Anda di halaman 1dari 43

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Struma
Struma adalah perbesaran kelenjar tiroid yang menyebabkan pembengkakan di bagian depan
leher (Dorland, 2002).

Kelenjar tiroid terletak tepat dibawah laring pada kedua sisi dan sebelah anterior trakea. Tiroid
menyekresikan dua hormon utama, tiroksin (T4), dan triiodotironin (T3), serta hormon kalsitonin
yang mengatur metabolisme kalsium bersama dengan parathormon yang dihasilkan oleh kelenjar
paratiroid (Guyton and Hall, 2007).

Struma adalah suatu pembengkakan pada leher oleh karena pembesaran kelenjar tiroid.
Pembesaran kelenjar tiroid dapat disebabkan oleh kurangnya diet iodium yang dibutuhkan untuk
produksi hormon tiroid. Terjadinya pembesaran kelenjar tiroid dikarenakan sebagai usaha
meningkatkan hormon yang dihasilkan.
B. Etiologi Struma
Adanya struma atau pembesaran kelenjar tiroid dapat oleh karena ukuran sel-selnya bertambah
besar atau oleh karena volume jaringan kelenjar dan sekitarnya yang bertambah dengan
pembentukan struktur morfologi baru. Yang mendasari proses itu ada 4 hal utama.
1. Gangguan perkembangan, seperti terbentuknya kista (kantongan berisi cairan) atau jaringan
tiroid yang tumbuh di dasar lidah (misalnya pada kista tiroglosus atau tiroid lingual).
2. Proses radang atau gangguan autoimun seperti penyakit Graves dan penyakit tiroiditis
Hashimoto.
3. Gangguan metabolik (misal, defisiensi iodium) serta hyperplasia, misalnya pada struma koloid
dan struma endemik.
4. Pembesaran yang didasari oleh suatu tumor atau neoplasia meliputi adenoma – sejenis tumor
jinak – dan adenokarsinoma, suatu tumor ganas.
5. Defisiensi iodium
6. Konsumsi goitrogenik glikosida agent secara berlebihan (memakan sekresi hormon tiroid).
7. Mengkonsumsi obat-obatan anti tiroid jangka panjang
8. Anomali
9. Peradangan atau tumor/neoplasma
C. Klasifikasi Struma
1. Berdasarkan fisiologisnya :
1.1 Eutiroid : aktivitas kelenjar tiroid normal
1.2 Hipotiroid : aktivitas kelenjar tiroid yang kurang dari normal
1.3 Hipertiroid : aktivitas kelenjar tiroid yang berlebihan

2. Berdasarkan klinisnya :
2.1 Non-Toksik (eutiroid dan hipotiroid)
a. Difusa : endemik goiter, gravid
b. Nodusa : neoplasma
2.2 Toksik (hipertiroid)
a. Difus : grave, tirotoksikosis primer
b. Nodusa : tirotoksikosis skunder

3. Berdasarkan morfologinya :
3.1 Struma Hyperplastica Diffusa
Suatu stadium hiperplasi akibat kekurangan iodine (baik absolut ataupun relatif). Defisiensi
iodine dengan kebutuhan excessive biasanya terjadi selama pubertas, pertumbuhan, laktasi dan
kehamilan. Karena kurang iodine kelenjar menjadi hiperplasi untuk menghasilkan tiroksin dalam
jumlah yang cukup banyak untuk memenuhi kebutuhan supply iodine yang terbatas. Sehingga
terdapat vesikel pucat dengan sel epitel kolumner tinggi dan koloid pucat. Vaskularisasi kelenjar
juga akan bertambah. Jika iodine menjadi adekuat kembali (diberikan iodine atau kebutuhannya
menurun) akan terjadi perubahan di dalam struma koloides atau kelenjar akan menjadi fase
istirahat.
3.2 Struma Colloides Diffusa
Ini disebabkan karena involusi vesikel tiroid. Bila kebutuhan excessive akan tiroksin oleh karena
kebutuhan yang fisiologis (misal, pubertas, laktasi, kehamilan, stress, dsb.) atau defisiensi iodine
telah terbantu melalui hiperplasi, kelenjar akan kembali normal dengan mengalami involusi.
Sebagai hasil vesikel distensi dengan koloid dan ukuran kelenjar membesar.
3.3 Struma Nodular
Biasanya terjadi pada usia 30 tahun atau lebih yang merupakan sequelae dari struma colloides.
Struma noduler dimungkinkan sebagai akibat kebutuhan excessive yang lama dari tiroksin. Ada
gangguan berulang dari hiperplasi tiroid dan involusi pada masing-masing periode kehamilan,
laktasi, dan emosional (fase kebutuhan). Sehingga terdapat daerah hiperinvolusi, daerah
hiperplasi dan daerah kelenjar normal. Ada daerah nodul hiperplasi dan juga pembentukan nodul
dari jaringan tiroid yang hiperinvolusi.
Tiap folikel normal melalui suatu siklus sekresi dan istirahat untuk memberikan kebutuhan akan
tiroksin tubuh. Saat satu golongan sekresi, golongan lain istirahat untuk aktif kemudian. Pada
struma nodular, kebanyakan folikel berhenti ambil bagian dalam sekresi sehingga hanya
sebagian kecil yang mengalami hiperplasi, yang lainnya mengalami hiperinvolusi (involusi yang
berlebihan/mengecil).

