Anda di halaman 1dari 43

LAPORAN KEMAJUAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

JUDUL PROGRAM
“HUBUNGAN KONSUMSI SUSU SAPI TERHADAP KEJADIAN
REGURGITASI PADA BAYI”

BIDANG KEGIATAN
PKM PENELITIAN

Diusulkan oleh:
Ketua : Garinda Galang Hertiza Fals Ersadwi NIM: 201510300511071 2015
Anggota : 1. Sutrisno Ady Wasono NIM: 201510300511048 2015
2. Andri Dwi Kurnawan NIM: 201510300511079 2015
3. Silvia Ayu Putriastari NIM: 201610300511058 2016
4. Jihan Farah Fairus Ghina NIM: 201610300511084 2016

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG


MALANG
2017

i
ii
Ringkasan

Regurgitasi merupakan aliran balik isi lambung ke dalam esofagus dan


keluar melalui mulut dan tidak disertai kontraksi otot abdomen (Salvatore &
Vandenplas, 2002). Bayi baru lahir hingga usia 6 bulan pertama memiliki tonus
otot sfingter kardiak esofagus yang imatur dan belum berfungsi dengan optimal.
Neuromuskular sfingter esofagus kardiak bagian bawah mengalami kelambatan
kematangan fungsi yang dapat mengakibatkan kembalinya isi lambung ke dalam
esofagus sehingga dapat mengakibatkan terjadinya regurgitasi (Muscari, 2005).
Regurgitasi akibat dari refluks esofagus sebagian besar disebabkan oleh
alergi susu sapi (Koletzko, 2012; Hegar & Vandenplas, 2011). Prevalensi
regurgitasi terjadi pada bayi usia 0-3 bulan yaitu 50% dan mencapai puncaknya
pada usia 4 bulan yaitu 67%, 23% pada usia 6 bulan, 14% pada usia 7 bulan dan
menurun pada usia 10-12 bulan yaitu 5% (Neu, 2012; Howe & Storms, 2010;
Campanozzi, et al. 2009). Depkes (2010, dalam Bernadus & Lestari, 2012)
menunjukkan bahwa 70% bayi berusia di bawah 4 bulan mengalami regurgitasi
minimal 1 kali dalam sehari dan kejadian tersebut menurun seiring dengan
bertambahnya usia yaitu 8-10% pada usia 9-12 bulan dan 5% pada usia 18 bulan.
Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Desain cross
sectional adalah desain penelitian analitik yang bertujuan untuk mengetahui
hubungan antar variabel dimana variabel independen dan variabel dependen
diidentifikasi pada satu satuan waktu. Tekhnik sampling yang digunakan pada
penelitian ini adalah purposive sampling. Dimana data yang diambil sesuai
dengan kriteria yaitu bayi usia 0-6 bulan ASI eksklusif.
Setelah didapatkan data terdapat 44 responden kemudian dianalisa dengan
uji t-test untuk mengetahui perbedaan antara yang mengkonsumsi susu sapi dan
tidak mengkonsumsi terhadap frekuensi regurgitasi dengan tingkat signifikansi (α
= 0,05). Dari hasil analisa data didapatkan 22 responden yang mengkonsumsi susu
sapi memiliki rata-rata lebih besar daripada 22 responden yang tidak
mengkonsumsi susu sapi (mean ibu menyusui yang konsumsi susu sapi = 2,81 dan
ibu menyusui yang tidak mengkonsumsi susu sapi = 2,13) dengan signifikasi =
0,01. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan antara ibu
menyusui yang mengkonsumsi susu sapi dengan yang tidak menngkonsumsi susu
sapi. Ibu menyusui yang mengkonsumsi susu sapi memiliki rata-rata frekuensi
regurgitasi lebih besar daripada ibu yang tidak mengkonsumsi susu sapi.
Tujuan penelitian ini agar ibu yang telah mengkonsumsi susu sapi
mengetahui bahwa mengkonsumsi susu sapi bisa menyebabkan meningkatnya
frekuensi regurgitasi, juga untuk menambah pengetahuan dan wawasan mengenai
regurgitasi pada bayi serta penatalaksanaannya, meningkatkan keilmuan di bidang
penelitian khususnya keperawatan anak dan untuk memberikan informasi pada
penelitian selanjutnya mengenai regurgitasi pada bayi usia 0-6 bulan.

Kata kunci : regurgitasi, imatur,esofagus, cross sectional, purposive sampling, uji


t-test.

iii
DAFTAR ISI

Halaman Sampul ................................................................................... i


Halaman Pengesahan ............................................................................. ii
Ringkasan................................................................................................ iii
Daftar Isi.............................................................................................. iv
BAB I : Pendahuluan ................................................................ 1
BAB II : Target Luaran ............................................................. 1
BAB III : Metode Penelitian ....................................................... 2
BAB IV : Hasil yang dicapai ....................................................... 3
BAB V : Potensi Hasil .............................................................. 9
BAB VI : Rencana dan Tahap Berikutnya .................................... 10
Daftar Pustaka ...................................................................................... 10
Lampiran .............................................................................................. 11

iv
1

BAB I. PENDAHULUAN
Latar Belakang
Regurgitasi merupakan aliran balik isi lambung ke dalam esofagus dan
keluar melalui mulut dan tidak disertai kontraksi otot abdomen (Salvatore &
Vandenplas, 2002). Bayi baru lahir hingga usia 6 bulan pertama memiliki tonus
otot sfingter kardiak esofagus yang imatur dan belum berfungsi dengan optimal.
Neuromuskular sfingter esofagus kardiak bagian bawah mengalami kelambatan
kematangan fungsi yang dapat mengakibatkan kembalinya isi lambung ke dalam
esofagus sehingga dapat mengakibatkan terjadinya regurgitasi (Muscari, 2005).
Regurgitasi akan berhenti secara normal atau fisiologis seiring dengan berjalannya
proses maturasi organ pencernaan dan bertambahnya usia bayi hingga usia 6
bulan ke atas (Lightdale & Gremse, 2013).
Regurgitasi akibat dari refluks esofagus sebagian besar disebabkan oleh
alergi susu sapi (Koletzko, 2012; Hegar & Vandenplas, 2011). Prevalensi alergi
susu sapi pada bayi yang minum ASI eksklusif adalah 0,37% dari 1,9% populasi
yang menderita alergi susu sapi (Salvatore & Vandenplas, 2002).
Susu sapi merupakan jenis susu yang banyak dijumpai pada produk susu
khusus ibu menyusui yang terdapat di pasaran. Susu sapi memiliki manfaat yang
baik bagi ibu menyusui karena dapat memenuhi kebutuhan kalsium ibu, namun
susu sapi yang dikonsumsi oleh ibu selama menyusui dapat mengakibatkan reaksi
alergi pada bayi karena komponen dalam susu sapi tersebut akan diekskresikan ke
dalam ASI yang akan diminum oleh bayi (Sumanto, 2009; Hill, et al. 2005;
Salvatore & Vandenplas, 2002). Ibu menyusui yang mengkonsumsi atau produk
olahan susu sapi akan akan menyebabkan manifestasi regurgitasi pada bayi.
Regurgitasi yang disebabkan oleh alergi susu sapi yang dikonsumsi ibu
menyusui dapat menyebabkan berbagai komplikasi yang dapat mengganggu
pertumbuhan bayi apabila regurgitasi terjadi tidak hanya setelah minum ASI tetapi
juga terjadi saat tidur meskipun telah minum ASI 3 jam yang lalu (Tampubolon,
2009). Komplikasi dari regurgitasi yang berlebihan akan menyebabkan kerusakan
lapisan dinding esofagus yang akan mengakibatkan esofagitis, akibatnya bayi
akan rewel dan rasa sakit tenggorokan (Hegar & Vandenplas, 2011). Rasa sakit
tenggorokan tersebut akan mengakibatkan bayi cenderung untuk menolak minum
ASI sehingga asupan nutrisinya berkurang dan berdampak pada penurunan berat
badan sehingga bayi tidak tumbuh optimal (Hegar & Vandenplas, 2011; Behrman,
2000).
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka rumusan masalah
dalam penelitian ini yaitu “Bagaimana hubungan susu sapi terhadap kejadian
regurgitasi pada bayi?”. Sehingga tujuan khusus dari penelitian ini adalah
mengetahui gambaran regurgitasi pada bayi usia 0-6 bulan sebelum dan sesudah
konsumsi susu sapi oleh ibu menyusui di wilayah kerja Kecamatan Pujon Malang,
juga mengetahui pengaruh konsumsi susu sapi oleh ibu terhadap frekuensi
regurgitasi pada bayi usia 0-6 bulan di wilayah kerja Kecamatan Pujon Malang.

