi Pelengkap, misalnya informasi keuangan segmen industri dan

geografis serta pengungkapan pengaruh perubahan harga (SAK 2009)

 Sarana pelaporan keuangan lainnya, contohnya: analisis dan diskusi

manajemen, surat kepada pemegang saham.

Pedoman penyajian dan pengungkapan laporan keuangan Perusahaan

dimaksudkan untuk memberikan suatu panduan penyajian dan pengungkapan yang


terstandarisasi dengan mendasarkan pada prinsip-prinsip pengungkapan penuh (full

disclosure), sehingga dapat memberikan kualitas penyajian dan pengungkapan yang

memadai bagi pengguna informasi yang disajikan dalam pelaporan keuangan

Emiten atau Perusahaan Publik. Laporan keuangan harus cukup informatif untuk

mempengaruhi pertimbangan dan keputusan seorang pemakai yang

berpengetahuan.

3.5.3 Dampak Konvergensi IFRS Terhadap Kualitas Pelaporan Keuangan

Konvergensi IFRS dapat meningkatkan daya informasi dari pelaporan

keuangan perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia. Adopsi standar

internasional juga sangat penting dalam rangka stabilitas perekonomian. Banyaknya

standar yang harus dilaksanakan dalam program konvergensi ini menjadi tantangan

yang cukup berat bagi publik untuk sedari dini mengantisipasi implementasi program

konvergensi IFRS. Beberapa dampak yang terjadi atas konvergensi IFRS terhadap

kualitas penyajian Pelaporan Keuangan, akan dijelaskan lebih rinci dari dalam

perspektif kualitatif.

1.Perubahan konsep dari rule based ke principle based

Principle based mengandung makna bahwa standart akuntansi tidak bersifat

ketat atau rigid, melainkan hanya memberikan prinsip-prinsip umum standar

akuntansi yang harus di ikuti untuk memastikan pencapaian kualitas informasi

tertentu yang relevan, dapat diperbandingkan dan objektif, sedangkan rule based

mengandung makna bahwa untuk mencapai kualitas informasi tertentu yang

relevan, dapat diperbandingkan, dan objektif, standar akuntansi harus bersifat ketat

dan rigid.

2.Peran Profesional Judgement lebih dibutuhkan


Peralihan menuju principle based standar mempunyai arti standar akuntansi

yang akan kita gunakan menjadi lebih bersifat fleksibel karena aturan-aturan yang

detail sudah disederhanakan kedalam beberapa prinsip-prinsip dasar saja.

Fleksibilitas dari IFRS inilah yang menjadikan peran professional judgement lebih

dibutuhkan baik dalam hal mempersiapkan laporan keuangan maupun dalam hal

pengauditan. Dan hal terpenting yang harus kita lakukan adalah bahwa semua

dokumen serta proses Profesional Judgement itu harus didokumentasikan.

3.Penggunaan Fair Value Accounting

Fair value bukanlah nilai yang akan diterima atau dibayarkan entitas dalam

suatu transaksi yang dipaksakan, likuidasi yang dipaksakan, atau penjualan akibat

kesulitan keuangan. Nilai adalah nilai yang wajar mencerminkan kualitas kredit suatu

instrumen. Sehingga dengan adanya fair value accounting maka penyajian atas

pelaporan keuangan untuk nilai aset dan instrumen keuangan tercatat pada nilai

sebenarnya atau wajar sesuai dengan kondisi pasar. Sehingga kualitas yang

dihasilkan atas laporan keuangan menjadi dapat diandalkan.

4.Keterlibatan pihak ketiga dalam penyusunan laporan keuangan

Dengan adanya konvergensi IFRS, menyebabkan segala sesuatu yang

berkaitan dengan penilaian dan pengukuran menjadi penting, sehingga kebutuhan

atas adanya pihak ketiga didalam penyusunan laporan keuangan sangat besar.

Karena laporan keuangan mewajibkan untuk diungkapkan secara menyeluruh agar

transparansi menjadi suatu hal penting bagi pengguna laporan keuangan.

Kesiapan Indonesia mengadopsi IFRS secara penuh

Sejak tahun 1994, Indonesia sebenarnya telah mengadopsi sebagian besar

IAS. PSAK dan ISAK yang dibelakukan sejak tahun 1994 adalah saduran dari IAS
dan SIC yang diterbitkan sebelum tahun 1994. Namun tidak semua perubahan IAS,

interpretasi SIC dan standar-standar yang ada pada IFRS diadopsi oleh DSAK.

DSAK yang berada di bawah IAI telah mencanangkan adopsi penuh IAS dan

IFRS yang telah rampung pada tahun 2010 dan mulai menerapkannya di tahun

2012. Indonesia sebenarnya masih memiliki banyak regulasi yang tidak mendukung

sehingga adopsi penuh IFRS menjadi sulit dilakukan.