D. Patofisiologi
Berbagai faktor diidentifikasi sebagai penyebab terjadinya hipertrofi kelenjar tiroid termasuk
didalamnya defisiensi iodium, goitrogenik glikosida agent ( zat atau bahan ini dapat memakan
sekresi hormon tiroid) seperti ubi kayu, jagung lobak, kangkung, kubis bila dikonsumsi secara
berlebihan, obat-obatan anti tiroid, anomali, peradangan atau tumor atau neoplasma. Sedangkan
secara fisiologis menurut Benhard (1991) kelenjar tiroid dapat membesar sebagai akibat
peningkatan aktivitas kelenjar tiroid sebagai upaya mengimbangi kebutuhan tubuh yang
meningkat pada masa pertumbuhan dan masa kehamilan. Bahkan dikatakan pada kondisi stress
sekalipun kebutuhan tubuh akan hormon ini cenderung meningkat. Laju metabolisme tubuh pada
kondisi-kondisi diatas meningkat.
Berdasarkan kejadian atau penyebarannya ada yang disebut Struma Endemis dan Sporadis.
secara sporadis dimana kasus-kasus struma ini dijumpai menyebar diberbagai tempat atau
daerah. Bila dihubungkan dengan penyebab, maka struma sporadis banyak disebabkan oleh
faktor goitrogenik, anomali dan penggunaan obat-obatan anti tiroid, peradangan dan neoplasma.
Secara endemis dimana kasus-kasus ini struma ini dijumpai pada sekelompok orang di suatu
daerah tertentu, dihubungkan dengan penyebab defisiensi iodium. Bahan dasar pembentukan
hormon-hormon kelenjar tiroid adalah iodium yang diperoleh dari makanan dan minuman yang
mengandung iodium. Ion iodium (iodida) darah masuk kedalam kelenjar tiroid secara transport
aktif dengan ATP sebagain sumber energi. selanjutnya sel-sel folikel kelenjar tiroid akan
mensintesis Tiroglobulin (sejenis glikoprotein) dan selanjutnya mengalami iodinisasi sehingga
akan terbentuk iodotironin (DIT) dan mono iodotironin (MIT). Proses ini memerlukan enzim
peroksida sebagai katalisator. Proses akhir adalah berupa reaksi penggabungan. Penggabungan
dua molekul DIT akan membentuk tetra iodotironin tiroxin (T4) dan molekul DIT bergabung
dengan MIT menjadi tri iodotironin (T3) untuk selanjutnya masuk kedalam plasma dan berikatan
dengan protein binding iodine. Reaksi penggabungan ini dirangsang oleh hormon TSH dan
dihambat oleh tiourasil, Tiourea, sulfonamid dan metilkaptoimidazol.
Melihat proses singkat terbentuknya hormon tiroid maka pemasukan iodium yang berkurang,
gangguan berbagai enzim dalam tubuh, hiposekresi TSH, bahan atau zat yang mengandung
tiourea, tiourasil, sulfonamid, dan metilkaptoimidazol, glukosil goitrogenik, gangguan pada
kelenjar tiroid sendiri serta faktor pengikat dalam plasma sangat menentukan adekuat tidaknya
sekresi hormon tiroid. bila kadar hormon-hormon tiroid kurang makan akan terjadi mekanisme
umpan balik terhadap kelenjar tiroid sehingga aktivitas kelenjar meningkat dan terjadi
pembesaran (hipertropi). Dengan kompensasi ini kadar hormon seimbang kembali.
Dampak struma thdp tubuh terletak pada pembesaran kelenjar tiroid yang dapat
mempengaruhi kedudukan organ-organ disekitarya. Dibagian posterior medial kelenjar tiroid
terdapat trakea dan esofagus. Struma dapat mengarah kedalam sehingga mendorong trakea,
esofagus dan pita suara sehingga terjadi kesulitan bernapas dan disfagia yang akan berdampak
thdp gangguan pemenuhan oksigen, nutrisi serta cairan dan elektrolit. penekanan pada pitasuara
akan menyebabkan suara menjadi serak atau parau. Bila pembesaran keluar, maka akan memberi
bentuk leher yang besar dapat simetris atau tidak, jarang disertai kesulitan bernapas dan disfagia.
tentu dampaknya lebih ke arah estetika atau kecantikan. perubahan bentuk leher dapat
mempengaruhi rasa aman dan konsep diri klien.
Pathway Terjadinya Struma
E. Manifestasi Klinis Struma
1. Berdebar-debar/meningkatnya denyut nadi
Berdebar-debar dan terasa berat pada bagian jantung akibat kerja perangsangan jantung,
sehingga curah jantung dan tekanan darah sistolik akan meningkat. Bila akhirnya penyakit ini
menghebat, bias timbul fibrilasi atrial dan akhirnya gagal jantung kongestif. Tekanan nadi
hampir selalu dijumpai meningkat (pulsus celer) Pulsus celer biasanya terdapat pada peyakit 3A,
3B dan IN (anemia gravis, arterioveneus shunt, aorta insufficiency, botali persisten, beri-beri,
basedow dan nervositas. Pembuluh darah di perifer akan mengalami dilatasi. Laju filtrasi
glomerulus, aliran plasma ginjal, serta traspor tubulus akan meningkat di ginjal, sedangkan di
hati pemecahan hormone steroid dan obat akan dipercepat.
2. Keringat
Metabolisme energi tubuh akan meningkat sehingga meningkatkan metabolisme panas,
proteolisis, lipolisis, dan penggunaan oksigen oleh tubuh. Metabolisme basal hampir mendekati
dua kalinya menyebabkan pasien tidak tahan terhadap hawa panas lalu akan mudah berkeringat.
3. Konstipasi
Karena pada penderita kurang asupan nutrisi dan cairan, yang mengakibat kurangnya atau tidak
adanya nutrisi dan cairan yang bisa diserap oleh usus. Maka dari itu system eliminasi pada
penderita struma terganggung.
4. Gemetar
Kadang-kadang pasien menggerakkan tangannya tanpa tujuan tertentu, timbul tremor halus pada
tangan
5. Gelisah
Peningkatan eksitabilitas neuromuscular akan menimbulkan hiperrefleksia saraf tepi oleh karena
hiperaktifitas dari saraf dan pembuluh darah akibat aktifitas T3 dan T4. Gangguan sirkulasi
ceberal juga terjadi oleh karena hipervaskularisasi ke otak, menyebabkan pasien lebih mudah
terangsang. Nervous, gelisah depresi dan mencemaskan hal-hal yang sepele.
6. Berat badan menurun
Lipolisis (proses pemecahan lemak yang tersimpan dalam sel lemak tubuh) menyebabkan berat
badan menurun, asam lemak bebas dihasilkan menuju aliran darah dan bersirkulasi ke tubuh.
Lipolisis juga menyebabkan hiperlipidasidemia dan meningkatnya enzim proteolitik sehingga
menyebabkan proteolisis yang berlebihan dengan peningkatan pembentukan dan ekresi urea.
7. Mata membesar
Gejala mata terdapat pada tirotoksikosis primer, pada tirotoksikosis yang sekunder, gejala mata
tidak selalu ada dan kalaupun ada tidak seberapa jelas. Pada hipertiroidisme imunogenik (morbus
Graves) eksoftalmus dapat ditambahkan terjadi akibat retensi cairan abnormal di belakang bola
mata; penonjolan mata dengan diplopia, aliran air mata yang berlebihan, dan peningkatan
fotofobia. Penyebabnya terletak pada reaksi imun terhadap antigen retrobulbar yang tampaknya
sama dengan reseptor TSH. Akibatnya, terjadi inflamasi retrobulbar dengan pembengkakan bola
mata, infiltrasi limfosit, akumulasi asam mukopolisakarida, dan peningkatan jaringan ikat
retrobulbar.
8. Nyeri pada tenggorokan ( Karena area trakea tertekan )
9. Kesulitan bernapas dan menelan ( Karena area trakea tertekan )
Dibagian posterior medial kelenjar tiroid terdapat trachea dan eshopagus, jika struma
mendorong trachea sehingga terjadi kesulitan bernapas yang akan berdampak pada gangguan
pemenuhan oksigen.
10. Suara serak
Struma dapat mengarah kedalam sehingga mendorong pita suara, sehingga terdapat penekanan
pada pita suara yang menyebabkan suara menjadi serak atau parau.

F. Komplikasi
1. Suara menjadi serak/parau
Struma dapat mengarah kedalam sehingga mendorong pita suara, sehingga terdapat penekanan
pada pita suara yang menyebabkan suara menjadi serak atau parau.
2. Perubahan bentuk leher
Jika terjadi pembesaran keluar maka akan memberi bentuk leher yang besar dapat simetris atau
tidak.

3. Disfagia
Dibagian posterior medial kelenjar tiroid terdapat trachea dan eshopagus, jika struma mendorong
eshopagus sehingga terjadi disfagia yang akan berdampak pada gangguan pemenuhan nutrisi,
cairan, dan elektrolit.
4. Sulit bernapas
Dibagian posterior medial kelenjar tiroid terdapat trachea dan eshopagus, jika struma
mendorong trachea sehingga terjadi kesulitan bernapas yang akan berdampak pada gangguan
pemenuhan oksigen.
5. Penyakit jantung hipertiroid
Gangguan pada jantung terjadi akibat dari perangsangan berlebihan pada jantung oleh hormon
tiroid dan menyebabkan kontratilitas jantung meningkat dan terjadi takikardi sampai dengan
fibrilasi atrium jika menghebat. Pada pasien yang berumur di atas 50 tahun, akan lebih
cenderung mendapat komplikasi payah jantung.
6. Oftalmopati Graves
Oftalmopati Graves seperti eksoftalmus, penonjolan mata dengan diplopia, aliran air mata yang
berlebihan, dan peningkatan fotofobia dapat mengganggu kualitas hidup pasien sehinggakan
aktivitas rutin pasien terganggu.
7. Dermopati Graves
Dermopati tiroid terdiri dari penebalan kulit terutama kulit di bagian atas tibia bagian bawah
(miksedema pretibia), yang disebabkan penumpukan glikosaminoglikans. Kulit sangat menebal
dan tidak dapat dicubit.