BAB II. TARGET LUARAN

Pada penelitian ini difokuskan untuk para ibu menyusui. Kajian tentang
hubungan konsumsi susu sapi terhadap kejadian regurgitasi pada bayi. Luaran
yang diharapkan dari penelitian ini yaitu menghasilkan sebuah analisis yang bisa
2

mengkaji mengenai hubungan konsumsi susu sapi terhadap kejadian regurgitasi


pada bayi. Selain itu juga diaplikasikan melalui jurnal keperawatan.
Manfaat penelitian ini agar ibu yang telah mengkonsumsi susu sapi
mengetahui bahwa mengkonsumsi susu sapi bisa menyebabkan meningkatnya
frekuensi regurgitasi, juga untuk menambah pengetahuan dan wawasan mengenai
regurgitasi pada bayi serta penatalaksanaannya, meningkatkan keilmuan di bidang
penelitian khususnya keperawatan anak dan untuk memberikan informasi pada
penelitian selanjutnya mengenai regurgitasi pada bayi usia 0-6 bulan.

BAB III. METODE PENELITIAN


Penjabaran Penelitian
Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan di Wilayah Kecamatan Pujon
Malang pada bulan Januari-Mei 2017. Desain penelitian ini adalah cross
sectional. Desain cross sectional adalah desain penelitian analitik yang bertujuan
untuk mengetahui hubungan antar variabel dimana variabel independen dan
variabel dependen diidentifikasi pada satu satuan waktu. Kelompok subjek
dilakukan pengambilan data pada satu waktu, kemudian diidentifikasi setelah
dilakukan intervensi dengan mengobservasi hasilnya apakah ada hubungan antar
variabel. Dalam penelitian ini akan dianalisis variabel konsumsi susu sapi dan
produk olahan dan variabel frekuensi regurgitasi.
Tahap penelitian yang harus kita laksanakan yaitu mempersiapkan
instrumen penelitian yaitu lembar observasi frekuensi regurgitasi pada bayi usia 0-
6 bulan, mempersiapkan lembar persetujuan permohonan dan kesediaan menjadi
responden bagi ibu menyusui, memohon izin penelitian kepada pihak yang terkait
yaitu Kecamatan Pujon Malang untuk melakukan penelitian dan pengumpulan
data di wilayah kerja Kecamatan Pujon Malang.
Tahap pelaksanaan untuk melakukan penelitian dilakukan setelah
mendapatkan izin dan persetujuan dari Kepala Kecamatan Pujon Malang, memilih
responden penelitian yang memenuhi kriteria inklusi yaitu ibu menyusui secara
eksklusif yang memiliki bayi usia 0-6 bulan, memberikan penjelasan kepada
responden mengenai maksud dan tujuan penelitian yang akan dilakukan, meminta
persetujuan responden untuk menjadi responden penelitian dengan menyerahkan
dan membaca informed consent serta meminta responden untuk menandatangani
lembar persetujuan menjadi responden, meminta responden untuk mengisi
identitas responden, memberikan produk susu sapi dan produk olahannya khusus
untuk ibu menyusui dengan komposisi (terlampir) kepada responden yang telah
bersedia menjadi responden pada penelitian ini untuk dikonsumsi 2 kali dalam
sehari selama 3 hari, menjelaskan cara pengisian lembar observasi frekuensi
regurgitasi yang dialami oleh bayi setiap hari selama 3 hari selama ibu
mengkonsusmsi susu sapi khusus menyusui, melakukan dokumentasi saat
penelitian.
Tahap pengumpulan data yaitu mengumpulkan instrumen penelitian yang
telah diisi oleh responden, melakukan pengecekan kelengkapan indentitas
responden, melakukan pengecekan kelengkapan data yaitu kelengkapan pengisian
lembar observasi frekuensi regurgitasi pada bayi usia 0-6 bulan.
Luaran yang diharapkan dari penelitian ini yaitu dihasilkannya sebuah analisis
yang nantinya dapat mengkaji mengenai perbedaan konsumsi susu sapi terhadap
3

kejadian regurgitasi pada bayi. Selain itu, kedepannya dapat dikembangkan lagi
untuk digunakan oleh warga dan khalayak umum.

Tabel 3.1 Indikator Capaian

Tahapan Indikator Capain


Identifikasi susu sapi dan produk Mengetahui data frekuensi regurgitasi
olahannya terhadap frekuensi
regurgitasi
Melaksanakan pemberian susu sapi dan Terlaksananya pemberian susu sapi dan
produk olahannya kepada ibu menyusui produk olahannya kepada ibu menyusui
dengan tepat dan benar
Analisis hubungan antara ibu menyusui Mengetahui data hubungan antara ibu
yang mengonsumsi susu sapi dan menyusui yang mengonsumsi susu sapi
produk olahannya terhadap frekuensi dan produk olahannya terhadap
regurgitasi pada bayi frekuensi regurgitasi pada bayi
Analisa data dilakukan melalui pengolahan data yang dilakukan melalui
beberapa tahap yaitu sebagai berikut:
Analisa bivariat dilakukan untuk menguji ada tidaknya hubungan antara
variabel independen dan variabel dependen dengan uji statistik. Analisis bivariat
dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui pengaruh konsumsi susu sapi
khusus ibu menyusui terhadap frekuensi regurgitasi pada bayi usia 0-6 bulan.
Analisa data yang digunakan untuk menilai pengaruh konsumsi susu sapi khusus
ibu menyusui terhadap frekuensi regurgitasi pada bayi usia 0-6 bulan adalah uji
independent t-test untuk membedakan data mean antara dua kelompok dengan
tingkat signifikansi (α = 0,05).
Cara penafsiran menggunakan analisis bivariat akan mengetahui
bagaimana perbedaan konsumsi susu sapi khusus ibu menyusui terhadap bayi dan
frekuensi regurgitasi bayi terhadap ASI ibu yang telah dikonsumsi oleh bayi.
Kesimpulan hasil
- Nilai t hitung > t tabel maka H1 diterima
- Nilai t hitung < t tabel maka H1 ditolak