Berdasarkan proposal konvergensi yang telah dikeluarkan oleh IAI, proses

adopsi dibagi dalam tiga tahap adopsi yaitu :

No Tahap Keterangan Tahun

1 Tahap adopsi Adopsi seluruh IFRS terakhir ke dalam 2008-2010

PSAK

2 Tahap persiapan Penyiapan seluruh infrastruktur pendukung 2011

untuk implementasi PSAK yang sudah

mengadopsi seluruh IFRS

3 Tahap Penerapan PSAK yang sudah mengadopsi 2012

implementasi seluruh IFRS bagi perusahaan-

perusahaan yang memiliki akuntabilitas

publik

Jadi, beralih ke IFRS bukanlah sekedar pekerjaan mengganti angka-angka di

laporan keuangan, tetapi mungkin akan mengubah pola pikir dan cara semua

elemen di dalam perusahaan. Indonesia harus mempersiapkan untuk mengadopsi

penuh IFRS meskipun banyak kendala yang akan dihadapi. Indonesia sudah tidak

punya pilihan lain selain “mau tidak mau harus mulai berusaha menerapkan IFRS”
dalam pelaporan keuangannya. Perubahan tata cara pelaporan keuangan dari

PSAK ke IFRS berdampak sangat luas. IFRS akan menjadi “kompetensi wajib yang

baru” bagi para pekerja akuntansi.

3.4 Perbandingan Standar Akuntansi Keuangan: Indonesia, Amerika Serikat,

dan Internasional.

Untuk melihat terjadinya perbedaan praktek akuntansi diberbagai negara

di dunia, berikut ini disampaikan contoh Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang

berlaku di Indonesia, Amerika Serikat (Financial Accounting Standard Board /

FASB) dan Stadar Akuntansi Internasional (International Accounting Standard/IAS)

atau International Financial Report Standard (IFRS).

1. Standar Akuntansi Keuangan Indonesia

Indonesia sejak tahun 1994 sebenarnya telah mengadopsi sebagian besar

IAS. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) dan Interprestasi atas

Standar Akuntansi Keuangan (ISAK) yang diberlakukan sejak tahun 1994 adalah

saduran IAS dan interpretasi SIC yang diterbitkan sebelum tahun 1994. namun

setelah itu, tidak semua perubahan IAS, interprestasi SIC dan standar-standar yang

ada pada IFRS di adopsi oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK).

DSAK yang berada di bawah Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) telah

mencanangkan adopsi penuh IAS dan IFRS yang akan rampung pada tahun 2010

dan mulai menerapkan pada tahun 2012. Indonesia sebenarnya masih memiliki

banyak regulasi yang tidak mendukung sehingga adopsi penuh IFRS akan sulit

dilakukan. Di samping itu, perhatian dan komitmen yang kuat dari pelaku bisnis,

pemerintah Indonesia dan otoritas pasar modal sangat minim.

Indonesia sebagai salah satu negara yang sedang berkembang tentu saja

sangat jauh berbeda bila dibandingkan dengan negara maju seperti Amerika
Serikat maupun negara maju lainnya baik dalam praktek bisnis maupun standar dan

praktek akuntansinya. Praktek bisnis yang telah berkembang di negara maju dan

telah dibuat standar akuntansinya namun praktek bisnis tersebut belum

berkembang di Indonesia tentu saja belum memerlukan standar akuntansi.

Sementara praktek bisnis yang berkembang di Indonesia namun tidak

berkembang di negara lainnya termasuk di negara-negara maju, maka dibuat

standar akuntansinya seperti standar akuntansi untuk perbankan syariah.

2. Standar Akuntansi Keuangan Amerika Serikat

Amerika serikat merupakan salah satu Negara maju di dunia yang

mempunyai pengaruh politik, ekonomi, sosial budaya termasuk akuntansi

terhadap sesama negara maju maupun Negara berkembang sangat kuat. Dapat

diibaratkan apa yang terjadi di Amerika sekarang secara perlahan atau cepat

akan ditiru di negara lain. Khusus mengenai praktek bisnis di Amerika serikat

berkembang begitu pesat yang pada akhirnya memerlukan standard praktek

akuntansi yang berkembang pula sesuai dengan perkembangan bisnis yang

terjadi. Bila dibandingkan dengan standar akuntansi Keungan Indonesia maupun

Standar akuntansi internasional maka standar akuntansi keuangan di

Amerika serikat jauh lebih banyak akibat praktek bisnis yang memang lebih

beragam.

Amerika serikat merencanakan akan melakukan adopsi penuh IFRS baik

untuk perusahaan public maupun non publiok pada tahun 2014. adopsi dilkaukan

secara perlahan yaitu, dengan mengadopsi standar-standar IFRS satu per satu dan

mempererat kerja sama antara IASB dan FASB dalam mengembangkan standar

akuntansi keuangan sebagaimana ditetapkan dalam Norwalk agreement.