G. Pemeriksaan Diagnostik
1. Palpasi, teraba batas yang jelas, bernodul satu atau lebih, konsistensinya kenyal. Jika di
auskultasi terdengar bunyi seperti pluit.

2. Termografi
Termografi adalah suatu metode pemeriksaan berdasarkan pengukuran suhu kulit pada suatu
tempat. Alatnya adalah Dynamic Tele-Thermography. Hasilnya disebut n panas apabila
perbedaan panas dengan sekitarnya > 0,9°C dan dingin apabila <0,9°C. Pada penelitian Alves
didapatkan bahwa yang ganas semua hasilnya panas. Dibandingkan dengan cara pemeriksaan
yang lain ternyata termografi ini adalah paling sensitif dan spesifik.
3. Pada pemeriksaan laboratorium, ditemukan serum T4 (troksin) dan T3 (triyodotironin) dalam
batas normal.
Nilai normal :
3.1 T4 serum : 4.9 – 12.0 µg/dL
3.2 Tiroksin bebas : 0.5 – 2.8 µg/dL
3.3 T3 serum : 115 - 190 µg/dL
3.4 TSH serum : 0.5 – 4 µg/dL
3.5 FT1 serum : 6.4 - 10 %
4. Pada pemeriksaan USG (ultrasonografi)
Dapat menentukan apakah lesi tersebut kistik ataukah padat. Kebanyakan karsinoma adalah
padat, kebanyakan lesi yang kistik atau campuran adalah jinak. Teknik ultasonografi digunakan
untuk menentukan apakah nodul tiroid, baik yang teraba pada palpasi maupun yang tidak,
merupakan nodul tunggal atau multiple padat atau kistik. Pemeriksaan ultasonografi ini terbatas
nilainya dalam menyingkirkan kemungkinan keganasan tapi hanya dapat mendeteksi nodul yang
berpenampang lebih dari setengah centimeter.
Kelainan- kelainan yang dapat didiagnosis secar USG ialah:
4.1 Kista; kurang lebih bulat, seluruhnya hipoekoik sonolusen, dindingnya tipis.
4.2 Adenoma/ nodul padat; iso atau hiperekoik, kadang-kadang disertai hal yaitu suatu lingkaran
hipoekoik disekelilingnya.
4.3 Kemungkinan karsinoma; nodul padat, biasanya tanpa halo.
4.4 Tiroditis; hipoekoik, difus, meliputi seluruh kelenjar.

USG bermanfaat pada pemeriksaan tiroid untuk:

4.1 Dapat menentukan jumlah nodul.


4.2 Dapat membedakan antara lesi tiroid padat dan kistik.
4.3 Dapat mengukur volume dari nodul tiroid.
4.4 Dapat mendeteksi adanya jaringan kanker tiroid residif yang tidak menangkap iodium, yang
tidak terlihat dengan sidik tiroid.
4.5 Pada kehamilan di mana pemeriksaan sidik tiroid tidak dapat dilakukan, pemeriksaan USG
sangat membantu mengetahui adanya pembesaran tiroid.
4.6 Untuk mengetahui lokasi dengan tepat benjolan tiroid yang akan dilakukan biopsi terarah.
4.7 Dapat dipakai sebagai pengamatan lanjut hasil pengobatan.
5. Pemeriksaan sidik tiroid.
Hasil pemeriksaan dengan radioisotope adalah teraan ukuran, bentuk lokasi, dan yang utama
ialah fungsi bagian-bagian tiroid. Pada pemeriksaan ini pasien diberi Na peroral dan setelah 24
jam secara foto grafik ditentukan konsentrasi yadium radioaktif yang ditangkap oleh tiroid.
Dari hasil sidik tiroid dapat dibedakan 3 bentuk, yaitu :
5.1 Nodul dingin bila penangkapan yodium nihil atau kurang dibandingkan sekitarnya.Hal ini
menunjukkan fungsi yang rendah.
5.2 Nodul panas bila penangkapan yodium lebih banyak dari pada sekitarnya. Keadaan ini
memperlihatkan aktivitas yang berlebih.
5.3 Nodul hangat bila penangkapan yodium sama dengan sekitarnya. Ini berarti fungsi nodul sama
dengan bagian tiroid yang lain.Pemeriksaan ini tidak dapat membedakan apakah nodul itu ganas
atau jinak.
6. Dilakukan foto thorak posterior anterior.
Memperjelas adanya deviasi trakea, atau pembesaran struma retrosternal, untuk evaluasi kondisi
jalan nafas.

7. Foto polos leher antero posterior dan lateral dengan metode soft tissu technig.
8. Biopsy dan Sitologi Tiroid
Biopsy ini dilakukan khusus pada keadaan yang mencurigakan suatu keganasan. Biopsy aspirasi
jarum halus tidak nyeri, hampir tidak menyebabkan bahaya penyebaran sel-sel ganas. Kerugian
pemeriksaan dengan cara ini adalah dapat memberikan hasil negative palsu karena lokasi biopsy
kurang tepat, teknik biopsy kurang benar, pembuatan preparat yang kurang baik atau positif
palsu karena salah interpretasi aleh ahli sitologi.

A. Jarum yang diletakan ke spuid dan ditahan dalam penahan dimasukan ke dalam pembengkakan
tiroid yang akan menjalani biopsy.
B. Pengisap ditarik pada tangkai spuid.
C. Dengan mempertahankan pengisapan, jarum digerakkan maju mundur pada pembengkakan
dalam berbagai arah.
D. Pengisap dilepaskan dari spuid.
E. Jarum dan spuid lalu ditarik dari pembengkakan tiroid.

Pemeriksaan sitologi nodul tiroid diperoleh dengan biopsy aspirasi jarum halus ( fine needle
aspioration biopsy, FNA ). Cara pemeriksaan ini cukup akurat untuk mendiagnosis karsinoma
tiroid, tiroiditis, atau limfoma. Biopsy aspirasi tidak mempunyai batasan dalam hal ukuran
tumor, asalkan lesi ini dapat dipalpasi. Saat dilakukan penusukan tidak perlu dilakukan anastesi
lokal.
A. Jarum diambil dari spuid.
B. Udara ditarik ke dalam spuid.
C. Jarum dan spuid disambung lagi.
D. Penghisap spuid didorong lembut ke bawah, yang mengeluarkan sel ke atas gelas objek
mikroskop

H. Penatalaksanaan
1. Struma Difus Toksik (Grave's Disease)
Tujuan pengobatan hipertiroidisme adalah membatasi produksi hormon tiroid yang berlebihan
dengan cara menekan produksi (obat antitiroid) atau merusak jaringan tiroid (yodium radioaktif,
tiroidektomi subtotal).
1.1 Obat antitiroid
Indikasi :
1. Terapi untuk memperpanjang remisi atau mendapatkan remisi yang menetap, pada pasien
muda dengan struma ringan sampai sedang dan tirotoksikosis.
2. Obat untuk mengontrol tirotoksikosis pada fase sebelum pengobatan, atau sesudah pengobatan
pada pasien yang mendapat yodium aktif.
3. Persiapan tiroidektomi
4. Pengobatan pasien hamil dan orang lanjut usia.
5. Pasien dengan krisis tiroid.
Obat antitiroid yang sering digunakan :
Obat Dosis awal (mg/hari) Pemeliharaan (mg/hari)