BAB IV. HASIL YANG DICAPAI

Pada bab ini diuraikan hasil penelitian dan pembahasan tentang frekuensi
regurgitasi pada bayi usia 0-6 bulan di desa Ngabab Kec. Pujon setelah dilakukan
pengambilan dan analisis data. Pengkajian ini merupakan hasil penelitian yang
dilaksanakan pada tanggal 18 April 2017. Dari 128 bayi, yang sesuai dengan
kriteria usia bayi 0-6 bulan adalah 44 responden yang layak dianalisis datanya.
Data yang diperoleh menampilkan karakteristik responden meliputi gambaran
umum lokasi penelitian, usia ibu dan anak, anak ke, pekerjaan orang tua,
pendidikan orang tua, penghasilan orang tua, dan lain-lain. Serta analisis data
hasil identifikasi minum susu, frekuensi regurgitasi, dan hubungan konsumsi susu
sapi terhadap kejadian regurgitasi pada bayi.
4

4.1 Deskripsi Data umum


4.1.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Desa Ngabab merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Pujon.
Desa ini terbagi atas beberapa dusun yaitu; Mantung, Torong, dan Krajan. Letak
desa tersebut lebih kurang 5KM dari kantor kecamatan Pujon yang lebih tepatnya
dijuluki Pujon Lor. Terdapat 128 bayi dan yang sesuai dengan kriteria 0-6 bulan
hanya 44 responden yang akan dijadikan sumber analisis data.
1. Karakteristik responden berdasarkan demografi
Tabel 4.1 Karakteristik responden berdasarkan demografi

Variabel Jumlah Persentase


Jenis kelamin bayi
Laki-laki 18 41%
Perempuan 26 59%
Penghasilan orang tua
<2,3 jt 28 64%
=2,3 jt 11 25%
>2,3 jt 5 11%
Pekerjaan orang tua
Swasta 8 18%
Petani 5 11%
IRT 30 69%
Lain-lain 1 2%
Tingkat pendidikan orang tua
SD 14 32%
SMP 19 43%
SMA 8 18%
Sarjana 3 7%
Urutan kelahiran bayi
Pertama 15 34%
Kedua 20 46%
Ketiga 5 11%
Keempat 4 9%

Tabel 4.1 diatas menunjukkan hasil analisis karakteristik responden yang


meliputi jenis kelamin bayi, usia ibu, usia kelahiran bayi, penghasilan orang tua,
pekerjaan orang tua, tingkat pendidikan orang tua, urutan kelahiran bayi, dan berat
badan bayi. Dari tabel diatas didapatkan gambaran dari 44 responden distribusi
umur hampir merata prosentasenya. Hanya responden dengan usia 36-40 tahun
yang prosentasenya kecil yaitu 8%. Sedangkan usia 26-30 tahun sebanyak 30%
merupakan prosentase terbesar.
Gambaran prosentase terbanyak pada usia bayi yaitu usia 0 sampai 4
minggu mendapatkan prosentase sekitar 32%. Sedangkan usia 21-24 minggu
hanya sekitar 4%. gambaran dari 44 responden penghasilan yang mereka dapatkan
diatas 2,3 juta hanya sekitar 11% dan ini merupakan prosentase terendah.
Sedangkan prosentase tertinggi diperoleh dengan penghasilan ke dibawah 2,3 juta
yang mencapai prosentase 64%. didapatkan hasil bahwa bayi laki-laki lebih
5

sedikit daripada perempuan. Bayi laki-laki mendapatkan prosentase 41%,


dibandingkan bayi perempuan yang mendapatkan prosentase lebih tinggi yaitu
59%.
Didapatkan hasil bahwa orang tua bayi paling banyak prosentasenya
bekerja sebagai ibu rumah tangga, sedangkan pekerjaan lain-lain hanya
mempunyai prosentase 2% dan ini adalah prosentase paling rendah. Prosentase
tentang tingkat pendidikan orang tua, diman disini mendapatkan hasil bahwa
pendidikan orang tua prosentase paling sedikit adalah sarjana dan mendapatkan
prosentase 7%. Sedangkan pendidikan SMP mempunyai prosentase terbanyak
yaitu 43%. Presentase anak ke 4 didapatkan hasil paling sedikit sebanyak 9%,
sedangkan prosentase tertinggi adalah anak ke 2 sekitar 46%.
Gambaran dari 44 responden dalam hal masa usia kehamilan didapatkan
hasil yang hampir sama antara 31-32 minggu dan 33-34 minggu yang sama-sama
mendapatkan prosentase 2% dan merupakan prosentase terkecil. Sedangkan usia
kelahiran bayi terbanyak didapatkan oleh usia 37-38 minggu yang mendapatkan
prosentase 39%. Presentase BB Lahir Bayi, prosentasi terendah didapatkan bahwa
3,5-3,9 kg dengan prosentase 13%. Sedangkan prosentase tertinggi adalah 2,5-2,9
kg yaitu 40%.
2. Karakteristik responden berdasarkan data Demografi
Tabel 4.2 Karekteristik Responden Demograsi (jenis kelamin,usia dan berat
badan)

Variabel N Mean Median SD Min-


Maks
Jenis 44 L/P
kelamin
Usia Ibu 44 27 27 6,73 17-44

Usia Bayi 44 3 3 1bln-6bln

Usia 44 37 37 1,77 32-40


kelahiran
BeratBadan 44 2,9 2,85 0,43 2-3,8
Bayi

Pada Tabel 4.2 di atas didapatkan hasil bahwa jumlah semua responden
adalah 44 responden, usia ibu rata-rata 27 tahun (SD = 6,73; min – maks = 17-44),
usia kelahiran bayi rata-rata 37 minggu (SD = 1,77; min-maks = 32 minggu – 40
minggu ), usia bayi mempunyai rata-rata 3 bulan (SD = 3; min – maks = 1 bulan –
6 bulan), dan berat badan bayi rata-rata 2,9 kg (SD = 0.43; min-maks = 2 kg – 3,8
kg).

4.1.2. Data Khusus


1. Hasil identifikasi konsumsi susu sapi dan produk olahan pada ibu
menyusui di desa Ngabab, Kec. Pujon, Kota Batu
6

Tabel 4.3 Hasil identifikasi konsumsi susu sapi dan produk olahan pada ibu
menyusui di desa Ngabab, Kec. Pujon, Kota Batu

Konsumsi susu sapi Frekuensi


Prosentase
dan produk olahan Responden
YA 22 50%
TIDAK 22 50%
Dari tabel di atas kita peroleh penjebaran “YA” dengan presentase 50%
yang meliputi 2 responden mengkonsumsi susu sapi murni, 6 responden
mengkonsumsi susu formula, 9 responden mengkonsumsi produk olahan susu
sapi, 2 responden mengkonsumsi 2 produk lain, dan 3 responden mengkonsumsi
produk olahan dan formula.
2. Hasil identifikasi frekuensi regurgitasi pada bayi usia 0-6 bulan di di
desa Ngabab, Kec. Pujon, Kota Batu
Tabel 4.4 Kelompok statistik
Std. Std. Error
Susu N Mean
Deviation Mean
regurgitasi Ya 22 2.8182 0.90692 0.19336
Tidak 22 2.1364 0.77432 0.16508
Dari tabel di atas dapat diperoleh kesimpulan bahwa rata-rata frekuensi regurgitasi
dari 22 responden yang mengkonsumsi susu sapi adalah 2.81. lebih besar
dibandingkan dengan 22 responden yang tidak mengkonsumsi susu sapi hanya
memperoleh rata-rata frekuensi regurgitasi sebesar 2.13.