3. Standar Akuntansi Internasional (IAS / IFRS)


International Accounting Standard/International Financial Reporting

Standard dikeluarkan oleh International Accounting Standart Board atau badan

standar Akuntansi Internasional. Mengingat tujuan penyusunan standar akuntansi

tersebut untuk dapat dipergunakan sebanyak mungking negara di dunia maka

dalam penyusunan standar akuntansi tertentu saja, Badan Standar Akuntansi

Internasionalmempertimbangkan kondisi sebagian besar negara sehingga sesuai

dengan kebutuhan. Bila kita bandingkan dengan standar akuntansi Amerika maka

dari segi jumlah standar yang dikeluarkan Badan Standar Akuntansi International

jauh lebih sedikit karena memang mereka tidak mengacu pada perkembangan

bisnis dan kebutuhan akuntansi di Amerika saja meliankan pada sebagian besar

negara sehingga standar akuntansi yang mereka keluarkan dapat diadopsi baik

sebagian maupun sepenuhnya. Ketiga standar akuntansi tersebut baik yang

berlaku di Indonesia, Amerika Serikat, dan standar International maka secara

kuantitas jelas tampak perbedaan yang nyata. Bila melihat dari segi jumlah

standar maka standar akuntansi di Indonesia bila dibandingkan dengan Amerika

Serikat hanya kurang lebih sepertiganya saja sementara bila dibandingkan

dengan standar akuntansi international, standar akuntansi di Indonesia lebih

banyak. Perbedaan jumlah standar akuntansi di Amerika yang jauh lebih banyak

dari Indonesia dapat dijelaskan bahwa tingkat perkembangan ekonomi Amerika

jauh lebih maju bila dibandingkan dengan Indonesia sehingga di Amerika telah

berkembang berbagai jenis instrumen yang dapat dikategorikan ke dalam

rekening harta, kewajiban, dan equitas.

Sementara bila di Indonesia ada standar akuntansi yang sudah berlaku di

Amerika tetapi belum ada di Indonesia menunjukkan bahwa untuk Indonesia hal

tersebut masih dipandang belum mendesak atau penting mengingat frekuensi


terjadinya masih rendah atau bahkan belum timbul sama sekali. Sementara standar

akuntansi internasional yang lebih sedikit bila dibandingkan dengan Amerika

bahkan Indonesia dapat dijelaskan bahwa standar akuntansi internasional

berusaha sebanyak mungkin dapat mengadopsi berbagai keragaman standar

akuntansi di berbagai negara di dunia. Standar akuntansi internasional tersebut

diharapkan banyak negara yang dapat mengadopsi atau menggunakan standar

yang ada untuk diberlakukan di negara masing- masing. Semakin banyaknya

negara yang menggunakan standar akuntansi internasional berarti telah terjadi

penyeragaman standar akuntansi meskipun belum sepenuhnya, mengingat seperti

di Amerika berarti masih ada standar akuntansi lainnya yang belum tercakup

dalam standar akuntansi internasional.

IV. PENUTUP

Kesimpulan

SAK Indonesia direncanakan akan mengadopsi penuh IFRS pada tahun

2012, hal ini diharapkan akan semakin membawa perusahaan–perusahaan di

Indonesia dapat bersaing dengan perusahaan internasional lainnya. Karena dengan

melakukan adopsi ini tentunya penyajian laporan keuangan yang dilakukan oleh

perusahaan juga akan semakin akuntabel dan transparan.


Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa kendala yang

dihadapi dalam menerapkan full adoption terhadap IFRS, namun demi kepentingan

semakin terciptanya proses akuntansi yang semakin baik IFRS harus diterapkan.

Saran

Bagi akademisi tentunya harus mempelajari secara mendalam tentang IFRS

ini, dengan harapan akan tersedia sumberdaya yang memadai untuk semakin

membawa ke arah yang positif dari adopsi IFRS ini.

Manajemen juga perlu melakukan peninjauan kesiapan SDM perusahaaan,

apakah masih memerlukan bantuan konsultan IFRS, ataupun pelatihan IFRS atau

tidak. Selain itu, manajemen juga perlu melakukan peninjauan atas software

akuntansi yang digunakan, seperti Oracle dan SAP yang biasanya sudah sangat

‘IFRS familiar’.

REFERENCES

Anjasmoro, Mega. 2010. Adopsi International Financial Repot Standard:

“Kebutuhan atau Paksaan?” Studi Kasus Pada PT Garuda Airlines Indonesia.

Skripsi. Universitas Diponegoro


Gamayuni, Rindu Rika. 2009. Perkembangan Standar Akuntansi Keuangan

Indonesia Menuju International Financial Reporting Standards. Dalam Jurnal

Akuntansi dan Keuangan, Vol. 14, No. 2, pp. 153-166.

Purba, Marsani. 2010. International Financial Reporting Standards. Yogyakarta:

Graha Ilmu.

Zamzami, Faiz. Perkembangan Konvergensi International Financial Reporting

Standards (IFRS) di Indones