Karbimazol 30-60 5-20

Metimazol 30-60 5-20

Propiltourasil 300-600 5-200

1.2 Pengobatan dengan yodium radioaktif


Indikasi :
a. Pasien umur 35 tahun atau lebih
b. Hipertiroidisme yang kambuh sesudah penberian dioperasi
c. Gagal mencapai remisi sesudah pemberian obat antitiroid
d. Adenoma toksik, goiter multinodular toksik
Iodium radioaktif diberikan melalui mulut, dalam bentuk cairan 1-2 ml, tidak berasa dan
berbau, dan dengan cepat diserap melalui saluran cerna. Iodium radioaktif ini akan masuk ke
kelenjar tiroid melalui aliran darah dan merusak kelenjar tiroid. Walaupun radioaktivitas ini
menetap selama beberapa waktu dalam kelenjar tiroid, iodium radioaktif ini akan dikeluarkan
melalui bagian tubuh dalam beberapa hari.
Efek pada kelenjar tiroid akan terjadi dalam 1-3 bulan dan efek maksimal terjadi antara 3-6
bulan. Pada sebagian kasus pengobatan iodium radioaktif cukup satu kali saja, akan tetapi pada
keadaan dengan kelenjar gondok yang besar, diperlukan dosis iodium radioaktif yang kedua
untuk mengablasi/mematikan kelenjar tiroid. Kelenjar tiroid yang diablasi lama kelamaan
produksi hormon tiroid akan berkurang bahkan tidak ada sama sekali dan dalam jangka panjang
dapat terjadi hipotiroid (kebalikan dari hipertiroid).
Oleh karena itu setelah mendapat pengobatan iodium radioaktif secara berkala setiap 6-12
bulan diperiksa fungsi tiroid dan bila terjadi hipotiroid, harus diberikan pengganti/substitusi
hormon tiroid yang diberikan seumur hidup (karena kelenjar tiroid sudah tidak berfungsi lagi)
dengan dosis sesuai kebutuhan. Pasien cukup minum tablet hormon tiroid secara teratur seperti
halnya minum vitamin.

1.3 Operasi
Tiroidektomi subtotal efektif untuk mengatasi hipertiroidisme.
Indikasi :
a. Pasien umur muda dengan struma besar serta tidak berespons terhadap obat antitiroid.
b. Pada wanita hamil (trimester kedua) yang memerlukan obat antitiroid dosis besar
c. Alergi terhadap obat antitiroid, pasien tidak dapat menerima yodium radioaktif
d. Adenoma toksik atau struma multinodular toksik
e. Pada penyakit Graves yang berhubungan dengan satu atau lebih nodul

TIROIDEKTOMI
Tiroidektomi adalah sebuah operasi yang melibatkan operasi pemindahan semua atau sebagian
dari kelenjar tiroid. Klasifikasi dari tiroidektomi adalah total tiroidektomi dan nyaris total
tiroidektomi. Indikasi dilakukan tiroidektomi adalah gondok, kanker tiroid, hipertiroidisme,
gejala obstruksi, kosmetik.
A. Tiroidektomi parsial atau total dapat dilaksanakan sebagai terapi primer terhadap karsinoma
tiroid, hipertiroidisme, dan hiperparatiroidisme
• Tiroidektomi total : kelenjar tiroid diangkata seluruhnya
• Tiroidektomi parsial : mengangkat sebagian kelenjar tiroid

2. Struma Nodular Toksik


Terapi dengan pengobatan antitiroid atau beta bloker dapt mengurangi gejala tetapi biasanya
kurang efektif dari pada penderita penyakit Graves. Radioterapi tidak efektif seperti penyakit
Graves karena pengambilan yang rendah dan karena penderita ini membutuhkan dosis radiasi
yang besar. Untuk nodul yang soliter, nodulektomi atau lobektomi tiroid adalah terapi pilihan
karena kanker jarang terjadi. Untuk struma multinodular toksik, lobektomi pada satu sisi dan
subtotal lobektomi pada sisi yang lain adalah dianjurkan (Sadler et al, 1999)
3. Struma Non Toksis
Terapi dengan pengobatan antitiroid atau beta bloker dapt mengurangi gejala tetapi biasanya
kurang efektif dari pada penderita penyakit Graves. Radioterapi tidak efektif seperti penyakit
Graves karena pengambilan yang rendah dan karena penderita ini membutuhkan dosis radiasi
yang besar. Untuk nodul yang soliter, nodulektomi atau lobektomi tiroid adalah terapi pilihan
karena kanker jarang terjadi. Untuk struma multinodular toksik, lobektomi pada satu sisi dan
subtotal lobektomi pada sisi yang lain adalah dianjurkan (Sadler et al, 1999)
Indikasi operasi pada struma nodosa non toksika ialah:
3.1 Keganasan
3.2 Penekanan
3.3 Kosmetik
Tindakan operasi yang dikerjakan tergantung jumlah lobus tiroid yang terkena. Bila hanya satu
sisi saja dilakukan subtotal lobektomi, sedangkan kedua lobus terkena dilakukan subtotal
tiroidektomi. Bila terdapat pembesaran kelenjar getah bening leher maka dikerjakan juga deseksi
kelenjar leher fungsional atau deseksi kelenjar leher radikal/modifikasi tergantung ada tidaknya
ekstensi dan luasnya ekstensi di luar kelenjar getah bening.

Radioterapi diberikan pada keganasan tiroid yang :

a. Inoperabel
b. Kontraindikasi operasi

c. Ada residu tumor setelah operasi

d. Metastase yang non resektabel

Hormonal terapi dengan ekstrak tiroid diberikan selain untuk suplemen juga sebagai supresif
untuk mencegah terjadinya kekambuhan pada pasca bedah karsinoma tiroid diferensiasi baik
(TSH dependence). Terapai supresif ini juga ditujukan terhadap metastase jauh yang tidak
resektabel dan terapi adjuvan pada karsinoma tiroid diferensiasi baik yang inoperabel.
Preparat : Thyrax tablet
Dosis : 3x75 Ug/hari per-oral

THYRAX
INDIKASI
 Hipotiroidisme karena berbagai macam sebab.
 Menekan kadar TSH (hormon perangsang tiroid) pada keadaan goiter, nodulus, & setelah
pengobatan kanker tiroid dengan radiologi dan atau pembedahan
 Menekan efek goitrogenik dari obat-obat lain, untuk diagnosis, & pada penekanan tes.

PERHATIAN
Hipertiroidisme, penyakit jantung dan pembuluh darah dan atau miksoedema berat dan yang
lama terjadi.
Interaksi obat : antikoagulan oral, antidiabetik, Digitalis, Kolestiramin, Fenitoin.

EFEK SAMPING
Takhikardia, kegugupan, gemetar, sakit kepala, kemerahan pada leher & wajah, berkeringat,
kehilangan berat badan. KEMASAN Tablet 100 mcg x 100 biji.