3. Analisis hubungan konsumsi susu sapi terhadap kejadian regurgitasi pada


bayi 0-6 bulan di desa Ngabab, Kec. Pujon, Kota Batu
Tabel 4.5 Statistik deskriptif

Std.
N Minimum Maximum Mean Sig. (2
Deviation t
tailed)
Statistic Statistic Statistic Statistic Std. Error Statistic
Regurgita 0.01 2.682
22 1 4 2.82 0.193 0.907
s
reg2 22 1 3 2.14 0.165 0.774 2.682

Hasil uji analisis menggunakan independent t test pada dua kelompok ibu
menyusui yang minum susu sapi dan tidak mengkonsumsi susu sapi, serta produk
olahan didapatkan hasil p value 0.01 (α ≤ 0.05) dengan standard deviansi 0.907.
Nilai p value kurang dari 0.05 halini menunjukkan H0 ditolak dan H1 diterima
yang artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara frekuensi regurgitasi
dengan ibu yang mengkonsumsi susu sapi dan produk olahannya dibandingkan
dengan ibu yang tidak mengkonsumsi susu sapi dan produk olahannya.
7

4.2 Pembahasan
4.2.1. Hasil identifikasi konsumsi susu sapi dan produk olahan pada ibu
menyusui di desa Ngabab, Kec. Pujon, Kota Batu
Hasil penelitian pada tabel 4.1 menjelaskan dari 44 responden terdapat 22
responden yang mengkonsumsi susu sapi dan produk olahannya dengan
presentase 50%. Hal ini dikarenakan banyak ibu menyusui rata-rata berusia
dewasa muda yang lebih sering terpapar dengan kemajuan teknologi yang
semakin berkembang sehingga akses informasi lebih mudah didapatkan. Dengan
mudahnya informasi terkait susu sapi yang didapatkan melalui jejaring sosial
sehingga mereka terpengaruh untuk mengkonsumsi susu sapi tersebut yang
dipercaya mempunyai banyak manfaat bagi ibu menyusui.
Hal ini dikarenakan mereka berpikir untuk menambah asupan nutrisi ibu
menyusui yang memberikan ASI eksklusif sehingga kualitas ASI semakin baik.
hal ini sesuai dengan jurnal Jan Van Dijk (2008), mengatakan bahwa kesenjangan
digital bisa saja terjadi pada kelompok berdasarkan jenis kelamin (laki-laki dan
perempuan), kelompok umur (usia lanjut dan muda), geografis (desa dan kota).
Saat ini kesenjangan digital sudah bukan lagi sebuah permasalahan yang penting,
terutama di kalangan pengguna teknologi informasi yang berusia muda khususnya
generasi millennial.
Disisi lain terdapat 22 responden yang tidak mengkonsumsi susu sapi dan
produk olahannya. Hal ini dikarenakan faktor ekonomi pada kalangan menengah
kebawah yang berpikir relatif lebih sederhana, mereka beranggapan bahwa
penghasilan yang relatif kecil tidak memenuhi anggaran rumah tangga. Mereka
lebih mementingkan kebutuhan primernya dalam kehidupan sehari-hari
dibandingkan untuk membeli susu sapi dan produk olahannya. Hal diatas sesuai
dengan teori yang disampaikan oleh Octaviai, (2015) menyatakan beberapa faktor
yang mempengaruhi perilaku mengkonsumsi susu salah satunya adalah sosial
ekonomi. Hasil kuesioner didapatkan hasil bahwa penghasilan kurang dari rata-
rata (2,3 Jt) mencapai 64%. Hal ini membuktikan bahwa tingkat ekonomi ibu
menyusui yang tergolong kurang dari rata-rata lebih mengesampingkan konsumsi
tambahan seperti susu sapi dan produk olahannya. Menurut Octavia, (2015)
mengatakan bahwa faktor sosial ekonomi meliputi pendidikan dan penghasilan
perkapita keluarga.
Pernyataan di atas diperkuat lagi oleh temuan tingkat pendidikan yang
masih tergolong rendah. Faktanya 43% sudah mencapai lulusan tingkat SMP dan
32% mencapai lulusan tingkat SD. Dengan kurangnya pengetahuan yang mereka
dapatkan maka akan berpengaruh kepada pola pikir masyarakat tersebut. Mereka
akan berpikir sederhana dan kurang adaptasi dengan perkembangan zaman.
Mereka akan beranggapan bahwa susu sapi dan produk olahan lainnya kurang
mereka minati untuk dikonsumsi.
4.2.2.Hasil identifikasi frekuensi regurgitasi pada bayi usia 0-6 bulan di di
desa Ngabab, Kec. Pujon, Kota Batu
Dari hasil analisa tabel di atas dapat diperoleh kesimpulan bahwa rata-rata
frekuensi regurgitasi yang mengkonsumsi susu sapi adalah 2,81 kali per hari,
sedangkan frekuensi regurgitasi pada ibu yang tidak mengkonsumsi susu sapi
hanya memperoleh rata-rata frekuensi regurgitasi sebesar 2,13 kali per hari. Hal
ini dikaitkan dengan kandungan susu yang dapat menyebabkan gejala-gejala
alergi pada bayi. Alergi tersebut dikarenakan bayi usia 0-6 bulan masih belum
8

memiliki imun yang optimal sehingga mudah terpapar alergi makanan ataupun
benda asing. Sementara itu, ibu yang menyusui bayinya secara eksklusif dan
mengkonsumsi susu sapi dan olahannya otomatis kandungan dari produk tersebut
akan ikut keluar bersama ASI. Sehingga bayi akan ikut terpapar kandungan dari
produk tersebut. Selain itu bayi usia 0-6 bulan sistem pencernaannya masih matur
(belum matang). Sehingga bayi mengalami kesulitan menelan dan akan
menyebabkan kembalinya makanan keluar atau yang disebut regurgitasi.
Faktor lain yang bisa mempengaruhi regurgitasi pada bayi adalah posisi
menyusui. Menurut Purwanti (2004) ialah posisi menyusui, volume lambung yang
masih kecil, klep penutup lambung belum sempurna, dan menangis berlebih.
Posisi menyusui yang salah akan mengakibatkan regurgitasi pada bayi
karena organ pencernaan yang belum matang menyebabkan bayi tidak bisa
menahan makanan di dalam lambung karena posisi menyusui. Selain itu posisi
menyusui juga mengakibatkan bayi tersedak dan mengalami regurgitasi pada bayi.
Selanjutnya ialah volume lambung bayi. Volume lambung masih kecil,
sementara susu yang ditelan bayi melebihi kapasitas lambung. Ini penyebab
paling umum. Masalahnya makin menjadi karena bayi senang menggeliat.
Padahal, gerakan ini membuat tekanan dalam perut tinggi, sehingga jadi gumoh.
Sebenarnya, gumoh masih normal sepanjang jumlah cairan yang keluar dan
masuk seimbang (Nova, 2009).
Klep penutup lambung belum sempurna. Dari mulut, susu akan masuk ke
saluran pencernaan atas, baru kemudian ke lambung. Nah, di antara kedua organ
tersebut terdapat klep penutup lambung. Pada bayi, klep ini biasanya belum
sepenuhnya berfungsi sempurna. Akibatnya, kalau ia langsung ditidurkan setelah
disusui, dan juga menggeliat, susu akan keluar dari mulut. Untuk mengurangi
gumoh, berikan susu sedikit demi sedikit (Nova, 2009).
Yang terakhir ialah menangis berlebih. Tangis seperti ini membuat udara
yang tertelan juga berlebihan, sebagian isi perut si kecil akan keluar. Memang,
bisa jadi bayi Anda menangis karena tidak bisa menelan susu dengan sempurna.
Kalau sudah begini, jangan teruskan pemberian ASI. Bisa-bisa, susu malah masuk
ke dalam saluran napas danmenyumbatnya (Nova, 2009)