BAB III
TINJAUAN KASUS

A. PENGKAJIAN
1. Pengumpulan data
Anamnese
Dari anamnese diperoleh:
1.1 Identifikasi pasien.
1.2 Keluhan utama pasien.
Pada pasien post operasi thyroidectomy keluhan yang dirasakan pada umumnya adalah nyeri
akibat luka operasi.
1.3 Riwayat penyakit sekarang
Biasanya didahului oleh adanya pembesaran nodul pada leher yang semakin membesar sehingga
mengakibatkan terganggunya pernafasan karena penekanan trakhea eusofagus sehingga perlu
dilakukan operasi.
1.4 Riwayat penyakit dahulu
Perlu ditanyakan riwayat penyakit dahulu yang berhubungan dengan penyakit gondok, misalnya
pernah menderita gondok lebih dari satu kali, tetangga atau penduduk sekitar berpenyakit
gondok.
1.5 Riwayat kesehatan keluarga
Dimaksudkan barangkali ada anggota keluarga yang menderita sama dengan pasien saat ini.
1.6 Riwayat psikososial
Akibat dari bekas luka operasi akan meninggalkan bekas atau sikatrik sehingga ada
kemungkinan pasien merasa malu dengan orang lain.
2. Pemeriksaan fisik
2.1 Keadaan umum
Pada umumnya keadaan penderita lemah dan kesadarannya composmentis dengan tanda-tanda
vital yang meliputi tensi, nadi, pernafasan dan suhu yang berubah.

2.2 Kepala dan leher


Pada pasien dengan post operasi thyroidectomy biasanya didapatkan adanya luka operasi yang
sudah ditutup dengan kasa steril yang direkatkan dengan hypafik serta terpasang drain. Drain
perlu diobservasi dalam dua sampai tiga hari.
2.3 Sistem pernafasan
Biasanya pernafasan lebih sesak akibat dari penumpukan sekret efek dari anestesi, atau karena
adanya darah dalam jalan nafas.
2.4 Sistem Neurologi
Pada pemeriksaan reflek hasilnya positif tetapi dari nyeri akan didapatkan ekspresi wajah yang
tegang dan gelisah karena menahan sakit.
2.5 Sistem gastrointestinal
Komplikasi yang paling sering adalah mual akibat peningkatan asam lambung akibat anestesi
umum, dan pada akhirnya akan hilang sejalan dengan efek anestesi yang hilang.
2.6 Aktivitas/istirahat
Insomnia, otot lemah, gangguan koordinasi, kelelahan berat, atrofi otot.
2.7 Eliminasi
Urine dalam jumlah banyak, perubahan dalam faeces, diare.
2.8 Integritas ego
Mengalami stres yang berat baik emosional maupun fisik, emosi labil, depresi.
2.9 Makanan/cairan
Kehilangan berat badan yang mendadak, nafsu makan meningkat, makan banyak, makannya
sering, kehausan, mual dan muntah, pembesaran tyroid.
2.10 Rasa nyeri/kenyamanan
Nyeri orbital, fotofobia.
2.11 Keamanan
Tidak toleransi terhadap panas, keringat yang berlebihan, alergi terhadap iodium (mungkin
digunakan pada pemeriksaan), suhu meningkat di atas 37,40C, diaforesis, kulit halus, hangat dan
kemerahan, rambut tipis, mengkilat dan lurus, eksoptamus : retraksi, iritasi pada konjungtiva dan
berair, pruritus, lesi eritema (sering terjadi pada pretibial) yang menjadi sangat parah.
2.12 Seksualitas
Libido menurun, perdarahan sedikit atau tidak sama sekali, impotensi.

B. ASUHAN KAPERAWATAN
DATA FOKUS
Data subjektif Data objektif
- Pasien mengeluh nyeri pada tenggorokan
- Pemeriksaan fisik pada leher bawah kanan
yang rasanya seperti tercekik ditemukan adanya pembengkakan (massa)
- Pasien mengeluh sulit bernapas dan menelan lebih dari satu.
- Pasien mengeluh suara serak - TTV:
- Pasien mengatakan 
sehari-harinya TD: 13/80 mmHg
mengkonsumsi sayur-sayuran dari 
jenis HR: 96x/mnt

Brassica seperti kubis, lobak cina, brussels RR: 28x/mnt
kecambah dan ketika masak jarang  T: 37,40C
menggunakan garam yang beriodium - BB sebelum: 50, sesudah: 47
- Pasien mengatakan, makan hanya 4-5
- TB: 153
sendok. - IMT: 20,1 kg/m2
- Pasien mengatakan malu terhadap
- Defisit cairan: 2.01 L
keadaannya - Kesadaran composmentis
- Pasien mengatakan cemas karena akan
- Pemeriksaan lab:
dilakukannya tindakan operasi
 T3: 1,03 (N: 0,15-1,65)
- Pasien bertanya-tanya tentang penyakitnya
 T4: 87,8 (N: 45-120)
 TSH: 0,145 (N: 0,47-5,01)
 F. T4: 12,3 (N: 7,1-18,5)
- Pasien tampak pucat
- Pasien terlihat menggunakan alat bantu
nafas: cuping hidung
- Mukosa bibir kering
- Turgor kulit: elastisitas kurang
- Skala nyeri: 7
- Pasien tampak gelisah/cemas
- Pasien terlihat berbicara gagap
- Capillary refill
- Hasil AGD:
 pH: 7,30
 PO2: 70
 PCO2: 50
 HCO3: 22
- Stridor
- Ekspresi muka pasien tampak meringis
- Serum: 150
- Anoreksia sekunder
- Interaksi pasien dengan lingkungan
berkurang
- Pasien terlihat bingung dengan keadaannya

ANALISA DATA
Data Fokus Problem Etiologi
DS: Ketidakefektifan bersihan Adanya massa
- Pasien mengeluh sulit bernapas jalan nafas
dan menelan
- Pasien mengeluh suara serak

DO:
- Pemeriksaan fisik pada leher
bawah kanan ditemukan adanya
pembengkakan (massa) lebih dari
satu.
- TTV:
 TD: 13/80 mmHg
 HR: 96x/mnt
 RR: 28x/mnt
 T: 37,40C
- Pasien tampak pucat
- Pasien terlihat menggunakan alat
bantu nafas: cuping hidung
- Pemeriksaan lab:
 T3: 1,03 N: 0,15-1,65
 T4: 87,8 N: 45-120
 TSH: 0,145 N: 0,47-5,01
 F. T4: 12,3 N: 7,1-18,5
- Stridor
- Capillary refill
- Kesadaran composmentis

DS: Gangguan pertukaran gas Obstruksi partial


- Pasien mengeluh sulit bernapas mekanik
dan menelan

DO:
- Pemeriksaan fisik pada leher
bawah kanan ditemukan adanya
pembengkakan (massa) lebih dari
satu.
- TTV:
 TD: 13/80 mmHg
 HR: 96x/mnt
 RR: 28x/mnt
 T: 37,40C
- Pasien tampak pucat
- Capillary refill
- Hasil AGD:
 pH: 7,30
 PO2: 70
 PCO2: 50
 HCO3: 22
- Kesadaran composmentis

DS: Ketidakefektifan pola nafas Adanya obstruksi


- Pasien mengeluh sulit bernapas trakkeofaringeal
dan menelan

DO:
- Pemeriksaan fisik pada leher
bawah kanan ditemukan adanya
pembengkakan (massa) lebih dari
satu.
- TTV:
 TD: 13/80 mmHg
 HR: 96x/mnt
 RR: 28x/mnt
 T: 37,40C
- Pasien tampak pucat
- Pasien terlihat menggunakan alat
bantu nafas: cuping hidung
- Pemeriksaan lab:
 T3: 1,03 N: 0,15-1,65
 T4: 87,8 N: 45-120
 TSH: 0,145 N: 0,47-5,01
 F. T4: 12,3 N: 7,1-18,5
- Capillary refill
- Kesadaran composmentis