4.2.3.Analisis hubungan konsumsi susu sapi terhadap kejadian regurgitasi


pada bayi 0-6 bulan di desa Ngabab, Kec. Pujon, Kota Batu
Dalam penelitian ini diketahui bahwa terdapat perbedaan frekuensi
regurgitasi yang signifikan antara ibu menyusui yang mengkonsumsi susu sapi
pada hasil penelitian diketahui ada hubungan antara ibu yang mengkonsumsi susu
dengan ibu menyusui yang tidak mengkonsumsi susu sapi. Hal ini dapat diketahui
dari hasil analisa SPSS dengan uji statistik independent t-test, didapatkan hasil p
value = 0,01. Hal ini sesuai dengan teori Koletzko, 2012 yang menjelaskan bahwa
refluks esofagus yang dapat menyebabkan regurgitasi sebagaian besar terjadi
karena alergi susu sapi. Susu sapi yang mengakibatkan alergi pada bayi tersebut
banyak yang beredar di pasaran dan diperjual belikan oleh para pedagang serta
dibeli oleh ibu menyusui. Susu sapi dan juga produk olahannya yang dikonsumsi
oleh ibu menyusui dapat mengakibatkan reaksi alergi pada bayi karena komponen
dalam susu sapi tersebut akan dieksresikan ke dalam ASI yang akan diminum oleh
bayi (Sumanto, 2009; Hill, et al.2005; salvatore & Vandenplas, 2002).
9

Masa menyusui memerlukan asupan gizi yang baik dan seimbang agar
dapat menghasilkan ASI yang baik mutu dan jumlahnya bagi bayi (Kasdu, 2004).
Ibu menyusui harus mendapatkan nutrisi yang lengkap dengan tambahan kalori
untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ASI. Kalori yang dibutuhkan bagi ibu
menyusui dapat mencapai 2700 kalori. Ibu menyusui dianjurkan untuk
mengkonsumsi makanan yang mengandung kalori tinggi meliputi karbohidrat,
lemak, dan protein (Bahiyatun, 2009).
Susu yang sebaiknya dikonsumsi selama periode menyusui adalah susu
sapi. Susu sapi direkomendasikan bagi ibu menyusui karena memiliki kebutuhan
gizi seperti kalsium, protein, fosfor, kalium, asam amino, vitamin A dan B2, serta
senyawa bermanfaat lainnya (Gartner, 2005). Susu sapi mengandung sekitar 3,5%
protein dari total berat badan. Susu sapi mengandung sekitar 80% protein kasein
dan 20% protein whey. Protein whey lebih heterogen dibanding kasein karena
mengandung β-laktoglobulin dan α-laktalbumin.
Komponen protein susu sapi yang dapat menyebabkan gejala-gejala alergi
adalah beta-laktoglobulin (62%), kasein (60%), alfa-laktalbumin (53%), dan
serum albumin (52%). Sensitivitas atau reaksi alergi susu sapi dapat terjadi pada
bayi yang minum ASI secara ekslusif. Sensitivitas atau reaksi alergi susu sapi
dapat terjadi pada bayi yang minum ASI secara eksklusif. Ibu menyusui yang
mengkonsumsi susu sapi selama menyusui berpotensi untuk mengakibatkan alergi
susu sapi pada bayi karena sejumlah protein susu sapi yang dikonsumsi oleh ibu
akan dieksresikan ke dalam ASI (Hill,et al.2005)
Komponen protein susu sapi tersebut mempengaruhi motilitas lambung
bayi yang dapat menyebabkan hipotonia lambung, pilorospasme, dan alterasi
peristaltik usus. Protein beta-laktoglobulin pada susu sapi merupakan protein
asing yang dapat mengakibatkan reaksi alergi dan menyebabkan penundaan
pengosongan lambung. Reaksi alergi susu sapi pada bayi dapat mengakibatkan
penurunan normogastria dan meningkatkan bradigastria dan takigastria.
Pengosongan lambung tersebut memicu sfingter esofagus bagian bawah untuk
berelaksasi sehingga isi lambung kembali ke dalam esofagus dan dapat
mengakibatkan regurgitasi (Salvatore & Vandenplas, 2002).
Bayi baru lahir hingga usia 6 bulan pertama masih memiliki tonus otot
sfingter yang masih belum berfungsi secara optimal dalam mencerna makanan.
Karena kelambatan kematangan fungsi neuromuskuler sfingter esofagus tersebut,
maka akan dapat mengakibatkan kembalinya isi lambung ke dalam esofagus yang
dapat mengakibatkan terjadinya regurgitasi (Muscari, 2005). Regurgitasi tidak
hanya terjadi setelah bayi minum ASI tetapi juga bisa terjadi saat tidur meskipun
telah minum ASI selama 3 jam yang lalu. Hal tersebut tersebut bisa terjadi
dikarenakan posisi bayi saat tidur dan juga fungsi pencernaan yang masih belum
matang yang dapat mengakibatkan regurgitasi.

BAB V. POTENSI HASIL

Potensi hasil berdasarkan luaran


Dibawah ini adalah identifikasi ketercapaian ditinjau dari luaran program :
Telah dikaji dan dianalisis perbedaan frekuensi regurgitasi pada ibu menyusui
yang mengkonsumsi susu sapi dan ibu yang tidak mengkonsumsi susu sapi. Dari
hasil analisis uji t-test telah didapatkan hasil bahwa rata-rata frekuensi regurgitasi
10

ibu yang mengkonsumsi susu sapi dan produk olahannya lebih besar daripada ibu
yang tidak mengkonsumsi susu sapi dan produk olahannya. Dari hasil sig.(2
tailed) = 0,01 lebih kecil dari α = 0,05 artinya teridentifikasi perbedaan yang
signifikasi antara frekuensi regurgitasi ibu menyusui yang mengkonsumsi susu
sapi dengan ibu menyusui yang tidak mengkonsumsi susu sapi.
Memberikan informasi kepada ibu menyusui terkait dengan konsumsi susu
sapi yang menyebabkan regurgitasi pada bayi usia 0-6 bulan. Informasi tersebut
diinformasikan melalui kader-kader yang menaungi ibu hamil

BAB VI. RENCANA DAN TAHAP SELANJUTNYA

Pada tahap selanjutnya yang dilakukan pembuatan laporan akhir dan


harapannya akan diaplikasikan pada jurnal keperawatan. Nantinya jurnal
keperawatan akan di terbitkan secepatnya guna untuk menambah informasi
kepada peneliti berikutnya untuk dijadikan salah satu rujukkan.