DS: Gangguan perfusi jaringan Suplai O2 tidak adekuat


- Pasien mengeluh sulit bernapas
dan menelan

DO:
- Pemeriksaan fisik pada leher
bawah kanan ditemukan adanya
pembengkakan (massa) lebih dari
satu.
- TTV:
 TD: 13/80 mmHg
 HR: 96x/mnt
 RR: 28x/mnt
 T: 37,40C
- Pasien tampak pucat
- Pasien terlihat menggunakan alat
bantu nafas: cuping hidung
- Pemeriksaan lab:
 T3: 1,03 N: 0,15-1,65
 T4: 87,8 N: 45-120
 TSH: 0,145 N: 0,47-5,01
 F. T4: 12,3 N: 7,1-18,5
- Capillary refill
- Kesadaran composmentis

DS: Gangguan rasa nyaman Proses penyakit


- Pasien mengeluh nyeri pada nyeri
tenggorokan yang rasanya seperti
tercekik

DO:
- Pemeriksaan fisik pada leher
bawah kanan ditemukan adanya
pembengkakan (massa) lebih dari
satu.
- TTV:
 TD: 13/80 mmHg
 HR: 96x/mnt
 RR: 28x/mnt
 T: 37,40C
- Ekspresi muka pasien tampak
meringis
- Kesadaran composmentis
- Skala nyeri: 7

DS: Gangguan menelan Obstruksi partial


- Pasien mengeluh sulit menelan mekanik
- Pasien mengatakan, makan hanya
4-5 sendok.

DO:
- Pemeriksaan fisik pada leher
bawah kanan ditemukan adanya
pembengkakan (massa) lebih dari
satu.
- Pemeriksaan lab:
 T3: 1,03 (N: 0,15-1,65)
 T4: 87,8 (N: 45-120)
 TSH: 0,145 (N: 0,47-5,01)
 F. T4: 12,3 (N: 7,1-18,5)
- Anoreksia sekunder

DS: Gangguan keseimbangan Intake yang tidak


- Pasien mengeluh sulit menelan cairan dan elektrolit adekuat

DO:
- Pemeriksaan fisik pada leher
bawah kanan ditemukan adanya
pembengkakan (massa) lebih dari
satu.
- TTV:
 TD: 13/80 mmHg
 HR: 96x/mnt
 RR: 28x/mnt
 T: 37,40C
- BB sebelum: 50, sesudah: 47
- TB: 153
- Defisit cairan: 2.01 L
- Kesadaran composmentis
- Serum: 150
- Mukosa bibir kering
- Turgor kulit: elastisitas kurang

DS: Gangguan pemenuhan Disfagia


- Pasien mengeluh sulit menelan nutrisi
- Pasien mengatakan, makan hanya
4-5 sendok.

DO:
- Pemeriksaan fisik pada leher
bawah kanan ditemukan adanya
pembengkakan (massa) lebih dari
satu.
- TTV:
 TD: 13/80 mmHg
 HR: 96x/mnt
 RR: 28x/mnt
 T: 37,40C
- BB sebelum: 50, sesudah: 47
- TB: 153
- IMT: 20,1 kg/m2
- Kesadaran composmentis
- Mukosa bibir kering
- Turgor kulit: elastisitas kurang
- Anoreksia sekunder

DS: Kerusakan komunikasi Adanya penekanan


- Pasien mengeluh suara serak verbal pada pita suara

DO:
- Pemeriksaan fisik pada leher
bawah kanan ditemukan adanya
pembengkakan (massa) lebih dari
satu.
- Pasien terlihat berbicara gagap

DS: Gangguan citra diri Perubahan fisiologis


- Pasien mengatakan malu terhadap tubuh (pembengkakan
keadaannya leher)

DO:
- Pemeriksaan fisik pada leher
bawah kanan ditemukan adanya
pembengkakan (massa) lebih dari
satu.
- Interaksi pasien dengan
lingkungan berkurang

DS: Cemas Tindakan pre-operasi


- Pasien mengatakan cemas karena
akan dilakukannya tindakan operasi

DO:
- TTV:
 TD: 13/80 mmHg
 HR: 96x/mnt
 RR: 28x/mnt
 T: 37,40C
- Pasien tampak gelisah/cemas

DS: Kurang pengetahuan Kurang mengenal


- Pasien mengatakan sehari-harinya sumber informasi
mengkonsumsi sayur-sayuran dari tentang penyakit
jenis Brassica seperti kubis, lobak
cina, brussels kecambah dan ketika
masak jarang menggunakan garam
yang beriodium
- Pasien bertanya-tanya tentang
penyakitnya

DO:
- Pasien terlihat bingung dengan
keadaannya
- Pasien tampak gelisah/cemas

DIAGNOSA KEPERAWATAN
NO Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d adanya massa
2. Gangguan pertukaran gas b.d obstruksi partial mekanik
3. Ketidakefektifan pola nafas b.d adanya obstruksi trakkeofaringeal
4. Gangguan perfusi jaringan b.d suplai O2 tidak adekuat
5. Gangguan rasa nyaman nyeri b.d proses penyakit
6. Gangguan menelan b.d obstruksi partial mekanik
7. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b.d intake yang
tidak adekuat
8. Gangguan pemenuhan nutrisi b.d disfagia
9. Kerusakan komunikasi verbal b.d adanya penekanan pada pita
suara
10. Gangguan citra diri b.d perubahan fisiologis tubuh
(pembengkakan leher)
11. Cemas b.d tindakan pre-operasi
12. Kurang pengetahuan b.d kurang mengenal sumber informasi
tentang penyakit

INTERVENSI KEPERAWATAN

NO Diagnosa Tujuan dan criteria Intervensi Keperawatan


Keperawatan hasil
1. Ketidakefektifan Setelah dilakukan 1. Pantau frekuensi pernafasan,
bersihan jalan nafas tindakan keperawatan kedalaman dan kerja pernafasan.
bd adanya massa diharapkan bersihan Rasional :
jalan nafas pasien Pernafasan secara normal kadang-
efektif dengan kriteria kadang cepat, tetapi berkembangnya
hasil: distres pada pernafasan merupakan
indikasi kompresi trakea karena edema
- Mempertahankan
atau perdarahan.
jalan nafas paten
2. Auskultasi suara nafas, catat adanya
dengan mencegah
suara ronchi.
aspirasi.
Rasional :
- RR normal (16-24 Ronchi merupakan indikasi adanya
x/menit) obstruksi.spasme laringeal yang
membutuhkan evaluasi dan intervensi
yang cepat.
3. Kaji adanya dispnea, stridor, dan
sianosis. Perhatikan kualitas suara.
Rasional :
Indikator obstruksi trakea/spasme laring
yang membutuhkan evaluasi dan
intervensi segera.
4. Waspadakan pasien untuk menghindari
ikatan pada leher, menyokog kepala
dengan bantal.
Rasional :
Menurunkan kemungkinan tegangan
pada daerah luka karena pembedahan.
5. Bantu dalam perubahan posisi, latihan
nafas dalam dan atau batuk efektif
sesuai indikasi.
Rasional :
Mempertahankan kebersihan jalan
nafas dan evaluasi. Namun batuk tidak
dianjurkan dan dapat menimbulkan
nyeri yang berat, tetapi hal itu perlu
untuk membersihkan jalan nafas.
6. Selidiki kesulitan menelan,
penumpukan sekresi oral.
Rasional :
Merupakan indikasi edema/perdarahan
yang membeku pada jaringan sekitar
daerah operasi.
7. Pertahankan alat trakeosnomi di dekat
pasien.
Rasional :
Terkenanya jalan nafas dapat
menciptakan suasana yang mengancam
kehidupan yang memerlukan tindakan
yang darurat.
2. Gangguan Setelah dilakukan 1. kaji frekuensi kedalaman pernapasan.
pertukaran gas bd tindakan keperawatan Catat penggunaan otot aksesori, napas
obstruksi partial diharapkan tidak bibir, ketidakmampuan
mekanik terjadi gangguan berbicara/berbimcang
pertukaran gas dengan R : berguna dalam evaluasi derajat
kriteria hasil: distres pernapasan dan kornisnya proses
penyakit
 Pasien tidak
2. Tinggikan kepala tempat tidur, bantu
lagi mengeluh
pasien utnuk memilih posisi yang
sulit bernapas
mudah untuk bernapas. Dorong napas
 Pasien tidak
dalam perlahan
lagi terlihat
R : pengiriman oksigen dapat diperbaiki
pucat
dengan posisi duduk tinggi dan latihan
napas untuk menurunkan kolaps jalan
napas, dispnea
3. Kaji/awaso secara rutin kulit dan warna
membran mukosa
R: sianosis mungkin perifer (terlihat
pada kuku) atau sentral( terlihat pada
bibir) . keabu-abuan dan dianosis
sentral mengindikasi hipoksemia berat
4. Evaluasi tingkat toleransi aktivitas dan
batasi aktifitas pasien
R : istirahat diselingi aktivitas
perawatan penting dari program
pengobatan
5. Awasi tanda vital dan irama jantung
R : takikardi, disritmia, dan perubahan
TD dapat menunjukkan efek
hipoksemia sistemik pada fungsi
jantung
Kolaborasi
1. Awasi seri GDA
R : PCO2 biasanya meningkat dan PO2
menurun sehingga hipoksia terjadi
dengan derajat lebih kecil
2. Berikan oksigen tambahan bila
diperlukan
R : dapat memperbaiki/mencegah
memperburuknya hipoksia