DAFTAR PUSTAKA

Bahiyatun. (2009). Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifas Normal. Jakarta: EGC.
Gartner, Lawrence M., Jane Morton, Ruth A. Lawrence. (2005). Breastfeeding
and the Use of Human Milk. Journal of the American Academy Pediatrics,
115 (2), 496-497.
Hill, David J., Neil Roy, Ralf G. Heine, et al. (2005). Effect of a Low-Allergen
Maternal Diet on Colic Among Breastfed Infants: A Randomized,
Controlled Trial. Journal of the American Academy of Pediatrics, 116 (5),
710.
Kasdu, Dini. (2004). Anak Cerdas. Jakarta: Puspa Swara.
Muscari, Mary E. (2005). Panduan Belajar: Keperawatan Pediatrik. Jakarta:
EGC.
Salvatore, Silvia & Yvan Vandenplas. (2002). Gastroesophageal Reflux and Cow
Milk Allergy: Is There a Link?. Journal of the American Academy of
Pediatrics, 110 (5), 972-929.
Sumanto, Agus. (2009). Tetap Langsing dan Sehat dengan Terapi Diet. Jakarta:
Agromedia Pustaka.
11

LAMPIRAN

Laporan Presentase Perkembangan Kegiatan Harian

No Tempat dan Pelaksanaan Kegiatan Hasil Kegiatan Presentase


Tangal Kegiatan Kemajuan

1 Kamis, 6 April Catatan Kegiatan : Kami mendapat 2%


2017 Menemui Pak Agus dana untuk modal
selaku Biro penelitian
Kampus III Kemahasiswaan untuk
UMM meminta tanda tangan
surat pengambilan dana
PKM ke Biro
Administrasi Umum
(BAU) senilai 3 juta

2 Sabtu, 8 April Catatan Kegiatan Kami mendapat 4%


2017 :Konsul denngan pengarahan
pembimbing mengenai mengenai
metode penelitian dan mengurus
ijin penelitian yang perijinan untuk
Kampus II akan kami laksanakan. penelitian pada
UMM Kemudian dosen instansi yang
pembimbing terkait.
menyarankan untuk
survei ke Puskesmas
Pujon mengenai data
bayi usia 0-6 bulan
dan kepada siapa surat
ijin ditujukan serta
alamat Puskesmas
Pujon

3 Senin, 10 April Catatan Kegiatan Kami 5%


2017 :Kami melakukan mendapatkan
survei ke Puskesmas lokasi Puskesmas
Pujon dan bertemu dan bidan desa
dengan salah satu setempat.
Puskesmas Kec. petugas Puskesmas dan
Pujon beliau menyarankan
agar surat ditujukan ke
kepala Puskesmas

4 Rabu, 12 April Catatan Kegiatan : Kami sudah 7%


2017 Konsul dengan memperoleh ijin
pembimbing terkait non formal dari
12

dengan agenda pihak Puskesmas


Kampus II kedepan yang akan setempat dan akan
UMM kami laksanakan dan menyusulkan surat
pembuatan surat ijin. ijin formal.dan
Dosen pembimbing Menyampaikan
menyarankan untuk pada TU untuk
menemui Pak wahid pembuatan surat
selaku pihak TU untuk perijinan.
membantu dalam
pembuatan surat ijin

5 Jumat, 14 April Catatan Kegiatan : Kami telah 8%


2017 Menemui Pak Wahid mendapatkan surat
selaku pihak TU untuk perijinan dari TU
Kampus II pembuatan surat ijin yang akan di
UMM pengambilan data bayi berikan pada
usia 0-6 bulan di Puskesmas Pujon.
Puskesmas Pujon

6 Selasa, 18 April Catatan Kegiatan : Kami menemui 12%


2017 Menemui dan Kepala
menyerahkan surat ijin Puskesmas Pujon
ke pihak Puskesmas untuk meminta
Pujon kemudian kami data dan di
Puskesmas mendapat data bayi arahkan ke bidan
Kec.Pujon usia 0-1 tahun desa setempat.
sejumlah 1000 lebih. Dan di sarankan
Kemudian kami untuk memilih
memutuskan untuk satu desa.
mengambil data di desa
Ngabab dengan jumlah
7 gilang/posyandu.
Kami telah mendapat
ijin dari pihak
Puskkesmas Pujon
untuk menemui Bu
Yulianah selaku Bidan
Desa Ngabab untuk
mendapatkan data bayi
usia 0-1 tahun. Setelah
bertemu denga Bu
Yulianah, kami
mendapat data bayi
usia 0-1 tahun di desa
ngabab sejumlah 128
orang

7 Kamis, 20 April Catatan Kegiatan Kami memperoleh 14%


13

2017 :Konsul dengan gambaran cara


pembimbing mengenai pembutan dan isi
bagaimana dari kuesioner.
pengambilan data
Kampus II sampel, aplikasi
UMM metode yang akan
digunakan, dan
kuesioner yang akan
digunakan

8 Sabtu, 22 April Catatan Kegiatan : Kami mendapat 17%


2017 Menghubungi Bu ijin dari bidan
Yulianah selaku bidan setempat untuk
Bidan Desa desa Ngabab agar kami melakukan
Ngabab bisa koordinasi dengan penelitian di desa
para kader dalam tersebut.
mengumpulkan
responden yang akan
kami teliti

9 Minggu, 23 Catatan Kegiatan : Kami diberikan 19%


April 2017 Melakukan pertemuan pengarahan
dengan pembimbing mengenai landasar
Kampus III monev internal terkait teori,
UMM dengan landasan teori, perkembangan,
perkembangan / proses proses dan kendala
kegiatan dan selama penelitian
monitoring LogBook.
Pengarahan rencana
dan kiat-kiat lolos
PIMNAS.

Melakukan bimbingan
dengan dosen terkait
referensi bahan
pembuatan kuesioner
dan landasan teori
penguat.

10 Kamis, 27 April Catatan Kegiatan : Kami telah 22%


2017 Konsultasi dengan mendapat sumber
pembimbing terkait kuesioner yang
Kampus II cara pengambilan data dapat kami jadikan
UMM dan menyusun pedoman.
kuesioner. Mencari
sumber-sumber yang
dapat dijadikan contoh
dalam pembuatan
kuesioner yang sesuai.
14

11. Sabtu, 29 April Catatan Kegiatan : Kami mendapat 24%


2017 Melakukan uji coba contoh sample
dan pemantapan terkait untuk menguji
Kampus II kuesioner dan cara kelayakan dari
UMM mengambil data (door kuesioner yang
to door) yang telah kami buat.
dikarenakan kondisi
dari responden tidak
dapat dikumpulkan
pada satu tempat.

12. Sabtu dan Catatan Kegiatan : Kami 26%


Minggu, 6 dan 7 Tim kami melakukan mendapatkan data
Mei 2016 pengambilan data di mengenai jumlah
lapangan dengan posyandu dan
bantuan kader-kader, memulai membuat
tetapi ada beberapa kontrak dengan
Desa kader yang belum bisa kader setempat.
Ngabab,Torong, dihubungi kami
Mantung mendapat 14 responden
dari 3 gilang
(posyandu). Kami
menjelaskan dan
memberikan
pengarahan terkait cara
mengisi kausioner dan
akan mengambil 7 hari
lagi. Serta menjelaskan
bahwa akan
mengunjungi kembali 4
hari sekali untuk
mengobservasi
perkembangan data.

13. Kamis, 11 Mei Catatan Kegiatan Kami 28%


2017 :Kami melakukan menyebarkan
pengunjungan kepada sebagian data
Desa Ngabab, responden untuk kuesioner kepada
Torong, observasi seberapa jauh responden.
Mantung perkembangan data,
dan melakukan
observasi terkait
dengan posisi saat ibu
menyusui. Kami
melakukan kegiatan
tersebut sore hari
setelah mata kuliah
15

terselesaikan.

14. Sabtu-Minggu,Catakantan Kegiatan Kami 29%


13-14 Mei 2017
: Pada pukul 08.00 Tim menyebarkan
kami berangkat ke sebagian data
Desa Ngabab, Pujon untuk kuesioner kembali
Torong, mengambil data yang kepada responden.
Mantung telah kami sebar. Dan
melakukan
pengambilan data
kembali di bantu oleh
kader-kader yang
minggu lalu belum
dapat ditemui. Kami
mendapat 16 responden
baru dalam waktu 9
jam di lokasi. Kami
memberikan penjelasan
dan pengarahan yang
sama seperti responden
kami minggu lalu dan
kuesioner yang akan
diambil minggu depan.