3. Ketidakefektifan Setelah dilakukan 1. Pantau frekwensi pernafasan ,


pola nafas bd tindakan keperawatan kedalaman, dan kerja pernafasan
adanya obstruksi diharapkan pola nafas R : Untuk mengetahui adanya
trakkeofaringeal pasien efektif: gangguan pernafasan pada pasien.
RR= 16-20x/ menit 2. Waspadakan pasien agar leher tidak
Kedalaman inspirasi tertekuk/posisikan semi ekstensi atau
dan kedalaman eksensi pada saat beristirahat
bernafas Ekspansi R : Menghindari penekanan pada jalan
dada simetris Tidak nafas untuk meminimalkan
ada penggunaan otot penyempitan jalan nafas
bantu nafas 3. Ajari pasien latihan nafas dalam
R : Untuk menstabilkan pola nafas
4. Persiapkan operasi bila diperlukan.
R : Operasi diperlukan untuk
memperbaiki kondisi pasien

4 Gangguan perfusi Setelah dilakukan Mandiri


jaringan bd suplai tindakan keperawatan1. Berikan posisi datar pada anak dengan
O2 tidak adekuat diharapkan kaki ditinggikan
menunjukkan R: Untuk meningkatkan aliran
peningkatan suplai balik vena. Membantu
darah ke jaringan mempertahankan / meningkatkan
normal dengan sirkulasi dan pengiriman oksigen ke
kreteria hasil otak.
1. Tanda-tanda vital 2. Catat perubahan dalam tingkat
dalam batas normal kesadaran keluhan sakit kepala, pusing,
2. Kapiler refill kurang terjadi devisi sensori/ motori pada anak
dari 3 detik R: Perubahan dapat menunjukan
3. Akral hangat penurunan perfusi pada SSP akibat
4. Tidak terdapat iskemia infark
sianosis 3. Pantau tanda-tanda vital
R : Perubahan dapat menunjukan
penurunan sirkulasi / hipoksia yang
meningkatkan oklusi kapiler
4. Pertahanan suhu lingkungan
R : Mencegah vasokontriksi membantu
dalam mempertahankan sirkulasi dan
perfusi.

Kolaborasi
1. Kolaborasi, cairan sesuai indikasi, O2
sesuai indikasi dan obat – obatan
Rasional : untuk mengecek cairan yang
telah didokumentasikan

5 Gangguan rasa Se Setelah dilakukan Mandiri


nyaman nyeri bd tindakan keperawatan1. Kaji tanda-tanda adanya nyeri baik
proses penyakit diharapkan nyeri verbal maupun non verbal, catat lokasi,
(pembesaran hilang, dengan kriteria intensitas (0-10), dan lamanya.
kelenjar tiroid) hasil: R: Bermanfaat dalam mengevaluasi
1. Pasien tidak lagi nyeri, menentukan pilihan intervensi,
mengeluh nyeri pada menentukan efektivitas terapi.
tenggorokkannya 2. Anjurkan pasien untuk teknik relaksasi
2. Tanda-tanda vital napas dalam
dalam rentang normal R: Dengan teknik relaksasi dapat
3. Ekspresi muka pasien mengurangi nyeri.
sudah tampak rileks 3. Berikan minuman yang sejuk/makanan
yang lunak ditoleransi jika pasien
mengalami kesulitan menelan.
Rasional : Menurunkan nyeri tenggorok
tetapi makanan lunak ditoleransi jika
pasien mengalami kesulitan menelan.

Kolaborasi
1. Berikan analgetik sesuai indikasi.
Rasional: pemberian analgetik dapat
mengurangi rasa nyeri
6 Gangguan menelanSeSetelah dilakukan Mandiri
tindakan keperawatan
bd obstruksi partial 1. Bantu pasien dengan mengontrol
diharapkan gangguan
mekanik menelan pasien dapat kepala
teratasi. Dengan
Rasional : menetralkan hiperekstensi,
kriteria hasil:
 Pasien tidak lagi membantu
mengeluh sulit saat mencegah aspirasi dan meningkatkan
menelan. kemampuan untuk menelan
 2.
Berat badan pasien letakan pasien pada posisi duduk /
kembali normal tegak selama dan setelah makan
Rasional : menggunakan gravitasi
untuk memudahkan proses menelan dan
menurunkan resiko terjadinya aspirasi
3. letakan makan pada mulut yang tidak
terganggu
Rasional : memberikan stimulasi
sensorik (termsuk rasa kecap) yang
dapat mencetuskan usaha untuk
menelan dan meningkatkan masukan

Kolaborasi
1. Berikan cairan melalui IV atau
makanan melalui
selang
Rasiona : mungkin diperlukan untuk
memberikan cairan pengganti dan juga
makanan jika pasien tidak mampu
untuk memasukan segala sesuatu
kedalam.

7 Gangguan Setelah dilakukan Mandiri :


keseimbangan tindakan keperawatan1. Monitor intake dan output cairan.
cairan dan elektrolit diharapkan pasien R: Memberikan informasi tentang
bd intake yang tidak dapat memenuhi keadaan volume cairan.
adekuat kebutuhan cairan dan 2. Kaji turgor kulit, kelembapan dan
elektrolit dengan membran mukosa.
kriteria hasil: R : Peningkatan suhu atau demam dapat
1. Turgor kulit baik. meningkatkan laju metabolik.
2. TTV stabil 3. Ukur berat badan tiap hari.
3. Membran mukosa R: Indikator langsung keadekuatan
lembab cairan dan nutrisi.