15. Selasa, 16 Mei Catatan Kegiatan : Kami 32%


2017 Tim kami melakukan mendapatkan
bimbingan kembali pengarahan
Kampus II untuk menyampaikan kembali mengenai
UMM keluh kesah dan data kuesioner dan
diberikan pengarahan pengarahan
berupa motivasi, cara penyebaran
manajemen waktu dan kuesioner.
pengambilan data /
observasi pada
responden. Serta
melaporkan progres
dari kuesioner yang
telah kami sebar.

16. Kamis, 18 Mei Catatan Kegiatan Kami mendapat 34%


2017 :Selesai mata kuliah data observasi
sebagai Tim kami mengenai cara
Desa Ngabab, melakukan observasi responden
Torong, ke responden yang memberikan ASI
16

Mantung berada di Pujon. Kami pada bayinya.


menanyakan terkait
dengan paham tidaknya
cara mengisi kuesioner,
kesulitan (kendala),
mengingatkan kembali
mengenai cara
pengisisan kuesioner.
Serta melakukan
observasi terkait
dengan cara / teknik
menyusui.

17. Senin, 22 Mei Catatan Kegiatan : Kami 36%


2017 Tim kami melakukan mendapatkan
penyampaian informasi pengarahan
Kampus II kepada pembimbing mengenai beberpa
UMM terkait dengan progres cara untuk
pengambilan data. melanjutkan
Sejauhmana penelitian.
perkembangan dan
kendala yang kami
alami kembali.

18. Sabtu, 27 Mei Catatan Kegiatan : Kami 38%


2017 Tim kami melakukan mendapatkan
pengambilan data beberpa responden
Desa Ngabab, (kuesioner) yang telah tambahan untuk
Torong, kami sebarkan. Kami melengkapi data
Mantung berangkat jam 08.00 yang belum
pagi dan langsung tercapai.
menunjungi rumah dari
responden tersebut.
Kami telah
berkoordinasi dengan
kader, tetapi kader
menyarankan untuk
langsung ke rumah
responden saja. Pada
hari ini kami hanya
menjumpai 8 dari 16
responden. Responden
yang lainnya belum
dapat kami jumpai.
17

19. Minggu, 28 Mei Catatan Kegiatan Kami mendapat 41%


2017 :Tim kami kembali data tambahan
berangkat menuju untuk melengkapi
Desa Ngabab, Pujon dengan harapan data yang belum
Torong, agar kuesioner yang selesai.
Mantung berada di responden,
dapat kami ambil.
Setiba di Pujon sekitar
pukul 11.00. Tim kami
langsung menuju ke
rumah-rumah dari
responden tersebut.
Dan Alhamdulillah,
semua data dapat kami
jumpai pada hari itu.

20. Rabu, 31 Mei Catatan Kegiatan : Kami mendapat 43%


2017 Tim kami melakukan data yang telah
koordinasi unntuk dipilah-pilah dan
Rumah memilih dan mendapatkan
Pembimbing mengelompokkan data- pengarahan untuk
data. Tetapi setelah langkah
semua terkumpul kedepannya.
ternyata dilapangannya
tidak sesuai dengan
yang ingin kami
capai.Tim kami
berdiskusi dan akan
melaporkan pada
pembimbing terkait
kejadian (kendala)
yang di alami kami
semua.

21. Sabtu, 3 Juni Catatan Kegiatan Kami memperoleh 45%


2017 :Tim kami menuju beberapa data
rumah pembimbing tambahan kembali
Rumah untuk mengkonsulkan untuk mencapai
Pembimbing mengenai temuan pada tujuan dari
kuesioner. Pembimbing penelitian.
kami memberikan
pengarahan dan
penjelasan kembali,
dan diperlukan untuk
mengambil data ulang
agar tujuan awal kami
tercapai
18

22. Minggu, 4 Juni Catatan Kegiatan : Kami mendapat 47%


2017 Tim kami berkumpul ijin dan
untuk koordinasi memfokuskan
Kampus II kembali mengenai data padaa kegiatan
UMM PKM dan perihal akademik terlebih
pelaksanaan UAS dan dahulu.
OSCE minggu depan.
Tim kami
memfokuskan pada
UAS dan OSCE
terlebih dahulu dan
akan melanjutkan PKM
kembali setelahnya.

23. Sabtu, 10 Juni Catatan Kegiatan Kami 49%


2017 :Tim kami kembali mendapatkan
mencari Ibu menyusui sebagian data
Kec.Pujon dan bayi 0-6 bulan tambahan dari
yang bisa kami jadikan responden.
responden tambahan.
Pada hari ini Tim kami
Cuma mendapat 7
responden dan kami
beri penjelasan tentang
pengisian kuesioner.

24. Senin, 12 Juni Catatan Kegiatan : Kami 50%


2017 Tim kami melakukan mendapatkan
pengambilan data sebagian data
Kec.Pujon kembali ke Pujon dan kembali untuk
mendapat 8 responden. melngkapi data
Kami menjelaskan dari penelitian.
terkait pengisian
kuesioner dan kontrak
waktu untuk
mengobservasi terkait
menyusui responden.

25. Kamis, 15 Juni Catatan Kegiatan : Kami 52%


2017 Tim kami mendapatkan hasil
mengobservasi teknik observasi dari
Kec. Pujon menyusui responden teknik / cara ibu
apakah sudah sesuai menyusui bayinya.
atau belum. Kami
menyediakan cek list
yang akan kami isi
sesuai dengan apa yang
akan kami temui pada
19

saat Ibu memberikan


ASInya pada bayi.
Kami melakukan
observasi ke semua
responden tambahan.

26. Selasa, 20 juni Catatan Kegiatan : Kami 54%


2017 Tim kami mengambil mendapatkan data
data tambahan yang tambahan terakhir
Kec. Pujon telah kami sebarkan ke untuk
responden minggu lalu. menyelesaikan
Kami berangkat pukul analisis dari
09.00 dan langsung penelitian.
menuju rumah dari
masing-masing
responden. Tetapi
hanya 14 kuesioner
yang dapat kembali
dapat kami. 1
kuesioner hilang
dikarenakan responden
pergi ke luar kota
bersama suaminya.

27. Kamis, 22 Juni Catatan Kegiatan : Kami 56%


2017 Tim kami mendapatkan
berkoordinasi dengan responden yang
Rumah pembimbing kembali mengkonsumsi
Pembimbing untuk menyampaikan susu dan jumlah
temuan pada kuesioner data keseluruhan
yang hanya 12 responden 44 data.
responden
mengonsumsi formula
untuk memberikan
nutrisi bagi dirinya.
Dan total data yang
berada pada kami 44
data.

28. Jumat, 23 Juni Catatan Kegiatan : Kami diberikan 58%


2017 Kita melakukan izin untuk Hari
koordinasi dan minta Raya terlebih
Rumah izin ke pembimbing dahulu dan akan
Pembimbing untuk pulang kampung melanjutkan
1 minggu untuk Hari minggu depan.
Raya terlebih dahulu.
Dikarenakan Minggu
sudah Hari Raya Idhul
20

Fitri.

29. Senin, 2 Juli Catatan Kegiatan : Kami 60%


2017 Tim kami berkumpul mendapatkan
kembali untuk gambaran cara
Rumah melakukan bimbingan mengolah data
Pembimbing dan pengarahan terkait kuesioner.
rencana kedepan
pengolahan data
kuesioner. Kami diberi
bimbingan dan
motivasi untuk tetap
gigih melanjutkan
proses analisis data
PKM.

30. Rabu, 5 Juli Catatan Kegiatan : Kami memperoleh 62%


2017 Tim kami melakukan data rekapan
perekapan data kuesioner yang
Rumah kuesioner mencangkup akan kami analisis
Pembimbing data demografi, nanti.
observasi, dan
kuesioner. Kami
melakukan perekapan
data di rumah
pembimbing dan
menyelesaikan rekapan
tersebut. Kami
merekap data secara
bertahap dari nomor
kuesioner masing-
masing responden.

31. Kamis, 6 Juli Catatan Kegiatan : Kami 64%


2017 Tim kami pada pukul mendapatkan
09.00 ke rumah penjelasan
Rumah pembimbing untuk kembali mengenai
Pembimbing melakukan analisis SPSS dan Chi
data kuesioner yang Square serta cara
telah kami rekap. Kami mengolah data
menganalisis data dan sampai hasil.
mengolah data sampai
memperoleh hasil data.
Kami mempelajari
21

SPSS dan Chi Square


untuk mengolah data
dan memperoleh hasil
perhitungan.

32. Jumat, 7 Juli Catatan Kegiatan : Kami diberikan 66%


2017 Tim kami diundang pengarahan,
untuk latihan monev masukkan, kritik
Ruang BAU internal, dan cara untuk menghadapi
Kampus III memepresentasikan monev atau viewer
UMM PKM. Kami diberikan internal.
masukkan, kritik, dan
saran untuk
pemantapan saat
menghadapi reviewer.
Kami diundang ke
BAU kampus III UMM
untuk melakukan
presentasi tersebut.

33. Sabtu, 8 Juli Catatan Kegiatan : Kami 68%


2017 Tim kami jam 12 siang mendapatkan
mengambil nomor pengarahan dan
Ruang BAU antrian untuk monev pemantapan
Kampus III internal. Kami kembali untuk
UMM mendapat nomor urut menghadapi
13. Kami melakukan monev eksternal.
presentasi di hadapan
para pemonev. Kami
diberikan beberapa
pertanyaan dan
masukkan kembali
guna pemantapan
untuk monev eksternal.

35. Minggu, 9 Juli Catatan Kegiatan : Kami 70%


2017 Tim kami kembali mendapatkan hasil
menemui dosen analisis data
Rumah pembimbing untuk terakhir dan
Pembimbing menghitung hasil mendapatkan hasil
secara keseluruhan dari laporan kemajuan
analisis PKM kami. penelitian terbaru.
Kami membagi tugas
untuk menganalisis
data dan juga
pembuatan laporan
kemajuan selama
22

proses penelitian yang


terbaru.

36 Senin 10, Juli Catatan Kegiatan : Kami telah 75%


2017 Tim kami melakukan menyelesaikan
finishing laporan semua laporan dan
Rumah kemajuan, logbook, siap untuk monev
Pembimbing dan perlengkapan bukti eksternal.
kwitansi. Selanjutnya
tim kami melakukan
persiapan monev
eksternal yang akan di
selenggarakan di UM
gedung Sasana Krida.

37 Selasa 12, Juli Catatan Kegiatan Kami telah 80%


2017 :Tim kami berangkat melakukan
pukul 07.00, kami presentasi
UM Gedung melakukan registrasi semkasimal
Sasana Krida untuk mengikuti mungkin dan
presentasi monev mendapat
eksternal. Acara beberapa kritik
pertama yaitu maupun saran
pembukaan dan untuk Penelitian
penunjukkan pameran kami selanjutnya.
poster kemudian
disusul oleh presentasi
hasil penelitian yang
telah kami lakukan.

Laporan Keuangan

Hari / Harga
No. Keperluan Jumlah Total
Tanggal Satuan
1. 9 April Pulsa 50.000 Rp.52.000,- 2 Rp.104.000,-
2017
2. 10 April Paket internet flash Rp.150.000,- 1 Rp.150.000,-
2017 bulanan 4 GB 4G
3. 11 April Pulpen standar Rp.15.000,- 1 pack Rp.15.000,-
2017 Kantung Plastik Rp.20.000,- 1 pack Rp.20.000,-
4. 15 April Jilid (print) Rp.6.000,- 1 Rp.6.000,-
2017
23

5. 15 April Bensin (pertalite) Rp.7.400,- 4,587 L Rp.34.000,-


2017
6. 11 April Susu Milo Rp.28.900,- 44 Rp.1.271.600,-
2017
7. 20 April Fotocopy Rp.150,- 200 Rp.30.000,-
2017 lmbr
8. 22 April Konsumsi Es teh + Rp.12.500,- 3 Rp.37.500,-
2017 ayam plencing
9. 24 April Bensin (pertalite) Rp.7.400,- 2,698 L Rp.20.000,-
2017
10. 11 Mei Pulsa 50.000 Rp.52.000,- 2 Rp.104.000,-
2017
11. 15 Mei Paket internet flash Rp.150.000,- 1 Rp.150.000,-
2017 bulanan 4GB +
12GB 4G
12. 15 Mei Fotocopy F4 Rp.150,- 51 Rp.7.650,-
2017 Fotocopy A4 Rp.140,- 207 Rp.28.980,-
13 16 Mei Makan + teh, susu Rp.13.000,- 3 Rp.39.000,-
2017
14. 17 Mei Bensin (pertalite) Rp.7.500,- 5,060 Rp.37.950,-
2017
15. 3 Juni Paket internet flash Rp.150.000,- 1 Rp.150.000,-
2017 bulanan 4GB +
12GB 4G
16. 9 Juni Pulsa 50.000 Rp.52.000,- 2 Rp.104.000,-
2017
17. 12 Juni Konsumsi : Nasi + Rp.17.000,- 5 Rp.85.000,-
2017 ayam + es teh
18. 2 Juli Paket internet flash Rp.150.000,- 1 Rp.150.000,-
2017 bulanan 4GB +
12GB 4G
19. 9 Juli Konsumsi : Nasi Rp.10.500,- 5 Rp.52.500,-
2017 ayam balado +
bergedel
20. 9 Juli Konsumsi : Pizza Rp.181.000,- 1 Rp.181.000,-
2017 Hut + delivery cost
+ tax
21. 10 Juli Pulsa 50.000 Rp.52.000,- 2 Rp.104.000,-
2017
22. 11 Juli Transportasi Kader Rp.100.000,- 7 Rp.700.000,-
2017 Transportasi Bidan Rp.100.000,- 1 Rp.100.000,-
23. (menyesua Transportasi Rp.75.000,- 6 kali Rp.2.250.000,-
ikan) peneliti 5 orang
24. (menyesua Pengisian Kas Rp.150.000,- 1 Rp.150.000,-
ikan) Puskesmas
Total Pengeluaran Dana Rp 6.081.580,-
24

Laporan Dokumentasi Penelitian

Surat Ijin Penelitian Puskesmas Kec. Pujon

Konsultasi dengan TU Puskesmas Kec. Pujon


25

Konsultasi dengan Bidan desa Ngabab Jumlah Posyandu di desa Ngabab

Konsultasi dengan dosen pembimbing Format informed consent


26

Lembar observasi cara menyusui

Lembar kuesioner
27

Bimbingan dengan viewer internal Meminta data bayi pada kader

Proses pengambilan data bersama kader. (Kader sebelah kiri, di tengah adalah
responden, di sebelah kanan adalah peneliti).
28

Membagi kuesioner dan menjelaskan kepada responden

Penjelasan kepada responden tentang pengisian kuesioner


29

Observasi cara ibu menyusui kepada bayinya

Proses pengambilan data dan pemberian bingkisan


30
31
32
33
34
35
36
37
38
39