Kolaborasi :
1. Berikan cairan tambahan IV sesuai
kebutuhan.
R : Mempertahankan cairan untuk
memperbaiki kehilangan cairan.
8 Gangguan Se Setelah dilakukan Mandiri
pemenuhan nutrisi tindakan keperawatan1. Kaji keluhan mual, sakit menelan, dan
bd disfagia diharapkan kebutuhan muntah yang dialami pasien.
nutrisi klien dapat Rasional : Untuk menetapkan cara
teratasi. Dengan mengatasinya.
kriteria hasil: 2. Kaji cara / bagaimana makanan
 Pasien tidak lagi dihidangkan.
mengeluh sulit Rasional : Cara menghidangkan
menelan makanan dapat mempengaruhi nafsu
 Berat badan pasien makan pasien.
3.
pasien kembali normal Berikan makanan yang mudah ditelan

 Pasien sudah mampu seperti bubur.


makan lebih dari 6 Rasional : Membantu mengurangi

suap. kelelahan pasien dan meningkatkan


asupan makanan .
4. Berikan makanan dalam porsi kecil dan
frekuensi sering.
Rasional : Untuk menghindari mual.
5. Catat jumlah / porsi makanan yang
dihabiskan oleh pasien setiap hari.
Rasional : Untuk mengetahui
pemenuhan kebutuhan nutrisi.
6. Ukur berat badan pasien setiap minggu.
Rasional : Untuk mengetahui status gizi
pasien

Kolaborasi
1. Berikan obat-obatan antiemetik sesuai
program dokter.
Rasional : Antiemetik membantu pasien
mengurangi rasa mual dan muntah dan
diharapkan intake nutrisi pasien
meningkat.
2. Konsultasikan/rujuk ke ahli gizi.
R: agar pasien mendapatkan gizi
seimbang.

9 Kerusakan Se Setelah dilakukan Mandiri


komunikasi verbal tindakan keperawatan
1. Kaji pembicaraan klien secara periodik
bd adanya diharapkan pasien R : Suara parau dan sakit pada
penekanan pada pita dapat melakukan tenggorokan merupakan faktor kedua
suara komunikasi dengan dari odema jaringan / sebagai efek
baik. Dengan kriteria pembedahan.
hasil: 2. Lakukan komunikasi dengan singkat
 Pasien tidak lagi dengan jawaban ya/tidak.
bicara gagap R : Mengurangi respon bicara yang
 Suara pasien tidak terlalu banyak
terdengar serak lagi 3. Kunjungi klien sesering mungkin
R : Mengurangi kecemasan klien
4. Ciptakan lingkungan yang tenang.
R: Klien dapat mendengar dengan jelas
komunikasi antara perawat dan klien.

Kolaborasi
1. Konsultasikan dengan / rujuk kepada
ahli terapi wicara
Rasional : pengkajian secara individual
kemampuan bicara sensoris, motoric
dan kognitif berfungsi untuk
mengidentifikasi kekurangan /
kebutuhan terapi
10 Gangguan citra diriSe Setelah dilakukan 1. Pantau tingkat perubahan rentang harga
bd perubahan tindakan keperawatan diri rendah
fisiologis tubuh diharapkan pasien R : Mengetahui kopping individu
(pembengkakan menunjukkan pasien
leher) Penerimaan diri secara
2. Pastikan tujuan tindakan yang kita
verbal Mengerti akan lakukan adalah realistis
kekuatan diri R : Meningkatkan hubungan saling
Melakukan perilaku percaya dengan pasien
yang dapat 3. Sampaikan hal-hal yang positif secara
meningkatkan rasa mutlak untuk pasien, tingkatkan
percaya diri pemahaman tentang penerimaan anda
pada pasien sebagai seorang individu
yang berharga.
R : Meningkatkan harga diri pasien
4. Diskusikan masa depan pasien, bantu
pasien dalam menetapkan tujuan-tujuan
jangka pendek dan panjang.
R : Membantu pasien menentukan masa
depan yang diinginkan

11 Cemas bd tindakan Se Setelah dilakukan 1. Jelaskan apa yang terjadi selama


pre-operasi tindakan keperawatan periode pra operasi dan pasca operasi,
diharapkan Tujuan : termasuk test laboratorium pra op,
Pasien persiapan kulit, alasan status puasa,
mengungkapkan obat-obatan pre op, aktifitas area
ansietas tunggu, tinggal diruang pemulihan dan
berkurang/hilang. program pasca operasi.
Kriteria evaluasi: R: Pengetahuan tentang apa yang diper-
Pasien melaporkan lukan membantu mengurangi ansie-tas
lebih sedikit perasaan & meningkatkan kerjasama pasien
gugup, selama pemulihan, mempertahankan
mengungkapkan pe- kadar analgesik darah konstan,
mahaman tentang memberikan kontrol nyeri terbaik
kejadian pra operasi 2. Informasikan pasien bahwa obatnya
dan pasca operasi, tersedia bila diperlukan untuk
postur tubuh riileks mengontrol nyeri, anjurkan untuk
memberitahu nyeri dan meminta obat
nyeri sebelum nyerinya bertambah
hebat.
3. Informasikan pasien bahwa ada suara
serak & ketidaknyamanan menelan
dapat dialami setelah pembedahan,
tetapi akan hilang secara bertahap
dengan berkurangnya bengkak  3-5
hari.
R: Pengetahuan tentang apa yang diper-
kirakan membantu mengurangi an-
sietas.
4. Ajarkan & biarkan pasien
mempraktekkan bagaimana menyokong
leher untuk menghindari tegangan pada
insisi bila turun dari tempat tidur atau
batuk.
R: Praktek aktifitas-aktifitas pasca ope-
rasi membantu menjamin penurunan
program pasca operasi terkomplikasi
5. Biarkan pasien dan keluarga
mengungkapkan perasaan tentang
pengalaman pembedahan, perbaiki jika
ada kekeliruan konsep. Rujuk
pertanyaan khusus tentang pembedahan
kepada ahli bedah.
R: Dengan mengungkapkan perasaan
membantu pemecahan masalah dan
memungkinkan pemberi perawatan
untuk mengidentifikasi kekeliruan yang
dapat menjadi sumber kekuatan.
Keluarga adalah sistem pendukung bagi
pasien. Agar efektif, sistem pendukung
harus mempunyai mekanisme yang
kuat.
6. Lengkapi daftar aktifitas pada daftar
cek pre op, beritahu dokter jika ada
kelainan dari test Lab. pre op.
R: Daftar cek memastikan semua aktifi-
tas yang diperlukan telah lengkap.
Aktifitas ini dirancang untuk memas-
tikan pasien telah siap secara fisiologis
untuk operasi dan mengurangi resiko
lamanya penyembuhan.
12 Kurang Se Setelah dilakukan 1. Berikan informasi yang tepat dengan
pengetahuan bd tindakan keperawatan keadaan individu
kurang mengenal diharapkan pasien R: Meningkatkan pengetahuan pasien
sumber informasi Mengikuti pengobatan2. Identifikasi sumber stress dan
tentang penyakit yang disarankan diskusikan faktor pencetus krisis tiroid
Peningkatan yang terjadi, seperti orang/sosial,
pengetahuan pasien pekerjaan, infeksi, kehamilan
Dapat menghindari R : Agar pasien bisa menghindari
sumber stress sumber stress
3. Berikan informasi tentang tanda dan
gejala dari penyakit gondok serta
penyebabnya
R : Dapat mengidentifikasi gejala awal
dari gondok
4. Diskusikan mengenai terapi obat-
obatan termasuk juga ketaatan terhadap
pengobatan dan tujuan terapi serta efek
samping obat tersebut
R : Pasien bisa mengikuti terapi yang
disarankan